Friday, July 27, 2018

YEREMIA 17:5-8 MENGANDALKAN TUHAN


YEREMIA 17:5-8
MENGANDALKAN TUHAN
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
29 Juli 2018


PENGANTAR (Latar Belakang Teks)
Yeremia yang bertugas di Israel Selatan atau Yehuda menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan iman dan prilaku keseharian umat Allah yang jauh dari kehendakNya. Hukuman dinubuatkan bagi mereka tentang kehancuran bangsa ini akibat dosa. Yeremia menjadi yakin bahwa Tuhan akan menjatuhkan hukuman atas Yehuda sehingga Yehuda akan mengalami kerugian yang hebat yang disebut berasal dari Asyur dan Babel.

Walaupun nubuat sudah diberikan, besar harapan Yeremia kiranya Yehuda bertobat. Kenyataannya justru mereka berpaling dari Allah dan berharap kepada Mesir untuk menjamin mereka dari rongrongan bangsa lain. Mereka lebih mengandalkan manusia dari pada mengandalkan Tuhan.

Telaah Perikop
Ada beberapa pokok penting yang perlu untuk digali dalam bacaan kita saat ini, yakni:

1.      Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia (ay.5)
Bagian pertama ini begitu tegas dan jelas. Bahwa tiap orang yang mengandalkan manusia akan dikutuki Allah. Apa yang dimaksud mengandalkan manusia? Bagian ini menjadi jelas apabila kita membaca lebih lanjut ayat 5 bacaan kita. Bahwa mengandalkan manusia itu adalah ketika seseorang menjadikan diri sendiri sebagai pusat pertimbangan, jalan keluar dan orientasi hidup. Dengan kata lain mengandalkan diri sendiri. Orang seperti itu berarti menjauh dari Tuhan. Merekalah yang terkategori sebagai yang mengandalkan manusia.

Istilah kutuk dari bahasa Ibrani אָרַר (aw-rar') yang berarti kutuk, dijijikkan atau dijauhi oleh Allah. Silakan bayangkan kondisi ini. Apakah yang terjadi jika Allah sendiri merasa jijik melihat kita? Allah menjauh dan tidak lagi peduli pada kita akibat kita sendiri yang merasa tidak membutuhkannya. Sikap tidak membutuhkan Allah nyata melalui mengandalkan manusia dan bukan Allah. Akibatnya dikutuk olehnya.

2.      Konsekuensi dari mengandalkan manusia (ay.6)
Akibat dari mengandalkan manusia adalah kesengsaraan hidup bagaikan semak bulus yang tidak memperoleh keadaan baik. Bahkan Yeremia menyamakan kondisi orang yang dikutuk itu bagaikan tinggal dipadang gurun, hidup dipadang asin yang tidak berpenduduk. Kesan yang cukup kuat dari kondisi ini adalah kehancuran hidup. Silakan bayangkan hidup di tanah gurun dan asin seorang diri tanpa mendapat bantuan. Demikianlah kondisi hidup orang yang tidak mengandalkan Tuhan.

3.      Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan (ay.7)
Berbeda dengan kondisi mereka yang dikutuk Tuhan, pada ayat ini Yeremia memberikan perlawanan kondisi dengan ayat sebelumnya. Mereka yang mengandalkan Tuhan akan diberkati. Apakah yang dimaksud dengan mengandalkan Tuhan? Mereka yang mengandalkan Tuhan adala mereka yang sangat tergantung dan berharap padaNya. Apapun yng direncanakan ataupun dilakukan, TUHAN Allah tetap dilibatkan.

Istilah diberkati berasal dari bahasa Ibrani בָּרַךְ (barak) yang berarti diberkati, berlutut di hadapan Allah dan atau menjalin kedekatan yang sangat kuat. Istilah ini sama dengan yang dipakai untuk “TUHAN kemudian memberkati Abrahan” yang juga bermakna menjalin hubungan yang sangat dekat dengan Allah sehingga ia disebut sahabat Allah. Orang yang mengandalkan Tuhan akan diberkati. Ini berarti Tuhan mendekatkan jarak denganNya atau menjalin hubungan yang dalam dengan seorang yang diberkati. Silakan bayangkan apa yang terjadi jika Tuhan datang membangun hubungan yang akrab dan dekat!!

4.      Yang diperoleh karena mengandalkan Tuhan (ay.8)
Ketika Tuhan memberkati, akibat kesediaan kita mengandalkanNya maka bagaikan pohon ditepi air, yang berarti mudah menjalani kehidupan dan tidak mengalami kekurangan. Bahkan yang luar biasa dari mengandalkan Tuhan adalah tidak mengalami kekuatiran terhadap masalah yang akan datang sebab segala sesuatu berhasil (menghasilkan buah).

Hal ini sangat jauh berbeda dengan kondisi mereka yang dikutuk oleh Tuhan karena mengandalkan diri sendiri. Hanya mereka yang mengandalkan Tuhan-lah yang diberkati dan Tuhan bersedia menjalin hubungan yang dalam dengan pribadi itu.

Relevansi dan Aplikasi
1.   Mengapa Allah mengajarkan kita untuk tidak mengandalkan manusia? sedikitnya ada 2 alasan mengapa orang percaya tidak boleh mengandalkan manusia. Pertama, karena manusia dapat mengecewakan. Manusia seringkali ingkar kepada kata-kata dan janjinya sendiri. Ada begitu banyak orang yang dengan mudah mengucapkan janji-janji manis, namun semudah mengucapkan janji, semudah itu pula janji itu terlupakan. Mungkin kita juga adalah salah satu dari orang yang sering mengingkari janji kita kepada sesama? Kedua, karena manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Ada pula kenyataan orang yang berjanji kepada kita ingin sekali menepati janjinya, tetapi keadaannya tidak memungkinkan untuk menepati janji itu.
2.   Jadi, kalau kita sudah memahami bahwa manusia dapat mengecewakan dan manusia memiliki kemampuan yang terbatas, mengapa kita masih mengandalkan manusia dan bukan mengandalakan TUHAN?  Padahal dengan jelas hanyalah TUHAN satu-satunya pribadi yang patut diandalkan, karena TUHAN memiliki kriteria untuk dapat diandalkan yaitu: Pertama : TUHAN selalu menepati janji-NYA. DIA tidak pernah mengingkari janji-NYA. Kedua : Tuhan adalah pribadi yang MAHA KUASA. Tidak ada yang dapat membatasi kuasa-NYA untuk menolong kita. TUHAN dapat memberikan pertolongan meski seberat apa pun masalah kita, kapan pun dan dimana pun kita perlu pertolongan-NYA. TUHAN adalah pribadi yang dapat diandalkan.
3.  Bukan saja Tuhan adalah pribadi yang dapat diandalkan, namun ada janji penting jika kita mengandalkan TUHAN yakni akan diberkati olehNya. Hidup yang diberkati berarti hidup penuh kelimpahan. Kelimpahan dimaksud bukan hanya dibatasi oleh materi tetapi banyak hal, misal sukacita dan damai sejahtera, janji penyertaan di saat bergumul dan juga temukan jalan keluar bersamanya.
Karena itu marilah kita menjadi pribadi yang mengandalkan Tuhan. Amin.

Friday, July 20, 2018

2 KORINTUS 10:12-18 BERMEGAH DI DALAM TUHAN


2 KORINTUS 10:12-18
BERMEGAH DI DALAM TUHAN
Bahan Khotbah Ibadah PKB
Jumat, 27 Juli 2018

PENGANTAR
Terjadi pertikaian antara Paulus dengan golongan-golongan tertentu di Korintus. Mereka adalah rasul-rasul palsu yang mengajarkan kesesatan dan memecah-bela jemaat. Persoalannya adalah, mereka juga menuduh Paulus sebagai rasul palsu, sehingga penting bagi Paulus untuk membela dirinya walapun hanya melalui surat yang ia titipkan kepada Titus yang berjumpa dengannya di Makedonia (bd. (lihat Kisah Para Rasul 20:1; 2 Korintus 2:13; 7:5). 

Khusus pasal 10, Paulus tuliskan secara istimewa untuk ditujukan kepada para penentangnya. Ia sengaja untuk tidak menemui langsung, karena kuatir terjadi tindakan kekerasan, tapi sikapnya itu justru dipandang mereka yang membencinya sebagai sikap Paulus yang takut (ay.1). Oleh karena itu Paulus berencana untuk menemui mereka.


TELAAH PERIKOP
Terdapat beberapa pokok penting dari bacaan kita ini untuk digali dan direnungkan bagi kita, yakni:

1.      Jangan memuji diri (ay.12, 13)
Rupanya para pengajar palsu merasa diri lebih hebat dan lebih baik dari Paulus dalam hal mengajarkan kitab suci. Dengan bangganya mereka memuji diri sebagai kelompok yang sukses membangun jemaat itu. Padahal jemaat Korintus didirkan oleh Paulus dari hasil penginjilannya.

Itulah sebabnya Paulus menyebut bahwa orang-orang itu bermegah menurut ukuran mereka sendiri dan tidak membandingkan dengan hasil kerja orang lain melainkan dari hasil kerja sendiri (ay.12). bagaimana mungkin membandingkan diri dengan diri sendiri? Di sisi yang lain, Paulus juga kecewa oleh karena kelompok ini memanfaatkan hasil kerja Paulus sebagai pendiri jemaat untuk menyombongkan diri mereka (ay.13).

2.      Jangan bermegah dari hasil kerja orang lain (ay.14,15)
Inilah yang terjadi, bahwa orang-orang itu bermegah dari hasil kerja Paulus. Paulus adalah pendiri jemaat Korintus, mereka kemudia datang mengabarkan injil memasuki batas wilayah kerja pelayanan Paulus (ay.13) dan kemudian menyombongkan diri seolah merekalah yang membangun jemaat ini. Paulus dengan pasti menyatakan bahwa dialah yang mendirikan jemaat Korintus (ay.14) sehingga dapat dikatakan, Korintus adalah hasil kerja layannya.

Yang menarik adalah prinsip Paulus soal bermegah yang sepertinya menyindir kelompok tersebut. Menurut Paulus, ia tidak pernah bermegah dari hasil kerja orang lain yang bekerja di wilayah yang bukan milik Paulus. Artinya, seharusnya setiap orang melayani dan bekerja sesuai dengan peruntukannya (wilayah, job desk, skill, dll) sehingga tidak “mencuri nama” keberhasilan dari orang lain.

3.      Bermegahlah dalam Tuhan (ay.16-18)
Dengan tegas Paulus menyatakan bahwa kepergiannya meninggalkan Korintus dalam rangka mengabarkan Injil ke tempat lain supaya selama masih hidup injil Tuhan dapat di sebar (ay.16). Hal ini sekaligus menegaskan kepada kelompok yang menuduh Paulus sebagai rasul palsu bahwa tujuan hidup Paulus bukan mencari pujian dan kemegahan, melainkan memberitakan Injil.

Selanjutnya, Paulus meyampaikan bahwa wajar kalau kemudian dipuji orang dan kemudian bermegah. Tetapi jika harus bermegah, maka bermegahlah dalam Tuhan (ay.17). Apa yang dimaksud dengan bermegah di dalam Tuhan? Bermegah di dalam Tuhan berarti menjadikan Tuhan sebagai inti segala pujian. Bahwa bukan kita yang dipuji dari megahnya kita, menurut orang lain, melainkan Tuhanlah yang ditinggikan. Dengan demikian, ketika orang lain melihat kita, maka mereka akan memuji dan memuliakan Allah.

RELEVANSI DAN APLIKASI
Sebagai para pekerja dan imam dalam keluarga, para bapak-bapak akan banyak menemui kondisi bersaing di dunia kerja. Kisah Paulus dan prinsipnya dalam bekerja, kiranya menjadi perhatian kita termasuk dalam dunia pelayanan, yakni:

1.      Biasakanlah untuk tidak memuji diri sendiri terhadap hasil kerja sendiri, apalagi pembandingnya hanyalah diri sendiri. Berkerjalah dengan baik dan lakukan secermat mungkin, lalu biarlah kemudian orang lain yang menilai hasil kerja kita dan memberikan pujian bagi kinerja yang kita tunjukkan. Jadi, bukan kita yang memuji hasil kerja sendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh musuh-musuh Paulus.

Hal yang sama berlaku dalam giat pelayanan kita bagi Tuhan. Pemilik dari pelayanan ini adalah Tuhan, dialah yang empunya segala sesuatu. Jika kita aktif melayaniNya harusnya status kita tetap menjadi pelayan yang menghamba dan bukan tuan yang memerintah. Sebab Tuhanlah yang menjadi Tuan dan kepala. Layanilah dengan setia, lakukan yang terbaik, selanjutnya jangan kita yang dipuji orang, biaralah Tuhan Yesus Kristus yang ditinggikan dan dimuliakan.

2.      Lakukanlah setiap tugas dan pekerjaan berdasarkan yang telah ditetapkan (sesuai batas wilayah dan kemampuan) sebagaimana yang disingggung Paulus dalam ay.14. Hal ini penting supaya jangan besar pasak daripada tiang. Artinya tiap kerja yang kita lakukan di kantor atau pelayanan di gereja sebanding dengan kesanggupan kita dan kemampuan skill yang dimiliki.

Penting untuk mengambil prinsip: “Kerbau punya susu jangan sapi punya nama”. Hal ini berarti jangan mencari pujian dari yang bukan hak kita yakni bukan dari usaha dan kerja kita (bd.ay.15). Adalah lebih baik memperoleh patner kerja dalam pelayanan maupun tugas pekerjaan kerja dari pada berkompetisi dan menjatuhkan orang lain.

3.      Jika kita menjadi berhasil dan kemudian memperoleh banyak pujian, bolehkan kita bermega? Jawabnya adalah BOLEH..!!! Adalah manusia untuk bangga dan senang terhadap hasil yang telah kita capai. Tetapi bermegah yang kita lakukan harusnya bermegah di dalam Tuhan. Artinya, tujuan akhir dari kesenangan dan kebanggaan itu adalah supaya Tuhan ditinggikan dan di agungkan dan bukan kita yang menjadi pusat perhatian dan atau pujian.

Kiranya kita dapat melakukannya. Amin.

EFESUS 5:15-21 HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN


EFESUS 5:15-21
HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN
Bahan Khotbah Ibadah Keluarga Rabu
Rabu, 25 Juli 2018

Pengantar
            Dalam judul perikop yang ditentukan LAI, bagian ini termasuk dalam nasihat: “Hidup sebagai Anak-anak Terang”, yang adalah kelanjutan dari (judul perikop) “Manusia Baru.”  Ini berarti, setelah bicara tentang bagaimana Allah memilih kita (orang-orang percaya dalam Kristus Yesus) ... supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (1: 2,4), Paulus menghendaki adanya pembaruan diri dalam setiap orang percaya.  Jadi, orang yang sudah percaya kepada Kristus, tidak hanya berubah ‘status keagamaannya’ tetapi juga karakter dan gaya hidup.

Pemahaman Teks
Ay. 15       Istilah ‘bebal’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sukar mengerti; tidak cepat menanggapi sesuatu (tidak tajam pikiran); bodoh, sedangkan ‘arif’ ber-arti bijaksana; cerdik dan pandai; berilmu; paham; mengerti.  Ini berarti, dalam (menjalani) hidup, kita harus bijaksana, cerdik dan pandai, berpengetahuan, cepat paham, memiliki pengertian bukan malah bersikap atau berlaku bodoh: tidak cepat tanggap ataupun lambat berpikir.  Nasihat ini ditekankan kembali pada ay. 17: ja-ngan bodoh tetapi … mengerti kehendak Tuhan.  Dengan demikian, ‘hidup seperti o-rang arif’ yang dimaksud Paulus adalah secara khusus (spesifik), dalam hal mengerti kehendak Tuhan.  Orang yang mengerti apa yang Tuhan kehendaki adalah orang yang arif (cerdik dan pandai, berpengetahuan, cepat paham dan memiliki pengerti-an).

Ay. 16       Yang dimaksud dengan ‘hari-hari ini adalah jahat’ mengacu pada hari-hari ketika tipu muslihat iblis sangat kuat dan mudah mempengaruhi segala sesuatu yang ada di dunia ini (6:11-12).

Ay. 18-9    Mabuk anggur dengan dipenuh Roh secara umum memperlihatkan gejala yang sama yaitu berkata-kata dalam bahasa asing (yang tidak dimengerti orang pada umumnya, Kis 2:6 dan 11).  Akan tetapi tentu saja menyebab dan dampaknya bertolak bela-kang: mabuk anggur menimbulkan hawa nafsu sedangkan kepenuhan Roh menim-bulkan kemampuan berkata-kata tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilaku-kan Allah (Kis 2:11).  Dalam surat ini, Paulus ‘mengusulkan; supaya kata-kata ten-tang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah disampaikan dalam bentuk mazmur (seperti kebiasaan ibadah Yahudi), kidung puji-pujian dan nyanyian rohani.  Jika kita bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan, biarlah tindakan itu lahir dari segenap hati yang dipenuhi Roh bukan kemabukan (= di luar kesadaran).

Ay. 20       Mengucap syukur senantiasa … adalah juga tindakan yang lahir dari penjiwaan akan perbuatan besar yang dilakukan Allah (= lahir dari segenai hati).

Ay. 21       Nasihat ‘rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” adalah penting sebagai awal mula dari seorang ‘manusia baru’ atau ‘anak terang’ membangun hubungan dengan sesamanya (tidak hanya dengan Tuhan secara pribadi).

Renungan dan Penerapan
Mari mulai dengan pertanyaan reflektif: apa susahnya bagi kita untuk mengerti ke-hendak Tuhan?  Sebenarnya, mengerti kehendak Tuhan tidak susah karena beginilah firman TUHAN … :” Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberita-hukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui … (Yer 33:2-3)”  Yesus pun berkata; "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; cari-lah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.  Karena seti-ap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap o-rang yang mengetok, baginya pintu dibukakan (Mat 7:7-8, Luk 11:9-10).”  Ini berarti, bagi kita yang sungguh-sungguh menanyakan/ mencari tahu kehendak Tuhan, tidak mungkin Tuhan tidak memberitahu atau menyatakan (Ul 4:29).  Akan tetapi, benar yang dikira Paulus bahwa yang membuat kita tidak mengetahui kehendak Tuhan bukan karena Tuhan tidak memberita-hu/ menyatakan tetapi kitalah yang ‘bebal’: sudah diberitahu tetapi sukar atau tidak mau me-ngerti, lambat/ enggan menanggapi (karena tidak susai dengan yang diharapkan) lalu tidak berpikir tajam terhadapa apa yang Tuhan nyatakan. 

Inilah mengapa Paulus mengatakan: hi-dup seperti orang arif yang ‘cerdas membaca’ apa yang Tuhan nyatakan di hadapan kita lalu bijaksana, cerdik dan pandai menanggapi penyataan Tuhan itu.  Dalam keterbatasan kita sebagai manusia, tidak mungkin kita dapat mengerti sepenuhnya kehendak Tuhan namun bu-kan berarti kehendak Tuhan sama sekali tidak dapat dimengerti oleh kita, manusia.  Diskusi 1 (SGDK):  Bagaimana kita bisa belajar mengerti kehendak Tuhan?

Selanjutnya Paulus mengingatkan kita untuk mempergunakan waktu (= kesempatan) yang ada di tengah-tengah tipu muslihat iblis yang menguasai dunia (6:11-12).  Salah satu tipu muslihat iblis yang nyata diangkat Paulus dalam suratnya ini adalah ketika kita sulit membe-dakan antara ‘mabuk anggur’ dengan ‘kepenuhan roh’.  Dalam kenyataannya, orang yang (di-ibaratkan) ‘mabuk anggur’ adalah yang mengerjakan segala sesuatu, termasuk pelayan, tanpa bisa mengendalikan diri/ hawa nafsu (ambisius, ingin menjadi pusat perhatian, ingin mengua-sai, ingin didengar dan dipatuhi, ingin dihargai dan dihormati, mengejar materi, dll) sehingga hasil dari perbuatan/ pekerjaan/ pelayanannnya bukannya sesuatu yang menyelamatkan ma-lah mengacaukan. 

Berbeda dari itu, orang yang dipenuhi roh akan bekerja dalam takut akan Tuhan dan berusaha membangun hubungan yang baik dengan sesamanya (= ay. 21).  Sekali-pun kesempatan untuk kita bekerja seperti itu tidak banyak karena tipu muslihat iblis lebih menguasai dunia namun kita harus dapat melihat adanya kesempatan itu dan memperguna-kan sebaik mungkin sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.  Diskusi 2 (SGDK):  Bagaimana kita dapat mewujudkan sikap hidup yang dikehendaki Tuhan?

Penutup
Menjelang akhir nasihatnya, Paulus memasukan unsur seni dalam hidup kita sebagai ‘anak-anak Terang’ yaitu berkata-kata ... dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian ro-hani.  Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (5:19).  Tidakkah hal ini membuat kita bertanya:  Bagaimana jika kita tidak bisa bernyanyi?  Bernyanyi adalah cara yang menyenangkan untuk berkata-kata tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah sehingga mudah bagi kita maupun yang mendengar untuk menghayati karya Allah asal-kan nyanyian itu berangkat dari segenap hati dan digerakan oleh Roh, bukan sekedar meramaikan suasana. Amin.
Pdt. Cindy Tumbelaka


Monday, July 16, 2018

MAZMUR 42:7-12 ALLAH SUMBER PENGHARAPAN


MAZMUR 42:7-12
ALLAH SUMBER PENGHARAPAN
Bacaan Khotbah Ibadah PKP
Kamis, 19 Juli 2018

Pendahuluan
Mazmur 42 merupakan bagian dari Jilid II kitab Mazmur (pasl 42-72) yang ditulis oleh Korah untuk pengajaran bagi bani Korah. Khusus pasal ini berkisah tentang kerinduannya pemazmur kepada Allah dan bagaimana ia mengharapkan kedekatan hubungan dengan Allah.

Sebagai contoh dapat dilihat keinginan kuatnya merindukan Allah bagai seeokor rusa merindukan air. Ada dua makna pada ayat 2 dan 3  itu, yakni: pertama, kerinduaannya bagaikan rasa haus sekor rusa yang rindu dipuaskan oleh air di sungai yang mengalir. Kedua, rindu kepada Allah bagaikan kerinduan untuk selamat dari mangsa, seperti rindunya Rusa merendam diri di air agar mau khasnya tak tercium oleh Pemangsa.

Telaah Perikop
Terdapat beberapa pokok penting yang perlu ditekankan dalam bacaan kita saat ini, yaitu:

1.      Mencari Allah dalam kesesakan (ay.7)
Apa yang dilakukan seseorang ketika mengalami jalan buntu atau halangan dalam kehidupan. Sudah pasti akan menggeliat mencari jalan keluar. Ada banyak cara akan ditempuh oleh tiap orang demi memperoleh jalan keluar. Mulai dari cara wajar hingga kurang ajar; mulai dari yang manusiawi hingga korbankan sesama manusia.

Pemazmur memberikan contoh yang menarik. Ia saat itu sedang mengalami tekanan yang luar biasa kuat dalam dirinya (ay.7). Siapakah yang ia cari? Pemazmur menyebut bahwa di saat tekanan datang ia justru teringat kepada Tuhan. Fokus pemazmur bukan pada masalah itu, tetapi sebaliknya kepada Tuhanlah ia menengadah.


2.      Cara menemukan Allah dalam kesesakan (ay.8)
Bagaimana menemukan Tuhan? Ini pertanyaan yang menarik bukan? Perhatikan bacaan kita hari ini! Ingatan pemazmur melayang ke sungai Yordan dan pegunungan Hermon (ay.7); samudra raya, gulungan ombak dan gelombang (ay.8). Ternyata Tuhan dapat dilihat kehadiranNya melalui karya ciptaanNya.

Pemazmur mengingatkan kita bahwa di mana tempat disegala situasi bahwakan di alam sekitar Tuhan dapat ditemui. Sangat penuh tekanan hidup, Tuhan dapat hadir menenagkan melalui suara burung yang berkicau, atau aliran sungai yang jatuh menjadi air terjun. Melihat ciptaan Allah dan mengaguminya adalah juga salah satu cara merasakan kehadiran Tuhan.

3.      Jangan melupakan Tuhan (ay.9)
Selanjutnya, apa yang dilakukan oleh pemazmur ketika ia telah menikmati kehadiran Tuhan? Perhatikan ayat 9 bacaan kita! Di siang hari pemazmur menikmati kehadiranNya melaluli segaala ciptaan Tuhan dan bahkan dapat merasakan kasih setia-Nya itu di siang hari. Apa yang pemazmur lakukan ketika memasuki malam untuk menutup hari? Pemazmur bersyukur lewat doa dan memuji memuliakan Allah yang luar biasa itu melalui nyanyian dan pujian.

Pemazmur mengajarkan kita bahwa jangan pernah melupakan kemurah dan kasih setia Tuhan. Bersyukur selalu atas segala penyertaaNya adalah suatu hal penting untuk dilakukan sebagai umat yang menikmati kasih karuniaNya itu.

4.      Berharap pada Allah (ay.10-12)
Pemazmur menutup bagian ini dengan mengisahkan ketegangan hidup dan persoalan yang menekan jiwanya. Bahkan dalam kekalutan ia berseru kuatir akan seakan Allah tidak mendengar sehingga menjadi bahan ejekan musuh (ay.10,11), tetapi kemudian ia tiba-tiba menjadi tenang dan berbisik pada dirinya sendiri: “berharaplah kepada Allah” (ay.12).

Menarik untuk disimak bahwa pemazmur rupanya terlalu fokus pada ejekan musuh, terlalu kuatir seakan ditinggal Tuhan, dan batinnya hanya terpusat pada masalah, sehingga lupa bahwa penolongnya adalah Allah. Ia baru kemudian menyadari akan hal itu dan berkata pada diri sendiri: “mengapa engkau tertekan hai jiwaku? Berharaplah kepada Allah!”

Pemazmur seakan menyatakan kepada kita bahwa adalah manusiawi untuk takut dan kuatir, dan atau tertekan dengan masalah. Tetapi seharusnya tidak melupakan janji pertolongan yang Tuhan beri. Sehingga fokus hidup bukan lagi pada badai yang menyerang melainkan pada Sang Juru Mudi kehidupan yaitu Allah.


Relevansi dan Aplikasi
1.      Berhentilah mencari kekuatan yang lain untuk menolong kita. Jarilah Tuhan dan ingatlah akan kebaikanNya. Itulah yang dilakukan oleh Pemazmur.

Kita juga diingatkan pada bacaan ini bahwa mengingat perbuatan Allah yang baik dan luar biasa dalam hidup kita di masa lalu akan sangat menolong kita untuk meyakini penyertaan Tuhan ditengah persoalan yang sedang dihadapi. Jika Tuhan ada dan menolong pada waktu lalu, maka kuasanNya juga tetap ada di tiap waktu termasuk di saat kita tertekan dalam hidup.

2.      Seperti pemazmur, bukankan banyak orang juga berusaha dalam kepanikan mencari Tuhan yang seakan bersembunyi? Lalu betapa terkejutnya dia karena justru menemukan Tuhan di deru air terjun dan gulungan gelombang? Demikian juga dengan kita, kadang ketika kita memetakan sendiri kehadiran Tuhan dalam bentuk yang spektakuler, ternyata dia hadir dalam bentuk yang adem dan biasa.

Sebagai contoh, berapa sering kita berharap agar disembuhkan Tuhan dari sakit, namun tidak mau kedokter dan terus berdoa agar disembuhkan. Padahal ternyata Tuhan sedang memakai seorang dokter untuk dengan keahlian yang Ia berikan pada para medis ini deteksi penyakit ditemukan dan sekaligus penentuan obat penawar sakit telah disiapkan. Tuhan bisa hadir di mana-mana. Persoalannya apakah kita dapat mengaminkan kehadiranNya itu?

3.      Jika terlalu fokus melihat gelombang dan badai, kita akan lupa pada Yesus yang ajaib sebagaimana para murid lupa bahwa ada Yesus yang tertidur di dalam kapal ketika badai menyerang.

Pemazmur mengakui hal itu pada ayat 12. Ternyata ia terlalu gundah dan tertekan karena masalah dan melupakan kuasa Allah yang adalah penolong ajaib. Bukankah kitapun demikian? Bukankah masalah yang terlalu besar yang datang membuat kita semakin merasa kecil dan tak ingat lagi pada yang maha besar? Karena itu mari yakinlah: ”Bahwa masalah yang datang memang sangat besar, tetapi Yesus Tuhan kita Maha Besar melebihi persoalan hidup kita”.

Kiranya kita dimampukan melakukan Firman Tuhan Ini. Amin.

MATIUS 19:23-26 SULIT BUKAN BERARTI TIDAK BISA


MATIUS 19:23-26
SULIT BUKAN BERARTI TIDAK BISA
Bahan Khotbah Ibadah PKP
Kamis, 26 Juli 2018

Pendahuluan
Kisah ini merupakan lanjutan dari ayat 16-22 tentang seorang muda yang kaya, yang datang kepada Yesus mengenai bagaimana sesungguhnya dapat beroleh hidup yang kekal. Yesus menjawab dia dengan memintanya melakukan semua perintah Allah (ay.17-19) dan ternyata semua itu sudah ia lakukan (ay.20). Itulah sebabnya Yesus menyarankannya untuk menjual seluruh kekayaannya, memberikan kepada orang miskin dan kemudian mengikuti Yesus (ay.21). Tetapi rupanya ia tidak bersedia melakukannya (ay.22), dengan alasan hartanya begitu banyak.

Telaah Perikop
Terdapat beberapa pokok penting dari ayat 23-26 bacaan kita saat ini untuk menjadi perhatian kita bersama, yakni:

1.      Kekayaan menghalagi kehidupan Kekal (ay.23)
Menurut Yesus, sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan Sorga (ay.23). Teks ini tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa semua orang kaya pasti tidak akan masuk kerajaan Sorga. Sehingga banyak orang menyangka bahwa menjadi kaya adalah dosa di hadapan Tuhan. Pemahaman seperti ini tidaklah benar.

Jika memperhatikan ayat-ayat sebelumnya, kita akan dengan mudah memahami pernyataan Tuhan Yesus ini. Ketika Yesus meminta orang muda yang kaya ini untuk menjual hartanya, maka ia pergi dengan sedih, karena banyak hartanya (ay.22). Apa artinya? Rupanya si kaya ini terlalu terikat pada kekayaannya dan menjadikan kekayaan sebagai sumber dari segala kehidupannya bahkan lebih memilih untuk tinggalkan Yesus dan tidak mengikutiNya demi menjaga agar kekayaannya tetap ada dan tak berkurang.

Dari pemahaman ini kiranya menjadi jelas bahwa kekayaan, jika menjadi fokus hidup, akan menggiring orang pada kebutaan rohani sehingga ia tidak melihat keselamatan yang dianugerahkan. Sebab menurut Mat.6:21 “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Hal ini berarti jika orang lebih mencintai harta di dalam hatinya, maka tidak mungkin ia mengasihi Tuhan dan berkorban untukNya. Jika itu terjadi maka, kekayaannya telah menjadi penghalang baginya untuk beroleh hidup kekal. 

2.      Sukar bukan berarti tidak bisa (ay.24)
Yesus berkata: “lebih mudah seeokor unta masuk melalui lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah” (ay.24). Kita barangkali bertanya: “bagaimana mungkin ada seeolor unta masuk lubang jarum? Bukankah benangpun sukar?” Lubang jarum yang dimaksud bukanlah jarum jahit yang ada lubangnya. Jika demikian, jangankan unta, semutpun akan sukar melaluinya.

Di pintu gerbang Israel terdapat dua pintu. Pertama, pintu gerbang besar, yang biasanya dipakai oleh orang-orang yang lewat jika menggunakan binatang yang ditumpangi atau membawa barang yang bertumpuk tinggi dan atau jika dengan rombongan besar. Kedua, pintu gerbang kecil. pintu ini terletak di tengah pintuh gerbang besar, yang biasa disebut dengan anak pintu. Ukurannya hanya setinggi manusia dewasa yang paling banyak bisa dilewati dua orang sekaligus ketika berjejer. Jadi jauh lebih kecil dibanding gerbang yang bebar itu. Gerbang kecil ini biasa disebut dengan lubang jarum atau jalur untuk manusia lewat dan bukan unta yang penuh barang.

Apakah unta bisa lewat. Jawabnya bisa. Tetapi perlu dipaksa, dibantu dorong dan tanpa membawa beban atau barang. Jika Yesus menyebut orang kaya sukar masuk ke dalam kerajaan sorga, tidak berarti tidak bisa, melainkan masih dapat diupayakan. Sebagaimana unta akan ditanggalkan barang bawaan, lalu di dorong atau ditarik oleh orang lain, maka demikian juga orang kaya itu. Ia harus bersedia merelakan barang bawaannya (kekayaannya) untuk ditanggalkan, lalu kemudian dibantu oleh orang lain untuk di dorong atau di tarik sehingga lolos melewati lobang jarum tersebut.

Hal ini memberi makna, bahwa walaupun sukar, seorang kaya yang amat tergantung pada kekayaannya masih tetap memiliki peluang untuk menemui kekekalan hidup jika ia ia sadar bahwa harta bukan segala-galanya dan kemudian rela untuk melepaskannya. 

3.      Segala sesuatu mungkin bagi Allah (ay.26)
Mungkin ada kita yang bertanya: Apakah ada orang kaya yang mau melepaskan hartanya? Mustahil bukan? Bagi kita mustahil, tapi tidak bagi Allah. Tuhan punya banyak cara untuk menggiring orang yang terpaut pada hal-hal duniawi untuk tertarik dan kemudian fokus pada hal-hal yang rohani.

Tuhan juga bisa memakai kita untuk menjadi alat bagi mereka yang mencintai perkara duniawi agar kemudian lebih bergantung kepada Kristus yang empunya segala sesuatu termasuk harta dan kekayaan di dunia ini.


Relevansi dan Aplikasi
1.      Menjadi kaya bukan dosa. Bekerja untuk memperoleh keayaan bukanlah suatu kesalahan. Tetapi jika kita menjadikan kekayaan sebagai segala-galanya dalam kehidupan ini sehingga Tuhan diabaikan, maka itulah dosa dan kesalahan.

Bukankah banyak kisah yang kita baca dan dengar mengenai hancurnya kehidupan perkawinan dan rusaknya pergaulan anak-anak justru disebabkan dari upaya mengengejar kekayaan? Sebut saja misalnya: sibuknya orang tua bekerja, anak-anak tidak mendapat perhatian dan akhirnya lari mencari perhatian ke orang lain yang menjerumuskan masa depan mereka; suami yang terlalu sibuk bekerja atau istri yang sibuk berkarir, tetapi lupa memperhatikan pasangan masing-masing, akhirnya membawa malapetaka ketika pasangannya memperoleh perhatian dari orang lain.
Bukankah juga sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang Kristen yang tidak dapat aktif beribadah, di hari Minggu sekalipun oleh karena “tidak punya waktu” lagi akibat keseibukan ditempat kerja? Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Kekayaan seharusnya dipakai untuk menciptakan suasana harmonis, rukun dan damai dan menjadi kesaksian bagi kemuliaan Tuhan dan bukan sebaliknya.

2.      Selalu ada kesempatan bagi setiap orang untuk merubah diri mereka dari ketergantungan kepada harta benda dan kekayaan mereka. Memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa. Mulailah untuk mengubah fokus hidup bukan pada kehidupan duniawi; jadikan kekayaan sebagai sarana dan bukan tujuan utama. Sebab tujuan utama kita adalah demi kemuliaan Allah; harta benda hanya alat dan atau saranya.

Bukankah Tuhan Yesus telah mengingatkan: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat.6:33). Perhatikanlah bahwa Yesus tidak berjanji untuk memberikan sesuatu jika kita mencari kerajaan Allah, melainkan ia berjanji menambahkan apa yang sudah ada bagi kita. Artinya, jika kita lebih condong hati ke Kerajaan Allah maka segala hal yang kita miliki semakin bertambah. Bukankah ini berarti bahwa Harta bukan segala-galanya?

Kiranya kita dimampukan untuk menjadikan Allah yakni Bapa kita di dalam Yesus Kristus sebagai pusat dari segala sesuatu dan bukan harta kekayaan kita. Amin.

Sunday, July 15, 2018

EFESUS 1:15-23 NYATAKANLAH SYUKURMU


EFESUS 1:15-23
NYATAKANLAH SYUKURMU
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Minggu
22 Juli 2018

PENGANTAR (Latar Belakang Kitab)
Surat kepada jemaat di Efesus ini ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia sedang berada dalam penjara di Roma sekitar tahun 60-61 M. Surat ini dikirim Paulus ke Efesus melalui seorang yang bernama Tikhikus (6:21,22) yang juga adalah orang yang sama menyampaikan surat kepada jemaat Kolose. Hal ini terlihat dengan jelas pada kesamaan atau kemiripan redaksional penutup kedua surat ini yakni pada Kol.4:7 dan Ef.6:21-22.

Pada saat itu Efesus dan masyarakatnya dari sisi keagamaan masih sangat dipengaruhi pada penyembahan terhadap dewi Artemis. Penyembahan terhadap dewi ini menjadi hal pokok dan utama bukan saja karena ia dianggap sebagai demi kesuburan dan kemakmuran, namun juga karena di beberapa tempat pada budaya Yunani Kuno, dewi Artemis dipandang sebagai Soteira (penyelamat) dan Agrotera (pemburu) dan merupakan dewi pemimpin para penjaga dari segala hal yang ada di alam liar seperti pohon dan sungai. Bagi Efesus, dewi Artemis sangat dipuja karena ia dianggap menjamin keselamatan dan kehidupan mereka.

Itulah sebabnya isi surat Efesus yang dituliskan Paulus ini berintikan ajaran tentang bagaimana memperoleh keselamatan yang sejati dalam diri orang percaya. Hal ini dengan sengaja dutulis untuk mematahkan pemahaman keselamatan yang muncul diberbagai budaya dan bangsa termasuk Efesus.

TELAAH PERIKOP (Tafsiran)

Ayat 15-17
Bagaimana seharusnya kondisi Paulus ketika menulis surat kepada jemaat di Efesus ini? Silakan bayangkan kondisi orang yang dalam penjara. Sudah pasti menderita, tertekan, dan bisa jadi menyesali hidup. Apalagi Paulus dipenjara bukan karena suatu kesalahan melainkan karena memberitakan Injil Yesus Kristus. Tetapi, perhatikan kondisi dan suasana hati Paulus ketika menulis surat ini: “aku... tidak berhenti mengucap syukur...” ( ay.16). Ternyata Paulus bukan menggerutu, bukan tertekan dan kecewa, tetapi justru ia bersukacita dan bersyukur.

Mengapa demikian? Ayat 15 menjelaskan alasannya. Paulus tetap bersukacita dan bersyukur walaupun ia dalam penjara disebabkan karena suatu alasan yang menurut Paulus itu sangat penting, yakni mendengar kabar tentang iman orang-orang Efesus. Dari mana Paulus tahu? Sangat mungkin dari Tikhikus (6:21,22). Ternyata jemaat yang ia bentuk ini menunjukkan perkembangan yang sangat baik, sehngga menjadi “obat” baginya yang mendatangkan sukacita walau ia berada dalam penjara. Kondisi dalam penjara bukan saja berubah suasana karena kabar itu tetapi juga membuat Paulus lupa tentang suasana penjara karena kesibukan yang baru dalam penjara yakni menjadi pendoa bagi jemaat itu (ay.16) dan sekaligus mendampingi mereka melalu surat yang menguatkan.

Ayat 18-21
Dalam kesesakan dan kebuntuan jalan, pengharapan sangat penting. Itulah sebabnya dalam surat di Efesus ini, Paulus mendoakan mereka agar memperoleh pengertian tentang pengharapan kepada Yesus Kristus (ay.18). Bahwa menurut Paulus, pengharapan yang dimaksud adalah pada kuat kuasa Yesus Kristus yang duduk di seblah kanan Allah Bapa (ay.19,20) dan bahkan kuasaNya itu jauh lebih besar dari kuas amanapun di dunia termasuk para pemerintah yang memenjarakannya (ay.21).

Sangatlah mungkin bahwa kekuatan pengharapan inilah yang membuat Paulus kuat dan mampu menanggung derita di dalam penjara dan kemudian dengan kekuatan itu, ia justru mampu menguatkan dan meneguhkan jemaat Efesus. Bukankah seharusnya orang yang di luar penjara-lah yang menguatkan mereka yang terpenjara? Justru sebaliknya, Paulus menjadi penguat dalam suratnya ini.

Ayat 22-23
Paulus menyebut kata kunci penting bagi hidup berjemaat terutama bagi jemaat Efesus bahwa yang utama dari segala sesuatu adalah mengakui Yesus Kristus sebagai Kepala segala sesuatu termasuk kepala dari jemaat Efesus (ay.22), dan selanjutnya kesadaran diri pada Efesus bahwa mereka adalah tubuhNya (ay.23).

Hal ini bagi Paulus sangatlah penting untuk mengajak jemaat berada dalam satu kesatuan “komando” dari satu kepala yakni Yesus Kristus Tuhan, sekaligus mengingatkan mereka bahwa mereka dalah tubuh Kristus sebagai jemaat agar hidup tidak terpecah, melainkan tetap menjadi satu; menjaga kekudusan hidup sebagai mana Yesus Kristus yang adalah kepala.

Jika memperhatikan keseluruh tulisan Paulus ini, hal mengucap syukur memang karena kabar baik dari Efesus. Tetapi kekuatan mengucap syukur datangnya dari Yesus Kristus. Dialah sumber dari ungkapan Syukur Paulus.


RELEVANSI DAN APLIKASI (Penerapan).
1.      Tinggal dalam penjara di Roma tidaklah mudah bagi Paulus. Pada umumnya para tahanan dalam penjara berpijak pada lantai yang tidak datar, atau memiliki sudut kemiringan. Tangan diikat menjadi satu dengan rantai dan terkait pemberat dari batu yang dibuat menyerupai bola volly. Hal yang sama juga terjadi pada kedua kaki. Kaki dan tangan yang terikat itu kemudian dihubungkan dengan seutas rantai pendek. Sehingga ketika berbaring, cara tidur terbaik adalah tidur melengkung (tidur pistol) atau posisi menyamping sambil melengkungkan badan.

Silakan bayangkan kondisi ini terjadi pada Paulus. Lalu tiba-tiba ia menulis surat dan berkata kepada jemaat Efesus melalui suratnya: “aku... tidak berhenti mengucap syukur...” ( ay.16). Wow... bagaimana mungkin mengucap syukur dengan kondisi seperti itu? Bukankah lebih tepat seharusnya Paulus menggerutu, bersungut dengan kondisi tersebut? Bersyukur dalam penderitaan adalah hal yangg tidak mungkin, tidak logis dan hampir tidak ada yang mau dan bersedia melakukannya.

Tetapi mengapa Paulus mampu melakukannya? Dalam 1 Tes. 5:18, Rasul Paulus mengajarkan: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”. Ternyata perintah ini tidak hanya ia ajarkan tetapi juga ia lakukan dan kerjakan. Bagaimana caranya?

Adalah penting bagi kita untuk mengucap syukur dalam segala keaadaan. Tapi adalah mustahil mengucap syukur di saat sakit atau berduka bukan? Lalu bagaimana mampu melakukannya? Paulus mengucap syukur bukan alasan tentang apa yang ia alami. Ia tidak mengucap syukur berdasarkan kondisi dirinya, melainkan tentang apa yang Tuhan buat bagi jemaat Efesus yang telah berhasil dalam iman (ay.16). Itu berarti kita diajak mengucap syukur bukan karena melihat apa yang terjadi di bawah yaitu disekitar kita (sehat, sakit, bahagia, susah, bekerja, pensiun, ulangtahun dll), tetapi berdasarkan tentang apa yang dilakukan Tuhan di atas sana.

Tidak peduli apa yang terjadi pada kita di bawah kolong langit ini, yang penting adalah apa yang Tuhan lakukan dan rancangkan di atas sana, itulah alasan kita mengucap syukur. Sebab rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera.

2.      Kemajuan Iman jemaat Efesus menjadi inspirasi bagi Paulus untuk bersyukur (ay.16) dan sekaligus membuatnya menyibukkan diri untuk meneguhkan dan menguatkan Efessus melalui doa pribadi dan berbagai nasehat dalam suratnya itu (ay.18-23).

Berapa banyak dari kita yang cendrung untuk menyerah pada keadaan pahit yang dialami. Belajar dari Paulus yang tidak berharap di hibur orang diluar penjara, tetapi malah menjadi kekuatan dan berkat bagi mereka di luar sana, maka demikianlah harusnya kita. Kondisi dan keadaan yang ia alami tidak menjadi penghalang baginya untuk bersyukur dan melanjutkan karya memberitakan injil walau dalam penjara. Kondisi terpuruk itu justru dijadikan kekuatan untuk terus berkarya.

Bagaimana dengan kita? Kiranya kita dimampukan melihat peluang untuk dapat bersyukur dalam segala hal. Paulus bersyukur karena pertumbuhan Iman Efesus, walau ia sendir dalam penjara. Kita diajarkan untuk juga melihat berbagai peluang di kondisi tidak nyaman sekalipun untuk dapat bersyukur dan memuliakan Allah.

Di sisi yang lain, kitapun di ajar untuk tidak terpaku pada “penjara” hidup kita masing-masing, sebagaimana Paulus tidak terpaku pada sempitnya Penjara, namun tetap sibuk menulis surat dari penjara untuk menguatkan jemaat Efesus dan Kolose. Berhentilah fokus pada masalah dan beban hidup. Jangan hanya melihat beban yang dipikul, alihkanlah sudut pandang kita pada kekuatan dan kuasa Allah dalam Yesus Kristus untuk beroleh pengharapan (ay.18-20) dan mulailah menjalani kehidupan yang posistif sebagaimana Paulus lakukan.

Kiranya, kita semua dimampukan. Amin.


Friday, July 13, 2018

MAZMUR 40:12-18

"Merasa Tidak Mampu"
Bahan Khotbah Ibadah Keluarga GPIB Pniel Palembang
Rabu, 18 Juli 2018 


Pengantar
Keterangan tentang mazmur ini hanya ditulis “untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.” Artinya, kemungkinan besar mazmur ini ditulis berdasarkan pengalaman hidup Daud.  Selanjutnya, pada bagian bawah, Alkitab LAI merujuk pada Mzm 70:2-6.  Pada Mzm 70 ini ditulis keterangan yang lebih jelas yaitu “untuk pemimpin biduan, Dari Daud, pada waktu mempersembahkan korban peringatan.”

Berdasarkan keterangan itu, baik-lah kita mencari tahu, apa yang dimaksud dengan ‘korban peringatan’. Korban peringat-an disebut juga dengan korban sajian cemburuan, yaitu suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan (Bil 5:1-18).  Bil 5:11-18:  "… Apabila isteri seseorang berbuat serong dan tidak setia terhadap suaminya, dan laki-laki lain tidur dan bersetu-buh dengan perempuan itu, dengan tidak diketahui suaminya, … dan apabila kemudian roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya … maka haruslah orang itu membawa isterinya kepada imam. Dan orang itu harus memba-wa persembahan karena perempuan itu sebanyak sepersepuluh efa tepung jelai, yang ke atasnya tidak dituangkannya minyak dan yang tidak dibubuhinya kemenyan, karena kor-ban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan ke-pada kedurjanaan …”

Berdasarkan keterangan ini, besar kemungkinan bahwa mazmur ini berhubungan dengan peristiwa Daud dan Batsyeba (2Sam 11:1-27).

Pemahaman Teks
Ay. 12&14          
adalah permohonan supaya TUHAN jangan menahan rahmat, kasih dan kebenaran-Nya tetapi melepaskan dan menolong Daud. 

Ay. 13   
Daud merasa dikejar-kejar bukan saja oleh musuh yang kelihatan tetapi oleh rasa bersalah sehingga ia mengalami malapetaka.  Malapetaka ini merujuk pada peristiwa diambilnya isteri-isteri Daud oleh Tuhan untuk ditiduri oleh orang lain dengan sepengetahuan Daud dan di depan mata orang Israel, kematian anak pertama Batsyeba dari Daud sampai peristiwa saling bunuh di antara keturunan Daud (2Sam 12:10-13).

Ay. 15-16            
Menggambarkan keberadaan musuh-musuh Daud yang memang menunggu-nunggu bilamana Daud mati ataupun celaka maka mereka akan bersorak.

Ay. 17   
Sebaliknya dari itu, orang yang mencari keselamatan dari Tuhan akan bergembira dan bersukacita.

Ay. 18     
Adalah keyakinan iman bahwa Tuhan memperkatikan dan menolong bahkan membebaskan orang yang mencari keselamatan dari pada-Nya dengan tidak terlambat.

Renungan dan Penerapan
Rasa bersalah dan doa mohon pengasihan Tuhan yang sedemikian, membuat ki-ta tergelitik untuk menelusuri: apa sebenarnya disesalkan Daud.  Peristiwa Daud dan Bat-syeba (2Sam 11:1-27) ternyata memakan tidak hanya nyawa Uria, suami Batsyeba tetapi juga anak pertama yang dilahirkan Batsyeba bagi Daud.  Ketika raja Daud ditegur nabi Natan, Tuhan (melalui nabi Natan) menekankan bahwa membiarkan sesama umat Tuhan mati di tangan orang kafir adalah suatu penghinaan dan penistaan bagi Tuhan (2Sam 12:9).  Tidak berhenti sampai di situ, anak pertama Batsyeba dari Daud yang tidak tahu apa-apa pun akhirnya mati menanggung tulah (2Sam 12:15-19).  Rasa bersalah atas dua nyawa inilah yang sepertinya membuat Daud tidak berhenti dikejar rasa bersalah dan terus menerus mohon pengampunan Tuhan.

Hampir semua kita pernah melakukan kesalahan atau berbuat dosa sedemikian rupa yang membuat kita merasa seperti ‘masih dikejar-kejar’.  Dosa atau kesalahan yang kita lakukan bisa jadi memang merupakan masalah serius dan berdampak parah, tidak hanya bagi kita sendiri tetapi orang lain.  Mungkin sama seperti Daud, kita pun pernah memohon kepada Allah … berpuasa dengan tekun … menghukum diri (tidak mau bangun dari tanah, tidak makan, mengurung diri, dll (2Sam 12:16), namun kita tetap ‘dihukum’ Tuhan:  anak pertama Batsyeba dari Daud, tetapi mati tanpa ampun.  Diskusi 1:  Jika kita sudah mohon ampun sedemikian rupa tetapi Tuhan tetap menghukum, apa yang sebaiknya kita lakukan dan bagaimana kita menyikapi keputusan Tuhan itu?

Setelah anak pertama Batsyeba dari Daud mati sesuai keputusan Tuhan, Daud pun bangkit kembali menata hidup dengan Batsyeba (2Sam 12:24-25).  Semua kita pun sebaiknya begitu.  Salah satu yang dilakukan Daud adalah dengan mempersembahkan korban peringatan sesuai ketentuan.  Akan tetapi terbukti bahwa (ritual) mempersem-bahkan korban peringatan atau upaya memenuhi syarat demi mendapat pengampunan Tuhan, kadang tidak cukup menghapus rasa bersalah.  Dalam melakukan ritual itu pun, kita masih tidak berhenti memohon rahmat, kasih dan kebenaran Tuhan untuk melepas-kan dan menolong kita.  Ini berarti, mengimani pengampunan Allah memang tidak semudah melakukan ritualnya.

Sebagai orang Kristen, ‘ritual’ pengampunan dosa pun sangat sederhana: me-ngakui kesalahan, memohon ampun dan tidak mengulangi kesalahan dan dosa itu lagi.  Kita tidak perlu mempersembahkan apapun kepada Tuhan melalui gereja (persembahan kita berupa persembahan syukur bukan persembahan ‘korban’), cukup kesungguhan ber-tobat.  Akan tetapi, tidak semua orang dapat dengan mudah mengimani bahwa dosa dan kesalahannya sudah sepenuhnya diampuni Tuhan (2Sam 12:13 “TUHAN telah menjauh-kan dosamu itu; engkau tidak akan mati”).  Diskusi 2:  Sebutkan hal-hal apa saja dalam kehidupan sehari-hari yang sebenarnya sedang menyampaikan kepada kita bahwa kita sudah diampuni Tuhan!

Jika kita hayati (lih. perkataan Yesus kepada orang berdosa):  Allah adalah Pemurah dalam mengampuni.  Yang membuat kita terus merasa bersalah adalah ketidak-mampuan kita memahami kasih dan keadilan Allah karena kita sendiri lebih suka mengi-kuti cara berpikir orang pada umumnya yaitu ‘dihukum’ ketimbang ‘diampuni.




Tuesday, April 25, 2017

JEHOVAH NISSI Kel.17:8-16

JEHOVAH NISSI
=============

Ada yang menarik dari kisah peperangan antara Israel dan Amalek dalam perjalanan padang gurun ketika mereka berada di Rafidin (Kel. 17:8-16).

Yosua mengambil posisi memimpin pasukan di garis depan menghadapi Amalek. Tepatlah jika pada peperangan itu ia disebut panglima perang dengan pertaruhan yang tak sedikit yakni nyawanya (ay.10).

Di mana Musa? Pada ayat 8 perannya sebagai leader mengatur strategi dan "pemberi intruksi" kepada Yosua. Apa hanya itu? Musa menugaskan dirinya sendiri yakni "hanya" mengangkat tongkat Allah di atas sebuah bukit (ay.9).

Ahhh... Peran Musa terkesan sepele dan cari aman di atas bukit. Tapi sesunguhnya peran "sepele" ini justru sangat menentukan. Jika "tongkat Allah" diangkat Musa, Yosua dan Israel menang dan jika ia menurunkan tongkat itu, terjadi sebaliknya (ay.11). Sepele, namun sangat berarti bukan?

Kisah ini semakin menarik dengan munculnya dua tokoh dengan inisial 2H, yaitu Harun dan Hur. Apa peran mereka? Peran mereka "sangat enteng" dibanding keringat dan darah yang ada pada pasukan di medan tempur.

Mereka hanya bertugas mencari batu untuk tempat duduk Musa. Hemmm.. tugas yang amat ringan bukan? Karena Musa mulai lelah, mereka "hanya" membantu menopang tangan Musa di sisi kiri dan kanan (ay.12). Apalah arti tugas itu dibanding mengayunkan pedang seperti Yosua dan pasukannya?

Tapi tahukah saudara, andai mereka tidak sediakan tempat duduk untuk Musa dan membantu mengangkat "Tongkat Allah" itu, kisah kemenangan itu tidak akan tercatat (ay.14)?

Ternyata 4 tokoh ini memberi andil dengan bentuk kontribusi berbeda bagi kemenangan Israel atas Amalek.

Tak peduli di lini mana engkau ditempatkan; tak soal sebesar apa ruang lingkup tanggung-jawab mu; dan tak jadi masalah se-strategis apa posisimu dalam tiap peran. Prinsip utama adalah tetap bergerak, tetap berfungsi dalam tiap peran. Terkecil apapun, sangat berarti peranmu bagi suatu kemenangan atau keberhasilan.

Selanjutnya, perhatikan ayat 15 dan 16. Musa dan yang lain tidak berlomba memuji peran masing-masing dan ataupun menunjuk diri sebagai yang paling penting posisinya saat perang usai. Musa justru mendirikan mezbah. Ia menamakan mezbah itu TUHANlah panji-panjiku (JEHOVAH NISSI  יְהוָה נִסִּי).

Dalam peperangan, panji-panji adalah simbol pasukan serta lambang kehormatan dan kebanggaan. Selama panji-panji masih tegak berdiri, pasukan itu masih ada dalam kehormatan berjuang mencapai kemenangan. Di mana panji-panji berada di situlah pasukan berkumpul. Jika panji-panji bergerak maju, pasukanpun bergerak dengan semangat menerjang musuh. Dengan kata lain, panji-panji adalah penentu.

Mezbah itu adalah suatu pengakuan. Pengakuan dalam kerendahan dan kesadaran bahwa kemenangan atas Amalek adalah karena TUHAN, Allah Israel. JEHOVAH NISSI adalah penentu.

Sahabat...
Berperanlah sesuai posisi, kondisi, kemampuan dan keahlian diri. Bukan soal besar kecil andilmu yang menentukan suatu kemenangan bersama. Tetapi bersediakah engkau bergerak pada peran masing-masing dengan fungsi yang tak sama, itulah yang menentukan.

Hanya ingatlah pada semboyan Musa yakni "Jehovah Nissi" itu. Sehebat apapun kita berperan dan bergerak bersama, TUHANlah penentuNya. TUHANlah panji-panjiku.

Refleksi Kel.17:8-16
Sesuai bacaan Sabda Bina Umat (SBU GPIB)
25 April 2017 (bacaan malam).

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...