WAHYU 1:1-8
PENDAHULUAN
Kitab wahyu ditujukan
kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab
Wahyu oleh Rasul Yohanes adalah jemaat-jemaat yang memiliki begitu banyak
pergumulan dan penderitaan oleh imannya pada masa akhir pemerintahan Kaisar
Nero dan pada masa kelam kekaisaran Domiktianus. Oleh sebaba itu kitah wahyu disampaikan
sebagai peenghiburan dan penguatan kepada umat yang bergumul.
Kitab ini ditulis
oleh Rasul Yohanes yang oleh pemerintahan Romawi ia diasingkan dan di buang di
pulau Patmos. Keseluruhan Kitab
Wahyu adalah mencerminkan keadaan sejarah pada zaman pemerintahan Domitianus,
yang menuntut rakyatnya untuk memanggil dia “Tuhan dan Allah”. Perintah ini
menjadi pertentangan antara orang dengan sukarela untuk mengikuti perintah
kaisar dan orang Kristen setia yang tetap menyembah Yesus sajalah “Tuhan dan
Allah”. Maksud utama penulisnya ialah untuk memberi harapan serta semangat kepada
para pembacanya, dan juga untuk mendorong mereka supaya tetap percaya pada
waktu dianiaya dan ditekan. Itulah sebabnya kita harus pula memandang
bahwa jemaat di Asia sebagai penerima surat ini adalah mereka yang sedang
berada dalam derita aniaya tersebut.
TAFSIRAN / TELAAH
Dalam pemahaman bahwa tulisan ini ditujukan oleh Yohanes agar dapat
dibacakan atau dibaca langsung oleh 7 jemaat di Asia kecil atau yang sekarang
ada di sekitar Turki Barat, dan mengetahui bahwa ketujuh jemaat ini sedang
mengalami kesulitan dan persoalan hidup akibat iman percayanya, maka ada
beberapa catatan penting dari ayat 1-8 bacaan kita ini, yakni:
1.
Keakuratan
dan Kepentingan Tulisan Wahyu ini (ay 1-3)
Yohanes memulai tulisannya ini dengan kalimat “inilah
wahyu Yesus Kristus”. Dengan menggunakan kalimat ini, pembaca kita ini
diantar pada suatu pemahaman bahwa akurasi apa yang disampaikan ini tidak
mungkin meleset dan pasti akan terjadi karena yang menyampaikan
kepadanya adalah Yesus Kristus sendiri. Dengan menyebutkan sumber pewahyuan
tersebut, Yohanes menempatkan diri bukan sebagai sumber berita, namun hanya
sebagai saksi penerima wahyu yang memiliki kewajiban moral untuk meneruskan
apa yang ia dengar, lihat dan saksikan dalam pewahyuan tersebut.
Dengan kata lain, tersajinya wahyu ini dalam bentuk
tulisan untuk dibaca oleh orangg lain, disebabkan tanggung-jawab iman Yohanes
sebagai penerima wahyu tersebut, dan juga tidak boleh diabaikan, bahwa
penuliskan wahyu ini menjadi kitab atas perintah langsung dari TUHAN kepadanya
(1:11,19; 2:1 dst). Terdapat 13 kali perintah “tuliskan” muncul dalam
kitab ini sebagai bukti bahwa wahyu ini ditulis menjadi kita bukan hanya
kemauan Yohanes tapi atas perintah Tuhan Yesus agar dibaca oleh orang lain
(ay.3).
2.
Legitimasi
Ilahi terhadap pewahyuan dan fungsi penguatan (ay 4-5)
Dampak dari poin pertama di atas adalah legitimasi
ilahi terhadap kitab ini. Bahwa kita ini bukan karangan biasa saja, bukan
sekedar ilham Roh Kudus sambil lalu, tetapi ditulis berdasarkan apa yang di
dengar, dilihat dan dirasakan oleh Yohanes yang berada di pengasingan pulau
Patmos.
Itulah sebabnya, Yohanes membuka surat ini dengan
menyampaikan salam pembuka dari dirinya sebagai penulis kitab ini, tetapi
juga salam langsung yang dititipkan oleh pemberi wahyu, yakni Yesus
Kristus, kepada para pembaca kirab ini kelak. Dengan demikian, legitimasi dan
keabsahan tulisan ini tidak bisa diragukan dan tidak perlu dipertanyakan secara
iman. Bahwa apa yang ditulis oleh Yohanes datang dari Allah sendiri, menjadi
bukti kuat bahwa wahyu ini datang dari Allah.
Selanjutnya, karena kita ini ditujukan kepada jemaat
di Asia kecil (ay.4) yang dalam sejarahnya sedang berada dalam berbagai rupa
penganiaan dan penderitaan oleh karena iman percaya mereka, maka kitab ini
sekaligus menjadi kekuatan bagi mereka yangg mederita itu. Perhatikan penggalan
kalimat ayat 5: “... dan dari Yesus Kristus yang berkuasa atas raja-raja
bumi...”. Bagi tujuh jemaat penerima kitab ini, tulisan itu merupakan penguatan
iman bagi mereka yang saat itu sedang dianiaya oleh raja raja bumi, baik oleh
Kaisar Nero yang kemudian dilanjutkan oleh Kaisar Domiktianus. Penderitaan yang
mereka alami disebabkan karena mereka lebih tunduk kepada Yang Lebih
Berkuasa, yakni Yesus Kristus Raja di segala raja, daripada tunduk kepada para raja dunia.
3.
Yesus
ada dalam dan di atas sejarah dunia (ay 6-8)
Ayat 6-8 memberikan penjelasan dan mengingatkan ulang
mereka yang sedang menderita bahwa Yesus Kristus tetap ada untuk
selama-lamanya. Ia tidak terkurung oleh waktu, atau terbatas pada suatu periode
sejarah. Yesus Kristus pasti akan datang kembali (ay.7). Itulah sebabnya hal
ini seharusnya menguatkan tujuh jemaat bahwa Tuhan Yesus melihat penderitaan
mereka dan tidak melupakan mereka.
Kemenangan kerajaan
Allah terjadi waktu kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Dalam ayat 7
disebutkan bahwa Yesus datang dengan awan, ini mengambarkan bahwa
kedatangan Tuhan Yesus dengan kemuliaan, semua mata menatap Dia. Kemenangan
zaman akhir (eskatologis) bagi orang yang setia dan sejarah akan berakhir
dengan jatuhnya hukuman atas sistim iblis di dunia ini. Kemenangan Yesus Kristus
ini dipertegas dengan pernyataan Aku adalah Alfa dan Omega, yang ada, yang
sudah Ada dan yang akan datang yang Mahakuasa.
Alfa adalah huruf
pertama dalam Alfabhet Yunani dan Omega adalah huruf terakhir. Allah itu kekal
dari penciptaan sampai kesudahannya. Ia adalah Tuhan diatas semuanya. Ia akan
menang atas segala kejahatan dan memerintah segala sesuatu. Dengan
mengungkapkan ini, maka menjadi jelaslah siapa Yesus Kristus itu. Ia adalah
Allah itu sendiri, tetapi juga ia adalah Allah yang bersedia ada dalam sejarah
manusia (lahir, hidup dan berkarya) namun Ia tidak terpenjara dalam sejarah
melainkan jauh di atas sejarah. Ia adalah Alfa dan Omega
RELEVANSI DAN APLIKASI
1.
Beberapa
hari ini di pemberitaan media masa, ramai dibicarakan tetang pencatutan nama
Presiden oleh ketua DPR. Mencatut nama pimpinan negara untuk hal yang tidak
benar apalagi dengan tujuan kepentingan pribadi adalah suatu tindakan yang
tidak dibenarkan. Bagaimana dengan Yohanes? Bukankah dalam bacaan kita sangat
jelas bahwa ia “mencatut” nama Tuhan Yesus dalam kitabnya ini?
Memakai nama orang yang berpengaruh bertujuan untuk
mendapat legitimasi dan wibawa kuasa dari nama itu. Kasus Freeport adalah salah
satu contohnya, termasuk isi kitab Wahyu ini. Tetapi walau dua hal ini terkesan
sama-sama memakai nama pribadi yang berkuasa, namun perbedaan mendasar adalahh
pada tujuan menggunaan nama itu.
Yohanes menyebut nama Yesus bukan saja untuk
gaga-gagahan dan sembarang mencatut. Bukan pula sekedar legitimasi bisa, dan
bukan supaya nama Yohanes menjadi populer. Menyebut nama Yesus untuk menunjuk
sumber perintah dan sumber pemberitaan. Yohanes menyebut dia hanyalah saksi,
tetapi Yesus-lah sumber beritanya. Itu berarti penerima kita ini, termasuk
gereja masa kini, mesti fokus pada sumber berita bukan pada Yohanes yang
diberitakan.
Yohanes menggunakan nama Yesus dengan tujuan benar dan
target yang tepat yakni agar banyak mengetahui kebenaran tersebut dan kemudian
Yesuslah yang ditinggikan. Seperti Yohanes kita diajarkan untuk mengggunakan
nama TUHAN dengan benar. Bukan sekedar supaya kedengaran rohani; bukan pula
sekedar supaya terkesan bahwa yang kita omongkan memang benar. Apalagi banyak
orang mencatut nama Tuhan dengan sumpah atas nama Tuhan. Yohanes memakai wibawa
nama Yesus itu dengan tepat dan bertujuan mulia dan agung. Bagaimana dengan
kita?
2.
Tuhan
Yesus adalah pribadi yang sudah ada sebelum dunia ini ada, dan tetap ada walau
dunia ini berakhir. Dialah Alfa dan omega, yang awal dan yang akhir.
Bagaimanapun sebagai orang percaya, kita tidak pernah disukai dunia dan bahkan
dibenci oleh dunia (Yoh.16). Karena itu, tidaklah heran jika dunia membenci
gereja Tuhan. Tidaklah kaget jika banyak prilaku anarkis ditujukan mereka
ke[ada gerejaNya di sepanjang sejarah dunia. Penganiaan dan perlakukan tidak
adil akan terus dihadapi oleh gereja Tuhan ini.
Kasus “Singkil” di Aceh adalah salah satu contohnya. Tetapi kita dipanggil untuk tidak menyerah pada situasi buruk yang dialami umat percaya. Karena keyakinan iman kepada Allah harusnya menjadi pengharapan kita. Apakah isi pengharapan yang dimaksud? Bahwa Yesus akan datang dengan awan di angkasa. Bahwa Yesus yang menang akan menunjukkan kuasanya yang ajaib. Maka kita harus tekun dan sabar menghadapi derita itu sebagai panggilan iman kita. Amin.
