Friday, July 19, 2013

BAHAN RENUNGAN MINGGU 21 JULI 2013

EFESUS 5:22-30
(dikutip dari buku Sabda Guna Dharma edisi 28 --- Juli s/d Agustus 2013)


PENGANTAR
Membangun hubungan antara suami-istri dalam suatu ikatan perkawinan terkesan mudah namun sulit untuk menjalaninya. Siapapun saudara yang sudah menikah pasti mengerti apakah maksud dari pernyataan di atas. Menyatukan berbagai perbedaan antara suami-istri dalam satu wadah yakni lembaga perkawinan sehingga tetap langgeng hingga maut memisahkan adalah tantangan yang sulit untuk dihadapi. Diperlukan kesabaran, kesungguhan cinta kasih, dan pengertian untuk mampu menjadi pasangan yang baik antar keduanya. Pepatah: “asam di gunung; garam di laut menyatu dalam belanga” sering dijadikan analogi bagaimana hubungan suami istri itu menyatu dalam kepelbagaian budaya dan karakter masing-masing. Namun, sekali lagi, semuanya tidak semudah asam dan garam bercampur dalam belanga. Bukan saja butuh pengorbanan dan usaha keras untuk menjalaninya, tetapi juga perlu memahami dengan bijak bagaimana seharusnya relasi atau hubungan suami-istri itu dibangun.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menguraikan dengan rinci bagaimana seharusnya posisi dan relasi antara suami-istri itu dipahami. Menurut Rasul Paulus, suami-istri ketika membangun hubungan satu dengan yang lain dan memposisikan diri dan pasangan masing-masing harus bercermin pada hubungan Kristus dan jemaat (bd. ay.32). Bagaimanakah memahami hubungan suami-istri yang bercermin pada hubungan Kristus dan jemaatNya? Mari perhatikan detail uraian Paulus di bawah ini. 


PEMAHAMAN TEKS

I.        Latar belakang dan isi surat Efesus

Surat kepada jemaat di Efesus ini ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia sedang berada dalam penjara di Roma sekitar tahun 60-61 M. Surat ini dikirim Paulus ke Efesus melalui seorang yang bernama Tikhikus (6:21,22) yang juga adalah orang yang sama menyampaikan surat kepada jemaat Kolose. Hal ini terlihat dengan jelas pada kesamaan atau kemiripan redaksional penutup kedua surat ini yakni pada Kol.4:7 dan Ef.6:21-22.

Pada saat itu Efesus dan masyarakatnya dari sisi keagamaan masih sangat dipengaruhi pada penyembahan terhadap dewi Artemis. Penyembahan terhadap dewi ini menjadi hal pokok dan utama -bukan saja karena ia dianggap sebagai demi kesuburan dan kemakmuran-, namun juga karena di beberapa tempat pada budaya Yunani Kuno, dewi Artemis dipandang sebagai Soteira (penyelamat) dan Agrotera (pemburu) dan merupakan dewi pemimpin para penjaga dari segala hal yang ada di alam liar seperti pohon dan sungai. Bagi Efesus, dewi Artemis sangat dipuja karena ia dianggap menjamin keselamatan dan kehidupan mereka.

Itulah sebabnya isi surat Efesus yang dituliskan Paulus ini berintikan ajaran tentang bagaimana memperoleh keselamatan sejati dalam diri orang percaya melalui Yesus Kristus. Hal ini dengan sengaja dutulis untuk mematahkan pemahaman keselamatan yang muncul diberbagai budaya dan bangsa, termasuk Efesus.

Menurut Paulus, sumber keselamatan dunia ini terletak pada kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus (1:3-8) yang kelak nanti akan menyatukan Seluruh alam, baik  yang di surga maupun yang di bumi, menjadi satu dengan Kristus  sebagai “Kepala" (1:10). Di dalam bagian pertama surat Efesus ini (pasal 1-3) dikemukakan bagaimana penyatuan itu terjadi. Untuk menjelaskan hal itu ia menceritakan bagaimana Allah Bapa telah memilih umat-Nya; bagaimana Allah melalui Yesus Kristus, Anak-Nya, mengampuni dan membebaskan umat-Nya dari dosa; dan bagaimana janji Allah itu dijamin oleh Roh Allah.

Selanjutnya, Di dalam bagian kedua (pasal 4-6), Paulus menyerukan kepada para  pembacanya supaya mereka hidup rukun agar kesatuan mereka sebagai  umat yang percaya kepada Kristus dapat terlaksana. Paulus menekankan soal bagaimana seharusnya hidup satu di tengah keragaman termasuk perbedaan karunia (4:1-16); menjaga pembaharuan diri agar tidak tercemar oleh berbagai kedurhakaan orang-orang yang tidak percaya (4:17-25); mengekang diri agar terhindar dari segala percekcokan yang membawa skisma atau perpecahan dalam Tubuh Kristus (4:26-32).

Dalam membangun relasi dengan orang lainpun, yang seiman maupun yang tidak percaya, Paulus menegaskan tentang pola dan sikap yang benar sesuai teladan yang diberikan Kristus. Umat diajar untuk memahami hubungan dengan orang lain termasuk hubungan antara suami-istri (5:22-33), hubungan orangtua dan anak (6:1-5), hubungan antar pekerja dan majikan (6:6-9); harus bercermin pada sikap dan teladan yang diberikan oleh Yesus ketika membangun hubungan dengan jemaatNya. Hubungan Kristus dan jemaatNya harus menjadi pola hubungan antar pribadi dengan jemaat.

Paulus menyadari bahwa tidaklah mudah bagi jemaat menjalani hidup sesui dengan kehendak Kristus Yesus yang telah memberi teladan bagi umatNya. Akan ada banyak tantangan dan godaan yang muncul untuk menghalangi umat menjalani hidup yang berkenan kepadaNya. Itulah sebabnya Paulus dalam bagian akhir suratnya (6:10-20) menyebut upaya umat menghadapi tantangan itu sebagai suatu peperangan rohani, sehingga perlu mem-perlengkapi diri dengan berbagai senjata perlengkapan Allah untuk mengalahkan Iblis.


II.      Pokok Ajaran Efesus 5:22-30

Pada pasal 5:22-30 Paulus menguraikan tentang bagaimana seharusnya sikap seorang suami dan istri terhadap pasangannya masing-masing. Relasi yang dibangun antara suami-istri, menurut Paulus haruslah mendasarkan pada hubungan Kristus dan jemaat sebagaimana diuraikan di atas. Ada beberapa pokok penting yang perlu dijelaskan terhadap uraian Paulus dalam ayat 22-30 bacaan kita ini, yakni:

1.      Perhatikanlah bunyi ayat 22 pasal 5 dalam surat Efesus ini. Paulus menulis: Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan”. Apabila membaca pernyataan Paulus ini dengan cara melepas konteksnya, maka sudah pasti pernyataan ini lebih sering memunculkan sentimen gender. Dengan redaksi ini para suami yang tidak bertanggung jawab sudah pasti menggunakan ayat ini untuk menuntut ketundukan yang absolut dari istrinya.

Untuk itu kita perlu memahami ayat ini pada konteks yang tepat dalam hal kedudukan ayat ini pada keseluruh tulisan surat Paulus di Efesus. Di dalam teks Yunaninya, ayat ini sangat berbeda dengan terjemahan Indonesianya. Aslinya tertulis sebagai berikut: α γυνακες τος δίοις νδράσιν ς τ κυρίῳ, (baca: ai gunaikes tois idiois andrasin os to kurio) yang dapat diterjemahkan dengan bebas menjadi: "Hai, istri, kepada suamimu seperti kepada Tuhan." Dengan kata lain istilah “tunduklah” tidak terdapat dalam teks aslinya pada ayat 22. jika Kalimatnya seperti ini, maka dalam tata bahasa Indonesia kalimat tersebut tidaklah sempurna dan tanpa makna sedikitpun karena tidak memiliki satupun kata kerja (dalam hal ini: “tunduklah”).

Jika demikian, darimanakah istilah “tunduklah” diterjemahkan oleh lembaga Alkitab Indonesia? Pernyataan ayat 22 ini memiliki hubungan yang erat dengan ayat 15-21 pasal 5 surat Efesus. Paulus menyatakan bahwa dalam rangka mewujudkan kehidupan yang telah diselamatkan oleh Yesus Kristus, umat Tuhan harus hidup dengan bijaksana (ay.15) dengan cara mengerti kehendak Tuhan. Mereka yang hidup bijaksana sebagai anak-anak terang, yang telah diselamatkan, terlihat dari sikap hidup sehari-hari yakni:
·     Jangan mabuk anggur (ay.18);
·     Bermazmur dan bernyanyilah untuk memuliakan Tuhan (ay.19);
·     Ucaplah syukur senantiasa dalam segala sesuatu (ay.20) serta;
·     Rendahkanlah diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus (ay.21)

Pada bagian terakhir inilah yaitu pada kalimat: “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (ay.21), pernyataan ayat 22 menjadi jelas. Istilah ποτασσόμενοι (baca: hupotassomenoi) yang diterjemahkan LAI dengan istilah “Rendahkanlah diri” ini berasal dari istilah Yunani ποτάσσω (baca: hupotasso) yang berarti tunduklah, rendahkanlah diri, dan atau menempatkan diri di bawah. Istilah ini bermakna kesediaan untuk menempatkan diri di bawah dari orang lain dengan penuh kerelaan.

Dari uraian di atas dapatlah kita mengerti bahwa istilah “tunduklah” yang diterjemahkan LAI pada ayat 22 jelas tidak ada dalam kalimat, namun mendapatkan kata kerja itu dalam hubungannya dengan ayat 21. Dengan demikian untuk memahami ayat 22 secara benar kita harus memaknainya dalam kaitan dengan ayat 21.

Setiap orang yang telah diselamatkan dan menjadi kesatuan dengan Kristus haruslah saling merendahkan diri satu dengan yang lain sebagai wujud takut akan Kristus atau ketaatan kepada Kristus (ay.21). Hal inipun berlaku bagi seorang Istri kepada suaminya (ay.22). Kesediaannya untuk tunduk atau merendahkan dirinya kepada suami bukan karena takut kepada suami, bukan pula karena suami kuat dan dia lemah, bukan juga karena tuntutan norma masyarakat dan budaya; namun sikap rela merendahkan diri kepada suami ditunjukkan sebagai wujud ketaatan kepada Kristus. Ketaatan kepada Kristus adalah alasan yang utama seorang Istri bersikap hormat dan tunduk kepada suami. Itulah pemahaman yang tepat dari ayat 22 dalam kesatuan makna dengan ayat 21 tadi, sehingga sentimen gender dapat dihindari.

Pengertian ayat 22 di atas sekaligus memaknai secara benar arti dari kalimat “seperti kepada Tuhan”. Hal ini tidak dimaksudkan bahwa seorang istri dituntut untuk tunduk kepada suami karena suami adalah Tuhan. Tidak juga kemudian memberi kesan bahwa suami adalah “tuhan kecil” dalam rumah tangga. Namun seorang istri tunduk dan menghormati suaminya dalam kesadaran bebas tanpa paksaan sebagai ekspresi iman yang sangat mengasihi Kristus dan taat pada kehendakNya.

Pemaknaan ini sekaligus memberikan pengertian pada kewajiban istri dalam ayat 24 yang harus tunduk kepada suami dalam segala sesuatu. Kalimat segala sesuatu bukan berarti membenarkan segala hal yang dilakukan suami yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Segala sesuatu tidak pernah dimaksud bahwa istripun harus patuh pada tuntunan dan arahan suami yang tidak benar dan membawanya pada kehidupan dosa. Jika kondisi ini terjadi, maka istri harus tetap berpegang pada “di dalam takut akan Kristus”. Artinya, hormat dan tunduknya seorang Istri ada dalam ketaatannya pada Kristus. Sehingga istri akan memilih taat pada kehendak Kristus dari pada melakukan dosa karena mengikuti kehendak suami.

2.      Bagaimana dengan kewajiban suami? Paulus menyatakan dalam ayat 25 sbb: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya...”  Kesan yang ditangkap dari ungkapan ayat 25 ini jika dihubungkan dengan tugas suami dan istri adalah “tidak seimbang”. Seakan tugas istri sangat berat yakni harus tunduk kepada suami, sedangkan tugas suami cendrung ringan yakni “hanya” mengasihi istri.

Benarkah demikian? Perhatikanlah lebih seksama kalimat pada ayat 25 ini. Suami diperintahkan untuk mengasihi istri. Istilah mengasihi ini dalam bah. Yunani adalah γαπάω (baca: agapao) dari kata dasar agape (kasih). Istilah ini memiliki makna yang cukup dalam, bukan sekedar mengasihi atau mencintai. Istilah agape atau agapao itu sendiri penggunaannya dalam Perjanjian Baru bukan langsung berasal dari Yunani klasik tapi lebih cenderung dari LXX / Septuaginta (terjemahan PL dalam bah.Yunani), yakni אָהַב (‘ah’ev = Kasih) yang menggambarkan keagungan dan ketulusan kasih Allah kepada manusia (bd. Hos.11:1-4). Itulah sebabnya Paulus menyebut bahwa bentuk nyata Kasih Kristus kepada jemaatNya adalah lewat menyerahkan (παραδίδωμι = paradidomi = memberi) diriNya -ay.25) sebagai wujud keagungan dan ketulusan Kasih Allah. Jadi puncak tertingi dari Kasih Allah bagi umatNya adalah lewat pemberian diriNya bagi dunia. Menyerahkan DiriNya adalah adalah bentuk kongkrit dari kasih Allah.

Apabila seorang suami diperintahkan untuk mengasihi istrinya, itu bukanlah perintah yang “ringan” dan atau kurang sepadan dengan perintah kepada istri yang harus tunduk (hupotasso: merendahkan diri; menempatkan diri di bawah) pada suaminya. Sebab kualitas mengasihi dari seorang suami kepada istrinya harus bercermin pada Kasih Kristus untuk jemaatNya. Oleh karena bentuk nyata kasih Kristus kepada jemaatNya lewat menyerahkan (paradidomi = memberi) diriNya (ay.25) maka suami yang mengasihi istri berarti pribadi yang bersedia menyerahkan dirinya pada istrinya. Seorang yang menyerahkan diriya kepada orang lain adalah pribadi yang bersedia juga untuk merendahkan diri pada orang lain itu.

Sama seperti Kristus mengasihi jemaatNya dilakukan lewat merendahkan diriNya menjadi seorang hamba sebagai wujud pemberian diri Allah bagi keselamatan dunia, maka demikian juga dengan seorang suami. Jika suami mengasihi istrinya, berarti ada kesediaan untuk menyerahkan dirinya kepada istrinya termasuk kesediaan untuk merendahkan diri (hupotasso: tunduk). Jadi dibalik perintah mengasihi mengandung makna merendahkan diri juga sebagai wujud pemberian diri seorang suami kepada istrinya. Bukankah itu perkara yang tidak mudah?

Hal yang sama pun berlaku kepada seorang istri. Jika ia diperintahkan untuk merendahkan diri atau tunduk (hupotasso) kepada suami, mengandung arti bahwa ia pun harus memberi dirinya kepada sang suami. Karena memberi diri adalah wujud dari mengasihi, maka istri yang merendahkan dirinya adalah istri yang mengasihi suaminya. Dengan demikian kedua perintah yang berbeda untuk suami istri ini, mengandung makna yang sama yakni mengasihi untuk memberi diri kepada masing-masing pasangannya yang terwujud lewat saling merendahkan diri. Bukankah hal ini sangat indah jika direnungkan?

3.      Klimaks dari hubungan suami istri itu berpuncak pada pemahaman bahwa mereka bukan lagi dua melainkan satu. Istri tunduk kepada suami karena Kristus; demikian juga suami mengasihi istri karena Kristus, dengan demikian peran dan fungsi mereka disatukan dalam Kristus pada ikatan Kasih Kristus yang agung yang telah mengasihi jemaatnya termasuk suami dan istri itu. Inilah yang dimaksud dalam ayat 28-30 bacaan kita. Suami Istri disatukan dalam Kasih Kristus. Kesatuan itu digambarkan bagaikan kesatuan tubuh dimana Kristus adalah kepalanya. Karena mereka yang berbeda ini telah menjadi satu (tubuh) maka adalah tidak tepat jika suami membenci atau menyakiti istrinya yang adalah tubuhnya sendiri.

Paulus menekankan bagian ini untuk menunjukkan bahwa di hadapan Tuhan, suami-Istri bukan hanya dipandang sama fungsi dan tanggung-jawabnya namun juga lebih dari itu suami istri dilihat sebagai suatu kesatuan yang utuh. Bahwa benar keduanya berbeda, namun mereka adalah satu dalam perbedaan itu. Menyakiti tangan sama dengan membuat seluruh tubuh merasakan sakit, demikian juga menyakiti suami atau istri membuat suami-istri merasakan ketidaknyaman itu.

Rasul Petrus menegaskan: “hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1Ptr.3:7). Hal ini menguatkan apa yang disampaikan Paulus. Suami yang menyakiti istri adalah suami yang kehilangan fungsi doa sebagai imam untuk mendoakan keluarga yang adalah jemaatnya.


RELEVANSI - APLIKASI

Seorang laki-laki dan perempuan adalah dua pribadi yang berbeda. Mereka kemudian menjadi satu dalam perkawinan sebagai suami-istri. Tidak mudah untuk tetap menjadi satu di berbagai perbedaan yang selalu ada. Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah hadirnya berbagai perselisihan atau percekcokan dalam hidup rumah tangga. Penyebab paling utama dan umum adalah karena berbagai perbedaan itu yang lebih ditonjolkan dan bukan kesatuan sebagai jatidri baru suami istri.

Para suami istri kadang menjadi lupa bahwa mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu tidaklah heran jika dalam keluargapun terjadi kompetisi atau bersaingan untuk mengejar pengakuan soal keunggulan dan kelebihan masing-masing. Tanpa sadar suami istri menjadikan rumah tangga sebagai gelanggan pertandingan untuk menentukan siapa yang kalah atau menang. Kekalahan dianggap suatu kegagalan dan sebaliknya kemenangan adalah suatu keberhasilan diri.

Lewat bacaan ini Paulus mengingatkan bahwa suami istri bukan lagi dua pribadi. Mereka memang berbeda tetapi telah menjadi satu. Kesatuan mereka terletak pada ketaatan di dalam takut akan Tuhan. Karena itu rumah tangga bukanlah tempat persaingan memperjuangan kepentingan sendiri melainkan suatu wadah perjuangan bersama untuk kemenangan bersama. Hal ini hanya dapat dilakukan, menurut Paulus, apabila keduanya saling merendahkan diri di dalam kasih yang tulus seperti Kasih Kristus bagi umatNya. Dengan demikian berbagai perbedaan akan melebur dalam keutuhan cinta kasih Allah yang telah mereka peroleh dari Tuhan dan selanjutnya membagikan kepada pasangan masing-masing.

Karena itu marilah saling mengasihi. Bersedialah untuk memberi diri bagi pasangan masing-masing demi kebahagiaan bersama dan bukan kesenangan diri. Sebab suami istri adalah satu dalam kasih Tuhan. Rendahkanlah diri seorang kepada lain di dalam takut akan Tuhan supaya istri dapat dengan tulus dan dalam kerelaan menghormati suaminya dan selanjutnya suamipun dapat dengan kesungguhan mengasihi istrinya. Perbedaan akan selalu ada, namun betapa indahnya jika perbedaan itu dapat disatukan dalam kasih Kristus. Selamat menjadi satu dalam kasih Kristus di tengah perbedaan masing-masing. Amin.



Tuesday, July 9, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 10 JULI 2013

AMSAL 14:6-10

6 Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia, sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh. 7 Jauhilah orang bebal, karena pengetahuan tidak kaudapati dari bibirnya.
8 Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya. 9 Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan, tetapi orang jujur saling menunjukkan kebaikan. 10 Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya.

Pendahuluan
Kitab Amsal dalam bahasa Ibrani adalah “Mishele Shelomo” yang berarti Amsal Salomo (1:1). Amsal memperoleh nama dari isinya, yakni pepatah atau peribahasa yang menyampaikan kebenaran dengan cara perbandingan. Kata ‘amsal’ (Ibrani : masyal) artinya melambangkan, menyerupai, misal, perumpamaan, dan juga dapat berarti paralel, serupa atau perbandingan. Dalam kitab lain masyal mungkin berarti sindiran (Ul . 28 :37, Yeh. 14 :8), atau nyayian ejekan (Yes. 14 :4) dimana orang-orang yang dimaksudkan jelas menjadi contoh pengajaran.

Kitab Amsal digolongkan ke dalam kitab hikmat. Amsal adalah  pengajaran moral dan spiritual tentang bagaimana sikap hidup setiap hari. Amsal merupakan ucapan hikmat dari guru-guru yang mengetahui hukum Allah dan ingin menerapkan prinsip-prinsipnya pada segala aspek kehidupan. Inti pengajaran dari kitab “Amsal adalah hiduplah takut akan Tuhan”. Kehidupan yang tidak takut akan Tuhan menuju kepada kebebalan hidup tanpa kendali. Jadi tujuan Amsal adalah memberi petunjuk bagaimana melakoni hidup yang sukses dengan memberikan ilustrasi baik secara positif maupun negatif. 

Telaah Teks
Pasal 14 kitab Amsal ini merupakan bagian dari kumpulan dari amsl-amsal Salomo yang mulai dihimpun dari pasal 10 hingga pasal 24 kitab amsal. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Salomo memberikan beberapa strategi kehidupan untuk mencapai kesuksesan hidup sesuai arah dan jalan yag ditentukan Tuhan, yakni lewat hikmat yang berasal dari Allah. Pada ayat 6-10 kitab Amsal 14, terdapat beberapa hal penting yang disampaikan Salomo, yakni:
1.       Seperti yang disebutkan di atas bahwa menjalani hidup dengan hikmat membawa keuntungan dan kesuksesan. Namun hanya orang yang takut akan TUHAN sajalah yang akan beroleh hikmat itu (1:7).  Hal ini ditegaskan Salomo dalam ayat 6 bacaan kita dengan membandingkan kehidupan seorang pencemooh. Menurut Salomo seorang pencemooh tidaklah mungkin memperoleh hikmat.

Mengapa? Sebab pencemooh adalah orang yang congkak dan angkuh; tidak pernah menerima ajaran orang lain; segala hal menjadi cemoohan olehnya. Ia merasa paling benar dan baik; segala yang dilakukan orang lain dianggap salah dan dicemooh olehnya. Dengan kata lain, adalah mustahil seorang pencemooh merupakan pribadi yang takut TUHAN. Jika demikian adalah mustahil baginya untuk memperoleh hikmat menjalani hidup ini dan kemudian beroleh kesuksesan.

Pada bagian ini Salomo mengingatkan bahwa sepandai-pandainya seeorang mencari hikmat, namun hidupnya tidak takut kepada TUHAN, maka kepinteran dan pengetahuannya akan sia-sia. Sebab pengetahuan tanpa hikmat untuk memanfaatkan adalah kehancuran hidup.  Banyak orang cerdik dan pandai; banyak yang memiliki kepinteran dari segi ilmu dan pengetahuan. Namun butuh pengertian yang benar atau hikmat untuk menyikapi dan mengola penetahuan supaya beroleh kesuksesan hidup di jalan yang benar.

2.       Selanjutnya dalam ayat 7 bacaan kita, Salomo memberikan nasehat penting bagi siapapun yang tidak ingin senasib dengan si pencemooh itu. Nasehatnya sederhana, yakni berhati-hati dalam bergaul dan memilih teman dalam jalani kehidupan ini. Jangan mau bergaul dengan orang bebal atau si pencemooh tadi, sebab bukan kebaikan yang akan kita dapat darinya namun justru keburukan dan kemalangan hidup.

Mengapa demikian? Sebab mulut dan bibir orang bebal (pencemooh) tidak pernah melahirkan hikmat untuk membangun hidup lebih baik.  Pada pasal 13 ayat 19 Salomo menyebut bahwa sulit bagi orang bebal untuk berubah. Karakter dan gaya hidup mereka adalah melakukan kejahatan.  Sehingga bagi orang bebal, adalah kekejian jika melakukan kebenaran atau menghindari kejahatan. Mereka justru harus dan sengaja berbuat kejahatan. Sebab Aneh bagi orang bebal untuk berbuat baik.
Jika tidak ada kebenaran dalam hidup orang bebal; dan jika segala kejahatan saja yang ada dalam kehidupannya, maka adalah kebodohan jika seseorang mau bergaul dengan orang bebal. Salomo menasehati dengan bijak bahwa kita perlu menjauhi diri dari mereka agar tidak mengalami keburukan dalam hidup ini akibat kejahatan dan ketidak-benaran mereka.

3.       Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa seorang pencemoh selalu merasa benar seakan tidak ada kesalahan dalam dirinya, maka sudah pasti akan sulit bagi orang bebal untuk merasa diri berdosa. Hal ini jelas nampak dalam ayat 9 bacaan kita. Menurut Salomo, orang bebal mencemooh korban penebusan dosa. Mengapa? Karena mereka menganggap hidup mereka tidak ada dosa sehingga tidak perlu korban penebusan dosa.

Apakah dampaknya? Setiap orang yang tidak pernah menyadaro dirinya berdosa, tidak akan pernah mungkin mengaku dosanya. Jika orang tidak pernah mengakui dosa dan merasa diri benar, maka bagaimana mungkin beroleh pengampunan dari Allah? Selanjutnya jika tidak beroleh pengampunan dari Allah, maka gamana caranya orang itu akan dibenarkan oleh Allah? Jika tidak dibernarkan, maka tidaklah mungkin Hikmat TUHAN akan dianugerahkan Allah kepadanya.  Jika tidak ada hikmat TUHAN, sudah pasti tidak ada satupun manusia dapat menjalani kehidupan dan meraik kesuksesan hidup sesuai dengan rencana Allah.

Apakah rencana Allah itu bagi manusia? Rencana Allah bagi manusia adalah Damai Sejahtera (Yeremia 29:11). Dengan demikian, tidak mungkin bagi seorang  pencemooh, yang selalu merasa benar itu, akan beroleh Damai sejahtera dan kesuksesan hidup. Orang yang merasa diri benar tidak mungkin memperoleh janji Allah yakni damai sejahtera hidup. Perlu pertobatan dari dosa dan pengakuan di hadapan Allah untuk beroleh pembenaran supaya menerima janji2 penyertaan TUHAN dalam kesuksesan hidup ini. Sebab bukankah doa orang benar, besar kuasanya?


Aplikasi dan Relevansi
Silakan mempelajari 3 pokok pemikiran Salomo ini dan hubungkan dengan kehidupan kita sehari-hari demi mencapai kesuksesan hidup.





Sunday, July 7, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKB 08 JULI 2013

 AMSAL 13:16-19

16 Orang cerdik bertindak dengan pengetahuan, tetapi orang bebal membeberkan kebodohan. 17 Utusan orang fasik menjerumuskan orang ke dalam celaka, tetapi duta yang setia mendatangkan kesembuhan.
18 Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati. 19 Keinginan yang terlaksana menyenangkan hati, menghindari kejahatan adalah kekejian bagi orang bebal.

Bapak-bapak Kekasih Kristus
Pada umumnya, orang berusaha mencari cara untuk mengembangkan pola kehidupan, usaha, ataupun karir; sehingga muncul berbagai teori yang berkaitan dengan eksplorasi kemampuan diri sebagai sumber kesuksesan. Misalnya, ada teori yang menjelaskan bahwa intelektual seseorang merupakan kunci keberhasilan hidupnya. Namun, terdapat pula teori yang menyanggah dan mengajarkan bahwa intelektual saja tidaklah cukup, perlu pengelolaan emosi, agar seseorang mencapai sebuah kesuksesan. Akhirnya, muncul teori lain yang berpendapat bahwa keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh kemampuan dirinya dalam mengatasi masalah dan kekuatan spiritualitasnya. 

Dari perspektif Alkitab, semua teori tersebut bukanlah hal baru, sebab Salomo telah banyak berbicara tentang pengetahuan atau intelektualitas, kemampuan mengelola emosi atau permasalahan yang terkait dengan pertumbuhan hikmat seseorang, yang harus dimulai dari kehidupan yang takut akan Allah.

Kitab Amsal merupakan kitab yang dapat memberikan pencerahan bagi orang percaya dalam memahami kehidupan yang berhasil dari perspektif Allah, sehingga orang percaya dapat mengembangkan dirinya sesuai natur yang telah Allah berikan. Karena itu, pembukaan kitab Amsal memaparkan berbagai kegunaan kitab ini dalam kehidupan kita. Pelajari kitab Amsal dan mulailah hidup takut akan Allah, sehingga intelektual kita akan diisi dengan pengetahuan darinya; hati kita akan dituntun olehnya, dan kita juga akan bertumbuh dalam spiritualitas yang benar di hadapan-Nya.

Bapak-bapak Kekasih Kristus
Pasal 13 kitab Amsal ini merupakan bagian dari kumpulan dari amsl-amsal Salomo yang mulai dihimpun dari pasal 10 hingga pasal 24 kitab amsal. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Salomo memberikan beberapa strategi kehidupan untuk mencapai kesuksesan hidup sesuai arah dan jalan yag ditentukan Tuhan, yakni lewat hikmat yang berasal dari Allah. Pada ayat 16-19, ada beberapa pokok penting pengajaran Salomo yang patut kita perhatikan untuk beroleh kesuksesan hidup di dalam Tuhan, yakni:
1.       Kesuksesan hidup memang adalah anugerah Tuhan, namun manusia juga harus dan wajib untuk mengusahakannya. Salah satunya lewat pengetahuan dan kecerdikan akal pudi (ay.16). Salah satu sumber dari kegagalan adalah kebodohan. Itulah sebabnya Salomo menyebut tentang betapa pentingnya memperoleh pengetahuan.

Pada bagian ini Salomo ingin menekankan soal bagaimana pentingnya pengetahuan itu dimiliki oleh setiap orang untuk memperoleh kesusksesan hidup. Pengetahuan yang dimaksud bukan soal setinggi apa seseorang mengenyam tingkat pendidikan, namun bagaimana seseorang terbuka terhadap pengetahuan. Itulah sebabnya pada ay. 16 bacaan kita, Salomo menyebut soal orang bebal yang membeberkan kebodohannya. Bebal bearti bukan tidak mampu bersekolah tinggi, namun orang bebeal adalah orang yang menolak bimbingan dan arahan sebagai pengetahuan yang diberikan kepadanya.

Memandang diri lebih pinter dan menolak pengetahuan dari orang lalin menggiring orang bebal mempermalukan diri sendiri dan membeberkan kebodohannya. Orang bebal adalah orang yang tidak dapat ditegur dan dinasehati seakan mengangap diri lebih pnter dan benar dari orang lain. Disinilah, menurut Salomo awal kehancuran menunju masa depan.

2.       Pada ayat 18 bacaan kita, Salomo melanjutkan dampak dari orang bebal yang tidak mau menerima pengetahuan dan teguran dari orang lain. Bukan saja orang itu kelihatan bodoh, namun mereka justru kemudian menjadi miskin dan melarat alias tidak memperoleh keberhasilan hidup.  Mengapa demikian? Sebab kesuksesan hidup terjadi dalam proses pembelajaran. Orang bijak justru belajar dari pengalaman dan kegagalan serta dari kesuksesan orang lain. Jika orang bebal menutup diri dari teguran orang lain dan pengalaman orang lain, maka sudah pasti ia tidak mungkin mengalami kesuksesan. Bahkan sebaliknya menjadi cemoohan orang yang kemudian kegagalan itu menjadi sebab orang bebal ditimpa kemiskinan.

3.       Hal menarik juga disampaikan oleh Salomo dalam ayat 19 bacaan kita mengenai ciri orang bebal sehingga mereka selalu gagal dalam hidup. Salomo menyebut bahwa sulit bagi orang bebal untuk berubah. Karakter dan gaya hidup mereka adalah melakukan kejahatan.  Sehingga bagi orang bebal, adalah kekejian jika melakukan kebenaran atau menghindari kejahatan. Mereka justru harus dan sengaja berbuat kejahatan. Aneh bagi orang bebal untuk berbuat baik.

Pada bagian ini Salomo menekankan soal kekerasan hati dan karakter kaku yang dimiliki orang bebal yakni tidak mau diubah dan tidak bersedia berubah kearah yang baik dan benar. Inilah faktor utama seseorang gagal dalam hidup maupun gagal dalam prilaku iman.

Bapak-bapak Kekasih Kristus
Salomo sengaja menuliskan alasan kegagalan orang bebal untuk kita pelajari agar kita tidak hidup dengan gaya hidup yang keliru itu. Jika orang bebal tidak dapat ditegur, tidak dapat dinasehati, tidak dapat taat pada aturan yang ditetapkan, maka sebagai orang percaya kita diajak menjadi pribadi yang berlawanan dengan karakter hidup orang bebal. Sebagai orang percaya kita harus bersedia ditegur, bersedia belajar dari orang lain, bersedia pula teristimewa belajar dari Tuhan. Orang bebal akan sangat menolak didikan dan ajaran Tuhan. Itu berarti pula bahwa mereka pasti menolak taat pada perintah Tuhan.

Kemurahan Tuhan akan selalu turun kepada orang-orang yang mengasihiNya dan taat mengikuti perintahNya. Orang bebal lebih memilih menolak teguran dan juga didikan orang lain termasuk didikan Firman Tuhan. Karena itu kita harus jadi pribadi yang patuh pada didikan dan ajaran Tuhan lewat kesediaan takut akan Tuhan untuk melakukan segala perintahnya. Dengan demikian sikap takut akan Tuhan pun akan mendatangkan berbagai berkat dan kesuksesan kehidupan. Sepanjang kitab Amsal kita bisa mendapatkan berbagai bentuk kemurahan Tuhan yang dicurahkan kepada siapapun yang menerapkannya. Lihatlah beberapa diantaranya:
-          Memperpanjang umur "Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek." (Amsal 10:27)
-          Ketentraman dan perlindungan "Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya." (Amsal 14:26)
-          Terhindar dari jerat maut "Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut." (Amsal 14:27)
-          Membuat kita mampu menjauhi kejahatan "Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan." (Amsal 16:6)
-          Janji akan kekayaan, kehormatan dan kehidupan "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan." (Amsal 22:4)

Bapak-bapak Kekasih Kristus
Salomo juga menekankan tentang betapa pentingnya pengetahuan dan menerima didikan itu untuk mencapai kesuksesan hidup. Pengetahuan dan didikan itu terdiri dari dua jenis menurut sumbernya, yakni pengetahuan formal lewat bangku pendidikan dan tingkatan pendidikan; kedua pengetahuan informal lewat belajar dari pengalaman orang lain; teguran orang lain dan nasehat orang lain termasuk didalamnya Nasehat Tuhan melalui FirmanNya.

Sebagai orang tua pemahaman ini sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan keluarga kita masing-masing, khususnya menyangkut masa depan anak-anak. Sebagai orang tua, kitawa wajib melakukan usaha apapun untuk dapat menfasilitasi pendidikan anak-anak ketingkat yang lebih baik dalam pendidikan Formal. Kita perlu memberikan dukungan dan pengertian bahkan pendampingan ketika anak-anak kita sedang berusaha memperoleh pengetahuan Formal.

Namun, pengetahuan formal tidaklah cukup. Merka perlu dibimbing lewat teguran dan nasehat berdasarkan pengelaman hidup yang kita alami sebagai orang tua ditengah kehidupan ini. Kita wajib memberikan nasehat dan petuah tentang bagaimana kehidupan ini dijalani dengan benar supaya sejak dini mereka terarah pada pembentukan karakter yang baik. Perlu bagi kita menanamkan pengetahuan informal berupa ajaran moral dan iman yang mengasihi sesama dan takut akan Tuhan. Dengan demikian, sudah pasti anak-anak kita terhindar dari kebribadian hidup yang buruk yakni hidup orang bebal sebagaimana yang disampaikan Salomo. Amin.

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKP 09 JULI 2013

AMSAL 13:23-25

Ibu-ibu kekasih Kristus
Ayat yang akan kita renungkan saat ini ada pada ayat 24 bacaan kita yang berbicara tentang metode mendidik anak. Kesuksesan hidup bukan hanya ditandai tidak mengalami kemiskinan (aya.23) atau tidak pernah mengalami kelaparan (ay.25), namun kesuksesan hidup juga ditandai dengan suksesnya orang tua dalam mendidik anak-anak mereka (ay.24). Pada ayat 24 inilah Salomo menyampaikan hal menarik tentang bagaimanakah cara menggunakan tongkat ketika mendidik anak.

Tongkat yang dimaksud oleh Salomo adalah hajaran kepada anak sebagai bagian dari mendidik anak. Apakah Salomo sengaja memberi peluang untuk melakukan kekerasan kepada anak? Apakah Alkitab mengijinkan untuk memukul anak? Hal ini menarik untuk diuraikan dalam renungan kita hari ini.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Kita pasti mengenal pepatah: “di ujung cemeti ada emas”. Pepatah ini memberi pengertian bahwa di balik pukulan dan hajaran orang tua, terkandung di dalamnya manfaat dan faedah yang penting bagi masa depan si anak.  Namun bagaimanapun kita harus memperhatikan hal penting yang ditulis dalam kitab Amsal ini supaya orang tua tidak dengan bangga membenarkan diri untuk melakukan kekerasan pada anak-anak. Terdapat dua hal pokok yang disampaikan oleh Salomo dalam ayat 24 kitab Amsal pasal 13 ini, yakni:

1.      Bolehkah anak dididik dengan hajaran?
Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat ayat 24 bagian a yang berbunyi: “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya”.  Dengan tegas Salomo mengatakan bahwa jika ada orang tua yang tidak menghajar anaknya itu bukan berarti bahwa ia menyayangi anaknya, malah sebaliknya bahwa orang tua yang tidak pernah menggunakan tongkat sama dengan orang tua yang membenci anaknya. Bagaimana mengerti bagian ini?

Banyak orang tua yang terlalu memanjakan anak, sehingga kesalahan apapun yang dilalukan anak tidak pernah dikoreksi sejak kecil. Maka ketika dia mulai bertumbuh, anak ini memiliki sikap tidak bisa diatur dan sifat keras kepala bahkan seakan menjadi penguasa. Mengapa terjadi demikian? Karena orang tua terlalu memanjakan anak.

Dengan kata lain, hajaran dan pukulan tetap perlu dilakukan untuk mendidik psikologi dan karakter anak supaya belajar menghormati orang tua. Namun pukulan dan hajaran bertujuan bukan untuk mengumbar emosi dan amarah, melainkan pukulan diberikan sebagai tanda kasih sayang agar ke depan dia belajar arti kesalahan dan mengubah prilaku yang keliru itu. Itulah yang dimaksud Salomo ketika mengatakan: “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya” (Amsal 13:24b).

2.      Bagaimana hajaran itu dilakukan?
Seperti yang disebutkan di atas, hajaran atau penggunaan tongkat kepada anak tidak dilakukan untuk mengumbar amarah dan kekerasan kepada anak, melainkan sebagai tanda cinta kasih. Perhatikan bunyi ayat 24 bagian b pada bacaan kita: “... tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya." Perhatikan kalimat pada waktunya dalam bacaan kita.!! Tanda bahwa pukulan atau hajaran itu adalah demi rasa sayang dan cinta kasih adalah ketika hajaran itu dilakukan tepat waktu.

Hal ini berarti Salomo dengn tegas menolak dan mengecam orang tua yang melakukan tindakan kekerasan kepada anak-anak. Alkitab mengecam orang tua yang memiliki “hobi” memukul anak. Tidak semua kesalahan atau kekeliruan anak harus “dihadiahi” dengan pukulan. Tidak selalu didikan itu dilakukan dengan tongkat atau pukulan. Alkitab mengatakan bahwa andaipun harus menggunakan hajaran saat mendidik anak, maka hal itu harus dilakukan tepat waktu. Tepat waktu bearti bukan setiap waktu atau setiap saat. Sebab ada metode didikan yang lain yakni berupa nasehat dan teguran. Dengan menyampaikan ini maka Salomo memberikan penegasan bahwa orang tua yang suka memukul anak adalah orang tua yang membenci anaknya. Hal itu tidak diperkenankan Tuhan.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Lihatlah bahwa ketika kita memanjakan anak secara berlebihan dan tidak memberi hukuman ketika mereka berbuat salah, itu bukan berarti kita menyayangi anak, malah dikatakan sebaliknya, bahwa itu berarti kita membenci mereka. Saya sering menggambarkan anak kecil bagaikan kertas kosong. Seperti apa isinya nanti sangatlah tergantung dari seperti apa kita menulisnya. Jika kita ingin mereka menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dan hidup mencerminkan Kristus kelak, maka kita harus mulai mendidik mereka dengan benar sejak dini yakni di masa kanak-kanak mereka. Dan itu termasuk memberi hukuman yang bukan didasari oleh pelampiasan, tetapi oleh kasih. 

Alkitab tidak mengajarkan kita untuk memberi hukuman yang hanya didasari kekerasan sebagai pelampiasan kemarahan. Lihatlah ayat berikut ini: "Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya." (Amsal 19:18). Emosi yang ditumpahkan seperti itu hanya akan menimbulkan luka dan kemarahan dalam hidup mereka. Lebih lanjut firman Tuhan pun mengingatkan "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4). Itulah sebabnya kita harus mendasari didikan, hajaran atau hukuman dengan kasih.

Lakukanlah engan kasih. Seperti itu pula Tuhan mendidik kita. Ada kalanya kita pun harus melalui hukuman Tuhan yang mungkin menyakitkan, tetapi itu semua Dia lakukan bukan untuk menyiksa kita, tetapi justru karena besar kasihNya pada kita. "..Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibrani 12:6). Justru kita harus bersyukur ketika ditegur atau dihukum Tuhan, karena itu artinya kita adalah anak-anak yang dikasihiNya. Tuhan selalu rindu agar kita menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Dan untuk membentuk karakter seperti itu, memang ada kalanya kita harus mendapat ganjaran atas kesalahan kita.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Seperti cara Tuhan mendidik kita, demikian pula seharusnya kita mendidik anak-anak kita. Tuhan menghajar orang bukan karena membenci, tetapi justru karena mengasihi. Itu pula yang harus menjadi dasar dalam mendidik anak-anak. Jangan lupa pula untuk memperlakukan masing-masing dengan mempertimbangkan sifat-sifat dasar mereka. Seringkali yang terbaik untuk dilakukan bukan menyamaratakan semuanya, tetapi berlaku adil dilakukan dengan memikirkan apa yang terbaik bagi masing-masing anak, karena firman Tuhan berbunyi "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Apa yang kita ajarkan sekarang akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter mereka di masa depan.

Didiklah anak-anak kita sejak masa kecilnya, dan berikan hukuman jika memang harus. Tapi dasarilah itu semua dengan kasih dan bukan kemarahan. Kenalkanlah Kristus dengan segala kebaikanNya sejak dini. Jangan lupa pula bahwa sebagai orang tua, kita pun harus selalu mampu memberi contoh teladan lewat sikap hidup dan perbuatan kita sendiri. Berikan mereka contoh peran yang baik. Seperti apa kita mendidik mereka saat ini akan menghasilkan seperti apa mereka kelak di kemudian hari. Pada saatnya kelak kita akan bersukacita melihat anak-anak kita bertumbuh dalam kekudusan dan tidak mudah terpengaruh arus sesat dunia. Anda rindu untuk menikmati itu? Mulailah mendidik mereka dengan benar sesuai firman Tuhan hari ini juga. Amin



Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...