Monday, May 16, 2011

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 18 MEI 2011

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 18 MEI 2011
YESAYA 55:8-11

Jemaat kekasih Tuhan.
Kitab Yesaya yang kita baca ini ditulis dalam suasana ketika mereka mulai menyiapkan diri kembali dari pembuangan di Babel. Marilah kita bayangkan apa yang terjadi di Yerusalem tempat dulu mereka tinggal dan sekarang telah kosong selama 70 tahun. Mengerikan!! Itu adalah istilah yang tepat. Negeri tempat tinggal mereka menjadi kota mati tanpa kehidupan dan penghuni. Bagaimanakah mereka dapat hidup apabila tidak ada lagi orang yang berladang. Dari mana memperoleh roti dan gandum jika tidak ada yang bercocok tanam. Bagaimana cara mereka akan membangun kota Yerusalem yang hancur? Demikianlah orang Israel dari buangan di Babel mengalami kekuatiran tentang masa depan mereka ketika kembali ke kampung halaman.

Jemaat kekasih Tuhan.
Apakah jawaban Tuhan terhadap segala kekuatiran umatNya itu? Ada beberapa prinsip penting yang Tuhan nyatakan menghadapi kenyataan hidup yg pahit dari Israel yang ada dalam masa akhir pembuangan, yakni:
1.       Rancangan Tuhan (ayat 8-9).
Rancangan yang Tuhan berikan bagi umat Israel sulit untuk dapat dipahami. Mengapa demikian, karena Israel melihat rancangan itu hanya pada kacamata manusia. Pandangan mata manusia terbatas, jangkauan melihat dan memprediksikan masa depan tidak dimiliki manusia, termasuk Israel. Itulah sebabnya, Tuhan berkata kepada mereka: “RancanganKu bukanlah rancanganmu; jalanmu bukanlah jalanKu” (ay.8).

Artinya, Israel menganggap tahu rancangan Tuhan, sehingga mulai berusaha menemukan jalan agar dapat mencapai rancangan tersebut. Perhatikanlah bahwa salah prediksi tentang rancangan, akan pula berakibat salah milih cara atau jalan atau strategi ke rancangan itu. Tidak ada yg mengerti rancangan Tuhan, termasuk Israel, yang ditegaskan dengan jelas pada ayat 9 bacaan kita. Sehingga adalah mustahil untuk memperoleh cara atau jalan jitu menggapai rancangan tersebut.

2.       Tidak Instan, namun berproses (ay.10).
Perhatikan ayat 10. Bagaimana cara Tuhan melaksanakan rancanganNya? Ayat 10 menyebut tentang proses alami yang berjalan lambat namun pasti. Proses itu adalah sebagai berikut: Agar roti (gandum) dapat di makan, petani harus menabur dan menanam benih gandum gandung; agar benih gandum yang ditanam bisa tumbuh subur, maka perlu pengairan yang baik; agar ada air yang mengairi bumi, maka perlu hujan atau salju dari langit. Demikian uraian ayat 10 tetang proses rancangan tersebut.

Dengan demikian, kita memahami bahwa Rancangan Tuhan adalah Israel harus dapat makan Roti. Namun jalan dan cara bisa makan roti alias cara dan cara mencapai rancangan itu butuh proses yang panjang. Ini menunjukkan bahwa cara kerja Tuhan tidak seperti yang kita banyak pikirkan. Biasanya manusia menginginkan bahwa segala sesuatu hauslah instan… serba cepat saji.. namun rupanya harus berproses sesuai waktu dan rancangan Tuhan.

Jemaat kekasih Tuhan.
Salah satu hal terindah dalam kehidupan orang percaya adalah kita belajar untuk mengenal jalan-jalan Tuhan yang luar biasa.  Namun jalan Tuhan pada kenyataannya adalah sangat bertentangan dengan jalan-jalan kita.  Jalan Tuhan itu terkadang aneh atau ganjil menurut penilaian kita dan hal itu sulit digambarkan atau dibayangkan. "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu."  (ayat 9).  Jalan-jalan Tuhan juga acapkali bertentangan dengan apa yang kita harapkan dan inginkan.

Mengapa Tuhan mendesain jalan-jalanNya sedemikian rupa?  Kita yang belum memiliki keintiman dengan Tuhan akan beranggapan bahwa jalan-jalan Tuhan itu sama atau sesuai dengan keinginan dan kehendak kita sendiri.  Bila yang terjadi itu sesuai dengan keinginan dan kehendak kita, maka dengan cepat kita akan menyimpulkan,"Inilah jalan TuhanSebaliknya, jika jalan-jalan Tuhan itu tidak seperti yang kita harapkan, kita pun akan berkata, "Ini bukan jalan Tuhan."  Di dalam Alkitab kita akan menemukan betapa jalan-jalan Tuhan itu justru sangat bertentangan dengan segala keinginan dan juga logika kita.  Contoh: ketika terjadi kekeringan dan kelaparan, Tuhan membawa Elia ke sungai Kerit dan burung-burung gagak memberinya makan.  Setelah itu kita renungkan, apa yang dialami Elia itu sungguh tidak masuk akal.  Tetapi itulah jalan Tuhan yang benar-benar tak dapat kita selami.

Jemaat kekasih Tuhan.
Biasanya, disaat kita tertekan dengan beban berat hidup ini, kita sering berkata, "Kami membutuhkan mukjizat--segera!" Kita semua tahu bagaimana rasanya tertekan oleh situasi atau hubungan yang retak. Dalam kecemasan, kita ingin Allah campur tangan tanpa menunda-nunda. Dalam Yesaya 55:10-11 Allah menggunakan alam dalam menggambarkan proses yang lambat untuk menghasilkan buah yang bertahan lama ini. Seperti halnya hujan dan salju yang menyirami bumi dan setelah jangka waktu tertentu menghasilkan biji untuk ditabur dan roti untuk dimakan, demikian pula Firman Allah akan menggenapi tujuan-Nya. Allah berkata, "Ia [Firman-Ku] akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." Dan apakah "yang Kusuruhkan" itu? Pembaruan hidup manusia dan dimuliakannya nama Allah. Mukjizat inilah yang kita butuhkan, yakni karya Allah dalam hidup kita melalui Firman-Nya. Karya ini memang tidak langsung memberikan hasil, tetapi bersifat adikodrati.

Karena itu apakah yang harus kita lakukan saat ini? Minimal ada dua hal yang perlu kita lakukan ketika menghadapai rancangan Tuhan yang “aneh” dan “menyulitkan” dalam hidup kita sehingga kita mengalami pergumulan hidup, yakni:

1.       Mintalah hikmat kepada Tuhan.
Banyak orang selalu merasa paling tahu tentang jalan hidup ini. Padahal tidak ada satupunyang tahu akan hari esok. Kita tidak perlu tahu hari esok, tapi kita seharusnya dapat mengerti tentang rancangan Tuhan untuk hidup kita. Untuk itu kita butuh pengertian alias hikmat dariNya agar dapat memahami rancangan Tuhan dalam hidup kita.

Apabila kita telah mengerti rancangan Tuhan dalam hidup kita, maka terberat sekalipun hari ini kita jalani hidup, kita akan mampu berpikir lebih positif dan berpengharapan. Kita akan mampu menerima dalam iman bahwa Tuhan tidak akan pernah merancangkan kecelakaan dalam hidup ini (Yer.29:11). Sehingga dengan iman kita bisa mengerti rancangan Tuhan itu, yakni “segala sesuatu indah pada waktunya” (Pkh.3:11). Itulah cara mengerti rancangan Tuhan yang ajaib tersebut.

2.       Mintalah jalan keluar kepada Tuhan.
Walaupun kita sudah mengerti bahwa Tuhan tidak pernah merangcangkan kecelakaan dalam hidup ini, namun untuk mencapai damai sejahtera itu tidaklah instan. Itu butuh proses yang tidak singkat. Terkadang dalam proses itu, kita harus melewati padang gurun (Israel 40 tahun di gurun); atau menghadapi tembok tebal penghalang masa depan hidup ini yang sulit ditembus (Israel terbentur tembok Yerikho) atau hal lainnya. Kita mungkin putus asa seperti Israel yang sulit menerima kenyataan itu.

Perhatikan bagaimana Tuhan memberikan jalan keluar bagi mereka. Di padang gurun yang tidak menentu arah, Tuhan mengirim tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari. Saat menghadapi kokohnya tembok Yerikho, Tuhan menggiring umatNya dalam pujian yang dasyat selama 6 hari 1 kali putaran, dan dihari ke-7 dilakukan 7 kali putaran. Luar biasa. Tembok itupun roboh.

Saat tidak ada jalan, kita harusnya hanya meminta TUHAN untuk dapat menyediakan jalan keluar itu. Mintalah kepada Tuhan, bukan pada yang lain walaupun mungkin yang lain itu lebih instan. Tuhan satu-satunya jalan sebab Dialah Jalan dan kebenaran dan hidup itu (Yoh.14:6).

Jemaat kekasih Tuhan.
Selamat menikmati kasih Tuhan dalam hidup ini. Selamat menjalani rancanganNya dan jalan-Nya yang ajaib dalam berbagai ketegangan, pergumulan, halangan dan bahkan persoalan hidup sekalipun. Yakinlah baha Tuhan kita akan selalu mendampingi dan menyertai. Amin.

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...