Saturday, February 11, 2017

KEPEMIMPINAN RASUL SIMON PETRUS

KEPEMIMPINAN RASUL SIMON PETRUS
“Upaya Mengenal Petrus dan Kepemimpinannya berdasarkan
Kisah Tentangnya dalam Alkitab”

Pdt. I Nyoman Djepun

MENGENAL SIMON PETRUS

Rasul Petrus[1] adalah seorang nelayan yang lahir di Betsaida (Yoh.1:44) dan juga memiliki rumah di Kapernaum di daerah Galilea (Mrk 1:21). Ayahnya bernama Yunus yang biasa disebut Yohanes (Mat.16:17; Yoh.1:42). Menurut catatan Alkitab, Petrus adalah pria berkeluarga (Mrk.1:30). Dan menariknya, bahwa dalam kegiatan penginjilan yang dilakukan oleh Petrus, ia selalu membawa istrinya. Hal ini terungkap dari pernyataan Paulus yang menyebut bahwa Kefas[2] dalam perjalanannya membawa seorang istri Kristen (1Kor.9:5).
Para penulis Perjanjian Baru menggunakan empat nama yang berbeda ketika mengacu kepada Petrus. Pertama adalah nama Ibrani “Simeon” (Kis. 15:14), yang kira-kira berarti “mendengar”. Yang kedua adalah “Simon”, bentuk Yunani untuk “Simeon”. Yang ketiga adalah “Kefas”, bahasa Aram untuk “batu karang”; para penulis Perjanjian Baru lebih sering menggunakan nama ini dibandingkan ketiga nama yang lain.[3]
Injil Yohanes memberitakan kegiatan Kristus pada prapelayanan-Nya di Galilea, termasuk pertama kalinya Petrus diperkenalkan oleh Andreas kepada Yesus (Yohanes 1:41). Perkenalan ini membuat lebih dimengerti tanggapan Petrus atas panggilan berikutnya di pantai Galilea (Markus 1:16 dab). Lalu menyusul penetapan 12 murid (Markus 3:16 dab). Petrus adalah murid Yesus yg pertama dipanggil; ia selalu disebut yg pertama dalam urutan murid-murid; ia juga seorang dari ketiga murid yg merupakan kelompok akrabdengan Guru mereka (Markus 5:37; 9:2; 14:33; bnd 13:3). Tindak pelayanannya yg didorong gelora hatinya, sering dilukiskan dalam Alkitab (bnd Matius 14:28; Markus 14:29; Lukas 5:8; Yohanes 21:7), dan dia bertindak sebagai jurubicara dari ke-12 murid itu (Matius 15:15; 18:21; Markus 1:36 dab; 8:29; 9: 5; 10:28; 11:21; 14:29 dab; Lukas 5:5; 12:41).[4]
Akhir hidup Petrus menurut catatan St. Jerome, ia dihukum mati di Roma dengan cara disalib, namun Petrus meminta agar ia disalibkan dengan posisi terbalik karena ia memandang dirinya tidak layak untuk disalibkan dalam posisi yang sama dengan Tuhannya.[5]

MODAL AWAL PETRUS SEBAGAI PEMIMPIN
Bagaimanakah awal Petrus menjadi seorang pemimpin? Paling tidak kita menemukan dalam kisah Alkitab, 3 hal pokok yang menjadi yang menjadi kunci utama[6] pembentukan Petrus sebagai seorang Pemimpin, yakni:
1. Petrus Belajar Melayani
Pada suatu ketika, Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu [Petrus dan Andreas] segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia." (Matius 4:19-20). Tanpa pikir panjang Petrus bersedia meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Yesus untuk melayani-Nya. Bersama Yesus, Petrus menyaksikan banyak mukjizat yang luar biasa. Petrus tidak hanya berkesempatan menyaksikan pelayanan Yesus, dia bersama murid-muridnya yang lain juga ditunjuk Yesus untuk melayani setiap kota dan tempat yang hendak Yesus kunjungi (Lukas 10:1).
Perjalanan bersama Yesus mengubah kepribadian Petrus secara total. Dia beserta murid-murid Yesus yang lainnya belajar melayani saat diberi kuasa untuk menyembuhkan banyak orang sakit dan menaklukan setan-setan (Lukas 10). Kisah Para Rasul 1-2 menonjolkan kualitas Petrus sebagai pemimpin yang melayani. Petrus dipakai Allah secara luar biasa sehingga dia berani melayani di depan banyak orang. Menariknya lagi, saat menjadi seorang pemimpin, Petrus tidak hanya melayani kaumnya sendiri, dia juga merasa bebas untuk melayani orang-orang bukan Yahudi sesuai dengan visi Allah (Kisah 10).
Petrus mempunyai konsep "kepemimpinan yang melayani". Menurut Eka Damaputra dalam bukunya "Kepemimpinan dalam Perspektif Alkitab", seseorang yang telah teruji sebagai pelayan yang baik adalah orang yang telah terbukti mampu menguasai dan mengendalikan diri sendiri. Hanya orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri yang layak diberikan kepercayaan untuk mengendalikan, memimpin, dan menguasai orang lain.
2. Petrus Belajar Taat
Alkitab mengatakan bahwa murid-murid Yesus, khususnya Petrus, adalah orang-orang yang bersedia untuk belajar (Matius 5:1-2). Petrus, yang dulunya tidak sabaran dan sesumbar, belajar mendengarkan serta menaati Yesus. Eka Damaputra menyebutkan bahwa kepemimpinan diinspirasi oleh rasa takut dan taat akan Tuhan. Inspirasi ini dimiliki Petrus. Petrus adalah orang yang berorientasi kepada Allah dan sungguh-sungguh menaati-Nya. Ketaatannya tampak jelas dalam Lukas 5:5-7.
Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
Tanggapan Petrus terhadap perintah Allah sungguh mengagumkan. Dia tidak membantah arahan Yesus. Dia tidak mengatakan, "Yesus, ini akan sia-sia saja." Walaupun Petrus tidak mengerti apa maksud dari perintah Yesus, dia tidak mempertanyakan atau meragukan perintah itu, dia hanya menaati-Nya karena dia percaya kepadanya.
Petrus bertindak dengan tepat. Dia membuktikan diri sebagai pengikut Yesus yang baik. Menurut Eka Damaputra, sifat ketaatan seperti ini dibutuhkan oleh setiap pemimpin. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil," kata Yesus, "ia setia juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10)

3. Petrus Berserah kepada Allah
Russel Betz mengatakan bahwa Petrus adalah orang yang mengerti arti "berserah kepada Allah". Pertama-tama, dia siap menyerahkan segalanya untuk mengikuti Yesus. Dalam Matius 19:27, Petrus mengatakan kepada Yesus bahwa dia telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus. Kedua, Petrus menyerahkan kegagalan masa lalunya kepada Allah. Salah satu senjata setan untuk menjatuhkan manusia adalah menyalahkan manusia atas kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Tidak sedikit korban yang menjadi budak masa lalu, lalu putus asa. Petrus sendiri menorehkan noda hitam ketika menyangkal Yesus sebanyak tiga kali karena ketakutannya. Akan tetapi, alih-alih tenggelam dalam penyesalan seperti Saul dan Yudas, Petrus menyesal, menyerahkan masa lalunya, dan bangkit untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Allah.
Dia juga berserah kepada panggilan Yesus untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Dia membiarkan Allah memproses segala kekurangan dan kelebihannya untuk kemuliaan-Nya. Dia mengikuti mandat Allah untuk melayani orang banyak (1 Petrus 5:2) serta mengajar mereka untuk menjadi teladan bagi banyak orang (5:2-3).

KEPEMIMPINAN PETRUS SEBAGAI PEMIMPIN
Terdapat kesan yang cukup kuat bahwa sepeninggalan Tuhan Yesus, maka Petrus menjadi pemimpin dari kelompok murid Yesus ini. Hal ini paling tidak terlihat pada Yohanes 21:3, ketika Petrus memutuskan untuk kembali menjadi nelayan, dan merekapun ikut bersamanya sambil berkata: “Kami pergi juga dengan engkau”. Petrus merupakan pemimpin tidak resmi dari para rasul. Sebab seringkali ia menjadi juru bicara. Setelah berpisah dengan Yesus, para murid, terkesan, berharap bahwa Petruslah yang akan mengarahkan mereka. Catatan Lukas mengenai gereja mula-mula, sangat jelas mengesankan tentang kepemimpinan Rasul Petrus.[7]  Sebagai pemimpin, terdapat beberapa hal yang dilakukan Petrus dalam melaksanakan kepemimpinannya, yakni:

1.      Memperlihatkan Masalah Untuk Menemukan Solusinya (Kisah Rasul 1:15-26)
Saat para rasul sedang menantikan Roh Kudus yang dijanjikan Yesus, mereka tiba di kota dan menumpang di sebuah rumah serta berkumpul di ruang atas. Beberapa hari kemudian Petrus melihat bahwa kematian Yudas memberi dampak pada jumlah mereka sebagai saksi tentang siapa Yesus. Yudas dianggap sebagai salah satu anggota dari tim pelayanan tersebut. Bagi Petrus, kematian Yudas akan mempengaruhi kegiatan pelayanan (bd. ay.17). Petrus bukan saja memperlihatkan kepada kelompok itu tentang masalah yang tidak mereka sadari, namun juga mengutarakan bagaimana memecahkan masalah tersebut. Ia meberikan solusi kongkrit pada 120 orang yang mendengarkan informasi itu (ay.15).
Solusi yang ditawarkan Petrus adalah harus ada yang menggantikan Yudas. Tetapi solusi ini belum cukup jika tidak melalui tata cara yang tepat melakukannya. Itulah sebabnya pada ayat 21-22, Petrus menyebut syarat pengganti Yudas, yakni orang itu harus selalu bersama-sama dengan mereka dan melihat serta menyaksikan dengan secara langsung tentang Yesus yang dimulai dari pembaptisan Yohanes sampai kebangkitanNya. Usulan Petrus ini disambut baik oleh mereka dan kemudian melaksanakannya (ay.23-26).
Salah satu fungsi pemimpin adalah menyusun cara dan memberikan arahan tindakan untuk masa depan.[8] Petrus dengan penuh keyakinan memaparkan masalah yang dihadapi sekaligus memberikan arahan tegas dan tepat sasaran tentang bagaimana menyelesaikan permasalahan mereka sepeninggalan Yudas sebagai bagian dari Tim Pelayanan itu.
2.      Menjadi Inisiator dan Inspirator (Kisah Rasul 2:14-40)
Apa yang diperbuat oleh para murid sebelum Roh Kudus dicurahkan? Mereka berkumpul di sebuah ruang atas dan tidak keluar menunjukkan diri di tengah masyarakat. Kemungkinan besar hal ini disebabkan karena mereka mengalami ketakutan jika dikenali sebagai murid Yesus. Kekuatan dinamis dari karya Roh Kudus kemudian menggerakkan mereka untuk berani tampil di depan banyak orang pada saat hari raya Pentakosta.
Saat banyak orang itu sedang terheran-heran dengan berbagai bahasa yang mereka dengar keluar dari mulut para Rasul, maka Petrus berinisiatif mewakili kelompok duabelas itu dan mulai berbicara, bersaksi dan mengajar tentang Yesus (ay.14). Ia dengan sengaja berdiri untuk menjelaskan olok-olokan orang banyak bahwa mereka sedang mabuk, dengan menimpali bahwa tidak benar kami sedang mabuk (bd. ay.15). Tindakan merupakan inisiatif yang berani Rasul Petrus mengingat kondisi mereka sedang “dicari” sebagai murid Yesus.
Setelah menjawab tudingan itu, Petrus kemudian dengan lugas berkhotbah dan bercerita tentang Yesus yang mereka salibkan itu. Kisah yang dituturkan Petrus mendorong banyak orang, menginspirasi mereka. Mengapa menginspirasi mereka? Hal ini terlihat dari reaksi spontan orang banyak, yang terharu ini, melalui pertanyaan: “apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” (ay.37). Petrus berinisiatif untuk memberdayakan kuasa Roh Kudus lewat tampil kedepan untuk mengajar dan dengan itu banyak orang terpukau sehingga menyerahkan diri untuk bertobat. Jumlah mereka berubah drastis. Dari jumla 120org menjadi 3000org.
Orang tidak akan mengikuti pemimpin yang tidak antusias. Orang hanya mengikuti seseorang yang memiliki gairah akan visi yang dimiliki tersebut.[9] Kendatipun dokter Lukas sebagai penulis kitab ini tidak menyebutkan dengan cara apa Petrus berkhotbah, tetapi kita dapat dengan mudah membayangkan bagaimana berapi-apinya isi pidato tersebut. Gairah yang penuh antusias itu memang benar tidak dapat hanya dari Petrus sendiri melainkan melalui kuasa Roh Kudus. Tetapi peran Petrus pun tidak dapat diabaikan. Ia berinisiatif untuk berbicara lebih dulu dan menginspirasi banyak orang. Petrus adalah seorang inisiator dan inspirator.
3.      Melihat dan Menangkap Peluang di Tengah Resiko (Kisah Rasul 3:11-4:22)
Serambi Salomo adalah tempat dimana Petrus mampu melihat peluang menjalankan misinya bagi pemberitaan tentang Yesus. Saat orang banyak terheran-heran dengan mujizat yang Petrus lakukan, yakni menyembuhkan orang lumpuh, ia melihatnya sebagai peluang untuk memberitakan tentang Yesus (3:12 dyb). Kenyataan ini bukan tanpa resiko. Petrus dan Yohanes pun ditangkap oleh pemuka Bait Allah (4:3). Usaha yang beresiko itu menghasilkan sesuatu yang besar, yakni banyak dari mereka yang percaya karena pemberitaan dan pengajaran tersebut (4:4).
Dalam Sidang pun, Petrus dan Yohanes bersedia mengambil resiko dengan tidak berhenti untuk bersaksi (Kisah.4:13).[10] Pemimpin harus berani mengambil resiko di tengah tantangan untuk menyatakan kebenaran. Petrus dan Yohanes mampu melakukannya. Dalam hal sebagai pemimpin, Petrus dapat melihat dan menangkap peluang menjalankan misinya kendatipun dengan resiko dipenjarakan.

KEPEMIMPINAN PETRUS MENGHADAPI KONFLIK (Menjadi Agen Perubahan)
Organisasi manapun yang melibatkan banyak orang, pasti akan mengalami berbagai perbedaan pendapat, di saat menghadapi suatu masalah ketika mencari jalan keluarnya. Jika salah mengambil keputusan, atau salah mengolah konflik itu, maka perpecahan pastilah terjadi. Dalam situasi yang tidak kondusif dikarenakan berbagai perbedaan yang mengarah pada perpecahan, dibutuhkan figur seorang pemimpin yang tegas, dihormati dan mampu memberikan solusi yang tepat tetapi juga benar.
Salah satu pemimpin yang mampu menyelesaikan berbagai perbedaan dan meredam perpecahan adalah Rasul Petrus. Hal ini dengan sangat jelas diceritakan oleh dokter Lukas dalam kitab Kisah Rasul 15:1-21 tentang Sidang di Yerusalem dalam rangka menghadapi perbedaan pendapat di jemaat Antiokhia. Di jemaat ini terjadi perbedaan pendapat di antara mereka ketika beberapa orang menyusup dan mempengaruhi jemaat bahwa warga jemaat non-Yahudi harus disunat agar beroleh keselamatan (ay.1). Diduga bahwa mereka inipun seperti yang disebutkan dalam ayat 5, berasal dari golongan Farisi yang terkenal itu. Sengaja mereka datang dari Yudea ke Antiokhia, untuk mengubah pikiran jemaat di tempat itu, mengenai sesuatu pokok ajaran keselamatan. Pokok ini adalah tentang sunat.
Dari ayat 15-24b, ternyatalah bahwa saudara-saudara ini tidak diberi pesan dan tidak pula diutus dengan resmi oleh induk jemaat di Yerusalem. Mereka telah datang atas inisiatif mereka sendiri, dan ajaran mereka sangat ekstrim.  Hal ini menimbulkan konflik dalam tubuh Kristus. Warga jemaat non-Yahudi mengalami keresahan akibat pernyataan ajaran ini. Sudah pasti timbullah pertentangan dan perselisihan. Sebagai pemimpin umat, Paulus dan Barnabas mempertahankan ajaran yang benar dan membantah pendapat mereka. Akhirnya konflikpun terjadi. Bagaimanakah kemudian Paulus dan Barnabas mengolah konflik itu?
Pertama, Walaupun Paulus menentang dengan keras pandangan keliru ini, namun ia tidak memaksakan pendapatnya kepada jemaat Antiokhia. Ia justru menyetujui usulan jemaat Antiokhia untuk menyelesaikan masalah ini dengan melibatkan pimpinan gereja lainnya yakni para rasul dan penatua jemaat di Yerusalem (ay.2); Kedua, Paulus tidak membiarkan konflik dan ketidaknyamanan itu menguasainya dalam pelayanan. Justru walau masalah belum selesai, ia tetap memberitakan Firman Tuhan kepada banyak orang ketika perjalanan ke Yerusalem. (ay.3). Ketiga, Paulus tetap fokus dalam pelayanan itu dan tidak berusaha mempengarui orang lain untuk mendapat dukungan jemaat Fenisia dan Samaria ketika ia melayani (ay.3) dan Keempat, Hal yang sama juga dilakukan Paulus ketika tiba di Yerusalem di depan para pemimpin gereja waktu itu. Dia tidak mencari dukungan, namun justru lebih mengutamakan kesaksian iman dalam pelayanannya (ay.4).
Akhirnya dalam ayat 5 disebutkan bahwa Paulus dan Barnabas telah tiba di Yerusalem. Selanjutnya digelarlah Sidang di Yerusalem untuk menyelesaikan konflik yang terjadi mengenai perbedaan pendapat dalam hal ajaran keselamatan yang wajib dipenuhi oleh jemaat non-Yahudi lewat sunat dan Taurat itu. Nampaknya topik ini menjadi issue perdebatan yang semakin runcing. Hal ini terlihat dalam ayat 6,7 dan 12 dalam bacaan kita. Karena itu sebagai pemimpin para rasul, Petrus mengambil alih pembicaraan dan menyatakan pendapatnya. Perhatikanlah bagaimana cara Petrus menghadapi perbedaan pendapat tersebut dalam ayat 7-11 bacaan kita.
Pertama, Petrus tidak segera berbicara untuk mengambil keputusan dan menyatakan pendapatnya Ia menghormati pendapat dan hikmat yang ada pada masing2 pemimpin dan umat waktu itu. Itulah sebabnya ay.7 disebutkan mereka mendapatkan kesempatan untuk berbicara.
Kedua, Petrus tidak berdiri sebagai pribadi biasa waktu itu, namun di mengandalkan wibawa rasuli yang dianugerahkan Allah baginya, dengan menyebut pemilihan dan penugasan yang Allah berikan kepadanya (ay.7b). Artinya saat mengambil keputusan untuk menyatakan pendapatnya, Petrus tidak sedang berbicara untuk dirinya sendiri dan kemenangan egonya, melainkan untuk Tuhan dan kebenaran ajaran FirmanNya.
Petrus tampil berdiri dengan penuh wibawa atas otoritas Allah yang diberikan kepadanya (ay.7). Namun wibawa ini dengan sendirinya kehilangan pengaruh apabila Petrus gagal menjadi pribadi yang berintegritas, yakni apa yang ia ucapkan selaras dengan apa yang ia lakukan. Pemimpin yang berintegritas mampu menunjukkan satunya kata dengan perbuatannya, sehingga ia menjadi teladan dan sumber inspirasi organisasi.[11] Pemimpin yang berintegritas mampu untuk menjabarkan tanpa kompromi nilai-nilai dasar tertentu yang ia anut sehingga hasilnya dapat dilihat oleh mereka yang dipimpinnya.[12] Inilah yang dilakukan Petrus. Ditentukannya Ia oleh Tuhan sebagai pembawa berita bagi kaum tak bersunat, diwujudkan dengan pola laku dan perbuatan yang nyata dan tak terbantahkan (band. Ayat 7 dst). Sehingga, apa yang dikatakan dan diarahkan oleh Petrus tidak pula dibantah oleh siapapun yang mendengar perkataan itu.
Ketiga, Pernyataan yang dibuat Petrus tidak serta-merta tanpa pertimbangan. Namun semuanya tersusun rapi sesuai pengalaman iman dan pelayanannya (ay.8-11). Bagi Petrus, ketika ia melayani orang non-Yahudi, Roh Kudus diakruniakan juga bagi mereka yang menerima Kristus. Hal ini adalah pengalaman pelayanan Petrus dalam Kisah Para Rasul 10:1 dst ketika ia diperintahkan TUHAN untuk melayani Kornelius dan seisi rumahnya. Kornelius adalah orang non-Yahudi  yakni warga Romawi dan pemimpin pasuka Italia (10:1) Itu berarti menurutnya, Allah menghendaki keselamatan untuk bangsa lain juga tanpa harus lewat sunat dan taurat. Sehingga lahirlah ajaran bahwa keselamatan datang kepada semua bangsa hanya melalui Yesus Kristus (ay.11) dan bukan oleh hal lain termasuk sunat dan ketetapan Taurat.
Penyataan Petrus ini kemudian menjadi keputusan bulat Sidang Yerusalem yang diterima oleh seluruh peserta sidang dan bahkan didukung oleh Rasul Yakobus lewat legitimasi Firman Tuhan yang merujuk Amos 9:11-12 sebagai landasan keselamatan hadir bagi bangsa-bangsa lain non-Yahudi. Petrus menjadi Agen Perubahan dalam kehidupan komunitas Kristen Yahudi. Bersama Yakobus, Paulus dan Barnabas, mereka mengubah pola pikir Yudaisme kepada Kristosentris dalam hal memahami keselamatan. Para Rasul yang dulunya hanya berpikir tentang Israel sebagai satu-satunya bangsa yang dipilih untuk diselamatkan, kini memahami bahwa keselamatan milik semua orang termasuk kaum tak bersunat.
Petrus menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan. Ia adalah “change agent” bagi mereka yang dipimpinnya dan membawa komunitasnya memiliki perspektif yang baru tentang konsep yang menjadi akar konfik. Hasil akhir adalah, konflik berhasil diredam, perbedaan menemukan jalan baru yakni menapaki bersama kepentingan komunitas itu bagi Tuhan dan sesama manusia.
KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA VERSI PETRUS (Servant Leadership)
Pelajaran penting tentang menjadi Pemimpin adalah bersedia menjadi pelayan atau dengan prinsip Pemimpin yang melayani. Kepemimpinan yang melayani (Servant Leadership) merupakan suatu tipe atau model kepemimpinan yang dikembangkan untuk mengatasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh suatu masyarakat atau bangsa. Para pemimpin-pelayan (Servant Leader) mempunyai kecenderungan lebih mengutamakan kebutuhan, kepentingan dan aspirasi orang-orang yang dipimpinnya di atas dirinya. Orientasinya adalah untuk melayani, cara pandangnya holistik dan beroperasi dengan standar moral spiritual.[13]
Petrus adalah seorang pemimpin yang melayani. Hal ini terlihat dalam suratnya kepada orang Kristen Pendatang yang terdapat dalam 1 Petrus 5:1-3. Uraian pada bagian ini memberikan gambaran tentang siapakah Petrus dalam hal menjadi seorang pemimpin. Ia adalah seorang pemimpin-pelayan yang mampu memberi teladan dan mengajarkan orang lain untuk memimpin dengan cara melayani. Berikut ini beberapa hal yang di ajarkan Petrus dalam bacaan tersebut:
1.      Pemimpin Tidak Berada “di atas” (ay.1)
Hal yang menarik adalah ketika para penatua di jemaat-jemaat itu disapa Paulus sebagai “teman”. Paulus menempatkan dirinya sebagai teman penatua. Ia berbicara kepada mereka bukan dari atas, melainkan dari samping, yaitu suatu tempat yang baik untuk melaksanakan kepemimpinan. Ia memperlakukan mereka sebagai orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Juga ia menulis sebagai saksi penderitaan Kristus, yaitu orang yang hatinya telah dimurnikan oleh kegagalannya sendiri, dihancurkan dan ditaklukkan oleh kasih Golgota. Pekerjaan seorang gembala tidak dapat dilakukan secara efektif tanpa hati seorang gembala.
Dengan menggunakan sapaan seperti ini, Petrus menempatkan diri “turun” dan bukan naik. Ia menjadi seorang yang berhati gembala yakni merangkul dan mengayomi. Pemimpin yang melayani dalah pemimpin yang tidak merasa diri sebagai atasan yang harus tinggi disanjung, melainkan turun merangkul.
2.      Pemimpin Itu Mengabdi (ay.2)
Pemimpin-pelayan yakni mereka yang mengerkjakan kepemimpinan dengan orientasi kerja dalam matrik melayani, akan melakukan segala hal dengan motivasi tulus tanpa berpikir memperoleh keuntungan pribadi. Ini disebut Petrus dengan mengabdikan diri. Petrus tidak melupakan kuasa keserakahan di dalam diri rekannya, Yudas, dan ia ingin agar teman-teman penatua sama sekali tidak tamak. Seorang pemimpin hendaknya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keuangan atau keuntungan yang lain di dalam pelayanan atau keputusan-keputusannya. Jika orang mengetahui bahwa ia benar-benar tidak suka mengejar keuntungan, maka, perkataannya akan lebih berwibawa.
3.      Bukan Memberi Perintah tapi Teladan (ay.3) 
Selanjutnya, Petrus menyebut soal perlawanan antara menghamba dengan memerintah. Bagi Petrus seorang pemimpin yang adalah gembala, yakni memimipin dengan cara melayani, tidak terpuji cara ia melaksanakan tugasnya jika melakukannya atas dasar kuasa otiriter sebagai pemimpin dengan cara memaksa orang yang dipimpin. Kalimat "Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu,...." (ay.3) memberikan penegasan bahwa seorang pemimpin yang ambisius dapat dengan mudah merosot menjadi seorang tiran yang picik dengan sikap mau memerintah. "Bahkan satu kuasa kecil dapat dengan mudah mengubah orang menjadi sombong". Tidak ada satu sikap yang lebih tidak cocok bagi orang yang mengaku menjadi hamba Anak Allah yang merendahkan diri-Nya. Dengan kata lain, memerintah dengan mengandalkan kuasa adalah suatu perbuatan yang tidak layak disandang oleh seorang pemimpin-pelayan.
Jika demikian, bagaimanakah seharusnya? Pada ayat yang sama, Petrus melanjutkan kalimatnya: "Hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu" (ay.3). Ini memberikan penegasan bahwa lawan dari memerintah adalah memberi teladan. Pemimpin-pelayan adalah pribadi yang berada di depan, seperti gembala, untuk memberi teladan. Perbuatan baik dan benar harusnya tidak bisa diperintahkan untuk dilakukan, itu hanya mungkin jika ditunjukkan dengan perbuatan untuk diteladani.

P E N U T U P
Bagaimanapun tidak mudah menjadi seorang pemimpin apalagi pemimpin dalam gereja Tuhan. Sikap dan perbuatan adalah modal kuat untuk mengejah wantakan kasih Kristus sebagai sumber anugerah kepemimpinan itu. Hati yang penuh kasih, kemampuan mengolah konflik batin adalah mutlak diperlukan untuk menyebut seorang pemimpin adalah cerdas secara emosional.
Pada akhirnya kekuatan spiritual yang mumpuni yang ditandai dengan hidup yang intim dengan seorang Pemimpin/Gembala AGUNG mutlak dibutuhkan. Hanya mereka yang memiliki keuatan spiritual yang prima-lah yang mampu secara baik menjadi leader yang tidak hanya bijak, bukan saja mumpuni memberi solusi, namun mampu membawa organisasi yang dipimpinnya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.
------ __ -----

KEPUSTAKAAN

BUKU:

Alkitab, Jakarta: LAI, 2006
Boa, Kenneth dkk, Kepemimpinan Ilahi dalam Rupa Insani, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2013
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih-YKBK, 2007
Packer, J. I. Ensiklopedia Fakta Alkitab IIMalang: Gandum Mas, 2001
Sloane, Paul, The Innovative Leader, Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2007
W. I. M. Poli, Kepemimpinan Stratejik – Pelajaran dari Yunani Kuno hingga Bangladesh, Makassar, Identitas Universitas Hasanuddin, 2011
Wiyono, F.X.G. Isbagyo, The Innovative Leader, Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2007

ONLINE SOURCE:
http://cintaimabar.blogspot.co.id/p/kepemimpinan-yang-melayani-servant.html


[1] Nama asli Petrus ialah nama Ibrani 'Simeon' (seyogianya demikian dlm Kisah 15:14; 2 Petrus 1:1, tapi dalam LAI-TB semuanya menjadi 'Simon'); barangkali, seperti banyak orang Yahudi dipakainya juga nama 'Simon', hal yg biasa dalam PB sebagai nama Yunani yg bunyinya sama. Lih: Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih-YKBK, 2007), hlm. 255. Simeon atau Simon berarti “mendengar”. Lih. Ibid, hlm 405.

[2] Nama Kefas adalah nama yang diberikan oleh Yesus pada saat mengangkatnya sebagai murid. Dalam bahasa Aram berarti Batu Karang atau Petrus (Yoh.1:41).

[3] J. I. Packer. Ensiklopedia Fakta Alkitab II(Malang:Gandum Mas, 2001) hlm. 1105
[4] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih-YKBK, 2007), hlm. 256-257

[5] http://www.sarapanpagi.org/petrus-vt4233.html --- diakses pada tanggal 28 Desember 2015.

[6] http://lead.sabda.org/kunci_kepemimpinan_petrus di akses pada tanggal 30 Des 2015. Petrus belajar melayani, taat dan menyerahkan hidupnya dalam pimpinan Allah. Maxwell mencatat bahwa dia adalah pemain yang paling berkembang dan pemimpin yang berubah 180 derajat. Allah mengubah hidup Petrus dan memakainya sebagai salah satu pemimpin yang berhasil mengubah dunia.

[7] Kenneth Boa, dkk, Kepemimpinan Ilahi dalam Rupa Insani, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2013), hlm. 512.
[8] Kemampuan untuk memberikan arahan tindakan kemasa depan ini digambarkan sebagai misi, tujuan inti, atau visi. Lih. Paul Sloane, The Innovative Leader, (Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2007), hlm. 1

[9] Ibid, hlm. 37-38

[10] Hal yang perlu dicatat adalah bahwa orang-orang yang mengamati kisah Petrus dan Yohanes melihat keberanian mereka. Sebagai pemimpin gereja mula-mula, mereka berani bersaksi, menyatakan tentang Yesus, bahkan menghadapi perlawanan yang keras. Lih. Paul Sloane, The Innovative Leader, (Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2007), hlm. 349.
[11] W. I. M. Poli, Kepemimpinan Stratejik – Pelajaran dari Yunani Kuno hingga Bangladesh, (Makassar, Identitas Universitas Hasanuddin, 2011), hlm. 23

[12] Kenyataan tak bisa dipungkiri bahwa Petrus pernah gagal menjadi contoh dan teladan dari perkataannya itu. Hal ini terlihat dalam Galatia 2:11-14 ketika Petrus dan Paulus pernah berkonflik secara terbuka. Awalnya, Petrus membuka diri dengan kaum tak bersunat dan bahkan makan bersama mereka sehidangan dengan para orang percaya non Yahudi. Namun, ketika kelompok Yahudi datang, yaitu golongan Yakobus, Petrus kemudian berubah sikap dan meninggalkan kelompok tak bersunat itu supaya ia tidak dihakimi oleh kaum bersunat. Inilah yang mengecewakan Paulus. Ia mempertanyakan Petrus dan pendirian imannya sehubungan dengan keselamatan untuk kaum yang tak bersunat pula. Petrus menjadi “munafik” dan mengamankan diri sendir. Itu adalah kekejian menurut Paulus.
[13] Kepemimpinan yang melayani memiliki kelebihan karena hubungan antara pemimpin (leader) dengan pengikut (followers) berorientasi pada sifat melayani dengan standar moral spiritual. Selanjutnya ciri-ciri tentang Pemimpin Yang Melayani dapat dilihat pada: http://cintaimabar.blogspot.co.id/p/kepemimpinan-yang-melayani-servant.html yang di akses 30 Des 2015.

HUKUMAN ALLAH TIDAK MENGURANGI KASIHNYA

YEHEZKIEL 36:8-15

Bahan Persiapan Para Pelayan Firman dalam Ibadah Keluarga
Hari Rabu 20 Mei 2015

PENDAHULUAN
Apa yang ada dibenak saudara mengenai istilah “dibuang”. Istilah ini memberi arti tidak berguna lagi, tidak diperlukan, tidak dikendaki dll. Jika istilah ini dikenakan pada manusia atau sekelompok orang, maka kesan kejam dan tidak berperikemanusiaan akan terlihat jelas. Bayangkanlah bahwa ada orang yang tidak diingini dan dikehendaki lagi sehingga dibuang oleh orang atau kelompok lain. Bukankah tindakan itu sungguh kejam?

Inilah yang terjadi pada Israel dan yang dilakukan Tuhan pada mereka. Kesan bahwa Tuhan kejam dan murka terhadap umatNya, terlihat dalam peristiwa itu. Kitab Yehezkiel secara keseluruhan menyajikan dengan jelas sebab musabab peristiwa pengerikan itu terjadi pada bangsa tersebut. Kitab ini ditulis oleh Nabi Yehezkiel yang adalah seorang putera dari imam Buzi (Yehezkiel 1:3). Barangkali ia sendiri juga seorang imam. Pada tahun 597 597 sM (2 Raja 24:14- 17) Ia dibuang bersama-sama dengan Yoyakhin ke Babel/Babilon. Dia dimukimkan di kampung Tel-Abib dekat Sungai Kebar. Lima tahun kemudian ia menerima panggilan untuk menjadi nabi (Yehezkiel 1:2), mungkin setelah ia berusia 30 tahun (1:1). Sesudah menerima panggilan itu ia masih hidup paling sedikit 22 tahun lagi (Yehezkiel 29:17).

Dari kitabnya inilah kita tahu bahwa Israel mengalami kengerian bukan karena kekejaman Allah melainkan karena dosa dasa dan kesalahan umatNya itu (7:1-27). Namun bukan hanya penghukuman yang dinubuatkan Yehezkiel bagi bangsa ini (yg mana dia alami sendiri penggenapan pembuangan itu), tetapi juga berbagai nubuatan pengharapan dan pemulihan setelah masa pembuangan yang mulai muncul pada pasal 25.


GALIAN TEKS (TAFSIRAN)
Bagian kedua dari pewartaannya (Yehezkiel 25:1-38:23) mengungkapkan harapan akan pemulangan mereka kembali dan datangnya waktu keselamatan yang gemilang. Para musuh akan memperoleh putusan hukuman dan kondisi umat akan kembali dipulihkan. Bacaan kita saat ini memuat nubuatan tentang pemulihan tersebut yang memberikan pengharapan bagi umat untuk tetap tabah menjalani masa pembuangan mereka hingga TUHAN, Allah mereka menggenapi janjiNya bagi umat tebusanNya.

Ada beberapa pokok penting dalam Yehezkiel 36:8-15 yang perlu diuraikan dan dijelaskan maknanya dalam galian teks ini. Pokok-pokok penting dimaksud adalah sebagai berikut:

1.       Hukuman bukan berarti aib (ay 1-7)
Yehezkiel diperintahkan Tuhan untuk bernubuat bagi tanah perjanjian yang telah porak-poranda dan hancur serta ditinggal oleh penghuninya yang dibuang. Bahwa keadaan sunyi sepi dan reruntuhan mengerikan itu kini dianggap oleh bangsa-bangsa lain sebagai aib dan kehinaan bagi bangsa Israel dan tanah perjanjiannya. Bahkan kondisi ini digunakan sebagai kesempatan oleh bangsa kafir untuk menghinakan dan bahan olokan (ay.4), serta banyak dari bangsa lain mensyukuri nasib malang tersebut.

Melalui Nubuatan itu, TUHAN, Allah Israel menegaskan bahwa Ia akan melawan bangsa2 itu dengan api cemburuanNya dan menjadikan noda Israel berbalik menjadi noda bangsa-bangsa kafir itu (bd. Ay.4,7). Pertanyaan penting untuk digali dari pernyataan Tuhan itu adalah jika pembuangan dan kehancuran Israel bukan aib dan noda dari Tuhan, mengapa Allah mengijinkan itu terjadi lalu kemudian bersusah payah memulihkannya lagi?

Ternyata kita menemukan bahwa peristiwa pembuangan tidak hanya dipandang sebagai penghukuman atau malah kesusksesan bangsa lain menghancurkan Israel; melainkan peristiwa pembuangan adalah cara Tuhan memurnikan mereka kembali. Kitab Yesaya 48:10 dengan tegas menyatakan bahwa TUHAN memaksa mereka memasuki ujian dalam dapur kesengsaraan untuk memurnikan mereka kembali. Dengan demikian, penghukuman itu bukanlah aib atau noda yang ditinggalkan bangsa2 kafir, melainkan suatu proses pemurnian untuk menghadirkan umat tak bernoda dan tak beraib walaupun harus melalui proses yang tak mudah yakni “Dapur Kesengsaraan”.

2.       Alasan Pemulihan (ay. 9,11)
Apakah alasan pemulihan tersebut? Jika kita memperhatikan ayat 9, kesan yang cukup kuat adalah karena terjadi atas inisiatif Allah. Kalimat “hatiku akan baik kembali” menunjuk pada murka dan kekecewaan Allah terhadap umat yang dikhususkannya itu, sehingga Ia tidak lagi “membelakangi” umatNya namun bersedia berpaling kepada mereka. Dengan penjelasan ini, maka penekanan khusus sebagai alasan mengapa pemulihan itu terjadi tidak disebabkan karena Iisrael sendiri atau karena mereka yang berbalik dan menjadi baik kepada Allah.
Tuhan sendirilah yang berinisiatif. Tuhanlah yang berbaik lagi dan berbalik untuk mereka. Keselamatan dan pemulihan Israel tidak terjadi karena perbuatan baik Israel, tapi karena kemurahan Tuhan.

Selanjutnya, apakah motifnya? Untuk apa Israel dipulihkan kembali? Jawaban mengejutkan tertera pada ayat 11 bagian akhir, yakni: “supaya kamu mengetahui bahwa Akulah TUHAN. Pemulihan tidak dikerjakan untuk Israel, tapi dikerjakan TUHAN untuk kemuliaanNya yakni agar umat menyadari siapakah Yahwe itu, yakni Tuhan mereka. Hal senada kita dapatkan pada Yesaya 48:9, bahwa umat dipulihkan dan  dikasih Allah karena satu alasan “demi kemasyuran namaKU” Aku mengasihi engkau.

Prinsip “dari Allah dan untuk Allah” menjadi penekanan mutlak dan kuat dalam bacaan kita. Hubungan umat Israel dengan Tuhannya harus berada dalam pemahaman TEOSENTRIS, yakni Allah adalah pusat dari segala sesuatu (dari Allah dan untuk Allah)

3.       Apa yang dipulihkan (ay 8, 10, 11, 12, 14, 15)
Perhatikan ayat-ayat yang ditunjukkan di atas. Seluruh sendi kehidupan Israel akan mengalami pemulihan. Bukann saja kondisi alamnya, namun hasil panen dan kehidupan di pulihkan kembali (ay.8,10); hubungan dan relasi antar umat dan Allahnya kembali langgeng (ay.11); bahkan tanah yang dianggap telah dikuti ini akan kembali bermakna tanah perjanjian yang menjadi milik pusaka mereka (ay.12) sehingga Tuhan menjamin tidak ada lagi bangsa yang akan merebut pusaka ini dan membinasakannya (ay.14,15).

Seberapa pulihkan Israel kelak nanti? Sesuatu yang indah difirmankan Tuhan melalui Yehezkiel bagi Israel. Bahwa kadar pemulihan melebihi sebelumnya, kualitasnya melebihi dari yang mereka pernah alami. Totalitas pemulihan diberikan Allah dengan kadar mengagumkan yakni melebihi dari yang terdahulu (bd. Ay.11)

RELEVANSI DAN APLIKASI



[1] Judul ini diambil dari Sabda Guna Krida tanggal 20 Mei 2015.

JANGAN MENILAI BUKU DARI SAMPULNYA

YOHANES 6:41-43


6:41 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."  6:42 Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"  6:43 Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut.



TELAAH PERIKOP / TAFSIRAN
1.  Pada bacaan sebelumya yakni ayat 32-33 Yesus menjelaskan siapa Musa dan perannya dalam memberikan Roti “Manna” waktu nenek moyang mereka berada di padang gurun. Yesus berkata: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia. Dari uraian ayat 32-33 ini, ada dua hal penting yang ingin Yesus tegaskan, yakni:

  1. Bahwa nenek moyang mereka diberikan makan “manna”, sebenarnya bukan oleh Musa melainkan oleh Allah Bapa. Musa tidak pernah mampu untuk mendatangkan makanan itu. Musa hanyalah manusia dan tidak punya kuasa. TUHAN sendirilah yang bekerja dan memberi makan menek moyang mereka itu.
Jadi alasan Roti “Manna” sebagai hasil pekerjaan Musa sehingga itu membuktikan bahwa ia adalah utusan TUHAN adalah suatu kekeliruan besar. Musa memang utusan TUHAN, tapi bukan karena ia memberi “Manna” bagi Israel, sebab TUHAN-lah yang memberi makanan itu.

  1. Memang benar bahwa Roti “manna” itu pemberian Allah sehingga disebut roti dari Sorga. Tetapi Roti yang benar dari Sorga bukanlah Rotti yang dimakan oleh nenek moyang mereka. Sebab roti yang dimakan oleh nenek moyang mereka itu hanya memberi rasa kenyang sesaat bagi mereka saja. Sedangkan Roti sesungguhnya yang benar dari sorga akan dinikmati bukan saja oleh nenek moyang mereka tapi oleh seluruh dunia. Selanjutnya roti yang dimaksud itu bukan hanya memberi rasa kenyang sesaat namun efeknya adalah memberi hidup kepada dunia.

2.  Mendengar penjelasan Yesus itu, orang banyak menjadi sangat penasaran dan ingin menikmati roti yang Ia maksudkan. Itulah sebabnya mereka berkata: “Tuhan berikan roti itu!” Ternyata mereka amat menginginkannya. Mendengar permintaan itu, Yesus segera menyebut dan mendefinisikan Roti yang Ia maksudkan. Pada ayat 35 bacaan kita Yesus menyebutkan bahwa Dialah yang dimaksud dengan Roti itu.

Bahwa Yesus menyebut pada akhirnya apa dan bagaimana Roti Dari Sorga itu. Roti yang dimaksud Yesus adalah DiriNya sendiri yang memberi diri bagi kehidupan kekal untuk dunia. Hal ini memberikan penekanan kepada orang Israel itu bahwa mereka harus lebih percaya kepada Yesus dibanding kepada Musa, dan mereka harusnya tidak memikirkan hal-hal yang dapat binasa melainkan sesuatu yang memberi hidup kekal. Yesuslah Roti Hidup yang memberi kehidupan kekal. Dialah Roti yang turun dari Sorga. Maka harusnya kepada Dia-lah orang Israel mempercayakan hidup mereka.

3.  Namun, apapun yang dijelaskan Yesus, Ia tahu bahwa mereka tidak akan percaya walaupun sudah mengetahui dan mengenal Dia (ay.36). Mengapa demikian? karena orang banyak itu hanya berpegang pada kebenaran yang mereka percayai dan bukan kepada ajaran yang Yesus sampaikan. Itulah sebabnya mereka menolak Dia.

4.  Pada ayat 41-43 pada bacaan kita, dipaparkan alasan lain mengapa orang banyak itu menolak Yesus dan kebenaran yang diajarkan kepada mereka. Pada ayat 42 mereka berkata: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?". Bagi orang banyak itu, adalah sulit untuk menerima bahwa Yesuslah Roti yang turun dari Sorga itu sebab mereka tahu dari mana Yesus datang. Menurut mereka Yesus datang dari keluarga yang mereka kenal, yakni Maria dan Yusuf sehingga tidaklah mungkin Ia datang dari Sorga. Itu suatu kemustahilan untuk dapat dipercayai. 

Apakah salah pendapat orang banyak itu? Sebenarnya apa yang diucapkan orang banyak itu tidaklah salah. Bahwa memang benar Yesus berasal dari keluarga itu, Ia adalah seorang tukang kayu, bapaknya bernama Yusuf dan ibunya adalah Maria. Mereka amat mengenal Yesus, dan mungkin ada diantara mereka yang tumbuh bersama dan mengalami masa kecil bersama-sama Yesus. Itulah sebabnya adalah wajar apabila mereka menolak Yesus datang dari Sorga.

Tetapi kegagalan orang banyak Yesus yang membuat mereka gagal “melihat” Yesus yang sebenarnya adalah karena mereka sudah terlanjur cepat “menilai buku hanya dari sampilnya saja”. Artinya mereka berusaha mendefinisikan siapa Yesus berdasarkan apa yang mereka lihat dari luar dan tampilan saja. Mereka begitu yakin bahwa mereka sudah tahu siapa sesungguhnya Yesus. Padahal sesungguhnya mereka tidak tahu apapun tentang Yesus. Kebenaran yang mereka pegang  tentang Yesus justru menyesatkan mereka untuk dapat mengenalnya secara lebih mendalam.

APLIKASI DAN RELEFANSI
1.   Sudah menjadi kenyataan yang tak terpungkiri bahwa segala sesuatu selalu diyakini jika sudah dapat dibuktikan. Sebagai manusia kita cendrung memuaskan nalar dan logika kita untuk menerima suatu kebenaran. Hari ini kita diajarkan Firman Tuhan tentang bagaimana kemudian orang Israel tidak dapat menerima Yesus Kristus sebagai TUHAN karena tidak dapat mempercayaiNya.

Iman tidak yang sesungguhnya adalah kebenaran yang diterima tanpa pembuktian apapun melainkan kemampuan untuk meyakini dengan sungguh. Kita percaya kepada Yesus bukan karena alat bukti tertentu, namun seharusnya kita percaya kepadaNya karena memang kita percaya. Itu sudahlah cukup. Bukankah Yesus pernah berkata kepada murid2-Nya pada kasus Tomas yang kurang percaya: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yoh.20:29.b). Percaya kepada Yesus tidak harus menuntut pembuktian atau karena melihat. Percaya kepada Yesus harusnya dilakukan tanpa syarat apa-pun sebagaimana Ia berkorban untuk kita tanpa menuntut syarat apapun dari kita.

2.  Mengapa walaupun Yesus telah memperkenalkan diriNya dan mematahkan argumen mereka tentang siapa Dia dibanding Musa, orang Isreal tetap tidak percaya? Jawabannya karena mereka lebih percaya kepada kebenaran yang mereka pahami dari pada kebenaran yang diajarkan Tuhan. Mereka terlalu cepat menilai Yesus dari luarnya saja dn bukan mengenalNya lebih dalam lagi.

Hari ini kita diingatkan suatu hal yang penting. Bahwa kebenaran semu yang kita pertahankan justru akan menjerumuskan kita kepada peyesatan diri. Jangan hanya berpikir bahwa kita sudah mengenal Dia, padahal sesungguhnya kita tidak mengerti tentang Dia. Karena itu kitapula diajarkan untuk mulai saat ini berusaha mengenal Tuhan kita lebih dalam dan lebih sungguh lagi. Hanya dengan pengenalan yang benar tentang Yesuslah akan membuat kita mengerti dan memahami semua kehendaknya.

Bagaimana cara mengenalNya? Sebenarnya tidaklah sulit! Kita dapat mengenal Tuhan kita melalui kebenaran FirmanNya. Karena itu mengetahui Fiman Tuhan adalah hal yang patut dilakukan orang percaya demi dapat mengenal TUHAN lebih baik lagi. Itu berarti kita harus lebih banyak membaca Alkitab, merenungkan dan melakukannya supaya kita dapat mengenalnya dengan baik.

3.  Ternyata berbahaya dampaknya jika hanya menilai seseorang dari tampilan luar saja. Kita diajarkan bahwa “Menilai buku hanya dari sampulnya saja” adalah suatu kekeliruan besar. Kekeliruan ini bukan saja akan menyesatkan tapi juga membuat kita menghakimi seseorang dengan keliru, sebagaimana orang banyak dengan bangga menghakimi Yesus.


Kitapun saat ini diajarkan untuk tidak menilai seseorang berdasarkan tampilan luarnya saja. Sebab jika itu terjadi kita menjadi hakim bagi orang itu dan kemudian menjadikan orang itu sebagai objek “kebenaran” yang kita pegang untuk membenarkan diri kita dan menyalahkan orang lain. Belajarlah untuk tidak cepat menilai seseorang berdasarkan ukuran yang kita ukur. Sebab ukuran yang kita pakai akan dipakai TUHAN juga untuk mengukur kita. Berpeganglah hanya pada kebenaran yang dari TUHAN supaya tidak ada kebenaran-kebenaran semu yang akan menyesatkan kita. Amin.

SALING MENOPANG DI TENGAH PERGUMULAN (Naomi dan Rut)

RUT 1:15-18

15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu."  16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;
17di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"  18 Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya.

PENDAHULUAN
Adalah hal yang biasa dewasa ini jika kita mendengar ada pertengkaran yang terjadi antara mertua dan menantu. Secara khusus pertengkaran tersebut sering terjadi antara ibu mertua dengan menantu perempuan. Masalah dan persoalannya kurang jelas, tetapi yang pasti selalu dipicu dari hal-hal sepele yang kemudian menjadi besar dan prinsipil. Simpulannya adalah ibu mertua dan menantu perempuannya jarang hubungan mereka tidak bermasalah.

Berbeda kisahnya dalam bacaan kita saat ini. Rut adalah menantu dari Anomi. Setelah suaminya meninggal Rut memutuskan untuk mengikuti Naomi dan menganggapnya bukan hanya sekedar mertua namun juga seperti ibunya sendiri. Namun, Naomi cukup bijak. Menurutnya, Rut masih memiliki masa depan yang lebih baik, apalagi ia menikah lagi. Itulah sebabnya Naomi memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Bet-lehem (rumah roti) dan meminta Rut melanjutkan kehidupannya sendiri. Namun justru prinsip yang berbeda ini menjadi dialog yang menarik (bisa disebut adu mulut yang kental) dalam bacaan kita serta menggambarkan tentang betapa eratnya hubungan mertua dan menantu dalam kisah ini.

TAFSIRAN / TELAAH PERIKOP
1.       Menurut ayat 1-5 anak-anak Naomi menikahi perempuan Moab sebagai Istri mereka masing-masing. Mahlon menikahi Opra; dan Kilyon menikahi Rut. Telah disebutkan tadi bahwa ketika suami masing-masing mereka meninggal, maka mereka memutuskan untuk meninggalkan Moab dan mengikuti Naomi ibu mertua mereka (ay.6-7).

Selanjutnya ayat 8-13 menceritakan tentang berbagai adu argumentasi dilakukan antara mertua dengan kedua menantu perempuannya. Mereka berdua, Orpa dan Rut, bersikeras untuk tidak akan meninggalkan Naomi mengalami kepahitan hidup seorang diri. Mereka ingin menemani, mereka ingin saling berbagi. Namun bagi Naomi yang lebih dahulu mengalami asam-garam hidup ini justru berpandangan beda dgn mereka. Bagi Naomi mereka berdua masih muda dan masa depannya masih ada. Adalah lebih tepat jika mereka kembali ke orang tua masing-masing  untuk memulai hidup baru dan jika mungkin, mereka dapat menikah lagi.

Penjelasan yang sangat detail dilakukan Naomi agar mereka mengerti. Naomi tidak bermaksud menolak pendampingan mereka, tapi Naomi juga menginginkan mereka bermasa depan. Akhirnya hati Orpa lulu dan mengalah iapun berpisah dengan mertuanya dalam suasana sedih dan haru (ay 13). Bisa dibayangkan kasih dan kesetiaan menantu itu bagi mertuanya; kasih Orpa untuk Naomi yang tiada duanya.
  
2.       Bagaimana dengan Rut. Bacaan kita menguraikan tentang bagaimana Rut bertahan pada prinsipnya. Rut terkesan menjadi menantu yang keras kepala. Naomi pada ayat 15 meminta Rut untuk mengikuti Orpa yang mengalah dan kemudian kembali ke ibu kandungnya. Demi ketaatan kepada mertua Opra kembali ke bangsanya dan kepada allahnya. Apakah benar Rut memang keras kepala dan tidak mau mengalah? Mari perhatikan ayat 16-17 bacaan kita. Dari ayat-ayat itu menemukan alasan yang kuat mengapa Rut bertahan pada Prinsipnya, yaitu:
  1. Naomi saat  itu sedang mengalami kepahitan hidup. Itulah sebabnya ia menyebut namanya bukan lagi Naomi pada ayat 19 namun menyebut dirinya dengan nama MARA. Dalam bahasa Ibrani “mara” berarti pahit, artinya hidup Naomi pahit adanya. Ia penuh dengan pergumulan karena ditinggal mati oleh suami sebagai tulang punggung dan anak2 lelakinya sebagai penggati suaminya pun meninggal dunia. Cukuplah lengkap penderitaannya, dan sebagai manusia biasa Naomi tidak mungkin menjalani sendiri semua itu.

  1. Kondisi ini amat jelas diketahui oleh Rut menantunya. Sebagai seorang anak, Rut amat mengasihi Naomi mertuanya itu. Ia ingin berbagi beban dan penderitaan yang dialami Naomi. Ia tidak tega meninggalkan Naomi menjalani sendirin kepahitan hidupnya. Itulah sebabnya Naomi berkata dengan tegas pada ayat 16: “ke manapun engkau pergi; di manapun engkau bermalam di situ pula aku berada”. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesetiaan dan kasih Rut terhadap Naomi tidaklah tertandingi melebihi sayangnya pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin berpisah dari mertuanya demi menopang dan mendampingi Naomi.

  1. Prinsip hidup yang begitu kuat ditampilkan Rut soal besar kadar keinginannya untuk “menyatu” dengan ibu mertuanya. Hal ini juga terlihat pada ayat 16 bagian akhir. Menurutnya bangsa Naomi adalah bangsanya juga. Itu berarti demi kasihnya kepada ibu dari suaminya ini, Rut bersedia kehilangan identitas dan meninggalkan identitas lama sebagai orang Moab dan selanjutnya mengambil identitas baru sebagai orang Yahudi sebagaimana identitas mertuanya. Bukankah itu suatu hal yang jarang dilakukan orang? Rut belum tahu keadaan orang-orang Yahudi; Rut tidak tahu apakah ia diterima di komunitas orang2 Israel itu. Namun resiko itu bersedia ia ambil demi mendampingi hidup mertuanya.

  1. Selanjutnya puncak argument Rut yang tidak dapat dibantah lagi oleh Naomi adalah ketika ia menyampaikan dua hal penting diakhir ayat 16 dan ay.17. Pertama: Agama dan Allah Naomi akan menjadi Allahnya juga; Kedua: atas dasar iman yang baru itu, ia bersedia dihukum TUHAN nya Naomi (yang sekarang adalah TUHANnya ia juga) apabila ia meninggalkan ibu mertuanya itu, kecuali karena Maut.

3.       Rut bersedia berpindah keyakinan. Suatu hal yang sangat prinsipil dan asasi sekali dari setiap pribadi. Namun, itu ia sedia lakukan. Mengapa? Pastilah tidak mudah bagi Rut untuk berpindah keyakinan selain ada suatu sebab yang kuat. Karena itu apa sebab yang kuat itu? Jawaban utamanya Cuma satu yaitu karena Naomi. Sikap hidup Naomi selama ia tinggal di Moab, cara ia bersikap sebagai mertua untuk menantu dan ketegaran imannya untuk bertahan di tengah duka dan kepahitan hidup, walau seakan menurutnya TUHAN seakan meninggalkannya (ay.20-21) serta hal2 lainnya ternyata menjadi kesaksian kuat untuk Rut menerima agama dan Iman yang baru yakni menyembah Allah-nya Naomi. Bukankah itu suatu hal yang luar biasa?


APLIKASI DAN RELEVANSI
1.       Hari ini kita belajar tentang pengalaman hidup seorang janda bernama Naomi. Ketika di Israel mengalami kelaparan, maka ia dan keluarganya mencari kehidupan di negeri asing bernama Moab. Namun malang tak dapat dihindari. Suami dan anak-anaknya meninggal. Ia tidak dapat menjalani hidup lagi di negeri orang tersebut. Kepahitan ia alami dan rasanya tak terhiburkan lagi. Namun, Naomi tidak sendiri menjalani kondisi itu. Orpa dan Rut berkomitmen mendampingi, walau pada akhirnya Orpa meninggalkannya, bukan karena tidak setia namun demi ketaatan pada ibu mertuanya itu.

Hal pertama dari Firman Tuhan ini mau berbicara tentang pentingnya menghadapi hidup ini tidak sendiri. Kita diajarkan bahwa sebagai manusia kita membutuhkan orang lain. Kita tidak dapat menghadapi tantangan dan pergumulan seorang diri saja. Pada ayat 18, syukurnya Naomi menyadari hal ini dan berhenti memninta Rut pergi. Jika baca kisah selanjutnya, kita dapat melihat peran Rut dalam menghidupkan perekonomian dan kebutuhan pokok Naomi. Bayangkan jika Rut tetap di suruh pergi. Pasti akan lain ceritanya.

Demikian juga kita! Jangan pernah menutup diri dengan pergumulan dan persoalan sendiri. Kita butuh orang lain untuk membantu dan menopang. Jangan pernah untuk menanggung beban sendiri, berbagilah beban dengan orang lain, sebab topangan dua orang lebih kuat dari seoranhg diri saja.

2.       Selain kita diajak untuk terbuka seperti Naomi, kita juga oleh Firman Tuhan bersedia untuk menjadi RUT. Ada banyak Naomi modern saat ini yang sedang berbeban sendiri. Saatnya bagi kita untuk menjadi Rut yang memiliki prinsip mulia. Rut tidak menyerah utuk menjalankan ide mulia itu. Penolakan Naomi tidak menyurutkannya, ia memahami bahwa Naomi sedang gundah dan wajar jika menolaknya.

Akhirnya prinsip kokoh Rut menjadi berkat buat Naomi, tapi juga menjadi berkat buat Rut sendiri. Akhir kitab ini mengisahkan tentang happy ending yang mengharukan bagi masa depan Rut di negeri dan bangsa yang baru, di sayap perlindungan imannya yang baru.

Karena itu, marilah menghadapi setiap pergumulan hidup ini seperti Naomi yang membuka diri bagi orang lain, tapi juga mari menjadi Rut yang bersedia memberi diri bagi penderitaan orang lain dan menopang hidup mereka yang bergumul sendiri. Sebab hal itu bukan hanya menjadi berkat untuk orang lain itu, tapi juga menjadi berkat bagi kita yang bersedia membantu. Kiranya TUHAN memampukan kita. Amin.

MENJADI HAMBA


2 TIMOTIUS 2:22-26

PENDAHULUAN
Filippo Inzaghi adalah seorang striker sepakbola asal Italia. Gaya permainan bolanya tidak secantik Ronaldinho-pemain nasional Brasil. Tubuhnya kecil, kecepatan larinya pun rata-rata. Namun, yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya mencari ruang kosong, sehingga setiap serangan yang ia buat menjadi efektif. Tak banyak gaya, tetapi gol tercipta. Itulah yang membuatnya menjadi striker yang tetap diandalkan oleh AC Milan, timnya, meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Prinsip ini senada dengan nasihat Paulus kepada Timotius untuk mengajaknya melakukan pelayanan dengan strategi pelayanan yang lebih efektif.

TELAAH PERIKOP
Ayat-ayat yang kita baca adalah nasihat Paulus kepada Timotius yang hendak menjadi hamba Tuhan agar lebih efektif dan kreatif. Apakah yang harus dilakukan oleh Timotius? Ada beberapa pokok yang ditekankan Paulus, yakni:
1.       Utamakan Hal-Hal Yang mulia
Agar pelayanannya berhasil, Timotius diminta untuk tidak mengejar nafsu orang muda (ayat 22), tetapi menyalurkan energi dan waktunya untuk hal-hal yang lebih berguna. Timotius adalah seorang Pelayan yang masih berusia muda. Orang muda biasanya lebih tidak sabar, rapuh, mudah goyah dan gampang tergoda. Itu semua disebut Paulus sebagai nafsu orang muda dan hal itulah yang harus dihindari Timotius. Bagaimana caranya? Timotius dimintakan untuk memikirkan, menginginkan dan melakukan hal-hal yang lebih tinggi dan mulia dari pada ”nafsu orang muda” tersebut.

Yang dimaksud Paulus adalah, sebagai seorang hamba Tuhan, Timotius justru harus lebih mengutamakan keadilan, kesetiaan, kasih dan damai ketika hidup dalam kebersamaan persekutuan dan jemaat. Nampaknya saat surat ini ditulis, Timotius sedang menghadapi orang-orang yang menghambatnya dan sengaja mengacaukan pelayanannya.

2.       Berani Tampil Beda
Biasanya pertengkaran hanya mungkin terjadi jika melibatkan minimal dua orang atau dua kelompok. Pertengkaran muncul akibat hadirnya aksi yang berlebihan yang dibarengi dengan reaksi yang tidak kalah berlebihan pula. Hal inilah yang dimaksud Paulus dalam ayat 23-24 bacaan kita. Adalah lebih bijak menurut Paulus untuk menghindari pertengkaran dari pada berusaha masuk dan terjun dalam arena pertengkaran tersebut.

Timotius dimintakan untuk berani tampil beda dan lebih banyak untuk mengalah. Sebab seorang hamba Tuhan sangat disayangkan jika terlibat dalam pertengkaran dan menghamburkan emosi yang sia-sia itu. Kunci untuk terhindar dari pertengkaran adalah dengan berusaha tetap ramah kepada siapaun termasuk orang yang memusuhinya; dan sabar menghadapi setiap cercaan tersebut.

3.       Membunuh Musuh dengan menjadikannya seorang Saudara
Hal inilah yang ditekankan Paulus kepada Timotius dalam ayat 25-26 ketika ia menghadapi banyak penentang dalam pelayanannya. Daripada menciptakan musuh, Paulus mengajak untuk mengeyahkan musuh-musuh Timotius dengan cara menyadarkan mereka dan menggiring mereka kepada kebenaran sehingga dapat mengubah mereka menjadi sahabat dan saudara dalam iman pada Yesus Kristus.

Bagaimana caranya? Timotius harus memiliki kecakapan mengajar yang mumpuni dan strategi jitu untuk menuntun seorang yang suka melawan dan mencari-cari persoalan itu ke arah pengenalan akan Allah. Timotius harus memberikan kesempatan tiap pribadi untuk bertobat dan mengalami pemulihan iman dan kesembuhan rohani dengan cara memimpin mereka agar sadar dari jalan yang salah itu.  

Aplikasi dan Relevansi
Merawat kuku gajah bukanlah kemewahan, melainkan lebih pada keharusan. Menurut artikel dalam The Kansas City Star, jika kaki gajah-gajah yang ditangkap tidak dirawat secara teratur, mereka akan cenderung terkena infeksi yang dapat berakibat fatal. Akan tetapi, menggunting kuku kaki binatang yang bobotnya bisa mencapai 6 ton itu merupakan pekerjaan berbahaya. Jadi, ada orang yang memunculkan sebuah ide. Ia mengembangkan alat bernama “sirip untuk gajah” yang dapat mempermudah para pawang dalam menenangkan seekor gajah dengan mengaktifkan alat itu di samping gajah. Alat itu tingginya 3,6 meter, beratnya lebih dari 15 ton, dan harganya kurang lebih 900 juta rupiah. Beberapa kebun binatang telah membeli alat yang sangat membantu ini. Kegiatan ini disebut dengan strategi menghadapi masalah dengan resiko yang kecil.

Memerhatikan orang lain juga bisa berisiko. Paulus menjelaskan bahwa menolong orang yang telah menyimpang dari jalan kebenaran juga bisa mengandung bahaya. Namun, Paulus tak menawarkan alat canggih untuk menolong orang-orang yang membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain (2 Timotius 2:23,25). Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ketika kita harus memerhatikan pikiran dan perasaan orang lain, kita tak dapat bergantung pada kecerdikan dan otot manusia. Yang sangat kita perlukan adalah hikmat Allah. Pelayan Tuhan tak boleh memicu pertengkaran atau menjadi sombong. Sebaliknya, ia harus lemah lembut dan sabar (ayat 24).

Memadukan kebenaran dan kasih karunia saat menghadapi bahaya, jauh lebih baik daripada sikap melindungi diri sendiri. Sikap ini menggambarkan hati Pribadi yang ingin kita perkenalkan kepada orang-orang yang menyimpang itu

Sekarang coba kita terapkan nasihat ini bagi kita secara pribadi. Adakah kita masih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna; seperti bertengkar, menggosip, menjelekkan orang lain, dan sebagainya? Waktu yang ada begitu singkat dan tak akan terulang, jadi sudah seharusnya kita menggunakan waktu untuk melakukan hal-hal dan aktivitas yang menyenangkan hati Tuhan. Apalagi Tuhan memberi kita tugas untuk mengajar dan menuntun orang lain (ayat 24,25). Jangan buang waktu lagi, hiduplah efektif bagi Allah! Amin.


GUNAKAN SIKAP BIJAK DAN penuh kasih

SAAT MENYADARKAN KEMBALI ORANG YANG TERSESAT

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...