Sunday, July 7, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKP 09 JULI 2013

AMSAL 13:23-25

Ibu-ibu kekasih Kristus
Ayat yang akan kita renungkan saat ini ada pada ayat 24 bacaan kita yang berbicara tentang metode mendidik anak. Kesuksesan hidup bukan hanya ditandai tidak mengalami kemiskinan (aya.23) atau tidak pernah mengalami kelaparan (ay.25), namun kesuksesan hidup juga ditandai dengan suksesnya orang tua dalam mendidik anak-anak mereka (ay.24). Pada ayat 24 inilah Salomo menyampaikan hal menarik tentang bagaimanakah cara menggunakan tongkat ketika mendidik anak.

Tongkat yang dimaksud oleh Salomo adalah hajaran kepada anak sebagai bagian dari mendidik anak. Apakah Salomo sengaja memberi peluang untuk melakukan kekerasan kepada anak? Apakah Alkitab mengijinkan untuk memukul anak? Hal ini menarik untuk diuraikan dalam renungan kita hari ini.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Kita pasti mengenal pepatah: “di ujung cemeti ada emas”. Pepatah ini memberi pengertian bahwa di balik pukulan dan hajaran orang tua, terkandung di dalamnya manfaat dan faedah yang penting bagi masa depan si anak.  Namun bagaimanapun kita harus memperhatikan hal penting yang ditulis dalam kitab Amsal ini supaya orang tua tidak dengan bangga membenarkan diri untuk melakukan kekerasan pada anak-anak. Terdapat dua hal pokok yang disampaikan oleh Salomo dalam ayat 24 kitab Amsal pasal 13 ini, yakni:

1.      Bolehkah anak dididik dengan hajaran?
Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat ayat 24 bagian a yang berbunyi: “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya”.  Dengan tegas Salomo mengatakan bahwa jika ada orang tua yang tidak menghajar anaknya itu bukan berarti bahwa ia menyayangi anaknya, malah sebaliknya bahwa orang tua yang tidak pernah menggunakan tongkat sama dengan orang tua yang membenci anaknya. Bagaimana mengerti bagian ini?

Banyak orang tua yang terlalu memanjakan anak, sehingga kesalahan apapun yang dilalukan anak tidak pernah dikoreksi sejak kecil. Maka ketika dia mulai bertumbuh, anak ini memiliki sikap tidak bisa diatur dan sifat keras kepala bahkan seakan menjadi penguasa. Mengapa terjadi demikian? Karena orang tua terlalu memanjakan anak.

Dengan kata lain, hajaran dan pukulan tetap perlu dilakukan untuk mendidik psikologi dan karakter anak supaya belajar menghormati orang tua. Namun pukulan dan hajaran bertujuan bukan untuk mengumbar emosi dan amarah, melainkan pukulan diberikan sebagai tanda kasih sayang agar ke depan dia belajar arti kesalahan dan mengubah prilaku yang keliru itu. Itulah yang dimaksud Salomo ketika mengatakan: “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya” (Amsal 13:24b).

2.      Bagaimana hajaran itu dilakukan?
Seperti yang disebutkan di atas, hajaran atau penggunaan tongkat kepada anak tidak dilakukan untuk mengumbar amarah dan kekerasan kepada anak, melainkan sebagai tanda cinta kasih. Perhatikan bunyi ayat 24 bagian b pada bacaan kita: “... tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya." Perhatikan kalimat pada waktunya dalam bacaan kita.!! Tanda bahwa pukulan atau hajaran itu adalah demi rasa sayang dan cinta kasih adalah ketika hajaran itu dilakukan tepat waktu.

Hal ini berarti Salomo dengn tegas menolak dan mengecam orang tua yang melakukan tindakan kekerasan kepada anak-anak. Alkitab mengecam orang tua yang memiliki “hobi” memukul anak. Tidak semua kesalahan atau kekeliruan anak harus “dihadiahi” dengan pukulan. Tidak selalu didikan itu dilakukan dengan tongkat atau pukulan. Alkitab mengatakan bahwa andaipun harus menggunakan hajaran saat mendidik anak, maka hal itu harus dilakukan tepat waktu. Tepat waktu bearti bukan setiap waktu atau setiap saat. Sebab ada metode didikan yang lain yakni berupa nasehat dan teguran. Dengan menyampaikan ini maka Salomo memberikan penegasan bahwa orang tua yang suka memukul anak adalah orang tua yang membenci anaknya. Hal itu tidak diperkenankan Tuhan.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Lihatlah bahwa ketika kita memanjakan anak secara berlebihan dan tidak memberi hukuman ketika mereka berbuat salah, itu bukan berarti kita menyayangi anak, malah dikatakan sebaliknya, bahwa itu berarti kita membenci mereka. Saya sering menggambarkan anak kecil bagaikan kertas kosong. Seperti apa isinya nanti sangatlah tergantung dari seperti apa kita menulisnya. Jika kita ingin mereka menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dan hidup mencerminkan Kristus kelak, maka kita harus mulai mendidik mereka dengan benar sejak dini yakni di masa kanak-kanak mereka. Dan itu termasuk memberi hukuman yang bukan didasari oleh pelampiasan, tetapi oleh kasih. 

Alkitab tidak mengajarkan kita untuk memberi hukuman yang hanya didasari kekerasan sebagai pelampiasan kemarahan. Lihatlah ayat berikut ini: "Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya." (Amsal 19:18). Emosi yang ditumpahkan seperti itu hanya akan menimbulkan luka dan kemarahan dalam hidup mereka. Lebih lanjut firman Tuhan pun mengingatkan "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4). Itulah sebabnya kita harus mendasari didikan, hajaran atau hukuman dengan kasih.

Lakukanlah engan kasih. Seperti itu pula Tuhan mendidik kita. Ada kalanya kita pun harus melalui hukuman Tuhan yang mungkin menyakitkan, tetapi itu semua Dia lakukan bukan untuk menyiksa kita, tetapi justru karena besar kasihNya pada kita. "..Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibrani 12:6). Justru kita harus bersyukur ketika ditegur atau dihukum Tuhan, karena itu artinya kita adalah anak-anak yang dikasihiNya. Tuhan selalu rindu agar kita menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Dan untuk membentuk karakter seperti itu, memang ada kalanya kita harus mendapat ganjaran atas kesalahan kita.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Seperti cara Tuhan mendidik kita, demikian pula seharusnya kita mendidik anak-anak kita. Tuhan menghajar orang bukan karena membenci, tetapi justru karena mengasihi. Itu pula yang harus menjadi dasar dalam mendidik anak-anak. Jangan lupa pula untuk memperlakukan masing-masing dengan mempertimbangkan sifat-sifat dasar mereka. Seringkali yang terbaik untuk dilakukan bukan menyamaratakan semuanya, tetapi berlaku adil dilakukan dengan memikirkan apa yang terbaik bagi masing-masing anak, karena firman Tuhan berbunyi "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Apa yang kita ajarkan sekarang akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter mereka di masa depan.

Didiklah anak-anak kita sejak masa kecilnya, dan berikan hukuman jika memang harus. Tapi dasarilah itu semua dengan kasih dan bukan kemarahan. Kenalkanlah Kristus dengan segala kebaikanNya sejak dini. Jangan lupa pula bahwa sebagai orang tua, kita pun harus selalu mampu memberi contoh teladan lewat sikap hidup dan perbuatan kita sendiri. Berikan mereka contoh peran yang baik. Seperti apa kita mendidik mereka saat ini akan menghasilkan seperti apa mereka kelak di kemudian hari. Pada saatnya kelak kita akan bersukacita melihat anak-anak kita bertumbuh dalam kekudusan dan tidak mudah terpengaruh arus sesat dunia. Anda rindu untuk menikmati itu? Mulailah mendidik mereka dengan benar sesuai firman Tuhan hari ini juga. Amin



Friday, June 28, 2013

BAHAN RENUNGAN MINGGU 30 JUNI 2013

PENGKHOTBAH 3:16-22

Jemaat Tuhan...
Judul kitab Pengkhotbah ini di dalam PL Ibrani adalah qoheleth (dari kata Ibr. Qahal yang berarti berkumpul); secara harfiah artinya "orang yang mengadakan dan berbicara kepada suatu perkumpulan." Kata ini dipakai 7 kali dalam kitab ini (Pengkh 1:1,2,12; Pengkh 7:27; Pengkh 12:8-10) dan diterjemahkan sebagai "Pengkhotbah". Di dalam Septuaginta (kitab Ibrani yang diterjemahkan ke bahasa Yunani) padanan katanya ialah ekklesiastes yang menghasilkan judul Ecclesiastes dalam Alkitab Inggris. Karena itu seluruh kitab ini merupakan serangkaian ajaran oleh seorang pengkhotbah yang terkenal kepada jemaahnya.

Pada umumnya dipercayai bahwa penulisnya adalah Salomo, sekalipun namanya tidak muncul di dalam kitab ini, seperti dalam kitab Amsal (mis. Ams 1:1; Ams 10:1; Ams 25:1) dan Kidung Agung (bd. Kid 1:1). Akan tetapi, beberapa bagian mengesankan Salomo selaku penulis.

Menurut tradisi Yahudi, Salomo menulis Kidung Agung ketika masih berusia muda, Amsal pada usia setengah tua dan kitab Pengkhotbah pada tahun-tahun akhir hidupnya. Pengaruh yang bertumpuk dari kemerosotan rohani, penyembahan berhala, dan hidup memuaskan-dirinya pada akhirnya membuat Salomo kecewa dengan kesenangan dan materialisme sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan. Kitab Pengkhotbah mencatat renungan-renungan sinisnya tentang kesia-siaan dan kehampaan usaha menemukan kebahagiaan hidup terlepas dari Allah dan Firman-Nya. Ia telah mengalami kekayaan, kuasa, kehormatan, ketenaran, dan kesenangan sensual -- semua secara melimpah -- namun semua itu akhirnya merupakan kehampaan dan kekecewaannya saja, "Kesia-siaan belaka! Kesia-siaan belaka! ... segala sesuatu adalah sia-sia" (Pengkh 1:2).

Jemaat Tuhan...
Tujuan utamanya dalam menulis Pengkhotbah mungkin adalah menyampaikan semua penyesalan dan kesaksiannya kepada orang lain sebelum ia wafat, khususnya kepada kaum muda, supaya mereka tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dirinya. Ia membuktikan untuk selama-lamanya kesia-siaan melandaskan nilai-nilai kehidupan seorang pada harta benda duniawi dan ambisi pribadi. Sekalipun orang muda harus menikmati masa muda mereka (Pengkh 11:9-10), adalah lebih penting untuk mengabdikan diri kepada Sang Pencipta (Pengkh 12:1) dan membulatkan tekad untuk takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya (Pengkh 12:13-14); itulah satu-satunya jalan untuk menemukan makna hidup ini.

Jemaat Tuhan...
Terdapat beberapa pemikiran penting dari kitab Pengkhotbah dalam bacaan kita ini dalam hubungannya dengan kehidupan yang sia-sia akibat dosa, secara khusus bagaimana Allah menyatakan keadilan dan penghakimannya. Pokok pikiran dimaksud adalah sebagai berikut:

1.       Ketidakadilan adalah kenyataan hidup yang terjadi di dunia (ay.16)
Pengkhotbah meyakini bahwa dunia ini penuh dengan kesia-siaan, termasuk kesiaan-siaan mencari keadilan dalam dunia. Sebab justru tempat untuk menemukan keadilan, merupakan sumber segala ketidak-adilan. Pengadilan yang dibuat untuk menegakkan keadilan, kadangkala suap dan korupsi yang menang. Kenyataan dunia peradilan membuat kita cenderung menyimpulkan bahwa keadilan adalah sesuatu yang sangat relatif. Memang ada ukuran dalam bentuk hukum atau undang-undang. Tetapi dalam prakteknya seringkali keadilan dan ketidakadilan menjadi rancu. Mengapa ? Karena justru di pengadilan keadilan bisa diputuskan tidak adil dan ketidakadilan bisa diputuskan adil. Ini bukan perkataan Pengkotbah sendiri, tetapi pendapat umum yang diangkat oleh Pengkhotbah.

2.       Mengingatkan diri tentang pengadilan Allah (ayat 17)
Istilah “berkatalah aku dalam hati” menunjukkan sikap refleksi diri . Dalam ayat ini pengkhotbah mengingatkan untuk ber-refleksi diri tentang pengadilan Allah, baik bagi orang yang benar maupun orang yang tidak adil. Kalau ketidakadilan bisa dilakukan orang lain, kita pun bisa jatuh pada kesalahan yang sama. Sehingga kita harus berhati-hati agar tidak menjadi terhukum dalam pengadilan Allah.

Pengadilan Allah atas manusia akan terjadi setelah kematian. Untuk itu, sebelum kematian menjemput maka kita harus mengisi hidup dengan ketaatan pada kehendak Allah. Ini dimaksudkan agar pengadilan Allah memberikan vonis kepada kita untuk masuk kedalam kerajaan sorga. Yang penting untuk diingat adalah Tuhan meminta kita untuk dapat menggunakan masa hidup ini dengan sebaik-baiknya karena sekali masa hidup kita itu lewat maka “ia tidak akan kembali” lagi. Oleh karena itu kita harus menggunakan dengan penuh tanggung jawab sebab Tuhan akan datang dan menggelar suatu pengadilan yang seadil-adilnya.


3.       Mengingatkan diri tentang hidup yang sia-sia (ayat 18-21)
Dalam bagian ini Pengkotbah mengingatkan setiap kita, bahwa jika kita hidup di dalam ketidakbenaran dan ketidakadilan, maka sebenarnya kita tidak ada lebihnya dari binatang. Mazmur 49:21 mengatakan, “Manusia dalam segala kegemilangannya, tanpa memiliki pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.”

Kesamaan itu tidak secara fisik atau phsikis, tetapi kesamaan itu tampak dalam hal yang paling mendasar, yakni kesamaan secara teologis. Secara teologis, manusia dan binatang memiliki kesamaan yaitu pertama sama-sama mengalami masa kelahiran, hidup, membutuhkan makanan, dan bertumbuh/berkembang ( ayat 18). Kedua, manusia dengan hewan adalah sama-sama mengalami kematian. Ketiga, manusia dan hewan memiliki nafas yang sama, mereka sama-sama membutuhkan udara untuk bernafas dan hidup. Keempat, manusia dan hewan menuju satu tempat yang sama yaitu pemakaman dimana manusia dan hewan yang mati akan dikubur. Kelima, manusia dan hewan memiliki kondisi yang sama yakni sama-sama diciptakan dari debu dan kembali menjadi debu. Dari persamaan antara manusia dan binatang ini maka dapat disimpulkan bahwa semua mahluk ciptaan Tuhan memiliki kedudukan yang sama dihadapan Tuhan.

 

Dari pemahaman bahwa manusia dan binatang memiliki nasib yang sama, maka sebagai manusia kita harus menyadari bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Kehidupan di dunia ini ada batasnya, dan batas kehidupan dunia adalah kematian. Oleh karena itu, ketika kita masih diberi hidup dan umur panjang, kita harus membangun hidup untuk menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama manusia dan lingkungan alam. Dengan kata lain, kita tidak boleh menyia-nyiakan hidup pemberian Tuhan. Kita harus mempergunakan hidup dengan tindakan yang baik dan bermanfaat bagi ciptaan Tuhan yang lain.


4.       Bergembira upah dari kebenaran hidup kita (ayat 22)
Banyak orang yang menganggap bahwa dengan hidup tidak benar akan memperoleh kebahagiaan. Hal ini yang pernah juga dipikirkan oleh penulis Mazmur 73. Tetapi Pengkotbah mau mengingatkan bahwa dalam hidup yang benar, Tuhan pasti menyediakan berkat-berkat tersendiri bagi kita, yang dapat kita syukuri dan membawa kita hidup dalam sukacita sejati, yakni ketika kita berusaha dan bekerja dengan baik, adil dan jujur.

Berusaha dan bekerja dengan baik, adil dan jujur merupakan bagian dari kunci kebahagiaan hidup. Pengkhotbah menyebutnya sebagai kebahagian dalam pekerjaan.

Karena itu, marilah menjaga kehidupan ini dengan berbuat sesuai dengan kehendak Allah. Junjunglah kebenaran dan keadilan. Bersyukurlah dalam segala hal akan nikmat hidup yang Tuhan anugerahi. Andaikata pun hidup ini menjadi tidak adil yang justru datang dari orang-orang yang berlaku curang pada kita dengan ketidak adilannya, maka bersyukurlah sebab kita masih bekerja dengan baik dan adil serta nantikanlah bahwa Tuhan pasti nyatakan keadilannya. Amin.



Sunday, June 16, 2013

BAHAN RENUNGAN SEKTOR 19 JUNI 2013

ZAKHARIA 4:1-14

Pendahuluan
Penulis kitab ini adalah Zakharia. Sebutan "Zakharia" menunjuk kepada Zakharia anak dari Berekhya dan cucu dari Ido (1:1.7). Nama "Zakharia" adalah nama yang populer. Dalam Perjanjian Lama, ada sekitar 27-30 orang yang memakai nama "Zakharia". Sebutan "Zakharia" berarti Allah mengingat atau Allah telah mengingat. Nama "Zakharia" menjelaskan bahwa Allah mengingat umat-Nya dan Ia mengingat (setia terhadap) janji-Nya terhadap bangsa Israel. Mungkin nama ini mengungkapkan rasa syukur orang tua Zakharia karena mereka dikaruniai anak laki-laki. Seperti Yeremia dan Yehezkiel, Zakharia adalah seorang nabi sekaligus seorang imam (Nehemia 12:16). Ido (kakek Nehemia) juga seorang imam (Nehemia 12:1,4). Zakharia dilahirkan di Babel.

Saat orang Yahudi kembali ke Palestina di bawah pimpinan Zerubabel dan Imam Besar Yosua, dia ikut dengan kakeknya kembali ke Palestina. Bila yang dimaksud dengan "orang muda" dalam Zakharia 2:4 adalah Zakharia, maka berarti bahwa Zakharia dipanggil untuk bernubuat pada tahun 520/519 BC (sebelum Masehi), saat usianya masih muda.  

Telaah Perikop
Terdapat delapan penglihatan yang dialami oleh Zakharia mulai dari pasal 1-6 kitab ini. Khusus pasal 4:1-14 adalah penglihatan kelima berupa Kandil Emas yang berhiaskan dua pohon Zaitun. Ada tiga bagian dari perikop ini. Isi penglihatan disampaikan dalam ay.1-3. Penjelasan pertama, mengenai “semuanya”, terdapat dalam ay.4-7, dengan suatu komentar dalam aa.8-10. Penjelasan kedua, tentang kedua pohon zaitun, terdapat dalam ay.11-14. Isi dari penglihatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1.       Penglihatannya terjadi dalam keadaan yang mirip dengan tidur (ay.1). Yang dilihat Zakharia ialah sebuah kandil dengan empat puluh sembilan suluh, tersusun di atas tujuh pelita dengan tujuh corot masing-masing. Ketujuh pelita itu tersusun di atas tempat minyak, bahan bakarnya. Minyaknya dari pohon zaitun, yang disimbolkan dengan ukiran di sebelah kanan dan kiri.


2.       Zakharia langsung menanyakan arti dari penglihatan itu (ay.4). Penjelasan yang berikut berbicara tentang Zerubabel. Kuasa yang akan menjamin bahwa Zerubabel berhasil menyelesaikan pembangunan Bait Allah ialah roh Allah, bukan kemampuan Zerubabel (ay.6). Pada ayat 7a hal itu ditegaskan dengan suatu gambaran: gunung tidak mungkin diratakan oleh Zerubabel, tetapi akan menjadi tanah rata oleh karena kuasa Allah itu. Selanjutnya ayat 7b membayangkan sorak Israel ketika Bait Allah selesai lewat dipancangkannya batu utama.

Batu utama mungkin mirip fungsinya dengan baru peringatan pada gedung modern yang di atasnya tertulis tanggal dan tokoh yang meresmikan gedung itu. Kalau begitu, yang dinubuatkan dalam ay.7 itu adalah upacara peresmian Bait Allah. Pada zaman itu batu utama sering dilapisi dengan permata dan/atau logam mulia seperti emas.

Penglihatan itu menyangkut batu utama yang melambangkan penyelesaian Bait Allah. Sama seperti pelita bersumber pada minyak, terang yang dibawa oleh penyelesaian Bait Allah akan bersumber pada roh Allah melalui Zerubabel.

3.       Selanjutnya kita menemukan dalam ayat 8-10 suatu komentar terhadap penglihatan itu. Dijelaskan bahwa Zerubabel-lah yang akan menyelesaikan apa yang dulunya dia mulai (ay.9a). Hal itu akan membuktikan bahwa malaikat yang berbicara dengan Zerubabel memang adalah utusan Allah, sehingga Israel juga bisa percaya pada nubuatannya (ay.9b). Sikap orang yang menjadi tawar hati atau putus asa karena lamanya tidak ada perkembangan akan menemukan semangat baru (a.10a). Akhirnya, ketujuh mata yang diukir pada batu utama itu (jika tafsiran tadi tepat) menyimbolkan mata Tuhan (ay.10b). Tujuh adalah angka kelengkapan atau keseluruhan, dan mata Tuhan yang disimbolkan dengan tujuh itu melihat seluruh bumi. Tidak akan ada kejutan menggoyang rencana-Nya, Dia melihat semuanya.

4.       Pertanyaan untuk penjelasan kedua diulang dalam ay.12. Cairan emas merujuk pada minyak zaitun, dan sepertinya ada sistem penyaluran memakai pipa yang sekaligus merupakan bagian dari ukiran pohon zaitun itu, bahasanya tidak terlalu jelas. Hal itu mengaitkan kedua pohon zaitun itu sebagai penyambung pelita dengan minyak zaitun. Pada ay.14 bacaan kita mengungkapkan maknanya: kedua pohon adalah Yosua dan Zerubabel, karena baik imam maupun raja diurapi. Merekalah yang menjadi kunci sehingga kuasa roh Allah akan menghasilkan pembangunan Bait Allah.

Aplikasi dan Relevansi
Berdasarkan kisah yang ada dalam bacaan kita ini, maka ada beberapa hal pokok yang dapat kita relevansikan dalam hidup beriman kita, yakni:
1.       Zerubabel adalah tokoh yang akan membangun Bait Allah hingga selesai. Ia mendapatkan penguatan dalam aa.6-10, yaitu janji bahwa oleh kuasa roh Allah Zerubabel akan menyelesaikan Bait Allah. Janji ini itu tentu mau menguatkan Zerubabel, dan orang-orang Yehuda di bawah pimpinannya, untuk tetap bertekun dalam pembangunan itu. Namun, tekanan dalam ay.6 mengingatkan mereka bahwa sumber sukses bukan di dalam mereka melainkan oleh karena kuasa Allah.

Kitapun diingatkan bahwa disaat Tuhan menjanjikan sesuatu ia tidak akan pernah ingkar janji. Zerubabel wajib menjalankan tugas pembangunan itu dan Tuhan akan menyertainya. Masing2 kita memiliki tanggung-jawab untuk melaksanakan tugas dibidang masing-masing. Apabila kita berhasil, itu harusnya dipahami sebagai anugerah Tuhan dan bukan karena kita.

2.       Mengapa inti itu disampaikan melalui penglihatan yang kabur dan sulit ditafsir? Ay.5 & 13 memberi suatu petunjuk, ketika malaikat bertanya tentang ketidaktahuan si nabi. Hal itu menegaskan bahwa si nabi tidak sanggup menerobos ke dalam makna penglihatan itu sendiri. Yang dibicarakan adalah rencana Allah, dan hanya Allah yang tahu dan dapat memberitahunya.

Hal ini memberi arti kepada kita bahwa tidak semua rencana Tuhan dapat kita selami dengan mudah. Banyak hal yang masih menjadi rahasia bagi kita namun semua telah sangat indah direncanakan TUHAN. Sebagaimana Zakharia membutuhkan malaikat untuk jelaskan penglihatan itu, demikian juga kita membutuhkan Roh Kudus untuk mengerti kehendak dan rencana Tuhan bagi kita. Amin




BAHAN RENUNGAN PKP 18 JUNI 2013

ZAKHARIA 2:1-5 (bacaan pagi)

Pendahuluan
Tembok Besar Cina mulai didirikan pada abad ke-3 SM. Tembok yang kerap disebut sebagai "keajaiban dunia kedelapan" itu memiliki panjang sekitar 1.500 mil (2.400 kilometer). Tembok Besar tersebut dibangun untuk melindungi rakyat dari serbuan mendadak para pengembara dan menjaga mereka dari penyerangan yang dilakukan oleh negara-negara musuh. Bacaan kita hari ini berbicara juga tentang pembangunan tembok dan kota Yerusalem pasca pembuangan di Babel. Waktu itu, masih sangat sedikit orang yang kembali dari pembuangan, sehingga Yerusalem belum dapat dibangun kembali. Kota itu masih berupa puing-puing,

Dalam kondisi inilah Nabi Zakharia menerima penglihatan dari TUHAN tentang bagaimana nantinya TUHAN, Allah Israel akan terlibat dalam pemulihan umatNya yang mengalami penderitaan karena pembuangan akibat dosa kesalahan dan hukuman yang diberikan TUHAN bagi mereka.

Telaah Perikop
Sebutan "Zakharia" menunjuk kepada Zakharia anak dari Berekhya dan cucu dari Ido (1:1.7). Nama "Zakharia" adalah nama yang populer. Dalam Perjanjian Lama, ada sekitar 27-30 orang yang memakai nama "Zakharia". Sebutan "Zakharia" berarti Allah mengingat atau Allah telah mengingat. Nama "Zakharia" menjelaskan bahwa Allah mengingat umat-Nya dan Ia mengingat (setia terhadap) janji-Nya terhadap bangsa Israel. Mungkin nama ini mengungkapkan rasa syukur orang tua Zakharia karena mereka dikaruniai anak laki-laki. Seperti Yeremia dan Yehezkiel, Zakharia adalah seorang nabi sekaligus seorang imam (Nehemia 12:16). Ido (kakek Nehemia) juga seorang imam (Nehemia 12:1,4). Zakharia dilahirkan di Babel.

Saat orang Yahudi kembali ke Palestina di bawah pimpinan Zerubabel dan Imam Besar Yosua, dia ikut dengan kakeknya kembali ke Palestina. Bila yang dimaksud dengan "orang muda" dalam Zakharia 2:4 adalah Zakharia, maka berarti bahwa Zakharia dipanggil untuk bernubuat pada tahun 520/519 BC (sebelum Masehi), saat usianya masih muda. 

Terdapat delapan penglihatan yang dialami oleh Zakharia mulai dari pasal 1-6 kitab ini. Khusus pasal 2:1-5 adalah penglihatan ketiga tentang: “Seorang Yang Sedang Memegang Tali Ukur”. Isi dari penglihatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.      Pada ayat 1-2, Zakharia melihat ada seorang malaikat yang sedang memegang tali pengukur. Tujuan dari malaikat pemegang tali pengukur itu hadir adalah untuk mendapatkan ukuran panjang dan lebar dari kota Yerusalem yang hancur tersebut. Penglihatan ini memberi makna penting bagi Zakharia yang saat itu sedang berada di tengah reruntuhan Yerusalem ketika ia dan kakeknya kembali dari pembuangan. Bagi Israel dan Zakharia, penglihatan itu memberikan suatu harapan bahwa Kota Yerusalem yang akan diukur berarti itu akan segera dibangun, sebagaimana halnya dalam Yeh 41:13.

Hadirnya malaikat Tuhan yang turun tangan mengukur dan memulai persiapan pembangunan itu, hendak menyatakan bahwa TUHAN akan terlibat langsung  dalam pembangunan itu. Penglihatan ini juga memberikan makna bahwa Allah memberikan semangat kepada mereka untuk terus bekerja dan berusaha memulihkan Yerusalem karena DIA sendiri menyertai umatNya itu.

2.      Perhatikan ayat 3-5 bacaan kita. Terdapat kontradiksi antara ayat 1-2 dengan ayat 3-5 pada perikop ini. Pada ayat 1-2 pembangunan Yerusalem dan terutama temboknya akan segera dimulai. Namun justru pada ayat 3-4 kita menemukan bahwa malaikat TUHAN menubuatkan bahwa Yerusalem itu tidak akan didirikan tembok dan dibiarkan seperti padang terbuka. Bagaimanakah hal ini dipahami?

Penglihatan pada bagian ini membicarakan kota Yerusalem namun dengan kondisi waktu yang berbeda. Ayat 1-2 memberikan penguatan untuk pembangunan ulang kota Yerusalem di Palestina pada zaman Zakharia yaitu Yerusalem lama. Namun pada ayat 3-4 membicarakan tentang Yerusalem baru yakni Yerusalem di masa kerajaan 1000 tahun, ketika kota ini tidak akan bertembok lagi dan penuh sesak dengan orang banyak. Jadi ada dua Yerusalem yang disebutkan secara bersamaan dalam perikop ini.

Itulah sebabnya dalam ayat 5 bacaan kita menegaskan bahwa TUHAN, Allah Israel sendirilah yang akan mejadi Tembok Berapi yang mengelilingi dan memagari Yerusalem. Walaupun janji ini berbicara tentang Yerusalem baru, namun juga memberikan makna yang penting bahwa Israel di masa Zakharia pun akan menjadi tempat kediaman umat yang dilindungi oleh TUHAN bagaikan tembok berapi itu.

Relevansi dan Aplikasi
Berdasarkan kisah yang ada dalam bacaan kita ini, maka ada beberapa hal pokok yang dapat kita relevansikan dalam hidup beriman kita, yakni:
1.      Setiap hal yang kita alami dan jalani dalam hidup ini telah disiapkan dan direncanakan oleh TUHAN. Entah hal itu kelihatannya baik maupun kelihatannya buruk. Pemulihan pasti terjadi. Pada ayat 1-2 janji TUHAN akan memulihkan umat TUHAN melalui pembangunan kota dan tembok Yerusalem setelah mereka selesai menjalani penghukuman akibat dosa dan kejahatan mereka. Dengan ini pun kita harus mengimani bahwa TUHAN maha pengampun dan tidak selamanya menghukum umatNya. Ia akan memulihkan setiap pribadi yang mengalami kegagalan hidup karena dosa dan kesalahan. Sudah pasti, dibalik murka TUHAN akan ada pengampunan dari TUHAN.

2.      Jika di kota-kota besar di Indonesia mengalami masalah dengan padatnya penduduk, maka pada penglihatan ke tiga Zakharia, kita diperhadapkan pada sesuatu hal yang berbeda. Zakharia melihat dalam penglihatannya ada seorang pemuda  berlari untuk mengukur panjang dan lebarnya kota Yerusalem dengan menggunakan tali pengukur, tetapi kemudian dihentikan oleh seorang malaikat yang mengatakan bahwa Yeruselem akan menjadi seperti padang yang terbuka. Perkataan malaikat ini berarti Yerusalem yang akan dibangun kembali bukanlah sebuah kota yang sempit dan terbatas seperti kota Yerusalem sebelumnya, melainkan sebuah kota yang besar dan megah yang mampu menampung berapapun banyaknya manusia (lih zak 2: 4). Dan kota itu di jaga oleh Allah sendiri sehingga menjadi sebuah kota yang benar-benar aman dari segala musuh-musuh dan Allah akan dimuliakan di dalam kota tersebut (Zak 2:5).

Di bagian lainnya nast ini mengingatkan kita pada penglihatan Yohanes di kitab Wahyu tentang Yerusalem Baru sebagai kota kudus…”kota itu penuh dengan kemulian Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah….”(Why 21:11). Dan sesuatu hal yang menarik tentang kota Yerusalem Baru bahwa tidak ada Bait Suci di dalamnya, sebab Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Bait Suci-Nya (lih. Why 21:22) orang-orang dapat langsung menyembah dan memuliakan-Nya (bnd Zak 2:5). Mereka yang akan tinggal di kota tersebut adalah orang-orang percaya dan yang telah melakukan firman-Nya. Istilah lain untuk mereka yang tinggal di Yerusalem Baru adalah para mempelai-Nya atau anak-anak Allah, yang berarti mereka yang benar-benar memiliki hubungan yang sangat dekat yang dapat menjadi keluarga Allah. Jika keadaannya seperti itu, siapakan di antara kita yang tidak menghendaki kota yang seperti ini? Siapakah yang tidak ingin akan adanya suatu jaminan kesejahteraan dan keamanan? Sebuah kota yang indah, sebuah kota idaman!? Semua manusia pasti mengingininya. Kiranya kita kelak pun akan Yerusalem Baru itu apabila hidup kita berkenan kepadanya selalu. Amin.


BAHAN RENUNGAN PKB 17 JUNI 2013

ZAKHARIA 1:7-17 (bacaan pagi)

Pendahuluan
Penulis kitab ini adalah Zakharia. Sebutan "Zakharia" menunjuk kepada Zakharia anak dari Berekhya dan cucu dari Ido (1:1.7). Nama "Zakharia" adalah nama yang populer. Dalam Perjanjian Lama, ada sekitar 27-30 orang yang memakai nama "Zakharia". Sebutan "Zakharia" berarti Allah mengingat atau Allah telah mengingat. Nama "Zakharia" menjelaskan bahwa Allah mengingat umat-Nya dan Ia mengingat (setia terhadap) janji-Nya terhadap bangsa Israel. Mungkin nama ini mengungkapkan rasa syukur orang tua Zakharia karena mereka dikaruniai anak laki-laki. Seperti Yeremia dan Yehezkiel, Zakharia adalah seorang nabi sekaligus seorang imam (Nehemia 12:16). Ido (kakek Nehemia) juga seorang imam (Nehemia 12:1,4). Zakharia dilahirkan di Babel.

Saat orang Yahudi kembali ke Palestina di bawah pimpinan Zerubabel dan Imam Besar Yosua, dia ikut dengan kakeknya kembali ke Palestina. Bila yang dimaksud dengan "orang muda" dalam Zakharia 2:4 adalah Zakharia, maka berarti bahwa Zakharia dipanggil untuk bernubuat pada tahun 520/519 BC (sebelum Masehi), saat usianya masih muda.

Telaah Perikop
Pada tahun 519 bulan Syebat di hari kedua itu yakni pada masa pemerintahan Raja Darius, Nabi Zakharia mendapatkan penglihatan tentang sesuatu yang terjadi pada masa yang akan datang pada kehidupan umat percaya. Isi penglihatan itu adalah sebagai berikut:

1.      Pada ayat 7-10, nabi Zakharia melihat ada seorang penunggang kuda yakni malaikat TUHAN yang menggunakan kuda merah. Dibelakang kuda merah itu ada juga malaikat2 pengintai yang mengunakan kuda-kuda berwarna. merah, warna putih dan warna merah jambu. Dalam kitab2 eskatologis seperti Daniel dan Wahyu, penyebutan warna tertentu memiliki arti penting. Itu berarti tiap warna kuda yang dilihat oleh Zakharia memiliki maksud dan makna. Warna Merah berarti pertempuran dan pertumpahan darah (bd. Wyh.6:4); Warna Putih melukiskan tentang kemenangan dan damai (bd. Wahyu 6:2); Warna Merah Jambu melukiskan akibat negatif dari peperangan dan pemusnahan-pemusnahan itu yang membingungkan banyak orang (bd. Why. 6:5-8).

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa pada saat kedepan akan terjadi peprangan di persia yang disusul oleh perdamaian dan kemudian dampak kehancuran. Jika kita membaca sejarah Raja Darius di Persia maka nubutan ini akhirnya digenapi. Bahwa terjadi pemberontakan pada jaman persia dengan banyaknya pertumpahan darah; namun hanya terjadi perdamaian sementara waktu itu dengan menyisakkan banyak dampak negatif sesudah pertempuran.

2.      Selanjutnya pada ayat 11-12 menunjukkan bahwa para pengintai sorgawi itu menyampaikan tentang kondisi kerajaan Persia yang menahan orang Israel di pembuangan masih aman dan damai. Itulah sebabnya pada ayat 12, para pengintai sorgawi itu bertanya kepada Tuhan tentang kondisi damai kerajaan kafir itu dan mengapa Tuhan membiarkan umat terbuang di sana dan seakan tidak menyanyangi Yerusalem yang telah porak-poranda tersebut.

3.      Pada ayat 13-17 kita menemukan jawaban TUHAN dan sikap TUHAN terhadap kondisi umatNya yang sebagian masih dalam buangan dan sebagian lagi sudah kembali. Ada dua hal penting yang disampaikan Tuhan kepada Zakharia melalui Malaikat Tuhan, yakni:

Pertama, Perhatikan ayat 14-15. Penderitaan yang dialami oleh umat saat ini sebagai bagian dari murka TUHAN kepada umatNya. Itulah sebabnya Ia menggunakan bangsa-bangsa Kafir seperti Babel dan Persia untuk menghukum umatNya itu (ay.15). Namun menurut TUHAN bangsa2 yang dipakai TUHAN itu juga sudah kelewatan batas. Tuhan hanya murka sedikit kepada Israel, namun bangsa2 kafir itu telah melakukan kejahatan yang lebih besar kepada umatNya.
Kedua, itulah sebabnya pada ayat 16-17 Tuhan menjanjikan pemulihan kepada umatNya. Ia akan kembali menyayangi Yerusalem dan akan memulihkan keadaan Yerusalem. Sebagai tanda dan bukti keseriusan Tuhan adalah dubangunnya kembali Bait Suci yang hancur itu dan kota Sion akan berlimpah dengan damaisejahtera dan kebajikan dari TUHAN.

Aplikasi dan Relevansi
Berdasarkan kisah yang ada dalam bacaan kita ini, maka ada beberapa hal pokok yang dapat kita relevansikan dalam hidup beriman kita, yakni:

1.      Setiap hal yang kita alami dan jalani dalam hidup ini telah disiapkan dan direncanakan oleh TUHAN. Entah hal itu kelihatannya baik maupun kelihatannya buruk. Hal ini pula yang dinyatakan malaikat Tuhan kepada Zakharia untuk memahami arti pembuangan dan penghukuman umat Tuhan tersebut. Bahwa ternyata kejahatan Babel dan Persia yang menganiaya umat TUHAN sengaja diijinkan Tuhan untuk terjadi bagi umat sebagai bentuk penghukuman.

Dengan demikian kita wajib merenungkan ulang kondisi Israel ini sebagai bahan yang mungkin berhubungan dengan kehidupan kita. Bahwa adalah mungkin kita mengalami keburukan hidup akibat kejahatan orang lain, bukanlah suatu kebetulan. Tuhan  bisa saja menggunakan kejahatan orang lain untuk menyadarkan umatNya dari kesalahan dan dosa.

2.      Namun seperti pada ayat 15 kitapun perlu juga mengimani bahwa TUHAN tidak menutup mata terhadap kejahatan itu. Tuhan itu adil dan benar. Ia tidak akan membiarkan umatNya menerima kejahatan tanpa ada pembalasan dari TUHAN. Hal ini menunjukkan bahwa TUHAN tidak akan membiarkan umatNya mengalami ketidakadilan itu. Ia pasti membalas tiap kejahatan terhadap umat TUHAN.

3.      Pemulihan pasti terjadi. Pada ayat 16-17 janji TUHAN akan memulihkan umat TUHAN. Dengan ini pun kita harus mengimani bahwa TUHAN maha pengampun dan tidak selamanya menghukum umatNya. Ia akan memulihkan setiap pribadi yang mengalami kegagalan hidup karena dosa dan kesalahan. Sudah pasti, dibalik murka TUHAN akan ada pengampunan dari TUHAN. Amin.








   


Sunday, June 9, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 12 JUNI 2013



I PETRUS 2:13-15

PENGANTAR
Surat Petrus Yang Pertama ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil. Mereka disebut "umat pilihan Allah". Maksud utama surat ini ialah untuk menguatkan iman para pembacanya yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Petrus mengingatkan para pembacanya akan Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang merupakan jaminan harapan mereka. Sebab, Yesus Kristus sudah mati, hidup kembali dan berjanji akan datang lagi.

Para penerima surat 1 Petrus ini, hidup dalam masa-masa sukar. Mereka ada di zaman sulit. Saat dimana Kekristenan alami penganiayaan. Dibenci oleh Nero, sang penguasa. Tentu saja, bagi yang memiliki mentalitas cari aman, pilihan mengikuti jejak Yesus, bukanlah keputusan cerdas. Mereka akan memilih menolak salib, sebab itu derita. Terhadap yang setia beriman, namun minim pemahaman, Petrus bukan saja mencerdaskan, namun juga menguatkan melalui suratnya ini.

TAFSIRAN (uraian teks)
Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan 1:1-2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13-3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Himbauan berkelakuan baik di tengah-tengah masyarakat non-Yahudi dan ditengah penimdasan para penguasa yang lalim diserukan oleh Petrus melalui bacaan ini ketika umat menghadapi penderitaan. Merka harus sedapat mungkin mengembangkan sikap hidup yang baik sebagai umat yang percaya di tengah masyarakat yang tidak percaya. Mereka di minta supaya tulus hati mengindahkan lembaga penguasa yg sah; supaya hamba-hamba di bawah tuan yg baik hati ataupun jahat tetap melakukan kewajibannya dengan meneladani Kristus; supaya suami isteri saling mengasihi; supaya tetap bersatu hati; cinta kasih, lemah lembut, rendah hati, bertumbuh menuju dambaan

Perhatikan ayat sebelumnya dalam bacaan kita yakni bacaan SBU pagi kususnya ayat 12. Perus menganjurkan agar umat Tuhan tetap mempraktekkan “cara hidup yang baik”. Anjuran yang sama berulang kali diketengahkan dalam ayat-ayat  berikutnya (2:15; 2:20; 3:6, 11, 13). Dengan melakukan ini, mereka menjadi kudus … sama seperti Dia yang kudus” (1:15). Sekaligus mereka menyatakan bahwa mereka memang berada di dunia ini, tetapi “bukan dari dunia” ini (Yoh 17:115-16). Dengan memiliki cara hidup yang baik, mereka mencerminkan karakter Allah. Apa tujuannya? Supaya Tuhan tetap dimuliakan, dan kelak nanti mereka yang mencerca orang percaya akan sadar dan turut memuliakan Allah juga.

Selanjutnya, sangat mengejutkan bahwa Petrus meminta umat untuk tunduk kepada pemerintah dan wali-wali di masa itu (ay.13-14). Padahal sudah dapat dipastikan bahwa mereka sangat kecam menganiaya gereja Tuhan. Pertanyaannya adalah: Apakah kita harus selalu tunduk? Perlu diingat bahwa ini adalah suatu prinsip dan/atau patokan. Bukan suatu aturan yang ketat! Petrus sendiri pernah memberi suatu contoh, yakni ketika ia dan para  rasul lainnya dilarang keras oleh Mahkamah Agama untuk mengajar “dalam Nama [Yesus] itu”. Maka Petrus dan para rasul lainnya menjawab, katanya “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kis 5:29). Pendek kata, kita harus patuh kepada Firman dan Roh Allah, bukan kepada para penguasa .

Ketaatan orang Kristen tidak didasarkan pada alasan ketakutan ataupun alasan menghindarkan hukuman-hukuman yang menjadi ancaman dari pihak pemerintah. Sebaliknya orang Kristen mengakui penguasa-penguasa negara, karena ia sendiri merasa bertanggung-jawab terhadap para penguasa tersebut; sebab bersama-sama dengan penguasa-penguasa itu, orang-orang Kristen pun mengetahui kehendak Allah itu melalui suara hati (“pengetahuan bersama”, Rm 13:5). Berdasarkan rasa tanggung jawab itu misalnya, orang Kristen pun membayar pajak. Intinya, orang yang berbuat baik tidak usah takut kepada pemerintah. Di samping itu ada dukungan dari 1 Petrus 2:17, di mana rasa takut hanya di khususkan untuk relasi manusia dengan Allah saja.

Pengertian ayat 13 dan 14 ini kita dapatkan pada ayat 17 surat 1 Petrus 2. Ia menegaskan bahwa bukan pemerintah itu yang harus ditakuti, melainkan Allah saja. Sedangkan yang patut dihormati (serasi dengan 1 Petrus 2:17a) ialah semua orang, termasuk Kaisar. Dengan demikian terciptalah suatu jarak tertentu antara orang Kristen dengan pemerintah, namun demikian kepada pemerintah tetap patut diberi respek dan hormat, sama seperti kepada semua orang lain. artinya orang Kristen hanya boleh takut dan gentar kepada Allah namun jangan pernah tidak hormat kepada pemerintah. Namun jika pemerintah keliru dan salah, orang percaya harus memilih lebih taat kepada Allah daripada ke manusia atau pemerintah yang jahat itu.

Selanjutnya Petrus menjelaskan alasan mengapa harus terus berbuat baik kepada orang-orang jahat yang membuat umat menderita. Dalam ayat 15 Petrus menyebut dengan gamblang tujuan perbuatan baik itu, yakni untuk membungkamkan kepicikan mereka itu. Dengan kata lain, berbuat baik kepada orang jahat bukan berarti sebagai tanda “mengalah” dan membiarkan kejahatan mereka. Namun menurut Petrus, perbuatan baik adalah alat dan sarana untuk memperjuangkan kebenaran dan membungkamkan kejahatan. Dengan tegas sebenarnya Petrus ingin mengutarakan bahwa kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan. Namun lawanlah kejahatan itu dengan kebaikan. Sebab itulah panggilan orang percaya yakni berani tampil beda di tengah kondisi sulit itu.

APLIKASI DAN RELEVANSI (penerapan dalam hidup sehari-hari)
Silakan baca galian Teks atau Tafsiran di atas. Lalu hubungkan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana Firman ini harus dilakukan.

SELAMAT MENYIAPKAN PELAYANAN SAUDARA

Friday, May 10, 2013

BAHAN RENUNGAN MINGGU 12 MEI 2013

EFESUS 1:3-14

Jemaat Kekasih Kristus....
Dalam kekristenan kita sering mendengar istilah berkat. Istilah ini, jika dibicarakan, selalu dianggap berhubungan dengan kekayaan, kehormatan, keuangan dan berbagai keberhasilan hidup. Bacaan kita hari ini juga menyinggung tentang berkat. Namun Rasul Paulus tidak berbicara tentang berkat dalam pengertian bendawi atau jasmani, melainkan berkat dalam hubungannya dengan hal-hal rohani ketika percaya kepada Yesus Kristus.

Apa sajakah berkat-berkat itu? Dan bagaimanakah caranya seseorang itu memperoleh berkat rohani tersebut? Paulus dengan panjang dan jelas menguraikan minimal ada 5 (lima) jenis berkat rohani yang disediakan Allah bagi umatNya yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Berkat-berkat Rohani dimaksud adalah sebagai berikut:

1.      Kekudusan (ay. 4)
Istilah Kudus dalam Perjanjian Lama memiliki dua pengertian yakni: menyendirikan dan membuat cemerlang.  Istilah ini berasal dari bahasa Ibrani qdsy. Itu berarti istilah menguduskan di sini menunjuk pada reposisi atau memposisikan seseorang dan juga berarti mengubah status seeorang. Istilah ini juga berarti membuat seseorang itu menjadi cemerlang atau bersih dan suci.

Dari istilah ini dapat kita simpulkan bahwa ketika Allah menguduskan umatNya berarti juga bahwa Allah bukan hanya menyucikan dan mebersihkan kita hingga tak percacat, namun justru memindahkan posisi kita dan memisahkan kita dari kelompok yang lain sehingga kita dibedakan dari mereka yang tidak percaya. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Allah membuat kita berbeda status dari orang lain.

Bagaimana caranya? Lihat ayat 4 bacaan kita!  Kita menjadi kudus karena Allah memillih kita dari semua. Betapa hal ini menjadi berita baik. Kita tidak pernah mencalonkan diri. Tapi Allah dengan sengaja memilih kita dari sekian banyak orang. Kitalah yang terpilih.

Ini disebut dengan istilah Predistinasi. Istilah ini berarti ditentukan dari semula untuk diselamatkan. Sejak semula Allah telah menentukan dan memilih kita menjadi pribadi yang berbeda. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan status dari yang tidak layak menjadi kudus dan layak. Pemilihan Allah atau predistinasi ini merupakan doktrin yang penting bagi Rasul Paulus. Pemilihan (Yun: eklego) ini menunjuk pada terpilihnya suatu umat dalam Kristus oleh Allah supaya mereka kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya (bd. 2Tes. 2:13).  Paulus memandang pemilihan ini sebagai ungkapan kasih Allah ketika Allah menerima semua orang (walau tidak layak), yang menerima Yesus Kristus, menjadi umat pilihanNya. Jadi jelaslah bagi kita bahwa mereka yang dipilih untuk dikuduskan adalah mereka yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

2.      Menjadi Anak Allah (ay. 5)
Anugerah sebagai berkat Rohani selanjutnya bagi orang percaya, menurut Paulus, adalah menjadi anak Allah. Dengan kata lain bahwa Allah bersedia menjadi Bapa kita.  Menjadi anak Allah adalah hak istimewa terbesar dari keselamatan kita (Yoh.1:12; Gal.4:7) yang sekaligus merupakan landasan iman kita kepada Allah (Mat.6:25-34).

Menjadi anak-anak Allah sangatlah penting. Sebab sebagai anak-anak Allah kita menjadi ahli waris Allah bersama-sama dengan Anak Tunggal-Nya yakni Yesus Kristus (Rm.8:16-17).  Menjadi anak Allah membuat kita berhak, atas dorongan Roh Kudus, untuk berseru kepadaNya sebagai anak dan memanggilNya “Ya Abba, Ya Bapa (Gal.6:4). Tujuan akhir Allah menjadikan kita sebagai anan-anakNya bukan saja untuk keselamatan kita, melainkan juga menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (Rm.8:29).

Bagaimanakah proses menjadi anak-anak Allah itu terjadi untuk kita? Perhatikanlah ayat 5 bacaan kita! Kalimat “oleh Yesus Kristus” merupakan penekanan yang penting. Bahwa menjadi anak-anak Allah harus terjadi melalui Yesus Kristus. Mereka yang percaya dan beriman kepada Yesus Kristus sajalah yang dapat mengalami perubahan status dari anak-anak dunia menjadi anak-anak Allah.

3.      Penebusan dan Pengampunan Dosa (ay. 7)
Penebusan dan pengampunan haruslah dipandang sebagai satu kesatuan menyeluruh dalam karya keselamatan. Keselamatan tidak hanya terjadi lewat penebusan. Tidak juga hanya terjadi melalui pengampunan. Sebab tanpa pengampunan maka penebusan tidak mungkin hasilkan keselamatan. Demikian juga tanpa penbusan maka pengampunan tidak mungkin hasilkan keselamatan. Mengapa demikian? Kita perlu memahami konsep menebus ini dalam budaya Yudaisme untuk mengerti dengan benar proses keselamatan kita.

Istilah Menebus dari bahasa Ibrani qa’al yang berarti membayarkan sesuatu untuk jaminan tertentu. Dalam tradisi Ibrani, qa’al ini adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan cara membayarkan sesuatu kepada orang lain supaya sanaknya dapat ditebus. Dengan demikian, si penebus harus masih memiliki hubungan keluarga dan mampu membayar nilai tebusan.

Itulah sebabnya sebelum mendapat berkat Rohani berupa penebusan yang dilakukan Allah, maka yang ditebus harus memiliki hubungan keluarga. Dalam hal ini Allah memberi berkat Rohani menjadi anak-anakNya dulu (keluarga Allah) supaya qa’al dapat dilakukan. Lalu bagaimana dengan nilai atau harga penebusan? Harganya telah lunas dibayar melalui Yesus Kristus (1Kor.6:10). Setelah Allah menebus umatnya sehingga kita menjadi milikNya, maka bukankah Ia bebas melakukan apapun terhadap milikNya itu? (Mat.20:15). Apa yang dilakukan Allah terhadap milikNya tersebut? Dia mengampuni milikNya dari segala dosa mereka. Saat itulah keselamatan terjadi!

Perhatikanlah bahwa pernan Yesus Kristus lagi-lagi menjadi sentral atau pusat dalam karya keselamatan tersebut. Keselamatan adalah anugerah Allah yang Cuma-Cuma namun harus melalui pengorbana Yesus Kristus yang mahal hargaNya. Mereka yang ingin selamat harus berharap pada anugerah itu dan percaya pada Yesus Kristus yang menjadi “alat bayar” penebusan.

4.      Pengetahuan Rencana Allah (ay. 9)
Pengetahuan rencana Allah yang dimaksud Paulus sangatlah sulit dimengerti. Namun apabila kita menelusuri ayat 9 hingga ayat 11, maka menjadi teranglah bahwa kelaknanti semua ankan tergenapi semua rencana Allah yang masih rahasia namun telah diungkapkan secara inplisit dalam ayat 9-11 itu. Rencana Allah dimaksud adalah menyatunya seluruh alam semesta ini  dengan sorga di dalam Yesus Kristus. Artinya, kelak nanti dunia akan melihat bahwa Yesus Kristus adalah pusat dan kepala bagi jagad alam ini.

5.      Hadirnya Roh Kudus (ay. 13-14)
Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus selanjutnya akan beroleh Roh Kudus sebagai anugerah atau berkat Rohani. Fungsi Roh kudus ini menuntun umat menuju pada kesempurnaan kelak yakni keselamatan seutuhnya dan menjadikan kita sungguh-sungguh milikNya  kelak di sorga nanti (ay.14).

Bagian ini menunjuk pada fungsi Roh Kudus sebagai Penolong agar orang percaya tetap teguh iman kepada Yesus Kristus, mengarahkan dan penuntun hidup umat percaya agar tidak “kehilangan” anugerah keselamatan yang diberikan secara cuma-suma itu.  Tanpa Roh Kudus membimbing, maka sangat mungkin umat percaya kehilangan arah dan keluar dari  lingkaran anugerah keselamatan tersebut.

Peran Roh Kudus ini sangatlah penting dalam karya keselamatan. Roh kudus memetraikan kita dalam perjanjian keselamatan, yang nantinya pula menjadi jaminan keselamatan seutuhnya di dalam Kristus. Artinya, orang yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus.

Jemaat Tuhan....
Kita telah diselamatkan oleh Allah. Di dalamnya kita beroleh pengudusan yang memungkinkan kita menjadi anak-anakNya. Dengan menjadi anak-anakNya, maka Allah berhak menebus kita sebagai anggota keluarga Allah dan memperoleh pengampunan. Sebagai anak-anak Allah kitapun dibukakan suatu rahasia bahwa kelak nanti semuanya akan terbukti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang menjadi pusat kosmos ini. Artinya iman kita tidak salah pilih. Kelak nanti akan terbukti bahwa kitalah umat yang dimenangkan oleh kuasa kasih karunianya.

Batapa bahagianya kita dapat beroleh semua anugerah itu. Tidak semua orang dapat mengalami hal ini. Karena itu janganlah meninggalkan karunia keselamatan itu. Tetaplah menjadi pribadi yang telah diselamatkan. Jangan pernah murtad dan menyia-nyiakan anygerah yang sudah Tuhan berikan.

Karena itu, apa yang harus kita lakukan. Perhatikanlah bahwa semuanya harus bermuara pada puji-pujian bagi kemuliaan Allah. Kalimat puji-pujian itu muncul 4 kali dalam bacaan kita (ay. 3,6,12,14) untuk menunjuk bahwa umat yang telah diselamatkan adalah umat yang selalu memuliakan namaNya. Kita tidak diminta melakukan apapun selain memuji dan memuliakan namaNya. Karena itu muliakanlah Tuhan selalu dan tetaplah hidup dalam keselamatan itu. Amin.


YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

  WAHYU 1:1-8 PENDAHULUAN Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Ras...