Wednesday, September 28, 2011

IA MAKIN BESAR DAN AKU MAKIN KECIL (seri: Bangkitlah Pemuda bagian 3)


Pnt S. Edi Widodo
Yohanes 3:30 "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil".

Banyak hal yang bisa di ambil dari Kisah Pelayanan Yohanes. Saudara...mungkin saat ini engkau berkata siapa aku ini, aku tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, prestasi tidak aku miliki, aku hanya memiliki segudang kenakalan, setumpuk ocehan, pengangguran tingkat tinggi dan merasa KECIL dibandingkan dengan orang lain; atau sebagai pelayan saudara berkata susah mengajak Si “A” mungkin karena saya pelayan KECIL hanya Pendeta saja yang bisa menjangkau, Mari tinggalkan pikiran itu, sejenak mari kita merenungkan kata KECIL.

Yohanes boleh di bilang orang yang besar tapi ia merasa sebagai orang yang kecil, menarik bukan ?
Meski Yohanes sangat dielu-elukan sebagai nabi yang besar, tetapi ia tetap rendah hati. Hal ini terlihat karena Yohanes :
1.      Mengenal dirinya sebagai hamba Allah yang diutus. Ia hanya sebagai sahabat Yesus.
2.      Mengenal tugasnya. Ia hanya sebagai saksi bagi Mesias yang akan datang.
3.      Tidak iri hati dan gila hormat.
4.      Sungguh mengerti kedaulatan Allah.
5.      Dengan tulus hati dan dengan hati yang beribadah turut bersukacita dan memuliakan Yesus.

Dalam suatu tugas pelayanannya Yesus yang Besar menyeka kaki para murid, istilah management sekarang Servant Leadership. Ini berarti seorang leader dimulai dari diri menjadi seorang pelayan. Pernyataan Yohanes dalam pasal 3:30 hal ini menunjukkan siapa dirinya dan sejauh mana ia mengenal dirinya. Yohanes betul-betul tahu siapa dirinya sendiri. Firman Tuhan dalam Matius
23:11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

Yang di katakan Orang Besar adalah :
1.      Orang besar itu tahu bahwa ada orang lebih besar dari dirinya. Makanya dia sanggup mengucapkan hal-hal besar.
2.      Orang besar itu tidak hanya omong besar tetapi dia telah mewujudkannya dalam karya yang besar. Sebaliknya,orang yang berjiwa kecil dan kerdil suka membesar-besarkan masalah.

Yohanes 3:27 Jawab Yohanes: "Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.”  Ayat ini menyatakan bahwa apa yang ada pada kita, apapun itu, semunya dikarunikan dari sorga. Kalimat Yohanes ini menyadarkan kita bahwa kalau kita menjadi orang besar,orang sukses itu adalah karunia Tuhan.

Yohanes 3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Garis bawahi kata “diutus”. Yohanes tahu bahwa dia hanyalah utusan. Dan sebagai utusan dia hanya menjalankan tugasnya sebagai utusan.

Yohanes 3:29 “Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.” Yohanes hendak mengandaikan bahwa dirinya seorang mempelai perempuan yang tugasnya hanya melayani. Sebagai pelayan pun dia bersukacita dan melayani dengan sepenuh hati.

Posisi Yohanes Pembabtis dengan Yesus bisa sebagai senior dan yunior. Senior karena secara lama pelayanan Yohanes jauh lebih dalu dari Yesus. Tetapi secara otoritas, dia sadar bahwa Yesus adalah Tuhannya, seniornya, dan jauh lebih berotoritas.
Nampaklah adanya hubungan yang indah antara senior dan yunior dalam relasi ini. Dikatakan indah karena didalamnya ada pengenalan diri yang jelas, tahu diri, merendahkan diri, dan memberi diri.

Banyak pemimpin tahu bagaimana memulai awal yang baik tetapi tidak bisa mengakhiri dengan baik. Ini perlu diketahui, supaya kita tidak sombong dan memegahkan diri tetapi nama Tuhan saja yang dimuliakan.

Mengapa Yohanes bisa berkata seperti dalam bacaan kita? Kuncinya hanya satu: “Kerendahan hati”. Dengan kerendahan hatinya dia tidak tergoda untuk sombong, tidak tergoda mencari kemuliaan dan popularitas dirinya.

Jadi sekarang jelaslah bahwa :
1.      Perkataan saudara kalau di ajak untuk terlibat dalam pelayanan dan berkata “saya hanya “ORANG KECIL”, bagian saya bersih bersih saja, saya jaga parkir saja, saya jaga keamanan saja, jangan saya yang di depan”; justru tanpa saudara sadari itulah perkataan orang yang berjiwa besar.
2.      Perkataan para pelayan “Hanya Pendeta saja yang bisa menjangkau” hal ini tidak akan terjadi kalau saat melayani saudara mengedepankan Yesus.
Di hadapan Tuhan semua orang sama saja, yaitu sama kecilnya sebab hanya TUHAN YANG BESAR.
Mari kita berdoa :
DARAH KRISTUS SUCIKANKU, DARAH KRISTUS UBAH HIDUPKU, DARAH KRISTUS BUKA PIKIRANKU, DARAH KRISTUS BUKA LEMBARAN BARU, DARAH KRISTUS BUKA MASA DEPANKU, DARAH KRISTUS BUKA KEBERUNTUNGANKU, Amin

Friday, September 2, 2011

MATERI KHOTBAH MINGGU 4 SEPTEMBER 2011


MATERI KHOTBAH MINGGU 4 SEPTEMBER 2011
AMSAL 1:1-7

Menjadi Pribadi Yang Takut Akan Tuhan

Jemaat Kekasih Kristus…
Pada umumnya, orang berusaha mencari cara untuk mengembangkan pola kehidupan, usaha, ataupun karir; sehingga muncul berbagai teori yang berkaitan dengan eksplorasi kemampuan diri sebagai sumber kesuksesan. Misalnya, ada teori yang menjelaskan bahwa intelektual seseorang merupakan kunci keberhasilan hidupnya. Namun, terdapat pula teori yang menyanggah dan mengajarkan bahwa intelektual saja tidaklah cukup, perlu pengelolaan emosi, agar seseorang mencapai sebuah kesuksesan. Akhirnya, muncul teori lain yang berpendapat bahwa keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh kemampuan dirinya dalam mengatasi masalah dan kekuatan spiritualitasnya. 

Dari perspektif Alkitab, semua teori tersebut bukanlah hal baru, sebab Salomo telah banyak berbicara tentang pengetahuan atau intelektualitas, kemampuan mengelola emosi atau permasalahan yang terkait dengan pertumbuhan hikmat seseorang, yang harus dimulai dari kehidupan yang takut akan Allah. Sebagai orang yang percaya pada Kristus, kita tidak perlu merasa kuatir dan bingung tentang berbagai teori yang muncul sebagai usaha orang untuk mencapai kesuksesan. Kita mungkin dapat mempelajari teori-teori itu sebagai bagian dari wahyu umum, tetapi, kita harus kembali kepada firman Allah yang menjadi tolok ukur setiap pandangan dan sikap kehidupan kita. 

Kitab Amsal merupakan kitab yang dapat memberikan pencerahan bagi orang percaya dalam memahami kehidupan yang berhasil dari perspektif Allah, sehingga orang percaya dapat mengembangkan dirinya sesuai natur yang telah Allah berikan. Karena itu, pembukaan kitab Amsal memaparkan berbagai kegunaan kitab ini dalam kehidupan kita. Pelajari kitab Amsal dan mulailah hidup takut akan Allah, sehingga intelektual kita akan diisi dengan pengetahuan darinya; hati kita akan dituntun olehnya, dan kita juga akan bertumbuh dalam spiritualitas yang benar di hadapan-Nya.

Jemaat Kekasih Kristus
Amsal pasal 1 merupakan Amsal pembuka dari keseluruhan isi kitab. Yang menarik, pembukaan Amsal ini dimulai dengan segala hal berkaitan dengan didikan, pengetahuan agar mencapai keberhasilan hidup. Seolah Amsal 1:1-7 menjadi pemberitahuan kepada para pembaca tentang maksud kitab Amsal ini ditulis. Ada tiga kata dalam Amsal 1:1-7 yang saling berhubungan antara pengetahuan, hikmat dan didikan. Penulis Amsal menjelaskan bahwa didikan akan membuat orang menjadi pandai, kebenaran, bersikap adil dan jujur (ay. 3). Didikan juga akan membuat orang memiliki kecerdasan dan mendapatkan pengetahuan yang baik (ay. 4). Apabila kita membaca ayat-ayat ini, terlihat jelas bahwa penulis Amsal pun menganggap sebuah pendidikan itu sangat penting. Pendidikan akan meningkatkan kualitas hidup manusia dan pengetahuan akan membawa pada keberhasilan.

Masalahnya, apakah pendidikan yang dilukiskan penulis Amsal diletakkan sebagai hasil akhir atau pada score si pelajar? Mari kita perhatikan kata "hikmat." Kata "hikmat' berasal dari istilah Ibrani chokmah (baca= hokmah) yang secara umum diterjemahkan sebagai "kepandaian, kecerdasan dan kebijaksaan." Pada zaman sebelum pembuangan orang Israel menggunakan kata chokmah untuk menunjuk pada pengetahuan teknis dan praktis. Sedangkan pasca pembuangan, kata ini menyangkut makna etis dan moral. Selain itu pengertian chokmah menyangkut pula kemampuan seseorang yang membedakan baik dan jahat (1 Raja 3: 9); alat ukur untuk membedakan tersebut adalah undang-undang Tuhan (Ul. 4:5-6; 1 Taw. 22:1-2; Ayub 28:28). Dengan pengertian ini, kita dapat memahami bahwa kitab Amsal ditulis bukan hanya untuk mendidik orang agar memperoleh kepandaian yang bersifat teknis dan praktis. Pendidikan ini pun menyangkut pendidikan moral yang bersifat religius atau keagamaan bahkan keimanan.

Berikutnya penulis Amsal memberikan langkah pertama bagi orang yang ingin mendapatkan hikmat, yaitu takut akan Tuhan. Seolah menulis Amsal ingin mengungkapkan bahwa takut akan Tuhan akan menjiwai seluruh pendidikan yang mereka tempuh. Apa artinya takut akan Tuhan? Takut akan Tuhan berhubungan dengan pelaksanaan perintah Tuhan dalam seluruh hidup si pelajar. Takut akan Tuhan juga merupakan sikap hormat dan tunduk pada kuasa Tuhan. Takut akan Tuhan juga berarti proses pembelajaran hidup dari apa yang sudah ditunjukkan atau diajarkan Tuhan. Takut akan Tuhan tidak persis sama dengan rasa takut terhadap orang jahat, tidak sama juga dengan rasa takut seorang anak terhadap kisah2 film horor atau sejenisnya. Yang dimaksud oleh Amsal, rasa takut kepada Tuhan itu seperti sence of wonder (rasa takjub) atau takut yang penuh ketakjuban atas kuasa dan ke-Maha-an Allah dalam hidup orang percaya sehingga muncul keinginan untuk tunduk dan patuh kepadaNya.

Jemaat Tuhan…
Takut akan Tuhan bukanlah bentuk yang negatif seperti berbagai rasa takut atau phobia yang disebutkan tadi. Takut akan Tuhan bukanlah seperti itu. Takut akan Tuhan akan dengan sendirinya menjadi jelas jika kita mengenal siapa dan seperti apa Tuhan itu. Takut akan Tuhan berbicara mengenai kekuatan, kebesaran, kemuliaan, ororitas dan kekudusan Tuhan. Takut akan Tuhan itu positif, menggambarkan sebuah bentuk ketakutan yang sehat. Menerapkan takut akan Tuhan berarti kita menghormati Tuhan, patuh dan taat kepada perintahNya, tunduk secara total, berpegang kepadaNya dan percaya penuh kepadaNya. Mengenali Tuhan sebagai Allah yang absolut, dan memuliakanNya dengan segala yang kita lakukan. Takut akan Tuhan bukan berarti karena kita takut masuk neraka, takut dihukum karena berdosa, tapi karena kita takut mengecewakan Tuhan.Takut akan Tuhan akan membawa kita terus semakin dekat pada Tuhan, dan bukan sebaliknya menjauh dariNya. 

Salomo mengingatkan "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10). Takut akan Tuhan juga dikatakan merupakan permulaan pengetahuan. (1:7). Dalam Kitab Pengkotbah, setelah semuanya dituliskan dalam 12 pasal, kitab ini pun ditutup dengan peringatan yang sama. "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang." (Pkh.12: 13). Mengapa? "Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat." (Pkh.12:14). Segala sesuatu yang kita perbuat, terlihat atau terselubung, nyata atau sembunyi-sembunyi, semua itu harus kita pertanggung jawabkan kelak. Karena itulah kita wajib menjalani hidup dengan sebentuk rasa takut akan Tuhan, yang akan mampu bertindak sebagai pagar untuk menjauhkan kita dari segala hal buruk yang bisa kita lakukan.

Kemurahan Tuhan akan selalu turun kepada orang-orang yang mengasihiNya dan taat mengikuti perintahNya. Dengan demikian sikap takut akan Tuhan pun akan mendatangkan berbagai berkat. Sepanjang kitab Amsal kita bisa mendapatkan berbagai bentuk kemurahan Tuhan yang dicurahkan kepada siapapun yang menerapkannya. Lihatlah beberapa diantaranya:
-          Memperpanjang umur "Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek." (Amsal 10:27)
-          Ketentraman dan perlindungan "Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya." (Amsal 14:26)
-          Terhindar dari jerat maut "Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut." (Amsal 14:27)
-          Membuat kita mampu menjauhi kejahatan "Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan." (Amsal 16:6)
-          Janji akan kekayaan, kehormatan dan kehidupan "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan." (Amsal 22:4)
-          Menjadi teladan bagi banyak orang "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji." (Amsal 31:30). Dan sebagainya.

Jemaat Tuhan…Begitu banyak yang dijanjikan Tuhan sebagai hasil dari sikap takut akan Tuhan yang kita terapkan dalam kehidupan kita. Di saat kita takut akan Tuhan, berserah dan memuliakanNya, sebenarnya saat itulah kita menunjukkan bahwa kita tahu siapa Dia sebenarnya. Kita tahu dimana posisi kita, bagaimana hubungan kita, yang diciptakan dengan Sang Pencipta. Takut akan Tuhan menunjukkan bahwa kita menanggapi perintahNya dengan sungguh-sungguh, dan kita memiliki kerinduan penuh untuk menyenangkan Tuhan dengan segala yang kita lakukan atau katakan, bahwa kita mendasarkan semuanya kepada Tuhan, kapanpun, dimanapun, setiap saat, setiap waktu. Nasihat takut akan Tuhan sesungguhnya sangatlah penting, begitu pentingnya sehingga nasihat ini berulang kali disebutkan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Dari uraian Firman Tuhan ini kita menemukan korelasi atau hubungan anatara Hikmat atau Pengetahuan dengan sikap hidup yang takut akan Tuhan. Menurut Amsal sumber segala kepandaian, kebenaran dan lain-lain itu apada ayat 1-6 adalah pengetahuan. Maka orang haruslah mengejar pengetahuan setinggi dan sebanyak mungkin. Namun kitapula diajarkan pengkhotbah bahwa pengetahuan tidaklah akan diperoleh dan bermanfaat dengan baik jika kita tidak Takut akan Tuhan. Ini adalah KUNCI utama dalam hidup. TAKUT TUHAN adalah cara terbaik untuk menjalani hidup ini. Sebab ada banyak janji Tuhan yang akan digenapi dalam hidup kita apabila Takut Tuhan. Bukan saja keberhasilan, namun juga panjang umur; bukan saja panjang umur, namun juga rasa damai sejahtera dan ketentraman akan dianugerahi kepada kita.

Karena itu terapkanlah prinsip hidup takut akan Tuhan mulai sekarang; ajarkanlah kepada seluruh anggota keluarga kita tentang nilai luhur dari pengajaran amal ini. Agar seluruh anggota keluarga kita bahkan turun-temurun kita dari generasi ke generasi menjadi pribadi yang takut akan Tuhan. Jika ini terjadi, perhatikanlah, saudara dan saya akan takjub bagaimana dampak hidup orang percaya yang mengasihi Tuhan dan takut kepadaNya. Kita akan menyaksikan hidup yang berkelimpaan, penuh damai sejahtera dan ketentraman yang Tuhan anugerahkan. Mari kita muliakan Tuhan dengan segala sesuatu yang kita perbuat. "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang." (Pengkotbah 12:13). Selamat menjadi Pribadi yang takut Tuhan. Amin.













Tuesday, August 23, 2011

MATERI KHOTBAH SEKTOR RABU 24 AUG 2011



PENGKHOTBAH 9:11-12

11Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.
12Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.


Bacaan kita hari ini yakni ayat 11 dan 12 pasal 9 kitab Pengkhotbah adalah bagian yang tak terpisahkan dengan bacaan hari selasa menurut Sabda Bina Umat. Bacaan ini tidak dapat dipisahkan sebab pada ayat 11 dan 12 Pasal 9 ini dinyatakan Salomo sebagai penulis Kitab ini untuk menguatkan uraiannya tentang suatu pemahaman kesia-siaan dalam hidup. Keseluruhan perikop ayat 1-12 Pengkhotbah pasal 9 ini terbagi atas 3 bagian penting yang saling berhubungan dan memberi makna tentang hidup serta bagaimana menyikapinya.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita memperhatikan seluruh perikop ini yakni mulai dari ayat 1 sampai 12 kitab Pengkhotbah pasal 9 dan menemukan tiga bagian besar dari 12 ayat tersebut. Tiga bagian penting itu adalah sbb:

1.      Kesia-siaan dan harapan dalam hidup (ayat 1-6)
Dengan penuh pesimis, pengkhotbah mengatakan bahwa kehidupan di bawah matahari ini (kolong langit ini) selalau berakhir dengan sia-sia. Mengapa ia menyebut hidup ini adalah sia-sia? Sebab manusia pastilah akan mengalami kematian. Apapun yang dicapai dalam hidup tidak akan dibawah dan dinikmati seterusnya karena manusia pastilah akan mati. Dia meyakinkan kita bahwa kematian akan datang kepada semua orang tanpa terkecuali. Kematian terjadi baik kepada orang benar maupun orang jahat (Pkh. 9:1-3). Kematian adalah titik nadir, perwujudan dari semua kesia-siaan hidup dalam dunia. Menurut Salomo dalam ayat 1-3, bahwa siapapun kita entah baik atau benar, berdosa atau tidak, pastilah akan tetap menghadapi kematian itu. Dengan kata lain, apapaun yang dikerjakan dalam dunia ini dipandang menjadi sia-sia oleh karena kematian yang pasti datang.

Namun, dalam ayat 4, Pengkhotbah menyampaikan harapan di tengah kesia-sian akibat kematian yang pasti datang. Apakah harapan itu? Harapan yang dikatakan Salomo adalah harapan terhadap kehidupan. Kematian menjadikan sesuatu sia-sia, namun kehidupan menjadikan sesuatu itu memiliki harapan. Dalam ayat 4 ini, Pengkhotbah mengingatkan kepada kita bahwa ”anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati.” Ukuran yang terkecil dari keberadaan seekor binatang yang hidup adalah lebih baik daripada ukuran yang terbesar dari sesuatu yang mati. Artinya selama masih ada kehidupan, masih ada waktu untuk bersiap bagi kematian.  Itulah harapan dalam kehidupan.

Dengan kata lain, selama seseorang belum mengalami kematian, ia masih beroleh kesempatan untuk mengisi hidup untuk mencapai harapan yang ada. Mengisi kehidupan dengan baik adalah lebih berguna daripada meratapi kematian. Sekali lagi, ini menunjuk pada pentingyna menggunakan waktu kita di atas bumi untuk bersiap bagi kematian. Pada bagian pertama ini, Pengkhotbah menegaskan bahwa kehidupan di dunia ini pada akhirnya adalah kesia-siaan oleh karena semua mahkluk pastilah mati. Namun kesia-siaan dalam kehidupan ini akan tetap memberi harapan apabila kita yang masih hidup mampu mengisi dengan baik kehidupan ini.

2.      Cara mengisi kehidupan agar terhindar dari kesia-siaan (ayat 7-10)
Jika kehidupan yang sia-sia ini masih memberi harapan apabila manusia yang masih hidup ini mampu mengisinya dengan baik, maka pertanyaan penting adalah: bagaimana mengisi kehidupan ini agar tidak sia-sia? Ayat 7-10 menjelaskan tentang cara mengisi kehidupan supaya lebih bermakna dalam harapan dari pada kesia-siaan. Dalam ayat 7-10 ini, kita menemukan Minimal ada tiga hal penting yang harus dilakukan oleh setiap orang selama masih ada kesempatan hidup di dunia ini, yakni:
Pertama, Nikmatilah Hidup ini sebagai berkat dari Tuhan. Bagi Salomo adalah lebih berguna menikmati hidup sebagai pemberian Allah, dari pada meratap dan mengalami ketakutan menanti kehidupan. Dalam ayat 7 dan ayat 9 Salomo memberikan contoh berkat Tuhan dalam kehidupan. Nikmatilah makanan dan minuman selama ada dalam kehidupan sebab itu adalah pemberian TUHAN Allah pencipta. Nikmatilah dengan penuh kebahagiaan karunia hidup sebagai makluk sosial yang bergaul dan saling membutuhkan satu dengan yang lain dalam dunia, seperti hidup berkeluarga, bermasyarakat dll. Itu juga adalah anugerah dan pemberian TUHAN. Nikmatilah dengan sukacita, nikmatilah dengan kebahagiaan hidup.
Kedua, Usahakanlah Kebahagiaan dan Sukacita dalam hidup ini. Dalam ayat 7 dan 9 bacaan kita, Pengkhotbah menyarankan untuk menikmati hidup ini dengan penuh kebahagiaan dan sukacita sebagai pemberiaan atau anugerah dari Tuhan. Namun dalam ayat 10 bacaan kita, pengkhotbah mengingatkan bahwa kebahagiaan dan sukacita dalam hidup sebagai anugerah Tuhan haruslah DIUSAHAKAN. Kebahagiaan tidak jatuh dari langit dan muncul tiba2 di bawah matahari ini. Kebahagiaan harus diusahakan oleh manusia. Itulah sebabnya ia menyarankan bahwa manusia perlu bekerja keras sekuat tenaga untuk menghadirkan kebahagiaan dan sukacita dalam hidup. Selagi masih hidup bekerjalah!! Selagi masih hidup usahakanlah kebahagiaan dan sukacita itu.
Ketiga, Hindarilah Dosa selama menikmati kehidupan ini. Dalam melaksanakan dua poin di atas, Pengkhotbah menegaskan dalam ayat 8 bacaan kita: “Biarlah selalu putih pakaianmu”. Artinya bahwa selama meniikmati hidup ini sebagai karunia Tuhan; dan selama bekerja dan mengusahakan kebahagiaan hidup, maka usahakanlah kebaikan dan janganlah mengotori putihnya hidup itu dengan kotoran dosa. Hidup disebut bahagia dan dapat dinikmati apabila selama menjalani dan mengisi hidup ini, manusia menjaga dirinya dan warna hidupnya agar tidak terkotori oleh dosa.

3.      Manusia bukan faktor penentu dalam hidup (ayat 11-12)
Bagian ini adalah bagian ke-3 yakni ayat 11-12 bacaan kita hari ini. Pengkhotbah menyatakan suatu pemahaman yang baru tentang mengusahakan hidup supaya lebih bermakna. Dalam ayat 10 di atas, Pengkhotbah mengatakan bahwa manusia harus mengusahakan dengan sekuat tenaga agar membuat hidup memiliki harapan. Ada kesan bahwa manusia adalah faktor penentu kehidupannya sendiri. Itu berarti secara logika semakin banyak belajar, maka semakin pintar. Jika semakin pintar maka semakin mungkin memperoleh kekayaan; semakin cepat orang berlari dalam pertandingan, maka semakin mungkin menang perlombaan; semakin kuat seseorang, maka semakin mungkin menang dalam perjuangan.

Namun, perhatikan ayat 11-12 bacaan kita! Apa yang dipaparkan Pengkhotbah berbeda dengan penjelasan logika di atas. Menurut Pengkhotbah di ayat 11: kemenangan dalam lomba bukan bagi yang cepat; menang dalam perjuangan bukan bagi si kuat; kekayaan bukan untuk mereka yang cerdas. Bukankah pernyataan ini bertentangan dengan hal yang alami dan konsep logis yang rill?

Mengapa Pengkhotbah menyatakan sesuatu yang tidak lazim? Perhatikan alasannya dalam ayat 12: “Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat,…”  Menurut Pengkhotbah Keselamatan ikan bukan tergantung pada kelihaiannya berenang; dan kelangsungan hidup burung tidak ditentukan oleh kecepatan terbangnya. Ada faktor lain yang turut menentukan kehidupan mereka, yakni faktor diluar kendali dan kuasa mereka yaitu JALA dan JERAT. Faktor ini dapat kita sebut dengan Faktor X, yakni Faktor diluar kuasa dan kemampuan kita termasuk kasus burung dan ikan tadi.

Untuk memahami faktor X ini marilah kita merujuk Markus 4:26-27 yang berbunyi: “Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.” Tuhan Yesus menyebut Faktor X yang kita simpulkan dalam kitab Pengkhotbah tadi melalui perumpamaan tentang penabur. Siang dia menabur, malam dia tidur; siang di memberi pupuk dan malam dia tidur. Dan di saat malam dia tidak tidur, ternyata benih sedang berproses dalam tanah untuk mulai tumbuh. Saat petani tidak bekerja waktu malam, saat itulah terjadi pertumbuhan sehingga di siang hari, petani menemukan bahwa benih tanamannya sudah tumbuh. Proses bertumbuh benih ini diluar kendali si petani. Bisa saja walau dipupuk, benihnya busuk atau dimakan binatang. Intinya adalah kesuksesan dan keberhasilan hidup tidak tergantung pada andil manusia.

Kalau benar bahwa kesuksesan atau kegagalan hidup; dan keberhasilan atau kemalangan hidup tidak dapat ditentukan oleh faktor usaha dan kemampuan manusia seperti yang diungkapkan oleh Pengkhotbah dan dibenarkan oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaanNya, maka pertanyaan penting untuk direnungi adalah faktor apa yang turut menentukan. Jawabnya Faktor X itu tadi. Kalau begitu apakah faktor X itu? Atau siapa faktor X yang misterius itu?

Untuk menemukan jawaban faktor X ini mari kita melihat pernyataan Paulus dalam 1Kor. 3:6 yang berbunyi: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”. Penabur boleh menanam dan mengupayakan apapun soal pertumbuhan benih tanamannya, namun faktor penentu bertumbuh atau tidak benih itu dalah TUHAN. Tuhanlah yang menjadi faktor X penentu bertumbuh tidaknya beenih tanaman dari penabur tersebut.

Dengan demikian kita dapat memahami maksud Pengkhotbah dalam seluruh perikop pasal 9:1-10 ini. Bahwa dalam hidup ini penuh dengan kesia-siaan. Manusia hanya akan mampu berpengharapan dalam kehidupan yang sia-sia ini jika mampu mengisi kehidupan ini dengan baik, mau bekerja dan berusaha serta mengekang diri dari tindakan mengisi kehidupan dalam dosa. Inilah cara agar mampu berpengharapan dalam kehidupan yang penuh kesia-siaan tersebut. Namun, Pengkhotbah mengingatkan kita bahwa berhasil atau tidaknya kita memiliki pengharapan dalam hidup, tidak pernah ditentukan oleh usaha dan kemampuan kita. Ada faktor penentu yang sangat penting, yakni TUHAN, Allah kita.

Karena itu yang paling penting bukanlah memahamim bahwa ada kesia-siaan dalam hidup ini; bukan pula terpenting bagaimana mengisi kehidupan ini. Namun yang terutama dari semua itu adalah apakah TUHAN, Sang Penguasa kehidupan ini telah kita perhitungkan dan libatkan dalam menjalani hidup ini. Sebab sehebat apapaun kita mengusahakan hidup lebih baik, lebih bahagia, lebih sejahtera dll, hanya TUHAN jualah yang punya kuasa untuk menentukannya. Amin.

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...