Sunday, April 7, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKP 09 APRIL 2013


LUKAS 24:13-16

Ibu-Ibu PKP yang dikasihi Tuhan...
Dapatkah kita membayangkan bagaimanakah kondisi hati kita jika ditinggalkan oleh orang yang benar-benar kita cintai? Perasaan yang paling mendominasi adalah rasa kehilangan. Rasa itu memunculkan kondisi diri yang sedih, beradaptasi lagi untuk menata hati karena kehilangan. Tentu, situasi ini bukanlah situasi yang menyenangkan, atau mudah untuk dikalahkan. Untuk beberapa orang yang ditinggalkan, kesedihan hati bisa sangat mendominasi di dalam kehidupan mereka, sehingga mereka tidak dapat beraktivitas dengan normal, tidak dapat tertawa, dan menikmati hidup dengan sewajarnya.

Sama seperti kondisi hati dua orang murid Tuhan Yesus ketika mereka sedang melakukan perjalanan ke Emaus dalam bacaan kita saat ini. Belum hilang rasa sedih mereka karena ditinggalkan oleh Dia yang sangat dicintai, mereka harus merasa sedih lagi karena mengetahui kubur-Nya kosong. Situasi yang sangat pedih, perih, dan kehilangan yg mendalam membuat mereka sejenak menjadi lupa bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Allah, penuh dengan kuasa yang juga mampu memulihkan kesedihan hati mereka. Sampai saat Tuhan Yesus datang di antara mereka, hadir di sela-sela waktu mereka berjalan, mereka tidak mampu menyadari bahwa Ia adalah Tuhan Yesus yang mereka cintai dan mereka rindukan selama ini.

Seperti dikatakan dalam Injil Lukas: “Kami dulu mengharapkan bahwa Dialah yang Nabi yang akan dating yang akan menyelamatkan Israel” tapi akhirnya Yesus mati disalib. Sementara ada kabar burung bahwa Yesus bangkit. Dan menampakkan diri kepada para wanita yang pergi ke makamnya. Kedua murid itu semakin tidak karuan pandangan mereka tentang Yesus yang selama itu dia ikuti. Hati mereka tidak karuan Kecewa, putus asa dan bingung. Mereka pun takut kepada orang Yahudi yang juga mengejar para pengikut Yesus. Di tengah keputusasaan dan kekalutan itu Yesus hadir.

Namun karena kekalutan dan keputusasaan yang menyelimuti pikirannya maka dia tidak menyadari bahwa yang ada di sampingnya itu adalah Yesus. Sungguh aneh bahwa mereka tidak mengenali Yesus. Mereka adalah orang yang dekat dengan Yesus, bagaimana mungkin Mereka tidak mengenali Yesus. Para penafsir Injil Lukas mau menggambarkan bahwa mereka begitu kalut dan kecewa bercampur ketakutan. Disebutkan ada sesuatu yang yang menghalangi mata mereka. Apakah yang menghalangi mata mereka. Ini mau menggambarkan bahwa kehadiran Yesus tidak dilihat oleh mereka. Yesus menyertai mereka namun mereka tidak menyadari akan kehadirannya.

Ibu-Ibu PKP yang dikasihi Tuhan...
Perhatikan bacaan kita di atas, tidak disebutkan bahwa Tuhan Yesus datang mendekati mereka dengan menyamar, tidak juga disebutkan bahwa Allah menaruh sesuatu untuk menghalangi mata. Tetapi jelas disebutkan bahwa ada “sesuatu” yang menghalangi mata kedua orang ini sehingga mereka tidak dapat mengenali Tuhan Yesus.

Apakah “sesuatu” yang menghalangi mata mereka itu. Kita bisa belajar dari pengalaman kedua orang murid ini bahwa bisa saja ada sesuatu yang menghalangi mata kita untuk mengenali Tuhan Yesus, bahkan saat Dia sebenarnya sedang menghampiri kita, berdiri di sisi kita, dan berjalan bersama kita.

Pertama, jika kita memperhatikan ayat 17-20, kita akan menemui betapa dalamnya kesedihan mereka atas kematian Tuhan Yesus. Krisis, entah itu positif atau negatif bisa menutupi mata kita untuk mengenali Tuhan Yesus. Krisis seringkali membuat kita melupakan bahwa kita mempunyai Yesus yang jauh lebih besar dari semua krisis yang bisa menimpa hidup kita.

Kedua, perhatikan ayat 21! Ada sebuah pengharapan pada diri murid-murid tentang bagaimana peran Mesias di dalam kehidupan bangsa Israel. Sayangnya pengharapan mereka tidak sesuai dengan kehendak Allah. Apakah salah berpengharapan? Tidak, tetapi dari pengalaman murid-murid ini, kita melihat bahwa pengharapan-pengharapan yang salah, yang kemudian tidak terpenuhi seringkali menghalangi mata kita untuk melihat ada kehendak Allah yang jauh lebih sempurna daripada pengharapan-pengharapan manusia yang seringkali bersifat egois.

Ibu-Ibu PKP yang dikasihi Tuhan...
Pertanyaan yang lebih penting adalah, bagaimana supaya “sesuatu” yang menghalangi mata kita untuk mengenali Yesus itu bisa diangkat. Jawabannya ada di ayat 32, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”. Ya, dengarkan perkataan Allah, renungkan kebenaran Kitab Suci, jangan menjadi lamban untuk percaya; maka mata kita tidak akan lagi terhalang untuk mengenali keberadaan Yesus yang selalu dekat dengan kita.

Sebagai sebuah refleksi bagi kita, dalam kekalutan kegagalan kita sering mengatakan dan mencari Tuhan: Di manakah Engkau Tuhan mengapa Engkau tidak menyertai aku justru dalam saat-saat begini. Mengapa Engkau meninggalkan aku di saat aku membutuhkanMu! Kesedihan yang mendalam ternyata bisa berpengaruh terhadap perilaku kita. Kesedihan yang dialami dua murid Tuhan Yesus membuat mereka tidak bisa mengenal Tuhan Yesus. Sama seperti kita yang ada kalanya tertimpa pergumulan hidup. Saat kita mulai larut dengan masalah yang kita hadapi, mampukah kita tetap selalu merasakan kehadiran dan pertolongan Tuhan?

Ibu-Ibu PKP yang dikasihi Tuhan...
Ada sebuah cerita kecil yang bagus untuk kita simak: Ada seorang anak kecil berjalan bersama Yesus di pantai. Walaupun anak kecil itu tidak melihat Yesus namun dia percaya Yesus berada di sampingnya karena dia melihat ada empat tapak kaki. Dua tapak kakinya dan dua lainnya adalah tapak kaki Yesus. Anak itu begitu gembira melihat tapak-tapak kaki itu. Namun ketika berada di lam kerikil dan berbatu dia hanya melihat dua tapak kaki. Dia mulai takut dan panic. Di mana tapak kaki yang lainnya. Kemudian dia berteriak. Tuhan di mana Engkau? Mengapa tapak kakimu tidak ada. Yesus menjawab. Anakku.. ketika engkau berada dalam pasir yang lembut Engkau menapak dengan kakimu sendiri tetapi ketika berada dalam bebatuan aku menggendongmu supaya kakimu tidak terantuk pada batu. Lalu anak itu tersenyum dan mengatakan pada Yesus: Yesus engkau sungguh penolongku.

Demikianlah dalam hidup kita kita juga sering mengalami kekalutan, keputus-asaan dan kekecewaan. Mari kita juga seperti murid di Emaus bilang: Tinggalah bersama kami. Dan begitu mereka tahu Yesus berada bersama mereka, mereka begitu bersemangat untuk memberi kesaksian tentang Tuhan yang telah bangkit.  Amin

Tuesday, April 2, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 03 APRIL 2013



BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 03 APRIL 2013
MATIUS 15:32-39

Jemaat Tuhan....
Injil Matius adalah Injil pertama dalam Perjanjian Baru, meski secara periodisasi penulisan lebih muda di banding Injil Markus. Injil Matius ditujukan kepada orang Yahudi yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bagian-bagian dari Taurat atau Perjanjian lama yang dikutip untuk mempertegas tulisan Matius. Injil Matius juga sangat menekankan pokok ajaran tentang Tuhan Yesus sebagai mesias yang di pilih oleh Allah dan menegaskannya dengan garis keturunan dari Raja Daud (Bdg. Matius 1: 1 dst). Injil Matius sarat dengan pengajaran-pengajaran yang disampaikan oleh Tuhan Yesus sebagai tokoh utamanya. Yang paling terkenal adalah pengajaran Tuhan Yesus di sebuah bukit. Pengajaran ini terkenal dengan sebutan Khotbah Di Bukit (Matius 5-7). Pengajaran Tuhan Yesus ini sangat menyentuh kehidupan sehari-hari dari orang-orang yang mengikuti Dia.

Akan tetapi, pengajaran saja tidak cukup maka untuk menegaskan semua pengajaran-Nya, Tuhan Yesus menyertainya dengan tanda-tanda dan mujuzat-mujizat. Salah satunya adalah apa yang tercatat dalam nas kita hari ini (Matius 15: 32-39).  Oleh LAI nas ini di beri judul Yesus Memberi Makan Empat Ribu Orang, sedang versi lainnya tercatat dalam Markus 8:1-10.

Jemaat Tuhan....
Kisah tentang Tuhan Yesus memberi makan empat ribu orang memang tidak seterkenal cerita Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang (Matius 14:13-21, bahkan sampai di buat lagunya). Ceritanya hampir mirip tetapi tentu agak berbeda meski lokasi kejadian sama-sama di seputar danau Galilea. Ketika Yesus hendak memberi makan empat ribu orang (yang dihitung hanya laki-laki dan belum termasuk perempuan dan anak-anak).

Perhatikan ayat 32, bacaan kita! Disebutkan bahwa hati-Nya tergerak oleh belas kasihan karena orang banyak yang mengikuti Dia selama tiga hari. Maka, Ia meminta murid-murid-Nya untuk mengumpulkan roti dan ikan yang ada pada mereka (:32-34). Kemudian dengan  ucapan syukur Tuhan Yesus membagi-bagikan roti dan ikan  kepada murid-murid-Nya dan dilanjutkan kepada orang banyak. Sehingga mereka semua makan sampai kenyang bahkan tersisa tujuh bakul penuh (ay.35-37).

Mujizat memberi makan empat ribu orang lebih, dengan hanya berasal dari sedikit roti, yakni tujuh ketul dan beberapa ekor ikan kecil adalah terletak pada saat hati yang tergerak oleh belas kasih, ucapan syukur yang tulus dan tangan yang terulur untuk memberi. Inilah bentuk kemustahilan tersebut terjadi  ketika ada tindakan dari suara hati dan kekaguman pada anugerah Tuhan dengan teladan yang ditunjukkan.

Dengan kata lain kita menemukan ada beberapa unsur penting dari hadirnya Mujizat itu, yakni:
1.      Ayat 32, Yesus tergerak oleh belas Kasihan
Mujizat terjadi selalu dimulai atas prakarsa ilahi. Kita tidak pernah bisa menentukan terjadinya Mujizat. Tuhanlah yang menentukan, Tuhanlah yang memulai. Namun ada alasan mengapa Tuhan mau memulai dan melakukan mujizat, yakni tergerak oleh belas kasihan. Mujizat adalah anugerah karena Tuhan peduli bagi kita.

2.      Ayat 34, meyerahkan 7 ketul roti dan beberapa ikan
Perhatikanlah bahwa benar mujizat terjadi atas inisiatif Ilahi. Namun juga harus diikuti dari keinginan manusia untuk mewujudkannya. 4000 0rg laki2 itu setia dan focus pada pengajaran hingga tidak makan selama 3 hari lamanya (ay.32). Hal itu menggerakkan Yesus untuk mengerjakan mujizat bagi mereka. Dengan kata lain, mencari Allah lebih dahulu, mujizat akan diterima selanjutnya.

Kemudian mujizat itu terjadi atas kesediaan manusia terlibat di dalamnya. Para murid dan bebrapa orang tergerak juga menolong orang banyak yang kelaparan. Apa yang ada pada mereka diserahkan kepada Tuhan Yesus. Tujuh ketul roti diberikan kepada Yesus. Perhatikanlah bahwa mustahil memberi makan 4000 orang hanya dengan 7 ketul roti. Namun inilah yang penting, yakni mereka melakukan bagian mereka yang dapat dikerjakan, dan sisanya Tuhan Yesus yang selesaikan.

3.      Ayat 36, Yesus mengucap syukur dan membagikannya
Mustahil 7 ketul roti menjadi banyak untuk dimakan 4000 orang. Namun itulah kenyataannya. Hal yang kecil di tangan manusia tidak berguna, namun jika diserahkan di tangan Sang Ilahi akan berbeda hasilnya. Hal kecil di tangan kita sering dilihat kecil dan tak berfaedah, namun Yesus yang Maha Besar kuasanya itu dapat mengubah yang tak berguna menjadi bermanfaat besar.

Kita tidak harus memulai sesuatu dengan hal-hal besar!! Jangan menghitung dan mengukur pelayanan secara matematis. Jangan tunggu modal besar baru kemudian melakukan sesuatu untuk pekerjaan Tuhan. Apa yang kita meiliki, walau kecil, lakukanlah. Selanjutnya biarlah Tuhan yang cukupkan semua itu untuk menjadikannya mujizat.

4.      Ayat 37, Mujizat terjadi, ada sisa 7 bakul.
Hal yang luar biasa terjadi dalam bacaan kita bukan hanya soal 4000 orang itu kenyang, namun lebih dari itu masih ada sisa dari yang tadinya terasa tidak cukup. Dengan modal 7 buah roti, mereka menerima saldo 7 bakul lagi setelah proyek mustahil itu selesai dikerjakan.

Mujizat terjadi bukan hanya cukup dan sesuai kebutuhan. Mujizat terjadi dengan hasil melipah hingga berkelebihan juga. Sesuatu hal menjadi bearti jika paling awal semuanya diserahkan kepada Yesus. Mujizat terjadi di tangan Yesus asalkan juga tangan kita tergerak menyerhkan kepadaNya.


Jemaat Tuhan....
Belas kasihan terhadap mereka yang miskin, susah, dan menderita itu mudah, tetapi sejauh mana kita digerakkan oleh belas kasihan itu hingga terwujud dalam tindakan menolong mereka? Bagaimana dengan Tuhan Yesus sendiri?

Tuhan Yesus juga mengharapkan kita menunjukkan belas kasihan dan kepedulian terhadap semua orang tanpa membedakan status, jenis kelamin, suku, dan ras. Kita perlu memperhatikan kebutuhan manusia secara holistik. Bila kita merasa potensi dan kemampuan kita tidak seberapa, jangan cemas, tetapi serahkanlah kepada Yesus. Ia akan mencukupkan kita untuk menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Oleh karena itu, selain memberitakan Injil kita juga harus melayani kebutuhan fisik mereka yang menderita agar mereka disentuh oleh kasih Allah yang sungguh nyata di dalam hidup kita sehingga mau percaya Tuhan Yesus.

Jemaat Tuhan....
Empat Ribu orang tersebut dikatakan telah mengikut Yesus selama 3 hari dan mereka tidak mempunyai makanan. Mengikut Yesus-lah yang menjadi fokus mereka, bukan perut, bukan diri. Ini membuktikan konsep nilai yang mereka miliki, bahwa mereka adalah sekelompok orang yang sudah mempunyai kepastian di dalam mengikut Tuhan, hanya berfokus kepada Kristus dan memberikan diri mereka sepenuhnya berserah di dalam pengaturan dan pemeliharaan Allah. Orang-orang seperti inilah yang dipelihara Tuhan dalam keutuhannya.

Inilah teladan yang seharusnya menjadi ciri-ciri orang Kristen di dalam mengikut Tuhan. Bagaimana dengan kita? Apakah yang menjadi fokus di dalam hidup kita? Tuhan Allah? Atau tuhan yang lain? Uang? Perut? Kenyamanan diri? Keluarga? Fokus ini dapat dideteksi dengan sederhana saja, lihatlah hal-hal apa yang sehari-hari paling menyita perhatian kita. Renungkanlah, benarkah kita menyerahkan dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan? Maukah kita membiarkan Tuhan yang memelihara dan mengatur seluruh hidup kita?

Marilah kita bersama-sama sekali lagi menajamkan fokus kita kepada Tuhan, kemudian berhenti memusingkan hal-hal yang lain lebih dari memikirkan dan melakukan kehendak Allah. Ingat dan percayalah bahwa makanan kita pun berasal dari tangan Allah, yang akan memberikannya pada waktu-Nya dan dengan cara-Nya. Mari kita meneladani 4000 orang ini, yang setia mengikut Tuhan dan sepenuhnya berserah, sampai kehendak Tuhan yang mahabaik jadi pada waktu-Nya. Amin

Tuesday, March 19, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH SEKTOR 20 MARET 2013


AYUB 4:1-21


Jemat Tuhan....
Kitab Ayub adalah sebuah tulisan yang kaya gaya sastranya, oleh karena itu kita akan menemukan beraneka ragam gaya sastra seperti dialog (pasal 4-27), percakapan seorang diri (pasal 3), wacana (mis. Pasal 29-41), narasi  (pasal 1-2), dan nyanyian pujian (pasal 28). Nama Ayub sendiri dalam bahsa Ibrani berarti sebagai “Di mana Bapaku?, walaupun memang ada dua tafsiran lain  yang menterjemahkan bahwa Arti nama Ayub adalah “Lawan Allah” dan “orang yang bertobat” (dari bahasa Arab).

Jemat Tuhan....
Tujuan kitab Ayub ini adalah menyelidiki keadilan dan perlakuan Allah terhadap orang benar. Dalam dunia Perjanjian Lama, berkembang pemahaman bahwa kebiasaan Allah untuk memberkati orang benar dengan berbagai kekayaan dan reputasi, tidaklah menghalangi pengembangan kebenaran yang sejati. Tetapi dalam situasi Ayub, kenyataan yang terjadi adalah Allah tidak berkewajiban untuk memastikan bahwa orang benar menerima berkat dan hanya berkat, seperti yang dipersoalkan Iblis (dalam Ayub 1:9-11). Tetapi juga bisa melewati suatu fase yang dinamakan dengan penderitaan.

Sehingga tema pokok yang didiskusikan dalam kitab Ayub ini
adalah tentang penderitaan orang yang tidak bersalah, berdasarkan suatu kenyataan bahwa orang yang saleh juga hidup menderita. Dan Ayub menjadi pusat
pembicaraan dari dialog-dialog yang dilakukan olehnya dengan keempat temannya yang bukan orang Yahudi, yakni Elifas, Bildad, Zofar dan Elihu, di mana mereka yang sebenarnya datang sebagai penghibur, tetapi juga melemparkan tuduhan-tuduhan yang tidak beralasan terhadap Ayub, dan terkesan menunjukkan sikap permusuhan.
Jemat Tuhan....
Bagian bacaan kita saat ini yakni Ayub 4:1-12 adalah salah satu dialog Ayub dengan teman-temannya yang bernama Elifas, sesudah mereka mendengarkan curahan hati Ayub atas apa yang dialaminya, yakni kisah penderitaannya yang telah kehilangan segala-galanya, baik harta kekayaan maupun keluarganya, termasuk penderitaan jasmani yang sedang dialaminya. Elifas, seorang yang berasal dari Teman (daerah Edom – Yes 49:7) ia merasa prihatin dengan apa yang dialami oleh Ayub. Bahwa sebagai seorang yang dulunya menikmati kemakmuran, bahkan selalu membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan darinya, kini Ayub tidak berdaya.

Dan sekalipun Elifas tahu bahwa Ayub adalah orang yang takut akan Tuhan, dan yang tidak pernah berputus asa, termasuk dalam meresponi penderitaan yang sementara ia alami, maka ia pun menyarankan kepada Ayub bahwa agar terbebas dan keluar dari belenggu penderitaan ini, maka Ayub harus tetap menyandarkan hidupnya kepada Tuhan dan hidup terus dalam kesalehan.

Jemat Tuhan....
Ternyata dalam dunia Perjanjian Lama teologi tradisional, yaitu: “ORANG YANG MAKMUR, PASTI ORANG BENAR DAN ORANG YANG MENDERITA PASTI ORANG JAHAT”, cukup banyak mempengaruhi kehidupan umat manusia. Sehingga Elifas berpikir bahwa bahwa yang menyebabkan Ayub jatuh di dalam penderitaan yang luar biasa itu tidak datang dari luar, tetapi datang justru dari dirinya sendiri yang telah berbuat dosa.

Pada satu pihak, perkataan Elifas tentunya tidak salah bahwa kebinasaan dan kehancuran itu datang dari berbagai perbuatan jahat yang pernah dilakukan seseorang (ay 7-9). Dan di samping itu bahwa realitas yang melekat kepada kehidupan manusia bahwa tidak ada seorang pun yang benar dan tahir di hadapan Tuhan, termasuk hamba-hamba Tuhan (ay 17-18) tentu lebih menguatkan pendapat Elifas bahwa Ayublah yang berdosa.

Tetapi pada pihak lain, Elifas yang semulanya datang untuk menghibur, ternyata juga memojokkan dan menempatkan Ayub pada posisi yang sangat tidak berdaya. Ungkapan-ungkapannya justru tidak mendatang-kan penghiburan, apalagi menolong Ayub dalam menghadapi persoalan yang terjadi, tetapi justru membuat Ayub semakin terpuruk, oleh karena semuanya itu tidak menjawab dan menyentuh persoalan yang dialami oleh Ayub sendiri. Bahwa apa yang diperkirakan oleh Elifas tidaklah demikian yang dilakukan oleh Ayub. Bahwa ternyata dalam kesalehan dan ketaatannya kepada Allah, dia telah mengalami suatu kehidupan yang berat, yang dinilainya bukan akibat dari segala perbuatannya selama itu.

Jemat Tuhan....
Maksud dan tujuan baik kadangkala belum tentu juga menghasilkan suatu hal yang baik. Menghibur orang yang dekat dengan kita adalah suatu hal yang pantas dan wajar. Tetapi kadang-kadang kita harus memikirkan apakah tindakan yang kita lakukan benar-benar menyentuh ataupun menjawab persoalan yang dialami oleh saudara dan teman kita itu. Mungkin kita harus lebih hati2 di dalam mengerjakan sesuatu dengan perhitungan yang matang. Sebab keinginan kita untuk menjadi berkat bagi sesama kita bisa berubah menjadi batu sandungan bagi orang lain. 

Kisah Ayub yang kita renungkan kali ini mau memberikan warna yang baru dalam drama kehidupan umat manusia. Bahwa ternyata tidak selamanya hidup menjadi orang benar di hadapan Allah harus menikmati berbagai keselamatan yang dinikmati di dunia ini, seperti kemakmuran, kedamaian, keamanan, kekayaan dan kebahagiaan.

Bahwa ungkapan semakin dekat dengan Tuhan semakin besar pencobaan itu datang, membuat kita berpikir apakah Allah itu adil di dalam kehidupan kita. Tetapi mungkin kita bisa merenungkan sebuah lagu: “Tak pernah Tuhan janji hidupmu takkan berduri tak pernah Dia janji lautan tenang”. Bahwa ternyata kehidupan manusia itu kadangkala harus mengalami apa yang dinamakan kesusahan, sesuai dengan kadar dan situasi yang dialami oleh seseorang. Tetapi itu semuanya itu tidak hanya datang dari pada manusia, tetapi berasal dari keinginan Iblis yang tidak pernah membiarkan umat Tuhan dalam keadaan tenang. 

Jemat Tuhan....
Walaupun demikian ternyata Allah tidak akan pernah meninggalkan umatNya yang mengalami penderitaan. Sebab ending dari drama kehidupan Ayub menunjukkan keadilan Allah yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Bahwa selagi kita setia dan taat dalam keadaan apapun maka Allah tidak akan pernah sedetik meninggalkan kita yang mengandalkan Dia.

Ingatlah: 
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.  (1 Kor 10:13). Amin.

Monday, February 4, 2013

MATERI KHOTBAH IBADAH RABU 06 FEBRUARI 2013

YOHANES 1:43-51

Jemaat TUHAN
Sebuah kata bijak mengatakan: “Jangan menilai buku dari sampulnya”. Kalimat ini adalah suatu nasehat untuk mengajak setiap orang agar menilai sesuatu haruslah objektif dan tidak terburu-buru. Penilaian kepada seseorang jangan hanya berdasarkan tampilan luarnya saja, namun harus mengenal nya lebih dalam. Sebab penilaian yang terburu-buru akan mengakibatkan salah sangka yang berakhir pada penyesalan diri.

Hal inilah yang dialami oleh Natanael ketika ia diajak oleh Filipus untuk berjumpa dengan Yesus dari Nasaret sebagai Mesias. Natanael terlalu berburuk sangka soal Nazaret kota asal Yesus. Sehingga karena alasan itulah ia hampir menolak mengalami perjumpaan dengan Yesus.

Jemaat TUHAN
Kisah ini menarik untuk direnungkan, karena ada beberapa hal penting yang dapat menjadi cermin bagi hidup kita. Yohanes 1:43-51 adalah lanjutan dari proses pemilihan murid-murid Yesus yang pertama yaitu Andreas dan Petrus. Kemudian Yesus berangkat ke Galilea dan bertemu dengan Filipus dan berkata kepadanya: ”ikutlah Aku” (ay.43-44). Panggilan kepada Filipus disampaikan Yesus secara mendadak ketika itu. Dalam hal ini, Yesus menyatakan kekuasaan dan kedaulatanNya memilih para murid-muridNya. Seperti halnya perintah Yesus dalam Yohanes 15:16, ”Bukan kamu yang memilih Aku, Tetapi Akulah yang memilih kamu”.

Dengan demikian gereja sebagai orang percaya, hendaknya menghargai dan bertanggungjawab dalam tugas dan pekerjaannya dalam mewujud-nyatakan kasih dan keselamatan Allah di dunia ini. Band. 1Koritus 9:16-17 “Memberitakan injil adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan injil….pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang di tanggungkan kepadaku.”

Dari proses pemilihan ini juga kita di ingatkan bahwa Yesus memilih muridNya bukan berdasarkan kelebihan tapi berdasarkan kemauan, dan ketaatan para murid dalam mengikut Yesus (Band.Kel.4:10-13= Musa tidak pandai bicara, berat mulut dan berat lidah), (Yes.6:5= Aku ini seorang yang najis bibir), Yer.1:6= Tak pandai bicara dan masih muda. Filipus adaalah contoh pribadi ini. Ia tidak menolak atau mempertanyakan panggilan Yesus terhadap dirinya. Ia patuh dan taat serta bahkan segera merespon pergi mengikut Yesus

Selanjutnya dalam ay.45-48, Setelah Filipus bertemu dengan Yesus, ia menemui Natanael dan menceritakan tentang Yesus adalah anak Jusup dari Nasaret. Kemudian Natanael mengatakan;” mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret”? Pertanyaan Natanael, menunjukkan keraguan atau ketidak percayaannya oleh karna status tempat tinggal dan keluarga yang dipandang rendah dan tidak terhormat. Mengenal seseorang tentu melalui proses, mempercayai membutuhkan tanda bukti yang jelas dari perkatan, sikap dan perbuatan yang baik. Percaya kepada Yesus harus dengan dasar iman dan pengharapan yang teguh. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Filipus mempertemukan Natanael dengan Yesus, pertemuan dengan Yesus merubah keraguan menjadi kepastian dan pertumbuhan iman yang kuat. Tanpa berjumpa dengan Yesus, orang akan gagal mengenalnya lebih dalam. Alami perjumpaan dengan Yesus adalah hal penting yang tak dapat diabaikan.

Jemaat TUHAN
Pada Ay.49-51, Pengakuan iman Natanael menumbuhkan ketaatannya untuk menerima dan mengikut Yesus, sebagai murid. Sukacita dan hidup yang kekal bagi orang yang percaya kepada Yesus Anak Allah (1 YOH.5:11-12). Janji bahwa Natanael akan melihat kuasa Anak Allah diberikan oleh Yesus baginya. Satu hal yang menarik adalah bahwa Tuhan Yesus tidak menganggap Natanael sebagai seorang yang tidak peka atau buta secara rohaniah. Justru Tuhan Yesus berkata: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" (Yoh. 1:47). Ini berarti sikap kritis yang membuat seseorang tidak mudah percaya tidaklah senantiasa identik dengan sikap orang yang tidak peka dengan kehadiran Kristus. Dalam kasus Natanael, sikap kritisnya justru memperlihatkan jati-diri dari seseorang  yang tidak memiliki kepalsuan atau keyakinan iman yang munafik.

Sebab yang menjadi landasan spiritualitas dari  orang-orang yang seperti Natanael adalah kegairahan untuk mencari kebenaran dan keselamatan yang sejati. Manakala mereka pada akhirnya dapat menemukan kebenaran dan keselamatan Allah yang dinyatakan dalam diri Kristus, maka mereka akan secara total mempersembahkan hidup mereka kepada Allah. Itu sebabnya hanya kepada Natanael, Tuhan Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia" (Yoh. 1:51).

Dengan demikian makna bersikap peka dalam mengikut Kristus adalah senantiasa mampu bersikap kritis, menguji segala sesuatu dan mau mencari kebenaran dengan segenap hatinya serta mempraktekkan secara konsisten dalam seluruh aspek kehidupannya. Tepatnya makna peka mengikut Kristus akan mendorong seseorang untuk selalu mendengar isi hati dan kehendak dari Allah yang dibarengi dengan sikap yang kritis.

Jemaat TUHAN
Karena itu marilah kita menjadi pengikut Yesus dengan mengambil sikap Filipus dan Natanael. Yakni menjadi pengikut yang taat dan peka terhadap panggilan TUHAN dan mengerjakannya seperti Filipus. Tetapi jika jangan memiliki ketaatan dan kepekaan yang buta. Iman harus diuji secara kritis agar tidak terobang-ambing. Natanael menguji hal itu lewat pertanyaan kritis dan langsung melihat dan berjumpa dengan Yesus untuk mencari kebenaran itu.

Kiranya kita dimampukan untuk itu. Amin 

MATERI KHOTBAH IBADAH PKP 05 FEBRUARI 2013

YOHANES 1:29-34

Ibu-ibu Kekasih Kristus….
Biasanya adalah hal yang wajar jika seseorang itu ingin terkenal. Banyak cara dilakukan untuk membuatnya berada dalam posisi yang diakui. Namun, tidaklah wajar jika kemudian orang cendrung memilih posisi bawah dalam persaingan hidup. Apalagi jika sudah memiliki pengikut dengan kekuatan massa yang banyak maka ambisi terpenting adalah menjadi utama dan nomor satu dalam level dan status sosialnya.

Namun tidaklah demikian dengan Yohanes Pembaptis. Ia tampil sebagai Pribadi yang sungguh rendah hati bahkan hidup sangat sederhana. Di padang gurun dia tinggal dan berada, madu dan belalang hutan santapannya. Suaranya lantang tanpa rasa takut karena memang apa adanya. Meskipun banyak orang mengikutinya, dia dibangga-banggakan, namun sikapnya tetap rendah hati. Tahu dengan pasti tugasnya sebagai penyiap datangnya Mesias, maka ketika Mesias datang, dia dengan lapang dada memberikan kesaksian. Yesus makin bertambah dan Yohanes tahu diri untuk relah bekurang. Ia tidak pernah memberitakan siapa dirinya sendiri, namun memberitakan Yesus sebagai Pribadi Yang Besar; ia tidak berusaha membuat dirinya menjadi tinggi, namun justru menyanjung dan meninggikan Yesus.

Ibu-ibu Kekasih Kristus….
Selanjutnya, ada dua pokok penting kesaksian dan pemberitaan Yohanes Pembaptis mengenai siapa Yesus. Kedua pokok itu adalah sbb:
1. Yesus Kristus adalah Anak Domba Allah (ayat 29).
Anak domba biasanya dipakai bangsa Israel sebagai upeti kepada raja dan korban persembahan kepada Allah sebagai penghapusan dosa mereka. Hal ini berdasarkan pengalaman bangsa Israel ketika menjadi budak di Mesir, Tuhan memberikan tulah kesepuluh yaitu semua anak sulung dibunuh. Tetapi orang Israel boleh diluputkan dari tulah ini ketika mereka melaksanakan firman Tuhan yaitu mempersembahkan anak domba sehingga mereka mempunyai pemahaman bahwa anak domba bisa menghapus dosa mereka.

Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah memang mempunyai kemiripan dengan anak domba yang biasa dipakai bangsa Israel untuk menghapus dosa tapi punya perbedaan kualitas, yaitu Yesus Kristus bisa menghapus dosa banyak orang, seluruh bangsa di dunia, bukan hanya orang Yahudi saja. Yesus Kristus disebut Anak Domba Allah, artinya Allah sendiri yang menyediakan atau mengutus Yesus Kristus, datang sebagai Anak Domba untuk menghapus dosa dunia.

2. Yesus Kristus adalah Anak Allah (ayat 30-34)
Yohanes Pembaptis tahu bahwa Yesus Kristus yang adalah Anak Allah sebenarnya yang sudah ada sebelum Yohanes ada (ayat 29 dan 30). Yohanes Pembaptis mengetahui hal ini saat ia mendapat pengutusan dari Allah untuk membaptis. Ia diberitahu bahwa saat ia membaptis ada Orang yang diatas-Nya akan turun Roh Kudus yang terus tinggal bersama Dia, dan Dialah Yesus Kristus, Anak Domba Allah, dan juga Anak Allah (ayat 33). Bahkan Yohanes juga menyadari bahwa tugas yang diberikan Allah kepada Yohanes untuk membaptis adalah untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus yang adalah Allah yang menjadi manusia (ayat 31).

Kata “Anak Allah” ini artinya: a) memiliki seluruh ciri Allah: Keseluruhan sifat Allah semua ada pada Yesus, Yesus Kristus itu sama seperti Allah, Yesus Kristus setara dengan Allah; b) Pribadi Manusia yang sempurna. Yesus adalah contoh dan tipe dari manusia yang sempurna. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna akibat berbuat dosa. Tetapi manusia dapat menjadi sempurna di dalam Yesus yang sempurna itu ketika meneladaniNya.

Ibu-ibu Kekasih Kristus….
Berdasarkan Firman Tuhan ini, maka ada beberapa pokok penting yang dapat menjadi pegangan hidup kita untuk dilakukan dan dipraktekkan dalam keseharian kita, yakni:
1.      Tugas kita hanyalah memberi kesaksian guna mengantar orang kepada keselamatan. Oleh karena itu apa pun posisi kita, apa pun status kita, dan juga apa pun keadaan kita, tugas memberi kesaksian ini tidak akan hilang. Kesaksian bahwa Yesus adalah Tuhan dan Jurus’lamat dunia haruslah menjadi tanggung-jawab kita. Sebagai istri; ibu rumah tangga; ataupun pekerjaan kita perlu untuk menyadari bahwa pangilan kita adalah panggilan untuk bersaksi bagi kemuliaan Tuhan.

Namun yang perlu diingat adalah kiranya kita perlu sadar diri seperti Yohanes Pembaptis. Ia tidak pernah membuat dirinya menjadi pusat pemberitaan, namun Yesuslah yang ia beritakan dan saksikan. Karena itu, kiranya Tuhan Yesuslah yang utama dalam seluruh kesaksian kita supaya hanya Dia sajalah yang ditinggikan dan diagungkan.

2.      Apa respon kita terhadap Yesus Kristus setelah mengetahui bahwa Ia adalah Anak Allah? Sudahkah kita percaya dalam hati dengan sungguh-sungguh dan mengaku dengan mulut kita bahwa Yesus adalah Anak Allah (Roma 10:10)? Wujud resminya adalah lewat mengakuinya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Selain itu dengan memberi kesaksian apa yang sudah kita tahu tentang Yesus Kristus yang adalah Anak Allah, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Kesaksian dapat berisi tentang cinta Tuhan sehingga diharapkan mampu memberi kelegaan bagi yang sedang terpuruk hidupnya. Demikian juga, mereka yang sedang banyak bergelut dengan kesulitan diharapkan tetap memiliki keyakinan. Keyakinan bahwa hidup ini sangat berharga. Hidup bukan hanya sekedar numpang lewat, melainkan hidup adalah sebuah anugerah kesempatan untuk memberdayakan diri guna memuliakan Tuhan, sebagaimana yang dilakukan Yohanes.

Kesaksian yang paling berhasil adalah lewat menjadi teladan bagi orang lalu berupa tutur kata dan perbuatan nyata. Karena itu marilah memulai semuanya di rumah tangga kita, lingkungan sekitar dan bahkan dimanapun kita berada. Supaya melalui kita, nama Tuhan dimuliakan dan diagungkan. Jadilah Yohanes Pembaptis masa kini di manapun kita berada.

Thursday, November 22, 2012

MENGGELITIK EGO; UNTUK MENGHARGAI ARTI KEHADIRAN PENOLONG SEPADAN

‎@Pdt Frans J Wantah Wrote on His FB Wall 

Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company, dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antar negara bagian ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin. 

Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ untuk mengisi mobilnya dan mengecek oli, dia berjalan-jalan memutari pompa bensin itu untuk melemaskan kaki. Ketika kembali ke mobil, dia melihat petugas itu sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika dia membayar si petugas. Tetapi ketika hendak masuk ke mobil, dia melihat petugas itu melambaikan tangan dan dia mendengar orang itu berkata, “Asyik sekali mengobrol denganmu...” 

Setelah mereka meninggalkan pompa bensin itu, Wheeler bertanya kepada istrinya apakah dia kenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan. Mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun. “Astaga, untung kau ketemu aku,” Wheeler menyombong. “Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas pompa bensin, bukan istri direktur utama.” 

“Sayangku,” jawab istrinya, “Kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas pompa bensin.”

-------------------------
KEJADIAN 2:18 
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Tuesday, November 20, 2012

BAHAN RENUNGAN SEKTOR 21 NOVEMBER 2012


ZAKHARIA 4:11-14

Pendahuluan
Penulis kitab ini adalah Zakharia. Sebutan "Zakharia" menunjuk kepada Zakharia anak dari Berekhya dan cucu dari Ido (1:1.7). Nama "Zakharia" adalah nama yang populer. Dalam Perjanjian Lama, ada sekitar 27-30 orang yang memakai nama "Zakharia". Sebutan "Zakharia" berarti Allah mengingat atau Allah telah mengingat. Nama "Zakharia" menjelaskan bahwa Allah mengingat umat-Nya dan Ia mengingat (setia terhadap) janji-Nya terhadap bangsa Israel. Mungkin nama ini mengungkapkan rasa syukur orang tua Zakharia karena mereka dikaruniai anak laki-laki. Seperti Yeremia dan Yehezkiel, Zakharia adalah seorang nabi sekaligus seorang imam (Nehemia 12:16). Ido (kakek Nehemia) juga seorang imam (Nehemia 12:1,4). Zakharia dilahirkan di Babel.

Saat orang Yahudi kembali ke Palestina di bawah pimpinan Zerubabel dan Imam Besar Yosua, dia ikut dengan kakeknya kembali ke Palestina. Bila yang dimaksud dengan "orang muda" dalam Zakharia 2:4 adalah Zakharia, maka berarti bahwa Zakharia dipanggil untuk bernubuat pada tahun 520/519 BC (sebelum Masehi), saat usianya masih muda.  

Telaah Perikop
Terdapat delapan penglihatan yang dialami oleh Zakharia mulai dari pasal 1-6 kitab ini. Khusus pasal 4:1-14 adalah penglihatan kelima berupa Kandil Emas yang berhiaskan dua pohon Zaitun. Ada tiga bagian dari perikop ini. Isi penglihatan disampaikan dalam ay.1-3. Penjelasan pertama, mengenai “semuanya”, terdapat dalam ay.4-7, dengan suatu komentar dalam aa.8-10. Penjelasan kedua, tentang kedua pohon zaitun, terdapat dalam ay.11-14. Isi dari penglihatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1.      Penglihatannya terjadi dalam keadaan yang mirip dengan tidur (ay.1). Yang dilihat Zakharia ialah sebuah kandil dengan empat puluh sembilan suluh, tersusun di atas tujuh pelita dengan tujuh corot masing-masing. Ketujuh pelita itu tersusun di atas tempat minyak, bahan bakarnya. Minyaknya dari pohon zaitun, yang disimbolkan dengan ukiran di sebelah kanan dan kiri.


2.      Zakharia langsung menanyakan arti dari penglihatan itu (ay.4). Penjelasan yang berikut berbicara tentang Zerubabel. Kuasa yang akan menjamin bahwa Zerubabel berhasil menyelesaikan pembangunan Bait Allah ialah roh Allah, bukan kemampuan Zerubabel (ay.6). Pada ayat 7a hal itu ditegaskan dengan suatu gambaran: gunung tidak mungkin diratakan oleh Zerubabel, tetapi akan menjadi tanah rata oleh karena kuasa Allah itu. Selanjutnya ayat 7b membayangkan sorak Israel ketika Bait Allah selesai lewat dipancangkannya batu utama.

Batu utama mungkin mirip fungsinya dengan baru peringatan pada gedung modern yang di atasnya tertulis tanggal dan tokoh yang meresmikan gedung itu. Kalau begitu, yang dinubuatkan dalam ay.7 itu adalah upacara peresmian Bait Allah. Pada zaman itu batu utama sering dilapisi dengan permata dan/atau logam mulia seperti emas.

Penglihatan itu menyangkut batu utama yang melambangkan penyelesaian Bait Allah. Sama seperti pelita bersumber pada minyak, terang yang dibawa oleh penyelesaian Bait Allah akan bersumber pada roh Allah melalui Zerubabel.

3.      Selanjutnya kita menemukan dalam ayat 8-10 suatu komentar terhadap penglihatan itu. Dijelaskan bahwa Zerubabel-lah yang akan menyelesaikan apa yang dulunya dia mulai (ay.9a). Hal itu akan membuktikan bahwa malaikat yang berbicara dengan Zerubabel memang adalah utusan Allah, sehingga Israel juga bisa percaya pada nubuatannya (ay.9b). Sikap orang yang menjadi tawar hati atau putus asa karena lamanya tidak ada perkembangan akan menemukan semangat baru (a.10a). Akhirnya, ketujuh mata yang diukir pada batu utama itu (jika tafsiran tadi tepat) menyimbolkan mata Tuhan (ay.10b). Tujuh adalah angka kelengkapan atau keseluruhan, dan mata Tuhan yang disimbolkan dengan tujuh itu melihat seluruh bumi. Tidak akan ada kejutan menggoyang rencana-Nya, Dia melihat semuanya.

4.      Pertanyaan untuk penjelasan kedua diulang dalam ay.12. Cairan emas merujuk pada minyak zaitun, dan sepertinya ada sistem penyaluran memakai pipa yang sekaligus merupakan bagian dari ukiran pohon zaitun itu, bahasanya tidak terlalu jelas. Hal itu mengaitkan kedua pohon zaitun itu sebagai penyambung pelita dengan minyak zaitun. Pada ay.14 bacaan kita mengungkapkan maknanya: kedua pohon adalah Yosua dan Zerubabel, karena baik imam maupun raja diurapi. Merekalah yang menjadi kunci sehingga kuasa roh Allah akan menghasilkan pembangunan Bait Allah.

Aplikasi dan Relevansi
Berdasarkan kisah yang ada dalam bacaan kita ini, maka ada beberapa hal pokok yang dapat kita relevansikan dalam hidup beriman kita, yakni:
1.      Zerubabel adalah tokoh yang akan membangun Bait Allah hingga selesai. Ia mendapatkan penguatan dalam aa.6-10, yaitu janji bahwa oleh kuasa roh Allah Zerubabel akan menyelesaikan Bait Allah. Janji ini itu tentu mau menguatkan Zerubabel, dan orang-orang Yehuda di bawah pimpinannya, untuk tetap bertekun dalam pembangunan itu. Namun, tekanan dalam ay.6 mengingatkan mereka bahwa sumber sukses bukan di dalam mereka melainkan oleh karena kuasa Allah.

Kitapun diingatkan bahwa disaat Tuhan menjanjikan sesuatu ia tidak akan pernah ingkar janji. Zerubabel wajib menjalankan tugas pembangunan itu dan Tuhan akan menyertainya. Masing2 kita memiliki tanggung-jawab untuk melaksanakan tugas dibidang masing-masing. Apabila kita berhasil, itu harusnya dipahami sebagai anugerah Tuhan dan bukan karena kita.

2.      Mengapa inti itu disampaikan melalui penglihatan yang kabur dan sulit ditafsir? Ay.5 & 13 memberi suatu petunjuk, ketika malaikat bertanya tentang ketidaktahuan si nabi. Hal itu menegaskan bahwa si nabi tidak sanggup menerobos ke dalam makna penglihatan itu sendiri. Yang dibicarakan adalah rencana Allah, dan hanya Allah yang tahu dan dapat memberitahunya.

Hal ini memberi arti kepada kita bahwa tidak semua rencana Tuhan dapat kita selami dengan mudah. Banyak hal yang masih menjadi rahasia bagi kita namun semua telah sangat indah direncanakan TUHAN. Sebagaimana Zakharia membutuhkan malaikat untuk jelaskan penglihatan itu, demikian juga kita membutuhkan Roh Kudus untuk mengerti kehendak dan rencana Tuhan bagi kita. Amin



Friday, November 16, 2012

BAHAN RENUNGAN Minggu 18 NOVEMBER 2012

ZAKHARIA 1:7-17

Pendahuluan
Penulis kitab ini adalah Zakharia. Sebutan "Zakharia" menunjuk kepada Zakharia anak dari Berekhya dan cucu dari Ido (1:1.7). Nama "Zakharia" adalah nama yang populer. Dalam Perjanjian Lama, ada sekitar 27-30 orang yang memakai nama "Zakharia". Sebutan "Zakharia" berarti Allah mengingat atau Allah telah mengingat. Nama "Zakharia" menjelaskan bahwa Allah mengingat umat-Nya dan Ia mengingat (setia terhadap) janji-Nya terhadap bangsa Israel. Mungkin nama ini mengungkapkan rasa syukur orang tua Zakharia karena mereka dikaruniai anak laki-laki. Seperti Yeremia dan Yehezkiel, Zakharia adalah seorang nabi sekaligus seorang imam (Nehemia 12:16). Ido (kakek Nehemia) juga seorang imam (Nehemia 12:1,4). Zakharia dilahirkan di Babel.

Saat orang Yahudi kembali ke Palestina di bawah pimpinan Zerubabel dan Imam Besar Yosua, dia ikut dengan kakeknya kembali ke Palestina. Bila yang dimaksud dengan "orang muda" dalam Zakharia 2:4 adalah Zakharia, maka berarti bahwa Zakharia dipanggil untuk bernubuat pada tahun 520/519 BC (sebelum Masehi), saat usianya masih muda.

Telaah Perikop
Pada tahun 519 bulan Syebat di hari kedua itu yakni pada masa pemerintahan Raja Darius, Nabi Zakharia mendapatkan penglihatan tentang sesuatu yang terjadi pada masa yang akan datang pada kehidupan umat percaya. Isi penglihatan itu adalah sebagai berikut:

1.      Pada ayat 7-10, nabi Zakharia melihat ada seorang penunggang kuda yakni malaikat TUHAN yang menggunakan kuda merah. Dibelakang kuda merah itu ada juga malaikat2 pengintai yang mengunakan kuda-kuda berwarna. merah, warna putih dan warna merah jambu. Dalam kitab2 eskatologis seperti Daniel dan Wahyu, penyebutan warna tertentu memiliki arti penting. Itu berarti tiap warna kuda yang dilihat oleh Zakharia memiliki maksud dan makna. Warna Merah berarti pertempuran dan pertumpahan darah (bd. Wyh.6:4); Warna Putih melukiskan tentang kemenangan dan damai (bd. Wahyu 6:2); Warna Merah Jambu melukiskan akibat negatif dari peperangan dan pemusnahan-pemusnahan itu yang membingungkan banyak orang (bd. Why. 6:5-8).

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa pada saat kedepan akan terjadi peprangan di persia yang disusul oleh perdamaian dan kemudian dampak kehancuran. Jika kita membaca sejarah Raja Darius di Persia maka nubutan ini akhirnya digenapi. Bahwa terjadi pemberontakan pada jaman persia dengan banyaknya pertumpahan darah; namun hanya terjadi perdamaian sementara waktu itu dengan menyisakkan banyak dampak negatif sesudah pertempuran.

2.      Selanjutnya pada ayat 11-12 menunjukkan bahwa para pengintai sorgawi itu menyampaikan tentang kondisi kerajaan Persia yang menahan orang Israel di pembuangan masih aman dan damai. Itulah sebabnya pada ayat 12, para pengintai sorgawi itu bertanya kepada Tuhan tentang kondisi damai kerajaan kafir itu dan mengapa Tuhan membiarkan umat terbuang di sana dan seakan tidak menyanyangi Yerusalem yang telah porak-poranda tersebut.

3.      Pada ayat 13-17 kita menemukan jawaban TUHAN dan sikap TUHAN terhadap kondisi umatNya yang sebagian masih dalam buangan dan sebagian lagi sudah kembali. Ada dua hal penting yang disampaikan Tuhan kepada Zakharia melalui Malaikat Tuhan, yakni:

Pertama, Perhatikan ayat 14-15. Penderitaan yang dialami oleh umat saat ini sebagai bagian dari murka TUHAN kepada umatNya. Itulah sebabnya Ia menggunakan bangsa-bangsa Kafir seperti Babel dan Persia untuk menghukum umatNya itu (ay.15). Namun menurut TUHAN bangsa2 yang dipakai TUHAN itu juga sudah kelewatan batas. Tuhan hanya murka sedikit kepada Israel, namun bangsa2 kafir itu telah melakukan kejahatan yang lebih besar kepada umatNya.
Kedua, itulah sebabnya pada ayat 16-17 Tuhan menjanjikan pemulihan kepada umatNya. Ia akan kembali menyayangi Yerusalem dan akan memulihkan keadaan Yerusalem. Sebagai tanda dan bukti keseriusan Tuhan adalah dubangunnya kembali Bait Suci yang hancur itu dan kota Sion akan berlimpah dengan damaisejahtera dan kebajikan dari TUHAN.

Aplikasi dan Relevansi
Berdasarkan kisah yang ada dalam bacaan kita ini, maka ada beberapa hal pokok yang dapat kita relevansikan dalam hidup beriman kita, yakni:

1.      Setiap hal yang kita alami dan jalani dalam hidup ini telah disiapkan dan direncanakan oleh TUHAN. Entah hal itu kelihatannya baik maupun kelihatannya buruk. Hal ini pula yang dinyatakan malaikat Tuhan kepada Zakharia untuk memahami arti pembuangan dan penghukuman umat Tuhan tersebut. Bahwa ternyata kejahatan Babel dan Persia yang menganiaya umat TUHAN sengaja diijinkan Tuhan untuk terjadi bagi umat sebagai bentuk penghukuman.

Dengan demikian kita wajib merenungkan ulang kondisi Israel ini sebagai bahan yang mungkin berhubungan dengan kehidupan kita. Bahwa adalah mungkin kita mengalami keburukan hidup akibat kejahatan orang lain, bukanlah suatu kebetulan. Tuhan  bisa saja menggunakan kejahatan orang lain untuk menyadarkan umatNya dari kesalahan dan dosa.

2.      Namun seperti pada ayat 15 kitapun perlu juga mengimani bahwa TUHAN tidak menutup mata terhadap kejahatan itu. Tuhan itu adil dan benar. Ia tidak akan membiarkan umatNya menerima kejahatan tanpa ada pembalasan dari TUHAN. Hal ini menunjukkan bahwa TUHAN tidak akan membiarkan umatNya mengalami ketidakadilan itu. Ia pasti membalas tiap kejahatan terhadap umat TUHAN.

3.      Pemulihan pasti terjadi. Pada ayat 16-17 janji TUHAN akan memulihkan umat TUHAN. Dengan ini pun kita harus mengimani bahwa TUHAN maha pengampun dan tidak selamanya menghukum umatNya. Ia akan memulihkan setiap pribadi yang mengalami kegagalan hidup karena dosa dan kesalahan. Sudah pasti, dibalik murka TUHAN akan ada pengampunan dari TUHAN. Amin.

















   

Monday, November 12, 2012


 PETUNJUK PELAKSANAAN
PENGADAAN PENGURUS PELAYANAN KATEGORIAL,
PELAYAN PELAYANAN ANAK DAN PELAYAN PERSEKUTUAN TERUNA
PERIODE MAJELIS JEMAAT TAHUN 2012 SAMPAI DENGAN 2017


A.       Pengertian

1.       Pengadaan yang dimaksud pada Petunjuk Pelaksanaan ini, adalah :
a.       proses terbentuknya Pengurus Pelkat, Pelayan PA & Pelayan PT hingga selesai diteguhkan untuk lingkup jemaat; dan
b.       proses terbentuknya Koordinator Pelaksana Program masing-masing Pelkat yang selanjutnya disebut sebagai Koordinator Wilayah Pelkat sesuai kategori atau disingkat menjadi Korwil hingga selesai diperkenalkan untuk lingkup Mupel.

2.       Unit Misioner adalah wadah pembinaan dan pelaksana misi GPIB dalam rangka pembangunan Jemaat secara berkesinambungan yang terdiri dari :
a.       Pelkat (Pelayanan Kategorial)
b.       Komisi
c.        Panitia
d.       Kelompok Kerja
e.       Musyawarah Pelayanan (Mupel)
f.         Kelompok Fungsional – Profesional (KFP)
g.       Unit –unit Usaha Milik Gereja (UUMG)
h.       Yayasan
i.         Departemen
j.         Unit Pembinaan dan Pemberdayaan Masyarakat (UP2M)
k.        Sesuai kebutuhan

3.       Pelkat adalah Unit Misioner GPIB sebagai  wadah pembinaan dan pemberdayaan warga gereja dalam keluarga & masyarakat sesuai kategori agar para anggotanya berperan aktif dalam pengembangan panggilan & pengutusan gereja secara utuh & berkesinambungan dan sebagai pelaksana misi gereja, kepada:
a.       Anak-anak disebut  Pelayanan Anak disingkat PA;
b.       Teruna disebut Persekutuan Teruna disingkat PT;
c.        Pemuda disebut Gerakan Pemuda disingkat GP;
d.       Kaum ibu disebut Persekutuan Kaum Perempuan disingkat PKP;
e.       Kaum bapak disebut Persekutuan Kaum Bapak disingkat PKB;
f.         Kaum lanjut usia disebut Persekutuan Kaum Lanjut Usia disingkat PKLU.

4.       Pengurus Pelkat adalah mereka yang telah melalui semua proses Pengadaan seperti dimaksud pada nomor 1.a huruf A di atas.

5.       Koordinator Wilayah Pelkat sesuai kategori adalah salah satu Badan Pembantu dan Alat Pelaksana dari Badan Pelaksana Mupel sesuai kategori Pelkat yang telah melalui semua proses pengadaan seperti dimaksud bagian Huruf A ini pada nomor 1.a sebagai Pengurus dan 1.b di atas.

6.       Fungsi dan Tugas Pengurus Pelkat sebagai Unit Misioner :
a.       Melaksanakan pembinaan dan pemberdayaan warga gereja secara spesifik sesuai kategori
b.       Memikirkan, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program pembinaan, pelayanan dan kesaksian warga gereja di lingkup Jemaat  / Mupel
c.        Menjadwalkan pembinaan secara periodik  bekerjasama dengan Komisi PPSDI
d.       Mengatur kegiatan melalui koordinasi antar pengurus Pelkat dan Majelis Jemaat
e.       Menyusun program kerja dan anggaran tahunan
f.         Menentukan Koordinator Pelkat secara bergilir untuk melaksanakan kegiatan terpadu

7.       Pemilih adalah mereka yang disebutkan di dalam Pasal 2 Keanggotaan Peraturan Nomor 15 Tentang Pelayanan Kategorial GPIB (khusus PA dan PT adalah pengurus dan pelayan masing-masing PA & PT).


B.      Masa Tugas

1.       Masa tugas Pengurus Pelkat ditetapkan sesuai dengan masa tugas Pelaksana Harian Majelis Jemaat di lingkup Jemaat (2,5 tahun).
2.       Masa tugas pelayan PA dan Pelayan PT  ditetapkan sesuai sesuai dengan masa tugas Majelis Jemaat.
3.       Masa tugas Koordinator Pelaksana Program masing-masing Pelkat disesuaikan dengan Badan Pelaksana Mupel selama masa tugas Majelis Jemaat 2012 – 2017.
4.       Pengadaan pelayan PA dan pelayan PT dapat dilaksanakan setiap tahun sesuai kebutuhan.


C.      Fungsi  Petunjuk Pelaksanaan

1.       Memberikan pedoman bagi Jemaat dalam melakukan proses pengadaan Pengurus Pelkat, Palayan PA dan Pelayan PT di lingkup jemaat.
2.       Memberikan pedoman bagi Mupel dalam melakukan proses pengadaan Koordinator Wilayah sesuai kategori di lingkup Mupel.


D.      Persyaratan Kualitatif
Calon Pengurus Pelkat hendaknya memiliki kemampuan dan semangat membina / memperlengkapi warga gereja sesuai kategori bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus (Efesus 4 : 11-12), agar warga gereja dapat melaksanakan Panggilan dan Pengutusan Gereja.

1.       Tidak angkuh / serakah, bukan pemabuk / pemarah / pemfitnah,
2.       Menjadi teladan,
3.       Bersikap baik, bijak, adil dan saleh,       
4.       Dapat menguasai diri,
5.       Mampu menasihati orang lain (Titus 1:6-9, I Timotius 3:8-13),
6.       Mampu menjaga kewibawan dan rahasia pelayanan,
7.       Tidak berada dalam Penggembalaan khusus oleh Majelis Jemaat,
8.       Memiliki semangat pengabdian yang tinggi, setia dan taat dalam penatalayanan GPIB serta senantiasa menjaga kemurnian ajaran gereja dalam kesetiaan kepada Tuhan Yesus Kristus,
9.       Memiliki wawasan Oikumenis dan Kemasyarakatan yang cukup serta sikap dan kemauan bekerjasama yang positif dan konstruktif,
10.    Mampu melaksanakan Panggilan dan Pengutusan Gereja secara bertanggungjawab.
11.    Sehat Jasmani dan Mental.


E.       Persyaratan Administratif

 

1.       Tentang tempat tinggal, yaitu :
a.       Bertempat tinggal di wilayah pelayanan Jemaat setempat.
b.       Khusus bagi Jemaat dalam kondisi tertentu (kekurangan sumber daya insani), Majelis Jemaat dapat mengambil kebijakan dalam hal pengadaan Pengurus Pelkat, Pelayan PA dan Pelayan PT.
2.       Sekurang-kurangnya sudah 1 (satu) tahun menjadi anggota Sidi Jemaat.
3.       Terdaftar dalam jemaat sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan pada saat pemilihan.
4.       Wajib menunjukkan Surat Sidi Gereja.
5.       Jika sudah menikah wajib menunjukkan Surat Nikah Gereja dan Surat Nikah Catatan Sipil.
6.       Sekurang-kurangnya berijazah Sekolah Menengah Umum / sederajat, kecuali di jemaat tertentu dapat lebih rendah (misalnya : wilayah-wilayah Pelkes, Jemaat Pemekaran Pelkes atau dalam kondisi keterbatasan sumber daya dan atas pertimbangan dari Majelis Jemaat).
7.       Bukan Isteri atau Suami Pendeta yang ditempatkan di jemaat setempat kecuali Janda / Duda Pendeta.
8.       Bukan Pegawai atau Tenaga Honorer GPIB di jemaat yang bersangkutan.
9.       Mengikuti semua materi pembinaan bagi Pengurus Pelkat dan Pelayan PA/PT terpilih.
10.    Pelayan PA dan Pelayan PT adalah Warga Sidi Jemaat.
11.    Khusus Pelayan PT berusia minimal 5 (lima) tahun di atas anak layan (diatas 17 tahun).
12.    Menandatangani Surat Pernyataan Kesediaan dan Loyalitas.
13.    Pengurus Pelkat hanya diperkenankan menjabat 2 (dua) periode berturut-turut dalam rangka proses kaderisasi.


Persyaratan Ketua PELKAT
1.       Pernah menjadi pengurus salah satu pelkat dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan pelkat di jemaat.
2.       Khusus untuk Pelkat PKLU dikecualikan dari persyaratan butir 1 dan berusia minimal 60 tahun.
3.    Memiliki wawasan kepemimpinan missioner dan kemampuan managerial.
4.    Mampu memahami dan menerjemahkan PKUPPG GPIB ke dalam program kerja dan tindakan nyata.


F.       Organisasi Kepengurusan di Lingkup Jemaat

1.    Setiap Pelkat sekurang-kurangnya terdiri dari tiga orang yaitu masing – masing sebagai Ketua, Sekretaris dan Bendahara.
2.    Apabila dibutuhkan, maka pengembangan organisasi kepengurusan masing-masing Pelkat dapat menjadi :
·         Ketua
·         Wakil Ketua
·         Sekretaris
·         Wakil Sekretaris
·         Bendahara
·         Koordinator Bidang
-         PA : Spiritual dan Sosial.
-         PT : Spiritual, Sosial dan Kreatif
-         GP : Spiritual, Sosial dan Pengkaderan
-         PKP : Kegerejaan, Kekeluargaan, Kewirausahaan, Kemasyarakatan
-         PKB : Kegerejaan, Kekeluargaan, Kewirausahaan, Kemasyarakatan
-         PKLU : Spiritual, Relasi Sosis-Emosional.
·         Koordinator Sektor
3.    Selain dari pada angka 2 di atas, Jemaat dapat melakukan penyesuaian organisasi kepengurusan masing-masing Pelkat sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan Jemaat khususnya Pelkat yang bersangkutan.


G.      Mekanisme dan Jadwal Pengadaan di Lingkup Jemaat

Prosedur Pemilihan :
1.       Penanggungjawab pemilihan adalah Majelis Jemaat dalam hal ini Ketua III PHMJ.
2.       Majelis Jemaat berkoordinasi dengan Pengurus Pelkat untuk menunjuk dan menetapkan pelaksana pemilihan / panitia yang terdiri dari unsur Pengurus Pelkat yang tidak dapat dipilih kembali, Diaken dan Penatua berikut dengan tugas dan tanggung jawabnya.
3.       Pelaksana pemilihan / panitia tidak dapat memilih dan dipilih.
4.       Pemilihan dapat dilakukan dengan cara :
a.    Pertemuan anggota Pelkat yang bersangkutan mulai dari masing-masing sektor pelayanan jemaat untuk memilih bakal calon, yang kemudian akan dipilih kembali sebagai calon pengurus secara terpusat,
b.    Apabila point (a.) di atas sudah dilaksanakan tetapi belum menghasilkan pengurus, maka pelaksana pemilihan bersama Majelis Jemaat mengadakan pendekatan kepada masing-masing anggota Pelkat  yang potensial untuk dicalonkan sebagai pengurus,
c.     Khusus PA dan PT, calon pengurus dipilih diantara para Pelayan.


Pelaksanaan Pemilihan adalah sebagai berikut :
1.       Pemilihan dilakukan dengan diawali kebaktian dan pengarahan tentang pelaksanaan pemilihan oleh Majelis Jemaat,
2.       Pemilihan dilakukan dalam  3 tahap :
a.    Tahap kesediaan calon,
b.    Tahap pencalonan,
c.     Tahap pemilihan,
3.       Pada pemilihan dengan cara pertemuan anggota Pelkat yang bersangkutan, maka :
a.    Pertemuan memilih bakal calon pengurus dari setiap sektor,
b.    Dari hasil pemilihan point 3.a., dipilih Calon Pengurus sesuai struktur yang telah ditetapkan,
c.     Hasil pemilihan point 3.b, disampaikan kepada Majelis Jemaat untuk ditetapkan,
4.       Nama-nama calon Pengurus Pelkat terpilih, Pelayan PA dan Pelayan PT diumumkan di Warta Jemaat selama 2 (dua) minggu berturut-turut.


H.      Pembinaan

Semua calon Pengurus Pelkat, Pelayan PA dan Pelayan PT terpilih wajib mengikuti pembinaan sebelum diteguhkan. Ada 6 materi bina yang akan dikirim tersendiri untuk dipakai dalam pembinaan.

Materi Bina :
Ada 6 materi bina yang akan dikirim tersendiri untuk dipakai dalam pembinaan.

Tenaga Bina
1.       Majelis Sinode
2.       Dewan Pelkat
3.       Tenaga Bina yang ada di jemaat / mupel setempat (pendeta, penatua, diaken) termasuk di dalamnya para Tenaga Bina GP GPIB pada wilayah setempat, sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, dengan menggunakan materi bina di atas dan dipelajari terlebih dahulu.


I.         Peneguhan

1.       Peneguhan Pengurus Pelkat terpilih, Pelayan PA dan Pelayan PT dilakukan dalam salah satu Ibadah Minggu Jemaat.
2.       Pelaksanaan peneguhan selambat-lambatnya akhir Februari 2013.
3.       Setelah diteguhkan, Pengurus hendaknya terus membekali diri dengan mengikuti pembinaan-pembinaan di kategorinya masing-masing.


J.       Koordinator Wilayah Mupel
1.       BP Mupel mengangkat Korwil Pelkat sesuai kategori guna menunjang kegiatan kebersamaan di tingkat wilayah.
2.       Korwil Pelkat sesuai kategori diperkenalkan di dalam Ibadah Minggu di salah satu jemaat dalam wilayah Mupel.


K.      Pergantian Antar Waktu

Apabila ada Pengurus Pelkat tidak aktif 6 (enam) bulan secara berturut-turut tanpa alasan yang dapat diterima, Pengurus Pelkat yang bersangkutan dapat memberitahukan Majelis Jemaat untuk mengadakan pendekatan khusus dan melakukan pergantian antar waktu dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.


L.       Penutup

1.       Petunjuk Pelaksanaan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
2.       Dengan ditetapkannya Petunjuk Pelaksanaan ini, maka semua Petunjuk Pelaksanaan mengenai Pengadaan Pengurus Pelkat, Pelayan PA dan Pelayan PT sebelumnya tidak berlaku lagi.

Ditetapkan di        : Jakarta
Pada tanggal        : 9 Oktober 2012
------------------------------------------------
                                                     MAJELIS SINODE GPIB


Pendeta Rudy I. Ririhena                                                  Penatua Johan Tumanduk
Ketua III                                                                                 Sekretaris II

GALATIA 2:15-21

GALATIA 2:15-21 BAHAN KHOTBAH IBADAH HARI MINGGU 27 APRIL 2025   PENDAHULUAN Jika kita membaca surat Paulus kepada jumat Galatia i...