Sunday, September 1, 2013

BAHAN RENUNGAN PKP 3 SEPTEMBER 2013

EFESUS 2:11-22


Ibu-ibu kekasih Kristus....
Saya mau mengajak kita untuk membayangkan sejenak, apa bila peristiwa yang terjadi dalam perikop kita hari ini, terjadi juga dalam kehidupan kita: ditengah-tengah keluarga, jemaat, masyarakat, atau antar suku bangsa lainnya …apa kita ngak merasa ngeri ?? Ketika ada orang-orang yang merasa dirinya itu paling benar, paling hebat, paling bisa, paling dekat, paling suci dan semua yang pake paling-paling lagi … dan kemudian menganggap orang-orang lain disekitarnya itu lebih rendah, lebih buruk, lebih dibawah … dll. Terbayangkan apa jadinya.

Inilah yan terjadi di jemaat Efesus sesuai dengan bacaan kita hari ini. Dalam benak orang-orang Yahudi zaman itu telah tertanam sebuah konsep bahwa mereka adalah umat yang kudus, umat pilihan Allah. Sehingga sulit bagi mereka untuk menerima orang luar (non Yahudi) untuk masuk ke dalam komunitas mereka. Bahkan mereka menganggap najis untuk masuk ke dalam rumah orang non Yahudi. Kalaupun orang Yahudi bersedia menerima orang non Yahudi, tentu dengan syarat mereka harus mau mengikuti tata cara Yahudi seperti sunat dan hukum-hukum lainnya.

Ibu-ibu kekasih Kristus....
Konsep pemahaman seperti itu telah menimbulkan persoalan di dalam gereja, sebab anggota jemaat di Efesus terdiri dari bukan saja orang-orang Yahudi melainkan juga orang-orang non Yahudi. Selain menimbulkan kebingungan, hal ini juga telah memunculkan perselisihan di antara mereka. Itulah sebabnya di dalam surat-suratnya, Rasul Paulus merasa perlu membahas tentang persatuan orang Yahudi dan non Yahudi. Salah satu surat Paulus yang menekankan hal ini adalah surat Efesus. Ada beberapa pokok Pentin yang diuraikan Paulus, yakni:

1. Keadaan dahulu (ayat 11-12)
Ada dinding pemisah antara orang Yahudi dan orang kafir/non Yahudi. Orang kafir disebut sebagai ‘orang yang tidak bersunat’. ‘Sunat’ adalah tanda lahiriah, namun artinya terlalu dibesar-besarkan oleh orang Yahudi. Penjelasan Paulus dalam ayat 11 menunjukkan bahwa ia tidak mementingkan sunat lahiriah. Yang ia pentingkan adalah ‘sunat hati’ (Rom 2:28,29  Fil 3:2-3  Kol 2:11-13). Juga dikatakan bahwa orang kafir itu, yang tidak termasuk kewar­gaan Israel, tidak mendapat bagian dalam ketentuan yang dijanjikan (ay 12).

Israel disebut ‘dekat’ karena Tuhan memberikan hukum-hukumNya kepada mereka (Maz 147:19-20). ‘Dekat’ dalam ay 17 berbeda dengan ‘dekat’ dalam ay 13. Sekalipun Israel disebut ‘dekat’, tetapi tetap ada dinding pemisah antara mereka dengan Allah. (ingat tabir pemisah antara ruang suci dengan ruang maha suci dalam Bait Allah). Namun orang kafir mempunyai dinding pemisah yang lebih tebal lagi, dan karena itu mereka disebut ‘jauh’. Paulus menyuruh mereka mengingat keadaan mereka yang dahulu (ay 11-12). Ini penting supaya mereka tetap rendah hati dan tetap ingat kasih Allah kepada mereka.

2. Apa yang dilakukan oleh Kristus (ayat 13-18)
Paulus menjelaskan bagaimana Allah telah mendekatkan mereka dengan-Nya dan menjadikan mereka satu umat. Perseteruan Allah dengan mereka dan antara mereka dengan Israel telah dirubuhkan oleh kurban darah Kristus yang tercurah di kayu salib. Perseteruan telah didamaikan. Kristulah kurban damai perseteruan antara manusia dan Allah dan sesama (ayat 14). Tidak hanya tembok pemisah antara manusia dan Allah yang rubuh, tetapi tembok pemisah antara etnis Yahudi dan etnis-etnis non Yahudi pun dihancurkan.

Bagaimana Kristus melakukannya? Paulus menjelaskan tiga hal yang dikerjakan Kristus di kayu salib (ayat 15-16):
1.  Yesus membatalkan hukum Taurat (ayat 15). Selain membatalkan hukum-hukum yang memisahkan Yahudi dan nonYahudi seperti hukum sunat dan makanan halal/haram, Yesus juga membatalkan fungsi Taurat sebagai jalan keselamatan. Tetapi fungsi Taurat sebagai hukum bagi umat Allah tetap berlaku sebagai petunjuk hidup baru.
2. Tuhan Yesus menciptakan satu umat yang baru (ayat 15). Semua etnis Yahudi atau nonYahudi dipersatukan menjadi satu umat di dalam dan oleh Yesus. Namun ini tidak berarti bahwa Yahudi dan non Yahudi bersatu membentuk etnis ketiga atau hilangnya etnis Yahudi dan non Yahudi. Etnis Yahudi tetap Yahudi, etnis non Yahudi tetap non Yahudi. Yang dibatalkan adalah ketidaksetaraan di hadirat Allah.
3.  Yesus mendamaikan etnis Yahudi dan nonYahudi dengan Allah (ayat 16).

3. Keadaan sekarang (ayat 19-22)
Sekarang umat yang telah didamaikan Kristus disebut sebagai kawan sewarga (ayat 19), dan menjadi anggota kerajaan Allah yang hidup di bawah pimpinan dan hukum-hukum Allah. Umat yang didamaikan ini juga disebut keluarga Allah (ayat 19). Sebagai anggota keluarga Allah secara otomatis, relasi antar etnis pun diungkapkan dengan istilah ‘saudara’. Selanjutnya, umat yang didamaikan itu juga disebut sebagai tempat kediaman Allah (ayat 21-22).

Umat yang diperdamaikan itu dilihat sebagai Bait Allah Perjanjian Baru. Penggenap perjanjian Allah itu bukan pada bangunannya tetapi pada persekutuan yang hidup dari anggota keluarga Allah yang didasari oleh pemberitaan janji Allah melalui para nabi PL dan kesaksian para rasul tentang Kristus. Jadi setiap orang kristen adalah batu yang tersusun bagi Bait Allah. Kalau dahulu orang-orang kafir (tidak bersunat) beribadah  dalam Bait Allah secara terpisah (dipisahkan oleh dinding pemisah), maka seka­rang bukan saja tidak ada dinding pemisah, bahkan mereka menjadi batu-batu penyusun Bait Allah.

Ibu-ibu kekasih Kristus....
Dalam suratnya ini, nampak jelas Paulus menekankan pentingnya persatuan di dalam tubuh gereja karena bila gereja terpecah karena perbedaan yang ada, maka hal itu sama sekali tidak berguna. Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang di dalamnya tidak ada lagi pembedaan meskipun adanya perbedaan merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri. Gereja adalah tubuh Kristus. Semua anggota gereja, baik orang Yahudi maupun non Yahudi dipersatukan oleh kasih Kristus dengan darahnya yang kudus. Gereja dipanggil menjadi alat Tuhan yang menyaksikan kasih Kristus di tengah dunia Gereja seharusnya menghargai perbedaan. Paulus melihat dan menggambarkan keragaman sebagai dasar untuk membentuk satu kesatuan. Keragaman dalam jemaat bukan untuk membuat anggota jemaat membandingkan diri satu dengan yang lain, bukan juga untuk menciptakan persaingan dan perpecahan, melainkan membentuk kesatuan yang dianalogikan sebagai satu tubuh Kristus.
Gereja dipanggil menjadi satu. Jangan alergi dengan perbedaan, tapi sebaliknya justru jadikan perbedaan untuk eratkan persatuan. Jangan ciptakan tembok pemisah lagi karena itu sudah dilenyapkan di kayu salib. Jika kita membangun kembali tembok pemisah di dalam gereja, itu sama saja menghina pengorbanan Kristus. Tembok itu adalah perseteruan, pemisahan, permusuhan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi, antara orang yang memegang hukum Taurat dengan orang yang disebut kafir. Sehingga tidak ada DAMAI SEJAHTERA antara keduanya tetapi justru permusuhan.

Dalam perikop di atas kata DAMAI SEJAHTERA diulang sebanyak 5 kali. Damai sejahtera tidak bisa kita peroleh dari manusia atau suatu lembaga yang didirikan manusia. Sebab satu-satunya Sumber damai sejahtera adalah Yesus Kristus. Iblis selalu memasang strategi untuk membangun tembok antara orang tua dan anak agar tidak cocok, antara suami dan istri agar tidak rukun. Tetapi di dalam Yesus tembok itu bisa dirobohkan. Yang jauh menjadi dekat, yang bermusuhan menjadi rukun. Tugas kita adalah meruntuhkan setiap tembok pemisah yang dibangun oleh iblis itu dengan pendamaian dan perdamaian di dalam kasih Kristus.

Karena itu marilah menjadi satu. Hentikan setiap upaya Iblis yang memecah belah kita dengan berbagai perbedaan. Perbedaan akan menjadi anugerah apabila kita menyikapinya dengan kasih dan persekutuan. Mari menjadi satu demi kemuliaan Tuhan. Amin.


Sunday, August 11, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKP 13 AGUSTUS 2013




ROMA 2:21-24

Ibu-ibu kekasih Kristus,...
Ketika kita membaca Roma 2:17-24, maka kita akan menemukan kritik Rasul Paulus kepada orang-orang Yahudi yang salah memanfaatkan keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Dari sisi historis/sejarah orang-orang Yahudi dikenal sebagai orang-orang terkemuka yang dipilih Allah sebagai contoh/teladan bagi dunia kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Namun menyedihkan, karena mereka gagal menjadi contoh/teladan bagi dunia orang yahudi. 

Indikator kegagalan itu ditegaskan dalam ayat 21-23. ”Jadi bagaimana engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar ”jangan mencuri” mengapa engkau sendiri mencuri. Engkau yang berkata ”jangan berzinah” mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas Hukum Taurat, mengapa engkau menghina Allah dengan melanggar Hukum Taurat itu? Malah dalam ayat 24 ditegaskan bahwa karena kamulah (orang Yahudi) maka nama Allah dihujat diantara bangsa-bangsa. 

Ibu-ibu kekasih Kristus,...
Dalam ayat 21-23 sikap sombong itu disertai kemunafikan. Walau tidak semua orang Yahudi melakukan semua dosa ini, Paulus tahu bahwa kehidupan mereka juga tidak beres. Pada ayat 24 dia mengutip bagian PL yang ditulis untuk Israel yang dihukum oleh pembuangan ke Babel (Yes 52:5 - Tetapi sekarang, apakah lagi urusan-Ku di sini? demikianlah firman TUHAN. Umat-Ku sudah dirampas begitu saja. Mereka yang berkuasa atas dia memegahkan diri, demikianlah firman TUHAN, dan nama-Ku terus dihujat sepanjang hari, bnd. Yeh 36:20 = Di mana saja mereka datang di tengah bangsa-bangsa, mereka menajiskan nama-Ku yang kudus, dalam hal orang menyindir mereka: Katanya mereka umat TUHAN, tetapi mereka harus keluar dari tanah-Nya.) untuk menunjukkan bahwa sejak lama Israel tidak sanggup melakukan Taurat. Orang Yahudi tidak berbeda dari Israel yang dibuang karena dosanya.

Paulus berusaha untuk membuka beberapa fakta yang sebenarnya mengenai orang-orang Yahudi kepada orang orang-orang Kristen bukan Yahudi yang gelisah karena mereka selalu mendengar segala sesuatu yang “katanya’ mengenai orang Yahudi sehingga seolah-olah orang Yahudi menjadi sangat sempurna. Sementara orang Yahudi merasa di atas angin.

Paulus secara terus terang (karena dia juga orang Yahudi) menyatakan “katanya” orang Yahudi mengenai diri mereka:
·         Orang Yahudi berarti Umat Pilihan
·         Bersandar pada Hukum Taurat
·         Bermegah dalam Allah
·         Tahu kehendak Allah
·         Dari Taurat bisa tahu mana yang baik dan yang tidak
·         Penuntun orang buta
·         Terang bagi yang dalam kegelapan
·         Pendidik orang bodoh
·         Pengajar orang yang belum dewasa
·         Memiliki segala kepandaian dan kebenaran

Dan faktanya menurut Paulus:
·         Orang Yahudi mengajar orang lain tetapi tidak mengajar diri sendiri
·         Orang Yahudi bermegah atas hukum Taurat tetapi justru menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat
·         Orang Yahudi sendiri yang membuat nama Allah dihujat oleh bangsa- bangsa lain.

Jadi, ketika jemaat menyombongkan diri seakan-akan berbagi dalam keunggulan Kristus, dia sebenarnya menempatkan diri dengan Israel dalam pembuangan, dengan Israel yang hatinya belum diubah oleh Roh Kudus. Sama halnya ketika jemaat menghakimi orang lain, sedangkan hidupnya sendiri tidak beres. Akibatnya sekarang mungkin juga sama dengan apa kata Paulus pada ayat 24, yakni nama Allah dihujat oleh karena kesombongan dan kemunafikan itu.

Ibu-ibu kekasih Kristus,...
Sebenarnya kritik yang dihadapkan Rasul Paulus, terkait dengan lingkungan hidup ke-Yahudian, justru menjadi bahan pembelajaran bagi kita, untuk tidak mencontohi gaya hidup yang duniawi. Dan sebetulnya kenyataan yang dibeberkan oleh Rasul Paulus, memberi indikasi terjadinya kesenjangan antara ibadah ritual dengan ibadah sosial, dalam artian bahwa orang memahami ibadah ritual di gereja, ibadah sektor dan wadah-wadah kategorial yang justru dipahami terkait dengan urusan sorgawi yang tidak punya keterkaitan dengan ibadah sosial yaitu kehidupan sehari-hari ditengah keluarga, gereja dan masyarakat.

Karena itu sebagai persekutuan hidup yang terkecil yakni Keluarga, kita diingatkan untuk membangun hidup yang saling peduli, saling memperhatikan, antar suami-istri, orang tua dan anak agar kata dan perbuatan hidup kita dalam keseharian mencerminkan sikap hidup yang takut akan Tuhan, yang berjalan menurut firmanNya. Dengan maksud bahwa ibadah ritual yang khusyuk di tempat ibadah, menjadi nyata dalam perilaku hidup kita sesehari. Hidup Kristiani yang selalu berupaya jauh dari penyimpangan terhadap kebenaran firmanNya yang menuntun kita kepada kebenaran.

Ibu-ibu kekasih Kristus,...
Mungkin kita tidak dapat menjadi wanita atau pria yang sempurna, mungkin kita tidak pernah bisa menjadi ayah atau ibu ideal, mungkin kita tidak akan pernah menjadi manusia sempurna, tetapi ada perbedaan antara manusia yang mau berusaha menjadi lebih baik dan manusia yang mengeraskan hati. Jadi kalau memang kita tidak bisa menjadi manusia sempurna paling tidak kita dapat menjadi seorang yang mau terus belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik sehingga berkat-berkat Tuhan yang tidak terbeli dengan uang akan tetap menjadi bagian kita dengan cara menyeimbangkan kata dengan fakta atau bersedia agar tampilan diri kita selaras dengan tampilan iman kita.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita sebagai ibu-ibu rumah tangga untuk menjadikan hidup kita sebagai wadah Tuhan dimuliakan bukan sebaliknya justru lewat pola hidup yang tidak benar, nama Tuhan dihujat dan dipermalukan orang. Untuk dapat melakukan itu, maka seperti yang Paulus sampaikan, kita wajib bukan hanya mendengar dan memberitakan Firman, namun juga wajib mengerjakannya. Amin.


BAHAN RENUNGAN IBADAH PKB 12 AGUSTUS 2013



ROMA 2:15-16 (sebaiknya dibaca dari ayat 12)

Bapak-bapak kekasih Kristus
Ada perkataan bijak yang berbunyi: Persepsi membentuk kenyataan. Pikiran kita membentuk sudut pandang kita sendiri. Apa yg kita yakini, akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan”. Arti dari kalimat ini adalah apapun yang sudah kita anggap sebagai suatu kebenaran, walaupun sebenarnya itu adalah suatu kesalahan, namun jika tetap diyakini benar maka akan terlihat sebagai kenyataan yang benar. Siapun yang membantah kita dan membuktikan bahwa itu salah, tidak akan dapat kita terima dan terus menganggap bahwa kitalah yang benar.

Kondisi inilah yang dialami oleh jemaat Kristen Yahudi yang berada di Roma. Pada pasal 1:18-32, Paulus menyebut tentang warga non Kristen yang masih menyembah berhala dengan prilaku dosa mereka. Ada macam-macam dosa dan prilaku tidak benar yang didaftarkan Paulus pada pasal 1:25-30. Lebih parahnya lagi, mereka yang tidak percaya pada Yesus Kristus ini tetap hidup dalam dosa dan tidak bertobat. Bahkan mereka justru pula menyetujui perbuatan tidak benar itu jika dilakukan oleh orang lain (1:32).

Selanjutnya, pada pasal 2:1-11, Paulus mengecam orang Kristen Yahudi yang menghakimi orang2 penyembah berhala itu. Mengapa hal itu di kecam Paulus? Orang Yahudi pada zaman itu selalu menganggap diri merekalah yang paling benar dipanding orang kafir atau non-Yahudi. Bahkan dalam Galatia 2:15 kita menemukan pernyataan bahwa selama mereka terlahir Yahudi mereka pasti benar. Inilah yang saya maksudkan dalam pembukaan khotbah tadi. Bahwa perspektif mereka tentang kebenaran membuat mereka meyakini segala hal yang dianggap benar padahal salah. Paulus dengan berani mengecam hal itu.

Kaum Yahudi seakan-akan berhak mengadili dalam hal kebenaran, dan mereka selalu berbuat demikian karena marasa diri benar bahkan paling benar dari yang lain. Ayat 1 ini membuat 3 kali kata menghakimi, Yunani, krinô. Kata ini berarti memberikan penilaian yang tidak menyenangkan berupa mengecam atau mencari kesalahan. Orang Kristen Yahudi di Roma berusaha mencari kesalahan para penyembah berhala itu dari sisi bahwa mereka tidak mengenal hukum Taurat. Karena itu bagi orang Yahudi mereka tetaplah benar sebab mereka mengenal Taurat dengan baik.  Hal ini jelaslah keliru. Sebab Paulus melihat bahwa mereka sendiri yakni orang Kristen Yahudi (ay.3-4) justru melakukan dosa yang sama dengan penyembah berhala, namun merasa tetap benar sebab mereka mengenal Taurat dengan baik

Bapak-bapak kekasih Kristus
Pada bacaan kita inilah yakni mulai ayat 12-16, Paulus menyanggah pemahaman yang keliru tersebut. Ada beberapa uraian penting yang disampaikan Paulus sebagai suatu pengajaran yang berguna bagi kita saat ini mengenai pijakan kebenaran yang keliru dari orang Yahudi, yakni:
1.       Perhatikan ayat 13 pada pasal 2. Paulus menekankan bahwa orang Yahudi tidak diselamatkan karena menjadi pendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Taurat itulah yang akan dibenarkan. Itulah sebabnya pada ayat 6 sebelumnya, Paulus menyebut bahwa Tuhan akan membalas setiap orang berdasarkan perbuatan mereka.

Maksudnya mendengar/mengenal saja tidak cukup namun mereka harus melakukan hukum Taurat secara keseluruhan. Orang Yahudi tidak mendapat hak keistimewaan dengan hanya mendengar/ mengenal hukum Taurat, namun mereka harus melakukannya, sebab pengenalan mereka akan hukum Taurat mengakibatkan penghakiman atas mereka itu didasarkan atas hukum Taurat.

Pemahaman ini sangatlah penting. Bahwa kedekatan dengan Tuhan, rajin membaca dan mendengarkan Taurat tidaklah menjamin seeorang itu menjadi pribadi yang benar. Kebenaran pada model seperti ini lebih tepat disebut dengan kemunafikan. Sebab mereka hanya mendengar dan mengenal Taurat namun tidak mengerjakannya. Firman bukan hanya didengar, melainkan perlu dilakukan. Itulah sebabnya perubahan hidup harus terjadi saat mendengar Taurat. Inilah yang tidak dilalukan oleh orang-orang Yahudi tersebut.

2.       Perhatikan ayat 12 bacaan kita. Oleh karena ukuran kebenaran yang dipakai oleh orang Yahudi adalah ukuran hukum Taurat, maka penghakiman terhadap mereka akan dilakukan menurut kaidah hukum Taurat. Jika hukum Taurat mengatakan dilarang membunuh, namun mereka membunuh; maka mereka disebut sebagai pelanggar hukum Taurat. Itulah sebabnya bahwa mereka akan binasa di dalam tuduhan aturan hukum Taurat atau istilah yang Paulus pakai “dihakimi oleh hukum Taurat”.

3.       Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal hukum Taurat atau yang tidak menggunakan hukum Taurat sebagai landasan ukuran kebenaran mereka? Paulus mengatakan bahwa mereka akan dihakimi tanpa ukuran hukum Taurat. Jika mereka berdosa, maka ukuran ketidak-berdosaan mereka menggunakan standar bukan berdasarkan hukum Taurat.  Lalu ukuran apa yang dipakai? Paulus menyebut dalam ayat 15 bahwa ukuran yang dipakai adalah ukuran “suara hati”.

Istilah Suara Hati, berasal dari bahasa Yunani, Suneidêsis, yang berarti: kesadaran tentang kesusilaan, pengetahuan tentang nilai etis dari suatu perbuatan. Suara hati inilah yang akan menuntun seseorang mengetahui kebenaran. Dalam Keyahudian hanya hukum Tauratlah yang dapat menuntun seseorang mengetahui benar dan salah. Kepatuhan pada hukum Taurat membuat orang hidup dalam kebenaran. Bagaimana dengan mereka yang non-Yahudi yang tidak memiliki Taurat. Mereka ini dituntun oleh suara hati mereka. Suara hati mereka inilah yang menjadi hukum Taurat yang harus mereka taati supaya hidup dalam kebenaran.

Dengan demikian setiap orang yang tidak mengenal hukum Taurat-pun secara naluriah akan dapat menilai perbuatan dan etika mereka, inilah yang dimaksud dalam ayat 14-15 mengenai "dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat". Orang-orang yang bukan yahudi mempunyai patokan internal yang ditempatkan Allah di dalam hati mereka yang disebut dengan suara hati. Patokan internal ini merupakan dasar bagi tanggapan suara hati mereka dan bagi penalaran mereka untuk menilai sesuatu itu benar atau tidak. 

4.       Pada ayat 16 bacaan kita Paulus menutup dengan keyakinannya bahwa Kristus Yesus kelak akan menghakimi segala sesuatu dalam hati yang kita sembunyikan sekalipun. Artinya, Paulus tahu bahwa orang bisa saja mengabaikan suara hatinya untuk tidak melakukan dosa. Orang juga bisa memanipulasi suara hati sendiri dan menetralisirnya supaya tidak merasa berdosa. Orang bahkan bisa membungkamkan suara hatinya supaya dapat leluasa berbuat dosa.

Namun Paulus mengingatkan bahwa apapaun yang berhasil disembunyikan dalam hati, dapat dengan mudah dikatahui Allah yang kemudian menghakimi segala hal yang tersembunyi itu dalam otoritas Hakim Maha Adil yakni Kristus Yesus. Manusia tidak bisa menyembunyikan apapun di hadapan Allah termasuk isi hati mereka.

Bapak-bapak kekasih Kristus
Dari Firman Tuhan ini kita dapat belajar bahwa penghakiman Allah bersifat adil. Orang yang mengeraskan hati tidak mau bertobat akan binasa oleh murka Allah (ayat 5, 8). Orang yang bertobat dan meninggalkan dosa, lalu tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan, dan ketidakbinasaan akan memperoleh hidup kekal (ayat 7). Tekun berbuat baik berarti hidup berpusatkan Allah. Mencari kemuliaan berarti menjaga kesucian yang sudah dianugerahkan Allah. Mencari kehormatan artinya hidup berkenan kepada-Nya. Mencari ketidak-binasaan artinya fokus pada hal-hal yang bernilai kekal. Mencari hal-hal itu bukan dimengerti sebagai usaha untuk memperoleh keselamatan, melainkan sebagai tanda seseorang sudah di dalam kebenaran dan dimerdekakan dari dosa.

Penghakiman Allah tidak membeda-bedakan. Seseorang dihukum bukan berdasarkan status keyahudiannya, memiliki Taurat atau tidak, tetapi berdasarkan disposisi hatinya di hadapan Allah (ayat 12-15). Allah mengetahui isi hati manusia, apakah terbuka kepada Kristus, atau mengeraskan hati untuk menolaknya (ayat 16). Jangan terkecoh dengan penampilan kesalehan yang palsu. Bukti kita sudah memiliki kebenaran adalah hidup dalam kebenaran, peka terhadap dosa, dan tidak menghakimi orang lain.

Saat ini kita harus percaya bahwa Roh Kudus telah mendiami hati kita. Nurani kita dipakai Roh Kudus untuk menggiring kita pada kebenaran Allah. Kita punya kewajiban untuk menuruti suara dalam hati kita sebagai suara hati Roh Kudus. Namun kita perlu berhati-hati bahwa acapkali suara iblis menyerupai suara hati seakan suara Roh Kudus. Ukuran untuk membedakannya sangatlah sederhana, yakni apakah hal itu tindakan yang memuliakan Allah atau tidak. Karena itu, intalah Tuhan untuk selalu hadir di hati kita, agar suara hati kita merupakan suara Tuhan. Amin.

Friday, August 2, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH MINGGU 04 AGUSTUS 2013



KEJADIAN 9:1-7

PENDAHULUAN[1]
Bacaan kita hari ini mengangkat kisah tentang Nuh dan Perjanjian yang dibuat Allah dengannya setelah airbah dinyatakan surut (8:14). Nuh (Ibrani, נֹחַ - NOAKH) adalah anak Lamekh (Ibrani, לֶמֶךְ - LEMEKH), berusia 182 tahun sewaktu Nuh lahir (Kejadian 5:28-29: Lukas 3:36). Asal kata nama  Nuh tidak dapat diselidiki dengan pasti untuk mengetahui arti sebenarnya dari nama itu. Banyak penafsir menghubungkannya dengan arti 'beristirahat. Dalam Kejadian 5:29 nama itu dihubungkan dengan kata kerja נָחַם - NAKHAM yang berarti penghiburan”.

Nuh seorang yang benar (Kejadian 6:9, צַדִּיק - TSADIQ , yang memiliki kebenaran itu yang bersumber dari iman (Ibrani 11:7, της κατα πιστιν δικαιοσυνης - hê kata pistin dikaiosunês, harfilah "kebenaran sesuai dengan iman'), dan mempunyat persekutan dengan Allah, seperti dinyatakan oleh uraian 'dia hidup bergaul dengan Allah' (Kejadian 6:9) Dia juga digambarkan sebagai seorang yang tidak bercela di antara orang-orang sezamannya' (Kejadian 6:9) yang telah terbenam dalam taraf hidup moral yang sangat rendah (Kejadian 6:1-5, 11-13; Matius 24:37-38; Lukas 17:26-27) dan kepada mereka dia memberitakan kebenaran (2 Petrus 2:5), biarpun tidak berhasil seperti ditunjukkan kejadian-kejadian berikutnya.

Seperti Bapak leluhur yg lain, Nuh diberkati umur panjang. Umurnya 500 tahun sewaktu anaknya yang pertama lahir (KejADIAN 5:32), 600 thn sewaktu air bah timbul (Kejadian 7:11), dan meninggal pada usia 950 tahun (Kejadian 9:28, 29). Menurut tafsiran Kejadian 6:3, bersama dengan 1 Petrus 3 :20, sewaktu Nuh berusia 4S0 thn, A Ilah memberitahukan kepadanya, bahwa Dia akan memusnahkan manusia dari muka bumi, tapi Dia akan memberikan periode anugerah selama 120 tahun. Waktu itu Nuh harus membangun bahtera yang di dalamnya Nuh akan menyelamatkan keluarganya yang terdekat, dan hewan pilihan yg mewakili hewan lainnya (Kejadian 6:13-22). Mungkin sekali pada waktu itulah Nuh berkhotbah, tapi tidak ada pertobatan maka air bah datang dan memusnahkan semuanya, kecuali Nuh dan ketiga anaknya dengan istri masing-masing (Kejadian 7:7; 1 Petrus 3:20).

TELAAH TEKS / TAFSIRAN
Kitab Kejadian 9:1-7 ini berisikan Perjanjian Allah sekaligus perintah kepada Nuh dan keluarganya mengenai apa yang harus mereka kerjakan saat keluar dari Bahtera tersebut. Pertanyaan penting yang perlu diuraikan adalah mengapa TUHAN Allah menyampaikan perintah dan perjanjian tersebut? Ada beberapa alasan yang dapat dimungkinkan untuk itu, yakni:
1.       Dampak kerusakan akibat dari air bah itu sangatlah fatal. Allah merencanakan pemusnahan masal terhadap segala yang hidup di muka bumi waktu itu. Sudah pasti tidak ada kehidupan lagi di bumi pasca akibat airbah yang dasyat itu (7:21-23). Silakan dibayangkan apa yang dialami Nuh bersama keluarganya ketika menyaksikan kepunahan dasyat itu! Sudah pasti secara psikologi dan kemampuan nalar Nuh berada pada titik kritis. Ia mungkin bingung; dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam benak Nuh, mungkin saja terbersit bahwa masa depannya tidak ada lagi seiring musnahnya segala bentuk kehidupan di muka bumi. Kondisi ini juga, secara manusiawi, mempengaruhi iman Nuh dan pengharapannya terhadap masa depan. Apa yang dapat dilakukan dengan “kehampaan” dunia setelah air bah itu? Sesuatu yang tidak dapat dipikirkan.

Di sinilah peran Allah yang luar biasa melalui rahmat dan Kasih KaruniaNya kepada manusia melalui Nuh dan keluargaNya. Dia sangat mengerti kondisi Nuh dan ketakutannya. Tuhan memulihkan harapan Nuh dengan memberikan perjanjian dan penguatan menghadapi dampak dari rencana Allah yang besar itu. Tuhan berjanji bahwa Ia tidak akan memusnakan bumi dengan air bah lagi (ay.18);  bahkan Tuhan menjamin nyawa dan keselamatan Nuh berserta keluarga (ay.5-6) yang juga berarti jaminan masa depan untuknya.

2.       Alasan lain mengapa Tuhan membuat perjanjianNya itu adalah Karena ketaatan Nuh dan ibadahnya. Hal ini tersirat dalam pasal 8:20-22 kitab Kejadian. Pada bagian itu dikisahkah tentang reaksi awal yang dilakukan Nuh ketika meluar dari Bahtera dan menyaksikan kerusakan dan kehancuran tersebut. Reaksi yang dibuat Nuh adalah reaksi yang tidak wajar. Mengapa demikian? Lumrahnya, orang yang melihat kehancuran dan kerusakan termasuk kondisi tiada berpengharapan adalah mengeluh atau bersungut-sungut dan bahkan kehilangan iman dan pengharapan. Silakan bayangkan apabila kita berada pada kondisi Nuh.

Bukannya bersungut atau menyesalkan perbuatan Allah itu, namun sebaliknya di melihat pada dirinya sendiri yang masih sehat dan selamat berserta keluarga karena Tuhan yang menolong. Nuh menemukan alasan untuk bersyukur dari pada melihat alasan di depan mata untuk bersungut. Ia kemudian membuat mezbah dan mempersembahkan korban syukur kepada Allah menggunakan binatang2 yang terbaik dan tidak haram (8:20). Harumnya persembahan Nuh, yang berarti harumnya hati Nuh yang bersyukur, telah “mempengaruhi” dan “menyentuh” hati Allah yang sedang murka pada dunia saat itu. Pada pasal 8:21-22 Tuhan berjanji dalam hatiNya untuk tidak lagi memusnakan dunia ini.

Jadi, kita menemukan alasan kedua mengapa perjanjian itu dibuat Allah. Perjanjian itu dibuat Allah disebabkan karena Nuh dan ketaatannya; serta berdasarkan Kasih Karunia Allah terhadap Nuh dan dunia pasca pemusnahan oleh air bah tersebut.

Selain perjanjian yang Tuhan sampaikan kepada Nuh, Ia juga menyampaikan beberapa perintah penting pasca airbah itu kepada Nuh dan keluarga. Perintah tersebut adalah sbb:
1.      Beranak-cucu; bertambah banyak dan penuhilah bumi (ay.1,7)
Perintah ini adalah perintah kepada Adam dan Hawa saat dunia diciptakan (Kej. 1:28). Mengapa perintah yang sama disampaikan juga kepada Nuh? Pada saat dunia diciptakan, Tuhan menjadikan Adam dan Hawa sebagai kawan sekerjaNya untuk mengkondisikan hasil ciptaan agar sesuai dengan rencanaNya. Adam dan Hawa dipercayakan untuk mengatur dan menata bumi dan segala isinya hasil ciptaan Tuhan. Bukan saja itu, kepada Adam dan Hawa dipercayakan “membuat banyak” gambar dan rupa Allah yakni manusia itu. Inilah kondisi yang juga sama dialami oleh Nuh.

Tidak ada kehidupan lagi dibumi. Semua gambar dan rupa Allah (ay.6) telah musnah atau dimusnakan Allah. Bisa saja Tuhan membuat banyak Adam dan Hawa; dan bisa juga Ia “mencetak” lagi gambar dan rupanya lewat menghadirkan secara tiba-tiba manusia-manusia lain untuk memenuhi bumi pada jaman Nuh saat airbah usai. Lalu mengapa Tuhan tidak melakukannya? Mengapa Adam dan Nuh diberikan perintah seperti itu? Lalu mengapa perintah Adam dan Nuh sama persis?

Wajar jika perintah kepada Adam diserahkan kepada Nuh. Sungguh tepatlah jika Nuh mengambil alih perintah Adam. Sebab kondisi pasca penciptaan hampir sama dengan kondisi pasca air bah. Manusia musnah! Hanya delapan orang yang selamat. Nuh sekeluarga mendapat mandat Adam untuk menjadi kawan sekerja Allah melahirkan manusia-manusia untuk hadirkan gambar dan rupa Allah di bumi ini. Perhatikanlah bahwa hal ini sangat penting. Ini bukan soal “mencetak foto copy” manusia yang instan menjadi banyak. Hal ini menyangkut proses yang panjang.

Nuh bukan hanya diperintahkan beranak cucu yang banyak untuk penuhi bumi, namun Nuh diperintahkan untuk menghadirkan gambar dan rupa Allah agar terserak dibumi. Ini tidaklah mudah. Allah menganggap Nuh sebagai pribadi yang benar (7:1) yang adalah tipe dari rupa dan gambar Allah. Maka beranak-cucu dan bertambah banyak pada perintah ini bukan hanya melahirkan keturunan dari generasi ke generasi, melainkan Nuh dianugerahi dan dipercayakan tugas mulia yakni meneruskan tabiat; pola hidup dan karakternya yang benar itu dari generasi ke generasi.

Dari keluarga Nuh diharapkan lahir pribadi-badi yang benar juga seperti Nuh. Ini sebuah proses yang tidak mudah. Nuh bukan hanya asal saja menghadirkan turunan, namun kepadanya diberikan mandat tersirat agar mendidik; membimbing turunannya bukan sekedar banyak namun menjadi pribadi yang benar agar terlihat gambar dan rupa Allah.

2.      Manfaatkan dan berkuasalah atas mahkluk di bumi (ay.2.3)
Seperti pada Adam, Nuh juga mendapat kuasa untuk segala ciptaan yang ada yakni hewan dan tumbuh-tumbuhan. Hal ini bukan hanya soal memanfaatkan apa yang ada dan berkuasa atasnya. Namun perintah ini mengandung kewajiban mulia bahwa Nuh menjadi tangan Tuhan untuk turut mengatur keharmonisan ciptaan sebab hanya mereka berdelapan saja yang memiliki akal budi di antara segala mahkluk yang selamat dari air bah itu. Nuh tidak hanya dilihat Allah sebagai pribadi diselamatkan, namun juga sebagai pribadi yang bertanggung jawab terhadap yang telah diselamatkan. Nuh bukan hanya sekedar objek keselamatan, namun dia juga harus menjadi alat untuk mengolah keselamatan itu menjadi tertata dengan baik dan berlangsung terus.

3.      Ketentuan makanan (ay.4)
Kebebasan Nuh dan kuasa yang diberikan kepadanya oleh Tuhan bukan berarti menjadi “tuhan kecil” yang bebas dari segala aturan. Nuh tetap tunduk kepada ketentuan dan aturan Allah, salah satunya tentang aturan makanan baginya. Hal ini menunjuk tentang hak dan kewajiban Nuh yang musti seimbang dilakukannya sebagai pribadi yang dibenarkan Allah. Tuhan tidak hanya bicara soal HAK namun juga menekankan KEWAJIBAN kepada Nuh sebagai wujud pribadi yang diselamatkan.

APLIKASI DAN RELEVANSI
Silakan dihubungkan uraian2 di atas dalam kehidupan sehari-hari menyangkut: Harapan selalu ada; menjadi kawan sekerja Allah; pemanfaatan sumber daya alam; keseimbangan antara hak dan kewajiban, dll,


[1] Emsiklopedi Alkitab Masa Kini-Jilid II. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995), halaman 171-173.

Friday, July 19, 2013

BAHAN RENUNGAN MINGGU 21 JULI 2013

EFESUS 5:22-30
(dikutip dari buku Sabda Guna Dharma edisi 28 --- Juli s/d Agustus 2013)


PENGANTAR
Membangun hubungan antara suami-istri dalam suatu ikatan perkawinan terkesan mudah namun sulit untuk menjalaninya. Siapapun saudara yang sudah menikah pasti mengerti apakah maksud dari pernyataan di atas. Menyatukan berbagai perbedaan antara suami-istri dalam satu wadah yakni lembaga perkawinan sehingga tetap langgeng hingga maut memisahkan adalah tantangan yang sulit untuk dihadapi. Diperlukan kesabaran, kesungguhan cinta kasih, dan pengertian untuk mampu menjadi pasangan yang baik antar keduanya. Pepatah: “asam di gunung; garam di laut menyatu dalam belanga” sering dijadikan analogi bagaimana hubungan suami istri itu menyatu dalam kepelbagaian budaya dan karakter masing-masing. Namun, sekali lagi, semuanya tidak semudah asam dan garam bercampur dalam belanga. Bukan saja butuh pengorbanan dan usaha keras untuk menjalaninya, tetapi juga perlu memahami dengan bijak bagaimana seharusnya relasi atau hubungan suami-istri itu dibangun.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menguraikan dengan rinci bagaimana seharusnya posisi dan relasi antara suami-istri itu dipahami. Menurut Rasul Paulus, suami-istri ketika membangun hubungan satu dengan yang lain dan memposisikan diri dan pasangan masing-masing harus bercermin pada hubungan Kristus dan jemaat (bd. ay.32). Bagaimanakah memahami hubungan suami-istri yang bercermin pada hubungan Kristus dan jemaatNya? Mari perhatikan detail uraian Paulus di bawah ini. 


PEMAHAMAN TEKS

I.        Latar belakang dan isi surat Efesus

Surat kepada jemaat di Efesus ini ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia sedang berada dalam penjara di Roma sekitar tahun 60-61 M. Surat ini dikirim Paulus ke Efesus melalui seorang yang bernama Tikhikus (6:21,22) yang juga adalah orang yang sama menyampaikan surat kepada jemaat Kolose. Hal ini terlihat dengan jelas pada kesamaan atau kemiripan redaksional penutup kedua surat ini yakni pada Kol.4:7 dan Ef.6:21-22.

Pada saat itu Efesus dan masyarakatnya dari sisi keagamaan masih sangat dipengaruhi pada penyembahan terhadap dewi Artemis. Penyembahan terhadap dewi ini menjadi hal pokok dan utama -bukan saja karena ia dianggap sebagai demi kesuburan dan kemakmuran-, namun juga karena di beberapa tempat pada budaya Yunani Kuno, dewi Artemis dipandang sebagai Soteira (penyelamat) dan Agrotera (pemburu) dan merupakan dewi pemimpin para penjaga dari segala hal yang ada di alam liar seperti pohon dan sungai. Bagi Efesus, dewi Artemis sangat dipuja karena ia dianggap menjamin keselamatan dan kehidupan mereka.

Itulah sebabnya isi surat Efesus yang dituliskan Paulus ini berintikan ajaran tentang bagaimana memperoleh keselamatan sejati dalam diri orang percaya melalui Yesus Kristus. Hal ini dengan sengaja dutulis untuk mematahkan pemahaman keselamatan yang muncul diberbagai budaya dan bangsa, termasuk Efesus.

Menurut Paulus, sumber keselamatan dunia ini terletak pada kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus (1:3-8) yang kelak nanti akan menyatukan Seluruh alam, baik  yang di surga maupun yang di bumi, menjadi satu dengan Kristus  sebagai “Kepala" (1:10). Di dalam bagian pertama surat Efesus ini (pasal 1-3) dikemukakan bagaimana penyatuan itu terjadi. Untuk menjelaskan hal itu ia menceritakan bagaimana Allah Bapa telah memilih umat-Nya; bagaimana Allah melalui Yesus Kristus, Anak-Nya, mengampuni dan membebaskan umat-Nya dari dosa; dan bagaimana janji Allah itu dijamin oleh Roh Allah.

Selanjutnya, Di dalam bagian kedua (pasal 4-6), Paulus menyerukan kepada para  pembacanya supaya mereka hidup rukun agar kesatuan mereka sebagai  umat yang percaya kepada Kristus dapat terlaksana. Paulus menekankan soal bagaimana seharusnya hidup satu di tengah keragaman termasuk perbedaan karunia (4:1-16); menjaga pembaharuan diri agar tidak tercemar oleh berbagai kedurhakaan orang-orang yang tidak percaya (4:17-25); mengekang diri agar terhindar dari segala percekcokan yang membawa skisma atau perpecahan dalam Tubuh Kristus (4:26-32).

Dalam membangun relasi dengan orang lainpun, yang seiman maupun yang tidak percaya, Paulus menegaskan tentang pola dan sikap yang benar sesuai teladan yang diberikan Kristus. Umat diajar untuk memahami hubungan dengan orang lain termasuk hubungan antara suami-istri (5:22-33), hubungan orangtua dan anak (6:1-5), hubungan antar pekerja dan majikan (6:6-9); harus bercermin pada sikap dan teladan yang diberikan oleh Yesus ketika membangun hubungan dengan jemaatNya. Hubungan Kristus dan jemaatNya harus menjadi pola hubungan antar pribadi dengan jemaat.

Paulus menyadari bahwa tidaklah mudah bagi jemaat menjalani hidup sesui dengan kehendak Kristus Yesus yang telah memberi teladan bagi umatNya. Akan ada banyak tantangan dan godaan yang muncul untuk menghalangi umat menjalani hidup yang berkenan kepadaNya. Itulah sebabnya Paulus dalam bagian akhir suratnya (6:10-20) menyebut upaya umat menghadapi tantangan itu sebagai suatu peperangan rohani, sehingga perlu mem-perlengkapi diri dengan berbagai senjata perlengkapan Allah untuk mengalahkan Iblis.


II.      Pokok Ajaran Efesus 5:22-30

Pada pasal 5:22-30 Paulus menguraikan tentang bagaimana seharusnya sikap seorang suami dan istri terhadap pasangannya masing-masing. Relasi yang dibangun antara suami-istri, menurut Paulus haruslah mendasarkan pada hubungan Kristus dan jemaat sebagaimana diuraikan di atas. Ada beberapa pokok penting yang perlu dijelaskan terhadap uraian Paulus dalam ayat 22-30 bacaan kita ini, yakni:

1.      Perhatikanlah bunyi ayat 22 pasal 5 dalam surat Efesus ini. Paulus menulis: Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan”. Apabila membaca pernyataan Paulus ini dengan cara melepas konteksnya, maka sudah pasti pernyataan ini lebih sering memunculkan sentimen gender. Dengan redaksi ini para suami yang tidak bertanggung jawab sudah pasti menggunakan ayat ini untuk menuntut ketundukan yang absolut dari istrinya.

Untuk itu kita perlu memahami ayat ini pada konteks yang tepat dalam hal kedudukan ayat ini pada keseluruh tulisan surat Paulus di Efesus. Di dalam teks Yunaninya, ayat ini sangat berbeda dengan terjemahan Indonesianya. Aslinya tertulis sebagai berikut: α γυνακες τος δίοις νδράσιν ς τ κυρίῳ, (baca: ai gunaikes tois idiois andrasin os to kurio) yang dapat diterjemahkan dengan bebas menjadi: "Hai, istri, kepada suamimu seperti kepada Tuhan." Dengan kata lain istilah “tunduklah” tidak terdapat dalam teks aslinya pada ayat 22. jika Kalimatnya seperti ini, maka dalam tata bahasa Indonesia kalimat tersebut tidaklah sempurna dan tanpa makna sedikitpun karena tidak memiliki satupun kata kerja (dalam hal ini: “tunduklah”).

Jika demikian, darimanakah istilah “tunduklah” diterjemahkan oleh lembaga Alkitab Indonesia? Pernyataan ayat 22 ini memiliki hubungan yang erat dengan ayat 15-21 pasal 5 surat Efesus. Paulus menyatakan bahwa dalam rangka mewujudkan kehidupan yang telah diselamatkan oleh Yesus Kristus, umat Tuhan harus hidup dengan bijaksana (ay.15) dengan cara mengerti kehendak Tuhan. Mereka yang hidup bijaksana sebagai anak-anak terang, yang telah diselamatkan, terlihat dari sikap hidup sehari-hari yakni:
·     Jangan mabuk anggur (ay.18);
·     Bermazmur dan bernyanyilah untuk memuliakan Tuhan (ay.19);
·     Ucaplah syukur senantiasa dalam segala sesuatu (ay.20) serta;
·     Rendahkanlah diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus (ay.21)

Pada bagian terakhir inilah yaitu pada kalimat: “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (ay.21), pernyataan ayat 22 menjadi jelas. Istilah ποτασσόμενοι (baca: hupotassomenoi) yang diterjemahkan LAI dengan istilah “Rendahkanlah diri” ini berasal dari istilah Yunani ποτάσσω (baca: hupotasso) yang berarti tunduklah, rendahkanlah diri, dan atau menempatkan diri di bawah. Istilah ini bermakna kesediaan untuk menempatkan diri di bawah dari orang lain dengan penuh kerelaan.

Dari uraian di atas dapatlah kita mengerti bahwa istilah “tunduklah” yang diterjemahkan LAI pada ayat 22 jelas tidak ada dalam kalimat, namun mendapatkan kata kerja itu dalam hubungannya dengan ayat 21. Dengan demikian untuk memahami ayat 22 secara benar kita harus memaknainya dalam kaitan dengan ayat 21.

Setiap orang yang telah diselamatkan dan menjadi kesatuan dengan Kristus haruslah saling merendahkan diri satu dengan yang lain sebagai wujud takut akan Kristus atau ketaatan kepada Kristus (ay.21). Hal inipun berlaku bagi seorang Istri kepada suaminya (ay.22). Kesediaannya untuk tunduk atau merendahkan dirinya kepada suami bukan karena takut kepada suami, bukan pula karena suami kuat dan dia lemah, bukan juga karena tuntutan norma masyarakat dan budaya; namun sikap rela merendahkan diri kepada suami ditunjukkan sebagai wujud ketaatan kepada Kristus. Ketaatan kepada Kristus adalah alasan yang utama seorang Istri bersikap hormat dan tunduk kepada suami. Itulah pemahaman yang tepat dari ayat 22 dalam kesatuan makna dengan ayat 21 tadi, sehingga sentimen gender dapat dihindari.

Pengertian ayat 22 di atas sekaligus memaknai secara benar arti dari kalimat “seperti kepada Tuhan”. Hal ini tidak dimaksudkan bahwa seorang istri dituntut untuk tunduk kepada suami karena suami adalah Tuhan. Tidak juga kemudian memberi kesan bahwa suami adalah “tuhan kecil” dalam rumah tangga. Namun seorang istri tunduk dan menghormati suaminya dalam kesadaran bebas tanpa paksaan sebagai ekspresi iman yang sangat mengasihi Kristus dan taat pada kehendakNya.

Pemaknaan ini sekaligus memberikan pengertian pada kewajiban istri dalam ayat 24 yang harus tunduk kepada suami dalam segala sesuatu. Kalimat segala sesuatu bukan berarti membenarkan segala hal yang dilakukan suami yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Segala sesuatu tidak pernah dimaksud bahwa istripun harus patuh pada tuntunan dan arahan suami yang tidak benar dan membawanya pada kehidupan dosa. Jika kondisi ini terjadi, maka istri harus tetap berpegang pada “di dalam takut akan Kristus”. Artinya, hormat dan tunduknya seorang Istri ada dalam ketaatannya pada Kristus. Sehingga istri akan memilih taat pada kehendak Kristus dari pada melakukan dosa karena mengikuti kehendak suami.

2.      Bagaimana dengan kewajiban suami? Paulus menyatakan dalam ayat 25 sbb: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya...”  Kesan yang ditangkap dari ungkapan ayat 25 ini jika dihubungkan dengan tugas suami dan istri adalah “tidak seimbang”. Seakan tugas istri sangat berat yakni harus tunduk kepada suami, sedangkan tugas suami cendrung ringan yakni “hanya” mengasihi istri.

Benarkah demikian? Perhatikanlah lebih seksama kalimat pada ayat 25 ini. Suami diperintahkan untuk mengasihi istri. Istilah mengasihi ini dalam bah. Yunani adalah γαπάω (baca: agapao) dari kata dasar agape (kasih). Istilah ini memiliki makna yang cukup dalam, bukan sekedar mengasihi atau mencintai. Istilah agape atau agapao itu sendiri penggunaannya dalam Perjanjian Baru bukan langsung berasal dari Yunani klasik tapi lebih cenderung dari LXX / Septuaginta (terjemahan PL dalam bah.Yunani), yakni אָהַב (‘ah’ev = Kasih) yang menggambarkan keagungan dan ketulusan kasih Allah kepada manusia (bd. Hos.11:1-4). Itulah sebabnya Paulus menyebut bahwa bentuk nyata Kasih Kristus kepada jemaatNya adalah lewat menyerahkan (παραδίδωμι = paradidomi = memberi) diriNya -ay.25) sebagai wujud keagungan dan ketulusan Kasih Allah. Jadi puncak tertingi dari Kasih Allah bagi umatNya adalah lewat pemberian diriNya bagi dunia. Menyerahkan DiriNya adalah adalah bentuk kongkrit dari kasih Allah.

Apabila seorang suami diperintahkan untuk mengasihi istrinya, itu bukanlah perintah yang “ringan” dan atau kurang sepadan dengan perintah kepada istri yang harus tunduk (hupotasso: merendahkan diri; menempatkan diri di bawah) pada suaminya. Sebab kualitas mengasihi dari seorang suami kepada istrinya harus bercermin pada Kasih Kristus untuk jemaatNya. Oleh karena bentuk nyata kasih Kristus kepada jemaatNya lewat menyerahkan (paradidomi = memberi) diriNya (ay.25) maka suami yang mengasihi istri berarti pribadi yang bersedia menyerahkan dirinya pada istrinya. Seorang yang menyerahkan diriya kepada orang lain adalah pribadi yang bersedia juga untuk merendahkan diri pada orang lain itu.

Sama seperti Kristus mengasihi jemaatNya dilakukan lewat merendahkan diriNya menjadi seorang hamba sebagai wujud pemberian diri Allah bagi keselamatan dunia, maka demikian juga dengan seorang suami. Jika suami mengasihi istrinya, berarti ada kesediaan untuk menyerahkan dirinya kepada istrinya termasuk kesediaan untuk merendahkan diri (hupotasso: tunduk). Jadi dibalik perintah mengasihi mengandung makna merendahkan diri juga sebagai wujud pemberian diri seorang suami kepada istrinya. Bukankah itu perkara yang tidak mudah?

Hal yang sama pun berlaku kepada seorang istri. Jika ia diperintahkan untuk merendahkan diri atau tunduk (hupotasso) kepada suami, mengandung arti bahwa ia pun harus memberi dirinya kepada sang suami. Karena memberi diri adalah wujud dari mengasihi, maka istri yang merendahkan dirinya adalah istri yang mengasihi suaminya. Dengan demikian kedua perintah yang berbeda untuk suami istri ini, mengandung makna yang sama yakni mengasihi untuk memberi diri kepada masing-masing pasangannya yang terwujud lewat saling merendahkan diri. Bukankah hal ini sangat indah jika direnungkan?

3.      Klimaks dari hubungan suami istri itu berpuncak pada pemahaman bahwa mereka bukan lagi dua melainkan satu. Istri tunduk kepada suami karena Kristus; demikian juga suami mengasihi istri karena Kristus, dengan demikian peran dan fungsi mereka disatukan dalam Kristus pada ikatan Kasih Kristus yang agung yang telah mengasihi jemaatnya termasuk suami dan istri itu. Inilah yang dimaksud dalam ayat 28-30 bacaan kita. Suami Istri disatukan dalam Kasih Kristus. Kesatuan itu digambarkan bagaikan kesatuan tubuh dimana Kristus adalah kepalanya. Karena mereka yang berbeda ini telah menjadi satu (tubuh) maka adalah tidak tepat jika suami membenci atau menyakiti istrinya yang adalah tubuhnya sendiri.

Paulus menekankan bagian ini untuk menunjukkan bahwa di hadapan Tuhan, suami-Istri bukan hanya dipandang sama fungsi dan tanggung-jawabnya namun juga lebih dari itu suami istri dilihat sebagai suatu kesatuan yang utuh. Bahwa benar keduanya berbeda, namun mereka adalah satu dalam perbedaan itu. Menyakiti tangan sama dengan membuat seluruh tubuh merasakan sakit, demikian juga menyakiti suami atau istri membuat suami-istri merasakan ketidaknyaman itu.

Rasul Petrus menegaskan: “hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1Ptr.3:7). Hal ini menguatkan apa yang disampaikan Paulus. Suami yang menyakiti istri adalah suami yang kehilangan fungsi doa sebagai imam untuk mendoakan keluarga yang adalah jemaatnya.


RELEVANSI - APLIKASI

Seorang laki-laki dan perempuan adalah dua pribadi yang berbeda. Mereka kemudian menjadi satu dalam perkawinan sebagai suami-istri. Tidak mudah untuk tetap menjadi satu di berbagai perbedaan yang selalu ada. Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah hadirnya berbagai perselisihan atau percekcokan dalam hidup rumah tangga. Penyebab paling utama dan umum adalah karena berbagai perbedaan itu yang lebih ditonjolkan dan bukan kesatuan sebagai jatidri baru suami istri.

Para suami istri kadang menjadi lupa bahwa mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu tidaklah heran jika dalam keluargapun terjadi kompetisi atau bersaingan untuk mengejar pengakuan soal keunggulan dan kelebihan masing-masing. Tanpa sadar suami istri menjadikan rumah tangga sebagai gelanggan pertandingan untuk menentukan siapa yang kalah atau menang. Kekalahan dianggap suatu kegagalan dan sebaliknya kemenangan adalah suatu keberhasilan diri.

Lewat bacaan ini Paulus mengingatkan bahwa suami istri bukan lagi dua pribadi. Mereka memang berbeda tetapi telah menjadi satu. Kesatuan mereka terletak pada ketaatan di dalam takut akan Tuhan. Karena itu rumah tangga bukanlah tempat persaingan memperjuangan kepentingan sendiri melainkan suatu wadah perjuangan bersama untuk kemenangan bersama. Hal ini hanya dapat dilakukan, menurut Paulus, apabila keduanya saling merendahkan diri di dalam kasih yang tulus seperti Kasih Kristus bagi umatNya. Dengan demikian berbagai perbedaan akan melebur dalam keutuhan cinta kasih Allah yang telah mereka peroleh dari Tuhan dan selanjutnya membagikan kepada pasangan masing-masing.

Karena itu marilah saling mengasihi. Bersedialah untuk memberi diri bagi pasangan masing-masing demi kebahagiaan bersama dan bukan kesenangan diri. Sebab suami istri adalah satu dalam kasih Tuhan. Rendahkanlah diri seorang kepada lain di dalam takut akan Tuhan supaya istri dapat dengan tulus dan dalam kerelaan menghormati suaminya dan selanjutnya suamipun dapat dengan kesungguhan mengasihi istrinya. Perbedaan akan selalu ada, namun betapa indahnya jika perbedaan itu dapat disatukan dalam kasih Kristus. Selamat menjadi satu dalam kasih Kristus di tengah perbedaan masing-masing. Amin.



1 PETRUS 2:23-25

  1 PETRUS 2:23-25 Bahan Khotbah Ibadah Keluarga 19 November 2025 PENGANTAR Para penerima surat 1 Petrus ini, hidup dalam masa-mas...