Thursday, September 5, 2019

AMSAL 10:15-18


AMSAL 10:15-18
MENGINDAHKAN DIDIKAN TUHAN
Ibadah Keluarga Rabu, 11 September 2019

Pengantar
Kitab Amsal adalah buku  kumpulan ajaran moral dan pandangan hidup yang luas dalam corak puitis. Mereka yang mendalami karya Salomo ini dapat memperoleh petunjuk-petunjuk praktis tentang bagaimana cara hidup orang beriman menghadapi persoalan dan tantangan hidup yang keras dan kejam. Salomo sendiri telah menulis 3000 amsal (1 Raja-raja 4:32) dan terdapat 35 kutipan amsal dalam Perjanjian Baru.

Pasal 10-22 adalah kumpulan dari Amsal Salomo yang berisikan tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan di hadapan Allah dan sesama, serta menjalani kehidupan sukses di tengah kehidupan. Amsal selalu membandingkan tentang orang benar dan orang fasik; orang saleh dan orang munafik; serta kebenaran dan kejahatan. Dua kubu ini hampir selalu muncul dalam wejangan hikmatnya.

Pada bacaan kita saat ini yakni Amsal 10:15-18, terdapat 4 (empat) tema yang muncul yakni mengenai kekayaan dan kemiskinan, upah yang benar dan yang fasik, didikan dan teguran, serta yang terakhir tentang menyembunyikan kebencian vs mengumpat.

Telaah Perikop (exsegese teks)
Empat tema tersebut, yang diangkat oleh Salomo pada ayat 15-18 ini akan kita bahas berdasarkan beberapa pokok bahasan sebagai berikut:
1.      Mengupayakan kehidupan melalui harta benda
Apabila kita membaca ayat 15 bacaan kita, maka kita menemukan sesuatu yang “seakan bertentangan” dengan konsep Salomo mengenai harta dan kekayaan. Misalnya silakan lihat redaksi Amsal 18:11 dan bandingkan juga dengan bunyi Amsal 10:15.
Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya. (Amsal 18:11)

Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya, tetapi yang menjadi kebinasaan bagi orang melarat ialah kemiskinan. (Amsal 10:15)

Amsal 18:11 dengan jelas berbicara tentang jebakan harta dan kekayaan ketika dijadikan sebagai tembok tinggi atau tempat berlindung dari segala kehancuran. Harta menjadi pertahanan menghadapai segala sesuatu, sehingga secara tidak langsung harta telah “mengantikan posisi” Tuhan. Padahal dengan jelas, Salomo mengkritik kehidupan model seperti itu dan kemudian menyatakan bahwa TUHAN adalah Menara yang kuat dan di sanalah orang mencari keselamatan (lihat 18:10).

Jika merujuk pada penjelasan di atas, lalu mengapa kemudian kalimat Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya pada Amsal 10:15 terkesan positif dituturkan Salomo dan berbeda suasananya ketika membaca Amsal 18:11?

Dualisme pemahaman ini menjadi jelas jika kita membaca dua ayat di awal pasal 10 kitab Amsal, secara khusus ayat 4,5 yakni:
4  Tangan yang lamban membuat miskin,
tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.
5 Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi;
siapa tidur pada waktu panen membuat malu.

Pada bagian ini, Salomo berbicara twntang usaha dan kerja untuk memperoleh kekayaan atau harta bendawi demi melangsungkan kehidupan. Dengan demikian, jika membaca ayat 15 pasal 10 dalam terang ayat 4 dan 5 kita menemukan keterkaitan yang sangat penting yakni: apabila seorang malas dan lamban dalam mengupayakan kehidupan, sertatidak menyiapkan diri menghadapi tiap musim kehidupan memlaui akalbudinya, maka kemiskinan akan menjadi warna kehidupannya. Hasil akhir adalah kebinasaan karena kemelaratan hidup yang ia terima karena bermalas-malasan.

Selanjutnya, Salomo menekankan tentang, pentingnya untuk memilah sumber penghaslan yang diperoleh ketika mengupayakan harta dankekayaan melalui bekerja. Menurut Salomo ada dua sumber upah dari kerja, yakni yang dilakukan secara benar oleh orang benar dan yang dilakukan dengan cara tidak benar oleh orang fasik (ay.16). Dua asal upah ini mengarah pada dua tujuan akhir yakni kehidupan dan dosa.

Pernyataan pada ayat 16 ini diteguhkan oleh ayat 2 yakni segala sesuatu yang diperoleh dengan cara yang tidak benar, yakni memperoleh harta benda dengan cara yang salah akan membawa siapapun pada kehancuran sebab semuanya tidak akan berfaedah. Di sisi lain, Salomo meyakninkan bahwa ketika bekerja serta memperoleh harta kekayaan dengan cara yang benar, kehidupannya dijamin selamat dari Maut. Bahkan ada jaminan bahwa orang benar tidak akan dibiarkan oleh TUHAN mengalami kelaparan.  

2.      Manfaat didikan dan teguran
Terdapat dua penekanan penting yg disampaikan oleh Salomo pada ayat 17 ini, yakni:

Pertama: Orang yang benar tidak hanya menerima pengajaran, tetapi juga menyimpannya. Mereka tidak membiarkannya terlepas begitu saja karena ceroboh, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Mereka tidak membiarkannya jatuh ke tangan orang-orang yang akan merampasnya. Mereka mengindahkan didikan baik-baik, menjaganya agar tetap murni dan utuh, untuk mereka gunakan sendiri, supaya dengan itu mereka bisa menguasai diri mereka sendiri, menyimpannya demi kepentingan orang lain, supaya bisa mengajar orang-orang tersebut. Barangsiapa berbuat demikian akan menuju jalan kehidupan, yaitu jalan yang disertai penghiburan sejati dan menuju kehidupan kekal.
Kedua: Orang yang salah bukan hanya tidak menerima pengajaran, melainkan juga berketetapan serta berkehendak untuk menolaknya ketika pengajaran itu ditawarkan kepada mereka. Mereka tidak mau diajar tentang kewajiban mereka karena pengajaran itu menyingkapkan kesalahan mereka. Mereka sangat membenci pengajaran yang mengandung teguran, dan jelas mereka keliru. Ini merupakan tanda bahwa penilaian mereka keliru, dan mereka memiliki pemahaman yang keliru tentang apa yang baik dan apa yang jahat. Itu sebabnya perilaku mereka juga sesat. Seorang pengembara yang tersesat, yang tidak mau diberi tahu akan kekeliruannya serta ditunjukkan jalan yang benar, maka sudah pasti ia akan tetap tersesat, dan terus-menerus tersesat. Jelas dia telah kehilangan jalan kehidupan.

3.      Menyembunyikan Kebencian
Apakah maksud dari menyembunyikan kebencian? Bukankah adalah baik untuk tidak menunjukkan rasa marah dan benci di depan umum. Ternyata Salomo bermaksud mengatakan dengan cara yang berbeda, yakni tentang kefasikan dan berpura-pura menahan kebencian.

Ketika kejahatan ditutupi oleh kata-kata manis dan penyamaran: Maka siapa-pun yang menyembunyikan kebencian dengan bibir yang berdusta, meskipun menganggap dirinya sendiri cerdik, ia tetap adalah orang bebal. Bibir yang berdusta saja sudah dianggap buruk, apalagi jika dipakai sebagai selubung kejahatan, atau ada maksud jahat dalamnya, yakni supaya terlihat benar dan baik..

Salomo bermaksud menekankan soal kemunafikan yakni dengan cara menyembunyikan rasa benci pada seseorang supaya terkesan bahwa ia hebat dan tangguh, tetap terkategori sebagai orang bebal. Yang benar adalah murni mengampuni seseorang dengan tulus dan rela melepaskan pengampunan secara sukarela. Di sisi lain, jika dengan sengaja mengumpat atau menyampaikan perkataan kasar kepada mereka yang dibenci maka label bebal tetap menjadi bagian kehidupannya. Tidak heran kemudian di ayat 19, Salomo mengajak untuk berhati-hati untuk berbicara dan memiliki kemamuan untuk mengekang bibirnya.


Renungan dan Penerapan

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...