SURAT KECIL UNTUK PELAYAN YANG MULAI LELAH DAN REDUP
“Tuhan, cukup ya… saya lelah.” (1 Raja-raja 19:1–18)
Ada masa ketika seorang pelayan Tuhan tidak lagi bertanya:
“Tuhan, apa yang dapat aku lakukan bagi-Mu?”
“Tuhan, apa yang dapat aku lakukan bagi-Mu?”
Melainkan diam-diam bertanya:
“Tuhan… sampai kapan saya harus terus kuat?”
“Tuhan… sampai kapan saya harus terus kuat?”
Ada masa ketika kaki masih berjalan ke tempat pelayanan, mulut masih menyampaikan firman, tangan masih mengerjakan tanggung jawab, senyum masih diberikan kepada jemaat, dan kita masih mampu menguatkan orang lain.
Tetapi jauh di dalam hati, ada sesuatu yang mulai redup. Bukan karena kita tidak mengasihi Tuhan.
Bukan karena kita tidak mencintai pelayanan. Bukan karena kita ingin meninggalkan panggilan.
Kita hanya… lelah….
Bukan karena kita tidak mencintai pelayanan. Bukan karena kita ingin meninggalkan panggilan.
Kita hanya… lelah….
Ijinkan aku berbagi pengharapan melalui “Surat Kecil” untukmu.
————
————
KITA BISA MENGASIHI PELAYANAN DAN SEKALIGUS MERASA LELAH
Ada orang-orang yang begitu terbiasa menjadi kuat bagi orang lain, sampai mereka sendiri lupa bagaimana caranya berkata:
“Saya sedang tidak kuat.”
“Saya sedang tidak kuat.”
Kita mendengarkan keluhan orang.
Kita mendoakan mereka.
Kita menguatkan yang kecewa.
Kita menemani yang berduka.
Kita meneguhkan yang hampir menyerah.
Kita menemani yang berduka.
Kita meneguhkan yang hampir menyerah.
Tetapi ketika malam tiba dan semua orang pulang, kita berhadapan dengan diri sendiri.
Dan kadang hanya ada satu doa yang mampu keluar:
“Tuhan, saya lelah.”
Dan kadang hanya ada satu doa yang mampu keluar:
“Tuhan, saya lelah.”
Jangan buru-buru merasa bersalah karena doa itu.
Elia juga pernah sampai di sana.
Setelah mengalami pelayanan yang luar biasa di Gunung Karmel, Elia justru jatuh dalam kelelahan yang sangat dalam.
Elia juga pernah sampai di sana.
Setelah mengalami pelayanan yang luar biasa di Gunung Karmel, Elia justru jatuh dalam kelelahan yang sangat dalam.
Ia pergi.
Ia duduk seorang diri.
Ia bahkan meminta supaya nyawanya diambil.
Ia duduk seorang diri.
Ia bahkan meminta supaya nyawanya diambil.
Dan menariknya, Tuhan tidak langsung berkata:
“Elia, mengapa imanmu kecil?”
“Elia, mengapa imanmu kecil?”
Tuhan tidak mempermalukannya. Tuhan tidak mengatakan:
“Kamu seorang nabi. Kamu tidak boleh lemah.”
“Kamu seorang nabi. Kamu tidak boleh lemah.”
Tuhan justru membiarkan Elia tidur.
Kemudian Tuhan menyediakan makanan dan air. Seolah-olah Tuhan berkata:
“Anak-Ku, engkau terlalu lelah. Beristirahatlah dahulu.”
Kemudian Tuhan menyediakan makanan dan air. Seolah-olah Tuhan berkata:
“Anak-Ku, engkau terlalu lelah. Beristirahatlah dahulu.”
——————
KADANG KITA TERLALU BANYAK MENGISI RUANG
Ada begitu banyak ruang yang membutuhkan kita.
Ada jemaat yang membutuhkan perhatian.
Ada program yang harus dikerjakan.
Ada daerah yang perlu dijangkau.
Ada orang yang harus dikuatkan.
Ada pelayanan yang harus dikembangkan.
Ada keluarga yang harus diperhatikan.
Ada kebutuhan hidup yang harus dipikirkan.
Ada anak yang harus disekolahkan.
Ada rumah yang harus dihidupi.
Ada jemaat yang membutuhkan perhatian.
Ada program yang harus dikerjakan.
Ada daerah yang perlu dijangkau.
Ada orang yang harus dikuatkan.
Ada pelayanan yang harus dikembangkan.
Ada keluarga yang harus diperhatikan.
Ada kebutuhan hidup yang harus dipikirkan.
Ada anak yang harus disekolahkan.
Ada rumah yang harus dihidupi.
Ada begitu banyak hal yang membuat kita berkata:
“Kalau bukan saya, siapa?”
“Kalau bukan saya, siapa?”
Lalu kita mengambil satu tugas.
Kemudian satu lagi.
Kemudian satu lagi.
Kemudian satu lagi.
Kemudian satu lagi.
Dan masih satu lagi...
Sampai suatu hari kita sadar:
Ternyata terlalu banyak ruang yang kita isi.
Dan kita mulai kehilangan ruang untuk bernapas.
Kita mulai kehilangan ruang untuk diam.
Kita mulai kehilangan ruang untuk Tuhan.
Bahkan mungkin kehilangan ruang untuk diri sendiri.
—————
“SAYANG KALAU BERHENTI…”
Ada satu jebakan yang sangat halus dalam pelayanan.
Kita melihat perjalanan panjang yang sudah kita tempuh.
Waktu yang sudah diberikan.
Tenaga yang sudah dicurahkan.
Air mata yang pernah jatuh.
Orang-orang yang pernah kita layani.
Program yang sudah dibangun.
Jembatan yang sudah kita buat.
Kita melihat perjalanan panjang yang sudah kita tempuh.
Waktu yang sudah diberikan.
Tenaga yang sudah dicurahkan.
Air mata yang pernah jatuh.
Orang-orang yang pernah kita layani.
Program yang sudah dibangun.
Jembatan yang sudah kita buat.
Lalu kita berpikir:
“Sayang kalau saya berhenti sekarang.”
“Sayang kalau saya berhenti sekarang.”
Dan memang benar.
Waktu tidak dapat diputar kembali.
Waktu tidak dapat diputar kembali.
Tetapi ada sesuatu yang juga perlu kita ingat:
Tidak semua yang pernah kita mulai harus kita teruskan sampai akhir.
Ada sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita untuk dikerjakan.
Ada sesuatu yang mungkin Tuhan percayakan kepada orang lain.
Dan ada sesuatu yang mungkin harus kita lepaskan agar kita tetap mampu mengerjakan yang benar-benar Tuhan percayakan kepada kita.
Melepaskan bukan selalu berarti menyerah. Kadang melepaskan adalah bentuk ketaatan.
Ada sesuatu yang mungkin Tuhan percayakan kepada orang lain.
Dan ada sesuatu yang mungkin harus kita lepaskan agar kita tetap mampu mengerjakan yang benar-benar Tuhan percayakan kepada kita.
Melepaskan bukan selalu berarti menyerah. Kadang melepaskan adalah bentuk ketaatan.
——————
“TUHAN, APALAGI YANG ENGKAU INGINKAN?”
Saya kira ini adalah pertanyaan yang sangat indah dari seorang pelayan:
“Tuhan, apalagi yang ENGKAU ingini untuk aku lakukan?”
“Tuhan, apalagi yang ENGKAU ingini untuk aku lakukan?”
Tetapi setelah bertahun-tahun berjalan, mungkin kita perlu belajar mengajukan pertanyaan yang berbeda: “Tuhan, dari semua yang ada di depan saya, mana yang benar-benar Engkau percayakan kepada saya?”
Karena Tuhan tidak pernah berkata bahwa kita harus mengerjakan semuanya.
Kita bukan Juruselamat.
Kita hanya pelayan. Dan seorang pelayan tidak harus menyelesaikan seluruh pekerjaan Tuhan.
Ia hanya perlu setia pada bagian yang dipercayakan kepadanya.
Kita hanya pelayan. Dan seorang pelayan tidak harus menyelesaikan seluruh pekerjaan Tuhan.
Ia hanya perlu setia pada bagian yang dipercayakan kepadanya.
———————
PELAYAN JUGA BOLEH BERKATA: “CUKUP YA, TUHAN…”
Ada kalanya doa seorang pelayan bukan:
“Tuhan, berikan aku kekuatan untuk melakukan lebih banyak.”
“Tuhan, berikan aku kekuatan untuk melakukan lebih banyak.”
Tetapi:
“Tuhan, cukup ya… saya lelah.”
“Tuhan, cukup ya… saya lelah.”
Saya percaya Tuhan tidak tersinggung oleh doa seperti itu.
Sebab Tuhan mengenal tubuh kita.
Ia tahu batas kita.
Ia tahu pikiran kita.
Ia tahu tanggung jawab kita.
Ia tahu pergumulan yang bahkan tidak sanggup kita ceritakan kepada siapa pun.
Ia tahu batas kita.
Ia tahu pikiran kita.
Ia tahu tanggung jawab kita.
Ia tahu pergumulan yang bahkan tidak sanggup kita ceritakan kepada siapa pun.
Dan mungkin ketika kita berkata:
“Tuhan, saya sudah tidak sanggup,”
Sangat mungkin Tuhan tidak sedang mencari alasan untuk menegur kita. Mungkin Ia sedang mengundang kita untuk berhenti sejenak dan berkata:
“Sekarang biarkan Aku yang menopangmu.”
“Sekarang biarkan Aku yang menopangmu.”
——————
KITA PANDAI MENGUATKAN ORANG LAIN, TETAPI…
Ini mungkin salah satu pergumulan paling sunyi dalam kehidupan seorang pelayan.
Kita tahu kata-kata yang tepat untuk orang lain.
Kita tahu ayat yang harus diberikan kepada orang yang sedang menangis.
Kita tahu bagaimana meneguhkan orang yang hampir menyerah.
Kita tahu bagaimana mengatakan:
“Tuhan pasti menolong.”
Kita tahu kata-kata yang tepat untuk orang lain.
Kita tahu ayat yang harus diberikan kepada orang yang sedang menangis.
Kita tahu bagaimana meneguhkan orang yang hampir menyerah.
Kita tahu bagaimana mengatakan:
“Tuhan pasti menolong.”
Tetapi ketika kita sendiri berada di titik yang sama… “kata-kata itu terasa begitu sulit kita percayai.”
Bukan karena kita tidak beriman. Tetapi karena kita manusia. Dan mungkin Tuhan sedang mengajarkan sesuatu:
Bukan karena kita tidak beriman. Tetapi karena kita manusia. Dan mungkin Tuhan sedang mengajarkan sesuatu:
Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi penolong.
Kita juga dipanggil untuk menerima pertolongan.
Kita tidak hanya dipanggil untuk menguatkan.
Kita juga boleh dikuatkan.
Kita tidak selalu harus menjadi gembala yang berdiri.
Kadang gembala juga perlu duduk.
Kadang gembala juga perlu menangis.
Kadang gembala juga perlu berkata:
“Tuhan, tolong saya.”
Kita juga dipanggil untuk menerima pertolongan.
Kita tidak hanya dipanggil untuk menguatkan.
Kita juga boleh dikuatkan.
Kita tidak selalu harus menjadi gembala yang berdiri.
Kadang gembala juga perlu duduk.
Kadang gembala juga perlu menangis.
Kadang gembala juga perlu berkata:
“Tuhan, tolong saya.”
———————
KESETIAAN TIDAK SAMA DENGAN MELAKUKAN SEMUANYA
Mungkin selama ini kita tanpa sadar mengukur kesetiaan dengan jumlah pekerjaan.
Semakin banyak yang kita lakukan, semakin setia kita merasa.
Semakin banyak yang kita lakukan, semakin setia kita merasa.
Semakin sibuk kita, semakin merasa berguna.
Semakin banyak orang yang kita layani, semakin merasa bahwa hidup kita berarti.
Padahal Tuhan mungkin tidak sedang menghitung kesibukan kita.
Tuhan sedang melihat kesetiaan hati kita.
Tuhan sedang melihat kesetiaan hati kita.
Ada pekerjaan besar yang terlihat manusia.
Ada perkara kecil yang hampir tidak dilihat siapa pun.
Tetapi keduanya dapat menjadi berharga di hadapan Tuhan ketika dilakukan dengan kasih dan kesetiaan.
Karena itu:
Aku tidak harus melakukan semuanya untuk membuktikan bahwa aku setia.
Aku hanya perlu setia pada apa yang Tuhan percayakan kepadaku hari ini.
Aku tidak harus melakukan semuanya untuk membuktikan bahwa aku setia.
Aku hanya perlu setia pada apa yang Tuhan percayakan kepadaku hari ini.
———————
PERKARA KECIL JUGA DILIHAT TUHAN
Mungkin ada pelayanan yang tidak pernah masuk berita.
Tidak ada foto.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada yang mengetahui bahwa malam itu kita menangis sebelum tidur karena memikirkan seseorang yang kita layani.
Tidak ada yang tahu berapa banyak keputusan sulit yang harus kita buat.
Tidak ada yang tahu berapa kali kita ingin berhenti tetapi tetap datang.
Tidak ada foto.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada yang mengetahui bahwa malam itu kita menangis sebelum tidur karena memikirkan seseorang yang kita layani.
Tidak ada yang tahu berapa banyak keputusan sulit yang harus kita buat.
Tidak ada yang tahu berapa kali kita ingin berhenti tetapi tetap datang.
Tetapi Tuhan tahu.....
Dan mungkin suatu hari kita akan mengerti:
Ternyata tidak ada kesetiaan yang sia-sia di hadapan Tuhan.
Bahkan perkara kecil.
Bahkan pelayanan yang tidak terlihat.
Bahkan doa yang hanya terdiri dari satu kalimat.
Bahkan air mata yang jatuh diam-diam.
Semuanya ada dalam pengetahuan-Nya.
——————
MUNGKIN YANG HARUS KITA TANYAKAN BUKAN “APA LAGI?”
Ketika kita lelah, jangan selalu menambahkan pertanyaan:
“Apa lagi yang harus saya kerjakan?”
“Apa lagi yang harus saya kerjakan?”
Cobalah bertanya:
“Apa yang harus saya pegang?”
“Apa yang harus saya lepaskan?”
“Apa yang harus saya delegasikan?”
“Apa yang harus saya tunda?”
“Apa yang harus saya serahkan kepada Tuhan?”
“Apa yang harus saya pegang?”
“Apa yang harus saya lepaskan?”
“Apa yang harus saya delegasikan?”
“Apa yang harus saya tunda?”
“Apa yang harus saya serahkan kepada Tuhan?”
Sebab hidup pelayanan bukan perlombaan untuk memenuhi semua ruang.
Kadang pelayanan yang sehat justru membutuhkan keberanian untuk berkata:
“Ini bukan bagian saya.”
Kadang pelayanan yang sehat justru membutuhkan keberanian untuk berkata:
“Ini bukan bagian saya.”
Dan itu bukan egoisme.
Itu mungkin adalah hikmat.
——————
UNTUK SAUDARAKU YANG SEDANG REDUP
Kalau engkau sedang membaca surat kecil ini dan merasa lelah…
Saya tidak ingin mengatakan:
“Ayo, semangat! Jangan menyerah!”
Saya tidak ingin mengatakan:
“Ayo, semangat! Jangan menyerah!”
Mungkin engkau sudah terlalu sering mendengar itu.
Saya hanya ingin berkata:
Berhentilah sebentar. Tarik napas.
Datanglah kepada Tuhan tanpa harus terlihat kuat.
Katakan kepada-Nya apa adanya:
“Tuhan, saya masih mengasihi-Mu.
Saya masih ingin melayani-Mu.
Saya tidak ingin meninggalkan panggilan ini.
Tetapi saya lelah.
Saya benar-benar lelah.”
Tidak perlu memperindah doa itu. Tuhan sudah mengetahui semuanya. Dan jika hari ini engkau hanya mampu mengerjakan satu perkara kecil dengan setia…
biarlah itu cukup.
Besok mungkin Tuhan memberi kekuatan untuk perkara yang lebih besar.
Tetapi hari ini— cukup untuk setia saja…
——————
DAN SURAT INI SEBENARNYA JUGA UNTUK DIRIKU SENDIRI
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk menguatkan orang lain.
Terlalu sibuk mencari jalan.
Terlalu sibuk mengisi ruang.
Terlalu sibuk memikirkan apa yang masih bisa dikerjakan.
Terlalu sibuk mencari jalan.
Terlalu sibuk mengisi ruang.
Terlalu sibuk memikirkan apa yang masih bisa dikerjakan.
Sampai lupa bertanya:
“Bagaimana kabarku sendiri?”
“Bagaimana kabarku sendiri?”
Mungkin aku perlu belajar bahwa berhenti sebentar bukan berarti berhenti dari panggilan.
Mungkin aku perlu belajar bahwa meminta pertolongan bukan tanda kelemahan.
Mungkin aku perlu belajar bahwa tidak semua masalah harus kuselesaikan.
Mungkin aku perlu belajar bahwa tidak semua pintu harus kumasuki.
Dan mungkin aku perlu belajar mengatakan kepada Tuhan:
“Tuhan, saya tidak ingin berhenti setia.
Tetapi saya juga tidak sanggup terus seperti ini.”
Maka Tuhan…
tunjukkan kepadaku mana yang harus kupegang,
mana yang harus kulepaskan,
mana yang harus kuserahkan kepada orang lain, dan
mana yang harus kuserahkan sepenuhnya kepada-Mu.
——————
Untukmu, saudaraku sesama pelayan:
Kalau hari ini engkau sedang lelah, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa engkau sudah kehilangan panggilan. Mungkin engkau hanya membutuhkan istirahat.
Kalau apimu sedang redup, jangan buru-buru mengira bahwa Tuhan telah meninggalkanmu.
Mungkin Tuhan sedang mendekat untuk menyalakannya kembali.
Mungkin Tuhan sedang mendekat untuk menyalakannya kembali.
Dan kalau hari ini engkau hanya mampu melakukan sedikit…
jangan hina kesetiaan kecil itu.
jangan hina kesetiaan kecil itu.
Sebab kita tidak dipanggil untuk menjadi hebat di mata manusia.
Kita dipanggil untuk setia di hadapan Tuhan.
Kita dipanggil untuk setia di hadapan Tuhan.
Kutipan ini mungkin dapat menguatkanmu:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” — Matius 25:21
Tetaplah setia.
Tetapi jangan merasa harus selalu kuat.
Tuhan yang memanggilmu adalah Tuhan yang juga sanggup menopangmu.
Tuhan Yesus memberkati.
Tetapi jangan merasa harus selalu kuat.
Tuhan yang memanggilmu adalah Tuhan yang juga sanggup menopangmu.
Tuhan Yesus memberkati.
I Nyoman Djepun
