Thursday, October 18, 2018

MATIUS 5:1-12 CARA MEMPEROLEH KEBAHAGIAAN


Bahan Khotbah Ibadah Minggu
28 OKTOBER 2018

PENGANTAR
Siapa yang tidak ingin bahagia? Setiap orang pasti mengejar kebahagiaan hidup. Sehingga pertanyaan penting untuk segera menemukan jawababn adalah “bagaimana supaya beroleh bahagia itu?” Bacaan kita saat ini adalah jawaban dari pertanyaan tersebut. Ucapan bahagia yang disampaikan oleh Tuhan Yesus merupakan rangkaian dari keseluruhan Khotbah di Bukit yakni khotbah yang disampaikan Yesus berupa pengajaranNya tentang kehidupan beriman, yakni mulai pasal 5 hingga pasal 7.

Istilah berbahagia dalam kosata kata Yunani memiki arti yang sama dengan bahasa Ibrani. Secara leterer, “berbahagia” berasal dari bahasa Yunani μακάριος (makarios) yang memiliki dua arti yakni “berbahagia” dan “diberkati”. Hal ini memiliki indikasi yang cukup kuat bahwa “berbahagia” memiliki keeratan hubungan dengan “diberkati”. Seseorang, dalam pemahaman Kristen, hanya disebut berbahagia jika ia diberkati oleh Tuhan. Dengan kata lain, pertanyaan pentingnya bukan pada “bagaimana supaya bisa berbahagia” melainkan “bagaimana caranya menjadi pribadi yang diberkati supaya berbahagia?” inilah isi dari Ucapan Bahagia yang dikhotbahkan Yesus di atas sebuah bukit.
 


PENJELASAN TEKS
Pada umumnya, orang berpendapat bahwa untuk bisa berbahagia, maka harus memperoleh ini dan itu dalam kehidupan ini. Sehingga, orang bisa berkata setelah menikah memiliki pasangan hidup (suami atau istri) pastilah akan berbahagia: jika sudah punya mobil atau rumah pasti akan berbahagia; memiliki anak adalah sumber bahagia dll. Jika berpikir bahwa kebahagiaan itu identik dengan memiliki ini dan itu, maka pernyataan ini perlu diragukan. Sebab, apakah setelah menikah, pasangan itu benar-benar mengalamii kebahagian? Apakah ketika beroleh anak mereka mengalami kehidupan bahagia yang sejati? Rasanya tidak mungkin. Sebab banyak orang pula ketika memperoleh sesuatu tidak menjamin dirinya berbahagia, bahkan sebaliknya memiliki kesusahan hidup juga.

Jika demikian, bagaimana caranya agar berbahagia? Jawababnnya hanya satu, yakni jadilah pribadi yang diberkati. Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana agar menjadi orang yang diberkati oleh Tuhan? 12 ayat yang kita baca saat ini memberikan jawaban yang menarik, yakni:
1.      Bukan soal memiliki ini dan itu
Perhatikan keseluruhan perikop ini yakni mulai dari ayat 3-12 bacaan kita. Ada yang menarik di sana! Yesus menyebut kategori orang yang disebut berbahagialah, yakni: orang yang miskin di hadapan Allah, orang yang berdukacita, orang yang lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, orang yang murah hati, suci hatinya, pembawa damai, dan dianiaya oleh sebab kebenaran. Mereka yang dalam kategori inilah yang disebut berbahagia.

Dalam tradisi Yahudi, seorang yang akan melayani sebagai pemimpin ibadah, pujian atau doa, akan menghadap Allah dan berkata pada awal doa dengan konfigurasi kalimat: הִנְנִי הֶעָנִי מִמַּעַשׂ (Hineni He'ani Mima'as), artinya: Ini aku, seorang miskin yang melayani (ingin melakukan suatu perbuatan baik). Makna dari pernyataan itu bagi seorang pemimpin ibadah di hadapan Tuhan berarti: “aku tidak layak di hadapanMu, aku pendosa, aku tidak layal mendapatkan apa-apa dari padaMu termasuk mendapatkan pengampunanMu. Dari pengertian di atas, maka jelaslah bahwa kalimat miskin di hadapan Allah berbicara soal kerendahan hati di ahadapan Allah dengan cara meninggikan Tuhan. Ia memberikan tahta hatinya untuk Tuhan yang bersemayam.

Selanjutnya orang yang berdukacita berarti orang yang kehilangan sesuatu entah sanak famili ataupun benda; sedangkan orang yang lemah lembut berarti orang yang memberikan kelembutan kepada orang lain; sedangkan orang yang lapar dan haus akan kebenaran itu berrati mereka yang membuang segala kejahatan dan keinginan daging lalu mencari kebenaran.

Jika memperhatikan teks ini dan secara khusus kita melihat pola ucapan bahagia ini, maka kita simpulkan bahwa orang-orang yang disebut sebagai orang yang berbahagia, adalah mereka yang rela memberikan atau melepaskan sesuatu kepada si penerima. Memberikan atau melepaskan kelembutan bagi orang lain, membiarkan tahta hati diduduki oleh Allah, melepaskan kejahatan dalam diri, membawa atau membagi damai bagi orang lain, rela berkorban demi kebenaran. Maka kita dapat menyimpulkan bahwa untuk diberkati dan selanjutnya menjadi pribadi berbahagia, hal itu bukan soal menerima  atau memiliki ini dan itu. Justru sebaliknya, orang yang berbahagia adalah orang yang memberi dan melepaskan ini dan itu. Ini bukan soal menggenggam sesuatu, tetapi soal melepaskan sesuatu; ini juga bukan soal mempertahankan sesuatu, melainkan membuka tangan untuk membiarkan sesuatu lepas dari genggaman. Dengan kata lain, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak kita semiliki ini dan itu, melainkan seberapa rela kita melepaskan ini dan itu.

2.      Lepaskan sesuatu untuk Allah dan sesama
Kepada siapakah kita melepaskan satau memberikan sesuatu itu agar disebut bahagia? Ada dua tujuan penerima, yakni kepada Allah (misalnya, ay.1, ay.6, ay.8, ay.10-12), selanjutnya kepada manusia (misalnya: ay.4, ay.5, ay.7, ay.9). Orang yang diberkati adalah orang yang bersedia melakukan sesuatu untuk Allah, memberi dan melepaskan sesuatu untuk kemuliaanNya; hal yang sama juga ditujukan kepada sesama. Mereka yang juga disebut berbahagia, adalah mererka yang rela melakukan sesuatu untuk orang lain, melepaskan dan mengorbankan apapun demi kebahagiaan orang lain. Mereka yang seperti inilah yang terkategori sebagai orang yang diberkati dan kemudian berbahagia.

3.      Bahagia itu bagai kupu-kupu
Pernahkan kita mengejar kupu-kupu di sebuah taman? Apa yang terjadi? Pasti sangat sulit ditangkap. Semakin dikejar, kupu2 akan semakin jauh terbang meninggalkan kita. Tetapi coba sebalikanya, kita duduk diam di sekitar taman itu, tiba2 ada kupu-kupu yang terbang melintas di dekat kita dan bahkan hinggap di sekitar tubuh kita. Selanjutnya, silakan coba diam sambil memegang setangkai bunga yang harum, jangan terkejut, pasti kupu-kupu akan datang hinggap secara dekat.

Demikian juga kebahagiaan. Semakin kita mengejarnya untuk mendapatkannya, maka ia semakin jauh. Cobalah justru melepaskan aroma harum bunga, lalu saksikanlah! Cobalah untuk melepaskan kebahagiaan bagi orang lain, membawa damai bagi mereka, atau bermurah hati untuk mereka. Jangan lupa pula untuk menjadi bukan siapa-siapa di ahadap Tuhan dalam kerendahan dan tunduk padanya, bersedia mengerjakan kebenaran dan bahkan rela untuk menderita karena kebenaran itu.... wow engkau akan melihat dan merasakan kebahagiaan karena engkau adalah pribadi yang diberkati.

APLIKASI DAN RELEVANSI





Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...