Monday, July 11, 2011

MATERI KHOTBAH IBADAH PKB SENIN 11 JULI 2011


KIDUNG AGUNG 1:9-17

Persekutuan Kaum Bapa yang di kasihi Tuhan
Kidung Agung ini, yang ditulis oleh Raja Salomo, jarang sekali dipakai sebagai nats khotbah dibandingkan kitab-kitab lainnya. Ada kesan kalau dibaca secara kasat mata saja dari satu episode ke episode berikutnya di tiap pasal sepertinya agak vulgar, seolah sulit menangkap maknanya secara rohani yang ingin dicapai dari kitab Kidung Agung ini. Padahal sebenarnya kitab Kidung agung ini merupakan pelajaran yang berguna tentang realita kehidupan sehari-hari yang membicarakan kesucian hidup percintaan manusia.

Tujuannya adalah untuk menyatakan bahwa cinta antara pria dan wanita itu adalah baik dan berharga dari segala segi jika dimaknai secara benar. Tentu saja Raja Salomo bukanlah teladan yang baik tentang cinta yang sejati dan kesetiaan, mengingat ia sendiri mempunyai isteri dan selir yang tidak sedikit (yakni 300 istri dan 700 selir) dan penyelewengannya dalam hal cinta inilah yang pada akhirnya mendatangkan akibat-akibat yang mencelakakan dirinya sendiri, keluarga serta bangsanya (Band 1 Raja2 11).

Persekutuan Kaum Bapa yang di kasihi Tuhan.
Memang sepintas ketika membaca 1:9-17 kita menyimpulkan bahwa syair cinta ini adalah ungkapan hati berbalasan antara mempelai lelaki dengan mempelai wanita yang menuh erotis dan memabukkan. Namun jika kita mendudukkan syair ini pada kisah utuh pasal 1 s/d pasal 8, kita melihat bahwa perikop ini justru bukan cumbuan syair saling merayu, malah sebaliknya syair berbantahan antara rayuan raja dan penolakan Gadis Kampung yang berkulit hitam itu.

Untuk lebih jelasnya, mari kita uraikan syair demi syair yang ada dari pasal 1-8 ini menjadi suatu kisah. Inti sari dari Kisah ini adalah menampilkan 2 tokoh utama, yakni Sang Raja (Salomo) dan Gadis Sulam yang dipaksa dibawa masuk istana. Selanjutnya ada juga 2 tokoh pemeran pembantu yakni Puteri2 Yerusalem dan si penggembala (kekasih hati gadis Sulam). Dengan memahami penokohan ini, maka kisah yang ditemukan dalam bacaan kita adalah sebagai berikut:

Suatu kali di negeri orang Kedar (1:5) hiduplah seorang gadis, sebut saja dia dengan sebutan gadis Sulam (6:13) yang juga memiliki seorang kekasih yang adalah penggembala ternak (1:7). Mungkin karena pengaruh iklim atau memang karena sering berhadapan langsung dengan terik matahari (1:6), gadis Sulam ini berkulit gelap atau hitam (1:5) namun pastilah parasnya tetap cantik. Kecantikannya itulah yang justru menjadi awal kisah sedih hidup gadis ini. Raja amat mengingininnya, sehingga tanpa peduli pada kisah cinta gadis Sulam dan si penggembala, raja dengan teganya mengambil paksa gadis Sulam ke istananya dan memisahkan tautan dua hati yang saling mencintai.

Ringkas cerita, di istana raja, gadis Sulam berjumpa dengan para puteri Yerusalem yang sangat memuja raja dan mengagumi laki-laki haus perempuan ini (1:2-3)  Puteri-puteri Yerusalem yang diungkapkan dalam kitab ini menggambarkan para wanita yang dinikahi oleh Salomo, yang sebenarnya ‘buta’ karena terpikat dengan kebahagiaan yang semu yang ia tawarkan kepada mereka melalui segala kemegahan duniawi yang ia miliki. Para puteri Yerusalem ini mewakili gambaran dari wanita2 yang tidak lagi melihat cinta dan kesetiaan yang benar sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, dimiliki dan dipertahankan. Kehidupan yang materialistis dan hedonistis membuat mereka rela dan senang hati mengabaikan kesucian dan harga diri dan menyerahkan hidup mereka kepada keinginan sang raja.

Berbeda dengan gadis Sulam yang dikisahkannya dalam kitab ini (1:5; 6:13). Gadis ini berusaha ia pikat dengan segala daya tarik dan kemegahan jasmaninya termasuk pengaruh kuasa politisnya (3:6-11), godaan materi yang ia tawarkan (8:11-12) untuk mau meninggalkan kekasihnya dan menjadi mempelai baginya . Ia memang berhasil memaksa sang gadis Sulam ke istananya sebagai mempelai wanita namun tetap tidak dapat membeli atau memiliki cintanya. Berbagai daya upaya dilakukan oleh sang raja untuk memenangkan hatinya, namun gadis Sulam ini tetap dapat menjaga kesucian dirinya. Kidung Agung 4:1-15; 5:1 adalah rayuan sang raja yang ditujukan untuk menaklukan hatinya. Dan meskipun sang raja turut ‘di bantu’ oleh para permaisuri dan para selirnya, yakni puteri2 Yerusalem penghuni Harem untuk membujuk dia, ternyata si gadis Sulam tetap tegar. Cinta dan kesetiaanya kepada kekasihnya sang penggembala domba tidak pernah berubah (5:2-8).

Selanjutnya kita menemukan (Kidung Agung 5:9) ungkapan keputusasaan mereka dalam membujuk si gadis Sulam untuk menuruti keinginan sang raja, sekaligus juga sebagai bentuk kemarahan dan ejekan bagi si gadis Sulam karena di anggap menyia-nyiakan kesempatan ‘emas’ itu. Namun ejekan ini pada akhirnya, justru berubah menjadi kekaguman dalam diri sang raja ini beserta para permaisuri dan para selirnya (6:4-13). Mereka memuji si gadis Sulam karena cinta dan kesetiaannya yang tak terbeli dan tak tergantikan.

Meskipun demikian, sesuai dengan wataknya yang tak kenal menyerah dan sebagai seorang yang keinginannya hampir tidak pernah tidak terpenuhi, sang raja masih tetap berusaha melakukan upaya terakhir (7:1-9). Tetapi rupanya tetap tidak berhasil. Si gadis Sulam tetap pada pendiriannya (7:10-8:4). Sang raja akhirnya menyerah dan membiarkan si gadis Sulam yang teryata tetap tidak mau menjadi mempelainya itu pergi dari istana dembali ke rumah orang tuanya dan bertemu kembali dengan kekasihnya!

Pada akhirnya kesetiaan dan kesucian hati gadis Sulam-lah yang menjadi pemenang. Kemenangan dari cinta dan kesetiaan sejati antara si gadis Sulam dengan kekasihnya sang penggembala domba tergambar dalam Kidung Agung 8:5-14 yang menutup kisah ini.

Persekutuan Kaum Bapa yang di kasihi Tuhan
Itulah inti kisah sesungguhnya yang terjadi dalam pasal 1-8 kitab Kidung Agung yang tersembunyi dibalik syair2 cinta romantis dan erotis. Khusus pada bacaan kita hari ini yakni Kidung Agung 1:9-17 dan berdasarkan keutuhan cerita di atas, ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan, yakni:

1.      Pada ayat 9-10 Raja merayu gadis Sulam dan mengidentikkannya dengan Kuda Betina dari Mesir. Mengapa Salomo menggunakan istilah Kuda Betina dari Mesir? Sebab dalam tradisi alkitab (1Raja 4 dan 10) Salomo sangat menyenangi Kuda dari Mesir. Bagi Salomo kuda seperti itu bukan hanya disenangi bagi dirinya saja, namun juga identik dengan keuntungan. Sebab jika kuda jenis ini di jual harganya sangatlah tinggi dan bernilai (bd. 1Raj. 10:28-29; 2Taw. 1:16-17).

Dengan demikian, walaupun kesannya bahwa Salomo memuji sangat tinggi gadis Sulam pujaan nya ini, namun kita dapat menilai bagaimana dia memberi ukuran pada kadar cintanya sendiri tehadap gadis Sulam tersebut. Mengidentikkan gadis Sulam itu seperti “Kuda Betina Mesir” menunjukkan bahwa hadirnya gadis Sulam itu bagaikan mewujudkan “kesenangannya” dan hadirkan “nilai keuntungan” yang tinggi. Jika demikian apakah rasa yang dimilki Salomo kepada gadis Sulam ini disebut CINTA? Jawabnya mungkin saja benar. Namun kesan yang lebih kuat adalah hal itu bukan CINTA namun sekedar nafsu belaka untuk kepentingan diri. Cinta yang tulus adalah tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri (bd. 1Kor. 13:5). Salomo terkesan amat kuat untuk mencari keuntungan diri sendiri tanpa peduli pada hancur hati gadis desa tersebut. Salomo juga terkesan licik sebab menyembunyikan keegoisannya di balik kata cinta. Bukankah ini sungguh ironis?

Pada bagian ini kita belajar tentang bagaimana bersikap dan memberi nilai dan arti bagi kehidupan suami-Istri dalam ikatan pernikahan. Setiap kita diarahkan untuk menghormati suami dan mengasihi istri dengan penuh cinta dan kasih. Nilai cinta dan kasih itu bukan soal bendawi atau perhiasan yang berharga dan menguntungkan. Namun justru kesucian hati dan kesetiaan diri terhadap masing2 pasanganlah yang akan membawa hubungan rumah tangga menjadi indah dan bahagia. Paulus menyebut dalam Ef.5:23-25 bahwa ikatan hubungan suami istri adalah ikatan Kasih Tuhan. Kasih yang tiada batas dan tak tertandingi nilainya serta bukan soal terpenuhinya kebutuhan biologis atau harta benda belaka.

2.      Apa reaksi gadis Sulam terhadap iming-iming rayuan manis dan pemberian harta dan kekayaan raja tersebut? Pada ayat 13-14 dan 16-17 kita menemukan bahwa si gadis Sulam justru tetap setia kepada kekasihnya dikampung halaman. Kendati mereka terpisah jauh, namun kekasihnya tetap dijaga dengan baik di hatinya seperti bubuk mur yang selalu harum membaui buah dadanya (ay.13), demikian kekasihnya selalu ada dan membaui hatinya.

Istana yang indah dengan dinding-dinding kokohnya, tidak mengubah rasa cinta dan kasihnya kepada si penggembala di kampung yang jauh. Ia tidak mengingini kemegahan istana, malahan sebailknya ia merindukan desanya yang hanya dihiasi oleh dinding papan dari kayu (ay.17) sebab di sanalah kekasih sesungguhnya menanti.

Dari Firman Tuhan inipula kita belajar, bahwa kesetian hati kepada masing-masing pasangan kita (suami atau istri) harusnya tidak dapat dilunturkan dengan berbagai silaunya kenikmatan bendawi yang ditawarkan dunia. Banyak rumah tangga yang hancur karena salah satu tidak setia akibat tergoda pada hal-hal yang lahiria belaka. Lebih jauh, banyak pula orang percaya meninggalkan kasihnya pada Tuhan Yesus justru karena iming-iming harta, tahta, wanita, pria dan cinta, sehingga mendatangkan doa.

Karena itu mari menjaga kesucian diri dan kesetiaan hati kepada masing-masing keluarga kita, termasuk kepada pasangan hidup; suami atau istri; dan bahkan teristimewa kesetian hati dan kesucian diri kepada Tuhan Yesus yang mengasihi kita. Amin

Saturday, July 9, 2011

MATERI KHOTBAH MINGGU 10 JULI 2011


KIDUNG AGUNG 1:2-6

Jemaat Kekasih Kristus…
Sepintas lalu kitab Kidung Agung ini adalah kumpulan puisi saja dari seorang pria dan wanita yang merayakan cinta di antara mereka dan tidak terkesan sebagai Firman Tuhan.  Menurut beberapa ahli, dilihat dari isinya, kitab Kidung Agung adalah sebuah drama cinta yang penuh dengan syair-syair romantis dan juga mirip dengan nyanyian pernikahan Mesopotamia purba atau syair cinta Mesir Kuno. TUHAN tidak disebut-sebut dalam kitab ini, dan semua syair kelihatannya hanya mengutarakan satu gambaran tentang cinta manusia. Jika kitab KIDUNG AGUNG hanyalah suatu kumpulan syair yang mengekspresikan kekuatan cinta seseorang wanita terhadap seorang pria dan sebaliknya, mengapa kitab ini dimasukkan dalam Alkitab dan menjadi Kitab Suci?

Dalam bahasa Ibrani kitab ini disebut שיר השירים - SYIR HASYIRIM (lagu dari lagu-lagu atau syair dari syair-syair) sedangkan dalam Septuaginta (LXX) disebut sebagai Ασμα Ασματων – ASMA ASMATÔN dan dalam Vulgata disebut Canticum Canticorum yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Canticles atau Song Of Solomon atau Kidung Agungnya Salomo.

Patut di ingat bahwa Kitab Suci di sebut ‘Suci’ bukan saja karena isinya hanya membicarakan hal2 yang suci; melainkan juga, menyingkapkan dengan jujur dan adil segala bentuk ketidaksucian yang merupakan akibat dari kejatuhan manusia di dalam dosa, dengan tujuan supaya manusia selalu mengingat betapa menyedihkan konsekwensi dosa, dan betapa Allah yang maha Suci namun Maha Pengasih itu tetap berkenan untuk membuka pintu pertobatan bagi mereka yang berkenan dihadapan-Nya.

Kitab Kidung Agung mencerminkan kepedulian dari Allah yang sangat memperhatikan segala segi kehidupan kita, termasuk hal2 yang bagi sebagian orang tabu atau tidak boleh dibicarakan. Kitab ini mengajak kita untuk belajar dari kelemahan hidup terbesar dari seorang raja yang terkenal tidak beres integritasnya dalam hal kehidupan moral pernikahannya dan sekaligus menuntun kita untuk bersikap jujur dan tulus terhadap kelemahan2 hidup kita terbesar pada hari ini.

Dengan memperhatikan kejujurannya yang tersirat dibalik pengajaran yang hendak Salomo sampaikan melalui kitab ini setiap kita akan jauh dari sikap yang menganggap kitab ini tabu atau ‘sungkan’ untuk dibicarakan. Justru kitab ini mengajak kita untuk jujur di dalam mengakui sisi2 gelap kehidupan kita dihadapan terang kebenaran firman Tuhan (lihat Roma 13:12-14). Allah melalui kitab ini seolah-olah mengingatkan setiap kita bahwa selama masih ada kekotoran di dalam dunia ini, maka kita sangat membutuhkan Kidung Agung ini.

Kitab ini mengungkapkan sisi2 dari keinginan manusia yang di penuhi dosa untuk membangun kehidupan cinta dan kesetiaan berdasarkan daya tarik fisik dan penampilan lahiriah. Ketidakpuasan terhadap apa yang telah dimiliki terlihat nyata dari gaya bahasa puitisnya yang penuh khayal atau imajinasi yang luar biasa. Sebagai pemuja keindahan dan seni kitab ini memperlihatkan bahwa Salomo adalah pribadi yang sangat lemah dan tidak sanggup mengendalikan diri terhadap segala daya tarik erotis yang merupakan salah satu focus hidupnya yang terbesar. Tidak mengherankan jika akhirnya 1 Raja-Raja 11:1,3 menjadi rekaman Alkitab yang menunjukkan prestasi dan teladan hidup yang buruk dihadapan Allah dan manusia sepanjang masa.

Salomo memiliki 300 isteri dan 700 gundik, dan itu jelas bukan cerminan dari kehidupan cinta yang kudus dihadapan Allah dan teladan hidup kesetiaan yang baik bagi orang percaya pada zamannya, termasuk bagi kita pada hari ini. Imajinasi dan keinginan2 yang ‘liar’ di dalam dirinya menyebabkan ia menyalahgunakan hal2 yang merupakan anugerah Tuhan baginya, sehingga ia jatuh dalam rupa2 perzinahan dan pernikahan2 tidak seiman iman yang dilarang oleh Tuhan (1 Raja-Raja 11:2, 7-8).

Jemaat Kekasih Kristus…
Agaknya, Kidung Agung menjadi warisan yang berharga bagi kita pada hari ini untuk memperingatkan orang2 percaya mengenai akibat dari keinginan manusia yang melampaui batas2 yang dikehendaki Allah baginya. Di balik keindahan syair2 Kidung Agung, Salomo telah memperlihatan kepada kita akibat2 yang sangat buruk dari keinginan manusiawinya yang penuh dosa dan tak terkendali yang mengakibatan rusaknya kehidupan rumah tangga/keluarganya dan pecahnya kerajaan Israel menjadi 2 bagian.

Tema tentang cinta dan kesetiaan yang benar merupakan bagian dari tema utama yang tersirat dari dalam kitab ini. Raja Salomo mengakui bahwa cinta dan kesetiaan yang sesungguhnya tidak dapat di beli dengan apapun (8:6-7, 11-12). Sebagai manusia yang paling berhikmat di bumi ini, Salomo memberikan kita 2 nasehat yang sangat bijaksana:

 1.       cinta dan kesetiaan yang benar tidak dibangun semata-mata oleh keinginan manusiawi kita (2:7; 3:5; 
         5:8; 8:4); dan

2.       cinta dan kesetiaan yang benar menolak segala cara yang palsu dari dunia (8:6-7; 11-12)

Puteri-puteri Yerusalem yang diungkapkan dalam kitab ini menggambarkan para wanita yang dinikahi oleh Salomo, yang sebenarnya ‘buta’ karena terpikat dengan kebahagiaan yang semu yang ia tawarkan kepada mereka melalui segala kemegahan duniawi yang ia miliki. Para puteri Yerusalem ini mewakili gambaran dari wanita2 yang tidak lagi melihat cinta dan kesetiaan yang benar sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, dimiliki dan dipertahankan. Kehidupan yang materialistis dan hedonistis membuat mereka rela dan senang hati mengabaikan kesucian dan harga diri dan menyerahkan hidup mereka kepada keinginan sang raja.

Berbeda dengan gadis Sulam yang dikisahkannya dalam kitab ini (1:5; 6:13). Gadis ini berusaha ia pikat dengan segala daya tarik dan kemegahan jasmaninya termasuk pengaruh kuasa politisnya (3:6-11), godaan materi yang ia tawarkan (8:11-12) untuk mau meninggalkan kekasihnya dan menjadi mempelai baginya . Ia memang berhasil memaksa sang gadis Sulam ke istananya sebagai mempelai wanita namun tetap tidak dapat membeli atau memiliki cintanya. Berbagai daya upaya dilakukan oleh sang raja untuk memenangkan hatinya, namun gadis Sulam ini tetap dapat menjaga kesucian dirinya. Kidung Agung 4:1-15; 5:1 adalah rayuan sang raja yang ditujukan untuk menaklukan hatinya. Dan meskipun sang raja turut ‘di bantu’ oleh para permaisuri dan para selirnya, yakni puteri2 Yerusalem penghuni Harem untuk membujuk dia, ternyata si gadis Sulam tetap tegar. Cinta dan kesetiaanya kepada kekasihnya sang penggembala domba tidak pernah berubah (5:2-8).

Kidung Agung 5:9 merupakan ungkapan keputusasaan mereka dalam membujuk si gadis Sulam untuk menuruti keinginan sang raja, sekaligus juga sebagai bentuk kemarahan dan ejekan bagi si gadis Sulam karena di anggap menyia-nyiakan kesempatan ‘emas’ itu. Namun ejekan ini pada akhirnya, justru berubah menjadi kekaguman dalam diri sang raja ini beserta para permaisuri dan para selirnya (6:4-13). Mereka memuji si gadis Sulam karena cinta dan kesetiaannya yang tak terbeli dan tak tergantikan.

Meskipun demikian, sesuai dengan wataknya yang tak kenal menyerah dan sebagai seorang yang keinginannya hampir tidak pernah tidak terpenuhi, sang raja masih tetap berusaha melakukan upaya terakhir (7:1-9). Tetapi rupanya tetap tidak berhasil. Si gadis Sulam tetap pada pendiriannya (7:10-8:4). Sang raja akhirnya menyerah dan membiarkan si gadis Sulam yang teryata tetap tidak mau menjadi mempelainya itu pergi dari istana dembali ke rumah orang tuanya dan bertemu kembali dengan kekasihnya! Ungkapan dalam Kidung Agung 8:5-14 menggambarkan kemenangan dari cinta dan kesetiaan sejati antara si gadis Sulam dengan kekasihnya sang penggembala domba.

Jemaat Kekasih Kristus…
Ada beberapa hal penting yang dapat kita aplikasikan dalam hidup ini berdasarkan Firman Tuhan, khususnya pasal 1:2-6 dari Kitab Kidung Agung ini:

1.       Hiduplah dengan menampilkan pesona kehidupan batiniah bukan lahiriah.
Perhatikanlah ayat 2-3 bacaan kita, ketika puteri-puteri Yerusalem terbius akan keelokan raja secara lahiriah yakni keharuman wangi-wangiannya dan pesonanya. Kita diajarkan bahwa janganlah hanya mengutamakan pesona lahiriah saja, sementara hidup batiniah atau rohani sebenarnya bobrok. Dalam hidup ini, janganlah tertipu dengan hal-hal bendawi dan ragawi saja, sebab belum tentu sesuatu yang kelihatan baik dan sedap, adalah benar2 sedap sebab mungkin justru menjerumuskan.

Simaklah juga nasehat dari rasul Petrus ini: “Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah” (1 Petrus 3:3-4).

2.       Perjuangkan dan peliharalah kesucian hidup
Marilah simak pernyataan tegas si gadis desa yang dibawa masuk istana karena keinginan raja padahal gadis ini telah memiliki kekasih dikampungnya sebagai seorang penggembala (lih ay.7). Ia mengaku bahwa kulitnya tidak semulus kulit para gadis istana; bahwa secara lahiriah ia kurang cantik. Namun justru ia lebih cantik dari mereka sebab kesetiaannya adalah ukuran kecantikan pribadinya.

Pada ayat 4 kita menemukan kesan kuat bahwa gadis desa ini tidak silau pada keanggunan Raja dan kemegahan istananya. Ia mempertahankan kesetiaanya kepada sang kekasihnya di kampong halaman dan tetap ingin kembali menemuinya. Itulah justru arti kecantikan dari gadis Sulam ini. Baginya kecantikan bukan lah mengukur dari kemurnian warna kulit yang sangat lahiriah, namun  justru kecantikan sesungguhnya adalah kemurnian dan kesucian hidup yang diukur lewat kesetian.

Hari ini kita belajar pula untuk mempercantik dan memperindah hidup kita bukan lewat hal-hal lahiria, melainkan dengan kesucian hidup lewat kesetiaan. Kita hidup ditengah dunia yang penuh dengan godaan, baik dari dunia yang penuh dengan daya tarik dosa maupun dari dalam diri kita sendiri yang berasal dari sisa kehidupan daging.


Bacaan kita hari ini menunjukkan betapa hebatnya godaan yang datang dari daya tarik filosofi hidup manusia yang hedonis dan materialis (Kidung Agung 1:2-4; 3:6-11) yang menjanjikan segala kenikmatan hidup yang bersifat fana yang dapat menjadi berhala (Baal-Hamon) di dalam kehidupan orang percaya (Kidung Agung 8:11). Oleh karena itu waspadalah terhadap segala hal yang dapat mengakibatkan kita ‘menduakan’ Tuhan dalam hidup ini (lihat Matius 6:24; Lukas 16:13) sehingga kemudian kita menjadi tidak setia kepadaNya yang adalah Gembala Agung kita dan kemudian tergoda pada pengusa-pengusa keinginan daging dunia ini. Karena itu, marilah menjadi orang percaya yang setia kepada TUHAN dan hindarkan diri untuk berpaling pada dunia yang menawarkan keagungan semunya. Amin.

Tuesday, July 5, 2011

MATERI KHOTBAH SEKTOR 6 JULI 2011


ULANGAN 15:1-6
1 "Pada akhir tujuh tahun engkau harus mengadakan penghapusan hutang. 2 Inilah cara penghapusan itu: setiap orang yang berpiutang harus menghapuskan apa yang dipinjamkannya kepada sesamanya; janganlah ia menagih dari sesamanya atau saudaranya, karena telah dimaklumkan penghapusan hutang demi TUHAN.  3 Dari seorang asing boleh kautagih, tetapi piutangmu kepada saudaramu haruslah kauhapuskan.  4 Maka tidak akan ada orang miskin di antaramu, sebab sungguh TUHAN akan memberkati engkau di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milik pusaka,   5 asal saja engkau mendengarkan baik-baik suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segenap perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini.  6 Apabila TUHAN, Allahmu, memberkati engkau, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, maka engkau akan memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak akan meminta pinjaman; engkau akan menguasai banyak bangsa, tetapi mereka tidak akan menguasai engkau.

Jemaat Kekasih Kristus
Bacaan kita hari ini merupakan lanjutan bacaan mulai dari hari minggu sampai selasa tentang bagaimana kepedulian kepada sesama itu dilakukan. Khusus hari ini berbicara tentang Tahun Yobel. Tahun Yobel atau tahun ketujuh ditetapkan Tuhan sebagai sebagai tahun anugerah bagi orang miskin (kel 23:10-13). Dalam bacaan kita ternyata fungsi Tahun Yobel juga merupakan tahun pembebasan dari hutang.

Ada beberapa pokok penting tentang aturan Tahun Yobel tentang penghapusan hutang ini yang perlu ditekankan, yakni:
1.       Tahun Yobel adalah tahun penghapusan hutang yang diberikan Tuhan kepada umat Israel. Aturan ini wajib hukumnya yang dihususkan bagi Israel saja. Setiap piutang dalam bentuk apapun harus diputihkan pada saat akhir Tahun Yobel, sehingga orang yang memiliki piutang dilarang keras menagih hutangnya itu kepada sesama bangsanya yang berhutang. Perintah di ayat 2 ini sangat jelas dan tegas diberlakukan.

2.       Penghapusan hutang ini hanya diberlakukan kepada orang Israel saja. Bagi orang asing yang berhutang, harus tetap ditagih dan tidak mendapatkan pemutihan. Mengapa ada kesan pembedaan aturan seakan Tuhan ”pilih kasih” kepada umat-Nya? Mengapa pula dalam pasal 10:19 misalnya, orang Israel diminta untuk mengasihi dan menolong orang asing, tetapi justru untuk tahun Yobel mereka tetap ditagih dan tidak diringankan? Untuk memahami hal itu mari kita lihat definisi orang asing dalam konteks bacaan kita, yakni:
-          Istilah orang asing yang muncul dalam bacaan hari minggu-selasa di SBU menggunakan istilah Ibrani ’ger’ (misalnya Ul.10:19) yang berarti para tahanan perang, atau para pendatang yang tidak memiliki jaminan kehidupan karena tidak ada lahan atau usaha hidup, atau tergolong orang yang susah secara finansial.

-          Istilah orang asing pada Ulangan 10:19, ternyata berbeda dengan istilah Orang Asing yang dimaksud dalam bacaan kita. Pada ayat 3 bacaan kita, Istilah orang asing yang dipakai adalah menggunakan istilah Ibrani ’nokri’ yang berarti para pedangan dari bangsa lain yang kebanyakan dari Mesir; atau orang asing yang mampu untuk membayar.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa ayat 3 tidak bermaksud membedakan menolong orang susah agar dibebaskan dari hutang. Sebab orang asing dalam ayat 3 bukanlah orang miskin yang tidak mampu membayar hutang, melainkan adalah para pedagang yang pada umumnya mampu melunasi kewajiban mereka. Untuk golongan ini, tahun Yobel tidak berlaku dan mereka wajib membayar hutangnya serta orang Israel berhak menagih piutang kepada mereka kendatipun terjadi pada tahun Yobel.

3.       Apakah tujuan dari perintah Tahun Yobel ini dalam hal penghapusan hutang? Dalam ayat 4 bacaan kita ditemukan bahwa tujuan dari penghapusan hutang adalah untuk menciptakan kemakmuran secara merata di kalangan umat serta meminimalisir terjadinya kemiskinan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peraturan Tahun Yobel bertujuan baik dan demi kebahagiaan Israel pada umumnya.

Walaupun tujuannya baik, namun tidak semua orang Israel menaatinya. Persoalan untung rugi menjadi penyebab beberapa diantara mereka sulit untuk mengerjakannya. Contoh misalnya dalam ayat 9, bahwa karena sudah dekat tahun Yobel, banyak orang Israel tidak lagi mau memberikan pinjaman kepada yang membutuhkan karena berpikir soal UNTUNG-RUGI. Padahal tujuan tahun Yobel, bukanlah soal untung rugi melainkan soal menolong dan membantu yang berkesusahan.

Jemaat Kekasih Kristus
Kenyataan hidup saat ini perlu untuk mengembangkan relasi saling menopang dan peduli bagi orang lain, sebagimana tujuan Tahun Yobel itu diberikan. Dalam dalam ajaran Kristen, aturan tahun Yobel ini tidak menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan, karena mengingat kondisi dan kontkesnya tidaklah sama dengan kondisi Israel. Namun sesungguhnya prinsip dan ajaran tentang Penghapusan Hutang di Tahun Yobel pada beberapa bagian masihlah cukup relevan untuk kita aplikasikan dalam kehidupan ini, yakni:

1.       Pemberian Hutang bertujuan untuk menolong orang dari kesusahan finansial mereka. Hal ini ditegaskan pada ayat 7 dan ayat 8. Jadi hanya orang yang benar-benar tidak mampulah pemberian hutang itu dilakukan. Karena tujuannya untuk menolong, maka apabila kita memberi pinjaman kepada orang lain, besar pinjaman haruslah ditakar secara bijak. Sebab jika memberi pinjaman terlalu besar, atau si penghutang meminjam nilai terlalu banyak, maka justru itu bukan menolong, malah sebaliknya menyusahkan karena besarnya pinjaman yang tak tergantikan. Ukuran dalam ayat 8 adalah cukup untuk keperluannya saja. Dengan kata lain si pemberi pinjaman dan si penghutang haruslah bertransaksi berdasarkan KEBUTUHAN dan KEMAMPUAN kedua belah pihak.

2.       Jika perlu, marilah dengan besaqr hati kita melepaskan dan membesakan hutang itu jika orang tersebut tidak mampu mengembalikannya. Hal ini tentu dengan berbagai pertimbangan antara lain memang ia tidak lagi mampu dan berdaya atau sudah terlalu lama tidak membayar hutangnya karena tak berdaya.

Namun hal ini tentunya tidak mudah dilakukan, mengingat apalagi jika jumlah hutangnya besar.  Kalau benar bahwa kita memberikan piutang kepada orang lain dengan maksud menolong dan BUKAN UNTUNG-RUGI maka adalah baik jika dengan bijak menyelesaikannya dengan penuh kasih kepada si penghutang ini. Ada banyak cara, satu diantaranya dengan memberikan kesempatan kepada orang itu untuk memcicil hutangnya. Ini hanya mungkin terjadi jika dengan rela kita memberi pertolongan dengan penuh kasih.

3.       Bagaimana dengan orang yang berhutang apabila ia tidak membayar. Aturan Yobel tentang penghapusan hutang ini terkesan berpihak kepada si peminjam yang tak berddaya. Bagaimana dengan mereka yang sengaja tidak mau membayar hutangnya?

Apabila kita memperhatikan Roma 13:6-8, kita menemukan penegasan Paulus tentang hutang. Paulus berkata pada ayat 8: “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapun juga…” Kalimat ini tidak bermasud bahwa orang Kristen tidak boleh berhutang. Sebab jika ayat 8 ini kita baca dalam pemahaman ayat 6-7 Roma 13 maka kita menyimpulkan bahwa larangan berhutang oleh Paulus adalah LARANGAN UNTUK MEREKA YANG TIDAK MEMBAYAR KEWAJIBAN. Artinya, orang Kristen boleh berhutang, yang dilatang adalah jika orang Kristen tidak membayar kewajiban hutangnya.

Dengan demikian, kepada orang yang berhutang, wajib juga membayar hutangnya, dan bukan kemudian mengharapkan saja pemutihan atau pembebasan dengan sengaja. Itu justru mendatangkan dosa, sebab ia telah mencemari ketulusan kasih dari mereka yang menongnya.

4.       Dalam hal memberikan hutang, Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa TIDAK DIPERBOLEHKAN MEMUNGUT RIBA atau bunga hutang. Dalam Imamat 25:36-37 menyebutkan bahwa pinjaman jenis apapun, baik berupa makanan, benih, binatang atau uang tidak boleh mengambil riba atau bunga. Sebab jika demikian itu bukan menolong, malah sebaliknya merongrong dan menyusahkan orang lain. Itu dosa dan dibenci oleh Tuhan.

Karena itu marilah kita saling menolong dan menopang orang lain, bukan untuk mencari keuntungan, namun supaya meratalah Kasih Tuhan untuk semua kita instimewa bagi mereka yang berkekurangan. Amin.

Monday, July 4, 2011

MATERI KHOTBAH PELKAT PKP 05 JULI 2011


KELUARAN 23:10-13

10 Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya,
11 tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu.  12 Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.  13 Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu."

Ibu-ibu kekasih Tuhan...
Bacaan kita hari ini merupakan lanjutan bacaan mulai dari hari minggu dan senin tentang bagaimana kepedulian kepada sesama itu dilakukan. Ada tiga hal penting dalam bacaan kita yang penjadi penekanan, yaitu:

1.       Memanfaatkan tahun Yobel bagi orang Miskin
Tahun Yobel atau tahun ketujuh ditetapkan Tuhan sebagai tahun pembebasan dari hutang, tetapi juga sebagai tahun anugerah bagi orang miskin. Bahwa setiap orang Israel yang memiliki ladang pastilah adalah orang kaya. Mereka diberikan hak oleh Tuhan untuk memanfaatkan tahan mereka untuk mencari keuntungan dari hasil tanah yang melimpah tersebut. Hidup mereka sangatlah terjamin sebab setiap mereka selama 6 tahun menyimpan dan mengumpul-kan hasil tanah. Selalu terjadi bahwa panen satu tahun tidak pernah dapat dihabiskan setahun dan salalu ada sisa saat panen tahun kedua datang. Jadi dapatlah dibayangkan bahwa simpanan hasil panen selama enam tahun itu selalu masih berlimpah.

Untuk itulah Tuhan mengajarkan umat untuk berbagi dari hasil kelimpahan mereka kepada orang miskin. Caranya adalah pada tahun ke tujuh tanah dibiarkan tidak digarap, dan tanaman yang tumbuh tahun lalu tidak dimusnakan. Saat tanaman itu berbuah, maka sang pemilik tanah dilarang keras memetik hasil tanah tersebut, sebab itu adalah hak orang miskin. Menarik sekali, bahwa walaupun tanah itu tidak diolah, namun selalu pada tahun ketujuh panen besar terjadi. Kalu bukan pemilik tanah yang mengolah, lalu siapa yang melakukannya? Jawabannya adalah TUHAN-lah yang mengerjakan tanah itu dan menumbuhkan hasilnya. Karena itu si pemilik lahan atau ladang atau kebun tersebut tidak memiliki hak atas hasil panen tahun ketujuh atau tahun Yobel.  Itu adalah hasil kerja Tuhan, dan menjadi milik para kaum miskin.

Perhatikanlah, bahwa tanah itu sengaja dibuat Tuhan menghasilkan sesuatu, padahal tidak diolah, supaya orang miskin dapat hidup. Ini menunjukkan bahwa Tuhan peduli kepada kaum miskin, dan mengajak Israel untuk juga peduli kepada mereka. Apakah hasil panen pada tahun ketujuh itu melimpah, sementara di tahun itu tanah tersebut tidak digarap? Jawabannya YA, HASIL nya sungguh melimpah. Hal ini terlihat jelas pada ayat 11 bacaan kita bahwa kaum miskin tidak sanggup menghabiskan sehingga sisanya diperuntukkan kepada binatang. Sungguh suatu mujizat yang Tuhan karyakan demi Ia meme-lihara kaum miskin yang tidak memiliki lahan.

2.       Memanfaatkan tahun Yobel bagi lingkungan hidup
Pada tahun ketujuh atau tahun Yobel, tanah tidak dioleh. Itu berarti tahun ketujuh adalah TAHUN ISTIRAHAT bagi tanah tersebut. Mengapa demikian? Tuhan ingin mengajarkan umat Israel untuk peduli pada kelestarian lingkungan. Lingkungan perlu dijaga dan perlu diremajakan lagi. Apabila tanah tidak digarap, maka ada pemulihan unsur hara atau unsur kehidupan untuk tanah. Tanah seakan diberikan kesempatan untuk ”bernafas” lega dan rehat atau istirahat. Dengan demikian kesuburan tanah akan terjaga dan lestari.

Hal ini menunjukkan pembelajaran penting bagi umat Israel. Bahwa benar seluruh kekayaan alam ini diberikan kepada manusia untuk memanfaatkan. Tetapi pemanfaatan yang dimaksud adalah pemanfaatan yang penuh tanggung-jawab. Manusia wajib menjaga lestarinya alam ini. Salah satunya lewat membiarkan tanah garapan beristirahat dan memulihkan dirinya setelah 6 tahun dimanfaatkan. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa, bahwa Tuhan sendiri peduli pada alam ciptaannya? Maka adalah bijak jika manusiapun peduli akan hal itu.

3.       Menanfaatkan hari ketujuh sebagai hari istirahat
Dalam keluaran 20 pada hukum Sabat ada kesan bahwa pemberlakukan hari istirahat yakni hari ketujuh atau hari Sabat, hanya untuk menghormati Tuhan. Namun justru pada ayat 12-13 bacaan kita ditemukan sesuatu yang luar biasa menarik. Bahwa ternyata pemberian ketentuan sabat tidak hanya untuk dikhususkan bagai Tuhan, tapi juga untuk kepentingan manusia sendiri bersama dengan ciptaan yang lain.
Mengapa demikian? Sebab pada kedua ayat tersebut jelas disebutkan bahwa hari ketuju adalah juga hari ISTIRAHAT manusia dan binatang pekerja. Hari itu adalah hari anugerah di mana manusia dan hewan peliharaannya diberikan kesempatan untuk memulihkan kondisi tubuh setelah sangat lelah bekerja selama 6 hari penuh. Hal ini menunjukkan bahwa ketetapan Sabat sebgai tanda bahwa Allah peduli terhadap kebutuhan jasmani manusia yang paling esensial yakni Istirahat yang cukup.

Bukankah jika demikian bahwa hari Sabat adalah suatu anugerah dari Tuhan yang harusnya penting untuk dimanfaatkan? Kita perlu beryukur, bahwa lewat Sabat, kita tahu bahwa Tuhan amat mengasihi kita sehingga memperhatikan kesehatan tubuh dan dapat memulihkan kondisi kelelahan yang ditanggung. Dengan demikian adalah tidak bijak, jika pada hari ketujuh, manusia masih saja bekerja dan tidak beristirahat.

Ibu-ibu kekasih Tuhan.
Hidup modern menuntut bekerja lebih keras dengan prinsip semakin keras bekerja, maka hasilnya akan semakin banyak. Itu tidak selalu benar, karena seringkali kita mendengar yang terjadi pada beberapa orang yang sudah bekerja keras (banting tulang, peras daging, paksa otot …), namun hasil yang didapatkan ’segitu-gitu aja …”. Ada pula yang mengatakan ”kalau belum rezeki, dikejar ke mana pun tak bakalan didapatkan”, sebaliknya ”kalau sudah rezeki, tak bakalan lari ke mana …”. Sering juga kita mendengar orang-orang yang menderita dan menjadi sakit karena ambisinya tidak kunjung tercapai meskipun sudah melakukan segalanya untuk mendapatkannya.

Hari ini kita mendapatkan sesuatu yang ”baru”: harus ada disisihkan waktu yang tersedia untuk beristirahat. Menikmati hidup dengan menikmati apa yang didapatkan pada saat itu. Alam pun tidak boleh terlalu dieksploitasi, apalagi manusia … Segala sesuatunya perlu penyegaran. Tumbuh-tumbuhan memerlukan reboisasi, kenapa pula manusia tidak membutuhkan hal yang sama?

Ibu-ibu kekasih Tuhan
Pada saat sabat, tak usah menjadi kuatir akan berkurangnya penghasilan. Tuhan dengan tegas mengatakan untuk mempergunakan saja apa yang didapatkan selama sabat tersebut. Itu pasti cukup! Berkat Tuhan tetap mengalir bagi anak-anaknya. Atau, bisa juga secara matematis jumlahnya berkurang, namun secara spiritual nikmatnya malah berlimpah-limpah. Para ahli mengatakan, hati dan pikiran adalah faktor yang paling menentukan dalam menikmati apa yang kita dapatkan dalam hidup ini. Yang penting mensyukurinya, yang salah satunya dilakukan lewat beristirahat. Beristirahat yang cukup adalah salah satu cara bersyukur kepada Tuhan yang ditunjukkan lewat menjaga kesehatan tubuh melalui istirahat cukup di hari Sabat.

Di sisi yang lain juga, Firman Tuhan mengingatkan kita, jika Tuhan begitu peduli terhadap hidup kita sebagai manusia, maka sudah saatnya juga kita peduli bagi orang lain yang berkekurangan dan memerlukan bantuan. Memang di dalam ajaran Kristen tidak ada kewajiban tahun Yobel atau tahun ketujuh yang dikhususkan bagi orang miskin. Namun jkita dapat melalukan dengan cara yang lain, yakni apabila kita merasa bahwa hidup kita mengalami kelimpahan dibanding orang lain, itulah tanda bahwa kita sudah saatnya menopang mereka yang dalam kemalangan. Jika kita berkata bahwa telah diberkati Tuhan, maka sudah saatnya juga kita menjadi berkat bagi orang lain. Bukan kah itu sama dengan kita sudah melaksanakan tahun Yobel?

Ibu-ibu kekasih Tuhan
Sebagaimana Tuhan mengajarkan 3 hal penting ini kepada Israel, maka demikian juga sebagai ibu-ibu dan orang tua kita perlu mengajarkan ini kepada anak-anak dan keluarga kita. Tanamkan dalam setiap hidup keluarga kita bahwa Tuhan menghendaki agar kita peduli bagi orang yang mengalami kesusahan; peduli jugalah pada kelestarian lingkungan; dan peduli juga pada kesehatan diri sendiri lewat beristirahat yang salah satunya dilakukan pada hari Istirahat itu.

Kiranya Tuhan Yesus memampukan kita melakukan Firman Nya saat ini melalui bimbingan Roh Kudus. Amin

MATERI KHOTBAH PELKAT PKB SENIN 04 JULI 2011


KELUARAN 23:4-9

Pelkat PKB yang dikasihi Tuhan.
Dalam dunia yang kita tempati ini akan kita jumpai berbagai bentuk kehidupan. Banyak keragaman yang akan menimbulkan pertanyaan dalam pemikiran kita oleh karenanya. Ada yang kaya; ada yang hidup serba kekurangan; ada yang lemah ada yang kuat, ada yang ditinggal di gedung ada juga yang tinggal di kolong jembatan atau bahkan ada yang tinggal dirumah mewah dan ada juga yang tinggal di pemukiman kumuh.

Bagaimanakah Israel harus menyikapinya? Bacaan alkitab kita saat ini merupakan aturan Taurat sebagai ketetapan Allah tentang bagaimana seharusnya hidup umat-Nya di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam ayat 4-9, minimal ada 4 hal penting menyikapi kondisi tertentu yang terjadi di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan dan hidup berjemaat, yaitu:

1.    Sikap kepada seseorang yang memusuhi kita (ay.4-5).
Apa yang harus dilakukan kepada seseorang yang jelas-jelas memusuhi kita, namun pada saat yang sama sedang mengalami kemalangan atau membutuhkan bantuan kita? Kepada umat Israel, dalam TauratNya Tuhan memerintahkan mereka untuk mengembangkan sikap penuh kasih tanpa memandang teman atau lawan.

Ayat 4-5 dicontohkan kasus tentang lembu atau keledai dari seorang yang memusuhi kita, sedang mengalami masalah maka pertolongan segera harus diberikan. Menarik untuk disimak bahwa TUHAN mencontohkan kasus terhadap musuh ini pada kondisi binatangnya dan bukan kondisi langsung dari orang yang memusuhi kita. Hal ini memberikan indikasi bahwa sebagaimana binatang dari musuhpun harus ditolong, apalagi kepada pemilik atau manusianya. Musuh tetap haruslah dibantu dan ditolong. Ini pernyataan tegas dalam bacaan kita. Ditolong dimaksud, apabila kita mengetahui persis bahwa ia membutuhkan pertolongan.

2.    Sikap untuk memberlakukan keadilan (ay 6-8)
Keadilan haruslah ditegakkan dan diterapkan oleh umat, apalagi ketika mereka nantinya telah berada di tanah perjanjian. Ukuran keadilan bukanlah soal siapa yang harus dibela dan dipihaki; bukan juga soal status sosial yakni si kaya atau si miskin; bukan juga soal karena kepentingan yang lebih menguntungkan atau merugikan. Melainkan ukuran keadilan itu menurut ayat 7 adalah keadilan menurut ukuran Tuhan. Jadi standar keadilan adalah keadilan menurut Tuhan dan bukan menurut hukum apapun.

Adalah tegas dilarang apabila hanya karena status sosial seseorang dan keadaan ekonominya, yakni kemiskinannya, maka ia tidak dibela bahkan mengalami ketidakadilan dalam hak maupun perkara. Dalam ayat 6 kita melihat bahwa justru hak-hak orang miskin tetap harus diperjuangan-kan selama dalam perkara itu ia memnag benar dan tidak melakukan kesalahan.

Keadilan Tuhan haruslah ditegakkan, walau pada akhirnya hal itu tidak mendatangkan keuntungan pada pihak yang kita bela. Sebab seringkali pembelaan diberikan karena kepentingan tertentu yang menguntungkan dan bukan demi keadilan. Sehingga praktek suap sudah menjadi hal lumrah dalam dunia peradilan. Pada jaman masih di padang gurun, kondisi ini sudah diingatkan, bahwa Tuhan menolak praktek Suap, sebab hal itu adalah corengan kasar terhadap keadilan Tuhan. Bukan berapa besar keutungan dari suap yang menentukan standar keadilan, tapi keadilan Tuhan-lah yang harusnya menjadi standart keputusan keadilan bagi seseorang.

3.    Sikap terhadap orang asing (ay.9)
Siapakah orang asin menurut kontkeks bacaan kita? Walaupun masih di padang gurun ketika Taurat ini ditetapkan Tuhan, namun kedepan Israel sudah disiapkan untuk memiliki tanah dan bangsa sendiri. Mereka yang dulunya menduduki negeri itu, yakni orang Kanaan kini menjadi tawanan perang. Mereka itu pula yang dimaksud dengan orang asing. Orang asing juga berarti pendatang di mana sudah pasti tidak memiliki lahan sendiri untuk digarap, dan juga rumah untuk ditinggali. Mereka inilah terkategori sebagai orang asing.

Orang-orang seperti ini sudah pasti adalah pribadi yang sangat membutuhkan pertolongan. Dalam ayat 9 disebutkan bahwa secara psikologi orang asing akan merasa terjajah dalam diri dan ditengah masyarakat yang asing baginya. Jiika karena keangkuhan Israel yang sok memiliki tanah, dan menekan orang asing, maka bisa dibayangkan betapa lebih tertekan lagi mereka menjalani kemalangan hidup itu. Mengapa orang asing perlu diperhatikan? Jawaban sederhana untuk Israel adalah karena mereka sendiri pernah merasskan bagaimana tidak enaknya menjadi orang asing dinegeri orang dan mengalami tekanan berat di Mesir. Hal cukup menjadi pelajaran, dan sekarang tidak kemudian dilalukan bagi orang lain. Karena itu, orang asing tetaplah perlu diperhatikan oleh mereka.

Berdasarkan Firman Tuhan ini, ada beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian kita tentang Firman Tuhan ini, yang dapat kita bahwa dan praktekkan dalam hidup keseharian kita, yakni:
1.    Kasihilah musuhmu! Itulah perintah penting yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam Mat 5:44 yang juga sangat jelas diuraikan pada ayat 4 dan 5 bacaan kita. Memang sulit untuk melakukannya. Namun sebagaimana Israel mematauhi hukum Taurat itu dengan wajib, demikian juga kita harus mengerjakan perintah Tuhan ini dengan penuh ketaatan. Ada rahasia penting dari mengasihi musuh, yakni jika kita mengasihi musuh, itu sama dengan membunuh musuh itu, dan mengubahnya menjadi sahabat kita. Dengan demikian, semakin banyak kita mengasihi musuh, semakin banyak pula kita menciptakan persahabatan dan persaudaraan yang baru.

Ini adalah perintah Tuhan. Perintah ini sekaligus menjadi ciri kekristenan di manapun berada. Itu berarti saat kita berhasil mengampuni seorang musuh lewat mengasihinya, maka di saat yang sama kita sedang menyebarkan injil Tuhan, bukan lewat khotbah namun lebih dari pada itu, yakni lewat perbuatan yang nyata.

2.    Perhatikanlah kondisi negeri ini. Indonesia adalah negeri yang sangat diberkati dengan kekayaan yang melimpah. Namun kerakusan dan keserakahan termasuk ketidakadilan justru mewarnai perjalanan bangsa ini yang acapkali tidak pernah puas dengan apapun yang sudah dimiliki. Silakan menyimak berita diberbagai media informasi. Keadilan sudah menjadi barang unik dan langkah dinegeri ini. Bahkan keadilan rasanya terlalu mahal untuk dimiliki oleh masyarakat kecil yang tidak mampu. Suap sana suap seni untuk membeli keadilan. Standart keadilan diukur bukan soal kebenaran tapi soal berapa harga rupiah yang bisa dikantongi.

Lewat bacaan kita hari ini kita diajak untuk kembali kepada ukuran keadilan menurut standart tertinggi, yakni Firman Tuhan. Ukuran keadila yang dimaksud adalah ukuran keadilan menurut TUHAN. Sesuatu yang adil harusnya juga adalah sesuatu yang benar dan bukan karena stasus kaya-miskin; rugi atau untung. Gereja dipanggil untuk menyuarakan kondisi ini, lewat menjadi pelaku-pelaku keadilan yang benar. Hal ini dapat kita mulai di rumah masing-masing. Ajarkanlah kebenaran dan keadilan kepada anak-anak kita, agar kedepan mereka mampu menerapkan kebenaran dan keadilan itu dengan sesungguhnya.

Dimanapun kita berada, dikantor, di masyarakat, di jemaat maupun dalam kehidupan rumah tangga, marilah menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Katakan TIDAK pada kecurangan dalam berbagai bentuk termasuk suap. Mari perjuangankan keadilan, sebab itulah yang dikendaki TUHAN untuk kita kerjakan. Amin.





YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

  WAHYU 1:1-8 PENDAHULUAN Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Ras...