Tuesday, March 15, 2011

SALING MENOPANG DI TENGAH PERGUMULAN (Naomi dan Rut)

MATERI KHOTBAH PKB 14 MARET 2011
RUT 1:15-18

15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu."  16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;
17di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"  18 Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya.

PENDAHULUAN
Adalah hal yang biasa dewasa ini jika kita mendengar ada pertengkaran yang terjadi antara mertua dan menantu. Secara khusus pertengkaran tersebut sering terjadi antara ibu mertua dengan menantu perempuan. Masalah dan persoalannya kurang jelas, tetapi yang pasti selalu dipicu dari hal-hal sepele yang kemudian menjadi besar dan prinsipil. Simpulannya adalah ibu mertua dan menantu perempuannya jarang hubungan mereka tidak bermasalah.

Berbeda kisahnya dalam bacaan kita saat ini. Rut adalah menantu dari Anomi. Setelah suaminya meninggal Rut memutuskan untuk mengikuti Naomi dan menganggapnya bukan hanya sekedar mertua namun juga seperti ibunya sendiri. Namun, Naomi cukup bijak. Menurutnya, Rut masih memiliki masa depan yang lebih baik, apalagi ia menikah lagi. Itulah sebabnya Naomi memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Bet-lehem (rumah roti) dan meminta Rut melanjutkan kehidupannya sendiri. Namun justru prinsip yang berbeda ini menjadi dialog yang menarik (bisa disebut adu mulut yang kental) dalam bacaan kita serta menggambarkan tentang betapa eratnya hubungan mertua dan menantu dalam kisah ini.

TAFSIRAN / TELAAH PERIKOP
1.       Menurut ayat 1-5 anak-anak Naomi menikahi perempuan Moab sebagai Istri mereka masing-masing. Mahlon menikahi Opra; dan Kilyon menikahi Rut. Telah disebutkan tadi bahwa ketika suami masing-masing mereka meninggal, maka mereka memutuskan untuk meninggalkan Moab dan mengikuti Naomi ibu mertua mereka (ay.6-7).

Selanjutnya ayat 8-13 menceritakan tentang berbagai adu argumentasi dilakukan antara mertua dengan kedua menantu perempuannya. Mereka berdua, Orpa dan Rut, bersikeras untuk tidak akan meninggalkan Naomi mengalami kepahitan hidup seorang diri. Mereka ingin menemani, mereka ingin saling berbagi. Namun bagi Naomi yang lebih dahulu mengalami asam-garam hidup ini justru berpandangan beda dgn mereka. Bagi Naomi mereka berdua masih muda dan masa depannya masih ada. Adalah lebih tepat jika mereka kembali ke orang tua masing-masing  untuk memulai hidup baru dan jika mungkin, mereka dapat menikah lagi.

Penjelasan yang sangat detail dilakukan Naomi agar mereka mengerti. Naomi tidak bermaksud menolak pendampingan mereka, tapi Naomi juga menginginkan mereka bermasa depan. Akhirnya hati Orpa lulu dan mengalah iapun berpisah dengan mertuanya dalam suasana sedih dan haru (ay 13). Bisa dibayangkan kasih dan kesetiaan menantu itu bagi mertuanya; kasih Orpa untuk Naomi yang tiada duanya.
  
2.       Bagaimana dengan Rut. Bacaan kita menguraikan tentang bagaimana Rut bertahan pada prinsipnya. Rut terkesan menjadi menantu yang keras kepala. Naomi pada ayat 15 meminta Rut untuk mengikuti Orpa yang mengalah dan kemudian kembali ke ibu kandungnya. Demi ketaatan kepada mertua Opra kembali ke bangsanya dan kepada allahnya. Apakah benar Rut memang keras kepala dan tidak mau mengalah? Mari perhatikan ayat 16-17 bacaan kita. Dari ayat-ayat itu menemukan alasan yang kuat mengapa Rut bertahan pada Prinsipnya, yaitu:
  1. Naomi saat  itu sedang mengalami kepahitan hidup. Itulah sebabnya ia menyebut namanya bukan lagi Naomi pada ayat 19 namun menyebut dirinya dengan nama MARA. Dalam bahasa Ibrani “mara” berarti pahit, artinya hidup Naomi pahit adanya. Ia penuh dengan pergumulan karena ditinggal mati oleh suami sebagai tulang punggung dan anak2 lelakinya sebagai penggati suaminya pun meninggal dunia. Cukuplah lengkap penderitaannya, dan sebagai manusia biasa Naomi tidak mungkin menjalani sendiri semua itu.

  1. Kondisi ini amat jelas diketahui oleh Rut menantunya. Sebagai seorang anak, Rut amat mengasihi Naomi mertuanya itu. Ia ingin berbagi beban dan penderitaan yang dialami Naomi. Ia tidak tega meninggalkan Naomi menjalani sendirin kepahitan hidupnya. Itulah sebabnya Naomi berkata dengan tegas pada ayat 16: “ke manapun engkau pergi; di manapun engkau bermalam di situ pula aku berada”. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesetiaan dan kasih Rut terhadap Naomi tidaklah tertandingi melebihi sayangnya pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin berpisah dari mertuanya demi menopang dan mendampingi Naomi.

  1. Prinsip hidup yang begitu kuat ditampilkan Rut soal besar kadar keinginannya untuk “menyatu” dengan ibu mertuanya. Hal ini juga terlihat pada ayat 16 bagian akhir. Menurutnya bangsa Naomi adalah bangsanya juga. Itu berarti demi kasihnya kepada ibu dari suaminya ini, Rut bersedia kehilangan identitas dan meninggalkan identitas lama sebagai orang Moab dan selanjutnya mengambil identitas baru sebagai orang Yahudi sebagaimana identitas mertuanya. Bukankah itu suatu hal yang jarang dilakukan orang? Rut belum tahu keadaan orang-orang Yahudi; Rut tidak tahu apakah ia diterima di komunitas orang2 Israel itu. Namun resiko itu bersedia ia ambil demi mendampingi hidup mertuanya.

  1. Selanjutnya puncak argument Rut yang tidak dapat dibantah lagi oleh Naomi adalah ketika ia menyampaikan dua hal penting diakhir ayat 16 dan ay.17. Pertama: Agama dan Allah Naomi akan menjadi Allahnya juga; Kedua: atas dasar iman yang baru itu, ia bersedia dihukum TUHAN nya Naomi (yang sekarang adalah TUHANnya ia juga) apabila ia meninggalkan ibu mertuanya itu, kecuali karena Maut.

3.       Rut bersedia berpindah keyakinan. Suatu hal yang sangat prinsipil dan asasi sekali dari setiap pribadi. Namun, itu ia sedia lakukan. Mengapa? Pastilah tidak mudah bagi Rut untuk berpindah keyakinan selain ada suatu sebab yang kuat. Karena itu apa sebab yang kuat itu? Jawaban utamanya Cuma satu yaitu karena Naomi. Sikap hidup Naomi selama ia tinggal di Moab, cara ia bersikap sebagai mertua untuk menantu dan ketegaran imannya untuk bertahan di tengah duka dan kepahitan hidup, walau seakan menurutnya TUHAN seakan meninggalkannya (ay.20-21) serta hal2 lainnya ternyata menjadi kesaksian kuat untuk Rut menerima agama dan Iman yang baru yakni menyembah Allah-nya Naomi. Bukankah itu suatu hal yang luar biasa?


APLIKASI DAN RELEVANSI
1.       Hari ini kita belajar tentang pengalaman hidup seorang janda bernama Naomi. Ketika di Israel mengalami kelaparan, maka ia dan keluarganya mencari kehidupan di negeri asing bernama Moab. Namun malang tak dapat dihindari. Suami dan anak-anaknya meninggal. Ia tidak dapat menjalani hidup lagi di negeri orang tersebut. Kepahitan ia alami dan rasanya tak terhiburkan lagi. Namun, Naomi tidak sendiri menjalani kondisi itu. Orpa dan Rut berkomitmen mendampingi, walau pada akhirnya Orpa meninggalkannya, bukan karena tidak setia namun demi ketaatan pada ibu mertuanya itu.

Hal pertama dari Firman Tuhan ini mau berbicara tentang pentingnya menghadapi hidup ini tidak sendiri. Kita diajarkan bahwa sebagai manusia kita membutuhkan orang lain. Kita tidak dapat menghadapi tantangan dan pergumulan seorang diri saja. Pada ayat 18, syukurnya Naomi menyadari hal ini dan berhenti memninta Rut pergi. Jika baca kisah selanjutnya, kita dapat melihat peran Rut dalam menghidupkan perekonomian dan kebutuhan pokok Naomi. Bayangkan jika Rut tetap di suruh pergi. Pasti akan lain ceritanya.

Demikian juga kita! Jangan pernah menutup diri dengan pergumulan dan persoalan sendiri. Kita butuh orang lain untuk membantu dan menopang. Jangan pernah untuk menanggung beban sendiri, berbagilah beban dengan orang lain, sebab topangan dua orang lebih kuat dari seoranhg diri saja.

2.       Selain kita diajak untuk terbuka seperti Naomi, kita juga oleh Firman Tuhan bersedia untuk menjadi RUT. Ada banyak Naomi modern saat ini yang sedang berbeban sendiri. Saatnya bagi kita untuk menjadi Rut yang memiliki prinsip mulia. Rut tidak menyerah utuk menjalankan ide mulia itu. Penolakan Naomi tidak menyurutkannya, ia memahami bahwa Naomi sedang gundah dan wajar jika menolaknya.

Akhirnya prinsip kokoh Rut menjadi berkat buat Naomi, tapi juga menjadi berkat buat Rut sendiri. Akhir kitab ini mengisahkan tentang happy ending yang mengharukan bagi masa depan Rut di negeri dan bangsa yang baru, di sayap perlindungan imannya yang baru.

Karena itu, marilah menghadapi setiap pergumulan hidup ini seperti Naomi yang membuka diri bagi orang lain, tapi juga mari menjadi Rut yang bersedia memberi diri bagi penderitaan orang lain dan menopang hidup mereka yang bergumul sendiri. Sebab hal itu bukan hanya menjadi berkat untuk orang lain itu, tapi juga menjadi berkat bagi kita yang bersedia membantu. Kiranya TUHAN memampukan kita. Amin.

PERTOLONGAN TUHAN YANG TIDAK PERNAH TERLAMBAT (Boas dan Rut)

MATERI KHOTBAH PKP 14 MARET 2011
RUT 2:1-7

1 Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas. 2 Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku."  3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.
4 Lalu datanglah Boas dari Betlehem. Ia berkata kepada penyabit-penyabit itu: "TUHAN kiranya menyertai kamu." Jawab mereka kepadanya: "TUHAN kiranya memberkati tuan!"  5 Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: "Dari manakah perempuan ini?"
6 Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: "Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab. 7 Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti."

PENDAHULUAN
Kisah ini adalah lanjutan cerita perjalanan hidup Naomi dan Rut ketika mereka telah kembali dari Moab dan sekarang tiba di Beth-lehem (rumah roti). Bagaimana nasib mereka di sana? Perjatikanlah bahwa baik Naomi maupun Rut menantunya adalah sama-sama seorang janda. Dalam tradisi Yahudi, jika seorang suami meninggal, harta kekayaannya tidak langsung menjadi milik jandanya melainkan dikembalikan kepada keluarga laki-laki. Jadi kita dapat membayangkan keadaan hidup Naomi dan Rut. Mereka tidak memiliki harta benda, dan itu berarti sangat sulit melanjutkan kehidupan.

Bacaan kita saat ini bercerita tentang dua orang janda yang mencoba untuk betahan hidup ditengah keterbatasan dan ketidak berdayaan mereka.  Kisah ini juga sarat dengan kehadiran TUHAN yang ajaib dan tidak tinggal diam di tengah pergumulan yang dialami. Ada beberapa catatan penting sehubungan dengan bagaimana cara mereka berdua bisa tetap hidup di tengah pergumulan hidup yang berat itu.

TAFSIRAN / TELAAH PERIKOP
1.       Sebenarnya adalah mudah bagi Naomi untuk meminta tolong sanaknya dari pihak keluarga suami yakni Boas yang kaya raya dari kaum Elimelekh (ay.1). Namun sepertinya Naomi sungkan melakukannya karena Boas bukanlah kerabatnya melainkan kerabat mendiang suaminya. Tetapi Rut kemudian berinisiatif untuk mencari pekerjaan lewat memungut bulir-bulir jelai yan terlewatkan dari para pekerja. Ide ini dipandang baik oleh Naomi. Dan sebagai ibu mertuanya, Naomi mengijinkan Rut melakukannya.

2.       Perhatikan ayat 2 bacaan kita. Mengapa Naomi mengijinkan Rut memungut bulir-bulir jelai di belakang para pekerja? Apakah ia tidak takut pekerja dan pemilik ladang (Boas) memarahinya? Bukankah tindakan itu tidaklah sopan atau mencuri jika mengambil bagian yang jatuh dari belakang? Mengapa pula Naomi mengijinkan menantunya melakukan hal yang tidak baik itu?

Ternyata apa yang dilakukan Rut tidaklah salah. Naomi tahu bahwa Rut tidak akan terkategori sebagai lancang mengambil milik orang lain. Sebab tindakan itu wajar dilakukan dalam tradisi Yahudi dan sah sesuai Firman Tuhan. Dalam Kitab Imamat 19:9-10 di sebutkan sbb:
9 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. 10Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.

Pada saat Panen, bagian yang terlewatkan atau tertinggal di belakang penuai atau pekerja yang memanen secara langsung akan menjadi milik dan hak orang miskin dan juga orang asing. Itu berarti adalah wajar dan tepat yang dilakukan Rut dan tidak keliru jika Naomi menyetujui hal tersebut.

3.       Rut kemudian bekerja dengan cara turut memungut apa yang ditinggalkan (dengan sengaja) oleh para pekerja tersebut (ay.3). Perhatikanlah bahwa Rut juga turut menyabit bagian yang tidak disabit oleh para penyabit. Apa yang dilewatkan oleh pemilik ladang melalui pengerjanya adalah sepenuhnya hak dari aorang miskin dan orang asing. Hal ini memberi isyarat kuat bagi kita bahwa ketika ke ladang Boas, Rut tidak datang dengan tangan hampa melainkan siap untuk bekerja.

Rut sama sekali tidak mengemis kasih sayang lewat meminta-minta namun ia juga turut bekerja mengambil bagian yang “dijatahkan” TUHAN untuknya melalui ladang Boas. Tidak ada niat untuk berpangku tangan. Semuanya dikerjakan Rut dengan setia demi kelangsungan hidupnya dan juga mertuanya yaitu Naomi.

4.       Perhatikanlah reaksi dari kepala pekerja dan pemilik ladang yakni Boas dalam ayat 5-7. Baik kepala pengawas maupun Boas selaku pemilik ladang tidaklah marah malam bersimpati dengan apa yang dilakukan Rut. Bahkan kalau kita baca terus hingga ayat 10 kita menemukan betapa Boas amat mengasihi Rut dan memperlakukannya dengan baik.

Mengapa Boas menjadi begitu baik? Kita menemukannya pada ayat 11 bacaan kita. Ini disebabkan karena Boas telah mendengar tentang kemalangan mereka (Naomi dan Rut) tetapi juga tentang pengorbanan dan kebaikan hati Rut yang setia kepada mertuanya. Ternyata kebaikan yang ditabur Rut kepada mertuanya kini menuai kebaikan untuk Rut sendiri.


APLIKASI DAN RELEVANSI
1.       Belajar dari sikap seorang menantu perempuan yakni Rut kepada ibu mertuanya yaitu Naomi tidaklah mudah. Namun sejak SBU kemarin kita diajak untuk mencontohi sikap Rut kepada Naomi. Sudahkan kita menghormati mertua seperti menhormati dan mengasihi orang tua sendiri? Pada bacaan SBU kemarin disebutkan bawa Ia tidak tega meninggalkan Naomi menjalani sendirin kepahitan hidupnya. Itulah sebabnya Rut berkata dengan tegas pada ayat 16: “ke manapun engkau pergi; di manapun engkau bermalam di situ pula aku berada”. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesetiaan dan kasih Rut terhadap Naomi tidaklah tertandingi melebihi sayangnya pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin berpisah dari mertuanya demi menopang dan mendampingi Naomi.

2.       Cara TUHAN menolong kesusahan Naomi dan Rut tidak terjadi bagaikan sulap secara ajaib. Namun berproses secara alamia dengan menggunakan banyak cara. Salah satu misalnya melalui aturan hidup yang Dia tentukan dalam kitab Taurat termasuk Kitab Imamat 19:9-10 tadi. Selanjutnya TUHAN mengirim orang lain yang mmemiliki karunia murah hati untuk membantu mereka, yakni Boas.

Hari inipun kita diingatkan bahwa dalam kesusahan kita, Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Ada banyak cara ajaib yang Tuhan kerjakan untuk kita walaupun terkesan sederhana dan alamiah. Bisa saja tiba-tiba Dia menciptakan kesempatan kita bertemu dengan seseorang di masa lampau yang kemudian di saat ini dialah yang menolong dan menopang kita. Rut tertolong karena TUHAN melalui Boas. Kitapun juga pasti tertolong dengan cara Tuhan yang tidak bisa kita terka.

3.       Selanjutnya mari juga bersikap seperti Naomi dan Rut. Mereka tidak mau menerima begitu saja dalam kepasrahan yang pasif tanpa usaha keluar dari kemelut itu. Bukitanya Rut segera pergi keladang dan mengusahakan berkat yang memang disediakan TUHAN di sana.

Demikian juga dengan kita. Kita perlu berusaha! Jangan mau menyerah! Berkat Tuhan tidak pernah jatuh dari langit dan tiba-tiba tersaji begitu saja. Kita perlu mengusahakannya dan menjemput berkat TUHAN yang memang Dia sediakan di sana. Itu berarti perlu usaha keras dan kesabaran dalam mencapai kemenangan dalam hidup tersebut. Jangan mudah menyerah teruslah berjuang! Sebab kita tahu jerih-payah kita bersama TUHAN tidaklah sia-sia. Amin

TUHAN BEKERJA DENGAN CARANYA SENDIRI (Naomi, Boas, Rut)

MATERI KHOTBAH SEKTOR 16 MARET 2011
RUT 2:14-23

PENDAHULUAN
Kisah ini adalah lanjutan cerita perjalanan hidup Naomi dan Rut ketika mereka telah kembali dari Moab dan sekarang tiba di Beth-lehem (rumah roti). Bagaimana nasib mereka di sana? Perhatikanlah bahwa baik Naomi maupun Rut menantunya adalah sama-sama seorang janda. Dalam tradisi Yahudi, jika seorang suami meninggal, harta kekayaannya tidak langsung menjadi milik jandanya melainkan dikembalikan kepada keluarga laki-laki. Jadi kita dapat membayangkan keadaan hidup Naomi dan Rut. Mereka tidak memiliki harta benda, dan itu berarti sangat sulit melanjutkan kehidupan.

Bacaan kita saat ini bercerita tentang dua orang janda yang mencoba untuk betahan hidup ditengah keterbatasan dan ketidak berdayaan mereka.  Kisah ini juga sarat dengan kehadiran TUHAN yang ajaib dan tidak tinggal diam di tengah pergumulan yang dialami. Pertolongan TUHAN datang melalui Boas yang masih famili dengan Almarhum suami Naomi. Ia adalah seorang yang kaya. Di ladang milik Boasl itulah, sesuai kisah SBU kemarin, Rut memperoleh berkat TUHAN untuk ia nikmati bersama ibu mertuanya. Ada beberapa catatan penting sehubungan dengan kisah pertolongan TUHAN melalui Boas yang dapat kita renunkan.

TAFSIRAN / TELAAH PERIKOP
1.       Pada bacaan kemarin disebutkan bahwa Rut memungut jelai yang ditingalkan dibelakang para pekerja. Mengapa Rut melakukan hal seperti itu? Apakah itu tidak berarti mengambil milik orang lain? Dalam Kitab Imamat 19:9-10 di sebutkan sbb:
9 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. 10Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.

Pada saat Panen, bagian yang terlewatkan atau tertinggal di belakang penuai atau pekerja yang memanen secara langsung akan menjadi milik dan hak orang miskin dan juga orang asing. Itu berarti adalah wajar dan tepat yang dilakukan Rut dan tidak keliru jika Naomi menyetujui hal tersebut. Rut kemudian bekerja dengan cara turut memungut apa yang ditinggalkan (dengan sengaja) oleh para pekerja tersebut (ay.3). Perhatikanlah bahwa Rut juga turut menyabit bagian yang tidak disabit oleh para penyabit. Apa yang dilewatkan oleh pemilik ladang melalui pengerjanya adalah sepenuhnya hak dari orang miskin dan orang asing. Hal ini memberi isyarat kuat bagi kita bahwa ketika ke ladang Boas, Rut tidak datang dengan tangan hampa melainkan siap untuk bekerja.

Perhatikanlah reaksi dari kepala pekerja dan pemilik ladang yakni Boas dalam ayat 5-7. Baik kepala pengawas maupun Boas selaku pemilik ladang tidaklah marah malam bersimpati dengan apa yang dilakukan Rut. Bahkan kalau kita baca terus hingga ayat 10 kita menemukan betapa Boas amat mengasihi Rut dan memperlakukannya dengan baik.

Mengapa Boas menjadi begitu baik? Kita menemukannya pada ayat 11 bacaan kita. Ini disebabkan karena Boas telah mendengar tentang kemalangan mereka (Naomi dan Rut) tetapi juga tentang pengorbanan dan kebaikan hati Rut yang setia kepada mertuanya. Ternyata kebaikan yang ditabur Rut kepada mertuanya kini menuai kebaikan untuk Rut sendiri.

2.       Kebaikan Boas tidak hanya sampai pada membiarkan Rut mengambil jelai yang ditinggalkan para pekerja, sebagimana diwajibkan TUHAN untuk dilakukan oleh para pemilik ladang bagi orang miskin menurut kitab Imamat tadi. Namun lebih jauh Boas malah memberikan “Bonus” yang lain lagi dari kebaikan hatinya. Perhatikan ayat 14-17 bacaan kita. Boas dengan sengaja meminta para pekerjanya untuk meninggalkan onggokan jelai agar Rut dapat memungutnya.

Hingga petang Rut memungut hasil kerjanya tersebut. Ayat 17 menyebutkan bahwa hasil pungutannya sangat banyak. Jumlahnya mencapai 1 efa banyaknya. Mengapa disebut banyak? Satuan ukuran timbangan untuk biji-bijian termasuk biji jelai adalah efa. Ukuran efa adalah ukuran bejana yang sangat besar dan dapat menampung satu orang manusia dewasa. Jadi bayangkan ukuran efa hasil pungutan Rut. Sangat besar, sangat banyak! Itulah yang ia peroleh dari pagi hingga petang.

3.       Ketika hasil itu dibawa pulang dan ditunjukkan oleh Rut kepada Naomi, maka kagetlah ibu mertuanya. Sebab apa yang Rut hasilkan sangatlah banyak. Pada ayat 18-20 digambarkan bagaimana reaksi Naomi yang dengan penuh kegembiraan pengucap-syukur kepada TUHAN. Perhatikan ayat 20 dari ucapan Naomi. Pertolongan Boas ia pahami sebagai pertolongan TUHAN. Apa yang dilakukan Boas, Naomi aminkan sebagai perbuatan TUHAN. Itulah sebabnya Naomi memuliakan TUHAN dan mendoakan Boas akan diberkati oleh TUHAN.

4.       Selanjutnya pada ayat 20 bagian akhir, Naomi berkata kepada Rut: Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita. Apakah maksud kalimat “wajib menebus kami yang diucapkan Naomi? Istilah Menebus dari bahasa Ibrani qa’al yang berarti membayarkan sesuatu untuk jaminan tertentu. Dalam tradisi Ibrani, qa’al ini adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan cara membayarkan sesuatu kepada orang lain supaya sanaknya dapat ditebus.

Dalam hal kasus Naomi dan kondisinya, Boas memiliki hak untuk menebus Naomi karena ia masih famili denganya dari pihak almarhum suami Naomi. Karena seorang jada tidak memiliki hak atas harta suaminya dan harta itu menjadi hak keluarga suami, maka Boas berhak untuk membayarkan sejumlah uang agar tanah, aladang atau rumah Naomi tidak diambil keluarga almarhum suami, sehingga tetap menjadi milik Naomi. Dengan demikian, si penebus harus masih memiliki hubungan keluarga dan mampu membayar nilai tebusan. Pada bacaan seterusnya kita akan dapat memahami maksud tersebut.


APLIKASI DAN RELEVANSI
1.       Bacaan kita hari ini memberikan suatu pemahaman iman yang tepat bagi siapa saja yang merasa hidupnya berada dalam kebuntuan jalan keluar. Sebagaimana Rut dan Naomi ditolong oleh TUHAN dengan caraNya yang ajaib, demikian juga dengan setiap kita yang menghadapi kesulitan hidup. Cara-cara TUHAN tidak terselami. Ia bekerja dengan cara yang misterius.

Boas dipakai TUHAN untuk menyatakan kasihNya kepada dua orang janda ini. Mereka tidak dibiarkan sendiri, namun pendampingan TUHAN nyata melalui Boas. Demikian juga dengan hidup orang percaya. Siapapun kita, TUHAN tidak pernah meninggalkan kita sendiri. Ia selalu mendampingi kita melalui banyak cara antara lain mengirim Boas-Boas tertentu dalam kehidupan kita.

2.       Apa reaksi Naomi adalah juga menjadi reaksi kebanyakan orang ketika ia menerima pertolongan. Naomi begitu gembira dan bersyukur sambil memuliakan TUHAN. Saat ini kita juga diajar untuk menjadi alat TUHAN seperti Boas dipakai menjadi alatNya. Ketika kita memberi diri bagi orang lain dengan penuh ketulusan menolong dan membantu mereka, secara tidak langsung hal itu adalah jawaban doa bagi mereka yang kita tolong. Efeknya adalah akan ada pujian bagi kemuliaan TUHAN.

Kita bisa menjadi alat TUHAN bagi kemuliaan namaNYA dengan cara yang sederhana. Tidak harus menjadi pendeta atau pengkotbah ulung. Tapi dengan kesediaan mengulurkan tangan dan membantu orang lain, maka di sana akan ada ucapan syukur dan pemuliaan bagi nama TUHAN.

3.       Minggu ini kita memasuki minggu pra-paskah VI. Kita diingatkan tentang prisip penebusan secara alkitabiah yang dilalkukan Yesus. Bahwa seorang penebus hanya boleh menebus jika memiliki hubungan kekeluargaan dan kemampuan untuk membayar. Dalam rangka itu kita diingatkan ulang pada karya penebusan Tuhan Yesus Kristus.

Supaya Ia dapat menebus kita, maka Dia harus memiliki hubungan kekeluargaan dengan kita. Itulah sebabnya kita kemudian diangkat menjadi anak-anak Allah supaya Yesus menjadi yang Sulung bagi kita dan BapaNya juga menjadi Bapa kita di sorga (Ef.1:5). Dengan mengangkat kita menjadi anak-anakNya, maka Bapa dapat dengan leluasa menebus kita. Namun adakah nilai yang dapat Dia bayar untuk menebus kita? Ada!! Nilainya adalah NYAWA PUTERA-NYA terkasih.

Karena itu kita harus bersyukur atas kesediaan TUHAN menebus kita, sebagaimana Naomi kemudia bersyukur kita ia dan Rut ditebus Boas. Marilah kita saling memperhatikan, menolong dan menopang orang lain, sebgaimana TUHAN telah menolong dan mendampingi kita dalam segala sesuatu. Amin

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...