Wednesday, August 21, 2019

NEHEMIA 5:1-13



PEMIMPIN YANG BERKHIKMAT
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 21 Agustus 2019

A. PENGANTAR
Nehemia, Ibrani: נְחֶמְיָה (baca: Nekhemyah), yang berarti: Yahwe (Allah) itu besar. Dia adalah juru minuman bagi Raja Artahsasta (Nehemia 2:1) dari Persia, yang mengangkatnya menjadi bupati Yehuda (Nehemia 8:9), sekitar 445 sM. Ia termasuk salah seorang organisator yang paling kuat dari masyarakat Yahudi yang pulang kembali setelah pembuangan. Nehemia Kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali tembok-tembok Yerusalem (dalam Nehemia 2:1-6:19). Tugas itu dilakukannya dalam waktu 52 hari pad atahun 445 sM, meskipun usaha pembanguan kembali dirintangi dengan perlawanan dari pihak bangsa Samaria dan musuh bangsa Yahudi lainnya (6:15). Ia menjadi wakil penguasa Persia dan ia tunjukkan suatu sikap ikhlas tanpa pamrih (5:14-19) dan bijaksana (Neh 7:1-3). Ia bela kepentingan sesama warga negara yang miskin di kampung halamanya itu (Nehemia 5:1-13)
 

B. PENJELASAN NATS
Perikop bacaan kita saat ini adalah pemgalan kisah tentang bagaimana seorang pemimpin seperti Nehemia membela warganya yang miskin dan mengalami pemiskinan terstruktur oleh pemerintahan dan para pembesar saat itu.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam kisah kita ini? Mengapa muncul persungutan dan keluhan dari warga yang kembali dari pembuangan? Berdasarkan ayat 1-13 bacaan kita, maka ada beberapa hal yang perlu diuraikan mengenai kondisi keluhan tersebut, yakni:
1.       Nehemia dan umat yang kembali dari pembuangan sedang disibukkan dengan pembangunan ulang tembok Yerusalem. Sebagai pemimpin rombongan ia dengan hebatnya mengatur strategi pembangunan berdasarkan kualifikasi para ahli dan kemmapuan tiap orang (3:1-32)
2.       Saat melaksanakan pembangunan, rupanya tidak berjalan dengan mulus. Beberapa orang menjadi perusuh dan penentang pelaksanakaan pembangunan itu. Sanbalat dan Tobia merupakan “otak” dibalik aksi menhhalangi pembangunan itu (4:1-4). Kendati demikian pembangunan tetap dilakukan (4:5)
3.       Di sisi lain, kemampuan para pekerja ternyata merosot tajam dari segi kekuatan dan tenaga untuk membangun. Bahkan terdengar kabar bahwa akan terjadi kerusuhan yang dilakukan oleh kelompok yang tidak menyetujui pembangunan tersebut. Namun Tuhan juga turut campur tangan melalui Nehemia yang mengatur strategi berjaga sambil terus membangun (4:10-23).
4.       Pembangunan terus berlanjut. Tetapi rupanya kondisi pasca kembali dari pembuangan, membuat kemmapuan finasial sebagian besar umat tidak mampu membiayai kebutuhan hidup di tanah gersang yang telah ditinggalkan 70 tahun itu. Banyak dari mereka mengalami kelaparan sehingga terlilit hutang dan terjebak dalam sistem jual-beli budak saat itu. Pada perikop ini kondisi tersebut digambarkan sebagai berikut:
a.       Jumlah hasil persediaan gandum sebagai bahan pokok berbanding terbalik dengan jumlah mulut yang harus diberi makan (ay.2). Sangat mungkin disebabkan karena kondisi tanah yang belum semua dapat digarap.
b.      Dampak dari minimnya pasokan bahan pokok makanan ini membuat beberapa warga menjual kebun anggur, ladang dan rumah mereka demi mendapatkan gandum yang harganya demikian tinggi (ay.3). Dapat dibayangkan kondisi sangat memprihatinkan terjadi saat itu. Bukan saja tidak bisa makan, mereka kini tidak ada tempat berteduh atau mencari nafkah karena sumber nafkah yakni kebun dan ladang sudah dijual, termasuk rumah sebagai tempat mereka tinggal.
c.       Kondisi ini diperparah dengan jumlah pajak yang sangat tinggi harus dibayar kepada raja (ay.4). Hal membayar pajak adalah hal wajar pada masa itu terutama kepada penguasa. Andaikata kondisi mereka makmur tentu tidak akan menjadi masalah pada waktu itu.
d.      Rupakanya ada yang mengambil kesempatan di tengah kesempitan orang banyak yang menderita pada waktu itu. Hal ini tergambar pada ay.5 bacaan kita. Demi kelangsungan hidup, akhirnya mereka berhutang pada saudara mereka sebangsa yang memiliki tingkat ekonomi yang lebih baik. Cara berhutangpun dilakukan dengan sitem riba (bunga) yang mencekik para orang miskin tersebut.

Bukan itu saja, ketika tidak mampu membayar karena bunga yang tinggi, maka keluarga penghutang menjadi jaminan dan kemudian menjadi budak dari saudara sebangsanya sendiri. Para penguasa memberi bunga yang tinggi dan mengatur sistem jual beli budak dengan harga yang murah ini tentu mendapat keuntungan saat membangun kekuatan ekonomi dan bisnis di daerah yang baru mau berkembang itu.


Selanjutnya, apa reaksi Nehemmia sebagai wakil pemerintahan Persia waktu itu? Nehemia diangkat sebagai Bupati (5;14), sehingga memiliki wewenang dan kekuasaan langsung dari Kerajaan Persia, sehingga wajar jika jika orang banyak datang mengadu padanya. Perhatiakan apa yang dilakukan oleh Nehemia sebaga seorang pemimpin di masa “kacau” itu:
1.      Perlu untuk ditekankan bahwa kondisi di kampung halaman tidak memiliki berbagai fasilitas penunjang, dan siap untuk menghadapi kedatangan orang banyak. Sebaliknya, Nehemia baru memasuki tahap awal perbaikan infrastuktur, sistem pemerintahan dan sistem keagamaan. Kacau adalah istilah yang tepat dimasa bupati Nehemia pada saat itu.

2.      Ketika mendengar keluhan itu, Alkitab menyebut bahwa reaksi Nehemia adalah “sangat marah”. Sebelum mengurai arti mengapa ia sangat marah tersebut, mari perhatikan secara detail redaski ayat 6 bacaan kita: Maka sangat marahlah aku, ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu.. LAI menerjemahkan keluhan untuk kata זְעָקָה (baca:ze`aqah) yang sebaikanya diterjemahkan dengan tangisan. Perhatikanlah di tengah kesibukan dan keterbatasan Nehemia melaksanakan tugas-tugas yang tidak mudah itu, ia tidak mengabaikan KELUHAN dan tangisan warga golongan miskin dan tidak berpangkat itu.

Alkitab menyebut bahwa segera bereaksi. Saya membayangkan ketika sedang sangat sibuk itu, tiba-tiba mereka datang “mengganggu” Nehemia dengan masalah perut mereka. Nehemia segera berhenti beraktifita dan dengan penuh seksama duduk mendengar jeritan golongan tidak mampu yang datang padanya. Bagian ini penting untuk memberi arti tentang pemimpin yang seperti apakah Nehemia itu.

3.      Mengapa Nehemia sangat marah? Sangat beralasan. Sekian tahun umat Israel menderita oleh bangsa luar. Tanah yang berlimpah susu dan madu itu kemudian dikuasai oleh bangsa lain. Nyatanya ketika TUHAN membawa mereka pulang dan menikmati kebebasan, justru umat kembali mengalami penindasan dan permudakan, merasan, dan perampasan hak, bukan oleh bangsa lain tapi oleh bangsa sendiri. Itulah sebabnya Nehemia disebut sangat marah.

4.      Tindakan jitu serang pemimpin yang baik adalah tidak langsung bertindak melainkan mengolah informasi yang masuk padanya dengan cara menimbang dengan penuh ketelitian. Itulah yang digambarkan pada awal ayat 7 bacaan kita.

Selanjutnya sebagai pemimpin, ia menggunakan wibawa kekuasaannya dengan memanggil para pejabat dan pemuka sebagai sumber segala masalah tersebut. Tanpa ragu dan kuatir, Nehemia membuka “kesalahan” mereka di depan mata mereka. Nehemia tidak memihak kepada para pejabat itu demi zona nyaman dan tidak enak hati. Ia tidak memilih berdiri di samping para pebisnis kotor yang menyengsarakan rakyatnya. Ia dengan tegas meminta mereka menghentikan perbuatan jahat mereka dan mengembalikan semua orang yang telah terjerat hutang dan sistem perbudakan.

Nehemia berhasil menjadi pemimpin yang baik dan berhikmat, ketika ia lebih memihak kepada kebenaran dan kemudian menolong rakyatnya yang mengalami kesengsaraan hidup.


C. RELEVANSI DAN APLIKASI


Thursday, August 8, 2019

I PETRUS 1 : 8 – 12


I PETRUS 1 : 8 – 12
PERCAYA DAN DISELAMATKAN
Bahan Khotbah Ibadah Keluarga
Rabu, 14 Agustus 2019

Oleh: Vik. Victoriana D. Resdawati, S.Th [1]

PENGANTAR
Surat ini ditujukan kepada jemaat Kristen yang berstatus sebagai pendatang dan perantau di daerah Asia Kecil di bagian utara. Mereka hidup di tengah kondisi dan situasi masyarakat serta penguasa yang cenderung menolak bahkan memusuhi dan menganiaya mereka. Sebab itu penulisan surat ini memiliki tujuan penting agar jemaat sadar dan siap sedia dalam mengalami tantangan dan menanggung derita oleh sebab iman kepada Kristus.

Petrus mengingatkan dan menguatkan bahwa segala penderitaan mereka tidak akan membuat mereka kalah karena kekuatan iman mereka terletak pada Kristus yang telah mengalami derita sengsara dan kematian dalam rangka menebus manusia dan mengampuni dosa manusia. Kristus yang telah bangkit dan menang atas maut menjadi sumber pengharapan setiap orang percaya akan kebangkitan dan kehidupan kekal yang jauh melebihi apapun juga. Kristus yang hidup, menyertai dan menguatkan umat-Nya dalam pengharapan iman mereka untuk tetap tekun dan setia sampai pewujudan kemuliaan sorgawi dinyatakan kepada mereka yang tekun beriman.

PEMAHAMAN TEKS
Petrus memuji iman jemaat kepada Kristus, sebab iman mereka tidak didasarkan pada penglihatan (1:3). Alasan inilah yang mendorong Petrus bertindak melalui suratnya untuk meneguhkan dan menguatkan iman jemaat kepada Tuhan Yesus Kristus. Mereka tetap percaya dan mengasihi Tuhan, meskipun di tengah berbagai penderitaan dan cobaan yang dialami. Petrus mengatakan, sikap seperti ini hanya bisa dinyatakan oleh orang-orang yang telah mencapai tujuan imannya (ay.9).

Pemahaman ini penting untuk disadari sebagai pijakan iman orang percaya, bahwa oleh karena anugerah Allah-lah maka keselamatan diperoleh. Petrus menegaskan tentang prinsip sebagai pengikut Kristus, yakni siap bersaksi dan menderita, sebab Kristus sudah lebih dulu memberi teladan hidup melalui karya pelayanan-Nya hingga mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.  

Petrus kembali mengingatkan dasar ajaran tentang Kristus kepada jemaat, agar mereka tidak ‘lemah iman’ / ‘memilih zona aman’ tetapi dengan iman kepada Kristus, jemaat harus tetap teguh pada berita Injil yang sudah mereka terima. Jaminannya jelas, yakni pemeliharan dari Kristus akan membuat setiap orang percaya berdiri tegak, walaupun derita, cercaan, penganiayaan dirasakan, sebab dunia tidak punya tempat untuk menghakimi anak Allah.

Penderitaan didunia adalah bukti kehidupan nyata, ada banyak hal yang akan dihadapi, berbagai pergumulan, penderitaan dan juga sukacita. Namun, yang perlu digaris bawahi “Keselamatan adalah anugerah kasih Allah yang harus direspon orang percaya dalam hidupnya”. Oleh karena Roh Kuduslah, berita Injil dapat disebarluaskan, dan oleh karena Roh Kudus maka tiap-tiap orang memberi diri dan menerima keselamatan. Jadi jelas, keselamatan disebut anugerah, karena semua terjadi atas inisiatif Allah, IA yang merancangkan dan merencanakan. Hal itu dipersiapkan dan dinubuatkan jauh hari sebelumnya kepada para nabi untuk disampaikan kepada umat Allah (ay.10). Bahwa keselamatan dari Allah dianugerahkan melalui Anak-Nya yang tunggal dengan cara penderitaan, kematian, kebangkitan dan kemuliaan-Nya untuk mematahkan ikatan kuasa dosa dan maut.

Berita tentang penyelamatan Allah atas dunia merupakan berita yang menakjubkan. Kasih Allah adalah dasar keselamatan tersebut, dan Roh Kudus yang diutus membawa berita itu, baik dimasa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Bagi Allah, manusia sangat berharga, IA ingin berita tersebut terus disampaikan kepada dunia sehingga banyak orang mengalami kasih-Nya yang besar.

Bagian ini menjadi penting dalam rangka  meneguhkan dan menguatkan iman percaya jemaat yang tergoncang akibat penderitaan. Petrus juga memberikan peringatan bahwa jangan sampai karena penderitaan, jemaat meninggalkan Kristus. Sekalipun dunia menolak, tetapi Petrus mengingatkan jemaat akan apa yang sudah mereka terima. Kalaupun mereka telah kehilangan sesuatu didunia karena beriman kepada Kristus, namun PERCAYALAH DENGAN IMAN, bahwa mereka sudah menerima keselamatan jiwa sebagai gantinya.

Dengan demikian, penderitaan yang dialami jemaat harus dipandang dari sudut iman, yakni untuk memurnikan cara hidup beriman orang percaya. Berarti, peristiwa apapun yang terjadi berpotensi untuk menjatuhkan/mematikan iman, tetapi juga berpotensi menumbuhkan iman kepada Kristus. Maka sebagai orang percaya, dituntut untuk peka akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan juga tetap waspada terhadap kuasa yang dapat menjatuhkan/mematikan iman kita. Dua kemungkinan yang dapat terjadi sebagai respon penderitaan, yakni BERTUMBUH atau JATUH.

Hal yang perlu diingat, sekalipun Tuhan seolah membiarkan segala sesuatu terjadi dalam kehidupan kita, bukan berarti Tuhan lepas tangan, atau membiarkan kita bergumul sendiri. Tetapi, tangan  kasih Tuhan tidak kurang panjang merangkul tiap orang yang mengandalkan-Nya. Sebab, dalam iman terkandung kekuatan Allah. Sebagaimana dikatakan pada ayat 5:”yaitu kamu yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu”. Berarti, beriman kepada-Nya akan menghasilkan kekuatan yang hanya dapat diperoleh apabila iman itu bertumbuh dan berbuah. Jika orang percaya mampu mengerjakannya, maka kekuatan dan tahan uji akan diperoleh, sehingga dunia tidak akan mampu menggoyahkan identitasmu sebagai anak Allah.


RELEVANSI dan APLIKASI
Silakan relevansikan bahan khotbah ini berdasarkan situasi kebutuhan jemaat.


[1] Vikaris GPIB Tahun Pertama di GPIB Jemaat “Pniel” Palembang. Alumni STT INTIM Makassar.

GALATIA 5:1-12


GALATIA 5:1-12
CITRA MANUSIA MERDEKA
Khotbah Ibadah Hari Minggu
Minggu, 11 Agustus 2019

Oleh: Pdt. Frilliany Putiray, M.Si (Teol)

PENDAHULUAN
Surat Galatia merupakan surat yang ditulis oleh Paulus untuk meyakinkan jemaat di Galatia bahwa ia benar adalah rasul Yesus Kristus. Tetapi pertama-tama surat ini ditulis untuk memberikan pandangan yang benar tentang kebenaran Injil yang diberitakan Paulus, terkait kontroversi/ perdebatan/ pertentangan di tengah jemaat akibat pengajaran sesat. Sebelumnya Paulus telah mengunjungi jemaat ini dan memberitakan Injil Kristus kepada mereka. Namun dengan segera ketika Paulus pergi dari situ, mereka berbalik kepada injil lain yang diberitakan untuk mengacaukan iman kepada Kristus yang telah terbentuk dalam persekutuan (1:7).

Paulus menyebut pemberita palsu dengan sebutan pengacau. Pengacau itu menekankan bahwa kaum beriman yang bukan Yahudi, seperti orang-orang Galatia, harus menjalankan upacara-upacara Yahudi, termasuk sunat. Dengan pengetahuannya tentang Taurat, Paulus mempertahankan pandangannya bahwa menaati hukum Taurat tidak membawa seseorang lebih dekat kepada Allah. Apa yang membuat seseorang menjadi anak Allah adalah imannya akan Yesus Kristus (3:11). Bagi Paulus, hukum Taurat adalah penuntun bagi orang percaya sampai Kristus datang, supaya kemudian dibenarkan oleh karena iman (3:24).



TELAAH PERIKOP
Ada beberapa hal yang akan diperhatikan dari bacaan ini.
Pertama, keselamatan merupakan anugerah yang diberikan berdasarkan kemurahan Allah, sepenuhnya bergantung pada iman akan Yesus Kristus. Keselamatan di dalam Kristus itu yang kemudian memerdekakan orang percaya dan memberikan bagi mereka kebebasan dari beban perbudakan. Ini adalah kemerdekaan berdasarkan penebusan karena anugerah, yang harus diperhadapkan dengan keadaan manusia, seperti orang Yahudi pada zaman Paulus, yang terikat dengan upacara-upacara agamawi. Dengan kata lain, anugerah kebebasan menjadi mungkin hanya karena Kristus telah membayar dosa manusia dan Roh Kudus memimpin orang percaya keluar dari perhambaan dosa itu.

Kedua, pokok persoalan ialah sunat. Bacaan ini menegaskan pandangan Paulus bahwa bukan perbuatan melakukan Taurat (sunat) yang akan menyelamatkan seseorang, melainkan iman kepada Allah di dalam Yesus Kristus (2:16). Dalam Roma 4:11, Paulus mengatakan bahwa tanda sunat diterima oleh Abraham sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ia tunjukkan. Berarti bahwa karena sikap ketaatan iman Abraham kepada Allahlah maka diperhitungkanNya itu sebagai kebenaran. Sunat kemudian dipakai Allah sebagai meterai/cap/segel untuk mensahkan iman Abraham kepadaNya. Jelaslah bahwa iman kepada Allah yang membenarkan perilaku Abraham, bukan sunat. Keselamatan hanya datang dari Kristus, bukan dari Kristus + Taurat. “Jikalau kamu menyunatkan diri,” nampak bahwa ternyata mereka belum melakukan sunat.

Paulus menegaskan bahwa tindakan itu berarti seseorang membuat dirinya sekali lagi berada di bawah seluruh hukum Taurat, karenanya siapa Kristus dan apa yang dilakukanNya, sama sekali tidak akan berguna bagi orang itu. Dengan penyerahan diri di bawah Taurat, dan keinginan untuk dibenarkan karena melakukan Taurat, orang tersebut pada prinsip dan kenyataannya memisahkan diri dari lingkungan kaish karunia dan dari kesetiaan iman dalam Yesus Kristus (Roma 5:2).

Ketiga, karena sunat dipakai hanya sebagai sarana untuk mensahkan tindakan iman yang dipandang Allah sebagai kebenaran, maka hal yang penting sebenarnya bukan sunat atau tidak disunat, melainkan iman yang bekerja oleh kasih (agape: kesedian memberi diri). Tindakan imani yang dinyatakan melalui kasih ini diulang oleh Paulus tiga kali, ayat 6, 13, 14. Betapa menegaskan bagi orang percaya di Galatia bahwa iman kepada Allah dalam Yesus Kristus perlu dinyatakan lewat tindakan kasih yang nyata kepada sesama. Dalam tindakan seseorang mengasihi sesamanyalah, maka nampak imannya kepada Kristus. Bagi Paulus, prinsip pengontrol hidup ialah iman terungkap dalam kasih, sebagaimana halnya dalam hidup Kristus. Hakikat dari kekristenan bukanlah legalisme, melainkan hubungan pribadi dengan Yesus Kristus yang dicirikan oleh kasih.

Paulus menyadari bahwa ajakan untuk tunduk kepada Taurat bukanlah berasal dari Allah yang telah memanggil mereka. Paulus yakin, jemaat Galatia akan memperhatikan apa yang dia katakan, dan akan tetap berada dalam kasih karunia Yesus Kristus. Pengacau yang mengganggu ketenangan kepercayaan mereka pun akan menderita, menanggung hukuman yang setimpal dengan perbuatannya itu. Menyikapi kenyataan ini, Paulus mengingatkan jemaat Galatia bahwa mereka adalah orang-orang merdeka yang telah dimerdekakan oleh Kristus dari legalitas peraturan-peraturan agamawi. Eleutheroo atau merdeka adalah istilah yang dipakai oleh Paulus yang berarti jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan! Perhambaan dimaksud adalah bukan saja hamba dosa, tetapi juga berbagai aturan lama keyahudian yang begitu mengikat. Mengapa? Karena dalam persekutuan dengan Kristus, ada kemerdekaan.

Penggunaan kemerdekaan iman ini harus nyata dalam sikap kasih terhadap sesama, dan bukan menjadi kesempatan untuk hidup di dalam dosa. Jemaat Galatia dinasihati untuk berdiri teguh pada kebenaran yang telah mereka terima yaitu Injil Yesus Kristus. Kemudian saling mendukung dalam kehidupan persekutuan, saling menguatkan dalam iman kepada Kristus (ay.15).

RELEVANSI
Silakan uraikan relevansi bahan khotbah ini dalam kehidupan sehari-hari.

Saturday, August 3, 2019

BERPIKIR POSITIF TENTANG TUHAN

AYUB 2:9-13
BERPIKIR POSITIF TENTANG TUHAN
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
04 AGUSTUS 2019

PENDAHULUAN
Siapakah Ayub? Tokoh ini tidak dengan terperinci dijelaskan oleh alkitab. Ia hanya disebutkan berasal dari daerah Us (1:1) dan merupakan orang terkaya di daerahnya. Ia mendapatkan 7 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Selain itu ia juga mempunyai banyak harta kekayaan, di antaranya: 7000 kambing domba, 3000 unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina dan banyak budak-budak (1:2-3).

Oleh karena banyaknya harta Ayub, maka ia menjadi orang yang terkaya di daerah Timur. Ayub digambarkan sebagai orang yang sangat kaya dan tidak ada yang lebih kaya dari pada Ayub. Jadi besar kemungkinan Ayub juga sangat terkenal di seluruh daerah Timur. Menarik untuk dicatat bahwa Alkitab menyebut tentang 10 orang anak dan kekayaan sebagai pemberian Tuhan (1:2,3,10), namun tidak menyebut istrinya sebagai bagian dari pemberian Tuhan. Istri Ayub hanya muncul pada  ayat 9 bacaan kita.

Namun keterangan yang penting dan dicatat berulang-ulang mengenai tokoh ini adalah karakter moralnya. Ia adalah seorang yang “saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Kalimat ini dituliskan sebanyak 3 kali; 1x disebutkan dalam 1:1 oleh penulis kitab ini, 2x diucapkan oleh Tuhan dalam 1:8 dan 2:3. Jadi karakter Ayub tersebut merupakan suatu penekanan, karakter yang dinilai sangat baik oleh Tuhan, sehingga ia dibanggakan oleh Allah dihadapan Iblis. Tidak ada tokoh Alkitab yang lain yang dibangga-banggakan oleh Tuhan di hadapan iblis, selain dari pada Ayub. Kualitas-kualitas inilah yang digunakan oleh penulis kitab ini untuk menjelaskan karakter moral Ayub yang sebenarnya. Harta kekayaan Ayub yang paling utama bukanlah materi yang berada di luar dirinya, tetapi apa yang ada di dalam dirinya.


TELAAH PERIKOP (exegese)
Bagaimanakah kisah kemalangan Ayub, seorang yang takut Tuhan ini, dimulai? Diawali dengan pertemuan mahluk sorgawi dengan Tuhan termasuk Iblis di dalamnya. Tuhan amat membanggakan Ayub dihadapan seisi Sorga, bahkan pula di hadapan Iblis (lih 1:8; 2:3). Namun Iblis meragukan kondisi itu dengan mencari alasan bahwa kesetiaan Ayub hanya sebatas kekayaan dan kepemilikannya yang dianugerahi Tuhan. Singkatnya, Iblis datang menghancurkan harta benda dan anak2 Ayub, atas seijin Tuhan (1:13-19) sehingga Ayub hidup miskin berdua dengan Istrinya. Apa reaksi Ayub? Pada pasal 1:21-22 kita menemukan siapa Ayub sebenarnya berdasarkan rekasinya terhadap musibah yang ia alami. Ayub tidak mengutuk dan menggerutu; Ayub tidak sekali-pun mempertanyakan Tuhan, namun sebaliknya justru memahami bahwa apa yang ia miliki semuanya BUKAN MILIKNYA, melainkan adalah milik Tuhan. Maka, menurut Ayub, adalah wajar jika Tuhan mengambilnya. Peristiwa ini adalah PENCOBAAN PERTAMA dan Iblis GAGAL TOTAL menjatuhkan Ayub dalam dosa. Sebab dalam ayat 22 pasal 1 ditekankan, bahwa dalam kondisi itu Ayub TIDAK berbuat dosa.

Setelah gagal pada cobaan pertama mengenai HARTA BENDA dan kepemilikan, maka saatnya Iblis melanjutkan cobaan kedua pada bacaan kita 2:1-13, tentang tubuh jasmani dengan Istilah yang dipakai “kulit ganti kulit” (2:4). Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada bacaan kita hari ini (sebaiknya dibaca seluruh perikop), yakni:
1.       Perhatikan ayat 5. Iblis meminta agar TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah tulang dan daging Ayub supaya kena kutuk. Apakah TUHAN menyetujuinya? Secara sepintas, jawabannya pasti YA. Namun jika kita memperhatikan ayat 6 bacaan kita sekaligus merujuk 1:12 maka kita menemukan sesuatu yang menarik. TUHAN tidak sedikitpun bersedia menggunakan TanganNya untuk menulahi Ayub. Tangan Iblislah yang melakukannya. Peran TUHAN dalam pergumulan itu hanya sampai pada “MENGIJINKAN” Iblis melakukannya.

Dengan demikian kita menemukan suatu kebenaran penting pada kisah ini. Pencobaan dan derita Ayub tidaklah datang dari tangan TUHAN yang penuh kasih itu. Derita Ayub ditimpakan oleh tangan Iblis yang penuh dengan kebencian dan kepicikan. Dalam alkitab tidak ditemukan sedikitpun bahwa TUHAN mengutuki dan menghajar orang yang taat dan setia kepadaNya. Sebaliknya justru, untuk tipe orang seperti itu, tangan Tuhan selalu datang menjamah untuk memberkati. Kalaupun ada hajaran, itu hanya diberikan TUHAN dalam rangka mendidik dan mengarahkan lagi ke jalan yang benar orang yang dikasihiNya. (bd. Wahyu 3:19).

2.       Ayub sangat menderita dengan penyakit yang ditimpahkan Iblis. Garukan karena gatal lewat tangannya sudah tidak berguna lagi. Itulah sebabnya dalam ayat 8 disebutkan Ayub menggunakan beling untuk menggaruk-garuk badannya. Silakan bayangkan betapa ngeri penderitaan Ayub!

Siapapun yang menyaksikan ini pastilah terenyuh dan tidak tega melihat derita Ayub. Namun, dalam bacaan kita justru tiba2 muncul satu tokoh yang tega dan tidak merasakan derita itu. Siapa tokoh itu? Dia tidak lain adalah Istri Ayub sebagaimana dinyatakan ayat 9 bacaan kita. Perempuan ini bukan saja tidak pedui terhadap penderitaan Ayub, namun juga menjadi “alat iblis” untuk menggoyahkan pertahanan iman Ayub yang saat itu sedang berjuang.

Ternyata tidak selamanya orang yang terdekat dan kelihatannya selalu ada untuk kita dapat mengerti dan mendukung setiap derita dan pergumulan termasuk perjuangan iman. Terkadang justru orang-orang seperti inilah yang menjadi alat Iblis. Dalam hal ini, Ayublah yang mengalami sendiri, yakni ditinggalkan dan dilemahkan oleh orang yang justru dapat diharapkan mendukung, yakni istrinya.

3.       Perhatikan jawaban Ayub kepada Istrinya yang sekaligus menjadi jawaban Iman Ayub terhadap semua cobaan dan derita hidup yang ia alami! Dalam ayat 10 bacaan kita, Ayub dengan tegas menolak menghujat dan meragukan Allah. Ayub menyadari bahwa ia hanya mungkin hidup karena anugerah dan karunia TUHAN. Karena itu apapun yang Tuhan lakukan, entah yang baik atau buruk harusnya tetap diterima dan disyukuri. Bagi Ayub, adalah suatu KEGILAAN jika manusia hanya mau menerima yang baik dari TUHAN dan menolak yang buruk.

Pernyataan iman ini sangat dasyat dan luar biasa untuk dimaknai. Ayub menerima apapun dari TUHAN. Ayub belajar untuk menerima keburukkan hidup oleh karena ia sudah menerima kebaikan terlebih dahulu. Ayub tidak berpikir bahwa kesalehan dan kesetiaannya harus dibalas TUHAN dengan KEBAIKAN sebagai hadiah dan haknya. Namun keunggulan Ayub adalah ketika ia menyadari bahwa di tangan TUHAN-nya ia bukan siapa2 sehingga tidak layak menggerutu, sebaliknya Ayub belajar menerima apapun dari TUHAN. Sebab, bagi AYUB, Tuhan berhak melakukan apapun baginya –baik atau buruk- karena itu adalah HAK Tuhan termasuk terhadap dirinya sekalipun.

4.       Bacaan kita saat ini berkisah juga tentang kehadiran para sahabat Ayub di saat mereka mendengar tentang musibah dan kemalangan hidup yang dialami Ayub. Alkitab menuliskan ketiga sahabat Ayub, yakni: Elifas, orang Teman dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama datang dari tempatnya masing-masing ketika mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa Ayub (ay. 11). Itu berarti mereka tidak berasal dari tempat yang sama. Mereka mungkin beda kota, wilayah bahkan negara. Selain itu dikatakan bahwa mereka bersepakat untuk menghibur Ayub. Itu berarti bukan suatu kebetulan kalau mereka dapat berkumpul bersama.

Lalu, bagaimana mereka dapat mem­buat kesepakatan sementara tempat mereka begitu berjauhan? Alkitab tidak berbicara banyak mengenai hal ini tetapi seperti kita ketahui, membuat suatu kesepakatan dengan jarak terpisah jauh, dengan teknologi informasi yang masih begitu primitif, jelas bukan hal yang mudah; sangat menyita waktu dan tenaga. Tetapi mereka rela bersusah payah sedemikian rupa demi untuk menghibur sahabat yang mereka kasihi, yakni Ayub.

Mereka datang pada Ayub dengan tujuan yang murni, yaitu untuk mengucapkan bela­sungkawa dan menghibur (ay. 11b). Mereka datang bukan karena Ayub kaya atau karena memiliki motivasi-motivasi lain seperti mendapatkan kenikmatan atau balas jasa. Tidak! Sebab saat itu Ayub sudah jatuh miskin, hidup melarat dan kena penyakit mengerikan lagi.

Dalam ayat 12-13 kita menemukan kenyatan yang luar biasa terhadap apa yang dilakukan para sahabat Ayub itu. Ketika sahabat Ayub memandang dari kejauhan dan melihat kondisi Ayub begitu memilukan mereka, maka lima hal bermakna mereka lakukan, yakni:
  1. Mereka menangis dengan suara nyaring;
  2. Mereka mengoyakkan jubah;
  3. Mereka menaburkan debu di kepala;
  4. Mereka menemani Ayub dengan duduk bersama-sama dia selama tujuh hari tujuh malam;
  5. Mereka puasa bicara alias tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.

Banyak penafsiran yang mengatakan bahwa mereka melakukannya karena kebiasaan budaya yang berlaku pada jaman itu. Tapi jika kita per­hatikan lebih lanjut, mereka melakukannya bukan sekedar kebiasaan budaya. Mereka tidak hanya hadir dan berbagi secara fisik, mereka juga berbagi perasaan dengan Ayub. Mereka sama-sama meratap dan sama-sama hancur hati.

Perbuatan ketiga sahabat Ayub ini merupakan sikap dan perbuatan terpuji.  Demi mendukung Ayub dan pergumulan hidupnya, mereka rela berkorban waktu dan tenaga; dengan motivasi tulus meringankan beban; serta dengan penuh kasih turut merasakan derita sahabatnya. Memang benar, apabila kita lanjutkan bacaan ini, kita menemukan pada akhirnya para sahabat Ayub mulai memberikan nasehat dan tanggapan yang kemudian melemahkan dan menjatuhkan Ayub. Saya kira ini adalah wajar, jika mereka sendiri tidak mengetahui kondisi sebenarnya Ayub dalam hal Iman-nya kepada Allah. Namun bukan ini yang akan kita bahas. Khusus bagian bacaan kita, kepedulian merekalah yang perlu direnungkan (walau dalam bagian akhir mereka mempertanyakan Ayub).

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan Firman Tuhan ini, kita dapat memperoleh beberapa pokok pikiran yang berhubungan dengan kehidupan kita dari kisah Ayub ini, yakni:
1.       Kesengsaraan hidup itu identik dengan pencobaan hidup. Ketika kita mengalami pencobaan, siapakah yang mesti bertanggung-jawab? Apakah Tuhan atau Iblis. Pertanyaan ini hanya akan terjawab jika kita mengetahui tentang dari mana asalnya pencobaan itu. Mengenai asal-muasal pencobaan itu, Yak. 1:13-14 menyebutkan:
  1. Allah tidak pernah mencobai manusia
  2. Manusia dicobai oleh keinginannya sendiri
  3. Manusia dicobai oleh Iblis (lih. Bacaan kita) atau biasa disebut oleh Paulus sebagai PENGGODA (1 Tesalonika 3:5).

Hal ini dipertegas lagi oleh bacaan kita bahwa Tangan TUHAN tidak pernah IA gunakan untuk mengutuk dan menyakiti orang yang dikasihiNya. Tindakan ini sepenuhnya ada dalam aksi Iblis. Peran TUHAN pada pencobaan yang kita alami sangatlah sedikit, yakni sebatas mengijinkan Iblis.

Jadi adalah salah alamat, dan berdosa-lah kita jika mengklaim dan menghakimi TUHAN terhadap pencobaan dan derita yang kita alami.  Sebab pencobaan datang kepada Ayub, bukan karena ia durhaka namun justru karena ia setia. Kesetian kita mengundang “iri hati” iblis untuk menghancurkan iman kita lewat pencobaan. Iblislah yang melakukan itu. Jika kita menghakimi Allah dan menghujatNya, berarti Iblis benar dan ia menang karena ternyata kita tidak tahan iman dan berbuat dosa kepada TUHAN. Karena itu, kepada kita yang setia dan percaya kepadaNya, berhati-hatilah karena Iblis licik dan siap menjatuhkan kita lewat cobaan hidup.

2.       Apa yang harus kita lakukan saat mengalami pencobaan oleh Iblis. Belajarlah seperti Ayub! Ia tidak menjadikan TUHAN sebagai MUSUH-nya, melainkan tetap sedapat mungkin bergantung pada TUHAN. Hal ini terlihat jelas dari tiap jawaban imannya ketika menghadapi 2 jenis pencobaan itu.

Mengapa bergantung pada TUHAN begitu penting? Bukankah banyak orang cendrung meninggalkan TUHAN ketika merasakan bahwa seakan TUHAN tidak adil dalam hidupnya? Perhatikan bunyi Mzm.37:5 yang menjadi alasan penting kita harus tetap bergantung pada TUHAN! Ayat ini berbunyi: “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”. Artinya, hanya dengan bergantung pada TUHAN, saat alami pencobaan Iblis-lah, maka IA akan bertindak.

Apa tindakan dan peran TUHAN saat kita mengalami pencobaan? Peran TUHAN tidak hanya pada mengijinkan Iblis mencobai kita, namun dalam lanjutan bunyi ayat 13 kitab 1Kor pasal 10 disebutkan: “… Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu... Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. TUHAN tidak akan berdiam diri disaat kita mengalami pencobaan dari Iblis. Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar dan kekuatan untuk dapat menanggungnya hingga pencobaan itu selesai. Karena itu jangan tinggalkan TUHAN ketika hadapi pencobaan, sebaliknya teruslah berada di pihak TUHAN yang penuh kasih dan kuasa itu.

3.       Peristiwa Istri Ayub mengingatkan kita bahwa tidak semua orang dapat menjadi pendukung dan penopang saat kita butuh topangan dan dampingan di tengah cobaan dan pergumulan hidup. Karena itu, kitapun diajar untuk selektif memilih orang yang tepat ketika sedang mengalami cobaan hidup. Hindari setiap saran yang justru akan menjerumuskan kita. Carilah pribadi2 yang tepat yang akan TUHAN kirim untuk mendampingi kita saat mengalami pergumulan itu. Karena itu tetaplah setia! Hadapilah pergumulan dan cobaan hidup ini dengan bijak dan teguh iman seperti Ayub. Percayalah TUHAN tidak akan membiarkan kita dalam pencobaan.

4.       Sesuatu yang tak dapat dipungkiri bahwa di belahan dunia manapun ada begitu banyak orang yang mengalami kemalangan hidup dan penderitaan diri. Di manapun termasuk di sekitar kita sekalipun ada banyak orang yang mengalami kesendirian dan kesepian. Mereka bagaikan Ayub yang tidak mengerti mengapa semua dialami. Mereka bagaikan Ayub yang menderita sendiri dan membutuhkan topangan dan pendampingan. Kita dipanggil untuk menjadi seperti para sahabat Ayub tersebut. Panggilan kita adalah meringkankan penderitaan dan pergumulan sesama kita.

Bagaimana caranya? Lihatlah apa yang dilakukan oleh tiga sahabat Ayub:

a.       Mereka bersusah payah menjangkau tempat Ayub dengan mengorbankan waktu, tenaga dan jarak tempuh yang cukup jauh. Untuk bisa meringankan penderitaan orang lain, kita mesti bersedia mengorbankan sesuatu. Mungkin yang dikorbankan adalah sibuknya kita di tempat kerja; waktu untuk keluarga; keluar sedikit dana extra yang tak terprogram; sediakan ekstra tenaga dan korbankan jam istirahat atau waktu santai kita dll. Tanpa pengorbanan, kita tidak akan mampu secara maksimal untuk meringankan penderitaan orang lain.

b.      Seperti para sahabat Ayub, milikilah motivasi yang tulus ketika menolong orang lain. Jangan demi pujian atau sanjungan; jangan pula supaya diingat atau dikenang; dan juga janganlah demi suatu penghargaan. Perbuatan baik yang kita lakukan bagi orang lain, biarlah murni hanya untuk menolong. Kalaupun itu diguncingkan dan dihargai orang, biarlah itu menjadi kemuliaan Allah.

c.       Perhatikan 5 hal penting yang dilakukan oleh sahabat Ayub pada penjelasan di atas. Mereka bukan hanya bersimpati dengan derita Ayub alias sekedar merasa ibah dan kasihan. Namun mereka bertindak lebih jauh, yakni berempati dengan derita Ayub alias berusaha turut merasakan apa yang dirasakan oleh Ayub. Empati berarti turut berbela rasa atau dalam bahasa sederhananya adalah bersedia memakai sepatu orang lain. Jika sepatu itu sempit maka kita dapat merasakan nyeri dan sakitnya; jika sepatu itu pas ukurannya maka kita dapat merasakan pula nyamannya.

Hanya dengan turut merasakan penderitaan orang lain, maka kita dapat tahu apa sesungguhnya pertolongan yang dibutuhkan mereka. Hanya dengan turut merasakan derita mereka, maka kita akan mampu “mengambil” sedikit pergumulan itu, sehingga orang yang menderita itu merasakan sedikit kelegaan.

Karena itu, mari-lah menjadi alat Tuhan untuk menyalurkan Kasih-Nya yang menyembuhkan kepada setiap orang yang mengalami kesakitan hidup karena derita dan pergumulan yang dialaminya. Kiranya Roh Kudus membantu kita untuk lebih banyak peduli dan menjadi berkat bagi orang lain yang sedang menderita, sebagai mana sahabat Ayub. Kiranya pula kita tidakmenjadi sandungan di balik derita orang lain, sebagaimana yang tega dilakukan oleh istri Ayub. Amin.


Catatan:
Uraian bahan khotbah ini terlalu panjang. Silakan diolah menjadi khotbah lengkap dengan membuatnya lebih ringkas dan mudah dimengerti. 

Kisah Para Rasul 4:32-37

  MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                   Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         ...