Friday, May 10, 2013

BAHAN RENUNGAN MINGGU 12 MEI 2013

EFESUS 1:3-14

Jemaat Kekasih Kristus....
Dalam kekristenan kita sering mendengar istilah berkat. Istilah ini, jika dibicarakan, selalu dianggap berhubungan dengan kekayaan, kehormatan, keuangan dan berbagai keberhasilan hidup. Bacaan kita hari ini juga menyinggung tentang berkat. Namun Rasul Paulus tidak berbicara tentang berkat dalam pengertian bendawi atau jasmani, melainkan berkat dalam hubungannya dengan hal-hal rohani ketika percaya kepada Yesus Kristus.

Apa sajakah berkat-berkat itu? Dan bagaimanakah caranya seseorang itu memperoleh berkat rohani tersebut? Paulus dengan panjang dan jelas menguraikan minimal ada 5 (lima) jenis berkat rohani yang disediakan Allah bagi umatNya yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Berkat-berkat Rohani dimaksud adalah sebagai berikut:

1.      Kekudusan (ay. 4)
Istilah Kudus dalam Perjanjian Lama memiliki dua pengertian yakni: menyendirikan dan membuat cemerlang.  Istilah ini berasal dari bahasa Ibrani qdsy. Itu berarti istilah menguduskan di sini menunjuk pada reposisi atau memposisikan seseorang dan juga berarti mengubah status seeorang. Istilah ini juga berarti membuat seseorang itu menjadi cemerlang atau bersih dan suci.

Dari istilah ini dapat kita simpulkan bahwa ketika Allah menguduskan umatNya berarti juga bahwa Allah bukan hanya menyucikan dan mebersihkan kita hingga tak percacat, namun justru memindahkan posisi kita dan memisahkan kita dari kelompok yang lain sehingga kita dibedakan dari mereka yang tidak percaya. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Allah membuat kita berbeda status dari orang lain.

Bagaimana caranya? Lihat ayat 4 bacaan kita!  Kita menjadi kudus karena Allah memillih kita dari semua. Betapa hal ini menjadi berita baik. Kita tidak pernah mencalonkan diri. Tapi Allah dengan sengaja memilih kita dari sekian banyak orang. Kitalah yang terpilih.

Ini disebut dengan istilah Predistinasi. Istilah ini berarti ditentukan dari semula untuk diselamatkan. Sejak semula Allah telah menentukan dan memilih kita menjadi pribadi yang berbeda. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan status dari yang tidak layak menjadi kudus dan layak. Pemilihan Allah atau predistinasi ini merupakan doktrin yang penting bagi Rasul Paulus. Pemilihan (Yun: eklego) ini menunjuk pada terpilihnya suatu umat dalam Kristus oleh Allah supaya mereka kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya (bd. 2Tes. 2:13).  Paulus memandang pemilihan ini sebagai ungkapan kasih Allah ketika Allah menerima semua orang (walau tidak layak), yang menerima Yesus Kristus, menjadi umat pilihanNya. Jadi jelaslah bagi kita bahwa mereka yang dipilih untuk dikuduskan adalah mereka yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

2.      Menjadi Anak Allah (ay. 5)
Anugerah sebagai berkat Rohani selanjutnya bagi orang percaya, menurut Paulus, adalah menjadi anak Allah. Dengan kata lain bahwa Allah bersedia menjadi Bapa kita.  Menjadi anak Allah adalah hak istimewa terbesar dari keselamatan kita (Yoh.1:12; Gal.4:7) yang sekaligus merupakan landasan iman kita kepada Allah (Mat.6:25-34).

Menjadi anak-anak Allah sangatlah penting. Sebab sebagai anak-anak Allah kita menjadi ahli waris Allah bersama-sama dengan Anak Tunggal-Nya yakni Yesus Kristus (Rm.8:16-17).  Menjadi anak Allah membuat kita berhak, atas dorongan Roh Kudus, untuk berseru kepadaNya sebagai anak dan memanggilNya “Ya Abba, Ya Bapa (Gal.6:4). Tujuan akhir Allah menjadikan kita sebagai anan-anakNya bukan saja untuk keselamatan kita, melainkan juga menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (Rm.8:29).

Bagaimanakah proses menjadi anak-anak Allah itu terjadi untuk kita? Perhatikanlah ayat 5 bacaan kita! Kalimat “oleh Yesus Kristus” merupakan penekanan yang penting. Bahwa menjadi anak-anak Allah harus terjadi melalui Yesus Kristus. Mereka yang percaya dan beriman kepada Yesus Kristus sajalah yang dapat mengalami perubahan status dari anak-anak dunia menjadi anak-anak Allah.

3.      Penebusan dan Pengampunan Dosa (ay. 7)
Penebusan dan pengampunan haruslah dipandang sebagai satu kesatuan menyeluruh dalam karya keselamatan. Keselamatan tidak hanya terjadi lewat penebusan. Tidak juga hanya terjadi melalui pengampunan. Sebab tanpa pengampunan maka penebusan tidak mungkin hasilkan keselamatan. Demikian juga tanpa penbusan maka pengampunan tidak mungkin hasilkan keselamatan. Mengapa demikian? Kita perlu memahami konsep menebus ini dalam budaya Yudaisme untuk mengerti dengan benar proses keselamatan kita.

Istilah Menebus dari bahasa Ibrani qa’al yang berarti membayarkan sesuatu untuk jaminan tertentu. Dalam tradisi Ibrani, qa’al ini adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan cara membayarkan sesuatu kepada orang lain supaya sanaknya dapat ditebus. Dengan demikian, si penebus harus masih memiliki hubungan keluarga dan mampu membayar nilai tebusan.

Itulah sebabnya sebelum mendapat berkat Rohani berupa penebusan yang dilakukan Allah, maka yang ditebus harus memiliki hubungan keluarga. Dalam hal ini Allah memberi berkat Rohani menjadi anak-anakNya dulu (keluarga Allah) supaya qa’al dapat dilakukan. Lalu bagaimana dengan nilai atau harga penebusan? Harganya telah lunas dibayar melalui Yesus Kristus (1Kor.6:10). Setelah Allah menebus umatnya sehingga kita menjadi milikNya, maka bukankah Ia bebas melakukan apapun terhadap milikNya itu? (Mat.20:15). Apa yang dilakukan Allah terhadap milikNya tersebut? Dia mengampuni milikNya dari segala dosa mereka. Saat itulah keselamatan terjadi!

Perhatikanlah bahwa pernan Yesus Kristus lagi-lagi menjadi sentral atau pusat dalam karya keselamatan tersebut. Keselamatan adalah anugerah Allah yang Cuma-Cuma namun harus melalui pengorbana Yesus Kristus yang mahal hargaNya. Mereka yang ingin selamat harus berharap pada anugerah itu dan percaya pada Yesus Kristus yang menjadi “alat bayar” penebusan.

4.      Pengetahuan Rencana Allah (ay. 9)
Pengetahuan rencana Allah yang dimaksud Paulus sangatlah sulit dimengerti. Namun apabila kita menelusuri ayat 9 hingga ayat 11, maka menjadi teranglah bahwa kelaknanti semua ankan tergenapi semua rencana Allah yang masih rahasia namun telah diungkapkan secara inplisit dalam ayat 9-11 itu. Rencana Allah dimaksud adalah menyatunya seluruh alam semesta ini  dengan sorga di dalam Yesus Kristus. Artinya, kelak nanti dunia akan melihat bahwa Yesus Kristus adalah pusat dan kepala bagi jagad alam ini.

5.      Hadirnya Roh Kudus (ay. 13-14)
Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus selanjutnya akan beroleh Roh Kudus sebagai anugerah atau berkat Rohani. Fungsi Roh kudus ini menuntun umat menuju pada kesempurnaan kelak yakni keselamatan seutuhnya dan menjadikan kita sungguh-sungguh milikNya  kelak di sorga nanti (ay.14).

Bagian ini menunjuk pada fungsi Roh Kudus sebagai Penolong agar orang percaya tetap teguh iman kepada Yesus Kristus, mengarahkan dan penuntun hidup umat percaya agar tidak “kehilangan” anugerah keselamatan yang diberikan secara cuma-suma itu.  Tanpa Roh Kudus membimbing, maka sangat mungkin umat percaya kehilangan arah dan keluar dari  lingkaran anugerah keselamatan tersebut.

Peran Roh Kudus ini sangatlah penting dalam karya keselamatan. Roh kudus memetraikan kita dalam perjanjian keselamatan, yang nantinya pula menjadi jaminan keselamatan seutuhnya di dalam Kristus. Artinya, orang yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus.

Jemaat Tuhan....
Kita telah diselamatkan oleh Allah. Di dalamnya kita beroleh pengudusan yang memungkinkan kita menjadi anak-anakNya. Dengan menjadi anak-anakNya, maka Allah berhak menebus kita sebagai anggota keluarga Allah dan memperoleh pengampunan. Sebagai anak-anak Allah kitapun dibukakan suatu rahasia bahwa kelak nanti semuanya akan terbukti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang menjadi pusat kosmos ini. Artinya iman kita tidak salah pilih. Kelak nanti akan terbukti bahwa kitalah umat yang dimenangkan oleh kuasa kasih karunianya.

Batapa bahagianya kita dapat beroleh semua anugerah itu. Tidak semua orang dapat mengalami hal ini. Karena itu janganlah meninggalkan karunia keselamatan itu. Tetaplah menjadi pribadi yang telah diselamatkan. Jangan pernah murtad dan menyia-nyiakan anygerah yang sudah Tuhan berikan.

Karena itu, apa yang harus kita lakukan. Perhatikanlah bahwa semuanya harus bermuara pada puji-pujian bagi kemuliaan Allah. Kalimat puji-pujian itu muncul 4 kali dalam bacaan kita (ay. 3,6,12,14) untuk menunjuk bahwa umat yang telah diselamatkan adalah umat yang selalu memuliakan namaNya. Kita tidak diminta melakukan apapun selain memuji dan memuliakan namaNya. Karena itu muliakanlah Tuhan selalu dan tetaplah hidup dalam keselamatan itu. Amin.


Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...