Friday, June 28, 2024

Kisah Para Rasul 4:32-37

 MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                  
Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         

 

Pengantar

Perikop ini adalah catatan sejarah mengenai bagaimana orang yang telah percaya (kepada Yesus)  itu pada awalnya membentuk suatu kumpulan, yang kemudian hari dikenal sebagai persekutuan orang percaya atau gereja.  Kumpulan orang yang telah menjadi percaya yang di catatan dalam Kisah Para Rasul ini disebut juga sebagai jemaat mula-mula atau gereja perdana.  Ada juga yang menyebutnya dengan istilah gereja purba.  Pada masa ini, karakteristik gereja masih sangat komunal, yaitu yang menjunjung tinggi kebersamaan, belum berbentuk organisasi terstruktur seperti yang dicatat dalam perikop ini.

 


Pemahaman Teks


4:32        Ayat ini menjelaskan dasar filosofis dari persekutuan jemaat yaitu sehati dan sejiwa ... mengesampingkan individualitas karena mengusung semangat kebersamaan.


4:33        Pimpinan dari persekutuan ini adalah rasul-rasul yang tugas utamanya bukan mengatur persekutuan tetapi bersaksi tentang kebangkitan Tuhan Yesus.  Sekalipun demikian, persekutuan ini bukannya menjadi kacau (karena para pemimpinnya hanya sibuk melayani firman bukan mengatur) tetapi malah hidup dalam kelimpahan (4:34:  tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka).  Hal ini didukung oleh ‘kesadaran’ jemaat yang:


4:34-35  rela menjual kepunyaan mereka lalu hasilnya dipersembahkan kepada Tuhan baru dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.


4:36-37 Ada juga seorang Lewi, yang bukan berasal dari antara mereka tetapi dari pulau Siprus bernama Yusuf (yang kemudian hari disebut Barnabas oleh rasul-rasul) ikut berpartisipasi dengan menjual ladang, miliknya demi menopang kehidupan bersama.

 

Renungan dan Penerapan

Cara hidup jemaat mula-mula dinilai sebagai cara hidup yang ideal dalam suatu persekutuan, yaitu ketika semua orang percaya hidup bersama, sehati sejiwa, saling berbagi kepunyaan dan saling memperhatikan satu sama lain.  Akan tetapi, cara hidup seperti ini tentu tidak lagi dapat diterapkan sepenuhnya dalam kehidupan bergereja di masa kini karena (sebagai salah satu contohnya): berdasarkan alasan masing-masing, tidak seorang pun dari kita yang rela menjadikan harta miliknya menjadi kepunyaan bersama atau dipakai (tanpa imbalan) oleh setiap orang di persekutuan gereja (bnd. 4:32).  Kalaupun ada di antara kita yang menyerahkan tanah atau rumah pribadi untuk dijadikan tempat ibadah (gereja), hal ini tidak diikuti oleh yang lain (bnd. 4:34: ‘semua orang’  ...).  Perbedaan ini tentu disebabkan oleh keadaaan dan situasi yang sangat jauh berbeda antara jemaat mula-mula dengan jemaat masa kini.  Lagipula, Kisah Para Rasul pun tidak mencatat informasi mengenai: sampai berapa lama jemaat mula-mula hidup dengan cara seperti ini karena pada kenyataannya, kalau bukan karena situasi dan kondisi tertentu, tidaklah mungkin seseorang/ sekeluarga dapat hidup bersama-sama (=beramai-ramai) dengan orang/ keluarga lain selamanya.

Walaupun keadaan dan situasi yang sangat jauh berbeda antara jemaat mula-mula dengan jemaat masa kini, gagasan untuk membentuk suatu persekutuan yang ‘sehati sejiwa’ itu harus diwujud-nyatakan.  Sekalipun di dalam gereja, kita semua memiliki kerinduan untuk dapat ‘sehati sejiwa’ namun pada kenyataannya, mempersatukan orang-orang yang berbeda merupakan hal yang tidak mudah.  Pemahaman setiap orang tentang ‘sehati sejiwa’ pun seringkali tidak sama.  Yang disebut ‘sehati sejiwa’ itu terkadang adalah orang-orang yang sependapat sedangkan yang berbeda langsung dilihat sebagai ‘orang lain’.  Akhirnya, bukannya menjadi persekutuan dengan banyak anggota malah menjadi persekutuan dengan banyak kelompok.  Hadirnya kelompok-kelompok dalam persekutuan gereja seringkali tidak bisa dihindarkan (kelompok berdasarkan daerah asal, berdasarkan persamaan minat, kelompok arisan, dll).  Lalu bagaimana kita mengartikan ‘sehati sejiwa’?  Mari belajar dari perikop ini:

Orang bijak menyadari bahwa tidak ada sahabat yang setia maupun musuh yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan bersama.  Maksudnya:  yang tadinya sahabat, satu kali bisa menjadi musuh; yang semula bermusuhan bisa menjadi sahabat tergantung dari apa kepentingannya.  Dalam perikop ini, semua orang yang telah menjadi percaya memiliki kepentingan bersama yaitu menjadi saksi akan kebangkitan Kristus (4:33) dan hidup bersatu dalam kasih sebagai tanda bahwa mereka adalah murid Yesus (Yoh 17).  Selama mereka memiliki kepentingan yang sama, mereka akan selalu berusaha untuk mewujudkan kepentingan itu.  Topik percakapan pertama:  jika kita hendak mewujudkan suatu persekutuan yang ‘sehati sejiwa’, kepentingan bersama apa yang seharusnya menjadi dasar persekutuan kita?

Demi mewujudkan kepentingan bersama itu, jemaat mula-mula rela menjual harta milik/ kepunyaannya.  Topik pertanyaan kedua:  apa yang membuat kita sering kali tidak dengan rela menjadikan harta/ kepunyaan kita dipakai bersama demi pelayanan gereja.

 

Penutup

Mari kita perhatikan apa yang sebenarnya mereka lakukan: 4:34-35  mereka menjual kepunyaan mereka lalu hasilnya dipersembahkan kepada Tuhan baru dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.  Mereka tidak menjual harta kepunyaan mereka lalu membagi-bagikan kepada orang lain secara ‘membabi buta’ tetapi hasil dari penjualan mereka terlebih dahulu diserahkan kepada Tuhan.  Apa yang mereka serahkan/ persembahkan kepada Tuhan itulah yang pada akhirnya menjadi berkat bagi orang lain (Mrk 8:6).  Pemahaman inilah yang harus kita hayati dan berlakukan bahwa apapun yang dengan rela dan sukacita diserahkan kepada Tuhan (2Kor 9:7) akan menjadi sesuatu yang mencukupkan kebutuhan orang lain.

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...