Wednesday, July 31, 2019

AYUB 2:9-13

BERPIKIR POSITIF TENTANG TUHAN
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
04 AGUSTUS 2019

PENDAHULUAN
Siapakah Ayub? Tokoh ini tidak dengan terperinci dijelaskan oleh alkitab. Ia hanya disebutkan berasal dari daerah Us (1:1) dan merupakan orang terkaya di daerahnya. Ia mendapatkan 7 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Selain itu ia juga mempunyai banyak harta kekayaan, di antaranya: 7000 kambing domba, 3000 unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina dan banyak budak-budak (1:2-3).

Oleh karena banyaknya harta Ayub, maka ia menjadi orang yang terkaya di daerah Timur. Ayub digambarkan sebagai orang yang sangat kaya dan tidak ada yang lebih kaya dari pada Ayub. Jadi besar kemungkinan Ayub juga sangat terkenal di seluruh daerah Timur. Menarik untuk dicatat bahwa Alkitab menyebut tentang 10 orang anak dan kekayaan sebagai pemberian Tuhan (1:2,3,10), namun tidak menyebut istrinya sebagai bagian dari pemberian Tuhan. Istri Ayub hanya muncul pada  ayat 9 bacaan kita.

Namun keterangan yang penting dan dicatat berulang-ulang mengenai tokoh ini adalah karakter moralnya. Ia adalah seorang yang “saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Kalimat ini dituliskan sebanyak 3 kali; 1x disebutkan dalam 1:1 oleh penulis kitab ini, 2x diucapkan oleh Tuhan dalam 1:8 dan 2:3. Jadi karakter Ayub tersebut merupakan suatu penekanan, karakter yang dinilai sangat baik oleh Tuhan, sehingga ia dibanggakan oleh Allah dihadapan Iblis. Tidak ada tokoh Alkitab yang lain yang dibangga-banggakan oleh Tuhan di hadapan iblis, selain dari pada Ayub. Kualitas-kualitas inilah yang digunakan oleh penulis kitab ini untuk menjelaskan karakter moral Ayub yang sebenarnya. Harta kekayaan Ayub yang paling utama bukanlah materi yang berada di luar dirinya, tetapi apa yang ada di dalam dirinya.


TELAAH PERIKOP (exegese)
Bagaimanakah kisah kemalangan Ayub, seorang yang takut Tuhan ini, dimulai? Diawali dengan pertemuan mahluk sorgawi dengan Tuhan termasuk Iblis di dalamnya. Tuhan amat membanggakan Ayub dihadapan seisi Sorga, bahkan pula di hadapan Iblis (lih 1:8; 2:3). Namun Iblis meragukan kondisi itu dengan mencari alasan bahwa kesetiaan Ayub hanya sebatas kekayaan dan kepemilikannya yang dianugerahi Tuhan. Singkatnya, Iblis datang menghancurkan harta benda dan anak2 Ayub, atas seijin Tuhan (1:13-19) sehingga Ayub hidup miskin berdua dengan Istrinya. Apa reaksi Ayub? Pada pasal 1:21-22 kita menemukan siapa Ayub sebenarnya berdasarkan rekasinya terhadap musibah yang ia alami. Ayub tidak mengutuk dan menggerutu; Ayub tidak sekali-pun mempertanyakan Tuhan, namun sebaliknya justru memahami bahwa apa yang ia miliki semuanya BUKAN MILIKNYA, melainkan adalah milik Tuhan. Maka, menurut Ayub, adalah wajar jika Tuhan mengambilnya. Peristiwa ini adalah PENCOBAAN PERTAMA dan Iblis GAGAL TOTAL menjatuhkan Ayub dalam dosa. Sebab dalam ayat 22 pasal 1 ditekankan, bahwa dalam kondisi itu Ayub TIDAK berbuat dosa.

Setelah gagal pada cobaan pertama mengenai HARTA BENDA dan kepemilikan, maka saatnya Iblis melanjutkan cobaan kedua pada bacaan kita 2:1-13, tentang tubuh jasmani dengan Istilah yang dipakai “kulit ganti kulit” (2:4). Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada bacaan kita hari ini (sebaiknya dibaca seluruh perikop), yakni:
1.     Perhatikan ayat 5. Iblis meminta agar TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah tulang dan daging Ayub supaya kena kutuk. Apakah TUHAN menyetujuinya? Secara sepintas, jawabannya pasti YA. Namun jika kita memperhatikan ayat 6 bacaan kita sekaligus merujuk 1:12 maka kita menemukan sesuatu yang menarik. TUHAN tidak sedikitpun bersedia menggunakan TanganNya untuk menulahi Ayub. Tangan Iblislah yang melakukannya. Peran TUHAN dalam pergumulan itu hanya sampai pada “MENGIJINKAN” Iblis melakukannya.

Dengan demikian kita menemukan suatu kebenaran penting pada kisah ini. Pencobaan dan derita Ayub tidaklah datang dari tangan TUHAN yang penuh kasih itu. Derita Ayub ditimpakan oleh tangan Iblis yang penuh dengan kebencian dan kepicikan. Dalam alkitab tidak ditemukan sedikitpun bahwa TUHAN mengutuki dan menghajar orang yang taat dan setia kepadaNya. Sebaliknya justru, untuk tipe orang seperti itu, tangan Tuhan selalu datang menjamah untuk memberkati. Kalaupun ada hajaran, itu hanya diberikan TUHAN dalam rangka mendidik dan mengarahkan lagi ke jalan yang benar orang yang dikasihiNya. (bd. Wahyu 3:19).

2.   Ayub sangat menderita dengan penyakit yang ditimpahkan Iblis. Garukan karena gatal lewat tangannya sudah tidak berguna lagi. Itulah sebabnya dalam ayat 8 disebutkan Ayub menggunakan beling untuk menggaruk-garuk badannya. Silakan bayangkan betapa ngeri penderitaan Ayub!

Siapapun yang menyaksikan ini pastilah terenyuh dan tidak tega melihat derita Ayub. Namun, dalam bacaan kita justru tiba2 muncul satu tokoh yang tega dan tidak merasakan derita itu. Siapa tokoh itu? Dia tidak lain adalah Istri Ayub sebagaimana dinyatakan ayat 9 bacaan kita. Perempuan ini bukan saja tidak pedui terhadap penderitaan Ayub, namun juga menjadi “alat iblis” untuk menggoyahkan pertahanan iman Ayub yang saat itu sedang berjuang.

Ternyata tidak selamanya orang yang terdekat dan kelihatannya selalu ada untuk kita dapat mengerti dan mendukung setiap derita dan pergumulan termasuk perjuangan iman. Terkadang justru orang-orang seperti inilah yang menjadi alat Iblis. Dalam hal ini, Ayublah yang mengalami sendiri, yakni ditinggalkan dan dilemahkan oleh orang yang justru dapat diharapkan mendukung, yakni istrinya.

3.   Perhatikan jawaban Ayub kepada Istrinya yang sekaligus menjadi jawaban Iman Ayub terhadap semua cobaan dan derita hidup yang ia alami! Dalam ayat 10 bacaan kita, Ayub dengan tegas menolak menghujat dan meragukan Allah. Ayub menyadari bahwa ia hanya mungkin hidup karena anugerah dan karunia TUHAN. Karena itu apapun yang Tuhan lakukan, entah yang baik atau buruk harusnya tetap diterima dan disyukuri. Bagi Ayub, adalah suatu KEGILAAN jika manusia hanya mau menerima yang baik dari TUHAN dan menolak yang buruk.

Pernyataan iman ini sangat dasyat dan luar biasa untuk dimaknai. Ayub menerima apapun dari TUHAN. Ayub belajar untuk menerima keburukkan hidup oleh karena ia sudah menerima kebaikan terlebih dahulu. Ayub tidak berpikir bahwa kesalehan dan kesetiaannya harus dibalas TUHAN dengan KEBAIKAN sebagai hadiah dan haknya. Namun keunggulan Ayub adalah ketika ia menyadari bahwa di tangan TUHAN-nya ia bukan siapa2 sehingga tidak layak menggerutu, sebaliknya Ayub belajar menerima apapun dari TUHAN. Sebab, bagi AYUB, Tuhan berhak melakukan apapun baginya –baik atau buruk- karena itu adalah HAK Tuhan termasuk terhadap dirinya sekalipun.

4.     Bacaan kita saat ini berkisah juga tentang kehadiran para sahabat Ayub di saat mereka mendengar tentang musibah dan kemalangan hidup yang dialami Ayub. Alkitab menuliskan ketiga sahabat Ayub, yakni: Elifas, orang Teman dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama datang dari tempatnya masing-masing ketika mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa Ayub (ay. 11). Itu berarti mereka tidak berasal dari tempat yang sama. Mereka mungkin beda kota, wilayah bahkan negara. Selain itu dikatakan bahwa mereka bersepakat untuk menghibur Ayub. Itu berarti bukan suatu kebetulan kalau mereka dapat berkumpul bersama.

Lalu, bagaimana mereka dapat mem­buat kesepakatan sementara tempat mereka begitu berjauhan? Alkitab tidak berbicara banyak mengenai hal ini tetapi seperti kita ketahui, membuat suatu kesepakatan dengan jarak terpisah jauh, dengan teknologi informasi yang masih begitu primitif, jelas bukan hal yang mudah; sangat menyita waktu dan tenaga. Tetapi mereka rela bersusah payah sedemikian rupa demi untuk menghibur sahabat yang mereka kasihi, yakni Ayub.

Mereka datang pada Ayub dengan tujuan yang murni, yaitu untuk mengucapkan bela­sungkawa dan menghibur (ay. 11b). Mereka datang bukan karena Ayub kaya atau karena memiliki motivasi-motivasi lain seperti mendapatkan kenikmatan atau balas jasa. Tidak! Sebab saat itu Ayub sudah jatuh miskin, hidup melarat dan kena penyakit mengerikan lagi.

Dalam ayat 12-13 kita menemukan kenyatan yang luar biasa terhadap apa yang dilakukan para sahabat Ayub itu. Ketika sahabat Ayub memandang dari kejauhan dan melihat kondisi Ayub begitu memilukan mereka, maka lima hal bermakna mereka lakukan, yakni:
  1. Mereka menangis dengan suara nyaring;
  2. Mereka mengoyakkan jubah;
  3. Mereka menaburkan debu di kepala;
  4. Mereka menemani Ayub dengan duduk bersama-sama dia selama tujuh hari tujuh malam;
  5. Mereka puasa bicara alias tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.


Banyak penafsiran yang mengatakan bahwa mereka melakukannya karena kebiasaan budaya yang berlaku pada jaman itu. Tapi jika kita per­hatikan lebih lanjut, mereka melakukannya bukan sekedar kebiasaan budaya. Mereka tidak hanya hadir dan berbagi secara fisik, mereka juga berbagi perasaan dengan Ayub. Mereka sama-sama meratap dan sama-sama hancur hati.

Perbuatan ketiga sahabat Ayub ini merupakan sikap dan perbuatan terpuji.  Demi mendukung Ayub dan pergumulan hidupnya, mereka rela berkorban waktu dan tenaga; dengan motivasi tulus meringankan beban; serta dengan penuh kasih turut merasakan derita sahabatnya. Memang benar, apabila kita lanjutkan bacaan ini, kita menemukan pada akhirnya para sahabat Ayub mulai memberikan nasehat dan tanggapan yang kemudian melemahkan dan menjatuhkan Ayub. Saya kira ini adalah wajar, jika mereka sendiri tidak mengetahui kondisi sebenarnya Ayub dalam hal Iman-nya kepada Allah. Namun bukan ini yang akan kita bahas. Khusus bagian bacaan kita, kepedulian merekalah yang perlu direnungkan (walau dalam bagian akhir mereka mempertanyakan Ayub).

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan Firman Tuhan ini, kita dapat memperoleh beberapa pokok pikiran yang berhubungan dengan kehidupan kita dari kisah Ayub ini, yakni:
1.    Kesengsaraan hidup itu identik dengan pencobaan hidup. Ketika kita mengalami pencobaan, siapakah yang mesti bertanggung-jawab? Apakah Tuhan atau Iblis. Pertanyaan ini hanya akan terjawab jika kita mengetahui tentang dari mana asalnya pencobaan itu. Mengenai asal-muasal pencobaan itu, Yak. 1:13-14 menyebutkan:
  1. Allah tidak pernah mencobai manusia
  2. Manusia dicobai oleh keinginannya sendiri
  3. Manusia dicobai oleh Iblis (lih. Bacaan kita) atau biasa disebut oleh Paulus sebagai PENGGODA (1 Tesalonika 3:5).

Hal ini dipertegas lagi oleh bacaan kita bahwa Tangan TUHAN tidak pernah IA gunakan untuk mengutuk dan menyakiti orang yang dikasihiNya. Tindakan ini sepenuhnya ada dalam aksi Iblis. Peran TUHAN pada pencobaan yang kita alami sangatlah sedikit, yakni sebatas mengijinkan Iblis.

Jadi adalah salah alamat, dan berdosa-lah kita jika mengklaim dan menghakimi TUHAN terhadap pencobaan dan derita yang kita alami.  Sebab pencobaan datang kepada Ayub, bukan karena ia durhaka namun justru karena ia setia. Kesetian kita mengundang “iri hati” iblis untuk menghancurkan iman kita lewat pencobaan. Iblislah yang melakukan itu. Jika kita menghakimi Allah dan menghujatNya, berarti Iblis benar dan ia menang karena ternyata kita tidak tahan iman dan berbuat dosa kepada TUHAN. Karena itu, kepada kita yang setia dan percaya kepadaNya, berhati-hatilah karena Iblis licik dan siap menjatuhkan kita lewat cobaan hidup.

2.  Apa yang harus kita lakukan saat mengalami pencobaan oleh Iblis. Belajarlah seperti Ayub! Ia tidak menjadikan TUHAN sebagai MUSUH-nya, melainkan tetap sedapat mungkin bergantung pada TUHAN. Hal ini terlihat jelas dari tiap jawaban imannya ketika menghadapi 2 jenis pencobaan itu.

Mengapa bergantung pada TUHAN begitu penting? Bukankah banyak orang cendrung meninggalkan TUHAN ketika merasakan bahwa seakan TUHAN tidak adil dalam hidupnya? Perhatikan bunyi Mzm.37:5 yang menjadi alasan penting kita harus tetap bergantung pada TUHAN! Ayat ini berbunyi: “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”. Artinya, hanya dengan bergantung pada TUHAN, saat alami pencobaan Iblis-lah, maka IA akan bertindak.

Apa tindakan dan peran TUHAN saat kita mengalami pencobaan? Peran TUHAN tidak hanya pada mengijinkan Iblis mencobai kita, namun dalam lanjutan bunyi ayat 13 kitab 1Kor pasal 10 disebutkan: “… Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu... Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.“ TUHAN tidak akan berdiam diri disaat kita mengalami pencobaan dari Iblis. Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar dan kekuatan untuk dapat menanggungnya hingga pencobaan itu selesai. Karena itu jangan tinggalkan TUHAN ketika hadapi pencobaan, sebaliknya teruslah berada di pihak TUHAN yang penuh kasih dan kuasa itu.

3.    Peristiwa Istri Ayub mengingatkan kita bahwa tidak semua orang dapat menjadi pendukung dan penopang saat kita butuh topangan dan dampingan di tengah cobaan dan pergumulan hidup. Karena itu, kitapun diajar untuk selektif memilih orang yang tepat ketika sedang mengalami cobaan hidup. Hindari setiap saran yang justru akan menjerumuskan kita. Carilah pribadi2 yang tepat yang akan TUHAN kirim untuk mendampingi kita saat mengalami pergumulan itu. Karena itu tetaplah setia! Hadapilah pergumulan dan cobaan hidup ini dengan bijak dan teguh iman seperti Ayub. Percayalah TUHAN tidak akan membiarkan kita dalam pencobaan.

4.  Sesuatu yang tak dapat dipungkiri bahwa di belahan dunia manapun ada begitu banyak orang yang mengalami kemalangan hidup dan penderitaan diri. Di manapun termasuk di sekitar kita sekalipun ada banyak orang yang mengalami kesendirian dan kesepian. Mereka bagaikan Ayub yang tidak mengerti mengapa semua dialami. Mereka bagaikan Ayub yang menderita sendiri dan membutuhkan topangan dan pendampingan. Kita dipanggil untuk menjadi seperti para sahabat Ayub tersebut. Panggilan kita adalah meringkankan penderitaan dan pergumulan sesama kita.

Bagaimana caranya? Lihatlah apa yang dilakukan oleh tiga sahabat Ayub:

a.       Mereka bersusah payah menjangkau tempat Ayub dengan mengorbankan waktu, tenaga dan jarak tempuh yang cukup jauh. Untuk bisa meringankan penderitaan orang lain, kita mesti bersedia mengorbankan sesuatu. Mungkin yang dikorbankan adalah sibuknya kita di tempat kerja; waktu untuk keluarga; keluar sedikit dana extra yang tak terprogram; sediakan ekstra tenaga dan korbankan jam istirahat atau waktu santai kita dll. Tanpa pengorbanan, kita tidak akan mampu secara maksimal untuk meringankan penderitaan orang lain.

b.      Seperti para sahabat Ayub, milikilah motivasi yang tulus ketika menolong orang lain. Jangan demi pujian atau sanjungan; jangan pula supaya diingat atau dikenang; dan juga janganlah demi suatu penghargaan. Perbuatan baik yang kita lakukan bagi orang lain, biarlah murni hanya untuk menolong. Kalaupun itu diguncingkan dan dihargai orang, biarlah itu menjadi kemuliaan Allah.

c.       Perhatikan 5 hal penting yang dilakukan oleh sahabat Ayub pada penjelasan di atas. Mereka bukan hanya bersimpati dengan derita Ayub alias sekedar merasa ibah dan kasihan. Namun mereka bertindak lebih jauh, yakni berempati dengan derita Ayub alias berusaha turut merasakan apa yang dirasakan oleh Ayub. Empati berarti turut berbela rasa atau dalam bahasa sederhananya adalah bersedia memakai sepatu orang lain. Jika sepatu itu sempit maka kita dapat merasakan nyeri dan sakitnya; jika sepatu itu pas ukurannya maka kita dapat merasakan pula nyamannya.

Hanya dengan turut merasakan penderitaan orang lain, maka kita dapat tahu apa sesungguhnya pertolongan yang dibutuhkan mereka. Hanya dengan turut merasakan derita mereka, maka kita akan mampu “mengambil” sedikit pergumulan itu, sehingga orang yang menderita itu merasakan sedikit kelegaan.

Karena itu, mari-lah menjadi alat Tuhan untuk menyalurkan Kasih-Nya yang menyembuhkan kepada setiap orang yang mengalami kesakitan hidup karena derita dan pergumulan yang dialaminya. Kiranya Roh Kudus membantu kita untuk lebih banyak peduli dan menjadi berkat bagi orang lain yang sedang menderita, sebagai mana sahabat Ayub. Kiranya pula kita tidakmenjadi sandungan di balik derita orang lain, sebagaimana yang tega dilakukan oleh istri Ayub. Amin.


Catatan:
Uraian bahan khotbah ini terlalu panjang. Silakan diolah menjadi khotbah lengkap dengan membuatnya lebih ringkas dan mudah dimengerti. 

Wednesday, May 15, 2019

1 RAJA-RAJA 21:17-19


TIAP KEJAHATAN DIHUKUM
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 22 MEI 2019

A. PENGANTAR
Penting untuk mengenal tokoh-tokoh dalam kisah Kebun Anggur Nabot ini supaya kita dapat mengerti kisah ini lebih mendalam. Paling tidak 4 tokoh yakni:
Pertama, Raja Ahab. Nama "ahab" dari bahasa Ibrani: אַחְאָב  (baca: 'akh'av) yang artinya, 'saudara lelaki ayah'. Ahab, Putra dan pengganti Omri, pendiri satu dinasti, yang memerintah sebagai raja ke-7 Israel (utara) selama 22 tahun, ± pada thn 874-852 sM dengan ibukota pemerintahan adalag Samaria (1 Raja 16:28 dab). Selama kurun pemerintahannya, Ahab sebenamya beruntung dengan kehadiran Elia sebagai nabi ilahi. Tapi Ahab dipengaruhi istrinya, Izebel, yang ia izinkan membangun kuil tempat menyembah ilah yang bernama בעל (baca: ba'al) dari Tirus, di Samaria, dengan mezbah untuk orang kafir, patung Asyera dan pelayan-pelayan (1 Raja 16:32).

Kedua, Izebel. Nama "Izebel" dari bahasa Ibrani: איזבל (baca: 'izebel), yang berarti “Baal adalah suami dari”. Izebel adalah putri dari Etbaal, raja-imam Tirus dan Sidon. Dia kawin dengan Ahab karena faktor politis yakni, “menguatkan persekutuan Tirus dengan Israel. Wataknya keras dan bersifat menguasai, menuruti kehendak sendiri dan bersifat memaksa. Dia penyembah fanatik dewa Melkart, yaitu Baal orang Tirus. Nabi dewa ini pada zaman pemerintahan Ahab berjumlah 450 orang, ditambah lagi dengan 400 nabi dewi Asyera (1 Raja 18:19). Dialah yang memberi pengaruh yang cukup kuat sehingga Ahab, suaminya, jatuh dalam dosa.

Ketiga, Nabot. Nama ini dari bahasa Ibrani נָבוֹת (baca: Na-bowth) yang berarti “buah-buahan”.  Ia berasal dari Yizreel yang dalam bahasa Ibarani יזרעאל (baca: Yizre'el), berarti "Allah menabur". Kota ini adalah kota kuno di Israel yang termasuk ke dalam wilayah Suku Isakhar, dan kemudian termasuk wilayah Kerajaan Israel Utara.

Keempat, Elia. Ia adalah Nabi Israel pada abad 9 sM. Namanya dari  bahasa Ibrani אֵלִיָּהוּ (baca: 'eliyahu) yang berarti 'Allahku adalah YHVH. Pelayanan kenabiannya mengambil tempat di kerajaan Utara selama pemerintahan dinasti Omri. Elia sebaya dengan raja Ahab dan Ahazia (anak Ahab penggantinya sebagai raja utara).



B. PENJELASAN NATS
Kisah ini bermula dari keinginan Ahab untuk memiliki kebun anggur milik Nabot. Alasan Ahab ingin memiliki kebun anggur itu adalah alasan praktis yakni posisi kebun anggur itu berbatasan dengan lahan istana kerajaan (ay.1) sehingga adalah baik untuk dimanfaatkan sebagai kebun sayur. Perhatikanlah bahwa sudah pasti Ahab memiliki kebun anggur maupun kebun sayur yang “maha” luas, sebab ia adalah seorang raja bukan? Sehingga adalah aneh jika kemudia terkesan prinsip praktis dan ekomomis menjadi alasan Ahab. Sesungguhnya SERAKAH  adalah istilah yang tepat untuk diberikan kepada Ahab.

Tentu saja Nabot menolak keinginan raja tersebut. Mengapa Nabot menolak? Ada alasan utama bagi Nabot yakni alasan teologis. Ia berkata: “kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!” (ay.3). Mengapa disebut alasan teologis, sebab jawaban Nabot ini adalah cara ia menjalankan perintah TUHAN, Allah Israel. Sebab kepada Israel telah diperintahkan untuk tidak memindah tangankan warisan tanah yang TUHAN berikan kepada tiap suku, di tiap klan suku pada tiap keluarga Israel (Bil.271-11).

Kisah selanjutnya dapat ditebak. Nabot di bunuh dengan cara fitnah tentang “Nabot telah mengutuk Allah dan raja” (ay.13). Permainan keji ini diprakarsai oleh akal bulus Izeebel (ay.8-11). Untuk diketahui bahwa hukuman bagi mereka yang mengutuk (menghujat) nama Allah adalah hukuman mati (Im.24:10-11). Izeebel mengetahui hal ini dan menggunakan senjata Firman Allah untuk memuluskan rencana licik dan jahatnya itu. Nabot akhirnya dihukum mati dan kemudian kebun anggurnya menjadi milik Raja. Sungguh tragis bukan?

Apakah reaksi TUHAN, Allah Israel yang Maha Adil? Jawabannya kita temukan pada bacaan kita yakni 1Raj.21:17-19. Elia di utus TUHAN untuk menyampaikan murka Allah Israel terhadap Istana Ahab. Raja Ahab akan mendapatkan hukumannya yakni: “di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu” (ay.19). Bahkan bukan hanya kepada Ahab saja hukuman itu diberikan, melainkan kepada Izeebel istrinya-pun hukuman mengerikan telah menanti (ay.23). Hukuman dan murka Allah berlanjut dikalangan Istana yakni kepada seluruh keluarga Ahab (ay.21-24). Perhatikanlah hanya demi sebuah kebun anggur, Ahab dan Istrinya membunuh Nabot. Keserakahan mereka dan tindakan jahat yang tidak manusiawi itu tidak akan lolos dari hukuman Tuhan. Karena tanah dan kebun anggur itu, keturunan Ahab menjalani hukuman dari Tuhan.

Hal menarik adalah bagaimana dengan berani Elia menyampaikan perintah TUHAN itu. Siapapun pasti gentar mendatangi istana raja yang keji tersebut. Apalagi sudah pernah terjadi peristiwa bahwa para nabi dibantai oleh Izeebel permaisuri Ahab (18:4). Tetapi tidak bagi Elia!! Ia bahkan dengan berani beradu argumentasi dengan Ahab di Istana raja itu dan dengan tegas menyatakan hukuman itu. Silakan bayangkan percakapan tanpa gentar dilakukan Elia di hadapan raja dan permaisurinya itu pada ayat 20-21 (yang sayangnya tidak dibacakan pada bacaan hari ini). Wow… Elia berani menyuarakan suara kenabian tanpa takut dan gentar. Kebenaran harus tetap disampaikan walaupun beresiko besar. Itulah Elia.

C. REFLEKSI
Beberapa catatan untuk menajdi bahan perenungan kita saat ini:
1.    Keserakahan adalah suatu sifat yang dibentuk dari rasa tidak puas atas apa yang dimiliki. Orang yang tidak pernah merasa cukup dan puas dengan yang ia miliki terkategori sebagai pribadi yang tidak tahu bersykur. Inilah yang terjadi pada Ahab! Keinginan memiliki kebun anggur Nabot bukan karena ia tidak memiliki kebun anggur. Semua ia jenis kekayaan sudah pasti ia miliki karena ia adalah seorang raja. Ahab tidak puas, ia tidak tahu bersyukur.

Jangan menjadi seperti Ahab. Syukuri apa yang kita miliki. Bersyukur kepada Allah sebab apa yang kita peroleh adalah dari TUHAN.

2.  Akibat dari keserakahan adalah tindakan menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Inilah yang juga dilakukan Ahab melalui istrinya Izeebel. Deni memperoleh kebun anggur itu, Nabot dibunuh dengan cara yang keji.  
Berhati-hatilah… jangan mengingini apapun yang dimiliki oleh sesamamu. Perintah pada salah satu dari 10 hukum ini adalah cara Tuhan untuk menjauhkan kita dari keinginan yang tidak benar terhadap apa yang menjadi hak milik orang lain. Jangan mendatangkan dosa demi memuaskan keinginan hati memiliki yang bukan hak kita.

3.    Jadilah seperti Elia. Ia adalah nabi yang luar biasa. Tidak gentar pada siapapun termasuk kepada raja demi menyatakan kebenaran Allah. Suara kenabian harus disampaikan. Kehendak dan perintah Allah harus dinyatakan. Itulah Elia.

Berapa banyak orang yang lebih senang berada di zona nyaman? Yang penting saya aman-aman saja, tidak usah sibuk dengan urusan orang lain. Berapa banyak orang yang bersedia untuk menerima konsekuensi terburuk asalkan kebenaran dan keadilan dapat ditegakkan? Kita dipanggil seperti Elia untuk berani bersuara dan menegur sesuatu yang salah. Sebab jika kejahatan terdengar begitu lantang bersuara akhir-akhir ini dan seakan kebenaran dikalahkan, kadangkala hal itu disebabkan karena orang benar tidak mau bersuara dan menyampaikan kebenaran tersebut.


Thursday, May 9, 2019

1 RAJA-RAJA 10:26-29


HARTA DAN KEKAYAAN SALOMO
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 15 MEI 2019

A. PENGANTAR
Siapakah Salomo? Pasti banyak orang mengenal nama ini. Nama Salomo dalam bah. Ibrani, שְׁלֹמֹה (baca: Shelomoh), artinya, “damai-Nya” atau “kesempurnaan-Nya”. Ia adalah Raja ke-3 Israel (± 971-931 sM), yang sekaligus adalah raja Israel pertama berdasarkan garis keturunan. Ia adalah putera raja Daud dari Batsyeba (2Sam.12:24). Namanya kemudian disebut Yedija. Nama ini adalah nama yang diberikan kepada Salomo oleh TUHAN melalui nabi Natan (2Sam.12:25). Nama Yedija dari Bah. Ibrani ידידיה (baca: Yedid'yah) yang berasal daru dua suku kata, yakni: pertama, kata ידיד (baca: Yedid) yang berarti “kekasih”; kedua, kata יה (baca: Yah) yang berarti Yahwe. Maka arti nama Yedija itu adalah “kekasih TUHAN”.



B. PENJELASAN NATS
Perikop bacaan kita ini berkisah tentang bagaimana kehidupan Salomo dan pemerintahannya. Ia adalah raja yang sangat disegani oleh raja manapun termasuk Firaun raja Mesir yang rela memberikan putrinya kepada Salomo (3:1), juga Filistin yang memberikan upeti kepadanya (4:21) Ia juga dikenal sebagai raja yang kaya-raya dengan harta benda yang sangat banyak (ay.22-26). Pada perikop kita pasal 10:14-29 mendaftar jenis dan jumlah harta kekayaan yang dimiliki oleh Raja Salomo.

Perhatikan saja jumlah emas per tahun yang dibawa kepada Salomo yakni enamratus enampuluh enam talenta (ay.14). Dalam hal ukuran berat, 1 talenta (Yun: τάλαντον) itu setara dengan 80 pon atau 36kg. Maka jumlah emas raja Salomo per tahun adalah 36x666= 23.976kg atau hampi 24ton emas per tahun di luar pemberian saudagar atau raja arab dan bupati lainnya (ay.15). Silakan juga bayangkan berbagai harta kekayaan yang lain pada ay.16-25 yang dimiliki Salomo: perisai dari emas, perkakas minuman dari emas dan perak, kapal-kapal, dan termasuk kereta berkuda, jenis2 kuda terbaik (ay.26-29).

Bagaimana sehingga prestasi dan kekayaan Salomo itu dapat diukir oleh Salomo? Jawabannya kita temukan pada bacaan minggu lalu (1Raj.4:29-34) yakni pada ay.29 bacaan tersebut dinyatakan “Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang sangat besar”. Rupanya di balik keberhasilan dan kebesaran Salomo, di balik segala kekayaan dan kehormatan itu, Hikmat dari TUHAN menjadi unsur utama dan penting. Karena Hikmat dari TUHAN-lah sehingga Salomo mampu menggapai segala hal yang ada pada dirinya itu. Hikmat adalah unsur penting dari keberhasilan Salomo tersebut.

Mengapa Tuhan memberikan Salomo hikmat tersebut? Jawabannya kita temukan pada pasl 3:4-15. Bahwa Tuhan memberikan Salomo hikmatNya karena Salomo meminta hal itu padaNya. Tetapi hal ini perlu diluruskan!! Bukan karena Salomo meminta Hikmat pada Tuhan sehingga ia beroleh hikmat. Tetapi karena Salomo “mengingini dengan sangat” Hikmat itu melebihi umur panjang, kekayaan atau nyawanya sekalipun (3:11). Perhatikanlah, bahwa ada opsi pilihan yang bisa Salomo minta dengan bebasa yang diberikan keleluasan itu oleh Tuhan (3:5). Siapapun jika ditawarkan mintalah apa saja pasti menyampaikan berbagai hal demi kepuasan diri dan keinginan hati. Salomo tidak meminta untuk diri sendiri. Melainkan memohon hati yang paham menimbang (3:9). Ia meminta hikmat untuk menjalankan perintah TUHAN yakni memerintah Israel dan Yehuda. Itulah Alasan mengapa Tuhan memberikan apa yang ia minta itu yakni hikmat tersebut.

Maka tidak heran, dengan HIKMAT Tuhan yang ada padanya, Salomo mampu memimpin negeri dan menjalan pemerintahan dengan hikmat dari Tuhan. Bukan itu saja, karena permintaannya adalah untuk Tuhan dan kemuliaanNya ketika memerintah sebagai raja, maka Salomo mendapat bonus dari Tuhan, yakni kekayaan dan kemuliaan seperti pada bacaan kita, sebagaimanan yang Tuhan janjikan (3:13).   

Tetapi dibalik kisah sukses dan daftar kekayaan Salomo ini, ada hal menarik untuk dibahas yakni mengenai bagaimana Salomo memperoleh begitu banyak kuda sebagai salah satu harta kekayaannya. Pada ayat 28-29 disebutkan bahwa : 28Kuda untuk Salomo didatangkan dari Misraim dan dari Kewe; saudagar-saudagar raja membelinya dari Kewe dengan harga pasar. 29Sebuah kereta yang didatangkan dari Misraim berharga sampai enam ratus syikal perak, dan seekor kuda sampai seratus lima puluh syikal; dan begitu juga melalui mereka dikeluarkan semuanya itu kepada semua raja orang Het dan kepada raja-raja Aram.

Kuda dan kereta untuk Salomo di datangkan dari Misraim. Di manakah letak Misraim itu? Misraim berasal dari bahasa Ibrani: מִצְרַיִם / מִצְרָיִם (Mitzráyim atau Miṣrāyim ) dan dari bahasa Arab: مصر, (Misr) yang menunjuk pada tanah Mesir. Karena menggunakan akhiran ganda -āyim yang bermakna jamak, mungkin mengacu pada "dua Mesir": Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Mengapa penting untuk fokus pada redasksi Mesir sebagai tempat kuda Salomo berasal? Perhatikan bunyi perintah Tuhan dalam Ul.17:15-16 sebelum Israel memiliki raja dan masih mengembara di padang gurun:
“…maka hanyalah raja yang dipilih TUHAN, Allahmu, yang harus kauangkat atasmu. …Hanya, janganlah ia memelihara banyak kuda dan janganlah ia mengembalikan bangsa ini ke Mesir untuk mendapat banyak kuda, sebab TUHAN telah berfirman kepadamu: Janganlah sekali-kali kamu kembali melalui jalan ini lagi.”

Walau masih perlu dikaji, namun diduga cukup kuat bahwa Salomo melanggar perintah ini. Dua perintah sekaligus dilanggar oleh Salomo, yakni tentang seorang raja jangan memelihara banyak kuda dan jangan balik ke Mesir hanya untuk mendapatkan banyak kuda. Jika demikian maka Salomo terkategori melanggar perintah Allah. Bahkan pada perikop berikutnya, kita disajikan kisah bagaimana Salomo jatuh dalam dosa melalui berpologami dan kemudian menyembah para dewa di tempat asal perempuan-perempuan Salomo itu.

C. REFLEKSI
Sehebat apapun hikmat yang diberikan Tuhan kepada Salomo, tetapi jika ia melanggar perintah Tuhan, maka hal itu memberikan indikasi kuat bahwa ia tidak lagi takut Tuhan, padahal sumber dari hikmat adalah takut Tuhan.

Kejatuhan lebih jauh Salomo ke dalam dosa adalah ketika ia gagal memberikan prioritas utama “matanya” untuk fokus kepada Allah sumber segala kekayaan dan harta benda serta kenikmatan hidup. Ia lebih fokus pada harta dan bagaimana menikmati hidupnya itu. Sebagaimana bacaan Alkitab pada hari Minggu yang lalu (Matius 6:19-24), bagian ini dengan tegas diperingatkan oleh Tuhan Yesus. Tidak salah menjadi kaya. Sebab kekayaan adalah anugerah dari Allah. Namun apabila salah fokus, yakni titik perhatian hanya pada kekayaan dan bukan pada sumber pemberi kekayaan, maka kehancuran akan terjadi. Karena dosa Salomo (perzinahan fisik = perempuan2 disekitarnya dan perzinahan rohani = penyembahan berhala), Israel dikemudian hari terpecah menjadi Utara dan Selatan.

Berhati-hatilah, sebab jika fokus bukan pada Allah dan ketaatan kepadaNya, maka kehancuran hidup pasti terjadi. Kurang apakah Salomo di hadapan Tuhan? Bagaimanakah ia diberkati hingga dapat menyelesaikan rumah Tuhan yakni Bait Suci yang megah itu? Salomo tidak tertandingi soal hikmat yang Tuhan beri. Namun ketika kesuksesan mulai bertumpuk dan kekayaan tidak terhitung ia peroleh karena Tuhan, Salomo mulai melupakan Tuhan dan bertahap melanggar perintah dan kehendaknya.

Keberhasilan berawal dari kesetiaan pada Tuhan. Tetapi jangan lupa juga bahwa kehancuran bermula dari melanggar kehendak Allah.





Wednesday, May 8, 2019

MATIUS 6:19-24


MENGUMPULKAN HARTA DI SORGA
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
12 Mei 2019

P E N D A H U L U A N
Bagian yang kita baca dan renungkan ini merupakan ucapan Yesus di atas bukit yang biasa dikenal dengan Khotbah di Bukit. Injil Matius mendokumentasikan isi Khotbah ini ke dalam 3 pasal yakni pasal 5-7 dengan berbagai tema khotbah. Salah satunya mengenai “harta” dan bagaimana mengumpulkannya.  

Harta adalah topik menarik untuk dibahas oleh siapapun sebab harta adalah hal yang paling dicari dan diingini oleh siapapun. Namun, ketika membaca teks ini, kita mendapat kesan bahwa memiliki harta dan atau menjadi kaya di bumi dilarang oleh Tuhan Yesus. Menjadi kaya adalah hal tabu bagi orang Kristen. Benarkah demikian? Perikop ini perlu digali secara dalam untuk mendapatkan pemahaman yang tepat.


EXEGESE TEKS (Uraian Perikop)
Benarkah Tuhan Yesus melarang untuk mengumpulkan atau menumpuk harta di bumi? Mari perhatikan dengan saksama bacaan kita saat ini. Beberapa hal penting perlu dijelaskan.
1.      Harta apa yang dimaksud
Kesan pertama ketika membaca teks ini adalah bahwa Yesus sedang berbicara tentang kekayaan atau harta benda sebagai fokus utama. Pemahaman ini tidak sepenuhnya keliru sebab memang Tuhan Yesus berbicara tentang mengumpulkan harta. Namun jika kita membaca perikop sebelumnya, yang juga adalah rangkaian khotbah di bukit, maka menjadi jelas bahwa bagian ini tidak terpisahkan dengan perikop hal berpuasa. Bagian ini menjadi terpisah karena “dipisahkan” oleh Lembaga ALkitab untuk kepentingan pemilahan topik.

Perhatikanlah bahwa ketika berbicara tentang puasa, Tuhan Yesus menyinggung soal “mendapat upah” dari berpuasa (ay.16). Upah atau μισθός (misthos) dalam bahasa Yunani berarti sesuatu yang diperoleh sebagai bayaran dari kerja yang dilakukan. Menariknya tentang “upah” ini terletak pada pemahaman orang Yahudi terutama golongan Farisi bahwa “kekayaan atau harta benda merupakan upah karena melakukan hukum Taurat”[1]. Sehingga menurut kebanyakan orang, melakukan suatu kebaikan dan kebenaran menurut hukum agama adalah memperoleh harta kekayaan yang bertumpuk. Dengan kata lain, fokus mereka tentang harta adalah yang bersifat duniawi bukan yang bersifat rohani.

Sebagai pebanding, sialakan perhatian topik Hal Berdoa pada ayat 5 dan 6. Bahwa setiap orang yang berdoa akan mendapat upah (ay.5), namun yang berdoa dengan benar maka memperoleh: “Bapamu… akan membalasnya kepadamu” (ay.6). Istilah membalasnya (give back) dari bahasa Yunani ἀποδώσει (apodosei) yang berarti “membayar dengan nilai yang sama atau setimpal”. Apa yang dibayar setimpal itu? Tentunya sesuatu yang diberi kepada Allah. Apa itu? Jawabnya Doa. Apa itu doa? Dari kata προσεύχῃ (proseuchomai) yang berarti membawa kehadapan Allah. Apakah yang dibawah kehadapan Allah ketika berdoa? Tentunya membawa diri kita menjumpai Allah. Maka mereka yang memberi diri untuk menjumpai Allah akan dibalas secara setimpal oleh Allah. Apakah itu? Allah akan membawa dirinya menjumpai kita (alias membalas secara setimpal). Dengan demikian kita menyimpulkan bahwa upah yang dimaksud bukan hanya hal bendawi melainkan (dalam konteks Khotbah di bukit) sesuatu yang sangat rohani dan spiritual. Harta yang dimaksud adalah harta rohani dan bukan harta bendawi. Itulah yang menjadi fokus Yesus pada bacaan kita ketika ia berbicara tentang cara menyimpan harta.

2.      Apakah dilarang mengumpulkan harta kekayaan? (ay.19-21)
Pertanyaan ini muncul karena kesan yang diperoleh ketika membaca ayat 19 dan 20 ini adalah “Tuhan Yesus melarang menumpuk harta kekayaan atau menjadi kaya:. Benarkah demikian? Kesan semacam ini jelas keliru. Alkitab tidak pernah melarang kepemilikan harta. Perintah ke-10 yang menyebut “Jangan mengingini harta milik sesamamu” bertujuan untuk melindungi harta pribadi masing-masing orang. Nasihat untuk belajar kepada semut yang menyiapkan perbekalan di saat susah (Ams 6:6-8; 30:25) menyiratkan bahwa kerja keras, tabungan, dan asuransi pada dirinya sendiri tidaklah salah. Allah tidak anti terhadap kekayaan. Dengan kata lain, teks ini tidak berbicara tentang larangan menjadi kaya atau menyimpan harta kekayaan.

Tiga ayat pertama pada perikop ini justru berbicara tentang ketamakan dan bukan tentang larangan menjadi kaya. Ada satu kata yang LALAI diterjemahkan oleh LAI yang justru sangat penting artinya, yakni:
(LAI Terj. Baru)     Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi
(Mat 6:19 BGT)     Μὴ θησαυρίζετε ὑμῖν θησαυροὺς ἐπὶ τῆς γῆς,
(Terj perkata)         Me (janganlah) thesaurizete (kamu mengumpulkan)
                              Humin (bagimu sendiri) thesaurous (harta) epi (di)
                              tes ges (bumi)

Kata yang hilang di terjemahan LAI adalah ὑμῖν (humin) yang berarti bagi dirimu sendiri. Sehingga secara sederhana, maka larangan pada ayat 19 adalah: “Dilarang mengumpulkan harta hanya untuk kepentingan diri sendiri”. Jika diperlebar lagi maknanya maka kita menemukan hal positif yakni, kumpulkan harta dengan tujuan bukan hanya bagi diri sendiri melainkan juga untuk orang lain dan terutama untuk Kerajaan Sorga (upah rohani, harta rohani).

Mengapa larangan itu menjadi penting? Sebab jika kekayaan itu dikumpulkan hanya untuk diri sendiri, otomatis fokus diri ada pada harta dan bukan pada sesama termasuk bukan pada Tuhan dan kerajaan Sorga. Dampaknya adalah hati kita hanya tertuju pada harta benda dan bukan pada Allah sebagai sumber dari harta dan kekayaan tersebut. Tidak heran jika dengan tegas, Tuhan Yesus berkata: “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (ayat 21).


3.      Jangan salah fokus (ay.22-23)
Tuhan Yesus menggunakan metafora “mata” ketika berbicara tentang harta. Ia berkata:”mata adalah pelita tubuh”. Mata memiliki fungsi untuk melihat atau memandang. Metafora ini menunjuk pada bagaimana melihat harta itu. Jika maata adalah pelita tubuh itu padam, otomatis fokusnya hanya pada harta duniawi demi kepentingan diri sendiri  dan akibatnya adalah kesia-siaan atau kegelapan.

Tidak salah menjadi kaya atau memperoleh banyak harta. Tapi harusnya jangan salah fokus. Mata kita termasuk hati tidak terfokus pada harta duniawi sebab ngengat akan merusaknya. Justru Tuhan Yesus mengajak untuk fokus pada harta sorgawi, yakni kehidupan kekal yang dijanjikan. Jika harta duniawi menjadi fokus, maka semua cara termasuk kejahatan dan ketidak-adilan akan dilakukan demi karta kekayaan. Jika fokusnya adalah kepada Allah dan KerajaanNya, yakni harta sorgawi, maka tindakan kebenaran, keadilan, ketulusan bahkan kepedulian menjadi fokus “mata” kita. karenanya kita perlu memberi tanda awas agar tidak salah fokus.

4.      Jebakan harta (ay.24)
Bagian terakhir dari bacaan kita akhirnya menjadi jelas, tentang apa fokus pengajaran Yesus mengenai harta. Harta yang dimaksud adalah harta rohani, yakni Allah sendiri. Lawan dari harta rohani adalah harta bendawi yg jadi fokus utama sehingga berubah menjadi dewa atau ilah untuk disembah. Mengapa disembah? Karena terfokus padanya dan tergantung padanya. Pilihannya ada dua dan hanya satu yang bisa dipilih yakni Allah atau mamon.  

Allah adalah pemilik tunggal kehidupan kita. Ia yang menciptakan kita. Ia yang menebus kita dari dosa-dosa kita. Seluruh hidup kita – tenaga, fokus, hati, dan waktu – harus ditujukan pada Allah saja dan bukan pada harta. Apa yang kita pikirkan setiap hari adalah bagaimana menyenangkan hati tuan kita dsan bukan bagaimana menjadi berharta banyak. Nilai hidup kita ditentukan oleh seberapa besar pemgabdian kita pada Allah dan bukan kepada harta. Jika harta menajdi fokus kita, hati-hati kita telah memasuk wilayah “JEBAKAN HARTA” yaitu menjadi penyembah MAMON dan bukan Allah.



APLIKASI DAN RELEFANSI




[1] Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius – Wahyu (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2003), hlm. 76

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...