Saturday, May 9, 2026

YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

 WAHYU 1:1-8


PENDAHULUAN


Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Rasul Yohanes adalah jemaat-jemaat yang memiliki begitu banyak pergumulan dan penderitaan oleh imannya pada masa akhir pemerintahan Kaisar Nero dan pada masa kelam kekaisaran Domiktianus.  Oleh sebaba itu kitah wahyu disampaikan sebagai peenghiburan dan penguatan kepada umat yang bergumul.

 

Kitab ini ditulis oleh Rasul Yohanes yang oleh pemerintahan Romawi ia diasingkan dan di buang di pulau Patmos. Keseluruhan Kitab Wahyu adalah mencerminkan keadaan sejarah pada zaman pemerintahan Domitianus, yang menuntut rakyatnya untuk memanggil dia “Tuhan dan Allah”. Perintah ini menjadi pertentangan antara orang dengan sukarela untuk mengikuti perintah kaisar dan orang Kristen setia yang tetap menyembah Yesus sajalah “Tuhan dan Allah”. Maksud utama penulisnya ialah untuk memberi harapan serta semangat kepada para pembacanya, dan juga untuk mendorong mereka supaya tetap percaya pada waktu dianiaya dan ditekan. Itulah sebabnya kita harus pula memandang bahwa jemaat di Asia sebagai penerima surat ini adalah mereka yang sedang berada dalam derita aniaya tersebut.

 

TAFSIRAN / TELAAH

Dalam pemahaman bahwa tulisan ini ditujukan oleh Yohanes agar dapat dibacakan atau dibaca langsung oleh 7 jemaat di Asia kecil atau yang sekarang ada di sekitar Turki Barat, dan mengetahui bahwa ketujuh jemaat ini sedang mengalami kesulitan dan persoalan hidup akibat iman percayanya, maka ada beberapa catatan penting dari ayat 1-8 bacaan kita ini, yakni:

 

1.       Keakuratan dan Kepentingan Tulisan Wahyu ini (ay 1-3)

Yohanes memulai tulisannya ini dengan kalimat “inilah wahyu Yesus Kristus”. Dengan menggunakan kalimat ini, pembaca kita ini diantar pada suatu pemahaman bahwa akurasi apa yang disampaikan ini tidak mungkin meleset dan pasti akan terjadi karena yang menyampaikan kepadanya adalah Yesus Kristus sendiri. Dengan menyebutkan sumber pewahyuan tersebut, Yohanes menempatkan diri bukan sebagai sumber berita, namun hanya sebagai saksi penerima wahyu yang memiliki kewajiban moral untuk meneruskan apa yang ia dengar, lihat dan saksikan dalam pewahyuan tersebut.

 

Dengan kata lain, tersajinya wahyu ini dalam bentuk tulisan untuk dibaca oleh orangg lain, disebabkan tanggung-jawab iman Yohanes sebagai penerima wahyu tersebut, dan juga tidak boleh diabaikan, bahwa penuliskan wahyu ini menjadi kitab atas perintah langsung dari TUHAN kepadanya (1:11,19; 2:1 dst). Terdapat 13 kali perintah “tuliskan” muncul dalam kitab ini sebagai bukti bahwa wahyu ini ditulis menjadi kita bukan hanya kemauan Yohanes tapi atas perintah Tuhan Yesus agar dibaca oleh orang lain (ay.3).

 

2.       Legitimasi Ilahi terhadap pewahyuan dan fungsi penguatan (ay 4-5)

Dampak dari poin pertama di atas adalah legitimasi ilahi terhadap kitab ini. Bahwa kita ini bukan karangan biasa saja, bukan sekedar ilham Roh Kudus sambil lalu, tetapi ditulis berdasarkan apa yang di dengar, dilihat dan dirasakan oleh Yohanes yang berada di pengasingan pulau Patmos.

 

Itulah sebabnya, Yohanes membuka surat ini dengan menyampaikan salam pembuka dari dirinya sebagai penulis kitab ini, tetapi juga salam langsung yang dititipkan oleh pemberi wahyu, yakni Yesus Kristus, kepada para pembaca kirab ini kelak. Dengan demikian, legitimasi dan keabsahan tulisan ini tidak bisa diragukan dan tidak perlu dipertanyakan secara iman. Bahwa apa yang ditulis oleh Yohanes datang dari Allah sendiri, menjadi bukti kuat bahwa wahyu ini datang dari Allah.

 

Selanjutnya, karena kita ini ditujukan kepada jemaat di Asia kecil (ay.4) yang dalam sejarahnya sedang berada dalam berbagai rupa penganiaan dan penderitaan oleh karena iman percaya mereka, maka kitab ini sekaligus menjadi kekuatan bagi mereka yangg mederita itu. Perhatikan penggalan kalimat ayat 5: “... dan dari Yesus Kristus yang berkuasa atas raja-raja bumi...”. Bagi tujuh jemaat penerima kitab ini, tulisan itu merupakan penguatan iman bagi mereka yang saat itu sedang dianiaya oleh raja raja bumi, baik oleh Kaisar Nero yang kemudian dilanjutkan oleh Kaisar Domiktianus. Penderitaan yang mereka alami disebabkan karena mereka lebih tunduk kepada Yang Lebih Berkuasa, yakni Yesus Kristus Raja di segala raja,  daripada tunduk kepada para raja dunia.

3.       Yesus ada dalam dan di atas sejarah dunia (ay 6-8)

Ayat 6-8 memberikan penjelasan dan mengingatkan ulang mereka yang sedang menderita bahwa Yesus Kristus tetap ada untuk selama-lamanya. Ia tidak terkurung oleh waktu, atau terbatas pada suatu periode sejarah. Yesus Kristus pasti akan datang kembali (ay.7). Itulah sebabnya hal ini seharusnya menguatkan tujuh jemaat bahwa Tuhan Yesus melihat penderitaan mereka dan tidak melupakan mereka.

 

Kemenangan kerajaan Allah terjadi waktu kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Dalam ayat 7 disebutkan bahwa Yesus datang dengan awan, ini mengambarkan bahwa kedatangan Tuhan Yesus dengan kemuliaan, semua mata menatap Dia. Kemenangan zaman akhir (eskatologis) bagi orang yang setia dan sejarah akan berakhir dengan jatuhnya hukuman atas sistim iblis di dunia ini. Kemenangan Yesus Kristus ini dipertegas dengan pernyataan Aku adalah Alfa dan Omega, yang ada, yang sudah Ada dan yang akan datang yang Mahakuasa.

 

Alfa adalah huruf pertama dalam Alfabhet Yunani dan Omega adalah huruf terakhir. Allah itu kekal dari penciptaan sampai kesudahannya. Ia adalah Tuhan diatas semuanya. Ia akan menang atas segala kejahatan dan memerintah segala sesuatu. Dengan mengungkapkan ini, maka menjadi jelaslah siapa Yesus Kristus itu. Ia adalah Allah itu sendiri, tetapi juga ia adalah Allah yang bersedia ada dalam sejarah manusia (lahir, hidup dan berkarya) namun Ia tidak terpenjara dalam sejarah melainkan jauh di atas sejarah. Ia adalah Alfa dan Omega

 

RELEVANSI DAN APLIKASI

1.       Beberapa hari ini di pemberitaan media masa, ramai dibicarakan tetang pencatutan nama Presiden oleh ketua DPR. Mencatut nama pimpinan negara untuk hal yang tidak benar apalagi dengan tujuan kepentingan pribadi adalah suatu tindakan yang tidak dibenarkan. Bagaimana dengan Yohanes? Bukankah dalam bacaan kita sangat jelas bahwa ia “mencatut” nama Tuhan Yesus dalam kitabnya ini?

 

Memakai nama orang yang berpengaruh bertujuan untuk mendapat legitimasi dan wibawa kuasa dari nama itu. Kasus Freeport adalah salah satu contohnya, termasuk isi kitab Wahyu ini. Tetapi walau dua hal ini terkesan sama-sama memakai nama pribadi yang berkuasa, namun perbedaan mendasar adalahh pada tujuan menggunaan nama itu.

 

Yohanes menyebut nama Yesus bukan saja untuk gaga-gagahan dan sembarang mencatut. Bukan pula sekedar legitimasi bisa, dan bukan supaya nama Yohanes menjadi populer. Menyebut nama Yesus untuk menunjuk sumber perintah dan sumber pemberitaan. Yohanes menyebut dia hanyalah saksi, tetapi Yesus-lah sumber beritanya. Itu berarti penerima kita ini, termasuk gereja masa kini, mesti fokus pada sumber berita bukan pada Yohanes yang diberitakan.

 

Yohanes menggunakan nama Yesus dengan tujuan benar dan target yang tepat yakni agar banyak mengetahui kebenaran tersebut dan kemudian Yesuslah yang ditinggikan. Seperti Yohanes kita diajarkan untuk mengggunakan nama TUHAN dengan benar. Bukan sekedar supaya kedengaran rohani; bukan pula sekedar supaya terkesan bahwa yang kita omongkan memang benar. Apalagi banyak orang mencatut nama Tuhan dengan sumpah atas nama Tuhan. Yohanes memakai wibawa nama Yesus itu dengan tepat dan bertujuan mulia dan agung. Bagaimana dengan kita?

 

2.       Tuhan Yesus adalah pribadi yang sudah ada sebelum dunia ini ada, dan tetap ada walau dunia ini berakhir. Dialah Alfa dan omega, yang awal dan yang akhir. Bagaimanapun sebagai orang percaya, kita tidak pernah disukai dunia dan bahkan dibenci oleh dunia (Yoh.16). Karena itu, tidaklah heran jika dunia membenci gereja Tuhan. Tidaklah kaget jika banyak prilaku anarkis ditujukan mereka ke[ada gerejaNya di sepanjang sejarah dunia. Penganiaan dan perlakukan tidak adil akan terus dihadapi oleh gereja Tuhan ini.

 

Kasus “Singkil” di Aceh adalah salah satu contohnya. Tetapi kita dipanggil untuk tidak menyerah pada situasi buruk yang dialami umat percaya. Karena keyakinan iman kepada Allah harusnya menjadi pengharapan kita. Apakah isi pengharapan yang dimaksud? Bahwa Yesus akan datang dengan awan di angkasa. Bahwa Yesus yang menang akan menunjukkan kuasanya yang ajaib. Maka kita harus tekun dan sabar menghadapi derita itu sebagai panggilan iman kita. Amin.

No comments:

Post a Comment

YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

  WAHYU 1:1-8 PENDAHULUAN Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Ras...