KISAH RASUL 13:13-31
Ibu-ibu kekasih Kristus…
Setiap orang perlu untuk jeli memanfaatkan peluang atau kesempatan. Kesempatan perlu dimanfaatkan karena hal itu tidak akan terulang lagi kesempatan yang sama dalam hidup kita.
Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh Paulus ketika mereka tiba di daerah Antiokhia di Pisidia dalam rangka memberitakan injil. Dalam ayat 15 bacaan kita disebutkan bahwa ketika pejabat rumah ibadat selesai membaca bagian Hukum Taurat dalam ibadah Sabat itu, maka mereka memberikan waktu kepada para umat, siapa yang ingin berbicara untuk membagikan kata-kata yang membangun dan menghibur umat. Kondisi ini dilihat sebagai peluang bagi Paulus. Kondisi ini dilihat Paulus dan dianggapnya sebagai kesempatan untuk memberitakan Injil kepada orang banyak tersebut.
Ibu-ibu kekasih Kristus…
Apa reaksi Paulus ketika Ia melihat kesempatan itu? Dalam ayat 16 disebutkan: “Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata: ‘Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah!” Paulus sangat peka dan jeli untuk melihat peluang dan kesempatan dalam beritakan Injil Tuhan. Ketika melihat peluang, maka ia segera memanfaatkan kesempatan tersebut. Perhatikan reakasi Paulus dalam bacaan kita: “Maka bangkitlah Paulus”. Ketika peluang itu datang, Paulus langsung bereaksi. Ia segera bangkit berdiri dan memulai berbicara kepada orang banyak. Paulus tidak ingin membiarkan kesempatan itu lewat. Ia tidak membuat alasan apapun untuk menghindar dari peluang memberitakan Injil. Sekali ada kesempatan ia langsung meraihnya untuk bersaksi bagi Tuhan.
Ibu-ibu kekasih Kristus…
Bagaimana cara Paulus memanfaatkan peluang tersebut. Perhatikan ayat 17-31 bacaan kita! Jika kita membaca uraian panjang kesaksian Paulus, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Paulus tidak setengah-setengah memanfaatkan peluang untuk berbicara di rumah ibadat tersebut. Dari uraian ynag panjang lebar tersebut, bahkan hingga ayat 14 kita dapat menyimpulkan bahwa Paulus bersaksi sangat terperinci, dengan detail yang jelas dan tidak ada yang terlewatkan. Ia memulai dari sejarah Israel dibentuk, kemudian hingga mereka dibudak di Mesir sampai kemudian pembebasan mereka dan kembali ke tanah Kanaan. Sejarah Israel dengan pemerintahan para Raja mereka diuraikan dengan begitu jelas oleh Paulus, hingga pada Tokoh Yohanes dan akhirnya munculnya mesias yakni Tuhan Yesus.
Hal ini menandakan bahwa Paulus sangat menguasai bahan kesaksiannya. Ini menunjukkan bahwa Paulus siap-sedia dalam bersaksi. Ini menunjukkan pula bahwa sebelum bersaksi, Paulus melakukan persiapan yang matang terlebih dahulu sehingga kesaksiannya menjadi sempurna dan sangat jelas dimengerti oleh umat. Dengan demikian, ada beberapa hal penting agar dapat sukses untuk memberitakan Injil, yakni:
1. Jeli melihat peluang
2. Tidak ragu memanfaatkan peluang
3. Menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya
4. Menyampaikan dengan rici, jelas dan sempurna.
Inilah konsep cara bersaksi dan memberitakan injil, yang nampak jelas dalam bacaan kita yang dilakukan oleh Paulus dan Barnabas.
Ibu-ibu kekasih Kristus…
Dari beberapa uraian di atas ada pokok-pokok penting yang dapat kita bahwa pulang sebagai orang percaya, yakni:
1. Jelilah melihat peluang untuk bersaksi
Seorang Pendeta yang sedang berkeliling mengunjungi jemaat, mampir di rumah salah satu keluarga. Ia terkesan oleh kepandaian dan sikap ramah sekali dari seorang anak kecil, anak laki-laki satu-satunya dalam rumah itu yang berusia empat tahun. Kemudian ia menemukan satu alasan mengapa anak itu bersikap ramah dan sopan. Ibunya berada di belakang, sedang mencuci pakaian yang cukup banyak dan kelihatan amat melelahkan. Di saat bersamaan anak itu datang kepadanya dengan membawa sebuah majalah, sambil berkata: “Mama, mama..., apa yang sedang dilakukan pria dalam foto ini?” Alangkah kagumnya Pendeta itu ketika melihat ibu anak itu segera mengeringkan tangannya, meninggalkan cuciannya, duduk dikursi, memangku anak itu, dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit menjawab beberapa pertanyaan putranya. Setelah anak itu pergi, Pendeta mengomentari perlakuan dan sikapnya yang istimewa untuk menjawab pertanyaan putranya itu, dan mengatakan kepada wanita itu: “Kebanyakan kaum ibu tidak akan mau diganggu”. Ibu itu menjawab: “Saya masih dapat mencuci pakaian ini selama sisa hidup saya, tetapi tidak akan pernah lagi putra saya menanyakan pertanyaan yang sama seperti tadi”. Dan ia melanjutkan lagi: “Mungkin dengan hal sederhana ini, putraku akan semakin mengerti bahwa kami sangat mencintainya.” Pendeta itu menganguguk setuju, sambil menimpali: “dan bukankah itu adalah bentuk pelayanan dalam keluarga?”
Kita harus jeli melihat peluang, bukan sebaliknya mengganggap peluang untuk memberitakan Firman itu sebagai suatu gangguan. Cerita di atas memang bukan kisah nyata, hanya suatu ilustrasi. Namun itu suatu cermin bagi kita dalam melaksnakan Firman Tuhan hari ini. Sebagaimana Paulus sangat jeli melihat peluang itu, demikian ibu tersebut tahu bahwa moment seperti itu hanya datang sekali seumur hidup. Kita dapat mulai melihat peluang untuk mengajarkan Firman Tuhan, melalui keluarga terlebih dahulu. Memberi waktu lewat mengajarkan hal-hal penting kepada anak-anak adalah hal yang sederhana dapat kita lakukan. Supaya mereka-pun dapat mengenal Tuhan Yesus dengan cara sederhana dan justru itu dimulai di dalam rumah.
2. Manfaatkan Peluang untuk Bersaksi.
Sebagaimana Paulus dengan cepat, berekasi dengan cepat memanfaatkan peluang untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus, maka demikian juga dengan kita. Paulus harusnya memberikan inspirasi bahwa dalam segala keadaan dan tempat kita dapat bersaksi. Di Antiokhia peluang itu dimanfaatkan Paulus. Kita juga pasti memiliki berbagai Antiokhia baru sebagai tempat dan peluang kita berkesempatan untuk bersaksi. Entah di rumah untk anggota rumah, dikantor untuk sesama karyawan ataupun di sekolah.
3. Perlu menyiapkan diri dulu sebelum bersaksi.
Perhatikan uraian Paulus tentang kesaksiannya itu. Sangat detail dan spesifik. Paulus menguasai benar bahan pembicaraannya dan menyiapkan dengan baik. Mustahil akan begitu bagus yang diucapkan Paulus ini jika ia sendiri tidak menguasainya. Dan tidaklah mungkin menguasai bahan kesaksian tersebut jika ia sendiri tidak mengalaminya dan kemudiaan menyiapkannya.
Bukankah kita juga telah mengalami Tuhan Yesus dan kemurahan Kasihnya itu, sebagaimana Paulus mengalami-Nya di Damsyik? Perbedaannya adalah Paulus pasti menyiapkan semuanya dengan baik. Kita sudah memiliki bahan kesaksian sendiri tentang Tuhan Yesus menurut pengalaman iman masing-masing, sekarang kita perlu menyiapkannya agar menjadi bahan kesaksian kita bagi orang lain. Inilah wujud dari keinginan kita untuk bersedia bersaksi bagi kemuliaan Tuhan.
Marilah menjadi saksi Kristus. Mulailah di rumah kita masing-masing. Tidak harus yang besar dan muluk. Apapun yang kita alami tentang Kasih Tuhan, kita bagikan kepada mereka itu adalah juga suatu kesaksian iman. Selamat bersaksi. Amin.
Bagaikan perjalanan kita membutuhkan tuntunan yang tepat mencapai tujuan. Tahukah saudara bahwa, Firman Tuhan adalah tuntunan perjalanan itu? Blog ini berisi beberapa renungan berdasarkan Firman Tuhan. Salam Kasih, Pendeta. I NYOMAN DJEPUN, M.Th
Monday, June 13, 2011
Tuesday, June 7, 2011
MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 8 JUNI 2011
MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 8 JUNI 2011
IBRANI 8:1-13
JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Sebagaimana kita tahu bersama, Surat Ibrani ini ditulis bagi orang Kristen Yahudi yang sangat menjunjung tinggi tradisi dan nenek moyang mereka. Tradisi yang dimaksud adalah hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan2 dan pengajaran iman yang tertulis dalam Taurat atau Perjanjian Lama. Bacaan kita saat ini merupakan puncak pengajaran yang ada dalam pasal 1-7 dari surat Ibrani ini tentang siapakah Yesus dan keunggulan-Nya dengan para pelaksana Perjanjian Lama dan kedudukan-Nya yang lebih tinggi dari Perjanjian itu. Ada 3 hal penting dari bacaan kita yang menguraikan tentang Kedudukan Yesus, dan jenis Perjanjian lain selain dalam taurat, yang oleh penulis Ibrani disebut Perjanjian Baru. Tiga hal pokok tersebut adalah sbb:
1.Perjanjian baru ini dilayani oleh Imam Besar yang lebih baik. (ayat 1)
Di ayat pertama ini penulis ingin menyimpulkan kepada pembacanya bahwa Yesuslah yang lebih unggul dan lebih agung dari semuanya termasuk dari para Imam di masa Bait Allah. Dengan kata lain penulis ingin menarik pembaca kepada suatu kebenaran yang paling penting, khususnya bagi pembaca Yahudi, keunggulan-keunggulan Yesus Kristus yang sudah ia bicarakan mulai dari pasal 1 sampai 7, yaitu: Dia adalah anak Allah, pencipta, lebih tinggi dari malaikat-malaikat (1:1-14); Dia adalah Allah yang menjadi manusia, memberi keselamatan (2:10); Imam Besar yang mendamaikan dosa seluruh bangsa (2:17); KemuliaanNya lebih besar daripada Musa (3:3); Yesus Kristus adalah Imam Besar menurut peraturan Melkisedek. (4-5); Maksudnya Yesus adalah Imam Besar untuk selama-lamanya, tanpa awal dan tanpa akhir (7:1-3); Imam Besar yang dikukuhkan dengan sumpah Allah (7:21); Imam besar yang menyelamatkan orang dengan sempurna dengan kualitas moral yang tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan sempurna untuk selama-lamanya (7:22-28)
Dengan menuliskan hal-hal itu mulai pasal 1-7, maka orang Kristen Yahudi diyakinkan oleh Penulis Kitab Ibrani ini bahwa tidak ada lagi Imam Besar sepanjang zaman yang dapat menandingi dan mengungguli kemuliaan dan kesempurnaan Imam Besar yang Agung itu yakni Tuhan Yesus Kristus
2.Perjanjian Baru lebih baik karena dilayani di tempat yang lebih baik (ayat 2-5).
Bapak, Ibu, dan Saudara yang dikasihi Tuhan, setelah berbicara tentang kedudukanNya yang tinggi sebagai Imam Besar, penulis Ibrani melanjutkan dengan tempat Tuhan Yesus sebagai Imam Besar melaksanakan fungsi keimamatan-Nya, yang juga lebih tinggi dan lebih agung dari Bait Allah di Israel pada zaman itu.
Tempat pelayanan Imam Besar itu, bagi tradisi Yahudi, memang merupakan hal yang penting, sebab mereka sangat menghargai hukum Taurat dan tradisi nenek moyang mereka. Sejak zaman PL ketika orang Israel keluar dari Mesir, di padang gurun, Allah telah memberi petunjuk kepada Musa untuk mendirikan kemah suci tempat menyimpan Tabut suci sebagai lambang kehadiran Tuhan (Kel 25-26). Dan para imam melakukan tugas mereka di dalam kemah suci. Tabut Allah ini selalu berpindah-pindah. Pada zaman Hakim-hakim ada di Gilgal lalu pindah ke Betel kemudian ke Silo. Maka tempat pelayanan para imam juga berpindah-pindah. Sampai pada zaman Salomo Tabut ini dipindahkan ke dalam Bait Allah yang didirikan Salomo.
Sejak itu para imam melayani di bait suci di Yerusalem (1Raja 6-8). Kemudian Babel menyerang Yerusalem dan menghancurkan Bait Suci (587 SM) ada sebagian imam yang ditawan dan ada yang tersebar (2 Raja 25:3-21). Setelah lewat 70 tahun Allah membangkitkan Nehemia dan Ezra untuk membangun kembali kota suci dan Bait Suci untuk mengembalikan tugas imam di dalam Bait Suci (Ezra 1-3, 5-6, Neh 12-13). Tabut Allah waktu itu sudah tidak ada, mungkin sudah hilang pada waktu diserang Babel. Sampai pada zaman Tuhan Yesus kita tahu bahwa karena perbuatan jahat para imam dan pemimpin agama maka Bait Suci dijadikan sebagai tempat jual beli (Yoh 12:19; Mat 21:12-13), maka Tuhan Yesus menjadi marah dan bernubuat bahwa Bait Suci itu akan diruntuhkan (Mat 24:1-2). Nubuat ini digenapi pada tahun 70 AD, ketika tentara Roma menyerang dan menghancurkan Yerusalem.
Dengan demikian tempat pelayanan imam di bumi bisa berubah-ubah, bisa dihancurkan, dan Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Imam Besar yang sempurna memang terlalu agung untuk menempati Bait Suci yang ada di bumi. Imam Besar yang begitu agung memang layak untuk melayani di tempat yang lebih baik. Dan di sana Ia “duduk di sebelah kanan tahta yang Maha Besar.” Di dalam Wahyu 5:13b kita dapat melihat jelas akan kemuliaan, hormat dan kuasa dari Tuhan Yesus yang berada di atas tahta itu. Maka Yesus Kristus yang duduk di atas tahta menyatakan bahwa Dia dengan Allah adalah sama berkuasa, sama mulia, sama menghakimi, sama memerintah dan seterusnya. Namun dengan tahtaNya, kehormatanNya, kebesaranNya yang begitu agung dan mulia dikatakan bahwa Ia melayani. Yesus tidak pernah memandang kebesaranNya sebagai sesuatu yang harus dinikmati sendiri, namun justru di dalam kemuliaan sekalipun Ia tetap melayani.
3.Perjanjian Baru lebih baik karena didasarkan pada janji-janji yang lebih baik (ayat 6-7).
Saudara yang kekasih, Istilah/Kata ’Perjanjian’ dalam bahasa Yunani pada surat Ibrani ini menggunakan kata diatheke, yang berarti suatu wasiat atau warisan. Inilah inisiatif Allah. Maksudnya adalah bahwa Allah yang memberikan PerjanjianNya tanpa persetujuan dari pihak manusia. Manusia hanya dapat menerima atau menolak perjanjian tersebut. Jadi ini sama dengan suatu warisan saja tentunya. Suatu perjanjian untuk hubungan baru agar kita dapat berdamai dengan Tuhan yang semata-mata adalah inisiatif dan anugerah dari Allah saja.
Mengapa PB diberikan? Dari ayat 7 kita dapat mengetahui bahwa perjanjian yang pertama itu bercacat, sehingga diberikan lagi perjanjian yang kedua yaitu perjanjian baru. Di mana cacatnya? Ayat 8 mengatakan bahwa Ia menegor orang Israel karena mereka tidak setia pada perjanjian Tuhan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perjanjian yang pertama gagal disebabkan oleh kegagalan orang-orang Israel yang tidak setia pada janji yang diberikan kepada mereka ketika mereka keluar dari Mesir. Mereka yang diberikan hukum Taurat dan seharusnya setia pada Tuhan gagal dan terus jatuh dalam penyembahan berhala.
JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Kata atau istilah ”baru” yang menunjuk Perjanjian Baru dalam ayat 8 adalah Kainos yang artinya baru dari sudut waktu dan juga kualitasnya. Perjanjian ini berbeda kualitasnya dengan PL. Kainos berarti apa yang tidak ada dahulu kini ada, belum pernah dipakai, masih segar, belum pernah didengar, tidak seperti biasanya. Oleh sebab itu PB ini berbeda dengan PL. Lalu apakah yang baru dari perjanjian ini? Melalui perjanjian baru ini, Tuhan menaruh Hukumnya ke dalam akal budi dan hati umatNya (ayat 10). Tuhan bekerja dalam hati manusia melalui Roh Kudus yang memperbaharui hidup orang percaya sehingga senantiasa melakukan hukum Tuhan, kehendak Tuhan. Sedangkan dalam perjanjian lama hukum Taurat diberikan di luar manusia. Hukum itu baik, tetapi hati manusia tidak, hati manusia selalui ingin memberontak. Melalui perjanjian baru ini juga setiap orang percaya, besar dan kecil akan mengenal Tuhan (ayat.11) artinya perjanjian ini berlaku secara menyeluruh bukan hanya satu bangsa. Melalui perjanjian baru ini setiap orang percaya menerima pengampunan dosa (ayat .12). Ini semua sama sekali baru dan tidak ada di dalam perjanjian lama.
JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Dari uraian Firman Tuhan ini, ada beberapa hal penting yang dapat kita bawa dalam hidup beriman kita:
1.Tuhan Yesuslah satu-satunya Juruselamat yang dijanjikan kepada umat-Nya itu. Oleh sebab itu kita tidak perlu ragu lagi akan Yesus Kristus yang menjadi perantara, pendamai, dan Juruselamat satu-satunya. Biarlah dengan kebenaran yang sangat agung dari surat Ibrani ini iman kepercayaan kepada Yesus Kristus Juruselamat dan Juru damai satu-satunya itu semakin diteguhkan.
2.Tuhan Yesus mempunyai tahta yang paling tinggi, namun Alkitab mencatat bahwa ia melayani di tempat yang tertinggi itu. Bagaimana dengan kita, sudahkah kita melayani Tuhan dengan baik. Apakah selama ini kita lebih mengharapkan untuk dilayani atau untuk melayani? Ada yang berkata selain melayani bukankah kita juga mesti dilayani? Memang kita harus saling melayani, tetapi bukan berarti selalu menuntut untuk diperhatikan terus dan dilayani terus, malah sebaliknya kita harus memikirkan bagaimana untuk dapat melayani dengan lebih baik lagi. Tuhan Yesus sudah memberi teladan yang indah, di tempat yang sempurna, dengan kedudukan yang agung, Ia justru tetap melayani.
3.Kehadiran Tuhan Yesus, membawa sutu Perjanjian yang baru antara kita dengan Bapa di Sorga. Dengan demikian betapa bahagianya kita yang menerima perjanjian baru ini. Tuhan melalui Roh Kudus hadir di dalam hati kita, kita menerima pengampunan dosa, kita yang bukan bangsa terpilih tapi kini menjadi umat pilihan yang mengenal Tuhan yang sesungguhnya, kita dapat berhubungan langsung dengan Bapa di Sorga melalui Yesus Kristus, betapa baiknya dan luarbiasanya Perjanjian Baru ini. Itulah sebabnya penulis kitab Ibrani menutup perikop ini dengan mengatakan bahwa karena ada yang baru itu maka yang lama itu menjadi tua dan usang, dekat kepada kemusnahannya. Dan yang baru itu yang lebih baik.
Karena itu kita harus bersyukur lewat bertekad untuk melakukan yang lebih baik kepada Tuhan, sebagaimana Tuhan telah melakukan yang paling baik untu kita. Tetaplah mengerjakan keselamatan yang sudah Tuhan anugeahkan bagi kita. Jadikan Tuhan Yesus sebagai Imam Besar yang memimpin hidup rohani kita, dan juga sebagai Pengantara kepada Bapa, agar kita tetap menjadi anak-anak Allah yang diberkati. Amin.
saduran dari:
www.sumberkristen.com
IBRANI 8:1-13
JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Sebagaimana kita tahu bersama, Surat Ibrani ini ditulis bagi orang Kristen Yahudi yang sangat menjunjung tinggi tradisi dan nenek moyang mereka. Tradisi yang dimaksud adalah hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan2 dan pengajaran iman yang tertulis dalam Taurat atau Perjanjian Lama. Bacaan kita saat ini merupakan puncak pengajaran yang ada dalam pasal 1-7 dari surat Ibrani ini tentang siapakah Yesus dan keunggulan-Nya dengan para pelaksana Perjanjian Lama dan kedudukan-Nya yang lebih tinggi dari Perjanjian itu. Ada 3 hal penting dari bacaan kita yang menguraikan tentang Kedudukan Yesus, dan jenis Perjanjian lain selain dalam taurat, yang oleh penulis Ibrani disebut Perjanjian Baru. Tiga hal pokok tersebut adalah sbb:
1.Perjanjian baru ini dilayani oleh Imam Besar yang lebih baik. (ayat 1)
Di ayat pertama ini penulis ingin menyimpulkan kepada pembacanya bahwa Yesuslah yang lebih unggul dan lebih agung dari semuanya termasuk dari para Imam di masa Bait Allah. Dengan kata lain penulis ingin menarik pembaca kepada suatu kebenaran yang paling penting, khususnya bagi pembaca Yahudi, keunggulan-keunggulan Yesus Kristus yang sudah ia bicarakan mulai dari pasal 1 sampai 7, yaitu: Dia adalah anak Allah, pencipta, lebih tinggi dari malaikat-malaikat (1:1-14); Dia adalah Allah yang menjadi manusia, memberi keselamatan (2:10); Imam Besar yang mendamaikan dosa seluruh bangsa (2:17); KemuliaanNya lebih besar daripada Musa (3:3); Yesus Kristus adalah Imam Besar menurut peraturan Melkisedek. (4-5); Maksudnya Yesus adalah Imam Besar untuk selama-lamanya, tanpa awal dan tanpa akhir (7:1-3); Imam Besar yang dikukuhkan dengan sumpah Allah (7:21); Imam besar yang menyelamatkan orang dengan sempurna dengan kualitas moral yang tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan sempurna untuk selama-lamanya (7:22-28)
Dengan menuliskan hal-hal itu mulai pasal 1-7, maka orang Kristen Yahudi diyakinkan oleh Penulis Kitab Ibrani ini bahwa tidak ada lagi Imam Besar sepanjang zaman yang dapat menandingi dan mengungguli kemuliaan dan kesempurnaan Imam Besar yang Agung itu yakni Tuhan Yesus Kristus
2.Perjanjian Baru lebih baik karena dilayani di tempat yang lebih baik (ayat 2-5).
Bapak, Ibu, dan Saudara yang dikasihi Tuhan, setelah berbicara tentang kedudukanNya yang tinggi sebagai Imam Besar, penulis Ibrani melanjutkan dengan tempat Tuhan Yesus sebagai Imam Besar melaksanakan fungsi keimamatan-Nya, yang juga lebih tinggi dan lebih agung dari Bait Allah di Israel pada zaman itu.
Tempat pelayanan Imam Besar itu, bagi tradisi Yahudi, memang merupakan hal yang penting, sebab mereka sangat menghargai hukum Taurat dan tradisi nenek moyang mereka. Sejak zaman PL ketika orang Israel keluar dari Mesir, di padang gurun, Allah telah memberi petunjuk kepada Musa untuk mendirikan kemah suci tempat menyimpan Tabut suci sebagai lambang kehadiran Tuhan (Kel 25-26). Dan para imam melakukan tugas mereka di dalam kemah suci. Tabut Allah ini selalu berpindah-pindah. Pada zaman Hakim-hakim ada di Gilgal lalu pindah ke Betel kemudian ke Silo. Maka tempat pelayanan para imam juga berpindah-pindah. Sampai pada zaman Salomo Tabut ini dipindahkan ke dalam Bait Allah yang didirikan Salomo.
Sejak itu para imam melayani di bait suci di Yerusalem (1Raja 6-8). Kemudian Babel menyerang Yerusalem dan menghancurkan Bait Suci (587 SM) ada sebagian imam yang ditawan dan ada yang tersebar (2 Raja 25:3-21). Setelah lewat 70 tahun Allah membangkitkan Nehemia dan Ezra untuk membangun kembali kota suci dan Bait Suci untuk mengembalikan tugas imam di dalam Bait Suci (Ezra 1-3, 5-6, Neh 12-13). Tabut Allah waktu itu sudah tidak ada, mungkin sudah hilang pada waktu diserang Babel. Sampai pada zaman Tuhan Yesus kita tahu bahwa karena perbuatan jahat para imam dan pemimpin agama maka Bait Suci dijadikan sebagai tempat jual beli (Yoh 12:19; Mat 21:12-13), maka Tuhan Yesus menjadi marah dan bernubuat bahwa Bait Suci itu akan diruntuhkan (Mat 24:1-2). Nubuat ini digenapi pada tahun 70 AD, ketika tentara Roma menyerang dan menghancurkan Yerusalem.
Dengan demikian tempat pelayanan imam di bumi bisa berubah-ubah, bisa dihancurkan, dan Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Imam Besar yang sempurna memang terlalu agung untuk menempati Bait Suci yang ada di bumi. Imam Besar yang begitu agung memang layak untuk melayani di tempat yang lebih baik. Dan di sana Ia “duduk di sebelah kanan tahta yang Maha Besar.” Di dalam Wahyu 5:13b kita dapat melihat jelas akan kemuliaan, hormat dan kuasa dari Tuhan Yesus yang berada di atas tahta itu. Maka Yesus Kristus yang duduk di atas tahta menyatakan bahwa Dia dengan Allah adalah sama berkuasa, sama mulia, sama menghakimi, sama memerintah dan seterusnya. Namun dengan tahtaNya, kehormatanNya, kebesaranNya yang begitu agung dan mulia dikatakan bahwa Ia melayani. Yesus tidak pernah memandang kebesaranNya sebagai sesuatu yang harus dinikmati sendiri, namun justru di dalam kemuliaan sekalipun Ia tetap melayani.
3.Perjanjian Baru lebih baik karena didasarkan pada janji-janji yang lebih baik (ayat 6-7).
Saudara yang kekasih, Istilah/Kata ’Perjanjian’ dalam bahasa Yunani pada surat Ibrani ini menggunakan kata diatheke, yang berarti suatu wasiat atau warisan. Inilah inisiatif Allah. Maksudnya adalah bahwa Allah yang memberikan PerjanjianNya tanpa persetujuan dari pihak manusia. Manusia hanya dapat menerima atau menolak perjanjian tersebut. Jadi ini sama dengan suatu warisan saja tentunya. Suatu perjanjian untuk hubungan baru agar kita dapat berdamai dengan Tuhan yang semata-mata adalah inisiatif dan anugerah dari Allah saja.
Mengapa PB diberikan? Dari ayat 7 kita dapat mengetahui bahwa perjanjian yang pertama itu bercacat, sehingga diberikan lagi perjanjian yang kedua yaitu perjanjian baru. Di mana cacatnya? Ayat 8 mengatakan bahwa Ia menegor orang Israel karena mereka tidak setia pada perjanjian Tuhan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perjanjian yang pertama gagal disebabkan oleh kegagalan orang-orang Israel yang tidak setia pada janji yang diberikan kepada mereka ketika mereka keluar dari Mesir. Mereka yang diberikan hukum Taurat dan seharusnya setia pada Tuhan gagal dan terus jatuh dalam penyembahan berhala.
JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Kata atau istilah ”baru” yang menunjuk Perjanjian Baru dalam ayat 8 adalah Kainos yang artinya baru dari sudut waktu dan juga kualitasnya. Perjanjian ini berbeda kualitasnya dengan PL. Kainos berarti apa yang tidak ada dahulu kini ada, belum pernah dipakai, masih segar, belum pernah didengar, tidak seperti biasanya. Oleh sebab itu PB ini berbeda dengan PL. Lalu apakah yang baru dari perjanjian ini? Melalui perjanjian baru ini, Tuhan menaruh Hukumnya ke dalam akal budi dan hati umatNya (ayat 10). Tuhan bekerja dalam hati manusia melalui Roh Kudus yang memperbaharui hidup orang percaya sehingga senantiasa melakukan hukum Tuhan, kehendak Tuhan. Sedangkan dalam perjanjian lama hukum Taurat diberikan di luar manusia. Hukum itu baik, tetapi hati manusia tidak, hati manusia selalui ingin memberontak. Melalui perjanjian baru ini juga setiap orang percaya, besar dan kecil akan mengenal Tuhan (ayat.11) artinya perjanjian ini berlaku secara menyeluruh bukan hanya satu bangsa. Melalui perjanjian baru ini setiap orang percaya menerima pengampunan dosa (ayat .12). Ini semua sama sekali baru dan tidak ada di dalam perjanjian lama.
JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Dari uraian Firman Tuhan ini, ada beberapa hal penting yang dapat kita bawa dalam hidup beriman kita:
1.Tuhan Yesuslah satu-satunya Juruselamat yang dijanjikan kepada umat-Nya itu. Oleh sebab itu kita tidak perlu ragu lagi akan Yesus Kristus yang menjadi perantara, pendamai, dan Juruselamat satu-satunya. Biarlah dengan kebenaran yang sangat agung dari surat Ibrani ini iman kepercayaan kepada Yesus Kristus Juruselamat dan Juru damai satu-satunya itu semakin diteguhkan.
2.Tuhan Yesus mempunyai tahta yang paling tinggi, namun Alkitab mencatat bahwa ia melayani di tempat yang tertinggi itu. Bagaimana dengan kita, sudahkah kita melayani Tuhan dengan baik. Apakah selama ini kita lebih mengharapkan untuk dilayani atau untuk melayani? Ada yang berkata selain melayani bukankah kita juga mesti dilayani? Memang kita harus saling melayani, tetapi bukan berarti selalu menuntut untuk diperhatikan terus dan dilayani terus, malah sebaliknya kita harus memikirkan bagaimana untuk dapat melayani dengan lebih baik lagi. Tuhan Yesus sudah memberi teladan yang indah, di tempat yang sempurna, dengan kedudukan yang agung, Ia justru tetap melayani.
3.Kehadiran Tuhan Yesus, membawa sutu Perjanjian yang baru antara kita dengan Bapa di Sorga. Dengan demikian betapa bahagianya kita yang menerima perjanjian baru ini. Tuhan melalui Roh Kudus hadir di dalam hati kita, kita menerima pengampunan dosa, kita yang bukan bangsa terpilih tapi kini menjadi umat pilihan yang mengenal Tuhan yang sesungguhnya, kita dapat berhubungan langsung dengan Bapa di Sorga melalui Yesus Kristus, betapa baiknya dan luarbiasanya Perjanjian Baru ini. Itulah sebabnya penulis kitab Ibrani menutup perikop ini dengan mengatakan bahwa karena ada yang baru itu maka yang lama itu menjadi tua dan usang, dekat kepada kemusnahannya. Dan yang baru itu yang lebih baik.
Karena itu kita harus bersyukur lewat bertekad untuk melakukan yang lebih baik kepada Tuhan, sebagaimana Tuhan telah melakukan yang paling baik untu kita. Tetaplah mengerjakan keselamatan yang sudah Tuhan anugeahkan bagi kita. Jadikan Tuhan Yesus sebagai Imam Besar yang memimpin hidup rohani kita, dan juga sebagai Pengantara kepada Bapa, agar kita tetap menjadi anak-anak Allah yang diberkati. Amin.
saduran dari:
www.sumberkristen.com
Sunday, June 5, 2011
MATERI KHOTBAH PKB 06 JUNI 2011
IBRANI 7:11-17
11 Karena itu, andaikata oleh imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan -- sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima Taurat -- apakah sebabnya masih perlu seorang lain ditetapkan menjadi imam besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang dia tidak dikatakan menurut peraturan Harun? 12 Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu.
13 Sebab Ia, yang dimaksudkan di sini, termasuk suku lain; dari suku ini tidak ada seorang pun yang pernah melayani di mezbah. 14 Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam. 15 Dan hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain menurut cara Melkisedek,
16 yang menjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa. 17 Sebab tentang Dia diberi kesaksian: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."
Persekutuan Kaum Bapak, yang dikasihi Tuhan.
Orang Kristen Ibrani atau orang keturunan Yahudi yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, dalam pembacaan kita merasa bingung tentang status Yesus yang diajarkan dalam dogma Kristen sebagai Imam yang menjadi Perantara kepada TUHAN, Allah mereka. Dalam ajaran Yahudi, orang Israel yang akan mempersembahkan korban kepada TUHAN, tidak bisa langsung ke Mezbah persembahan di Bait Allah. Mereka harus diwakili oleh seorang Imam Besar. Hanya Imam Besar-lah yang boleh masuk ke ruang Maha Kudus di Bait Allah. Karena itu, siapa-pun yang ingin bertemu dengan TUHAN (yang hadir lewat simbol Tabut Perjanjian di ruang Maha Kudus) tidak dapat menemui langsung, dan hanya bisa diwakili oleh Imam Besar, termasuk ketika mau mengaku dosa dan mepesembahkan korban penghapus dosa. Dalam hal membawa persembahan persepuluhan, orang Israel wajib mengantarnya kepada para imam yakni orang-orang yang berasal dari suku lewi.
Inilah yang kemudian menjadi persoalan Iman orang Kristen asal Yahudi tersebut. Bagaimana mungkin Yesus menjadi perantara (Imam Besar) kepada TUHAN, Allah mereka sementara Yesus tidak memenuhi syarat untuk menjadi Imam. Menurut Taurat, seorang Imam harus berasal dari suku Lewi, sementara Tuhan Yesus berasal dari suku Yehuda. Dengan demikian tidaklah mungkin ada suku Yehuda melayani Mezbah dan menjadi Imam, termasuk Yesus (bd. Ay.13-14). Pemahaman Taurat ini menjadi landasan kuat orang Krsiten Yahudi tentang ke-imaman itu.
Persekutuan Kaum Bapak, yang dikasihi Tuhan.
Penulis kitab Ibrani ini sangat setuju dan tidak membantah bahwa dari ukuran peraturan Taurat, Tuhahn Yesus tidak memenuhi syarat menjadi seorang Imam karena Dia bukan keturunan Harun dari Suku Lewi, melainkan dari turunan Daud suku Yehuda. Namun, menurut kitab Ibrani ini, penentuan ke-imaman Yesus tidak berdasarkan Taurat melainkan, dalam ayat 15 disebut menurut peraturan Melkisedek. Rupanya ada peraturan lain yang mengatur tentang ke-imaman, selain peraturan menurut Taurat. Peraturan itu adalah peraturan Melkisedek. Siapakah Melkisedek itu? Dan apa isi peraturannya?
MELKISEDEK, dari bah. Ibrani " מלכי־צדק " – (baca: Malki-Tsedeq), artinya "Sedek ialah raja (-ku)" atau, seperti dalam Ibrani 7:2, "raja kebenaran". Dia raja Salem (mungkin kota Yerusalem) dan imam "Allah yang Mahatinggi" " אל עליון " ; (baca: El Elyon), yang menyongsong Abram sekembalinya dari perang melawan Kedorlaomer dan sekutu-sekutunya. Melkisedek memberi Abram roti dan anggur, memberkati dia dalam Nama Allah Yang Mahatinggi, dan menerima dari Abram sepersepuluh rampasan dari tangan musuh (lih. Kej.14:17-20).
Jika kita memperhatikan Kejadian 14; Mazmur 110:4 dan tulisan di Ibrani 7 maka kita akan menemukan intisari dari “Peraturan Melkisedek”, YAKNI:
1. Bukan keturunan suku lewi
Melkisedek bukan bangsa Israel (meskipun kemungkinan besar ia orang "Sem" atau bangsa/ras "semitik"), karena Melkisedek sezaman dengan Abraham sedangkan suku lewi adalah bagian dari bangsa Israel dimana Israel adalah bangsa yang lahir dari keturunan cucu Abraham. Walau bukan dari suku lewi, Melkisedek disebut sebagai imam.
2. Keimaman-nya lebih tinggi dari keimaman Lewi
Unsur yang penting yang diungkapkan dalam Ibrani adalah kenyataan bahwa Melkisedek memberkati Abraham dan bahwa Abraham memberikan sepersepuluh dari barang-barang rampasan perang kepada Melkisedek. Maka kedua hal ini menunjukkan 'keunggulan' Melkisedek yang "memberkati" Abraham, moyangnya Israel. Karena Lewi dan semua imam keturunan Lewi adalah keturunan Abraham, dengan demikian posisi imam-imam Lewi ada dibawah Melkisedek (ayat 4-10).
3. Keimamannya bukan berdasarkan aturan Taurat tapi ditetapkan secara Ilahi.
Dalam Mazmur 110:4, seorang raja keturunan Daud ditetapkan dengan sumpah Allah menjadi "imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek".
Latar belakang penetapan ini terdapat dalam hal penaklukan Yerusalem oleh Daud kira-kira tahun 1000 sebelum Masehi, dan berdasarkan ini Daud dan keturunannya menjadi ahli waris atas jabatan imam-raja dari Melkisedek.
Berdasarkan peraturan Melkisedek ini, maka jelaslah Yesus Kristus berhak menjadi Imam dan memenuhi syarat keimaman dalam keagamaan Yahudi, yakni bukan berdasarkan peraturan Taurat namun berdasarkan peraturan Melkisedek. Sebagai seorang Imam Besar, Yesus lebih unggul dan lebih tinggi dari para imam manapun keturunan lewi. Bahkan lebih dari pada itu, Tuhan Yesus lebih sempurna menjalankan fungsi jabatan keimaman-Nya dibanding imam suku lewi. Sehingga sebagai Perantara kepada Bapa, Dia-lah pribadi yang tepat menjadi Juruselamat manusia.
Persekutuan Kaum Bapak, yang dikasihi Tuhan.
Mengapa Tuhan Yesus tepat menjadi Imam Agung yang Sempurna untuk menjadi perantara kita kepada Bapa? Perhatikan ayat 24-27 bacaan kita, yakni:
1. Sebab Ia hidup selama-lamanya (ay.24). Sehingga jabatan imam yang Ia pegang tidak perlu di serahkan pada yang lain. Ia telah mengalahkan kematian, sehingga maut dan kematian tidak mampu membatasiNya.
2. Karena Ia hidup selamanya, maka tugas keimamatan-Nya dapat dilakukan dengan sempurna (ay25). TUHAN YESUS tidak memerlukan domba untuk korban penghapus dosa, sebab Dia sendiri adalah Domba itu yang telah menjadi korban penghapus dosa manusia.
3. Ia adalah Pribadi yang tidak berdosa (ay.26-27). Karena itu Ia tidak perlu menanggalkan keimaman-Nya sementara waktu untuk pengampunan dosa-Nya sendiri. Ia tidak perna melakukan dosa, sehingga jabatan imam tetap ada padanya. Sama seperti, andai dokter tidak pernah sakit, maka ia tetap jadi dokter dan tidak pernah jadi pasien. Tapi, dokter pasti pernah sakit dan pasti juga pernah jadi pasien.
Berdasarkan firman Tuhan ini, maka ada beberapa hal penting yang perlu kita terapkan dalam hidup kita sehari-hari, yakni:
1. Sebagai seorang Imam, Yesus telah menjalankan dengan sempurna tugas ke-Imaman-Nya yakni menjadi pengatara kepada Bapa; mempersembahkan Korban pengampunan dosa bagi kita kepada Bapa; dan menjadikan diriNya merangkap Korban itu untuk kita. Bukankah itu adalah suatu anugerah yang luar biasa? Karena itu kita perlu bersyukur dan memuliakan Tuhan Yesus yang sudah bersedia menjadi imam bagi kita.
2. Wujud ungkapan syukur itu adalah dengan menjaga anugerah itu dalam kesetiaan kepadaNya. Jangan menyia-nyiakan pengorbanan Kristus, itu adalah cara terbaik untuk mensyukuri Karunia Keselamatan yang kita terima. Itu berarti adalah suatu kebodohan jika dikemudian hari, ada orang Kristen yang meninggalkan Tuhan Yesus, dan mencari jalan keselamatan yang lain. Mungkinkah ada jalan keselamatan yang lain? Jawabnya TIDAK ADA. Sebab Yoh.14:16 sudah menegaskan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup itu. Ingin mencari jalan keselamatan? Yesuslah jalan itu; ingin mencari kebenaran hidup? Yesuslah Kebenaran itu; ingin memperoleh Hidup kekal? Yesuslah hidup itu. Maka Tuhan Yesus harus menjadi pilihan yang tepat dalam hidup kita.
3. Sebagai kepala keluarga, kita juga mendapat tanggung-jawab untuk menjadi imam dalam keluarga. Fungsi ini sangat strategis dan penting. Sebagai imam, kita memiliki kewajiban rohani untuk menggiring keluarga dan semua anggota rumah tangga untuk tetap berada dalam anugerah keselamatan itu. Karena itu sebagai kepala keluarga dan orang tua kita wajib melaksanakan fungsi keimaman ini untuk menjadi alat Tuhan bagi damai sejahtera “Raja Salem” yang diberikan kepada keluarga kita. Sebagai imam, kita harus menjadi teladan. Karena itu pola hidup sebagai kepala keluarga, dan suami haruslah berpadanan dengan pola hidup yang sudah diteladankan Imam Besar kita, Tuhan Yesus Kristus. Jadilah kepala keluarga, imam dalam rumah tangga yang mampu menyampaikan perkataan penuh kasih dan membangun, rela berkorban bagi keluarga, memimpin dan mengarahkan keluarga dan setia kepada keluarga; sebagaimana Kristus sudah berkorban dan setia bagi umatNya.
Selamat menjadi imam dalam keluarga, masyarakat mapun pekerjaan, di manapun saudara berada lewat meneladani ke-imaman Tuhan Yesus Kristus. Amin.
11 Karena itu, andaikata oleh imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan -- sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima Taurat -- apakah sebabnya masih perlu seorang lain ditetapkan menjadi imam besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang dia tidak dikatakan menurut peraturan Harun? 12 Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu.
13 Sebab Ia, yang dimaksudkan di sini, termasuk suku lain; dari suku ini tidak ada seorang pun yang pernah melayani di mezbah. 14 Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam. 15 Dan hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain menurut cara Melkisedek,
16 yang menjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa. 17 Sebab tentang Dia diberi kesaksian: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."
Persekutuan Kaum Bapak, yang dikasihi Tuhan.
Orang Kristen Ibrani atau orang keturunan Yahudi yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, dalam pembacaan kita merasa bingung tentang status Yesus yang diajarkan dalam dogma Kristen sebagai Imam yang menjadi Perantara kepada TUHAN, Allah mereka. Dalam ajaran Yahudi, orang Israel yang akan mempersembahkan korban kepada TUHAN, tidak bisa langsung ke Mezbah persembahan di Bait Allah. Mereka harus diwakili oleh seorang Imam Besar. Hanya Imam Besar-lah yang boleh masuk ke ruang Maha Kudus di Bait Allah. Karena itu, siapa-pun yang ingin bertemu dengan TUHAN (yang hadir lewat simbol Tabut Perjanjian di ruang Maha Kudus) tidak dapat menemui langsung, dan hanya bisa diwakili oleh Imam Besar, termasuk ketika mau mengaku dosa dan mepesembahkan korban penghapus dosa. Dalam hal membawa persembahan persepuluhan, orang Israel wajib mengantarnya kepada para imam yakni orang-orang yang berasal dari suku lewi.
Inilah yang kemudian menjadi persoalan Iman orang Kristen asal Yahudi tersebut. Bagaimana mungkin Yesus menjadi perantara (Imam Besar) kepada TUHAN, Allah mereka sementara Yesus tidak memenuhi syarat untuk menjadi Imam. Menurut Taurat, seorang Imam harus berasal dari suku Lewi, sementara Tuhan Yesus berasal dari suku Yehuda. Dengan demikian tidaklah mungkin ada suku Yehuda melayani Mezbah dan menjadi Imam, termasuk Yesus (bd. Ay.13-14). Pemahaman Taurat ini menjadi landasan kuat orang Krsiten Yahudi tentang ke-imaman itu.
Persekutuan Kaum Bapak, yang dikasihi Tuhan.
Penulis kitab Ibrani ini sangat setuju dan tidak membantah bahwa dari ukuran peraturan Taurat, Tuhahn Yesus tidak memenuhi syarat menjadi seorang Imam karena Dia bukan keturunan Harun dari Suku Lewi, melainkan dari turunan Daud suku Yehuda. Namun, menurut kitab Ibrani ini, penentuan ke-imaman Yesus tidak berdasarkan Taurat melainkan, dalam ayat 15 disebut menurut peraturan Melkisedek. Rupanya ada peraturan lain yang mengatur tentang ke-imaman, selain peraturan menurut Taurat. Peraturan itu adalah peraturan Melkisedek. Siapakah Melkisedek itu? Dan apa isi peraturannya?
MELKISEDEK, dari bah. Ibrani " מלכי־צדק " – (baca: Malki-Tsedeq), artinya "Sedek ialah raja (-ku)" atau, seperti dalam Ibrani 7:2, "raja kebenaran". Dia raja Salem (mungkin kota Yerusalem) dan imam "Allah yang Mahatinggi" " אל עליון " ; (baca: El Elyon), yang menyongsong Abram sekembalinya dari perang melawan Kedorlaomer dan sekutu-sekutunya. Melkisedek memberi Abram roti dan anggur, memberkati dia dalam Nama Allah Yang Mahatinggi, dan menerima dari Abram sepersepuluh rampasan dari tangan musuh (lih. Kej.14:17-20).
Jika kita memperhatikan Kejadian 14; Mazmur 110:4 dan tulisan di Ibrani 7 maka kita akan menemukan intisari dari “Peraturan Melkisedek”, YAKNI:
1. Bukan keturunan suku lewi
Melkisedek bukan bangsa Israel (meskipun kemungkinan besar ia orang "Sem" atau bangsa/ras "semitik"), karena Melkisedek sezaman dengan Abraham sedangkan suku lewi adalah bagian dari bangsa Israel dimana Israel adalah bangsa yang lahir dari keturunan cucu Abraham. Walau bukan dari suku lewi, Melkisedek disebut sebagai imam.
2. Keimaman-nya lebih tinggi dari keimaman Lewi
Unsur yang penting yang diungkapkan dalam Ibrani adalah kenyataan bahwa Melkisedek memberkati Abraham dan bahwa Abraham memberikan sepersepuluh dari barang-barang rampasan perang kepada Melkisedek. Maka kedua hal ini menunjukkan 'keunggulan' Melkisedek yang "memberkati" Abraham, moyangnya Israel. Karena Lewi dan semua imam keturunan Lewi adalah keturunan Abraham, dengan demikian posisi imam-imam Lewi ada dibawah Melkisedek (ayat 4-10).
3. Keimamannya bukan berdasarkan aturan Taurat tapi ditetapkan secara Ilahi.
Dalam Mazmur 110:4, seorang raja keturunan Daud ditetapkan dengan sumpah Allah menjadi "imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek".
Latar belakang penetapan ini terdapat dalam hal penaklukan Yerusalem oleh Daud kira-kira tahun 1000 sebelum Masehi, dan berdasarkan ini Daud dan keturunannya menjadi ahli waris atas jabatan imam-raja dari Melkisedek.
Berdasarkan peraturan Melkisedek ini, maka jelaslah Yesus Kristus berhak menjadi Imam dan memenuhi syarat keimaman dalam keagamaan Yahudi, yakni bukan berdasarkan peraturan Taurat namun berdasarkan peraturan Melkisedek. Sebagai seorang Imam Besar, Yesus lebih unggul dan lebih tinggi dari para imam manapun keturunan lewi. Bahkan lebih dari pada itu, Tuhan Yesus lebih sempurna menjalankan fungsi jabatan keimaman-Nya dibanding imam suku lewi. Sehingga sebagai Perantara kepada Bapa, Dia-lah pribadi yang tepat menjadi Juruselamat manusia.
Persekutuan Kaum Bapak, yang dikasihi Tuhan.
Mengapa Tuhan Yesus tepat menjadi Imam Agung yang Sempurna untuk menjadi perantara kita kepada Bapa? Perhatikan ayat 24-27 bacaan kita, yakni:
1. Sebab Ia hidup selama-lamanya (ay.24). Sehingga jabatan imam yang Ia pegang tidak perlu di serahkan pada yang lain. Ia telah mengalahkan kematian, sehingga maut dan kematian tidak mampu membatasiNya.
2. Karena Ia hidup selamanya, maka tugas keimamatan-Nya dapat dilakukan dengan sempurna (ay25). TUHAN YESUS tidak memerlukan domba untuk korban penghapus dosa, sebab Dia sendiri adalah Domba itu yang telah menjadi korban penghapus dosa manusia.
3. Ia adalah Pribadi yang tidak berdosa (ay.26-27). Karena itu Ia tidak perlu menanggalkan keimaman-Nya sementara waktu untuk pengampunan dosa-Nya sendiri. Ia tidak perna melakukan dosa, sehingga jabatan imam tetap ada padanya. Sama seperti, andai dokter tidak pernah sakit, maka ia tetap jadi dokter dan tidak pernah jadi pasien. Tapi, dokter pasti pernah sakit dan pasti juga pernah jadi pasien.
Berdasarkan firman Tuhan ini, maka ada beberapa hal penting yang perlu kita terapkan dalam hidup kita sehari-hari, yakni:
1. Sebagai seorang Imam, Yesus telah menjalankan dengan sempurna tugas ke-Imaman-Nya yakni menjadi pengatara kepada Bapa; mempersembahkan Korban pengampunan dosa bagi kita kepada Bapa; dan menjadikan diriNya merangkap Korban itu untuk kita. Bukankah itu adalah suatu anugerah yang luar biasa? Karena itu kita perlu bersyukur dan memuliakan Tuhan Yesus yang sudah bersedia menjadi imam bagi kita.
2. Wujud ungkapan syukur itu adalah dengan menjaga anugerah itu dalam kesetiaan kepadaNya. Jangan menyia-nyiakan pengorbanan Kristus, itu adalah cara terbaik untuk mensyukuri Karunia Keselamatan yang kita terima. Itu berarti adalah suatu kebodohan jika dikemudian hari, ada orang Kristen yang meninggalkan Tuhan Yesus, dan mencari jalan keselamatan yang lain. Mungkinkah ada jalan keselamatan yang lain? Jawabnya TIDAK ADA. Sebab Yoh.14:16 sudah menegaskan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup itu. Ingin mencari jalan keselamatan? Yesuslah jalan itu; ingin mencari kebenaran hidup? Yesuslah Kebenaran itu; ingin memperoleh Hidup kekal? Yesuslah hidup itu. Maka Tuhan Yesus harus menjadi pilihan yang tepat dalam hidup kita.
3. Sebagai kepala keluarga, kita juga mendapat tanggung-jawab untuk menjadi imam dalam keluarga. Fungsi ini sangat strategis dan penting. Sebagai imam, kita memiliki kewajiban rohani untuk menggiring keluarga dan semua anggota rumah tangga untuk tetap berada dalam anugerah keselamatan itu. Karena itu sebagai kepala keluarga dan orang tua kita wajib melaksanakan fungsi keimaman ini untuk menjadi alat Tuhan bagi damai sejahtera “Raja Salem” yang diberikan kepada keluarga kita. Sebagai imam, kita harus menjadi teladan. Karena itu pola hidup sebagai kepala keluarga, dan suami haruslah berpadanan dengan pola hidup yang sudah diteladankan Imam Besar kita, Tuhan Yesus Kristus. Jadilah kepala keluarga, imam dalam rumah tangga yang mampu menyampaikan perkataan penuh kasih dan membangun, rela berkorban bagi keluarga, memimpin dan mengarahkan keluarga dan setia kepada keluarga; sebagaimana Kristus sudah berkorban dan setia bagi umatNya.
Selamat menjadi imam dalam keluarga, masyarakat mapun pekerjaan, di manapun saudara berada lewat meneladani ke-imaman Tuhan Yesus Kristus. Amin.
MATERI KHOTBAH PKP 07 JUNI 2011
IBRANI 7:25-28
25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, 27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. 28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.
Ibu-ibu kekasih Kristus
Apa yang biasanya dilakukan orang ketika ia sakit? Pastilah, pada umumnya, orang akan segera pergi ke dokter. Dengan demikian fungsi dan peran dokter adalah menyembuhkan orang sakit. Jadi, kehadiran dokter hanya penting jika ada orang yang sakit. Bagaimana dengan orang yang sehat? Sudah pasti ia tidak membutuhkan dokter. Itu berarti kehadiran dokter tidak berguna untuk orang yang sehat. Siapapun yang sakit pasti memerlukan dokter. Itu suatu kenyataan umun yang tidak terbantahkan. Siapakah si sakit itu di hadapan dokter? Si sakit itu pasti disebut pasien. Pasien adalah orang yang berhubungan dgn dokter karena ia seorang yang sakit. Jadi sudah pasti pasien adalah orang yang sakit dan bertemu dengan dokter.
Sekarang bagaimana dengan dokter itu sendiri, jika ia sakit? Walaupun dokter, apabila ia sakit, maka ia tidak disebut “dokter yang sakit”, namun lebih tepat disebut orang yang sakit. Sebab dokter juga adalah orang, yang jabatannya adalah dokter. Karena dokter adalah org yang sakit, dan karena sakit , ia pergi ke dokter yg lain, maka dokter yang sakit ini juga harus disebut PASIEN dan bukan dokter lagi.
Ibu-ibu kekasih Kristus
Mengapa saya menyampaikan istilah pasien, dokter dan orang sakit tadi? Karena khiasan tadi berhubungan dengan pembacaan Alkitab kita yang mengupas tentang Imam besar dan fungsinya. Seseorang mendapatkan jabatan karena ada fungsi jabatan. Demikian juga dengan jabatan imam dalam agama Yahudi. Jabatan imam di Israel diberikan kepada orang-orang keturunan Harun dari suku Lewi. Jabatan imam ini diperlukan dalam rangka melaksanakan fungsi keimaman yakni salah satunya mempersembahkan Korban bakaran bagi Tuhan untuk umatNya.
Apabila ada yang berdosa, maka Imam akan mempersembahkan korban bakaran sebagai korban penghapus dosa bagi orang tersebut. Caranya adalah, orang itu akan membawa seekor domba jantan dan menyerahkan domba itu kepada imam sebagai persembahan dan selanjutnya setelah domba itu disembeli, maka darahnya akan dipercikkan ke Tabut Perjanjian dan dagingnya dibakar sebagai korban bakaran hingga habis terbakar. Dengan demikian maka dosa orang itu dinyatakan telah diampuni oleh Allah.
Namun, sebagaimana yang saya sebutkan tentang dokter tadi, bahwa jika dokter sakit maka ia tidak disebut dokter lagi melainkan pasien, demikian juga dengan seorang imam di Israel. Mari perhatikan ayat 27 bacaan kita. Bahwa imam juga adalah seorang manusia yang pasti akan melakukan kesalahan dan jatuh dalam dosa. Sehingga, ketika ia jatuh dalam dosa, ia tidak layak lagi untuk melaksanakan fungsi keimamannya, yakni perantara umat berdosa kepada Tuhan untuk beroleh pengampunan dosa. Apa yang terjadi dengan imam yang jatuh dalam dosa itu? Ia harus mendapat pengampuan dulu dari Tuhan. Caranya adalah ia harus mempersembahkan korban penghapus dosa juga kepada TUHAN (lih. Ay.27). dengan kata lain, Imam itu sudah berubah status jabatan, yakni dari Imam menjadi umat yang sedang berdosa. Sama dengan dokter yang sakit berubah jabatannya dan satusnya dari dokter menjadi pasien. Keadaan imam seperti itu berarti tidak sempurna dan tidak selalu dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Mengapa? Sebab selain dia suatu saat berbuat dosa, dia juga tidak akan selamanya hidup. Suatu saat dia akan mati, maka fungsi keimamannya tidak dapat dilakukan terus untuk menjadi perantara kepada Allah bagi manusia berdosa.
Ibu-ibu kekasih Kristus
Itulah sebabnya, umat Tuhan memerlukan seorang imam yang dapat dengan sempurna melaksanakan fungsi sebagai perantara kepada Allah untuk diperdamaikan dengan manusia yang berdosa. Agar imam itu sempurna, maka ia harus memiliki kriteria yang ketat. Menurut ayat 26 bacaan kita, kriteria itu adalah: Ia harus saleh, tanpa salah, tanpa noda dan yang terpisah dari orang-orang berdosa. Dengan kata lain, imam yang sempurna adalah seseorang yang tidak pernah berbuat dosa. Siapakah dia? Jawabnya, TIDAK ADA SATU ORANG-PUN. Sebab di dunia ini orang tersaleh sekalipun, pastilah pernah melakukan dosa. Siapapun nabi yang ada di alkitab, semua pernah melakukan dosa.
Sempurna juga berarti hidup selamanya, sehingga selalu hidup untuk terus dapat melakukan tugas keimaman tersebut. Siapakah manusia yang selalu terus hidup? Jawabnya, TIDAK ADA. Sebab semua kita pastilah akan mengalami kematian.
Ibu-ibu kekasih Kristus
Kita patut bersyukur, ternyata ada satu pribadi yang menurut bacaan kita memenuhi syarat sebagai imam yang sempurna, dan tepat mejadi Imam Agung. Pribadi itu menurut ayat 22 bernama Yesus. Mengapa Tuhan Yesus tepat menjadi Imam Agung yang Sempurna untuk menjadi perantara kita kepada Bapa? Perhatikan ayat 24-27 bacaan kita, yakni:
1.Sebab Ia hidup selama-lamanya (ay.24). Sehingga jabatan imam yang Ia pegang tidak perlu di serahkan pada yang lain. Ia telah mengalahkan kematian, sehingga maut dan kematian tidak mampu membatasiNya.
2.Karena Ia hidup selamanya, maka tugas keimamatan-Nya dapat dilakukan dengan sempurna (ay25). TUHAN YESUS tidak memerlukan domba untuk korban penghapus dosa, sebab Dia sendiri adalah Domba itu yang telah menjadi korban penghapus dosa manusia.
3.Ia adalah Pribadi yang tidak berdosa (ay.26-27). Karena itu Ia tidak perlu menanggalkan keimaman-Nya sementara waktu untuk pengampunan dosa-Nya sendiri. Ia tidak perna melakukan dosa, sehingga jabatan imam tetap ada padanya. Sama seperti, andai dokter tidak pernah sakit, maka ia tetap jadi dokter dan tidak pernah jadi pasien. Tapi, dokter pasti pernah sakit dan pasti juga pernah jadi pasien.
Ibu-ibu kekasih Kristus
Berdasarkan firman Tuhan ini, maka ada beberapa hal penting yang perlu kita terapkan dalam hidup kita sehari-hari, yakni:
1.Banyak orang menganggap bahwa semua agama sama. Sama tujuan, sama juga kebenaran. Benarkan demikian? Jawabnya TIDAK SAMA SEKALI. Mengapa? Karena hanya iman Kristenlah yang menjamin tentang keselamatan kekal melalui Yesus Kristus. Ia adalah pribadi Ilahi atau Allah sendiri yang mengfungsikan diri sebagai Imam, sekaligus Korban penebusan bagi dosa manusia. Dengan demikian, hanya Dia yang menjamin keselamatan kita. Jika ada yang mengatakan bahwa semua agama sama, maka itu adalah kekeliruan besar. Sebab selain agama dan iman Kristen, tidak ada yang mengajarkan tentang model keselamatan ini. Itu berarti kita berbeda dari mereka.
2.Jika kita sudah tahu bahwa iman Kristen memiliki keunggulan dengan iman yang lain, maka adalah kebodohan jika kemudian, ada orang Kristen yang meninggalkan Tuha Yesus, dan mencari jalan keselamatan yang lain. Mungkinkah ada jalan keselamatan yang lain? Jawabnya TIDAK ADA. Sebab Yoh.14:16 sudah menegaskan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup itu. Ingin mencari jalan keselamatan? Yesuslah jalan itu; ingin mencari kebenaran hidup? Yesuslah Kebenaran itu; ingin memperoleh Hidup kekal? Yesuslah hidup itu. Maka Tuhan Yesus harus menjadi pilihan yang tepat dalam hidup kita.
3.Sebagai ibu rumah tangga dan orang tua bagi anak-anak. Firman Tuhan ini haruslah kita ajarkan kepada anak-anak kita. Berapa banyak anak-anak dari rumah tangga Kristen akhirnya “buang Salib” atau tinggalkan Tuhan Yesus karena ingin memilih jalan keselamatan yang lain disebabkan karena alasan sepele seperti, pasangan hidup; pekerjaan atau jabatan?
Saat ini sebagai ibu rumah tangga dan orang tua bagi anak2, kita memiliki beban dan kewajiban untuk mengajarkan kebenaran ini pada anak-anak kita agar mereka tidak meninggalkan Tuhan Yesus. Pilihan yang kita buat sudah tepat, yakni menjadikan TUHAN YESUS sebagai Imam Besar dan Juruselamat kita. Maka biarlah pula, anak-anak dan seisi rumah kita juga mengimani yang sama dan mempertahankannya. Kita wajib mengajarkan itu pada seisi rumah dan menjaga kehidupan iman mereka supaya Tetap pada Kristus.
Kiranya Roh Kudus memampukan kita melakukannya. Amin.
25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, 27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. 28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.
Ibu-ibu kekasih Kristus
Apa yang biasanya dilakukan orang ketika ia sakit? Pastilah, pada umumnya, orang akan segera pergi ke dokter. Dengan demikian fungsi dan peran dokter adalah menyembuhkan orang sakit. Jadi, kehadiran dokter hanya penting jika ada orang yang sakit. Bagaimana dengan orang yang sehat? Sudah pasti ia tidak membutuhkan dokter. Itu berarti kehadiran dokter tidak berguna untuk orang yang sehat. Siapapun yang sakit pasti memerlukan dokter. Itu suatu kenyataan umun yang tidak terbantahkan. Siapakah si sakit itu di hadapan dokter? Si sakit itu pasti disebut pasien. Pasien adalah orang yang berhubungan dgn dokter karena ia seorang yang sakit. Jadi sudah pasti pasien adalah orang yang sakit dan bertemu dengan dokter.
Sekarang bagaimana dengan dokter itu sendiri, jika ia sakit? Walaupun dokter, apabila ia sakit, maka ia tidak disebut “dokter yang sakit”, namun lebih tepat disebut orang yang sakit. Sebab dokter juga adalah orang, yang jabatannya adalah dokter. Karena dokter adalah org yang sakit, dan karena sakit , ia pergi ke dokter yg lain, maka dokter yang sakit ini juga harus disebut PASIEN dan bukan dokter lagi.
Ibu-ibu kekasih Kristus
Mengapa saya menyampaikan istilah pasien, dokter dan orang sakit tadi? Karena khiasan tadi berhubungan dengan pembacaan Alkitab kita yang mengupas tentang Imam besar dan fungsinya. Seseorang mendapatkan jabatan karena ada fungsi jabatan. Demikian juga dengan jabatan imam dalam agama Yahudi. Jabatan imam di Israel diberikan kepada orang-orang keturunan Harun dari suku Lewi. Jabatan imam ini diperlukan dalam rangka melaksanakan fungsi keimaman yakni salah satunya mempersembahkan Korban bakaran bagi Tuhan untuk umatNya.
Apabila ada yang berdosa, maka Imam akan mempersembahkan korban bakaran sebagai korban penghapus dosa bagi orang tersebut. Caranya adalah, orang itu akan membawa seekor domba jantan dan menyerahkan domba itu kepada imam sebagai persembahan dan selanjutnya setelah domba itu disembeli, maka darahnya akan dipercikkan ke Tabut Perjanjian dan dagingnya dibakar sebagai korban bakaran hingga habis terbakar. Dengan demikian maka dosa orang itu dinyatakan telah diampuni oleh Allah.
Namun, sebagaimana yang saya sebutkan tentang dokter tadi, bahwa jika dokter sakit maka ia tidak disebut dokter lagi melainkan pasien, demikian juga dengan seorang imam di Israel. Mari perhatikan ayat 27 bacaan kita. Bahwa imam juga adalah seorang manusia yang pasti akan melakukan kesalahan dan jatuh dalam dosa. Sehingga, ketika ia jatuh dalam dosa, ia tidak layak lagi untuk melaksanakan fungsi keimamannya, yakni perantara umat berdosa kepada Tuhan untuk beroleh pengampunan dosa. Apa yang terjadi dengan imam yang jatuh dalam dosa itu? Ia harus mendapat pengampuan dulu dari Tuhan. Caranya adalah ia harus mempersembahkan korban penghapus dosa juga kepada TUHAN (lih. Ay.27). dengan kata lain, Imam itu sudah berubah status jabatan, yakni dari Imam menjadi umat yang sedang berdosa. Sama dengan dokter yang sakit berubah jabatannya dan satusnya dari dokter menjadi pasien. Keadaan imam seperti itu berarti tidak sempurna dan tidak selalu dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Mengapa? Sebab selain dia suatu saat berbuat dosa, dia juga tidak akan selamanya hidup. Suatu saat dia akan mati, maka fungsi keimamannya tidak dapat dilakukan terus untuk menjadi perantara kepada Allah bagi manusia berdosa.
Ibu-ibu kekasih Kristus
Itulah sebabnya, umat Tuhan memerlukan seorang imam yang dapat dengan sempurna melaksanakan fungsi sebagai perantara kepada Allah untuk diperdamaikan dengan manusia yang berdosa. Agar imam itu sempurna, maka ia harus memiliki kriteria yang ketat. Menurut ayat 26 bacaan kita, kriteria itu adalah: Ia harus saleh, tanpa salah, tanpa noda dan yang terpisah dari orang-orang berdosa. Dengan kata lain, imam yang sempurna adalah seseorang yang tidak pernah berbuat dosa. Siapakah dia? Jawabnya, TIDAK ADA SATU ORANG-PUN. Sebab di dunia ini orang tersaleh sekalipun, pastilah pernah melakukan dosa. Siapapun nabi yang ada di alkitab, semua pernah melakukan dosa.
Sempurna juga berarti hidup selamanya, sehingga selalu hidup untuk terus dapat melakukan tugas keimaman tersebut. Siapakah manusia yang selalu terus hidup? Jawabnya, TIDAK ADA. Sebab semua kita pastilah akan mengalami kematian.
Ibu-ibu kekasih Kristus
Kita patut bersyukur, ternyata ada satu pribadi yang menurut bacaan kita memenuhi syarat sebagai imam yang sempurna, dan tepat mejadi Imam Agung. Pribadi itu menurut ayat 22 bernama Yesus. Mengapa Tuhan Yesus tepat menjadi Imam Agung yang Sempurna untuk menjadi perantara kita kepada Bapa? Perhatikan ayat 24-27 bacaan kita, yakni:
1.Sebab Ia hidup selama-lamanya (ay.24). Sehingga jabatan imam yang Ia pegang tidak perlu di serahkan pada yang lain. Ia telah mengalahkan kematian, sehingga maut dan kematian tidak mampu membatasiNya.
2.Karena Ia hidup selamanya, maka tugas keimamatan-Nya dapat dilakukan dengan sempurna (ay25). TUHAN YESUS tidak memerlukan domba untuk korban penghapus dosa, sebab Dia sendiri adalah Domba itu yang telah menjadi korban penghapus dosa manusia.
3.Ia adalah Pribadi yang tidak berdosa (ay.26-27). Karena itu Ia tidak perlu menanggalkan keimaman-Nya sementara waktu untuk pengampunan dosa-Nya sendiri. Ia tidak perna melakukan dosa, sehingga jabatan imam tetap ada padanya. Sama seperti, andai dokter tidak pernah sakit, maka ia tetap jadi dokter dan tidak pernah jadi pasien. Tapi, dokter pasti pernah sakit dan pasti juga pernah jadi pasien.
Ibu-ibu kekasih Kristus
Berdasarkan firman Tuhan ini, maka ada beberapa hal penting yang perlu kita terapkan dalam hidup kita sehari-hari, yakni:
1.Banyak orang menganggap bahwa semua agama sama. Sama tujuan, sama juga kebenaran. Benarkan demikian? Jawabnya TIDAK SAMA SEKALI. Mengapa? Karena hanya iman Kristenlah yang menjamin tentang keselamatan kekal melalui Yesus Kristus. Ia adalah pribadi Ilahi atau Allah sendiri yang mengfungsikan diri sebagai Imam, sekaligus Korban penebusan bagi dosa manusia. Dengan demikian, hanya Dia yang menjamin keselamatan kita. Jika ada yang mengatakan bahwa semua agama sama, maka itu adalah kekeliruan besar. Sebab selain agama dan iman Kristen, tidak ada yang mengajarkan tentang model keselamatan ini. Itu berarti kita berbeda dari mereka.
2.Jika kita sudah tahu bahwa iman Kristen memiliki keunggulan dengan iman yang lain, maka adalah kebodohan jika kemudian, ada orang Kristen yang meninggalkan Tuha Yesus, dan mencari jalan keselamatan yang lain. Mungkinkah ada jalan keselamatan yang lain? Jawabnya TIDAK ADA. Sebab Yoh.14:16 sudah menegaskan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup itu. Ingin mencari jalan keselamatan? Yesuslah jalan itu; ingin mencari kebenaran hidup? Yesuslah Kebenaran itu; ingin memperoleh Hidup kekal? Yesuslah hidup itu. Maka Tuhan Yesus harus menjadi pilihan yang tepat dalam hidup kita.
3.Sebagai ibu rumah tangga dan orang tua bagi anak-anak. Firman Tuhan ini haruslah kita ajarkan kepada anak-anak kita. Berapa banyak anak-anak dari rumah tangga Kristen akhirnya “buang Salib” atau tinggalkan Tuhan Yesus karena ingin memilih jalan keselamatan yang lain disebabkan karena alasan sepele seperti, pasangan hidup; pekerjaan atau jabatan?
Saat ini sebagai ibu rumah tangga dan orang tua bagi anak2, kita memiliki beban dan kewajiban untuk mengajarkan kebenaran ini pada anak-anak kita agar mereka tidak meninggalkan Tuhan Yesus. Pilihan yang kita buat sudah tepat, yakni menjadikan TUHAN YESUS sebagai Imam Besar dan Juruselamat kita. Maka biarlah pula, anak-anak dan seisi rumah kita juga mengimani yang sama dan mempertahankannya. Kita wajib mengajarkan itu pada seisi rumah dan menjaga kehidupan iman mereka supaya Tetap pada Kristus.
Kiranya Roh Kudus memampukan kita melakukannya. Amin.
Tuesday, May 17, 2011
Monday, May 16, 2011
MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 18 MEI 2011
MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 18 MEI 2011
YESAYA 55:8-11
Jemaat kekasih Tuhan.
Kitab Yesaya yang kita baca ini ditulis dalam suasana ketika mereka mulai menyiapkan diri kembali dari pembuangan di Babel. Marilah kita bayangkan apa yang terjadi di Yerusalem tempat dulu mereka tinggal dan sekarang telah kosong selama 70 tahun. Mengerikan!! Itu adalah istilah yang tepat. Negeri tempat tinggal mereka menjadi kota mati tanpa kehidupan dan penghuni. Bagaimanakah mereka dapat hidup apabila tidak ada lagi orang yang berladang. Dari mana memperoleh roti dan gandum jika tidak ada yang bercocok tanam. Bagaimana cara mereka akan membangun kota Yerusalem yang hancur? Demikianlah orang Israel dari buangan di Babel mengalami kekuatiran tentang masa depan mereka ketika kembali ke kampung halaman.
Jemaat kekasih Tuhan.
Apakah jawaban Tuhan terhadap segala kekuatiran umatNya itu? Ada beberapa prinsip penting yang Tuhan nyatakan menghadapi kenyataan hidup yg pahit dari Israel yang ada dalam masa akhir pembuangan, yakni:
1. Rancangan Tuhan (ayat 8-9).
Rancangan yang Tuhan berikan bagi umat Israel sulit untuk dapat dipahami. Mengapa demikian, karena Israel melihat rancangan itu hanya pada kacamata manusia. Pandangan mata manusia terbatas, jangkauan melihat dan memprediksikan masa depan tidak dimiliki manusia, termasuk Israel. Itulah sebabnya, Tuhan berkata kepada mereka: “RancanganKu bukanlah rancanganmu; jalanmu bukanlah jalanKu” (ay.8).
Artinya, Israel menganggap tahu rancangan Tuhan, sehingga mulai berusaha menemukan jalan agar dapat mencapai rancangan tersebut. Perhatikanlah bahwa salah prediksi tentang rancangan, akan pula berakibat salah milih cara atau jalan atau strategi ke rancangan itu. Tidak ada yg mengerti rancangan Tuhan, termasuk Israel, yang ditegaskan dengan jelas pada ayat 9 bacaan kita. Sehingga adalah mustahil untuk memperoleh cara atau jalan jitu menggapai rancangan tersebut.
2. Tidak Instan, namun berproses (ay.10).
Perhatikan ayat 10. Bagaimana cara Tuhan melaksanakan rancanganNya? Ayat 10 menyebut tentang proses alami yang berjalan lambat namun pasti. Proses itu adalah sebagai berikut: Agar roti (gandum) dapat di makan, petani harus menabur dan menanam benih gandum gandung; agar benih gandum yang ditanam bisa tumbuh subur, maka perlu pengairan yang baik; agar ada air yang mengairi bumi, maka perlu hujan atau salju dari langit. Demikian uraian ayat 10 tetang proses rancangan tersebut.
Dengan demikian, kita memahami bahwa Rancangan Tuhan adalah Israel harus dapat makan Roti. Namun jalan dan cara bisa makan roti alias cara dan cara mencapai rancangan itu butuh proses yang panjang. Ini menunjukkan bahwa cara kerja Tuhan tidak seperti yang kita banyak pikirkan. Biasanya manusia menginginkan bahwa segala sesuatu hauslah instan… serba cepat saji.. namun rupanya harus berproses sesuai waktu dan rancangan Tuhan.
Jemaat kekasih Tuhan.
Salah satu hal terindah dalam kehidupan orang percaya adalah kita belajar untuk mengenal jalan-jalan Tuhan yang luar biasa. Namun jalan Tuhan pada kenyataannya adalah sangat bertentangan dengan jalan-jalan kita. Jalan Tuhan itu terkadang aneh atau ganjil menurut penilaian kita dan hal itu sulit digambarkan atau dibayangkan. "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu." (ayat 9). Jalan-jalan Tuhan juga acapkali bertentangan dengan apa yang kita harapkan dan inginkan.
Mengapa Tuhan mendesain jalan-jalanNya sedemikian rupa? Kita yang belum memiliki keintiman dengan Tuhan akan beranggapan bahwa jalan-jalan Tuhan itu sama atau sesuai dengan keinginan dan kehendak kita sendiri. Bila yang terjadi itu sesuai dengan keinginan dan kehendak kita, maka dengan cepat kita akan menyimpulkan,"Inilah jalan Tuhan. Sebaliknya, jika jalan-jalan Tuhan itu tidak seperti yang kita harapkan, kita pun akan berkata, "Ini bukan jalan Tuhan." Di dalam Alkitab kita akan menemukan betapa jalan-jalan Tuhan itu justru sangat bertentangan dengan segala keinginan dan juga logika kita. Contoh: ketika terjadi kekeringan dan kelaparan, Tuhan membawa Elia ke sungai Kerit dan burung-burung gagak memberinya makan. Setelah itu kita renungkan, apa yang dialami Elia itu sungguh tidak masuk akal. Tetapi itulah jalan Tuhan yang benar-benar tak dapat kita selami.
Jemaat kekasih Tuhan.
Biasanya, disaat kita tertekan dengan beban berat hidup ini, kita sering berkata, "Kami membutuhkan mukjizat--segera!" Kita semua tahu bagaimana rasanya tertekan oleh situasi atau hubungan yang retak. Dalam kecemasan, kita ingin Allah campur tangan tanpa menunda-nunda. Dalam Yesaya 55:10-11 Allah menggunakan alam dalam menggambarkan proses yang lambat untuk menghasilkan buah yang bertahan lama ini. Seperti halnya hujan dan salju yang menyirami bumi dan setelah jangka waktu tertentu menghasilkan biji untuk ditabur dan roti untuk dimakan, demikian pula Firman Allah akan menggenapi tujuan-Nya. Allah berkata, "Ia [Firman-Ku] akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." Dan apakah "yang Kusuruhkan" itu? Pembaruan hidup manusia dan dimuliakannya nama Allah. Mukjizat inilah yang kita butuhkan, yakni karya Allah dalam hidup kita melalui Firman-Nya. Karya ini memang tidak langsung memberikan hasil, tetapi bersifat adikodrati.
Karena itu apakah yang harus kita lakukan saat ini? Minimal ada dua hal yang perlu kita lakukan ketika menghadapai rancangan Tuhan yang “aneh” dan “menyulitkan” dalam hidup kita sehingga kita mengalami pergumulan hidup, yakni:
1. Mintalah hikmat kepada Tuhan.
Banyak orang selalu merasa paling tahu tentang jalan hidup ini. Padahal tidak ada satupunyang tahu akan hari esok. Kita tidak perlu tahu hari esok, tapi kita seharusnya dapat mengerti tentang rancangan Tuhan untuk hidup kita. Untuk itu kita butuh pengertian alias hikmat dariNya agar dapat memahami rancangan Tuhan dalam hidup kita.
Apabila kita telah mengerti rancangan Tuhan dalam hidup kita, maka terberat sekalipun hari ini kita jalani hidup, kita akan mampu berpikir lebih positif dan berpengharapan. Kita akan mampu menerima dalam iman bahwa Tuhan tidak akan pernah merancangkan kecelakaan dalam hidup ini (Yer.29:11). Sehingga dengan iman kita bisa mengerti rancangan Tuhan itu, yakni “segala sesuatu indah pada waktunya” (Pkh.3:11). Itulah cara mengerti rancangan Tuhan yang ajaib tersebut.
2. Mintalah jalan keluar kepada Tuhan.
Walaupun kita sudah mengerti bahwa Tuhan tidak pernah merangcangkan kecelakaan dalam hidup ini, namun untuk mencapai damai sejahtera itu tidaklah instan. Itu butuh proses yang tidak singkat. Terkadang dalam proses itu, kita harus melewati padang gurun (Israel 40 tahun di gurun); atau menghadapi tembok tebal penghalang masa depan hidup ini yang sulit ditembus (Israel terbentur tembok Yerikho) atau hal lainnya. Kita mungkin putus asa seperti Israel yang sulit menerima kenyataan itu.
Perhatikan bagaimana Tuhan memberikan jalan keluar bagi mereka. Di padang gurun yang tidak menentu arah, Tuhan mengirim tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari. Saat menghadapi kokohnya tembok Yerikho, Tuhan menggiring umatNya dalam pujian yang dasyat selama 6 hari 1 kali putaran, dan dihari ke-7 dilakukan 7 kali putaran. Luar biasa. Tembok itupun roboh.
Saat tidak ada jalan, kita harusnya hanya meminta TUHAN untuk dapat menyediakan jalan keluar itu. Mintalah kepada Tuhan, bukan pada yang lain walaupun mungkin yang lain itu lebih instan. Tuhan satu-satunya jalan sebab Dialah Jalan dan kebenaran dan hidup itu (Yoh.14:6).
Jemaat kekasih Tuhan.
Selamat menikmati kasih Tuhan dalam hidup ini. Selamat menjalani rancanganNya dan jalan-Nya yang ajaib dalam berbagai ketegangan, pergumulan, halangan dan bahkan persoalan hidup sekalipun. Yakinlah baha Tuhan kita akan selalu mendampingi dan menyertai. Amin.
Tuesday, May 10, 2011
MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 11 MEI 2011
MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 11 MEI 2011
ROMA 6:20-23
Jemaat Kekasih Kristus
Pada zaman Paulus, seorang budak atau hamba adalah seorang yang hidupnya bergantung pada orang lain dan dikontrol penuh oleh tuannya itu. Hidup mati seorang hamba (Yun= Doulos) ada ditangan tuannya. Seorang hamba memberi hidupnya hanya pada tuannya. Begitulah keterikatan yang manusia alami bila berbuat dosa atau menyerahkan diri kepada dosa dan kemudian menjadi hamba dosa. Namun Paulus mengingatkan bahwa karena kita telah diselamatkan oleh Kristus, kita telah dibebaskan dari perhambaan dosa itu. Kita bukan lagi hamba dosa. Jadi kita tidak perlu lagi taat kepada dosa dan menjalani hidup yang menuju kepada kebinasaan. Pada bacaan kita ini, Paulus mempertentangkan Hamba Dosa dan Hamba Kebenaran serta dampak dari dua status tersebut dalam hidup orang percaya. Mari perhatikan beberapa hal penting dari perikop bacaan kita.
Pada ayat 20, Paulus melanjutkan pembahasan tentang status hamba dosa, yaitu, “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.” Ketika kita menghambakan diri di bawah dosa (atau dosa menjadi tuan hidup kita), pada saat yang sama kita bebas dari kebenaran. Kata bebas berarti terlepas atau tidak terikat, lalu kebenaran di dalam ayat ini menggunakan kata Yunanidikaiosunē yang artinya kebenaran keadilan. Dengan kata lain, ketika kita mentuankan dosa, kita tidak terikat dengan kebenaran atau tidak ingin/mau menjalankan kebenaran keadilan. Dari pengertian di atas, kita mendapatkan beberapa pelajaran penting tentang status hamba dosa, yaitu :
1. Ketika kita mentuankan dosa, kita tidak memiliki kebenaran keadilan. Ketika kita melihat di dalam penciptaan, kita mengetahui bahwa Allah menciptakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya. Dengan kata lain, manusia menyandang gambar Allah sekaligus sifat-sifat Allah yang dikomunikasikan (communicable attributes of God), misalnya kebenaran, keadilan, kejujuran, kesetiaan, dll untuk menaklukkan dan memelihara alam semesta ini (Kejadian 1:28 ; 2:15). Di dalam theologia Reformed yang ketat, hal ini disebut mandat budaya, artinya kita mendapatkan perintah/mandat dari Allah untuk mengelola sekaligus memelihara alam semesta untuk memuliakan Allah. Tetapi sayangnya, manusia yang dipercayakan hal ini tidak bertanggungjawab, sehingga mereka mempermainkan tanggung jawab melalui Hawa yang lebih menaati perkataan iblis untuk makan buah pengetahuan baik dan jahat ketimbang taat mutlak kepada Allah yang melarangnya untuk makan buah tersebut. Di dalam kondisi inilah, dosa mulai mengintip dan masuk ke dalam manusia, dan mengakibatkan manusia tidak lagi mengindahkan kebenaran keadilan dari Allah. Hal ini terlihat dari Kain yang marah kepada Habel karena persembahan Kain tak diterima oleh Allah. Kemarahannya ini berpuncak pada tindakan pembunuhan Kain (Kejadian 4:8), padahal Allah telah memperingatkannya (Kejadian 4:6). Di sini, kita melihat Kain adalah bukti selanjutnya setelah Hawa bahwa dosa membuat orang yang mentuankannya tidak lagi menghiraukan kebenaran keadilan sejati dari Allah.
2. Ketika kita mentuankan dosa, kita tidak dikuasai oleh kehendak Allah. Mengutip contoh Kain, dosa membuat Kain tidak lagi dikuasai oleh kehendak Allah untuk berbuat baik, meskipun Allah telah memperingatkannya. Dikuasai oleh kehendak Allah adalah keinginan setiap umat pilihan-Nya untuk memuliakan Allah. Tetapi dosa membuat orang yang mentuankannya menjadi gila, memuja diri, menghina orang lain dan terutama menghina serta mengumpat Allah. Para pemuja dualisme, materialisme, humanisme, dll adalah contoh-contoh orang yang mentuankan dosa. Mengapa ? Karena mereka dikuasai oleh kehendak pribadi ketimbang kehendak Allah yang Mahakudus. Ketika hidup kita lebih berorientasi kepada materi, pribadi, nafsu, dll, di saat itulah kita lebih menaati kehendak diri dan materi ketimbang Allah dan di saat itu pulalah kita sedang mentuankan dosa, meskipun kita tidak pernah menyadarinya.
Jemaat Kekasih Kristus
Lalu, Paulus menyambung penjelasan di ayat 20 dengan dampak/buah/akibat dari dosa yang menjadi tuan atas manusia yaitu di ayat 21, “Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian.” Dengan kata lain, Paulus hendak menanyakan bahwa ketika kita mentuankan dosa, apa keuntungan, kesenangan, kepuasan atau kesenangan hidup/ketenangan yang kita peroleh ? Ini bukan berbicara tentang utilitarianistik yang mengajarkan bahwa segala sesuatu harus berguna/menguntungkan, kalau tidak, tidak usah dikerjakan. Ini berbicara mengenai esensi hidup dan dampak. Paulus menjawab pertanyaan itu dengan dampak beruntun, yaitu:
1. Merasa malu sekarang. Dosa mengakibatkan orang yang mentuankannya menjadi malu. Malu ini harus diukur dari standar kedaulatan Allah. Artinya, ketika manusia berdosa, seharusnya orang normal akan merasa malu di hadapan Allah yang Mahakudus. Mengapa? Karena dirinya tak sebanding dengan Allah yang Mahakudus. Coba kita berdiri di depan presiden (meskipun tetap manusia berdosa), kita akan sangat malu sekali misalnya ketika kita sembarangan duduk atau berlaku tak sopan. Tetapi herannya, di hadapan Allah yang Mutlak Suci, kita tidak memiliki malu. Artinya, kepada siapa yang seharusnya kita malu, kita tidak pernah malu (bahkan memalukan ; bahasa kerennya : malu-maluin), sebaliknya kepada siapa yang seharusnya kita tidak usah malu, kita malahan malu sekali. Inilah dosa “Rasa-malu” yang sebenarnya memang memalukan di hadapan Allah. Hal ini bisa diimplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika kita berdosa seperti free-sex, bicara kotor, dll, kita seharusnya merasa malu, karena tidak seharusnya kita yang diciptakan menurut peta teladan Allah yang Mahakudus malahan berbuat hal-hal yang menyakitkan hati-Nya.
2. Kematian. Rasa-malu ini lama-kelamaan, jika tidak disembuhkan (artinya orang yang malu tersebut harus bertobat), akan mengakibatkan kematian. Di dalam ayat ini, Paulus mengatakan bahwa kematian itu merupakan kesudahannya atau (tujuan) akhir. Artinya, kematian itu upah/ongkos yang seharusnya diterima oleh orang yang mentuankan dosa dan tidak mau bertobat sungguh-sungguh. Hal ini dijelaskan Paulus di ayat 23a dengan mengatakan, “Sebab upah dosa ialah maut;” Dosa mengakibatkan bukan hanya merasa malu, tetapi juga kematian kekal/neraka. Dan ketika kita dimasukkan ke dalam neraka, tidak ada lagi pengharapan kita dapat diselamatkan, karena di saat itu kita sudah berada di dalam kematian kekal yang sama sekali tak berpengharapan. Ketika kita diperkenankan Tuhan untuk menyadari dosa-dosa kita saat ini, segeralah bertobat dan kembalilah kepada Tuhan Yesus Kristus, karena Ia adalah Allah yang mengasihi orang yang berdosa dan tetap menghukum mereka yang tidak mau bertobat.
Jemaat Kekasih Kristus
Oleh Karena tidak ada lagi pengharapan bagi orang yang mentuankan dosa, maka Paulus memberikan solusi satu-satunya, yaitu di ayat 22, “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Paulus mengatakan bahwa kita dimerdekakan dari dosa. Kata “dimerdekakan dari dosa” tentu bukan berarti kita yang memerdekakan sendiri dari dosa dengan amal/perbuatan baik, karena pernyataan ini mengandung arti bahwa ada Pribadi yang memerdekakan kita (pernyataan ini memakai bentuk pasif). Dimerdekakan dari dosa mengandung arti kita tidak lagi terikat oleh kuasa dosa (dosa tidak lagi menguasai kita), atau kita tidak lagi mentuankan dosa. Lalu, pertanyaan selanjutnya, siapakah yang mampu memerdekakan kita dari dosa? Nabi? Rasul? Pemimpin agama?
Di ayat 23b, Paulus menjelaskan, “karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Tidak ada jalan lain, Allah dari Surga harus menyelamatkan manusia yang berdosa. Caranya? Caranya adalah Allah Bapa mengutus Allah Anak, Putra Tunggal-Nya, yaitu Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dan menyelamatkan manusia berdosa. Hal ini disebabkan karena kasih-Nya yang begitu besar bagi dunia (Yohanes 3:16) sekaligus bukti keadilan-Nya yang Mahakudus. Dengan demikian menjadi jelas bahwa kita menjadi benar bukan karena usaha kita, namun hanya melalui Kasih Karunia Allah melalui Yesus Kristus.
Jemaat Kekasih Kristus
Setelah Allah menganugerahkan keselamatan di dalam Kristus bagi umat pilihan-Nya, dampak apa yang terjadi? Ada 2 dampak besar ketika kita mentuankan kebenaran alias menjadi hamba Kristus, yakni:
1. Pengudusan. Di ayat 22, Paulus mengajarkan bahwa setelah kita dimerdekakan dari dosa, kita beroleh buah yang membawa kita kepada pengudusan atau pemurnian (Yunani :hagiasmos ; Inggris : purification). Dengan kata lain, anugerah keselamatan dari Allah di dalam Kristus bagi umat pilihan-Nya memungkinkan umat-Nya tidak lagi berkanjang di dalam dosa, tetapi hidup kudus di dalam proses menuju kepada kesempurnaan Allah. Kita bisa hidup kudus karena Roh Kudus di dalam hati kita mencerahkan, menguduskan dan mengingatkan kita terus-menerus akan Firman Allah. Dengan kata lain, penebusan Kristus yang diefektifkan oleh Roh Kudus memungkinkan kita yang dahulu gemar terhadap dosa berbalik arah menjadi gemar akan kebenaran Allah. Ini disebabkan karena penebusan Kristus mengembalikan citra diri manusia berdosa kepada posisinya semula yaitu sebagai gambar dan rupa Allah yang mengerjakan kekudusan, kesetiaan, kejujuran, kebenaran, keadilan, kasih, kebaikan, dll.
2. Hidup yang kekal. Di ayat 22, Paulus menjelaskan bahwa setelah kita dikuduskan, kita nantinya beroleh hidup yang kekal. Berbeda dari akibat status hamba dosa yang mengakibatkan kita mati kekal, maka sebagai hamba kebenaran, kita nantinya akan hidup kekal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Artinya : pertama, keselamatan umat pilihan-Nya dijamin oleh Allah sampai akhir. Dengan kata lain, ketika Allah telah memilih umat-Nya, Ia pula yang menyediakan keselamatan di dalam Kristus dan mengefektifkan karya penebusan Kristus itu melalui karya Roh Kudus di dalam hati umat pilihan-Nya serta memelihara keselamatan itu sampai akhir.
Jemaat Kekasih Kristus
Hari ini, setelah kita merenungkan keempat ayat ini, adakah hati kita tergerak untuk sekali lagi hidup bagi Allah dengan berfokus pada Kristus ? Adakah kita berkomitmen untuk tidak lagi menggemari dosa, tetapi sebaliknya menggemari Firman Allah dan Kebenarannya serta hidup kudus ? Itulah citra diri hamba Kebenaran yang telah ditebus Kristus dari hidup yang sia-sia.
MATERI KHOTBAH PKB 09 MEI 2011
MATERI KHOTBAH PKB 09 MEI 2011
ROMA 5:12-17
Persekutuan Kaum Bapa Yang dikasihi Tuhan
Pada Hari minggu kemarin, sesuai bacaan SBU kita telah mendengar tentang kuasa penebusan dari dosa melalui Kasih Karunia Allah yang diberikanNya kepada dunia lewat Yesus Kristus. Dengan Kasih Karunia itu, semua orang yang beriman kepadaNya dibenarkan dan beroleh pendamaian di hadapan Allah. Dengan demikian, kita yang percaya tidak memperoleh hukuman maut sebagai upah dosa, sebaliknya kita diselamatkan dan ditebus dari kuasa maut itu.
Bacaan kita hari ini dalam ayat 12-17, Paulus menjelaskan sejarah dosa dan bagaimana proses penebusan itu dilakukan. Di bacaan kita secara terperinci Paulus menyebut tentang manusia pertama, yakni Adam sebagai sumber dosa; dan manusia kedua yakni Yesus Kristus sebagai pemutus kuasa doa.
Pada ayat 12, Paulus menjelaskan, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Di sini, Paulus kembali menjelaskan konsep dosa yang sudah dijelaskannya tetapi dengan penekanan pembeda antara manusia lama yaitu di dalam Adam dengan manusia baru yaitu di dalam Kristus. Di ayat ini, Paulus menjelaskan tentang ngerinya dosa dengan tiga bagian penjelasan, yaitu :
Pertama, dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang. Kata “oleh” menurut bahasa Yunaninya lebih tepat diterjemahkan through (melalui), sehingga arti aslinya adalah dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang. Satu orang yang dimaksud adalah Adam (Kejadian 3:6). Adam sebagai perwakilan umat manusia yang berdosa, karena dia dahulu yang mendapat mandat dari Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan baik dan jahat (Kejadian 2:16-17). Adam yang telah menerima mandat itu seharusnya mengajar Hawa dan menegur tindakannya ketika Hawa berbuat salah/dosa, karena yang menerima mandat dari Allah adalah suami/pria, tetapi realita yang terjadi adalah Adam tidak menegur Hawa malah menyetujui tindakan Hawa. Itulah dosa.
Di dalam Kejadian 3:6, ada beberapa dosa yang dilakukan Hawa, yaitu : pertama, melihat dengan bayang-bayang yang tidak beres. Dosa dimulai ketika seseorang mulai melihat apa yang tidak seharusnya dilihat dengan motivasi yang tidak beres. Melihat perempuan yang cantik dan seksi tidak ada larangannya, tetapi melihat perempuan yang cantik dan seksi serta menginginkannya, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa hal itu adalah dosa perzinahan (Matius 5:28). Hal yang sama juga dilakukan oleh Hawa, yaitu melihat buah pengetahuan yang baik dan jahat dengan bayangan bahwa buah itu enak/sedap dimakan dan memberikan “pengertian”. Kedua, setelah melihat dengan bayangan yang tidak beres, Hawa memutuskan untuk mengambil buah itu dan memakannya. Kalau di titik pertama, sesuatu dikatakan dosa jika melihat dengan motivasi/bayangan yang tidak beres, maka Hawa lebih kurang ajar lagi, karena ia berani mengambil keputusan yang lebih berdosa, yaitu mengambil buah itu dan memakannya.
Kedua, dosa menghasilkan maut. Kalau kita kembali ke Kejadian 3, maka kita membaca bahwa setelah Adam dan Hawa berdosa, meskipun mereka masih “hidup” tetapi secara rohani mereka sudah mati (terputusnya hubungan antara Allah dengan manusia) dan nantinya, mereka akan mati secara fisik secara perlahan-lahan. Dengan kata lain, kata “maut” atau kematian mempunyai beberapa arti, yaitu pertama, mati secara fisik, yaitu ketika kita meninggal dan dikuburkan ; kedua, mati secara rohani, yaitu terputusnya hubungan antara Allah dengan manusia dan ketiga, mati kekal adalah kematian selama-lamanya di neraka. Dan dosa manusia mengakibatkan ketiga macam kematian itu. Orang-orang yang masih menyangkal dan di luar Kristus pun pasti mengalami tiga jenis kematian ini. Ini membuktikan kengerian efek dari dosa.
Ketiga, maut telah menjalar kepada semua orang karena semua orang telah berbuat dosa. Ketika manusia pertama harus mati akibat dosa, maka kita yang hidup di zaman modern pun harus mati. Kita yang modern saat ini memiliki kecendrungan untuk menerima dan melakukan kecenderungan Adam yakni tidak taat kepada TUHAN. Apa yang Adam lakukan adalah ketidak-taatan. Kuasa dosa membuat kita juga sering lebih senang tidak taat. Sehingga sejak peristiwa taman Eden kita semua cendrung berbuat dosa dan menjadi pendosa.
Persekutuan Kaum Bapak yang dikasih Tuhan.
Bukan hanya dosa, maut pun dijelaskan Paulus di ayat 14, “telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.” Kata “berkuasa” dalam bahasa Yunani basileuō identik dengan kerajaan/kekuasaan raja. Dengan kata lain, kematian mau tidak mau harus dialami oleh semua orang, bahkan para nabi Allah sekalipun (kecuali atas perizinan Allah, seperti kasus Henokh—Ibrani 11:5). Artinya, mereka yang juga tidak berdosa seperti Adam pun harus menanggung akibat Adam, karena yang namanya dosa tetap harus dihukum.
Bagaimana dengan kita? Banyak orang seringkali berargumentasi bahwa kita tidak sejahat Adam, tetapi mengapa kita tetap harus menerima hukuman? Seperti yang telah dijelaskan di atas, kita sudah mewarisi dosa asal dan dosa itu tetap harus dihukum. Jangan pernah mengukur dosa dari skala kecil atau besarnya, tetapi ukurlah dosa di hadapan Allah yang Mahakudus, maka kita baru akan sadar betapa jijik dan joroknya kita di hadapan-Nya. Jalan keluar dari masalah dosa ini sudah disebutkan sedikit oleh Paulus di ayat 14 yaitu “Dia yang akan datang.” Hal ini dijelaskan lagi secara rinci di ayat 15.
Banyak manusia dunia mencari jalan agar keluar dari jerat dosa misalnya dengan berbuat amal, menuruti syariat-syariat agama, dll, tetapi apa yang Tuhan sendiri ajarkan ? Melalui Paulus, Tuhan mengajarkan, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.”
Di sini, Paulus membandingkan sekaligus memisahkan dua hal yaitu antara karunia Allah dan pelanggaran (bahasa Yunaninya berarti penyelewengan) Adam/manusia.
Dampak dari pembedaan kasih karunia Allah vs penyelewengan Adam adalah pembenaran oleh iman vs penghukuman. Hal ini dipaparkan Paulus di ayat 16, “Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.” Dengan kata lain, penghakiman berlaku atas satu orang yang melakukan dosa/pelanggaran/penyelewengan atau karena satu orang berdosa, maka Allah memvonis mereka “bersalah/berdosa”, tetapi pembenaran oleh iman dari Allah berlaku bagi banyak orang yang sudah berdosa atau meskipun banyak orang berdosa (tidak hanya satu orang saja), Allah dengan kedaulatan, kasih dan keadilan-Nya menyatakan bahwa mereka tidak bersalah lagi atau dinyatakan benar. Inilah letak keunggulan anugerah Allah yang jauh lebih indah dan berharga daripada apapun juga. Pembenaran oleh iman menunjukkan kasih sekaligus keadilan-Nya kepada manusia pilihan-Nya.
Pembenaran melalui iman menunjukkan kasih-Nya, karena Ia mengetahui bahwa dengan usaha sendiri, manusia tak mungkin bisa mencari jalan keluar dari jerat dosa, sehingga Ia mengaruniakan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk mati disalib demi menebus dosa manusia pilihan-Nya, sehingga mereka (umat pilihan-Nya) cukup bertobat dan beriman di dalam Kristus dengan sungguh-sungguh, mereka pasti dibenarkan dan diselamatkan. Pembenaran melalui iman menunjukkan keadilan-Nya, karena hanya umat pilihan-Nya yang menerima pembenaran oleh iman, dan sisanya secara otomatis “dibuang” oleh-Nya. Saya bisa menyimpulkan hal ini karena di ayat ini, pembenaran oleh iman dikatakan berlaku bagi banyak orang (bukan semua orang) ! Kata “banyak orang” tentu menunjuk kepada orang-orang yang telah dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4).
Persekutuan Kaum Bapak yang dikasih Kristus.
Sudahkah kita sadar akan dosa kita dan dampaknya? Sudahkah kita hari ini datang dan kembali kepada Kristus? Sudahkah kita mengalami hidup berkelimpahan di dalam Kristus ketika kita datang kepada-Nya sekarang? Kita bersyukur bahwa meskipun kita dipenuhi oleh ketidak berdayaan dosa, TUHAN telah mengasihi dan menyelamatkan kita. Karena itu marilah menjaga hidup kita tetap benar dihadapanNya lewat melakukan semua yang TUHAN kehendaki dalam hidup kita. Amin.
MATERI KHOTBAH PKP 10 MEI 2011
MATERI KHOTBAH PKP 10 MEI 2011
ROMA 6:1-14
Persatuan Kaum Perempuan yang dikasihi Kristus
Bacaan kita hari ini berbicara tentang dampak dari kematian dan bangkitan Yesus bagi kita yang berdosa ini. Salib Yesus adalah lambing kematian dan kemenangannya atas kuasa dosa. Salib adalah kasih Allah yang dinyatakan di dalam kesempurnaan. Roma 5:8 mengatakan, "Allah akan menunjukkan kasihNya", dalam terjemahan lain yaitu Allah mendemonstrasikan kasihNya kepada kita. Hanya lewat salib kita mengerti betapa besar kasih Allah kepada dunia ini. Dari saliblah kita bisa mengerti kasih Allah dari Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, bahkan sampai kepada kesudahan zaman.
Persatuan Kaum Perempuan yang dikasihi Kristus
Allah menyerahkan nyawa AnakNya bagi kita justru waktu kita masih berdosa. Kasih Allah begitu besar dan seumur hidup kita tidak akan mungkin dapat menyelami begitu dalam kasihNya. Paulus berkata begitu tinggi, begitu lebar, begitu dalam kasih Allah bagi kita. Mungkin kita tidak bisa mengerti sampai sejauh mana kasih-Nya tetapi satu hal yang Allah ingin kita mengerti adalah bahwa kasih-Nya begitu besar sehingga Ia mau mengampuni kita. “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, Aku akan membuatnya putih seperti salju.” Kasih-Nya memanggilmu pulang.
Kasih Tuhan cukup menjadi jaminan bahwa kita diampuni karena kasih-Nya yang begitu besar itu adalah kasih yang memperdamaikan. Bukan hanya memperdamaikan tetapi juga menguduskan. Kasih yang mengubah dan mengtransformasi bahkan ketika kita belum menyadarinya supaya kita tidak hidup berkanjang dalam dosa. Sekalipun mungkin kita jatuh dalam dosa namun kita tidak akan selama-lamanya berkanjang dalam dosa karena kasih-Nya mentransformasi kita.
Alkitab mengajarkan kebenaran ini bahwa Kristus mati buat kita bukan hanya satu etika yang tinggi tetapi ada suatu realitas yang Allah perbuat melalui Kristus di kayu salib. Allah ingin supaya kita selalu ingat dalam hati kita, Kristus mati buat kita bukan untuk diri-Nya sendiri. Sekalipun 2000 tahun yang lalu kita belum lahir tetapi dosa-dosa kita sudah ditimpakan kepada Kristus. Benarlah jika Yesaya 43 mengatakan, Ia mati, tertikam, disiksa oleh karena pelanggaran dan dosa kita.
Kristus tidak mati untuk diri-Nya sendiri tetapi lebih daripada itu semua, Ia mati untuk manusia, termasuk kita semua yang hidup 2000 tahun kemudian, yaitu saudara dan saya. Di salib itu bukan hanya Yesus yang disalibkan tetapi juga dosa-dosa kita dan kuasa dosa yang menguasai kita. Roma 6 mengatakan bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan. Artinya 2000 tahun yang lalu waktu Kristus disalibkan dosa kitalah yang ditanggung-Nya di kayu salib itu. Ini adalah suatu doktrin yang besar dan mengatasi semua hikmat manusia. Misteri yang seharusnya selalu orang kristen renungkan. Adalah satu misteri bahwa kita telah dipersatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya.
Paulus menjelaskan, "Bagaimana mungkin kamu sudah percaya tetapi masih hidup dalam dosa". Tidak mungkin. Orang Kristen yang sungguh-sungguh tidak hidup dalam dosa. Ia bisa saja jatuh dalam dosa tetapi tidak dikuasai oleh dosa karena sudah dibaptis dalam Kristus. Ada satu perubahan identitas di dalamnya. Ketika kita sudah dibaptis dalam Kristus artinya kita sudah dipersatukan dengan Kristus. Itulah sebabnya jika Allah ada di dalam kita dan kita di dalam Allah, kita berubah. Tidak mungkin kalau kita sudah dibaptis dalam Kristus tetapi hidup dalam manusia yang lama. Kasih Tuhan begitu besar dan tinggi sehingga Ia memberikan jalan bagi kita untuk hidup dalam keselamatan. Tidak lagi dikuasai oleh dosa. Kita sudah berpindah dari hidup lama kepada hidup yang baru. Ada perubahan ajaib yang terjadi.
Jangan ada orang yang mempermainkan Tuhan dengan mengatakan, “Aku diselamatkan Tuhan,” tetapi pada saat yang sama ia menyukai dosa. Kalau perubahan hanya berubah tempat, itu bukan perubahan yang sesungguhnya. Dulu tidak ke gereja, sekarang ke gereja. Dulu suka bolos kuliah, sekarang rajin kuliah. Dulu tidak pernah baca Alkitab, sekarang baca Alkitab. Ini bukan perubahan yang Tuhan kehendaki. Perubahan yang TUHAN kehendaki ialah supaya kita mengalami perubahan hidup yang esensial karena Kristus di dalam kita dan kita di dalam Kristus.
Kalau Kristus di dalam kita, bagaimana mungkin kita bisa berkata aku menikmati dosa? Paulus menyadari bahwa orang Kristen masih bisa jatuh dalam dosa. Kekuasaan dosa dalam diri kita memang telah dipatahkan oleh salib Kristus. Tetapi, bukan berarti dosa sudah kehilangan kuasanya sama sekali. Itulah sebabnya Paulus mengatakan supaya kita memandang kepada Kristus. Supaya ketika kita memperingati Jumat Agung, kita sadar Kristus telah mati dan kita dipersatukan dengan Dia dalam kematian-Nya. Tubuh dosa sudah kehilangan kuasa. Jangan dibohongi oleh dosa dan si jahat. Kematian Kristus sudah membayar semuanya. Dosa kita sudah ditinggal di kayu salib. Iblis dan tubuh masih bisa menggoda kita tetapi tidak bisa menguasai kita.
Persatuan Kaum Perempuan yang dikasihi Kristus
Hari ini, ketika salib diberitakan, Tuhan ingin kita mengerti betapa besarnya kasih-Nya bagi kita. Ia juga mengingatkan betapa kita sudah dipersatukan dengan Kristus sehingga tubuh dosa kita sebenarnya sudah hilang kuasanya. Kita bisa mengalahkan dosa itu dengan pertolongan Tuhan. Kita telah mati bagi dosa bagaimana mungkin kita masih hidup dalamnya. Tidak ada dosa yang telalu besar yang Allah tidak sanggup mengampuni.
Tuhan ingin kita datang seperti anak yang hilang itu; datang dengan kesadaran bahwa dirinya berdosa; datang bukan dengan kemunafikan tetapi dengan perasaan tidak layak. Tuhan datang bukan untuk orang yang benar tetapi untuk orang yang sakit. Salib diberikan kepada mereka yang mengaku dosa dan percaya kepada Tuhan. Maukah engkau datang kepada Tuhan? Jikalau kita tidak kembali kepada salib Kristus, kita menyangkal Dia. Hidup kita sia-sia. Kita tidak akan diubahkan.
Dalam keseluruhan perikop ini (6:1-14) Paulus membicarakan dampak kematian dan kebangkitan Kristus bagi perjuangan kita melawan dosa. Kematian dan kebangkitan Kristus memberikan pengharapan baru bagi pergumulan manusia melawan dosa. Memang, dosa masih tetap merupakan musuh besar kita. Namun, kini kita dapat menghadapinya dengan pengharapan yang baru, bukan dengan keputus-asaan. Apa yang telah dilakukan Kristus dan apa dampaknya bagi kita telah diungkapkan di ayat 1-11. Sekarang, dalam ayat 12-14 Paulus menguraikan apa yang harus kita lakukan sebagai bagian kita.
Mula-mula Paulus menjelaskan hubungan antara dosa, tubuh, dan keinginan (yang kemudian menghasilkan perbuatan dosa). Perbuatan dosa terjadi karena kita menuruti keinginan tubuh yang dikuasai oleh dosa. Dapatkah hal ini dicegah? Ya. Kata ”hendaklah” merupakan perintah bagi kita, dan itu berarti kita bisa ambil bagian dalam hal ini. Kematian dan kebangkitan Kristus telah membebaskan kita dari dosa. Namun, kematian dan kebangkitan Kristus tidak berdampak nyata alam hidup kita bila kita membiarkan dosa tetap merajalela dalam tubuh kita.
Persatuan Kaum Perempuan yang dikasihi Kristus
Metode melawan dosa bukanlah metode yang pasif. Agar tidak lagi menyerahkan diri kepada dosa, kita harus melakukan yang sebaliknya: menyerahkan diri kepada Allah. Paulus menyusun kalimat di ayat 13 dengan cara yang menarik. Anak kalimat ”menyerahkan diri anggota-anggota tubuhmu kepada dosa” merujuk pada sesuatu yang biasa kita lakukan di masa lalu, sedangkan anak kalimat ”serahkanlah dirimu kepada Allah” merujuk pada sebuah kebiasaan yang baru.
Subscribe to:
Posts (Atom)
YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)
WAHYU 1:1-8 PENDAHULUAN Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Ras...
-
MATIUS 19:23-26 SULIT BUKAN BERARTI TIDAK BISA Bahan Khotbah Ibadah PKP Kamis, 26 Juli 2018 Pendahuluan Kisah ini merupakan ...
-
YEREMIA 17:5-8 MENGANDALKAN TUHAN Bahan Khotbah Ibadah Minggu 29 Juli 2018 PENGANTAR (Latar Belakang Teks) Yeremia yang ...
-
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga Rabu, 24 OKTOBER 2018 PENGANTAR Mengapa kitab Musa yang kelima ini disebut dengan kitab...