Wednesday, October 17, 2018

ULANGAN 30:15-20 == PILIHLAH KEHIDUPAN !!!


Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 24 OKTOBER 2018


PENGANTAR
Mengapa kitab Musa yang kelima ini disebut dengan kitab Ulangan? Nama asli Ibrani dari kitab ini  adalah ‘elleh haddebarim yang berarti “Inilah perkataan-perkataan” atau, lebih sederhana: “debarim” (perkataan-perkataan; lih. 1:1). Selanjutnya ketika lima kitab Musa ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, kelima kitab ini kemudian disebut dengan istilah Septuaginta.

Dalam kitab Septuaginta atau biasa disimbolkan dengan LXX, kitab ini disebut dengan istilah to deuteronomion touto yang berarti “pemberian hukum yang kedua ini” yang diambil dari Ulangan 17:18. Penggunaan istilah “pemberian hukum yang kedua ini” didasari bahwa isi dari kitab ini adalah “Pengulangan” dari hukum2 yang sudah disampaikan Musa sebelumnya. Itulah sebabnya nama kitab Musa yang kelima ini dalam terjemahan Indonesia disebut sebagai Kitab Ulangan.

Kitab Ulangan berisi tentang pidato Musa ketika bangsa Israel sedang berada di wilayah Moab, di daerah di mana Sungai Yordan mengalir ke Laut Mati (1:5). Sebagai tindakan akhir melimpahkan kepemimpinannya kepada Yosua, ia memberikan kata-kata perpisahannya yang begitu emosional kepada bangsa Israel untuk mempersiapkan mereka masuk ke Kanaan. Penekanan rohani kitab ini adalah panggilan untuk berkomitmen total kepada Allah dalam ibadah dan ketaatan.


TELAAH PERIKOP
Bacaan kita saat ini berisi tentang khotbah perpisahan Musa ketika Israel siap memasuki Kanaan. Pokok utama yang dibicarakan adalah bagaimana kehidupan mereka ketika nanti TUHAN memenuhi janji tersebut yakni menikmati tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu. Ada dua pilihan yang disodorkan oleh Musa, yakni kehidupan dan kematian serta konsekuensinya. Terdapat beberapa penekanan khusus yang disampaikan Musa, yakni:

1.      Pilihan yang benar yakni kehidupan (ay.15-16)
Pada ayat 15, Musa menghadapkan dua kelompok pilihan, yang pertama adalah kehidupan dan keberuntungan; selanjutnya yang kedua adalah kematian dan kecelakaan. Mari memeriksa dua kelompok ini:

Istilah “Kehidupan” dari bahasa Ibrani  חַי (khah'-ee) yang berarti hidup, hijau dan segar. Hal ini berarti menunjuk pada suasana kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Hijau dan segar adalah ciri simbolik dari adanya kehidupan. Selanjutnya “Keberuntungan” yang berasal dari kata benda Ibrani טוֹב (tobe) yang berarti menyenangkan, baik. Kata ini juga berhubungan dengan kemakmuran dan kesejahteraan. Dengan kata lain istilah ”keberuntungan” yang diterjemahkan LAI lebih tepat dimaknai sebagai menyenangkan, kemakmuran atau kesejahteraan.

Selanjutnya istilah “kematian” dari bahasa Ibrani מָוֶת (maveth) yang berarti kematian, tiada kehidupan dan kehampaan dalam kekelaman. Istilah ini menunjuk pada “ketiadaan”. Jika ada orang hidup dalam kondisi “mayeth” itu sama dengan ia hidup tanpa kehidupan. Silakan bayangkan. Selanjutnya istyilah “kecelakaan” רַע (rah) yang berarti tidak berkualitas baik atau setara dengan buruk, tidak menyenangkan dan atau juga bermakna sakit. Itulah sebabnya LAI menerjemahkan dengan kecelakaan oleh karena berhubungan dengan situasi hidup yang malang dan buruk adanya.

Sudah pasti orang akan cenderung memilih kelompok yang kedua yakni kehidupan dan keberuntungan atau situasi hidup yang “segar dan hijau” penuh dengan kemakmuran, kesenangan dan kemakmuran. Tetapi untuk dapat menikmati itu semua di tanah Kanaan, maka Israel harus melakukan hal yang penting, yakni “mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya dan berpegang pada perintah dan ketetapanNya, supaya engkau diberkati” (ay.16). Hal ini bermakna: tidak ada kehidupan yang makmur dan menyenangkan jika tidak memiliki ketaatan kepada TUHAN, Allah Israel. Tanpa ketaatan, maka tidak ada berkat. Tanpa berkat maka jangan pernah bermimpi menjalani hidup secara menyenagkan, sejahtera dengan seluruh keadaan baik. 

2.      Pilihan yang salah yakni kebinasaan (ay.17-18)
Berlawanan dengan poin pertama, Musa menyebut apabila mereka tidak taat kepada Tuhan (ay.17) maka kebinasaan adalah imbalannya. Perhatikanlah bunyi redaksi ayat 17 bacaan kita. Bahwa ketidaktaatan dimaksud bukan saja karena kemauan sendiri tetapi juga atas bujuk rayu dan pengaruh orang lain sehingga menjadikan mereka tidak taat, itupun tetap diganjar dengan kebinasaan. Dengan kata lain, tidak ada “kelonggaran” apapun dan juga karena alasan “karena terpengaru” dan “karena disesatkan” maka akan terdapat pengecualian dari TUHAN, Allah Israel. Siapa yang sesat oleh karena kemauan sendiri amupun disesatkan orang lain maka hukumannya tetap sama yakni kebinasaan.

Peringatan tegas ini diberikan Musa kepada umat. Sebab walaupu mereka memasuki tanah yang berlimbah susu dan madu sekalipun, tetapi jika tidak taat kepada Allah maka yang mereka temui adalah ketiadaan (lihat uraian poin 1) dan juga kecelakaan. Silakan bayangkan mengalami sengsara hidup di tanah yang berlimpah susu dan madu.

3.      Bukan hanya memebri pilihan tapi mendorong untuk memilih pilihan yang tepat (ay.19-20)
Setelah menguraikan panjang lebar tentang dua pilihan itu dan menjelaskan konsekuensi logis dari apa yang akan terjadi kemudian, Musa selanjutnya menyimpulkan bahwa yang ia bicarakan adalah persoalan berkat dan kutuk. Selanjutnya sebagai pemimpin umat ia mendorong mereka untuk membuat pilihan yang tepat. Pilihan yang dimaksud adalah memilih kehidupan atau berkat dan bukan memilih kematian atau kutuk. Mengapa perlu memilih berkat? Sebab demikianlah nanti umat Israel dan keturunannya diberkati dan hidup baik di negeri yang telah dijanjikan TUHAN, Allah Israel (ay.19).

Bagi Musa, TUHAN tidak akan ingkar janji. Ia pasti menggenapi janji yang ia berikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub yang adalah nenek moyang umat Israel ini. Namun perlu dipertegas dan mereka harus mengingatnya, bahwa janji itu hanya akan digenapi kepada mereka jika mereka hidup dalam ketaatan (ay.20). tanpa ketaatan, tidak akan menikmati penggenapan janji Tuhan.

REFLEKSI FRIMAN
Hidup di masa-masa akhir ini kita dihadapkan pada ujian dan tantangan yang semakin berat. Iblis dengan segala tipu dayanya semakin meningkatkan intensitas kinerjanya, "...berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8) dengan menawarkan segala kenyamanan dan kenikmatan duniawi. Karena itu Tuhan menuntut sebuah ketegasan dalam diri setiap orang percaya untuk membuat pilihan hidup yang benar.

Di hadapan kita ada dua pilihan yang sangat kontradiktif: kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk, keberhasilan dan kegagalan. Mana yang Saudara pilih? Kita tidak dapat berdiri di tengah-tengah, bersikap kompromi, suam-suam kuku, tidak ada istilah fifty-fifty. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang baik dan berlimpah kasih, karena itu Ia tidak menginginkan anak-anak-Nya mengalami kematian, melainkan kehidupan dan keberhasilan. Tuhan mau kita memilih kehidupan yaitu dengan mengasihi Dia, beribadah kepada-Nya dan taat melakukan kehendak-Nya.[1]

Kiranya kita dimampukan untuk tetap setia melakukan dengan penuh kesungguhan kehedak dan ketetapn Allah itu sehingga berkat menjadi bagian hidup kita. Amin.


[1] Paragraf ini diambil dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Desember 2015

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...