Friday, February 10, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH MINGGU 12 FEBRUARI 2012 ESTER 9:1-4



Jemaat Kekasih Kristus.
Kita pasti pernah mendengar suatu kata bijak yang mengatakan bahwa “Kehidupan ini bagaikan roda pedati yang berputar”. Artinya ada saat bagian tertentu dari roda itu berada di bawah namun ada waktu juga posisnya menjadi di atas. Maknanya bagi kehidupan kita saat ini bahwa tidak selamanya orang akan mengalami keburukan hidup, saatnya juga akan mengalami kebahagiaan. Hal senada juga disampaikan oleh Kitab Pengkhotbah tentang ada waktu untuk menangis ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal dll.

Bacaan kita saat ini juga berkisah tentang suatu kondisi hidup yang dialami oleh orang-orang Yahudi di masa kekuasaan kerajaan besar Persia yang berhasil menjajah 127 wilayah daerah jajahan yakni mulai dari India hingga Etiopia (bd. 1:1). Namun kisah menarik dalam Kitab Ester ini tidak akan dipahami dengan baik, apabila tidak lebih dahulu membaca pasal-pasal awal kitab Ester secara keseluruhan. Kitab ini mengisahkan tentang 2 tokoh penting Yahudi yakni Ester dan Mordekhai yang ada di Istana Ahasyweros, kerajaan Persia. Bangsa Yahudi di sana mengalami banyak ketidak-adilan, khususnya oleh peran jahat dari tokoh kalangan istana yang sangat berpengaruh bernama Haman.


Jemaat Kekasih Tuhan.
Mordekhai adalah pengasuh Ester, ialah seorang Yahudi yang hidup dalam pembuangan, hidup dalam keadaan politik yang tidak tentram, mengalami tekanan secara sosial dan emosional dalam kebudayaan asing, tetapi ia berhasil mendidik dan membesarkan Ester. Kalau kita pernah membahas tentang Ester, maka perjuangan Ester tidak bisa dipisahkan dari perjuangan Mordekhai, yang memilih sikap yang benar dalam menghadapi kesulitan yang dihadapinya termasuk perlakuan buruk Haman atas dirinya.

Namun rencana jahat Haman yang bermaksud untuk membunuh Mordekhai, berhasil digagalkan oleh ratu Ester dengan cara menceritakan kepada Raja Ahasyweros tentang jasa Mordekhai sebagai pahlawan waktu dulu telah menyelamatkan raja dari usaha pembunuhan (bd. 2:22). Hukuman mati atas dirinya yang dijatuhkan karena ia kurang menghormati Haman, yaitu orang kesayangan dalam istana raja Persia, Ahasyweros, sudah disahkan raja bersama dengan rencana pemusnahan orang Yahudi di seluruh kerajaan. Mordekhai akan digantung dan tiang gantungan sudah didirikan. Tetapi Ratu Ester yang Yahudi menghalangi: ada catatan resmi yang memperlihatkan bahwa Mordekhai pernah menyelamatkan raja dari suatu usaha pembunuhan atas dirinya. Dengan diberi keterangan seperti itu, raja menarik kembali perintah pembunuhan atas Mordekhai dan sebaliknya Hamanlah yang digantung pada tiang gantungan.

Akhirnya Mordekhai diangkat menjadi orang kedua setelah raja dan menggantikan posisi dan jabatan Haman. Kini Mordekhai menjadi pejabat yang paling dihormati sesudah raja Ahasyweros. Kisah ini terus berlanjut menjadi semakin menegangkan ketika di dalam pasal 8 ayat 3 dst menyebutkan bahwa walaupun Haman sudah mati namun rancangan jahatnya masih berpenaruh dan mengilhami rakyat untuk membinasakan dan memusnakan orang-orang Yahudi tersebut.

Jemaat Tuhan.
Peran Ester sangat luar biasa dipakai TUHAN, dalam kisah ini, untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi. Atas permintaan Ester kepada Raja (bd. 8:3-14), akhirnya dikeluarkanalah undang-undang untuk membolehkan orang-orang Yahudi melakukan perlawanan kepada musuh mereka di seluruh daerah wilayah penjajahan Persia.

Kita menemukan suasana kisah ini mulai berubah. Sejak ayat 15 pasal 8 hingga pasal 9 bacaan kita, kondisi orang Yahudi secara psikologi mengalami beubahan total. Mereka yang dulunya hidup dalam ketakutan dan kesedihan kini berubah menjadi girang dan penuh sukacita. Mengapa? Sebab keselamatan jiwa mereka kini dijamin oleh pemerintahan Raja Ahasyweros. Kini kondisinya berbalik 180 derajat. Dulunya orang sangat takut kepada musuh mereka, namun sekarang justru mereka sangat ditakuti oleh musuh-musuh yang merancangkan kejahatan  bagi mereka. Bukan itu saja, para pembesar yang dulunya melakukan penindasan terhadap orang Yahudi, kini mau tidak mau berbalik arah dan mendukung penuh perjuangan orang yahudi tersebut. Hal ini terlihat jelas pada ayat 3 bacaan kita.

Memang benar bahwa Ester berperan cukup penting dalam kondisi ini. Namun kita tidak bisa juga mengabaikan peran dari Mordekhai ketika ia telah menjadi Pejabat Kerajaan. Mordekhai dengan bijak menggunakan kedudukan dan jabatan strategisnya itu untuk mendorong orang Yahudi mempersenjatai diri menghadapi rencana pembunuhan massa yg diilhami oleh Haman. Sebagai penghormatan terhadap Mordekhai, penguasa-penguasa propinsi Persia, yg menerima surat dari Mordekhai, melindungi orang Yahudi juga dan memberikan dukungan penuh atas segala kebutuhan orang Yahudi. Mordekhai menjadi tokoh panutan sekaligus pelindung orang Yahudi saat itu, ketika ia mampu memanfaatkan jabatannya untuk membela kebenaran dan keadilan bagi bangsanya.

Jemaat Tuhan,…
Ada beberapa hal penting dari Firman Tuhan hari ini yang dapat kita bawa dalam kehidupan sehari-hari:

1.       Tuhan tidak pernah membiarkan umatNya terus menderita.
Di saat kita mengalami penderitaan, apa yang sering kita dipikirkan? Terutama ketika derita itu datang dari kebenaran yang kita perbuat dan karena ketidak-adilan orang lain? Pastilah sebagai umat percaya kita berpikir kapan Tuhan bertidak? Mengapa Dia membiarkan ini terjadi? Keadilan macam apa jika menderita seperti ini? Dll

Hari ini kita belajar pada kisah di atas, bahwa tidak selamanya orang benar itu dibiarkan goyah sebab Tuhan menopang tangannya (bd.Mzm 3723-24). Kita belajar untuk memahami bahwa ada saat untuk menderita namun ada saat pula untuk bahagia; ada masa dimana kita berduka namun juga kita saat nanti akan menjalani masa penuh sukacita. Penting untuk direnungkan adalah Tuhan itu adil, dan pembalasan itu adalah hak Tuhan kepada semua ciptaanNya. Tidak mungkin Tuhan membiarkan umatNya. Tugas kita adalah, belajar untuk bersabar menunggu waktu pemulihan itu, seperti orang Yahudi menerima itu dari Tuhan.  

2.       Berperanlah seperti Ester dan Mordekhai
Memang benar bahwa Tuhanlah sumber segala kuasa dan kekuatan sehingga orang Yahudi di seluruh wilayah kerajaan Persia memperoleh hari sukacita. Namun perlu disadari bahwa hal itu juga terjadi karena Ester dan Mordekhai bersedia dipakai Tuhan untuk melaksanakan rencanaNya. Bayangkan jika Ester dan Mordekhai dengan posisi penting di Kerajaan itu tidak mau peduli dengan penderitaan rakyat sebangsanya, maka sudah pasti orang Yahudi tidak akan pernah merayakan Hari Raya Purim tanda sukacita dan syukur atas kelegaan yang mereka rasakan waktu itu.

Saudara dan saya juga dipanggil untuk mampu berperan seperti Ester dan Mordekai. Di posisi yang cukup elit dalam kerajaan Persia mereka tidak segan untuk meyatakan kebenaran dan keadilan bagi kaumnya. Ini bukan sintimen ras atau karena alasan sesama bangsa. Tapi olebih dari pada itu, Ester dan Mordekhai bersedia untuk berpihak kepada mereka yang menderita dan mengalami ketidakadilan. Selama masih bisa diperjuangkan mereka tetap perjuangkan. Demikian halnya kiranya dengan kita sebagai orang percaya. Di manapun saudara berada, di level apapun posisi saudara dalam pemerintahan, perusahan ataupun di tengah masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi Ester dan Mordekhai modern. Kita diajak untuk mampu memperjuangkan keadilan dan mengutamakan pembekaan kepada mereka yang menjadi korban.

Sudah saatnya orang percaya berani keluar dari sona nyaman dan siap terancam demi membebaskan orang lain dari ancaman ketidakadilan dan perlakuan buruk dari orang lain. Sebagai orang percaya kita harus berani melakukannya, sebab Tuhan menempatkan saudara di posisi itu karena ada maksud dan tujuan serta bukan suatu kebetulan.

Karena itu, mari kita lakukan Firman ini dalam hidup kita, dengan memulainya di dalam keluarga. Ajarkan anak-anak kita, ingatkan suami atau Istri kita bahwa apapun yang kita alami dalam hidup ini, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Selanjutnya mari juga memiliki keberanian untuk menjadi alat di tangan Tuhan untuk membela kebenaran dan berpihak kepada mereka yang mengalami ketidak-adilan. Selanjutnya, jangan lupakan Tuhan dalam setiap peristiwa hidup kita.. AMIN.

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 15 FEBRUARI 2012 BILANGAN 30:1-9

Pendahuluan
Dalam Alkitab, nazar adalah janji yang sungguh-sungguh kepada Allah (Mazm 76:12) yang diadakan dengan maksud untuk menyerahkan diri kepada Allah (Bil 6:2), mempersembahkan anak-anak kepada Allah (1Sam 1:11), mempersembah-kan harta benda kepada Allah (Kej 28:22), mempersembahkan korban-korban (Im 7:16; 22:18; Bil 15:3) atau sebagai tindakan merendahkan diri (Bil 30:13), sebagai “imbalan” atas pemenuhan isi perjanjian dari pihak Allah kepada manusia (yang bernazar). Dalam bagian yang lain, nazar menunjukan sebuah janji antara Allah dan manusia yang dilakukan oleh manusia dan siap menepatinya (Kej. 28:20), atau sebagai sebuah persembahan yang diberikan dengan sukarela kepada Allah (Im. 27:2), pantangan terhadap sesuatu, (Maz. 132:2ff).

Jadi, Nazar/ nadar adalah janji diri sendiri untuk berbuat atau melakukan sesuatu jika maksud tercapai; namun janji yang dilakukan berlaku secara mengikat dan penuh dengan nilai-nilai sakral karena terjadi di antara hubungan manusia dengan Allah. Nazar ditujukan sebagai hasrat ingin memberikan yang terbaik kepada Allah sebagai ekspresi ucapan syukur atas kebaikan yang telah diterima dari Allah atau sesuatu yang berharga untuk membuktikan kesetiaan kepada Allah dengan cara pemantangan atau menahan hasrat yang berorientasi pada diri sendiri dan menyesuaikannya dengan kehendak Allah.

Telaah Perikop
Dalam bacaan kita hari ini, umat Israel diperintahkan oleh Tuhan, melalui Musa untuk menyikapi setiap Nazar yang diucapkan, khususnya dalam hubungan bagi Nazar yang diucapkan oleh seorang perempuan. Spontanitas nazar umat Tuhan merupakan upaya menyelaraskan gerak langkah mereka dengan Allah. Dengan iman, manusia menyempurnakan segala keteraturan disiplin korban dan persembahan yang diminta Allah (ps. 28-29). Tuhan begitu menghargai persembahan spontan ini sehingga mengaturnya dengan detail dalam pasal 30:1-16 yang juga termasuk dalam bacaan kita hari ini. Tujuan dari perintah dalam Bilangan 30:1-9 ini adalah agar nazar jangan dibuat tergesa sehingga menodai keharmonisan umat dengan Allah. Allah tidak ingin manusia berdosa karena tidak bisa memenuhi janjinya kepada Allah.

Nazar wanita khususnya harus diperhatikan oleh para lelaki yang biasanya melindungi mereka. Ini sesuai konteks budaya kehidupan Israel dalam budaya patriarkat. Ayah atau suami memastikan bahwa nazar itu pantas dibuat dan dapat dipenuhi. Saat itu tak lazim wanita hidup sendirian tanpa pendampingan lelaki, baik sebagai ayah (lih. Ayat 3-5), ataupun sebagai suami (ayat 6-8, 10-15). Kecuali mereka janda atau bercerai (bd. Ayat 9) sehingga tidak lagi ada di bawah perlindungan lelaki. Perlu diingat bahwa catatan untuk para janda dalam Alkitab sejajar dengan anak yatim piatu, yakni mereka yang lemah dan papa, serta perlu perlindungan dalam hidup bermasyarakat.

Tuhan memberi hak veto pada para pelindung wanita (yakni ayah, suami) untuk membatalkan atau memberlakukan nazar itu (13). Hak veto itu harus dilihat sebagai pertanggungjawaban dari pihak lelaki ketimbang keistimewaan hak itu. Ceroboh, lalai atau telat merespons membuat lelaki harus menanggung segala akibat gagalnya nazar anak/istri mereka (15,16)! Sama sekali bukan maksud Allah untuk membiarkan kaum lelaki bersikap sembarangan dan kasar karena hak veto tersebut.

Di bagian ini penekanan khusus diberikan pada soal pengesahan nazar perempuan. Tuhan menentukan bahwa nazar seorang perempuan dapat dibatalkan oleh ayah atau suami yang bersangkutan jika dipandang dia tidak mampu mempertanggungjawabkannya. Ayah atau suami bisa mendukung nazar tersebut dengan diam jika mereka menyetujui atau membatalkannya melalui veto. Seorang ayah memiliki hak mutlak di dalam hal ini jika anak perempuannya belum menikah dan hak yang sama dimiliki suami atas istrinya. Dalam budaya Yahudi, memang para perempuan pada umumnya dianggap tidak mengetahui rincian-rincian upacara religius sehingga dapat mengikrarkan nazar-nazar yang berat atau yang merugikan rumah tangganya.


Aplikasi dan Relevansi
Nazar berarti 'janji dan sumpah yang ditujukan bagi Allah bukan manusia'. Dalam nazar ini diungkapkan tentang keinginan untuk melakukan sesuatu bagi Allah. Seringkali seseorang mengucapkan nazar tanpa berpikir panjang, tetapi karena dorongan emosi. Tujuannya mungkin untuk menyatakan bahwa ia bersungguh-sungguh, tapi kenyataannya sulit mewujudkan janji itu. Perlu diingat, nazar ini harus dipenuhi karena merupakan janji kepada Allah. Itu sebabnya, Allah memerintahkan bangsa Israel melalui Musa untuk mengucapkan nazar dengan penuh tanggung jawab.

Tanggung jawab lelaki dan perempuan. Jika seorang laki-laki mengucapkan janji, ia sangat terikat dengan janji tersebut. Sebaliknya, jika perempuan yang mengucapkan janji, lelaki yang mendengarnya (suami atau ayah) berhak membatalkannya. Jika mereka diam, berarti mereka menyetujui dan harus turut memikulnya. Sebagai Kristen -anggota keluarga Allah- kita harus berbicara/ menegur, bila melihat kesalahan sesama seiman kita. Jika kita berdiam diri, kita harus turut memikul kesalahan yang mereka lakukan.

Saat ini di dalam Kristus, tak ada lagi pembedaan antara lelaki dan perempuan. Hukum ini tidak mengikat lagi secara ritual. Namun, prinsip kasih dan kepedulian serta tanggung jawab masih harus dipraktikkan oleh seorang suami atau seorang ayah terhadap keluarganya. Ini adalah ungkapan kasih Kristus sendiri yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi jemaat-Nya (Ef. 5:25-30).

Karena itu adalah kewajiban seorang Ayah dan ibu; suami atau istri untuk saling memperhatikan satu dengan yang lain dalam hal janji atau Nazar kepada Allah. Jangan sembarang mengucapkan janji kepada Tuhan jika tidak dapat menepatinya. Maka orangtua harus mengontrol dan mengingatkan anak-anaknya; demikian juga suami kepada istri atau sebaliknya apabila kita mendapati ada ucapan Nazar yang tidak benar, maka kita perlu mengingatkan. Sebab sekali berjanji kepada Tuhan, maka wajib untuk membayarnya.

Karena itu, tiap pribadi perlu untuk berpikir panjang dan bersungguh-sungguhlah dalam mengucapkan nazar, karena nazar itu akan mempengaruhi tanggung jawab panggilan hidup kita. Kita wajib saling mengingatkan satu dengan yang lain, agar jangan menjadi “penghutang” kepada Allah. Jangan terlalu mudah ucapkan Nazar; tetapi juga kita diingatkan oleh Firman ini bahwa Allah akan menuntut janji dari setiap Nazar yang telah diucapkan. Kita wajib membayarnya. Karena itu berhati-hatilah dalam bernazar. Amin. 

Thursday, February 9, 2012

MATERI KOTBAH IBADAH PKB Senin, 13 Februari 2011 Ester 9:13-19

Pendahuluan
Bagian bacaan kita hari ini tidak akan dipahami dengan baik, apabila tidak lebih dahulu membaca pasal-pasal awal kitab Ester secara keseluruhan. Kitab ini mengisahkan tentang 2 tokoh penting Yahudi yakni Ester dan Mordekhai yang ada di Istana Ahasyweros, kerajaan Persia. Bangsa Yahudi di sana mengalami banyak ketidak-adilan, khususnya oleh peran jahat dari tokoh kalangan istana yang sangat berpengaruh bernama Haman. Dalam pasal 5:9-14 kita menemukan bagaimana kemudian Haman merancangkan pembunuhan terhadap paman dari Ester, yakni Mordekai.

Tetapi justru rancangan jahat Haman kepada Mordekai berlaku sebaliknya. Tuhan bertindak melalui Ester sehingga kemudian Haman justru yang digantung dan bukanlah Mordekai (7:1-10). Tidak berhenti di situ, rancangan jahat Haman yang telah terlajur diedarkan melalui surat perintah untuk membinasakan orang Yahudi pun dapat diubah menjadi sesuatu yang baik bagi orang Yahudi sendiri. Dalam 8:1-17 kita menemukan bahwa raja Ahasyweros, melalui surat bersegel cicin Raja, membolehkan Israel untuk membela diri dari musuh-musuhnya, sehingga mereka bukan dibantai musuh, malah sebaiknya merekalah yang membantai musuh mereka.



Telaah Perikop
Ayat 13-14
Pada bacaan ini kita menemukan bahwa sejak ayat 1-12 pasal 9, orang Yahudi mendapat kesempatan untuk membalas kemalangan yang selama ini ditmpakan oleh musuh-musuh mereka bahkan dalam benteng Susan sendiri, orang Yahudi berhasil membinasakan 500 orang musuh.

Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika Ester diberikan kesempatan oleh raja untuk meminta sesuatu sehubungan dengan kondisi yang terjadi saat itu, pada ayat 13 kita menemukan bahwa Ester meminta tambahan hari lagi bagi orang Yahudi di benteng Susan untuk melakukan pembalasan terhadap musuhnya. Lebih menarik lagi adalah, Sang Raja bagaikan di tusuk hidungnya, langsung mengiyakan dan mengabulkan permintaan Ester (ay.14). Dengan kata lain, orang Yahudi di benteng Susan mendapat tambahan “bonus” untuk membalas segala kejahatan yang dilakukan oleh musuh-musuh mereka.  

Ayat 15-17
Apa yang dilalukan oleh orang-orang Yahudi di benteng Susan? Pada hari ke-14 mereka berkumpul dan melakukan hal yang sama seperti hari yang ke 13 yakni membunuh dan membantai musuh-musuh mereka. Pada hari ke-14 itu, orang-orang Yahudi berhasil membantai 300 orang. Dengan demikian, total musuh yang dibantai di Benteng Susan oleh orang Yahudi adalah 800 orang, yakni 500orang hari ke-13 dan 300 orang di hari ke-14.

Bagaimana dengan orang-orang Yahudi di luar benteng Susan namun hidup dalam wilayah kerajaan Persia yakni di 127 daerah jajahan? Pada ayat 16 disebutkan bahwa mereka berhasil mengalahkan 75ribu musuh dan membinasakan mereka di hari ke-13. Bagaimana dengan hari ke-14. Orang Yahudi di luar benteng Susan tidak melanjutkan perlawanan sebagaimana dengan yang ada di benteng Susan. Sebab ijin perlawanan hanya diberikan kepada orang Yahudi di dalam benteng Susan. Mereka yang diluar benteng dan yang tersebar di 127 daerah jajajah yakni hingga India sampai Etiopia sekalipun (bd.8:9) tidak iri hati dan tetap mematuhi perintah raja.

Lalu apa yg mereka lakukan pada hari ke-14 di luar Benteng Susan? Pada ayat 17 menyebutkan mereka beristirahat atau berhenti dan menjadikan hari itu hari perjamuan tanda syukur dan hari sukacita. Mereka tidak berpikir dengan iri tentang mengapa saudara2 mereka di benteng Susan masih diijinkan membunuh musuh pada hari ke-14. Justru sebaliknya hari itu dimanfaatkan mereka sebagai hari sukacita.

Ayat 18-19
Terdapat persamaan penting antara orang-orang Yahudi di dalam dan di Luar Benteng Susan. Yakni masing-masing mereka menyempatkan diri untuk bersyukur lewat perjamuan dan menjadikan hari itu sebagai hari Sukacita walaupun berbeda selisih satu hari. Hari itu pula menjadi cikal bakal hari raya Purim. Yakni pada hari ke-14 dan ke-15 bulan Adar tiap tahunnya diperingati sebagai hari sukacita hari kemenangan yang diberikan Tuhan kepada umatNya.  

Aplikasi dan Relevansi

Ada beberapa hal penting dari Firman Tuhan hari ini yang dapat kita bawa dalam kehidupan sehari-hari:

1.      Tuhan tidak pernah membiarkan umatNya terus menderita.
Di saat kita mengalami penderitaan, apa yang sering kita dipikirkan? Terutama ketika derita itu datang dari kebenaran yang kita perbuat dan karena ketidak-adilan orang lain? Pastilah sebagai umat percaya kita berpikir kapan Tuhan bertidak? Mengapa Dia membiarkan ini terjadi? Keadilan macam apa jika menderita seperti ini? Dll

Hari ini kita belajar pada kisah di atas, bahwa tidak selamanya orang benar itu dibiarkan goyah sebab Tuhan menopang tangannya (bd.Mzm 3723-24). Kita belajar untuk memahami bahwa ada saat untuk menderita namun ada saat pula untuk bahagia; ada masa dimana kita berduka namun juga kita saat nanti akan menjalani masa penuh sukacita. Penting untuk direnungkan adalah Tuhan itu adil, dan pembalasan itu adalah hak Tuhan kepada semua ciptaanNya. Tidak mungkin Tuhan membiarkan umatNya. Tugas kita adalah, belajar untuk bersabar menunggu waktu pemulihan itu, seperti orang Yahudi menerima itu dari Tuhan.  

2.      Berperanlah seperti Ester dan Mordekhai
Memang benar bahwa Tuhanlah sumber segala kuasa dan kekuatan sehingga orang Yahudi di seluruh wilayah kerajaan Persia memperoleh hari sukacita. Namun perlu disadari bahwa hal itu juga terjadi karena Ester dan Mordekhai bersedia dipakai Tuhan untuk melaksanakan rencanaNya. Bayangkan jika Ester dan Mordekhai dengan posisi penting di Kerajaan itu tidak mau peduli dengan penderitaan rakyat sebangsanya, maka sudah pasti orang Yahudi tidak akan pernah merayakan Hari Raya Purim tanda sukacita dan syukur atas kelegaan yang mereka rasakan waktu itu.

Saudara dan saya juga dipanggil untuk mampu berperan seperti Ester dan Mordekai. Di posisi yang cukup elit dalam kerajaan Persia mereka tidak segan untuk meyatakan kebenaran dan keadilan bagi kaumnya. Ini bukan sintimen ras atau karena alasan sesama bangsa. Tapi olebih dari pada itu, Ester dan Mordekhai bersedia untuk berpihak kepada mereka yang menderita dan mengalami ketidakadilan. Selama masih bisa diperjuangkan mereka tetap perjuangkan. Demikian halnya kiranya dengan kita sebagai orang percaya. Di manapun saudara berada, di level apapun posisi saudara dalam pemerintahan, perusahan ataupun di tengah masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi Ester dan Mordekhai modern. Kita diajak untuk mampu memperjuangkan keadilan dan mengutamakan pembekaan kepada mereka yang menjadi korban.

Sudah saatnya orang percaya berani keluar dari sona nyaman dan siap terancam demi membebaskan orang lain dari ancaman ketidakadilan dan perlakuan buruk dari orang lain. Sebagai orang percaya kita harus berani melakukannya, sebab Tuhan menempatkan saudara di posisi itu karena ada maksud dan tujuan serta bukan suatu kebetulan.

3.      Jadikan tiap peristiwa sebagai momentum syukur kepada Tuhan
Perhatikan apaya yang dilakukan oleh orang Yahudi yang berada di dalam dan di luar benteng Susan pada hari ke-15 dan ke-14 pasca perlawanan mereka. Hari-hari itu dijadikan hari Sukacita dan Perjamuan sebagai cikal bakal Hari Raya Purim. Moment itu dipakai sebagai cara mereka memperingati dan mensyukuri perbuatan Allah yang ajaib dalam hidup mereka. Tanda syukur bahwa Tuhan telah melawat umatNya.

Bagaimana dengan kita umatNya kini dan disini? Sudahkah kita mengingat Tuhan ditiap peristiwa dalam hari-hari hidup kita. Jadikanlah setiap hari sebagai peristiwa penting untuk mensyukuri kemurahan dan kebaikan Tuhan.

Karena itu, mari kita lakukan Firman ini dalam hidup kita, dengan memulainya di dalam keluarga. Ajarkan anak-anak kita, ingatkan suami atau Istri kita bahwa apapun yang kita alami dalam hidup ini, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Selanjutnya mari juga memiliki keberanian untuk menjadi alat di tangan Tuhan untuk membela kebenaran dan berpihak kepada mereka yang mengalami ketidak-adilan. Selanjutnya, jangan lupakan Tuhan dalam setiap peristiwa hidup kita. Tuhan memberkati kita. AMIN.

Tuesday, February 7, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 8 FEBRUARI 2012 DANIEL 8:5-8



5 Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan
datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah; dan kambing jantan itu mempunyai satu tanduk yang aneh di antara kedua matanya.  6 Ia datang pada domba jantan yang dua tanduknya dan yang kulihat berdiri di depan sungai itu, lalu menyerangnya dengan keganasan yang hebat.  7  Aku melihatnya mendekati domba jantan itu; ia menggeram, lalu ditanduknya domba jantan itu, dipatahkannya kedua tanduknya, dan domba jantan itu tidak berdaya untuk tahan menghadapi dia; dihempaskannya dia ke bumi, diinjak-injaknya, dan tidak ada yang melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.   8  Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit.

Jemaat Tuhan…
Bacaan kita hari ini merupakan lanjutan dari bacaan pada hari Minggu-Selasa tentang penglihatan yang dialami oleh Nabi Daniel dalam mimpinya (7:1). Sebelum menguraikan lebih jauh, kita perlu mengenal tentang sosk Daniel. Siapakah Daniel ini?

Daniel adalah seorang Israel keturunan raja dan bangsawan. Dia dibawa ke Babel sebagai tawanan dari raja Nebukadnezar pada tahun ke-3 pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda. Daniel beserta Hananya, Misael dan Azarya dilatih khusus untuk melayani raja (Daniel 1:1-6). Mereka dipilih karena mereka adalah orang-orang muda yang pandai, tidak bercela, berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, memiliki banyak pengetahuan dan ilmu. Menurut kebiasaan pada zaman itu ia diberikan nama Beltsazar, suatu nama Babel (ayat 7). Daniel dikenal sebagai penafsir dari penglihatan-penglihatan orang lain (pasal 2-5), kemudian penafsir dari penglihatannya sendiri, yang bernubuatkan kemenangan mendatang dari Kerajaan Mesias (pasal 7-12).

Selanajautnya marilah memperhatikan bacaan kita, yakni Daniel 8:5-8. Minimal kita menemukan ada 8 pokok yang merupakan Garis Besar isi dari pasal 8 secara keseluruhan, yakni:

1.       Ayat 1-4 Penglihatan tentang seekor domba jantan di tepi sungai Ulai. Domba jantan itu memiliki dua tanduk tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir.

2.       Ayat 5-8 Penglihatan tentang seekor kambing jantan yang memiliki satu tanduk aneh di antara kedua matanya. Kambing jantan itu menyerang dan menanduk hingga mematahkan tanduk domba jantan.
3.       Ayat 9-12 Pada kambing jantan itu tumbuh satu tanduk kecil dari keempat tanduk itu dan kemudian semakin membesar ke arah selatan, ke arah timur dan kearah Tanah Permai.

4.       Ayat 13-14 Percakapan dua orang kudus tentang masa kefasikan yang membinasakan.

5.       Ayat 15-26 Suara yang memerintahkan Gabriel untuk menjelaskan kepada Daniel mengenai penglihatan itu.

6.       Ayat 27 Daniel jatuh sakit, kemudian melanjutkan urusan tugasnya dengan perasaan tercengang dan tidak memahami tentang penglihatan tersebut.

Jemaat Tuhan…
Penglihatan tentang Domba jantan dan Kambing jantan ini adalah penglihatan kedua, setelah sebelumnya Daniel mengalami penglihatan pertama tentang 4 ekor binatang mengerikan yang mewakili 4 kerajaan dunia (pasal 7).

Khusus untuk Penglihatan kedua. Bagian ini terdiri atas 2 (dua) bagian besar yaitu:
a.        Penglihatan kambing dan domba (ayat 1-14) yakni termasuk bacaan hari ini, dan
b.       Penafsiran penglihatan itu (ayat 15-27).

Penglihatan domba jantan adalah gambaran tentang kerajaan Media-Persia, sedang penglihatan binatang kambing adalah gambaran kerajaan Yunani yang memiliki tanduk yang menonjol, yaitu raja Aleksander Agung (ayat 21).

Penglihatan Daniel yang kedua ini memberikan gambaran tentang beberapa kejadian kedepan yang akan terjadi dunia, yaitu:
1.       Yunani akan mengalahkan Kerajaan Media Persia (ayat. 7)
2.       Kematian raja Aleksander Agung akan melemahkan kerajaan Yunani (ayat.8)
3.       Kerajaan Yunani akan di bagi menjadi 4 wilayah di bawah masing-masing kekuasaan empat orang raja (ayat.8)
4.       Di tengah kerajaan Yunani akan muncul kekuasaan anti Kristus. Ayat 9-12 mengatakan bahwa di tengah salah satu tanduk akan muncul satu tanduk yang kecil, yaitu raja Antiokhus Epifanes. Di bawah kekuasaannya, ia dengan segala cara menghancurkan iman orang Yahudi.

Di tengah penglihatan itu, ternyata muncul malaikat Gabriel (15-16) dan malaikat itu menerjemahkan arti penglihatan itu. Ayat 23-25 memberikan gambaran tentang Antiokhus Apifanus IV yang mempunyai kekuasaan yang besar. Dia akan dihancurkan tanpa perbuatan manusia, melainkan kekuasaan dari Tuhan.

Jemaat Tuhan…
Jika kita memperhatikan bacaan ini, secara khusus pada dua bagian penting keseluruhan pasal 8, yakni tentang penglihatan Kambing dan Domba pada ayat 1-14 (termasuk bacaan kita malam ini ayat 5-8); dan juga meneliti hasil Penafsiran dan penjelasan Penglihatan oleh Malaikat Gabriel kepada Daniel pada ayat 15-27 maka kita akan menemukan sesuatu yang sangat menakjubkan bahwa penglihatan Daniel ini benar2 terjadi setelah kurang lebih 500 tahun perjalanan waktu.

Jikalau kita mempelajari tentang sejarah Yunani misalnya dan juga sejarah bangsa Persia, maka apa yang dikatakan oleh Alkitab lewat penglihatan Daniel benar2 terjadi dan berlaku. Pada akhirnya kerajaa terkuat yakni Yunani pun hancur lebur dalam perjalanan sejarahnya. Kekaisaran Romawi juga menerima akibatnya. Hal ini mau membuktikan bahwa apa yang dinubuatkan oleh Daniel melalui penglihatannya dalah benar dan bukanlah suatu kebohongan.

Dari Firman Tuhan ini kita dapat menyimpulkan bahwa sehebat apapun kekuasaan yang dibangun oleh manusia, mereka tidak bisa menandingi kekuasaan Tuhan. Memanfaatkan kekuasaan dengan segala keangkuhan dan kesombongan; penistaan kaum lemah dan penghujatan kepada Allah pada akhirnya akan dihancurkan Tuhan.

Jemaat Kekasih Kristus
Kekuasaan dengan segala ideologi, sistim, visi dan motivasinya datang dan pergi silih berganti. Seperti ada ungkapan setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Oleh sebab itu kekuasaan manusia sebenarnya tidak ada yang kekal.

Penglihatan tentang domba jantan dan kambing jantan ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak untuk selama-lamanya, apalagi jika kekuasaan itu diwarnai dengan kesombongan, kebencian, kesewenang-wenangan, keserakahan, pementingan diri sendiri, tidak rela membiarkan kekuatan lain mengancam.

Kekuasaan biasanya membuat telinga manusia menjadi tuli dan hati nuraninya tumpul. Menghalalkan segala cara, otoriter, korupsi, manipulasi, intrik, ambisius, angkuh, tidak peduli bahkan mengorbankan dan menindas orang lain telah menjadi nilai-nilai yang lumrah. Manusia telah menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir, padahal kekuasaan adalah alat untuk meraih kesejahteraan bersama, bukan kesejahteraan diri sendiri.

Kekuasaan adalah berkat Tuhan yang harus disyukuri dan dimanfaatkan dan dikendalikan sebaik-baiknya. Ketika Tuhan menganugerahkan suatu kekuasaan atau kewenangan kepada kita maka jadikanlah itu sebagai suatu yang yang berguna bagi sesama dan pelayanan bagi kemuliaan Tuhan. Sebab sebenarnya Tuhanlah pemilik segala kekuasaan itu. Jika kita memilikinya, itu justru karena anugerah Tuhan.

Karena itu mari memanfaatkan setiap karunia Tuhan itu (kekuasaan, posisi dalam masyarakat, kekayaan ataupun pangkat dan kedudukan) hanya untuk kemuliaan Tuhan dan bukan sebaliknya menjadi suatu kesombongan dan keserakahan seperti penglihatan tentang kambing dan domba tadi. Sebab segala bentuk ketidak patutan dalam memanfaatkan anugerah Tuhan itu termasuk kekuasaan, saatnya nanti akan menerima penghakiman Tuhan.

Kiranya juga, sebagai orang percaya dan gereja Tuhan, kita dapat saling mengingatkan dan mengarahkan satu dengan yang lain, termasuk juga mendoakan pemerintah kita agar mereka tidak SALAH JALAN memanfaatkan kekuasaan yang diberikan TUhan untuk mengayomi negeri ini.  Amin

Monday, January 30, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH PKP 31 JANUARI 2012 MAZMUR 119:25-42


Persekutuan Kaum Perempuan yang dikasihi Tuhan…
Dalam sebuah iklan susu formula, seorang ibu tampak begitu protektif. Ia berusaha selalu mendampingi dan membantu anaknya. Namun, ketika mengantar anaknya berlatih balet, ia harus melepaskan anaknya ke ruang latihan seorang diri. Suara narator lalu menimpali, “Ketika Anda tidak bisa membantunya, nutrisinya bisa.”

Seperti itu juga peran firman Tuhan dalam kehidupan kita. Bila kita memenuhi hati kita dengan firman-Nya, hati akan menjadi semacam gudang amunisi yang siap mensuplai senjata-senjata penangkal saat kita mengalami peperangan rohani. Firman Tuhan akan menjadi sumber pertolongan untuk menghadapi berbagai pencobaan dan ujian kehidupan.

Firman Tuhan mengandung “nutrisi” rohani lengkap. Silakan lihat dan perhatikan Filipi 4:8! Secara tidak langsung, Fiipi 4:8 memberi makna: Bila keraguan dan dusta menyerang kita, “semua yang benar” akan melawannya. Bila keelokan dunia ini memikat kita, “semua yang mulia” akan memudarkannya. Bila kira diperlakukan tidak adil, “semua yang adil” akan menyerahkan penghakiman pada Allah, yakni Sang Pembuat Hukum dan Hakim. Bila percabulan dan kenajisan menggoda kita, “semua yang suci” akan memadamkannya. Bila kepahitan mencengkeram hati kita, “semua yang manis” akan menyembuhkannya. Bila berita celaka membuat kita gentar, “semua yang sedap didengar” akan menyegarkan jiwa kita. Bila gosip dan suara si pendakwa saudara-saudara datang menerpa, kita menutup telinga dan mengarahkannya pada “semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji.”

Pemazmur dalam bacaan kita, yakni mulai ayat 25-32 Mazmur pasal 119 ini, menjelaskan tentang faedah atau manfaat dari mendengar dan memperhatikan Firman Tuhan serta melaksanakannya. Manfaat dari Firman Tuhan dimaksud adalah sbb:

1.      Sumber Hidup
Perhatikan ayat 25! Pemazmur menyebut bahwa jiwanya melekat pada debu. Istilah “jiwa” yang dipakai oleh pemazmur menunjuk pada simbol kehidupan. Sedangkan “debu” yang dimaksud oleh pemazmur adalah simbol kehancuran atau kematian. Dengan kata lain, pemazmur ingin mengatakan bahwa ia sedang diambang kematian. Tentunya kematian dimaksud bukanlah mati raga namun lebih tepat mati karena dosa dan telah jauh dari Allah.

Saat mengalami kondisi seperti ini, pemazmur berseru agar Tuhan “menghidupkan” pemazmur dengan Firman Tuhan. Bagi pemazmur, Firman Allah itu adalah sumber dari segala kehidupan. Menjauhi Firman berarti jauh dari TUHAN yang adalah pemberi hidup. Dekat dengan Tuhan berarti menjadi hidup karena berada dalam sumber kehidupan. Orang hanya dapat disebut dekat dengan Tuhan, jika dia mengenal Firman dan melakukan ketetapan-Nya.

2.      Penunjuk Jalan menunju kebenaran (ayat.26,27,29 dan 29)
Dalam keempat ayat ini, pemazmur memastikan bahwa di saat ia kesulitan mencari arah perjalanan hidupnya; saat ia bingung menempuh perjalanan itu; dan bahkan disaat sulit untuk membedakan arah yang benar atau salah dari hidupnya, pemazmur mengakui bahwa Firman Tuhan jalan kebenaran dan petunjuk yang tepat untuk menjauhkannya dari segala dusta dan jebakan menuju dosa.

3.      Sumber Penghiburan (ay.28)
Pemazmur telah mengalami sendiri betapa Firman Tuhan memiliki banyak fungsi dan faedah yang dapat menolong hidup orang percaya. Saat ia mengalami dukacita; saat air mata tak terbendung karena kepedihan hidup, pemazmur merasakan sediri bahwa Firman Tuhan sangat ampuh untuk menghadirkan penghiburan. Bahkan bukan hanya merasa dihibur saat duka, pemazmur memastikan bahwa Firman Tuhan mampu meneguhkan iman saat gonjangan dan kebimbangan akibat pergumulan dialami orang percaya.    


Ibu-ibu yang dikasihi TUHAN..
Firman Tuhan bagaikan suatu formula ajaib yang berisi “nutrisi” rohani kebutuhan iman dan perjalanan hidup kita. Kita membutuhkan Firman Tuhan, bagaikan tubuh membutuhkan nutrisi agar tetap kuat dan sehat. Artinya, hanya dengan mengkomsumsi Firman Tuhan, maka jiwa dsan rohani kita akan semakin kuat menjalani hari-hari hidup ini. Pendek kata Firman Tuhan menjauhkan kita dari dosa dan kejahatan tetapi Firman Tuhan juga dapat memimpin kita untuk mengalahkan kejahatan itu.

Karena itu mari mulailah sekarang untuk mencintai Firman Tuhan, sebagaimana pemazmur katakan bahwa ia sungguh bergemar pada ketetapan2 Tuhan. Mulailah hal itu dalam keluarga!! Ajak dan pengaruhilah suami dan anak2 pada kerinduan akan Firman TUHAN. Percayalah, setiap orang yang bersedia mencari Firman, Tuhan akan datang dengan Roh Kudusnya untuk memberikan pengertian bagi FirmanNya itu. Selanjutnya, jika Firman itu sudah kita pahami, maka segera kerjakan kebenaran itu! Jangan menunda waktu dan hiduplah dalam kebenaran Firman itu. Niscaya kita akan semakin diperkaya dalam Firman Allah dan juga mendapati diri dan kehidupan saudara berkenan kepada Allah. Selanjutnya siap2lah bahagia, sebab Firman Tuhan adalah sumber kebahagian hidup. Amin










Sunday, January 29, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH PKB 30 JANUARI 2012 MAZMUR 119:9-16

Jemaat Tuhan…
Mungkin di antara kita ada yang pernah mendengar nama Pdt William Tyndale (1494-1536). Ia adalah seorang berkebangsaan Inggiris.  Ia tinggal di Negara yang memiliki sedikit mesin pencetak dan mereka yang memiliki percetakan, memproduksi buku-buku dengan kualitas rendah. Tidak hanya buku-buku dari Martin Luther – yang membela Alkitab sebagai sumber kebenaran yang dapat membuat orang Kristen harus berbalik kepada kebenaran – dilarang di negaranya pada awal abad 16, tetapi adalah illegal untuk seseorang menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris. 

Oleh sebab itu, Tyndale meninggalkan Inggris ke Jerman pada tahun 1542.  Di Colgne tahun berikutnya, Tyndale mulai mencetak hasil terjemahan Perjanjian Baru-nya ke dalam bahasa Inggris dengan ukuran buku sebesar saku celana.  Alkitab terjemahannya ini banyak diminati dan dibaca oleh orang.  Alkitab saku tersebut menjadi sangat terkenal dimana-mana dan begitu banyak orang yang akhirnya dapat memahami maksud Firman Tuhan ketika mereka bisa membacanya sendiri setiap saat. Sebagian Perjanjian Lama pun mulai ia terjemahkan bahkan ketika ia berada di penjara. 

Tahukah saudara, walau jasanya begitu besar namun kematiannya begitu mengenaskan.  Ia mati dengan diikat serta dibakar pada sebuah tonggak kayu.  Semua ini disebabkan Gereja Roma Katolik pada saat itu menganggapnya sebagai bidat (pengajar palsu) yang harus dimusnahkan.  Sejak kematian Tyndale hingga hari ini, sejarah kekristenan telah membuktikan betapa Firman Tuhan telah mengubah hidup anak-anak Tuhan, semakin serupa Kristus! 

Terjemahan Tyndel inilah yang sangat akurat, sebab ia menerjemahkan langsung dari teks asli ke dalam terjemahan bahasa Inggris. Itulah sebabnya hasil terjemahannya sebagian besar digunakan dalam Alkitab bahasa ingris veris King James, yakni versi terjemahan resmi di Inggris setelah  kematiannya. Perjuangan tokoh ini menjadi inspirasi banyak orang sehingga banyak sekali hingga saat ini berbagai terjemahan dicetak dan yang juga kemudian hari berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti yang saudara miliki saat ini.

Hal besar ini dimulai dengan motivasi dan kerinduan mulia, yakni agar semua orang awam (jemaat) dapat mengenal Firman Tuhan dan melakukannya.

Jemaat Tuhan…
Bacaan kita ini juga berbicara tentang betapa pentingnya Firman Tuhan itu. Pemazmur  dalam ayat 9 menyebutkan bahwa hanya Firman Tuhanlah yang dapat menjaga hidup kita tetap bersih (jauh dari dosa) sehingga kita menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah untuk diberkati dan mengalami kebahagiaan (bd. Ayat 1,2).

Jika demikian, bagaimana cara kerja Firman Tuhan itu, sehingga mampu menjaga hidup kita bersih? Perhatikan hal ini!
Dalam sebuah iklan susu formula, seorang ibu tampak begitu protektif. Ia berusaha selalu mendampingi dan membantu anaknya. Namun, ketika mengantar anaknya berlatih balet, ia harus melepaskan anaknya ke ruang latihan seorang diri. Suara narator lalu menimpali, “Ketika Anda tidak bisa membantunya, nutrisinya bisa.”

Seperti itu juga peran firman Tuhan dalam kehidupan kita. Bila kita memenuhi hati kita dengan firman-Nya, hati akan menjadi semacam gudang amunisi yang siap mensuplai senjata-senjata penangkal saat kita mengalami peperangan rohani. Firman Tuhan akan menjadi sumber pertolongan untuk menghadapi berbagai pencobaan dan ujian kehidupan.

Firman Tuhan mengandung “nutrisi” rohani lengkap. Silakan lihat dan perhatikan Filipi 4:8! Secara tidak langsung, Fiipi 4:8 memberi makna: Bila keraguan dan dusta menyerang kita, “semua yang benar” akan melawannya. Bila keelokan dunia ini memikat kita, “semua yang mulia” akan memudarkannya. Bila kira diperlakukan tidak adil, “semua yang adil” akan menyerahkan penghakiman pada Allah, yakni Sang Pembuat Hukum dan Hakim. Bila percabulan dan kenajisan menggoda kita, “semua yang suci” akan memadamkannya. Bila kepahitan mencengkeram hati kita, “semua yang manis” akan menyembuhkannya. Bila berita celaka membuat kita gentar, “semua yang sedap didengar” akan menyegarkan jiwa kita. Bila gosip dan suara si pendakwa saudara-saudara datang menerpa, kita menutup telinga dan mengarahkannya pada “semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji.”

Perhatikanlah betapa pentingnya Firman Tuhan itu menuntun dan menjaga hidup kita agar tidak dikotori dosa. Jika Firman Tuhan itu begitu penting, maka bagaimana caranya supaya kita dapat merasakan dan memperoleh kuasa dan fungsi Firman Tuhan ini? Dalam ayat 10-16 pemazmur menyebut 2 (dua) pribadi yang berperan untuk ”mengfungsikan” peran Firman Tuhan agar manusia dapat menjaga hidupnya bersih, yakni:
1.      Peran Ilahi, yakni TUHAN yang memulai prakarsa lewat menyatakan peranNya di dalam tindakan aktif yang nyata, yakni:
-          Tuhan membuat ketetapan, aturan dan peringatan2 sebagai penuntun bagi umat-Nya (bd. Ay.1,2)
-          Tuhan menjaga hati manusia agar tidak menyimpang dari FirmanNya itu (bd. Ayat 10)
-          Tuhan tidak hanya membuat ketetapan, tapi juga mengajarkan ketetapan itu kepada umat-Nya (ay.12)
-          Bukan saja mengajar, Tuhan juga memberikan petunjuk melaksanakan ketetapan2 itu (ay.14).

2.      Peran Umat, yakni upaya serius manusia dalam ketaatan lewat, untuk menjaga hidupnya sesuai Firman Tuhan, yakni:
-          Harus segenap hati mencari Tuhan (ay.10)
-          Harus mengingat Firman Tuhan dan menaruhnya dalam hati (ay.11) agar tidak hanya terkenang sambil lalu.
-          Bukan hanya mendengar dan mengingat Firman, tapi harus juga mampu mengucapkan Firman itu (ay.13)
-          Sikapi Firman Tuhan dengan gembira walau mungkin pedas untuk didengar sehingga Firman menjadi kegemaran dalam hidup dan dengan mudah dikerjakan (bd. Ay.14-16)

Dengan demikian sangat penting untuk memahami hal ini, yakni:
-          Untuk dapat menjauhkan hidup kita dari segala dosa dan kesalahan maka kita membutuhkan kuasa Firman.
-          Agar kuasa Firman bekerja kita sangat membutuhkan TUHAN untuk menuntun dan mengajar kita agar memilkiki pengertian yang benar tentang Firman Tuhan tersebut.
-          Namun peran Tuhan, tidaklah cukup. Manusia harus melakukan perannya juga yakni lewat dengan segenap hati belajar dan memahami serta melakukan Firman Tuhan.

Jemaat Tuhan..
Mari mulailah sekarang untuk mencintai Firman Tuhan, sebagai pemazmur katakan bahwa ia sungguh bergemar pada ketetapan2 Tuhan. Mulailah dalam keluarga; ajak dan ajarlah istri dan anak2 pada kerinduan akan Firman TUHAN. Percayalah, setiap orang yang bersedia mencari Firman, Tuhan akan datang dengan Roh Kudusnya untuk memberikan pengertian bagi FirmanNya itu.

Selanjutnya, jika Firman itu sudah kita pahami, maka segera kerjakan kebenaran itu! Jangan menunda waktu dan hiduplah dalam kebenaran Firman itu. Niscaya kita akan semakin diperkaya dalam Firman Allah dan juga mendapati diri dan kehidupan saudara berkenan kepada Allah. Selanjutnya siap2lah bahagia, sebab Firman Tuhan adalah sumber kebahagian hidup. Amin

Thursday, January 19, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH KELUARGA 25 JANUARI 2011 YEREMIA 27:12-15


12 Kepada Zedekia, raja Yehuda, aku telah berbicara dengan cara yang sama, kataku: "Taruhlah tengkukmu ke bawah kuk raja negeri Babel, takluklah kepadanya dan kepada rakyatnya, maka kamu akan hidup.  13  Mengapa engkau beserta rakyatmu harus mati oleh pedang, kelaparan dan penyakit sampar seperti yang difirmankan TUHAN tentang bangsa yang tidak mau takluk kepada raja Babel itu?  14  Janganlah dengarkan perkataan nabi-nabi yang berkata kepadamu: Janganlah kamu mau takluk kepada raja Babel! Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu.
15  Sebab Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN, tetapi mereka bernubuat palsu demi nama-Ku, sehingga kamu Kuceraiberaikan dan menjadi binasa bersama-sama dengan nabi-nabi yang bernubuat kepadamu itu."

Perhatikan bacaan kita di Yeremia 27 ini! Terdapat kesan yang sangat kuat dalam bacaan kita bahwa Nabi Yeremia sangat tegas memperingatkan raja-raja masa itu termasuk Raja Israel yakni Zedekia tentang sikap mereka terhadap Raja Babilonia (Babel) yang bernama Nebukadnezar.

Pertentangan utama antara Yeremia dan Zedekia ialah masalah pemberontakan terhadap Nebukadnezar. Pemberontakan sudah direncanakan pada tahun ke-4 pemerintahannya dalam persekongkolan dengan negara-negara tetangga, hal yang sangat keras ditentang oleh nabi Yeremia (pasal 27 dab).

Pertentangan ini bukan saja antara Yeremia dengan Zedekia sebagai Raja, namun juga antara Yeremia dan para nabi palsu. Baik Yeremia dan nabi2 palsu ini sama-sama berbicara “atas nama” TUHAN. Tentunya hal ini menjadi bahan perguncingan dan perdebatan tentang manakah yang benar dari antara nubuatan ini. Apabila kita membaca pasal berikut yakni keseluruhan pasal 28, maka terlihat dengan jelas telah terjadi “perang” nubuatan antara Yeremia dengan nabi palsu yang bernama Hanaya. Raja Zedekia dan umat Israel diminta untuk membuat pilihan untuk hal itu. Yang perlu ditegaskan, bahwa Yeremia tidak menetang raja-raja dan nabi2 palsu itu atas kehendaknya sendiri, namun justru berdasarkan perintah TUHAN.

Yeremia dengan tegas mengatakan sesuai dengan Firman TUHAN bahwa Orang Israel termasuk Raja Zedekia harus tunduk kepada Raja Kafir itu, yakni Nebukadnezar. Sebab TUHAN sendiri yang merencanakan bahwa Israel akan takluk kepada Nebukadnezar dan mereka akan di buang olehnya ke Babel dan Israel akan menderita selama 70 tahun (bd. Yeremia 29:10-11).

Kita menemukan beberapa hal penting dari perintah TUHAN bagi Yeremia, khususnya pada pasal 27:12-15. Beberapa pokok dimaksud adalah sbb:

1.       Tuhan dapat menggunakan seorang kafir sekalipun untuk rencanaNya
Raja Nebukadnezar adalah pribadi yang tidak mengakui TUHAN, Allah Israel. Dari kacamatan Israel, Nebukad-Nezar adalah seorang yang kafir. Namun justru dalam bacaan hari ini, kita menemukan bahwa seorang yang tidak percaya-pun dapat digunakan TUHAN, Allah untuk melaksanakan rencanaNya.

Pada ayat 6 kita menemukan pernyataan yang sangat luar biasa “aneh dari TUHAN, yakni menyebut Nebukadnezar yang kafir ini sebagai “hamba-Ku”. Hal ini memberikan kepastian, bahwa Nebukadnezar adalah alat yang sengaja TUHAN pakai untuk melaksanakan rencanaNya yang besar.

Bayangkanlah apa yang dirasakan Zedekia ketika FIRMAN pada ayat 12 itu disampaikan Yeremia kepadanya. Pastilah sulit diterima oleh Zedekia, bagaimana mungkin TUHAN, Allah nenek moyangnya mau mengangkat NEBUKADNEZAR raja Kafir itu untuk menghukum mereka. Kemungkinan besar, pesan ini tidak akan mudah dipercaya oleh Raja Zedekia. Itulah sebabnya pada ayat 14-15 ada kesan bahwa Zedekia lebih Percaya apa yang diucapkan oleh para nabi Palsu.

2.       Jangan hanya mau mendengar yang manis saja!
Mengapa ada kesan dalam ayat 14-15 bacaan kita, bahwa Zedekia lebih percaya pada apa yang dikatakan oleh nabi-nabi palsu dibandingkan apa yang di sampaikan Nabi Yeremia? Sebab nabi2 palsu menyampaikan sesuatu yang lebih menyenangkan telinga, yakni “tidak ada penghukuman”; dan lawanlah Nebukadnezar karena TUHAN pasti akan berpihak kepada Israel. Sedangkan Yeremia justru sebaliknya, yakni Nebukadnezar adalah raja yang disiapkan Allah untuk menghukum Israel.

Dengan demikian, Zedekia lebih memilih untuk mendengar yang “enak” didengar walapun PALSU, dari pada mendegar suatu kebenaran walaupun terasa pahit dan menyakitkan.

Dari uraian Firman Tuhan ini, ada beberapa hal yang dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, yakni:

1.       Tuhan berhak menggunakan siapapun untuk rencanaNya.
TUHAN berhak memakai siapa saja untuk melaksanakan rencana-Nya yang agung dalam dunia ini, termasuk seorang yang tidak percaya sekalipun seperti Raja Nebukad-Nezar pemimpin kerajaan Babel itu.

Pernyataan ini tidak berarti bahwa TUHAN berpihak kepada orang kafir yang tidak percaya. Itu pemahaman yang keliru. Yang lebih tepat adalah TUHAN memiliki otoritas tertinggi untuk memilih dengan bebas siapapun yang bisa dijadikan alat dan sarana bagi rencaana besarnya dalam sejarah dunia.

Hari ini kita ditegur TUHAN, bahwa seringkali kita ogah-ogahan melakukan tanggung-jawab pelayanan kita untuk TUHAN, lewat keluarga sebagai Istri atau suami; sebagai orang tua atau anak; di dalam gereja sebagai pelayanan atau pengurus dll. Apabila kita yang percaya lalai dan tidak penuh hati melakukan apa yang Tuhan tugaskan, maka berhati-hatilah! Sebab kesempatan menjadi hamba dan kawan sekerja-Nya bisa TUHAN alihkan kepada orang lain termasuk seorang yang tidak percaya sekalipun. Kita harusnya bersyukur bahwa TUHAN mau memakai kita sebagaimana Yeremia bersyukur dan melakukan tugasnya dengan taat. Sebab adalah suatu kebahagiaan yang tak terkira jika kita dapat menyenangkan TUHAN.

2.       Dengarkan kebenaran baik manis maupun pahit di telinga.
Banyak orang terbuai dengan kata-kata indah dan manis didengar dan tanpa disadari hal itu justru menjerumuskannya. Namun, bukankah itu adalah kenyataanya? Bukankah banyak orang senang mendengar khotbah “yang ringan” dan “yang lucu” dari pada Firman yang “keras” dan “tegas” menegur prilaku hidup rohani sebagai suatu persekutuan?

Hari ini kita belajar, bahwa tidak selamanya yang “indah didengar” itu adalah suatu kebaikan dan kebenaran; dan tidak juga selamanya yang “pahit didengar” itu adalah suatu keburukan dan petaka hidup. Kebenaran adalah kebenaran. Siapaun dari kita haruslah siap untuk mendengar dan bersedia untuk menyimak, walau sakit dan pahit sekalipun.
Di sisi lain, kita juga diajar untuk bersedia menjadi Yeremia modern saat ini. Ia berani melawan arus dan kelompok mayoritas demi menjalankan kebenaran yang harus diberitakan. Nubuatan dan pemberitaannya justru sangat berlainan dengan nubuatan umumnya para nabi palsu. Yeremia tidak gentar, tidak takut dikucilkan, tidak kecil hati dan kemudian mundur. Hari ini kita juga mesti membuat pilihan yang tepat, yakni Jangan takut mengatakan kebenaran, walau pahit sekalipun untuk didengar. Jangan mundur mengutarakan kebaikan walaupun tidak nyaman untuk diperdengarkan.

Karena itu, sebagai orang yang telah dipilih TUHAN untuk diselamatkan, mari teladani Yeremia. Berdoalah terus untuk meminta kepada TUHAN, agar Ia berkenan memberikan mulut dan telinga seorang murid  untuk mampu mendengar dan mengatakan kebenaran, walau pahit dan sakit sekalipun untuk dikatakan dan didengar. AMIN.

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...