Monday, November 14, 2011

MATERI KHOTBAH PKP SELASA 15 NOVEMBER 2011 AYUB 2:11-13


11Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Téman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. 12Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. 13Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.


Persekutuan Kaum Perempuan yang di kasihi Kristus,….
Apakah yang kita rasakan ketika sedang mengalami persoalan dan pergumulan hidup? Ada banyak hal tentunya. Sedih, putus asa, kebuntuan berpikir, dunia seakan runtuh dan kandangkala merasa menjadi orang paling malang di dunia. Di tengah kondisi seperti ini hal yang paling dibutuhkan adalah seorang sahabat yang bersedia menjadi tempat berbagi. Walau masalah tidak selesai, minimal kita pastilah merasa sedikit ringan ketika ada orang yang sedia untuk merangakul dan mendekap kita saat terisak dalam tangis atau minimal memberi telinganya untuk mendengar keluh dan kesah sengsara hidup yang kita alami.

Bacaan kita saat ini berkisah tentang kehadiran para sahabat Ayub di saat mereka mendengar tentang musibah dan kemalangan hidup yang dialami Ayub. Alkitab menuliskan ketiga sahabat Ayub, yakni: Elifas, orang Teman dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama datang dari tempatnya masing-masing ketika mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa Ayub (ay. 11). Itu berarti mereka tidak berasal dari tempat yang sama. Mereka mungkin beda kota, wilayah bahkan negara. Selain itu dikatakan bahwa mereka bersepakat untuk menghibur Ayub. Itu berarti bukan suatu kebetulan kalau mereka dapat berkumpul bersama.

Lalu, bagaimana mereka dapat mem­buat kesepakatan sementara tempat mereka begitu berjauhan? Alkitab tidak berbicara banyak mengenai hal ini tetapi seperti kita ketahui, membuat suatu kesepakatan dengan jarak terpisah jauh, dengan teknologi informasi yang masih begitu primitif, jelas bukan hal yang mudah; sangat menyita waktu dan tenaga. Tetapi mereka rela bersusah payah sedemikian rupa demi untuk menghibur sahabat yang mereka kasihi, Ayub.

Mereka datang pada Ayub dengan tujuan yang murni, yaitu untuk mengucapkan bela­sungkawa dan menghibur (ay. 11b). Mereka datang bukan karena Ayub kaya atau karena memiliki motivasi-motivasi lain seperti mendapatkan kenikmatan atas balas jasa. Tidak! Sebab saat itu Ayub sudah jatuh miskin, hidup melarat dan kena penyakit mengerikan lagi. Bukankah manusia sering melakukan perbuatan baik untuk mengharapkan imbalan? Terkadang tanpa sadar, di saat kita mau meno­long teman yang sedang dalam kesulitan, ada motivasi lain di baliknya. Setidaknya kita ingin teman kita itu menghargai perhatian kita, sehingga di saat ia tidak bisa menunjukkan perhatian itu, kita menjadi kecewa dan marah. Secara motivasi, kita dapat menarik kesimpulan bahwa mereka mempunyai motivasi yang baik. Mereka datang dengan maksud yang sangat jelas.

Dalam ayat 12-13 kita menemukan kenyatan yang luar biasa terhadap apa yang dilakukan para sahabat Ayub itu. Ketika sahabat Ayub memandang dari kejauhan dan melihat kondisi Ayub begitu memilukan mereka lima hal bermakna:
1.       Mereka menangis dengan suara nyaring;
2.       Mereka mengoyakkan jubah;
3.       Mereka menaburkan debu di kepala;
4.       Mereka menemani Ayub dengan duduk bersama-sama dia selama tujuh hari tujuh malam;
5.       Mereka puasa bicara alias tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.

Banyak penafsiran yang mengatakan bahwa mereka melakukannya karena kebiasaan budaya yang berlaku pada jaman itu. Tapi jika kita per­hatikan lebih lanjut, mereka melakukannya bukan sekedar kebiasaan budaya. Mereka tidak hanya hadir dan berbagi secara fisik, mereka juga berbagi perasaan dengan Ayub. Mereka sama-sama meratap dan sama-sama hancur hati.

Perbuatan ketiga sahabat Ayub ini merupakan sikap dan perbuatan terpuji.  Demi mendukung Ayub dan pergumulan hidupnya, mereka rela berkorban waktu dan tenaga; dengan motivasi tulus meringankan beban; serta dengan penuh kasih turut merasakan derita sahabatnya. Memang benar, apabila kita lanjutkan bacaan ini, kita menemukan pada akhirnya para sahabat Ayub mulai memberikan nasehat dan tanggapan yang kemudian melemahkan dan menjatuhkan Ayub. Saya kira ini adalah wajar, jika mereka sendiri tidak mengetahui kondisi sebenarnya Ayub dalam hal Iman-nya kepada Allah. Namun bukan ini yang akan kita bahas. Khusus bagian bacaan kita, kepedulian merekalah yang perlu direnungkan.

Persekutuan Kaum Perempuan yang di kasihi Kristus,….
Sesuatu yang tak dapat dipungkiri bahwa di belahan dunia manapun ada begitu banyak orang yang mengalami kemalangan hidup dan penderitaan diri. Di manapun termasuk di sekitar kita sekalipun ada banyak orang yang mengalami kesendirian dan kesepian. Mereka bagaikan Ayub yang tidak mengerti mengapa semua dialami. Mereka bagaikan Ayub yang menderita sendiri dan membutuhkan topangan dan pendampingan. Kita dipanggil untuk menjadi seperti para sahabat Ayub tersebut. Panggilan kita adalah meringkankan penderitaan dan pergumulan sesama kita.

Mengapa tindakan ini disebut sebagai panggilan kita. Saya mengajak kita semua untuk merenungkan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 25:35-40 yang berbunyi:

35Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Kita dipanggil sebagai orang yang meringkankan penderitaan sesama karena itu adalah perintah Tuhan.  Semua kebaikan yang kita lakukan kepada mereka yang mengalami derita hidup, sebenarnya adalah tindakan untuk Tuhan. Sebab ternyata Tuhan Yesus telah mengidentikkan diriNya dengan mereka yang menderita. Dan bukankah selama ada dalam dunia ini, Tuhan Yesus sendiri menunjukkan kepeduliannya bagi mereka yang sedang alami kesengsaraan hidup? Yesus memberi makanan kepada mereka yang lapar; Ia menghibur mereka yang berduka; Dia menyembuhkan yang sakit dsb. Pendek kata Yesus mengembangkan sense of humanity-Nya (rasa berbela rasa) kepada manusia.

Jika Tuhan Yesus melakukan itu, maka seyogiaya kita juga mengerjakan hal yang sama. Di Rumah Sakit PGI Cikini Jakarta terpasang Motto Rumah sakit itu dalam bahasa latin, yakni Sodare dolorem upus divinum eist, yang berarti: “meringankan penderitaan adalah pekerjaan Ilahi”. Kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan Ilahi itu, yakni meringankan penderitaan orang lain.

Bagaimana caranya? Lihatlah apa yang dilakukan oleh tiga sahabat Ayub:

1.       Mereka bersusah payah menjangkau tempat Ayub dengan mengorbankan waktu, tenaga dan jarak tempuh yang cukup jauh. Untuk bisa meringankan penderitaan orang lain, kita mesti bersedia mengorbankan sesuatu. Mungkin yang dikorbankan adalah sibuknya kita di tempat kerja; waktu untuk keluarga; keluar sedikit dana extra yang tak terprogram; sediakan ekstra tenaga dan korbankan jam istirahat atau waktu santai kita dll. Tanpa pengorbanan, kita tidak akan mampu secara maksimal untuk meringankan penderitaan orang lain.

2.       Seperti para sahabat Ayub, milikilah motivasi yang tulus ketika menolong orang lain. Jangan demi pujian atau sanjungan; jangan pula supaya diingat atau dikenang; dan juga janganlah demi suatu penghargaan. Perbuatan baik yang kita lakukan bagi orang lain, biarlah murni hanya untuk menolong. Kalaupun itu diguncingkan dan dihargai orang, biarlah itu menjadi kemuliaan Allah.

3.       Perhatikan 5 hal penting yang dilakukan oleh sahabat Ayub pada penjelasan di atas. Mereka bukan hanya bersimpati dengan derita Ayub alias sekedar merasa ibah dan kasihan. Namun mereka bertindak lebih jauh, yakni berempati dengan derita Ayub alias berusaha turut merasakan apa yang dirasakan oleh Ayub. Empati berarti turut berbela rasa atau dalam bahasa sederhananya adalah bersedia memakai sepatu orang lain. Jika sepatu itu sempit maka kita dapat merasakan nyeri dan sakitnya; jika sepatu itu pas ukurannya maka kita dapat merasakan pula nyamannya.

Hanya dengan turut merasakan penderitaan orang lain, maka kita dapat tahu apa sesungguhnya pertolongan yang dibutuhkan mereka. Hanya dengan turut merasakan derita mereka, maka kita akan mampu “mengambil” sedikit pergumulan itu, sehingga orang yang menderita itu merasakan sedikit kelegaan.

Karena itu, mari-lah menjadi alat Tuhan untuk menyalurkan Kasih-Nya yang menyembuhkan kepada setiap orang yang mengalami kesakitan hidup karena derita dan pergumulan yang dialaminya. Kiranya Roh Kudus membantu kita untuk lebih banyak peduli dan menjadi berkat bagi orang lain yang sedang menderita. Amin.

Sunday, November 13, 2011

MATERI KHOTBAH PKB, 14 NOVEMBER 2011 AYUB 2:1-10



Persekutuan Kaum Bapak, yang diberkati Tuhan…
Pernahkah saudara mengalami kondisi buruk justru di saat kita melakukan sesuatu yang baik dan terpuji? Bagaikan pepatah yang berbunyi “air susu dibalas dengan air tuba” demikianlah kondisi itu digambarkan. Keadaan ini hampir mirip seperti yang dialami oleh Tokoh Alkitab dalam bacaan kita yang bernama Ayub.

Siapakah Ayub? Tokoh ini tidak dengan terperinci dijelaskan oleh alkitab. Ia hanya disebutkan berasal dari daerah Us (1:1) dan merupakan orang terkaya di daerahnya. Ia mendapatkan 7 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Selain itu ia juga mempunyai banyak harta kekayaan, di antaranya: 7000 kambing domba, 3000 unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina dan banyak budak-budak (1:2-3).

Oleh karena banyaknya harta Ayub, maka ia menjadi orang yang terkaya di daerah Timur. Ayub digambarkan sebagai orang yang sangat kaya dan tidak ada yang lebih kaya dari pada Ayub. Jadi besar kemungkinan Ayub juga sangat terkenal di seluruh daerah Timur. Menarik untuk dicatat bahwa Alkitab menyebut tentang 10 orang anak dan kekayaan sebagai pemberian Tuhan (1:2,3,10), namun tidak menyebut istrinya sebagai bagian dari pemberian Tuhan. Istri Ayub hanya muncul pada  ayat 9 bacaan kita.

Namun keterangan yang penting dan dicatat berulang-ulang mengenai tokoh ini adalah karakter moralnya. Ia adalah seorang yang “saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Kalimat ini dituliskan sebanyak 3 kali; 1x disebutkan dalam 1:1 oleh penulis kitab ini, 2x diucapkan oleh Tuhan dalam 1:8 dan 2:3. Jadi karakter Ayub tersebut merupakan suatu penekanan, karakter yang dinilai sangat baik oleh Tuhan, sehingga ia dibanggakan oleh Allah dihadapan Iblis. Tidak ada tokoh Alkitab yang lain yang dibangga-banggakan oleh Tuhan di hadapan iblis, selain dari pada Ayub. Kualitas-kualitas inilah yang digunakan oleh penulis kitab ini untuk menjelaskan karakter moral Ayub yang sebenarnya. Harta kekayaan Ayub yang paling utama bukanlah materi yang berada di luar dirinya, tetapi apa yang ada di dalam dirinya.

Bagaimanakah kisah kemalangan Ayub, seorang yang takut Tuhan ini, dimulai? Diawali dengan pertemuan mahluk sorgawi dengan Tuhan termasuk Iblis di dalamnya. Tuhan amat membanggakan Ayub dihadapan seisi Sorga, bahkan pula di hadapan Iblis (lih 1:8; 2:3). Namun Iblis meragukan kondisi itu dengan mencari alasan bahwa kesetiaan Ayub hanya sebatas kekayaan dan kepemilikannya yang dianugerahi Tuhan. Singkatnya, Iblis datang menghancurkan harta benda dan anak2 Ayub, atas seijin Tuhan (1:13-19) sehingga Ayub hidup miskin berdua dengan Istrinya.

Apa reaksi Ayub? Pada pasal 1:21-22 kita menemukan siapa Ayub sebenarnya berdasarkan rekasinya terhadap musibah yang ia alami. Ayub tidak mengutuk dan menggerutu; Ayub tidak sekali-pun mempertanyakan Tuhan, namun sebaliknya justru memahami bahwa apa yang ia miliki semuanya BUKAN MILIKNYA, melainkan adalah milik Tuhan. Maka, menurut Ayub, adalah wajar jika Tuhan mengambilnya. Peristiwa ini adalah PENCOBAAN PERTAMA dan Iblis GAGAL TOTAL menjatuhkan Ayub dalam dosa. Sebab dalam ayat 22 pasal 1 ditekankan, bahwa dalam kondisi itu Ayub TIDAK berbuat dosa.

Persekutuan Kaum Bapak, yang diberkati Tuhan…
Setelah gagal pada cobaan pertama mengenai HARTA BENDA dan kepemilikan, maka saatnya Iblis melanjutkan cobaan kedua tentang tubuh jasmani dengan Istilah yang dipakai “kulit ganti kulit” (2:4). Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada bacaan kita hari ini, yakni:
1.       Perhatikan ayat 5. Iblis meminta agar TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah tulang dan daging Ayub supaya kena kutuk. Apakah TUHAN menyetujuinya? Secara sepintas, jawabannya pasti YA. Namun jika kita memperhatikan ayat 6 bacaan kita sekaligus merujuk 1:12 maka kita menemukan sesuatu yang menarik. TUHAN tidak sedikitpun bersedia menggunakan TanganNya untuk menulahi Ayub. Tangan Iblislah yang melakukannya. Peran TUHAN dalam pergumulan itu hanya sampai pada “MENGIJINKAN” Iblis melakukannya.

Dengan demikian kita menemukan suatu kebenaran penting pada kisah ini. Pencobaan dan derita Ayub tidaklah datang dari tangan TUHAN yang penuh kasih itu. Derita Ayub ditimpakan oleh tangan Iblis yang penuh dengan kebencian dan kepicikan. Dalam alkitab tidak ditemukan sedikitpun bahwa TUHAN mengutuki dan menghajar orang yang taat dan setia kepadaNya. Sebaliknya justru, untuk tipe orang seperti itu, tangan Tuhan selalu datang menjamah untuk memberkati. Kalaupun ada hajaran, itu hanya diberikan TUHAN dalam rangka mendidik dan mengarahkan lagi ke jalan yang benar orang yang dikasihi (bd. Wahyu 3:19).

2.       Ayub sangat menderita dengan penyakit yang ditimpahkan Iblis. Garukan karena gatal lewat tangannya sudah tidak berguna lagi. Itulah sebabnya dalam ayat 8 disebutkan Ayub menggunakan beling untuk menggaruk-garuk badannya. Silakan bayangkan betapa ngeri penderitaan Ayub!

Siapapun yang menyaksikan ini pastilah terenyuh dan tidak tega melihat derita Ayub. Namun, dalam bacaan kita justru tiba2 muncul satu tokoh yang tega dan tidak merasakan derita itu. Siapa tokoh itu? Dia tidak lain adalah Istri Ayub sebagaimana dinyatakan ayat 9 bacaan kita. Perempuan ini bukan saja tidak pedui terhadap penderitaan Ayub, namun juga menjadi “alat iblis” untuk menggoyahkan pertahanan iman Ayub yang saat itu sedang berjuang.

Ternyata tidak selamanya orang yang terdekat dan kelihatannya selalu ada untuk kita dapat mengerti dan mendukung setiap derita dan pergumulan termasuk perjuangan iman. Terkadang justru orang-orang seperti inilah yang menjadi alat Iblis. Dalam hal ini, Ayublah yang mengalami sendiri, yakni ditinggalkan dan dilemahkan oleh oran yang justru dapat diharapkan mendukung.

3.       Perhatikan jawaban Ayub kepada Istrinya yang sekaligus menjadi jawaban Imani Ayub terhadap semua cobaan dan derita hidup yang ia alami! Dalam ayat 10 bacaan kita, Ayub dengan tegas menolak menghujat dan meragukan Allah. Ayub menyadari bahwa ia hanya mungkin hidup karena anugerah dan karunia TUHAN. Karena itu apapun yang Tuhan lakukan, entah yang baik atau buruk harusnya tetap diterima dan disyukuri. Bagi Ayub, adalah suatu KEGILAAN jika manusia hanya mau menerima yang baik dari TUHAN dan menolak yang buruk.

Pernyataan iman ini sangat dasyat dan luar biasa untuk dimaknai. Ayub menerima apapun dari TUHAN. Ayub belajar untuk menerima keburukan hidup oleh karena ia sudah menerima kebaikan terlebih dahulu. Ayub tidak berpikir bahwa kesalehan dan kesetiaannya harus dibalas TUHAN dengan KEBAIKAN sebagai hadiah dan haknya. Namun keunggulan Ayub adalah ketika ia menyadari bahwa di tangan TUHAN-nya ia bukan siapa2 sehingga tidak layak menggerutu, sebaliknya Ayub belajar menerima apapun dari TUHAN. Sebab, bagi AYUB, Tuhan berhak melakukan apapun baginya –baik atau buruk- karena itu adalah HAK Tuhan termasuk terhadap dirinya sekalipun.

Persekutuan Kaum Bapak, yang diberkati Tuhan…
Berdasarkan Firman Tuhan ini, kita dapat memperoleh beberapa pokok pikiran yang berhubungan dengan kehidupan kita dari kisah Ayub ini, yakni:
1.       Kesengsaraan hidup itu identik dengan pencobaan hidup. Ketika kita mengalami pencobaan, siapakah yang mesti bertanggung-jawab? Apakah Tuhan atau Iblis. Pertanyaan ini hanya akan terjawab jika kita mengetahui tentang dari mana asalnya pencobaan itu. Mengenai asal-muasal pencobaan itu, Yak. 1:13-14 menyebutkan:
  1. Allah tidak pernah mencobai manusia
  2. Manusia dicobai oleh keinginannya sendiri
  3. Manusia dicobai oleh Iblis (lih. Bacaan kita) atau biasa disebut oleh Paulus sebagai PENGGODA (1 Tesalonika 3:5).

Hal ini dipertegas lagi oleh bacaan kita bahwa Tangan TUHAN tidak pernah IA gunakan untuk mengutuk dan menyakiti orang yang dikasihiNya. Tindakan ini sepenuhnya ada dalam aksi Iblis. Peran TUHAN pada pencobaan yang kita alami sangatlah sedikit, yakni sebatas mengijinkan Iblis.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Tuhan mengijinkan? Jawabanya kita temukan dalam 1Kor.10:13 yang berbunyi: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia…” Artinya, TUHAN mengijinkan kita dicobai karena Tuhan tahu bahwa kita mampu untuk menanggung cobaan itu. TUHAN telah mengukur kadar iman dan kemampuan saudara menghadapi cobaan itu. Mungkin kita berpikir bahwa peristuwa itu terlalu berat, tetapi menurut Tuhan kondisi itu masih ada dalam takaran dan kadar kemampuan kita.

Jadi adalah salah alamat, dan berdosa-lah kita jika mengklaim dan menghakimi TUHAN terhadap pencobaan dan derita yang kita alami.  Sebab pencobaan datang kepada Ayub, bukan karena ia durhaka namun justru karena ia setia. Kesetian kita mengundang “iri hati” iblis untuk menghancurkan iman kita lewat pencobaan. Iblislah yang melakukan itu. Jika kita menghakimi Allah dan menghujatNya, berarti Iblis benar dan ia menang karena ternyata kita tidak tahan iman dan berbuat dosa kepada TUHAN. Karena itu, kepada kita yang setia dan percaya kepadaNya, berhati-hatilah karena Iblis licik dan siap menjatuhkan kita lewat cobaan hidup.

2.       Apa yang harus kita lakukan saat mengalami pencobaan oleh Iblis. Belajarlah seperti Ayub! Ia tidak menjadikan TUHAN sebagai MUSUH-nya, melainkan tetap sedapat mungkin bergantung pada TUHAN. Hal ini terlihat jelas dari tiap jawaban imannya ketika menghadapi 2 jenis pencobaan itu.

Mengapa bergantung pada TUHAN begitu penting? Bukankah banyak orang cendrung meninggalkan TUHAN ketika merasakan bahwa seakan TUHAN tidak adil dalam hidupnya? Perhatikan bunyi Mzm.37:5 yang menjadi alasan penting kita harus tetap bergantung pada TUHAN! Ayat ini berbunyi: “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”. Artinya, hanya dengan bergantung pada TUHAN, saat alami pencobaan Iblis-lah, maka IA akan bertindak.

Apa tindakan dan peran TUHAN saat kita mengalami pencobaan? Peran TUHAN tidak hanya pada mengijinkan Iblis mencobai kita, namun dalam lanjutan bunyi ayat 13 kitab 1Kor pasal 10 disebutkan: “… Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu... Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. TUHAN tidak akan berdiam diri disaat kita mengalami pencobaan dari Iblis. Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar dan kekuatan untuk dapat menanggungnya hingga pencobaan itu selesai. Karena itu jangan tinggalkan TUHAN ketika hadapi pencobaan, sebaliknya teruslah berada di pihak TUHAN yang penuh kasih dan kuasa itu.

Peristiwa Istri Ayub mengingatkan kita bahwa tidak semua orang dapat menjadi pendukung dan penopang saat kita butuh topangan dan dampingan di tengah cobaan dan pergumulan hidup. Karena itu, kitapun diajar untuk selektif memilih orang yang tepat kita sedang mengalami cobaan hidup. Hindari setiap saran yang justru akan menjerumuskan kita. Carilah pribadi2 yang tepat yang akan TUHAN kirim mendampingi kita saat mengalami pergumulan itu. Karena itu tetaplah setia! Hadapilah pergumulan dan cobaan hidup ini dengan bijak dan teguh iman seperti Ayub. Percayalah TUHAN tidak akan membiarkan kita dalam pencobaan. Amin.

Tuesday, October 18, 2011

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR RABU 19 OKTOBER 2011 ROMA 9:30-10:3



Jemaat Kekasih Kristus
Pada suatu peristiwa kebakaran besar di sebuah apartemen, seorang petugas pemadam kebakaran berusaha untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang ketakutan di lantai III. Dengan susah payah petugas itu berusaha menjangkau anak itu yang menangis dan menggigil karena takut. Namun setiap petugas itu mendekat, anak itu selalu saja mundur dan menjauh. Anak itu begitu takut apalagi melihat orang asing yang mendekatinya. Semakin anak ini akan dijangkau oleh petugas itu lewat tangga darurat, anak kecil yang panik itu terus menghindar dan mundur menjauh hingga usaha penyelamatan berlangsung menegangkan.

Akhirnya, dapat ditebak. Anak itu-pun tidak tertolong, ketika pada langkah mundur yang tak terduga olehnya, beberapa bagian atap yang sedang terbakar itu pun ambruk dan jatuh menimpahnya. Anam kecil yang malang itu meninggal di tempat tanpa sempat ditolong petugas tadi. Sambil menangis penuh sesal, petugas itu membawa tubuh kecil tak bernyawa dan menyerahkan kepada keluarganya. Dengan masih terguncang, ia berkata kepada pimpinannya: “saya ingin menyelamatkannya, namun sayang sekali anak itu TIDAK MEMPERCAYAIKU, dia menolak kehadiranku…

Jemaat Tuhan,…
Paulus, dalam bacaan kita, menyampaikan kesedihannya (9:1) ketika membicarakan penolakan keselamatan TUHAN, Allah Israel bagi umat pilihannya itu. Israel lebih memilih model keselamatan yang lain, yakni melalui Hukum Taurat yang berarti menolak keselamatan melalui Yesus Kristus. Alasannya sederhana, karena mereka TIDAK PERCAYA bahwa Yesus mampu menyelamatkan. Sulit bagi mereka untuk menerima bahwa Yesus adalah penyelamat itu. Israel cendrung untuk memilih HUKUM TAURAT, sebagai sumber keselamatan mereka.

Ada beberapa alasan, menurut Paulus mengapa kemudian Israel mengambil sikap radikal seperti itu, sehingga menolak Kristus, yakni:
1.       Sesuai dengan PL mereka adalah umat pilihan sekaligus umat perjanjian. Bagi mereka, dengan memperoleh predikat seperti ini, yakni sebagai bangsa pilihan, maka otomatis mereka akan diselamatkan (bd.9:4).
2.       Mereka merasa bahwa mereka adalah turunan Abraham. Yang sejak dulu telah menerima janji keselamatan. Karena itu adalah mustahil memperoleh keselamatan dari sumber lain, selain dari jalur perjanjian keturunan Abraham dengan TUHAN, Allah mereka (bd. 9:5).

3.       Sumber keselamatan menurut Israel adalah kepatuhan terhadap Hukum Taurat. Semakin banyak melakukan kebenaran, maka semakin mungkin untuk diselamatkan. Ukuran kebenaran dimaksud adalah Hukum Taurat sendiri. Dengan demikian, bagi Israel, letak keselamatan itu adalah pada upaya mereka berdasarkan perbuatan (lihat 9:32). Perbuatan benar menjamin keselamatan, demikian pandangan Israel ini sehingga menolak Kristus.

4.       Oleh karena prinsip inilah, maka Israel tidak mengenal Allah yang sesungguhnya telah datang sebagai manusia sempurna yakni Yesus Kristus. Mereka menolak kebenaran lain dan berusaha mendirikan kebenaran sendiri sehingga akhirnya tidak takluk pada kebenaran Allah yang menyelamatkan itu (bd. 10:3).

Dari uraian di atas, ada beberapa hal penting yang dapat kita relevansikan sesuai kebenaran Firman Tuhan dalam kehidupan masing-masing kita, yakni:

1.       Oleh karena Israel mengejar keselamatan berdasarkan perbuatan dan bukan iman, sehingga mereka menolak beriman kepada Kristus, maka sekarang bangsa2 lain akhirnya memperoleh keselamatan karena beriman dan percaya kepada Kristus. Hal ini dengan tegas dinyatakan oleh Paulus dalam ayat 30 bacaan kita.

Ini berarti mengingatkan kita bahwa keselamatan itu tidak pernah diperoleh dengan cara apapun menurut perbuatan benar dan baik, namun hanya melalui iman percaya kepada Kristus. Siapapun kita tidak akan pernah diselamatkan hanya berdasarkan amal soleh atau perbuatan baik belaka. Siappun yg berbuat baik, namun tidak mengimani Kristus itu sama dengan menolak KEBAIKAN yang sesunguhnya dari Allah.

2.       Israel begitu yakin oleh karena sejak dulu mereka adalah turunan Abraham yang adalah orang benar. Karena Abraham adalah orang benar, dan mereka adalah turunannya, maka pastilah mereka juga beroleh keselamatan. Anggapan ini adalah anggapan yang keliru. Dalam pasal 9:4-6 bacaan kemarin, kita diingatkan Paulus bahwa tidak semua Israel adalah orang Israel, demikian juga tidak semua turunan Abraham adalah benar turunan Abraham.

Manusia telah dicemarkan dosa, termasuk turunan Abraham. Dengan demikian, identitas kita tidak menjamin keselamatan. Keselamatan bukan urusan turunan, tapi ini menyangkut hal pribadi dan sifatnya personal.

Lewat bacaan ini kita juga diingatkan, bahwa kendatipun lahir dari keluarga Kristen dan turunan keluarga percaya, maka tidaklah langsung mendapat jaminan untuk beroleh keselamatan itu. Agama dan ritual keagamaan Kristen sendiri tidak menjamin keselamatan.

Jaminan keselamatan justru datang melalui iman (ay.30) yang sungguh kepada Kristus Sang Juruselamat dan bukan karena alasan lahir dari keturunan apapun. Ini sangatlah penting!! Jika orang hanya rajin ke gereja sebagai suatu hal rutin dan ritual, namun iman percaya pada Kristus tidak sebanding dengan kegiatan keagamaannya, maka semua juga adalah sia-sia. Iman haruslah terlihat dari sikap hidup, cara berpikir dan pola tutur dari orang percaya. Kita perlu menunjukkan bahwa keselamatan itu telah menjadi bagian kita.

3.       Banyak orang berpikir tentang alternatif kebenaran dan keselamatan seperti Israel dan pola pikirnya (bad. 10:3) sehingga kemudian dengan mudah beralih pada kebenaran dan cara keselamatan lain yang menurutnya lebih baik. Bahkan banyak orang relah meninggalkan Yesus demi perkawinan, jabatan ataupun status sosial dan kemudian mencari sumber keselamatan yang lain.

Orang-orang seperti ini adalah orang BODOH yang membuang hal yang paling berharga, yakni kebenaran Allah. Keselamatan adalah anugerah atau pemberian Cuma-Cuma oleh Allah atau GRATIS! Siapapun yang menolak anugerah adalah pribadi yang tidak bijak.

Karena itu jangan mau terkecoh dan tertipu dengan produk keselamatan lain, selain dari Tuhan Yesus Kristus. Bersyukurlah bahwa kita tidak perlu mencari keselamatan itu, namun, Keselamatan itulah (yakni Allah sendiri) yang mencari dan menemukan kita. Jadi, janganlah disia-siakan. Amin.

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...