Monday, July 30, 2018

MAZMUR 65:10-14 TINDAKAN TUHAN ADALAH DASAR BERSYUKUR


MAZMUR 65:10-14
TINDAKAN TUHAN ADALAH DASAR BERSYUKUR
Bahan Bacaan Alkitab Pelkat PKP
Kamis, 2 Agustus 2018


PENGANTAR
Mazmur ini ditulis oleh Daud yang kemungkinan besar disebabkan oleh rasa syukur atas kesediaan Allah mendengar doa mohon ampunnya (ay.3) dan ketika ia secara pribadi menerima pengampunan dari Allah dan melihatNya sebagai pribadi yang Maha-Pengampun (ay.4,5). Keseluruhan dari isi Mazmur 65 ini adalah kesaksian Daud tentang siapa Allah dan apa yang telah ia perbuat.

TELAAH PERIKOP
Jika kita membaca dengan seksama isi Mazmur ini maka sesungguhnya Mazmur ini terbagi atas 3 (tiga) bagian penting , yakni:
1.      Siapakah Allah menurut pemazmur (ay.1-5)
Pemazmur melukiskan Allah sebagai pendengar doa pribadinya (ay.2-3). Juga ada pelukisan tentang Allah maha pengampun dosa. Juga ada gambaran atau metafor tentang dosa sebagai beban yang menghimpit, tetapi Allah mengangkatnya sehingga si pendosa pun terbebaskan (ay.3-4), sehingga bisa dikatakan bahwa pemazmur melukiskan Allah sebagai seorang pembebas.

Di hadapan pengalaman akan Allah seperti itu, pemazmur menyatakan pengamatannya berupa sebuah pelukisan mengenai orang yang dipanggil Allah untuk mendiami baitNya yang kudus. Ada bayangan yang indah dan suci bahwa mereka itu akan bahagia dan hidup makmur (disimbolkan dengan kekenyangan, ay.5). dengan kata lain, pemazmur menganggap bahwa Allah adalah juga sebagai pribadi yang menerima siapa saja untuk berada dikediamanNya.

2.      Allah yang berkarya dan bertindak bagi dunia (ay.6-9)
Pada bagian ini pemazmur berkisah tentang Tuhan yang berkarya bagi dunia. Berikut ini beberapa rinciannya: Pertama, Tuhan berkarya dengan segala perbuatan yang ajaib dan keadilan sehingga seluruh dunia dan bukan saja Israel akhirnya mengenal Allah hingga ke ujung bumi (ay.6). Kedua, TUHAN Allah juga pandang pemazmur sebagai yang menciptakan segala lembah dan gubung, sehingga dalam tindakanNya itu, Allah disebut perkasa (ay.7). Ketiga, Bukan saja Tuhan dianggap sebagai pencipta alam semesta, pemazmur menyebut bahwa Allah bertindak sebagai penguasa ciptaanNya. Itulah sebabnya deru gelombang dan lautan tunduk kepadaNya (ay.8).

Dengan menyaksikan semua ini maka semua orangpun takut dan bersorak-sorai (ay.9). Istilah takut yang digandeng dengan sorak-sorai ini emnunjuk pada suasana kagum dan keheranan atau takjub. Reaksi mengetahui siapa dan apa yang diperbuatnya, membuat orang semakan bertakwa (segan dan patuh) kepada Allah karena rasa takjub akan bebesaranNya.
  


3.      Tindakan Tuhan bagi kebutuhan pribadi (ay.10-14)
Bagian ini sangat menarik. Pemazmur melukiskan Sang Pencipta sebagai pribadi yang sangat peduli pada kebutuhan pribadi pemazmur. Wilayah Israel dan sekitarnya, terkenal dengan daerah tandus dan air merupakan bahan pokok yang paling dibutuhkan. Pemazmur menyaksikan kebesaran Tuhan yang berkarya bagi kebutuhan umat ketika menjadikan tanah gersang penuh dengan batang air yang kaya dan melimpah sehingga umat diberoleh gandung untuk kelangsungan hidup.(ay.10).

Bukan itu saja bahkan pemazmur mengakui bahwa suburnya tanah itu, dengan basahnya alur bajak, tanah yang tidak menjadi kering dan berlimpah air karena hujan yang turun, dan hijaunya tumbuh tumbuhan itu semua, menurut pemazmur, adalah perbuatan Tuhan yang memberkati (ay.11,12). Tuhanlah yang berkarya sehingga mereka bersorak-sorai (ay.14).

Perhatikanlah, bahwa pemazmur tahu persis perbuatan Allah pada diri dan bangsanya sehingga ia bersyukur. Pemazmur menemukan karya Allah yang bertindak melalui alam semesta. Tidak terlihat tangan Allah yang bekerja sesungguhnya, bukan? Namun pemazmur tahu bahwa itulah karya Tuhan.

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan uraian atau telaah perikop di atas, maka terdapat beberapa hal yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita saat ini:
1.      Adalah penting bahi kita yang percaya untuk mengenal siapa Allah kita. Pemazmur mengenal Allah dari setiap karya yang Ia perbuat. Pemazmur mengenal dekat Allah dari apa yang ia alami bersama Allah. Ia mengalami jawaban doa, ia mengalami pengampunan dosa, ia mengalami rasa sukacita pada kuasa Tuhan yang tak terbatas. Kata kunci dari bacaan kita ini adalah pengenalan akan Allah.

Kitapun diajak, secara khusus sebagai ibu rumah tangga, kaum perempuan GPIB untuk peka mengenal Allah secara dekat. Tidak perlu bertatap muka dengan Allah, cukup merasakan semua pengalaman yang nyata tentang apa yang Tuhan perbuat, maka kita dapat mengenalnya secara pribadi. Siapakah Allah bagi kita, sangat tergantung dari seberapa dekat dan dalam kita mengenalNya.

2.      Ide dasar dari pemazmur bersyukur dan bersorak-sorak adalah keyakinan imannya untuk melihat setiap peristiwa sebagai cara Tuhan bertindak. Mulai dari mendengar doa, meredakan gemuruh badai dan gelombang, hingga menjatuhkan hujan di bumi, dan bahkan membuat tanaman mengalami pertumbuhan karena kesuburan tanah.

Perhatikanlah bahwa pemazmur bersyukur bukan karena apa yang ia alami. Sebagai contoh lihat redaksi ayat 11 bacaan kita. Pemazmur tidak berkata: “ketika aku membajak kulihat tanah menjadi gembur oleh karena dirus hujan yang turun”. Tetapi dengan yakni ia menyebut: “Engkau mengairi alur bajaknya... membasahi tanah dengan hujan dll”.  Objek pelaku adalah Allah. Sehingga pemazmur mengucap syukur bukan karena apa yang ia alami, tetapi apa yang Tuhan perbuat.

Demikian juga kita sebagai ibu rumah tangga. Kita diajak mengucap syukur bukan karena kita melihat dan merasakan apa yang terjadi dalam hidup kita, tetapi tentang apa yang Tuhan perbuat. Kita bersyukur bukan karena bisa ulang tahun, tetapi kita bersyukur karena Tuhan menambahkan usia setahun. Pokok penting adalah Tuhan.

Karena itu mari bersyukur bukan karena apa yang terjadi dalam keluarga kita, tetapi apa yang Tuhan buat dalam hidup kita. Dengan cara ini, maka entah senang atau susah, kita tidak peduli apa yang terjadi disekitar kita, yang kita syukuri adalah apa yang Tuhan buat dan rancangkan bagi kita. Sebab ranjangannya adalah damai sejahtera.

Kiranya kita dimampukan untuk menyakini kuasa Allah yang peduli itu. Amin.


Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...