Monday, July 16, 2018

MATIUS 19:23-26 SULIT BUKAN BERARTI TIDAK BISA


MATIUS 19:23-26
SULIT BUKAN BERARTI TIDAK BISA
Bahan Khotbah Ibadah PKP
Kamis, 26 Juli 2018

Pendahuluan
Kisah ini merupakan lanjutan dari ayat 16-22 tentang seorang muda yang kaya, yang datang kepada Yesus mengenai bagaimana sesungguhnya dapat beroleh hidup yang kekal. Yesus menjawab dia dengan memintanya melakukan semua perintah Allah (ay.17-19) dan ternyata semua itu sudah ia lakukan (ay.20). Itulah sebabnya Yesus menyarankannya untuk menjual seluruh kekayaannya, memberikan kepada orang miskin dan kemudian mengikuti Yesus (ay.21). Tetapi rupanya ia tidak bersedia melakukannya (ay.22), dengan alasan hartanya begitu banyak.

Telaah Perikop
Terdapat beberapa pokok penting dari ayat 23-26 bacaan kita saat ini untuk menjadi perhatian kita bersama, yakni:

1.      Kekayaan menghalagi kehidupan Kekal (ay.23)
Menurut Yesus, sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan Sorga (ay.23). Teks ini tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa semua orang kaya pasti tidak akan masuk kerajaan Sorga. Sehingga banyak orang menyangka bahwa menjadi kaya adalah dosa di hadapan Tuhan. Pemahaman seperti ini tidaklah benar.

Jika memperhatikan ayat-ayat sebelumnya, kita akan dengan mudah memahami pernyataan Tuhan Yesus ini. Ketika Yesus meminta orang muda yang kaya ini untuk menjual hartanya, maka ia pergi dengan sedih, karena banyak hartanya (ay.22). Apa artinya? Rupanya si kaya ini terlalu terikat pada kekayaannya dan menjadikan kekayaan sebagai sumber dari segala kehidupannya bahkan lebih memilih untuk tinggalkan Yesus dan tidak mengikutiNya demi menjaga agar kekayaannya tetap ada dan tak berkurang.

Dari pemahaman ini kiranya menjadi jelas bahwa kekayaan, jika menjadi fokus hidup, akan menggiring orang pada kebutaan rohani sehingga ia tidak melihat keselamatan yang dianugerahkan. Sebab menurut Mat.6:21 “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Hal ini berarti jika orang lebih mencintai harta di dalam hatinya, maka tidak mungkin ia mengasihi Tuhan dan berkorban untukNya. Jika itu terjadi maka, kekayaannya telah menjadi penghalang baginya untuk beroleh hidup kekal. 

2.      Sukar bukan berarti tidak bisa (ay.24)
Yesus berkata: “lebih mudah seeokor unta masuk melalui lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah” (ay.24). Kita barangkali bertanya: “bagaimana mungkin ada seeolor unta masuk lubang jarum? Bukankah benangpun sukar?” Lubang jarum yang dimaksud bukanlah jarum jahit yang ada lubangnya. Jika demikian, jangankan unta, semutpun akan sukar melaluinya.

Di pintu gerbang Israel terdapat dua pintu. Pertama, pintu gerbang besar, yang biasanya dipakai oleh orang-orang yang lewat jika menggunakan binatang yang ditumpangi atau membawa barang yang bertumpuk tinggi dan atau jika dengan rombongan besar. Kedua, pintu gerbang kecil. pintu ini terletak di tengah pintuh gerbang besar, yang biasa disebut dengan anak pintu. Ukurannya hanya setinggi manusia dewasa yang paling banyak bisa dilewati dua orang sekaligus ketika berjejer. Jadi jauh lebih kecil dibanding gerbang yang bebar itu. Gerbang kecil ini biasa disebut dengan lubang jarum atau jalur untuk manusia lewat dan bukan unta yang penuh barang.

Apakah unta bisa lewat. Jawabnya bisa. Tetapi perlu dipaksa, dibantu dorong dan tanpa membawa beban atau barang. Jika Yesus menyebut orang kaya sukar masuk ke dalam kerajaan sorga, tidak berarti tidak bisa, melainkan masih dapat diupayakan. Sebagaimana unta akan ditanggalkan barang bawaan, lalu di dorong atau ditarik oleh orang lain, maka demikian juga orang kaya itu. Ia harus bersedia merelakan barang bawaannya (kekayaannya) untuk ditanggalkan, lalu kemudian dibantu oleh orang lain untuk di dorong atau di tarik sehingga lolos melewati lobang jarum tersebut.

Hal ini memberi makna, bahwa walaupun sukar, seorang kaya yang amat tergantung pada kekayaannya masih tetap memiliki peluang untuk menemui kekekalan hidup jika ia ia sadar bahwa harta bukan segala-galanya dan kemudian rela untuk melepaskannya. 

3.      Segala sesuatu mungkin bagi Allah (ay.26)
Mungkin ada kita yang bertanya: Apakah ada orang kaya yang mau melepaskan hartanya? Mustahil bukan? Bagi kita mustahil, tapi tidak bagi Allah. Tuhan punya banyak cara untuk menggiring orang yang terpaut pada hal-hal duniawi untuk tertarik dan kemudian fokus pada hal-hal yang rohani.

Tuhan juga bisa memakai kita untuk menjadi alat bagi mereka yang mencintai perkara duniawi agar kemudian lebih bergantung kepada Kristus yang empunya segala sesuatu termasuk harta dan kekayaan di dunia ini.


Relevansi dan Aplikasi
1.      Menjadi kaya bukan dosa. Bekerja untuk memperoleh keayaan bukanlah suatu kesalahan. Tetapi jika kita menjadikan kekayaan sebagai segala-galanya dalam kehidupan ini sehingga Tuhan diabaikan, maka itulah dosa dan kesalahan.

Bukankah banyak kisah yang kita baca dan dengar mengenai hancurnya kehidupan perkawinan dan rusaknya pergaulan anak-anak justru disebabkan dari upaya mengengejar kekayaan? Sebut saja misalnya: sibuknya orang tua bekerja, anak-anak tidak mendapat perhatian dan akhirnya lari mencari perhatian ke orang lain yang menjerumuskan masa depan mereka; suami yang terlalu sibuk bekerja atau istri yang sibuk berkarir, tetapi lupa memperhatikan pasangan masing-masing, akhirnya membawa malapetaka ketika pasangannya memperoleh perhatian dari orang lain.
Bukankah juga sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang Kristen yang tidak dapat aktif beribadah, di hari Minggu sekalipun oleh karena “tidak punya waktu” lagi akibat keseibukan ditempat kerja? Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Kekayaan seharusnya dipakai untuk menciptakan suasana harmonis, rukun dan damai dan menjadi kesaksian bagi kemuliaan Tuhan dan bukan sebaliknya.

2.      Selalu ada kesempatan bagi setiap orang untuk merubah diri mereka dari ketergantungan kepada harta benda dan kekayaan mereka. Memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa. Mulailah untuk mengubah fokus hidup bukan pada kehidupan duniawi; jadikan kekayaan sebagai sarana dan bukan tujuan utama. Sebab tujuan utama kita adalah demi kemuliaan Allah; harta benda hanya alat dan atau saranya.

Bukankah Tuhan Yesus telah mengingatkan: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat.6:33). Perhatikanlah bahwa Yesus tidak berjanji untuk memberikan sesuatu jika kita mencari kerajaan Allah, melainkan ia berjanji menambahkan apa yang sudah ada bagi kita. Artinya, jika kita lebih condong hati ke Kerajaan Allah maka segala hal yang kita miliki semakin bertambah. Bukankah ini berarti bahwa Harta bukan segala-galanya?

Kiranya kita dimampukan untuk menjadikan Allah yakni Bapa kita di dalam Yesus Kristus sebagai pusat dari segala sesuatu dan bukan harta kekayaan kita. Amin.

Sunday, July 15, 2018

EFESUS 1:15-23 NYATAKANLAH SYUKURMU


EFESUS 1:15-23
NYATAKANLAH SYUKURMU
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Minggu
22 Juli 2018

PENGANTAR (Latar Belakang Kitab)
Surat kepada jemaat di Efesus ini ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia sedang berada dalam penjara di Roma sekitar tahun 60-61 M. Surat ini dikirim Paulus ke Efesus melalui seorang yang bernama Tikhikus (6:21,22) yang juga adalah orang yang sama menyampaikan surat kepada jemaat Kolose. Hal ini terlihat dengan jelas pada kesamaan atau kemiripan redaksional penutup kedua surat ini yakni pada Kol.4:7 dan Ef.6:21-22.

Pada saat itu Efesus dan masyarakatnya dari sisi keagamaan masih sangat dipengaruhi pada penyembahan terhadap dewi Artemis. Penyembahan terhadap dewi ini menjadi hal pokok dan utama bukan saja karena ia dianggap sebagai demi kesuburan dan kemakmuran, namun juga karena di beberapa tempat pada budaya Yunani Kuno, dewi Artemis dipandang sebagai Soteira (penyelamat) dan Agrotera (pemburu) dan merupakan dewi pemimpin para penjaga dari segala hal yang ada di alam liar seperti pohon dan sungai. Bagi Efesus, dewi Artemis sangat dipuja karena ia dianggap menjamin keselamatan dan kehidupan mereka.

Itulah sebabnya isi surat Efesus yang dituliskan Paulus ini berintikan ajaran tentang bagaimana memperoleh keselamatan yang sejati dalam diri orang percaya. Hal ini dengan sengaja dutulis untuk mematahkan pemahaman keselamatan yang muncul diberbagai budaya dan bangsa termasuk Efesus.

TELAAH PERIKOP (Tafsiran)

Ayat 15-17
Bagaimana seharusnya kondisi Paulus ketika menulis surat kepada jemaat di Efesus ini? Silakan bayangkan kondisi orang yang dalam penjara. Sudah pasti menderita, tertekan, dan bisa jadi menyesali hidup. Apalagi Paulus dipenjara bukan karena suatu kesalahan melainkan karena memberitakan Injil Yesus Kristus. Tetapi, perhatikan kondisi dan suasana hati Paulus ketika menulis surat ini: “aku... tidak berhenti mengucap syukur...” ( ay.16). Ternyata Paulus bukan menggerutu, bukan tertekan dan kecewa, tetapi justru ia bersukacita dan bersyukur.

Mengapa demikian? Ayat 15 menjelaskan alasannya. Paulus tetap bersukacita dan bersyukur walaupun ia dalam penjara disebabkan karena suatu alasan yang menurut Paulus itu sangat penting, yakni mendengar kabar tentang iman orang-orang Efesus. Dari mana Paulus tahu? Sangat mungkin dari Tikhikus (6:21,22). Ternyata jemaat yang ia bentuk ini menunjukkan perkembangan yang sangat baik, sehngga menjadi “obat” baginya yang mendatangkan sukacita walau ia berada dalam penjara. Kondisi dalam penjara bukan saja berubah suasana karena kabar itu tetapi juga membuat Paulus lupa tentang suasana penjara karena kesibukan yang baru dalam penjara yakni menjadi pendoa bagi jemaat itu (ay.16) dan sekaligus mendampingi mereka melalu surat yang menguatkan.

Ayat 18-21
Dalam kesesakan dan kebuntuan jalan, pengharapan sangat penting. Itulah sebabnya dalam surat di Efesus ini, Paulus mendoakan mereka agar memperoleh pengertian tentang pengharapan kepada Yesus Kristus (ay.18). Bahwa menurut Paulus, pengharapan yang dimaksud adalah pada kuat kuasa Yesus Kristus yang duduk di seblah kanan Allah Bapa (ay.19,20) dan bahkan kuasaNya itu jauh lebih besar dari kuas amanapun di dunia termasuk para pemerintah yang memenjarakannya (ay.21).

Sangatlah mungkin bahwa kekuatan pengharapan inilah yang membuat Paulus kuat dan mampu menanggung derita di dalam penjara dan kemudian dengan kekuatan itu, ia justru mampu menguatkan dan meneguhkan jemaat Efesus. Bukankah seharusnya orang yang di luar penjara-lah yang menguatkan mereka yang terpenjara? Justru sebaliknya, Paulus menjadi penguat dalam suratnya ini.

Ayat 22-23
Paulus menyebut kata kunci penting bagi hidup berjemaat terutama bagi jemaat Efesus bahwa yang utama dari segala sesuatu adalah mengakui Yesus Kristus sebagai Kepala segala sesuatu termasuk kepala dari jemaat Efesus (ay.22), dan selanjutnya kesadaran diri pada Efesus bahwa mereka adalah tubuhNya (ay.23).

Hal ini bagi Paulus sangatlah penting untuk mengajak jemaat berada dalam satu kesatuan “komando” dari satu kepala yakni Yesus Kristus Tuhan, sekaligus mengingatkan mereka bahwa mereka dalah tubuh Kristus sebagai jemaat agar hidup tidak terpecah, melainkan tetap menjadi satu; menjaga kekudusan hidup sebagai mana Yesus Kristus yang adalah kepala.

Jika memperhatikan keseluruh tulisan Paulus ini, hal mengucap syukur memang karena kabar baik dari Efesus. Tetapi kekuatan mengucap syukur datangnya dari Yesus Kristus. Dialah sumber dari ungkapan Syukur Paulus.


RELEVANSI DAN APLIKASI (Penerapan).
1.      Tinggal dalam penjara di Roma tidaklah mudah bagi Paulus. Pada umumnya para tahanan dalam penjara berpijak pada lantai yang tidak datar, atau memiliki sudut kemiringan. Tangan diikat menjadi satu dengan rantai dan terkait pemberat dari batu yang dibuat menyerupai bola volly. Hal yang sama juga terjadi pada kedua kaki. Kaki dan tangan yang terikat itu kemudian dihubungkan dengan seutas rantai pendek. Sehingga ketika berbaring, cara tidur terbaik adalah tidur melengkung (tidur pistol) atau posisi menyamping sambil melengkungkan badan.

Silakan bayangkan kondisi ini terjadi pada Paulus. Lalu tiba-tiba ia menulis surat dan berkata kepada jemaat Efesus melalui suratnya: “aku... tidak berhenti mengucap syukur...” ( ay.16). Wow... bagaimana mungkin mengucap syukur dengan kondisi seperti itu? Bukankah lebih tepat seharusnya Paulus menggerutu, bersungut dengan kondisi tersebut? Bersyukur dalam penderitaan adalah hal yangg tidak mungkin, tidak logis dan hampir tidak ada yang mau dan bersedia melakukannya.

Tetapi mengapa Paulus mampu melakukannya? Dalam 1 Tes. 5:18, Rasul Paulus mengajarkan: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”. Ternyata perintah ini tidak hanya ia ajarkan tetapi juga ia lakukan dan kerjakan. Bagaimana caranya?

Adalah penting bagi kita untuk mengucap syukur dalam segala keaadaan. Tapi adalah mustahil mengucap syukur di saat sakit atau berduka bukan? Lalu bagaimana mampu melakukannya? Paulus mengucap syukur bukan alasan tentang apa yang ia alami. Ia tidak mengucap syukur berdasarkan kondisi dirinya, melainkan tentang apa yang Tuhan buat bagi jemaat Efesus yang telah berhasil dalam iman (ay.16). Itu berarti kita diajak mengucap syukur bukan karena melihat apa yang terjadi di bawah yaitu disekitar kita (sehat, sakit, bahagia, susah, bekerja, pensiun, ulangtahun dll), tetapi berdasarkan tentang apa yang dilakukan Tuhan di atas sana.

Tidak peduli apa yang terjadi pada kita di bawah kolong langit ini, yang penting adalah apa yang Tuhan lakukan dan rancangkan di atas sana, itulah alasan kita mengucap syukur. Sebab rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera.

2.      Kemajuan Iman jemaat Efesus menjadi inspirasi bagi Paulus untuk bersyukur (ay.16) dan sekaligus membuatnya menyibukkan diri untuk meneguhkan dan menguatkan Efessus melalui doa pribadi dan berbagai nasehat dalam suratnya itu (ay.18-23).

Berapa banyak dari kita yang cendrung untuk menyerah pada keadaan pahit yang dialami. Belajar dari Paulus yang tidak berharap di hibur orang diluar penjara, tetapi malah menjadi kekuatan dan berkat bagi mereka di luar sana, maka demikianlah harusnya kita. Kondisi dan keadaan yang ia alami tidak menjadi penghalang baginya untuk bersyukur dan melanjutkan karya memberitakan injil walau dalam penjara. Kondisi terpuruk itu justru dijadikan kekuatan untuk terus berkarya.

Bagaimana dengan kita? Kiranya kita dimampukan melihat peluang untuk dapat bersyukur dalam segala hal. Paulus bersyukur karena pertumbuhan Iman Efesus, walau ia sendir dalam penjara. Kita diajarkan untuk juga melihat berbagai peluang di kondisi tidak nyaman sekalipun untuk dapat bersyukur dan memuliakan Allah.

Di sisi yang lain, kitapun di ajar untuk tidak terpaku pada “penjara” hidup kita masing-masing, sebagaimana Paulus tidak terpaku pada sempitnya Penjara, namun tetap sibuk menulis surat dari penjara untuk menguatkan jemaat Efesus dan Kolose. Berhentilah fokus pada masalah dan beban hidup. Jangan hanya melihat beban yang dipikul, alihkanlah sudut pandang kita pada kekuatan dan kuasa Allah dalam Yesus Kristus untuk beroleh pengharapan (ay.18-20) dan mulailah menjalani kehidupan yang posistif sebagaimana Paulus lakukan.

Kiranya, kita semua dimampukan. Amin.


Friday, July 13, 2018

MAZMUR 40:12-18

"Merasa Tidak Mampu"
Bahan Khotbah Ibadah Keluarga GPIB Pniel Palembang
Rabu, 18 Juli 2018 


Pengantar
Keterangan tentang mazmur ini hanya ditulis “untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.” Artinya, kemungkinan besar mazmur ini ditulis berdasarkan pengalaman hidup Daud.  Selanjutnya, pada bagian bawah, Alkitab LAI merujuk pada Mzm 70:2-6.  Pada Mzm 70 ini ditulis keterangan yang lebih jelas yaitu “untuk pemimpin biduan, Dari Daud, pada waktu mempersembahkan korban peringatan.”

Berdasarkan keterangan itu, baik-lah kita mencari tahu, apa yang dimaksud dengan ‘korban peringatan’. Korban peringat-an disebut juga dengan korban sajian cemburuan, yaitu suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan (Bil 5:1-18).  Bil 5:11-18:  "… Apabila isteri seseorang berbuat serong dan tidak setia terhadap suaminya, dan laki-laki lain tidur dan bersetu-buh dengan perempuan itu, dengan tidak diketahui suaminya, … dan apabila kemudian roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya … maka haruslah orang itu membawa isterinya kepada imam. Dan orang itu harus memba-wa persembahan karena perempuan itu sebanyak sepersepuluh efa tepung jelai, yang ke atasnya tidak dituangkannya minyak dan yang tidak dibubuhinya kemenyan, karena kor-ban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan ke-pada kedurjanaan …”

Berdasarkan keterangan ini, besar kemungkinan bahwa mazmur ini berhubungan dengan peristiwa Daud dan Batsyeba (2Sam 11:1-27).

Pemahaman Teks
Ay. 12&14          
adalah permohonan supaya TUHAN jangan menahan rahmat, kasih dan kebenaran-Nya tetapi melepaskan dan menolong Daud. 

Ay. 13   
Daud merasa dikejar-kejar bukan saja oleh musuh yang kelihatan tetapi oleh rasa bersalah sehingga ia mengalami malapetaka.  Malapetaka ini merujuk pada peristiwa diambilnya isteri-isteri Daud oleh Tuhan untuk ditiduri oleh orang lain dengan sepengetahuan Daud dan di depan mata orang Israel, kematian anak pertama Batsyeba dari Daud sampai peristiwa saling bunuh di antara keturunan Daud (2Sam 12:10-13).

Ay. 15-16            
Menggambarkan keberadaan musuh-musuh Daud yang memang menunggu-nunggu bilamana Daud mati ataupun celaka maka mereka akan bersorak.

Ay. 17   
Sebaliknya dari itu, orang yang mencari keselamatan dari Tuhan akan bergembira dan bersukacita.

Ay. 18     
Adalah keyakinan iman bahwa Tuhan memperkatikan dan menolong bahkan membebaskan orang yang mencari keselamatan dari pada-Nya dengan tidak terlambat.

Renungan dan Penerapan
Rasa bersalah dan doa mohon pengasihan Tuhan yang sedemikian, membuat ki-ta tergelitik untuk menelusuri: apa sebenarnya disesalkan Daud.  Peristiwa Daud dan Bat-syeba (2Sam 11:1-27) ternyata memakan tidak hanya nyawa Uria, suami Batsyeba tetapi juga anak pertama yang dilahirkan Batsyeba bagi Daud.  Ketika raja Daud ditegur nabi Natan, Tuhan (melalui nabi Natan) menekankan bahwa membiarkan sesama umat Tuhan mati di tangan orang kafir adalah suatu penghinaan dan penistaan bagi Tuhan (2Sam 12:9).  Tidak berhenti sampai di situ, anak pertama Batsyeba dari Daud yang tidak tahu apa-apa pun akhirnya mati menanggung tulah (2Sam 12:15-19).  Rasa bersalah atas dua nyawa inilah yang sepertinya membuat Daud tidak berhenti dikejar rasa bersalah dan terus menerus mohon pengampunan Tuhan.

Hampir semua kita pernah melakukan kesalahan atau berbuat dosa sedemikian rupa yang membuat kita merasa seperti ‘masih dikejar-kejar’.  Dosa atau kesalahan yang kita lakukan bisa jadi memang merupakan masalah serius dan berdampak parah, tidak hanya bagi kita sendiri tetapi orang lain.  Mungkin sama seperti Daud, kita pun pernah memohon kepada Allah … berpuasa dengan tekun … menghukum diri (tidak mau bangun dari tanah, tidak makan, mengurung diri, dll (2Sam 12:16), namun kita tetap ‘dihukum’ Tuhan:  anak pertama Batsyeba dari Daud, tetapi mati tanpa ampun.  Diskusi 1:  Jika kita sudah mohon ampun sedemikian rupa tetapi Tuhan tetap menghukum, apa yang sebaiknya kita lakukan dan bagaimana kita menyikapi keputusan Tuhan itu?

Setelah anak pertama Batsyeba dari Daud mati sesuai keputusan Tuhan, Daud pun bangkit kembali menata hidup dengan Batsyeba (2Sam 12:24-25).  Semua kita pun sebaiknya begitu.  Salah satu yang dilakukan Daud adalah dengan mempersembahkan korban peringatan sesuai ketentuan.  Akan tetapi terbukti bahwa (ritual) mempersem-bahkan korban peringatan atau upaya memenuhi syarat demi mendapat pengampunan Tuhan, kadang tidak cukup menghapus rasa bersalah.  Dalam melakukan ritual itu pun, kita masih tidak berhenti memohon rahmat, kasih dan kebenaran Tuhan untuk melepas-kan dan menolong kita.  Ini berarti, mengimani pengampunan Allah memang tidak semudah melakukan ritualnya.

Sebagai orang Kristen, ‘ritual’ pengampunan dosa pun sangat sederhana: me-ngakui kesalahan, memohon ampun dan tidak mengulangi kesalahan dan dosa itu lagi.  Kita tidak perlu mempersembahkan apapun kepada Tuhan melalui gereja (persembahan kita berupa persembahan syukur bukan persembahan ‘korban’), cukup kesungguhan ber-tobat.  Akan tetapi, tidak semua orang dapat dengan mudah mengimani bahwa dosa dan kesalahannya sudah sepenuhnya diampuni Tuhan (2Sam 12:13 “TUHAN telah menjauh-kan dosamu itu; engkau tidak akan mati”).  Diskusi 2:  Sebutkan hal-hal apa saja dalam kehidupan sehari-hari yang sebenarnya sedang menyampaikan kepada kita bahwa kita sudah diampuni Tuhan!

Jika kita hayati (lih. perkataan Yesus kepada orang berdosa):  Allah adalah Pemurah dalam mengampuni.  Yang membuat kita terus merasa bersalah adalah ketidak-mampuan kita memahami kasih dan keadilan Allah karena kita sendiri lebih suka mengi-kuti cara berpikir orang pada umumnya yaitu ‘dihukum’ ketimbang ‘diampuni.




Tuesday, April 25, 2017

JEHOVAH NISSI Kel.17:8-16

JEHOVAH NISSI
=============

Ada yang menarik dari kisah peperangan antara Israel dan Amalek dalam perjalanan padang gurun ketika mereka berada di Rafidin (Kel. 17:8-16).

Yosua mengambil posisi memimpin pasukan di garis depan menghadapi Amalek. Tepatlah jika pada peperangan itu ia disebut panglima perang dengan pertaruhan yang tak sedikit yakni nyawanya (ay.10).

Di mana Musa? Pada ayat 8 perannya sebagai leader mengatur strategi dan "pemberi intruksi" kepada Yosua. Apa hanya itu? Musa menugaskan dirinya sendiri yakni "hanya" mengangkat tongkat Allah di atas sebuah bukit (ay.9).

Ahhh... Peran Musa terkesan sepele dan cari aman di atas bukit. Tapi sesunguhnya peran "sepele" ini justru sangat menentukan. Jika "tongkat Allah" diangkat Musa, Yosua dan Israel menang dan jika ia menurunkan tongkat itu, terjadi sebaliknya (ay.11). Sepele, namun sangat berarti bukan?

Kisah ini semakin menarik dengan munculnya dua tokoh dengan inisial 2H, yaitu Harun dan Hur. Apa peran mereka? Peran mereka "sangat enteng" dibanding keringat dan darah yang ada pada pasukan di medan tempur.

Mereka hanya bertugas mencari batu untuk tempat duduk Musa. Hemmm.. tugas yang amat ringan bukan? Karena Musa mulai lelah, mereka "hanya" membantu menopang tangan Musa di sisi kiri dan kanan (ay.12). Apalah arti tugas itu dibanding mengayunkan pedang seperti Yosua dan pasukannya?

Tapi tahukah saudara, andai mereka tidak sediakan tempat duduk untuk Musa dan membantu mengangkat "Tongkat Allah" itu, kisah kemenangan itu tidak akan tercatat (ay.14)?

Ternyata 4 tokoh ini memberi andil dengan bentuk kontribusi berbeda bagi kemenangan Israel atas Amalek.

Tak peduli di lini mana engkau ditempatkan; tak soal sebesar apa ruang lingkup tanggung-jawab mu; dan tak jadi masalah se-strategis apa posisimu dalam tiap peran. Prinsip utama adalah tetap bergerak, tetap berfungsi dalam tiap peran. Terkecil apapun, sangat berarti peranmu bagi suatu kemenangan atau keberhasilan.

Selanjutnya, perhatikan ayat 15 dan 16. Musa dan yang lain tidak berlomba memuji peran masing-masing dan ataupun menunjuk diri sebagai yang paling penting posisinya saat perang usai. Musa justru mendirikan mezbah. Ia menamakan mezbah itu TUHANlah panji-panjiku (JEHOVAH NISSI  ×™ְהוָ×” × ִסִּ×™).

Dalam peperangan, panji-panji adalah simbol pasukan serta lambang kehormatan dan kebanggaan. Selama panji-panji masih tegak berdiri, pasukan itu masih ada dalam kehormatan berjuang mencapai kemenangan. Di mana panji-panji berada di situlah pasukan berkumpul. Jika panji-panji bergerak maju, pasukanpun bergerak dengan semangat menerjang musuh. Dengan kata lain, panji-panji adalah penentu.

Mezbah itu adalah suatu pengakuan. Pengakuan dalam kerendahan dan kesadaran bahwa kemenangan atas Amalek adalah karena TUHAN, Allah Israel. JEHOVAH NISSI adalah penentu.

Sahabat...
Berperanlah sesuai posisi, kondisi, kemampuan dan keahlian diri. Bukan soal besar kecil andilmu yang menentukan suatu kemenangan bersama. Tetapi bersediakah engkau bergerak pada peran masing-masing dengan fungsi yang tak sama, itulah yang menentukan.

Hanya ingatlah pada semboyan Musa yakni "Jehovah Nissi" itu. Sehebat apapun kita berperan dan bergerak bersama, TUHANlah penentuNya. TUHANlah panji-panjiku.

Refleksi Kel.17:8-16
Sesuai bacaan Sabda Bina Umat (SBU GPIB)
25 April 2017 (bacaan malam).

Tuesday, February 28, 2017

BAIK ATAU BURUK

AYUB 2:8-13
Bahan Renungan Ibadah Keluarga
01 Maret 2017

Oleh: Pdt. Cindy Tumbelaka


            Dalam Alkitab, Ayub dihadirkan sebagai orang yang sifatnya saleh dan jujur, takut a-kan Allah dan menjauhi kejahatan (1:1).  Dengan kata lain, kehidupan keagamaan dan keiman-an Ayub baik (1:5).  Sebagai seorang kepala keluarga, Ayub memiliki 7 (tujuh) anak laki-laki dan 3 (tiga) anak perempuan (1:2).  Dengan demikian, Ayub dapat dikatakan sebagai laki-laki yang berbahagia dan patut berbangga hati di hadapan orang (Mzm 127:3-5).  Ayub juga dica-tat sebagai orang yang terkaya dari semua orang di wilayah itu (1:3).  Kesimpulannya, Ayub menjalani hidup yang sempurna sebagai manusia karena diberkati Allah.
            Di mata Allah, Allah pun mengakui bahwa tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun mengalami kecelakaan tanpa alasan (ay. 3).  Hal ini dikatakan Allah setelah Allah membiarkan harta kekayaan Ayub dirampas orang, budak-budaknya mati dibunuh (1:15), peternakannya habis terbakar (1:16), ternak dan penjaga-penjaganya habis dibunuh (1:17), anak-anak Ayub pun mati tertimpa rumah yang roboh ditiup angin ribut (1:18-19).  Walaupun sudah sedemikian habis, iblis masih mendesak Allah untuk menimpakan penderitaan badani pada tubuh Ayub (2:4-5) maka jadilah Ayub terkena barah yang busuk di seluruh tubuhnya (2:6-7).

Pemahaman Teks
2:8        Barah yang busuk itu membuat seluruh badan Ayub menjadi sangat gatal sehingga ia menggaruknya dengan sekeping beling.  ‘Sekeping beling’ memberi gambaran betapa parahnya kerugian materi yang diderita Ayub.  Segala kekayaan yang dimiliki hancur berkeping-keping sehingga menyisakan pecahan-pecahan kaca/ beling.  Demikian juga dengan ‘abu’ yang menggambarkan keadaan yang sudah habis sama sekali hanya menyisakan abu.  Dalam Alkitab, ‘abu’ dipakai sebagai tanda merendahkan diri di hadapan Allah (Ayb 42:6).[1]
2:9        Ternyata, sekalipun Ayub adalah seorang yang saleh dan takut akan Tuhan, sifatnya ini tidak dijiwai juga oleh isterinya.  Isteri Ayub sepertinya tidak mau menerima kenyataan yang dihadapi yaitu kehancuran dan penderitaan.
2:10      Terhadap usul isterinya supaya Ayub tidak lagi bertekun dalam kesalehan dan mengutuki Allah, Ayub memandang usul ini ‘gila’.  Alkitab memberi catatan penting terhadap sikap iman Ayub ini, yaitu dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
2:11      Malapetaka yang menimpa Ayub mengundang simpati dari teman-teman, khususnya Elifas, Bildad dan Zofar.  Mereka datang dari daerah masing-masing untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.
2:12      Yang membuat Elifas, Bildad dan Zofar menangis/ berduka adalah tampilan Ayub yang dipenuhi barah busuk seluruh tubuh sehingga tidak dapat dikenali dengan mudah.
2:13-14 Tindakan Elifas, Bildad dan Zofar yang menaburkan debu di kepala merupakan tanda bahwa mereka turut berduka secara mendalam.  Mereka tidak dapat lagi mengucapkan kata-kata penghiburan selain duduk bersama Ayub di tanah selama 7 (tujuh) hari 7 (tujuh) malam.

Renungan dan Penerapan
            Pada pasal 1 dan 2 saja kita dapat melihat bagaimana dengan iman Ayub siap meng-hadapi kenyataan pahit bahwa ia kehilangan segalanya, termasuk 10 (sepuluh) anak yang sa-ngat dikasihinya.  Kesiapan Ayub tampak pada ucapan:  "Dengan telanjang aku keluar dari kan-dungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (1:21).  Juga ketika Ayub berkata kepada isterinya:  “… Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" (ay. 10).  Ayub ‘siap menerima yang buruk’ dari Allah sebagaimana ia siap menerima yang baik.  Lalu apa yang sebenarnya membuat Ayub berduka?
‘Siap menerima keadaan’ bukan berarti ‘dengan senang hati’.  Berdasarkan iman, ide-alnya kita harus ‘siap’ menerima apapun pemberian Allah.  Akan tetapi sebagai manusia, rasa kehilangan dan rindu, khususnya ketika ditinggalkan orang-orang yang sangat dikasihi, tentu ti-dak bisa diabaikan begitu saja.  Jadi, berduka karena merasa rindu atau kehilangan itu wajar selama kita dapat mengendalikan diri dari berbuat dosa (ay. 20 dan 1:22 = tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut).  Jadi, bukan karena kenyataan buruk inilah Ayub berduka melainkan lebih karena kebingungannya mengenai: mengapa hal-hal buruk dapat terjadi atas orang baik/ benar. 
Ayub tidak pernah tahu bahwa dirinya dijadikan ‘taruhan’ antara Allah dengan iblis; yang ia tahu hanyalah dirinya yang sudah berusaha hidup sebaik mungkin di mata Allah dan manusia tetapi malah tertimpa malapetaka.  Dalam hidup beriman, kita pun akan mengalami hal-hal buruk yang tidak hanya membuat kita merugi tetapi bingung: kesalahan/ dosa apa yang telah kita perbuat?  Dalam keadaan bingung maupun panik menghadapi kenyataan, kita sering-kali melakukan tindakan gegabah, seperti menuduh Allah berbuat yang kurang patut (1:22), mengambil keputusan yang salah, melanggar peraturan/ hukum, melampiaskan marah/ kece-wa/ frustasi melalui tindakan anarkis, dll.  Dari Ayub, kita belajar bahwa pengakuan iman ten-tang TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil (1:21) maupun kita juga harus mau me-nerima yang buruk dari Allah sebagaimana kita menerima yang baik (ay. 10) adalah yang me-mampukan kita menghadapi kenyataan dalam keadaan bingung. 


Hal kedua yang tidak kalah memberatkan Ayub dalam menghadapi kenyataan buruk adalah hilangnya dukungan dari pasangan hidup, yaitu isteri, ketika isteri ternyata ‘tidak sei-man’ dengannya (= agamanya sama namun pengakuan, pemahaman dan tindakan imannya berbeda).    Sikap isteri Ayub ini benar-benar menjadi peringatan bagi kita untuk juga memper-hatikan kesiapan keluarga ketika kita hendak melayani Tuhan dengan lebih serius.  Kita yang beriman dan taat kepada Tuhan harus juga memperhatikan pertumbuhan iman orang-orang di sekitar karena iman mereka ternyata sangat penting dan cukup berpengaruh pada saat kita menghadapi kenyataan buruk.  Kenyataan akan terasa jauh lebih buruk jika kita mengadapinya sendiri tanpa topangan iman dari orang-orang terdekat, khususnya pasangan hidup.
Bukan dari isteri, Ayub mendapat dukungan melainkan dari sahabat-sahabatnya.  Apa yang dilakukan sahabat-sahabat Ayub ini mengilhami kita ketika hendak mendampingi orang yang sedang berduka.  Cara kita menghibur ataupun menguatkan orang berduka tidak selalu dengan membicarakan apa yang terjadi maupun memberi nasihat tentang apa yang harus dilakukan, sekalipun nasihat itu tepat.  Hanya dengan duduk bersama dalam diam di tempat di mana orang itu ‘terlalu lemah untuk beranjak’, itu cukup menguatkan.  Sekalipun nasihat yang kita sampaikan itu baik dan benar namun dalam keadaan seperti ini, orang belum tentu siap menerima malah dapat berprasangka buruk.  Tunggu saja sampai orang yang berduka itu siap untuk bicara.  Sambil menunggu, silahkan berdoa di dalam hati kepada Tuhan, mohon hikmat dan kekuatan untuk menjadi pendamping yang baik juga untuk menghadapi kenyataan buruk ini bersama. Amin





[1] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini jilid 1: A-L, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF, 1994, hlm. 8



Saturday, February 11, 2017

AKU HANYA MENJALANKAN KEWAJIBAN AGAMAKU

AKU HANYA MENJALANKAN KEWAJIBAN AGAMAKU
Upaya Memposisikan Diri Sebagai Seorang Imam dan Orang Lewi
Dalam Perumpamaan Orang Samaria Yang Baik Hati Yang Diceritakan Yesus
Menurut Injil Lukas 10:25-37

Pdt. I Nyoman Djepun

P E N D A H U L U A N

Membaca perumpamaan Tuhan Yesus pada injil Lukas 10:25-37 tentang “Orang Samaria Yang Baik Hati”, umumnya banyak orang menganggap bahwa tindakan seorang Imam dan orang Lewi yang hanya meninggalkan orang yang hampir mati itu, merupakan tindakan tidak terpuji, tidak berperi-kemanusiaan; dan bahkan dianggap tidak seharusnya dilakukan oleh seorang agamawan. Alasan utama pendapat ini adalah karena imam dan orang lewi tersebut tidak memberikan pertolongan, sebagai orang-orang yang memperoleh kesempatan pertama untuk menolong. Di sisi lain, tindakan “orang Samaria yang baik hati ini” justru kontras dengan sikap para rohaniawan tersebut.
Uraian berikut ini mencoba untuk melihat kisah perumpamaan ini dengan “sudut pandang yang baru” dengan cara menempatkan diri sebagai imam dan orang Lewi dalam cerita tersebut. Dengan menempatkan diri sebagai mereka, kiranya dapat diketahui alasan dan latar belakang dari tindakan keduanya yang seakan memberi kesan gagal menjadi sesama manusia bagi seorang korban perampokan di jalan Yerusalem ke Yerikho.   

JALAN PENGHUBUNG KOTA YERUSALEM KE YERIKHO
Jalan dari Yerusalem menuju ke Yerikho hanya 27 kilometer (17 mil) panjangnya, dan di sekitar jalan ini terbentang jalan yang menurun sekitar 1.000 meter.[1] Wilayah ini sebenarnya tidak berpenduduk, tidak ada tanaman, dan ditandai dengan adanya batu-batu karang kapur dan jurang di kedua sisi jalan. Pada zaman Alkitab, jalan tersebut diberi nama "jalan berdarah," kemungkinan besar karena dianggap tidak aman. Rute ini sering dilewati oleh para peziarah dan para kafilah. Dari waktu ke waktu mereka dirampok oleh bandit-bandit yang bersembunyi di belakang batubatu kapur.[2] 
Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa jalan yang dilalui oleh orang yang dirampok pada perumpamaan “Orang Samaria Yang Baik Hati” itu merupakan jalan yang rawan, sulit dilalui serta tidak aman bagi para penggunanya. Tidak heran jika perampokan terjadi di situ. Kemungkinan besar kisah yang diangkat oleh Yesus, dalam perumpamaan ini, adalah peristiwa yang pernah terjadi walaupun tokoh-tokoh fiktif menghiasi kisah tersebut.

YERUSALEM DAN YERIKHO
Terdapat dua tempat yang disebutkan oleh Yesus dalam perumpamaan ini, yakni Yerusalem dan Yerikho. Kedua tempat ini memang berbeda, namun memiliki konektivitas yang dalam dengan kisah ini secara khusus dengan dua tokoh pertama, yakni Iman dan Orang Lewi.
Kota Yerusalem adalah salah satu kota termasyur di dunia yang sudah berdiri sejak milenium 3sM. Kota ini terletak menjulang tinggi di punggung bukit pegunungan Yehuda, dan terletak kr 50km dari Laut Tengah dan kr 30km sebelah barat ujung utara Laut Mati. [3] Di kota inilah bangunan suci orang Israel yakni Bait Allah (biasa disebut Bait Suci)[4] berdiri megah yang menjadi pusat peribadahan dan penyembahan umat kepada Allah.
Kota Yerikho dalam PL biasa dianggap sama dengan bukit Tel es-Sultan yang terletak kr 16km sebelah Baratlaut muara sungai Yordan sekarang di Laut Mati, kr 2km Baratlaut dari desa er-Rikha (kota Yerikho Modern), dan 27km Timurlaut dari kota Yerusalem. Kota ini berbentuk jambu biji dengan ukuran panjang kr 400m utara-selatan dan lebar ujung utaranya kr 200m dengan tinggi kr 20 meter. Berbeda dengan Perjanjian Lama, kota Yerikho menurut Perjanjian Baru, khususnya pada zaman Herodes terletak di bukit Tulul Abu el-‘Alayiq, 2 km sebelah Barat desa er-Rikha modern. Dengan demikian, letak kota Yerikho dalam PB dan dalam kisah ini berada di sebelah selatan kota Yerikho dalam Perjanjian Lama.[5] Kota ini kemudian terkenal memiliki jumlah penduduk yang sangat tinggi. Kota ini juga merupakan tempat tinggal para imam.
Mengapakah orang-orang ini berjalan melalui jalur Yerusalem-Yerikho ini? Tampaknya sebagian besar imam dan orang Lewi yang bertugas di Bait Suci tidak tinggal di Yerusalem tetapi ditempat lain[6]. Yerikho merupakan salah satu tempat tersebut. Diduga ada kurang lebih 12 ribu imam dan orang Lewi tinggal disana[7] (jumlah total imam Bait Allah adalah sekitar 7200 orang dengan jumlah orang Lewi yang lebih banyak lagi) [8]. Berdasarkan fakta ini maka adalah wajar jika Imam dan orang Lewi melakukan perjalanan melalui jalur tersebut.

SIAPAKAH IMAM DAN ORANG LEWI ITU?
Imam adalah orang-orang yang bertugas menjalankan ritual keagamaan di Bait Suci. Para imam ini dibagi menjadi 24 kelompok yang setiap kelompok bertugas selama 1 minggu per waktu sebanyak 2 kali dalam satu tahun. Meskipun begitu dalam hari-hari raya besar mereka semua diminta untuk bertugas.[9] Sedangkan Orang Lewi juga merupakan petugas dalam Bait Suci. Tugas mereka ialah bernyanyi dan memainkan musik untuk ibadah-ibadah yang berlangsung, membantu pekerjaan para imam dan menjadi penjaga[10]. Mengingat bahwa kehidupan bangsa Yahudi berpusat kepada Bait Suci maka tentulah orang-orang yang bertugas dan melayani disana memiliki status sosial dan kebanggaan tersendiri.

MENGAPA MEREKA MENGABAIKAN ORANG YANG DIRAMPOK ITU?
Dalam ayat 31-32 dikatakan dalam teks ada seorang imam dan lewi yang melewati daerah tersebut dan menemukan orang yang sedang tergeletak di jalan tersebut yang baru saja di rampok dan dipukuli sampai setengah mati. Namun, imam tersebut hanya melewatinya saja dan tidak menolongnya. Membayangkan situasi yang ”setengah mati” tersebut dengan perspektif melihat dari kejauhan, tentulah imam tersebut tidak bisa membedakan apakah sudah mati atau masih kritis “setengah mati” sebagaimana tertulis dalam ayat 30.
Ia tidak menolong kemungkinan disebabkan karena ia teringat akan ketentuan bahwa barangsiapa yang menyentuh orang mati maka ia menjadi najis selam tujuh hari (Bil 19:11). Imam ini ragu-ragu apakah ia masih hidup atau sudah mati, oleh karena itu ia tidak mau menolongnya. Selain ia menjadi najis dan tidak dapat melakukan kegiatan di Bait Allah, maka agar dapat menjadi tahir kembali, seorang imam harus melakukan ritual yang rumit dan juga membutuhkan biaya yang mahal untuk melakukan pentahiran tersebut (Bil 19:1-10). Sehingga kemungkinan dengan alasan tersebut imam ini tidak menolong orang ini dan lebih mementingkan kehidupan pribadinya daripada menolong sesama.[11]
Kemudian di ayat 32 juga dikatakan bahwa orang Lewi juga melihat orang yang tergeletak tersebut, namun dia juga tidak menolongnya. Alasan yang sama seperti dengan Imam kemungkinan menjadi penyebabnya. Selain itu, biasanya para bandit mempunyai strategi untuk menarik mangsanya. Bisa saja orang yang sedang terbaring itu adalah salah seorang anggota mereka sendiri yang bertindak sebagai korban. Kalau orang Lewi itu berhenti disitu maka dengan tiba-tiba para perampok juga akan menyergap dia dan merampok harta bendanya. Orang Lewi terkenal dengan semboyan “pertama-tama adalah keamanan diri”, jadi ia tidak mau mengambil resiko dengan menolong orang tersebut.[12] Selain takut jika korban itu adalah stategi yang digunakan oleh perampok, kemungkinan orang Lewi juga takut menjadi najis mengingat ia mempunyai tugas di dalam Bait Allah seperti yang telah dijelaskan di atas.

SALAHKAH AKU JIKA INGIN MENJALANKAN KEWAJIBAN AGAMAKU?
Dari uraian di atas, maka di saat kita menempatkan diri sebagai orang lewi dan imam dalam perumpamaan Yesus mengenaii Orang Samaria Yang Baik Hati tersebut, terdapat beberapa penekanan penting untuk dapat dijadikan alasan mengapa tindakan mereka berdua dapat dianggap “tindakan tak keliru” saat mengabaikan orang yang hampir mati tersebut, yakni:
1.       Siapakah orang yang sedang “setengah mati” akibat dianiaya oleh para penyamun tersebut? Sepertinya, Yesus tidak fokus pada tokoh yang terkena musibah tersebut. Hal ini terlihat dari tidak diuraikannya oleh Yesus latar belakang korban (status sosial, kebangsaan dll). Alkitab menyebut hanya 1 kepastian yakni ia telah dianiaya dan saat itu sedang sekarat atau hampir mati. Istilah “setengah mati” bisa berarti hampir mati, yakni kondisi yang terlihat seakan ia sudah mati (tak bergerak, penuh luka dan darah). Di mata imam dan orang Lewi orang setengah mati ini seperti sudah mati dan menjadi mayat. Walau ternyata kenyataannya, ia belum mati. Tetapi apakah mereka berdua tahu bahwa sang korban belum mati? Atau mereka hanya tahu bahwa dijalan itu jenasah orangg mati?
2.       Merujuk pada Imamat 21:1 yang menyebutkan: TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun, dan katakan kepada mereka: Seorang imam janganlah menajiskan diri dengan orang mati di antara orang-orang sebangsanya,  menunjukkan bahwa tindakan seorang Imam pada perumpamaan tersebut, didasarkan atas ketaatannya pada perintah TUHAN sendiri. Demi menjaga kekudusan dirinya sebagai pelayan di Rumah TUHAN, maka ia memilih menghindari “sesuatu” yang terlihat seperti jenasah tersebut. Dengan kata lain, bahwa ia sendiri terikat pada ketentuan agamanya sendiri, yang melarang dirinya sebagai imam untuk menyetuh orang mati. Menyentuh orang mati membuatnya menjadi najis. Dan dampak dari kenajisan tersebut adalah tertutupnya kesempatan bagi mereka sebagai pekerja Bait Allah untuk melayani Allah.
3.       Selanjutnya, apabila memperhatikan Taurat dalam kitab bilangan 19:11, kita mendapat penjelasan bahwa lamanya seseorang menjadi najis karena menyentuh mayat adalah 7 (tujuh) hari, maka cukup beralasan bahwa sangat beresiko bagi kedua pelayan Bait Allah itu apabila menolong orang yang “setengah mati” tersebut yang terlihat menurut mereka adalah jenasah orang mati. Adalah sangat mungkin dengan kurun waktu yang lama itu (satu minggu) mereka tidak dapat menjalankan tugas sebagai imam dan sebagai orang lewi dalam penugasan khusus tersebut.
Dari 3 (tiga) poin penting ini, maka kita menemukan dalam persepktif kewajiban dan ketentuan agama dan secara khusus sebagai pelaksana kegiatan keagamaan, imam dan orang lewi justru tidak gagal, melainkan karena ketaatan pada kaidah agamanya-lah hal itu mereka lakukan. Pengabaian terhadap orang yang dirampok tersebut tidak dapat disalahkan kepada mereka apabila berada dalam usaha menjalankan kewajiban agama.
ADAKAH YANG TERLEWATKAN (refleksi penutup)
Uraian di atas tidak bermaksud membenarkan imam dan orang lewi atas tindakan mereka. Tetapi mencoba berada diposisi mereka dan menemukan perspektif yang benar dari sudut pandang kedua orang tersebut. Tetapi, apakah tindakan mereka benar secara kemanusiaan? Perumpamaan Yesus tidak berkonteks pada kewajiban melaksanakan panggilan keagamaan Yahudi. Perumpamaan Yesus justru berada pada latar pertanyaan: “siapakah sesamaku manusia?” Hal ini berarti, Yesus sedang menjawab bagaimana seharusnya BERSIKAP SEBAGAI SESAMA MANUSIA.
Inilah kegagalan orang lewi dan imam tersebut dalam perumpamaan Yesus. Benar bahwa mereka menjalankan kewajiban agama dengan baik, tetapi mereka gagal berprilaku sebagai sesama manusia bagi orang yang hampir mati itu. Yesus tidak bicara soal kewajiban aturan keagamaan, tapi Yesus mengoreksi kegagalan prilaku kemanusiaan seorang yang beragama dan pengajar keagamaan yakni si penanya yang adalah ahli Taurat. Mengasih Allah dengan menjalankan kewajiban agama secara liturgis adalah baik. Tetapi lebih mulia dan lebih berkualitas hidup keagamaannya apabila ia mengasihi Allah dengan cara mengasihi sesamanya manusia sebagai ciptaan Allah.   

DAFTAR PUSTAKA

Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 2006
Barclay, W., Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Lukas, Jakarta:BPK Gunung  Mulia, 2011
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, Jakarta: Yayaysan Komunikasi Bina Kasih, 2007
e-Sword, Albert Barnes' Notes on the Bible, Lukas 10:30
Ferguson, E., Backgrounds of Early Christianity, Michigan: Eerdmans Publishing Co., 2003
Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius – Wahyu, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2003
Wahono, S. W. , Di Sini Kutemukan : Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab, Jakarta: Gunung Mulia, 2011

ONLINE SOURCE
http://www.sarapanpagi.org/25-orang-samaria-yang-murah-hati-vt1699.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Bait_Allah_(Yerusalem)



[1] Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius – Wahyu, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2003), hlm. 219.
[2] Cerita-cerita mengenai perampok-perampok di jalan raya sepanjang jalan ke Yerikho telah dicatat sejak dahulu sampai sekarang. Misalnya, lihat komentar Jerome tentang Yeremia 3:2. Lihat: http://www.sarapanpagi.org/25-orang-samaria-yang-murah-hati-vt1699.html (diakses pada tanggal 19 Desember 2015.

[3] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, (Jakarta: Yayaysan Komunikasi Bina Kasih, 2007), hlm. 571

[4] Menurut sejarahnya, Ada dua Bait Suci yang berdiri berturut-turut di Bukit Bait Suci di Yerusalem:
·         Bait Suci Salomo yang dibangun sekitar abad ke-10 SM untuk menggantikan Kemah Suci. Bangunan ini dihancurkan oleh bangsa Babel di bawah Nebukadnezar pada tahun 586 SM.
·         Bait Suci Kedua dibangun setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel, sekitar tahun 536 SM (selesai pada 12 Maret 515 SM[1]).
  • Bait Suci Herodes adalah perluasan dari Bait Suci Kedua termasuk renovasi atas seluruh Bukit Bait Suci. (Bangunan ini tidak disebut "Bait Suci Ketiga".) Herodes Agung memulai proyek perluasannya sekitar tahun 19 SM. Bangunan ini dihancurkan oleh pasukan-pasukan Romawi di bawah Kaisar Titus pada tahun 70 M. Namun sebagian sejarahwan menduga bahwa orang-orang Yahudi sendiri telah membakar Bait Suci Kedua agar tidak dicemari.
Lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Bait_Allah_(Yerusalem) diakses pada tanggal 19 Desember 2015
[5] I b i d,  hlm. 567

[6] E. Ferguson, Backgrounds of Early Christianity, (Michigan: Eerdmans Publishing Co., 2003), hlm. 565

[7] e-Sword, Albert Barnes' Notes on the Bible, Lukas 10:30

[8] S. W. Wahono, Di Sini Kutemukan : Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab, (Jakarta: Gunung Mulia, 2011), hlm. 324

[9] E. Ferguson, ibid.,  h.565

[10] S. W. Wahono,, ibid., h.324
[11] Barclay, W., Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Lukas, (Jakarta:BPK Gunung  Mulia, 2011), hlm. 199-201

[12] Ibid., h. 199-201

YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

  WAHYU 1:1-8 PENDAHULUAN Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Ras...