Tuesday, June 21, 2011

MATERI KHOTBAH SEKTOR 22 JUNI 2011

PELAYANAN YANG MELAMPAUI KEMAMPUAN
PELAYANAN KASIH (2 Korintus 8:1-7)

Jemaat Kekasih Kristus.
Surat 2 Korintus 8 ini dituliskan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus, dengan maksud ingin mengingatkan mereka akan janji jemaat Korintus. Jemaat Korintus pernah berjanji kepada Paulus untuk memberikan berkat yang mereka miliki berupa sumbangan dana bagi Yerusalem. Namun, dengan berjalannya hari, mereka mulai undur dari janji mereka sendiri dan Paulus melalui surat ini ingin kembali menegaskan apa yang menjadi janji jemaat Korintus.

Dorongan untuk melayani haruslah oleh karena kasih. Tanpa didorong kasih, maka pelayanan akan menjadi hambar karena akan menjadi seremonial semata. Namun kita mesti mengerti kasih itu lahir didalam hati dan tak bisa dipaksakan. Rasul Paulus mengatakan bahwa pelayanan kasih merupakan kasih karunia. Arti dari pernyataan Paulus tersebut adalah pelayanan kasih hanya bisa terjadi apabila dikerjakan oleh Allah didalam diri seseorang. Tanpa campur tanganNya, maka pelayanan kasih tak akan pernah terjadi.

Mari perhatikan ayat 1 yang berbunyi: “Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.” Makedonia adalah sebuah daratan yang luas di mana beberapa kota penting pada permulaan sejarah gereja ada di sana (Filipi dan Tesalonika). Orang kristen di daratan ini terdiri dari kalangan bawah. Bahkan beberapa diantaranya adalah kalangan budak. Keadaaan sosial seperti ini tentulah sangat berat mengingat pekerjaan pelayanan kasih membutuhkan dukungan finansial yang besar. Inilah yang kita akan pelajari bahwa status sosial ekonomi tidak akan menghalangi seseorang untuk melayani. Strata sosial yang tidak sejahtera tentu akan mendatangkan berbagai persoalan sosial. Penderitaan dan kesulitan dalam kehidupan tentu menjadi sahabat dekat kemiskinan. Itulah sebanya dalam ayat 2 Paulus mengatakan: “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.”

Kemiskinan dan hal-hal lahiriah yang menjadi produk turunannya tentulah menyulitkan orang-orang Makedonia berpartisipasi dalam pelayanan kasih. Secara logika kita dapat mengerti bahwa produk kemiskinan dapat menghalangi mereka melayani Tuhan. Namun jika kasih karuniaNya bekerja, mereka dapat didorong untuk melayaniNya dalam sukacita. Kemiskinan material bukan lagi penghalang melayani karena Allah memperkaya orang-orang Makedonia dengan kemurahan. Tahukah anda artinya? Ini sama persis dengan kisah seorang janda yang memberi persembahan 2 peser (Markus 12). Walau 2 peser itu adalah harta terakhirnya, namun dengan rela dia mempersembahkan seluruhnya kepada Tuhan. Ini tentu sangat berbeda dengan kisah seorang kaya yang akhirnya meninggalkan Yesus karena hatinya terikat pada hartanya (Matius 19).

Filosofis yang mengatakan bahwa status sosial ekonomi menjadi syarat afektifitas pelayanan yang diadopsi oleh gereja penganut dogma kemakmuran dengan demikian tidak sepenuhnya benar. Kalau seseorang yang kaya tidak dikaruniakan Allah hati yang melayani, maka kekayaannya justru akan menjadi penghalang. Tetapi seorang yang miskin harta namun kaya akan kemurahan, akan lebih efektif dalam membangun kerajaan Allah. Ini ditegaskan Paulus dalam ayat 3 yang berbunyi: “Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.” Memberi di atas kemampuan adalah tindakan yang hanya dapat dilakukan seseorang oleh karena kasih karunia. Hanya orang yang telah beroleh kasih karunialah yang akan bergerak dalam pelayan ini.

Pekerjaan pelayanan Kasih sebagai misi Kristus yang dikerjakan gereja adalah pekerjaan berat yang tidak mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri. Pekerjaan misi harus dilakukan oleh seluruh umat Tuhan. Baik miskin maupun kaya. Namun kita sekarang menjadi kaget, karena sejarah telah mencatat bahwa orang-orang miskin telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pekerjaan misi. Orang-orang miskin bahwkan telah menjadi motor penggerak yang secara dinamis menopang pelayan kasih ini. Kondisi inilah yang terjadi di Makedonia sehingga mengatakan dalam ayat 4: “Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.”

Jemaat Kekasih Kristus.
Pelayan kasih yang sama masih dibutuhkan zaman ini. Kita juga terpanggil di zaman ini untuk ambil bagian dalam pelayanan kasih. Paulus menulis kepada Jemaat Korintus untuk meneladani gereja-gereja di Makedonia, yang walaupun mereka miskin secara materi namun kaya dalam kemurahan. Maka dari itu, marilah kita, orang-orang yang telah diselamatkan dan menerima Kasih Kristus, dan semua gereja Tuhan di akhir zaman ini, memperkaya pelayanan kita dengan mengambil bagian secara nyata dalam pelayan kasih bagi orang-orang yang membutuhkan pelayanan itu

Jemaat Makedonia jelas memberikan dukungan dalam pelayanan Kasih bukan hanya berupa materi saja, namun mereka terlebih lagi menyerahkan diri untuk menjadi pengabar-pengabar firman Tuhan. Hal ini sangat tegas disampaikan Paulus dalam ayat 5 tentang pemberian diri jemaat Makedonia Pertama-tama mereka memberikan dirinya kepada Tuhan, sebagai suatu komitmen pribadi mereka untuk menjadi seorang yang percaya kepada Tuhan dan menjadi seorang yang memperoleh hidup baru, namun, mereka merasa tidak cukup hanya sampai dibagian mereka menyerahkan diri kepada Tuhan. Mereka merasa ada yang masih kurang, yaitu mereka mau memberikan diri mereka menjadi pengabar firman Tuhan. Mengapa demikian? Sebab mereka tahu dan sadar banyak orang yang masih membutuhkan berkat firman Tuhan dan berkat keselamatan. Jemaat Makedonia sudah memperoleh keselamatan dan firman Tuhan itu terlebih dahulu melalui pelayanan Paulus bersama rekan-rekannya, maka jemaat Makedonia mau kembali membagikan berkat itu bagi setiap orang yang belum mengenal Yesus. Mereka memiliki kerinduan yang sangat mendalam untuk menjadi saksi Kristus bagi orang lain, sebab mereka tersentuh hatinya saat menyadari masih banyak orang yang membutuhkan injil, sedangkan hamba Tuhan sedikit.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Dengan demikian kita dapat simpulkan bahwa menjadi berkat seperti Makedonia untuk Yerusalem, tidak hanya atau tidak harus berupa materi. Pemberian diripun, waktu, dan tenaga adalah bagian dari berbagi berkat. Itu adalah karya luar biasa dalam pelayanan Kasih. Yang paling penting adalah kita harus memiliki Kasih. Sebab hanya dengan kasih, kita akan dapat dengan sukacita mau terlibat dalam setiap pelayanan walaupun itu telah melampau kemampuan. Jangan menunggu “punya waktu”; “punya uang”; “punya tenaga” dll sebagai alasan menunda panggilan pelayanan seperti yang di indikasikan terjadi pada jemaat Korintus. Melainkan marilah kita menjadi Makedonia modern saat ini yang dengan sukacita bersedia dengan penuh kasih terlibat dalam misi pelayanan yang Tuhan karyakan bagi gereja-Nya. Amin

Monday, June 13, 2011

MATERI KHOTBAH PKP 14 JUNI 2011

KISAH RASUL 13:13-31

Ibu-ibu kekasih Kristus…
Setiap orang perlu untuk jeli memanfaatkan peluang atau kesempatan. Kesempatan perlu dimanfaatkan karena hal itu tidak akan terulang lagi kesempatan yang sama dalam hidup kita.

Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh Paulus ketika mereka tiba di daerah Antiokhia di Pisidia dalam rangka memberitakan injil. Dalam ayat 15 bacaan kita disebutkan bahwa ketika pejabat rumah ibadat selesai membaca bagian Hukum Taurat dalam ibadah Sabat itu, maka mereka memberikan waktu kepada para umat, siapa yang ingin berbicara untuk membagikan kata-kata yang membangun dan menghibur umat. Kondisi ini dilihat sebagai peluang bagi Paulus. Kondisi ini dilihat Paulus dan dianggapnya sebagai kesempatan untuk memberitakan Injil kepada orang banyak tersebut.

Ibu-ibu kekasih Kristus…
Apa reaksi Paulus ketika Ia melihat kesempatan itu? Dalam ayat 16 disebutkan: “Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata: ‘Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah!” Paulus sangat peka dan jeli untuk melihat peluang dan kesempatan dalam beritakan Injil Tuhan. Ketika melihat peluang, maka ia segera memanfaatkan kesempatan tersebut. Perhatikan reakasi Paulus dalam bacaan kita: “Maka bangkitlah Paulus”. Ketika peluang itu datang, Paulus langsung bereaksi. Ia segera bangkit berdiri dan memulai berbicara kepada orang banyak. Paulus tidak ingin membiarkan kesempatan itu lewat. Ia tidak membuat alasan apapun untuk menghindar dari peluang memberitakan Injil. Sekali ada kesempatan ia langsung meraihnya untuk bersaksi bagi Tuhan.

Ibu-ibu kekasih Kristus…
Bagaimana cara Paulus memanfaatkan peluang tersebut. Perhatikan ayat 17-31 bacaan kita! Jika kita membaca uraian panjang kesaksian Paulus, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Paulus tidak setengah-setengah memanfaatkan peluang untuk berbicara di rumah ibadat tersebut. Dari uraian ynag panjang lebar tersebut, bahkan hingga ayat 14 kita dapat menyimpulkan bahwa Paulus bersaksi sangat terperinci, dengan detail yang jelas dan tidak ada yang terlewatkan. Ia memulai dari sejarah Israel dibentuk, kemudian hingga mereka dibudak di Mesir sampai kemudian pembebasan mereka dan kembali ke tanah Kanaan. Sejarah Israel dengan pemerintahan para Raja mereka diuraikan dengan begitu jelas oleh Paulus, hingga pada Tokoh Yohanes dan akhirnya munculnya mesias yakni Tuhan Yesus.

Hal ini menandakan bahwa Paulus sangat menguasai bahan kesaksiannya. Ini menunjukkan bahwa Paulus siap-sedia dalam bersaksi. Ini menunjukkan pula bahwa sebelum bersaksi, Paulus melakukan persiapan yang matang terlebih dahulu sehingga kesaksiannya menjadi sempurna dan sangat jelas dimengerti oleh umat. Dengan demikian, ada beberapa hal penting agar dapat sukses untuk memberitakan Injil, yakni:
1. Jeli melihat peluang
2. Tidak ragu memanfaatkan peluang
3. Menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya
4. Menyampaikan dengan rici, jelas dan sempurna.
Inilah konsep cara bersaksi dan memberitakan injil, yang nampak jelas dalam bacaan kita yang dilakukan oleh Paulus dan Barnabas.

Ibu-ibu kekasih Kristus…
Dari beberapa uraian di atas ada pokok-pokok penting yang dapat kita bahwa pulang sebagai orang percaya, yakni:

1. Jelilah melihat peluang untuk bersaksi
Seorang Pendeta yang sedang berkeliling mengunjungi jemaat, mampir di rumah salah satu keluarga. Ia terkesan oleh kepandaian dan sikap ramah sekali dari seorang anak kecil, anak laki-laki satu-satunya dalam rumah itu yang berusia empat tahun. Kemudian ia menemukan satu alasan mengapa anak itu bersikap ramah dan sopan. Ibunya berada di belakang, sedang mencuci pakaian yang cukup banyak dan kelihatan amat melelahkan. Di saat bersamaan anak itu datang kepadanya dengan membawa sebuah majalah, sambil berkata: “Mama, mama..., apa yang sedang dilakukan pria dalam foto ini?” Alangkah kagumnya Pendeta itu ketika melihat ibu anak itu segera mengeringkan tangannya, meninggalkan cuciannya, duduk dikursi, memangku anak itu, dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit menjawab beberapa pertanyaan putranya. Setelah anak itu pergi, Pendeta mengomentari perlakuan dan sikapnya yang istimewa untuk menjawab pertanyaan putranya itu, dan mengatakan kepada wanita itu: “Kebanyakan kaum ibu tidak akan mau diganggu”. Ibu itu menjawab: “Saya masih dapat mencuci pakaian ini selama sisa hidup saya, tetapi tidak akan pernah lagi putra saya menanyakan pertanyaan yang sama seperti tadi”. Dan ia melanjutkan lagi: “Mungkin dengan hal sederhana ini, putraku akan semakin mengerti bahwa kami sangat mencintainya.” Pendeta itu menganguguk setuju, sambil menimpali: “dan bukankah itu adalah bentuk pelayanan dalam keluarga?”

Kita harus jeli melihat peluang, bukan sebaliknya mengganggap peluang untuk memberitakan Firman itu sebagai suatu gangguan. Cerita di atas memang bukan kisah nyata, hanya suatu ilustrasi. Namun itu suatu cermin bagi kita dalam melaksnakan Firman Tuhan hari ini. Sebagaimana Paulus sangat jeli melihat peluang itu, demikian ibu tersebut tahu bahwa moment seperti itu hanya datang sekali seumur hidup. Kita dapat mulai melihat peluang untuk mengajarkan Firman Tuhan, melalui keluarga terlebih dahulu. Memberi waktu lewat mengajarkan hal-hal penting kepada anak-anak adalah hal yang sederhana dapat kita lakukan. Supaya mereka-pun dapat mengenal Tuhan Yesus dengan cara sederhana dan justru itu dimulai di dalam rumah.

2. Manfaatkan Peluang untuk Bersaksi.
Sebagaimana Paulus dengan cepat, berekasi dengan cepat memanfaatkan peluang untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus, maka demikian juga dengan kita. Paulus harusnya memberikan inspirasi bahwa dalam segala keadaan dan tempat kita dapat bersaksi. Di Antiokhia peluang itu dimanfaatkan Paulus. Kita juga pasti memiliki berbagai Antiokhia baru sebagai tempat dan peluang kita berkesempatan untuk bersaksi. Entah di rumah untk anggota rumah, dikantor untuk sesama karyawan ataupun di sekolah.

3. Perlu menyiapkan diri dulu sebelum bersaksi.
Perhatikan uraian Paulus tentang kesaksiannya itu. Sangat detail dan spesifik. Paulus menguasai benar bahan pembicaraannya dan menyiapkan dengan baik. Mustahil akan begitu bagus yang diucapkan Paulus ini jika ia sendiri tidak menguasainya. Dan tidaklah mungkin menguasai bahan kesaksian tersebut jika ia sendiri tidak mengalaminya dan kemudiaan menyiapkannya.

Bukankah kita juga telah mengalami Tuhan Yesus dan kemurahan Kasihnya itu, sebagaimana Paulus mengalami-Nya di Damsyik? Perbedaannya adalah Paulus pasti menyiapkan semuanya dengan baik. Kita sudah memiliki bahan kesaksian sendiri tentang Tuhan Yesus menurut pengalaman iman masing-masing, sekarang kita perlu menyiapkannya agar menjadi bahan kesaksian kita bagi orang lain. Inilah wujud dari keinginan kita untuk bersedia bersaksi bagi kemuliaan Tuhan.

Marilah menjadi saksi Kristus. Mulailah di rumah kita masing-masing. Tidak harus yang besar dan muluk. Apapun yang kita alami tentang Kasih Tuhan, kita bagikan kepada mereka itu adalah juga suatu kesaksian iman. Selamat bersaksi. Amin.

Tuesday, June 7, 2011

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 8 JUNI 2011

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 8 JUNI 2011
IBRANI 8:1-13

JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Sebagaimana kita tahu bersama, Surat Ibrani ini ditulis bagi orang Kristen Yahudi yang sangat menjunjung tinggi tradisi dan nenek moyang mereka. Tradisi yang dimaksud adalah hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan2 dan pengajaran iman yang tertulis dalam Taurat atau Perjanjian Lama. Bacaan kita saat ini merupakan puncak pengajaran yang ada dalam pasal 1-7 dari surat Ibrani ini tentang siapakah Yesus dan keunggulan-Nya dengan para pelaksana Perjanjian Lama dan kedudukan-Nya yang lebih tinggi dari Perjanjian itu. Ada 3 hal penting dari bacaan kita yang menguraikan tentang Kedudukan Yesus, dan jenis Perjanjian lain selain dalam taurat, yang oleh penulis Ibrani disebut Perjanjian Baru. Tiga hal pokok tersebut adalah sbb:

1.Perjanjian baru ini dilayani oleh Imam Besar yang lebih baik. (ayat 1)
Di ayat pertama ini penulis ingin menyimpulkan kepada pembacanya bahwa Yesuslah yang lebih unggul dan lebih agung dari semuanya termasuk dari para Imam di masa Bait Allah. Dengan kata lain penulis ingin menarik pembaca kepada suatu kebenaran yang paling penting, khususnya bagi pembaca Yahudi, keunggulan-keunggulan Yesus Kristus yang sudah ia bicarakan mulai dari pasal 1 sampai 7, yaitu: Dia adalah anak Allah, pencipta, lebih tinggi dari malaikat-malaikat (1:1-14); Dia adalah Allah yang menjadi manusia, memberi keselamatan (2:10); Imam Besar yang mendamaikan dosa seluruh bangsa (2:17); KemuliaanNya lebih besar daripada Musa (3:3); Yesus Kristus adalah Imam Besar menurut peraturan Melkisedek. (4-5); Maksudnya Yesus adalah Imam Besar untuk selama-lamanya, tanpa awal dan tanpa akhir (7:1-3); Imam Besar yang dikukuhkan dengan sumpah Allah (7:21); Imam besar yang menyelamatkan orang dengan sempurna dengan kualitas moral yang tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan sempurna untuk selama-lamanya (7:22-28)

Dengan menuliskan hal-hal itu mulai pasal 1-7, maka orang Kristen Yahudi diyakinkan oleh Penulis Kitab Ibrani ini bahwa tidak ada lagi Imam Besar sepanjang zaman yang dapat menandingi dan mengungguli kemuliaan dan kesempurnaan Imam Besar yang Agung itu yakni Tuhan Yesus Kristus

2.Perjanjian Baru lebih baik karena dilayani di tempat yang lebih baik (ayat 2-5).
Bapak, Ibu, dan Saudara yang dikasihi Tuhan, setelah berbicara tentang kedudukanNya yang tinggi sebagai Imam Besar, penulis Ibrani melanjutkan dengan tempat Tuhan Yesus sebagai Imam Besar melaksanakan fungsi keimamatan-Nya, yang juga lebih tinggi dan lebih agung dari Bait Allah di Israel pada zaman itu.

Tempat pelayanan Imam Besar itu, bagi tradisi Yahudi, memang merupakan hal yang penting, sebab mereka sangat menghargai hukum Taurat dan tradisi nenek moyang mereka. Sejak zaman PL ketika orang Israel keluar dari Mesir, di padang gurun, Allah telah memberi petunjuk kepada Musa untuk mendirikan kemah suci tempat menyimpan Tabut suci sebagai lambang kehadiran Tuhan (Kel 25-26). Dan para imam melakukan tugas mereka di dalam kemah suci. Tabut Allah ini selalu berpindah-pindah. Pada zaman Hakim-hakim ada di Gilgal lalu pindah ke Betel kemudian ke Silo. Maka tempat pelayanan para imam juga berpindah-pindah. Sampai pada zaman Salomo Tabut ini dipindahkan ke dalam Bait Allah yang didirikan Salomo.

Sejak itu para imam melayani di bait suci di Yerusalem (1Raja 6-8). Kemudian Babel menyerang Yerusalem dan menghancurkan Bait Suci (587 SM) ada sebagian imam yang ditawan dan ada yang tersebar (2 Raja 25:3-21). Setelah lewat 70 tahun Allah membangkitkan Nehemia dan Ezra untuk membangun kembali kota suci dan Bait Suci untuk mengembalikan tugas imam di dalam Bait Suci (Ezra 1-3, 5-6, Neh 12-13). Tabut Allah waktu itu sudah tidak ada, mungkin sudah hilang pada waktu diserang Babel. Sampai pada zaman Tuhan Yesus kita tahu bahwa karena perbuatan jahat para imam dan pemimpin agama maka Bait Suci dijadikan sebagai tempat jual beli (Yoh 12:19; Mat 21:12-13), maka Tuhan Yesus menjadi marah dan bernubuat bahwa Bait Suci itu akan diruntuhkan (Mat 24:1-2). Nubuat ini digenapi pada tahun 70 AD, ketika tentara Roma menyerang dan menghancurkan Yerusalem.

Dengan demikian tempat pelayanan imam di bumi bisa berubah-ubah, bisa dihancurkan, dan Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Imam Besar yang sempurna memang terlalu agung untuk menempati Bait Suci yang ada di bumi. Imam Besar yang begitu agung memang layak untuk melayani di tempat yang lebih baik. Dan di sana Ia “duduk di sebelah kanan tahta yang Maha Besar.” Di dalam Wahyu 5:13b kita dapat melihat jelas akan kemuliaan, hormat dan kuasa dari Tuhan Yesus yang berada di atas tahta itu. Maka Yesus Kristus yang duduk di atas tahta menyatakan bahwa Dia dengan Allah adalah sama berkuasa, sama mulia, sama menghakimi, sama memerintah dan seterusnya. Namun dengan tahtaNya, kehormatanNya, kebesaranNya yang begitu agung dan mulia dikatakan bahwa Ia melayani. Yesus tidak pernah memandang kebesaranNya sebagai sesuatu yang harus dinikmati sendiri, namun justru di dalam kemuliaan sekalipun Ia tetap melayani.

3.Perjanjian Baru lebih baik karena didasarkan pada janji-janji yang lebih baik (ayat 6-7).
Saudara yang kekasih, Istilah/Kata ’Perjanjian’ dalam bahasa Yunani pada surat Ibrani ini menggunakan kata diatheke, yang berarti suatu wasiat atau warisan. Inilah inisiatif Allah. Maksudnya adalah bahwa Allah yang memberikan PerjanjianNya tanpa persetujuan dari pihak manusia. Manusia hanya dapat menerima atau menolak perjanjian tersebut. Jadi ini sama dengan suatu warisan saja tentunya. Suatu perjanjian untuk hubungan baru agar kita dapat berdamai dengan Tuhan yang semata-mata adalah inisiatif dan anugerah dari Allah saja.

Mengapa PB diberikan? Dari ayat 7 kita dapat mengetahui bahwa perjanjian yang pertama itu bercacat, sehingga diberikan lagi perjanjian yang kedua yaitu perjanjian baru. Di mana cacatnya? Ayat 8 mengatakan bahwa Ia menegor orang Israel karena mereka tidak setia pada perjanjian Tuhan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perjanjian yang pertama gagal disebabkan oleh kegagalan orang-orang Israel yang tidak setia pada janji yang diberikan kepada mereka ketika mereka keluar dari Mesir. Mereka yang diberikan hukum Taurat dan seharusnya setia pada Tuhan gagal dan terus jatuh dalam penyembahan berhala.

JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Kata atau istilah ”baru” yang menunjuk Perjanjian Baru dalam ayat 8 adalah Kainos yang artinya baru dari sudut waktu dan juga kualitasnya. Perjanjian ini berbeda kualitasnya dengan PL. Kainos berarti apa yang tidak ada dahulu kini ada, belum pernah dipakai, masih segar, belum pernah didengar, tidak seperti biasanya. Oleh sebab itu PB ini berbeda dengan PL. Lalu apakah yang baru dari perjanjian ini? Melalui perjanjian baru ini, Tuhan menaruh Hukumnya ke dalam akal budi dan hati umatNya (ayat 10). Tuhan bekerja dalam hati manusia melalui Roh Kudus yang memperbaharui hidup orang percaya sehingga senantiasa melakukan hukum Tuhan, kehendak Tuhan. Sedangkan dalam perjanjian lama hukum Taurat diberikan di luar manusia. Hukum itu baik, tetapi hati manusia tidak, hati manusia selalui ingin memberontak. Melalui perjanjian baru ini juga setiap orang percaya, besar dan kecil akan mengenal Tuhan (ayat.11) artinya perjanjian ini berlaku secara menyeluruh bukan hanya satu bangsa. Melalui perjanjian baru ini setiap orang percaya menerima pengampunan dosa (ayat .12). Ini semua sama sekali baru dan tidak ada di dalam perjanjian lama.

JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Dari uraian Firman Tuhan ini, ada beberapa hal penting yang dapat kita bawa dalam hidup beriman kita:
1.Tuhan Yesuslah satu-satunya Juruselamat yang dijanjikan kepada umat-Nya itu. Oleh sebab itu kita tidak perlu ragu lagi akan Yesus Kristus yang menjadi perantara, pendamai, dan Juruselamat satu-satunya. Biarlah dengan kebenaran yang sangat agung dari surat Ibrani ini iman kepercayaan kepada Yesus Kristus Juruselamat dan Juru damai satu-satunya itu semakin diteguhkan.

2.Tuhan Yesus mempunyai tahta yang paling tinggi, namun Alkitab mencatat bahwa ia melayani di tempat yang tertinggi itu. Bagaimana dengan kita, sudahkah kita melayani Tuhan dengan baik. Apakah selama ini kita lebih mengharapkan untuk dilayani atau untuk melayani? Ada yang berkata selain melayani bukankah kita juga mesti dilayani? Memang kita harus saling melayani, tetapi bukan berarti selalu menuntut untuk diperhatikan terus dan dilayani terus, malah sebaliknya kita harus memikirkan bagaimana untuk dapat melayani dengan lebih baik lagi. Tuhan Yesus sudah memberi teladan yang indah, di tempat yang sempurna, dengan kedudukan yang agung, Ia justru tetap melayani.

3.Kehadiran Tuhan Yesus, membawa sutu Perjanjian yang baru antara kita dengan Bapa di Sorga. Dengan demikian betapa bahagianya kita yang menerima perjanjian baru ini. Tuhan melalui Roh Kudus hadir di dalam hati kita, kita menerima pengampunan dosa, kita yang bukan bangsa terpilih tapi kini menjadi umat pilihan yang mengenal Tuhan yang sesungguhnya, kita dapat berhubungan langsung dengan Bapa di Sorga melalui Yesus Kristus, betapa baiknya dan luarbiasanya Perjanjian Baru ini. Itulah sebabnya penulis kitab Ibrani menutup perikop ini dengan mengatakan bahwa karena ada yang baru itu maka yang lama itu menjadi tua dan usang, dekat kepada kemusnahannya. Dan yang baru itu yang lebih baik.

Karena itu kita harus bersyukur lewat bertekad untuk melakukan yang lebih baik kepada Tuhan, sebagaimana Tuhan telah melakukan yang paling baik untu kita. Tetaplah mengerjakan keselamatan yang sudah Tuhan anugeahkan bagi kita. Jadikan Tuhan Yesus sebagai Imam Besar yang memimpin hidup rohani kita, dan juga sebagai Pengantara kepada Bapa, agar kita tetap menjadi anak-anak Allah yang diberkati. Amin.





saduran dari:
www.sumberkristen.com

Sunday, June 5, 2011

MATERI KHOTBAH PKB 06 JUNI 2011

IBRANI 7:11-17

11 Karena itu, andaikata oleh imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan -- sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima Taurat -- apakah sebabnya masih perlu seorang lain ditetapkan menjadi imam besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang dia tidak dikatakan menurut peraturan Harun? 12 Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu.
13 Sebab Ia, yang dimaksudkan di sini, termasuk suku lain; dari suku ini tidak ada seorang pun yang pernah melayani di mezbah. 14 Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam. 15 Dan hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain menurut cara Melkisedek,
16 yang menjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa. 17 Sebab tentang Dia diberi kesaksian: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."

Persekutuan Kaum Bapak, yang dikasihi Tuhan.
Orang Kristen Ibrani atau orang keturunan Yahudi yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, dalam pembacaan kita merasa bingung tentang status Yesus yang diajarkan dalam dogma Kristen sebagai Imam yang menjadi Perantara kepada TUHAN, Allah mereka. Dalam ajaran Yahudi, orang Israel yang akan mempersembahkan korban kepada TUHAN, tidak bisa langsung ke Mezbah persembahan di Bait Allah. Mereka harus diwakili oleh seorang Imam Besar. Hanya Imam Besar-lah yang boleh masuk ke ruang Maha Kudus di Bait Allah. Karena itu, siapa-pun yang ingin bertemu dengan TUHAN (yang hadir lewat simbol Tabut Perjanjian di ruang Maha Kudus) tidak dapat menemui langsung, dan hanya bisa diwakili oleh Imam Besar, termasuk ketika mau mengaku dosa dan mepesembahkan korban penghapus dosa. Dalam hal membawa persembahan persepuluhan, orang Israel wajib mengantarnya kepada para imam yakni orang-orang yang berasal dari suku lewi.

Inilah yang kemudian menjadi persoalan Iman orang Kristen asal Yahudi tersebut. Bagaimana mungkin Yesus menjadi perantara (Imam Besar) kepada TUHAN, Allah mereka sementara Yesus tidak memenuhi syarat untuk menjadi Imam. Menurut Taurat, seorang Imam harus berasal dari suku Lewi, sementara Tuhan Yesus berasal dari suku Yehuda. Dengan demikian tidaklah mungkin ada suku Yehuda melayani Mezbah dan menjadi Imam, termasuk Yesus (bd. Ay.13-14). Pemahaman Taurat ini menjadi landasan kuat orang Krsiten Yahudi tentang ke-imaman itu.
Persekutuan Kaum Bapak, yang dikasihi Tuhan.
Penulis kitab Ibrani ini sangat setuju dan tidak membantah bahwa dari ukuran peraturan Taurat, Tuhahn Yesus tidak memenuhi syarat menjadi seorang Imam karena Dia bukan keturunan Harun dari Suku Lewi, melainkan dari turunan Daud suku Yehuda. Namun, menurut kitab Ibrani ini, penentuan ke-imaman Yesus tidak berdasarkan Taurat melainkan, dalam ayat 15 disebut menurut peraturan Melkisedek. Rupanya ada peraturan lain yang mengatur tentang ke-imaman, selain peraturan menurut Taurat. Peraturan itu adalah peraturan Melkisedek. Siapakah Melkisedek itu? Dan apa isi peraturannya?

MELKISEDEK, dari bah. Ibrani " מלכי־צדק " – (baca: Malki-Tsedeq), artinya "Sedek ialah raja (-ku)" atau, seperti dalam Ibrani 7:2, "raja kebenaran". Dia raja Salem (mungkin kota Yerusalem) dan imam "Allah yang Mahatinggi" " אל עליון " ; (baca: El Elyon), yang menyongsong Abram sekembalinya dari perang melawan Kedorlaomer dan sekutu-sekutunya. Melkisedek memberi Abram roti dan anggur, memberkati dia dalam Nama Allah Yang Mahatinggi, dan menerima dari Abram sepersepuluh rampasan dari tangan musuh (lih. Kej.14:17-20).

Jika kita memperhatikan Kejadian 14; Mazmur 110:4 dan tulisan di Ibrani 7 maka kita akan menemukan intisari dari “Peraturan Melkisedek”, YAKNI:

1. Bukan keturunan suku lewi
Melkisedek bukan bangsa Israel (meskipun kemungkinan besar ia orang "Sem" atau bangsa/ras "semitik"), karena Melkisedek sezaman dengan Abraham sedangkan suku lewi adalah bagian dari bangsa Israel dimana Israel adalah bangsa yang lahir dari keturunan cucu Abraham. Walau bukan dari suku lewi, Melkisedek disebut sebagai imam.

2. Keimaman-nya lebih tinggi dari keimaman Lewi
Unsur yang penting yang diungkapkan dalam Ibrani adalah kenyataan bahwa Melkisedek memberkati Abraham dan bahwa Abraham memberikan sepersepuluh dari barang-barang rampasan perang kepada Melkisedek. Maka kedua hal ini menunjukkan 'keunggulan' Melkisedek yang "memberkati" Abraham, moyangnya Israel. Karena Lewi dan semua imam keturunan Lewi adalah keturunan Abraham, dengan demikian posisi imam-imam Lewi ada dibawah Melkisedek (ayat 4-10).
3. Keimamannya bukan berdasarkan aturan Taurat tapi ditetapkan secara Ilahi.
Dalam Mazmur 110:4, seorang raja keturunan Daud ditetapkan dengan sumpah Allah menjadi "imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek".
Latar belakang penetapan ini terdapat dalam hal penaklukan Yerusalem oleh Daud kira-kira tahun 1000 sebelum Masehi, dan berdasarkan ini Daud dan keturunannya menjadi ahli waris atas jabatan imam-raja dari Melkisedek.

Berdasarkan peraturan Melkisedek ini, maka jelaslah Yesus Kristus berhak menjadi Imam dan memenuhi syarat keimaman dalam keagamaan Yahudi, yakni bukan berdasarkan peraturan Taurat namun berdasarkan peraturan Melkisedek. Sebagai seorang Imam Besar, Yesus lebih unggul dan lebih tinggi dari para imam manapun keturunan lewi. Bahkan lebih dari pada itu, Tuhan Yesus lebih sempurna menjalankan fungsi jabatan keimaman-Nya dibanding imam suku lewi. Sehingga sebagai Perantara kepada Bapa, Dia-lah pribadi yang tepat menjadi Juruselamat manusia.

Persekutuan Kaum Bapak, yang dikasihi Tuhan.
Mengapa Tuhan Yesus tepat menjadi Imam Agung yang Sempurna untuk menjadi perantara kita kepada Bapa? Perhatikan ayat 24-27 bacaan kita, yakni:
1. Sebab Ia hidup selama-lamanya (ay.24). Sehingga jabatan imam yang Ia pegang tidak perlu di serahkan pada yang lain. Ia telah mengalahkan kematian, sehingga maut dan kematian tidak mampu membatasiNya.
2. Karena Ia hidup selamanya, maka tugas keimamatan-Nya dapat dilakukan dengan sempurna (ay25). TUHAN YESUS tidak memerlukan domba untuk korban penghapus dosa, sebab Dia sendiri adalah Domba itu yang telah menjadi korban penghapus dosa manusia.
3. Ia adalah Pribadi yang tidak berdosa (ay.26-27). Karena itu Ia tidak perlu menanggalkan keimaman-Nya sementara waktu untuk pengampunan dosa-Nya sendiri. Ia tidak perna melakukan dosa, sehingga jabatan imam tetap ada padanya. Sama seperti, andai dokter tidak pernah sakit, maka ia tetap jadi dokter dan tidak pernah jadi pasien. Tapi, dokter pasti pernah sakit dan pasti juga pernah jadi pasien.

Berdasarkan firman Tuhan ini, maka ada beberapa hal penting yang perlu kita terapkan dalam hidup kita sehari-hari, yakni:
1. Sebagai seorang Imam, Yesus telah menjalankan dengan sempurna tugas ke-Imaman-Nya yakni menjadi pengatara kepada Bapa; mempersembahkan Korban pengampunan dosa bagi kita kepada Bapa; dan menjadikan diriNya merangkap Korban itu untuk kita. Bukankah itu adalah suatu anugerah yang luar biasa? Karena itu kita perlu bersyukur dan memuliakan Tuhan Yesus yang sudah bersedia menjadi imam bagi kita.

2. Wujud ungkapan syukur itu adalah dengan menjaga anugerah itu dalam kesetiaan kepadaNya. Jangan menyia-nyiakan pengorbanan Kristus, itu adalah cara terbaik untuk mensyukuri Karunia Keselamatan yang kita terima. Itu berarti adalah suatu kebodohan jika dikemudian hari, ada orang Kristen yang meninggalkan Tuhan Yesus, dan mencari jalan keselamatan yang lain. Mungkinkah ada jalan keselamatan yang lain? Jawabnya TIDAK ADA. Sebab Yoh.14:16 sudah menegaskan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup itu. Ingin mencari jalan keselamatan? Yesuslah jalan itu; ingin mencari kebenaran hidup? Yesuslah Kebenaran itu; ingin memperoleh Hidup kekal? Yesuslah hidup itu. Maka Tuhan Yesus harus menjadi pilihan yang tepat dalam hidup kita.

3. Sebagai kepala keluarga, kita juga mendapat tanggung-jawab untuk menjadi imam dalam keluarga. Fungsi ini sangat strategis dan penting. Sebagai imam, kita memiliki kewajiban rohani untuk menggiring keluarga dan semua anggota rumah tangga untuk tetap berada dalam anugerah keselamatan itu. Karena itu sebagai kepala keluarga dan orang tua kita wajib melaksanakan fungsi keimaman ini untuk menjadi alat Tuhan bagi damai sejahtera “Raja Salem” yang diberikan kepada keluarga kita. Sebagai imam, kita harus menjadi teladan. Karena itu pola hidup sebagai kepala keluarga, dan suami haruslah berpadanan dengan pola hidup yang sudah diteladankan Imam Besar kita, Tuhan Yesus Kristus. Jadilah kepala keluarga, imam dalam rumah tangga yang mampu menyampaikan perkataan penuh kasih dan membangun, rela berkorban bagi keluarga, memimpin dan mengarahkan keluarga dan setia kepada keluarga; sebagaimana Kristus sudah berkorban dan setia bagi umatNya.

Selamat menjadi imam dalam keluarga, masyarakat mapun pekerjaan, di manapun saudara berada lewat meneladani ke-imaman Tuhan Yesus Kristus. Amin.

MATERI KHOTBAH PKP 07 JUNI 2011

IBRANI 7:25-28

25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, 27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. 28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Apa yang biasanya dilakukan orang ketika ia sakit? Pastilah, pada umumnya, orang akan segera pergi ke dokter. Dengan demikian fungsi dan peran dokter adalah menyembuhkan orang sakit. Jadi, kehadiran dokter hanya penting jika ada orang yang sakit. Bagaimana dengan orang yang sehat? Sudah pasti ia tidak membutuhkan dokter. Itu berarti kehadiran dokter tidak berguna untuk orang yang sehat. Siapapun yang sakit pasti memerlukan dokter. Itu suatu kenyataan umun yang tidak terbantahkan. Siapakah si sakit itu di hadapan dokter? Si sakit itu pasti disebut pasien. Pasien adalah orang yang berhubungan dgn dokter karena ia seorang yang sakit. Jadi sudah pasti pasien adalah orang yang sakit dan bertemu dengan dokter.

Sekarang bagaimana dengan dokter itu sendiri, jika ia sakit? Walaupun dokter, apabila ia sakit, maka ia tidak disebut “dokter yang sakit”, namun lebih tepat disebut orang yang sakit. Sebab dokter juga adalah orang, yang jabatannya adalah dokter. Karena dokter adalah org yang sakit, dan karena sakit , ia pergi ke dokter yg lain, maka dokter yang sakit ini juga harus disebut PASIEN dan bukan dokter lagi.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Mengapa saya menyampaikan istilah pasien, dokter dan orang sakit tadi? Karena khiasan tadi berhubungan dengan pembacaan Alkitab kita yang mengupas tentang Imam besar dan fungsinya. Seseorang mendapatkan jabatan karena ada fungsi jabatan. Demikian juga dengan jabatan imam dalam agama Yahudi. Jabatan imam di Israel diberikan kepada orang-orang keturunan Harun dari suku Lewi. Jabatan imam ini diperlukan dalam rangka melaksanakan fungsi keimaman yakni salah satunya mempersembahkan Korban bakaran bagi Tuhan untuk umatNya.

Apabila ada yang berdosa, maka Imam akan mempersembahkan korban bakaran sebagai korban penghapus dosa bagi orang tersebut. Caranya adalah, orang itu akan membawa seekor domba jantan dan menyerahkan domba itu kepada imam sebagai persembahan dan selanjutnya setelah domba itu disembeli, maka darahnya akan dipercikkan ke Tabut Perjanjian dan dagingnya dibakar sebagai korban bakaran hingga habis terbakar. Dengan demikian maka dosa orang itu dinyatakan telah diampuni oleh Allah.

Namun, sebagaimana yang saya sebutkan tentang dokter tadi, bahwa jika dokter sakit maka ia tidak disebut dokter lagi melainkan pasien, demikian juga dengan seorang imam di Israel. Mari perhatikan ayat 27 bacaan kita. Bahwa imam juga adalah seorang manusia yang pasti akan melakukan kesalahan dan jatuh dalam dosa. Sehingga, ketika ia jatuh dalam dosa, ia tidak layak lagi untuk melaksanakan fungsi keimamannya, yakni perantara umat berdosa kepada Tuhan untuk beroleh pengampunan dosa. Apa yang terjadi dengan imam yang jatuh dalam dosa itu? Ia harus mendapat pengampuan dulu dari Tuhan. Caranya adalah ia harus mempersembahkan korban penghapus dosa juga kepada TUHAN (lih. Ay.27). dengan kata lain, Imam itu sudah berubah status jabatan, yakni dari Imam menjadi umat yang sedang berdosa. Sama dengan dokter yang sakit berubah jabatannya dan satusnya dari dokter menjadi pasien. Keadaan imam seperti itu berarti tidak sempurna dan tidak selalu dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Mengapa? Sebab selain dia suatu saat berbuat dosa, dia juga tidak akan selamanya hidup. Suatu saat dia akan mati, maka fungsi keimamannya tidak dapat dilakukan terus untuk menjadi perantara kepada Allah bagi manusia berdosa.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Itulah sebabnya, umat Tuhan memerlukan seorang imam yang dapat dengan sempurna melaksanakan fungsi sebagai perantara kepada Allah untuk diperdamaikan dengan manusia yang berdosa. Agar imam itu sempurna, maka ia harus memiliki kriteria yang ketat. Menurut ayat 26 bacaan kita, kriteria itu adalah: Ia harus saleh, tanpa salah, tanpa noda dan yang terpisah dari orang-orang berdosa. Dengan kata lain, imam yang sempurna adalah seseorang yang tidak pernah berbuat dosa. Siapakah dia? Jawabnya, TIDAK ADA SATU ORANG-PUN. Sebab di dunia ini orang tersaleh sekalipun, pastilah pernah melakukan dosa. Siapapun nabi yang ada di alkitab, semua pernah melakukan dosa.
Sempurna juga berarti hidup selamanya, sehingga selalu hidup untuk terus dapat melakukan tugas keimaman tersebut. Siapakah manusia yang selalu terus hidup? Jawabnya, TIDAK ADA. Sebab semua kita pastilah akan mengalami kematian.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Kita patut bersyukur, ternyata ada satu pribadi yang menurut bacaan kita memenuhi syarat sebagai imam yang sempurna, dan tepat mejadi Imam Agung. Pribadi itu menurut ayat 22 bernama Yesus. Mengapa Tuhan Yesus tepat menjadi Imam Agung yang Sempurna untuk menjadi perantara kita kepada Bapa? Perhatikan ayat 24-27 bacaan kita, yakni:

1.Sebab Ia hidup selama-lamanya (ay.24). Sehingga jabatan imam yang Ia pegang tidak perlu di serahkan pada yang lain. Ia telah mengalahkan kematian, sehingga maut dan kematian tidak mampu membatasiNya.

2.Karena Ia hidup selamanya, maka tugas keimamatan-Nya dapat dilakukan dengan sempurna (ay25). TUHAN YESUS tidak memerlukan domba untuk korban penghapus dosa, sebab Dia sendiri adalah Domba itu yang telah menjadi korban penghapus dosa manusia.

3.Ia adalah Pribadi yang tidak berdosa (ay.26-27). Karena itu Ia tidak perlu menanggalkan keimaman-Nya sementara waktu untuk pengampunan dosa-Nya sendiri. Ia tidak perna melakukan dosa, sehingga jabatan imam tetap ada padanya. Sama seperti, andai dokter tidak pernah sakit, maka ia tetap jadi dokter dan tidak pernah jadi pasien. Tapi, dokter pasti pernah sakit dan pasti juga pernah jadi pasien.

Ibu-ibu kekasih Kristus
Berdasarkan firman Tuhan ini, maka ada beberapa hal penting yang perlu kita terapkan dalam hidup kita sehari-hari, yakni:

1.Banyak orang menganggap bahwa semua agama sama. Sama tujuan, sama juga kebenaran. Benarkan demikian? Jawabnya TIDAK SAMA SEKALI. Mengapa? Karena hanya iman Kristenlah yang menjamin tentang keselamatan kekal melalui Yesus Kristus. Ia adalah pribadi Ilahi atau Allah sendiri yang mengfungsikan diri sebagai Imam, sekaligus Korban penebusan bagi dosa manusia. Dengan demikian, hanya Dia yang menjamin keselamatan kita. Jika ada yang mengatakan bahwa semua agama sama, maka itu adalah kekeliruan besar. Sebab selain agama dan iman Kristen, tidak ada yang mengajarkan tentang model keselamatan ini. Itu berarti kita berbeda dari mereka.

2.Jika kita sudah tahu bahwa iman Kristen memiliki keunggulan dengan iman yang lain, maka adalah kebodohan jika kemudian, ada orang Kristen yang meninggalkan Tuha Yesus, dan mencari jalan keselamatan yang lain. Mungkinkah ada jalan keselamatan yang lain? Jawabnya TIDAK ADA. Sebab Yoh.14:16 sudah menegaskan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup itu. Ingin mencari jalan keselamatan? Yesuslah jalan itu; ingin mencari kebenaran hidup? Yesuslah Kebenaran itu; ingin memperoleh Hidup kekal? Yesuslah hidup itu. Maka Tuhan Yesus harus menjadi pilihan yang tepat dalam hidup kita.

3.Sebagai ibu rumah tangga dan orang tua bagi anak-anak. Firman Tuhan ini haruslah kita ajarkan kepada anak-anak kita. Berapa banyak anak-anak dari rumah tangga Kristen akhirnya “buang Salib” atau tinggalkan Tuhan Yesus karena ingin memilih jalan keselamatan yang lain disebabkan karena alasan sepele seperti, pasangan hidup; pekerjaan atau jabatan?
Saat ini sebagai ibu rumah tangga dan orang tua bagi anak2, kita memiliki beban dan kewajiban untuk mengajarkan kebenaran ini pada anak-anak kita agar mereka tidak meninggalkan Tuhan Yesus. Pilihan yang kita buat sudah tepat, yakni menjadikan TUHAN YESUS sebagai Imam Besar dan Juruselamat kita. Maka biarlah pula, anak-anak dan seisi rumah kita juga mengimani yang sama dan mempertahankannya. Kita wajib mengajarkan itu pada seisi rumah dan menjaga kehidupan iman mereka supaya Tetap pada Kristus.

Kiranya Roh Kudus memampukan kita melakukannya. Amin.

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...