Tuesday, May 3, 2011

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR RABU 04 MEI 2011


MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR RABU 04 MEI 2011
YOSUA 6:1-5


JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Setelah orang Israel selesai perayaan Paskah di Gilgal, kini tiba saatnya mereka “merebut” Kanaan dan memasuki Kota Yerikho, tanah perjanjian yang dianugerahkan TUHAN, Allah mereka. Untuk maksud itulah, maka TUHAN, Allah Israel memanggil Yosua untuk menyiapkan pemimpin umat itu melakukan startegi perang supaya selanjutnya ia dapat menyiapkan bangsa yang dipimpinnya itu berhasil merebut Kanaan.

Pada ayat 1-5 bacaan kita, ada beberapa hal penting yang disampaikan TUHAN kepada Yosua, menyangkut persiapan perang tersebut dan bagaimana cara agar mereka dapat memenangkannya. Menarik untuk diperhatikan bahwa kondisi masyarakat Yerikho sendiri sudah berada dalam ketegangan dan ketakutan, walaupun belum terjadi penyerbuat atas mereka. Apa yang dinyatakan dalam ayat 1 bacaan kita memberikan gambaran yang jelas bahwa mereka sudah mendengar tentang dasyatnya Israel dan pendampingan TUHAN atas keturunan Abraham itu.

JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Ada beberapa penekanan penting dari berbagai persiapan yang TUHAN sendiri bicarakan dengan Yosua mulai dari ayat 2-5 bacaan kita. Pokok penting inti pembicaraan itu adalah sebagai berikut:

1.       Arti kemenangan mereka kelak.
Ayat 2 bacaan kita, berbunyi: “Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.” Perhatikanlah istlah “Aku” dalam kalimat “Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini…” yang disampaikan TUHAN kepada Yosua. Hal ini memberikan penekanan yang kuat bahwa kemenangan mereka terjadi karena TUHAN. Bahwa benar Israel-lah yang menghunus pedang dan membunuh lawan, namun kemenangan itu sesungguhNya adalah anugerah dan pemberian TUHAN.

Sejak awal hal ini dengan sengaja ditekankan TUHAN, Allah Israel kepada umat-Nya melalui Yosua, supaya mereka selalu mengingat bahwa apapun yang mereka alami dan jalani mulai dari Mesir sampai ke Kanaan itu hanya terjadi karena TUHAN. Memang benar, bahwa kelihatannya Bangsa Israel-lah yang berperang, namun sesungguhnya peperangan itu adalah Peperangan TUHAN, Allah mereka dalam rangka menggenapi Janji-Nya bagi keturunan Abraham tersebut.

2.       Kunci kemenangan dan keberhasilan
Jika kita memperhatikan detail ayat 3-5 bacaan Alkitab ini, maka ada kesan bahwa startegi yang dipakai TUHAN untuk merebut Yerikho terlalu bertele-tele dan terkesan agak merepotkan, bahkan membuang waktu untuk dikerjakan. Siapapun pasti setuju bahwa ada cara lain untuk memperoleh kemenangan itu dari pada strategi keliling tembok sekali 6 hari dan 7 kali pada hari ketujuh. Bukankah TUHAN yang berperang dengan Israel? Mengapa Ia tidak langsung saja merobohkan tembok itu pada hari pertama? Atau mengapa Ia tidak musnakan saja Yerikho seperti Sodom dan Gomora?

Jika dilanjutkan, maka pertanyaan “mengapa” ini tidak akan berhenti. Bisa jadi, bahwa apa yang kita pertanyakan saat ini, adalah yang juga dipertanyakan oleh Israel pada waktu itu. Dan jika perintah ini terus dipertanyakan tanpa ada niat melaksanakan, maka pastilah tembok Yerikho itu tidak akan pernah runtuh.

Yang paling penting bagi umat Israel pada waktu itu adalah bukan usaha mencari jawaban atas pertanyaan dari terbitnya perintah itu. Yang utama dan mendesak untuk mereka adalah mengerjakan dengan ketaatan; melakukan dengan iman; dan menjalaninya dengan pengharapan. Inilah kunci keberhasilan kemenangan besar yang dijanjikan TUHAN atas mereka. Ada tiga kesimpulan penting dari kata kunci kemenangan mereka:
-          Israel hanya mungkin menang, jika mereka melakukan dengan taat semua perintah itu tanpa harus bertanya mengapa.
-          Israel hanya mungkin menang, jika mereka berperang dengan iman bahwa TUHAN, Allah mereka akan melalukanNya untuk mereka.
-          Israel hanya mungkin menang, jika mereka memiliki pengharapan bahwa janji TUHAN, Allah mereka pastilah digenapi. Bahwa dia tidak pernah ingkar janji. Dalam tahap ini, sudahlah pasti bahwa pengharapan itu tidaklah mengecewakan.

3.       Kewajiban agamawi atau hanya tugas militer biasa
Merebut Kanaan dan menghancurkan tembok kota Yerikho seharusnya dipandang bukan saja sebagai suatu kegiatan perang biasa pada zaman itu, atau umat Israel hanya melihat sebagai suatu kewajiban Militer untuk melaksanakan perang terbuka di sana. Namun justru harus dilihat juga dengan cara pandang yang berbeda yakni sudut pandang religiusitas atau sisi keagamaan yang mengandung nilai-nilai spiritual di dalamnya.

Mengapa demikian? Perhatikan arti penting dari bilangan “tujuh” dalam bacaan kita, yakni: 7 imam, 7 sangkakala, 7 hari, dan 7 kali mengelilingi tembok Yerikho pada hari ke-7. Dalam tradisi keagamaan Yahudi bilangan “tujuh” ini memiliki makna: kesempurnaan, kelengkapan, dan kemenyelu-ruhan. Angka ini dipandang “suci” dan seringkali bersifat agamawi yang menunjuk pada simbol kesempurnaan Ilahi.

Sekanjutnya oerhatikan juga tentang sangkakala tanduk panjang. Terjemahan yang lebih baik adalah sangkakala Yubelium. Menarik unuk disimak bahwa Istilah Ibrani yobel biasanya hanya muncul bertalian dengan upacara keagamaan yakni tahun Yubelium (lih. Im.25:8 dst). Namun khusus diluar kondisi upacara keagamaan, istilah ini hanya mucul dalam bacaan kita dan Kel.19:13, di mana terdapat arti penting agamawi yang sama. Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa kegiatan membawa sangkakala Yubelium (atau sangkakala tanduk panjang) tersebut bukan hanya murini soal startegi perang belaka, namun juga sangat berhubungan dengan kegiatan keagamaan. Hal ini juga diteguhkan dengan ikut diaraknya Tabut Perjanjian sebagai simbol kehadiran Allah yang berarti simbol keagamaan orang Israel.

Dengan demikian sudah dapat dipastikan, bahwa ketika mereka menyiapkan diri menggempur Yerikho, Orang Israel telah paham benar bahwa yang dilakukan mereka bukan saja untuk mengalahkan Kanaan, bukan saja hanya untuk memperoleh tanah tempat tinggal untuk didiami. Lebih daripada itu, mereka sangat memahami bahwa peperangan itu juga adalah suatu ekspresi spiritualitas keagamaan mereka; yang dilakukan bukan untuk manusia dan atau kepentingan perang saja tapi apa yang dilakukan adalah untuk TUHAN, Allah mereka dan kemasyuran namaNya. Alasan ini sudah cukup kuat untuk membuat Israel berperang dengan sungguh2 dan penuh percaya diri menang.


JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Hidup adalah perjuangan. Karena hidup adalah perjuangan maka kita harus memenangkannya. Apakah saudara saat ini sedang memperjuaangkan sesuatu dalam hidup ini? Apakah saudara dan saya ingin memenangkannya? Mari renungkan beberapa prinsip perjuangan merobohkan tembok Yerikho dari bacaan kita untuk juga menjadi prinsip perjuangan hidup kita sebagai umat percaya:

1.       Apapun yang sedang kita alami dan perjuangankan dalam hidup ini, marilah membuat sudut pandang baru dalam perjuangan itu. Bahwa semua yang kita alami dan jalani saat ini datang-Nya karena pertolongan dari TUHAN. Dialah yang bekerja dalam diri dan hidup kita disetiap perjuangan yang kita lakoni. Hindari pemahaman sempit bahwa: “kalau bukan saya”; “untung ada saya”;” wah.. coba saya tidak lakukan ini atau itu” dll. Semua terjadi atas seizin TUHAN.

Kemenangan Israel atas Yerikho, sejak awal sudah diperingatkan TUHAN, Allah mereka sebagai suatu “hadiah” atau pemberian langsung dari TUHAN. Hal ini penting, agar umat TUHAN tidak menjadi congkak hati dan melupakan kebaikan dan kemurahan TUHAN, Allah mereka. Demikian juga dengan kita. Pahamilah bahwa Bapa kita dalam Yesus Kristus, selalu turut bekerja dengan anak-anakNya dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (bd. Rm.8:28). Tuhan tidak pernah berdiam dalam setiap perjuangan kita, maka harusnyalah segala pujian dan hormat dari setiap hasil perjuangan itu dipersembahkan bagi kemuliaan TUHAN, Allah Bapa kita dan bukan kepujian diri kita sendiri.

2.       Untuk bisa memenangkan setiap perjuangan hidup ini, kita harus melibatkan TUHAN di dalamnya sebagai Bapa yang mengasihi kita. Namun, Dia hanya mau terlibat untuk kita, apabila kita sendiri bersedia taat dalam kepatuhan kepadaNya. Banyak hal yang tidak logis dan realistis sering kita temui ketika memberi diri pada ketaatan untukNya. Semuanya menghadirkan banyak pertanyaan yang sulit dijawab. Belajar kepada Israel, kitapun diajak untuk kerjakan saja apa yang TUHAN mau dalam hidup ini tanpa perlu mempertanyakan hal-hal yang belum terjawab itu. Sebab ketaatan kepada TUHAN adalah kunci keberhasilan. Belajarlah taat, walau kadang sulit untuk dimengerti mengapa semua itu kita hadapi dalam perjuangan hidup. Tetaplah taat, walau kelihatannya kita sulit untuk mengerjakannya. Sebab kepastian akhir dalam hidup orang percaya hanyalah satu, yakni Rancangan Damai Sejahtera yang disiapkan TUHAN.

3.       Banyak orang terjebak pada suatu rutinitas duniawi dan memisahkan hal-hal yang sifatnya rohani dalam perjuangan hidup. Apa yang dilakukan Israel ketika merobohkan tembok Yerikho mereka pahami bukan hanya untuk kemenangan mereka, namun juga target agamawi ikut dalam perjuangan itu yakni supaya TUHAN, Allah mereka dimuliakan.

Seharusnya demikian juga dengan kita ketika melaksanakan perjuangan dalam kehidupan ini. Apa target utama kita? Kita bekerja dikantor, harusnya bukan saja untuk mendapat gaji; kita mengabdi dengan penuh upaya keras diperusahan, harusnya bukan saja supaya target tertentu dari perusahan tercapai sehingga bos senang; kita melayani suami dan membesarkan anak2, harusnya bukan saja hanya dipandang sebagai tugas seorang istri atau ibu rumah tangga dll.

Namun, melalui bacaan hari ini kita diingatkan sebagaimana Paulus katakan dalam 1Kor. 10:31 “…Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.  Dengan demikian, jika kita bekerja di kantor, mengabdi diperusahan dll; jika kita sebagai Istri atau ibu rumah tangga, sadarilah bahwa apa yang kita lakukan itu juga memiliki makna iman yakni kita harus melalukannya untuk TUHAN dan kemulianNya.

Karena itu, jemaat Tuhan..
Mari jalani perjuangan hidup kita. Selamat merobohkan tiap tembok Yerikho hidup ini bersama TUHAN dan selamat mengapai masa depan bersama Kasih dan Kemuliaan Juruselamat Hidup kita, Yesus Kristus Tuhan. Amin

Sunday, May 1, 2011

MATERI KHOTBAH PKP 03 MEI 2011

MATERI KHOTBAH PKP 03 MEI 2011
YOSUA 5:10-12

Persatuan Kaum Perempuan yang dikasihi TUHAN,
Bacaan kita hari ini mengisahkan tentang perjalanan Orang Israel yang telah memasuki wilayah Tanah Perjanjian yakni Kanaan. Akhirnya pengembaraan selama 40 tahun itu telah mereka akhiri. Apakah yang dilakukan oleh TUHAN, Allah Israel bagi umatnya melalui Yosua (pengganti Musa) dalam rangka menyiapkan mereka merebut Tanah Kanaan?

Ternyata ada beberapa persiapan penting yang harus mereka lakukan sebelum merebut kota Kanaan dan menikmati Tanah Perjanjian itu. Selama 40 tahun mereka mengembara di tanah gersang, padang pasir yang tandus. Kini mereka telah tiba di wilayah Kanaan, tepatnya di Gilgal. Di tempat inilah TUHAN, Allah Israel menyiapkan umatNya untuk menjemput penggenapan janjiNya kepada nenek moyang mereka yakni Abraham, Ishak dan Yakup. TUHAN menjanjikan Tanah yang berlimpah susu dan madu, tanah yang subur, Tanah Perjanjian. Umat perlu untuk disiapkan secara khusus untuk mengalami perubahan hidup ini.

Apa sajakah yang harus mereka lakukan sebelum memasuki tanah kota Kanaan itu? Mulai ayat 1-12 kitab Yosua kita menemukan minimal ada 3 hal penting yang dilakukan sebelum merebut Yerikho, yakni:
1.       Pembaharuan Perjanjian Lewat Sunat (ay.1-9)
Di Gilgal itu TUHAN, Allah Israel meminta Yosua untuk menyunatkan lagi orang Israel sebelum merebut Kota Yerikho dan sebelum mereka menikmati Tanah Perjanjian itu. Mengapa di sunat lagi? Bukankah sebelumnya yakni 40 tahun lalu di Padang Gurun mereka sudah di sunat? Mengapa perlu disunat lagi? Tindakan sunat adalah suatu tanda atau simbol perjanjian TUHAN, Allah Israel dengan UmatNya. Bahwa umat Israel akan menjadi bangsa pilihan TUHAN, Allah mereka; umat Israel akan menjadi kepunyaan Allah; dan bahwa dengan demikian umat Israel akan setia kepada TUHAN, Allah mereka. Demikian isi perjanjian itu. Tanda meterai dari perjanjian tersebut adalah Sunat. Sunat adalah tanda bahwa Israel menerima dan menaati isi perjanjian itu dan setia kepada TUHAN.

Namun dalam perjalanan 40 tahun itu umat Israel di padang gurun telah berlaku tidak setia kepada TUHAN dan mengingkari Perjanjian yang mereka buat dengan TUHAN. Disamping itu juga, para generasi tua yang keluar dari Mesir dan mendengar langsung perjanjian itu dan melakukan sunat, telah mati semua di padang gurun. Jadi yang telah siap memasuki Tanah Perjanjian adalah mereka yang lahir di padang Gurun dan yang tidak tahu-menahu tentang perjanjian itu sehingga seluruh mereka belum di sunta. Itulah sebabnya di Gilgal TUHAN meminta Yosua untuk melakukan Sunat bagi para generasi baru itu. Hal ini sekaligus menyimbolkan bahwa Israel generasi baru telah membaharui perjanjian ketaatan mereka kepada TUHAN yang disimbolkan dengan sunat.

Sejak sunat dilakukan di Gilgal, maka TUHAN memandang umat Israel generasi baru itu dengan pandangan yang baru yakni mereka telah bersih dari aib orang-orang Israel di Mesir yang penuh dosa. Pembaruan Perjanjian melalui sunat ini menyimbolkan bahwa TUHAN tidak mengingat lagi masa lalu penuh aib dosa dari umat yang tegar tengkuk itu. Inilah sebabnya tempat diadakan upacara sunat itu disebut Gilgal yang berarti “Aib  telah di hapus TUHAN  (bd. Ay.9)

2.       Ibadah Syukur Paskah (ay.10)
Di Gilgal orang Israel juga sebelum memasuki dan merebut Kota Yerikho, mereka merayakan Paskah. Bagi orang Israel, merayakan Paskah memiliki beberapa makna penting, yakni: pertama, kewajiban agama dalam rangka memperingati karya besar yang TUHAN , Allah mereka perbuat bagi umat-Nya yakni membebaskan mereka dari perbudakan; kedua, sebagai pengajaran dari tahun ke tahun untuk turun-temurun Israel tentang Karya Tuhan itu, supaya mereka tidak melupakan kemurahan dan kebaikan TUHAN, Allah mereka.

Menarik untuk diperhatikan, bahwa pada 40 tahun yang lalu, TUHAN memaklumkan perayaan Paskah pada bulan pertama untuk mereka lakukan tiap tahun (bd. Kel 12). Sekarang di Gilgal, pada bulan pertama juga pada tahun ke-40 mereka merayakan paskah juga. Itu berarti perayaan paskah di Gilgal ini adalah perayaan paskah terakhir di masa pengembaraan dan mulai tahun berikutnya mereka telah merayakan paskah di rumah-rumah sendiri di tanah subur dan bukan di padang gurun. Artinya perayaan paskah di Gilgal adalah awal mereka memulai hidup baru. Dengan demikian momentum perayaan Paskah di Gilgal adalah juga ibadah syukur Israel atas kemurahan TUHAN, Allah mereka.

3.       Makanan dan Pola Hidup Berubah (ay.11-12)
Pada ayat 11-12 kita menemukan sesuatu yang menarik. Selama 40 tahun di padang gurun mereka hanya makan roti Manna (roti yang Tuhan kirim tiap pagi). Selama 40 tahun mereka tidak perlu bersusah payah untuk mencari makan karena sudah disiapkan TUHAN. Makanan sorgawi itu dinikmati sebagai anugerah TUHAN yang mengasihi dan memperhatikan umatNya. Mengapa roti mana diberikan? Karena selama di padang gurun tidak ada sesuatu yang bisa dimakan ataupun tidak ada kesempatan untuk bercocok tanam menikmati hasil bumi.

Namun sekarang di wilayah tanah Kanaan, tepatnya di Gilgal suasana sudah berubah. Tanah itu memiliki hasil bumi yang bisa di makan. Apa yang terjadi? Saat itu juga tiba-tiba roti Manna yang dikirim TUHAN di hentikan. Tuhan berhenti menyediakan makanan bagi umat kesukaanNya secara langsung. Mengapa demikian? Apakah TUHAN sudah berhenti memperhatikan dan mengasihi umatNya? Bukan! Berhentinya roti manna adalah tanda bahwa umat Israel sudah memperoleh fasilitas bahan makanan yang lain, di mana sebelumnya tidak ada di padang Gurun.

Kondisi ini sekaligus menyiapkan umat untuk tidak bermanja-manja lagi. Sebelumnya kalau mereka lapar, maka tinggal ambil roti manna (siap saji) untuk di makan. Di Gilgal mereka disiapkan bahwa Manna sudah tidak ada. Yang harus mereka makan adalah hasil bumi. Maka mereka sudah saatnya mulai bekerja dan mengusahakan makanan sendiri tanpa bermalas-malasan lagi. Sudah cukup TUHAN memfasilitasi  kebutuhan mereka tanpa ada upaya dari umat untuk mengusahakan. Sekarang pola hidup sudah berubah, mereka diajak untuk mau mengusahakan juga kehidupan mereka ke arah lebih baik dengan cara bekerja dan menghasilkan hasil bumi untuk dikeperluan mereka. Gilgal adalah tempat mereka memulai pola hidup baru.


Persatuan Kaum Perempuan yang dikasihi TUHAN,
Dari beberapa uraian Firman Tuhan ini, ada beberapa hal penting yang dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai orang percaya, yakni:

1.       Janji Tuhan tidak pernah berubah dan selalu ditepatiNya. Sejak janji TUHAN akan memberikan Tanah Kanaan kepada Abraham dan turunannya hingga menggenapan di Gilgal itu butuh ratusan tahun. Israel mengembara butuh 40 tahun. Di Gilgal mereka tidak bisa langsung masuk Yerikho karena tembok tinggi yang menghalang. Butuh 7 hari kelilingi tembok sedingga roboh dan mereka menikmati tanah perjanjian itu. Andai tidak memiliki iman dan pengharapan, mungkin Musa dan Yosua akan ikut-ikutan meragukan janji TUHAN itu sebagaimana  bangsa Israel lakukan.

Berapa banyak dari kita yang saat ini masih di masa Abraham dalam hal penantian penggenapan janji TUHAN dalam hidup rumah tangga? Atau mungkin ada diantara kita justru sudah berada di tahap pengembaraan padang gurun 40 tahun; atau barangkali kita sudah ada di Gilgal. Di manapun ibu2 berada saat ini, kita butuh iman dan pengharapan agar tetap teguh dan percaya bahwa janji TUHAN pasti akan di genapi. Jangan meragukan TUHAN hanya karena soal waktu. Ia selalu tepat waktu.

2.       Perhatikan apa yang terjadi di Gilgal. Sebelum pemenuhan janji TUHAN itu di genapi meteka harus membaharui perjanjian dengan TUHAN melalui sunat. Hal ini penting supaya mereka benar2 kudus dan layak menerima berkat janji itu. Demikian juga dengan kita. Saatnya kita harus berada di Gilgal kehidupan ini untuk mengotreksi dir dan memperhatikan perjalanan hidup masa lampau tentang bagaimanakah hidup kita di hadapan TUHAN. Kenajisan hidup menghalangi Israel memasuki tanah perjanjian sehingga mereka perlu untuk memperbaharui perjanjian itu.

Demikian juga denga  kita saat ini. Sudah pasti penggenapan janji TUHAN tentang berkat dalam rumah tangga seringkali digilgalkan dulu alias dipending dulu supaya ada momen dan kesempatan kita membaharui diri dan kehidupan kita yang tidak benar. Kita perlu baharui hidup agar janji berkat itu digenapi TUHAN. Jangan pernah berharap bahwa TUHAN memberikan penggenapan janji2 Nya bagi kita jika tahap Gilgal belum kita lalui. Tahap Gilgal adalah tahap untuk mengoreksi diri, membaharui hubungan dengan TUHAN; tahap untuk hdup benar dan kudus. Jangan hanya MENAGIH janji TUHAN sementara hidup kita sendiri belum benar2 melunasi janji2 kita kepada TUHAN.

3.       Gilgal ada tempat transisi masa lampau ke masa depan. Israel berhenti memperoleh Manna dan harus bekerja dan mengusahakan hasil bumi sendiri. Saatnya pula kita memasuki Gilgal untuk mengubah cara pandang tentang berkat dan menggenapan janji TUHAN itu. Jangan berpangku tangan. Berkat tidak jatuh dari langit. Zaman Manna sudah berakhir. Kita harus mengusahakan berkat TUHAN itu dan mengerjakan bersama TUHAN agar janji-janjiNya itu segera digenapi.

Karena itu ibu2, marilah kita masuki tahap Hidup Gilgal ini. Tahap kita meninggalkan manusia lama dan memasuki tahapan manusia baru. Kehidupan lama mari kita tinggalkan di Gilgal hidup ini, dan mari baharui komitmen kita sekeluarga dengan TUHAN untuk memasuki pola hidup yang baru dengan berkat TUHAN yang mennanti digenapi di masa depan kita. Amin

Saturday, April 30, 2011

MATERI KHOTBAH PKB 02 MEI 2011

MATERI KHOTBAH PKB 02 MEI 2011
BILANGAN 9:9-14

Persatuan Kaum Bapak yang dikasihi Tuhan…
Sehubungan dengan suatu peraturan dan ketentuan, beberapa orang seringkali “memplesetkan” dengan suatu ungkapan: “Peraturan dibuat untuk dilanggar”. Artinya zaman sekarang banyak orang cederung untuk tidak patuh dan taat lagi pada aturan yang dibuat. Dampaknya dapat ditebak, yakni disiplin dan etos kerja bahkan etika moral kehidupan menjadi merosot pada nilai yang memalukan. Sebut saja misalnya beberapa kejadian menarik di negeri ini, baik korupsi, anggota dewan yang amoral atau pun berbagai bentuk porno-aksi dan porno-grafi yang kian marak.

Apa jadinya jika kehidupan ini tanpa aturan atau berlimpah aturan namun tokh juga dilanggar? Bacaan kita hari ini yakni mulai hari minggu juga berbicara tentang aturan dan ketentuan yang dibuat TUHAN Allah Israel bagi umatNya yang baru saja memasuki usia 2 tahun pengembaraan di Mesir. Tujuan dari aturan2 tersebut, termasuk aturan paskah dalam bacaan kita adalah supaya umat memiliki tata-krama dalam menjalankan kehidupan keagamaannya.

Ada beberapa hal penting dari aturan paskah Yahudi ini yang diatur oleh TUHAN Allah Israel bagi umatNya, yang dapat kita lihat mulai ayat 1 sampai 14 di kitab Bilangan pasal 9 ini. Beberapa hal dimaksud adalah sebagai berikut:
1.       Peraturan ini dibuat TUHAN dengan amat tegas. Pada ayat 2 disebutkan bahwa mereka HARUS merayakan Paskah. Kata HARUS di sini menunjuk pada kewajiban yang tidak bisa di tawar atau dibantah. Bahkan dalam ayat 13 bacaan kita ditegaskan dengan: jika mereka tidak melaksanakannya maka mereka akan menanggung dosanya itu dengan hukuman dileyapkan dari bangsa Israel. Dengan demikian kita melihat bahwa dari pihak TUHAN, peraturan itu tidak dibuat dengan sembarangan. Peraturan harus dijalankan untuk mencapai tujuan yakni agar mereka dan turunan mereka dapat mengingat kemurahan TUHAN dan menyatakan syukur atas pemeliharaanNya.

2.       Peraturan tentang paskah ini dibuat sangat spesifik. Mulai dengan kapan itu dilaksanakan, yakni pada tiap bulan pertama hari ke-14 (bd.ay.5); bagaimana cara merayakannya, yakni dengan memakan roti tidak beragi dan sayur pahit (bd. Ay.11); dan bagaimana cara menyembeli domba paskah, yakni tidak mematahkan satupun tulang dari korban paskah tersebut (bd. Ay.12). Hal ini menunjukkan bahwa dari pihak TUHAN, umat Israel dikehendaki untuk melakukan semua peraturan itu secara mendetail. Adalah percuma untuk melaksanakan aturan tertentu jika beberapa butir aturan diabaikan. Dengan kata lain, umat Israel diminta ketika melaksanakan ketetapan aturan tersebut, terlebih dahulu mereka harus mengenal, memahami dan mengerti benar setiap detail dari peraturan itu. Umat Israel diajak untuk tidak “hantam kromo”  dalam melaksanakan peraturan dan ketetapan yang dibut oleh TUHAN, Allah mereka.

3.       Hal menarik muncul pada bacaan kita di ayat 9-12. Bagaimana dengan mereka yang tidak bisa melaksanakan Perayaan Paskah karena alasan tertentu termasuk najis karena mayat atau sedang dalam perjalanan, padahal perintah dan aturan ini wajib? Inilah yang menarik dan betapa adil dan bijaksana TUHAN, Allah Israel itu. Peraturan Paskah dibuat untuk satu Tujuan yakni bahwa Umat mensyukuri pembebasan mereka dari perbudakan di Mesir dan supaya seluruh turun-temurun Israel mengenal siapa TUHAN, Allah mereka. Itulah tujuan dari Peraturan Paskah itu.

Namun, karena ada yang tidak bisa melakukannya karena kondisi tertentu, TUHAN sangat bijak dan tidak terlalu kaku sehingga Ia tidak langsung memvonis orang itu tidak TAU ATURAN atau menghukumNya. Namun peraturan itu dapat dibijaki dengan memeberikan pengecualian pada kondisi tertentu. Memang peraturan itu wajib untuk dilakukan, tapi tidak berarti tidak bisa dibijaki. Hal ini terbukti pada ayat 9-12 bacaan kita, bahwa mereka yang tidak bisa laksanakan Perayaan Paskah karena kondisi tertentu (najis, dalam perjalanan) maka mereka dapat melakukannya pada bulan kedua atau sebulan sesudah perayaan Paskah. Hal ini menunjukkan bahwa Peraturan apapun yang dibuat, termasuk juga Peraturan yang di firmankan TUHAN di tetapkan untuk mengantar siapapun mencapai TUJUAN. Artinya, maksud dari peraturan dibuat untuk mencapai Tujuan, sehingga dalam pelaksanaannya jika ada kondisi tertentu peraturan tersebut bisa dibijaki atau ditinjau ulang demi pencapaian tujuan. Namun kadang yang terjadi, orang sangat kaku dengan peraturan sehingga yang terjadi adalah bahwa Peraturan dibuat bukan lagi untuk mencapai tujuan, malah justru PERATURANLAH YANG MENJADI TUJUAN utama. Tidak demikian dengan TUHAN, Allah Israel. Akhirnya seluruh lapisan masyarakat termasuk orang asing dapat menikmati hasil dari tujuan peraturan itu.

Persatuan Kaum Bapak yang dikasihi Tuhan…
Dari uraian Firman Tuhan ini ada beberapa hal yang dapat kita terapkan dalam hidup beriman kita, termasuk sebagai kepala keluarga, yakni:

1.       Merayakan Paskah seperti yang sudah kita lakukan adalah suatu perintah dan ketetapan TUHAN, Allah kepada umatNya dan bukan hanya buatan institusi manusia atau gereja sekalipun. Karena itu harus dilakukan oleh orang percaya. Bedanya adalah bahwa dalam Perjanjian Lama perayaan Paskah dilakukan dalam rangka memperingati dan mensyukuri perbuatan TUHAN, Allah Israel bagi umatNya yang membebaskan mereka dari Mesir tempat perbudakan. Namun bagi kita umat Kristen, sesuai dengan Perjanjian Baru, perayaan Paskah mendapat makna baru yakni suatu perayaan dalam rangka memperingati dan mensyukuri perbuatan TUHAN bagi dunia yang percaya kepadaNya dari perbudakan dan penindasan dosa.

2.       Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar, melainkan untuk dilaksanakan. Hal ini terlebih berlaku untuk Firman dan ketetapan dari TUHAN. Untuk mencapai keselamatan kekal, Bapa kita di Sorga telah membuat aturan dan ketetapan. Semua aturan dibuat dan Firman itu selalu sangat detail dan sistematis sebagaimana aturan tentang Paskah yang kita baca tadi. Dengan demikian, kita hanya mungkin dapat melaksanakan seluruh aturan dan ketetapan itu dengan tepat dan benar jika sebelumnya kita sudah mempelajari secara detail, mengerti dan memahami aturan tersebut.

Dimanakah seluruh aturan dan ketetapan itu dinyatakan? Jawabnya, semua ada dalam Alkitab. Maka jika kita ingin memperoleh keselamatan, kita harus melakukan segala aturan dan ketetapan itu; agar dapat melakukan ketetapan itu, kita harus mengenal dan memahaminya; untuk dapat mengenal dan memahami kita harus SELALU MEMBACA ALKITAB yang berisi aturan dan ketetapan tersebut. Sayangnya banyak orang Kristen, justru jarang membaca Alkitab. Bagaimana dengan saya dan saudara?

3.       Sebagaimana perayaan paskah harus dilakukan umat dari generasi ke generasi melalui pengajaran dalam keluarga, maka demikian juga dengan kita ketika memahami paskah sebagai karya keselamatan. Sebagai kepala keluarga kita perlu mengajarkan seluruh ajaran keselamatan itu kepada anak2 turun temurun kita. Supaya mereka juga dapat mengetahui ajaran keselamatan itu dan akhirnya mengenal Juruselamat kita yakni Tuhan Yesus Kristus.
4.       Dalam hidup ini seringkali juga kita membuat suatu peraturan tertentu. Mari belajar apada Firman Tuhan hari ini. Bahwa peraturan paskah dibuat untuk tujuan suapaya umat memperingati dan mensyukuri perbuatan TUHAN yang ajaib dan pembebas itu. Jadi peraturan dibuat untuk mencapai tujuan. Namun perhatikanlah, sebagaimana TUHAN begitu bijak terhadap aturan yang DIA buat sendiri dengan menyesuaikan segala kondisi yang ada, maka demikian juga dengan kita.

JANGAN TERLALU KAKU DENGAN ATURAN! Jika ada kondisi tertentu, kita dapat melonggarkan aturan tersebut dengan suatu kebijakan demi mencapai tujuan, tapi tentunya dengan cara dan ketentuan yang benar. Aturan dibuat untuk mencapai tujuan, dan bukan tanpa sadar akhirnya aturanlah yang menjadi tujuan. Segala sesuatu harus aturan yang utama, dan bukan tujuan yang diperhatikan. Demikian juga dengan praktek bergereja. Kadangkala tanpa sadar aturan sudah menjadi tuhan-tuhan kecil dalam hidup bergereja dan bukan tujuan utama yakni supaya TUHAN dimuliakan. Mari kesadaran ini kita mulai ditingkat PKB agar dalam rumah tangga, gereja dan masyarakat kita dapat menjadi alat TUHAN untuk mencapai TUJUANNYA yang mulia. Amin

Tuesday, March 22, 2011

ROTI HIDUP

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 23 MARET 2011
YOHANES 6:48-51

48Akulah roti hidup.  49Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati.  50Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. 51Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

PENDAHULUAN
Bacaan kita hari ini adalah lanjutan kisah sebelumnya tentang pengajaran Yesus mengenai diri-Nya. Orang banyak yang amat mengidolakan Musa dan menyebutnya sebagai utusan Allah bagi mereka, karena Musa memberi mereka makan roti dari Sorga atau Roti Manna, tetap tidak bisa menerima Yesus sebagai Roti Sorga yang sesungguhnya. Itulah sebabnya mereka menolak pengajaranNya itu dengan alasan bahwa mereka tahu siapa Dia dan siapa orang tuaNya (bd.42).

Bagian yang kita baca ini berisi penekanan Yesus terhadap siapa Dia sesungguhnya. Tema Ia adalah Roti hidup kembali diangkat dan dijelaskan Yesus.

TELAAH PERIKOP / TAFSIRAN
1.       Rangkaian Bacaan kita ini sering disebut sebagai “pidato Roti Hidup”. Karena seluruh pengajaran Yesus pada perikop ini terfokus pada pemaknaan Roti. Mengapa Roti dipilih Yesus menjadi salah satu tema pengajaran dalam rangka Ia menjelaskan tentang Siapa dirinya? Di Israel, roti memiliki makna dan arti yang sangat penting. Roti memainkan peran yang sangat sentral dalam setiap peribadahan mereka.
  1. Dalam perayaan Pentakosata misalnya, dua roti beragi akan dipersembahkan sebagai kurban bagi TUHAN bersama dengan korban bakaran lainnya. (bd. Im.23:17);
  2. Pada Kemah Suci setiap minggunya dan kemudian berlanjut di Bait Allah, orang Lewi sebagai pelayan di Bait Allah akan meletakkan dua belas roti tidak beragi sebagai lambang 12 suku Israel (Im 24:5);
  3. Di Bait Allah akan diletakkan juga Roti di hadapan TUHAN sebagai lambang kehadiran Allah bagi umatNya itu (bd. Kel.25:30).

Dengan kata lain, Yesus sengaja menggunakan analogi Roti untuk menjelaskan pengajaranNya itu karena memang orang Israel mengenal betul makna dari Roti yang berhubungan erat dengan korban keselamatan dan kehadiran TUHAN. Itu berarti jika Yesus menyebut diriNya sebagai Roti Hidup, hal ini menunjuk pada korban keselamatan dan juga jati diriNya sebagai penguasa alam semesta.

2.       Dalam sejarah iman orang Israel, ada satu roti yang mereka sebut sebagai “Roti Sorga”, yakni roti yang diturunkan TUHAN dari Sorga, yang biasa disebut dengan Roti “Manna” (bd. Kel.16:1-35). “Manna” itu kelihatannya seperti roti, “sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi” (Kel.16:14), “rasa-nya seperti rasa kue madu” (Kel.16:31), atau “seperti panganan yang digoreng” (Bil 11:8). Inilah Roti yang amat dikagumi oleh orang banyak tersebut saat mereka berbicara dengan Yesus.  Bagi mereka itulah cara ajaib yang TUHAN lakukan ketika memelihara mereka dan memberi hidup selama 40 tahun lamanya di gurun melalui makan roti yang turun dari Sorga itu.
       
Di sini Yesus meng-ibarat-kan dirinya bagaikan “manna” tadi,  makanan yang bersifat “spiritual and supernatural” dari Tuhan. Namun, sekali lagi Yesus membedakan Roti “manna” itu dengan Roti Hidup, yakni diriNya sendiri. Keunggulan Roti Sorgawi yakni Yesus sendiri dibanding dengan “manna” sangatlah nyata. Yang satu membawa hidup yang kekal, sementara roti “manna” tidak mampu melewati kematian. Hal ini di ditegaskan begitu kuat oleh Yesus pada ayat 49 dan 50 bacaan kita.

3.       Memang benar bahwa Roti “manna” itu pemberian Allah sehingga disebut roti dari Sorga. Tetapi Roti yang benar dari Sorga bukanlah Roti yang dimakan oleh nenek moyang mereka. Sebab roti yang dimakan oleh nenek moyang mereka itu hanya memberi rasa kenyang sesaat bagi mereka saja. Sedangkan Roti sesungguhnya yang benar dari sorga akan dinikmati bukan saja oleh nenek moyang mereka tapi oleh seluruh dunia. Selanjutnya roti yang dimaksud itu bukan hanya memberi rasa kenyang sesaat namun efeknya adalah memberi hidup kepada dunia.

Itulah sebabnya sambil menunjuk diriNya sendiri, Yesus berkata pada ayat 51: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Memakan “dagingku” yang dimaksud Tuhan Yesus adalah menerima pengorbanan tubuNya yang disalib dan mati untuk dosa kita dan kemudian bangkit untuk menebus kita. Dengan kata lain, kehidupan kekal yang dimaksud Yesus hanya dapat diperoleh mereka apabila orang Israel itu menerima Yesus sebagai Juruselamatnya.

Tetapi hingga akhir perikop ini kita menemukan bahwa orang banyak itu tetap saja tidak mengerti.


APLIKASI DAN RELEVANSI
1.       Katakanlah, di rak buku kita tergeletak sebuah buku kumpulan sajak dari W.S. Rendra yang selama ini belum juga sempat kita baca.  Itu berarti bahwa selama itu pula isi buku tersebut tetap bersifat asing bagi Anda. Lalu suatu ketika kita pun membaca isi buku itu. Ternyata isinya benar-benar memukau. Sajak-sajak itu menyentuh dan bahkan merangsang berbagai perasaan. Dengan itu, isi buku tersebut. telah mengambil tempat dalam ingatan, pikiran dan hati Anda. Isi buku itu ternyata telah menjadi SANTAPAN bagi kita. Tadinya isi buku itu berada di luar sana, tetapi sekarang ia kini berada dalam diri kita. Mengapa? Karena kita telah mengecap dan menikmati isi dari tulisan itu. Sekarang syair sajak itu telah menjadi bagian diri kita melalui pikiran dan ingatan kita.

Demikian juga dengan Tuhan Yesus! Selama Ia hanya menjadi “tokoh” dalam sebuah buku (alkitab) maka Dia akan tetap berada diluar kita dan kitapun tidak akan pernah mengalami diriNya. Namun ketika Yesus masuk dalam kehidupan kita, maka Ia akan menjadi bagian dalam diri dan hidup kita dan kita ada di dalam diriNya. Itulah yang dimaksud dengan “memakan dagingKu” sebagaimana di ucapkan Yesus. Kita perlu untuk mengenal dan mengalami Yesus. Jangan biarkan pengenalan kita tentang Yesus hanya sampai pada pemahaman semu, namun yang lebih penting adalah mengenal Dia dengan lebih dalam lagi.

Para orang banyak itu sangat mengenal Yesus. Mereka tahu siapa Dia dan orang tuaNya. Namun ternyata mereka tidak mengenalNya lebih dalam lagi. Mereka masing mengagumi roti dkiriman dari sorga yang disebut “manna”, padahal di hadapan mereka saat itu ada Roti Sorga yang sesungguhnya, Roti Hidup yang memberi hidup Kekal. Sudahkan Yesus menjadi bagian hidup kita? Ini pertanyaan penting yang harus kita  renungkan. Atau barangkali kita hanya tahu tentang Yesus namun belum mengenalnya dan mengalami tentang Yesus dalam hidup beriman kita? Jika benar demikian itu sama dengan kita hanya membaca judul suatu buku namun tidak pernah membaca dan menikmati buku itu.

2.       Hari ini kita diingatkan untuk mulai saat ini berusaha mengenal Tuhan kita lebih dalam dan lebih sungguh lagi. Hanya dengan pengenalan yang benar tentang Yesuslah akan membuat kita mengerti dan memahami semua kehendaknya.

Bagaimana cara mengenalNya? Sebenarnya tidaklah sulit! Kita dapat mengenal Tuhan kita melalui kebenaran FirmanNya. Karena itu mengetahui Fiman Tuhan adalah hal yang patut dilakukan orang percaya demi dapat mengenal TUHAN lebih baik lagi. Itu berarti kita harus lebih banyak membaca Alkitab, merenungkan dan melakukannya supaya kita dapat mengenalNya dengan baik.

3.       Siapakah Yesus Kristus bagi kita? Apakah Ia benar kita terima sebagai Roti Hidup alias makanan rohani kita? Kata pepatah bijak: “makanan yang kita makan menunjuk siapa kita”. Pepatah ini ingin mengatakan tentang disiplin memelihara kesehatan, mengatur keuangan dalam hal makanan, dan juga kemampuan mengendalikan diri dari godaan makanan. Namun jika pepatah ini disejajarkan dengan Yesus sebagai Roti Hidup itu berarti bahwa kehidupan kita ditentukan dari apa yang kita makan.

Jika Roti hidup adalah makanan kita (Yesus telah menjadi bagian hidup kita) maka seharusnya dalam setiap hidup kita tergambar pola dan kehidupan yang benar sebagaimana Yesus adalah kebenaran itu. Jika pola kehidupan kita yakni pikiran, perkataan dan perbuatan kita tidak selaras dengan kehendak Kristus, maka sesungguhnya kita BELUM menjadikan Dia sebagai Roti Hidup kita. Karena itu marilah menerima Yesus sebagai Roti Hidup. Jalanilah kehidupan ini yang berpadanan dengan MAKANAN ROHANI kita itu supaya benar adanya bahwa kita dapat beroleh hidup kekal. Amin.

Monday, March 21, 2011

MATERI KHOTBAH PKB 21 MARET 2011 YOHANES 6:30-36

KEJARLAH KEBENARAN DAN BUKAN PEMBENARAN

6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."
6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."
6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."
6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.
6:36 Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.

PENDAHULUAN
Setelah orang banyak yang mencari Yesus bertemu denganNya, mereka dikejutkan dengan pemapaan Yesus tentang diriNya. Orang bayak menjadi  ragu tentang keilahian Yesus sebagai sang khalik yang lebih besar dari Musa. Itulah sebabnya mereka menuntut bukti berupa tanda yang jelas yang menunjuk siapa Yesus sebenarnya.

Bagian yang kita baca ini berisi tentang dialog yang bernuansa upaya debat dari orang banyak tentang identitas Yesus yang sesungguhnya.

TELAAH PERIKOP / TAFSIRAN
1.       Perhatikan ayat 30-31 bacaan kita. Orang banyak meminta tanda sebagai bukti bahwa Yesus memang diutus Allah untuk mereka. Bagi mereka, secara nalar dan logika, sesuatu hanya dapat dipercaya dan diterima sebagai suatu kebenaran apabila didukung oleh tanda dan pembuktian yang nyata.

Kekerasan hati mereka dikuatkan dengan peristiwa yang terjadi pada nenek moyang mereka ketika berada di padang gurun waktu keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, tanah Kanaan. Menurut mereka, hanya Musalah yang dapat mereka terima sebagai utusan Allah karena Musa mampu membuat suatu mujizat yakni memberi makan ribuan orang dengan Roti dari Sorga yang disebut manna. Musa diterima dan diakui sebagai utusan Allah yang membebaskan mereka karena adanya pembuktian melalui Roti dari Sorga itu atau Roti manna. Dengan kata lain, kepercayaan orang banyak itu hanya bertumbuh dari sesuatu yang dapat dibuktikan. Mereka hanya percaya jika itu dapat dilihat dan terbukti benar. Itulah sebabnya mereka menggugat Yesus dan bertanya “pekerjaan mana yang Yesus lakukan untuk membuktikan ucapanNya?” Yesus tidak membuktikan apapun, sementara Musa telah terbukti pekerjaannya itu.

2.       Alasan dan cara berpikir orang Israel itu di patahkan oleh Yesus pada ayat 32-33 di bacaan kita. Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Dari uraian ayat 32-33 ini, ada dua hal penting yang ingin Yesus tegaskan, yakni:
  1. Bahwa nenek moyang mereka diberikan makan “manna”, sebenarnya bukan oleh Musa melainkan oleh Allah Bapa. Musa tidak pernah mampu untuk mendatangkan makanan itu. Musa hanyalah manusia dan tidak punya kuasa. TUHAN sendirilah yang bekerja dan memberi makan menek moyang mereka itu.
Jadi alasan Roti “Manna” sebagai hasil pekerjaan Musa sehingga itu membuktikan bahwa ia adalah utusan TUHAN adalah suatu kekeliruan besar. Musa memang utusan TUHAN, tapi bukan karena ia memberi “Manna” bagi Israel, sebab TUHAN-lah yang memberi makanan itu.

  1. Memang benar bahwa Roti “manna” itu pemberian Allah sehingga disebut roti dari Sorga. Tetapi Roti yang benar dari Sorga bukanlah Rotti yang dimakan oleh nenek moyang mereka. Sebab roti yang dimakan oleh nenek moyang mereka itu hanya memberi rasa kenyang sesaat bagi mereka saja. Sedangkan Roti sesungguhnya yang benar dari sorga akan dinikmati bukan saja oleh nenek moyang mereka tapi oleh seluruh dunia. Selanjutnya roti yang dimaksud itu bukan hanya memberi rasa kenyang sesaat namun efeknya adalah memberi hidup kepada dunia.

3.       Mendengar penjelasan Yesus itu, orang banyak menjadi sangat penasaran dan ingin menikmati roti yang Ia maksudkan. Itulah sebabnya mereka berkata: “Tuhan berikan roti itu!” Ternyata mereka amat menginginkannya. Mendengar permintaan itu, Yesus segera menyebut dan mendefinisikan Roti yang Ia maksudkan. Pada ayat 35 bacaan kita Yesus menyebutkan bahwa Dialah yang dimaksud dengan Roti itu.
Hal ini memberikan penekanan kepada orang Israel itu bahwa mereka harus lebih percaya kepada Yesus dibanding kepada Musa, dan mereka harusnya tidak memikirkan hal-hal yang dapat binasa melainkan sesuatu yang memberi hidup kekal. Yesuslah Roti Hidup yang memberi kehidupan kekal. Dialah Roti yang turun dari Sorga. Maka harusnya kepada Dia-lah orang Israel mempercayakan hidup mereka.

4.       Namun, apapun yang dijelaskan Yesus, Ia tahu bahwa mereka tidak akan percaya walaupun sudah mengetahui dan mengenal Dia. Me ngapa demikian? karena orang banyak itu hanya berpegang pada kebenaran yang mereka percayai dan bukan kepada ajaran yang Yesus sampaikan.


APLIKASI DAN RELEFANSI
1.       Sudah menjadi kenyataan yang tak terpungkiri bahwa segala sesuatu selalu diyakini jika sudah dapat dibuktikan. Sebagai manusia kita sendrung memuaskan nalar dan logika kita untuk menerima suatu kebenaran. Hari ini kita diajarkan Firman Tuhan tetang bagaimana kemudian orang Israel tidak dapat menerima Yesus Kristus sebagai TUHAN karena tidak dapat mempercayaiNya.

Iman tidak yang sesungguhnya adalah kebenaran yang diterima tanpa pembuktian apapun melainkan kemampuan untuk meyakini dengan sungguh. Kita percaya kepada Yesus bukan karena alat bukti tertentu, namun seharusnya kita percaya kepadaNya karena memang kita percaya. Itu sudahlah cukup. Bukankah Yesus pernah berkata kepada murid2-Nya pada kasus Tomas yang kurang percaya: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yoh.20:29.b). Percaya kepada Yesus tidak harus menuntuk pembuktian atau karena melihat. Percaya kepada Yesus harusnya dilakukan tanpa syarat apa-pun sebagaimana Ia berkorban untuk kita tanpa menuntut syarat apapun dari kita.

2.       Mengapa walaupun Yesus telah memperkenalkan diriNya dan mematahkan argumen mereka tentang siapa Dia dibanding Musa, orang Isreal tetap tidak percaya? Jawabannya karena mereka lebih percaya kepada kebenaran yang mereka pahami dari pada kebenaran yang diajarkan Tuhan.

Hari ini kita diingatkan suatu hal yang penting. Bahwa kebenaran yang mutlak dan paling benar adalah kebenaran dari Allah. untuk dapat menerima kebenaran dari TUHAN kita harus bersedia menanggalkan prinsip, kaidah dan keteguhan logika kita terhadap kebenaran yang kita pegang sebelumnya. Apabila kebenaran yang kita miliki tidak sama dengan kebenaran dai TUHAN, maka sudah dapat dipastikan bahwa kebenaran yang kita pegang itu sebenarnya bukanlah kebenaran. Kita harus menerima kebenaran dari TUHAN.

Apakah kebenaran itu? Bahwa Yesus adalah Tuhan dan juruslamat. Itulah kebenaran yang sesungguhnya. Ia-lah Roti Hidup itu. Kita harus menerimanya agar beroleh kehidupan kekal. Karena itu wujud menerima dan mengakui Yesus sebagai Juruselamat adalah ketika kita bersedia untuk menaati dan melalukan kehendaknya dalam hidup kita. Sebagai suami, jadilah suami yang taat kepada TUHAN. Sebagai istri. Jadilah istri yang hanya taat kepada TUHAN. Maka saat itulah kita telah menerima dan menikmati Roti Hidup itu yakni Tuhan Yesus Kristus. Amin

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...