Wednesday, March 13, 2019

IMAMAT 25:8-13


ISTIRAHAT SEBAGAI ANUGERAH
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 20 MARET 2019

A. PENGANTAR
Apa jadinya jika kita memakai kendaraan terus-menerus tanpa diistirahatkan (service dll). Seluruh peralatan mesin pasti menjadi aus karena tidak ada perawatan. Kapan perawatan itu dilakukan? Saat kendaraan tersebut tidak digunakan, bukan? 

Musa menyampaikan Firman Tuhan bagi mereka di Sinai (ay.1), untuk menyiapkan bangsa ini ketika tiba di negeri perjanjian (ay.2). Kali ini yang disampaikan TUHAN, Allah Israel adalah mengenai tahun sabat dan tahun yobel. Istilah sabat diambil dari istilah Ibrani שַׁבָּת (shabbath) yang berarti “berhenti” atau juga bermakna “beristirahat”. Dengan demikian tahun sabat adalah tahun beristirahat atau tahun berhenti yang dihitung pada tahun ketujuh ketika mereka mengerjakan tanah yang dijanjikan itu (ay.3). memasuki tahun ketujuh, setelah enam tahun menggarap tanah tersebut, maka tahun ketujuh adalah tahun istirahat. Selanjutnya, pada tahun ke 49 yakni tujuh kali tahun sabat, Israel memasuk tahun Yobel.

B. PENJELASAN NATS
Apakah yang diistirahatkan pada tahun sabat atau tahun ketujuh? JIka kita melihat ayat 4 maka kesannya ada dua pihak yang berhenti beraktifitas pada tahun sabat itu, yakni tanah dan TUHAN. Perhentian atau istirahat untuk tanah dimaksud adalah tidak digarap, pokok anggur tidak dirantingi, sehingga mereka memakan dari hasil tanah yang tidak ditabur dan tidak ditanam (ay.6) yakni yang dipanen pada tahun sabat. Karena tidak ada yang menanam, maka semua berhak untuk memanen hasil yang tidak ditanam itu, termasuk para budak amaupun pendatang.

Bagaimana dengan istirahat bagi Tuhan? Terkesan pada ayat 4 bahwa Tuhan juha butuh istirahat. Perhatikan bunyi redaksi ayat tersebut: “tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat (baca: suatu perhentian) , masa perhentian penuh, suatu sabat (baca: suatu perhentian) bagi Tuhan.” Benarkah harus ada hari atau tahun di aman Tuhan beristirahat? Apa benar Tuhan butuh istirahat? Silakan bayangkan jika TUHAN beristirahat alias tidak melakukan apa-apa bagi dunia ini! Para pnafisr lebih stuju bahwa frasa suatu sabat bagi TUHAN lebih tepat bermakna: tahun perhentian itu (tahun sabat) dibersembahkan untuk Tuhan. Dengan demikian istilah bagi berarti diberikan untuk dan bukan bermakna diberlakukan untuk. Umat dan tanah beristirahat dilakukan untuk TUHAN.

Selanjutnya, memasuki tujuh kali tahun sabat (7x7tahun) yakni tahun keempatpuluh sembilan (ay.8), umat memasuki tahun pendamaian, dimana mereka merayakan hari raya pendamaian pada tanggal kesepuluh bulan ketujuh dengan cara membunyikan sangkakala (ay.9). Setahun kemudian, yakni tahun kelima-puluh itu merupakan tahun Yobel yang merupakaan tahun pembebasan (ay.10). Istilah Yobel dari bahasa Ibrani יוֹבֵל (yowbel) yang berarti domba jantan. Hal ini berhubungan dengan penggunaan tanduk domba jantan sebagai bahan baku sangkakala.

Hukum tahun sabat berlaku sama dengan pada saat tahun Yobel. Yakni tanah dibebaskan dari beban untuk digarap dan ditabur benih. Umat hanya boleh menikmati hasil yang dikeluarkan tanah secara alami tanpa proses pengerjaan tanah (ay.11). Yang menarik dari tahun Yobel adalah, semua orang harus pulang kembali pada tanah mereka. Sebab tahun itu merupakan tahun pembebasan (ay.10). Hal ini berarti para pekerja yang meninggalkan keluarga, para budak yang tidak dapat terikat pada tuannya mendapatkan kebebsan untuk kembali ke tanahnya sendiri, sebab semua tanah pada tahun ke-50 itu adalah kudus bagi TUHAN. Kudus berarti bukan suci tapi dikhusus bagi Tuhan. Tabah menjadi milik Tuhan. Bagi siapapun yang tanahnya disita atau kehilangan hak karena hutang piutang atau perang, memperoleh kembali tanah itu, sebab tanah itu adalah milik Allah. Semua dapat berkumpul kembali dengan keluarganya dan dengan hak harta miliknya. Kondisi ini hanya khusus (kudus) terjadi pada tahun Yobel (ay.12), sehingga semua orang dapat pulang ke tanah miliknya dan keluarga mereka masing-masing (ay.13).


C. RELEVANSI DAN APLIKASI
1.  Menarik untuk direnungan, bahwa baik tahun sabat maupun tahun yobel adalah kesempatan yang sengaja dibuat oleh Tuhan agar semua pihak beristirahat selama setahun. Manusia berhenti bekerja, ternak berhenti mengarap, dan tanah berhenti berproduksi serta semuanya hanya fokus bagi Tuhan.
    
     Bayangkan, bahwa manusia diberi waktu untuk beristirahat selama 1 tahun. Bukan hanya manusia, tetapi juga ternak dan tanah. Dampaknya, proses recovery tanah dan bumi terjadi dalam 1 tahun, peremajaan unsur hara (unsur kehidupan) pada tanah terjadi secara alami. Siapa yang membuat hukum ini? TUHAN, Allah semesta alam. Silakan renungkan bahwa TUHAN saja peduli pada kondisi instirahat manusia, ternak dan tanah. Ia sangat tahu bahwa tubuh kita, tanah ini dan semua ternak, membutuhkan waktu untuk beristirahat.

     Karena itu, adalah hal yang aneh jika manusia tidak dengan sengaja merencanakan waktu istirahat dan libur bekerja. Istirahat dipandnagn perlu oleh Tuhan, dan itu adalah anugerah. Kitalah yang tidak mengindahkan perintah istirahat itu. Mereka yang tetap bekerja di hari minggu (hari ketujuh, hari sabat) adalah mereka yang tidak mensyukuri hari istirahat sebagai hari anugerah.

2.  Tahun Yobel jug adalah tahun berkumplnya semua orang dengan sanak famili dan keluarga karena semu awajib kembali ke tanah milik mereka. Siapapun yang merantau wajib pulang untuk berjumpa dengan keluarga. Tahun Yobel adalah tahun dimana semua tidak terikat dengan rutinitas lalu punya kesempatan untuk memberbaiki kehidupan alam semesta secara alami termasuk hubungan sosial yang terabaikan karena kesibukan kerja.  

     Memang benar bahwa kekristenan tidak mengatur tentang tahun Yobel. Tetapi paling tidak, ada hari istirahat yang Tuhan anugerahkan yakni di hari Minggu. Hari itu adalah hari istirahat, hari berkumpul dengan keluarga, hari kendaraan diparkir, hari tidak ada kesibukan apapun kecuali untuk khusus diberikan bagi Tuhan. Atau mungkin memnafaatkan cuti dan hari libur lainnya supaya dapat membangun kembali kehidupan sosial yang terabaikan karena kesibukan.

     Manfaatkan lah setiap kesempatan istirahat untuk kesehatan tubuh, kesehatan hubungan keluarga, kesehatan interaksi sosial. Sebab beristirahat adalah juga suatu anugerah. Amin.



Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...