Saturday, May 9, 2026

YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

 WAHYU 1:1-8


PENDAHULUAN


Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Rasul Yohanes adalah jemaat-jemaat yang memiliki begitu banyak pergumulan dan penderitaan oleh imannya pada masa akhir pemerintahan Kaisar Nero dan pada masa kelam kekaisaran Domiktianus.  Oleh sebaba itu kitah wahyu disampaikan sebagai peenghiburan dan penguatan kepada umat yang bergumul.

 

Kitab ini ditulis oleh Rasul Yohanes yang oleh pemerintahan Romawi ia diasingkan dan di buang di pulau Patmos. Keseluruhan Kitab Wahyu adalah mencerminkan keadaan sejarah pada zaman pemerintahan Domitianus, yang menuntut rakyatnya untuk memanggil dia “Tuhan dan Allah”. Perintah ini menjadi pertentangan antara orang dengan sukarela untuk mengikuti perintah kaisar dan orang Kristen setia yang tetap menyembah Yesus sajalah “Tuhan dan Allah”. Maksud utama penulisnya ialah untuk memberi harapan serta semangat kepada para pembacanya, dan juga untuk mendorong mereka supaya tetap percaya pada waktu dianiaya dan ditekan. Itulah sebabnya kita harus pula memandang bahwa jemaat di Asia sebagai penerima surat ini adalah mereka yang sedang berada dalam derita aniaya tersebut.

 

TAFSIRAN / TELAAH

Dalam pemahaman bahwa tulisan ini ditujukan oleh Yohanes agar dapat dibacakan atau dibaca langsung oleh 7 jemaat di Asia kecil atau yang sekarang ada di sekitar Turki Barat, dan mengetahui bahwa ketujuh jemaat ini sedang mengalami kesulitan dan persoalan hidup akibat iman percayanya, maka ada beberapa catatan penting dari ayat 1-8 bacaan kita ini, yakni:

 

1.       Keakuratan dan Kepentingan Tulisan Wahyu ini (ay 1-3)

Yohanes memulai tulisannya ini dengan kalimat “inilah wahyu Yesus Kristus”. Dengan menggunakan kalimat ini, pembaca kita ini diantar pada suatu pemahaman bahwa akurasi apa yang disampaikan ini tidak mungkin meleset dan pasti akan terjadi karena yang menyampaikan kepadanya adalah Yesus Kristus sendiri. Dengan menyebutkan sumber pewahyuan tersebut, Yohanes menempatkan diri bukan sebagai sumber berita, namun hanya sebagai saksi penerima wahyu yang memiliki kewajiban moral untuk meneruskan apa yang ia dengar, lihat dan saksikan dalam pewahyuan tersebut.

 

Dengan kata lain, tersajinya wahyu ini dalam bentuk tulisan untuk dibaca oleh orangg lain, disebabkan tanggung-jawab iman Yohanes sebagai penerima wahyu tersebut, dan juga tidak boleh diabaikan, bahwa penuliskan wahyu ini menjadi kitab atas perintah langsung dari TUHAN kepadanya (1:11,19; 2:1 dst). Terdapat 13 kali perintah “tuliskan” muncul dalam kitab ini sebagai bukti bahwa wahyu ini ditulis menjadi kita bukan hanya kemauan Yohanes tapi atas perintah Tuhan Yesus agar dibaca oleh orang lain (ay.3).

 

2.       Legitimasi Ilahi terhadap pewahyuan dan fungsi penguatan (ay 4-5)

Dampak dari poin pertama di atas adalah legitimasi ilahi terhadap kitab ini. Bahwa kita ini bukan karangan biasa saja, bukan sekedar ilham Roh Kudus sambil lalu, tetapi ditulis berdasarkan apa yang di dengar, dilihat dan dirasakan oleh Yohanes yang berada di pengasingan pulau Patmos.

 

Itulah sebabnya, Yohanes membuka surat ini dengan menyampaikan salam pembuka dari dirinya sebagai penulis kitab ini, tetapi juga salam langsung yang dititipkan oleh pemberi wahyu, yakni Yesus Kristus, kepada para pembaca kirab ini kelak. Dengan demikian, legitimasi dan keabsahan tulisan ini tidak bisa diragukan dan tidak perlu dipertanyakan secara iman. Bahwa apa yang ditulis oleh Yohanes datang dari Allah sendiri, menjadi bukti kuat bahwa wahyu ini datang dari Allah.

 

Selanjutnya, karena kita ini ditujukan kepada jemaat di Asia kecil (ay.4) yang dalam sejarahnya sedang berada dalam berbagai rupa penganiaan dan penderitaan oleh karena iman percaya mereka, maka kitab ini sekaligus menjadi kekuatan bagi mereka yangg mederita itu. Perhatikan penggalan kalimat ayat 5: “... dan dari Yesus Kristus yang berkuasa atas raja-raja bumi...”. Bagi tujuh jemaat penerima kitab ini, tulisan itu merupakan penguatan iman bagi mereka yang saat itu sedang dianiaya oleh raja raja bumi, baik oleh Kaisar Nero yang kemudian dilanjutkan oleh Kaisar Domiktianus. Penderitaan yang mereka alami disebabkan karena mereka lebih tunduk kepada Yang Lebih Berkuasa, yakni Yesus Kristus Raja di segala raja,  daripada tunduk kepada para raja dunia.

3.       Yesus ada dalam dan di atas sejarah dunia (ay 6-8)

Ayat 6-8 memberikan penjelasan dan mengingatkan ulang mereka yang sedang menderita bahwa Yesus Kristus tetap ada untuk selama-lamanya. Ia tidak terkurung oleh waktu, atau terbatas pada suatu periode sejarah. Yesus Kristus pasti akan datang kembali (ay.7). Itulah sebabnya hal ini seharusnya menguatkan tujuh jemaat bahwa Tuhan Yesus melihat penderitaan mereka dan tidak melupakan mereka.

 

Kemenangan kerajaan Allah terjadi waktu kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Dalam ayat 7 disebutkan bahwa Yesus datang dengan awan, ini mengambarkan bahwa kedatangan Tuhan Yesus dengan kemuliaan, semua mata menatap Dia. Kemenangan zaman akhir (eskatologis) bagi orang yang setia dan sejarah akan berakhir dengan jatuhnya hukuman atas sistim iblis di dunia ini. Kemenangan Yesus Kristus ini dipertegas dengan pernyataan Aku adalah Alfa dan Omega, yang ada, yang sudah Ada dan yang akan datang yang Mahakuasa.

 

Alfa adalah huruf pertama dalam Alfabhet Yunani dan Omega adalah huruf terakhir. Allah itu kekal dari penciptaan sampai kesudahannya. Ia adalah Tuhan diatas semuanya. Ia akan menang atas segala kejahatan dan memerintah segala sesuatu. Dengan mengungkapkan ini, maka menjadi jelaslah siapa Yesus Kristus itu. Ia adalah Allah itu sendiri, tetapi juga ia adalah Allah yang bersedia ada dalam sejarah manusia (lahir, hidup dan berkarya) namun Ia tidak terpenjara dalam sejarah melainkan jauh di atas sejarah. Ia adalah Alfa dan Omega

 

RELEVANSI DAN APLIKASI

1.       Beberapa hari ini di pemberitaan media masa, ramai dibicarakan tetang pencatutan nama Presiden oleh ketua DPR. Mencatut nama pimpinan negara untuk hal yang tidak benar apalagi dengan tujuan kepentingan pribadi adalah suatu tindakan yang tidak dibenarkan. Bagaimana dengan Yohanes? Bukankah dalam bacaan kita sangat jelas bahwa ia “mencatut” nama Tuhan Yesus dalam kitabnya ini?

 

Memakai nama orang yang berpengaruh bertujuan untuk mendapat legitimasi dan wibawa kuasa dari nama itu. Kasus Freeport adalah salah satu contohnya, termasuk isi kitab Wahyu ini. Tetapi walau dua hal ini terkesan sama-sama memakai nama pribadi yang berkuasa, namun perbedaan mendasar adalahh pada tujuan menggunaan nama itu.

 

Yohanes menyebut nama Yesus bukan saja untuk gaga-gagahan dan sembarang mencatut. Bukan pula sekedar legitimasi bisa, dan bukan supaya nama Yohanes menjadi populer. Menyebut nama Yesus untuk menunjuk sumber perintah dan sumber pemberitaan. Yohanes menyebut dia hanyalah saksi, tetapi Yesus-lah sumber beritanya. Itu berarti penerima kita ini, termasuk gereja masa kini, mesti fokus pada sumber berita bukan pada Yohanes yang diberitakan.

 

Yohanes menggunakan nama Yesus dengan tujuan benar dan target yang tepat yakni agar banyak mengetahui kebenaran tersebut dan kemudian Yesuslah yang ditinggikan. Seperti Yohanes kita diajarkan untuk mengggunakan nama TUHAN dengan benar. Bukan sekedar supaya kedengaran rohani; bukan pula sekedar supaya terkesan bahwa yang kita omongkan memang benar. Apalagi banyak orang mencatut nama Tuhan dengan sumpah atas nama Tuhan. Yohanes memakai wibawa nama Yesus itu dengan tepat dan bertujuan mulia dan agung. Bagaimana dengan kita?

 

2.       Tuhan Yesus adalah pribadi yang sudah ada sebelum dunia ini ada, dan tetap ada walau dunia ini berakhir. Dialah Alfa dan omega, yang awal dan yang akhir. Bagaimanapun sebagai orang percaya, kita tidak pernah disukai dunia dan bahkan dibenci oleh dunia (Yoh.16). Karena itu, tidaklah heran jika dunia membenci gereja Tuhan. Tidaklah kaget jika banyak prilaku anarkis ditujukan mereka ke[ada gerejaNya di sepanjang sejarah dunia. Penganiaan dan perlakukan tidak adil akan terus dihadapi oleh gereja Tuhan ini.

 

Kasus “Singkil” di Aceh adalah salah satu contohnya. Tetapi kita dipanggil untuk tidak menyerah pada situasi buruk yang dialami umat percaya. Karena keyakinan iman kepada Allah harusnya menjadi pengharapan kita. Apakah isi pengharapan yang dimaksud? Bahwa Yesus akan datang dengan awan di angkasa. Bahwa Yesus yang menang akan menunjukkan kuasanya yang ajaib. Maka kita harus tekun dan sabar menghadapi derita itu sebagai panggilan iman kita. Amin.

Wednesday, November 12, 2025

1 PETRUS 2:23-25

 1 PETRUS 2:23-25
Bahan Khotbah Ibadah Keluarga
19 November 2025


PENGANTAR



Para penerima surat 1 Petrus ini, hidup dalam masa-masa sukar. Mereka ada di zaman sulit. Saat dimana Kekristenan alami penganiayaan. Dibenci oleh
Kaizar Nero, sang penguasa. Tentu saja, bagi yang memiliki mentalitas cari aman, pilihan mengikuti jejak Yesus, bukanlah keputusan cerdas. Mereka akan memilih menolak salib, sebab itu derita. Terhadap yang setia beriman, namun minim pemahaman, Petrus bukan saja mencerdaskan, namun juga menguatkan melalui suratnya ini.

 


TELAAH PERIKOP (Tafsiran)


Untuk dapat memahami aya 23-25, sangat baik untuk membaca dan menemukan penjelasan keseluruh perikop yakni ay. 18-15. Perikop ini dapat dibagi dua, yaitu
pertama, berisi nasehat tentang bagaimana bersikap sebagai seorang Kristen dengan status sosial tertentu ditengah masyarakat (ay.18-20) dan kedua, apa dasar dari atau alasan dari nasehat-nasehat tersebut (ay.21-25).

 

1.      Isi Nasehat dan Himbauan Petrus (ay.18-20)


Tidak mudah untuk mengerjakan nasehat yang ada pada ayat 18-20 bacaan kita. Bagaimana mungkin menerima begitu saja tiap ancaman dan perlakuan tidak adil sebagai hamba terhadap tuan yang bengis itu? Bahkan dalam ayat 19-20 penderitaan akibat perlakuan buruk itu disebut “kasih karunia pada Allah”. Bagaimana mengerti perintah atau nasehat petrus ini?

 

Istilah “tunduk” dipakai oleh LAI untuk menerjemahkan katahupotassomai yang berarti bahwa saya menempatkan diri (membiarkan diri ditempatkan) di bawah pengaturan atasan. Jadi, kata itu tidak semutlak “menaati”. Misalnya, saya harus taat kepada Allah, dan anak (kecil) kepada orangtuanya. Tetapi dalam hubungan hierarkis, seperti pemerintah, tempat kerja dsb, saya harus mengakui kuasa yang diberikan Allah kepada atasan. Pada umumnya hal itu berarti bahwa saya menaati atasan, tetapi, seperti Petrus sendiri yang “tidak taat” kepada Mahkamah Agung Yahudi, ada saatnya juga saya harus menaati Allah daripada manusia (Kis 4:19).

 

Kemudian, kata “ketakutan” (Yun: fobos) di sini merujuk pada rasa hormat. Tentang atasan, kata fobos dapat berarti “takut kena penyiksaan dari atasan yang bengis” atau “takut mengecewakan atasan yang ramah dan yang saya hormati”. Ketakutan yang pertama memang perasaan yang dialami jika ada tuan yang bengis. Tetapi ketakutan yang kedua, tidak boleh diabaikan yakni takut mengecewakan tuan yang ramah. Dengan demikian, “tunduk dengan penuh ketakutan”  kepada tuan, harus dipahami dalam dua kategori tadi.

 

Tetapi bagaimana jika diperlakukan tidak adil oleh tuan yang begis? Tentu hal itu tiidaklah mudah, apalagi mesti menganggap bahwa hal itu adalah anugerah (kasih karunia). Dalam aya.19-20 terjemahan “kasih karunia” atau “anugerah” harus dimengerti sesuai dengan pengertian asali dari istilah ini. Kata Kasih Karunia berasal dari istilah Yunani “kharis yang berarti sikap yang baik kepada pihak lain. Seringkali kata kharis dipakai untuk sikap Allah yang baik kepada kita bukan karena perbuatan kita melainkan karena penebusan dalam Kristus, dan untuk artian itu terjemahan “Anugerah atau kasih karunia” oleh LAI adalah tepat.

 

Tetapi di sini Petrus merujuk justru pada perbuatan atau sikap yang berkenan di hadapan Allah, yaitu menanggung penderitaan yang tidak adil. Allah melihat perlakuan yang tidak adil itu, dan memuji kita, bukan memuji tuan yang bengis. Jika kita tetap menerima dengan rela keburukan itu tanpa bersungut maka di mata Tuhan itu adalah kasih karunia, atau pada pandangan Allah perbuatan kita itu adalah perbuatan yang baik (kharis).

 

2.      Landasan dan alasan himbauan itu (ay.21-25)

Bagaimana kita tahu bahwa Allah berkenan atas penanggungan penderitaan yang tidak adil dan menganggap apa yang kita lakukan (menerima dengan tunduk pada atasan yang begis) dianggap suatu perbuatann baik atau kasih karunia? Karena Kristus telah merintis jalan itu. Perlakuan terhadap Kristus ketika Dia ditangkap dan disalibkan adalah perlakuan paling tidak adil karena Kristus tidak ada dosa sama sekali (ay.22). Namun, Kristus tidak membalas tetapi menyerahkan perlakuan itu kepada Sang Hakim yang adil (ay.23). Jika kita menanggung penderitaan yang tidak adil, itu bukan suatu kerugian, sebaliknya hal itu adalah kasih karunia atau dianggap perbuatan baik yang kita lakukan di mata Allah.

 

Kita diajak untuk meneladani Kristus dalam penderitaanNya dan menjadikan itu motivasi bagi kita untuk melakukan perbuatan baik walau alami penderitaan (ay.24-25). Artinya, kita diajak bahwa andaikata harus menderita karena menjadi orang Kristen sekalipun, kita harus tetap berbuat baik. Jangan hanya karena kondisi hidup yang tidak baik, kita akhirnya melakukan hal yang tidak benar dan membawa kita dalam dosa. Pada bagian ini sangatlah penting, yakni Petrus mengajak kita untuk meninggalkan perbuatan dosa kita agar menjadi kesaksian bagi banyak orang termasuk mereka yang menista kita sekalipun. Tetap berbuat baik dalam penderitaan sekalipun adalah suatu kesaksian yang mmeberikan telandan kepada banyak orang.

 

RELEVANSI DAN APLIKASI

Apa yang hendak Petrus sampaikan pada para pembaca suratnya kala itu, Untuk dapat kita aplikasikan dalam hidup beriman kita? Ada beberapa hal penting, yakni:

1.      Perhatikan ayat 20 yang berbunyi: “…Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” Dengan sangat sederhana, Petrus mau mengatakan, bahwa dengan mengikuti jejak Yesus, ujungnya adalah hidup! Bukan melulu penderitaan, apalagi kematian. Dengan demikian, ia secara tegas mengingatkan kaum beriman di zamannya, bahwa tidak sia-sia setia beriman, dandan meneladani Kristus. Jika kita tetap rela menderita karena kebenaran, maka itu dipandang oleh Allah sebagai perbuatan baik, yakni suatu kasih karunia. Sehingga di masa sukar itupun, kita tetap dapat bersaksi tentang kebenaran.

 

2.      Motivasinya jelas, yaitu menyenangkan hati Allah. Para budak atau hamba pada jaman itu diminta untuk tetap setia, berlaku benar, dan bersikap baik pada para tuan mereka, bukan untuk menjilat. Bahkan tetap berbuat baik meskipun diperlakukan jahat. Tujuannya untuk memuliakan nama Allah! Menjadi teladan hidup bagi dunia sekitar. Lainnya, sebagai wujud pelaksanaan dari tugas panggilan iman. Jadi entah kita mengalami penderitaan atau tidak, saudara dan saya diajak meiliki motivasi yang tepat dalam hidup ini yakni: Menyenangkan Tuhan.

 

3.      Sebagai orang percaya kita dipanggil untuk meneladani Kristus, yang rela menderita bahkan hingga mati di kayu salib. Ia tidak melawan, iapun tidak membalas. Sebab ia tahu kepada siapa ia harus tunduk, yakni pada Sang Bapa dan misiNya bagi dunia. Kerelaan kita untuk menjalani kehidupan ini dan juga siap hadapi derita demi suatu kebenaran, hal itu semata karena tunduk dan taat pada Sang Tuan yang Agung yakni Allah Bapa kita. Kendatipun harus menderita, kita tetap memilih untuk tetap berbuat baik dan benar. Supaya melalui itu nama Tuhan tetap dimuliakan.

 

Karena itu, marilah jalani hidup ini. Entah di saat kita menderita sekalipun atau hidup dalam sukacita, pastikan bahwa kita tetap menyenangkan Tuhan lewat memuliakan namanya dalam semua keadaan hidup ini. Sebab dengan demikian kita telah menajdi saksi Kristus dalam dunia, sekaligus memberi teladan tentang bagaimanakah hiduo dalam kebenaran di tengah ketidaknyamanan sekalipun. Amin 

I PETRUS 1 : 3 – 12

 

I PETRUS 1 : 3 – 12 (3-16)
BAHAN KHOTBAH IBADAH HARI MINGGU
16 November 2025

 

PENGANTAR


Surat ini ditujukan kepada jemaat Kristen yang berstatus sebagai pendatang dan perantau di daerah Asia Kecil di bagian utara. Mereka hidup di tengah kondisi dan situasi masyarakat serta penguasa yang cenderung menolak bahkan memusuhi dan menganiaya mereka. Sebab itu penulisan surat ini memiliki tujuan penting agar jemaat sadar dan siap sedia dalam mengalami tantangan dan menanggung derita oleh sebab iman kepada Kristus.
 

Pada 1:3-6, Rasul Petrus mengingatkan dan menguatkan bahwa segala penderitaan mereka tidak akan membuat mereka kalah karena kekuatan iman mereka terletak pada Kristus yang telah mengalami derita sengsara dan kematian dalam rangka menebus manusia dan mengampuni dosa manusia. Kristus yang telah bangkit dan menang atas maut menjadi sumber pengharapan setiap orang percaya akan kebangkitan dan kehidupan kekal yang jauh melebihi apapun juga. Kristus yang hidup, menyertai dan menguatkan umat-Nya dalam pengharapan iman mereka untuk tetap tekun dan setia sampai pewujudan kemuliaan sorgawi dinyatakan kepada mereka yang tekun beriman.

 

PEMAHAMAN TEKS

Petrus memuji iman jemaat kepada Kristus, sebab iman mereka tidak didasarkan pada penglihatan (1:8). Alasan inilah yang mendorong Petrus bertindak melalui suratnya untuk meneguhkan dan menguatkan iman jemaat kepada Tuhan Yesus Kristus. Mereka tetap percaya dan mengasihi Tuhan, meskipun di tengah berbagai penderitaan dan cobaan yang dialami. Petrus mengatakan, sikap seperti ini hanya bisa dinyatakan oleh orang-orang yang telah mencapai tujuan imannya (ay.9).

 

Pemahaman ini penting untuk disadari sebagai pijakan iman orang percaya, bahwa oleh karena anugerah Allah-lah maka keselamatan diperoleh. Petrus menegaskan tentang prinsip sebagai pengikut Kristus, yakni siap bersaksi dan menderita, sebab Kristus sudah lebih dulu memberi teladan hidup melalui karya pelayanan-Nya hingga mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.  

 

Petrus kembali mengingatkan dasar ajaran tentang Kristus kepada jemaat, agar mereka tidak ‘lemah iman’ / ‘memilih zona aman’ tetapi dengan iman kepada Kristus, jemaat harus tetap teguh pada berita Injil yang sudah mereka terima. Jaminannya jelas, yakni pemeliharan dari Kristus akan membuat setiap orang percaya berdiri tegak, walaupun derita, cercaan, penganiayaan dirasakan, sebab dunia tidak punya tempat untuk menghakimi anak Allah.

 

Penderitaan didunia adalah bukti kehidupan nyata, ada banyak hal yang akan dihadapi, berbagai pergumulan, penderitaan dan juga sukacita. Namun, yang perlu digaris bawahi “Keselamatan adalah anugerah kasih Allah yang harus direspon orang percaya dalam hidupnya”. Oleh karena Roh Kuduslah, berita Injil dapat disebarluaskan, dan oleh karena Roh Kudus maka tiap-tiap orang memberi diri dan menerima keselamatan (ay.11). Jadi jelas, keselamatan disebut anugerah, karena semua terjadi atas inisiatif Allah, IA yang merancangkan dan merencanakan. Hal itu dipersiapkan dan dinubuatkan jauh hari sebelumnya kepada para nabi untuk disampaikan kepada umat Allah (ay.10). Bahwa keselamatan dari Allah dianugerahkan melalui Anak-Nya yang tunggal dengan cara penderitaan, kematian, kebangkitan dan kemuliaan-Nya untuk mematahkan ikatan kuasa dosa dan maut.

 

Berita tentang penyelamatan Allah atas dunia merupakan berita yang menakjubkan. Kasih Allah adalah dasar keselamatan tersebut, dan Roh Kudus yang diutus membawa berita itu, baik dimasa lalu, masa kini dan masa yang akan datang (ay.11). Bagi Allah, manusia sangat berharga, IA ingin berita tersebut terus disampaikan kepada dunia sehingga banyak orang mengalami kasih-Nya yang besar.

 

Bagian ini menjadi penting dalam rangka meneguhkan dan menguatkan iman percaya jemaat yang tergoncang akibat penderitaan. Petrus juga memberikan peringatan bahwa jangan sampai karena penderitaan, jemaat meninggalkan Kristus. Sekalipun dunia menolak, tetapi Petrus mengingatkan jemaat akan apa yang sudah mereka terima. Kalaupun mereka telah kehilangan sesuatu didunia karena beriman kepada Kristus, namun PERCAYALAH DENGAN IMAN, bahwa mereka sudah menerima keselamatan jiwa sebagai gantinya (ay.10).

 

Dengan demikian, penderitaan yang dialami jemaat harus dipandang dari sudut iman, yakni untuk memurnikan cara hidup beriman orang percaya (ay.7). Berarti, peristiwa apapun yang terjadi berpotensi untuk menjatuhkan/mematikan iman, tetapi juga berpotensi menumbuhkan iman kepada Kristus. Maka sebagai orang percaya, dituntut untuk peka akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan juga tetap waspada terhadap kuasa yang dapat menjatuhkan/mematikan iman kita. Dua kemungkinan yang dapat terjadi sebagai respon penderitaan, yakni BERTUMBUH atau JATUH.

 

Hal yang perlu diingat, sekalipun Tuhan seolah membiarkan segala sesuatu terjadi dalam kehidupan kita, bukan berarti Tuhan lepas tangan, atau membiarkan kita bergumul sendiri. Tetapi, tangan  kasih Tuhan tidak kurang panjang merangkul tiap orang yang mengandalkan-Nya. Sebab, dalam iman terkandung kekuatan Allah. Sebagaimana dikatakan pada ayat 5:”yaitu kamu yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu”. Berarti, beriman kepada-Nya akan menghasilkan kekuatan yang hanya dapat diperoleh apabila iman itu bertumbuh dan berbuah. Jika orang percaya mampu mengerjakannya, maka kekuatan dan tahan uji akan diperoleh, sehingga dunia tidak akan mampu menggoyahkan identitasmu sebagai anak Allah.

 

Selanjutnya terdapat hal penting yang perlu diperlihatkan sebagai kesaksian iman orang percaya di tengah penderitaan iman mereka, apakah itu? Hidup dalam kekedusan (ay.13-16). Hidup dalam kekudusan adalah kesaksian iman bahwa orang percaya telah diselamatkan dan melekat pada Sang Maha Kudus. Jadi jika orang percaya melekat pada Sang Maha Kudus karena telah diselamatkan, maka kita harus hidup kekudusan, sebab Allah adalah Kudus (ay.16).

 

 

RELEVANSI dan APLIKASI

1.      Orang percaya harus mengimani satu hal penting ini yakni oleh Yesus Kristus kita telah diselamatkan melalui pengorbanan dan penderitaanNya. Dunia mungkin akan mempertanyakannya dan mengingini bukti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang bangkit. Tetapi seperti Petrus bersyukur bahwa gereja perdana percaya pada peristiwa itu walaupun tidak melihat (ay.8), maka demikian juga kita. Percaya pada Kristus yang bangkit adalah dasar iman yang tidak boleh goyah walaupun di berbagai tempat termasuk media sosial meragukannya. Sebab berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya (Yoh.20:29).

 

2.      Salib identik dengan penderitaan. Menjadi orang Kristen tidak berarti tidak akan mengalami penderitaan. Jemaat Kristen penerima surat Petrus mengalami berbagai penderitaan dan ketidak-nyamanan. Jadi seandainya karena status sebagai orang Kristen, kita mengalami ketidaknyaman di kantor, masyarakat atau di tengah komunitas manapun, seharusnya tidak mengejutkan kita. Hal itu tanda bahwa kita sedang diproses oleh Tuhan untuk terus memurnikan iman (ay.7), dan juga sebagai bukti bahwa kita pengikut Kristus yanhg siap menderita karena iman kepadaNya.

 

3.      Namun semuanya sia-sia, jika kita tidak hidup dalam kebenaran. Bagaimana mungkin kita mengaku orang percaya dan beriman kepada Kristus namun tidak hidup dalam kekudusan? Bukankah oleh Yesus Kristus kita menjadi anak-anak Allah? (Ef.1:5). Dan bukankah sebagai anak-anak Allah, karakter Sang Bapa ada pada kita? Allah itu kudus maka kita harus hidup dalam kekudusan (ay.16). Hal ini berarti sebagai orang percaya masa kini, kita harus mampu menolak gaya hidup yang mendatangkan kenajisan dan rupa-rupa kebobrokan. Ingatlah, kita sudah diselamatkan. Maka hidup ini harus mencerminkan Kristus dalam diri kita sebagai bukti kita telah diselamatkan. Hiduplah benar, hiduplah kudus!!! Sebab kita telah diselamatkan.

Saturday, April 26, 2025

GALATIA 2:15-21

GALATIA 2:15-21
BAHAN KHOTBAH IBADAH HARI MINGGU
27 APRIL 2025

 

PENDAHULUAN

Jika kita membaca surat Paulus kepada jumat Galatia ini kita menemukan paling tidak ada tiga hal penting yang disampaikan dalam surat ini, yakni:

1.       Pembelaan Paulus tentang dirinya dan keabsahan kerasulannya pada Pasal 1-2.

2.     Pengajaran Paulus tentang iman pada Yesus Kristus dan Hukum Taurat untuk menghalau ajaran sesat mengenai keselamatan bahwa orang tidak dapat dibenarkan kalau tidak mengerjakan Hukum Taurat (pasal 3 s/d pasl 5).

3.       Hidup praktis sebagai orang Kristen yakni saling menolong dan saling membantu (pasal 6)

 

Bacaan kita saat ini adalah tentang keyakinan iman Paulus yang ia jelaskan kepada jemaat Kristen di Galatia khususnya bagaimanakah menentang ajaran Palsu tentang Taurat sebagai syarat keselamatan.

 


TELAAH PERIKOP

1.       Paulus tahu bahwa orang-orang Yahudi merasa paling benar dibanding orang-orang non Yahudi. Bagi orang Yahudi mereka adalah kelompok bersunat dan merekalah yang memiliki keselamatan dibanding mereka yang tidak bersunat. Itulah sebabnya Paulus menyebut identitasnya bahwa ia adalah seorang yang lahir dari keturunan yahudi, ia seorang yahudi asli ia bukan dari bangsa lain yang tergolong orang berdosa (ay.15). Dengan membuat pernyataan ini Paulus mau mengajak jemat kristen Galatia untuk melihat dirinya sebagai seorang Yahudi dan dia tidak membanggakan identitas itu.

 

2.       Mengapa Paulus yang seorang yahudi tidak membanggakan identitas tersebut? Pada ayat 16 kita menemukan bahwa jika orang Yahudi bangga melakukan Hukum Taurat sebagai syarat keselamatan, Paulus mengatakan tidak ada seorang pun yang mampu melakukan seluruh ketentuan Hukum Taurat. Karena tidak seorang pun mampu melakukan seluruh ketentuan hukum torat itu berarti tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan dan diselamatkan. Sebabnya paulus mengatakan, “sebab tidak ada seorang pun yang dibenarkan” karena melakukan Hukum Taurat. Bagi Paulus tidak dapat dibanggakan jika menjadi orang Yahudi hanya berupaya melakukan Hukum Taurat untuk diselamatkan.

 

3.       Lalu bagaimana supaya dapat diselamatkan? Paulus menekankan dengan tegas bahwa keselamatan itu hanya terjadi apabila orang dibenarkan dalam Kristus. Pemahaman tentang dibenarkan oleh iman di dalam Yesus Kristus ditegaskan Paulus dalam Roma 5:1,2. Pada bagian tersebut Paulus menyebut hal penting ini:

 

“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Melalui Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman ke dalam anugerah ini.”

 

Maka hal penting tentang keselamatan bukanlah mengerjakan Hukum Taurat melainkan keselamatan itu adalah Anugerah Allah. Anugerah yang dimaksud adalah manusia yang berdosa diperdamaikan dengan Allah. Perdamaian dengan Allah hanya dapat diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus. Di siapapun tidak mungkin diselamatkan tanpa beriman kepada Yesus Kristus. Jika seorang telah beriman pada Yesus Kristus maka hubungannya dengan Allah diperdamaikan atau ia dibenarkan. Ketika ia dibenarkan, itu bukan upayanya sendiri melainkan pemberian atau Anugerah Allah.

 

Dengan kata lain Paulus mau menyatakan bahwa keselamatan itu atau menjadi orang yangdibenarkan itu bukan karena perbuatan melakukan Hukum Taurat, tetapi dibenarkan itu murni Anugerah Allah melalui iman pada Yesus Kristus.

 

4.       Setiap orang yang diselamatkan melalui Anugerah Allah di dalam iman kepada Yesus Kristus harus menampakkan diri sebagai orang yang telah diselamatkan. Bukti bahwa orang itu telah diselamatkan maka gaya hidupnya adalah, kata Paulus “aku hidup untuk Allah” (ay.19).

 

Hidup untuk Allah yang dimaksud oleh Paulus dijelaskan pada ayat 20. Paulus menyebut bahwa dia hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan hidupnya untuk Kristus yang hidup di dalam dirinya. Maksud Paulus adalah ketika ia menjalani hidup sebagai orang yang telah dibenarkan dalam Kristus, ia harus menyadari bahwa ada Kristus yang telah hidup di dalam dirinya. Maka Paulus harus menampakkan Kristus di dalam hidupnya sebagai orang yang telah diselamatkan.

 

RELEVANSI DAN APLIKASI

1.       Setiap kita harus menyadari sebagai orang percaya bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan benar kita. sebab tidak ada seorangpun yang benar di kolong langit ini (lih Roma 3:10-12). Di hadapan Tuhan kita adalah makhluk berdosa. Kita tidak mungkin menyelamatkan diri kita dengan berbagai upaya sendiri yang kita lakukan. Kita membutuhkan Tuhan untuk membenarkan kita yang berdosa ini. Itulah yang disebut dengan anugerah.

 

Bayangkanlah ada orang yang divonis mati oleh karena kesalahannya. Lalu tiba-tiba, hakim membuat pernyataan menarik: “dia tidak bersalah hukumannya dihapus”. Itulah yang terjadi pada kita orang berdosa yang dibenarkan dan beroleh keselamatan ketika sang maha benar membenarkan kita. Kita yang berdosa ini diselamatkan melalui penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus yang menyerahkan diri-Nya untuk kita (ay 20b).

 

Peristiwa ini yaitu penebusan oleh Yesus Kristus sehingga kita dibenarkan adalah anugerah. Ini gratis!!! Tetapi walaupun gratis harganya sangat mahal yaitu harga sang Putra Allah yang tergantung di kayu salib. Maka seharusnya kita tidak menyia-nyiakan pengorbanan Kristus itu dan menolak anugerah besar tersebut (ay.21). Siapapun kita yang masih senang hidup dalam dosa; siapapun kita yang masih gemar untuk merusak hidup kita yang telah dibenarkan, maka kita terkategori sebagai orang-orang yang menolak anugerah.

 

2.       Perhatikanlah pernyataan Paulus pada ayat 20a: “..., tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”. Pernyataan ini menjadi sangat penting bagi kita yang telah diselamatkan yaitu dalam hidup kita ada Kristus yang hidup. Ini berarti hidup kita bukan hanya untuk diri kita, tetapi hidup kita harusnya untuk Allah. Apapun yang kita kerjakan; apapun yang kita katakan, tujuan akhirnya adalah harus untuk Allah. Tuhan, Allah kita harus dimuliakan melalui hidup kita, sebab hidup ini adalah untuk allah karena Kristus sedang hidup di dalam kita. Perilaku kita berubah; cara pandang kita berubah; kita mengerjakan hidup ini selalu menampilkan Kristus yang hidup di dalam kita.

 

Apabila kita bekerja atau berucap kepada orang lain; atau cara kita bergaul dengan sesama, maka orang lain harus melihat Kristus yang hidup di dalam kita melalui tutur kata dan perbuatan kita. Kita harus menjadi orang yang berbeda; orang yang telah diselamatkan orang yang telah dibenarkan. Menjadi seorang kristen adalah pribadi yang menjaga perilaku kehidupan, supaya setiap orang yang berjumpa dengan kita, mereka akan berjumpa dengan Kristus yang hidup di dalam kita.

 

Roh Kudus menolong kita untuk belajar menghargai pengorbanan Kristus yang telah menyelamatkan dan membenarkan kita di hadapan Allah. Jangan lagi hidup dalam dosa, sebab kita telah menerima anugerah keselamatan. Jangan sia-siakanpengorbanan Kristus melalui perbuatan dosa yang terulang.

 

Selanjutnya, mari kita tunjukkan kepada orang lain, bahwa kita sudah dibenarkan dengan cara hidup kita menampilkan gaya hidup yang baru. Apakah itu? Tampilkanlahh Kristus yang ada dalam diri kita melalui tutur kata dan perbuatan kita yang mencerminkan Kristus. Kiranya siapapun yang berjumpa dengan bapak ibu dan saya, dapat melihat Kristus di dalam diri kita. Tuhan berkati saudara. Amin.

YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

  WAHYU 1:1-8 PENDAHULUAN Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Ras...