Saturday, August 3, 2019

BERPIKIR POSITIF TENTANG TUHAN

AYUB 2:9-13
BERPIKIR POSITIF TENTANG TUHAN
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
04 AGUSTUS 2019

PENDAHULUAN
Siapakah Ayub? Tokoh ini tidak dengan terperinci dijelaskan oleh alkitab. Ia hanya disebutkan berasal dari daerah Us (1:1) dan merupakan orang terkaya di daerahnya. Ia mendapatkan 7 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Selain itu ia juga mempunyai banyak harta kekayaan, di antaranya: 7000 kambing domba, 3000 unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina dan banyak budak-budak (1:2-3).

Oleh karena banyaknya harta Ayub, maka ia menjadi orang yang terkaya di daerah Timur. Ayub digambarkan sebagai orang yang sangat kaya dan tidak ada yang lebih kaya dari pada Ayub. Jadi besar kemungkinan Ayub juga sangat terkenal di seluruh daerah Timur. Menarik untuk dicatat bahwa Alkitab menyebut tentang 10 orang anak dan kekayaan sebagai pemberian Tuhan (1:2,3,10), namun tidak menyebut istrinya sebagai bagian dari pemberian Tuhan. Istri Ayub hanya muncul pada  ayat 9 bacaan kita.

Namun keterangan yang penting dan dicatat berulang-ulang mengenai tokoh ini adalah karakter moralnya. Ia adalah seorang yang “saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Kalimat ini dituliskan sebanyak 3 kali; 1x disebutkan dalam 1:1 oleh penulis kitab ini, 2x diucapkan oleh Tuhan dalam 1:8 dan 2:3. Jadi karakter Ayub tersebut merupakan suatu penekanan, karakter yang dinilai sangat baik oleh Tuhan, sehingga ia dibanggakan oleh Allah dihadapan Iblis. Tidak ada tokoh Alkitab yang lain yang dibangga-banggakan oleh Tuhan di hadapan iblis, selain dari pada Ayub. Kualitas-kualitas inilah yang digunakan oleh penulis kitab ini untuk menjelaskan karakter moral Ayub yang sebenarnya. Harta kekayaan Ayub yang paling utama bukanlah materi yang berada di luar dirinya, tetapi apa yang ada di dalam dirinya.


TELAAH PERIKOP (exegese)
Bagaimanakah kisah kemalangan Ayub, seorang yang takut Tuhan ini, dimulai? Diawali dengan pertemuan mahluk sorgawi dengan Tuhan termasuk Iblis di dalamnya. Tuhan amat membanggakan Ayub dihadapan seisi Sorga, bahkan pula di hadapan Iblis (lih 1:8; 2:3). Namun Iblis meragukan kondisi itu dengan mencari alasan bahwa kesetiaan Ayub hanya sebatas kekayaan dan kepemilikannya yang dianugerahi Tuhan. Singkatnya, Iblis datang menghancurkan harta benda dan anak2 Ayub, atas seijin Tuhan (1:13-19) sehingga Ayub hidup miskin berdua dengan Istrinya. Apa reaksi Ayub? Pada pasal 1:21-22 kita menemukan siapa Ayub sebenarnya berdasarkan rekasinya terhadap musibah yang ia alami. Ayub tidak mengutuk dan menggerutu; Ayub tidak sekali-pun mempertanyakan Tuhan, namun sebaliknya justru memahami bahwa apa yang ia miliki semuanya BUKAN MILIKNYA, melainkan adalah milik Tuhan. Maka, menurut Ayub, adalah wajar jika Tuhan mengambilnya. Peristiwa ini adalah PENCOBAAN PERTAMA dan Iblis GAGAL TOTAL menjatuhkan Ayub dalam dosa. Sebab dalam ayat 22 pasal 1 ditekankan, bahwa dalam kondisi itu Ayub TIDAK berbuat dosa.

Setelah gagal pada cobaan pertama mengenai HARTA BENDA dan kepemilikan, maka saatnya Iblis melanjutkan cobaan kedua pada bacaan kita 2:1-13, tentang tubuh jasmani dengan Istilah yang dipakai “kulit ganti kulit” (2:4). Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada bacaan kita hari ini (sebaiknya dibaca seluruh perikop), yakni:
1.       Perhatikan ayat 5. Iblis meminta agar TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah tulang dan daging Ayub supaya kena kutuk. Apakah TUHAN menyetujuinya? Secara sepintas, jawabannya pasti YA. Namun jika kita memperhatikan ayat 6 bacaan kita sekaligus merujuk 1:12 maka kita menemukan sesuatu yang menarik. TUHAN tidak sedikitpun bersedia menggunakan TanganNya untuk menulahi Ayub. Tangan Iblislah yang melakukannya. Peran TUHAN dalam pergumulan itu hanya sampai pada “MENGIJINKAN” Iblis melakukannya.

Dengan demikian kita menemukan suatu kebenaran penting pada kisah ini. Pencobaan dan derita Ayub tidaklah datang dari tangan TUHAN yang penuh kasih itu. Derita Ayub ditimpakan oleh tangan Iblis yang penuh dengan kebencian dan kepicikan. Dalam alkitab tidak ditemukan sedikitpun bahwa TUHAN mengutuki dan menghajar orang yang taat dan setia kepadaNya. Sebaliknya justru, untuk tipe orang seperti itu, tangan Tuhan selalu datang menjamah untuk memberkati. Kalaupun ada hajaran, itu hanya diberikan TUHAN dalam rangka mendidik dan mengarahkan lagi ke jalan yang benar orang yang dikasihiNya. (bd. Wahyu 3:19).

2.       Ayub sangat menderita dengan penyakit yang ditimpahkan Iblis. Garukan karena gatal lewat tangannya sudah tidak berguna lagi. Itulah sebabnya dalam ayat 8 disebutkan Ayub menggunakan beling untuk menggaruk-garuk badannya. Silakan bayangkan betapa ngeri penderitaan Ayub!

Siapapun yang menyaksikan ini pastilah terenyuh dan tidak tega melihat derita Ayub. Namun, dalam bacaan kita justru tiba2 muncul satu tokoh yang tega dan tidak merasakan derita itu. Siapa tokoh itu? Dia tidak lain adalah Istri Ayub sebagaimana dinyatakan ayat 9 bacaan kita. Perempuan ini bukan saja tidak pedui terhadap penderitaan Ayub, namun juga menjadi “alat iblis” untuk menggoyahkan pertahanan iman Ayub yang saat itu sedang berjuang.

Ternyata tidak selamanya orang yang terdekat dan kelihatannya selalu ada untuk kita dapat mengerti dan mendukung setiap derita dan pergumulan termasuk perjuangan iman. Terkadang justru orang-orang seperti inilah yang menjadi alat Iblis. Dalam hal ini, Ayublah yang mengalami sendiri, yakni ditinggalkan dan dilemahkan oleh orang yang justru dapat diharapkan mendukung, yakni istrinya.

3.       Perhatikan jawaban Ayub kepada Istrinya yang sekaligus menjadi jawaban Iman Ayub terhadap semua cobaan dan derita hidup yang ia alami! Dalam ayat 10 bacaan kita, Ayub dengan tegas menolak menghujat dan meragukan Allah. Ayub menyadari bahwa ia hanya mungkin hidup karena anugerah dan karunia TUHAN. Karena itu apapun yang Tuhan lakukan, entah yang baik atau buruk harusnya tetap diterima dan disyukuri. Bagi Ayub, adalah suatu KEGILAAN jika manusia hanya mau menerima yang baik dari TUHAN dan menolak yang buruk.

Pernyataan iman ini sangat dasyat dan luar biasa untuk dimaknai. Ayub menerima apapun dari TUHAN. Ayub belajar untuk menerima keburukkan hidup oleh karena ia sudah menerima kebaikan terlebih dahulu. Ayub tidak berpikir bahwa kesalehan dan kesetiaannya harus dibalas TUHAN dengan KEBAIKAN sebagai hadiah dan haknya. Namun keunggulan Ayub adalah ketika ia menyadari bahwa di tangan TUHAN-nya ia bukan siapa2 sehingga tidak layak menggerutu, sebaliknya Ayub belajar menerima apapun dari TUHAN. Sebab, bagi AYUB, Tuhan berhak melakukan apapun baginya –baik atau buruk- karena itu adalah HAK Tuhan termasuk terhadap dirinya sekalipun.

4.       Bacaan kita saat ini berkisah juga tentang kehadiran para sahabat Ayub di saat mereka mendengar tentang musibah dan kemalangan hidup yang dialami Ayub. Alkitab menuliskan ketiga sahabat Ayub, yakni: Elifas, orang Teman dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama datang dari tempatnya masing-masing ketika mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa Ayub (ay. 11). Itu berarti mereka tidak berasal dari tempat yang sama. Mereka mungkin beda kota, wilayah bahkan negara. Selain itu dikatakan bahwa mereka bersepakat untuk menghibur Ayub. Itu berarti bukan suatu kebetulan kalau mereka dapat berkumpul bersama.

Lalu, bagaimana mereka dapat mem­buat kesepakatan sementara tempat mereka begitu berjauhan? Alkitab tidak berbicara banyak mengenai hal ini tetapi seperti kita ketahui, membuat suatu kesepakatan dengan jarak terpisah jauh, dengan teknologi informasi yang masih begitu primitif, jelas bukan hal yang mudah; sangat menyita waktu dan tenaga. Tetapi mereka rela bersusah payah sedemikian rupa demi untuk menghibur sahabat yang mereka kasihi, yakni Ayub.

Mereka datang pada Ayub dengan tujuan yang murni, yaitu untuk mengucapkan bela­sungkawa dan menghibur (ay. 11b). Mereka datang bukan karena Ayub kaya atau karena memiliki motivasi-motivasi lain seperti mendapatkan kenikmatan atau balas jasa. Tidak! Sebab saat itu Ayub sudah jatuh miskin, hidup melarat dan kena penyakit mengerikan lagi.

Dalam ayat 12-13 kita menemukan kenyatan yang luar biasa terhadap apa yang dilakukan para sahabat Ayub itu. Ketika sahabat Ayub memandang dari kejauhan dan melihat kondisi Ayub begitu memilukan mereka, maka lima hal bermakna mereka lakukan, yakni:
  1. Mereka menangis dengan suara nyaring;
  2. Mereka mengoyakkan jubah;
  3. Mereka menaburkan debu di kepala;
  4. Mereka menemani Ayub dengan duduk bersama-sama dia selama tujuh hari tujuh malam;
  5. Mereka puasa bicara alias tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.

Banyak penafsiran yang mengatakan bahwa mereka melakukannya karena kebiasaan budaya yang berlaku pada jaman itu. Tapi jika kita per­hatikan lebih lanjut, mereka melakukannya bukan sekedar kebiasaan budaya. Mereka tidak hanya hadir dan berbagi secara fisik, mereka juga berbagi perasaan dengan Ayub. Mereka sama-sama meratap dan sama-sama hancur hati.

Perbuatan ketiga sahabat Ayub ini merupakan sikap dan perbuatan terpuji.  Demi mendukung Ayub dan pergumulan hidupnya, mereka rela berkorban waktu dan tenaga; dengan motivasi tulus meringankan beban; serta dengan penuh kasih turut merasakan derita sahabatnya. Memang benar, apabila kita lanjutkan bacaan ini, kita menemukan pada akhirnya para sahabat Ayub mulai memberikan nasehat dan tanggapan yang kemudian melemahkan dan menjatuhkan Ayub. Saya kira ini adalah wajar, jika mereka sendiri tidak mengetahui kondisi sebenarnya Ayub dalam hal Iman-nya kepada Allah. Namun bukan ini yang akan kita bahas. Khusus bagian bacaan kita, kepedulian merekalah yang perlu direnungkan (walau dalam bagian akhir mereka mempertanyakan Ayub).

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan Firman Tuhan ini, kita dapat memperoleh beberapa pokok pikiran yang berhubungan dengan kehidupan kita dari kisah Ayub ini, yakni:
1.       Kesengsaraan hidup itu identik dengan pencobaan hidup. Ketika kita mengalami pencobaan, siapakah yang mesti bertanggung-jawab? Apakah Tuhan atau Iblis. Pertanyaan ini hanya akan terjawab jika kita mengetahui tentang dari mana asalnya pencobaan itu. Mengenai asal-muasal pencobaan itu, Yak. 1:13-14 menyebutkan:
  1. Allah tidak pernah mencobai manusia
  2. Manusia dicobai oleh keinginannya sendiri
  3. Manusia dicobai oleh Iblis (lih. Bacaan kita) atau biasa disebut oleh Paulus sebagai PENGGODA (1 Tesalonika 3:5).

Hal ini dipertegas lagi oleh bacaan kita bahwa Tangan TUHAN tidak pernah IA gunakan untuk mengutuk dan menyakiti orang yang dikasihiNya. Tindakan ini sepenuhnya ada dalam aksi Iblis. Peran TUHAN pada pencobaan yang kita alami sangatlah sedikit, yakni sebatas mengijinkan Iblis.

Jadi adalah salah alamat, dan berdosa-lah kita jika mengklaim dan menghakimi TUHAN terhadap pencobaan dan derita yang kita alami.  Sebab pencobaan datang kepada Ayub, bukan karena ia durhaka namun justru karena ia setia. Kesetian kita mengundang “iri hati” iblis untuk menghancurkan iman kita lewat pencobaan. Iblislah yang melakukan itu. Jika kita menghakimi Allah dan menghujatNya, berarti Iblis benar dan ia menang karena ternyata kita tidak tahan iman dan berbuat dosa kepada TUHAN. Karena itu, kepada kita yang setia dan percaya kepadaNya, berhati-hatilah karena Iblis licik dan siap menjatuhkan kita lewat cobaan hidup.

2.       Apa yang harus kita lakukan saat mengalami pencobaan oleh Iblis. Belajarlah seperti Ayub! Ia tidak menjadikan TUHAN sebagai MUSUH-nya, melainkan tetap sedapat mungkin bergantung pada TUHAN. Hal ini terlihat jelas dari tiap jawaban imannya ketika menghadapi 2 jenis pencobaan itu.

Mengapa bergantung pada TUHAN begitu penting? Bukankah banyak orang cendrung meninggalkan TUHAN ketika merasakan bahwa seakan TUHAN tidak adil dalam hidupnya? Perhatikan bunyi Mzm.37:5 yang menjadi alasan penting kita harus tetap bergantung pada TUHAN! Ayat ini berbunyi: “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”. Artinya, hanya dengan bergantung pada TUHAN, saat alami pencobaan Iblis-lah, maka IA akan bertindak.

Apa tindakan dan peran TUHAN saat kita mengalami pencobaan? Peran TUHAN tidak hanya pada mengijinkan Iblis mencobai kita, namun dalam lanjutan bunyi ayat 13 kitab 1Kor pasal 10 disebutkan: “… Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu... Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.“ TUHAN tidak akan berdiam diri disaat kita mengalami pencobaan dari Iblis. Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar dan kekuatan untuk dapat menanggungnya hingga pencobaan itu selesai. Karena itu jangan tinggalkan TUHAN ketika hadapi pencobaan, sebaliknya teruslah berada di pihak TUHAN yang penuh kasih dan kuasa itu.

3.       Peristiwa Istri Ayub mengingatkan kita bahwa tidak semua orang dapat menjadi pendukung dan penopang saat kita butuh topangan dan dampingan di tengah cobaan dan pergumulan hidup. Karena itu, kitapun diajar untuk selektif memilih orang yang tepat ketika sedang mengalami cobaan hidup. Hindari setiap saran yang justru akan menjerumuskan kita. Carilah pribadi2 yang tepat yang akan TUHAN kirim untuk mendampingi kita saat mengalami pergumulan itu. Karena itu tetaplah setia! Hadapilah pergumulan dan cobaan hidup ini dengan bijak dan teguh iman seperti Ayub. Percayalah TUHAN tidak akan membiarkan kita dalam pencobaan.

4.       Sesuatu yang tak dapat dipungkiri bahwa di belahan dunia manapun ada begitu banyak orang yang mengalami kemalangan hidup dan penderitaan diri. Di manapun termasuk di sekitar kita sekalipun ada banyak orang yang mengalami kesendirian dan kesepian. Mereka bagaikan Ayub yang tidak mengerti mengapa semua dialami. Mereka bagaikan Ayub yang menderita sendiri dan membutuhkan topangan dan pendampingan. Kita dipanggil untuk menjadi seperti para sahabat Ayub tersebut. Panggilan kita adalah meringkankan penderitaan dan pergumulan sesama kita.

Bagaimana caranya? Lihatlah apa yang dilakukan oleh tiga sahabat Ayub:

a.       Mereka bersusah payah menjangkau tempat Ayub dengan mengorbankan waktu, tenaga dan jarak tempuh yang cukup jauh. Untuk bisa meringankan penderitaan orang lain, kita mesti bersedia mengorbankan sesuatu. Mungkin yang dikorbankan adalah sibuknya kita di tempat kerja; waktu untuk keluarga; keluar sedikit dana extra yang tak terprogram; sediakan ekstra tenaga dan korbankan jam istirahat atau waktu santai kita dll. Tanpa pengorbanan, kita tidak akan mampu secara maksimal untuk meringankan penderitaan orang lain.

b.      Seperti para sahabat Ayub, milikilah motivasi yang tulus ketika menolong orang lain. Jangan demi pujian atau sanjungan; jangan pula supaya diingat atau dikenang; dan juga janganlah demi suatu penghargaan. Perbuatan baik yang kita lakukan bagi orang lain, biarlah murni hanya untuk menolong. Kalaupun itu diguncingkan dan dihargai orang, biarlah itu menjadi kemuliaan Allah.

c.       Perhatikan 5 hal penting yang dilakukan oleh sahabat Ayub pada penjelasan di atas. Mereka bukan hanya bersimpati dengan derita Ayub alias sekedar merasa ibah dan kasihan. Namun mereka bertindak lebih jauh, yakni berempati dengan derita Ayub alias berusaha turut merasakan apa yang dirasakan oleh Ayub. Empati berarti turut berbela rasa atau dalam bahasa sederhananya adalah bersedia memakai sepatu orang lain. Jika sepatu itu sempit maka kita dapat merasakan nyeri dan sakitnya; jika sepatu itu pas ukurannya maka kita dapat merasakan pula nyamannya.

Hanya dengan turut merasakan penderitaan orang lain, maka kita dapat tahu apa sesungguhnya pertolongan yang dibutuhkan mereka. Hanya dengan turut merasakan derita mereka, maka kita akan mampu “mengambil” sedikit pergumulan itu, sehingga orang yang menderita itu merasakan sedikit kelegaan.

Karena itu, mari-lah menjadi alat Tuhan untuk menyalurkan Kasih-Nya yang menyembuhkan kepada setiap orang yang mengalami kesakitan hidup karena derita dan pergumulan yang dialaminya. Kiranya Roh Kudus membantu kita untuk lebih banyak peduli dan menjadi berkat bagi orang lain yang sedang menderita, sebagai mana sahabat Ayub. Kiranya pula kita tidakmenjadi sandungan di balik derita orang lain, sebagaimana yang tega dilakukan oleh istri Ayub. Amin.


Catatan:
Uraian bahan khotbah ini terlalu panjang. Silakan diolah menjadi khotbah lengkap dengan membuatnya lebih ringkas dan mudah dimengerti. 

Thursday, August 1, 2019

Ayub 8:8-19



BELAJAR DARI BENANG DAN SARANG LABA-LABA
Bahan Khotbah Ibadah Keluarga
Rabu, 7 Agustus 2019

Pdt. Cindy Tumbelaka, MA
Pengantar
                Bacaan ini adalah perkataan Bildad, orang Suah, salah seorang dari tiga sahabat Ayub yang datang ketika mendengar tentang segala malapetakan yang menimpanya untuk menyampaikan belasungkawa dan menghibur Ayub (8:1, 2:11). Pada waktu mereka pertama kali bertemu, tidak banyak atau bahkan tidak ada percakapan apapun yang terjadi di antara mereka karena keadaan Ayub yang nyaris tidak dapat dikenali lagi membuat ketiga sahabatnya itu (termasuk Bildad) terpukul (2:12).  Tujuh hari pertama, mereka berempat hanya duduk bersama-sama di tanah tanpa ada percakapan (2:13). Mereka berempati dengan kondisi Ayub sebagaimana yang ada pada bacaan hari Minggu. Setelah itu, ketiga sahabat Ayub mulai menyampaikan kata-kata penghiburan sementara Ayub pun ternyata mengalami ‘naik-turun’ iman terhadap Allah. 
                Pasal 8 adalah giliran Bildad yang berusaha membuat Ayub mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Pada Awalnya, Bildad sempat mengecam Ayub yang sepertinya sudah mulai keras mempertanyakan keadilan Allah (8:1). Menurut Bildad, Allah tidak mungkin berlaku tidak adil ataupun tidak benar (8:3). Bildad berusaha membedakan perlakuan Allah kepada anak-anak Ayub yang berdosa terhadap Allah dengan Ayub yang saleh (8:4-5). Menurut Bildad, anak-anak Ayub dihukum Allah karena mereka memang berdosa tetapi jika Ayub yang saleh itu mencari dan memohon belas kasihan Allah maka Allah akan bangkit dan memulihkan (8:6-7). Berdasarkan pengantar ini maka pembahasan selanjutnya dapat dikatakan usaha Bildad menjelaskan hubungan antara dosa anak dan kesalehan orang tua, adakah saling berpengaruh satu sama lain, khususnya ketika Tuhan hendak menyatakan kehendaknya atas keluarga Ayub.


Pemahaman Teks
Ay. 8-10               
Bildad mengambil contoh dari orang-orang zaman dahulu yaitu para nenek moyang yang merupakan acuan/ soko guru/ sumber segala pengajaran generasi berikut.
Ay. 11   
Menurut Bildad, seseorang itu tidak akan bertumbuh dewasa (dalam iman dan pengetahuan) jika tidak di lingkungan keluarganya (seperti pandan harus tumbuh di rawa, mensiang di air).

Ay. 12-13            
Akan tetapi jika sebelum proses pertumbuhannya selesai, orang itu sudah melenceng/ lari dari yang diajarkan maka orang itu akan menjadi orang yang gagal (= gagal sebelum waktunya?). Itulah yang akan terjadi pada orang-orang fasik yaitu orang yang melupakan Allah. Dengan kata lain, bukanlah salah Ayub jika anak-anaknya dibinasakan Tuhan karena sebelum dewasa, mereka sudah jauh melenceng dari jalan Tuhan.

Ay. 14-15            
Pada ay. 14-19, Bildad seperti berusaha memberi gambaran tentang apa yang terjadi dengan anak-anak Ayub. Anak-anak Ayub itu dapat dikatakan seperti orang fasik yang hidupnya mengandalkan benang atau sarang laba-laba. Apa yang diharapakan/ diandalkan mereka banyak dan luas (seperti sarang laba-laba) tetapi sesungguhnya tidak kuat.

Ay. 16-18            
Dalam perumpamaan yang lain, anak-anak Ayub itu digambarkan sebagai orang fasik yang bergaul ke mana-mana, (= tumbuhan yang sulur dan akarnya menjalar dan membelit ke mana-mana) namun sesungguhnya ketika mereka keluar dari pergaulan itu, teman-temannya tidak akan mengenal mereka lagi. 

Ay. 19   
Kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan kegemaran anak-anak Ayub mengadakan pesta (1:4-5)

Renungan dan Penerapan
Walaupun penjelasan Bildad tentang mengapa perlakuan Allah kepada anak-anak Ayub berbeda dengan kepada Ayub tidak dapat dikatakan sepenuhnya benar namun dapatlah dimengerti betapa Ayub sebenarnya sangat berduka dan berusaha mencari jawab tentang me-ngapa Allah tidak menyelamatkan anak-anaknya seperti Allah menyelamatkan dirinya.  Sebagai seorang bapa, Ayub sepertinya berusaha mencari tahu adakah ia salah dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Sesungguhnya, kegundahan hati Ayub yang tersirat dalam nasi-hat Bildad juga ada dalam setiap hati orang tua yang anak-anaknya mengalami masalah seperti, putus sekolah (sering dihukum guru dan bermasalah di sekolah), kenakalan remaja (sampai berurusan dengan masyarakat), kecanduan narkoba (sampai berurusan dengan hukum), melakukan seks bebas (sampai terpaksa dikawinkan atau menjadi orang tua tunggal), pindah aga-ma, dll. 
Di balik kemarahan orang tua terhadap anaknya pastilah ada rasa penyesalan dan pertanyaan: “mengapa kali ini Tuhan tidak menolong?” Bildad menjelaskan bahwa sebaik-baiknya orang tua mendidik dan membesarkan anak, setiap anak sebagai pribadi yang utuh juga tetap dapat memilih: akankah ia terus dalam jalan yang diajarkan/ diarahkan orang tuanya atau me-milih jalannya sendiri. Jika jalan yang dipilihnya ternyata tidak sesuai harapan orang tua bahkan membawanya pada kebinasaan maka orang tua tidak perlu terlalu menyalahkan diri. Sebagai orang tua, kita tetap harus mendoakan yang terbaik bagi anak-anak (lih. 1:5) namun di atas semua itu, ada Tuhan yang mengadili setiap orang secara individual menurut keadilan dan kebenaran-Nya tanpa dapat diintervensi oleh siapapun, termasuk orang tuanya
Jika kita menyimak kehidupan anak-anak Ayub yang disoroti dalam Alkitab, khususnya dalam hal kegemaran mereka mengadakan pesta untuk makan dan minum bersama (1:4), kita akan mendapat gambaran bahwa kegemaran anak-anak ini terhadap gaya hidup hedonisme (bersenang-senang) adalah karena orang tua memiliki kekayaan yang memungkinkan mereka untuk berpesta setiap hari.
Dengan demikian, sangatlah jelas jika anak-anak ini sangat mengandalkan kekayaan orang tuanya dalam menikmati hidup. Akan tetapi seperti yang dikatakan Bildad bahwa kekayaan orang tua yang menjadi andalan mereka untuk hidup dalam hedonisme tidaklah kuat (banyak/ luas tetapi tidak kuat).  Demikian juga halnya dengan orang-orang yang berhasil mereka datangkan/ kumpulkan/ jamu supaya turut bersukaria dalam kehidupan seperti itu (setiap malam) bukanlah orang-orang yang akan tetap setia menjadi sahabat merekaa.
Sampai saat ini pun masih banyak orang yang menjadikan kekayaan (orang tua) andalan dalam hidup sehingga tidak seperti orang tua yang mampu mewarisi kekayaan kepada anak maupun keturunannya, anak cenderung menghambur-hamburkan kekayaan itu sehingga tidak jarang dari mereka yang jatuh miskin. Begitu juga dengan kawan, banyak orang yang berusaha ‘membeli’ teman dengan hedonisme yang ditawarkan, padahal, kawan yang didapat akan segera berlalu tepat ketika kekayaan kita habis dan hedonisme itu berakhir. 
Dari kisah Ayub, kita belajar bahwa kesalehan orang tua tidak dapat menyelamatkan anak dari pengadilan Tuhan, juga kekayaan orang tua ternyata tidak dapat sepenuhnya menjamin masa depan anak. Akan tetapi bukan berarti kesalehan dan upaya orang tua mensejah-terakan anak itu sia-sia, hanya saja, kita harus sungguh-sungguh mohon ketrelibatan Tuhan dalam mendidik dan membesarkan anak supaya jangan ada yang binasa.

Wednesday, July 31, 2019

AYUB 2:9-13

BERPIKIR POSITIF TENTANG TUHAN
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
04 AGUSTUS 2019

PENDAHULUAN
Siapakah Ayub? Tokoh ini tidak dengan terperinci dijelaskan oleh alkitab. Ia hanya disebutkan berasal dari daerah Us (1:1) dan merupakan orang terkaya di daerahnya. Ia mendapatkan 7 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Selain itu ia juga mempunyai banyak harta kekayaan, di antaranya: 7000 kambing domba, 3000 unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina dan banyak budak-budak (1:2-3).

Oleh karena banyaknya harta Ayub, maka ia menjadi orang yang terkaya di daerah Timur. Ayub digambarkan sebagai orang yang sangat kaya dan tidak ada yang lebih kaya dari pada Ayub. Jadi besar kemungkinan Ayub juga sangat terkenal di seluruh daerah Timur. Menarik untuk dicatat bahwa Alkitab menyebut tentang 10 orang anak dan kekayaan sebagai pemberian Tuhan (1:2,3,10), namun tidak menyebut istrinya sebagai bagian dari pemberian Tuhan. Istri Ayub hanya muncul pada  ayat 9 bacaan kita.

Namun keterangan yang penting dan dicatat berulang-ulang mengenai tokoh ini adalah karakter moralnya. Ia adalah seorang yang “saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Kalimat ini dituliskan sebanyak 3 kali; 1x disebutkan dalam 1:1 oleh penulis kitab ini, 2x diucapkan oleh Tuhan dalam 1:8 dan 2:3. Jadi karakter Ayub tersebut merupakan suatu penekanan, karakter yang dinilai sangat baik oleh Tuhan, sehingga ia dibanggakan oleh Allah dihadapan Iblis. Tidak ada tokoh Alkitab yang lain yang dibangga-banggakan oleh Tuhan di hadapan iblis, selain dari pada Ayub. Kualitas-kualitas inilah yang digunakan oleh penulis kitab ini untuk menjelaskan karakter moral Ayub yang sebenarnya. Harta kekayaan Ayub yang paling utama bukanlah materi yang berada di luar dirinya, tetapi apa yang ada di dalam dirinya.


TELAAH PERIKOP (exegese)
Bagaimanakah kisah kemalangan Ayub, seorang yang takut Tuhan ini, dimulai? Diawali dengan pertemuan mahluk sorgawi dengan Tuhan termasuk Iblis di dalamnya. Tuhan amat membanggakan Ayub dihadapan seisi Sorga, bahkan pula di hadapan Iblis (lih 1:8; 2:3). Namun Iblis meragukan kondisi itu dengan mencari alasan bahwa kesetiaan Ayub hanya sebatas kekayaan dan kepemilikannya yang dianugerahi Tuhan. Singkatnya, Iblis datang menghancurkan harta benda dan anak2 Ayub, atas seijin Tuhan (1:13-19) sehingga Ayub hidup miskin berdua dengan Istrinya. Apa reaksi Ayub? Pada pasal 1:21-22 kita menemukan siapa Ayub sebenarnya berdasarkan rekasinya terhadap musibah yang ia alami. Ayub tidak mengutuk dan menggerutu; Ayub tidak sekali-pun mempertanyakan Tuhan, namun sebaliknya justru memahami bahwa apa yang ia miliki semuanya BUKAN MILIKNYA, melainkan adalah milik Tuhan. Maka, menurut Ayub, adalah wajar jika Tuhan mengambilnya. Peristiwa ini adalah PENCOBAAN PERTAMA dan Iblis GAGAL TOTAL menjatuhkan Ayub dalam dosa. Sebab dalam ayat 22 pasal 1 ditekankan, bahwa dalam kondisi itu Ayub TIDAK berbuat dosa.

Setelah gagal pada cobaan pertama mengenai HARTA BENDA dan kepemilikan, maka saatnya Iblis melanjutkan cobaan kedua pada bacaan kita 2:1-13, tentang tubuh jasmani dengan Istilah yang dipakai “kulit ganti kulit” (2:4). Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada bacaan kita hari ini (sebaiknya dibaca seluruh perikop), yakni:
1.     Perhatikan ayat 5. Iblis meminta agar TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah tulang dan daging Ayub supaya kena kutuk. Apakah TUHAN menyetujuinya? Secara sepintas, jawabannya pasti YA. Namun jika kita memperhatikan ayat 6 bacaan kita sekaligus merujuk 1:12 maka kita menemukan sesuatu yang menarik. TUHAN tidak sedikitpun bersedia menggunakan TanganNya untuk menulahi Ayub. Tangan Iblislah yang melakukannya. Peran TUHAN dalam pergumulan itu hanya sampai pada “MENGIJINKAN” Iblis melakukannya.

Dengan demikian kita menemukan suatu kebenaran penting pada kisah ini. Pencobaan dan derita Ayub tidaklah datang dari tangan TUHAN yang penuh kasih itu. Derita Ayub ditimpakan oleh tangan Iblis yang penuh dengan kebencian dan kepicikan. Dalam alkitab tidak ditemukan sedikitpun bahwa TUHAN mengutuki dan menghajar orang yang taat dan setia kepadaNya. Sebaliknya justru, untuk tipe orang seperti itu, tangan Tuhan selalu datang menjamah untuk memberkati. Kalaupun ada hajaran, itu hanya diberikan TUHAN dalam rangka mendidik dan mengarahkan lagi ke jalan yang benar orang yang dikasihiNya. (bd. Wahyu 3:19).

2.   Ayub sangat menderita dengan penyakit yang ditimpahkan Iblis. Garukan karena gatal lewat tangannya sudah tidak berguna lagi. Itulah sebabnya dalam ayat 8 disebutkan Ayub menggunakan beling untuk menggaruk-garuk badannya. Silakan bayangkan betapa ngeri penderitaan Ayub!

Siapapun yang menyaksikan ini pastilah terenyuh dan tidak tega melihat derita Ayub. Namun, dalam bacaan kita justru tiba2 muncul satu tokoh yang tega dan tidak merasakan derita itu. Siapa tokoh itu? Dia tidak lain adalah Istri Ayub sebagaimana dinyatakan ayat 9 bacaan kita. Perempuan ini bukan saja tidak pedui terhadap penderitaan Ayub, namun juga menjadi “alat iblis” untuk menggoyahkan pertahanan iman Ayub yang saat itu sedang berjuang.

Ternyata tidak selamanya orang yang terdekat dan kelihatannya selalu ada untuk kita dapat mengerti dan mendukung setiap derita dan pergumulan termasuk perjuangan iman. Terkadang justru orang-orang seperti inilah yang menjadi alat Iblis. Dalam hal ini, Ayublah yang mengalami sendiri, yakni ditinggalkan dan dilemahkan oleh orang yang justru dapat diharapkan mendukung, yakni istrinya.

3.   Perhatikan jawaban Ayub kepada Istrinya yang sekaligus menjadi jawaban Iman Ayub terhadap semua cobaan dan derita hidup yang ia alami! Dalam ayat 10 bacaan kita, Ayub dengan tegas menolak menghujat dan meragukan Allah. Ayub menyadari bahwa ia hanya mungkin hidup karena anugerah dan karunia TUHAN. Karena itu apapun yang Tuhan lakukan, entah yang baik atau buruk harusnya tetap diterima dan disyukuri. Bagi Ayub, adalah suatu KEGILAAN jika manusia hanya mau menerima yang baik dari TUHAN dan menolak yang buruk.

Pernyataan iman ini sangat dasyat dan luar biasa untuk dimaknai. Ayub menerima apapun dari TUHAN. Ayub belajar untuk menerima keburukkan hidup oleh karena ia sudah menerima kebaikan terlebih dahulu. Ayub tidak berpikir bahwa kesalehan dan kesetiaannya harus dibalas TUHAN dengan KEBAIKAN sebagai hadiah dan haknya. Namun keunggulan Ayub adalah ketika ia menyadari bahwa di tangan TUHAN-nya ia bukan siapa2 sehingga tidak layak menggerutu, sebaliknya Ayub belajar menerima apapun dari TUHAN. Sebab, bagi AYUB, Tuhan berhak melakukan apapun baginya –baik atau buruk- karena itu adalah HAK Tuhan termasuk terhadap dirinya sekalipun.

4.     Bacaan kita saat ini berkisah juga tentang kehadiran para sahabat Ayub di saat mereka mendengar tentang musibah dan kemalangan hidup yang dialami Ayub. Alkitab menuliskan ketiga sahabat Ayub, yakni: Elifas, orang Teman dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama datang dari tempatnya masing-masing ketika mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa Ayub (ay. 11). Itu berarti mereka tidak berasal dari tempat yang sama. Mereka mungkin beda kota, wilayah bahkan negara. Selain itu dikatakan bahwa mereka bersepakat untuk menghibur Ayub. Itu berarti bukan suatu kebetulan kalau mereka dapat berkumpul bersama.

Lalu, bagaimana mereka dapat mem­buat kesepakatan sementara tempat mereka begitu berjauhan? Alkitab tidak berbicara banyak mengenai hal ini tetapi seperti kita ketahui, membuat suatu kesepakatan dengan jarak terpisah jauh, dengan teknologi informasi yang masih begitu primitif, jelas bukan hal yang mudah; sangat menyita waktu dan tenaga. Tetapi mereka rela bersusah payah sedemikian rupa demi untuk menghibur sahabat yang mereka kasihi, yakni Ayub.

Mereka datang pada Ayub dengan tujuan yang murni, yaitu untuk mengucapkan bela­sungkawa dan menghibur (ay. 11b). Mereka datang bukan karena Ayub kaya atau karena memiliki motivasi-motivasi lain seperti mendapatkan kenikmatan atau balas jasa. Tidak! Sebab saat itu Ayub sudah jatuh miskin, hidup melarat dan kena penyakit mengerikan lagi.

Dalam ayat 12-13 kita menemukan kenyatan yang luar biasa terhadap apa yang dilakukan para sahabat Ayub itu. Ketika sahabat Ayub memandang dari kejauhan dan melihat kondisi Ayub begitu memilukan mereka, maka lima hal bermakna mereka lakukan, yakni:
  1. Mereka menangis dengan suara nyaring;
  2. Mereka mengoyakkan jubah;
  3. Mereka menaburkan debu di kepala;
  4. Mereka menemani Ayub dengan duduk bersama-sama dia selama tujuh hari tujuh malam;
  5. Mereka puasa bicara alias tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.


Banyak penafsiran yang mengatakan bahwa mereka melakukannya karena kebiasaan budaya yang berlaku pada jaman itu. Tapi jika kita per­hatikan lebih lanjut, mereka melakukannya bukan sekedar kebiasaan budaya. Mereka tidak hanya hadir dan berbagi secara fisik, mereka juga berbagi perasaan dengan Ayub. Mereka sama-sama meratap dan sama-sama hancur hati.

Perbuatan ketiga sahabat Ayub ini merupakan sikap dan perbuatan terpuji.  Demi mendukung Ayub dan pergumulan hidupnya, mereka rela berkorban waktu dan tenaga; dengan motivasi tulus meringankan beban; serta dengan penuh kasih turut merasakan derita sahabatnya. Memang benar, apabila kita lanjutkan bacaan ini, kita menemukan pada akhirnya para sahabat Ayub mulai memberikan nasehat dan tanggapan yang kemudian melemahkan dan menjatuhkan Ayub. Saya kira ini adalah wajar, jika mereka sendiri tidak mengetahui kondisi sebenarnya Ayub dalam hal Iman-nya kepada Allah. Namun bukan ini yang akan kita bahas. Khusus bagian bacaan kita, kepedulian merekalah yang perlu direnungkan (walau dalam bagian akhir mereka mempertanyakan Ayub).

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan Firman Tuhan ini, kita dapat memperoleh beberapa pokok pikiran yang berhubungan dengan kehidupan kita dari kisah Ayub ini, yakni:
1.    Kesengsaraan hidup itu identik dengan pencobaan hidup. Ketika kita mengalami pencobaan, siapakah yang mesti bertanggung-jawab? Apakah Tuhan atau Iblis. Pertanyaan ini hanya akan terjawab jika kita mengetahui tentang dari mana asalnya pencobaan itu. Mengenai asal-muasal pencobaan itu, Yak. 1:13-14 menyebutkan:
  1. Allah tidak pernah mencobai manusia
  2. Manusia dicobai oleh keinginannya sendiri
  3. Manusia dicobai oleh Iblis (lih. Bacaan kita) atau biasa disebut oleh Paulus sebagai PENGGODA (1 Tesalonika 3:5).

Hal ini dipertegas lagi oleh bacaan kita bahwa Tangan TUHAN tidak pernah IA gunakan untuk mengutuk dan menyakiti orang yang dikasihiNya. Tindakan ini sepenuhnya ada dalam aksi Iblis. Peran TUHAN pada pencobaan yang kita alami sangatlah sedikit, yakni sebatas mengijinkan Iblis.

Jadi adalah salah alamat, dan berdosa-lah kita jika mengklaim dan menghakimi TUHAN terhadap pencobaan dan derita yang kita alami.  Sebab pencobaan datang kepada Ayub, bukan karena ia durhaka namun justru karena ia setia. Kesetian kita mengundang “iri hati” iblis untuk menghancurkan iman kita lewat pencobaan. Iblislah yang melakukan itu. Jika kita menghakimi Allah dan menghujatNya, berarti Iblis benar dan ia menang karena ternyata kita tidak tahan iman dan berbuat dosa kepada TUHAN. Karena itu, kepada kita yang setia dan percaya kepadaNya, berhati-hatilah karena Iblis licik dan siap menjatuhkan kita lewat cobaan hidup.

2.  Apa yang harus kita lakukan saat mengalami pencobaan oleh Iblis. Belajarlah seperti Ayub! Ia tidak menjadikan TUHAN sebagai MUSUH-nya, melainkan tetap sedapat mungkin bergantung pada TUHAN. Hal ini terlihat jelas dari tiap jawaban imannya ketika menghadapi 2 jenis pencobaan itu.

Mengapa bergantung pada TUHAN begitu penting? Bukankah banyak orang cendrung meninggalkan TUHAN ketika merasakan bahwa seakan TUHAN tidak adil dalam hidupnya? Perhatikan bunyi Mzm.37:5 yang menjadi alasan penting kita harus tetap bergantung pada TUHAN! Ayat ini berbunyi: “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”. Artinya, hanya dengan bergantung pada TUHAN, saat alami pencobaan Iblis-lah, maka IA akan bertindak.

Apa tindakan dan peran TUHAN saat kita mengalami pencobaan? Peran TUHAN tidak hanya pada mengijinkan Iblis mencobai kita, namun dalam lanjutan bunyi ayat 13 kitab 1Kor pasal 10 disebutkan: “… Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu... Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.“ TUHAN tidak akan berdiam diri disaat kita mengalami pencobaan dari Iblis. Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar dan kekuatan untuk dapat menanggungnya hingga pencobaan itu selesai. Karena itu jangan tinggalkan TUHAN ketika hadapi pencobaan, sebaliknya teruslah berada di pihak TUHAN yang penuh kasih dan kuasa itu.

3.    Peristiwa Istri Ayub mengingatkan kita bahwa tidak semua orang dapat menjadi pendukung dan penopang saat kita butuh topangan dan dampingan di tengah cobaan dan pergumulan hidup. Karena itu, kitapun diajar untuk selektif memilih orang yang tepat ketika sedang mengalami cobaan hidup. Hindari setiap saran yang justru akan menjerumuskan kita. Carilah pribadi2 yang tepat yang akan TUHAN kirim untuk mendampingi kita saat mengalami pergumulan itu. Karena itu tetaplah setia! Hadapilah pergumulan dan cobaan hidup ini dengan bijak dan teguh iman seperti Ayub. Percayalah TUHAN tidak akan membiarkan kita dalam pencobaan.

4.  Sesuatu yang tak dapat dipungkiri bahwa di belahan dunia manapun ada begitu banyak orang yang mengalami kemalangan hidup dan penderitaan diri. Di manapun termasuk di sekitar kita sekalipun ada banyak orang yang mengalami kesendirian dan kesepian. Mereka bagaikan Ayub yang tidak mengerti mengapa semua dialami. Mereka bagaikan Ayub yang menderita sendiri dan membutuhkan topangan dan pendampingan. Kita dipanggil untuk menjadi seperti para sahabat Ayub tersebut. Panggilan kita adalah meringkankan penderitaan dan pergumulan sesama kita.

Bagaimana caranya? Lihatlah apa yang dilakukan oleh tiga sahabat Ayub:

a.       Mereka bersusah payah menjangkau tempat Ayub dengan mengorbankan waktu, tenaga dan jarak tempuh yang cukup jauh. Untuk bisa meringankan penderitaan orang lain, kita mesti bersedia mengorbankan sesuatu. Mungkin yang dikorbankan adalah sibuknya kita di tempat kerja; waktu untuk keluarga; keluar sedikit dana extra yang tak terprogram; sediakan ekstra tenaga dan korbankan jam istirahat atau waktu santai kita dll. Tanpa pengorbanan, kita tidak akan mampu secara maksimal untuk meringankan penderitaan orang lain.

b.      Seperti para sahabat Ayub, milikilah motivasi yang tulus ketika menolong orang lain. Jangan demi pujian atau sanjungan; jangan pula supaya diingat atau dikenang; dan juga janganlah demi suatu penghargaan. Perbuatan baik yang kita lakukan bagi orang lain, biarlah murni hanya untuk menolong. Kalaupun itu diguncingkan dan dihargai orang, biarlah itu menjadi kemuliaan Allah.

c.       Perhatikan 5 hal penting yang dilakukan oleh sahabat Ayub pada penjelasan di atas. Mereka bukan hanya bersimpati dengan derita Ayub alias sekedar merasa ibah dan kasihan. Namun mereka bertindak lebih jauh, yakni berempati dengan derita Ayub alias berusaha turut merasakan apa yang dirasakan oleh Ayub. Empati berarti turut berbela rasa atau dalam bahasa sederhananya adalah bersedia memakai sepatu orang lain. Jika sepatu itu sempit maka kita dapat merasakan nyeri dan sakitnya; jika sepatu itu pas ukurannya maka kita dapat merasakan pula nyamannya.

Hanya dengan turut merasakan penderitaan orang lain, maka kita dapat tahu apa sesungguhnya pertolongan yang dibutuhkan mereka. Hanya dengan turut merasakan derita mereka, maka kita akan mampu “mengambil” sedikit pergumulan itu, sehingga orang yang menderita itu merasakan sedikit kelegaan.

Karena itu, mari-lah menjadi alat Tuhan untuk menyalurkan Kasih-Nya yang menyembuhkan kepada setiap orang yang mengalami kesakitan hidup karena derita dan pergumulan yang dialaminya. Kiranya Roh Kudus membantu kita untuk lebih banyak peduli dan menjadi berkat bagi orang lain yang sedang menderita, sebagai mana sahabat Ayub. Kiranya pula kita tidakmenjadi sandungan di balik derita orang lain, sebagaimana yang tega dilakukan oleh istri Ayub. Amin.


Catatan:
Uraian bahan khotbah ini terlalu panjang. Silakan diolah menjadi khotbah lengkap dengan membuatnya lebih ringkas dan mudah dimengerti. 

Wednesday, May 15, 2019

1 RAJA-RAJA 21:17-19


TIAP KEJAHATAN DIHUKUM
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 22 MEI 2019

A. PENGANTAR
Penting untuk mengenal tokoh-tokoh dalam kisah Kebun Anggur Nabot ini supaya kita dapat mengerti kisah ini lebih mendalam. Paling tidak 4 tokoh yakni:
Pertama, Raja Ahab. Nama "ahab" dari bahasa Ibrani: אַחְאָב  (baca: 'akh'av) yang artinya, 'saudara lelaki ayah'. Ahab, Putra dan pengganti Omri, pendiri satu dinasti, yang memerintah sebagai raja ke-7 Israel (utara) selama 22 tahun, ± pada thn 874-852 sM dengan ibukota pemerintahan adalag Samaria (1 Raja 16:28 dab). Selama kurun pemerintahannya, Ahab sebenamya beruntung dengan kehadiran Elia sebagai nabi ilahi. Tapi Ahab dipengaruhi istrinya, Izebel, yang ia izinkan membangun kuil tempat menyembah ilah yang bernama בעל (baca: ba'al) dari Tirus, di Samaria, dengan mezbah untuk orang kafir, patung Asyera dan pelayan-pelayan (1 Raja 16:32).

Kedua, Izebel. Nama "Izebel" dari bahasa Ibrani: איזבל (baca: 'izebel), yang berarti “Baal adalah suami dari”. Izebel adalah putri dari Etbaal, raja-imam Tirus dan Sidon. Dia kawin dengan Ahab karena faktor politis yakni, “menguatkan persekutuan Tirus dengan Israel. Wataknya keras dan bersifat menguasai, menuruti kehendak sendiri dan bersifat memaksa. Dia penyembah fanatik dewa Melkart, yaitu Baal orang Tirus. Nabi dewa ini pada zaman pemerintahan Ahab berjumlah 450 orang, ditambah lagi dengan 400 nabi dewi Asyera (1 Raja 18:19). Dialah yang memberi pengaruh yang cukup kuat sehingga Ahab, suaminya, jatuh dalam dosa.

Ketiga, Nabot. Nama ini dari bahasa Ibrani נָבוֹת (baca: Na-bowth) yang berarti “buah-buahan”.  Ia berasal dari Yizreel yang dalam bahasa Ibarani יזרעאל (baca: Yizre'el), berarti "Allah menabur". Kota ini adalah kota kuno di Israel yang termasuk ke dalam wilayah Suku Isakhar, dan kemudian termasuk wilayah Kerajaan Israel Utara.

Keempat, Elia. Ia adalah Nabi Israel pada abad 9 sM. Namanya dari  bahasa Ibrani אֵלִיָּהוּ (baca: 'eliyahu) yang berarti 'Allahku adalah YHVH. Pelayanan kenabiannya mengambil tempat di kerajaan Utara selama pemerintahan dinasti Omri. Elia sebaya dengan raja Ahab dan Ahazia (anak Ahab penggantinya sebagai raja utara).



B. PENJELASAN NATS
Kisah ini bermula dari keinginan Ahab untuk memiliki kebun anggur milik Nabot. Alasan Ahab ingin memiliki kebun anggur itu adalah alasan praktis yakni posisi kebun anggur itu berbatasan dengan lahan istana kerajaan (ay.1) sehingga adalah baik untuk dimanfaatkan sebagai kebun sayur. Perhatikanlah bahwa sudah pasti Ahab memiliki kebun anggur maupun kebun sayur yang “maha” luas, sebab ia adalah seorang raja bukan? Sehingga adalah aneh jika kemudia terkesan prinsip praktis dan ekomomis menjadi alasan Ahab. Sesungguhnya SERAKAH  adalah istilah yang tepat untuk diberikan kepada Ahab.

Tentu saja Nabot menolak keinginan raja tersebut. Mengapa Nabot menolak? Ada alasan utama bagi Nabot yakni alasan teologis. Ia berkata: “kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!” (ay.3). Mengapa disebut alasan teologis, sebab jawaban Nabot ini adalah cara ia menjalankan perintah TUHAN, Allah Israel. Sebab kepada Israel telah diperintahkan untuk tidak memindah tangankan warisan tanah yang TUHAN berikan kepada tiap suku, di tiap klan suku pada tiap keluarga Israel (Bil.271-11).

Kisah selanjutnya dapat ditebak. Nabot di bunuh dengan cara fitnah tentang “Nabot telah mengutuk Allah dan raja” (ay.13). Permainan keji ini diprakarsai oleh akal bulus Izeebel (ay.8-11). Untuk diketahui bahwa hukuman bagi mereka yang mengutuk (menghujat) nama Allah adalah hukuman mati (Im.24:10-11). Izeebel mengetahui hal ini dan menggunakan senjata Firman Allah untuk memuluskan rencana licik dan jahatnya itu. Nabot akhirnya dihukum mati dan kemudian kebun anggurnya menjadi milik Raja. Sungguh tragis bukan?

Apakah reaksi TUHAN, Allah Israel yang Maha Adil? Jawabannya kita temukan pada bacaan kita yakni 1Raj.21:17-19. Elia di utus TUHAN untuk menyampaikan murka Allah Israel terhadap Istana Ahab. Raja Ahab akan mendapatkan hukumannya yakni: “di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu” (ay.19). Bahkan bukan hanya kepada Ahab saja hukuman itu diberikan, melainkan kepada Izeebel istrinya-pun hukuman mengerikan telah menanti (ay.23). Hukuman dan murka Allah berlanjut dikalangan Istana yakni kepada seluruh keluarga Ahab (ay.21-24). Perhatikanlah hanya demi sebuah kebun anggur, Ahab dan Istrinya membunuh Nabot. Keserakahan mereka dan tindakan jahat yang tidak manusiawi itu tidak akan lolos dari hukuman Tuhan. Karena tanah dan kebun anggur itu, keturunan Ahab menjalani hukuman dari Tuhan.

Hal menarik adalah bagaimana dengan berani Elia menyampaikan perintah TUHAN itu. Siapapun pasti gentar mendatangi istana raja yang keji tersebut. Apalagi sudah pernah terjadi peristiwa bahwa para nabi dibantai oleh Izeebel permaisuri Ahab (18:4). Tetapi tidak bagi Elia!! Ia bahkan dengan berani beradu argumentasi dengan Ahab di Istana raja itu dan dengan tegas menyatakan hukuman itu. Silakan bayangkan percakapan tanpa gentar dilakukan Elia di hadapan raja dan permaisurinya itu pada ayat 20-21 (yang sayangnya tidak dibacakan pada bacaan hari ini). Wow… Elia berani menyuarakan suara kenabian tanpa takut dan gentar. Kebenaran harus tetap disampaikan walaupun beresiko besar. Itulah Elia.

C. REFLEKSI
Beberapa catatan untuk menajdi bahan perenungan kita saat ini:
1.    Keserakahan adalah suatu sifat yang dibentuk dari rasa tidak puas atas apa yang dimiliki. Orang yang tidak pernah merasa cukup dan puas dengan yang ia miliki terkategori sebagai pribadi yang tidak tahu bersykur. Inilah yang terjadi pada Ahab! Keinginan memiliki kebun anggur Nabot bukan karena ia tidak memiliki kebun anggur. Semua ia jenis kekayaan sudah pasti ia miliki karena ia adalah seorang raja. Ahab tidak puas, ia tidak tahu bersyukur.

Jangan menjadi seperti Ahab. Syukuri apa yang kita miliki. Bersyukur kepada Allah sebab apa yang kita peroleh adalah dari TUHAN.

2.  Akibat dari keserakahan adalah tindakan menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Inilah yang juga dilakukan Ahab melalui istrinya Izeebel. Deni memperoleh kebun anggur itu, Nabot dibunuh dengan cara yang keji.  
Berhati-hatilah… jangan mengingini apapun yang dimiliki oleh sesamamu. Perintah pada salah satu dari 10 hukum ini adalah cara Tuhan untuk menjauhkan kita dari keinginan yang tidak benar terhadap apa yang menjadi hak milik orang lain. Jangan mendatangkan dosa demi memuaskan keinginan hati memiliki yang bukan hak kita.

3.    Jadilah seperti Elia. Ia adalah nabi yang luar biasa. Tidak gentar pada siapapun termasuk kepada raja demi menyatakan kebenaran Allah. Suara kenabian harus disampaikan. Kehendak dan perintah Allah harus dinyatakan. Itulah Elia.

Berapa banyak orang yang lebih senang berada di zona nyaman? Yang penting saya aman-aman saja, tidak usah sibuk dengan urusan orang lain. Berapa banyak orang yang bersedia untuk menerima konsekuensi terburuk asalkan kebenaran dan keadilan dapat ditegakkan? Kita dipanggil seperti Elia untuk berani bersuara dan menegur sesuatu yang salah. Sebab jika kejahatan terdengar begitu lantang bersuara akhir-akhir ini dan seakan kebenaran dikalahkan, kadangkala hal itu disebabkan karena orang benar tidak mau bersuara dan menyampaikan kebenaran tersebut.


Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...