Tuesday, August 21, 2012

MATERI KHOTBAH RABU 22 AUG 2012


YAKOBUS 4:11-12


Jemaat Tuhan
Yakobus, setelah berbicara tentang dosa lidah, ia melanjutkan tentang salah satu bentuk kehidupan manusia yang jatuh dalam Dosa Lidah tersebut, yakni pada ayat 11 dan 12 bacaan kita hari ini.

Teguran Yakobus di bagian ini diterjemahkan LAI:TB dengan “janganlah kamu saling memfitnah”. Dalam teks Yunani, kata “memfitnah” memakai istilah katalalew. Istilah ini secara hurufiah berarti “mengatakan sesuatu yang menentang” (kata = “melawan” dan lalew = “berbicara”). Mayoritas terjemahan versi Inggris memakai “mengatakan sesuatu yang jahat” atau “mengatakan sesuatu yang menentang”. Penggunaan kata ini di Perjanjian Baru menunjukkan bahwa katalalew biasa merujuk pada segala macam perkataan negatif untuk menentang orang lain, misalnya “menentang pemimpin atau Allah” (Bil 12:8; 21:5, 7), “mengumpat” (Mzm 101:5), “menghina” (Ay 19:3), “mengatakan sebuah dusta” (Hos 7:13), “mengatakan sesuatu yang bisa dianggap kurang ajar” (Mal 3:13) atau “memfitnah/menuduh” (1Pet 2:12; 3:16).

Mengingat arti katalalew sangat luas, kita harus menyelidiki artinya berdasarkan konteks. Dalam Yakobus 4:11 terjemahan LAI:TB “memfitnah” hampir dapat dipastikan salah. Kata ini muncul 3 kali di ayat 11. Pada pemunculan yang terakhir kata ini dihubungkan dengan hukum (LAI:TB “mencela hukum”). Di sinilah letak ketidak-konsistenan terjemahan LAI:TB, karena dua pemunculan yang pertama diterjemahkan “memfitnah”, sedangkan yang terakhir dipakai “mencela”. Kita lebih baik menerjemahkan semua katalalew di ayat ini dengan “mencela”. Arti ini sesuai untuk frase “mencela hukum” (kita tidak mungkin “memfitnah” hukum). Selain itu, arti ini juga cocok dengan ungkapan Yakobus yang menghubungkan orang yang mencela (katalalew) dengan orang yang menghakimi sesamanya (ayat 11 “barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya”).

Jemaat Tuhan
Ayat 11b dan 12 merupakan alasan yang diberikan Yakobus mengapa orang percaya tidak boleh saling mencela. Ada dua alasan yang saling berkaitan. 
Karena mencela saudara seiman berarti mencela hukum dan menghakiminya (ayat 11b)

Bagi Yakobus orang yang mencela (katalalew) seorang saudara sama dengan orang yang menghakimi (krinw) saudaranya itu. Dari pernyataan ini terlihat bahwa dosa mencela di sini bukan hanya berhubungan dengan cara dan isi perkataan yang kasar, tetapi juga melibatkan sikap hati yang menganggap diri lebih baik daripada sesamanya (band. 3:1; 4:6-10). Sikap hati inilah yang justru dijadikan fokus utama pembahasan oleh Yakobus di ayat 11b-12 (kata “menghakimi” atau “hakim” muncul 6 kali dalam dua ayat ini). Jadi, kesalahan mereka bukan hanya secara eksternal (mencela), tetapi juga internal (merasa diri lebih baik).

Alasan pertama mengapa kita tidak boleh mencela dan menghakimi adalah karena mencela saudara berarti mencela hukum dan menghakiminya. Apa maksud dari pernyataan ini? Sebelum menyelidiki artinya, ada baiknya kita mengetahui lebih dahulu apa yang dimaksud dengan hukum di sini. Hukum di sini kemungkinan besar merujuk pada perintah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.
1.     Dalam bagian sebelumnya Yakobus sudah memakai kata “hukum” (nomos) dan kata itu menunjuk pada hukum kasih kepada sesama (2:8, dikutip dari Im 19:18b).
2.     Dalam konteks Imamat 19:18b, hukum kasih ini juga dihubungkan dengan larangan untuk berkata-kata yang jahat kepada sesama (Im 19:16).
3.     Ungkapan “sesama manusia” di ayat 12 sebagai pengganti “saudara” di ayat 11 merujuk pada hukum kasih kepada sesama (“kasihilah sesamamu manusia”).

Walaupun yang dimaksud dengan hukum di sini berasal dari perintah Taurat, namun kita harus memahami bahwa hukum ini telah diberi makna baru dalam kekristenan. Hukum ini adalah hukum yang memerdekakan dan sempurna (1:25; 2:12).



Jemaat Tuhan
Sekarang mari kita melihat arti dari alasan yang diberikan Yakobus di ayat 11b. Orang yang mencela dan menghakimi sesama bukanlah orang yang melakukan hukum (ayat 11), karena hukum kasih melarang kita mengucapkan perkataan kasar yang menentang orang lain. Ketika kita melakukan pelanggaran ini berarti kita telah mencela hukum itu. Kita bertindak seolah-olah hukum tersebut tidak memiliki otoritas dalam hidup kita. 

Lebih parah lagi, kita bukan hanya sebagai pelanggar hukum (band. 2:9-10), tetapi hakim atas hukum itu (ayat 11). Sikap menghakimi menunjukkan bahwa kita menganggap diri lebih baik dari orang lain dan sebagai tolak ukur kebenaran, padahal tolak ukur yang sebenarnya adalah hukum itu sendiri. Dengan demikian, ketika kita menghakimi orang lain, kita telah menjadikan diri kita sebagai hakim, bukan hanya atas orang lain tetapi juga atas hukum tersebut.

Jemaat Tuhan
Setelah menyatakan bahwa orang yang mencela saudaranya telah bertindak sebagai hakim atas orang lain maupun hukum kasih, Yakobus menjelaskan siapa satu-satunya pembuat hukum dan hakim yang sebenarnya. Dalam struktur kalimat Yunani ayat 12, kata “satu” (heis) diletakkan di awal kalimat untuk memberi penekanan bahwa pembuat hukum dan hakim hanya ada satu saja.

Siapakah pembuat hukum dan hakim itu? Yakobus menjelaskan bahwa Dia adalah yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Ungkapan ini jelas merujuk pada Allah (Mat 10:28 “Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka”). Perjanjian Lama secara eksplisit menjelaskan bahwa pemberi hukum Taurat adalah Allah (Kel 24:12), walaupun orang Yahudi kadangkala menyebut Musa sebagai pemberi hukum (misalnya Philo). Allah juga sering disebut sebagai hakim dunia (Kej 18:25; Mzm 7:12; 9:5; 50:6; 75:7; 94:2; Yes 33:22). Hal yang sama juga dinyatakan secara tegas dalam Perjanjian Baru (Ibr 12:23; 1Pet 1:17; 4:5).
Ungkapan “Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan” bukan hanya berfungsi untuk menjelaskan identitas pembuat hukum dan hakim, namun juga mengingatkan penerima surat bahwa pelanggaran mereka tidak akan luput dari  penghakiman Allah. Mereka yang menghakimi akan mendapat penghakiman (Mat 7:1-2; Luk 6:37; Rom 2:1-3; 14:10).

Jemaat Tuhan
Untuk mempertegas apa yang telah disampaikan, Yakobus menutup tegurannya dengan “tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”. Hal ini dengan tegas memberikan penekanan bahwa kita tidak bisa mencela orang lain apalagi menghakimi mereka yang bersalah seakan kitalah yang lebih benar. Yang tepat untuk kita lakukan adalah memberikan nasihat yang benar dan teladan yang baik.

Jemaat Tuhan
Bukankah dalam kehidupan ini kita lebih sering melihat kesalahan orang lain dan bahkan mencari kesalahan orang lain dari pada menyelidiki ketidak-sempuraan kita sendiri?

Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita untuk menahan diri dari menyakiti orang lain dengan perkataan atas alasan penghakiman. Sebaliknya justru Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk lebih mawas diri dan menyelidi kehidupan kita lebih dulu, yakni apakah kita sudah lebih baik daripada orang lain. Hal ini penting agar  kemudian sikap kita ini tidak membawa kita menjadi prfibadi yang sok suci dan sombong rohani bahkan menjadi tuhan dan hakim bagi orang lain.

Jadilah teladan kebenaran dan bukan mencari kesalahan orang lain. Jadilah Alat Tuhan yang mulia, lewat membawa orang lain menemukan kebenaran Allah dalam hidup kita, daripada seakan menjadi tuhan bagi sesama. Kiranya Tuhan memampukan kita melakukannya. Amin.

Monday, June 11, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 13 JUNI 2012


1 KORINTUS 4:1-5

Jemaat Kekasih Kristus
Apa yang terjadi jika seseorang dihakimi orang lain padahal ia tidak melakukan kesalahan? Pastilah ingin membela diri. Inilah yang terjadi pada Paulus. Jabatan kerasulannya dipertanyakan oleh orang Korintus, hanya karena ada tokoh penginjil yang baru yakni Apolos yang juga melayani jemaat itu. Paulus dalam bacaan kita ini berusaha untuk meluruskan kesalah-pahaman ini dengan begitu rendah hati tanpa sedikitpun menyalakan Korintus ataupun Apolos.

Paulus merasa perlu menegaskan posisinya sebagai hamba Kristus (4:1) untuk menghindari kesalahpahaman dari jemaat Korintus. Para rasul memang milik jemaat (3:21-22), tetapi hal itu tidak berarti bahwa mereka dapat diperlakukan semau jemaat. Mereka memang melayani kebutuhan keselamatan jemaat (lihat pembahasan di pasal 3:21-23), namun mereka tetap adalah hamba Kristus, bukan hamba mereka. Sebagai hamba Kristus, para rasul bertanggung-jawab kepada Kristus yang menjadi tuan mereka. Kristuslah yang berhak menghakimi mereka, bukan jemaat Korintus.

Jemaat Kekasih Kristus
Ada 5 hal penting yag disampaikan Paulus dalam bacaan kita ini, yakni:
1.       Para rasul adalah hamba Kristus (ay. 1)
Paulus ingin orang lain menganggap dia dan para pemimpin lain sebagai “hamba-hamba Kristus” (ay. 1a). Kata Yunani hyperetes untuk istilah hamba-hamba dalam ayat 1 ini lebih tepat diterjemahkan sebagai “pelayan” atau asisten. Terjemahan “hamba” bisa memberi kesan “budak”, padahal seorang hyperetes bukanlah seorang budak. Hyperetes adalah orang merdeka. Kata ini pernah dipakai untuk Yohanes Markus yang membantu Paulus dan Barnabas dalam pekerjaan misi (Kis 13:5). Di tempat lain (Rm. 1:1; Tit. 1:1) Paulus memang menyebut dirinya sebagai budak (doulos) Allah, tetapi bukan makna ini yang ingin dia tegaskan di 1 Korintus 4:1.

Paulus bukan hanya seorang hyperetes, tetapi dia adalah pemimpin dari semua pelayan. Dia adalah oikonomos (ay. 1b, LAI:TB “yang kepadanya dipercayakan”), yaitu orang yang dipercaya sepenuhnya untuk mengelola sesuatu, baik uang, rumah maupun properti lainnya. Keputusannya adalah keputusan pemilik. Salah satu contoh yang tidak asing bagi kita adalah Yusuf yang diberi wewenang penuh di rumah Potifar (Kej. 39:4).

Sebagai seorang oikonomos rohani, Paulus dipercayakan “rahasia-rahasia Allah” (ay. 1c). Dalam hal ini yang dimaksud dengan rahasia Allah adalah injil. Injil adalah hikmat Allah yang tersembunyi sejak kekekalan namun sekarang dinyatakan dalam Kristus Yesus (2:7).

2.       Konsekuensi sebagai hamba Kristus (ay. 2-5)
Menjadi hyperetes (pelayan) dan oikonomos Kristus (orang kepercayaan Kristus) bukanlah tanggung-jawab yang ringan. Beberapa konsekuensi besar sudah siap menanti kita di depan. Hal ini bisa dipahami karena Tuan kita adalah Pribadi yang mahamulia dan yang dipercayakan kepada kita juga adalah harta rohani yang sangat mulia. Sangat wajar kalau tugas ini menuntut konsekuensi tertentu.

3.       Harus dapat dipercaya (ay. 2)
Sebagai orang yang dipercaya, kepercayaan dari tuan memegang peranan sangat vital. Inilah yang disebut Paulus pertama kali ketika dia membicarakan tentang konsekuensi para pelayan Kristus. Apa yang dimaksud dengan “bisa dipercaya” di sini? Dalam teks asli, kata yang dipakai adalah pistos, yang berarti “setia”.

Setia bukan sekadar merujuk pada lamanya seseorang bekerja. Setia lebih mengarah pada ketaatan pelayan terhadap instruksi yang diberikan oleh tuannya. Ketika Paulus menekankan nilai kesetiaan dalam konteks tugas para pemimpin rohani, dia sebenarnya sedang menyinggung konsep jemaat Korintus yang salah. Bagi mereka, seorang pemberita injil dinilai dari kefasihan bicara maupun kepandaian yang mereka miliki. Bagi Paulus, keberhasilan pemberita injil dinilai dari kesetiaannya terhadap injil itu sendiri. Sebagian jemaat yang mencoba menggantikan injil dengan hikmat dunia tentu saja tidak bisa disebut sebagai pelayan yang dapat dipercaya.

4.       Tidak menganggap penghakiman manusia sebagai hal yang penting (ay. 3-4a, 5a)
Larangan ini tentu saja tidak berarti bahwa orang Kristen dilarang menilai sesuatu atau memutuskan suatu perkara. Paulus bahkan meminta jemaat untuk menghakimi orang cabul yang ada di dalam jemaat (5:12) atau menyelesaikan suat perkara di antara mereka (6:5). Jadi, bagaimana kita mengharmonisasikan hal ini? Kata Yunani krino memiliki beragam arti: menghakimi, menilai, memberi keputusan hukum, dsb, tergantung pada konteks pemakaian. Dalam sebuah perkara rohani yang membutuhkan sebuah keputusan, kita tentu saja diperbolehkan menilai masalah itu berdasarkan firman Tuhan dan mengambil tindakan yang sepatutnya. Hal ini sangat berbeda dengan sikap menghakimi orang lain dalam arti menganggap orang lain buruk/salah dengan hati yang penuh kebencian.

5.       Menyadari bahwa tuan kita akan menghakimi kita di akhir zaman (ay. 4b, 5b)
Seorang oikonomos atau orang kepercayaan Kristus harus memberi pertanggungjawaban apabila tuannya datang. Sang tuan, yakni TUHAN YESUS akan menilai hasil kerja orang yang sudah dia percayai. Begitu pula dengan para oikonomos rohani. Kita harus menghadap Tuhan kita dan siap untuk dinilai oleh-Nya.

Ketika Kristus menghakimi nanti, Dia juga akan memberikan upah dan hukuman. Menariknya, Paulus tidak menyinggung tentang hukuman sama sekali. Sebaliknya, dia justru mengharapkan agar setiap orang akan menerima puji-pujian dari Allah (ay. 5c). Dia tidak berharap agar para pengkritiknya menerima hukuman. Walaupun jemaat membenci dia, namun Paulus tetap berharap yang baik bagi mereka.

Jemaat Tuhan, ….
Kita kadangkala terjebak pada keinginan untuk diterima orang lain. Kita ingin menyenangkan hati orang lain, padahal keinginan ini tidak sesuai dengan status sebagai pelayan Kristus (Gal. 1:10). Akibatnya, banyak orang terlalu sibuk dan sering kali terlalu memperdulikan penilaian orang lain bukan mengerjakan apa yang penting dikerjakan. Orang cendrung ragu bertindak hanya karena alasan “apa kata orang nantinya”. Ketika mereka dikritik orang yang mereka layani, mereka mudah putus asa dan kecewa. Ketika mereka mendapat pujian dari jemaat, mereka jatuh dalam kesombongan. Untuk menghindari dua hal ini, seorang pelayan harus memandang penilaian manusia bukan sebagai hal yang terpenting. Sebab yang menilai kita dan pelayanan kita adalah TUHAN sendiri.

Di sisi lain, kita sering menjadi Tuan atas orang lain. Sebagai jemaat kita mulai menghakimi para pelayan dan seakan merasa diri paling benar. Bagi Paulus, manusia tidak berhak menilai sesamanya. Mengapa kita tidak boleh menilai orang lain? Dan mengapa kita jangan terlalu terpengaruh pada penilaian orang lain? Jawabnya, karena mereka tidak bisa mengetahui kedalaman hati orang lain. Mereka sering salah menilai sesamanya, bahkan diri mereka sendiri. Hal ini berbeda dengan penghakiman Allah, karena Allah mampu menyelidiki hati manusia dan segala sesuatu yang tersembunyi (1Kor. 4:5b; Rm. 2:16).

Jemaat Tuhan, …
Bukankah sebagian orang (termasuk kita) sering kali merasa diri benar padahal kenyataannya justru kita yang lebih berdosa? Sikap Paulus yang tidak mau bersandar pada penilaian pribadinya sendiri sangat mungkin berkaitan dengan hidupnya yang lama dahulu. Dia menganggap diri benar dan menaati Alah dengan sempurna (Flp. 3:6), namun kenyataannya semua itu dia lakukan tanpa pengetahuan (1Tim. 1:13). Jika manusia tidak layak menghakimi orang lain, maka kita tidak boleh menghakimi orang lain. Jemaat Korintus memang sudah melakukan penghakiman. Mereka menghakimi Paulus seakan tidak benar dan kemudian menyatakan bahwa Apoloslah yang lebih baik. Paulus meminta mereka untuk menghentikan sikap tersebut.

Saat ini kita sedang menghadapi masa pemilihan diaken dan penatua. Masa di mana tiap pelayan periode lama akan mengakhiri tanggung-jawab pelayanan itu. Yang perlu direnungkian adalah, sudahkah kita mengakhiri dengan baik. Apakah kita siap mempertanggung-jawabkan semua pelayanan kita kepada Sang Hakim agung?

Di sisi lain, Firman Tuhan hari ini meminta kita untuk tidak bersikap sebagai orang yang paling benar yang tidak pernah salah. Paulus tidak berusaha menunjuk kebenaran dan kebaikannya dan kemudian menurunkan wibawa Apolos atau mengucilkan Korintus. Namun dengan rendah hati ia menuntun jemaat agar hidup ndalam kesetiaan bukan saling menghakimi. Kitapun seharusnya tidak boleh menhghakimi orang lain dan menilai pelayanan orang lain berdasarkan kebenaran kita. Biarlah Tuhan dan kebenaranNya yang melakukan penilaian itu kelak. Tugas kita adalah membimbing, menegur ke arah lebih baik yakni pada kebenaran Tuhan. Amin.

MATERI KHOTBAH IBADAH PKP 12 JUNI 2012


1 KORINTUS 3:10-17

Pendahuluan
Kalau saudara jalan-jalan ke danau Cirata, mungkin orang yang baru melihat akan bertanya-tanya, kok bisa ada rumah di atas air. Saya juga waktu pertama kali melihat ini bertanya, bagaimana orang membuat rumah bisa terapung di atas air. Saudaraku, ternyata untuk membuat rumah bisa terapung di atas air, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membuat dasarnya, tentu pertama kali yang diperhatikan adalah bahan yang dapat mengapung di atas air seperti drum. Setelah dasarnya dibuat harus ditambah dengan jangkar supaya tidak mudah dibawa angin. Setelah dasarnya kuat barulah memulai pembangunan di atasnya. Demikian juga dengan kehidupan kekristenan kita, tanpa adanya dasar yang benar tidak mungkin kita bisa membangun. Misalnya aktif beribadah, suka membantu sesama, tetapi tidak mengenal siapa itu Yesus Kristus.

Penguraian
Saudaraku, rasul Paulus kembali menegaskan, sesuai dengan kasih karunia yang dianugerahkan kepadanya, disini kita lihat bahwa Paulus menyadari benar siapa dirinya, kalau bukan karena kasih karunia Allah dia tidak mungkin dapat menjadi pengikut Yesus. Kita bisa menyaksikan sebelum mengalami kasih dari Allah hidupnya seperti apa, kita bisa melihat bagaimana kehidupan Paulus sebelum mengalami pertobatan. Sebagai seorang Rasul yang telah dipercayakan untuk menyampaikan kabar sukacita tentang kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus, Paulus menekankan bahwa dia adalah seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar yaitu Yesus, dan orang lain membangun terus di atasnya. Kata membangun terus berarti sesuatu yang berkelanjutan, Paulus telah menyampaikan kabar keselamatan dari Yesus Kristus, dan berita ini akan terus disampaikan kepada generasi-generasi selanjutnya sampai kedatangan Yesus yang kedua kali. Namun ada hal penting yang harus diperhatikan ketika hendak membangun di atas dasar yang telah diletakkan oleh rasul Paulus yaitu tiap orang harus memperhatikan bagaimana ia membangun di atasnya. Bukan asal membangun tetapi ada hal-hal yang harus di perhatikan.

Saudaraku, ketika kita menyaksikan bencana alam, entah itu sunami, gempa bumi, atau tanah longsor, kita bisa melihat ada beberapa bangunan yang masih berdiri dan tidak terlalu banyak mengalami kerusakan. Kalau kita cermati ternyata bangunan-bangunan itu dibangun di atas pondasi yang kokoh dan juga memiliki rangka-rangka yang kokoh. Demikian juga ketika kita melihat bangunan yang memiliki pondasi yang baik dan membangun di atas pondasi itu dengan memperhatikan aturan-aturan dalam mendirikan bangunan maka bangunan tersebut akan berumur dan bertahan lama.

Saudaraku, dasar yang telah diletakkan Paulus yaitu Yesus Kristus adalah dasar yang benar, jadi tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar itu. Kita telah memperoleh keselamatan karena telah menerima Yesus sebagai Juruselamat Pribadi, ini berarti kita telah memiliki dasar yang benar. Tetapi yang menjadi pertanyaan apakah cukup dengan memiliki dasar yang benar? Pertanyaan yang mungkin sering kita dengar ”yang penting sudah percaya Yesus” selanjutnya tidak usah dipikirkan. Tetapi firman Tuhan mengatakan ”orang lain akan terus membangun di atasnya”.

Ahli bangunan yang bijaksana akan membangun di atas dasar itu dengan emas, perak dan batu permata, tetapi orang yang tidak bijaksana atau orang bodoh akan membangun di atas dasar itu dengan kayu, rumput kering dan jerami. Semua pekerjaan yang telah dibangun di atas dasar itu suatu waktu akan nampak, pekerjaan yang dibangun oleh ahli bangunan yang bijaksana hasilnya akan kokoh dan tahan lama tetapi yang dibangun oleh ahli bangunan yang bodoh atau tidak bijaksana maka hasilnya akan bersifat fana atau sementara. Ketika hari Tuhan atau penghakiman yaitu kedatangan Yesus kembali pekerjaan setiap orang akan nyata dalam sifatnya yang sebenarnya, semua akan dinyatakan dan tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan.

Saudaraku, dalam kehidupan ini terkadang kita melihat begitu banyaknya orang yang sering menutupi atau menyembunyikan hal-hal kebenaran. Mereka suka berkata bohong, atau suka menipu sesamanya. Tidak terlepas dari siapapun mungkin pernah melakukan hal semacam itu. Tetapi perlu kita sadari bahwa di depan manusia kita bisa bersandiwara, bisa menutupi-nutupi hal yang salah. Namun ingat jika hari Tuhan itu datang maka semuannya akan dsingkapkan, tidak ada satu titikpun yang tersembunyi.

Ketika hari penghakiman itu datang maka pekerjaan tiap-tiap orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan seseorang tahan uji, maka ia akan mendapat upah tetapi sebaliknya jika pekerjaan seseorang tidak tahan uji maka ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan tetapi seperti dari dalam api. Ketika hari penghakiman itu datang maka yang akan muncul hanya orang-orang percaya. Dan disinilah pekerjaan tiap-tiap orang akan nampak, dasar penilaiannya tentu bukan dari segi kuantitas (jumlah) tetapi dari segi kualitas (mutu) dari bangunan itu.

Saudaraku, ketika kita membangun di atas dasar yang benar, bukan berarti tidak akan ada masalah lagi, tetapi pada dasarnya akan banyak rintangan dan tantangan. Seperti firman Tuhan katakan di dalam Matius 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Ketika kita sedang membangun di atas dasar yang benar pasti ada orang-orang yang tidak senang, dan akan selalu ada yang berusaha untuk merusak bangunan yang telah diletakkan di atas dasar yang benar. Orang-orang yang berusaha merusak bangunan itu datangnya dari orang-orang yang belum percaya tetapi yang sering terjadi muncul dari orang-orang percaya itu sendiri. Seperti yang terjadi di Korintus yaitu timbulnya perselisihan diatara jemaat itu sendiri, dan hal ini kalau dibiarkan akan merusak dan menggerogoti bangunan itu sendiri.

Saudaraku dalam pendirian jemaat di Korintus ada bermacam-macam orang yang bekerja sama. Paulus menasihati supaya tiap-tiap orang bertanggung jawab terhadap Allah mengenai pelayanannya di dalam pekerjaan itu. Meskipun banyak tantangan yang akan dihadapi dalam membangun di atas dasar yang benar itu, firman Tuhan mengingatkan bahwa orang-orang yang telah membangun di atas dasar itu adalah milik Allah, bait Allah, dan menjadi kediaman Allah kerena Roh Allah diam di dalamnya. Jika ada yang berusaha untuk membinasakan tempat kediaman Allah itu dengan ajaran-ajaran sesat atau usaha-usaha untuk memecah belah sehingga terjadi perpecahan yang menyedihkan, dengan demikian mengusir Roh Allah, maka Allah akah membinasakan dia.

Penutup
Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus, saat ini kita telah berada diatas dasar yang benar, tetapi bukan berarti kita puas sampai disitu. Tetapi ingat suatu hari kelak masing-masing kita akan mempertanggung jawabkan pekerjaan yang kita lakukan di atas dasar itu. Apakah hasil pekerjaan kita kokoh dan tahan lama ataukah bersifat fana atau sementara. Semua kembali kepada pribadi kita masing-masing. Tetapi percayalah jika pekerjaan yang kita bangun di atas dasar yang benar itu tahan uji, maka akan mendapat upah yaitu hidup kekal dalam kerajaanNya. Amin

Monday, May 14, 2012

MATERI KHOTBAH RABU 16 MEI 2012


YOHANES 16:8-11

Jemaat Tuhan,…
Ungkapan Yesus dalam ayat 8-11 ini merupakan uraian tenang fungsi Roh Kudus yang nantinya akan datang menggantikan kehadiran Yesus bersama murid-muidNya. Yesus harus naik ke sorga supaya Penghibur yakni Roh Kudus dapat di utus (bd.7). Dengan kata lain, Yesus mau menekankan bahwa kehadiran Roh Kudus dari segi fungsi adalah lebih tepat dari pada Yesus harus tetap bersama-sama dengan para Murid. Jika demikian, apakah fungsi Roh Kudus atau Penghibur itu sehingga dianggap lebih baik jika Yesus pergi? Ada tiga fungsi utama yakni:

a.    Makna dan Relevansi Roh Kudus Menginsafkan Akan Dosa.
Menginsafkan akan dosa yang dimaksud oleh Yesus adalah berhubungan erat dengan orang yang tidak percaya pada Yesus (ay.9). Yesus adalah Sang Penebus Dosa, maka jika mereka tidak percaya kepada Yesus, sudah pasti umat tidak akan menginsafi dosa mereka lewat menerima Yesus sebagai Tuhan dan penebus dosanya.

Disinilah peran Penghibur atau Roh Kudus itu. Roh Kudus akan tinggal di dalam hati manusia (ay.17) dan selanjutnya bekerja dalam diri manusia untuk menerima Yesus sebagai TUHAN dan juruselamatnya seacara pribadi. Sebab dosa tak akan terinsafi jika mereka tidak menerima Yesus. Menerima Yesus membuat orang diselamatkan dari hukuman dosa. Menerima Yesus berarti mengasihi Dia. Dan mengasihi Dia berarti melakukan apa yang Yesus perintahkan (ay,15). Jika kita melakukan apa yang Yesus perintahkan dalam hidup kita, itu berarti kita sudah tidak melakukan dosa lagi. Selanjutnya, bukankah tidak melakukan dosa lagi sama artinya dengan bertobat atau insaf? Itulah peran Roh Kudus dalam diri manusia. 

Untuk benar-benar insaf dari dosa dan tidak melakukan lagi, manusia membutuhkan seorang Penuntun yang ideal. Pribadi yang tepat itu adalah Roh Kudus. Dialah yang akan menjaga dan menuntun umat agar setia melakiukan kehendak Allah dan menjauhi dosa.

b.    Makna dan Relevansi Roh Kudus Menginsafkan Akan Kebenaran.
Makna kebenaran Allah bukanlah seperangkap ajaran atau doktrin. Kebenaran Allah menyangkut manifestasi yang dinyatakan dalam kehidupan dan bersama dengan sesama. Karena itu makna “kebenaran” dipergunakan istilah “dikaiosune” (Yun.) dan kata “tsedeq” yang berarti keadilan dan juga sedekah. Kebenaran Allah harus dinyatakan dalam bentuk keadilan atau diamalkan sehingga selalu terhayati dalam kenyataan hidup. Tepatnya kebenaran Allah akan menjadi kebenaran yang membebaskan jikalau dapat disaksikan dalam perilaku.

Pemahat Jerman yang banyak berkiprah di Roma yaitu bernama Johann Heinrich von Dannecker (1758-1841) dikenal sebagai pemahat patung dewa-dewa Yunani. Namun pada suatu hari Dannecker insaf dan ingin mencurahkan seluruh tenaga dan keahliannya untuk memahat patung Kristus. Hasil karya Dannecker begitu indah, sehingga Napoleon Bonaparte menyuruh Dannecker untuk memahat patung dewa Venus. Jawaban Dannecker adalah: “Tangan yang pernah memahat Kristus ini tidak mungkin dapat lagi untuk membuat pahatan dewa kafir”. 

Ketika seseorang insaf akan kebenaran Kristus, maka dia akan menolak untuk ambil bagian dalam perkara-perkara duniawi. Namun apakah kita juga konsisten untuk memberlakukan kebenaran Allah dalam kehidupan kita? Apakah kita mau menolak ajakan dunia untuk tidak jujur dalam mengelola keuangan perusahaan, menolak pemakaian zat-zat kimiawi yang berbahaya dalam pembuatan makanan atau minuman, menolak penjualan buku-buku atau gambar porno, dan sebagainya. Keinsafan akan kebenaran berarti kita secara sadar dan sengaja menolak untuk melakukan kompromi dengan kuasa dunia. Termasuk pula penolakan untuk menyangkal Kristus walaupun kita mendapat janji untuk memperoleh sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan. 

c.     Makna dan Relevansi Roh Kudus Menginsafkan Akan Penghakiman.
Setiap  orang yang melakukan kesalahan akan merasa dirinya terhukum. Apalagi saat seseorang yang bersalah menerima ganjaran berupa vonis akan kesalahannya. Dia akan mengalami suatu krisis yang hebat berupa perasaan depresi. Dikisahkan ada seorang wanita yang mendengar anak satu-satunya telah mendapat vonis mati karena begitu banyak dosa yang telah dia lakukan. Dia datang kepada Hakim agar mengampuni anaknya tersebut. Tetapi Hakim tersebut menolak sambil menjelaskan semua kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat anaknya itu. Karena itu anak tersebut akan divonis besok pagi saat lonceng gereja berbunyi. Keesokan harinya anak tersebut siap untuk dihukum gantung sambil menunggu lonceng gereja berbunyi.

Tetapi anehnya lonceng gereja tersebut sama sekali tidak berbunyi. Setelah 1 jam lewat tidak berbunyi, maka Hakim segera menyuruh para petugas untuk memeriksa atau mencari penyebab sehingga lonceng gereja tersebut tidak berfungsi. Setelah diamat-amati ternyata di tali lonceng gereja tersebut mengalir darah yang berasal dari lonceng di menara. Betapa terkejutnya ketika dijumpai mayat ibu dari anak yang akan dieksekusi  itu sedang tergencet dalam lonceng. Ibu tersebut sengaja menaruh badannnya di lonceng gereja agar dia dapat membatalkan eksekusi mati bagi anaknya tersebut.  Sang ibu telah berkorban dengan kematiannya agar anaknya tersebut tetap selamat. Demikian pula karya Kristus yang membebaskan kita dari penghakiman Allah.  Itu sebabnya Roh Kudus hadir untuk menginsafkan dunia agar mereka menerima Kristus agar penghakiman yaitu murka Allah tidak menimpa diri mereka.

Saudara Kekasih Kristus
Tema “Roh Kudus adalah Roh Penghibur” dapat menimbulkan pertanyaan yang kritis, yaitu: bagaimana peran Roh Kudus sebagai penghibur? Peran Roh Kudus sebagai penghibur justru dinyatakan dalam karyaNya yang mampu menginsafkan umat manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Penghiburan Roh Kudus pada hakikatnya identik dengan karyaNya yang mengisafkan manusia. Sebab saat kita diinsafkan atau disadarkan oleh Roh Kudus berarti mata rohani kita dicelikkan. Sehingga hati kita dapat mengalami pencerahan dan perubahan paradigma yang serba baru.

Kita dimampukan oleh Allah untuk memandang realitas dengan pandangan yang lebih luas, kreatif dan melegakan sebab hati kita telah dipenuhi oleh damai-sejahtera dan keselamatanNya. Bukankah keinsafan merupakan penghiburan yang paling bermakna? Saat kita insaf, maka sebenarnya kita tidak lagi membutuhkan hiburan (entertaiment) dari dunia ini. Jadi karya Roh Kudus yang utama adalah menyadarkan diri kita untuk mengalami pembaharuan hidup. Karena itu yang kita butuhkan sekarang adalah karunia Roh Kudus yang membuat kita semakin insaf sehingga kita  semakin mampu menyadari setiap kekurangan dan kelemahan kita. Manakala kita insaf, maka hati kita dicerahkan oleh kebahagiaan dan sukacita yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini.

Selanjutnya hal yang paling penting adalah memahami bahwa hanya Roh Kuduslah yang mampu membawa kita menemui keselamatan yang diberikan dan dianugerahi Allah melalui Yesus Kristus. Roh Kuduslah satu-satunya cara untuk membuat kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Itulah sebabnya, barang siapa menolak Roh Kudus dan menghujat karyaNya maka TIDAK MUNGKIN akan menerima Keselamatan dalam bentuk apapun. Karena itu mari bersyukur untuk Roh Kudus yang kita terima, dan janganlah menolak karyanya dalam hidup kita. Amin

Monday, April 30, 2012

BERSABAR DALAM PENDERITAAN


(Yakobus 5:7-11)

Jemaat Tuhan,…
Istilah yang kerap kali muncul dalam perikop ini adalah μακροθυμέω (makrothumeo, have patient = bersabar). Kata ini muncul sebanyak 4 kali. Kemudian kata yang mempunyai makna serupa juga muncul sebanyak 2 kali dalam perikop ini, yakni ὑπομονή (hupomone, yang berarti kesabaran). Kemunculan istilah kesabaran hingga 6 kali dalam 5 ayat ini menunjukkan bahwa Yakobus sangat menekankan tema ini dan ia menuliskannya supaya pembacanya mempraktekkan kesabaran. Ia melihat hal ini adalah hal yang sangat penting bagi jemaat yang menerima suratnya dan diberikan tekanan dengan pengulangan yang cukup banyak ketika mereka sedang mengalami derita dan ketidak adilan hidup.


Sampai kapan mereka harus bersabar menghapi penderitaan dan pencobaan? Jawabnya, Sampai hari kedatangan Tuhan (ay.7). Kedatangan Tuhan mengandung pengharapan. Pengharapan di mana seluruh pergumulan dan penderitaan akan selesai dan mereka akan merima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah bagi mereka yang tahan uji (Yak. 1:12). Masalahnya, menunggu hari kedatangan Tuhan adalah sebuah proses yang panjang (2 Petrus 3), bahkan waktu tersebut tidak terprediksi karena hari Tuhan datang seperti pencuri pada waktu malam (1 Tes. 5:2, 2 Pet. 3:10). Oleh karena itu Yakobus perlu memberikan pembacanya teladan kesabaran dari kehidupan sehari-hari.

Di sini Yakobus mengajak jemaat untuk memperhatikan kehidupan petani dan belajar dari kesabaran yang mereka miliki ketika mereka menanam dan menantikan hasilnya (ay7-8). Petani yang dimaksud bukanlah pekerja bayaran yang bekerja untuk sebuah pertanian, melainkan petani kecil yang memiliki tanah pertanian yang tidak terlalu besar. Petani kecil biasanya menanam tanamannya dengan hati-hati dan penuh pengharapan untuk panen. Kehidupan keluarga seorang petani sangat tergantung pada hasil panen. Jadi petani selalu mengharapkan suatu masa depan yang sesuai harapan. Ia adalah orang yang sangat mengerti betapa berharganya hasil panen tersebut sehingga ia perlu melatih kesabarannya apapun yang terjadi. Ia sabar menunggu dengan mata pengharapan bahwa suatu waktu akan datang masa panen. Penantian tersebut akan terus berlangsung hingga hujan awal dan hujan akhir.

Jemaat Tuhan, …
Pesan menanti dan sabar mengandung nuansa tetap bekerja. Jadi selama para petani tersebut menunggu mereka tetap bekerja dan mengolah tanah. Oleh sebab itu kesabaran dalam pergumulan bukanlah suatu tindakan yang pasif tetapi juga aktif. Mereka tidak hanya berdiam tetapi juga terus mengerjakan apa yang menjadi bagian mereka. Selama Tuhan belum datang maka mereka masih harus bekerja. Sebab pada bagian lain, Paulus menegur jemaat Tesalonika yang menjadi pasif karena kekeliruan memahami konsep kedatangan Tuhan yang sudah dekat, akibatnya mereka menjadi pasif dan tidak bekerja (2 Tes. 3:10-11).

Analogi kesabaran tentang petani sudah selesai. Yakobus kemudian mengulang kalimat perintah pada ayat 8 bacaan kita yakni: “kamu juga harus bersabar,” sebab para petani telah memberikan teladan kesabaran dalam pengharapan akan datangnya hujan bagi tanamannya sehingga para pembaca Yakobus juga akan bersabar sampai kedatangan Tuhan. 

Jemaat, TUHAN…
Bagaimana bentuk kesabaran di tengah derita umat saat itu harus dilakukan? Di dalam ayat 9 bacaan kita, kesabaran dipraktekkan dalam bentuk “tidak bersungut-sungut dan saling mempersalahkan. Pada dasarnya dalam penderitaan orang percaya masih diberikan ruang untuk mengadu atau “berkeluh kesah” kepada Tuhan seperti yang sering dilakukan oleh para pemazmur. Namun di sini Yakobus melarang mereka untuk bersungut-sungut dan saling menghakimi satu dengan yang lain. Karena sikap demikian justru akan cenderung menghancurkan dari pada membangun.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, penderitaan dan pergumulan jemaat muncul oleh karena penindasan dari pihak orang-orang kaya namun peringatan Yakobus kepada mereka adalah “jangan mengeluh” dan “jangan saling menyalahkan.” Sepertinya Yakobus mengingatkan bahwa orang-orang kaya, meskipun kerapkali menindas dan mengakibatkan penderitaan bagi orang-orang miskin, tetaplah saudara di dalam Kristus. Kebencian yang muncul di antara mereka tidak boleh membuat mereka menghakimi satu dengan yang lain. Hanya ada Satu Hakim, yakni Kristus. Dia adalah satu-satunya yang memiliki hak untuk menghakimi dan memberika hukuman. Karena itu jemaat harus menyadari bahwa Sang Hakim telah berdiri di depan pintu dan siap menghakimi, mereka harus melepaskannya dan memberikan penghakiman kepada Dia. Hakim itu akan membela mereka yang benar dan ia juga akan memberikan penghakiman atas mereka yang bersalah terhadap hukumNya.

Selanjutnya bagaimanakah cara supaya kesabaran itu dapat sempurna untuk dilakukan walau dalam keadaan menderita? Yakobus memberikan suatu teladan yang kerapkali muncul dalam kitab suci mengenai ketekunan dalam penderitaan. Hampir seluruh nabi Tuhan yang melayani Tuhan dan memberitakan firmanNya menghadapi pergumulan dan penderitaan yang hebat. Mereka semua berjuang, bertahan dan bersabar dalam penderitaan selama mereka melakukan panggilan Allah dalam hidup mereka. Yakobus menuliskan “nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan,” untuk menegaskan bahwa penderitaan yang mereka alami bukanlah akibat kesalahan mereka sendiri. Penderitaan tersebut muncul dalam tugas yang berasal dari Tuhan.

Apa keteladanan yang diberikan oleh para nabi dalam penderitaan mereka? Keteladanan tersebut mendorong mereka untuk mengingatkan bahwa Tuhan peduli ketika mereka menghadapi penderitaan karena Allah. contoh tokoh penting dalam Alkitab adalah AYUB. Ayub adalah salah satu tokoh kitab suci yang disebutkan Yakobus sebagai teladan ketekunan menimbulkan kebingungan kepada para ahli sebagai contoh orang yang sabar dalam penderitaan sebab Ayub memiliki banyak catatan kepahitan kepada Allah (7:11–16; 10:18; 23:2; 30:20–23). Catatan tentang Ayub yang bergumul dan berkeluh kesah kepada Allah sebenarnya tidak menunjukkan Ayub yang buruk atau gagal dalam kesabaran. Keluhan yang keluar dari mulut Ayub sama dengan keluhan para pemazmur sehingga ucapan-ucapan Ayub terhadap penderitaannya adalah buah dari pergumulan imannya kepada Allah, bukan keluhan dan tangisan orang yang kehilangan iman. Sehingga pada bagian akhir kitab Ayub Allah akhirnya memulihkan keadaan Ayub baik kesehatan, keluarga maupun harta bendanya. Sebab kepada teman-teman Ayub Allah berkata “sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub” (Ayub 42:8).

Jemaat Tuhan,….
Bertahan dalam pencobaan pada dirinya sendiri adalah berkat dari pada Tuhan. Jadi orang Kristen yang bergumul dalam penderitaan tidak boleh hanya memiliki pengharapan akan sesuatu yang akan diterima diakhir tetapi juga melihat bahwa penderitaan itu sendiri menghasilkan ketekunan dan kedewasaan. Tetapi sebaliknya orang Kristen tidak boleh juga mengabaikan apa yang Allah janjikan bagi mereka yang teguh berdiri hingga akhir.

Sebab hanya mereka yang telah bertahan sampai akhir bisa disebut “berbahagia.” Sehingga para nabi yang telah meninggal, termasuk Ayub, dan orang- orang Kristen yang setia di masa lalu harus disebut sebagai “orang yang berbahagia/ diberkati.” Secara sederhana Yakobus ingin mengatakan “mereka yang bertekun sampai akhir tidak akan kehilangan upah mereka,” dan Allah telah membuktikan-nya kepada para nabiNya dan Ayub.

Karena itu, kita juga haruslah bersabar ketika hadapi penderitaan dan pergumulan hidup. Banyak hal menjadi penyebab setiap derita yang kita alami, misalnya: dihianati orang; difitnah; perlakuan tidak adil; kekerasan dalam rumah tangga; perselingkuhan; dll. Apapun alasan penderitaan itu, kita harus bersabar. Upaya untuk bersabar, tidak berarti bahwa kita hanya diam saja menerima semua hal itu. Kita perlu berupaya dan berjuang, seperti petani sabar menunggu hasil panen sambil memupuk dan bekerja. Demikian juga dengan kita. Kita perlu mengupayan dengan sabar untuk keluar dari pergumulan hidup sambil berpengharapan dan mengupayakan cara untuk menyelesaikan persoalan dan derita itu.

Kiranya Tuhan memampukan kita untuk melakukan itu, yakni terus bersabar menghadapi penderitaan sambil berjuang agar menang dari setiap pergumulan dengan pertolongan TUHAN. Amin

MATERI KHOTBAH IBADAH PKB Senin, 30 April 2012



Mazmur 68 : 25 - 30

Pendahuluan
Pernahkah bapak-bapak menyaksikan secara langsung atau melalui media televisi sebuah arak-arakan? Arak-arakan ini adalah Istilah yang biasa dipakai untuk menamakan suatu peristiwa kesenian atau "keramaian," yang terkait dengan suatu pesta perayaan. Arak-arakan selalu mengandung aspek berjalan, pawai, yang bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain. Sesuatu yang diarak adalah yang dibawa berjalan (keliling) dengan diramaikan atau ditonjolkan. Istilah lain yang memiliki arti serupa adalah karnaval (dari bahasa Inggris carnival). Dalam banyak tradisi, perayaan individual atau keluarga seperti pernikahan, biasa disertai arak-arakan. Demikian pula untuk perayaan upacara-upacara komunal, seperti hari kemerdekaan, hari-jadi kota, hari kartini dll.
Arak-arakan boleh dibilang acara yang paling meriah dari suatu rangkaian upacara, karena paling menampak pada publik, melibatkan partisipasi paling banyak orang, paling ramai, dan paling lebar jangkauan arealnya--karena bergerak atau berkeliling. Pelbagai penampilan bisa hadir dalam acara itu, mulai dari anak-anak dengan seragam sekolah, pegawai negeri dengan seragam Korpri, musik, tari-tarian, sulap, atraksi kocak, sampai pada demonstrasi kekebalan tubuh. Sehingga kita bisa membayangkan betapa ramainya suasana pada saat arak-arakan berlangsung. Tapi arak-arakan tidak sekedar ramai-ramai, atau senang-senang. Ia memiliki makna yang kompleks, yang timbul dari kesadaran ataupun bawah-sadar--karena itu tidak semuanya bisa ditebak dengan mudah apa "artinya." Ada yang sekedar senang-senang, turut bergembira meramaikan, ada yang menunjukkan kemakmuran, keberuntungan atau kemalangan kelompoknya, dan ada juga yang berupa sindiran kritis atau protes terhadap situasi sosial-politik yang terjadi saat itu…

Bapak-bapak yang terkasih dalam Tuhan,
Pada pembacaan Alkitab kita pada malam ini, kita pun menemukan sebuah arak-arakan besar untuk merayakan pemindahan tabut perjanjian Tuhan dari obed-edom ke kemah baru yang telah dibangun oleh Daud di bukit sion (2 Sam 6:2-18) dengan tujuan akhir yaitu tabut itu akan dibawa ke Yerusalem (Mzm 68:30). Dalam arak-arakan itu, Mazmur inilah yang dinyanyikan dan dikumandangkan bagi Allah yang telah menyertai  umat Israel dan membebaskannya dari berbagai kesengsaraan. Marilah kita melihat perikop demi perikop dalam pembacaan kita.

·         Jika kita melihat ayat 26, pada barisan depan arak-arakan didahului oleh penyanyi-penyanyi, di tengah-tengah yaitu dayang-dayang yang memukul rebana dan pemetik-pemetik kecapi. Hal ini mau menunjukkan bahwa arak-arakan bagi Tuhan diiringi oleh madah syukur dan puji-pujian bagi Allah yang telah membebaskan umat Israel dari berbagai cobaan dan kesesakan. Puji-pujian ini dilantunkan sebagai sebuah persembahan bagi kemuliaan Allah yang telah melakukan banyak perbuatan besar bagi bangsa Israel.
·         Pada ayat 27 dan 28, merupakan puji-pujian yang harus didendangkan kepada Allah oleh seluruh umat tanpa kecuali termasuk umat Israel itu sendiri yang merupakan bagian dari kedua belas suku Israel yang diwakilkan oleh empat suku yaitu Benyamin,Yehuda, Zebulon dan Naftali.
·         Pada ayat 29 dan 30, pada arakan itu bukan hanya puji-pujian yang dinaikkan kepada Allah tetapi juga permohonan dan harapan agar Tuhan Allah mengerahkan kekuatanNya dan menunjukkan kekuatanNya karena Allahlah yang bertindak dalam kehidupan umatNya.

Bapak-bapak yang terkasih dalam Tuhan,
Demikian Firmah Tuhan ditafsirkan, sekarang apa yang dapat kita terapkan dalam hidup beriman kita?
Pertanyaan penting bagi saya dan saudara, seberapa seringkah kita memuliakan Dia?memuji namaNya? Menaikkan puji-pujian bagiNya? Baik dalam suasana apapun, duka terlebih sukacita. Seberapa seringkah kita menyediakan dan memberikan diri kita untuk melakukan pujian penyembahan bagi Tuhan karena perbuatanNya yang selalu ajaib dalam hidup kita? Atau bahkan kita sering lupa jika kita dalam keadaan senang, happy, bahagia? Kita hanya datang kepadaNya di saat kita sedang membutuhkan pertolonganNya, di saat kita susah…
Firman Tuhan mau mengingatkan kita bahwa dalam situasi apapun baik suka dan duka haruslah senantiasa kita menaikkan syukur kepada Allah melalui puji-pujian dan penyembahan. Daud melakukan itu, dia bermazmur untuk menyatakan kemenangannya bersama Allah ketika dia mengingat betapa Tuhan telah banyak berkarya dalam kehidupannya.
Kita pun saat ini diingatkan untuk melakukan hal yang sama. Puji-pujian bukan hanya kita naikkan pada saat kita beribadah di gereja saja atau dalam persekutuan-persekutuan pelkat seperti ini, tetapi baiklah kita melakukannya di dalam keluarga kita. Ajak istri dan anak-anak untuk melakukan pujian dan penyembahan sebagai bukti rasa terima kasih kita kepada Tuhan yang telah melakukan banyak perkara besar dalam hidup kita .
Kiranya Roh Kudus memampukan kita agar hidup selaras dengan firman Tuhan yang telah kita dengar. Tuhan Yesus memberkati. AMIN

MATERI KHOTBAH PKP 1 MEI 2012



YAKOBUS 5:1-6

Ibu-ibu Kekasih Tuhan.
Banyak orang salah memahami nats ini dengan berpikir bahwa Firman Tuhan melarang untuk menjadi orang kaya atau mencari kekayaan. Tindakan mengumpulkan harta yang disapa dalam nas ini tidaklah sama dengan bekerja mencari nafkah. Alkitab mengharuskan kita bekerja untuk mencari nafkah (2Tes 3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan, bnd Kej. 3:17-19) dan karenanya itu bukanlah dosa. Bahkan jikalau kita bekerja untuk tujuan tertentu seperti ingin membangun atau membeli rumah, dsb itu tentu tidak bisa disalahkan. Tindakan yang di kecam dalam nas ini adalah orang yang mengumpulkan harta atau uang demi harta itu sendiri, atau harta itu menjadi tujuan akhir dari semangat (nafsu) kerjanya dalam hidup ini.

Di dalam perikop ini, Yakobus menyampaikan kecaman serius kepada orang-orang kaya. Dia bukan sekadar mengungkapkan dosa-dosa mereka; dia juga berkata bahwa Allah akan menghakimi dosa-dosa mereka. Siapakah orang orang kaya yang ditegur ini? Orang orang Kristen di gereja atau orang orang yang tidak percaya? Banyak penafsir Alkitab yang berpendapat bahwa orang-orang kaya yang dimaksudkan di sini bukanlah orang-orang percaya karena Yakobus tidak menyebut mereka dengan sapaan saudara seiman. Tentu saja, sangat sulit bagi kita untuk memastikan apakah mereka orang percaya atau bukan. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa surat dari Yakobus ini ditujukan kepada jemaat. Seperti surat-surat Paulus yang dibacakan di depan jemaat, surat dari Yakobus juga dibacakan keras-keras di depan jemaat di gereja. Surat-surat dari para rasul itu tidak dikirimkan kepada orang-orang non-Kristen. Jika kita adalah orang orang percaya, maka kita wajib memperhatikannya.

Pertama-tama, kita lihat bahwa Yakobus menyebut tentang 4 dosa orang-orang kaya di dalam ayat 1-6:
-          pertama ada di ayat 3, bahwa mereka hanya peduli pada urusn menimbun kekayaan;
-          kedua ada di ayat 4, bahwa mereka menahan atau menekan upah para pekerjanya;
-          ketiga ada di ayat 5, bahwa mereka menceburkan diri pada kesenangan duniawi;
-          keenam ada di ayat 6, bahwa mereka membunuh orang-orang benar. Walaupun Yakobus menguraikannya menjadi 4 macam dosa, namun semua itu memiliki akar yang sama, yaitu keserakahan. Semua dosa itu adalah hasil dari keserakahan.

Ibu-ibu Kekasih Tuhan.
Ungkapan 'mengumpulkan harta' di ayat 3 itu adalah kata kerja dala,m bahasa Yuanani yang berarti 'menyimpan (save)' atau' mengumpulkan (gather); pada umumnya, benda yang kita simpan adalah harta yang berharga, jadi kata benda untuk ungkapan tersebut bermakna 'harta (treasure)'. Apakah arti dari 'mengumpulkan' itu? Maknanya adalah menimbun sisa yang lebih, entah berupa hasil panen, pakaian, emas maupun perak. Kelebihan itu ditimbun dan disimpan. Itulah awal dari keserakahan. Mengapa hal tersebut dikatakan serakah? Karena dengan kelebihan tersebut, si Kaya bukan menyalurkan kepada orang yang membutuhkannya; namun justru menimbunnya sampai menjadi rusak atau buruk. Orang tidak mau berbagi dengan orang-orang lain yang benar benar membutuhkannya.

Dengan kata lain upaya menimbun ini akan dilakukan dengan berbagai cara supaya jauh dari kerugian dan pengeluaran biaya.  Itulah sebabnya di ayat 4, Yakobus berkata bahwa orang-orang kaya itu sering berhutang upah kepada para pekerjanya. Ini bukan karena mereka tak punya uang untuk membayar upah. Yang mereka pikirkan hanya bagaimana cara untuk terus bisa memperbanyak jumlah uang mereka. Berhutang upah pada para pekerja atau mempertaruhkan kesejahteraan pekerja, adalah taktik yang lazim dipakai orang-orang kaya dalam menambah kekayaan mereka.

Mereka-mereka yang mengumpulkan sejumlah besar jenis property yang menyenangkan hati mereka, mereka menyimpannya terus sampai barang-barang itu hancur/rusak, “lebih baik hancur dari pada dipakai oleh orang-orang yang sedang membutuhkan” (Luk. 6:24 “Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu”)

Mereka-mereka yang menumpuk harta dengan melakukan ketidakadilan dan penipuan, menyimpannya dari orang yang layak menerimanya (Yak. 5:4), harta itu akhirnya “terkorosi” oleh karat. Memang emas dan perak takkan terkena karat seperti halnya besi dan baja, tapi karena disimpan dalam jangka waktu yang lama apalagi di tempat yang lembab dan basah, maka akan ada warna gelap mirip karat. Karat atau perubahan warna ini hendak menyaksikan dan menyadarkan bahwa kekayaan atau harta itu tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, juga untuk membayar pekerja-pekerja yang layak mendapatkan upahnya.

Ibu-ibu Kekasih Tuhan.
Emas dan Perak yang berkarat sama kondisinya dengan daging yang “dihinggapi” api, hukuman Allah akan datang atas keserakahan dan ketidakadilan manusia. Pada hari penghakiman kelak, harta yang sebenarnya akan dinyatakan, harta yang dipakai bukan untuk kesombongan, bukan untuk kemewahan, atau untuk dipergunakan di masa yang akan datang (Rom. 2:5 “tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan”).

Dampak dari mengumpulkan harta di bumi adalah bahwa kita akan mendasarkan jaminan rasa aman kita pada harta duniawi dan iman kita kepada Allah akan semakin berkurang, karena kita semakin bergantung kepada kekayaan yang kita miliki di bumi, apakah kita masih perlu untuk percaya kepada Allah? Banyak orang Kristen, demi menimbun harta untuk jaminan masa depan, sampai mencurahkan segenap waktu dan tenaga bekerja keras memperbesar penghasilan mereka. Mereka tak punya waktu untuk Allah. Yesus menyuruh kita untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan Kebenarannya namun firman tersebut semakin diabaikan. Yang kita pedulikan serta kita kejar adalah rasa aman dan kekayaan duniawi dan mulai abaikan hal-hal  yang sifatnya rohani.

Ibu-ibu Kekasih Tuhan.
Mencari kekayaan adalah manusiawi dan bukan dosa. Namun kita diajarkan Firman Tuhan ini bahwa kekayaan adalah berkat Tuhan. Berkat itu harusnya tidak merugikan orang lain dan merendahkan kemanusiaan orang lain. Karena kekayaan yang kita cari adalah berkat Tuhan, maka adalah keliru jika kita menjadi lupa untuk lebih dulu mencari Tuhan Sang Pemberi berkat itu. Karena itu marilah memuliakan Tuhan dengan harta dan kekayaan. Marilah pula menyukacitakan orang lain lewat harta kekayaan yang dianugerahi TUHAN itu. Amin.

Monday, March 12, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH KELUARGA 14 MARET 2012

(by: Pdt. Arie Ihalouw)
IBRANI 10-32-39


Saudara – saudara yang dikasih Yesus Kristus !

Keputusan untuk menjawab ajakan Yesus Kristus sebagaimana dituliskan oleh penulis Injil Matius, yang berbunyi : “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Mat. 11:28-30),tidak menempatkan kehidupan kristen seperti yang dibayangkan seorang manusia duniawi. Justru sebaliknya orang-kristen-yang-setia mengalami banyak kesengsaraan oleh karena imannya. Banyak pergumulan Gereja dan orang-kristen-yang-setia setiap saat dapat dibaca dan didengar melaui media cetak dan elektronik, seperti :

1.   Perkembanngan lima belas tahun terakhir ini, di mana Gereja dan orang-kristen-yang-setia dilanda berbagai penderitaan di Indonesia, sejak UUD 1945 diamandemen dan otonomi daerah diperluas. Misi Gereja dan orang-kristen-yang-setia mengalami penghambatan di mana-mana oleh sekelompok orang yang memakai agama sebagai senjata pembunuh masal. Kita menyaksikan dan merasakan tekanan luar biasa karena perlakukan diskriminatif pada banyak bidang pekerjaan. Seakan-akan orang-kristen-yang-setia adalah warga Negara Indonesia kelas dua.

2.   Kita menyaksikan beberapa orang-kristen-yang-tidak-setia meninggalkan / melepaskan kepercayaan imannya kepada Yesus Kristus, hanya dikarenakan ingin memuaskan diri oleh dorongan hawa-nafsu kedagingan dengan alasan perkawinan (cinta), pekerjaan, status sosial, pangkat, jabatan dan lain-lain sejenisnya.

3.   Ada pula yang mengundurkan diri dari persekutuan, dan juga melepaskan / meninggalkan jabatan pelayanan, hanya dikarenakan alasan-alasan pribadi, tersinggung, tidak senang atau tidak suka terhadap rekan sepelayanan, benci kepada rekan sepersekutuan, dan lain-lain sebagainya.

Pergumulan atas penderitaan tersebut memunculkan pertanyaan : APAKAH MAKSUD YANG TERKANDUNG DALAM RENCANA Allah bagi Gereja dan orang-kristen-yang-setia di Indonesia ? Kadang kita menjadi bingung dan putus, karena tidak menemukan jawaban Allah.  Marilah kita menyimak kesaksian penulis Surat Ibrani tentang pergumulan orang kristen-israeli pada awal sejarah pertumbuhan Jemaat Kristus.

Saudara-saudara yang dikasihi Yesus Kristus,

Penulis surat Ibrani mencatat sejarah pertumbuhan Jemaat Kristus Abad I, di mana orang-kristen-yang-setia diburu dan dibantai serta kekristenan mengalami penghambatan. Ia menuliskan : “Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderitadalam perjuangan yang berat, … kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan,… ketika harta kamu dirampas ...” (10:32-34). Menghadapi masalah tersebut, penulis surat Ibrani menasihati : “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya" (Ibr. 10:38). Oleh karena itu, Gereja dan orang-kristen-yang-setia tetap berjuang mempertahankan pengakuan imannya kepada Allah dalam nama Yesus Kristus.

Penulis surat Ibrani menganjurkan kita untuk mempelajari pertumbuhan Jemaat Kristus “masa yang lalu.”(10:32). Ada beberapa orang-kristen-yang-tidak-setia. Mereka mencari keuntungan sendiri, mencari jalan keluar atas penderitaan, lalu melepaskan kepercayaan imannya. Orang-orang kristen seperti ini tidak berkenan kepada Allah (10:38). Orang-orang kristen seperti ini kurang belajar mengenai pengorbanan Yesus Kristus. Rasul Petrus mengatakan : “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian…” (I Pet. 4:1a). Artinya, jika kita mengambil keputusan untuk percaya kepada Yesus Kristus, maka kita juga selayaknya belajar meneladani Dia. Kita belajar memikul salib seperti yang diperlihatkan oleh Dia. Kita belajar menjalani jalan salib yang pernah dilalui Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

Kita harus belajar dari Yesus Kristus. Semasa hidupnya Ia mengalami berbagai keadaan berbahaya : dibenci, dikejar untuk dibunuh, diusir dari kampung halaman, hidup berpindah-pindah tempat dan sebagainya. Keadaan bahaya itu tidak menciutkan hati dan meresahkan pikiranNya. Justru di dalam ketegangan jiwaNya, Yesus semakin memperlihatkan kesetiaan kepada Allah. Ia taat memberitakan kehendak BapaNya baik dalam perbuatan maupun perkataan, sekalipun di bawah ancaman kematian. Ia tidak meninggalkan kepercayaanNya kepada Allah, sebab Yesus yakin benar, bahwa Allah Bapa memeliharaNya.

Kita juga harus percaya, bahwa perjuangan menghadapi sengsara memerlukan kekuatan spiritual yang kokoh. Dan, hal itu hanya dapat ditemukan, jika kita bergaul akrab dengan Allah. Dia akan memberikan kekuatan spiritual, sehingga kita mampu menanggung kesengsaraan bagi kemuliaan-Nya (bd. Plp. 3:11 -> “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”). Dia, TUHAN, Allah kita, akan memberikan jalan keluar dari masalah hidup kita (I Kor.10:13c -> “Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya”).

SURAT KECIL UNTUK PARA PELAYAN YANG MULAI LELAH DAN REDUP

  SURAT KECIL UNTUK PELAYAN YANG MULAI LEL AH DAN REDUP “Tuhan, cukup ya… saya lelah.” (1 Raja-raja 19:1–18) Ada masa ketika seorang pelayan...