Saturday, August 11, 2018

YAKOBUS 4:7-10 MELAWAN HAWA NAFSU


Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 15 Agustus 2018

A. LATAR BELAKANG NATS

Surat ini ditujukan kepada orang Kristen Yahudi diaspora yakni mereka yang tersebar dalam perantauan. Yakobus menujukan surat ini kepada duabelas suku yang telah percaya kepada Yesus Kristius (1:1).

Sepertinya, Yakobus melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh jemaat Tuhan ini dengan cara umum, yakni tentang perbagai pencobaan hidup yang harus mereka alami sebagai kaum pendatang maupun pencobaan iman sehubungan dengan status mereka sebagai orang percaya (1:2-18); bagaimana seharusnya sikap orang percaya berhubungan dengan Firman Tuhan yang telah mereka terima (1:19-27); relasi dan interaksi dalam jemaat maupun di luar jemaat (2:1-13; 3:1-18); iman yang harusnya diejawantahkan dalam perbuatan (2:14-26); dan beberapa pokok penting yang berhubungan dengan tindakan, cara hidup serta sikap yang harus dilakukan oleh seorang yang percaya kepada Yesus Kristus (4:1-5:20).

Dengan kata lain, jika tulisan Paulus berbicara tentang begitu banyak kerygma dan hal-hal yang bersifat doktrin teologis, surat Yakobus justru menitik beratkan pada aspek lain yakni tindakan nyata dari tiap kerygma yang telah diimani itu. Bagaimanakah seorang bercaya bersikap? Bagaimana memandang harta itu? Apa yang dilakukan jika merencanakan hari esok? Jika ada penderitaan dan persoalan hidup apakah yang harus diperbuat sebagai orang percaya? Dan masih banyak lagi berbagai hal yang sifatnya tindakan nyata sebagai orang Kristen yang diajarkan Yakobus.

Pada perikop pasal 4:1-10, Yakobus fokus pada kondisi interaksi umat dengan sesamanya. Bahwa rupanya terjadi pergesekan, pertengkaran yang diebabkan oleh upaya orang tertentu untuk mencari keuntungan diri sendiri dan memuaskan hawa nafsu mereka. Khusus pada ay.7-10, Yakobus memberikan berbagai penjelasan dan nasehat tentang bagaimana mereka mampu mengalahkan hawa nafsu sebagai sumber perselisihan tersebut

B. TELAAH PERIKOP
Untuk lebih memahami ayat 7-10, maka sebaiknya keseluruh perikop ini dipahami sebagai suatu kesatuan. Terjadi perselisihan dan pertengkaran dalam jemaat (ay.1). Untuk itulah Yakobus memulai perikop ini dengan suatu pertanyaan, “apa penyebabnya?”. Menurut Yakobus, penyebab dari pertengkaran itu adalah hawa Nafsu. Istilah yang dipakai oleh Yakobus adalah ἡδονή (hedone) yang berarti kenikmatan atau kesenangan; keinginan kuat mendapatkan kesenangan. Istilah ini setara dengan istilah PL, yakni istilah אָוָה ('avah) yang berarti hasrat untuk memiliki (lih. Ul.5:21). Memuaskan keinginan untuk menikmati kesenangan terdapat dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya pada harta dan kekayaan, jabatan dan kedudukan, keinginan seksual, dan atau segala sesuatu yang dikejar demi menikmati kesenangan. Orang seperti ini kemudian diidentikkan dengan suatu paham hidup yang disebut dengan hedonisme, yakni paham yang menyebut bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan hidup manusia.

Yakobus memberikan peringatan keras tentang hawa nafsu ini. Paling tidak ada dua hal penting yang akan dialami jika kepuasan hawa nafsu menjadi hal utama yang dipikirkan oleh orang percaya, yakni:
1.      Hawa Nafsu membawa pertengkaran (ay.1-2)
Menurut Yakobus, kekuatan Hawa Nafsu yang ingin dipuaskan, berada dalam diri sendiri dan terus berusaha menjatuhkan kehidupan pribadi maupun sesama (ay.1). Dampaknya adalah pertengkaran dan kerugian bagi orang lain. Sebab demi mendapatkan sesuatu untuk memuaskan dirinya, tiap orang akan mengupayakan berbagai cara termasuk membunuh sekalipun. Akibatnya, pertengkaran dan sengketa dengan orang lain tidak terelakkan lagi, entah karena iri hati ataupun keinginan tak terbendung untuk kepuasan itu (ay.2).

2.      Hawa Nafsu penghalang doa (ay.3)
Selanjutnya, menurut Yakobus, hawa nafsu menjadi alasan bagi Tuhan untuk tidak menjawab doa dan permintaan seseorang karena demi memuaskan keinginan dan kenikmatannya saja (ay.3). Sifat dan sikap seperti ini bertentangan dengan kehendak Allah. Sebab orientasi dari hawa nafsu adalah keinginan duniawi dan kedagingan. Menuruti keinginan daging atau duniawi ini setara dengan bersahabat dengan dunia dan bukan dengan Allah. Itu berarti dengan sengaja merka mau menjadi musuh Allah (ay.4). Keangkuhan kemudian hadir seakan tidak membutuhkan Tuhan lagi karena merasa berbagai hal yang diupayak dengan berbagai cara itu dapat diwujudkan. Itulah mengapa kemudian, Yakobus menyebut dalam ayat 6 bahwa Tuhan Allah menentang orang yang congkak, yakni yang dikutipnya dari Amsal 3:34.

Begitu berbahayanya mencari kepuasan diri sendiri atau mengejar hawa nafsu ini, maka pada ay. 7-10, Yakobus memberikan nasehat bagaimana seharusnya orang percaya bersikap menghadapi keinginan memuaskan hawa nafsu yang begitu kuat itu. Terdapat tiga hal penting yang harus dilakukan setiap orang menghadapi godaan hawa nafsunya, yakni:
1.      Tunduk kepada Allah (ay.7)
Langkah pertama menurut Yakobus adalah melawan sumber dari hawa nafsu, yakni Iblis dengan cara tunduklah kepada Allah (ay.7). Menarik jika mempelajari istilah “tunduklah” ini. Yakobus menggunakan kata ὑποτάσσω (hupatasso) untuk istilah tunduk yang berarti menempatkan diri di bawah; dikontrol oleh; taat. Dengan kata lain, untuk mengalahkan hawa nafsu, seorang percaya bersedia taat pada Allah dan tahu posisinya yakni dibawah kendali Allah.

Tunduk kepada Allah bukan saja menyangkut aspek ketaatn, namun juga pengakuan bahwa Dialah Maha Kuasa. Pengakuan ini penting untuk mengajak orang percaya tidak mengandalkan diri sendiri ketika menghadapi hawa nafsu. Istilah “hupatasso” di atas adalah juga suatu kesadaran bahwa orang percaya berada di bawah kendali dan otoritas Allah. mengakui kuasa Allah berarti juga mengandung pengakuan bahwa tidak ada kuasa pada diri kita, sehingga orientasi iman tidak lagi pada ke-Akuan-ku tapi pada Allah saja.

2.      Lawanlah Iblis (ay.7)
Langkah Kedua adalah lawanlah Iblis. Perintah ini mengandung makna penting yang berhubungan dengan poin pertama di atas. Jika poin pertama berbicara tentang menundukkan kepala kepada kuasa dan kehendak Allah, maka pada bagian ini justru sebaliknya. Orang percaya diajak untuk “mengangkat kepala” sebagai simbol perlawanan kepada Iblis.

Yakobus seakan dengan gamblang ingin mengingatkan mereka bahwa iblis dan kuasanya telah dikalahkan dan menjadi tumpuan kaki Allah (bd.Mzm,110:1-2). Sebab bukankah kebangkitan Kristus adalah juga proklamasi kemenanganNya atas kuasa Iblis? (Ibr.2:14). Jika Iblis telah dikalahkan (tidak memiliki kuasa lagi) maka adalah tanggung-jawab orang percaya untuk berjuang dan melawannya tanpa ragu dan takut lagi. Harus ada perlawanan, dan jangan tinggal diam. Iblis tidak dimusnakan, ia masih ada menggoda manusia untuk jatuh dalam dosa. Maka orang percaya perlu bergerak untuk melawan.

3.      Mendekatlah kepada Allah (ay.8,9)
Langkah ketiga adalah mendekat kepada Allah. Pada ay.8,9 Yakobus memberikan saran menarik, yakni “mendekatlah kepada Allah” dan “sadarilah keadaanmu”. Mendekat kepada Allah menunjuk pada suatu pilihan untuk menjadi sekutu Allah. kepada siapakah engkau berpihak? Kepada Allah atau kepada Iblis? Yakobus menekankan agar memilih Allah dengan cara mendekatkan diri kepadaNya. Selanjutnya, pada ayat 9 tidak lupa Yakobus mengajak mereka untuk menyadari diri. Bahwa hawa nafsu menggiring mereka dalam dosa. Bertobatlah dan rendahkan diri padaNya.

C. REFLEKSI
Kesenangan dan kepuasan adalah bagian dari kehidupan ini. Tetapi tidak berarti membuat kita mengejarnya secara membabi buta. Kesenangan dapat diperoleh di dalam Tuhan. Kepuasan hidup ada padaNya. Tuhanlah sumber kepuasan (Mzm.103:5) dan bukan dunia ini. Maka seharusnya pula, Tuhanlah yang kita cari dan bukan kenikmatan dunia. Jika tidak, kita telah tertawan oleh Hawa Nafsu.

Bagaimanakah kita menghadapi hawa nafsu dan mengalahkannya? Kita tidak akan pernah mampu menghadapi godaan hawa nafsu hanya dengan mengandalkan diri. Kita membutuhkan Tuhan. Perlu bagi kita untuk menyadari diri berdosa dan acap kali kalah menghadapi keinginan daging melalui godaan memuaskan hawa nafsu itu. Menyadari diri berdosa dan tidak mampu menghadapi kuasa Iblis dengan godaan hawa nafsu itu rupanya sangat penting. Bahkan lebih dari itu, ketika kesadaran itu hadir dalam diri, carilah pertolongan pada Tuhan, mendekatlah kepadaNya maka Ia akan mendekat kepadamu. Ini soal pilihan. Kepada siapa kita berpihak? Keberpihakan kepada Allah dengan kerendahan hati dan menjauhi iblis, maka kita akan ditinggikannya dan menang melawan hawa nafsu.

Mari, buatlah pilihan. Tunduklah kepada Allah. Beradalah dipihakNya, dan lawanlah Iblis. Engkau akan menang terhadap godaan hawa nafsu.

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...