Tuesday, October 18, 2011

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR RABU 19 OKTOBER 2011 ROMA 9:30-10:3



Jemaat Kekasih Kristus
Pada suatu peristiwa kebakaran besar di sebuah apartemen, seorang petugas pemadam kebakaran berusaha untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang ketakutan di lantai III. Dengan susah payah petugas itu berusaha menjangkau anak itu yang menangis dan menggigil karena takut. Namun setiap petugas itu mendekat, anak itu selalu saja mundur dan menjauh. Anak itu begitu takut apalagi melihat orang asing yang mendekatinya. Semakin anak ini akan dijangkau oleh petugas itu lewat tangga darurat, anak kecil yang panik itu terus menghindar dan mundur menjauh hingga usaha penyelamatan berlangsung menegangkan.

Akhirnya, dapat ditebak. Anak itu-pun tidak tertolong, ketika pada langkah mundur yang tak terduga olehnya, beberapa bagian atap yang sedang terbakar itu pun ambruk dan jatuh menimpahnya. Anam kecil yang malang itu meninggal di tempat tanpa sempat ditolong petugas tadi. Sambil menangis penuh sesal, petugas itu membawa tubuh kecil tak bernyawa dan menyerahkan kepada keluarganya. Dengan masih terguncang, ia berkata kepada pimpinannya: “saya ingin menyelamatkannya, namun sayang sekali anak itu TIDAK MEMPERCAYAIKU, dia menolak kehadiranku…

Jemaat Tuhan,…
Paulus, dalam bacaan kita, menyampaikan kesedihannya (9:1) ketika membicarakan penolakan keselamatan TUHAN, Allah Israel bagi umat pilihannya itu. Israel lebih memilih model keselamatan yang lain, yakni melalui Hukum Taurat yang berarti menolak keselamatan melalui Yesus Kristus. Alasannya sederhana, karena mereka TIDAK PERCAYA bahwa Yesus mampu menyelamatkan. Sulit bagi mereka untuk menerima bahwa Yesus adalah penyelamat itu. Israel cendrung untuk memilih HUKUM TAURAT, sebagai sumber keselamatan mereka.

Ada beberapa alasan, menurut Paulus mengapa kemudian Israel mengambil sikap radikal seperti itu, sehingga menolak Kristus, yakni:
1.       Sesuai dengan PL mereka adalah umat pilihan sekaligus umat perjanjian. Bagi mereka, dengan memperoleh predikat seperti ini, yakni sebagai bangsa pilihan, maka otomatis mereka akan diselamatkan (bd.9:4).
2.       Mereka merasa bahwa mereka adalah turunan Abraham. Yang sejak dulu telah menerima janji keselamatan. Karena itu adalah mustahil memperoleh keselamatan dari sumber lain, selain dari jalur perjanjian keturunan Abraham dengan TUHAN, Allah mereka (bd. 9:5).

3.       Sumber keselamatan menurut Israel adalah kepatuhan terhadap Hukum Taurat. Semakin banyak melakukan kebenaran, maka semakin mungkin untuk diselamatkan. Ukuran kebenaran dimaksud adalah Hukum Taurat sendiri. Dengan demikian, bagi Israel, letak keselamatan itu adalah pada upaya mereka berdasarkan perbuatan (lihat 9:32). Perbuatan benar menjamin keselamatan, demikian pandangan Israel ini sehingga menolak Kristus.

4.       Oleh karena prinsip inilah, maka Israel tidak mengenal Allah yang sesungguhnya telah datang sebagai manusia sempurna yakni Yesus Kristus. Mereka menolak kebenaran lain dan berusaha mendirikan kebenaran sendiri sehingga akhirnya tidak takluk pada kebenaran Allah yang menyelamatkan itu (bd. 10:3).

Dari uraian di atas, ada beberapa hal penting yang dapat kita relevansikan sesuai kebenaran Firman Tuhan dalam kehidupan masing-masing kita, yakni:

1.       Oleh karena Israel mengejar keselamatan berdasarkan perbuatan dan bukan iman, sehingga mereka menolak beriman kepada Kristus, maka sekarang bangsa2 lain akhirnya memperoleh keselamatan karena beriman dan percaya kepada Kristus. Hal ini dengan tegas dinyatakan oleh Paulus dalam ayat 30 bacaan kita.

Ini berarti mengingatkan kita bahwa keselamatan itu tidak pernah diperoleh dengan cara apapun menurut perbuatan benar dan baik, namun hanya melalui iman percaya kepada Kristus. Siapapun kita tidak akan pernah diselamatkan hanya berdasarkan amal soleh atau perbuatan baik belaka. Siappun yg berbuat baik, namun tidak mengimani Kristus itu sama dengan menolak KEBAIKAN yang sesunguhnya dari Allah.

2.       Israel begitu yakin oleh karena sejak dulu mereka adalah turunan Abraham yang adalah orang benar. Karena Abraham adalah orang benar, dan mereka adalah turunannya, maka pastilah mereka juga beroleh keselamatan. Anggapan ini adalah anggapan yang keliru. Dalam pasal 9:4-6 bacaan kemarin, kita diingatkan Paulus bahwa tidak semua Israel adalah orang Israel, demikian juga tidak semua turunan Abraham adalah benar turunan Abraham.

Manusia telah dicemarkan dosa, termasuk turunan Abraham. Dengan demikian, identitas kita tidak menjamin keselamatan. Keselamatan bukan urusan turunan, tapi ini menyangkut hal pribadi dan sifatnya personal.

Lewat bacaan ini kita juga diingatkan, bahwa kendatipun lahir dari keluarga Kristen dan turunan keluarga percaya, maka tidaklah langsung mendapat jaminan untuk beroleh keselamatan itu. Agama dan ritual keagamaan Kristen sendiri tidak menjamin keselamatan.

Jaminan keselamatan justru datang melalui iman (ay.30) yang sungguh kepada Kristus Sang Juruselamat dan bukan karena alasan lahir dari keturunan apapun. Ini sangatlah penting!! Jika orang hanya rajin ke gereja sebagai suatu hal rutin dan ritual, namun iman percaya pada Kristus tidak sebanding dengan kegiatan keagamaannya, maka semua juga adalah sia-sia. Iman haruslah terlihat dari sikap hidup, cara berpikir dan pola tutur dari orang percaya. Kita perlu menunjukkan bahwa keselamatan itu telah menjadi bagian kita.

3.       Banyak orang berpikir tentang alternatif kebenaran dan keselamatan seperti Israel dan pola pikirnya (bad. 10:3) sehingga kemudian dengan mudah beralih pada kebenaran dan cara keselamatan lain yang menurutnya lebih baik. Bahkan banyak orang relah meninggalkan Yesus demi perkawinan, jabatan ataupun status sosial dan kemudian mencari sumber keselamatan yang lain.

Orang-orang seperti ini adalah orang BODOH yang membuang hal yang paling berharga, yakni kebenaran Allah. Keselamatan adalah anugerah atau pemberian Cuma-Cuma oleh Allah atau GRATIS! Siapapun yang menolak anugerah adalah pribadi yang tidak bijak.

Karena itu jangan mau terkecoh dan tertipu dengan produk keselamatan lain, selain dari Tuhan Yesus Kristus. Bersyukurlah bahwa kita tidak perlu mencari keselamatan itu, namun, Keselamatan itulah (yakni Allah sendiri) yang mencari dan menemukan kita. Jadi, janganlah disia-siakan. Amin.

Monday, October 10, 2011

RENUNGAN IBADAH SEKTOR (SBU: 12 OKTOBER 2011) DANIEL 9:15-19


MATERI KHOTBAH RABU, 12 OKTOBER 2011
DANIEL 9:15-19

Jemaat Kekasih Kristus
Biasanya apa yang dilakukan oleh seseorang ketika ia melakukan kesalahan? Apa-pula yang diupayakan seseorang ketika akhirnya ia mendapat ganjaran dari segala kesalahan tersebut? Tabiat manusia yang paling hakiki dalam hal dosa dan kesalahan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh adam dan hawa yakni menyangkali perbuatannya dan tidak mengakui segala dosa dan kesalahannya.

Apalagi jika kemudian ganjaran diberikan karena kesalahan tersebut. Dalam pengadilan banyak terdakwa segera melakukan “naik banding” agar mendapat keringanan hukuman atau kalau memungkinkan ia dapat memperoleh pembaharuan status yakni dinyatakan tidak bersalah, walaupun bukti-bukti yang ada sudah cukup kuat.

Jemaat Kekasih Kristus
Sikap ini sangat berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh Daniel. Ketika ia sudah cukup lanjut usia yakni sekitar 90 tahun, ia kembali merenungkan perjalanan hidupnya dan memaknai kondisi sudah 70 tahun ia dan bangsa Yehuda ini mengalami pembuangan di Babel. Dalam upaya untuk mencari jawab mengapa ia dan bangsanya dihukum serta sampai kapan mereka harus mengalami penghukuman itu, akhirnya membawa Daniel pada suatu kondisi penuh penyesalan dan melakukan suatu pengakuan bahwa ia dan bangsa ini telah berdosa kepada TUHAN, Allah Israel.

Daniel tidak mencari pembelaan diri, dan mempertanyakan keadilan TUHAN, Allah Israel atas hukuman yang terlalu berat bagi mereka. Bangsa Israel mengalami penderitaan sekian lama karena mereka harus menjadi bangsa buangan di negeri Babel. Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah Israel adalah umat pilihan Allah sendiri? Apakah Allah tidak membela umatNya? Bangsa Israel harus menderita bukan tanpa sebab, tetapi ini terjadi akibat dosa-dosa mereka sendiri.

Inilah yang dipahami Daniel, sehingga kemudian ia berinisiatif untuk berdoa bagi bangsanya dan memohon ampun bagi dosa dan kesalahan umatnya.

Jemaat Kekasih Kristus
Ada beberapa hal penting dari bacaan kita ini yang menjadi pokok utama untuk kita renungkan, yakni:
1.       Mengapa Daniel menyikapi peristiwa 70 tahun pembuangan itu dengan berdoa kepada TUHAN, Allahnya? Ia justru tidak membela diri bahwa ia adalah orang benar yang harusnya tidak ikut dihukum. Apakah alasannya hingga sikap luar biasa ini diambil oleh Daniel.

Jawabannya kita temukan dalam ayat 2 pasal 9 bacaan kita. Daniel tidak langsung mencari alasan2 tertentu untuk membela diri atas hukuman TUHAN bagi bangsa dan dirinya itu. Ia juga tidak mencari pembenaran terhadap dirinya sendiri. Namun sebaliknya, Daniel mencari penjelasan semua kondisi ini dalam terang Firman Allah. Ia membuka kitab Yeremia dan merenungkan perkataan Firman Tuhan untuk mencari jawab atas kondisi yang terjadi tersebut.

Akhirnya, Daniel menemukan jawaban bahwa apa yang mereka alami dalam pembuangan di Babel selama 70 tahun terakhir ini disebabkan karena dosa dan pelanggaran umat Israel terhadap TUHAN, Allahnya. Daniel menemukan dalam Yeremia 25:11 dan 29:10 bahwa runtuhnya Yerusalem dan kehancuran Israel disebabkan dosa dan kesalahan mereka sehingga TUHAN membuang mereka selama 70 tahun di Babel itu.

Pada poin pertama ini kita belajar hal penting dari cara Daniel mengerti kondisi dan keadaan perumulan hidupnya pribadi dan pergumulan bangsanya. Pertanyaan apapun dalam benaknya, dicari jawaban bukan pada kemampuan diri atau kekuatan dirinya. Namun Daniel mencari Firman Tuhan untuk menemukan jawaban apapun dari semua derita yang dialami. Daniel memberikan contoh penting tentang bagaimana berartinya dan berfungsinya Firman Tuhan ketika mengalami berbagai pertanyaan dalam hidup.

Bahwa kita tidak bisa menemukan jawaban apapun diluar Firman Allah. Ini merupakan pernyataan yang penting! Segala keadaan hidup yang dialami, kita diajarkan untuk mencari Tuhan dan memperoleh jawaban dariNya. Cara yang paling jitu adalah lewat mencari jawab pada FirmanNya itu. Daniel menemukan jawaban itu justru ketika ia tidak sibuk dengan pikirannya sendiri atau mencari pembenaran diri, melainkan duduk diam dalam Firman Tuhan.

2.       Hal kedua yang penting adalah bagaimana reaksi Daniel setelah membaca Firman Tuhan itu. Banyak orang sering kali bereaksi negatif apabila Firman Tuhan “menelanjangi” hidup pribadinya dan memvonis segala kesalahan dan perbuatannya. Bukankah acap kali orang lebih senang mendengar Firman Tuhan lewat khotbah atau renungan yang lucu-lucu atau ringan dari pada sesuatu yang keras dan sifatnya menghakimi segala dosa dan kesalahan?

Berbeda dengan Daniel! Dalam pasal 9:4-15 bacaan SBU hari ini, kita menemukan Daniel tanpa alasan apapun menerima pernyataan Firman Tuhan itu dan berkata dalam doanya pada ayat 5,6:

Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu, dan kami tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri…

Atas nama bangsanya Daniel sujud dihadapan Allah dan segera mengakui dosa dan kesalahan mereka kepada TUHAN, Allah Israel. Pasal 9:1-19 ini berisi tentang doa Daniel yang adalah rekasinya terhadap vonis dosa yang ia terima dari pesan Firman TUHAN.

Daniel tidak menolak penyataan Firman Tuhan tersebut, bahkan sebaliknya ia mengakui semua kesalahan dan dosa itu atas nama bangsanya. Perhatikan ayat 5-15 pasal 9 kitab Daniel ini! Ada hal menarik dalam isi doanya tersebut. Ketika dosa dan kesalahan telah ditemukan dan disadari, Daniel tidak langsung berdoa memohon pengampunan. Namun justru pada tahapan utama dari isi doa tersebut yakni ayat 5-15, Daniel menyatakan DOA PENGAKUAN DOA di hadapan TUHAN, Allah Israel. Daniel tidak langsung memohon penampunan namun lebih dahulu menyampakan secara terbuka semua DAFTAR DOSA yang telah bangsa Israel lakukan di hadapan TUHAN.

Perhatikan kata ganti orang pertama jamak yang dipakai Daniel dalam doanya tersebut, yakni istilah “kami”. Daniel tidak menyebut “mereka berdosa” namun ia menyebut “kami berdosa”. Padahal kita tahu bahwa pada pasal2 sebelumnya disebutkan bahwa kehidupan doa Daniel justru jauh darinya. Ia hidup bersih dan taat kepada TUHAN. Namun inilah Daniel dan integritas imannya. Ia tidak mencari pembenaran di hadapan TUHAN, Allahnya, namun sebaliknya mengakui bersama bangsanya tentang dosa dan kesalahan mereka.

Kita belajar dari poin ke 2 ini bahwa setiap manusia tidak akan terbebas dan luput dari perbuatan salah. Namun yang membedakan tiap manusia itu, di hadapan Allah, adalah reaksinya ketika tahu bahwa telah berbuat dosa. Hal penting yang harus dilakukan oleh orang percaya bukanlah mencari pembenaran diri; bukan pula mempertahankan ego diri bersih; atau lebih cendrung melihat kesalahan orang lain. Langkah penting yang harus dibuat oleh setiap orang percaya, seperti yang Daniel lakukan, adalah MENGAKUI dosa dan kesalahan. Ini langkah penting!!!

Ketika berbuat dosa, jangan datang untuk HANYA MEMINTA AMPUN pada Tuhan. Kesalahan yang dibuat oleh banyak orang ketika telah berdosa adalah: Datang memohon ampun tanpa lebih dahulu mengakui dosa itu di hadapan Allah. Perhatikanlah apa yang dilakukan Daniel dalam ayat 5-15 pasal 9 itu! Daniel ketika tau bahwa dosa mereka besar di hadapan TUHAN, Allah Israel; ia tidak langsung memohon ampun, namun langkah perta dan utama adalah MENGAKUI SEGALA DOSA itu tanpa disembunyikan. Lihatlah daftar panjang dari dosa itu yang diungkapkan Daniel! Kita perlu secara terbuka belajar jujur di hadapan Allah dan mengakui semua dosa dan kesalahan kita.

Mengapa ini penting? Bukankah Tuhan sudah mengetahui dosa dan kesalahan kita itu? Tuhan memang mengetahui hal itu, sebab tidak ada yang tersembunyi di hadapannya. Namun apakah kita mengakuinya? Sebab bukankah orang cendrung menyembunyikan kesalahan dan dosa serta berusaha untuk menyangkali? Dosa tidak akan diampuni tanpa ada pengakuan terlebih dahulu.

3.       Setelah semua hal itu diakui Daniel, maka sekarang perhatikan bacaan kita ayat 16-19 bacaan kita! Doa pengakuan dosa Daniel, berubah menjadi DOA PERMOHONAN PENGAMPUNAN. Silakan simak isi doa tersebut dan perhatikanlah kata demi kata serta kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh Daniel. Ia dengan penuh sungguh-sungguh dan MERENDAHKAN diri memohon pengampunan bagi bangsanya itu.

Perhatikanlah bahwa Daniel menyadari tentang wilayah TUHAN ini. Soal pengampunan adalah HAK dari TUHAN. Daniel tidak memiliki hak apapun soal mendapat pengampunan atau tidak. Itu semua amat tergantung pada kemurahan dan kasih karunia dari TUHAN, Allahnya (lih. Ay.16). Itulah sebabnya ia menjumpai Tuhan dengan penuh kerendahan, pengharapan memperoleh belas kasihan Tuhan itu. Hanya datang dengan kerendahan hati, tanpa merasa berhak-lah, maka TUHAN AKAN MEMBERI PENGAMPUNAN ITU.

Pada poin ke tiga ini kita belajar tentang hal penting dalam suatu permohonan pengampunan dosa yang dilakukan Daniel. Kita perlu menjumpai Allah dalam kerendahan dan pengakuan jika menginginkan pengampunan dariNya. Pengampunan Dosa itu adalah karena Kasih Karunia TUHAN. Itu tidak pernah terjadi karena HAK KITA atau USAHA KITA. Itu semua murni karena TUHAN.

Karena itu siapapun kita, entah presbiter (pendeta, penatua, diaken) ataupun jemaat, kita tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Maukan kita mengakuinya di hadapan TUHAN? Itulah yang terpenting! Selanjutnya, maukan dalam kerendahan kita memohon ampun? Dan selanjutnya, bersediakah kita tidak melakukannya lagi? Jika Ya, maka kita telah beroleh pengampunan dari TUHAN. AMIN.

Sunday, October 9, 2011

MENGENAL TANDA TUHAN (Seri : Melangkahlah Pemuda Bagian 2)


Pnt. S. Edi Widodo
 
1 Samuel 14:6b 
“....sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang 
maupun dengan sedikit orang."

Kamu enak TOK, orang tuamu berduit apa saja yang kamu minta pasti terpenuhi. Ya tidak begitu BRO walaupun kelihatannya kami kaya tapi tidaklah seperti dirimu yang ada damai di keluarga. Apalagi aku, si TOMPEL yang tidak mengenal orang tuaku siapa, sampai sesak dada ini memikirkan masa depanku. Untung ya... si EMENG walaupun orang tuanya sudah tiada tapi keluarganya masih menyokong, yang lebih kasihan si BUJANG harus mati-matian berusaha menggapai hidup seorang diri, dan masih banyak lagi obrolan saat sharing sesama rekan pemuda. Semuanya membutuhkan kepastian, adakah damai itu ada, adakah masa depan bersama Tuhan, bisakah menjadi kaya dan diberkati luar biasa tapi tetap setia melayani. Mungkinkah itu !? Tuhan di manakah Engkau.

Saudara... hidup bukan hanya sekedar sebatas mendengar firman saja, saudara harus beranjak, berdiri dan belajar untuk melangkah menerapkan Firman. Ibarat bayi betapa susahnya manakala ia harus belajar berdiri kemudian belajar melangkah satu..dua..dua..satu begitu seterusnya. Sekedar ilustrasi, jika saudara telah makan, kemudian tidak melakukan apa-apa, hanya duduk keterusan tertidur, bagaimana jadinya ?. Anda harus bergerak karena sudah ada tanda kenyang di perut, jika tidak penyakit akan datang.

Sebagaimana Yonatan, coba perhatikan detail kisah perjalaan hidup Yonatan akan seperti obrolan di atas 1 Samuel 14:6a “Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: "Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita,...." Perhatikan kata mungkin Tuhan; Yonatan menyadari ia orang kaya (bapaknya saja Raja) tetapi ia terlebih sadar bahwa bapaknya juga melakukan apa jahat di mata Tuhan, sebagai orang tua, Saul memberikan contoh yang buruk bagi keturunannya. 1  Samuel 13:13 Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Yang menarik untuk dipelajari, Yonatan mengambil sikap “tetap setia” walaupun keluarganya tidak setia. Itulah sebabnya sampai muncul kata “mungkin Tuhan” karena Yonatan sadar jangan jangan Tuhan murka juga terhadap keturunan Saul. 1Samuel 14:8 “Kata Yonatan: "Perhatikan, kita menyeberang ke dekat orang-orang itu dan memperlihatkan diri kepada mereka.”   

Saudara.. sikap ini menjadi contoh bagi kaum muda bahwa Yonatan tidak merasa dirinya sebagai katak dalam tempurung, ia tidak merasakan kemalangan yang menimpa keluarganya, pandangan akan masa depannya bersama Tuhan sungguh melampaui batas imannya (bukan sekedar hanya percaya saja), kalau saja ia meratapi kemalangan tiada henti atau menunggu warisan orang tuannya maka ceritanya akan jadi lain. Lihatlah Yonantan bersama seorang pembawa senjata pergi dan memperlihatkan diri kepada musuhnya, ia tidak mempedulikan dirinya yang hanya berdua menghadapi lawan yang buanyak. Tapi Yonatan bersikap bijak ia minta ijin dulu sama Tuhan.
Yakobus 4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." 4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. Yonatan menyadari Ia harus minta ijin/tanda dari Tuhan jika tidak kemalangan akan juga menimpa dirinya.

1 Samuel 14:9-10 “Apabila kata mereka kepada kita begini: Berhentilah, sampai kami datang padamu, maka kita tinggal berdiri di tempat kita dan tidak naik mendapatkan mereka, tetapi apabila kata mereka begini: Naiklah ke mari, maka kita akan naik, sebab kalau demikian TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tangan kita. Itulah tandanya bagi kita."
Mengapa saudara merasa jawaban atas doa tidak ada kunjung jawaban, Doa saudara harus disertai minta tanda dari Tuhan untuk “ya” atau “tidak”. Tanda dari Tuhan bisa nampak dalam :
1.      Rasa Damai Sejahtera atau sukacita, Yohanes 14:26,27 “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”. Kalau ada sukacita di hati bisa diartikan jawaban doa untuk bergerak atau membatalkan rencana.
2.      Perwujudan/perkataan, Lukas 2:12 “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Contoh bisa juga seperti kisah Yonatan di atas.

Perkaranya sekarang hanya, sejauh mana saudara mengenal tanda/suara dari Tuhan kalau saudara sendiri belum bergaul karib dengan Tuhan. Lebih banyak mana saudara menyanyikan lagu rohani atau duniawi, lebih banyak mana saudara membaca Alkitab/bacaan rohani atau majalah, antara olahraga dan mengunjungi orang yang berduka, antara waktu ke gereja dengan ke tempat hiburan, antara saat teduh dan waktu sehari 24 jam, dsb. Paulus mengingatkan dalam 1 Korintus 6:12. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.”

Saudara.. rekan Yonatan si pembawa senjata, juga tidak kalah fungsinya, karena rekan inilah yang memberikan motifasi dan dorongan untuk suatu maksud pekerjaan 1 Samuel 14:7 “Lalu jawab pembawa senjatanya itu kepadanya: "Lakukanlah niat hatimu itu; sungguh, aku sepakat." Jika saat ini posisimu sebagai anggota kaum muda atau sebagai jemaat, saat diminta untuk aktif oleh Pendeta atau Pengurus atau Majelis maka giatlah selalu untuk menjadi mitranya. Di saat keputusan saudara untuk katakan “ya” dalam melangkah, pasti mengalami kemenangan seberapapun beratnya masalah pribadi.

Tidak perlu gentar untuk melangkah bersama dengan partner/teman/sahabat asalkan mendengar tanda dari Tuhan, 1 Samuel 14:12-13 “Orang-orang dari pasukan pengawal itu berseru kepada Yonatan dan pembawa senjatanya, katanya: "Naiklah ke mari, maka kami akan menghajar kamu." Lalu kata Yonatan kepada pembawa senjatanya: "Naiklah mengikuti aku, sebab TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Israel." Maka naiklah Yonatan merangkak ke atas, dengan diikuti oleh pembawa senjatanya. Orang-orang itu tewas terparang oleh Yonatan, sedang pembawa senjatanya membunuh mereka dari belakangnya.” Saat saudara bergandengan tangan dalam melangkah jangan takut gertakan seperti kalimat yang cetak miring dan bergaris, pasti saudara merasakan akan di olok-olok oleh lingkungan, akan banyak sindiran, akan banyak suara-suara yang mencoba merintangi misalnya :  aduhhh..kamu ini masih muda tahu apa ya... walah... pasanganmu ternyata si ILANG apa kata dunia coba cari yang lain saja. Jika saudara tidak bisa membuktikan kemampuan dan sanggup untuk bertahan dengan rekanmu maka saudara akan benar-benar menjadi yang terhilang.
Refleksi :
1.      Sediakah engkau melangkah bersama Tuhan, jangan biarkan gado-gado keluarga dan lingkungan membatasi dirimu untuk melangkah bersama Tuhan.
2.      Dalam melangkah saudara harus mengajak partner/teman/sahabat, Walaupun mungkin jawaban mereka hanya “kerjaanku banyak atau susah atur jam kerja atau masih banyak alasan lagi” itu tanda, sebenarnya mereka mau memberi diri, saudara harus berdoa khusus buat mereka dengan tidak putus-putus seolah-olah tanpa mereka saudara tidak akan berhasil melakukan suatu kegiatan.
3.      “Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.”  Mazmur 112:1. Apa yang di tabur sekarang itu juga nanti yang akan di tuainya.

Mari Berdoa : “DARAH KRISTUS MEMBENTENGI-ku dari tipu muslihat iblis, DARAH KRISTUS tercurah atas alam sadar-ku, alam tak sadar-ku dan alam bawah sadarku, sehingga aku bisa mendengar suaraMu. DARAH KRISTUS BERI SEMANGAT BARU, sehingga aku mampu melangkah maju” Amin.

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...