Monday, March 24, 2014

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA RABU 26 MARET 2014


MARKUS 11:15-19


Jemaat Tuhan...
Perhatikan pertanyaan ini: “BAIT Suci kok disucikan?” Sebuah pertanyaan sederhana yang sungguh tidak sederhana. Sederhana, jika itu adalah ritual penyucian, seperti didoakan, atau lainnya. Namun menjadi tidak sederhana, jika itu menyangkut kualitas, spritualitas, sehingga Bait Suci perlu disucikan. Apalagi jika Yesus, Anak Allah, Sang Suci, yang melakukannya. Bukankah Bait Suci itu tempat suci yang seharusnya tak perlu disucikan? Namun itulah kenyataannya, Bait Suci, disucikan. Dalam catatan Alkitab peristiwa itu jelas sekali. Keempat Injil mencatatnya (Yohanes 2: 13-25, Matius 21: 12-17, Markus 11: 15-19, Lukas 19: 45-48).

Bait Suci, tempat beribadah itu ternyata telah hiruk-pikuk dengan aneka kegiatan dagang. Di sana ada pedagang merpati, domba, kambing, bahkan lembu. Wow, betapa luasnya area yang mereka gunakan. Belum lagi bau yang ditimbulkan, pasti sangat mengganggu, terutama ketika angin bertiup. Di sebelah lain, tak kalah sibuknya adalah para penukar uang. Mereka bagaikan money changer di era modern yang siap menanti pembeli, khususnya yang datang dari kota lain untuk beribadah (orang Yahudi perantauan, atau yang lainnya) yang tidak memiliki mata uang bait Allah. Mereka harus menukarkan uangnya pada mereka.

Jemaat Tuhan...
Apa yang salah di sana? Praktek dagangnya atau yang lainnya? Yang pasti, kritik Yesus dalam ayat 17 bacaan kita sangat tegas. Yesus berkata, “Rumah-Ku akan disebut rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”. Siapa yang menyamun alias merampok? Dalam prakteknya, ada berbagai informasi. Para pedagang binatang kurban, yang dagangannya dibutuhkan oleh umat, ternyata mencantumkan harga yang lebih tinggi dari harga pasar. Mark up, istilah kerennya. Mengapa umat tak membeli di pasar? Sulit, karena bisa dipersulit oleh penilai, alias quality control, yang sering kali tidak meluluskan binatang yang dibawa sebagai kurban yang layak.

Ada ketentuan tentang kurban yang diatur dalam kitab Imamat. Nah, di sinilah para penilai bermain mata dengan pedangang di halaman Bait Suci. Karena seluruh kurban yang dibeli dari pedagang di Bait Suci pasti lolos dan dianggap layak. Sementara yang dibeli di pasar seringkali ditolak. Namun ada konsekuensinya, yakni umat harus membayar lebih mahal jika membeli di halaman Bait Suci. Terjadilah kolusi antara pedagang dengan para imam dan petugasnya. Harga lebih mahal, memang mempermudah pembelian dan kelayakan kurban, tapi, juga memeras umat yang berada pada posisi lemah.

Hal seperti ini sudah terjadi sejak dulu kala. Amos berteriak atas kecurangan para imam yang seharusnya menjadi penggembala domba, bukan pemerah domba. Begitu juga di bisnis money changer, kurs yang diberlakukan selalu merugikan umat. Dan, lagi-lagi menguntungkan pedagang dan juga imam. Kebanyakan imam sangat bergairah ke Bait Suci, bukan untuk pelayanan melainkan pemerasan, bukan juga untuk mencari kekudusan tapi kolusi dengan pedagang. Dengan topeng pelayanan, mereka meraup keuntungan. Aroma transaksi dagang di Bait Suci jauh lebih kental dibanding ibadah suci yang menyenangkan hati Tuhan. Jadi, tidaklah mengherankan jika Yesus bertindak radikal, dengan menjungkirbalikkan meja dan bangku para pedagang. Tentu saja ini sangat menjengkelkan para imam dan pedagang. Jadi, tidaklah juga mengherankan jika mereka sangat berambisi untuk menghabisi Yesus. Walaupun kebanyakan umat merasa terbela, namun, tidak serta-merta mereka menjadi pengikut Yesus yang setia.

Jemaat Tuhan...
Sikap dan perbuatan Tuhan Yesus ini telah mengganggu arus pundi-pundi para imam dan pedagang, yaitu uang haram yang selama ini lancar dan “suci”, karena “disucikan” lewat pelayanan berkedok. Imam yang tak “beriman” melainkan mata duitan, pelayan yang tak “melayani” melainkan membebani, gembala yang tak “menjaga” melainkan memerah, pemimpin yang tak “memimpin” melainkan mempermainkan. Ibadah menjadi penuh kepalsuan. Asal membayar lebih, asal mengikuti ketentuan yang dibuat para imam, pengampunan dosa diperjualbelikan. Dan, celakanya, ternyata umat bisa jadi pembeli yang tak selektif. Mungkin merasa sama-sama diuntungkan. Yang satu untung uang, yang lain untung pengakuan, dan tak dikucilkan, belum lagi bisa lolos dari hukuman dosa (hukuman fisik).


Jemaat Tuhan...
Realita Bait Suci yang harus disucikan karena telah menjadi tempat bisnis ternyata tak berhenti. Situasi tetap berlanjut hingga kini. Sykukurnya tidak terjadi di GPIB. Namun di berbagai gereja ada banyak isu sinis tentang gereja berbisnis, gembala berbisnis. Banyak pelayanan khotbah yang juga dibisniskan. Serba uang, serba tarif, serba fasilitas, dan lain sebagainya. Semuanya disembunyikan dalam kata berkat Allah yang melimpah. Apa pun yang serba mewah, dari rumah, mobil hingga penampilan mewah, itu katanya, adalah simbol hamba Allah yang sukses. Buah tak lagi diperhatikan, melainkan popularitas. Perbuatan tak lagi diperhitungkan melainkan hanya khotbah di bibir saja.

Kendati demikian, sebagai jemaat GPIB, kitapun harus mawas diri. Apakah gereja Tuhan ini masih berfungsi dengan benar sesuai aturan Allah. Apakah umat Tuhan dan pelayan ketika melayani tidak mengambil keuntungan dari dalamnya? Apakah benar pelayanan dan persekutuan kita murni untuk kemuliaan Tuhan? Apakah kita telah bebas dari berbagai kepentingan untuk memanfaatkan suatu keuntungan dalam pelayanan? Tuhan Yesus kepala gereja menginginkan kesucian gereja dari fungsinya bukan hanya dari simbol atau tata atiran semata.

Jemaat Tuhan...
Dalam konteks masa kini, kita tidak lagi menjumpai peristiwa jual-beli seperti yang terjadi di halaman Bait Allah pada waktu itu. Namun demikian, kisah ini mengingatkan kepada kita, bahwa jika hati kita telah berubah setia, dari Allah kepada materi, maka perkara rohani dalam bentuk apapun, dapat saja kita manipulasi, demi mengeruk keuntungan yang besar bagi diri kita sendiri, apalagi jika kita memiliki kedudukan seperti para imam dan ahli Taurat.

Aturan dan ajaran firman Allah yang benar dapat diubah menjadi ajaran yang nampaknya benar, tetapi sesungguhnya tidak benar. Demikian pula, kecintaan terhadap materi tidak hanya menghancurkan kerohanian diri sendiri, tapi juga akan menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk datang kepada Dia. Kiranya setiap kita senantiasa waspada dan menjaga motivasi yang benar di hadapan Allah untuk membiarkan hidup kita sebagai Bait Allah berfungsi denga benar sesuai tujuanNya. amin

Saturday, March 8, 2014

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 12 MARET 2014


AMSAL 30:11-14

Pendahuluan
Bentuk dan penyajian kumpulan amsal milik Agur bin Yake dari Masa ini berbeda dari kumpulan amsal sebelumnya. Di sini kita dapat merasakan perasaan negatif serupa kitab Pengkhotbah, "Aku berlelah-lelah, ya Allah..." bandingkan dengan keluhan Pengkhotbah akan "jerih lelah yang sia-sia" (Pkh. 1:3; 2:11, dst.). Pertanyaan Agur, khususnya mengenai siapa Allah (ayat 4-5), mirip dengan pertanyaan Allah yang menantang Ayub karena berani mempertanyakan kebijaksanaan Allah (lih. Ayb. 38-42). Bedanya, Ayub mempertanyakan Allah, di sini Agur mengakui keterbatasannya dalam mengenal Allah.

Ajaran hikmat dari dari Agur dalam Amsal ini mengajak kita untuk menempatkan diri pada posisi yang tepat di hadapan Allah, pencipta dan pemilik alam semesta ini. Kita hanyalah ciptaan-Nya yang terbatas dan fana. Oleh karena itu, penting sekali kita mengakui bahwa sumber hikmat hanya pada Allah dan upaya menambahinya adalah sikap arogan manusia yang hanya menghancurkan diri sendiri (ayat 5-6, 13).

Sebaliknya hidup bergantung penuh pada Tuhan, bersyukur untuk anugerah-Nya yang senantiasa cukup (band. Flp. 4:12-13) adalah sikap orang berhikmat. Dampak sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan akan berwujud nyata dalam sikap hidup kita terhadap orang lain (ayat 11-14).

Telaah Perikop
Pada bacaan kita malam ini, Agur dalam Amsalnya menyebut tentang cara hidup yang keliru umat manusia yang tidak berkenan kepada Allah. Setiap orang harus mampu melakukan hal2 yang berkenan kepada Allah dalam upaya mengenal Allah, melalui perbuatan dan sikap hidup terhadap sesama. Kenyataannya, menurut Agur, ada beberapa sikap tidak benar yang datang dari hidup yang tidak mengenal Allah, yakni:

1.   Sikap terhadap orang tua (ay. 11)
Dengan gamblang penulis amsal ini menyatakan bahwa ada orang yang tidak menghormati orang tua melalui sikap yang tidak terpuji. Mereka mengutuki ayah nya dan bahkan tidak memberkati  ibunya. Pribadi seperti ini justru bukan orang yang mengenal Allah, malah sebaliknya mereka pastilah hidup jauh dari TUHAN. Sebab setiap orang yang tidak menghormati orang tua sudah pasti dikutuki Tuhan. Hal ini jelas dinyatakan dalam Ulangan 27:16 yaltu: Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu v  dan bapanya...”


2.   Sikap terhadap dosa diri (ay. 12)
Yang dimaksud dalam ayat 12 ini adalah tipe orang yang merasa benar dan orang lain adalah pendosa. Ia tidak perna mau menyadari bahwa dirinya adalah pribdai yang berdosa. Jarinya selalu menuding dosa orang lain, sementara dirinya sendiri dianggap paling suci.

Dalam Roma Roma 3:10-13, Paulus dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang benar; semua telah berbuat dosa. Pernyataan Paulus ini sangat penting dalam rangka pengenalan akan Allah. Jika seseorang menggap diri benar dan tidak mengakui dosanya, Ia sama dengan orang yang tidak mengakui Kasih Karunia Allah yang menyelamatkan orang berdoa. Sebab dengan mengaku diri berdosa, berarti ia membutuhkan pengampunan dari Allah. Selama pribadi seseorang tidak mengakui dosanya dan menggap diri benar, tidak ada pengampunan dari Allah. Pribadi demikian sudah jelas tidak mungkin mengenal Allah.

3.   Sikap angkuh dan menindas orang lain (13,14)
Penulis amsal selanjutnya menyebut tipe ke tiga dari pribadi yang terkategori tidak dapat pengenalan tentang Allah. Yaitu mereka yang tidak mengasihi sesamanya. Keangkuhan diri dan mengangap orang lain lebih rendah dari dirinya; dan bahkan dengan tega dan sadar menindas dan merugikan orang lain adalah contoh jelas dari Amsal bahwa pribadi ini tidak mengasihi sesamanya.

Rasul Yohanes mengatakan: Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.(1 Yoh.4:8). Hal ini berarti bahwa ukuran seseorang mengenal Allah adalah dengan mengasihi sesama. Orang yang membenci sesamanya, menindas dengan angkuh orang lain adalah pribadi yang tidak mengenal Allah. Lebih jauh dikatakan oleh Rasul Yohanes: Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (4:20). Ukuran mengasihi Allah dan mengenal Allah adalah mengasihi sesama. Konsep ini sangat sederhana namun tegas. Kita hanya dapat mengalami pengenalan terhadap Allah jika kita juga bersedia untuk mengasihi sesama.

Relevansi dan Aplikasi
Aplikasi Firman Tuhan dalam ayat 11-14 haruslah di baca dalam kerangka berpikir mulai dari ayat 1. Karena itu ada beberapa poin penting mulai dari ayat 1-14 yang dapat kita aplikasikan dan terapkan dalam kehiidupan ini, yakni:
1.  Betapa gamblangnya Agur menjelaskan dengan ekspresi bahasa (ay.1-3) bahwa seorang hanya akan memiliki pengenalan yang benar akan Allah yang Maha Kudus melalui penyataan-Nya: umum dan khusus. Setiap orang dapat menyaksikan penyataan umum saat menyaksikan karya ciptaan Allah yang agung dan dahsyat ay.(4). Tak seorang manusia atau dewa mana pun yang mampu menciptakan dunia sedemikian dahsyat ini. Penyataan umum dapat menghantar manusia mengenal Sang Pencipta yang agung dan besar. Lebih dari itu ada penyataan khusus yakni melalui firman dan Anak-Nya, supaya manusia tidak berhenti pada pengagungan karya ciptaan-Nya, melainkan masuk dalam karya keselamatan-Nya.
2.  Allah tidak mau manusia berhenti pada pengakuan bahwa dunia ini diciptakan-Nya, melainkan ada satu tujuan yang lebih mulia, yakni manusia mengerti bagaimana Allah menganugerahkan keselamatan kepada manusia berdosa. Melalui firman-Nya yang kudus yang tidak boleh ditambah atau dikurangi karena sifatnya yang murni (ay. 5-6), manusia mengerti betapa besar dan dalamnya kasih Allah, sehingga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal mati menanggung dosa manusia. Barangsiapa percaya kepada Anak-Nya beroleh keselamatan kekal, karena ia sudah pindah dari dalam maut kepada hidup.
3.  Selanjutnya, Seorang yang mengenal dan telah menerima karya keselamatan-Nya akan hidup dalam anugerah dan pemeliharaan-Nya. Inilah yang diminta oleh Agur. Ia mengenal bahwa manusia sulit berkata "cukup" karena selalu ada ketidakpuasan dalam dirinya. Bila ia merasa segala kebutuhan tercukupi ia tidak lagi memandang kepada Tuhan yang memberikan; bila ia hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, ia bisa mencuri dan mempermalukan Tuhan (bd. ay. 9). Jika demikian kapan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, ketika kaya dan ketika miskin pun tidak?! Berbeda halnya dengan seorang yang menyadari bahwa hidupnya adalah anugerah dan segala yang dimilikinya pun semata berdasarkan anugerah dan pemeliharaan-Nya, sehingga ia senantiasa mensyukuri Sang Pemelihara hidupnya.
4.  Pengenalan akan Allah selanjutnya harus pula dimulai dengan pengenalan akan diri sendiri yang penuh dosa (ay.12). Saatnya kita menyadari bahwa kita semua berdosa. Kita tidak lebih benar dari orang lain. Dengan pengenalan akan diri sendiri yang berdosa dan memerlukan Kasih Karunia Tuhan yang menyelamatkan, akan menggiring tiap pribadi untuk mengalami pengenalan akan Allah dalam Yesus Kristus Sang Penyelamat.
5.  Bukti nyata yang tak terpungkiri bahwa setiap orang telah mengalami penenalan akan Allah terlihat dari relasi yang baik dan harmonis dibangun dengan sesamanya manusia. Entah upaya mengormati orang tua (ay.11); ataupun relasi indah penuh kasih dengan orang lain (ay.13-14). Pengenalan akan Allah hanya dapat dilakukan apabila seseorang memiliki hubungan yang baik dengan TUHAN Allah dan mengasihiNya dengan sungguh. Namun, seeorang dapat dikatakan telah mengasihi Allah dengan sungguh, dapat terlihat pada tulusnya ia mengasihi dan menghormati sesamanya.

Selamat mengalami pengenalan yang utuh dan benar terhadap Allah yang menyatakan diriNya melaui segala ciptaan dan istimewa melalui karya keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus. Amin.

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKP 11 MARET 2014


AYUB 4:12-21

Pendahuluan
Kitab Ayub adalah sebuah tulisan yang kaya gaya sastranya, oleh karena itu kita akan menemukan beraneka ragam gaya sastra seperti dialog (pasal 4-27), percakapan seorang diri (pasal 3), wacana (mis. Pasal 29-41), narasi  (pasal 1-2), dan nyanyian pujian (pasal 28). Nama Ayub sendiri dalam bahsa Ibrani berarti sebagai “Di mana Bapaku?, walaupun memang ada dua tafsiran lain  yang menterjemahkan bahwa Arti nama Ayub adalah “Lawan Allah” dan “orang yang bertobat” (dari bahasa Arab).

Tujuan kitab Ayub ini adalah menyelidiki keadilan dan perlakuan Allah terhadap orang benar. Dalam dunia Perjanjian Lama, berkembang pemahaman bahwa kebiasaan Allah untuk memberkati orang benar dengan berbagai kekayaan dan reputasi, tidaklah menghalangi pengembangan kebenaran yang sejati. Tetapi dalam situasi Ayub, kenyataan yang terjadi adalah Allah tidak berkewajiban untuk memastikan bahwa orang benar menerima berkat dan hanya berkat, seperti yang dipersoalkan Iblis (dalam Ayub 1:9-11). Tetapi juga bisa melewati suatu fase yang dinamakan dengan penderitaan.

Sehingga tema pokok yang didiskusikan dalam kitab Ayub ini
adalah tentang penderitaan orang yang tidak bersalah, berdasarkan suatu kenyataan bahwa orang yang saleh juga hidup menderita. Dan Ayub menjadi pusat pembicaraan dari dialog-dialog yang dilakukan olehnya dengan keempat temannya yang bukan orang Yahudi, yakni Elifas, Bildad, Zofar dan Elihu, di mana mereka yang sebenarnya datang sebagai penghibur, tetapi juga melemparkan tuduhan-tuduhan yang tidak beralasan terhadap Ayub, dan terkesan menunjukkan sikap permusuhan.

Telaah Perikop
Bagian bacaan kita saat ini yakni Ayub 4:1-12 adalah salah satu dialog Ayub dengan teman-temannya yang bernama Elifas, sesudah mereka mendengarkan curahan hati Ayub atas apa yang dialaminya, yakni kisah penderitaannya yang telah kehilangan segala-galanya, baik harta kekayaan maupun keluarganya, termasuk penderitaan jasmani yang sedang dialaminya. Elifas, seorang yang berasal dari Teman (daerah Edom – Yes 49:7) ia merasa prihatin dengan apa yang dialami oleh Ayub. Bahwa sebagai seorang yang dulunya menikmati kemakmuran, bahkan selalu membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan darinya, kini Ayub tidak berdaya.

Dan sekalipun Elifas tahu bahwa Ayub adalah orang yang takut akan Tuhan, dan yang tidak pernah berputus asa, termasuk dalam meresponi penderitaan yang sementara ia alami, maka ia pun menyarankan kepada Ayub bahwa agar terbebas dan keluar dari belenggu penderitaan ini, maka Ayub harus tetap menyandarkan hidupnya kepada Tuhan dan hidup terus dalam kesalehan.

Ternyata dalam dunia Perjanjian Lama teologi tradisional, yaitu: “ORANG YANG MAKMUR, PASTI ORANG BENAR DAN ORANG YANG MENDERITA PASTI ORANG JAHAT”, cukup banyak mempengaruhi kehidupan umat manusia. Sehingga Elifas berpikir bahwa bahwa yang menyebabkan Ayub jatuh di dalam penderitaan yang luar biasa itu tidak datang dari luar, tetapi datang justru dari dirinya sendiri yang telah berbuat dosa.

Pada satu pihak, perkataan Elifas tentunya tidak salah bahwa kebinasaan dan kehancuran itu datang dari berbagai perbuatan jahat yang pernah dilakukan seseorang (ay 7-9). Dan di samping itu bahwa realitas yang melekat kepada kehidupan manusia bahwa tidak ada seorang pun yang benar dan tahir di hadapan Tuhan, termasuk hamba-hamba Tuhan (ay 17-18) tentu lebih menguatkan pendapat Elifas bahwa Ayublah yang berdosa.

Tetapi pada pihak lain, Elifas yang semulanya datang untuk menghibur, ternyata juga memojokkan dan menempatkan Ayub pada posisi yang sangat tidak berdaya. Ungkapan-ungkapannya justru tidak mendatang-kan penghiburan, apalagi menolong Ayub dalam menghadapi persoalan yang terjadi, tetapi justru membuat Ayub semakin terpuruk, oleh karena semuanya itu tidak menjawab dan menyentuh persoalan yang dialami oleh Ayub sendiri. Bahwa apa yang diperkirakan oleh Elifas tidaklah demikian yang dilakukan oleh Ayub. Bahwa ternyata dalam kesalehan dan ketaatannya kepada Allah, dia telah mengalami suatu kehidupan yang berat, yang dinilainya bukan akibat dari segala perbuatannya selama itu.

Relevansi dan Aplikasi (Penerapan)
Maksud dan tujuan baik kadangkala belum tentu juga menghasilkan suatu hal yang baik. Menghibur orang yang dekat dengan kita adalah suatu hal yang pantas dan wajar. Tetapi kadang-kadang kita harus memikirkan apakah tindakan yang kita lakukan benar-benar menyentuh ataupun menjawab persoalan yang dialami oleh saudara dan teman kita itu. Mungkin kita harus lebih hati2 di dalam mengerjakan sesuatu dengan perhitungan yang matang. Sebab keinginan kita untuk menjadi berkat bagi sesama kita bisa berubah menjadi batu sandungan bagi orang lain. 

Kisah Ayub yang kita renungkan kali ini mau memberikan warna yang baru dalam drama kehidupan umat manusia. Bahwa ternyata tidak selamanya hidup menjadi orang benar di hadapan Allah harus menikmati berbagai keselamatan yang dinikmati di dunia ini, seperti kemakmuran, kedamaian, keamanan, kekayaan dan kebahagiaan.

Bahwa ungkapan semakin dekat dengan Tuhan semakin besar pencobaan itu datang, membuat kita berpikir apakah Allah itu adil di dalam kehidupan kita. Tetapi mungkin kita bisa merenungkan sebuah lagu: “Tak pernah Tuhan janji hidupmu takkan berduri tak pernah Dia janji lautan tenang”. Bahwa ternyata kehidupan manusia itu kadangkala harus mengalami apa yang dinamakan kesusahan, sesuai dengan kadar dan situasi yang dialami oleh seseorang. Tetapi itu semuanya itu tidak hanya datang dari pada manusia, tetapi berasal dari keinginan Iblis yang tidak pernah membiarkan umat Tuhan dalam keadaan tenang. 

Walaupun demikian ternyata Allah tidak akan pernah meninggalkan umatNya yang mengalami penderitaan. Sebab ending dari drama kehidupan Ayub menunjukkan keadilan Allah yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Bahwa selagi kita setia dan taat dalam keadaan apapun maka Allah tidak akan pernah sedetik meninggalkan kita yang mengandalkan Dia.

Ingatlah: 

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.  (1 Kor 10:13). Amin.

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKB 10 MARET 2014


MAZMUR 77:12-21

Pendahuluan
Siapapun kita pasti pernah mengalami pasang surut kehidupan. Ada saat hidup penuh dengan damai sejahtera, namun juga ada kondisi di mana hidup penuh tantangan dan persoalan. Bisanya ketika mengalami hidup yang penuh damai dan kesenangan, kita menikmatinya dengan penuh kegirangan dan kelegaan. Bahkan tanpa sadar, kesenangan hidup itu sering membawa kita terlena dan melupakan sumber dari segala kebahagian hidup, yakni Tuhan sang pengasih. Bukan itu saja, kesenangan hidup jugalah yang kemudian mulai menggiring kita untuk menjauh dari Tuhan dan jatuh dalam dosa.

Lain halnya ketika kemudian hidup yang kita jalani tiba2 berubah dari bahagia menjadi sengsara dan penuh pergumulan. Hal utama dan pertama yang dilakukan adalah mencari-cari Tuhan untuk memohon pertolongan. Bahkan kadang sadar atau tidak, kita mencari Tuhan bukan untuk meminta pertolongan, melainkan meminta pertanggung-jawaban Tuhan. Tuhanlah yang layak kita anggap penyebab sengsara hidup ini. Tuhan kita anggap sudah tudak mengasihi kita lagi. Sehingga penyebab utama hidup sengsara, kita sebut Tuhanlah penyebabnya.

Telaah Perikop (Tafsiran)
Kondisi inilah yang tergambar dalam bacaan kita hari ini. Mazmur ini diciptakan waktu keadaan umat Israel susah sekali, yaitu di masa yang menyusul kembalinya umat dari pembuangan. Hati pemazmur sangat tertekan dan ia hampir hilang kepercayaannya kepada Tuhan sebagai pelindung dan penolong umatNya (bd. Maz 77:2-11).

Jika kita memperhatikan awal kisah pembuangan Israel dan bahkan melihat pola laku bangsa pilihan ini, maka pastilah kita setuju bahwa pembuangan itu dan kesengsaraan tersebut merupakan dampak dari dosa dan kesalahan umat kepada Allah. Namun sengsara hidup dan derita yang mereka alami acap kali hanya direfleksikan sebagai bentuk murka Allah dan kebencian Allah bagi umatNya. Tuhan sudah tidak mengasihi Israel dan menolak bangsa pilihan (bd. Ay. 8,9) adalah anggapan umum umat waktu mengalami pembuangan. Tuhan menjadi “kambing hitam” dan penyebab sengsara mereka.

Cara berpikir yang keliru ini dituturkan oleh Asaf penulis Mazmur mulai dari ayat 2-11 bacaan SBU pagi. Menurut pemazmur apa yang mereka alami dalam kesengsaraan disebabkan oleh Tuhan. Mengapa demikian? Karena pemazmur melihat sendiri dan mengingat masa lalu tentang berbagai derita pembuangan hingga mereka kembali ke kampung halaman. Dalam keputusasaan mengalami derita, pemazmur berseru dengan nyaring meminta pertolongan, namun tangan Tuhan seakan enggan menolong (ay.3,4). Bahkan lebih jauh, pemazmur mencoba merenungkan ulang kisah masa lalu hidup mereka, dan dalam kegetiran ia menyimpulkan bahwa Tuhan telah berubah (ay.11).

Syukurlah bahwa perspektif yang keluru ini diubah oleh Asaf dengan cara pandang yang baru ketika mengalami persoalan dan tekanan kehidupan. Perhatikan beberapa hal yang disampaikan dan dilakukan pemazmur ketika melihat masalah dan beban hidup itu dengan cara yang baru, yakni:
1.       Pemazmur tetap melihat masa lalu. Tetapi kali ini dengan cara yang berbeda. Ia tidak melihat dan mengingat masa lalu yang kelam dan sulit. Namun yang diingat dan direnungkan adalah perbuatan-perbuatan TUHAN yang ajaib (ay.12.).

Mengingat perbuatan Allah yang ajaib rupanya adalah upaya pemazmur untuk membuktikan bahwa TUHAN tetap berkuasa atas mereka dan perbuatan ajaib Allah selalu ada sejak zaman purbakala. Dengan cara pandang seperti ini, Asaf ingin mengajak umat Israel untuk meyakini bahwa kuasa Allah tidak pernah berubah. Sekaligus meralat pernyataan ayat 11 bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah, tidaklah benar. TUHAN Allah tidak berubah sebab sejak purbakala perbuatan ajaibNya telah ada.

Dengan mengingat-ingat perbuatan Tuhan masa lampau, ia berharap beroleh kekuatan untuk tetap percaya dan mengandalkan Dia! Ingatannya terhadap perbuatan Tuhan masa lalu membawanya kepada kekaguman luar biasa pada kuasa Allah sekaligus menjadikan itu sebagai kekuatannya menghadapi tantangan hidup.

2.       Perhatikan ayat 13 bacaan kita. Pemazmur bukan hanya mengingat perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib itu di masa lampau, namun juga ia merenungkan peristiwa2 itu sebagai suatu refleksi iman tentang kuasa Allah yang ajaib. Walaupun tidak disebutkan hasil perenungan itu, namun kita dapat menduga dengan pasti bahwa hasilnya adalah hal-hal positif yang membangkitkan semangat iman untuk berjuang dan berpeng-harapan dalam TUHAN. Hal ini terlihat jelas ketika ia dengan berani, semangat menyebut atau menceritakan perbuatan2 TUHAN itu.

Tidak disebutkan mengapa ia menyebut perbuatan TUHAN itu. Hal ini harus dilihat dalam pemahaman pengajaran Israel dari generasi ke generasi. Menyebut perbuatan Tuhan berarti menceritakan perbuatan TUHAN itu. Ini bermakna bahwa pemazmur tidak hanya merenungkan untuk diri sendiri namun ia berani bersaksi tentang TUHAN yang ajaib tersebut kepada orang lain. Itu berarti pemazmur sedang mengajarkan kepada orang lain tentang Allah dan perbuatanNya yang ajaib itu.

3.       Perhatikanlah bagaimana cara pemazmur menuturkan dan menyebut perbuatan2 ajaib yang dilakukan TUHAN dalam hidup bangsa Israel pada ayat 16-21..! SANGAT DETAIL, itulah cara pemazmur menyebut perbuatan-perbuatan TUHAN yang ajaib itu. Terkesan kuat seakan pemazmur mengalami sendiri peristiwa nenek moyangnya mengalami tangan TUHAN yang membebaskan mereka melalui Musa dan Harun. Pemazmur dengan lugas dan jelas menyebut tahap demi tahap berbuatan Tuhan itu.

Hal ini perlu dipertanyakan!! Bagaimana mungkin pemazmur mengingat detail peristiwa masa lalu padahal ia sendiri tidak mengalami zaman Musa dan Harun? Jawaban yang pasti adalah bahwa pemazmur mendengar kisah itu dari orang tua yang menuturkannya dari generasi ke generasi. Mungkin juga ia membaca kisah tersebut dalam tulisan-tulisan suci Israel. Yang pasti pemazmur sangat mengenail Allah dan perbuatanNya itu dan tidak melupakan kebaikan2 yang telah Tuhan perbuat baginya dan nenek moyang Israel.

Relevansi dan Aplikasi (penerapan)
semua orang pernah mengalami kesulitan di dalam kehidupan, termasuk orang Kristen. Di dalam kesusahan hidup, siapakah yang kita cari? Seringkali kita tidak lagi mau mencari TUHAN karena kita menganggap TUHANlah yang bertanggungjawab atas semua kesusahan kita. Kita menganggap Dia tidak dapat menjaga dan memelihara kita sebagaimana janjiNya. Pemazmur di dalam kesusahannya tetap berseru kepada TUHAN. Jadi walaupun kita menyimpan banyak pertanyaan tentang TUHAN, tetapi sepatutnya kita meneladani pemazmur dengan tetap bersandar kepada TUHAN.

TUHAN tidak pernah meninggalkan kita. Dalam kesulitan kita, seharusnya kita tetap beriman kepada TUHAN karena percaya bahwa tidak ada allah lain selain daripada TUHAN. Untuk bisa sampai pada tingkatan iman seperti ini, maka langkah pertama yang harus kita perbuat adalah merenungkan dan mengingat perbuatan Tuhan yang ajaib dalam hidup kita. Carilah dan ingatlah bagaimana TUHAN menolong kita, dan apa yang kita alami bersama TUHAN.

Semua kita tentu pernah mengalami keajaiban TUHAN di dalam hidup ini, bukan? Jadikan pengalaman-pengalaman iman di masa lalu itu sebagai kekuatan menghadapi pergumulan dan tangan saat ini. Bahkan bukan itu saja, kita harus mengikuti apa yang diperbuat pemazmur, ykani menceritakan berbagai keajaiban itu kepada orang lain dan turun-temurun kita agar merekapun dapat menemukan kekuatan iman karena percaya pada Allah yang tidak berubah serta penuh kuasa itu.


Jadi marilah kita tetap beriman dan bersandar pada-Nya. Pengalaman masa lalu kita telah membuktikan bahwa TUHAN tidak pernah meninggalkan kita. Dia akan selalu setia kepada janjiNya. Selamat menghayati; mengingat dan merenungkan perbuatan Allah dalam hidup kita. Percayalah bahwa jika Dia menolong kita di masa lalu, maka kuasaNya pun ada dan siap mendampingi kita di saat mengalami pergumulan hari ini ataupun esok. Sebab sudah terbukti bahwa “TUHAN tidak pernah berubah”.  Amin.

Tuesday, March 4, 2014

ARAHAN UMUM PENYUSUNAN PROGRAM KERJA 2014-2015

GPIB GETSEMANI BALIKPAPAN
=========================================================

Tema Sentral Jangka Panjang II 2006-2026:
Yesus Kristus Sumber Damai Sejahtera (Yoh 14 : 27)

Tema KUPPG Jangka Pendek II, 2011-2016:
Membangun Tatanan Kehidupan Masyarakat Yang Rukun Dan Adil
(Roma 15 : 5-7)

Tema Tahunan 2014-2015:
“MEMBANGUN KEMITRAAN ANTAR UMAT DEMI KESELAMATAN BANGSA”
(Roma 10 : 14 – 15)

PENDAHULUAN
Lazimnya “Arahan Umum” Penyusunan Program disampaikan pada saat Kelompok Kerja (Pokja) Penyusunan Program akan memulai seluruh kegiatannya. Namun karena suatu kondisi tertentu, maka “Arahan Umum” ini baru dapat diterima oleh Pokja Penyusunan Program untuk menjadi salah satu acuan penyusunan Program Kerja dan Anggaran 2014-2015 GPIB “Getsemani” Balikpapan. Kami berharap kiranya kondisi ini tidak mengurangi semangat dan kerja kita merampungkan seluruh kegiatan penting ini.

Selanjutnya, berkat dan Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus Kepala Gereja, saat ini kita telah berada di penghujung tahun pelayanan 2013-2014, dan kita akan memasuki tahun pelayanan yang baru 2014-2015. Itu berarti Program Kerja yang akan kita susun ditahun pelayanan yang baru nanti, adalah Tahun Program yang keempat untuk capaian sasaran Jangka Pendek II Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (KUPPG II) di rentang tahun 2011-2016. Untuk maksud tersebut di atas, maka arahan umum ini disampaikan sebagai panduan umum bagi kita semua agar GPIB “Getsemani” Balikpapan tetap terus terhisap dalam perjalanan “Gerakan Ber-GPIB” secara Sinodal.

PARAMETER PROGRAM GPIB
Untuk diketahui, saat ini secara Sinodal, seluruh jemaat GPIB, termasuk Getsemani Balikpapan, berada dalam Tema Besar Lima Tahun II (KUPPG Jangka Pendek II 2011-2016) yakni: “Membangun tatanan kehidupan masyarakat yang rukun dan adil (Roma 15:5-7). Dengan demikian, GPIB diharapkan hingga tahun 2016 telah berhasil “Turut Serta” terlibat dalam membangun kehidupan jemaat dalam gereja Tuhan ini dan masyarakat Indonesia yang erat bersekutu, rukun dan adil.

Untuk maksud di atas telah ditetapkan 5 tema berbeda tiap tahunnya, di mana pada tahun program 2013-2014 yang akan berakhir ini, kita telah dituntun untuk mengarahkan semua program pada Tema Tahunan: Kemitraan dan kesetaraan demi kesetiakawanan sosial (Galatia 3:28). Tema ini telah kita upayakan terwujud melalui berbagai bentuk Program yang telah diputuskan bersama. Kebersamaan dan penguatan nilai persekutuan antar umat diharapkan berhasil dilakukan di tahun program yang akan berakhir ini. Beberapa muatan tema dalam program di maksud antara lain:
  1. Ibadah Wisata
  2. Ibadah Gathering Pelkat PKB
  3. Pembentukan Paduan Suara
  4. dll

Namun sayang sekali bahwa 2 program pertama di atas tidak dapat dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena kondisi dana jemaat yang tidak memadai untuk membiayai program penting ini. Program Pembentukan Paduan suara yang diharapkan dapat menjawab tema “Kemitraan” di tahun program yang akan berakhir ini, juga tidak dapat terlaksana dengan sempurna. Perlu ada evaluasi khusus mengenai alasan dan kendala yang menjadi penyebab stagnasi program ideal ini.                                 
Bagaimana dengan Penyusunan Program 2014-2015 yang akan mulai kita kerjakan dalam Kelompok Kerja (POKJA) Penyusunan Program Pelayanan GPIB “Getsemani” Balikpapan ini?  Ada beberapa parameter (tolok ukur) dalam rangka penyusunan program untuk tahun 2014-2015, yakni:

1.       Tema Tahunan GPIB 2014-2015 Secara Sinodal
Sesuai dengan Program tahun 2014-2015 yang merupakan Tahun IV dari KUPPG GPIB Jangka Pendek II  (2011-2016) diterangi tema:  “MEMBANGUN KEMITRAAN ANTAR UMAT DEMI KESELAMATAN BANGSA” (Roma 10 : 14 – 15). Dalam tema tersebut terkandung nilai-nilai, bahwa sesuai realitas kemajemukan yang terdapat dalam masyarakat, gereja tidak ingin sendirian, atau merasa mampu sendiri, tetapi ia perlu bermitra dengan umat lain, bahkan semua komponen lain dari masyarakat dan bangsa ini dalam menghadapi dan menggumuli masalah masalah masyarakat dan bangsa ini. [1]

Sehubungan dengan makna tema tersebut, maka GPIB Jemaat “Getsemani” Balikpapan perlu menyusun program yang dapat menjembatani hubungan gereja dengan masyarakat luas. Selain Program-program yang sifatnya kebersamaan yang perlu menjadi perhatian khusus, kita juga perlu memikirkan mata-mata program yang bersentuhan langsung dengan “pihak luar” dari gereja yakni masyarakat sekitar.

Hal kongkrit yang saya usulkan adalah pada bidang GERMASA (Gereja, Masyarakat dan Agama-agama) dan Lingkungan Hidup perlu di buat suatu program kegiatan Perayaan HUT RI Bersama Masyarakat; Aksi Lingkungan Hidup berupa Kerja Bhakti Membersihkan Lingkungan yang dapat dilakukan bersama masyarakat sekitar. Pada Bidang Teologi, perlu dirancang suatu ibadah bernuansa “cinta Lingkungan” sebagai suatu gerakan Gereja yang peduli pada lingkungan Hidup.

Bidang PPSDI-PPK perlu juga memasukkan Program Khusus dimaksud dengan muatan tematis “MEMBANGUN KEMITRAAN ANTAR UMAT DEMI KESELAMATAN BANGSA”. Pelkat misalnya dapat membuat program Kunjungan dan Donasi Yayasan Panti Asuhan dan atau Pati Werda yang ada di kota Balikpapan. Pembinaan pun dapat mengangkat tema-tema  Hukum dan HAM yang ada dalam bidang GERMASA antara lain “Undang-Undang IT” dan atau “Pemanasan Global dan Dampak Bagi Lingkungan Hidup”.

Pada bulan April yang akan datang, Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Gereja dipanggil untuk berperan aktif pada kegiatan dimaksud. Karena itu dalam terang tema tahunan “Membangun Kemitraan Antar Umat Demi Keselamatan Bangsa” perlu juga dipikirkan suatu program litas bidang antara bidang Germasa dan Bidang PPSDI guna menyiapkan warga jemaat dapat melaksanakan Hak Pilihnya sebagai anugerah TUHAN. Kegiatan dimaksud dapat bersinergi dengan Bidang Teologi melalui seruan-seruan Khotbah untuk menyiapkan Calon Legislatif yang ada di jemaat dan juga seluruh Warga Jemaat GPIB “Getsemani” Balikpapan pada tataran iman dan panggilan pengutusan, sekaligus bentuk antisipatif agar jemaat tetap utuh dalam kesatuan walau berbeda dalam hal dukungan ketika melaksanakan hak konstitusi dan demokrasinya. Di Bidang Teologi, Gereja perlu memberikan dukungan moril dan dukungan doa bagi para calon Legislatif yang ada dalam jemaat tanpa mengabaikan batas wilayah gereja dalam dunia politik agar lembaga ini tidak terjebak pada politik praktis.

2.       Prioritas Bidang Sesuai KUPPG Jangka Pendek II (2011-2016)
Sesuai dengan Tata Gereja GPIB buku II tentang Pokok-Pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (PKUPPG), maka Prioritas Bidang KUPPG Jangka Pendek II (2011-2016) khususnya pada tahun IV 2014-2015 adalah pada BIDANG GERMASA.

Karena itu sangat diharapkan bahwa tahun ini seluruh program kerja dan anggaran kita terintegrasi dalam Bidang Germasa. Semua bidang yang ada termasuk Ketua Bidang di PHMJ pun perlu untuk bersinergi dengan Bidang Germasa untuk menopang terlaksanakanya berbagai target yang ada di bidang tersebut.

3.       Program Kerja Tingkat Sinodal hasil PST tahun 2014 di Pangkal Pinang
Seluruh POKJA akan dibagikan Program Sinodal hasil keputusan PST tahun 2014 di Pangkal Pinang. Setiap Bidang kiranya mengkritisi program2 Sinodal dimaksud untuk kemudian menjadi Program Kegiatan dan Anggaran tahun 2014-2015 GPIB Jemaat “Getsemani” Balikpapan. Merupakan kewajiban Sinodal bagi kita warga GPIB untuk menyukseskan program-program tingkat Sinodal yang telah disepakati di Pangkal Pinang. Karena itu sedapat mungkin kita mendukung semua program dimaksud yang tentunya memperhatikan kemampuan dan kondisi dana kita.

4.       Program Kerja Tingkat Mupel GPIB Kaltim I Hasil Persidangan Tahunan 2014-2015 di GPIB “Bukit Benuas” Balikpapan.
Sidang Tahunan Mupel GPIB Kaltim I telah dilaksanakan di GPIB “Bukit Benuas” Balikpapan pada tanggal 28 Februari - 01 Maret 2014. Program ini telah disepakati bersama dan disahkan untuk dilaksanakan oleh seluruh GPIB di Mupel Kaltim I. Itu berarti Program Mupel GPIB Kaltim I tahun 2014-2015 wajib dimasukkan menjadi Program Jemaat.

5.       Hasil Pertemuan Warga Sidi Jemaat
Seperti yang kita ketahui bahwa selang 4 (empat) minggu terakhir ini telah diadakan PWSJ di empat sektor. Hasil usulan jemaat tentang program 2014-2015 akan segera dirangkum oleh PHMJ menjadi dokumen tersediri, yang nantinya menjadi salah satu sumber penyusunan Program Kegiatan dan Anggaran di Tingkat jemaat. Dengan demikian setiap anggota Pokja akan memiliki 4 dokumen sebagai Draf Program yakni Program Sinodal; Program Mupel GPIB Kaltim I; Program Jemaat 2013-2014; dan Hasil PWSJ.

P E N U T U P
Dibagian akhir ini, saya mengajak kita semua untuk bersyukur karena di akhir tahun Program 2013-2014 kita telah berhasil membangun fasilitas pelayanan berupa, 1 unit Rumah Kostor dan Guest House. Rencananya bangunan tersebut akan diresmikan oleh Ketua Majelis Sinode GPIB tanggal 30 Maret yang akan datang.

Hal lain yang juga perlu menjadi perhatian kita bersama, bahwa saat ini sedang disiapkan perangkat document untuk memilih Diaken dan Penatua Antar Waktu. Istilah “Antar Waktu” dimaksud adalah bahwa Diaken-Penatua yang terpilih dan diteguhkan bukan pada awal periodisasi berjalan, namun pada antar waktu periodisasi kemajelisan yang sedang berjalan. Fungsi dan Wibawa Jabatan tetaplah sama dengan mereka yang dipilih di awal Periode Masa Bhakti Majelis Jemaat.[2] Diharapkan bahwa pada tanggal 30 Maret 2014, GPIB “Getsemani” Balikpapan akan ketambahan 4 (empat) orang Presbiter baru untuk menunjang kebutuhan tenaga pelayan di Gereja Tuhan ini, sehingga jemaat Tuhan dapat terlayani dengan baik. Kita semua dihimbau untuk turut serta dan berperan aktif dalam kegiatan ini.
 
Akhirnya selamat berbagi pengalaman, pengetahuan dan kebijakan dalam dinamika penyusunan PROGRAM KERJA kedepan. Tuhan Yesus memberkati kita.


Balikpapan, 03 Maret 2014
Majelis Jemaat GPIB "Getsemani” Balikpapan



 Pdt. I Nyoman Djepun, S.Th.
KETUA



[1] Arahan Ketua Umum Majelis Sinode GPIB dalam Pembukaan menyelenggarakan Persidangan Sinode Tahun 2014 di Hotel Novotel Pangkal Pinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tanggal 19 s/d 21 Pebruari  2014
[2] Penjelasan lebih lanjut soal Diaken – Penatua antar waktu dapat dilihat dalam Tata Gereja GPIB, khususnya Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter Pasal 3 ayat 12, BUKU III (biru) hlm 71, 72.

Sunday, March 2, 2014

BAHAN RENUNGAN IBADAH RABU 05 MARET 2014


YESAYA 58:9-12

Pendahuluan
Banyak orang beranggapan bahwa seseorang itu dikatakan "saleh", bila dia mampu menjalankan setiap ketentuan dan tuntutan ajaran agamanya. Namun anggapan ini sangat berbahaya, bila ketentuan dan tuntutan ajaran agama tersebut dijalankan dengan motivasi salah. Misalnya, agar dipuji orang dan disebut sebagai orang saleh. Secara khusus, Yesaya menyinggung pola berpuasa yang salah. Puasa dianggap cukup bila kita tidak makan dan minum. Namun penindasan, pemerasan, kelaliman terhadap para buruh, orang asing dan kaum lemah tetap dilakukan. Bukankah hanya orang-orang munafik yang melakukan hal ini? Tuhan Yesus, dalam Perjanjian Baru, mengecam: "Celakalah hai orang-orang munafik!"

Telaah Perikop
Kalau kita memperhatikan pembagian kitab Yesaya, nas kita dikelompokkan pada bagian Trito Yesaya (Psl.55-66), yang menceritakan kehidupan bangsa Israel setelah pulang dari pembuangan Babel. Nas kita (Yesaya 58:4-14) merupakan kritikan terhadap ibadah umat Israel, dalam hal ini sehubungan dengan cara mereka berpuasa. Satu hal yang positif bahwa umat Israel sekembali mereka dari pembuangan Babil, mereka masih melakukan ibadah dengan rajin, rajin mengkaji kebenaran di dalam hukum Allah (ayat 2-3) dan juga rajin berpuasa tentunya dengan harapan besar agar Tuhan mengabulkan atau memberikan apa yang menjadi harapan mereka sebagai bangsa yang baru “merdeka” yakni untuk hidup sejahtera.

Tidak disebutkan apakah puasa dilakukan secara bersama-sama (keseluruhan umat), secara kelompok atau pribadi-pribadi, juga jenis puasa yang dilakaukan dan lamanya berpuasa. Hal ini dikemukakan karena dalam Perjanjian Lama hanya ada satu praktek puasa yang ditentukan yaitu pada saat hari Pendamaian (hari pengampunan dosa – Im 16; 23:26-32).

Saat itu, seluruh bangsa Israel merayakan hari itu dengan berpuasa dan beristirahat. Namun sebagaimana telah disebutkan bahwa praktek puasa sudah biasa dilakukan dalam kehidupan umat Israel sejak nabi Musa, baik secara perorangan (mis, 2 Samuel 12:22) mapun kadang-kadang secara bersama-sama (mis, Hakim 20:26; Yoel 1:14). Selain kewajiban hukum agama, biasanya ada dua alasan seseorang atau sekelompok orang berpuasa, yaitu: bukti lahiriah dukacita dan pernyataan pertobatan. Berpuasa juga kerap kali dilakukan dengan tujuan memperoleh bimbingan dan pertolongan Allah atau meminta kuasa dalam memerangi setan. Ada juga orang yang berpuasa demi orang lain.

Apapun tujuannya, praktek puasa harus diikuti penyerahan diri kepada Tuhan yang tampak dalam kelakuan hidup yang baik. Sebab praktek puasa tanpa diikuti sikap hidup yang benar adalah sia-sia. Artinya doa mereka, harapan mereka tidak akan dikabulkan Tuhan (ayat 4b). Hal inilah yang dikeritik nabi Yesaya dalam perikop kita sebab nampak kecendrungan praktek puasa yang dilakukan umat telah merosot menjadi kebiasaan leglistik - sekedar upacara ritual tanpa penyerahan diri kepada Tuhan (bd. Zakaria 7:5), dan menjadi perilaku yang munafik (Matius 16:6) demi untuk membenarkan diri sendiri (Lukas 18:12).

Puasa sebagai suatu ibadah telah kehilangan maknanya. Itulah sebabnya dalam ayat 6-7 nabi Yesaya dengan keras menekankan arti puasa yang benar. Memang puasa dilakuakan dalam relasi antara manusia dengan Tuhannya, namun relasi dengan Tuhan itu seharusnya juga berdampak positif dalam relasi dengan sesama. Bila puasa demikian yang dilakukan, lebih dari yang diharapkan akan diberikan Allah kepada umatNya, juga diberikan kepada kita. Itulah janji yang terkandung dalam ayat 8-12: (a) Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu (kesehatan jasmani dan rohani). (b) Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (hubungan yang mesra dengan Tuhan, diumpamakan hubungan bapa dan anak) (c) TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. (d) Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni".

Relevansi dan Aplikasi
Berita keselamatan yang disampaikan Allah melalui nats ini mengarahkan kembali umat Allah untuk memasuki ibadah yang benar-benar memiliki semangat kasih yang utuh dan jika tidak demikian maka itu adalah kemunafikan. Munafik dalam hal ini adalah ketidak jujuran dihadapan Allah. Adalah tindakan yang bodoh jika ada orang Kristen yang mau mencoba bermain-main dengan bersandiwara kepada Tuhan dengan harapan dapat menyelamatkan hidupnya, sementara dia sedang berhadapan dengan Allah yang Maha mengetahui.

Allah menghendaki agar dalam berpuasa, umat belajar untuk memiliki kesungguhan hati dan merendahkan diri. Tujuannya, agar kita terlepas dari keinginan untuk menindas orang lain, terlepas dari sikap egois dan serakah. Berpuasa berarti bertobat, yaitu meninggalkan cara hidup yang lama, dan memiliki hidup yang baru sesuai dengan kehendak Allah: membela hak yang lemah, memberi makan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, dll. Apakah keberadaan kita di tengah masyarakat adalah menjadi berkat yang nyata dirasakan oleh siapa pun di sekeliling kita?

Bagaimana mungkin berkat penyertaan Allah bekerja dalam hidup kita jika kita sendiri tidak jujur di hadapan Allah. Dalam nats kita dikatakan “Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati”. Ibadah selayaknya semakin membawa kita mengenal Allah melalui FirmanNya yang kita pergumulkan dan pelajari untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan bukan menonjolkan citra diri yang membawa pada kesombongan rohani.

Adalah hal wajar jika umat Israel mempertanyakan mengapa Tuhan tidak mengindahkan dan memperhatikan ibadah yang mereka lakukan, sebab sampai kapanpun mereka tidak akan mendapat tuntunan Tuhan dalam hidup mereka sebab motivasi ibadah dan perilaku yang mereka lakukan hakikatnya jauh dari ibadah sesungguhnya yang di inginkan oleh Tuhan. Ibadah yang kita laksanakan bukanlah untuk menambah pahala ataupun poin namun semakin kita sering memasuki ibadah kepada Tuhan kita akan semakin diperbaharui di dalam FirmanNya untuk memampukan kita menjadi anak Allah di tengah-tengah dunia ini yang walaupun kita berjalan di tanah yang kering namun tuntunan Tuhan selalu memperbaharui kekuatan kita menjalani hidup.


Kehadiran hidup kita ditengah-tengah dunia ini seperti taman yang baik yang memberika kesejukan dan keindahan dan juga seperti mata air yang tidak berkesudahan. Tuntunan Tuhan akan nyata dalam hidup ketika kita senantiasa memperbaharui hidup dengan FirmanNya. Amen

Dari berbagai sumber

BAHAN RENUNGAN PKP 04 MARET 2014


1 TIMOTIUS 3:14-16

Hidup bersama sebagai keluarga adalah sangat indah dan dirindukan semua orang. Tidak ada orang yang ingin hidup sendiri. Hidup sebagai sebuah keluarga membuat kita merasa satu; saling membutuhkan, memperhatikan, menjaga dan mempercayai.

Penggalian Teks
Paulus menasehati jemaat untuk hidup sebagai keluarga Allah yang taat beribadah, tiap anggotanya berpegang pada kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah bahwa Allah telah menyatakan diri sebagai manusia dalam Yesus Kristus; bahwa Ia dibenarkan dalam Roh, diakui oleh para malaikat, diberitakan kepada semua bangsa, dipercayai di dalam dunia dan akhirnya diangkat dalam kemuliaan. Seorang anak yang dididik sejak kecil tentang kebenaran, pasti akan memegang teguh ajaran itu. Dengan demikian, tidak gampang disesatkan oleh ajaran apa pun.

Yang dianggap pokok oleh Paulus disampaikan dalam aa.15: “bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah”. Frase itu memang menyimpulkan pp.2-3 tadi. Kata “keluarga” menerjemahkan kata oikos yang pada dasarnya berarti rumah, tetapi sudah dipakai dalam 3:4 & 12 untuk penghuni rumah, artinya, rumah tangga atau keluarga. Tetapi perlu diperhatikan bahwa maksud istilah oikos adalah orang-orang yang tinggal bersama, bukan keluarga besar yang mungkin tersebar. Jemaat pada saat itu masih berkumpul di rumah-rumah, tetapi bahasa “oikos Allah” berbicara lebih luas, tentang jemaat yang dalam rangka iman hidup bersama. Sebagaimana dilihat dalam 3:4 tadi, penilik berfungsi sebagai pemimpin (orang tua) dalam “rumah” jemaat itu.

Tentang oikos Allah itu, Paulus menambahkan dua deskripsi lagi. Yang pertama adalah “jemaat dari Allah yang hidup”. Kata “jemaat” (asli ekklesia) berarti sidang, dan justru berasal dari konteks sekuler (seperti Kis 19:39). Ekklesia Allah adalah orang-orang yang berkumpul di sekitar Allah dalam ibadah, seperti Israel berkumpul di sekitar Kemah Suci. Ekklesia itu berbeda dari sidang rakyat karena pusatnya adalah Allah yang hidup.

Oikos dan ekklesia Allah itu yang disebut “tiang penopang dan dasar kebenaran”. Kata “kebenaran” di sini menerjemahkan kata aletheia, apa yang sesungguhnya, bukan dikaiosune, tingkah laku yang benar. Dari a.16, jelas bahwa kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran tentang Kristus, kebenaran yang justru terancam oleh pengajar sesat. Jika keluarga dan jemaat itu kacau, kebenaran itu akan goyang atau runtuh. Tafsiran saya tentang maksud Paulus ialah bahwa kebenaran tentang Yesus itu menjadi kabur, baik di dalam jemaat maupun ke luar, sedangkan Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (2:4).

Ayat.16 menyampaikan isi kebenaran itu. Kebenaran itu disebut sebagai rahasia yang agung. Bahasa “rahasia” dalam Ef 3:3 & 9 berarti sesuatu yang dulunya dirahasiakan tetapi sekarang dinyatakan. Rahasia itu menyangkut “ibadah”, artinya, bukan sekadar ibadah bersama tetapi bagaimana kita berhubungan dengan baik dengan Allah. Kuncinya adalah Kristus, Kristus yang menjadi manusia, dibangkitkan dan diterima di surga, diberitakan dan diimani di antara bangsa-bangsa, dan akan kembali dalam kemuliaan. Karena a.16 mengutip himne yang puitis, beberapa tafsiran tadi butuh penjelasan. “Menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” merujuk pada seluruh pelayanan-Nya. “Rupa manusia” menerjemahkan kata daging, dan merujuk pada kemanusiaan-Nya yang sejati, bukan sekadar kemiripan. “Dibenarkan dalam Roh” paling jelas jika dibandingkan dengan Rom 1:4, “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati”.


Relevansi dan Aplikasi
Paulus mau supaya Timotius dikuatkan dalam tugas pelayanannya dengan mengingat tempat jemaat dalam rencana Allah sebagai penopang kebenaran yang agung tentang Kristus. Walaupun tugas kita tidak persis sama dengan Timotius, kita semua berperan dalam menguatkan atau melemahkan jemaat, sehingga kebenaran tentang Kristus menjadi lebih jelas atau lebih kabur.

Tidak kebetulan bahwa Paulus menempatkan pelayanan Timotius di tengah riwayat karya Kristus. Kebenaran tentang Kristus bukan pertama-tama sebuah rumusan, misalnya tentang kasih Allah atau anugerah, melainkan pemberitahuan tentang apa yang telah dilakukan Allah di dalam Kristus. Dasarnya adalah inkarnasi, bahwa Kristus, Anak Allah, telah datang ke dalam dunia ini sebagai teladan dan saudara yang berbagi dalam pengalaman kita di dunia. Kemudian, ada dua pasangan. Yang pertama, Roh Kudus menyatakan bahwa Yesus benar, dan Dia disambut oleh malaikat-malaikat di surga. Yang kedua, berita kebangkitan disampaikan kepada bangsa-bangsa, dan diterima di dunia. Dengan demikian, Yesus dijunjung tinggi baik di surga maupun di bumi. Karena diterima di surga, kemuliaan Yesus tidak terancam oleh kekacauan jemaat, hanya, kebenaran itu akan menjadi kabur bagi bangsa-bangsa yang mendengar pemberitaan itu dari jemaat yang kacau.

Kembali, dari artian kata aslinya dan a.16, kebenaran di sini bukan “isi kehendak Allah” bagi manusia, melainkan berita tentang apa yang dilakukan Allah. Paulus di sini tidak mengklaim bahwa gereja adalah dasar keberesan masyarakat, tetapi bahwa gereja adalah dasar kejelasan kebenaran tentang Kristus bagi semua orang. Motivasi untuk perbaikan hidup di sini adalah bahwa kekacauan hidup mengaburkan berita itu, sesuatu yang tidak akan diinginkan jika kita mencintai Yesus dan mengagumi karya-Nya.

Kebenaran di sini juga bukan bahwa Allah memelihara hidup kita sehari-hari. Hal itu benar, tetapi di sini Paulus berbicara tentang Kristus dari inkarnasi sampai kedatangan kembali. Memang yang dilihat orang adalah kehidupan jemaat, tetapi hal itu hanya berguna kalau menunjuk kepada Kristus yang kita sembah.

Salah satu model gereja yang dianut GPIB adalah 'Gereja sebagai Keluarga Allah'. Ini tampak misalnya dalam upaya perumusan Pemahaman Iman yang baku, Tata Gereja yang satu, penempatan Bidang Pelayanan Kategorial sebagai unit missionner, serta kesatuan dalam setiap gerak langkah dan layan yang telah dimulai dengan Pelaksanaan Sakramen Perjamuan dengan satu Tata Ibadah. Mari kita terus wujudkan citra diri GPIB sebagai sebuah keluarga, tanpa menghilangkan kepelbagaian yang ada agar GPIB tetap berdiri dengan dasar dan tiang yang kokoh, sehingga dapat menampung dan memayungi dan membimbing semua orang, khusus warganya di dalam kebenaran. Amin
















BAHAN RENUNGAN PKB 03 MARET 2014


MAZMUR 110:1-4

Pendahuluan
Mazmur bukan hanya membahas kehidupan sehari-hari, tetapi juga berbicara tentang Mesias yang akan datang. Tidak semua pasal dalam kitab Mazmur bisa kita pastikan konteks penulisannya. Akan tetapi, pemahaman tentang jenis mazmur yang kita baca bisa membantu kita. Tanpa memahami jenis mazmur, kita akan sulit memahami maksud penulis. Secara khusus, Mazmur 110 hanya bisa dipahami bila kita sadar bahwa mazmur tersebut bersifat nubuat yang ditulis bukan berdasarkan konteks yang sedang dihadapi oleh penulis.


Telaah Perikop
Mazmur 110 ini dinyanyikan pada hari pemahkotaan atau ulang tahun pemahkotaan tersebut. Karena hubungan raja yang erat dengan kerajaan Tuhan dan dengan Sion maka Mazmur-mazmur Raja ini harus selalu diikat dalam hubungan dengan madah ‘Tuhan Raja’ dan ‘Nyanyian Sion’. Mungkin ditanyakan mengapa Mazmur-mazmur ini yang begitu mengagungkan raja Israel oleh jemaah Yahudi sesudah pembuangan tetap dipertahankan dan tidak dikeluarkan dari kitab puji-pujian mereka. Mazmur-mazmur ini tetap dipertahankan karena mereka memupuk pengharapan mesianis. Pengharapan ini dikukuhkan oleh pewartaan para nabi (Yes. 9:1-6; 11:1-10; Am. 9:11-12; Yer. 23:5-8; Yeh. 34:23-24; 37:24).

Selanjutnya, Mazmur Raja ini dalam tradisi umat Israel Perjanjian Lama berhubungan dengan ‘pelantikan seorang raja’. Menurut Christoph Barth, pengangkatan seorang raja di Israel ada segi dan tahapnya yang tersembunyi pada pemandangan mata orang. Apabila Allah melihat atau memilih orang-Nya, pun apabila Ia mengurapinya dengan perantaraan seorang nabi, dan terutama sekali apabila roh-Nya mulai berkuasa atas orang yang terpilih itu, maka semuanya ini merupakan tindakan-tindakan yang bersifat rahasia. Tetapi pengangkatan itu ada juga tahapnya yang nyata, di mana segala-galanya berlangsung di muka umum, dengan lembaga-lembaga masyarakat tertentu sebagai pelaksana dan saksi. Upacara resmi ini sudah biasa disebut penobatan atau pelantikan seorang raja. Sungguhpun harus dibedakan, tetapi kedua bidang itu tak dapat dipisah-pisahkan yang satu dari pada yang lain. Jelaslah pengangkatan tersembunyi oleh Tuhan itu sudah merupakan tindakan politik, seperti sebaliknya penobatan nyata oleh masyarakat itupun merupakan upacara keagamaan yang bersifat rohani.

Perhatikan bunyi ayat 1 bacaan kita: “Firman Tuhan kepada tuanku : “Duduklah di sebelah kanan-Ku sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.” Mazmur ini berbicara tentang ke Tuhanan Mesias, Raja dan keimanan-Nya, permusuhan orang jahat dan pemerintahan-Nya di bumi. Dengan jelas mazmur ini bernubuat tentang Yesus Kristus (mazmur ini dikutip tujuh kali dalam Perjanjian Baru). Yesus menerapkan ayat 1 pada diriNya ketika menyatakan ke Allahan-Nya (Mat.22:44) dan rasul Petrus mengutip Mazmur 110:1 untuk menekankan ke-Tuhanan Kristus (Kis. 2:33:35;5:30-31). Yesus juga mengaku di hadapan Mahkamah Agung bahwa sebagai Mesias dari Mazmur 110, Ia sekaligus “Anak manusia yang datang kepada Allah, akan kelihatan di sebelah kanan Allah….dan diberikanNya kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja” yang kekuasaannya meliputi segala bangsa dan bersifat abadi/selamanya (bnd. Markus 14:61-64;Matius 26:63-65;Daniel 7:13-14).

Jadi menurut mazmur 110 raja di Sion oleh Tuhan sendiri dan diberikan bagian dalam pemerintahanNya atas duna: itu sebabnya ia menjadi pahlawan perang dalam usaha Allah untuk menaklukan dan menghakimi dunia. Sebagaimana dikatakan dalam ayat 6: Menghukum bangsa-bangsa. Ayat ini menggambarkan kedatangan Yesus Kristus ke dunia sebagai seorang panglima perang untuk mengalahkan dan menghukum semua yang menentang. Kerajaan Allah dan kebenaranNya (lih.Why.19:11-21) Perjanjian Baru memakai atau memilih Mazmur 110:1 dan 4 sebagai kunci pengertian tentang Yesus adalah Raja dan Imam untuk selamanya, tetapi bentuk pemerintaan atas nama Allah—yaitu Kerajaan Allah itu—tidak bersandarkan pada perintah dan tidak dilengkapi dengan kuasa untuk memaksakan perintahNya (bnd. Tawaran pada Matius 4:8-10 dan keinginan rakyat pada Yoh 6:15).

Relevansi dan Aplikasi
Mazmur 110 ini bernubuat tentang Yesus Kristus sebagai Raja dan Imam selamanya. Yesus Kristus memakai kuasanya untuk melayani, mengalahkan atau akan memusnahkan kejahatan berdasarkan kuasa, kehendak dan tindakan Allah Bapa Sorgawi, dalam pemerintahan Kerajaan Allah. Yesus Kristus telah menjadi bagi kita Imam untuk selamanya dengan menyerahkan diriNya sebagai korban, Dia taat kepada Allah dan menjadi pokok keselamatan kita yang abadi dan yang memberikan jaminan dalam kehidupan kita agar kita dikuduskan menghadapi Allah dengan hati yang tulus penuh kebahagiaan. Yesus Kristuslah Raja dan Iman selamanya atas kehidupan kita, oleh sebab itu hendaklah kita tetapi setia dan taat hanya kepadaNya dengan selalu menyampaikan pujian dan syukur kepadaNya. Kita yakin, Iapun mengaja kita untuk turut bekerjasama dengan Dia dalam kasih kepada Allah dan sesama. AMIN

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...