Tuesday, August 23, 2011

MATERI KHOTBAH SEKTOR RABU 24 AUG 2011



PENGKHOTBAH 9:11-12

11Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.
12Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.


Bacaan kita hari ini yakni ayat 11 dan 12 pasal 9 kitab Pengkhotbah adalah bagian yang tak terpisahkan dengan bacaan hari selasa menurut Sabda Bina Umat. Bacaan ini tidak dapat dipisahkan sebab pada ayat 11 dan 12 Pasal 9 ini dinyatakan Salomo sebagai penulis Kitab ini untuk menguatkan uraiannya tentang suatu pemahaman kesia-siaan dalam hidup. Keseluruhan perikop ayat 1-12 Pengkhotbah pasal 9 ini terbagi atas 3 bagian penting yang saling berhubungan dan memberi makna tentang hidup serta bagaimana menyikapinya.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita memperhatikan seluruh perikop ini yakni mulai dari ayat 1 sampai 12 kitab Pengkhotbah pasal 9 dan menemukan tiga bagian besar dari 12 ayat tersebut. Tiga bagian penting itu adalah sbb:

1.      Kesia-siaan dan harapan dalam hidup (ayat 1-6)
Dengan penuh pesimis, pengkhotbah mengatakan bahwa kehidupan di bawah matahari ini (kolong langit ini) selalau berakhir dengan sia-sia. Mengapa ia menyebut hidup ini adalah sia-sia? Sebab manusia pastilah akan mengalami kematian. Apapun yang dicapai dalam hidup tidak akan dibawah dan dinikmati seterusnya karena manusia pastilah akan mati. Dia meyakinkan kita bahwa kematian akan datang kepada semua orang tanpa terkecuali. Kematian terjadi baik kepada orang benar maupun orang jahat (Pkh. 9:1-3). Kematian adalah titik nadir, perwujudan dari semua kesia-siaan hidup dalam dunia. Menurut Salomo dalam ayat 1-3, bahwa siapapun kita entah baik atau benar, berdosa atau tidak, pastilah akan tetap menghadapi kematian itu. Dengan kata lain, apapaun yang dikerjakan dalam dunia ini dipandang menjadi sia-sia oleh karena kematian yang pasti datang.

Namun, dalam ayat 4, Pengkhotbah menyampaikan harapan di tengah kesia-sian akibat kematian yang pasti datang. Apakah harapan itu? Harapan yang dikatakan Salomo adalah harapan terhadap kehidupan. Kematian menjadikan sesuatu sia-sia, namun kehidupan menjadikan sesuatu itu memiliki harapan. Dalam ayat 4 ini, Pengkhotbah mengingatkan kepada kita bahwa ”anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati.” Ukuran yang terkecil dari keberadaan seekor binatang yang hidup adalah lebih baik daripada ukuran yang terbesar dari sesuatu yang mati. Artinya selama masih ada kehidupan, masih ada waktu untuk bersiap bagi kematian.  Itulah harapan dalam kehidupan.

Dengan kata lain, selama seseorang belum mengalami kematian, ia masih beroleh kesempatan untuk mengisi hidup untuk mencapai harapan yang ada. Mengisi kehidupan dengan baik adalah lebih berguna daripada meratapi kematian. Sekali lagi, ini menunjuk pada pentingyna menggunakan waktu kita di atas bumi untuk bersiap bagi kematian. Pada bagian pertama ini, Pengkhotbah menegaskan bahwa kehidupan di dunia ini pada akhirnya adalah kesia-siaan oleh karena semua mahkluk pastilah mati. Namun kesia-siaan dalam kehidupan ini akan tetap memberi harapan apabila kita yang masih hidup mampu mengisi dengan baik kehidupan ini.

2.      Cara mengisi kehidupan agar terhindar dari kesia-siaan (ayat 7-10)
Jika kehidupan yang sia-sia ini masih memberi harapan apabila manusia yang masih hidup ini mampu mengisinya dengan baik, maka pertanyaan penting adalah: bagaimana mengisi kehidupan ini agar tidak sia-sia? Ayat 7-10 menjelaskan tentang cara mengisi kehidupan supaya lebih bermakna dalam harapan dari pada kesia-siaan. Dalam ayat 7-10 ini, kita menemukan Minimal ada tiga hal penting yang harus dilakukan oleh setiap orang selama masih ada kesempatan hidup di dunia ini, yakni:
Pertama, Nikmatilah Hidup ini sebagai berkat dari Tuhan. Bagi Salomo adalah lebih berguna menikmati hidup sebagai pemberian Allah, dari pada meratap dan mengalami ketakutan menanti kehidupan. Dalam ayat 7 dan ayat 9 Salomo memberikan contoh berkat Tuhan dalam kehidupan. Nikmatilah makanan dan minuman selama ada dalam kehidupan sebab itu adalah pemberian TUHAN Allah pencipta. Nikmatilah dengan penuh kebahagiaan karunia hidup sebagai makluk sosial yang bergaul dan saling membutuhkan satu dengan yang lain dalam dunia, seperti hidup berkeluarga, bermasyarakat dll. Itu juga adalah anugerah dan pemberian TUHAN. Nikmatilah dengan sukacita, nikmatilah dengan kebahagiaan hidup.
Kedua, Usahakanlah Kebahagiaan dan Sukacita dalam hidup ini. Dalam ayat 7 dan 9 bacaan kita, Pengkhotbah menyarankan untuk menikmati hidup ini dengan penuh kebahagiaan dan sukacita sebagai pemberiaan atau anugerah dari Tuhan. Namun dalam ayat 10 bacaan kita, pengkhotbah mengingatkan bahwa kebahagiaan dan sukacita dalam hidup sebagai anugerah Tuhan haruslah DIUSAHAKAN. Kebahagiaan tidak jatuh dari langit dan muncul tiba2 di bawah matahari ini. Kebahagiaan harus diusahakan oleh manusia. Itulah sebabnya ia menyarankan bahwa manusia perlu bekerja keras sekuat tenaga untuk menghadirkan kebahagiaan dan sukacita dalam hidup. Selagi masih hidup bekerjalah!! Selagi masih hidup usahakanlah kebahagiaan dan sukacita itu.
Ketiga, Hindarilah Dosa selama menikmati kehidupan ini. Dalam melaksanakan dua poin di atas, Pengkhotbah menegaskan dalam ayat 8 bacaan kita: “Biarlah selalu putih pakaianmu”. Artinya bahwa selama meniikmati hidup ini sebagai karunia Tuhan; dan selama bekerja dan mengusahakan kebahagiaan hidup, maka usahakanlah kebaikan dan janganlah mengotori putihnya hidup itu dengan kotoran dosa. Hidup disebut bahagia dan dapat dinikmati apabila selama menjalani dan mengisi hidup ini, manusia menjaga dirinya dan warna hidupnya agar tidak terkotori oleh dosa.

3.      Manusia bukan faktor penentu dalam hidup (ayat 11-12)
Bagian ini adalah bagian ke-3 yakni ayat 11-12 bacaan kita hari ini. Pengkhotbah menyatakan suatu pemahaman yang baru tentang mengusahakan hidup supaya lebih bermakna. Dalam ayat 10 di atas, Pengkhotbah mengatakan bahwa manusia harus mengusahakan dengan sekuat tenaga agar membuat hidup memiliki harapan. Ada kesan bahwa manusia adalah faktor penentu kehidupannya sendiri. Itu berarti secara logika semakin banyak belajar, maka semakin pintar. Jika semakin pintar maka semakin mungkin memperoleh kekayaan; semakin cepat orang berlari dalam pertandingan, maka semakin mungkin menang perlombaan; semakin kuat seseorang, maka semakin mungkin menang dalam perjuangan.

Namun, perhatikan ayat 11-12 bacaan kita! Apa yang dipaparkan Pengkhotbah berbeda dengan penjelasan logika di atas. Menurut Pengkhotbah di ayat 11: kemenangan dalam lomba bukan bagi yang cepat; menang dalam perjuangan bukan bagi si kuat; kekayaan bukan untuk mereka yang cerdas. Bukankah pernyataan ini bertentangan dengan hal yang alami dan konsep logis yang rill?

Mengapa Pengkhotbah menyatakan sesuatu yang tidak lazim? Perhatikan alasannya dalam ayat 12: Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat,…”  Menurut Pengkhotbah Keselamatan ikan bukan tergantung pada kelihaiannya berenang; dan kelangsungan hidup burung tidak ditentukan oleh kecepatan terbangnya. Ada faktor lain yang turut menentukan kehidupan mereka, yakni faktor diluar kendali dan kuasa mereka yaitu JALA dan JERAT. Faktor ini dapat kita sebut dengan Faktor X, yakni Faktor diluar kuasa dan kemampuan kita termasuk kasus burung dan ikan tadi.

Untuk memahami faktor X ini marilah kita merujuk Markus 4:26-27 yang berbunyi: “Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Tuhan Yesus menyebut Faktor X yang kita simpulkan dalam kitab Pengkhotbah tadi melalui perumpamaan tentang penabur. Siang dia menabur, malam dia tidur; siang di memberi pupuk dan malam dia tidur. Dan di saat malam dia tidak tidur, ternyata benih sedang berproses dalam tanah untuk mulai tumbuh. Saat petani tidak bekerja waktu malam, saat itulah terjadi pertumbuhan sehingga di siang hari, petani menemukan bahwa benih tanamannya sudah tumbuh. Proses bertumbuh benih ini diluar kendali si petani. Bisa saja walau dipupuk, benihnya busuk atau dimakan binatang. Intinya adalah kesuksesan dan keberhasilan hidup tidak tergantung pada andil manusia.

Kalau benar bahwa kesuksesan atau kegagalan hidup; dan keberhasilan atau kemalangan hidup tidak dapat ditentukan oleh faktor usaha dan kemampuan manusia seperti yang diungkapkan oleh Pengkhotbah dan dibenarkan oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaanNya, maka pertanyaan penting untuk direnungi adalah faktor apa yang turut menentukan. Jawabnya Faktor X itu tadi. Kalau begitu apakah faktor X itu? Atau siapa faktor X yang misterius itu?

Untuk menemukan jawaban faktor X ini mari kita melihat pernyataan Paulus dalam 1Kor. 3:6 yang berbunyi: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”. Penabur boleh menanam dan mengupayakan apapun soal pertumbuhan benih tanamannya, namun faktor penentu bertumbuh atau tidak benih itu dalah TUHAN. Tuhanlah yang menjadi faktor X penentu bertumbuh tidaknya beenih tanaman dari penabur tersebut.

Dengan demikian kita dapat memahami maksud Pengkhotbah dalam seluruh perikop pasal 9:1-10 ini. Bahwa dalam hidup ini penuh dengan kesia-siaan. Manusia hanya akan mampu berpengharapan dalam kehidupan yang sia-sia ini jika mampu mengisi kehidupan ini dengan baik, mau bekerja dan berusaha serta mengekang diri dari tindakan mengisi kehidupan dalam dosa. Inilah cara agar mampu berpengharapan dalam kehidupan yang penuh kesia-siaan tersebut. Namun, Pengkhotbah mengingatkan kita bahwa berhasil atau tidaknya kita memiliki pengharapan dalam hidup, tidak pernah ditentukan oleh usaha dan kemampuan kita. Ada faktor penentu yang sangat penting, yakni TUHAN, Allah kita.

Karena itu yang paling penting bukanlah memahamim bahwa ada kesia-siaan dalam hidup ini; bukan pula terpenting bagaimana mengisi kehidupan ini. Namun yang terutama dari semua itu adalah apakah TUHAN, Sang Penguasa kehidupan ini telah kita perhitungkan dan libatkan dalam menjalani hidup ini. Sebab sehebat apapaun kita mengusahakan hidup lebih baik, lebih bahagia, lebih sejahtera dll, hanya TUHAN jualah yang punya kuasa untuk menentukannya. Amin.

Monday, August 22, 2011

MATERI KHOTBAH PKP SELASA 23 AUG 2011


Pengkhotbah 9:1-10

Kitab Pengkhotbah ini di tulis oleh Raja Salomo yang sangat terkenal dengan pengetahuan dan kebijaksanannya akibat Hikmat yang TUHAN, Allah Israel berikan kepadanya ketika memimpin bangsa itu. Seluruh isi kitab ini mengisahkan tentang pemahaman dan pengetahuan tentang apa sesungguhnya yang terjadi pada manusia di bawah matahari ini.

Pada Perikop bacaan kita, Raja Salomo telah memberikan kepada kita nasehat mengenai menghadapi kematian yang tak terhindarkan. Dia meyakinkan kita bahwa kematian akan datang kepada semua orang tanpa terkecuali. Kematian terjadi baik kepada orang benar maupun orang jahat (Pkh. 9:1-3). Kematian adalah titik nadir, perwujudan dari semua kesia-siaan hidup dalam dunia. Menurut Salomo dalam ayat 1-3, bahwa siapapun kita entah baik atau benar, berdosa atau tidak, pastilah akan tetap menghadapi kematian itu. Dengan kata lain, apapaun yang dikerjakan dalam dunia ini dipandang menjadi sia-sia oleh karena kematian yang pasti datang.

Namun, dalam ayat 4 bacaan kita, Pengkhotbah menyampaikan harapan di tengah kesia-sian akibat kematian yang pasti datang. Apakah harapan itu? Harapan yang dikatakan Salomo adalah harapan terhadap kehidupan. Kematian menjadikan sesuatu sia-sia, namun kehidupan menjadikan sesuatu itu memiliki harapan. Dalam ayat 4 ini, Pengkhotbah mengingatkan kepada kita bahwa ”anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati.” Ukuran yang terkecil dari keberadaan seekor binatang yang hidup adalah lebih baik daripada ukuran yang terbesar dari sesuatu yang mati.

Mengapa? Pertanyaan dalam ayat 4 ini dijawab Salomo dalam ayat 5 dengan sangat bijak, yakni ”orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati” dan “orang yang mati tak tahu apa-apa.” Artinya selama masih ada kehidupan, masih ada waktu untuk bersiap bagi kematian.  Itulah harapan dalam kehidupan. Dengan kata lain, selama seseorang belum mengalami kematian, ia masih beroleh kesempatan untuk mengisi hidup untuk mencapai harapan yang ada. Mengisi kehidupan dengan baik adalah lebih berguna daripada meratapi kematian. Sekali lagi, ini menunjuk pada pentingyna menggunakan waktu kita di atas bumi untuk bersiap bagi kematian.

Selanjutnya petanyaan yang perlu direnungkan adalah apa yang harus diisi dalam kehidupan ini? Bagaimana memanfaatkan waktu hidup di atas bumi ini sebelum kematian menjemput? Pertanyaan ini juga dengan bijak dijawab Salomo dalam ayat 7-10 bacaan sore SBU hari ini. Minimal ada tiga hal penting yang harus dilakukan oleh setiap orang selama masih ada kesempatan hidup di dunia ini, yakni:

1.      Nikmatilah Hidup ini sebagai berkat dari Tuhan.
Memang benar bahwa hidup di dunia ini seakan menjadi sia-sia karena kematian menjemput. Namun bagi Salomo adalah lebih berguna menikmati hidup sebagai pemberian Allah, dari pada meratap dan mengalami ketakutan menanti kehidupan. Dalam ayat 7 dan ayat 9 Salomo memberikan contoh berkat Tuhan dalam kehidupan. Nikmatilah makanan dan minuman selama ada dalam kehidupan sebab itu adalah pemberian TUHAN Allah pencipta. Nikmatilah dengan penuh kebahagiaan karunia hidup sebagai makluk sosial yang bergaul dan saling membutuhkan satu dengan yang lain dalam dunia, seperti hidup berkeluarga, bermasyarakat dll. Itu juga adalah anugerah dan pemberian TUHAN. Nikmatilah dengan sukacita, nikmatilah dengan kebahagiaan hidup.

2.      Usahakanlah Kebahagiaan dan Sukacita dalam hidup ini.
Dalam ayat 7 dan 9 bacaan kita, Pengkhotbah menyarankan untuk menikmati hidup ini dengan penuh kebahagiaan dan sukacita sebagai pemberiaan atau anugerah dari Tuhan. Namun dalam ayat 10 bacaan kita, pengkhotbah mengingatkan bahwa kebahagiaan dan sukacita dalam hidup sebagai anugerah Tuhan haruslah DIUSAHAKAN. Kebahagiaan tidak jatuh dari langit dan muncul tiba2 di bawah matahari ini. Kebahagiaan harus diusahakan oleh manusia. Itulah sebabnya ia menyarankan bahwa manusia perlu bekerja keras sekuat tenaga untuk menghadirkan kebahagiaan dan sukacita dalam hidup.

Lebih jauh, Pengkhotbah menyatakan dalam ayat 10 bagian akhir bahwa bekerja atau mengusahakan sesuatu adalah ciri dari orang hidup. Sebab orang yang sudah mati tidak mungkin melakukan apa-apa. Selagi masih hidup bekerjalah!! Selagi masih hidup usahakanlah kebahagiaan dan sukacita itu.

3.      Hindarilah Dosa selama menikmati kehidupan ini.
Dalam melaksanakan dua poin di atas, Pengkhotbah menegaskan dalam ayat 8 bacaan kita: “Biarlah selalu putih pakaianmu”. Artinya bahwa selama meniikmati hidup ini sebagai karunia Tuhan; dan selama bekerja dan mengusahakan kebahagiaan hidup, maka usahakanlah kebaikan dan janganlah mengotori putihnya hidup itu dengan kotoran dosa. Hidup disebut bahagia dan dapat diniimati apabila selama menjalani dan mengisi hidup ini, manusia menjaga dirinya dan warna hidupnya agar tidak terkotori oleh dosa.


Dari uraian Pengkhotbah ini, ada beberapa hal penting yang perlu kita renungkan selama menjalani hidup ini, yakni:
1.      Siapapun kita, dan apapun status kehidupan sosial kita dimasyarakat entah sebagai laki-laki atau perempuan, sebagai suami atau istri, sebagai orang tua atau anak, sebagai ibu rumah tangga atau wanita pekerja, sebagai seorang pelayan atau tuan; kita diingatkan bahwa walaupun kelihatannya banyak perbedaan dalam hidup kita masing-masing, namun satu kesamaan yang tak terpungkiri adalah kita semua pastilah akan mengalami kematian.
2.      Kematian adalah simbol kesia-siaan. Namun tidak berarti bahwa kehidupan ini menjadi sia-sia karena kematian. Pengkhotbah mengajak bahwa lebih penting dan berguna melihat kehidupan dari pada meratapi kematiaan. Semua orang pasti akan mengalami kematiaan itu memang benar. Namun selama masih hidup, orang masih memiliki harapan, minimal menyiapkan diri menghadapi kematian. Dengan kata lain, kita perlu mengisi kehidupan ini dengan baik agar jika kematian menjemput kita telah siap menghadapinya.

3.      Bagaimana mengisi kehidupan? Sangatlah sederhana caranya. Pertama, nikmatilah hidup ini. Jika kita sebagai ibu rumah tangga, nikmatilah tanggung jawab itu. Jika kita sebagai istri, nikmatilah hidup sebagai seorang istri. Jika kita sebagai pekerja, nikmatilah juga semua pekerjaan itu. Memang tidak semua dapat dinikmati sebab tidak semua perjalanan hidup itu indah. Namun Penkhotbah mengingatkan bahwa nikmati semua dengan kebahagiaan dan sukacita. Walau tidak selamanya indah menjadi ibu rumah tangga, tidak selamanya nikmat menjalani hidup sebagai seorang istri, atau tidak semua hidup penuh hal baik karena selalau ada pergumulan; bagaimana-pun juga, Pengkhotbah katakan Nikamatilah dengan penuh kebahagiaan dan sukacita.

Kedua, kebahagiaan dan sukacita itu, tidak datang tiba-tiba. Segala sesuatu perlu diusahakan. Pengkhotbah katakan: bekerjalah dengan sekuat tenaga. Untuk misa menikmati kehidupan ini, maka perlu ada sesuatu yang diupayakan. Upayakan utuk menkmati kebahagiaan itu. Jika sebagai istri, kerjakanlah tugas itu dengan sungguh-sungguh; Sebagai istri, lakukan dengan sekuat tenaga tangung-jawab mulia itu; Jika sebagai perkerja, pelayan, jemaat dll kerjakanlah tanggung-jawab itu semampu kita. Kerjakanlah, dan nikmatilah dengan sukacita.

Ketiga, selama masih hidup jagalah agar kehidupan dalam diri masing-masing kita tak ternodai oleh dosa. Pengkhotbah ingin mengatakan kepada kita bahwa kotoran dalam pakaian kehidupan ini seringkali terjadi karena diri kita. Karena itu kitalah yang memili kewajiban penuh menjaga bersihnya hidup dari kotoran dosa itu. Bagaimana caranya? Paulus mengatakan dalam Filip 4:9-10 bahwa kita perlu memikirkan dan melakukan semua yang benar; semua yang baik; semua yang suci; semua yang mulia. Ini adalah ideal menikmati hidup dengan penuh bahagia sambil hindarkan diri dari kotoran doa.

Marilah menikmati hidup ini. Semua orang pastilah akan mengalami kematian. Selama masih hidup isilah, dan maknailah kehidupan ini dengan baik sebagai anugerah dari Tuhan, sehingga jika kematian datang, kita telah siap menghadapinya. Amin.



Monday, July 11, 2011

MATERI KHOTBAH PKP SELASA 12 JULI 2011


KIDUNG AGUNG 2:1-7

Ibu-ibu kekasih Tuhan…
Jika kita membaca kitab Kidung Agung, maka kesan pertama yang kita dapatkan adalah bahwa kitab ini hanya berisi tentang syair cinta dan cumbuan lewat kata antara pengantin pria dan wanita. Kesan ini wajar terbentuk mengingat tiap perikop dalam Kidung Agung, oleh Lembaga Alkitab Indonesia diberi judul seperti itu.

Sebenarnya kitab ini memuat kisah tragis seorang gadis desa yang dipaksa untuk dipersunting oleh raja Salomo sebagai penulis kitab ini. Apabila kita hanya membaca beberapa ayat, maka tidak akan menemukan kisah ini, dan pasti yang terlihat hanyalah syair-syair yang terkesan vulgar tersebut. Karena itu dalah baik jika kita menyediakan waktu khusus membaca seluruh kitab Kidung Agung ini, yakni mulai pasal 1 sampai pasal 8.  

Ibu-ibu kekasih Tuhan…
Salomo memiliki 300 isteri dan 700 gundik, dan itu jelas bukan cerminan dari kehidupan cinta yang kudus dihadapan Allah dan teladan hidup kesetiaan yang baik bagi orang percaya pada zamannya, termasuk bagi kita pada hari ini. Imajinasi dan keinginan2 yang ‘liar’ di dalam dirinya menyebabkan ia menyalahgunakan hal2 yang merupakan anugerah Tuhan baginya, sehingga ia jatuh dalam rupa2 perzinahan dan pernikahan2 tidak seiman iman yang dilarang oleh Tuhan (1 Raja-Raja 11:2, 7-8).

Ketidakpuasan terhadap apa yang telah dimiliki terlihat nyata dari gaya bahasa puitisnya yang penuh khayal atau imajinasi yang luar biasa. Sebagai pemuja keindahan dan seni kitab ini memperlihatkan bahwa Salomo adalah pribadi yang sangat lemah dan tidak sanggup mengendalikan diri terhadap segala daya tarik erotis yang merupakan salah satu focus hidupnya yang terbesar. Tidak mengherankan jika akhirnya 1 Raja-Raja 11:1,3 menjadi rekaman Alkitab yang menunjukkan prestasi dan teladan hidup yang buruk dihadapan Allah dan manusia sepanjang masa. Kerjaan terpecah dua justru karena tindakan raja tersebut padahal dialah raja yang paling berhikmat diantara manusia yang pernah ada di dunia ini, baik sebelum dan sesudah dia.

Ibu-ibu kekasih Tuhan…
Untuk lebih jelasnya, mari kita uraikan syair demi syair yang ada dari pasal 1-8 ini menjadi suatu kisah. Inti sari dari Kisah ini adalah menampilkan 2 tokoh utama, yakni Sang Raja (Salomo) dan Gadis Sulam yang dipaksa dibawa masuk istana. Selanjutnya ada juga 2 tokoh pemeran pembantu yakni Puteri2 Yerusalem dan si penggembala (kekasih hati gadis Sulam). Dengan memahami penokohan ini, maka kisah yang ditemukan dalam bacaan kita adalah sebagai berikut:

Suatu kali di negeri orang Kedar (1:5) hiduplah seorang gadis, sebut saja dia dengan sebutan gadis Sulam (6:13) yang juga memiliki seorang kekasih yang adalah penggembala ternak (1:7). Mungkin karena pengaruh iklim atau memang karena sering berhadapan langsung dengan terik matahari (1:6), gadis Sulam ini berkulit gelap atau hitam (1:5) namun pastilah parasnya tetap cantik. Kecantikannya itulah yang justru menjadi awal kisah sedih hidup gadis ini. Raja amat mengingininnya, sehingga tanpa peduli pada kisah cinta gadis Sulam dan si penggembala, raja dengan teganya mengambil paksa gadis Sulam ke istananya dan memisahkan tautan dua hati yang saling mencintai.

Ringkas cerita, di istana raja, gadis Sulam berjumpa dengan para puteri Yerusalem yang sangat memuja raja dan mengagumi laki-laki haus perempuan ini (1:2-3)  Puteri-puteri Yerusalem yang diungkapkan dalam kitab ini menggambarkan para wanita yang dinikahi oleh Salomo, yang sebenarnya ‘buta’ karena terpikat dengan kebahagiaan yang semu yang ia tawarkan kepada mereka melalui segala kemegahan duniawi yang ia miliki. Para puteri Yerusalem ini mewakili gambaran dari wanita2 yang tidak lagi melihat cinta dan kesetiaan yang benar sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, dimiliki dan dipertahankan. Kehidupan yang materialistis dan hedonistis membuat mereka rela dan senang hati mengabaikan kesucian dan harga diri dan menyerahkan hidup mereka kepada keinginan sang raja.

Berbeda dengan gadis Sulam yang dikisahkannya dalam kitab ini (1:5; 6:13). Gadis ini berusaha ia pikat dengan segala daya tarik dan kemegahan jasmaninya termasuk pengaruh kuasa politisnya (3:6-11), godaan materi yang ia tawarkan (8:11-12) untuk mau meninggalkan kekasihnya dan menjadi mempelai baginya . Ia memang berhasil memaksa sang gadis Sulam ke istananya sebagai mempelai wanita namun tetap tidak dapat membeli atau memiliki cintanya. Berbagai daya upaya dilakukan oleh sang raja untuk memenangkan hatinya, namun gadis Sulam ini tetap dapat menjaga kesucian dirinya. Kidung Agung 4:1-15; 5:1 adalah rayuan sang raja yang ditujukan untuk menaklukan hatinya. Dan meskipun sang raja turut ‘di bantu’ oleh para permaisuri dan para selirnya, yakni puteri2 Yerusalem penghuni Harem untuk membujuk dia, ternyata si gadis Sulam tetap tegar. Cinta dan kesetiaanya kepada kekasihnya sang penggembala domba tidak pernah berubah (5:2-8).

Selanjutnya kita menemukan (Kidung Agung 5:9) ungkapan keputusasaan mereka dalam membujuk si gadis Sulam untuk menuruti keinginan sang raja, sekaligus juga sebagai bentuk kemarahan dan ejekan bagi si gadis Sulam karena di anggap menyia-nyiakan kesempatan ‘emas’ itu. Namun ejekan ini pada akhirnya, justru berubah menjadi kekaguman dalam diri sang raja ini beserta para permaisuri dan para selirnya (6:4-13). Mereka memuji si gadis Sulam karena cinta dan kesetiaannya yang tak terbeli dan tak tergantikan.

Meskipun demikian, sesuai dengan wataknya yang tak kenal menyerah dan sebagai seorang yang keinginannya hampir tidak pernah tidak terpenuhi, sang raja masih tetap berusaha melakukan upaya terakhir (7:1-9). Tetapi rupanya tetap tidak berhasil. Si gadis Sulam tetap pada pendiriannya (7:10-8:4). Sang raja akhirnya menyerah dan membiarkan si gadis Sulam yang teryata tetap tidak mau menjadi mempelainya itu pergi dari istana dembali ke rumah orang tuanya dan bertemu kembali dengan kekasihnya!

Pada akhirnya kesetiaan dan kesucian hati gadis Sulam-lah yang menjadi pemenang. Kemenangan dari cinta dan kesetiaan sejati antara si gadis Sulam dengan kekasihnya sang penggembala domba tergambar dalam Kidung Agung 8:5-14 yang menutup kisah ini.

Ibu-ibu kekasih Tuhan…
Pada bacaan kita hari ini, yakni pasal 2:1-7 kita dapat menyimpulkan beberapa hal penting berdasarkan kisah utuh di atas, untuk diaplikasikan dalam hidup beriman kita. Beberapa hal dimaksud adalah sebagai berikut:

1.      Perhatikanlah tentang keuletan sang raja yang tidak behenti merayu gadis desa ini dengan syair-syair yang menggiurkan. Raja berbicara tentang kecantikan gadis itu bagaikan bunga bakung di antara duri-duri. Ini menunjukkan pujian yang amat tinggi, sebab tumbuhan berduri tidak dapat menyaingi indahnya bunga bakung.

Pada umumnya, sebagai wanita, pujian ini pastilah amat menggoda. Namun apakah gadis Sulam (demikian panggilannya disebut di 6:13) termakan godaan itu? Silakan simak jawabannya dalam pasal 3. Ia justru menujukan pujian bukan kepada raja, malah membalas syair pujian itu ditujukan kepada kekasihnya yang adalah seorang penggembala (1:7). Pujian dan rayuan yang memikat itu ditolaknya lewat membayangkan dan mengingat kekasihnya dan kesetian cinta mereka.

Bukankah ini dapat menjadi pelajaran penting bagi kita untuk menghadapi godaan2 dunia dan tawaran2 menggiurkan namun menyesatkan disekeliling kita. Cara jitu yang dipakai oleh gadis Sulam ini untuk tidak terbius pada rayuan tajam sang raja adalah dengan mengingat kekasih hatinya. Dunia yang kejam inipun sering merayu siapa saja baik para istri maupun suami untuk mennghianati kekudusan dan kesucian rumah tangga. Hindari godaan itu lewat mengingat semua yang baik dan indah pada pasangan kita yang sesungguhnya. Adalah kebodohan untuk mencoreng keindahan dan kekudusan yang dibangun dengan penuh pengorbanan diri dan waktu dengan hanya sejenak kenikmatan sesaat yang menyesatkan.

Sebelum berbuat dosa, ingatlah kasih Tuha yang lebih indah dari pada tawaran indahnya nikmat dosa. Sebelu menghianati keluarga, ingatlah kepada keceriaan dan keluguaan anak2 karunia yang hadir dalam keluarga, agar masa depan mereka jangan terjual oleh tindakan dosa tanpa pikiran sehat yang menawarkan kebahagiaan semu. Mengapa korupsi banyak terjadi? Mengapa perceraian dan perzinahan seakan bukan barang baru? Sebab ketika hal itu dikerjakan, banyak orang memakan rayuan dan menyebut nikmat; padahal belum sempat diolah dan dibandingkan dengan kenikmatan hidup rumah tangga; rasa syukur untuk upah layak yg diterima; serta pengorbanan pasangan yang setia bekerja untuk kita atau istri yang menunggu di rumah bersama anak-anak. Kita perlu belajar mempraktekkan metode gadis Sulam ini!

2.      Perhatikan ayat 7 bacaan kita. Ternyata gadis Sulam ini tahu, bahwa keinginan raja ini juga mendapat dukungan dari istri-istri raja yang disebut sebagai puteri-puteri Yerusalem. Kalau di perhatikan secara seksama, bukankah hak ini menguntungkan gadis Sulam itu? Sebab para istri tua raja mendukung kehadirannya di istana sebagai istri muda. Disebut menguntungkan sebab tidak ada istri tau yang protes dan membencinya, bahkan sebaliknya sebagai istri muda pastilah ia lebih disayang.

Namun lihatlah reaksi gadis Sulam itu pada ayat 7! Dengan geramnya ia menolak poligami, bahkan menyumpahi mereka yang mengijinkan itu terjadi, yakni para istri2 raja.

Lewat bacaan ini kita di ajak untuk mengingat bahwa bagi gadis Sulam apapun alasannya, termasuk sudah diijinkan atau tidak tindakan dan perbuatan apapun, selama itu mendatangkan ketidak-sucian dan melanggar kesetiaan, tetaplah HARAM  untuk dilakukan. Namun, bukankah banyak orang melakukan perbuatan tidak benar dalam dosa dengan alasan sudah mendapat injin, atau atas dasar mau-sama-mau dll. Standart moralitas gadis sulam ini sangatlah tinggi. Bahwa diijinkan atau tidak; atau semua orang pasti mendukung dll selama hal itu melanggar kesucian dan kesetiaan ia tetap menolaknya.

Marilah kita meneladani gadis Sulam ini. Milikilah cara bijak untuk menolak godaan dunia sebagai trik yang baik dalam membuat pilihan hidup. Selanjutnya miliki pula standar baik dalam hal moralitas dan spiritualitas yang jempolan, bahwa walaupun dunia menyetujui suatu “kesalahan” dan kendatipun atas nama “diijinkan” kesalahan itu dilakukan, kita tetap dapat memilah bahwa kesucian diri dan kesetiaan hati adalah standart utama dalam menjalani hidup ini. Amin

YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

  WAHYU 1:1-8 PENDAHULUAN Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Ras...