Sunday, June 16, 2013

BAHAN RENUNGAN SEKTOR 19 JUNI 2013

ZAKHARIA 4:1-14

Pendahuluan
Penulis kitab ini adalah Zakharia. Sebutan "Zakharia" menunjuk kepada Zakharia anak dari Berekhya dan cucu dari Ido (1:1.7). Nama "Zakharia" adalah nama yang populer. Dalam Perjanjian Lama, ada sekitar 27-30 orang yang memakai nama "Zakharia". Sebutan "Zakharia" berarti Allah mengingat atau Allah telah mengingat. Nama "Zakharia" menjelaskan bahwa Allah mengingat umat-Nya dan Ia mengingat (setia terhadap) janji-Nya terhadap bangsa Israel. Mungkin nama ini mengungkapkan rasa syukur orang tua Zakharia karena mereka dikaruniai anak laki-laki. Seperti Yeremia dan Yehezkiel, Zakharia adalah seorang nabi sekaligus seorang imam (Nehemia 12:16). Ido (kakek Nehemia) juga seorang imam (Nehemia 12:1,4). Zakharia dilahirkan di Babel.

Saat orang Yahudi kembali ke Palestina di bawah pimpinan Zerubabel dan Imam Besar Yosua, dia ikut dengan kakeknya kembali ke Palestina. Bila yang dimaksud dengan "orang muda" dalam Zakharia 2:4 adalah Zakharia, maka berarti bahwa Zakharia dipanggil untuk bernubuat pada tahun 520/519 BC (sebelum Masehi), saat usianya masih muda.  

Telaah Perikop
Terdapat delapan penglihatan yang dialami oleh Zakharia mulai dari pasal 1-6 kitab ini. Khusus pasal 4:1-14 adalah penglihatan kelima berupa Kandil Emas yang berhiaskan dua pohon Zaitun. Ada tiga bagian dari perikop ini. Isi penglihatan disampaikan dalam ay.1-3. Penjelasan pertama, mengenai “semuanya”, terdapat dalam ay.4-7, dengan suatu komentar dalam aa.8-10. Penjelasan kedua, tentang kedua pohon zaitun, terdapat dalam ay.11-14. Isi dari penglihatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1.       Penglihatannya terjadi dalam keadaan yang mirip dengan tidur (ay.1). Yang dilihat Zakharia ialah sebuah kandil dengan empat puluh sembilan suluh, tersusun di atas tujuh pelita dengan tujuh corot masing-masing. Ketujuh pelita itu tersusun di atas tempat minyak, bahan bakarnya. Minyaknya dari pohon zaitun, yang disimbolkan dengan ukiran di sebelah kanan dan kiri.


2.       Zakharia langsung menanyakan arti dari penglihatan itu (ay.4). Penjelasan yang berikut berbicara tentang Zerubabel. Kuasa yang akan menjamin bahwa Zerubabel berhasil menyelesaikan pembangunan Bait Allah ialah roh Allah, bukan kemampuan Zerubabel (ay.6). Pada ayat 7a hal itu ditegaskan dengan suatu gambaran: gunung tidak mungkin diratakan oleh Zerubabel, tetapi akan menjadi tanah rata oleh karena kuasa Allah itu. Selanjutnya ayat 7b membayangkan sorak Israel ketika Bait Allah selesai lewat dipancangkannya batu utama.

Batu utama mungkin mirip fungsinya dengan baru peringatan pada gedung modern yang di atasnya tertulis tanggal dan tokoh yang meresmikan gedung itu. Kalau begitu, yang dinubuatkan dalam ay.7 itu adalah upacara peresmian Bait Allah. Pada zaman itu batu utama sering dilapisi dengan permata dan/atau logam mulia seperti emas.

Penglihatan itu menyangkut batu utama yang melambangkan penyelesaian Bait Allah. Sama seperti pelita bersumber pada minyak, terang yang dibawa oleh penyelesaian Bait Allah akan bersumber pada roh Allah melalui Zerubabel.

3.       Selanjutnya kita menemukan dalam ayat 8-10 suatu komentar terhadap penglihatan itu. Dijelaskan bahwa Zerubabel-lah yang akan menyelesaikan apa yang dulunya dia mulai (ay.9a). Hal itu akan membuktikan bahwa malaikat yang berbicara dengan Zerubabel memang adalah utusan Allah, sehingga Israel juga bisa percaya pada nubuatannya (ay.9b). Sikap orang yang menjadi tawar hati atau putus asa karena lamanya tidak ada perkembangan akan menemukan semangat baru (a.10a). Akhirnya, ketujuh mata yang diukir pada batu utama itu (jika tafsiran tadi tepat) menyimbolkan mata Tuhan (ay.10b). Tujuh adalah angka kelengkapan atau keseluruhan, dan mata Tuhan yang disimbolkan dengan tujuh itu melihat seluruh bumi. Tidak akan ada kejutan menggoyang rencana-Nya, Dia melihat semuanya.

4.       Pertanyaan untuk penjelasan kedua diulang dalam ay.12. Cairan emas merujuk pada minyak zaitun, dan sepertinya ada sistem penyaluran memakai pipa yang sekaligus merupakan bagian dari ukiran pohon zaitun itu, bahasanya tidak terlalu jelas. Hal itu mengaitkan kedua pohon zaitun itu sebagai penyambung pelita dengan minyak zaitun. Pada ay.14 bacaan kita mengungkapkan maknanya: kedua pohon adalah Yosua dan Zerubabel, karena baik imam maupun raja diurapi. Merekalah yang menjadi kunci sehingga kuasa roh Allah akan menghasilkan pembangunan Bait Allah.

Aplikasi dan Relevansi
Berdasarkan kisah yang ada dalam bacaan kita ini, maka ada beberapa hal pokok yang dapat kita relevansikan dalam hidup beriman kita, yakni:
1.       Zerubabel adalah tokoh yang akan membangun Bait Allah hingga selesai. Ia mendapatkan penguatan dalam aa.6-10, yaitu janji bahwa oleh kuasa roh Allah Zerubabel akan menyelesaikan Bait Allah. Janji ini itu tentu mau menguatkan Zerubabel, dan orang-orang Yehuda di bawah pimpinannya, untuk tetap bertekun dalam pembangunan itu. Namun, tekanan dalam ay.6 mengingatkan mereka bahwa sumber sukses bukan di dalam mereka melainkan oleh karena kuasa Allah.

Kitapun diingatkan bahwa disaat Tuhan menjanjikan sesuatu ia tidak akan pernah ingkar janji. Zerubabel wajib menjalankan tugas pembangunan itu dan Tuhan akan menyertainya. Masing2 kita memiliki tanggung-jawab untuk melaksanakan tugas dibidang masing-masing. Apabila kita berhasil, itu harusnya dipahami sebagai anugerah Tuhan dan bukan karena kita.

2.       Mengapa inti itu disampaikan melalui penglihatan yang kabur dan sulit ditafsir? Ay.5 & 13 memberi suatu petunjuk, ketika malaikat bertanya tentang ketidaktahuan si nabi. Hal itu menegaskan bahwa si nabi tidak sanggup menerobos ke dalam makna penglihatan itu sendiri. Yang dibicarakan adalah rencana Allah, dan hanya Allah yang tahu dan dapat memberitahunya.

Hal ini memberi arti kepada kita bahwa tidak semua rencana Tuhan dapat kita selami dengan mudah. Banyak hal yang masih menjadi rahasia bagi kita namun semua telah sangat indah direncanakan TUHAN. Sebagaimana Zakharia membutuhkan malaikat untuk jelaskan penglihatan itu, demikian juga kita membutuhkan Roh Kudus untuk mengerti kehendak dan rencana Tuhan bagi kita. Amin




BAHAN RENUNGAN PKP 18 JUNI 2013

ZAKHARIA 2:1-5 (bacaan pagi)

Pendahuluan
Tembok Besar Cina mulai didirikan pada abad ke-3 SM. Tembok yang kerap disebut sebagai "keajaiban dunia kedelapan" itu memiliki panjang sekitar 1.500 mil (2.400 kilometer). Tembok Besar tersebut dibangun untuk melindungi rakyat dari serbuan mendadak para pengembara dan menjaga mereka dari penyerangan yang dilakukan oleh negara-negara musuh. Bacaan kita hari ini berbicara juga tentang pembangunan tembok dan kota Yerusalem pasca pembuangan di Babel. Waktu itu, masih sangat sedikit orang yang kembali dari pembuangan, sehingga Yerusalem belum dapat dibangun kembali. Kota itu masih berupa puing-puing,

Dalam kondisi inilah Nabi Zakharia menerima penglihatan dari TUHAN tentang bagaimana nantinya TUHAN, Allah Israel akan terlibat dalam pemulihan umatNya yang mengalami penderitaan karena pembuangan akibat dosa kesalahan dan hukuman yang diberikan TUHAN bagi mereka.

Telaah Perikop
Sebutan "Zakharia" menunjuk kepada Zakharia anak dari Berekhya dan cucu dari Ido (1:1.7). Nama "Zakharia" adalah nama yang populer. Dalam Perjanjian Lama, ada sekitar 27-30 orang yang memakai nama "Zakharia". Sebutan "Zakharia" berarti Allah mengingat atau Allah telah mengingat. Nama "Zakharia" menjelaskan bahwa Allah mengingat umat-Nya dan Ia mengingat (setia terhadap) janji-Nya terhadap bangsa Israel. Mungkin nama ini mengungkapkan rasa syukur orang tua Zakharia karena mereka dikaruniai anak laki-laki. Seperti Yeremia dan Yehezkiel, Zakharia adalah seorang nabi sekaligus seorang imam (Nehemia 12:16). Ido (kakek Nehemia) juga seorang imam (Nehemia 12:1,4). Zakharia dilahirkan di Babel.

Saat orang Yahudi kembali ke Palestina di bawah pimpinan Zerubabel dan Imam Besar Yosua, dia ikut dengan kakeknya kembali ke Palestina. Bila yang dimaksud dengan "orang muda" dalam Zakharia 2:4 adalah Zakharia, maka berarti bahwa Zakharia dipanggil untuk bernubuat pada tahun 520/519 BC (sebelum Masehi), saat usianya masih muda. 

Terdapat delapan penglihatan yang dialami oleh Zakharia mulai dari pasal 1-6 kitab ini. Khusus pasal 2:1-5 adalah penglihatan ketiga tentang: “Seorang Yang Sedang Memegang Tali Ukur”. Isi dari penglihatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.      Pada ayat 1-2, Zakharia melihat ada seorang malaikat yang sedang memegang tali pengukur. Tujuan dari malaikat pemegang tali pengukur itu hadir adalah untuk mendapatkan ukuran panjang dan lebar dari kota Yerusalem yang hancur tersebut. Penglihatan ini memberi makna penting bagi Zakharia yang saat itu sedang berada di tengah reruntuhan Yerusalem ketika ia dan kakeknya kembali dari pembuangan. Bagi Israel dan Zakharia, penglihatan itu memberikan suatu harapan bahwa Kota Yerusalem yang akan diukur berarti itu akan segera dibangun, sebagaimana halnya dalam Yeh 41:13.

Hadirnya malaikat Tuhan yang turun tangan mengukur dan memulai persiapan pembangunan itu, hendak menyatakan bahwa TUHAN akan terlibat langsung  dalam pembangunan itu. Penglihatan ini juga memberikan makna bahwa Allah memberikan semangat kepada mereka untuk terus bekerja dan berusaha memulihkan Yerusalem karena DIA sendiri menyertai umatNya itu.

2.      Perhatikan ayat 3-5 bacaan kita. Terdapat kontradiksi antara ayat 1-2 dengan ayat 3-5 pada perikop ini. Pada ayat 1-2 pembangunan Yerusalem dan terutama temboknya akan segera dimulai. Namun justru pada ayat 3-4 kita menemukan bahwa malaikat TUHAN menubuatkan bahwa Yerusalem itu tidak akan didirikan tembok dan dibiarkan seperti padang terbuka. Bagaimanakah hal ini dipahami?

Penglihatan pada bagian ini membicarakan kota Yerusalem namun dengan kondisi waktu yang berbeda. Ayat 1-2 memberikan penguatan untuk pembangunan ulang kota Yerusalem di Palestina pada zaman Zakharia yaitu Yerusalem lama. Namun pada ayat 3-4 membicarakan tentang Yerusalem baru yakni Yerusalem di masa kerajaan 1000 tahun, ketika kota ini tidak akan bertembok lagi dan penuh sesak dengan orang banyak. Jadi ada dua Yerusalem yang disebutkan secara bersamaan dalam perikop ini.

Itulah sebabnya dalam ayat 5 bacaan kita menegaskan bahwa TUHAN, Allah Israel sendirilah yang akan mejadi Tembok Berapi yang mengelilingi dan memagari Yerusalem. Walaupun janji ini berbicara tentang Yerusalem baru, namun juga memberikan makna yang penting bahwa Israel di masa Zakharia pun akan menjadi tempat kediaman umat yang dilindungi oleh TUHAN bagaikan tembok berapi itu.

Relevansi dan Aplikasi
Berdasarkan kisah yang ada dalam bacaan kita ini, maka ada beberapa hal pokok yang dapat kita relevansikan dalam hidup beriman kita, yakni:
1.      Setiap hal yang kita alami dan jalani dalam hidup ini telah disiapkan dan direncanakan oleh TUHAN. Entah hal itu kelihatannya baik maupun kelihatannya buruk. Pemulihan pasti terjadi. Pada ayat 1-2 janji TUHAN akan memulihkan umat TUHAN melalui pembangunan kota dan tembok Yerusalem setelah mereka selesai menjalani penghukuman akibat dosa dan kejahatan mereka. Dengan ini pun kita harus mengimani bahwa TUHAN maha pengampun dan tidak selamanya menghukum umatNya. Ia akan memulihkan setiap pribadi yang mengalami kegagalan hidup karena dosa dan kesalahan. Sudah pasti, dibalik murka TUHAN akan ada pengampunan dari TUHAN.

2.      Jika di kota-kota besar di Indonesia mengalami masalah dengan padatnya penduduk, maka pada penglihatan ke tiga Zakharia, kita diperhadapkan pada sesuatu hal yang berbeda. Zakharia melihat dalam penglihatannya ada seorang pemuda  berlari untuk mengukur panjang dan lebarnya kota Yerusalem dengan menggunakan tali pengukur, tetapi kemudian dihentikan oleh seorang malaikat yang mengatakan bahwa Yeruselem akan menjadi seperti padang yang terbuka. Perkataan malaikat ini berarti Yerusalem yang akan dibangun kembali bukanlah sebuah kota yang sempit dan terbatas seperti kota Yerusalem sebelumnya, melainkan sebuah kota yang besar dan megah yang mampu menampung berapapun banyaknya manusia (lih zak 2: 4). Dan kota itu di jaga oleh Allah sendiri sehingga menjadi sebuah kota yang benar-benar aman dari segala musuh-musuh dan Allah akan dimuliakan di dalam kota tersebut (Zak 2:5).

Di bagian lainnya nast ini mengingatkan kita pada penglihatan Yohanes di kitab Wahyu tentang Yerusalem Baru sebagai kota kudus…”kota itu penuh dengan kemulian Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah….”(Why 21:11). Dan sesuatu hal yang menarik tentang kota Yerusalem Baru bahwa tidak ada Bait Suci di dalamnya, sebab Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Bait Suci-Nya (lih. Why 21:22) orang-orang dapat langsung menyembah dan memuliakan-Nya (bnd Zak 2:5). Mereka yang akan tinggal di kota tersebut adalah orang-orang percaya dan yang telah melakukan firman-Nya. Istilah lain untuk mereka yang tinggal di Yerusalem Baru adalah para mempelai-Nya atau anak-anak Allah, yang berarti mereka yang benar-benar memiliki hubungan yang sangat dekat yang dapat menjadi keluarga Allah. Jika keadaannya seperti itu, siapakan di antara kita yang tidak menghendaki kota yang seperti ini? Siapakah yang tidak ingin akan adanya suatu jaminan kesejahteraan dan keamanan? Sebuah kota yang indah, sebuah kota idaman!? Semua manusia pasti mengingininya. Kiranya kita kelak pun akan Yerusalem Baru itu apabila hidup kita berkenan kepadanya selalu. Amin.


BAHAN RENUNGAN PKB 17 JUNI 2013

ZAKHARIA 1:7-17 (bacaan pagi)

Pendahuluan
Penulis kitab ini adalah Zakharia. Sebutan "Zakharia" menunjuk kepada Zakharia anak dari Berekhya dan cucu dari Ido (1:1.7). Nama "Zakharia" adalah nama yang populer. Dalam Perjanjian Lama, ada sekitar 27-30 orang yang memakai nama "Zakharia". Sebutan "Zakharia" berarti Allah mengingat atau Allah telah mengingat. Nama "Zakharia" menjelaskan bahwa Allah mengingat umat-Nya dan Ia mengingat (setia terhadap) janji-Nya terhadap bangsa Israel. Mungkin nama ini mengungkapkan rasa syukur orang tua Zakharia karena mereka dikaruniai anak laki-laki. Seperti Yeremia dan Yehezkiel, Zakharia adalah seorang nabi sekaligus seorang imam (Nehemia 12:16). Ido (kakek Nehemia) juga seorang imam (Nehemia 12:1,4). Zakharia dilahirkan di Babel.

Saat orang Yahudi kembali ke Palestina di bawah pimpinan Zerubabel dan Imam Besar Yosua, dia ikut dengan kakeknya kembali ke Palestina. Bila yang dimaksud dengan "orang muda" dalam Zakharia 2:4 adalah Zakharia, maka berarti bahwa Zakharia dipanggil untuk bernubuat pada tahun 520/519 BC (sebelum Masehi), saat usianya masih muda.

Telaah Perikop
Pada tahun 519 bulan Syebat di hari kedua itu yakni pada masa pemerintahan Raja Darius, Nabi Zakharia mendapatkan penglihatan tentang sesuatu yang terjadi pada masa yang akan datang pada kehidupan umat percaya. Isi penglihatan itu adalah sebagai berikut:

1.      Pada ayat 7-10, nabi Zakharia melihat ada seorang penunggang kuda yakni malaikat TUHAN yang menggunakan kuda merah. Dibelakang kuda merah itu ada juga malaikat2 pengintai yang mengunakan kuda-kuda berwarna. merah, warna putih dan warna merah jambu. Dalam kitab2 eskatologis seperti Daniel dan Wahyu, penyebutan warna tertentu memiliki arti penting. Itu berarti tiap warna kuda yang dilihat oleh Zakharia memiliki maksud dan makna. Warna Merah berarti pertempuran dan pertumpahan darah (bd. Wyh.6:4); Warna Putih melukiskan tentang kemenangan dan damai (bd. Wahyu 6:2); Warna Merah Jambu melukiskan akibat negatif dari peperangan dan pemusnahan-pemusnahan itu yang membingungkan banyak orang (bd. Why. 6:5-8).

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa pada saat kedepan akan terjadi peprangan di persia yang disusul oleh perdamaian dan kemudian dampak kehancuran. Jika kita membaca sejarah Raja Darius di Persia maka nubutan ini akhirnya digenapi. Bahwa terjadi pemberontakan pada jaman persia dengan banyaknya pertumpahan darah; namun hanya terjadi perdamaian sementara waktu itu dengan menyisakkan banyak dampak negatif sesudah pertempuran.

2.      Selanjutnya pada ayat 11-12 menunjukkan bahwa para pengintai sorgawi itu menyampaikan tentang kondisi kerajaan Persia yang menahan orang Israel di pembuangan masih aman dan damai. Itulah sebabnya pada ayat 12, para pengintai sorgawi itu bertanya kepada Tuhan tentang kondisi damai kerajaan kafir itu dan mengapa Tuhan membiarkan umat terbuang di sana dan seakan tidak menyanyangi Yerusalem yang telah porak-poranda tersebut.

3.      Pada ayat 13-17 kita menemukan jawaban TUHAN dan sikap TUHAN terhadap kondisi umatNya yang sebagian masih dalam buangan dan sebagian lagi sudah kembali. Ada dua hal penting yang disampaikan Tuhan kepada Zakharia melalui Malaikat Tuhan, yakni:

Pertama, Perhatikan ayat 14-15. Penderitaan yang dialami oleh umat saat ini sebagai bagian dari murka TUHAN kepada umatNya. Itulah sebabnya Ia menggunakan bangsa-bangsa Kafir seperti Babel dan Persia untuk menghukum umatNya itu (ay.15). Namun menurut TUHAN bangsa2 yang dipakai TUHAN itu juga sudah kelewatan batas. Tuhan hanya murka sedikit kepada Israel, namun bangsa2 kafir itu telah melakukan kejahatan yang lebih besar kepada umatNya.
Kedua, itulah sebabnya pada ayat 16-17 Tuhan menjanjikan pemulihan kepada umatNya. Ia akan kembali menyayangi Yerusalem dan akan memulihkan keadaan Yerusalem. Sebagai tanda dan bukti keseriusan Tuhan adalah dubangunnya kembali Bait Suci yang hancur itu dan kota Sion akan berlimpah dengan damaisejahtera dan kebajikan dari TUHAN.

Aplikasi dan Relevansi
Berdasarkan kisah yang ada dalam bacaan kita ini, maka ada beberapa hal pokok yang dapat kita relevansikan dalam hidup beriman kita, yakni:

1.      Setiap hal yang kita alami dan jalani dalam hidup ini telah disiapkan dan direncanakan oleh TUHAN. Entah hal itu kelihatannya baik maupun kelihatannya buruk. Hal ini pula yang dinyatakan malaikat Tuhan kepada Zakharia untuk memahami arti pembuangan dan penghukuman umat Tuhan tersebut. Bahwa ternyata kejahatan Babel dan Persia yang menganiaya umat TUHAN sengaja diijinkan Tuhan untuk terjadi bagi umat sebagai bentuk penghukuman.

Dengan demikian kita wajib merenungkan ulang kondisi Israel ini sebagai bahan yang mungkin berhubungan dengan kehidupan kita. Bahwa adalah mungkin kita mengalami keburukan hidup akibat kejahatan orang lain, bukanlah suatu kebetulan. Tuhan  bisa saja menggunakan kejahatan orang lain untuk menyadarkan umatNya dari kesalahan dan dosa.

2.      Namun seperti pada ayat 15 kitapun perlu juga mengimani bahwa TUHAN tidak menutup mata terhadap kejahatan itu. Tuhan itu adil dan benar. Ia tidak akan membiarkan umatNya menerima kejahatan tanpa ada pembalasan dari TUHAN. Hal ini menunjukkan bahwa TUHAN tidak akan membiarkan umatNya mengalami ketidakadilan itu. Ia pasti membalas tiap kejahatan terhadap umat TUHAN.

3.      Pemulihan pasti terjadi. Pada ayat 16-17 janji TUHAN akan memulihkan umat TUHAN. Dengan ini pun kita harus mengimani bahwa TUHAN maha pengampun dan tidak selamanya menghukum umatNya. Ia akan memulihkan setiap pribadi yang mengalami kegagalan hidup karena dosa dan kesalahan. Sudah pasti, dibalik murka TUHAN akan ada pengampunan dari TUHAN. Amin.








   


Sunday, June 9, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 12 JUNI 2013



I PETRUS 2:13-15

PENGANTAR
Surat Petrus Yang Pertama ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil. Mereka disebut "umat pilihan Allah". Maksud utama surat ini ialah untuk menguatkan iman para pembacanya yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Petrus mengingatkan para pembacanya akan Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang merupakan jaminan harapan mereka. Sebab, Yesus Kristus sudah mati, hidup kembali dan berjanji akan datang lagi.

Para penerima surat 1 Petrus ini, hidup dalam masa-masa sukar. Mereka ada di zaman sulit. Saat dimana Kekristenan alami penganiayaan. Dibenci oleh Nero, sang penguasa. Tentu saja, bagi yang memiliki mentalitas cari aman, pilihan mengikuti jejak Yesus, bukanlah keputusan cerdas. Mereka akan memilih menolak salib, sebab itu derita. Terhadap yang setia beriman, namun minim pemahaman, Petrus bukan saja mencerdaskan, namun juga menguatkan melalui suratnya ini.

TAFSIRAN (uraian teks)
Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan 1:1-2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13-3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Himbauan berkelakuan baik di tengah-tengah masyarakat non-Yahudi dan ditengah penimdasan para penguasa yang lalim diserukan oleh Petrus melalui bacaan ini ketika umat menghadapi penderitaan. Merka harus sedapat mungkin mengembangkan sikap hidup yang baik sebagai umat yang percaya di tengah masyarakat yang tidak percaya. Mereka di minta supaya tulus hati mengindahkan lembaga penguasa yg sah; supaya hamba-hamba di bawah tuan yg baik hati ataupun jahat tetap melakukan kewajibannya dengan meneladani Kristus; supaya suami isteri saling mengasihi; supaya tetap bersatu hati; cinta kasih, lemah lembut, rendah hati, bertumbuh menuju dambaan

Perhatikan ayat sebelumnya dalam bacaan kita yakni bacaan SBU pagi kususnya ayat 12. Perus menganjurkan agar umat Tuhan tetap mempraktekkan “cara hidup yang baik”. Anjuran yang sama berulang kali diketengahkan dalam ayat-ayat  berikutnya (2:15; 2:20; 3:6, 11, 13). Dengan melakukan ini, mereka menjadi kudus … sama seperti Dia yang kudus” (1:15). Sekaligus mereka menyatakan bahwa mereka memang berada di dunia ini, tetapi “bukan dari dunia” ini (Yoh 17:115-16). Dengan memiliki cara hidup yang baik, mereka mencerminkan karakter Allah. Apa tujuannya? Supaya Tuhan tetap dimuliakan, dan kelak nanti mereka yang mencerca orang percaya akan sadar dan turut memuliakan Allah juga.

Selanjutnya, sangat mengejutkan bahwa Petrus meminta umat untuk tunduk kepada pemerintah dan wali-wali di masa itu (ay.13-14). Padahal sudah dapat dipastikan bahwa mereka sangat kecam menganiaya gereja Tuhan. Pertanyaannya adalah: Apakah kita harus selalu tunduk? Perlu diingat bahwa ini adalah suatu prinsip dan/atau patokan. Bukan suatu aturan yang ketat! Petrus sendiri pernah memberi suatu contoh, yakni ketika ia dan para  rasul lainnya dilarang keras oleh Mahkamah Agama untuk mengajar “dalam Nama [Yesus] itu”. Maka Petrus dan para rasul lainnya menjawab, katanya “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kis 5:29). Pendek kata, kita harus patuh kepada Firman dan Roh Allah, bukan kepada para penguasa .

Ketaatan orang Kristen tidak didasarkan pada alasan ketakutan ataupun alasan menghindarkan hukuman-hukuman yang menjadi ancaman dari pihak pemerintah. Sebaliknya orang Kristen mengakui penguasa-penguasa negara, karena ia sendiri merasa bertanggung-jawab terhadap para penguasa tersebut; sebab bersama-sama dengan penguasa-penguasa itu, orang-orang Kristen pun mengetahui kehendak Allah itu melalui suara hati (“pengetahuan bersama”, Rm 13:5). Berdasarkan rasa tanggung jawab itu misalnya, orang Kristen pun membayar pajak. Intinya, orang yang berbuat baik tidak usah takut kepada pemerintah. Di samping itu ada dukungan dari 1 Petrus 2:17, di mana rasa takut hanya di khususkan untuk relasi manusia dengan Allah saja.

Pengertian ayat 13 dan 14 ini kita dapatkan pada ayat 17 surat 1 Petrus 2. Ia menegaskan bahwa bukan pemerintah itu yang harus ditakuti, melainkan Allah saja. Sedangkan yang patut dihormati (serasi dengan 1 Petrus 2:17a) ialah semua orang, termasuk Kaisar. Dengan demikian terciptalah suatu jarak tertentu antara orang Kristen dengan pemerintah, namun demikian kepada pemerintah tetap patut diberi respek dan hormat, sama seperti kepada semua orang lain. artinya orang Kristen hanya boleh takut dan gentar kepada Allah namun jangan pernah tidak hormat kepada pemerintah. Namun jika pemerintah keliru dan salah, orang percaya harus memilih lebih taat kepada Allah daripada ke manusia atau pemerintah yang jahat itu.

Selanjutnya Petrus menjelaskan alasan mengapa harus terus berbuat baik kepada orang-orang jahat yang membuat umat menderita. Dalam ayat 15 Petrus menyebut dengan gamblang tujuan perbuatan baik itu, yakni untuk membungkamkan kepicikan mereka itu. Dengan kata lain, berbuat baik kepada orang jahat bukan berarti sebagai tanda “mengalah” dan membiarkan kejahatan mereka. Namun menurut Petrus, perbuatan baik adalah alat dan sarana untuk memperjuangkan kebenaran dan membungkamkan kejahatan. Dengan tegas sebenarnya Petrus ingin mengutarakan bahwa kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan. Namun lawanlah kejahatan itu dengan kebaikan. Sebab itulah panggilan orang percaya yakni berani tampil beda di tengah kondisi sulit itu.

APLIKASI DAN RELEVANSI (penerapan dalam hidup sehari-hari)
Silakan baca galian Teks atau Tafsiran di atas. Lalu hubungkan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana Firman ini harus dilakukan.

SELAMAT MENYIAPKAN PELAYANAN SAUDARA

Friday, May 10, 2013

BAHAN RENUNGAN MINGGU 12 MEI 2013

EFESUS 1:3-14

Jemaat Kekasih Kristus....
Dalam kekristenan kita sering mendengar istilah berkat. Istilah ini, jika dibicarakan, selalu dianggap berhubungan dengan kekayaan, kehormatan, keuangan dan berbagai keberhasilan hidup. Bacaan kita hari ini juga menyinggung tentang berkat. Namun Rasul Paulus tidak berbicara tentang berkat dalam pengertian bendawi atau jasmani, melainkan berkat dalam hubungannya dengan hal-hal rohani ketika percaya kepada Yesus Kristus.

Apa sajakah berkat-berkat itu? Dan bagaimanakah caranya seseorang itu memperoleh berkat rohani tersebut? Paulus dengan panjang dan jelas menguraikan minimal ada 5 (lima) jenis berkat rohani yang disediakan Allah bagi umatNya yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Berkat-berkat Rohani dimaksud adalah sebagai berikut:

1.      Kekudusan (ay. 4)
Istilah Kudus dalam Perjanjian Lama memiliki dua pengertian yakni: menyendirikan dan membuat cemerlang.  Istilah ini berasal dari bahasa Ibrani qdsy. Itu berarti istilah menguduskan di sini menunjuk pada reposisi atau memposisikan seseorang dan juga berarti mengubah status seeorang. Istilah ini juga berarti membuat seseorang itu menjadi cemerlang atau bersih dan suci.

Dari istilah ini dapat kita simpulkan bahwa ketika Allah menguduskan umatNya berarti juga bahwa Allah bukan hanya menyucikan dan mebersihkan kita hingga tak percacat, namun justru memindahkan posisi kita dan memisahkan kita dari kelompok yang lain sehingga kita dibedakan dari mereka yang tidak percaya. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Allah membuat kita berbeda status dari orang lain.

Bagaimana caranya? Lihat ayat 4 bacaan kita!  Kita menjadi kudus karena Allah memillih kita dari semua. Betapa hal ini menjadi berita baik. Kita tidak pernah mencalonkan diri. Tapi Allah dengan sengaja memilih kita dari sekian banyak orang. Kitalah yang terpilih.

Ini disebut dengan istilah Predistinasi. Istilah ini berarti ditentukan dari semula untuk diselamatkan. Sejak semula Allah telah menentukan dan memilih kita menjadi pribadi yang berbeda. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan status dari yang tidak layak menjadi kudus dan layak. Pemilihan Allah atau predistinasi ini merupakan doktrin yang penting bagi Rasul Paulus. Pemilihan (Yun: eklego) ini menunjuk pada terpilihnya suatu umat dalam Kristus oleh Allah supaya mereka kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya (bd. 2Tes. 2:13).  Paulus memandang pemilihan ini sebagai ungkapan kasih Allah ketika Allah menerima semua orang (walau tidak layak), yang menerima Yesus Kristus, menjadi umat pilihanNya. Jadi jelaslah bagi kita bahwa mereka yang dipilih untuk dikuduskan adalah mereka yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

2.      Menjadi Anak Allah (ay. 5)
Anugerah sebagai berkat Rohani selanjutnya bagi orang percaya, menurut Paulus, adalah menjadi anak Allah. Dengan kata lain bahwa Allah bersedia menjadi Bapa kita.  Menjadi anak Allah adalah hak istimewa terbesar dari keselamatan kita (Yoh.1:12; Gal.4:7) yang sekaligus merupakan landasan iman kita kepada Allah (Mat.6:25-34).

Menjadi anak-anak Allah sangatlah penting. Sebab sebagai anak-anak Allah kita menjadi ahli waris Allah bersama-sama dengan Anak Tunggal-Nya yakni Yesus Kristus (Rm.8:16-17).  Menjadi anak Allah membuat kita berhak, atas dorongan Roh Kudus, untuk berseru kepadaNya sebagai anak dan memanggilNya “Ya Abba, Ya Bapa (Gal.6:4). Tujuan akhir Allah menjadikan kita sebagai anan-anakNya bukan saja untuk keselamatan kita, melainkan juga menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (Rm.8:29).

Bagaimanakah proses menjadi anak-anak Allah itu terjadi untuk kita? Perhatikanlah ayat 5 bacaan kita! Kalimat “oleh Yesus Kristus” merupakan penekanan yang penting. Bahwa menjadi anak-anak Allah harus terjadi melalui Yesus Kristus. Mereka yang percaya dan beriman kepada Yesus Kristus sajalah yang dapat mengalami perubahan status dari anak-anak dunia menjadi anak-anak Allah.

3.      Penebusan dan Pengampunan Dosa (ay. 7)
Penebusan dan pengampunan haruslah dipandang sebagai satu kesatuan menyeluruh dalam karya keselamatan. Keselamatan tidak hanya terjadi lewat penebusan. Tidak juga hanya terjadi melalui pengampunan. Sebab tanpa pengampunan maka penebusan tidak mungkin hasilkan keselamatan. Demikian juga tanpa penbusan maka pengampunan tidak mungkin hasilkan keselamatan. Mengapa demikian? Kita perlu memahami konsep menebus ini dalam budaya Yudaisme untuk mengerti dengan benar proses keselamatan kita.

Istilah Menebus dari bahasa Ibrani qa’al yang berarti membayarkan sesuatu untuk jaminan tertentu. Dalam tradisi Ibrani, qa’al ini adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan cara membayarkan sesuatu kepada orang lain supaya sanaknya dapat ditebus. Dengan demikian, si penebus harus masih memiliki hubungan keluarga dan mampu membayar nilai tebusan.

Itulah sebabnya sebelum mendapat berkat Rohani berupa penebusan yang dilakukan Allah, maka yang ditebus harus memiliki hubungan keluarga. Dalam hal ini Allah memberi berkat Rohani menjadi anak-anakNya dulu (keluarga Allah) supaya qa’al dapat dilakukan. Lalu bagaimana dengan nilai atau harga penebusan? Harganya telah lunas dibayar melalui Yesus Kristus (1Kor.6:10). Setelah Allah menebus umatnya sehingga kita menjadi milikNya, maka bukankah Ia bebas melakukan apapun terhadap milikNya itu? (Mat.20:15). Apa yang dilakukan Allah terhadap milikNya tersebut? Dia mengampuni milikNya dari segala dosa mereka. Saat itulah keselamatan terjadi!

Perhatikanlah bahwa pernan Yesus Kristus lagi-lagi menjadi sentral atau pusat dalam karya keselamatan tersebut. Keselamatan adalah anugerah Allah yang Cuma-Cuma namun harus melalui pengorbana Yesus Kristus yang mahal hargaNya. Mereka yang ingin selamat harus berharap pada anugerah itu dan percaya pada Yesus Kristus yang menjadi “alat bayar” penebusan.

4.      Pengetahuan Rencana Allah (ay. 9)
Pengetahuan rencana Allah yang dimaksud Paulus sangatlah sulit dimengerti. Namun apabila kita menelusuri ayat 9 hingga ayat 11, maka menjadi teranglah bahwa kelaknanti semua ankan tergenapi semua rencana Allah yang masih rahasia namun telah diungkapkan secara inplisit dalam ayat 9-11 itu. Rencana Allah dimaksud adalah menyatunya seluruh alam semesta ini  dengan sorga di dalam Yesus Kristus. Artinya, kelak nanti dunia akan melihat bahwa Yesus Kristus adalah pusat dan kepala bagi jagad alam ini.

5.      Hadirnya Roh Kudus (ay. 13-14)
Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus selanjutnya akan beroleh Roh Kudus sebagai anugerah atau berkat Rohani. Fungsi Roh kudus ini menuntun umat menuju pada kesempurnaan kelak yakni keselamatan seutuhnya dan menjadikan kita sungguh-sungguh milikNya  kelak di sorga nanti (ay.14).

Bagian ini menunjuk pada fungsi Roh Kudus sebagai Penolong agar orang percaya tetap teguh iman kepada Yesus Kristus, mengarahkan dan penuntun hidup umat percaya agar tidak “kehilangan” anugerah keselamatan yang diberikan secara cuma-suma itu.  Tanpa Roh Kudus membimbing, maka sangat mungkin umat percaya kehilangan arah dan keluar dari  lingkaran anugerah keselamatan tersebut.

Peran Roh Kudus ini sangatlah penting dalam karya keselamatan. Roh kudus memetraikan kita dalam perjanjian keselamatan, yang nantinya pula menjadi jaminan keselamatan seutuhnya di dalam Kristus. Artinya, orang yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus.

Jemaat Tuhan....
Kita telah diselamatkan oleh Allah. Di dalamnya kita beroleh pengudusan yang memungkinkan kita menjadi anak-anakNya. Dengan menjadi anak-anakNya, maka Allah berhak menebus kita sebagai anggota keluarga Allah dan memperoleh pengampunan. Sebagai anak-anak Allah kitapun dibukakan suatu rahasia bahwa kelak nanti semuanya akan terbukti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang menjadi pusat kosmos ini. Artinya iman kita tidak salah pilih. Kelak nanti akan terbukti bahwa kitalah umat yang dimenangkan oleh kuasa kasih karunianya.

Batapa bahagianya kita dapat beroleh semua anugerah itu. Tidak semua orang dapat mengalami hal ini. Karena itu janganlah meninggalkan karunia keselamatan itu. Tetaplah menjadi pribadi yang telah diselamatkan. Jangan pernah murtad dan menyia-nyiakan anygerah yang sudah Tuhan berikan.

Karena itu, apa yang harus kita lakukan. Perhatikanlah bahwa semuanya harus bermuara pada puji-pujian bagi kemuliaan Allah. Kalimat puji-pujian itu muncul 4 kali dalam bacaan kita (ay. 3,6,12,14) untuk menunjuk bahwa umat yang telah diselamatkan adalah umat yang selalu memuliakan namaNya. Kita tidak diminta melakukan apapun selain memuji dan memuliakan namaNya. Karena itu muliakanlah Tuhan selalu dan tetaplah hidup dalam keselamatan itu. Amin.


Friday, April 19, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH MINGGU 21 APRIL 2013


ULANGAN 16:1-4

Jemaat Tuhan,...
Kitab Ulangan merupakan kitab terakhir dari kitab-kitab Musa yang biasa disebut dengan Pentateukh (latin: 5 kitab/5 wadah/5 gulungan). Itu berarti Kitab Musa tediri dari lima kitab. Lima kitab dimaksud adalah: Kejadian, keluaran, imamat, bilangan dan ulangan.

Mengapa kitab kelima ini disebut dengan kitab Ulangan? Nama asli Ibrani dari kitab ini  adalah ‘elleh haddebarim yang berarti “Inilah perkataan-perkataan” atau, lebih sederhana, debarim (“perkataan-perkataan; lih. 1:1). Selanjutnya ketika lima kitab Musa ini ditersemahkan ke dalam bahasa Yunani, kelima kitab ini kemudian disebut dengan istilah Septuaginta.

Dalam kitab Septuaginta atau biasa disimbolkan dengan LXX, kitab ini disebut dengan istilah to deuteronomion touto yang berarti “pemberian hukum yang kedua ini” yang diambil dari Ulangan 17:18. Penggunaan istilah “pemberian hukum yang kedua ini” didasari bahwa isi dari kitab ini adalah “Pengulangan” dari hukum2 yang sudah disampaikan Musa sebelumnya. Itulah sebabnya nama kitab Musa yang kelima ini dalam terjemahan Indonesia disebut sebagai Kitab Ulangan.

Kitab Ulangan berisi tentang pidato Musa ketika bangsa Israel sedang berada di wilayah Moab, di daerah di mana Sungai Yordan mengalir ke Laut Mati (1:5). Sebagai tindakan akhir melimpahkan kepemimpinannya kepada Yosua, ia memberikan kata-kata perpisahannya yang begitu emosional kepada bangsa Israel untuk mempersiapkan mereka masuk ke Kanaan. Penekanan rohani kitab ini adalah panggilan untuk berkomitmen total kepada Allah dalam ibadah dan ketaatan.

Dengan kata lain kitab ini merupakan nasehat Musa yang mengulang kembali kisah perjalanan umat selama 40 tahun di padang gurun dan mengingatkan mereka segala ketetapan –peraturan – hukum TUHAN, Allah Israel supaya mereka tidak melupakan Firman dan kisah perjalanan mereka bersama TUHAN ketika sebentar lagi memasuki Tanah Perjanjian yakni Negeri Kanaan.

Jemaat Tuhan,...
Bacaan kita hari ini yakni Ulangan 16:1-4 berisi tentang upaya Musa untuk mengingatkan Israel agar mereka tetap merayakan Paskah ketika nanti mereka memasuki Tanah Perjanjian atau tanah Kanaan. Bagaimanakah cara umat Israel merayakan Paskah itu? Dengan sangat detail Musa menyampaikan tahap demi tahap perayaan Paskah itu harus dilakukan. Dalam bacaan kita, minimal ada 4 poin utama tetang bagaimana tata cara hari raya Paskah itu harus dilakukan, yakni:
1.      Kapan dilaksanakan?
Menurut ayat 1 bacaan kita, hari raya Paskah harus dilaksanakan pada bulan Abib. Namun dalam kitab Bilangan 9:1-5 kita menemukan bahwa Tuhan memerintahkan agar Paskah dirayakan pada bulan Nisan tanggal 14 atau hari yang ke-14. Mengapa nama bulan ini berbeda? Apakah Musa menggantikan waktu pelaksanaan?

Bulan Abib maupun bulan Nisan jatuh pada musim yang sama. Abib berarti gandum menguning; Nisan berarti musim semi. Baik bulan Abib maupun bulan Nisan sama-sama jatuh pada bulan Maret-April sesuai penanggalan moderen dan keduanya berada pada musin yang sama, yakni musim semi, musim panen jelai dan panen rami. Itulah sebabnya orang Kristen merasayakan paskah disekitar bulam Maret hingga bulan April.

2.      Apa yang dilakukan dalam perayaan itu?
Menarik untuk ditelusuri bahwa perayaan Paskah dilakukan dan dihubungkan erat dengan Hari raya Roti tidak beragi (ayat 2 dan 3). Hari raya Paskah dilakukan pada tanggal 14 sedangkan hari raya Roti Tidak beragi dirayakan keesokan harinya yakni pada hari ke-15 bulan Abib atau bulan Nisan. Pada Hari Raya Paskah umat harus mempersembahkan kambing domba dan lembuh sapi; sedangkan pada hari raya Roti tidak beragi mereka harus memakan roti tidak beragi selama tujuh hari.

Perintah ini sarat dengan makna pengulangan. Yaitu umat mengenang kembali karya Allah yang luar biasa melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir melalui darah anak domba yang dioleskan di tiap tiang rumah. Roti tidak beragi disebut juga roti penderitaan, karena umat mengalami penderitaan di Mesir sekaligus lambang terburu-burunya umat meninggalkan Mesir. Dengan melakukan proses perayaan seperti ini diharapkan umat tidak melupakan karya Tuhan yang besar dalam kehidupan mereka. Kisah Mesir adalah kisah yang perlu tetap diingat rayakan sebab disitulah umat melihat TUHAN, Allah mereka berkarya dalam sejarah Israel.

3.      Di manakah Korban Paskah itu dipersembahkan?
Perhatikanlah perintah pada ayat 2 bacaan kita. Korban Paskah itu harus dipersembahkan di tempat yang ditunjuk oleh Tuhan. Mengapa demikian? Sebab Tuhan adalah pribadi yang suci. Tanah Kanaan menyembah banyak allah dan memiliki banyak mezbah persembahan. Semua tempat itu najis dan tidak layak. Karena itu penting untuk ditentukan Tuhan tempat yang nantinya IA khususkan dan kuduskan bagi persembahan Paskah.

Dengan kata lain, tidak sembarang tempat umat beribadah dan mempersembahkan korban bagi Tuhan. Mereka harus memilih tempat yang khusus yang disiapkan oleh Allah.

Jemaat Tuhan,...
Berdasarkan Firman Tuhan ini, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan untuk dapat relevansikan dalam kehidupan beriman kita, yakni:
1.       Merayakan Paskah berarti juga mengingat rayakan dan memberitakan karya Tuhan yang telah menyelamatkan kita dari Dosa. Allah telah melewatkan (Ibrani: Pesakh = paskah) kuasa maut dalam hidup kita sehingga kita diselamatkan oleh darah anak domba Allah yakni Yesus Kristus.  Merayakan Paskah berarti tidak melupakan perbuatan Allah itu, sekaligus menjaga hidup kita agar tetap dalam karya keselamatan Allah.

2.       Merayakan Paskah berarti mengingat perbuatan Allah dalam hidup Israel. Kita adalah Israel baru yang juga mengalami perbuatan Allah yang ajaib dalam hidup kita. Ada banyak perbuatan Allah yang terkarya dalam hidup beriman kita. Sudahkan kita tetap mengingatnya? Atau apakah terlalu mudah melupakan semua yang telah Tuhan lakukan?

Bentuk merayakan Paskah adalah lewat mempersembahkan korban syukur Paskah. Sudahkah pula kita mengingat perbuatan Allah dengan selalu bersyukur kepada Tuhan? Apakah yang kita persembahankan kepada Tuhan sebagai rasa syukur atas perbuatan Allah dalam hidup kita. Persembahan  bisa dalam bentuk uang atau materi. Berapa besar jumlahnya? Itu sangat tergantung pada seberapa besar saudara bersyukur. Namun yang utama bukan soal nilai besar-kecilnya melainkan ketulusan hati untuk mempersembahkannya. Paling utama bukanlah materi, namun menurut Roma 12:1 kita wajib mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Artinya, seluruh hidup kita harusnya dikaryakan sebagai tanda syukur atas anugerah dan berkat yang Tuhan lakukan dalam hidup ini.

Karena itu marilah selalu mengingat karya Tuhan dalam hidup kita, dan janganlah lupa terhadap segala kebaikan TUHAN dalam hidup ini. Persembahkanlah hidup kita sebagai tanda syukur atas keselamatan, anugerah dan berkatNya dalam perjalanan hidup dan masa depan kita. Amin.

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKB 22 APRIL 2013


ULANGAN 16:13-15

Jemaat Tuhan,...
Kitab Ulangan merupakan kitab terakhir dari kitab-kitab Musa yang biasa disebut dengan Pentateukh (latin: 5 kitab/5 wadah/5 gulungan). Itu berarti Kitab Musa tediri dari lima kitab. Lima kitab dimaksud adalah: Kejadian, keluaran, imamat, bilangan dan ulangan.

Mengapa kitab kelima ini disebut dengan kitab Ulangan? Nama asli Ibrani dari kitab ini  adalah ‘elleh haddebarim yang berarti “Inilah perkataan-perkataan” atau, lebih sederhana, debarim (“perkataan-perkataan; lih. 1:1). Selanjutnya ketika lima kitab Musa ini ditersemahkan ke dalam bahasa Yunani, kelima kitab ini kemudian disebut dengan istilah Septuaginta.

Dalam kitab Septuaginta atau biasa disimbolkan dengan LXX, kitab ini disebut dengan istilah to deuteronomion touto yang berarti “pemberian hukum yang kedua ini” yang diambil dari Ulangan 17:18. Penggunaan istilah “pemberian hukum yang kedua ini” didasari bahwa isi dari kitab ini adalah “Pengulangan” dari hukum2 yang sudah disampaikan Musa sebelumnya. Itulah sebabnya nama kitab Musa yang kelima ini dalam terjemahan Indonesia disebut sebagai Kitab Ulangan.

Kitab Ulangan berisi tentang pidato Musa ketika bangsa Israel sedang berada di wilayah Moab, di daerah di mana Sungai Yordan mengalir ke Laut Mati (1:5). Sebagai tindakan akhir melimpahkan kepemimpinannya kepada Yosua, ia memberikan kata-kata perpisahannya yang begitu emosional kepada bangsa Israel untuk mempersiapkan mereka masuk ke Kanaan. Penekanan rohani kitab ini adalah panggilan untuk berkomitmen total kepada Allah dalam ibadah dan ketaatan.

Dengan kata lain kitab ini merupakan nasehat Musa yang mengulang kembali kisah perjalanan umat selama 40 tahun di padang gurun dan mengingatkan mereka segala ketetapan –peraturan – hukum TUHAN, Allah Israel supaya mereka tidak melupakan Firman dan kisah perjalanan mereka bersama TUHAN ketika sebentar lagi memasuki Tanah Perjanjian yakni Negeri Kanaan.

Jemaat Tuhan,...
Pada Kitab Ulangan 16, Musa mengingatkan tentang tiga hari raya besar yang harus dirayakan oleh umat Tuhan. Tiga hari raya itu adalah: Hari raya Paskah (ayat 1-2); Hari Raya Roti Tidak Beragi (ayat 3-8); dan Hari raya Pondok Daun (ayat 13-15). Bacaan kita hari mengulas tentang Hari Raya Pondok Daun. Apakah hai raya pondok daun itu? Dan bagaimana memaknainya dalam hidup orang percaya?

Jemaat Tuhan...
Hari Raya PONDOK DAUN Juga disebut Perayaan Menuai (Kel 23:16; 34:22), atau disebut "Hari Raya" (1Raj 8:2,65; Yeh 45:25), atau pesta Yahwe (Im 23:39). Pesta ini merupakan pesta terakhir dari ketiga Pesta, yang menurut Kel 23:16-17 dan Ulangan 16:1-15 harus dirayakan setiap tahun. Alasan sejarah pesta itu seperti disebutkan oleh Im 23:42-43 adalah sebuah usaha dari waktu kemudian untuk mengkaitkan pesta-pesta besar dengan peristiwa-peristiwa tertentu pada awal sejarah bangsa Israel.

Hari Raya Pondok Daun (bahasa Ibrani: sukkōt) atau perayaan Tabernakel adalah sebuah Hari Raya Yahudi; merupakan perayaan pengucapan syukur bagi Israel atas hasil panen yang dirayakan selama tujuh hari pada bulan purnama di antara bulan September dan Oktober. Tepatnya, hari raya ini dilaksanakan pada 15 Tisyri menurut Kalender Yahudi). Perayaan ini disebut dengan "Sukkot" dalam bahasa Ibraninya karena aspek utama dari festival ini adalah sebuah pondok (sukkah).

Di dalam Alkitab, festival ini dimaknai sebagai festival panen utama bangsa Yahudi (Keluaran 23: dan Ulangan 16:), serta juga disebut festival utama Bait Allah (Bilangan 29), dan sebagai pengingat bagi bangsa Israel mengenai pengembaraan yang mereka lakukan di padang pasir ketika keluar dari tanah Mesir (Imamat 29). Pada masa pengembaraan, umat Israel tinggal dalam pondok-pondok sementara, yang pada perayaan ini direpresentasikan dengan sebuah pondok. Dalam konsep sebagai festival panen, perayaan ini menandakan berakhirnya musim panen. Para petani datang ke Yerusalem bersama keluarganya untuk bersyukur atas hasil panen yang mereka terima. Selama masa pergi ke Yerusalem ini mereka tinggal di dalam pondok tersebut.

Jemaat Tuhan,....
Dalam Ulangan 16:13-15 kita menemukan ada beberapa penekanan penting dalam perayaan Pondok Daun ini, yakni:

1.      Kapan dilaksanakan?
Dalam ayat 13 disebutkan bahwa hari raya ini dilaksanakan setelah mereka selesai melakukan panen. Dengan kata lain hari raya ini adalah hari raya syukur panen. Setiap orang Israel yang telah selesai panen wajib merayakan hari raya pondok daun ini. Itu berarti umat diajarkan lewat hari raya ini untuk melakukan persembahan syukur kepada Allah sambil membawa hasil panen mereka ketika akan melaksanakan perayaan ini.

Melaksanakan hari raya setelah panen berarti bahwa umat tidak melupakan Tuhan atas segala anugerah dan karyanya dalam kehidupan mereka dan yang telah memberkati tanah mereka dan membuat segala usaha mereka berhasil (ay.15)

2.      Bagaimana dilaksanakan?
Pada ayat 15 bacaan kita bahwa hari raya ini harus dilakukan selama 7 hari dengan suasana pesta yang penuh sukacita. Hari raya ini selain melambangkan rasa syukur, juga menggambarkan suasana hati yang girang dan gembira. Mereka melakukan pesta jamuan dan menikmati suasana tersebut dengan kegembiraan dengan penuh sukacita

Secara tidak langsung kegiatan ini merupakan hari2 umat menikmati hasil panen sekaligus hari-hari yang digunakan untuk rehat dan istirahat dari beban kerja yang sangat berat semasa menuai hasil panen tersebut. Hal ini bukan hanya menjadi penyegaran jiwa dan suasana hati, tetapi juga menyegarkan fisik dari kelelahan yang amat sangat saat sekian lama bekerja.

3.      Siapa saja yang merayakannya?
Perhatikanlah ayat 14 bacaan kita! Perayaan dan pesta itu bukan saja untuk kaum keluarga, namun untuk seluruh warga dan para pekerja. Bukan saja untuk para pemilik ladang atau tuan, namun juga bagi seluruh hamba dan kaum miskin termasuk orang asing, anak yatim dan para janda. Mereka yang tidak memiliki apa2 dan kurang mampu turut diundang dan menikmati kegembiraan itu.

Dengan kata lain, perayaan ini sarat dengan pengajaran kemanusiaan untuk mengajak umat belajar peduli dan berbagi berkat TUHAN, Allah mereka kepada kelompok orang atau pribadi yang kurang beruntung secara ekonomi. Umat dipangil untuk tidak hidup egois dan angkuh namun sebaliknya diajak untuk bersedia peduli dan berbagi bagi mereka yang membutuhkan.

Jemaat Tuhan.....
Orang Kristen memang tidak memiliki kewajiban untuk merayakan hari raya ini. Namun pelajaran tentang makna dibalik perayaan Pondok Daun wajib dilakukan dalam kehidupan beriman kita.  Ada beberapa pokok penting dari ajaran Firman Tuhan ini yang dapat kita maknai dalam kehidupan beriman kita, yakni:

Pertama, Jangan pernah melupakan Tuhan yang telah memberkati dan membawa keberhasilan dalam hidup kita ini. Bersyukur kepada Tuhan atas karya dan anugerahnya adalah kewajiban iman setiap orang percaya. Memberikan persembahan syukur atas hasil berkat yang Tuhan anugerahkan harusnya dipahami sebagai panggilan iman dan bukan hanya sekedar kewajiban dan ataupun tradisi semata. Bersyukur dan berterimakasih kepada Allah adalah cara yang paling baik untuk mengakui bahwa Tuhanlah yang telah melakukan segala perkara indah dalam hidup kita ini.

Kedua,  Janganlah menjadi pribadi yang egois dan serakah sehingga melupakan orang lain di tengah keberhasiolan kita. Dalam tradisi Israel, hari raya pondok daun dilakukan secara bersama lewat mengundang siapapun termasuk mereka yang lemah dan rentah secara eknomi. Kamum papah seperti para hamba, janda, yatim dan orang asing turut bergembira dalam pesta keberhasil panen itu. Sudahkah kita mengingat orang lain yang kurang beruntung dalam keajaiban keberhasil hidup kita? Sudahkah kita berbagi dengan orang lain sebagai tanda syukur keberhasil kerja dan usaha kita. Itulah makna Pondok daun bagi kita dewasa ini.

Kiranya Tuhan memampukan kita mengerjakan dan mengisi hidup ini dengan tidak melupakan Tuhan sang pemberi anugerah dan juga tidak mengabaikan orang lain yang gagal di tengah keberhasilan kita. Amin.

YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

  WAHYU 1:1-8 PENDAHULUAN Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Ras...