Tuesday, November 20, 2012

BAHAN RENUNGAN SEKTOR 21 NOVEMBER 2012


ZAKHARIA 4:11-14

Pendahuluan
Penulis kitab ini adalah Zakharia. Sebutan "Zakharia" menunjuk kepada Zakharia anak dari Berekhya dan cucu dari Ido (1:1.7). Nama "Zakharia" adalah nama yang populer. Dalam Perjanjian Lama, ada sekitar 27-30 orang yang memakai nama "Zakharia". Sebutan "Zakharia" berarti Allah mengingat atau Allah telah mengingat. Nama "Zakharia" menjelaskan bahwa Allah mengingat umat-Nya dan Ia mengingat (setia terhadap) janji-Nya terhadap bangsa Israel. Mungkin nama ini mengungkapkan rasa syukur orang tua Zakharia karena mereka dikaruniai anak laki-laki. Seperti Yeremia dan Yehezkiel, Zakharia adalah seorang nabi sekaligus seorang imam (Nehemia 12:16). Ido (kakek Nehemia) juga seorang imam (Nehemia 12:1,4). Zakharia dilahirkan di Babel.

Saat orang Yahudi kembali ke Palestina di bawah pimpinan Zerubabel dan Imam Besar Yosua, dia ikut dengan kakeknya kembali ke Palestina. Bila yang dimaksud dengan "orang muda" dalam Zakharia 2:4 adalah Zakharia, maka berarti bahwa Zakharia dipanggil untuk bernubuat pada tahun 520/519 BC (sebelum Masehi), saat usianya masih muda.  

Telaah Perikop
Terdapat delapan penglihatan yang dialami oleh Zakharia mulai dari pasal 1-6 kitab ini. Khusus pasal 4:1-14 adalah penglihatan kelima berupa Kandil Emas yang berhiaskan dua pohon Zaitun. Ada tiga bagian dari perikop ini. Isi penglihatan disampaikan dalam ay.1-3. Penjelasan pertama, mengenai “semuanya”, terdapat dalam ay.4-7, dengan suatu komentar dalam aa.8-10. Penjelasan kedua, tentang kedua pohon zaitun, terdapat dalam ay.11-14. Isi dari penglihatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1.      Penglihatannya terjadi dalam keadaan yang mirip dengan tidur (ay.1). Yang dilihat Zakharia ialah sebuah kandil dengan empat puluh sembilan suluh, tersusun di atas tujuh pelita dengan tujuh corot masing-masing. Ketujuh pelita itu tersusun di atas tempat minyak, bahan bakarnya. Minyaknya dari pohon zaitun, yang disimbolkan dengan ukiran di sebelah kanan dan kiri.


2.      Zakharia langsung menanyakan arti dari penglihatan itu (ay.4). Penjelasan yang berikut berbicara tentang Zerubabel. Kuasa yang akan menjamin bahwa Zerubabel berhasil menyelesaikan pembangunan Bait Allah ialah roh Allah, bukan kemampuan Zerubabel (ay.6). Pada ayat 7a hal itu ditegaskan dengan suatu gambaran: gunung tidak mungkin diratakan oleh Zerubabel, tetapi akan menjadi tanah rata oleh karena kuasa Allah itu. Selanjutnya ayat 7b membayangkan sorak Israel ketika Bait Allah selesai lewat dipancangkannya batu utama.

Batu utama mungkin mirip fungsinya dengan baru peringatan pada gedung modern yang di atasnya tertulis tanggal dan tokoh yang meresmikan gedung itu. Kalau begitu, yang dinubuatkan dalam ay.7 itu adalah upacara peresmian Bait Allah. Pada zaman itu batu utama sering dilapisi dengan permata dan/atau logam mulia seperti emas.

Penglihatan itu menyangkut batu utama yang melambangkan penyelesaian Bait Allah. Sama seperti pelita bersumber pada minyak, terang yang dibawa oleh penyelesaian Bait Allah akan bersumber pada roh Allah melalui Zerubabel.

3.      Selanjutnya kita menemukan dalam ayat 8-10 suatu komentar terhadap penglihatan itu. Dijelaskan bahwa Zerubabel-lah yang akan menyelesaikan apa yang dulunya dia mulai (ay.9a). Hal itu akan membuktikan bahwa malaikat yang berbicara dengan Zerubabel memang adalah utusan Allah, sehingga Israel juga bisa percaya pada nubuatannya (ay.9b). Sikap orang yang menjadi tawar hati atau putus asa karena lamanya tidak ada perkembangan akan menemukan semangat baru (a.10a). Akhirnya, ketujuh mata yang diukir pada batu utama itu (jika tafsiran tadi tepat) menyimbolkan mata Tuhan (ay.10b). Tujuh adalah angka kelengkapan atau keseluruhan, dan mata Tuhan yang disimbolkan dengan tujuh itu melihat seluruh bumi. Tidak akan ada kejutan menggoyang rencana-Nya, Dia melihat semuanya.

4.      Pertanyaan untuk penjelasan kedua diulang dalam ay.12. Cairan emas merujuk pada minyak zaitun, dan sepertinya ada sistem penyaluran memakai pipa yang sekaligus merupakan bagian dari ukiran pohon zaitun itu, bahasanya tidak terlalu jelas. Hal itu mengaitkan kedua pohon zaitun itu sebagai penyambung pelita dengan minyak zaitun. Pada ay.14 bacaan kita mengungkapkan maknanya: kedua pohon adalah Yosua dan Zerubabel, karena baik imam maupun raja diurapi. Merekalah yang menjadi kunci sehingga kuasa roh Allah akan menghasilkan pembangunan Bait Allah.

Aplikasi dan Relevansi
Berdasarkan kisah yang ada dalam bacaan kita ini, maka ada beberapa hal pokok yang dapat kita relevansikan dalam hidup beriman kita, yakni:
1.      Zerubabel adalah tokoh yang akan membangun Bait Allah hingga selesai. Ia mendapatkan penguatan dalam aa.6-10, yaitu janji bahwa oleh kuasa roh Allah Zerubabel akan menyelesaikan Bait Allah. Janji ini itu tentu mau menguatkan Zerubabel, dan orang-orang Yehuda di bawah pimpinannya, untuk tetap bertekun dalam pembangunan itu. Namun, tekanan dalam ay.6 mengingatkan mereka bahwa sumber sukses bukan di dalam mereka melainkan oleh karena kuasa Allah.

Kitapun diingatkan bahwa disaat Tuhan menjanjikan sesuatu ia tidak akan pernah ingkar janji. Zerubabel wajib menjalankan tugas pembangunan itu dan Tuhan akan menyertainya. Masing2 kita memiliki tanggung-jawab untuk melaksanakan tugas dibidang masing-masing. Apabila kita berhasil, itu harusnya dipahami sebagai anugerah Tuhan dan bukan karena kita.

2.      Mengapa inti itu disampaikan melalui penglihatan yang kabur dan sulit ditafsir? Ay.5 & 13 memberi suatu petunjuk, ketika malaikat bertanya tentang ketidaktahuan si nabi. Hal itu menegaskan bahwa si nabi tidak sanggup menerobos ke dalam makna penglihatan itu sendiri. Yang dibicarakan adalah rencana Allah, dan hanya Allah yang tahu dan dapat memberitahunya.

Hal ini memberi arti kepada kita bahwa tidak semua rencana Tuhan dapat kita selami dengan mudah. Banyak hal yang masih menjadi rahasia bagi kita namun semua telah sangat indah direncanakan TUHAN. Sebagaimana Zakharia membutuhkan malaikat untuk jelaskan penglihatan itu, demikian juga kita membutuhkan Roh Kudus untuk mengerti kehendak dan rencana Tuhan bagi kita. Amin



Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...