Monday, January 16, 2012

MATERI KHOTBAH PKP 17 JANUARI 2012 KEJADIAN 17:23-27


Untuk dapat memahami peristiwa dalam pasal 17:23-27, maka kita perlu menelusuri jejak awal peristiwa tersebut yang dimulai pada pasal 15 Kitab Kejadian tentang janji awal memperoleh keturunan. Janji ini diberikan TUHAN kepada Abraham pada saat ia berusia sudah tidak muda lagi. Untuk lebih jelasnya mari kita melihat beberapa poin di bawah ini yang berasal dari pasal sebelumnya sampai pasal bacaan kita hari ini :

1.       Perhatikan pasal 15:1-3
Abraham sedang mengalami ketakutan, sehingga Tuhan menyapanya dengan ungkapan “janganlah takut” (15:1). Apakah sebenarnya yang ditakutkan Abraham? Bukankan kondisi itu sedang tidak ada perang? Bukankah juga Abraham adalah seorang lelaki kaya dan tidak mengalami kekurangan apapun?

Ternyata ketakutan Abraham bukan soal perang atau kekurangan sesuatu, melainkan hal yang sedang ditakutkannya adalah masalah keturunan dan ahli waris keluarganya. Dalam 15:3 dengan jelas Abraham mengeluh dan berkata kepada TUHAN, Allahnya: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku”.

Rupanya, TUHAN tidak menyetujui rencana ini. Dalam 15:4 kita menemukan bahwa ahli waris dari Abraham haruslah anak kandungnya sendiri. Ini merupakan janji TUHAN kepadanya, sekaligus perintah untuk melakukannya.

2.       Perhatikan pasal 16:1-16.
Bagaimanapun Abraham adalah manusia biasa yang walaupun sangat beriman, ternyata melakukan kekeliruan juga. Atas desakan istrinya sediri (Sarai) yang mengerti kegundahan suaminya, maka Sarai memberikan Hagar, pembantunya, untuk menjadi gundik Abraham dan melahirkan seorang anak lelaki yang diberi nama Ismail. Sarai melakukan itu sebab ia sendiri mandul dan tidak bisa memperoleh anak.
Dengan lahirnya Ismail, maka Abraham berpikir bahwa masalahnya telah terpecahkan, sebab ia sekarang memiliki anak kandung sebagai ahli waris yakni Ismail.

3.       Perhatikan bacaan kita pasal 17:15-19
Ternyata masalah yang dianggap selesai dan rencana matang yang disiapkan oleh Abraham dan istrinya tidak disetujui oleh Tuhan. Rupanya, TUHAN merencanakan hal lain dalam kehidupan Abraham dan Istrinya. Menurut TUHAN, Ismail tidak akan menjadi ahli waris Abraham; dan sebagai gantinya TUHAN akan menghadirkan seorang anak dari kandungan istrinya yang Sah yakni Sarai atau Sara.

Apakah reaksi Abraham? Tentunya ini merupakan berita baik namun sekaligus menggelikan untuk didengar apalagi dipercaya. Hal ini terlihat jelas dalam ayat 17 bacaan kita ketika Abraham tertawa mendengar pernyataan itu dan bertanya dalam hantinya tentang “kemungkinan yang tidak mungkin” itu.

Mengapa Abraham merasa bahwa rencana TUHAN itu sungguh menggelikan sehingga ia tertawa tanda tidak yakin? Sebab saat itu Abraham telah berumur 99 tahun dan Sara 89 tahun. Maka adalah mustahil baginya untuk beroleh anak pada usia 100 tahun dan istrinya berumur 90 tahun. Keraguan Abraham sangatlah relevan dan logis untuk dipikirkan sebab usia 90 tahun bagi seorang perempuan adalah usia tidak produktif dan mustahil memperoleh keturunan.


4.       Perhatikan Pasal 17:20-22
Abraham pasti kecewa, sebab secara psikologi “persoalan yang satu ini”, yakni masalah keturunan dan ahli waris, menurutnya sudah selesai namun justru “dimentahkan” lagi oleh Allah.

TUHAN, Allah Abraham sangat mengerti keinginan hambanya itu dan mengetahui betapa Abraham sangat mengasihi Ismail. Itulah sebabnya, anak yang bukan ahli waris tersebut tetap diperhatikan oleh Allah. TUHAN, Allah telah menyiapkan berkat dan perjanjian khusus bagi Ismail dan keturunannya. Bagaimanapun juga, walau Ismail tidak dikehendaki Allah, namun Ismail tetap mendapat kasih Karunia-Nya karena permintaan Abraham.

Perhatikan bahwa Allah tidak berencana untuk memberkati Ismail. Namun kita menemukan alasan mengapa Ismail juga turut mendapat berkat dari TUHAN, Allah. Hal ini jelas nampak dalam ayat 20 pasal 17 kitab Kejadian yang menyatakan bahwa TUHAN, Allah memberkati Ismail oleh karena permintaan Abraham. Permohonan seorang ayah yang takut TUHAN ini, didengar oleh TUHAN, Allahnya.

5.       Perhatikan bacaan kita Kejadian 17:23-27 bacaan kita hari ini.
Apakah reaksi Abraham setelah TUHAN, Allahnya pergi? Sebelum menjawabnya, mari kita ganti pertanyaan ini sbb: apa reaksi saudara ketika orang memberi intruksi tertentu namun tdk sesuai kehendak kita? Apa yang kita lakukan ketika dia pergi? Saya yakin, minimal kita “ngomel” atau ogah-ogahan melaksanakan perintah atau permintaaan orang tersebut karena sebenarnya hal itu sangat jauh dari yang kita harapkan.

Apa yang dilakukan Abraham? Abraham tidak bersungut, walau mungkin ia kecewa. Abraham tidak melaksanakan PERINTAH TUHAN dengan sambil lalu dan asal-asalan karena tidak sesuai keinginannya. Namun dari ayat 23-27 kita menemukan bahwa kualitas melakukan perintah TUHAN dikerjakan Abraham dengan penuh kesungguhan.

Abraham bukan saja hanya mendengar perintah TUHAN namun melakukannya dengan segera. Ia mengumpulkan semua orang laki-laki termasuk Ismail dan para hambanya untuk kemudian disunat sebagai tanda perjanjian dan sekaligus tanda ketaatan Abraham melaksanakan janji TUHAN itu.

Dari uraian Firman Tuhan ini, ada beberapa hal penting yang kiranya dapat kita pelajari dan renungkan dalam hidup kita sebagai keluarga, istimewa sebagai suami atau istri dalam rumah tangga. Beberapa hal penting itu adalah sebagai berikut:
1.       Tidak semua yang kita inginkan dapat kita peroleh. Banyak orang berusaha untuk mencapai semua yang diinginkan, ketika gagal, maka kecewa dan kehilangan harapan. Hari ini kita diajar oleh kisah Abraham ini, bahwa bagaimanapun tidak semua hal sesuai dengan mau dan ingin kita. Kita perlu berbesar hati bahwa rencana besar dan baik milik kita, tidak selalu sejalan dengan rencana TUHAN, Allah kita. Ia memiliki rencana yang lebih baik dan lebih besar untuk hidup dan keberadaan kita. Menunduk setuju dan menjalani rencana yang TUHAN petakan dalam hidup kita adalah pilihan yang bijak dan  berkhikmat.

2.       Mendengar dan melakukan perintah TUHAN adalah panggilan utama kita, seperti apa yang dilakukan Abraham. Kadangkala kita merasa TUHAN mengabaikan kita; Ia “semena-mena” dan tidak memperhitungkan perasaan kita. Namun bukankah TUHAN adalah pemilik hidup kita? Ia berhak melakukan apapun dalam hidup kita bersama keluarga.

Abraham tidak mempersoalkan hal itu. Dia mungkin kecewa karena idenya tentang Ismail ditolak Allah. Namun kondisi dan kenyataan itu tidak menjadi alasan cukup kuat bagi Abraham untuk tidak dengan setia melakukan perintah TUHAN. Baginya kepatuhan kepada TUHAN adalah tindakan totalitas imannya. Tunduk dan patuhnya adalah tindakan tanpa syarat kepada Allah. Abraham tetap setia dan mengerjakan dengan detail semua perintah TUHAN, Allahnya itu. Kitapun harusnya demikian. Jangan ada satu alasan-pun yang membuat kita tidak patuh dan setia, termasuk alasan “kecewa kepada TUHAN” sekalipun.
Kiranya kita dimampukan untuk mencotohi Abraham. Jadilah pribadi yang tetap menyenangkan TUHAN, Allah kita disaat senang maupun susah. Sebab Ia setia memberkati dan meyertai kita dalam kondisi apapun hidup kita. Amin.

Sunday, January 15, 2012

MATERI KHOTBAH PKB 16 JANUARI 2012 KEJADIAN 17:15-19


Apakah reaksi saudara ketika rencana rapi yang telah kita buat sedemikian baik tiba-tiba ditolak oleh seseorang, yang kemudian justru menawarkan kepada kita “second plane” (rencana cadangan) yang ia buat dan yang sebenarnya adalah mustahil untuk dilakukan? Jawabnnya, barangkali kita akan kesal’ marah; kecewa; dan atau barangkali meninggalkan ide orang itu.

Tahukan saudara bahwa hal itu pernah juga dialami oleh Abraham? Namun, berbeda dengan kondisi di atas, yang mengusulkan rencana baru dan menolak semua hal menarik yang telah disiapkan Abraham, bukanlah sahabatnya bukan juga orang dari kaumnya, namun TUHAN, Allah-Nya yang baru saja ia kenal. Bagaimana hal itu terjadi? Bagaimana awal kisah itu dimulai? Untuk lebih jelasnya mari kita melihat beberapa poin di bawah ini yang berasa dari pasal sebelumnya hingga bacaan kita hari ini tentang hal-ikwal kisah ini dimulai.

1.       Perhatikan pasal 15:1-3
Abraham sedang mengalami ketakutan, sehingga Tuhan menyapanya dengan ungkapan “janganlah takut” (15:1). Apakah sebenarnya yang ditakutkan Abraham? Bukankan kondisi itu sedang tidak ada perang? Bukankah juga Abraham adalah seorang lelaki kaya dan tidak mengalami kekurangan apapun?

Ternyata ketakutan Abraham bukan soal perang atau kekurangan sesuatu, melainkan hal yang sedang ditakutkannya adalah masalah keturunan dan ahli waris keluarganya. Dalam 15:3 dengan jelas Abraham mengeluh dan berkata kepada TUHAN, Allahnya: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku”.

Rupanya, TUHAN tidak menyetujui rencana ini. Dalam 15:4 kita menemukan bahwa ahli waris dari Abraham haruslah anak kandungnya sendiri. Ini merupakan janji TUHAN kepadanya, sekaligus perintah untuk melakukannya.

2.       Perhatikan pasal 16:1-16.
Bagaimanapun Abraham adalah manusia biasa yang walaupun sangat beriman, ternyata melakukan kekeliruan juga. Atas desakan istrinya sediri (Sarai) yang mengerti kegundahan suaminya, maka Sarai memberikan Hagar, pembantunya, untuk menjadi gundik Abraham dan melahirkan seorang anak lelaki yang diberi nama Ismail. Sarai melakukan itu sebab ia sendiri mandul dan tidak bisa memperoleh anak.
Dengan lahirnya Ismail, maka Abraham berpikir bahwa masalahnya telah terpecahkan, sebab ia sekarang memiliki anak kandung sebagai ahli waris yakni Ismail.

3.       Perhatikan bacaan kita pasal 17:15-19
Ternyata masalah yang dianggap selesai dan rencana matang yang disiapkan oleh Abraham dan istrinya tidak disetujui oleh Tuhan. Rupanya, TUHAN merencanakan hal lain dalam kehidupan Abraham dan Istrinya. Menurut TUHAN, Ismail tidak akan menjadi ahli waris Abraham; dan sebagai gantinya TUHAN akan menghadirkan seorang anak dari kandungan istrinya yang Sah yakni Sarai atau Sara.

Apakah reaksi Abraham? Tentunya ini merupakan berita baik namun sekaligus menggelikan untuk didengar apalagi dipercaya. Hal ini terlihat jelas dalam ayat 17 bacaan kita ketika Abraham tertawa mendengar pernyataan itu dan bertanya dalam hantinya tentang “kemungkinan yang tidak mungkin” itu.

Mengapa Abraham merasa bahwa rencana TUHAN itu sungguh menggelikan sehingga ia tertawa tanda tidak yakin? Sebab saat itu Abraham telah berumur 99 tahun dan Sara 89 tahun. Maka adalah mustahil baginya untuk beroleh anak pada usia 100 tahun dan istrinya berumur 90 tahun. Keraguan Abraham sangatlah relevan dan logis untuk dipikirkan sebab usia 90 tahun bagi seorang perempuan adalah usia tidak produktif dan mustahil memperoleh keturunan.

4.       Namun, Abraham adalah pribadi yang sungguh taat kepada Allah. Walaupun mustahil ia berusaha untuk percaya. Akhirnya apa yang dinantikan tiba.  Walaupun harus menunggu 1 tahun lagi, dan akhirnya Ishak lahir.


Dari uraian Firman Tuhan ini, ada beberapa hal penting yang kiranya dapat kita pelajari dan renungkan dalam hidup kita sebagai keluarga, istimewa sebagai suami atau istri dalam rumah tangga. Beberapa hal penting itu adalah sebagai berikut:
1.       Segala hal yang berhungan dengan rencana Allah, menurut kesaksian seluruh Alkitab termasuk kisah Abraham ini adalah selalu berada diwilayah “mustahil” dan “tidak mungkin”. Kita diajar untuk memahami bahwa di wilayah “mustahil” dan “tidak mungkin” itulah justru kita dapat melihat kuasanya.

Bukankah Mujizat justru terjadi diwilayah “tidak mungkin” dan “mustahil” itu? Dan di wilayah itulah kita bisa menyaksikan kuasa Tuhan yang ajaib karena mampu mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Itu berarti kepada kita diajarkan suatu fakta iman yang menarik, yakni: “jika kita tiba pada hal-hal yang mustahil, maka disitulah peluang mujizat Allah terjadi”.

2.       Bukankah kita lebih cebdrung untuk mengusakan sesuatu menurut cara dan standar kita sendiri yang masuk diakal dan logis? Hal ini pula yang dilakukan dan dipikirkan Abraham mengenai Ismail puteranya darai Hagar. Sebagai manusia, bukankah sering kali banyak orang cendrung membuat rencana tertentu menurut ukuran dan standarnya sendiri? Segala hal yang realistis, logis dan sesuai kenyataan umumnya selalu kita anggap akan berhasil.

Hal ini tidak berlaku dalam kisah bacaan kita. Rencana TUHAN lebih baik dari rencana kita manusia. Sama seperti lebih baiknya rencana TUHAN, dibanding rencana Abraham seorang yang sungguh beriman sekalipun. Oleh karena itu kita diajarkan pada kesempatan ini untuk memepercayai kehendak dan rencana Allah dalam hidup kita. Yeremia 29:11 dengan tegas menyatakan bahwa rencana Allah selalu rancaangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan. Kendatipun yang kita hadapi seakan “kecelakaan” sekalipun, Firman TUHAN mengajarkan kita untuk mempercayai Allah dan rencananya.

3.       Dalam Yakubus 4:13-17 kita diajarkan untuk mmbiarkan Tuhan terlibat dalam setiap rencana hidup ini dan bukan hanya mengandalkan ego dan kepinteran sendiri. Abraham kurang sabar untuk menunggu penggenapan rencana TUHAN, Allahnya, sehingga ia dan Istrinya memilih cara lain sehingga Ismail lahir dari Hagar. Abraham membuat rencannya sendiri dan tidak melibatkan TUHAN di dalamnya.

Hasilnya dapat kita tebak, bahwa TUHAN tidak merestui rencana itu sebab ada rencanaNya yang lebih besar bagi Abraham. Hal ini berbicara soal iman, kesabaran dan tentunya Komitmen. Firman Tuhan saat ini mengajarkan kita untuk tetap tekun dalam rencana TUHAN; bersama menanti dengan IMan semua penggenapan JanjiNya itu walau lama sekalipun. Jangan membuat rencana sendiri dalam hidup kita, libatkan selalu TUHAN, sebab seperti Abraham, adalah manusia biasa dan tidak sempurna, maka demikian juga kita. Karena itu tetaplah lakukan segala sesuatu sesuai dengan rencaNya yakni rencana agung yang membuat segalanya menjadi indah pada waktunya. Amin.

Monday, November 14, 2011

MATERI KHOTBAH PKP SELASA 15 NOVEMBER 2011 AYUB 2:11-13


11Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Téman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. 12Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. 13Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.


Persekutuan Kaum Perempuan yang di kasihi Kristus,….
Apakah yang kita rasakan ketika sedang mengalami persoalan dan pergumulan hidup? Ada banyak hal tentunya. Sedih, putus asa, kebuntuan berpikir, dunia seakan runtuh dan kandangkala merasa menjadi orang paling malang di dunia. Di tengah kondisi seperti ini hal yang paling dibutuhkan adalah seorang sahabat yang bersedia menjadi tempat berbagi. Walau masalah tidak selesai, minimal kita pastilah merasa sedikit ringan ketika ada orang yang sedia untuk merangakul dan mendekap kita saat terisak dalam tangis atau minimal memberi telinganya untuk mendengar keluh dan kesah sengsara hidup yang kita alami.

Bacaan kita saat ini berkisah tentang kehadiran para sahabat Ayub di saat mereka mendengar tentang musibah dan kemalangan hidup yang dialami Ayub. Alkitab menuliskan ketiga sahabat Ayub, yakni: Elifas, orang Teman dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama datang dari tempatnya masing-masing ketika mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa Ayub (ay. 11). Itu berarti mereka tidak berasal dari tempat yang sama. Mereka mungkin beda kota, wilayah bahkan negara. Selain itu dikatakan bahwa mereka bersepakat untuk menghibur Ayub. Itu berarti bukan suatu kebetulan kalau mereka dapat berkumpul bersama.

Lalu, bagaimana mereka dapat mem­buat kesepakatan sementara tempat mereka begitu berjauhan? Alkitab tidak berbicara banyak mengenai hal ini tetapi seperti kita ketahui, membuat suatu kesepakatan dengan jarak terpisah jauh, dengan teknologi informasi yang masih begitu primitif, jelas bukan hal yang mudah; sangat menyita waktu dan tenaga. Tetapi mereka rela bersusah payah sedemikian rupa demi untuk menghibur sahabat yang mereka kasihi, Ayub.

Mereka datang pada Ayub dengan tujuan yang murni, yaitu untuk mengucapkan bela­sungkawa dan menghibur (ay. 11b). Mereka datang bukan karena Ayub kaya atau karena memiliki motivasi-motivasi lain seperti mendapatkan kenikmatan atas balas jasa. Tidak! Sebab saat itu Ayub sudah jatuh miskin, hidup melarat dan kena penyakit mengerikan lagi. Bukankah manusia sering melakukan perbuatan baik untuk mengharapkan imbalan? Terkadang tanpa sadar, di saat kita mau meno­long teman yang sedang dalam kesulitan, ada motivasi lain di baliknya. Setidaknya kita ingin teman kita itu menghargai perhatian kita, sehingga di saat ia tidak bisa menunjukkan perhatian itu, kita menjadi kecewa dan marah. Secara motivasi, kita dapat menarik kesimpulan bahwa mereka mempunyai motivasi yang baik. Mereka datang dengan maksud yang sangat jelas.

Dalam ayat 12-13 kita menemukan kenyatan yang luar biasa terhadap apa yang dilakukan para sahabat Ayub itu. Ketika sahabat Ayub memandang dari kejauhan dan melihat kondisi Ayub begitu memilukan mereka lima hal bermakna:
1.       Mereka menangis dengan suara nyaring;
2.       Mereka mengoyakkan jubah;
3.       Mereka menaburkan debu di kepala;
4.       Mereka menemani Ayub dengan duduk bersama-sama dia selama tujuh hari tujuh malam;
5.       Mereka puasa bicara alias tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.

Banyak penafsiran yang mengatakan bahwa mereka melakukannya karena kebiasaan budaya yang berlaku pada jaman itu. Tapi jika kita per­hatikan lebih lanjut, mereka melakukannya bukan sekedar kebiasaan budaya. Mereka tidak hanya hadir dan berbagi secara fisik, mereka juga berbagi perasaan dengan Ayub. Mereka sama-sama meratap dan sama-sama hancur hati.

Perbuatan ketiga sahabat Ayub ini merupakan sikap dan perbuatan terpuji.  Demi mendukung Ayub dan pergumulan hidupnya, mereka rela berkorban waktu dan tenaga; dengan motivasi tulus meringankan beban; serta dengan penuh kasih turut merasakan derita sahabatnya. Memang benar, apabila kita lanjutkan bacaan ini, kita menemukan pada akhirnya para sahabat Ayub mulai memberikan nasehat dan tanggapan yang kemudian melemahkan dan menjatuhkan Ayub. Saya kira ini adalah wajar, jika mereka sendiri tidak mengetahui kondisi sebenarnya Ayub dalam hal Iman-nya kepada Allah. Namun bukan ini yang akan kita bahas. Khusus bagian bacaan kita, kepedulian merekalah yang perlu direnungkan.

Persekutuan Kaum Perempuan yang di kasihi Kristus,….
Sesuatu yang tak dapat dipungkiri bahwa di belahan dunia manapun ada begitu banyak orang yang mengalami kemalangan hidup dan penderitaan diri. Di manapun termasuk di sekitar kita sekalipun ada banyak orang yang mengalami kesendirian dan kesepian. Mereka bagaikan Ayub yang tidak mengerti mengapa semua dialami. Mereka bagaikan Ayub yang menderita sendiri dan membutuhkan topangan dan pendampingan. Kita dipanggil untuk menjadi seperti para sahabat Ayub tersebut. Panggilan kita adalah meringkankan penderitaan dan pergumulan sesama kita.

Mengapa tindakan ini disebut sebagai panggilan kita. Saya mengajak kita semua untuk merenungkan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 25:35-40 yang berbunyi:

35Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Kita dipanggil sebagai orang yang meringkankan penderitaan sesama karena itu adalah perintah Tuhan.  Semua kebaikan yang kita lakukan kepada mereka yang mengalami derita hidup, sebenarnya adalah tindakan untuk Tuhan. Sebab ternyata Tuhan Yesus telah mengidentikkan diriNya dengan mereka yang menderita. Dan bukankah selama ada dalam dunia ini, Tuhan Yesus sendiri menunjukkan kepeduliannya bagi mereka yang sedang alami kesengsaraan hidup? Yesus memberi makanan kepada mereka yang lapar; Ia menghibur mereka yang berduka; Dia menyembuhkan yang sakit dsb. Pendek kata Yesus mengembangkan sense of humanity-Nya (rasa berbela rasa) kepada manusia.

Jika Tuhan Yesus melakukan itu, maka seyogiaya kita juga mengerjakan hal yang sama. Di Rumah Sakit PGI Cikini Jakarta terpasang Motto Rumah sakit itu dalam bahasa latin, yakni Sodare dolorem upus divinum eist, yang berarti: “meringankan penderitaan adalah pekerjaan Ilahi”. Kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan Ilahi itu, yakni meringankan penderitaan orang lain.

Bagaimana caranya? Lihatlah apa yang dilakukan oleh tiga sahabat Ayub:

1.       Mereka bersusah payah menjangkau tempat Ayub dengan mengorbankan waktu, tenaga dan jarak tempuh yang cukup jauh. Untuk bisa meringankan penderitaan orang lain, kita mesti bersedia mengorbankan sesuatu. Mungkin yang dikorbankan adalah sibuknya kita di tempat kerja; waktu untuk keluarga; keluar sedikit dana extra yang tak terprogram; sediakan ekstra tenaga dan korbankan jam istirahat atau waktu santai kita dll. Tanpa pengorbanan, kita tidak akan mampu secara maksimal untuk meringankan penderitaan orang lain.

2.       Seperti para sahabat Ayub, milikilah motivasi yang tulus ketika menolong orang lain. Jangan demi pujian atau sanjungan; jangan pula supaya diingat atau dikenang; dan juga janganlah demi suatu penghargaan. Perbuatan baik yang kita lakukan bagi orang lain, biarlah murni hanya untuk menolong. Kalaupun itu diguncingkan dan dihargai orang, biarlah itu menjadi kemuliaan Allah.

3.       Perhatikan 5 hal penting yang dilakukan oleh sahabat Ayub pada penjelasan di atas. Mereka bukan hanya bersimpati dengan derita Ayub alias sekedar merasa ibah dan kasihan. Namun mereka bertindak lebih jauh, yakni berempati dengan derita Ayub alias berusaha turut merasakan apa yang dirasakan oleh Ayub. Empati berarti turut berbela rasa atau dalam bahasa sederhananya adalah bersedia memakai sepatu orang lain. Jika sepatu itu sempit maka kita dapat merasakan nyeri dan sakitnya; jika sepatu itu pas ukurannya maka kita dapat merasakan pula nyamannya.

Hanya dengan turut merasakan penderitaan orang lain, maka kita dapat tahu apa sesungguhnya pertolongan yang dibutuhkan mereka. Hanya dengan turut merasakan derita mereka, maka kita akan mampu “mengambil” sedikit pergumulan itu, sehingga orang yang menderita itu merasakan sedikit kelegaan.

Karena itu, mari-lah menjadi alat Tuhan untuk menyalurkan Kasih-Nya yang menyembuhkan kepada setiap orang yang mengalami kesakitan hidup karena derita dan pergumulan yang dialaminya. Kiranya Roh Kudus membantu kita untuk lebih banyak peduli dan menjadi berkat bagi orang lain yang sedang menderita. Amin.

Sunday, November 13, 2011

MATERI KHOTBAH PKB, 14 NOVEMBER 2011 AYUB 2:1-10



Persekutuan Kaum Bapak, yang diberkati Tuhan…
Pernahkah saudara mengalami kondisi buruk justru di saat kita melakukan sesuatu yang baik dan terpuji? Bagaikan pepatah yang berbunyi “air susu dibalas dengan air tuba” demikianlah kondisi itu digambarkan. Keadaan ini hampir mirip seperti yang dialami oleh Tokoh Alkitab dalam bacaan kita yang bernama Ayub.

Siapakah Ayub? Tokoh ini tidak dengan terperinci dijelaskan oleh alkitab. Ia hanya disebutkan berasal dari daerah Us (1:1) dan merupakan orang terkaya di daerahnya. Ia mendapatkan 7 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Selain itu ia juga mempunyai banyak harta kekayaan, di antaranya: 7000 kambing domba, 3000 unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina dan banyak budak-budak (1:2-3).

Oleh karena banyaknya harta Ayub, maka ia menjadi orang yang terkaya di daerah Timur. Ayub digambarkan sebagai orang yang sangat kaya dan tidak ada yang lebih kaya dari pada Ayub. Jadi besar kemungkinan Ayub juga sangat terkenal di seluruh daerah Timur. Menarik untuk dicatat bahwa Alkitab menyebut tentang 10 orang anak dan kekayaan sebagai pemberian Tuhan (1:2,3,10), namun tidak menyebut istrinya sebagai bagian dari pemberian Tuhan. Istri Ayub hanya muncul pada  ayat 9 bacaan kita.

Namun keterangan yang penting dan dicatat berulang-ulang mengenai tokoh ini adalah karakter moralnya. Ia adalah seorang yang “saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Kalimat ini dituliskan sebanyak 3 kali; 1x disebutkan dalam 1:1 oleh penulis kitab ini, 2x diucapkan oleh Tuhan dalam 1:8 dan 2:3. Jadi karakter Ayub tersebut merupakan suatu penekanan, karakter yang dinilai sangat baik oleh Tuhan, sehingga ia dibanggakan oleh Allah dihadapan Iblis. Tidak ada tokoh Alkitab yang lain yang dibangga-banggakan oleh Tuhan di hadapan iblis, selain dari pada Ayub. Kualitas-kualitas inilah yang digunakan oleh penulis kitab ini untuk menjelaskan karakter moral Ayub yang sebenarnya. Harta kekayaan Ayub yang paling utama bukanlah materi yang berada di luar dirinya, tetapi apa yang ada di dalam dirinya.

Bagaimanakah kisah kemalangan Ayub, seorang yang takut Tuhan ini, dimulai? Diawali dengan pertemuan mahluk sorgawi dengan Tuhan termasuk Iblis di dalamnya. Tuhan amat membanggakan Ayub dihadapan seisi Sorga, bahkan pula di hadapan Iblis (lih 1:8; 2:3). Namun Iblis meragukan kondisi itu dengan mencari alasan bahwa kesetiaan Ayub hanya sebatas kekayaan dan kepemilikannya yang dianugerahi Tuhan. Singkatnya, Iblis datang menghancurkan harta benda dan anak2 Ayub, atas seijin Tuhan (1:13-19) sehingga Ayub hidup miskin berdua dengan Istrinya.

Apa reaksi Ayub? Pada pasal 1:21-22 kita menemukan siapa Ayub sebenarnya berdasarkan rekasinya terhadap musibah yang ia alami. Ayub tidak mengutuk dan menggerutu; Ayub tidak sekali-pun mempertanyakan Tuhan, namun sebaliknya justru memahami bahwa apa yang ia miliki semuanya BUKAN MILIKNYA, melainkan adalah milik Tuhan. Maka, menurut Ayub, adalah wajar jika Tuhan mengambilnya. Peristiwa ini adalah PENCOBAAN PERTAMA dan Iblis GAGAL TOTAL menjatuhkan Ayub dalam dosa. Sebab dalam ayat 22 pasal 1 ditekankan, bahwa dalam kondisi itu Ayub TIDAK berbuat dosa.

Persekutuan Kaum Bapak, yang diberkati Tuhan…
Setelah gagal pada cobaan pertama mengenai HARTA BENDA dan kepemilikan, maka saatnya Iblis melanjutkan cobaan kedua tentang tubuh jasmani dengan Istilah yang dipakai “kulit ganti kulit” (2:4). Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada bacaan kita hari ini, yakni:
1.       Perhatikan ayat 5. Iblis meminta agar TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah tulang dan daging Ayub supaya kena kutuk. Apakah TUHAN menyetujuinya? Secara sepintas, jawabannya pasti YA. Namun jika kita memperhatikan ayat 6 bacaan kita sekaligus merujuk 1:12 maka kita menemukan sesuatu yang menarik. TUHAN tidak sedikitpun bersedia menggunakan TanganNya untuk menulahi Ayub. Tangan Iblislah yang melakukannya. Peran TUHAN dalam pergumulan itu hanya sampai pada “MENGIJINKAN” Iblis melakukannya.

Dengan demikian kita menemukan suatu kebenaran penting pada kisah ini. Pencobaan dan derita Ayub tidaklah datang dari tangan TUHAN yang penuh kasih itu. Derita Ayub ditimpakan oleh tangan Iblis yang penuh dengan kebencian dan kepicikan. Dalam alkitab tidak ditemukan sedikitpun bahwa TUHAN mengutuki dan menghajar orang yang taat dan setia kepadaNya. Sebaliknya justru, untuk tipe orang seperti itu, tangan Tuhan selalu datang menjamah untuk memberkati. Kalaupun ada hajaran, itu hanya diberikan TUHAN dalam rangka mendidik dan mengarahkan lagi ke jalan yang benar orang yang dikasihi (bd. Wahyu 3:19).

2.       Ayub sangat menderita dengan penyakit yang ditimpahkan Iblis. Garukan karena gatal lewat tangannya sudah tidak berguna lagi. Itulah sebabnya dalam ayat 8 disebutkan Ayub menggunakan beling untuk menggaruk-garuk badannya. Silakan bayangkan betapa ngeri penderitaan Ayub!

Siapapun yang menyaksikan ini pastilah terenyuh dan tidak tega melihat derita Ayub. Namun, dalam bacaan kita justru tiba2 muncul satu tokoh yang tega dan tidak merasakan derita itu. Siapa tokoh itu? Dia tidak lain adalah Istri Ayub sebagaimana dinyatakan ayat 9 bacaan kita. Perempuan ini bukan saja tidak pedui terhadap penderitaan Ayub, namun juga menjadi “alat iblis” untuk menggoyahkan pertahanan iman Ayub yang saat itu sedang berjuang.

Ternyata tidak selamanya orang yang terdekat dan kelihatannya selalu ada untuk kita dapat mengerti dan mendukung setiap derita dan pergumulan termasuk perjuangan iman. Terkadang justru orang-orang seperti inilah yang menjadi alat Iblis. Dalam hal ini, Ayublah yang mengalami sendiri, yakni ditinggalkan dan dilemahkan oleh oran yang justru dapat diharapkan mendukung.

3.       Perhatikan jawaban Ayub kepada Istrinya yang sekaligus menjadi jawaban Imani Ayub terhadap semua cobaan dan derita hidup yang ia alami! Dalam ayat 10 bacaan kita, Ayub dengan tegas menolak menghujat dan meragukan Allah. Ayub menyadari bahwa ia hanya mungkin hidup karena anugerah dan karunia TUHAN. Karena itu apapun yang Tuhan lakukan, entah yang baik atau buruk harusnya tetap diterima dan disyukuri. Bagi Ayub, adalah suatu KEGILAAN jika manusia hanya mau menerima yang baik dari TUHAN dan menolak yang buruk.

Pernyataan iman ini sangat dasyat dan luar biasa untuk dimaknai. Ayub menerima apapun dari TUHAN. Ayub belajar untuk menerima keburukan hidup oleh karena ia sudah menerima kebaikan terlebih dahulu. Ayub tidak berpikir bahwa kesalehan dan kesetiaannya harus dibalas TUHAN dengan KEBAIKAN sebagai hadiah dan haknya. Namun keunggulan Ayub adalah ketika ia menyadari bahwa di tangan TUHAN-nya ia bukan siapa2 sehingga tidak layak menggerutu, sebaliknya Ayub belajar menerima apapun dari TUHAN. Sebab, bagi AYUB, Tuhan berhak melakukan apapun baginya –baik atau buruk- karena itu adalah HAK Tuhan termasuk terhadap dirinya sekalipun.

Persekutuan Kaum Bapak, yang diberkati Tuhan…
Berdasarkan Firman Tuhan ini, kita dapat memperoleh beberapa pokok pikiran yang berhubungan dengan kehidupan kita dari kisah Ayub ini, yakni:
1.       Kesengsaraan hidup itu identik dengan pencobaan hidup. Ketika kita mengalami pencobaan, siapakah yang mesti bertanggung-jawab? Apakah Tuhan atau Iblis. Pertanyaan ini hanya akan terjawab jika kita mengetahui tentang dari mana asalnya pencobaan itu. Mengenai asal-muasal pencobaan itu, Yak. 1:13-14 menyebutkan:
  1. Allah tidak pernah mencobai manusia
  2. Manusia dicobai oleh keinginannya sendiri
  3. Manusia dicobai oleh Iblis (lih. Bacaan kita) atau biasa disebut oleh Paulus sebagai PENGGODA (1 Tesalonika 3:5).

Hal ini dipertegas lagi oleh bacaan kita bahwa Tangan TUHAN tidak pernah IA gunakan untuk mengutuk dan menyakiti orang yang dikasihiNya. Tindakan ini sepenuhnya ada dalam aksi Iblis. Peran TUHAN pada pencobaan yang kita alami sangatlah sedikit, yakni sebatas mengijinkan Iblis.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Tuhan mengijinkan? Jawabanya kita temukan dalam 1Kor.10:13 yang berbunyi: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia…” Artinya, TUHAN mengijinkan kita dicobai karena Tuhan tahu bahwa kita mampu untuk menanggung cobaan itu. TUHAN telah mengukur kadar iman dan kemampuan saudara menghadapi cobaan itu. Mungkin kita berpikir bahwa peristuwa itu terlalu berat, tetapi menurut Tuhan kondisi itu masih ada dalam takaran dan kadar kemampuan kita.

Jadi adalah salah alamat, dan berdosa-lah kita jika mengklaim dan menghakimi TUHAN terhadap pencobaan dan derita yang kita alami.  Sebab pencobaan datang kepada Ayub, bukan karena ia durhaka namun justru karena ia setia. Kesetian kita mengundang “iri hati” iblis untuk menghancurkan iman kita lewat pencobaan. Iblislah yang melakukan itu. Jika kita menghakimi Allah dan menghujatNya, berarti Iblis benar dan ia menang karena ternyata kita tidak tahan iman dan berbuat dosa kepada TUHAN. Karena itu, kepada kita yang setia dan percaya kepadaNya, berhati-hatilah karena Iblis licik dan siap menjatuhkan kita lewat cobaan hidup.

2.       Apa yang harus kita lakukan saat mengalami pencobaan oleh Iblis. Belajarlah seperti Ayub! Ia tidak menjadikan TUHAN sebagai MUSUH-nya, melainkan tetap sedapat mungkin bergantung pada TUHAN. Hal ini terlihat jelas dari tiap jawaban imannya ketika menghadapi 2 jenis pencobaan itu.

Mengapa bergantung pada TUHAN begitu penting? Bukankah banyak orang cendrung meninggalkan TUHAN ketika merasakan bahwa seakan TUHAN tidak adil dalam hidupnya? Perhatikan bunyi Mzm.37:5 yang menjadi alasan penting kita harus tetap bergantung pada TUHAN! Ayat ini berbunyi: “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”. Artinya, hanya dengan bergantung pada TUHAN, saat alami pencobaan Iblis-lah, maka IA akan bertindak.

Apa tindakan dan peran TUHAN saat kita mengalami pencobaan? Peran TUHAN tidak hanya pada mengijinkan Iblis mencobai kita, namun dalam lanjutan bunyi ayat 13 kitab 1Kor pasal 10 disebutkan: “… Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu... Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. TUHAN tidak akan berdiam diri disaat kita mengalami pencobaan dari Iblis. Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar dan kekuatan untuk dapat menanggungnya hingga pencobaan itu selesai. Karena itu jangan tinggalkan TUHAN ketika hadapi pencobaan, sebaliknya teruslah berada di pihak TUHAN yang penuh kasih dan kuasa itu.

Peristiwa Istri Ayub mengingatkan kita bahwa tidak semua orang dapat menjadi pendukung dan penopang saat kita butuh topangan dan dampingan di tengah cobaan dan pergumulan hidup. Karena itu, kitapun diajar untuk selektif memilih orang yang tepat kita sedang mengalami cobaan hidup. Hindari setiap saran yang justru akan menjerumuskan kita. Carilah pribadi2 yang tepat yang akan TUHAN kirim mendampingi kita saat mengalami pergumulan itu. Karena itu tetaplah setia! Hadapilah pergumulan dan cobaan hidup ini dengan bijak dan teguh iman seperti Ayub. Percayalah TUHAN tidak akan membiarkan kita dalam pencobaan. Amin.

GALATIA 2:15-21

GALATIA 2:15-21 BAHAN KHOTBAH IBADAH HARI MINGGU 27 APRIL 2025   PENDAHULUAN Jika kita membaca surat Paulus kepada jumat Galatia i...