Monday, February 27, 2012

CATATAN TAMBAHAN BAHAN BACAAN IBADAH KELUARGA 29 FEBRUARI 2012

KEJADIAN 8:1-5

Apakah yang saudara lakukan apabila selama seminggu daerah tempat tinggal kita tergenang air karena banjir? Anggaplah banjir itu tidak begitu tinggi, mungkin hanya selutut saja. Pasti ada banyak hal berubah dari aktivitas sepekan hidup kita karena banjir itu. Alat2 rumah tangga beberapa pasti rusak; ada alasan cukup kuat untuk tidak ke sekolah atau pergi bekerja; dan fatalnya lagi akan semakin banayak penyakit. Syukur itu hanya terjadi dalam waktu seminggu.

Namun, walau hanya seminggu pasti ada dampak yang terjadi di dalam bagunan rumah maupun sekitar lingkungan tempat kita tinggal. Sampah berserakan di mana-mana; pakaian bersih hampir tidak bisa dipergunakan karena lembab; tembok dan lantai rumah penuh lumpur; dan barangkali kendaraan milik kita ada kerusakan besar atau kecil. Yang pasti, seminggu banjir akan memberik dampak sulit ke beberapa bulan ke depan.

Saudara, contoh di atas hanyalah dampak dari banjir selama sepekan. Bagaimana dengan dampak air bah yang dialami oleh manusia dan bumi pada jaman Nuh? Saya yakin kita tidak dapat membayangkan dampak kerusakannya. Dalam pasal 7 hingga pasal 8 bacaan kita, ada beberapa pentunjuk tentang peristiwa air bah tersebut. Di bawah ini sedikit uraian tentang peristiwa tersebut:

1.       Perhatikan 7:11. Pada bulan ke-2 di hari ke-17 terbelahlah segala mata air samudera raya dengan dasyatnya. Dapatkan saudara membayangkan hal itu? Beberapa pakar ilmu bumi dan disiplin ilmu terkait mencoba memprediksi gambaran peristiwa pada ayat ini. Bahwa mata air hanya mungkin terbelah apabila ada ledakan pada titik-titik penyimpanan mata air di bawah tanah (mungkin mirip dengan kasus Lumpur Lapindo di Jawa timur-?).

Hal itu, menurut mereka, hanya terjadi jika ada pemicu utama. Pemicu utama yang paling mungkin adalah gemba bumi dasyat dan gelombang pasang yang besar dari samudra yang membentuk tembok-tembok air. Kita menyebutnya dengan gelombang tsunami. Kondisi gabungan seperti inilah, yang disebut air bah sebagai istilah dari penulis kitab Kejadian ini. Mengerikan bukan?

2.       Perhatikan 7:12! Kondisi di atas semakin diperparah dengan hujan lebat. Bukan hujan gerimis, namun hujan lebat. Bukan seminggu namun 40 hari dan 40 malam lamanya. Bisakah dibayangkan bagaimana situasi itu? Jadi saat air mengucur dari langit begitu derasnya; gempa bumi menggoyang Nuh dan sekitarnya; tanah mulai terbelah dan mengeluarkan air “mancur” dan dari arah laut gelombang tsunami datang menerjang. Waah… fatal akibatnya dan sulit untuk membayangkannya. Itulah arti air bah pada zaman Nuh saat itu.

3.       Berapa lama air bah itu datang terus menerus? Pada 7:17 kita menemukan bahwa air bah itu datang terus menerus hingga air terus naik dan mengangkat bahtera adalah 40 hari lamanya. Bayangkan, bunyi air menderuh dari bawah bumi dan atas bumi terjadi selama 40 hari dan menyapu semua yang hidup.

4.       Selama 40 hari itu semua gunung tertinggi sekalipun telah ditutupi air. Tidak ada daratan. Kemudian pada 7:24 kita menemukan bahwa air terus naik dan menggenangi bumi selama 150 hari. Di hari ke-150 itulah air mulai surut. Selanjutnya kita menemukan informasi menarik dalam pasal 8:14 bahwa bumi dinyatakan kering pada bulan ke-2 pada hari ke-27. Artinya, lamanya air menggenangi bumi adalah 376 hari atau lebih dari satu tahun.

Dapatkah saudara bayangkan dampak pada bumi dan tanah yang terus menerus digenangi air tanpa ada kondisi perubahan selama 1 tahun. Unsur hara atau unsur kehidupan pada tanah dipastikan mati dan musnah. Itulah yang terjadi. Itulah dampak Air Bah pada zaman Nuh. Suatu pemusnahan masal terjadi tanpa pilih kecuali 8 orang yang ditentukan selamat.


Saudara, sekarang marilah kita kembali pada Kejadian 8:1-5 untuk melihat dan membayangkan kondisi Nuh dan keluarganya pada hari ke-150 pasca air Bah! Ada beberapa hal real yang perlu diperhatikan:


1.       Yang pasti saat itu sudah tidak ada daratan sama sekali.

2.       Bahtera itu menurut aklitab tidak dirancang untuk dikemudikan (?); tidak juga dipasang layar; dan pasti tidak ada mesin dengan kecepatan sekian knot waktu itu. Apa yang terjadi dengan kondisi bahtera itu dengan keadaan arus air yang deras tersebut? Hanya satu, yakni TEROMBANG AMBING tanpa arah yang jelas. Artinya, bisa saja menambrak sesuatu atau berpapasan dengan pohon tumbang atau binatang air yg besar dll. Yang pasti SANGAT TIDAK NYAMAN para penumpang dalam bahtera itu selama 5 bulan atau 150 hari itu.

3.       Itu baru kondisi diluar. Sekarang, mari menengok kondisi mahkluk hidup di dalam bahtera itu! Pertama, kira-kira bagaimana keadaan ribuan binatang yang ada dalam “kandang raksasa” yang terapung itu? Ribuan binatang yang terdiri dari 7 pasang yang tidak haram; 1pasang yang haram dan 7 pasang burung itu, apakah tahu tentang kondisi yang terjadi sehingga mereka terkurung seperti itu? Perhatikanlah bahwa hampir semuanya “mereka” adalah binatang liar! Artinya “hukum rimba” masih berlaku. Bisa saja naluri kebinatangan mereka memicu untuk saling terkam dan saling buru satu dengan yang lain. Atau anggap saja dengan mujizat Tuhan naluri kebinatangan itu diredam sehingga tidak ada kekacauan dalam bahtera dan suasana tenang.

Namun, setenang apapun, saya yakin semua binatang tersebut tidaklah dibuat bisu oleh TUHAN. Goyangan dan goncangan bahtera akibat arus air atau benturan tertentu diluar, pastilah memicu reaksi suara para satwa tersebut. Ada ayam berkotek; burung berkicau; singa mengaung; anjing menggonggong; serigala melolong; harimau mengaum; dll. Apa artinya? Selama 150 hari itu Nuh dan keluarganya dijamin mengalami kebisingan dan polusi suara diluar ambang batas kemampuan mendengar normalnya manusia. Waw… itu pastilah tidak nyaman. Ya, sungguh tidak kondusif suasana “kapal pesiar” yang ditumpangi Nuh.

4.       Hal kedua adalah, bagaimana dengan “aroma” dalam bahtera itu selama 150 hari? Yang pasti tidak mungkin hidung Nuh dan keluarga dapat membaui “aroma terapi” yang harum dan meyegarkan. Tiap binatang memiliki ciri aroma dan bau yang berbeda-beda. Dan hidung normal manusia menyimpulkan bahwa aroma binatang tidak ada yang harum sebab semuanya pasti tidak menyenangkan untuk dihirup dan pastilah sulit untuk bernafas di dalam bahtera.

Apakah sudah cukup kondisi tidak segarnya? Saya rasa belum seberapa! Bayangkan apa yang terjadi jika serentak di hari yang sama ribuan binatang itu “melepaskan” proses akhir dari pencernaan mereka yakni membuang kotoran dalam bantera yang pengap itu? Waw… kapal besar itu pastilah bagaikan WC umum “terapung” tanpa ada sistem sanitasi yang sehat. Ampun, bagaimana mungkin NUh sekeluarga betah selama 150 hari itu dan kemudian merasa nyaman tetap berada di bahtera itu?

Inilah kondisi yang mungkin terjadi selama 150 hari ketika Nuh dalam pelayaran tanpa tujuan dan tanpa kendali tersebut. Sekarang, marilah kita bayangkan kondisi psikologi Nuh dan keluarganya saat itu. Normalnya dalam suasana seperti ini siapapun akan tertekan perasaannya; jika tidak terobati bisa mengarah pada kondisi stres dan mungkin depresi. Nuh adalah manusia normal yang punya kemungkinan mengalami keterpurukan psikologis karena kondisi dan suasana tersebut. Namun bisa saja tidak sebab Nuh bukanlah manusia biasa. Ia adalah pribadi yang memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spirutual yang jempolan. Hal ini terbukti dengan dipilihnya Ia oleh TUHAN sebagai orang yang terkategori benar pada zamannya (bd. 7:1).

Tapi bagaimanapun, Nuh pastilah memiliki kekuatiran yang amat sangat. Pastilah pula ia mulai rapat pikiran untuk mencoba menebak sampai kapan kondisi ini terus terjadi? Kapan air ini akan surut dan bilamanakah ia akan hidup normal kembali. Sebab kenyataan diluar bahtera memmbuktikan bahwa sudah tidak ada kehidupan lagi. Nuh dan keluarga mungkin saling bertanya satu dengan yang lain tentang apa yang akan terjadi kemudian.

Hal ini semakin jelas terlihat sebab selama 150 hari itu, Alkitab tidak menceritakan bahwa Allah menemui Nuh dan berbicara kepadanya. TUHAN seakan MEMBISU san BERDIAM diri meninggalkan NUH selama 150 hari. Apa yang Nuh rasakan? Saya yakin Nuh mulai kuatir dan resah sambil mencari jawab: “dimanakah TUHAN saat ini? Dan mengapa seakan Ia melupakan kami dalam Bahtera ini?” Hal ini menarik untuk direnungkan! Di sinilah kesabaran, kesetiaan dan pengharapan Nuh diuji oleh TUHAN. Nuh mungkin merasakan seakan Allah meninggalkan dia dan keluarganya.

Apakah benar demikian? TIDAK! Pasal 8:1-5 menyebutkan bahwa setelah 150 hari TUHAN keluar dari kebisuan dan aksi diam Nya itu dan kemudian kembali fokus pada Nuh dan penumpang dalam bahtera itu. Ayat 1 pasal 8 bacaan kita menyebut: Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak dalam bahtera itu. Sungguh melegakan bahwa ternyata Nuh tidak ditinggalkan TUHAN, Allahnya. Kita perlu memberi perhatian khusus tentang ayat ini. Mengapa? Karena disinilah letak pemulihan Allah terhadap bumi dan menusia bahwa Allah mengingat Nuh, manusia ciptaanNya bahwa Allah setia dalam memenuhi perjanjianNya.

Kesetiaan Allah dalam memenuhi perjanjianNya sering diungkapkan sebagai perbuatan yang mengingatkan akan perjanjianNya (bnd ump 9:15-16; Kel 2:24; Luk 1:72) atau mengingat siapapun yang kepadanya telah diberikan janji-janji perjanjian, dalam hal ini yakni Nuh (bnd ump 19:29; Kel 32;13). Proses selanjutnya adalah Bahtera terkandas di pegunungan Ararat; puncak gunung mulai kelihatan dan akhirnya pada ayat 22 bumi menjadi kering. Artinya, TUHAN tidak hanya berkuasa untuk menghancurkan namun juga memulihkan ciptaanNya.

Saudara, ada dua hal penting untuk dapat direnungkan dalam bacaan kita hari ini, yakni:
1.       Banyak orang berpikir bahwa ketika sudah diselamatkan dan menjadi pengikut Kristus, maka hidupnya akan selalu nyaman, tidak terbentur masalah, selalu sukses dan tidak ada kendala hidup. Nuh dan bahtera-nya ada visualisasi kedepan tentang Bahtera Keselamatan yang dipimpin oleh Yesus Kristus. Kita perlu merenungkan soal ketidak-nyamanan Nuh dan penghuni dalam bahtera itu. Walau mereka ada dalam bahtera, kekuatiran tetap ada dan tatangan tersendiri tetap menjadi bagian hidup mereka. Namun, Nuh tetap setia menunggu hasil akhir hingga TUHAN memulihkan bumi dan menjadikan keadaan layak untuk hidup lagi. Kita memang sudah diselamatkan dan sekarang sedang dalam bahtera itu. Namun tidak berarti tidak akan ada tantangan dan pergumulan. Kita diajak untuk tetap tenang dan setia hingga tiba akhirnya Tuhan menganugerahkan kondisi yang baru itu. Tetap tekun dan setia adalah modal utama bagi kita yang sudah diselamatkan walau menghadapi beberapa ketidaknyaman ataupun persoalan hidup.

2.       TUHAN-lah yang bekuasa untuk memulihkan dan juga menghancurkan. Semua hanya karena anugerah TUHAN. Perhatikanlah bahwa NUH tidak dilupakan TUHAN. Ia mengingat Nuh dan penghuni Bahtera itu. Seluruh kehidupan manusia semuanya berasal dari kemurahan Tuhan. Tidak ada satu hal pun yang dapat diupayakan manusia untuk tetap bertahan hidup jika bukan karena kemurahan Tuhan. Selalu ada pemulihan yang Allah buat untuk manusia, sebagai tanda bahwa Allah tidak pernah melupakan umatNya, orang-orang yang dikasihiNya jika kita hidup benar di hadapanNya.

Karena itu, marilah kita lakukan Firman ini dalam hidup kita, marilah kita belajar dari Nuh untuk hidup benar dan tidak bercela dihadapanAllah agar pengampunan dan pemulihan Allah sungguh terjadi dalam kehidupan kita, keluarga dan rumah tangga kita. Ajarkan anak-anak kita, ingatkan suami atau istri kita bahwa apapun yang kita alami dalam hidup ini, Tuhan tidak pernah melupakan kita asalkan hidup kita benar dihadapanNya. Tuhan memberkati kita. AMIN.

Sunday, February 19, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH KELUARGA 22 Feb 2012 HOSEA 5:15-6:3

Hosea melayani pada saat kerajaan utara akan dihukum oleh Tuhan (1:4). Dari sisi waktu ia sangat dekat dengan Amos (1:1; bdk. Am 1:1). Lebih tepatnya, Hosea melayani pada zaman Raja Yerobeam II (793-753 SM, bdk. 2Raj 14:23-29). Pada masa itu Kerajaan Israel berada pada puncak kekuasaan.

Sewaktu Hosea menjadi nabi, kerohanian orang Israel mengalami kemerosotan yang amat memprihatinkan. Ini disebabkan karena mereka meninggalkan Tuhan dan menyembah Baal (dewa kesuburan). Ketika menikmati panen yang melimpah, seharusnya umat Israel bersyukur kepada Tuhan; namun mereka mengganggap itu adalah pemberian dewa Baal. Keadaan ini dengan tepat digambarkan oleh Nabi Yesaya, “Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab Tuhan berfirman, ‘Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tapi mereka memberontak terhadap Aku. Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya’” (Yes. 1:2-3). 

Walau bangsa Israel begitu mudah melupakan kebaikan Tuhan, tapi Dia tetap mengasihi mereka. Kasih Tuhan kepada bangsa Israel, dilukiskan seperti kasih nabi Hosea pada istrinya, Gomer. Kisah Hosea dan Gomer adalah suatu perbuatan simbolis yang menggambarkan tentang Kisah antara Allah dan umat Israel. Hosea memerankan posisi dan perasaan Allah; sedangkan Gomer dan rupa dari tindakan dan prilaku Israel yang menghianati cinta Tuhan dan beralih kepada Baal.

Selanjutnya marilah kita melihat beberapa hal yang penting dalam bacaan kita untuk menjadi pokok perenungan kita. Bacaan kita hari ini berisi tentang reaksi TUHAN melalui nabi Hosea terhadap segala dosa dan kesalahan, sekaligus ajakan kepada umat TUHAN untuk kembali menyembah Allah. Beberapa pokok penting dimaksud adalah sbb:

1.       Perhatikan ayat 15 pada pasal 5 bacaan kita! Setiap tindakan penghianatan dan perzinahan rohani yang dilakukan umat Israel memiliki konsekuensi logis yang harus mereka tanggung. Kecendrungan umat Tuhan itu untuk memilih menyembah Baal daripada Tuhan memberi dampak negatif dalam kehidupan umat Tuhan selanjutnya. Mengapa? Sebab Tuhan memilih undur diri dari mereka dan meninggalkan mereka.

Umat Tuhan tidak akan menikmati kehadiran Allah mereka akibat segala bentuk penghianatan dan perzinahan rohani yang mereka lakukan. Penekanan penting dari pokok ini adalah pada bagian akhir dari ayat 15 bacaan kita. Bahwa Ia hanya akan kembali melawat umatNya, apabila mereka menyadari segala kesalahan dan dosa mereka; selanjutnya bertobat dari kesalahan tersebut; dan kemudian kembali kepada Allah.

2.       Perhatikan ayat 2 pasal 6 bacaan kita! Ayat ini merupakan suatu penyataan Pengakuan Iman tentang siapa TUHAN, Allah Israel itu. Umat Tuhan hanya mungkin bertobat dan dinyatakan telah kembali kepada Allah mereka jika mereka mampu mengakui kehadiran Allah; dasyatnya KuasaNya; dan tingginya kedudukan Tuhan dibanding dengan dewa manapun yang saat ini mereka sembah.

Pengakuan terhadap siapa Allah, sangatlah penting untuk menunjukkan di mana sebenarnya “posisi” umat Tuhan tersebut. Yaitu apakah mereka dipihak Allah atau dipihak baal. Pengakuan terhadap keberanaan TUHAN, Allah mereka itu juga menunjukkan bahwa umat Israel sangat membutuhkan kehadiranNya melebihi kesenangan mereka terhadap Baal dan allah palsu lainnya.

3.       Pengakuan terhadap siapa Allah sesunguhnya hanyalah mungkin terjadi apabila umat Tuhan dapat mengenal Allah secara sungguh-sungguh. Hal ini dengan tegas dinyatakan Hosea dalam ayat 3 pasal 6 bacaan kita.

Bagaimana pengenalan akan Allah itu dilakuan? Ayat 6 menyebut dengan istilah: berusaha sungguh-sungguh”. Bahasa asli yang digunakan untuk terjemahan ini adalah “radaph’ yang berarti mengejar atau berlari mengejar, memburu. Kata ini juga digunakan untuk seorang pemburu yang memburu sesuatu. Ketekunan dan sikap pantang menyerah dari seorang pemburu juga hendak dimiliki oleh bangsa Israel ketika ingin mengenal Tuhan. Sebab mengenal Tuhan adalah hal yang mudah tetapi juga sulit untuk dilakukan.

Mengapa Hosea menekankan betapa pentingnya bagi bangsa Israel untuk mengenal Allah dengan sungguh? Ada dua hal yang Hosea nyatakan mengenai alasan mengapa harus mengenal Allah dengan sungguh-sungguh (3b). Ada dua alasan menurut Hosea dalam ayat 3 bacaan kita, yakni:
-          Muncul seperti Fajar
Hal ini mau melambangkan bahwa hanya Allah yang memberi kehidupan baru, kekuatan, dan harapan baru bagi dunia dan umatNya saat ini. Jika umat Tuhan ingin memperoleh kekuatan dan kehidupan baru, maka perlu dengan sungguh-sungguh mengenal Allah.

-          Hujan pada akhir musim
Hal ini melambangkan bahwa hanya TUHAN Allah sajalah yang dapat memberi berkat dan kesejahteraan. Apabila umatnya ingin memperoleh berkat, maka mereka harus mengenal Allah dengan sungguh-sunguh.

Lewat Firman Tuhan dihari ini kita diingatkan tentang betapa Allah sungguh mengasihi umat kepunyaanNya termasuk kita yang hadir saat ini. Dosa kita yang besar dan dalam mampu ditutupiNya dengan Kasih Agung milik Hati Allah yang mulia. Namun semua ada harganya. Harus ada nilai yang dibayar untuk menebus kita, yakni harga PuterNya kekasih, Yesus Kristus. Harga mahal itu justru kita peroleh secara gratis dan Cuma-Cuma. Kita memperolehnya karena anugerah Allah.

Karena itu belajarlah untuk setia. Jangan mendukakan hati Allah. Sebab setiap dosa dan kesalahan ada sanksi hukuman dari Tuhan. Berhentilah berbuat dosa, sebelum hukuman itu ditimpakan Allah bagi kita.

Selanjutnya agar hidup kita jauhdari pelanggaran dan dosa, maka Hosea mengajarkan agar kita bersedia mengenal Allah lebih sungguh-sungguh. Kerinduan kita untuk mengenal Tuhan hendak juga dilakukan dengan tekun dan pantang menyerah oleh karena pengaruh baik dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri. Apakah kita sudah berbuat demikian? Bangsa Israel adalah tipe bangsa yang akan selalu datang kepada Allah jika mereka susah/sulit. Namun, akan dengan cepat melupakan Tuhan bila telah mendapatkan keberhasilan dan kejayaan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai umat Allah kita pun sering berlaku demikian. Ketika susah, sakit, dan sulit, kita kita akan berteriak kepada Tuhan tetapi waktu senang dan sukses kita malah melupakan Tuhan. Pengenalan seperti ini adalah pengenalan yang semu/sementara. Allah menghendaki agar kita mengenalnya lebih dalam lagi, memahami perasaan dan kehendak-Nya bagi kita sebagai umat-Nya. Pengenalan seperti ini adalah pengenalan tingkat tinggi, melebihi keempat tingkatan pengenalan yang saya telah kemukakan tadi. Pengenalan akan Allah seperti ini perlu dimiliki olah setiap orang yang mengatakan dirinya sebagai umat Allah. Bukan hanya karena tahu nama, jabatan, sikap, jasa-Nya, dan atau karena kita sering datang ke gereja sehingga kita tahu siapa itu Allah. Pengenalan yang lebih benar adalah bahwa setiap orang percaya juga tahu apa yang Tuhan rasakan dan kehendaki bagi kita sebagai umat-Nya.

Karena itu mari mengenal TUHAN lebih sungguh-sungguh lagi agar kita terhindar dari segala kesalahan dan dosa yang melukai hati Tuhan, sekaligus agar rahmat dan sentosa tetap menjadi bagian hidup kita dan bukan penghukuman atau kebinasaan karena upah dosa kita. Amin.

Friday, February 10, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH MINGGU 12 FEBRUARI 2012 ESTER 9:1-4



Jemaat Kekasih Kristus.
Kita pasti pernah mendengar suatu kata bijak yang mengatakan bahwa “Kehidupan ini bagaikan roda pedati yang berputar”. Artinya ada saat bagian tertentu dari roda itu berada di bawah namun ada waktu juga posisnya menjadi di atas. Maknanya bagi kehidupan kita saat ini bahwa tidak selamanya orang akan mengalami keburukan hidup, saatnya juga akan mengalami kebahagiaan. Hal senada juga disampaikan oleh Kitab Pengkhotbah tentang ada waktu untuk menangis ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal dll.

Bacaan kita saat ini juga berkisah tentang suatu kondisi hidup yang dialami oleh orang-orang Yahudi di masa kekuasaan kerajaan besar Persia yang berhasil menjajah 127 wilayah daerah jajahan yakni mulai dari India hingga Etiopia (bd. 1:1). Namun kisah menarik dalam Kitab Ester ini tidak akan dipahami dengan baik, apabila tidak lebih dahulu membaca pasal-pasal awal kitab Ester secara keseluruhan. Kitab ini mengisahkan tentang 2 tokoh penting Yahudi yakni Ester dan Mordekhai yang ada di Istana Ahasyweros, kerajaan Persia. Bangsa Yahudi di sana mengalami banyak ketidak-adilan, khususnya oleh peran jahat dari tokoh kalangan istana yang sangat berpengaruh bernama Haman.


Jemaat Kekasih Tuhan.
Mordekhai adalah pengasuh Ester, ialah seorang Yahudi yang hidup dalam pembuangan, hidup dalam keadaan politik yang tidak tentram, mengalami tekanan secara sosial dan emosional dalam kebudayaan asing, tetapi ia berhasil mendidik dan membesarkan Ester. Kalau kita pernah membahas tentang Ester, maka perjuangan Ester tidak bisa dipisahkan dari perjuangan Mordekhai, yang memilih sikap yang benar dalam menghadapi kesulitan yang dihadapinya termasuk perlakuan buruk Haman atas dirinya.

Namun rencana jahat Haman yang bermaksud untuk membunuh Mordekhai, berhasil digagalkan oleh ratu Ester dengan cara menceritakan kepada Raja Ahasyweros tentang jasa Mordekhai sebagai pahlawan waktu dulu telah menyelamatkan raja dari usaha pembunuhan (bd. 2:22). Hukuman mati atas dirinya yang dijatuhkan karena ia kurang menghormati Haman, yaitu orang kesayangan dalam istana raja Persia, Ahasyweros, sudah disahkan raja bersama dengan rencana pemusnahan orang Yahudi di seluruh kerajaan. Mordekhai akan digantung dan tiang gantungan sudah didirikan. Tetapi Ratu Ester yang Yahudi menghalangi: ada catatan resmi yang memperlihatkan bahwa Mordekhai pernah menyelamatkan raja dari suatu usaha pembunuhan atas dirinya. Dengan diberi keterangan seperti itu, raja menarik kembali perintah pembunuhan atas Mordekhai dan sebaliknya Hamanlah yang digantung pada tiang gantungan.

Akhirnya Mordekhai diangkat menjadi orang kedua setelah raja dan menggantikan posisi dan jabatan Haman. Kini Mordekhai menjadi pejabat yang paling dihormati sesudah raja Ahasyweros. Kisah ini terus berlanjut menjadi semakin menegangkan ketika di dalam pasal 8 ayat 3 dst menyebutkan bahwa walaupun Haman sudah mati namun rancangan jahatnya masih berpenaruh dan mengilhami rakyat untuk membinasakan dan memusnakan orang-orang Yahudi tersebut.

Jemaat Tuhan.
Peran Ester sangat luar biasa dipakai TUHAN, dalam kisah ini, untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi. Atas permintaan Ester kepada Raja (bd. 8:3-14), akhirnya dikeluarkanalah undang-undang untuk membolehkan orang-orang Yahudi melakukan perlawanan kepada musuh mereka di seluruh daerah wilayah penjajahan Persia.

Kita menemukan suasana kisah ini mulai berubah. Sejak ayat 15 pasal 8 hingga pasal 9 bacaan kita, kondisi orang Yahudi secara psikologi mengalami beubahan total. Mereka yang dulunya hidup dalam ketakutan dan kesedihan kini berubah menjadi girang dan penuh sukacita. Mengapa? Sebab keselamatan jiwa mereka kini dijamin oleh pemerintahan Raja Ahasyweros. Kini kondisinya berbalik 180 derajat. Dulunya orang sangat takut kepada musuh mereka, namun sekarang justru mereka sangat ditakuti oleh musuh-musuh yang merancangkan kejahatan  bagi mereka. Bukan itu saja, para pembesar yang dulunya melakukan penindasan terhadap orang Yahudi, kini mau tidak mau berbalik arah dan mendukung penuh perjuangan orang yahudi tersebut. Hal ini terlihat jelas pada ayat 3 bacaan kita.

Memang benar bahwa Ester berperan cukup penting dalam kondisi ini. Namun kita tidak bisa juga mengabaikan peran dari Mordekhai ketika ia telah menjadi Pejabat Kerajaan. Mordekhai dengan bijak menggunakan kedudukan dan jabatan strategisnya itu untuk mendorong orang Yahudi mempersenjatai diri menghadapi rencana pembunuhan massa yg diilhami oleh Haman. Sebagai penghormatan terhadap Mordekhai, penguasa-penguasa propinsi Persia, yg menerima surat dari Mordekhai, melindungi orang Yahudi juga dan memberikan dukungan penuh atas segala kebutuhan orang Yahudi. Mordekhai menjadi tokoh panutan sekaligus pelindung orang Yahudi saat itu, ketika ia mampu memanfaatkan jabatannya untuk membela kebenaran dan keadilan bagi bangsanya.

Jemaat Tuhan,…
Ada beberapa hal penting dari Firman Tuhan hari ini yang dapat kita bawa dalam kehidupan sehari-hari:

1.       Tuhan tidak pernah membiarkan umatNya terus menderita.
Di saat kita mengalami penderitaan, apa yang sering kita dipikirkan? Terutama ketika derita itu datang dari kebenaran yang kita perbuat dan karena ketidak-adilan orang lain? Pastilah sebagai umat percaya kita berpikir kapan Tuhan bertidak? Mengapa Dia membiarkan ini terjadi? Keadilan macam apa jika menderita seperti ini? Dll

Hari ini kita belajar pada kisah di atas, bahwa tidak selamanya orang benar itu dibiarkan goyah sebab Tuhan menopang tangannya (bd.Mzm 3723-24). Kita belajar untuk memahami bahwa ada saat untuk menderita namun ada saat pula untuk bahagia; ada masa dimana kita berduka namun juga kita saat nanti akan menjalani masa penuh sukacita. Penting untuk direnungkan adalah Tuhan itu adil, dan pembalasan itu adalah hak Tuhan kepada semua ciptaanNya. Tidak mungkin Tuhan membiarkan umatNya. Tugas kita adalah, belajar untuk bersabar menunggu waktu pemulihan itu, seperti orang Yahudi menerima itu dari Tuhan.  

2.       Berperanlah seperti Ester dan Mordekhai
Memang benar bahwa Tuhanlah sumber segala kuasa dan kekuatan sehingga orang Yahudi di seluruh wilayah kerajaan Persia memperoleh hari sukacita. Namun perlu disadari bahwa hal itu juga terjadi karena Ester dan Mordekhai bersedia dipakai Tuhan untuk melaksanakan rencanaNya. Bayangkan jika Ester dan Mordekhai dengan posisi penting di Kerajaan itu tidak mau peduli dengan penderitaan rakyat sebangsanya, maka sudah pasti orang Yahudi tidak akan pernah merayakan Hari Raya Purim tanda sukacita dan syukur atas kelegaan yang mereka rasakan waktu itu.

Saudara dan saya juga dipanggil untuk mampu berperan seperti Ester dan Mordekai. Di posisi yang cukup elit dalam kerajaan Persia mereka tidak segan untuk meyatakan kebenaran dan keadilan bagi kaumnya. Ini bukan sintimen ras atau karena alasan sesama bangsa. Tapi olebih dari pada itu, Ester dan Mordekhai bersedia untuk berpihak kepada mereka yang menderita dan mengalami ketidakadilan. Selama masih bisa diperjuangkan mereka tetap perjuangkan. Demikian halnya kiranya dengan kita sebagai orang percaya. Di manapun saudara berada, di level apapun posisi saudara dalam pemerintahan, perusahan ataupun di tengah masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi Ester dan Mordekhai modern. Kita diajak untuk mampu memperjuangkan keadilan dan mengutamakan pembekaan kepada mereka yang menjadi korban.

Sudah saatnya orang percaya berani keluar dari sona nyaman dan siap terancam demi membebaskan orang lain dari ancaman ketidakadilan dan perlakuan buruk dari orang lain. Sebagai orang percaya kita harus berani melakukannya, sebab Tuhan menempatkan saudara di posisi itu karena ada maksud dan tujuan serta bukan suatu kebetulan.

Karena itu, mari kita lakukan Firman ini dalam hidup kita, dengan memulainya di dalam keluarga. Ajarkan anak-anak kita, ingatkan suami atau Istri kita bahwa apapun yang kita alami dalam hidup ini, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Selanjutnya mari juga memiliki keberanian untuk menjadi alat di tangan Tuhan untuk membela kebenaran dan berpihak kepada mereka yang mengalami ketidak-adilan. Selanjutnya, jangan lupakan Tuhan dalam setiap peristiwa hidup kita.. AMIN.

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 15 FEBRUARI 2012 BILANGAN 30:1-9

Pendahuluan
Dalam Alkitab, nazar adalah janji yang sungguh-sungguh kepada Allah (Mazm 76:12) yang diadakan dengan maksud untuk menyerahkan diri kepada Allah (Bil 6:2), mempersembahkan anak-anak kepada Allah (1Sam 1:11), mempersembah-kan harta benda kepada Allah (Kej 28:22), mempersembahkan korban-korban (Im 7:16; 22:18; Bil 15:3) atau sebagai tindakan merendahkan diri (Bil 30:13), sebagai “imbalan” atas pemenuhan isi perjanjian dari pihak Allah kepada manusia (yang bernazar). Dalam bagian yang lain, nazar menunjukan sebuah janji antara Allah dan manusia yang dilakukan oleh manusia dan siap menepatinya (Kej. 28:20), atau sebagai sebuah persembahan yang diberikan dengan sukarela kepada Allah (Im. 27:2), pantangan terhadap sesuatu, (Maz. 132:2ff).

Jadi, Nazar/ nadar adalah janji diri sendiri untuk berbuat atau melakukan sesuatu jika maksud tercapai; namun janji yang dilakukan berlaku secara mengikat dan penuh dengan nilai-nilai sakral karena terjadi di antara hubungan manusia dengan Allah. Nazar ditujukan sebagai hasrat ingin memberikan yang terbaik kepada Allah sebagai ekspresi ucapan syukur atas kebaikan yang telah diterima dari Allah atau sesuatu yang berharga untuk membuktikan kesetiaan kepada Allah dengan cara pemantangan atau menahan hasrat yang berorientasi pada diri sendiri dan menyesuaikannya dengan kehendak Allah.

Telaah Perikop
Dalam bacaan kita hari ini, umat Israel diperintahkan oleh Tuhan, melalui Musa untuk menyikapi setiap Nazar yang diucapkan, khususnya dalam hubungan bagi Nazar yang diucapkan oleh seorang perempuan. Spontanitas nazar umat Tuhan merupakan upaya menyelaraskan gerak langkah mereka dengan Allah. Dengan iman, manusia menyempurnakan segala keteraturan disiplin korban dan persembahan yang diminta Allah (ps. 28-29). Tuhan begitu menghargai persembahan spontan ini sehingga mengaturnya dengan detail dalam pasal 30:1-16 yang juga termasuk dalam bacaan kita hari ini. Tujuan dari perintah dalam Bilangan 30:1-9 ini adalah agar nazar jangan dibuat tergesa sehingga menodai keharmonisan umat dengan Allah. Allah tidak ingin manusia berdosa karena tidak bisa memenuhi janjinya kepada Allah.

Nazar wanita khususnya harus diperhatikan oleh para lelaki yang biasanya melindungi mereka. Ini sesuai konteks budaya kehidupan Israel dalam budaya patriarkat. Ayah atau suami memastikan bahwa nazar itu pantas dibuat dan dapat dipenuhi. Saat itu tak lazim wanita hidup sendirian tanpa pendampingan lelaki, baik sebagai ayah (lih. Ayat 3-5), ataupun sebagai suami (ayat 6-8, 10-15). Kecuali mereka janda atau bercerai (bd. Ayat 9) sehingga tidak lagi ada di bawah perlindungan lelaki. Perlu diingat bahwa catatan untuk para janda dalam Alkitab sejajar dengan anak yatim piatu, yakni mereka yang lemah dan papa, serta perlu perlindungan dalam hidup bermasyarakat.

Tuhan memberi hak veto pada para pelindung wanita (yakni ayah, suami) untuk membatalkan atau memberlakukan nazar itu (13). Hak veto itu harus dilihat sebagai pertanggungjawaban dari pihak lelaki ketimbang keistimewaan hak itu. Ceroboh, lalai atau telat merespons membuat lelaki harus menanggung segala akibat gagalnya nazar anak/istri mereka (15,16)! Sama sekali bukan maksud Allah untuk membiarkan kaum lelaki bersikap sembarangan dan kasar karena hak veto tersebut.

Di bagian ini penekanan khusus diberikan pada soal pengesahan nazar perempuan. Tuhan menentukan bahwa nazar seorang perempuan dapat dibatalkan oleh ayah atau suami yang bersangkutan jika dipandang dia tidak mampu mempertanggungjawabkannya. Ayah atau suami bisa mendukung nazar tersebut dengan diam jika mereka menyetujui atau membatalkannya melalui veto. Seorang ayah memiliki hak mutlak di dalam hal ini jika anak perempuannya belum menikah dan hak yang sama dimiliki suami atas istrinya. Dalam budaya Yahudi, memang para perempuan pada umumnya dianggap tidak mengetahui rincian-rincian upacara religius sehingga dapat mengikrarkan nazar-nazar yang berat atau yang merugikan rumah tangganya.


Aplikasi dan Relevansi
Nazar berarti 'janji dan sumpah yang ditujukan bagi Allah bukan manusia'. Dalam nazar ini diungkapkan tentang keinginan untuk melakukan sesuatu bagi Allah. Seringkali seseorang mengucapkan nazar tanpa berpikir panjang, tetapi karena dorongan emosi. Tujuannya mungkin untuk menyatakan bahwa ia bersungguh-sungguh, tapi kenyataannya sulit mewujudkan janji itu. Perlu diingat, nazar ini harus dipenuhi karena merupakan janji kepada Allah. Itu sebabnya, Allah memerintahkan bangsa Israel melalui Musa untuk mengucapkan nazar dengan penuh tanggung jawab.

Tanggung jawab lelaki dan perempuan. Jika seorang laki-laki mengucapkan janji, ia sangat terikat dengan janji tersebut. Sebaliknya, jika perempuan yang mengucapkan janji, lelaki yang mendengarnya (suami atau ayah) berhak membatalkannya. Jika mereka diam, berarti mereka menyetujui dan harus turut memikulnya. Sebagai Kristen -anggota keluarga Allah- kita harus berbicara/ menegur, bila melihat kesalahan sesama seiman kita. Jika kita berdiam diri, kita harus turut memikul kesalahan yang mereka lakukan.

Saat ini di dalam Kristus, tak ada lagi pembedaan antara lelaki dan perempuan. Hukum ini tidak mengikat lagi secara ritual. Namun, prinsip kasih dan kepedulian serta tanggung jawab masih harus dipraktikkan oleh seorang suami atau seorang ayah terhadap keluarganya. Ini adalah ungkapan kasih Kristus sendiri yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi jemaat-Nya (Ef. 5:25-30).

Karena itu adalah kewajiban seorang Ayah dan ibu; suami atau istri untuk saling memperhatikan satu dengan yang lain dalam hal janji atau Nazar kepada Allah. Jangan sembarang mengucapkan janji kepada Tuhan jika tidak dapat menepatinya. Maka orangtua harus mengontrol dan mengingatkan anak-anaknya; demikian juga suami kepada istri atau sebaliknya apabila kita mendapati ada ucapan Nazar yang tidak benar, maka kita perlu mengingatkan. Sebab sekali berjanji kepada Tuhan, maka wajib untuk membayarnya.

Karena itu, tiap pribadi perlu untuk berpikir panjang dan bersungguh-sungguhlah dalam mengucapkan nazar, karena nazar itu akan mempengaruhi tanggung jawab panggilan hidup kita. Kita wajib saling mengingatkan satu dengan yang lain, agar jangan menjadi “penghutang” kepada Allah. Jangan terlalu mudah ucapkan Nazar; tetapi juga kita diingatkan oleh Firman ini bahwa Allah akan menuntut janji dari setiap Nazar yang telah diucapkan. Kita wajib membayarnya. Karena itu berhati-hatilah dalam bernazar. Amin. 

Thursday, February 9, 2012

MATERI KOTBAH IBADAH PKB Senin, 13 Februari 2011 Ester 9:13-19

Pendahuluan
Bagian bacaan kita hari ini tidak akan dipahami dengan baik, apabila tidak lebih dahulu membaca pasal-pasal awal kitab Ester secara keseluruhan. Kitab ini mengisahkan tentang 2 tokoh penting Yahudi yakni Ester dan Mordekhai yang ada di Istana Ahasyweros, kerajaan Persia. Bangsa Yahudi di sana mengalami banyak ketidak-adilan, khususnya oleh peran jahat dari tokoh kalangan istana yang sangat berpengaruh bernama Haman. Dalam pasal 5:9-14 kita menemukan bagaimana kemudian Haman merancangkan pembunuhan terhadap paman dari Ester, yakni Mordekai.

Tetapi justru rancangan jahat Haman kepada Mordekai berlaku sebaliknya. Tuhan bertindak melalui Ester sehingga kemudian Haman justru yang digantung dan bukanlah Mordekai (7:1-10). Tidak berhenti di situ, rancangan jahat Haman yang telah terlajur diedarkan melalui surat perintah untuk membinasakan orang Yahudi pun dapat diubah menjadi sesuatu yang baik bagi orang Yahudi sendiri. Dalam 8:1-17 kita menemukan bahwa raja Ahasyweros, melalui surat bersegel cicin Raja, membolehkan Israel untuk membela diri dari musuh-musuhnya, sehingga mereka bukan dibantai musuh, malah sebaiknya merekalah yang membantai musuh mereka.



Telaah Perikop
Ayat 13-14
Pada bacaan ini kita menemukan bahwa sejak ayat 1-12 pasal 9, orang Yahudi mendapat kesempatan untuk membalas kemalangan yang selama ini ditmpakan oleh musuh-musuh mereka bahkan dalam benteng Susan sendiri, orang Yahudi berhasil membinasakan 500 orang musuh.

Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika Ester diberikan kesempatan oleh raja untuk meminta sesuatu sehubungan dengan kondisi yang terjadi saat itu, pada ayat 13 kita menemukan bahwa Ester meminta tambahan hari lagi bagi orang Yahudi di benteng Susan untuk melakukan pembalasan terhadap musuhnya. Lebih menarik lagi adalah, Sang Raja bagaikan di tusuk hidungnya, langsung mengiyakan dan mengabulkan permintaan Ester (ay.14). Dengan kata lain, orang Yahudi di benteng Susan mendapat tambahan “bonus” untuk membalas segala kejahatan yang dilakukan oleh musuh-musuh mereka.  

Ayat 15-17
Apa yang dilalukan oleh orang-orang Yahudi di benteng Susan? Pada hari ke-14 mereka berkumpul dan melakukan hal yang sama seperti hari yang ke 13 yakni membunuh dan membantai musuh-musuh mereka. Pada hari ke-14 itu, orang-orang Yahudi berhasil membantai 300 orang. Dengan demikian, total musuh yang dibantai di Benteng Susan oleh orang Yahudi adalah 800 orang, yakni 500orang hari ke-13 dan 300 orang di hari ke-14.

Bagaimana dengan orang-orang Yahudi di luar benteng Susan namun hidup dalam wilayah kerajaan Persia yakni di 127 daerah jajahan? Pada ayat 16 disebutkan bahwa mereka berhasil mengalahkan 75ribu musuh dan membinasakan mereka di hari ke-13. Bagaimana dengan hari ke-14. Orang Yahudi di luar benteng Susan tidak melanjutkan perlawanan sebagaimana dengan yang ada di benteng Susan. Sebab ijin perlawanan hanya diberikan kepada orang Yahudi di dalam benteng Susan. Mereka yang diluar benteng dan yang tersebar di 127 daerah jajajah yakni hingga India sampai Etiopia sekalipun (bd.8:9) tidak iri hati dan tetap mematuhi perintah raja.

Lalu apa yg mereka lakukan pada hari ke-14 di luar Benteng Susan? Pada ayat 17 menyebutkan mereka beristirahat atau berhenti dan menjadikan hari itu hari perjamuan tanda syukur dan hari sukacita. Mereka tidak berpikir dengan iri tentang mengapa saudara2 mereka di benteng Susan masih diijinkan membunuh musuh pada hari ke-14. Justru sebaliknya hari itu dimanfaatkan mereka sebagai hari sukacita.

Ayat 18-19
Terdapat persamaan penting antara orang-orang Yahudi di dalam dan di Luar Benteng Susan. Yakni masing-masing mereka menyempatkan diri untuk bersyukur lewat perjamuan dan menjadikan hari itu sebagai hari Sukacita walaupun berbeda selisih satu hari. Hari itu pula menjadi cikal bakal hari raya Purim. Yakni pada hari ke-14 dan ke-15 bulan Adar tiap tahunnya diperingati sebagai hari sukacita hari kemenangan yang diberikan Tuhan kepada umatNya.  

Aplikasi dan Relevansi

Ada beberapa hal penting dari Firman Tuhan hari ini yang dapat kita bawa dalam kehidupan sehari-hari:

1.      Tuhan tidak pernah membiarkan umatNya terus menderita.
Di saat kita mengalami penderitaan, apa yang sering kita dipikirkan? Terutama ketika derita itu datang dari kebenaran yang kita perbuat dan karena ketidak-adilan orang lain? Pastilah sebagai umat percaya kita berpikir kapan Tuhan bertidak? Mengapa Dia membiarkan ini terjadi? Keadilan macam apa jika menderita seperti ini? Dll

Hari ini kita belajar pada kisah di atas, bahwa tidak selamanya orang benar itu dibiarkan goyah sebab Tuhan menopang tangannya (bd.Mzm 3723-24). Kita belajar untuk memahami bahwa ada saat untuk menderita namun ada saat pula untuk bahagia; ada masa dimana kita berduka namun juga kita saat nanti akan menjalani masa penuh sukacita. Penting untuk direnungkan adalah Tuhan itu adil, dan pembalasan itu adalah hak Tuhan kepada semua ciptaanNya. Tidak mungkin Tuhan membiarkan umatNya. Tugas kita adalah, belajar untuk bersabar menunggu waktu pemulihan itu, seperti orang Yahudi menerima itu dari Tuhan.  

2.      Berperanlah seperti Ester dan Mordekhai
Memang benar bahwa Tuhanlah sumber segala kuasa dan kekuatan sehingga orang Yahudi di seluruh wilayah kerajaan Persia memperoleh hari sukacita. Namun perlu disadari bahwa hal itu juga terjadi karena Ester dan Mordekhai bersedia dipakai Tuhan untuk melaksanakan rencanaNya. Bayangkan jika Ester dan Mordekhai dengan posisi penting di Kerajaan itu tidak mau peduli dengan penderitaan rakyat sebangsanya, maka sudah pasti orang Yahudi tidak akan pernah merayakan Hari Raya Purim tanda sukacita dan syukur atas kelegaan yang mereka rasakan waktu itu.

Saudara dan saya juga dipanggil untuk mampu berperan seperti Ester dan Mordekai. Di posisi yang cukup elit dalam kerajaan Persia mereka tidak segan untuk meyatakan kebenaran dan keadilan bagi kaumnya. Ini bukan sintimen ras atau karena alasan sesama bangsa. Tapi olebih dari pada itu, Ester dan Mordekhai bersedia untuk berpihak kepada mereka yang menderita dan mengalami ketidakadilan. Selama masih bisa diperjuangkan mereka tetap perjuangkan. Demikian halnya kiranya dengan kita sebagai orang percaya. Di manapun saudara berada, di level apapun posisi saudara dalam pemerintahan, perusahan ataupun di tengah masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi Ester dan Mordekhai modern. Kita diajak untuk mampu memperjuangkan keadilan dan mengutamakan pembekaan kepada mereka yang menjadi korban.

Sudah saatnya orang percaya berani keluar dari sona nyaman dan siap terancam demi membebaskan orang lain dari ancaman ketidakadilan dan perlakuan buruk dari orang lain. Sebagai orang percaya kita harus berani melakukannya, sebab Tuhan menempatkan saudara di posisi itu karena ada maksud dan tujuan serta bukan suatu kebetulan.

3.      Jadikan tiap peristiwa sebagai momentum syukur kepada Tuhan
Perhatikan apaya yang dilakukan oleh orang Yahudi yang berada di dalam dan di luar benteng Susan pada hari ke-15 dan ke-14 pasca perlawanan mereka. Hari-hari itu dijadikan hari Sukacita dan Perjamuan sebagai cikal bakal Hari Raya Purim. Moment itu dipakai sebagai cara mereka memperingati dan mensyukuri perbuatan Allah yang ajaib dalam hidup mereka. Tanda syukur bahwa Tuhan telah melawat umatNya.

Bagaimana dengan kita umatNya kini dan disini? Sudahkah kita mengingat Tuhan ditiap peristiwa dalam hari-hari hidup kita. Jadikanlah setiap hari sebagai peristiwa penting untuk mensyukuri kemurahan dan kebaikan Tuhan.

Karena itu, mari kita lakukan Firman ini dalam hidup kita, dengan memulainya di dalam keluarga. Ajarkan anak-anak kita, ingatkan suami atau Istri kita bahwa apapun yang kita alami dalam hidup ini, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Selanjutnya mari juga memiliki keberanian untuk menjadi alat di tangan Tuhan untuk membela kebenaran dan berpihak kepada mereka yang mengalami ketidak-adilan. Selanjutnya, jangan lupakan Tuhan dalam setiap peristiwa hidup kita. Tuhan memberkati kita. AMIN.

Tuesday, February 7, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 8 FEBRUARI 2012 DANIEL 8:5-8



5 Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan
datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah; dan kambing jantan itu mempunyai satu tanduk yang aneh di antara kedua matanya.  6 Ia datang pada domba jantan yang dua tanduknya dan yang kulihat berdiri di depan sungai itu, lalu menyerangnya dengan keganasan yang hebat.  7  Aku melihatnya mendekati domba jantan itu; ia menggeram, lalu ditanduknya domba jantan itu, dipatahkannya kedua tanduknya, dan domba jantan itu tidak berdaya untuk tahan menghadapi dia; dihempaskannya dia ke bumi, diinjak-injaknya, dan tidak ada yang melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.   8  Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit.

Jemaat Tuhan…
Bacaan kita hari ini merupakan lanjutan dari bacaan pada hari Minggu-Selasa tentang penglihatan yang dialami oleh Nabi Daniel dalam mimpinya (7:1). Sebelum menguraikan lebih jauh, kita perlu mengenal tentang sosk Daniel. Siapakah Daniel ini?

Daniel adalah seorang Israel keturunan raja dan bangsawan. Dia dibawa ke Babel sebagai tawanan dari raja Nebukadnezar pada tahun ke-3 pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda. Daniel beserta Hananya, Misael dan Azarya dilatih khusus untuk melayani raja (Daniel 1:1-6). Mereka dipilih karena mereka adalah orang-orang muda yang pandai, tidak bercela, berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, memiliki banyak pengetahuan dan ilmu. Menurut kebiasaan pada zaman itu ia diberikan nama Beltsazar, suatu nama Babel (ayat 7). Daniel dikenal sebagai penafsir dari penglihatan-penglihatan orang lain (pasal 2-5), kemudian penafsir dari penglihatannya sendiri, yang bernubuatkan kemenangan mendatang dari Kerajaan Mesias (pasal 7-12).

Selanajautnya marilah memperhatikan bacaan kita, yakni Daniel 8:5-8. Minimal kita menemukan ada 8 pokok yang merupakan Garis Besar isi dari pasal 8 secara keseluruhan, yakni:

1.       Ayat 1-4 Penglihatan tentang seekor domba jantan di tepi sungai Ulai. Domba jantan itu memiliki dua tanduk tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir.

2.       Ayat 5-8 Penglihatan tentang seekor kambing jantan yang memiliki satu tanduk aneh di antara kedua matanya. Kambing jantan itu menyerang dan menanduk hingga mematahkan tanduk domba jantan.
3.       Ayat 9-12 Pada kambing jantan itu tumbuh satu tanduk kecil dari keempat tanduk itu dan kemudian semakin membesar ke arah selatan, ke arah timur dan kearah Tanah Permai.

4.       Ayat 13-14 Percakapan dua orang kudus tentang masa kefasikan yang membinasakan.

5.       Ayat 15-26 Suara yang memerintahkan Gabriel untuk menjelaskan kepada Daniel mengenai penglihatan itu.

6.       Ayat 27 Daniel jatuh sakit, kemudian melanjutkan urusan tugasnya dengan perasaan tercengang dan tidak memahami tentang penglihatan tersebut.

Jemaat Tuhan…
Penglihatan tentang Domba jantan dan Kambing jantan ini adalah penglihatan kedua, setelah sebelumnya Daniel mengalami penglihatan pertama tentang 4 ekor binatang mengerikan yang mewakili 4 kerajaan dunia (pasal 7).

Khusus untuk Penglihatan kedua. Bagian ini terdiri atas 2 (dua) bagian besar yaitu:
a.        Penglihatan kambing dan domba (ayat 1-14) yakni termasuk bacaan hari ini, dan
b.       Penafsiran penglihatan itu (ayat 15-27).

Penglihatan domba jantan adalah gambaran tentang kerajaan Media-Persia, sedang penglihatan binatang kambing adalah gambaran kerajaan Yunani yang memiliki tanduk yang menonjol, yaitu raja Aleksander Agung (ayat 21).

Penglihatan Daniel yang kedua ini memberikan gambaran tentang beberapa kejadian kedepan yang akan terjadi dunia, yaitu:
1.       Yunani akan mengalahkan Kerajaan Media Persia (ayat. 7)
2.       Kematian raja Aleksander Agung akan melemahkan kerajaan Yunani (ayat.8)
3.       Kerajaan Yunani akan di bagi menjadi 4 wilayah di bawah masing-masing kekuasaan empat orang raja (ayat.8)
4.       Di tengah kerajaan Yunani akan muncul kekuasaan anti Kristus. Ayat 9-12 mengatakan bahwa di tengah salah satu tanduk akan muncul satu tanduk yang kecil, yaitu raja Antiokhus Epifanes. Di bawah kekuasaannya, ia dengan segala cara menghancurkan iman orang Yahudi.

Di tengah penglihatan itu, ternyata muncul malaikat Gabriel (15-16) dan malaikat itu menerjemahkan arti penglihatan itu. Ayat 23-25 memberikan gambaran tentang Antiokhus Apifanus IV yang mempunyai kekuasaan yang besar. Dia akan dihancurkan tanpa perbuatan manusia, melainkan kekuasaan dari Tuhan.

Jemaat Tuhan…
Jika kita memperhatikan bacaan ini, secara khusus pada dua bagian penting keseluruhan pasal 8, yakni tentang penglihatan Kambing dan Domba pada ayat 1-14 (termasuk bacaan kita malam ini ayat 5-8); dan juga meneliti hasil Penafsiran dan penjelasan Penglihatan oleh Malaikat Gabriel kepada Daniel pada ayat 15-27 maka kita akan menemukan sesuatu yang sangat menakjubkan bahwa penglihatan Daniel ini benar2 terjadi setelah kurang lebih 500 tahun perjalanan waktu.

Jikalau kita mempelajari tentang sejarah Yunani misalnya dan juga sejarah bangsa Persia, maka apa yang dikatakan oleh Alkitab lewat penglihatan Daniel benar2 terjadi dan berlaku. Pada akhirnya kerajaa terkuat yakni Yunani pun hancur lebur dalam perjalanan sejarahnya. Kekaisaran Romawi juga menerima akibatnya. Hal ini mau membuktikan bahwa apa yang dinubuatkan oleh Daniel melalui penglihatannya dalah benar dan bukanlah suatu kebohongan.

Dari Firman Tuhan ini kita dapat menyimpulkan bahwa sehebat apapun kekuasaan yang dibangun oleh manusia, mereka tidak bisa menandingi kekuasaan Tuhan. Memanfaatkan kekuasaan dengan segala keangkuhan dan kesombongan; penistaan kaum lemah dan penghujatan kepada Allah pada akhirnya akan dihancurkan Tuhan.

Jemaat Kekasih Kristus
Kekuasaan dengan segala ideologi, sistim, visi dan motivasinya datang dan pergi silih berganti. Seperti ada ungkapan setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Oleh sebab itu kekuasaan manusia sebenarnya tidak ada yang kekal.

Penglihatan tentang domba jantan dan kambing jantan ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak untuk selama-lamanya, apalagi jika kekuasaan itu diwarnai dengan kesombongan, kebencian, kesewenang-wenangan, keserakahan, pementingan diri sendiri, tidak rela membiarkan kekuatan lain mengancam.

Kekuasaan biasanya membuat telinga manusia menjadi tuli dan hati nuraninya tumpul. Menghalalkan segala cara, otoriter, korupsi, manipulasi, intrik, ambisius, angkuh, tidak peduli bahkan mengorbankan dan menindas orang lain telah menjadi nilai-nilai yang lumrah. Manusia telah menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir, padahal kekuasaan adalah alat untuk meraih kesejahteraan bersama, bukan kesejahteraan diri sendiri.

Kekuasaan adalah berkat Tuhan yang harus disyukuri dan dimanfaatkan dan dikendalikan sebaik-baiknya. Ketika Tuhan menganugerahkan suatu kekuasaan atau kewenangan kepada kita maka jadikanlah itu sebagai suatu yang yang berguna bagi sesama dan pelayanan bagi kemuliaan Tuhan. Sebab sebenarnya Tuhanlah pemilik segala kekuasaan itu. Jika kita memilikinya, itu justru karena anugerah Tuhan.

Karena itu mari memanfaatkan setiap karunia Tuhan itu (kekuasaan, posisi dalam masyarakat, kekayaan ataupun pangkat dan kedudukan) hanya untuk kemuliaan Tuhan dan bukan sebaliknya menjadi suatu kesombongan dan keserakahan seperti penglihatan tentang kambing dan domba tadi. Sebab segala bentuk ketidak patutan dalam memanfaatkan anugerah Tuhan itu termasuk kekuasaan, saatnya nanti akan menerima penghakiman Tuhan.

Kiranya juga, sebagai orang percaya dan gereja Tuhan, kita dapat saling mengingatkan dan mengarahkan satu dengan yang lain, termasuk juga mendoakan pemerintah kita agar mereka tidak SALAH JALAN memanfaatkan kekuasaan yang diberikan TUhan untuk mengayomi negeri ini.  Amin

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...