Tuesday, April 25, 2017

JEHOVAH NISSI Kel.17:8-16

JEHOVAH NISSI
=============

Ada yang menarik dari kisah peperangan antara Israel dan Amalek dalam perjalanan padang gurun ketika mereka berada di Rafidin (Kel. 17:8-16).

Yosua mengambil posisi memimpin pasukan di garis depan menghadapi Amalek. Tepatlah jika pada peperangan itu ia disebut panglima perang dengan pertaruhan yang tak sedikit yakni nyawanya (ay.10).

Di mana Musa? Pada ayat 8 perannya sebagai leader mengatur strategi dan "pemberi intruksi" kepada Yosua. Apa hanya itu? Musa menugaskan dirinya sendiri yakni "hanya" mengangkat tongkat Allah di atas sebuah bukit (ay.9).

Ahhh... Peran Musa terkesan sepele dan cari aman di atas bukit. Tapi sesunguhnya peran "sepele" ini justru sangat menentukan. Jika "tongkat Allah" diangkat Musa, Yosua dan Israel menang dan jika ia menurunkan tongkat itu, terjadi sebaliknya (ay.11). Sepele, namun sangat berarti bukan?

Kisah ini semakin menarik dengan munculnya dua tokoh dengan inisial 2H, yaitu Harun dan Hur. Apa peran mereka? Peran mereka "sangat enteng" dibanding keringat dan darah yang ada pada pasukan di medan tempur.

Mereka hanya bertugas mencari batu untuk tempat duduk Musa. Hemmm.. tugas yang amat ringan bukan? Karena Musa mulai lelah, mereka "hanya" membantu menopang tangan Musa di sisi kiri dan kanan (ay.12). Apalah arti tugas itu dibanding mengayunkan pedang seperti Yosua dan pasukannya?

Tapi tahukah saudara, andai mereka tidak sediakan tempat duduk untuk Musa dan membantu mengangkat "Tongkat Allah" itu, kisah kemenangan itu tidak akan tercatat (ay.14)?

Ternyata 4 tokoh ini memberi andil dengan bentuk kontribusi berbeda bagi kemenangan Israel atas Amalek.

Tak peduli di lini mana engkau ditempatkan; tak soal sebesar apa ruang lingkup tanggung-jawab mu; dan tak jadi masalah se-strategis apa posisimu dalam tiap peran. Prinsip utama adalah tetap bergerak, tetap berfungsi dalam tiap peran. Terkecil apapun, sangat berarti peranmu bagi suatu kemenangan atau keberhasilan.

Selanjutnya, perhatikan ayat 15 dan 16. Musa dan yang lain tidak berlomba memuji peran masing-masing dan ataupun menunjuk diri sebagai yang paling penting posisinya saat perang usai. Musa justru mendirikan mezbah. Ia menamakan mezbah itu TUHANlah panji-panjiku (JEHOVAH NISSI  יְהוָה נִסִּי).

Dalam peperangan, panji-panji adalah simbol pasukan serta lambang kehormatan dan kebanggaan. Selama panji-panji masih tegak berdiri, pasukan itu masih ada dalam kehormatan berjuang mencapai kemenangan. Di mana panji-panji berada di situlah pasukan berkumpul. Jika panji-panji bergerak maju, pasukanpun bergerak dengan semangat menerjang musuh. Dengan kata lain, panji-panji adalah penentu.

Mezbah itu adalah suatu pengakuan. Pengakuan dalam kerendahan dan kesadaran bahwa kemenangan atas Amalek adalah karena TUHAN, Allah Israel. JEHOVAH NISSI adalah penentu.

Sahabat...
Berperanlah sesuai posisi, kondisi, kemampuan dan keahlian diri. Bukan soal besar kecil andilmu yang menentukan suatu kemenangan bersama. Tetapi bersediakah engkau bergerak pada peran masing-masing dengan fungsi yang tak sama, itulah yang menentukan.

Hanya ingatlah pada semboyan Musa yakni "Jehovah Nissi" itu. Sehebat apapun kita berperan dan bergerak bersama, TUHANlah penentuNya. TUHANlah panji-panjiku.

Refleksi Kel.17:8-16
Sesuai bacaan Sabda Bina Umat (SBU GPIB)
25 April 2017 (bacaan malam).

Tuesday, February 28, 2017

BAIK ATAU BURUK

AYUB 2:8-13
Bahan Renungan Ibadah Keluarga
01 Maret 2017

Oleh: Pdt. Cindy Tumbelaka


            Dalam Alkitab, Ayub dihadirkan sebagai orang yang sifatnya saleh dan jujur, takut a-kan Allah dan menjauhi kejahatan (1:1).  Dengan kata lain, kehidupan keagamaan dan keiman-an Ayub baik (1:5).  Sebagai seorang kepala keluarga, Ayub memiliki 7 (tujuh) anak laki-laki dan 3 (tiga) anak perempuan (1:2).  Dengan demikian, Ayub dapat dikatakan sebagai laki-laki yang berbahagia dan patut berbangga hati di hadapan orang (Mzm 127:3-5).  Ayub juga dica-tat sebagai orang yang terkaya dari semua orang di wilayah itu (1:3).  Kesimpulannya, Ayub menjalani hidup yang sempurna sebagai manusia karena diberkati Allah.
            Di mata Allah, Allah pun mengakui bahwa tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun mengalami kecelakaan tanpa alasan (ay. 3).  Hal ini dikatakan Allah setelah Allah membiarkan harta kekayaan Ayub dirampas orang, budak-budaknya mati dibunuh (1:15), peternakannya habis terbakar (1:16), ternak dan penjaga-penjaganya habis dibunuh (1:17), anak-anak Ayub pun mati tertimpa rumah yang roboh ditiup angin ribut (1:18-19).  Walaupun sudah sedemikian habis, iblis masih mendesak Allah untuk menimpakan penderitaan badani pada tubuh Ayub (2:4-5) maka jadilah Ayub terkena barah yang busuk di seluruh tubuhnya (2:6-7).

Pemahaman Teks
2:8        Barah yang busuk itu membuat seluruh badan Ayub menjadi sangat gatal sehingga ia menggaruknya dengan sekeping beling.  ‘Sekeping beling’ memberi gambaran betapa parahnya kerugian materi yang diderita Ayub.  Segala kekayaan yang dimiliki hancur berkeping-keping sehingga menyisakan pecahan-pecahan kaca/ beling.  Demikian juga dengan ‘abu’ yang menggambarkan keadaan yang sudah habis sama sekali hanya menyisakan abu.  Dalam Alkitab, ‘abu’ dipakai sebagai tanda merendahkan diri di hadapan Allah (Ayb 42:6).[1]
2:9        Ternyata, sekalipun Ayub adalah seorang yang saleh dan takut akan Tuhan, sifatnya ini tidak dijiwai juga oleh isterinya.  Isteri Ayub sepertinya tidak mau menerima kenyataan yang dihadapi yaitu kehancuran dan penderitaan.
2:10      Terhadap usul isterinya supaya Ayub tidak lagi bertekun dalam kesalehan dan mengutuki Allah, Ayub memandang usul ini ‘gila’.  Alkitab memberi catatan penting terhadap sikap iman Ayub ini, yaitu dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
2:11      Malapetaka yang menimpa Ayub mengundang simpati dari teman-teman, khususnya Elifas, Bildad dan Zofar.  Mereka datang dari daerah masing-masing untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.
2:12      Yang membuat Elifas, Bildad dan Zofar menangis/ berduka adalah tampilan Ayub yang dipenuhi barah busuk seluruh tubuh sehingga tidak dapat dikenali dengan mudah.
2:13-14 Tindakan Elifas, Bildad dan Zofar yang menaburkan debu di kepala merupakan tanda bahwa mereka turut berduka secara mendalam.  Mereka tidak dapat lagi mengucapkan kata-kata penghiburan selain duduk bersama Ayub di tanah selama 7 (tujuh) hari 7 (tujuh) malam.

Renungan dan Penerapan
            Pada pasal 1 dan 2 saja kita dapat melihat bagaimana dengan iman Ayub siap meng-hadapi kenyataan pahit bahwa ia kehilangan segalanya, termasuk 10 (sepuluh) anak yang sa-ngat dikasihinya.  Kesiapan Ayub tampak pada ucapan:  "Dengan telanjang aku keluar dari kan-dungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (1:21).  Juga ketika Ayub berkata kepada isterinya:  “… Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" (ay. 10).  Ayub ‘siap menerima yang buruk’ dari Allah sebagaimana ia siap menerima yang baik.  Lalu apa yang sebenarnya membuat Ayub berduka?
‘Siap menerima keadaan’ bukan berarti ‘dengan senang hati’.  Berdasarkan iman, ide-alnya kita harus ‘siap’ menerima apapun pemberian Allah.  Akan tetapi sebagai manusia, rasa kehilangan dan rindu, khususnya ketika ditinggalkan orang-orang yang sangat dikasihi, tentu ti-dak bisa diabaikan begitu saja.  Jadi, berduka karena merasa rindu atau kehilangan itu wajar selama kita dapat mengendalikan diri dari berbuat dosa (ay. 20 dan 1:22 = tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut).  Jadi, bukan karena kenyataan buruk inilah Ayub berduka melainkan lebih karena kebingungannya mengenai: mengapa hal-hal buruk dapat terjadi atas orang baik/ benar. 
Ayub tidak pernah tahu bahwa dirinya dijadikan ‘taruhan’ antara Allah dengan iblis; yang ia tahu hanyalah dirinya yang sudah berusaha hidup sebaik mungkin di mata Allah dan manusia tetapi malah tertimpa malapetaka.  Dalam hidup beriman, kita pun akan mengalami hal-hal buruk yang tidak hanya membuat kita merugi tetapi bingung: kesalahan/ dosa apa yang telah kita perbuat?  Dalam keadaan bingung maupun panik menghadapi kenyataan, kita sering-kali melakukan tindakan gegabah, seperti menuduh Allah berbuat yang kurang patut (1:22), mengambil keputusan yang salah, melanggar peraturan/ hukum, melampiaskan marah/ kece-wa/ frustasi melalui tindakan anarkis, dll.  Dari Ayub, kita belajar bahwa pengakuan iman ten-tang TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil (1:21) maupun kita juga harus mau me-nerima yang buruk dari Allah sebagaimana kita menerima yang baik (ay. 10) adalah yang me-mampukan kita menghadapi kenyataan dalam keadaan bingung. 


Hal kedua yang tidak kalah memberatkan Ayub dalam menghadapi kenyataan buruk adalah hilangnya dukungan dari pasangan hidup, yaitu isteri, ketika isteri ternyata ‘tidak sei-man’ dengannya (= agamanya sama namun pengakuan, pemahaman dan tindakan imannya berbeda).    Sikap isteri Ayub ini benar-benar menjadi peringatan bagi kita untuk juga memper-hatikan kesiapan keluarga ketika kita hendak melayani Tuhan dengan lebih serius.  Kita yang beriman dan taat kepada Tuhan harus juga memperhatikan pertumbuhan iman orang-orang di sekitar karena iman mereka ternyata sangat penting dan cukup berpengaruh pada saat kita menghadapi kenyataan buruk.  Kenyataan akan terasa jauh lebih buruk jika kita mengadapinya sendiri tanpa topangan iman dari orang-orang terdekat, khususnya pasangan hidup.
Bukan dari isteri, Ayub mendapat dukungan melainkan dari sahabat-sahabatnya.  Apa yang dilakukan sahabat-sahabat Ayub ini mengilhami kita ketika hendak mendampingi orang yang sedang berduka.  Cara kita menghibur ataupun menguatkan orang berduka tidak selalu dengan membicarakan apa yang terjadi maupun memberi nasihat tentang apa yang harus dilakukan, sekalipun nasihat itu tepat.  Hanya dengan duduk bersama dalam diam di tempat di mana orang itu ‘terlalu lemah untuk beranjak’, itu cukup menguatkan.  Sekalipun nasihat yang kita sampaikan itu baik dan benar namun dalam keadaan seperti ini, orang belum tentu siap menerima malah dapat berprasangka buruk.  Tunggu saja sampai orang yang berduka itu siap untuk bicara.  Sambil menunggu, silahkan berdoa di dalam hati kepada Tuhan, mohon hikmat dan kekuatan untuk menjadi pendamping yang baik juga untuk menghadapi kenyataan buruk ini bersama. Amin





[1] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini jilid 1: A-L, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF, 1994, hlm. 8



Saturday, February 11, 2017

AKU HANYA MENJALANKAN KEWAJIBAN AGAMAKU

AKU HANYA MENJALANKAN KEWAJIBAN AGAMAKU
Upaya Memposisikan Diri Sebagai Seorang Imam dan Orang Lewi
Dalam Perumpamaan Orang Samaria Yang Baik Hati Yang Diceritakan Yesus
Menurut Injil Lukas 10:25-37

Pdt. I Nyoman Djepun

P E N D A H U L U A N

Membaca perumpamaan Tuhan Yesus pada injil Lukas 10:25-37 tentang “Orang Samaria Yang Baik Hati”, umumnya banyak orang menganggap bahwa tindakan seorang Imam dan orang Lewi yang hanya meninggalkan orang yang hampir mati itu, merupakan tindakan tidak terpuji, tidak berperi-kemanusiaan; dan bahkan dianggap tidak seharusnya dilakukan oleh seorang agamawan. Alasan utama pendapat ini adalah karena imam dan orang lewi tersebut tidak memberikan pertolongan, sebagai orang-orang yang memperoleh kesempatan pertama untuk menolong. Di sisi lain, tindakan “orang Samaria yang baik hati ini” justru kontras dengan sikap para rohaniawan tersebut.
Uraian berikut ini mencoba untuk melihat kisah perumpamaan ini dengan “sudut pandang yang baru” dengan cara menempatkan diri sebagai imam dan orang Lewi dalam cerita tersebut. Dengan menempatkan diri sebagai mereka, kiranya dapat diketahui alasan dan latar belakang dari tindakan keduanya yang seakan memberi kesan gagal menjadi sesama manusia bagi seorang korban perampokan di jalan Yerusalem ke Yerikho.   

JALAN PENGHUBUNG KOTA YERUSALEM KE YERIKHO
Jalan dari Yerusalem menuju ke Yerikho hanya 27 kilometer (17 mil) panjangnya, dan di sekitar jalan ini terbentang jalan yang menurun sekitar 1.000 meter.[1] Wilayah ini sebenarnya tidak berpenduduk, tidak ada tanaman, dan ditandai dengan adanya batu-batu karang kapur dan jurang di kedua sisi jalan. Pada zaman Alkitab, jalan tersebut diberi nama "jalan berdarah," kemungkinan besar karena dianggap tidak aman. Rute ini sering dilewati oleh para peziarah dan para kafilah. Dari waktu ke waktu mereka dirampok oleh bandit-bandit yang bersembunyi di belakang batubatu kapur.[2] 
Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa jalan yang dilalui oleh orang yang dirampok pada perumpamaan “Orang Samaria Yang Baik Hati” itu merupakan jalan yang rawan, sulit dilalui serta tidak aman bagi para penggunanya. Tidak heran jika perampokan terjadi di situ. Kemungkinan besar kisah yang diangkat oleh Yesus, dalam perumpamaan ini, adalah peristiwa yang pernah terjadi walaupun tokoh-tokoh fiktif menghiasi kisah tersebut.

YERUSALEM DAN YERIKHO
Terdapat dua tempat yang disebutkan oleh Yesus dalam perumpamaan ini, yakni Yerusalem dan Yerikho. Kedua tempat ini memang berbeda, namun memiliki konektivitas yang dalam dengan kisah ini secara khusus dengan dua tokoh pertama, yakni Iman dan Orang Lewi.
Kota Yerusalem adalah salah satu kota termasyur di dunia yang sudah berdiri sejak milenium 3sM. Kota ini terletak menjulang tinggi di punggung bukit pegunungan Yehuda, dan terletak kr 50km dari Laut Tengah dan kr 30km sebelah barat ujung utara Laut Mati. [3] Di kota inilah bangunan suci orang Israel yakni Bait Allah (biasa disebut Bait Suci)[4] berdiri megah yang menjadi pusat peribadahan dan penyembahan umat kepada Allah.
Kota Yerikho dalam PL biasa dianggap sama dengan bukit Tel es-Sultan yang terletak kr 16km sebelah Baratlaut muara sungai Yordan sekarang di Laut Mati, kr 2km Baratlaut dari desa er-Rikha (kota Yerikho Modern), dan 27km Timurlaut dari kota Yerusalem. Kota ini berbentuk jambu biji dengan ukuran panjang kr 400m utara-selatan dan lebar ujung utaranya kr 200m dengan tinggi kr 20 meter. Berbeda dengan Perjanjian Lama, kota Yerikho menurut Perjanjian Baru, khususnya pada zaman Herodes terletak di bukit Tulul Abu el-‘Alayiq, 2 km sebelah Barat desa er-Rikha modern. Dengan demikian, letak kota Yerikho dalam PB dan dalam kisah ini berada di sebelah selatan kota Yerikho dalam Perjanjian Lama.[5] Kota ini kemudian terkenal memiliki jumlah penduduk yang sangat tinggi. Kota ini juga merupakan tempat tinggal para imam.
Mengapakah orang-orang ini berjalan melalui jalur Yerusalem-Yerikho ini? Tampaknya sebagian besar imam dan orang Lewi yang bertugas di Bait Suci tidak tinggal di Yerusalem tetapi ditempat lain[6]. Yerikho merupakan salah satu tempat tersebut. Diduga ada kurang lebih 12 ribu imam dan orang Lewi tinggal disana[7] (jumlah total imam Bait Allah adalah sekitar 7200 orang dengan jumlah orang Lewi yang lebih banyak lagi) [8]. Berdasarkan fakta ini maka adalah wajar jika Imam dan orang Lewi melakukan perjalanan melalui jalur tersebut.

SIAPAKAH IMAM DAN ORANG LEWI ITU?
Imam adalah orang-orang yang bertugas menjalankan ritual keagamaan di Bait Suci. Para imam ini dibagi menjadi 24 kelompok yang setiap kelompok bertugas selama 1 minggu per waktu sebanyak 2 kali dalam satu tahun. Meskipun begitu dalam hari-hari raya besar mereka semua diminta untuk bertugas.[9] Sedangkan Orang Lewi juga merupakan petugas dalam Bait Suci. Tugas mereka ialah bernyanyi dan memainkan musik untuk ibadah-ibadah yang berlangsung, membantu pekerjaan para imam dan menjadi penjaga[10]. Mengingat bahwa kehidupan bangsa Yahudi berpusat kepada Bait Suci maka tentulah orang-orang yang bertugas dan melayani disana memiliki status sosial dan kebanggaan tersendiri.

MENGAPA MEREKA MENGABAIKAN ORANG YANG DIRAMPOK ITU?
Dalam ayat 31-32 dikatakan dalam teks ada seorang imam dan lewi yang melewati daerah tersebut dan menemukan orang yang sedang tergeletak di jalan tersebut yang baru saja di rampok dan dipukuli sampai setengah mati. Namun, imam tersebut hanya melewatinya saja dan tidak menolongnya. Membayangkan situasi yang ”setengah mati” tersebut dengan perspektif melihat dari kejauhan, tentulah imam tersebut tidak bisa membedakan apakah sudah mati atau masih kritis “setengah mati” sebagaimana tertulis dalam ayat 30.
Ia tidak menolong kemungkinan disebabkan karena ia teringat akan ketentuan bahwa barangsiapa yang menyentuh orang mati maka ia menjadi najis selam tujuh hari (Bil 19:11). Imam ini ragu-ragu apakah ia masih hidup atau sudah mati, oleh karena itu ia tidak mau menolongnya. Selain ia menjadi najis dan tidak dapat melakukan kegiatan di Bait Allah, maka agar dapat menjadi tahir kembali, seorang imam harus melakukan ritual yang rumit dan juga membutuhkan biaya yang mahal untuk melakukan pentahiran tersebut (Bil 19:1-10). Sehingga kemungkinan dengan alasan tersebut imam ini tidak menolong orang ini dan lebih mementingkan kehidupan pribadinya daripada menolong sesama.[11]
Kemudian di ayat 32 juga dikatakan bahwa orang Lewi juga melihat orang yang tergeletak tersebut, namun dia juga tidak menolongnya. Alasan yang sama seperti dengan Imam kemungkinan menjadi penyebabnya. Selain itu, biasanya para bandit mempunyai strategi untuk menarik mangsanya. Bisa saja orang yang sedang terbaring itu adalah salah seorang anggota mereka sendiri yang bertindak sebagai korban. Kalau orang Lewi itu berhenti disitu maka dengan tiba-tiba para perampok juga akan menyergap dia dan merampok harta bendanya. Orang Lewi terkenal dengan semboyan “pertama-tama adalah keamanan diri”, jadi ia tidak mau mengambil resiko dengan menolong orang tersebut.[12] Selain takut jika korban itu adalah stategi yang digunakan oleh perampok, kemungkinan orang Lewi juga takut menjadi najis mengingat ia mempunyai tugas di dalam Bait Allah seperti yang telah dijelaskan di atas.

SALAHKAH AKU JIKA INGIN MENJALANKAN KEWAJIBAN AGAMAKU?
Dari uraian di atas, maka di saat kita menempatkan diri sebagai orang lewi dan imam dalam perumpamaan Yesus mengenaii Orang Samaria Yang Baik Hati tersebut, terdapat beberapa penekanan penting untuk dapat dijadikan alasan mengapa tindakan mereka berdua dapat dianggap “tindakan tak keliru” saat mengabaikan orang yang hampir mati tersebut, yakni:
1.       Siapakah orang yang sedang “setengah mati” akibat dianiaya oleh para penyamun tersebut? Sepertinya, Yesus tidak fokus pada tokoh yang terkena musibah tersebut. Hal ini terlihat dari tidak diuraikannya oleh Yesus latar belakang korban (status sosial, kebangsaan dll). Alkitab menyebut hanya 1 kepastian yakni ia telah dianiaya dan saat itu sedang sekarat atau hampir mati. Istilah “setengah mati” bisa berarti hampir mati, yakni kondisi yang terlihat seakan ia sudah mati (tak bergerak, penuh luka dan darah). Di mata imam dan orang Lewi orang setengah mati ini seperti sudah mati dan menjadi mayat. Walau ternyata kenyataannya, ia belum mati. Tetapi apakah mereka berdua tahu bahwa sang korban belum mati? Atau mereka hanya tahu bahwa dijalan itu jenasah orangg mati?
2.       Merujuk pada Imamat 21:1 yang menyebutkan: TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun, dan katakan kepada mereka: Seorang imam janganlah menajiskan diri dengan orang mati di antara orang-orang sebangsanya,  menunjukkan bahwa tindakan seorang Imam pada perumpamaan tersebut, didasarkan atas ketaatannya pada perintah TUHAN sendiri. Demi menjaga kekudusan dirinya sebagai pelayan di Rumah TUHAN, maka ia memilih menghindari “sesuatu” yang terlihat seperti jenasah tersebut. Dengan kata lain, bahwa ia sendiri terikat pada ketentuan agamanya sendiri, yang melarang dirinya sebagai imam untuk menyetuh orang mati. Menyentuh orang mati membuatnya menjadi najis. Dan dampak dari kenajisan tersebut adalah tertutupnya kesempatan bagi mereka sebagai pekerja Bait Allah untuk melayani Allah.
3.       Selanjutnya, apabila memperhatikan Taurat dalam kitab bilangan 19:11, kita mendapat penjelasan bahwa lamanya seseorang menjadi najis karena menyentuh mayat adalah 7 (tujuh) hari, maka cukup beralasan bahwa sangat beresiko bagi kedua pelayan Bait Allah itu apabila menolong orang yang “setengah mati” tersebut yang terlihat menurut mereka adalah jenasah orang mati. Adalah sangat mungkin dengan kurun waktu yang lama itu (satu minggu) mereka tidak dapat menjalankan tugas sebagai imam dan sebagai orang lewi dalam penugasan khusus tersebut.
Dari 3 (tiga) poin penting ini, maka kita menemukan dalam persepktif kewajiban dan ketentuan agama dan secara khusus sebagai pelaksana kegiatan keagamaan, imam dan orang lewi justru tidak gagal, melainkan karena ketaatan pada kaidah agamanya-lah hal itu mereka lakukan. Pengabaian terhadap orang yang dirampok tersebut tidak dapat disalahkan kepada mereka apabila berada dalam usaha menjalankan kewajiban agama.
ADAKAH YANG TERLEWATKAN (refleksi penutup)
Uraian di atas tidak bermaksud membenarkan imam dan orang lewi atas tindakan mereka. Tetapi mencoba berada diposisi mereka dan menemukan perspektif yang benar dari sudut pandang kedua orang tersebut. Tetapi, apakah tindakan mereka benar secara kemanusiaan? Perumpamaan Yesus tidak berkonteks pada kewajiban melaksanakan panggilan keagamaan Yahudi. Perumpamaan Yesus justru berada pada latar pertanyaan: “siapakah sesamaku manusia?” Hal ini berarti, Yesus sedang menjawab bagaimana seharusnya BERSIKAP SEBAGAI SESAMA MANUSIA.
Inilah kegagalan orang lewi dan imam tersebut dalam perumpamaan Yesus. Benar bahwa mereka menjalankan kewajiban agama dengan baik, tetapi mereka gagal berprilaku sebagai sesama manusia bagi orang yang hampir mati itu. Yesus tidak bicara soal kewajiban aturan keagamaan, tapi Yesus mengoreksi kegagalan prilaku kemanusiaan seorang yang beragama dan pengajar keagamaan yakni si penanya yang adalah ahli Taurat. Mengasih Allah dengan menjalankan kewajiban agama secara liturgis adalah baik. Tetapi lebih mulia dan lebih berkualitas hidup keagamaannya apabila ia mengasihi Allah dengan cara mengasihi sesamanya manusia sebagai ciptaan Allah.   

DAFTAR PUSTAKA

Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 2006
Barclay, W., Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Lukas, Jakarta:BPK Gunung  Mulia, 2011
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, Jakarta: Yayaysan Komunikasi Bina Kasih, 2007
e-Sword, Albert Barnes' Notes on the Bible, Lukas 10:30
Ferguson, E., Backgrounds of Early Christianity, Michigan: Eerdmans Publishing Co., 2003
Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius – Wahyu, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2003
Wahono, S. W. , Di Sini Kutemukan : Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab, Jakarta: Gunung Mulia, 2011

ONLINE SOURCE
http://www.sarapanpagi.org/25-orang-samaria-yang-murah-hati-vt1699.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Bait_Allah_(Yerusalem)



[1] Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius – Wahyu, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2003), hlm. 219.
[2] Cerita-cerita mengenai perampok-perampok di jalan raya sepanjang jalan ke Yerikho telah dicatat sejak dahulu sampai sekarang. Misalnya, lihat komentar Jerome tentang Yeremia 3:2. Lihat: http://www.sarapanpagi.org/25-orang-samaria-yang-murah-hati-vt1699.html (diakses pada tanggal 19 Desember 2015.

[3] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, (Jakarta: Yayaysan Komunikasi Bina Kasih, 2007), hlm. 571

[4] Menurut sejarahnya, Ada dua Bait Suci yang berdiri berturut-turut di Bukit Bait Suci di Yerusalem:
·         Bait Suci Salomo yang dibangun sekitar abad ke-10 SM untuk menggantikan Kemah Suci. Bangunan ini dihancurkan oleh bangsa Babel di bawah Nebukadnezar pada tahun 586 SM.
·         Bait Suci Kedua dibangun setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel, sekitar tahun 536 SM (selesai pada 12 Maret 515 SM[1]).
  • Bait Suci Herodes adalah perluasan dari Bait Suci Kedua termasuk renovasi atas seluruh Bukit Bait Suci. (Bangunan ini tidak disebut "Bait Suci Ketiga".) Herodes Agung memulai proyek perluasannya sekitar tahun 19 SM. Bangunan ini dihancurkan oleh pasukan-pasukan Romawi di bawah Kaisar Titus pada tahun 70 M. Namun sebagian sejarahwan menduga bahwa orang-orang Yahudi sendiri telah membakar Bait Suci Kedua agar tidak dicemari.
Lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Bait_Allah_(Yerusalem) diakses pada tanggal 19 Desember 2015
[5] I b i d,  hlm. 567

[6] E. Ferguson, Backgrounds of Early Christianity, (Michigan: Eerdmans Publishing Co., 2003), hlm. 565

[7] e-Sword, Albert Barnes' Notes on the Bible, Lukas 10:30

[8] S. W. Wahono, Di Sini Kutemukan : Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab, (Jakarta: Gunung Mulia, 2011), hlm. 324

[9] E. Ferguson, ibid.,  h.565

[10] S. W. Wahono,, ibid., h.324
[11] Barclay, W., Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Lukas, (Jakarta:BPK Gunung  Mulia, 2011), hlm. 199-201

[12] Ibid., h. 199-201

AKU SUNGGUH SANGAT MENDERITA

AKU SUNGGUH SANGAT MENDERITA
Upaya Memahami Derita Orang Sakit Selama 38 Tahun
Yang Disembuhkan Yesus Pada Hari Sabat di Kolam Bethesda
Menurut Injil Yohanes 5:1-18

Pdt. I Nyoman Djepun

P E N D A H U L U A N

Sebagian besar orang ketika membaca kisah Yohanes 5:1-18 ini hanya terfokus pada suatu perbuatan supranatural, mujizat ajaib yang diperbuat Yesus yakni menyembuhkan seorang yang sakit selama 38 tahun (hampir 40 tahun) tersebut. Beberapa orang bahkan hanya terfokus pada pertentangan menyembuhkan pada hari Sabat.   
Makalah ini mencoba untuk melihat kisah ini dari sudut pandang penderitaan orang sakit itu selama hampir 40 tahun tersebut dan menemukan alasan mengapa Yesus lebih memilih pribadinya dibanding begitu banyaknya orang sakit di kolam Bethesda tersebut.

KOLAM BETHESDA
Tidak banyak penjelasan mengenai tempat ini. Beberapa ahli menyebutnya dengan kolam Siloam, namun ada juga yang menyebutkan dengan nama lain, yakni “Mata Air Gadis”, ada pula yang menyebut dengan istilah kolam Domba[1]. Kolam Betesda (bahasa Inggris: Pool of Bethesda) adalah sebuah kolam air yang sekarang berada di "Muslim Quarter" di Yerusalem, di jalanan yang menuju Beth Zeta Valley. Pasal kelima Injil Yohanes menggambarkan kolam ini, dekat Pintu Gerbang Domba (Sheep Gate), dan dikelilingi oleh lima serambi (covered colonnade). Nama "Betesda" dikatakan berasal dari bahasa Ibrani dan/atau bahasa Aram: "Bet hesda" (בית חסד/חסדא), yang artinya "rumah kemurahan" atau "rumah anugerah" ("bet" artinya "rumah"). Dalam bahasa Ibrani maupun Aram kata ini dapat juga berarti "malu, dipermalukan". Makna ganda ini dianggap cocok karena lokasi ini dipandang sebagai "tempat dipermalukan", karena kehadiran orang-orang sakit dan cacat, dan "tempat kemurahan" karena terjadi mujizat kesembuhan.[2] Dengan demikian, menyebut Bethesda sebagai rumah belaskasihan identik dengan kondisi saat itu yakni tempat para orang-orang sakit berharap memperoleh pertolongan dan kemurahan dari Tuhan.
Kolam ini sangat luas dan dalam, berbentuk persegi dengan panjang 350 kaki (lebih dari 100m), lebar 200 kaki (lebih dari 60m), dan dalam 25 kaki (lebih dari 7 m).[3] Hal menarik yang tidak bisa dijelaskan adalah “bergoncangnya” air kolam yang dengan sengaja dilakukan oleh malaikat Tuhan (ay.4). Namun beberapa penafsir menyebutkan bahwa goncangan air tersebut sifatnya “sejenak” yang kemungkinan disebabkan karena ada air yang memancar dari dasarnya.[4] Tetapi lebih banyak orang percaya bahwa hal itu disebabkan goncangan dari Malaikat Tuhan yang segaja turun untuk melakukannya. Apapun alasannya, orang banyak percaya bahwa ada kesembuhan di dalam air kolam Bethesda tersebut.
Kendatipun peluang kesembuhan ada pada air kolam itu, namun untuk memperoleh dan merasakan khasiat goncangan air tersebut tidaklah mudah. Pada ayat 4 dijelaskan bahwa hanya mereka yang pertama kali masuklah yang akan beroleh kesembuhan. Dengan demikian, dapat dibayangkan kondisi kacau balau, ramai hiruk pikuk, saling dorong dan berlomba saat berebutan masuk dalam kolam bilamana air itu tergoncang.

SIAPAKAH SI SAKIT ITU?
Alkitab tidak menyebutkan siapakan orang yang sakit itu. Jenis penyakitnya-pun tidak dijelaskan dengan detail. Banyak orang menduga bahwa ia menderita lumpuh. Kesimpulan ini didasarkan runjukan pada Yesus padanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (bd. ay.8), yang seakan memberi indikasi bahwa ia menderita lumpuh. Sekali lagi hal inipun tidak dapat dipastikan.
Hal yang mengejutkan adalah lamanya waktu ia menderita di tempat itu. Pada ayat 5 disebutkan bahwa ia berada dalam kondisi sakit selama 38 tahun. Alasan Yesus menyembuhkannya disebutkan pada ayat 6 “bahwa ia telah lama dalam keadaan itu dan menurut pengakuannya sendiri bahwa, selama 38 tahun tersebut, “tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu...”. Dua alasan ini dapat menjadi gambaran tentang seberapa menderitanya orang tersebut karena sakitnya itu. Beberapa kemungkinan dapat terjadi selama 38 tahun menderita sakit itu dan berada serta hidup disekitar kolam Bethesda tersebut, yakni:
1.      38 Tahun Adalah Waktu Yang Lama
Silakan bayangkan menderita sakit dan tak kunjung sembuh selama 38 tahun! Ia bisa saja mengalami kekecewaan yang amat dalam.[5] Lamanya berada pada titi terpuruk akan membuat tiap orang kehilangan kesabaran dan juga harapan.
2.      Tilam Tidak Bisa Hanya Diartikan Sebagai Tikar Untuk Ukuran 38 Tahun
Selama 38 tahun ia berada di tilam itu. Tilam tersebut kini bukan hanya menjadi alas untuk berbaring. Di tilam itu ia mengalami penderita dan melanjutkan kehidupan. Di tilam itu juga ia beraktifitas: tidur, duduk, makan, minum dsb. Ini memberi arti bahwa tilam itu bukan sekedar selembar tikar, tapi tilam bagi si sakit ini bagaikan “rumah” tempat ia hidup dan menjalani derita sakitnya. Selama 38 tahun ia hidup “di rumah” itu. Tilam adalah tempat ia tinggal.
Dengan kata lain, orang ini bukan hanya sakit menahun yang cukup lama menderita kelumpuhan fiskinya. Namun lebih dari itu ia mengalami kondisi homeless dimana tak ada tempat layak untuk bernaung dalam derita yang dialami.
3.      Ia Sangat Mungkin Menderita Secara Psikis (bukan hanya fisik)
Si lumpuh (orang yang sakit ini) bukan tidak berusaha memperoleh kesembuhan. Ia telah sekuat tenaga untuk menjadi yang pertama berada di dalam kolam. Namun selalu gagal karena ada saja orang yang mendahuluinya. Kegagalan demi kegagalan membuat seseorang mengalami trauma dan tekanan batin hingga siksaan psikis yang tidak mudah untuk ditanggung. Dalam kondisi seperti ini, seseorang akan mengalami 3 sisksaan psikis, yakni kebimbangan, ketakutan, dan kesepian[6].  Tetapi kemampuan menghadapi tekanan hidup sangat berbeda pada setiap orang. Mungkin saja ia juga menderita psikis, tapi mungkin juga tidak, tergantung daya tahan psikologinya menghadapi kenyataan hidup.
4.      Ia Terasing Secara Spiritual Keagamaan
Selama menderita 38 tahun, tidak dapat disangsikan bahwa ia tidak pernah melaksanakan kewajiban keagamaannya, ataupun berada dalam komunitas kerohanian yang menopang bertumbuhnya kualitas spiritual agar mampu menghadapi penderitaan dengan kekuatan rohani. Ia tidak terlayani di tempat beribadatan, karena kondisi khususnya. Ia tidak mendapat pengajaran sesuai kitab suci demi pengutaan keimanannya. Ia sangat terasing secara spiritual.
Dalam agama Yahudi, terdapat begitu banyak kewajiban keagamaan yang harus dipenuhi. Baik berupa ibadah rutin, penyelenggaraan hari-hari raya, maupun upacara-upacara secara individual ataupun kelompok, serta kewajiban membayar korban bakaran[7] dan jenis persembahan lainnya. Hal utama dari ajaran Taurat adalah bahwa manusia dapat mendekati Allah melalui pemberian persembahan korban. Bagaimana mungkin ia melakukannya? Ia terasing secara spiritual keagamaan. Ia bukan hanya sakit secara psikis, ia juga butuh kesembuhan rohaniah.
5.      Ia Terabaikan Secara Sosial Kemasyarakatan
Ini terlihat pada kalimat yang diucapkannya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu...” Jika hal ini dialaminya, maka dapat dipastikan bahwa orang ini hidup sendiri. Ia tidak memiliki kerabat, teman atau saudara yang menolong. Kalaupun memiliki keluarga, ia telah dilupakan! 38 tahun mungkin menjadi sebab mengapa ia tidak lagi dipedulikan oleh sanak saudaranya.
Mari membayangkan hidup sendiri selama 38 tahun. Orang ini bukan hanya mengalami derita fisik, homeless, tetapi juga loneliness atau kesepian[8]. Ia terasing sebagai mahkluk sosial. Tidak ada yang peduli, itulah yang ingin ia katakan kepada Yesus. Masing-masing orang sibuk dengan sakitnya, membuat 38 tahun ia hanya melihat sikap hidup egosentris dalam lingkungan ini. Si sakit ini terperangkap pada isolasi yang menghalanginya menjalani kehiduoan sosial akibat sakit menahun yang ia alami.

DERITA TOTAL VS KEPRIHATINAN TOTAL (sebuah refleksi penutup)
Apapun pemikiran kita tentang kisah di atas, satu hal yang tidak dapat dilewatkan dalam pikiran saat membaca cerita ini adalah penderitaan amat sangat dan cukup lama telah dialami oleh orang sakit tersebut. Itu kiranya yang menjadi alasan kuat, mengapa Yesus memilih mendekati orang itu di antara begitu banyaknya manusia yang sakit disekitar kolam Bethesda tersebut. Keprihatinan Yesus terhadap deritanya, telah menghadirkan kesembuhan total. Ia sakit secara fisik, ia juga sakit secara psikis. Bukan itu saja, ia menderita sebagai mahkluk spiritual dan mahkluk sosial. Kehadiran Yesus dengan cara mendekatinya secara pribadi memberikan harapan baru. Yesus mendekati pribadi yang tak pernah didekati siapapun selama 38 tahun itu.
Ketika penderita total berjumpa dengan keprihatinan total milik Hati Yesus yang penuh cinta kasih, terjadilah kesembuhan total. Ia bukan hanya dipulihkan secara fisik dan psikis. Pada ayat 9 dst, orang ini mulai menjalani kehidupan sosial dan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. Bukan itu saja, pemulihan spiritual ia alami, ketika ia disembuhkan langsung menuju ke Bait Allah (ay.14) dan bercakap dengan Yesus sambil menerima wejangan rohani tentang hidup dalam pertobatan total kepada Allah (ay.14). Orang yang sakit itu adalah pribadi yang amat menderita tetapi sekarang ia adalah pribadi yang sangat bersukacita. Derita total telah pulih karena keprihatian total dari Sang Maha Peduli.


DAFTAR PUSTAKA

Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 2006
Alkitab Edisi Studi, (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2011
Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1994), hlm. 1709
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, Jakarta: Yayaysan Komunikasi Bina Kasih, 2007
Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius – Wahyu, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2003
Denis Green, Pembimbing Pada Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang, Penerbit Gandum Mas, 2012

ONLINE SOURCE
https://id.wikipedia.org/wiki/Betesda
http://laisanurin.blogspot.co.id/2011/05/manusia-dan-penderitaan.html
http://www.scholidays.com/berita-167-kolam-bethesda.html





[1] Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius – Wahyu, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2003), hlm. 282. Tetapi yang pasti kolam ini berada di Yerusalem.
[2] Sampai abad ke-19 tidak ada bukti di luar Injil Yohanes bahwa kolam ini ada; karenanya sejumlah pakar berpendapat bahwa Injil ini ditulis jauh kemudian, oleh orang yang tidak mengetahui jelas tentang kota Yerusalem, dan "kolam" itu harus ditafsirkan sebagai "metafora" bukannya fakta sejarah. Dalam abad ke-19, arkeolog menemukan bekas-bekas kolam yang cocok dengan penggambaran Injil Yohanes. Lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Betesda di akses pada tanggal 20 Desember 2015.

[3] http://www.scholidays.com/berita-167-kolam-bethesda.html di akses pada tanggal 20 Desember 2015.

[4] Lihat cacatatan “pinggir” perikop ini pada Alkitab Edisi Studi, (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2011), hlm. 1734
[5] Lihat penjelasan perikop ini pada: Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1994), hlm. 1709

[6] http://laisanurin.blogspot.co.id/2011/05/manusia-dan-penderitaan.html di akses pada tanggal 20 Desember 2015.
[7] Paling tidak ada 4 jenis korban yang wajib untuk dipersembahkan kepada Allah, yakni: Korban Bakaran, Korban Sajian, Korban Keselamatan/pendamaian, dan Korban Penghapus Dosa dan Penebus Salah. Lihat lebih jelas jenis-jenis korban ini pada: Denis Green, Pembimbing Pada Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang, Penerbit Gandum Mas, 2012), hlm. 58-59.

[8] Kesepian, merupakan perasaan sepi yang amat sangat tidak diinginkan oleh setiap manusia. Pada hakikatnya manusia itu adalah makhluk yang bersosial ,hidup bersama dan tidak hidup seorang diri.Faktor ini dapat mengakibatkan depresi kejiwaan yang berat dan merupakan siksaan paling mendalam yang menimpa rohani manusia.

KEPEMIMPINAN RASUL SIMON PETRUS

KEPEMIMPINAN RASUL SIMON PETRUS
“Upaya Mengenal Petrus dan Kepemimpinannya berdasarkan
Kisah Tentangnya dalam Alkitab”

Pdt. I Nyoman Djepun

MENGENAL SIMON PETRUS

Rasul Petrus[1] adalah seorang nelayan yang lahir di Betsaida (Yoh.1:44) dan juga memiliki rumah di Kapernaum di daerah Galilea (Mrk 1:21). Ayahnya bernama Yunus yang biasa disebut Yohanes (Mat.16:17; Yoh.1:42). Menurut catatan Alkitab, Petrus adalah pria berkeluarga (Mrk.1:30). Dan menariknya, bahwa dalam kegiatan penginjilan yang dilakukan oleh Petrus, ia selalu membawa istrinya. Hal ini terungkap dari pernyataan Paulus yang menyebut bahwa Kefas[2] dalam perjalanannya membawa seorang istri Kristen (1Kor.9:5).
Para penulis Perjanjian Baru menggunakan empat nama yang berbeda ketika mengacu kepada Petrus. Pertama adalah nama Ibrani “Simeon” (Kis. 15:14), yang kira-kira berarti “mendengar”. Yang kedua adalah “Simon”, bentuk Yunani untuk “Simeon”. Yang ketiga adalah “Kefas”, bahasa Aram untuk “batu karang”; para penulis Perjanjian Baru lebih sering menggunakan nama ini dibandingkan ketiga nama yang lain.[3]
Injil Yohanes memberitakan kegiatan Kristus pada prapelayanan-Nya di Galilea, termasuk pertama kalinya Petrus diperkenalkan oleh Andreas kepada Yesus (Yohanes 1:41). Perkenalan ini membuat lebih dimengerti tanggapan Petrus atas panggilan berikutnya di pantai Galilea (Markus 1:16 dab). Lalu menyusul penetapan 12 murid (Markus 3:16 dab). Petrus adalah murid Yesus yg pertama dipanggil; ia selalu disebut yg pertama dalam urutan murid-murid; ia juga seorang dari ketiga murid yg merupakan kelompok akrabdengan Guru mereka (Markus 5:37; 9:2; 14:33; bnd 13:3). Tindak pelayanannya yg didorong gelora hatinya, sering dilukiskan dalam Alkitab (bnd Matius 14:28; Markus 14:29; Lukas 5:8; Yohanes 21:7), dan dia bertindak sebagai jurubicara dari ke-12 murid itu (Matius 15:15; 18:21; Markus 1:36 dab; 8:29; 9: 5; 10:28; 11:21; 14:29 dab; Lukas 5:5; 12:41).[4]
Akhir hidup Petrus menurut catatan St. Jerome, ia dihukum mati di Roma dengan cara disalib, namun Petrus meminta agar ia disalibkan dengan posisi terbalik karena ia memandang dirinya tidak layak untuk disalibkan dalam posisi yang sama dengan Tuhannya.[5]

MODAL AWAL PETRUS SEBAGAI PEMIMPIN
Bagaimanakah awal Petrus menjadi seorang pemimpin? Paling tidak kita menemukan dalam kisah Alkitab, 3 hal pokok yang menjadi yang menjadi kunci utama[6] pembentukan Petrus sebagai seorang Pemimpin, yakni:
1. Petrus Belajar Melayani
Pada suatu ketika, Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu [Petrus dan Andreas] segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia." (Matius 4:19-20). Tanpa pikir panjang Petrus bersedia meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Yesus untuk melayani-Nya. Bersama Yesus, Petrus menyaksikan banyak mukjizat yang luar biasa. Petrus tidak hanya berkesempatan menyaksikan pelayanan Yesus, dia bersama murid-muridnya yang lain juga ditunjuk Yesus untuk melayani setiap kota dan tempat yang hendak Yesus kunjungi (Lukas 10:1).
Perjalanan bersama Yesus mengubah kepribadian Petrus secara total. Dia beserta murid-murid Yesus yang lainnya belajar melayani saat diberi kuasa untuk menyembuhkan banyak orang sakit dan menaklukan setan-setan (Lukas 10). Kisah Para Rasul 1-2 menonjolkan kualitas Petrus sebagai pemimpin yang melayani. Petrus dipakai Allah secara luar biasa sehingga dia berani melayani di depan banyak orang. Menariknya lagi, saat menjadi seorang pemimpin, Petrus tidak hanya melayani kaumnya sendiri, dia juga merasa bebas untuk melayani orang-orang bukan Yahudi sesuai dengan visi Allah (Kisah 10).
Petrus mempunyai konsep "kepemimpinan yang melayani". Menurut Eka Damaputra dalam bukunya "Kepemimpinan dalam Perspektif Alkitab", seseorang yang telah teruji sebagai pelayan yang baik adalah orang yang telah terbukti mampu menguasai dan mengendalikan diri sendiri. Hanya orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri yang layak diberikan kepercayaan untuk mengendalikan, memimpin, dan menguasai orang lain.
2. Petrus Belajar Taat
Alkitab mengatakan bahwa murid-murid Yesus, khususnya Petrus, adalah orang-orang yang bersedia untuk belajar (Matius 5:1-2). Petrus, yang dulunya tidak sabaran dan sesumbar, belajar mendengarkan serta menaati Yesus. Eka Damaputra menyebutkan bahwa kepemimpinan diinspirasi oleh rasa takut dan taat akan Tuhan. Inspirasi ini dimiliki Petrus. Petrus adalah orang yang berorientasi kepada Allah dan sungguh-sungguh menaati-Nya. Ketaatannya tampak jelas dalam Lukas 5:5-7.
Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
Tanggapan Petrus terhadap perintah Allah sungguh mengagumkan. Dia tidak membantah arahan Yesus. Dia tidak mengatakan, "Yesus, ini akan sia-sia saja." Walaupun Petrus tidak mengerti apa maksud dari perintah Yesus, dia tidak mempertanyakan atau meragukan perintah itu, dia hanya menaati-Nya karena dia percaya kepadanya.
Petrus bertindak dengan tepat. Dia membuktikan diri sebagai pengikut Yesus yang baik. Menurut Eka Damaputra, sifat ketaatan seperti ini dibutuhkan oleh setiap pemimpin. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil," kata Yesus, "ia setia juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10)

3. Petrus Berserah kepada Allah
Russel Betz mengatakan bahwa Petrus adalah orang yang mengerti arti "berserah kepada Allah". Pertama-tama, dia siap menyerahkan segalanya untuk mengikuti Yesus. Dalam Matius 19:27, Petrus mengatakan kepada Yesus bahwa dia telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus. Kedua, Petrus menyerahkan kegagalan masa lalunya kepada Allah. Salah satu senjata setan untuk menjatuhkan manusia adalah menyalahkan manusia atas kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Tidak sedikit korban yang menjadi budak masa lalu, lalu putus asa. Petrus sendiri menorehkan noda hitam ketika menyangkal Yesus sebanyak tiga kali karena ketakutannya. Akan tetapi, alih-alih tenggelam dalam penyesalan seperti Saul dan Yudas, Petrus menyesal, menyerahkan masa lalunya, dan bangkit untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Allah.
Dia juga berserah kepada panggilan Yesus untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Dia membiarkan Allah memproses segala kekurangan dan kelebihannya untuk kemuliaan-Nya. Dia mengikuti mandat Allah untuk melayani orang banyak (1 Petrus 5:2) serta mengajar mereka untuk menjadi teladan bagi banyak orang (5:2-3).

KEPEMIMPINAN PETRUS SEBAGAI PEMIMPIN
Terdapat kesan yang cukup kuat bahwa sepeninggalan Tuhan Yesus, maka Petrus menjadi pemimpin dari kelompok murid Yesus ini. Hal ini paling tidak terlihat pada Yohanes 21:3, ketika Petrus memutuskan untuk kembali menjadi nelayan, dan merekapun ikut bersamanya sambil berkata: “Kami pergi juga dengan engkau”. Petrus merupakan pemimpin tidak resmi dari para rasul. Sebab seringkali ia menjadi juru bicara. Setelah berpisah dengan Yesus, para murid, terkesan, berharap bahwa Petruslah yang akan mengarahkan mereka. Catatan Lukas mengenai gereja mula-mula, sangat jelas mengesankan tentang kepemimpinan Rasul Petrus.[7]  Sebagai pemimpin, terdapat beberapa hal yang dilakukan Petrus dalam melaksanakan kepemimpinannya, yakni:

1.      Memperlihatkan Masalah Untuk Menemukan Solusinya (Kisah Rasul 1:15-26)
Saat para rasul sedang menantikan Roh Kudus yang dijanjikan Yesus, mereka tiba di kota dan menumpang di sebuah rumah serta berkumpul di ruang atas. Beberapa hari kemudian Petrus melihat bahwa kematian Yudas memberi dampak pada jumlah mereka sebagai saksi tentang siapa Yesus. Yudas dianggap sebagai salah satu anggota dari tim pelayanan tersebut. Bagi Petrus, kematian Yudas akan mempengaruhi kegiatan pelayanan (bd. ay.17). Petrus bukan saja memperlihatkan kepada kelompok itu tentang masalah yang tidak mereka sadari, namun juga mengutarakan bagaimana memecahkan masalah tersebut. Ia meberikan solusi kongkrit pada 120 orang yang mendengarkan informasi itu (ay.15).
Solusi yang ditawarkan Petrus adalah harus ada yang menggantikan Yudas. Tetapi solusi ini belum cukup jika tidak melalui tata cara yang tepat melakukannya. Itulah sebabnya pada ayat 21-22, Petrus menyebut syarat pengganti Yudas, yakni orang itu harus selalu bersama-sama dengan mereka dan melihat serta menyaksikan dengan secara langsung tentang Yesus yang dimulai dari pembaptisan Yohanes sampai kebangkitanNya. Usulan Petrus ini disambut baik oleh mereka dan kemudian melaksanakannya (ay.23-26).
Salah satu fungsi pemimpin adalah menyusun cara dan memberikan arahan tindakan untuk masa depan.[8] Petrus dengan penuh keyakinan memaparkan masalah yang dihadapi sekaligus memberikan arahan tegas dan tepat sasaran tentang bagaimana menyelesaikan permasalahan mereka sepeninggalan Yudas sebagai bagian dari Tim Pelayanan itu.
2.      Menjadi Inisiator dan Inspirator (Kisah Rasul 2:14-40)
Apa yang diperbuat oleh para murid sebelum Roh Kudus dicurahkan? Mereka berkumpul di sebuah ruang atas dan tidak keluar menunjukkan diri di tengah masyarakat. Kemungkinan besar hal ini disebabkan karena mereka mengalami ketakutan jika dikenali sebagai murid Yesus. Kekuatan dinamis dari karya Roh Kudus kemudian menggerakkan mereka untuk berani tampil di depan banyak orang pada saat hari raya Pentakosta.
Saat banyak orang itu sedang terheran-heran dengan berbagai bahasa yang mereka dengar keluar dari mulut para Rasul, maka Petrus berinisiatif mewakili kelompok duabelas itu dan mulai berbicara, bersaksi dan mengajar tentang Yesus (ay.14). Ia dengan sengaja berdiri untuk menjelaskan olok-olokan orang banyak bahwa mereka sedang mabuk, dengan menimpali bahwa tidak benar kami sedang mabuk (bd. ay.15). Tindakan merupakan inisiatif yang berani Rasul Petrus mengingat kondisi mereka sedang “dicari” sebagai murid Yesus.
Setelah menjawab tudingan itu, Petrus kemudian dengan lugas berkhotbah dan bercerita tentang Yesus yang mereka salibkan itu. Kisah yang dituturkan Petrus mendorong banyak orang, menginspirasi mereka. Mengapa menginspirasi mereka? Hal ini terlihat dari reaksi spontan orang banyak, yang terharu ini, melalui pertanyaan: “apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” (ay.37). Petrus berinisiatif untuk memberdayakan kuasa Roh Kudus lewat tampil kedepan untuk mengajar dan dengan itu banyak orang terpukau sehingga menyerahkan diri untuk bertobat. Jumlah mereka berubah drastis. Dari jumla 120org menjadi 3000org.
Orang tidak akan mengikuti pemimpin yang tidak antusias. Orang hanya mengikuti seseorang yang memiliki gairah akan visi yang dimiliki tersebut.[9] Kendatipun dokter Lukas sebagai penulis kitab ini tidak menyebutkan dengan cara apa Petrus berkhotbah, tetapi kita dapat dengan mudah membayangkan bagaimana berapi-apinya isi pidato tersebut. Gairah yang penuh antusias itu memang benar tidak dapat hanya dari Petrus sendiri melainkan melalui kuasa Roh Kudus. Tetapi peran Petrus pun tidak dapat diabaikan. Ia berinisiatif untuk berbicara lebih dulu dan menginspirasi banyak orang. Petrus adalah seorang inisiator dan inspirator.
3.      Melihat dan Menangkap Peluang di Tengah Resiko (Kisah Rasul 3:11-4:22)
Serambi Salomo adalah tempat dimana Petrus mampu melihat peluang menjalankan misinya bagi pemberitaan tentang Yesus. Saat orang banyak terheran-heran dengan mujizat yang Petrus lakukan, yakni menyembuhkan orang lumpuh, ia melihatnya sebagai peluang untuk memberitakan tentang Yesus (3:12 dyb). Kenyataan ini bukan tanpa resiko. Petrus dan Yohanes pun ditangkap oleh pemuka Bait Allah (4:3). Usaha yang beresiko itu menghasilkan sesuatu yang besar, yakni banyak dari mereka yang percaya karena pemberitaan dan pengajaran tersebut (4:4).
Dalam Sidang pun, Petrus dan Yohanes bersedia mengambil resiko dengan tidak berhenti untuk bersaksi (Kisah.4:13).[10] Pemimpin harus berani mengambil resiko di tengah tantangan untuk menyatakan kebenaran. Petrus dan Yohanes mampu melakukannya. Dalam hal sebagai pemimpin, Petrus dapat melihat dan menangkap peluang menjalankan misinya kendatipun dengan resiko dipenjarakan.

KEPEMIMPINAN PETRUS MENGHADAPI KONFLIK (Menjadi Agen Perubahan)
Organisasi manapun yang melibatkan banyak orang, pasti akan mengalami berbagai perbedaan pendapat, di saat menghadapi suatu masalah ketika mencari jalan keluarnya. Jika salah mengambil keputusan, atau salah mengolah konflik itu, maka perpecahan pastilah terjadi. Dalam situasi yang tidak kondusif dikarenakan berbagai perbedaan yang mengarah pada perpecahan, dibutuhkan figur seorang pemimpin yang tegas, dihormati dan mampu memberikan solusi yang tepat tetapi juga benar.
Salah satu pemimpin yang mampu menyelesaikan berbagai perbedaan dan meredam perpecahan adalah Rasul Petrus. Hal ini dengan sangat jelas diceritakan oleh dokter Lukas dalam kitab Kisah Rasul 15:1-21 tentang Sidang di Yerusalem dalam rangka menghadapi perbedaan pendapat di jemaat Antiokhia. Di jemaat ini terjadi perbedaan pendapat di antara mereka ketika beberapa orang menyusup dan mempengaruhi jemaat bahwa warga jemaat non-Yahudi harus disunat agar beroleh keselamatan (ay.1). Diduga bahwa mereka inipun seperti yang disebutkan dalam ayat 5, berasal dari golongan Farisi yang terkenal itu. Sengaja mereka datang dari Yudea ke Antiokhia, untuk mengubah pikiran jemaat di tempat itu, mengenai sesuatu pokok ajaran keselamatan. Pokok ini adalah tentang sunat.
Dari ayat 15-24b, ternyatalah bahwa saudara-saudara ini tidak diberi pesan dan tidak pula diutus dengan resmi oleh induk jemaat di Yerusalem. Mereka telah datang atas inisiatif mereka sendiri, dan ajaran mereka sangat ekstrim.  Hal ini menimbulkan konflik dalam tubuh Kristus. Warga jemaat non-Yahudi mengalami keresahan akibat pernyataan ajaran ini. Sudah pasti timbullah pertentangan dan perselisihan. Sebagai pemimpin umat, Paulus dan Barnabas mempertahankan ajaran yang benar dan membantah pendapat mereka. Akhirnya konflikpun terjadi. Bagaimanakah kemudian Paulus dan Barnabas mengolah konflik itu?
Pertama, Walaupun Paulus menentang dengan keras pandangan keliru ini, namun ia tidak memaksakan pendapatnya kepada jemaat Antiokhia. Ia justru menyetujui usulan jemaat Antiokhia untuk menyelesaikan masalah ini dengan melibatkan pimpinan gereja lainnya yakni para rasul dan penatua jemaat di Yerusalem (ay.2); Kedua, Paulus tidak membiarkan konflik dan ketidaknyamanan itu menguasainya dalam pelayanan. Justru walau masalah belum selesai, ia tetap memberitakan Firman Tuhan kepada banyak orang ketika perjalanan ke Yerusalem. (ay.3). Ketiga, Paulus tetap fokus dalam pelayanan itu dan tidak berusaha mempengarui orang lain untuk mendapat dukungan jemaat Fenisia dan Samaria ketika ia melayani (ay.3) dan Keempat, Hal yang sama juga dilakukan Paulus ketika tiba di Yerusalem di depan para pemimpin gereja waktu itu. Dia tidak mencari dukungan, namun justru lebih mengutamakan kesaksian iman dalam pelayanannya (ay.4).
Akhirnya dalam ayat 5 disebutkan bahwa Paulus dan Barnabas telah tiba di Yerusalem. Selanjutnya digelarlah Sidang di Yerusalem untuk menyelesaikan konflik yang terjadi mengenai perbedaan pendapat dalam hal ajaran keselamatan yang wajib dipenuhi oleh jemaat non-Yahudi lewat sunat dan Taurat itu. Nampaknya topik ini menjadi issue perdebatan yang semakin runcing. Hal ini terlihat dalam ayat 6,7 dan 12 dalam bacaan kita. Karena itu sebagai pemimpin para rasul, Petrus mengambil alih pembicaraan dan menyatakan pendapatnya. Perhatikanlah bagaimana cara Petrus menghadapi perbedaan pendapat tersebut dalam ayat 7-11 bacaan kita.
Pertama, Petrus tidak segera berbicara untuk mengambil keputusan dan menyatakan pendapatnya Ia menghormati pendapat dan hikmat yang ada pada masing2 pemimpin dan umat waktu itu. Itulah sebabnya ay.7 disebutkan mereka mendapatkan kesempatan untuk berbicara.
Kedua, Petrus tidak berdiri sebagai pribadi biasa waktu itu, namun di mengandalkan wibawa rasuli yang dianugerahkan Allah baginya, dengan menyebut pemilihan dan penugasan yang Allah berikan kepadanya (ay.7b). Artinya saat mengambil keputusan untuk menyatakan pendapatnya, Petrus tidak sedang berbicara untuk dirinya sendiri dan kemenangan egonya, melainkan untuk Tuhan dan kebenaran ajaran FirmanNya.
Petrus tampil berdiri dengan penuh wibawa atas otoritas Allah yang diberikan kepadanya (ay.7). Namun wibawa ini dengan sendirinya kehilangan pengaruh apabila Petrus gagal menjadi pribadi yang berintegritas, yakni apa yang ia ucapkan selaras dengan apa yang ia lakukan. Pemimpin yang berintegritas mampu menunjukkan satunya kata dengan perbuatannya, sehingga ia menjadi teladan dan sumber inspirasi organisasi.[11] Pemimpin yang berintegritas mampu untuk menjabarkan tanpa kompromi nilai-nilai dasar tertentu yang ia anut sehingga hasilnya dapat dilihat oleh mereka yang dipimpinnya.[12] Inilah yang dilakukan Petrus. Ditentukannya Ia oleh Tuhan sebagai pembawa berita bagi kaum tak bersunat, diwujudkan dengan pola laku dan perbuatan yang nyata dan tak terbantahkan (band. Ayat 7 dst). Sehingga, apa yang dikatakan dan diarahkan oleh Petrus tidak pula dibantah oleh siapapun yang mendengar perkataan itu.
Ketiga, Pernyataan yang dibuat Petrus tidak serta-merta tanpa pertimbangan. Namun semuanya tersusun rapi sesuai pengalaman iman dan pelayanannya (ay.8-11). Bagi Petrus, ketika ia melayani orang non-Yahudi, Roh Kudus diakruniakan juga bagi mereka yang menerima Kristus. Hal ini adalah pengalaman pelayanan Petrus dalam Kisah Para Rasul 10:1 dst ketika ia diperintahkan TUHAN untuk melayani Kornelius dan seisi rumahnya. Kornelius adalah orang non-Yahudi  yakni warga Romawi dan pemimpin pasuka Italia (10:1) Itu berarti menurutnya, Allah menghendaki keselamatan untuk bangsa lain juga tanpa harus lewat sunat dan taurat. Sehingga lahirlah ajaran bahwa keselamatan datang kepada semua bangsa hanya melalui Yesus Kristus (ay.11) dan bukan oleh hal lain termasuk sunat dan ketetapan Taurat.
Penyataan Petrus ini kemudian menjadi keputusan bulat Sidang Yerusalem yang diterima oleh seluruh peserta sidang dan bahkan didukung oleh Rasul Yakobus lewat legitimasi Firman Tuhan yang merujuk Amos 9:11-12 sebagai landasan keselamatan hadir bagi bangsa-bangsa lain non-Yahudi. Petrus menjadi Agen Perubahan dalam kehidupan komunitas Kristen Yahudi. Bersama Yakobus, Paulus dan Barnabas, mereka mengubah pola pikir Yudaisme kepada Kristosentris dalam hal memahami keselamatan. Para Rasul yang dulunya hanya berpikir tentang Israel sebagai satu-satunya bangsa yang dipilih untuk diselamatkan, kini memahami bahwa keselamatan milik semua orang termasuk kaum tak bersunat.
Petrus menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan. Ia adalah “change agent” bagi mereka yang dipimpinnya dan membawa komunitasnya memiliki perspektif yang baru tentang konsep yang menjadi akar konfik. Hasil akhir adalah, konflik berhasil diredam, perbedaan menemukan jalan baru yakni menapaki bersama kepentingan komunitas itu bagi Tuhan dan sesama manusia.
KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA VERSI PETRUS (Servant Leadership)
Pelajaran penting tentang menjadi Pemimpin adalah bersedia menjadi pelayan atau dengan prinsip Pemimpin yang melayani. Kepemimpinan yang melayani (Servant Leadership) merupakan suatu tipe atau model kepemimpinan yang dikembangkan untuk mengatasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh suatu masyarakat atau bangsa. Para pemimpin-pelayan (Servant Leader) mempunyai kecenderungan lebih mengutamakan kebutuhan, kepentingan dan aspirasi orang-orang yang dipimpinnya di atas dirinya. Orientasinya adalah untuk melayani, cara pandangnya holistik dan beroperasi dengan standar moral spiritual.[13]
Petrus adalah seorang pemimpin yang melayani. Hal ini terlihat dalam suratnya kepada orang Kristen Pendatang yang terdapat dalam 1 Petrus 5:1-3. Uraian pada bagian ini memberikan gambaran tentang siapakah Petrus dalam hal menjadi seorang pemimpin. Ia adalah seorang pemimpin-pelayan yang mampu memberi teladan dan mengajarkan orang lain untuk memimpin dengan cara melayani. Berikut ini beberapa hal yang di ajarkan Petrus dalam bacaan tersebut:
1.      Pemimpin Tidak Berada “di atas” (ay.1)
Hal yang menarik adalah ketika para penatua di jemaat-jemaat itu disapa Paulus sebagai “teman”. Paulus menempatkan dirinya sebagai teman penatua. Ia berbicara kepada mereka bukan dari atas, melainkan dari samping, yaitu suatu tempat yang baik untuk melaksanakan kepemimpinan. Ia memperlakukan mereka sebagai orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Juga ia menulis sebagai saksi penderitaan Kristus, yaitu orang yang hatinya telah dimurnikan oleh kegagalannya sendiri, dihancurkan dan ditaklukkan oleh kasih Golgota. Pekerjaan seorang gembala tidak dapat dilakukan secara efektif tanpa hati seorang gembala.
Dengan menggunakan sapaan seperti ini, Petrus menempatkan diri “turun” dan bukan naik. Ia menjadi seorang yang berhati gembala yakni merangkul dan mengayomi. Pemimpin yang melayani dalah pemimpin yang tidak merasa diri sebagai atasan yang harus tinggi disanjung, melainkan turun merangkul.
2.      Pemimpin Itu Mengabdi (ay.2)
Pemimpin-pelayan yakni mereka yang mengerkjakan kepemimpinan dengan orientasi kerja dalam matrik melayani, akan melakukan segala hal dengan motivasi tulus tanpa berpikir memperoleh keuntungan pribadi. Ini disebut Petrus dengan mengabdikan diri. Petrus tidak melupakan kuasa keserakahan di dalam diri rekannya, Yudas, dan ia ingin agar teman-teman penatua sama sekali tidak tamak. Seorang pemimpin hendaknya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keuangan atau keuntungan yang lain di dalam pelayanan atau keputusan-keputusannya. Jika orang mengetahui bahwa ia benar-benar tidak suka mengejar keuntungan, maka, perkataannya akan lebih berwibawa.
3.      Bukan Memberi Perintah tapi Teladan (ay.3) 
Selanjutnya, Petrus menyebut soal perlawanan antara menghamba dengan memerintah. Bagi Petrus seorang pemimpin yang adalah gembala, yakni memimipin dengan cara melayani, tidak terpuji cara ia melaksanakan tugasnya jika melakukannya atas dasar kuasa otiriter sebagai pemimpin dengan cara memaksa orang yang dipimpin. Kalimat "Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu,...." (ay.3) memberikan penegasan bahwa seorang pemimpin yang ambisius dapat dengan mudah merosot menjadi seorang tiran yang picik dengan sikap mau memerintah. "Bahkan satu kuasa kecil dapat dengan mudah mengubah orang menjadi sombong". Tidak ada satu sikap yang lebih tidak cocok bagi orang yang mengaku menjadi hamba Anak Allah yang merendahkan diri-Nya. Dengan kata lain, memerintah dengan mengandalkan kuasa adalah suatu perbuatan yang tidak layak disandang oleh seorang pemimpin-pelayan.
Jika demikian, bagaimanakah seharusnya? Pada ayat yang sama, Petrus melanjutkan kalimatnya: "Hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu" (ay.3). Ini memberikan penegasan bahwa lawan dari memerintah adalah memberi teladan. Pemimpin-pelayan adalah pribadi yang berada di depan, seperti gembala, untuk memberi teladan. Perbuatan baik dan benar harusnya tidak bisa diperintahkan untuk dilakukan, itu hanya mungkin jika ditunjukkan dengan perbuatan untuk diteladani.

P E N U T U P
Bagaimanapun tidak mudah menjadi seorang pemimpin apalagi pemimpin dalam gereja Tuhan. Sikap dan perbuatan adalah modal kuat untuk mengejah wantakan kasih Kristus sebagai sumber anugerah kepemimpinan itu. Hati yang penuh kasih, kemampuan mengolah konflik batin adalah mutlak diperlukan untuk menyebut seorang pemimpin adalah cerdas secara emosional.
Pada akhirnya kekuatan spiritual yang mumpuni yang ditandai dengan hidup yang intim dengan seorang Pemimpin/Gembala AGUNG mutlak dibutuhkan. Hanya mereka yang memiliki keuatan spiritual yang prima-lah yang mampu secara baik menjadi leader yang tidak hanya bijak, bukan saja mumpuni memberi solusi, namun mampu membawa organisasi yang dipimpinnya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.
------ __ -----

KEPUSTAKAAN

BUKU:

Alkitab, Jakarta: LAI, 2006
Boa, Kenneth dkk, Kepemimpinan Ilahi dalam Rupa Insani, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2013
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih-YKBK, 2007
Packer, J. I. Ensiklopedia Fakta Alkitab IIMalang: Gandum Mas, 2001
Sloane, Paul, The Innovative Leader, Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2007
W. I. M. Poli, Kepemimpinan Stratejik – Pelajaran dari Yunani Kuno hingga Bangladesh, Makassar, Identitas Universitas Hasanuddin, 2011
Wiyono, F.X.G. Isbagyo, The Innovative Leader, Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2007

ONLINE SOURCE:
http://cintaimabar.blogspot.co.id/p/kepemimpinan-yang-melayani-servant.html


[1] Nama asli Petrus ialah nama Ibrani 'Simeon' (seyogianya demikian dlm Kisah 15:14; 2 Petrus 1:1, tapi dalam LAI-TB semuanya menjadi 'Simon'); barangkali, seperti banyak orang Yahudi dipakainya juga nama 'Simon', hal yg biasa dalam PB sebagai nama Yunani yg bunyinya sama. Lih: Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih-YKBK, 2007), hlm. 255. Simeon atau Simon berarti “mendengar”. Lih. Ibid, hlm 405.

[2] Nama Kefas adalah nama yang diberikan oleh Yesus pada saat mengangkatnya sebagai murid. Dalam bahasa Aram berarti Batu Karang atau Petrus (Yoh.1:41).

[3] J. I. Packer. Ensiklopedia Fakta Alkitab II(Malang:Gandum Mas, 2001) hlm. 1105
[4] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih-YKBK, 2007), hlm. 256-257

[5] http://www.sarapanpagi.org/petrus-vt4233.html --- diakses pada tanggal 28 Desember 2015.

[6] http://lead.sabda.org/kunci_kepemimpinan_petrus di akses pada tanggal 30 Des 2015. Petrus belajar melayani, taat dan menyerahkan hidupnya dalam pimpinan Allah. Maxwell mencatat bahwa dia adalah pemain yang paling berkembang dan pemimpin yang berubah 180 derajat. Allah mengubah hidup Petrus dan memakainya sebagai salah satu pemimpin yang berhasil mengubah dunia.

[7] Kenneth Boa, dkk, Kepemimpinan Ilahi dalam Rupa Insani, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2013), hlm. 512.
[8] Kemampuan untuk memberikan arahan tindakan kemasa depan ini digambarkan sebagai misi, tujuan inti, atau visi. Lih. Paul Sloane, The Innovative Leader, (Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2007), hlm. 1

[9] Ibid, hlm. 37-38

[10] Hal yang perlu dicatat adalah bahwa orang-orang yang mengamati kisah Petrus dan Yohanes melihat keberanian mereka. Sebagai pemimpin gereja mula-mula, mereka berani bersaksi, menyatakan tentang Yesus, bahkan menghadapi perlawanan yang keras. Lih. Paul Sloane, The Innovative Leader, (Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2007), hlm. 349.
[11] W. I. M. Poli, Kepemimpinan Stratejik – Pelajaran dari Yunani Kuno hingga Bangladesh, (Makassar, Identitas Universitas Hasanuddin, 2011), hlm. 23

[12] Kenyataan tak bisa dipungkiri bahwa Petrus pernah gagal menjadi contoh dan teladan dari perkataannya itu. Hal ini terlihat dalam Galatia 2:11-14 ketika Petrus dan Paulus pernah berkonflik secara terbuka. Awalnya, Petrus membuka diri dengan kaum tak bersunat dan bahkan makan bersama mereka sehidangan dengan para orang percaya non Yahudi. Namun, ketika kelompok Yahudi datang, yaitu golongan Yakobus, Petrus kemudian berubah sikap dan meninggalkan kelompok tak bersunat itu supaya ia tidak dihakimi oleh kaum bersunat. Inilah yang mengecewakan Paulus. Ia mempertanyakan Petrus dan pendirian imannya sehubungan dengan keselamatan untuk kaum yang tak bersunat pula. Petrus menjadi “munafik” dan mengamankan diri sendir. Itu adalah kekejian menurut Paulus.
[13] Kepemimpinan yang melayani memiliki kelebihan karena hubungan antara pemimpin (leader) dengan pengikut (followers) berorientasi pada sifat melayani dengan standar moral spiritual. Selanjutnya ciri-ciri tentang Pemimpin Yang Melayani dapat dilihat pada: http://cintaimabar.blogspot.co.id/p/kepemimpinan-yang-melayani-servant.html yang di akses 30 Des 2015.