Saturday, February 11, 2017

HUKUMAN ALLAH TIDAK MENGURANGI KASIHNYA

YEHEZKIEL 36:8-15

Bahan Persiapan Para Pelayan Firman dalam Ibadah Keluarga
Hari Rabu 20 Mei 2015

PENDAHULUAN
Apa yang ada dibenak saudara mengenai istilah “dibuang”. Istilah ini memberi arti tidak berguna lagi, tidak diperlukan, tidak dikendaki dll. Jika istilah ini dikenakan pada manusia atau sekelompok orang, maka kesan kejam dan tidak berperikemanusiaan akan terlihat jelas. Bayangkanlah bahwa ada orang yang tidak diingini dan dikehendaki lagi sehingga dibuang oleh orang atau kelompok lain. Bukankah tindakan itu sungguh kejam?

Inilah yang terjadi pada Israel dan yang dilakukan Tuhan pada mereka. Kesan bahwa Tuhan kejam dan murka terhadap umatNya, terlihat dalam peristiwa itu. Kitab Yehezkiel secara keseluruhan menyajikan dengan jelas sebab musabab peristiwa pengerikan itu terjadi pada bangsa tersebut. Kitab ini ditulis oleh Nabi Yehezkiel yang adalah seorang putera dari imam Buzi (Yehezkiel 1:3). Barangkali ia sendiri juga seorang imam. Pada tahun 597 597 sM (2 Raja 24:14- 17) Ia dibuang bersama-sama dengan Yoyakhin ke Babel/Babilon. Dia dimukimkan di kampung Tel-Abib dekat Sungai Kebar. Lima tahun kemudian ia menerima panggilan untuk menjadi nabi (Yehezkiel 1:2), mungkin setelah ia berusia 30 tahun (1:1). Sesudah menerima panggilan itu ia masih hidup paling sedikit 22 tahun lagi (Yehezkiel 29:17).

Dari kitabnya inilah kita tahu bahwa Israel mengalami kengerian bukan karena kekejaman Allah melainkan karena dosa dasa dan kesalahan umatNya itu (7:1-27). Namun bukan hanya penghukuman yang dinubuatkan Yehezkiel bagi bangsa ini (yg mana dia alami sendiri penggenapan pembuangan itu), tetapi juga berbagai nubuatan pengharapan dan pemulihan setelah masa pembuangan yang mulai muncul pada pasal 25.


GALIAN TEKS (TAFSIRAN)
Bagian kedua dari pewartaannya (Yehezkiel 25:1-38:23) mengungkapkan harapan akan pemulangan mereka kembali dan datangnya waktu keselamatan yang gemilang. Para musuh akan memperoleh putusan hukuman dan kondisi umat akan kembali dipulihkan. Bacaan kita saat ini memuat nubuatan tentang pemulihan tersebut yang memberikan pengharapan bagi umat untuk tetap tabah menjalani masa pembuangan mereka hingga TUHAN, Allah mereka menggenapi janjiNya bagi umat tebusanNya.

Ada beberapa pokok penting dalam Yehezkiel 36:8-15 yang perlu diuraikan dan dijelaskan maknanya dalam galian teks ini. Pokok-pokok penting dimaksud adalah sebagai berikut:

1.       Hukuman bukan berarti aib (ay 1-7)
Yehezkiel diperintahkan Tuhan untuk bernubuat bagi tanah perjanjian yang telah porak-poranda dan hancur serta ditinggal oleh penghuninya yang dibuang. Bahwa keadaan sunyi sepi dan reruntuhan mengerikan itu kini dianggap oleh bangsa-bangsa lain sebagai aib dan kehinaan bagi bangsa Israel dan tanah perjanjiannya. Bahkan kondisi ini digunakan sebagai kesempatan oleh bangsa kafir untuk menghinakan dan bahan olokan (ay.4), serta banyak dari bangsa lain mensyukuri nasib malang tersebut.

Melalui Nubuatan itu, TUHAN, Allah Israel menegaskan bahwa Ia akan melawan bangsa2 itu dengan api cemburuanNya dan menjadikan noda Israel berbalik menjadi noda bangsa-bangsa kafir itu (bd. Ay.4,7). Pertanyaan penting untuk digali dari pernyataan Tuhan itu adalah jika pembuangan dan kehancuran Israel bukan aib dan noda dari Tuhan, mengapa Allah mengijinkan itu terjadi lalu kemudian bersusah payah memulihkannya lagi?

Ternyata kita menemukan bahwa peristiwa pembuangan tidak hanya dipandang sebagai penghukuman atau malah kesusksesan bangsa lain menghancurkan Israel; melainkan peristiwa pembuangan adalah cara Tuhan memurnikan mereka kembali. Kitab Yesaya 48:10 dengan tegas menyatakan bahwa TUHAN memaksa mereka memasuki ujian dalam dapur kesengsaraan untuk memurnikan mereka kembali. Dengan demikian, penghukuman itu bukanlah aib atau noda yang ditinggalkan bangsa2 kafir, melainkan suatu proses pemurnian untuk menghadirkan umat tak bernoda dan tak beraib walaupun harus melalui proses yang tak mudah yakni “Dapur Kesengsaraan”.

2.       Alasan Pemulihan (ay. 9,11)
Apakah alasan pemulihan tersebut? Jika kita memperhatikan ayat 9, kesan yang cukup kuat adalah karena terjadi atas inisiatif Allah. Kalimat “hatiku akan baik kembali” menunjuk pada murka dan kekecewaan Allah terhadap umat yang dikhususkannya itu, sehingga Ia tidak lagi “membelakangi” umatNya namun bersedia berpaling kepada mereka. Dengan penjelasan ini, maka penekanan khusus sebagai alasan mengapa pemulihan itu terjadi tidak disebabkan karena Iisrael sendiri atau karena mereka yang berbalik dan menjadi baik kepada Allah.
Tuhan sendirilah yang berinisiatif. Tuhanlah yang berbaik lagi dan berbalik untuk mereka. Keselamatan dan pemulihan Israel tidak terjadi karena perbuatan baik Israel, tapi karena kemurahan Tuhan.

Selanjutnya, apakah motifnya? Untuk apa Israel dipulihkan kembali? Jawaban mengejutkan tertera pada ayat 11 bagian akhir, yakni: “supaya kamu mengetahui bahwa Akulah TUHAN. Pemulihan tidak dikerjakan untuk Israel, tapi dikerjakan TUHAN untuk kemuliaanNya yakni agar umat menyadari siapakah Yahwe itu, yakni Tuhan mereka. Hal senada kita dapatkan pada Yesaya 48:9, bahwa umat dipulihkan dan  dikasih Allah karena satu alasan “demi kemasyuran namaKU” Aku mengasihi engkau.

Prinsip “dari Allah dan untuk Allah” menjadi penekanan mutlak dan kuat dalam bacaan kita. Hubungan umat Israel dengan Tuhannya harus berada dalam pemahaman TEOSENTRIS, yakni Allah adalah pusat dari segala sesuatu (dari Allah dan untuk Allah)

3.       Apa yang dipulihkan (ay 8, 10, 11, 12, 14, 15)
Perhatikan ayat-ayat yang ditunjukkan di atas. Seluruh sendi kehidupan Israel akan mengalami pemulihan. Bukann saja kondisi alamnya, namun hasil panen dan kehidupan di pulihkan kembali (ay.8,10); hubungan dan relasi antar umat dan Allahnya kembali langgeng (ay.11); bahkan tanah yang dianggap telah dikuti ini akan kembali bermakna tanah perjanjian yang menjadi milik pusaka mereka (ay.12) sehingga Tuhan menjamin tidak ada lagi bangsa yang akan merebut pusaka ini dan membinasakannya (ay.14,15).

Seberapa pulihkan Israel kelak nanti? Sesuatu yang indah difirmankan Tuhan melalui Yehezkiel bagi Israel. Bahwa kadar pemulihan melebihi sebelumnya, kualitasnya melebihi dari yang mereka pernah alami. Totalitas pemulihan diberikan Allah dengan kadar mengagumkan yakni melebihi dari yang terdahulu (bd. Ay.11)

RELEVANSI DAN APLIKASI



[1] Judul ini diambil dari Sabda Guna Krida tanggal 20 Mei 2015.

JANGAN MENILAI BUKU DARI SAMPULNYA

YOHANES 6:41-43


6:41 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."  6:42 Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"  6:43 Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut.



TELAAH PERIKOP / TAFSIRAN
1.  Pada bacaan sebelumya yakni ayat 32-33 Yesus menjelaskan siapa Musa dan perannya dalam memberikan Roti “Manna” waktu nenek moyang mereka berada di padang gurun. Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Dari uraian ayat 32-33 ini, ada dua hal penting yang ingin Yesus tegaskan, yakni:

  1. Bahwa nenek moyang mereka diberikan makan “manna”, sebenarnya bukan oleh Musa melainkan oleh Allah Bapa. Musa tidak pernah mampu untuk mendatangkan makanan itu. Musa hanyalah manusia dan tidak punya kuasa. TUHAN sendirilah yang bekerja dan memberi makan menek moyang mereka itu.
Jadi alasan Roti “Manna” sebagai hasil pekerjaan Musa sehingga itu membuktikan bahwa ia adalah utusan TUHAN adalah suatu kekeliruan besar. Musa memang utusan TUHAN, tapi bukan karena ia memberi “Manna” bagi Israel, sebab TUHAN-lah yang memberi makanan itu.

  1. Memang benar bahwa Roti “manna” itu pemberian Allah sehingga disebut roti dari Sorga. Tetapi Roti yang benar dari Sorga bukanlah Rotti yang dimakan oleh nenek moyang mereka. Sebab roti yang dimakan oleh nenek moyang mereka itu hanya memberi rasa kenyang sesaat bagi mereka saja. Sedangkan Roti sesungguhnya yang benar dari sorga akan dinikmati bukan saja oleh nenek moyang mereka tapi oleh seluruh dunia. Selanjutnya roti yang dimaksud itu bukan hanya memberi rasa kenyang sesaat namun efeknya adalah memberi hidup kepada dunia.

2.  Mendengar penjelasan Yesus itu, orang banyak menjadi sangat penasaran dan ingin menikmati roti yang Ia maksudkan. Itulah sebabnya mereka berkata: “Tuhan berikan roti itu!” Ternyata mereka amat menginginkannya. Mendengar permintaan itu, Yesus segera menyebut dan mendefinisikan Roti yang Ia maksudkan. Pada ayat 35 bacaan kita Yesus menyebutkan bahwa Dialah yang dimaksud dengan Roti itu.

Bahwa Yesus menyebut pada akhirnya apa dan bagaimana Roti Dari Sorga itu. Roti yang dimaksud Yesus adalah DiriNya sendiri yang memberi diri bagi kehidupan kekal untuk dunia. Hal ini memberikan penekanan kepada orang Israel itu bahwa mereka harus lebih percaya kepada Yesus dibanding kepada Musa, dan mereka harusnya tidak memikirkan hal-hal yang dapat binasa melainkan sesuatu yang memberi hidup kekal. Yesuslah Roti Hidup yang memberi kehidupan kekal. Dialah Roti yang turun dari Sorga. Maka harusnya kepada Dia-lah orang Israel mempercayakan hidup mereka.

3.  Namun, apapun yang dijelaskan Yesus, Ia tahu bahwa mereka tidak akan percaya walaupun sudah mengetahui dan mengenal Dia (ay.36). Mengapa demikian? karena orang banyak itu hanya berpegang pada kebenaran yang mereka percayai dan bukan kepada ajaran yang Yesus sampaikan. Itulah sebabnya mereka menolak Dia.

4.  Pada ayat 41-43 pada bacaan kita, dipaparkan alasan lain mengapa orang banyak itu menolak Yesus dan kebenaran yang diajarkan kepada mereka. Pada ayat 42 mereka berkata: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?". Bagi orang banyak itu, adalah sulit untuk menerima bahwa Yesuslah Roti yang turun dari Sorga itu sebab mereka tahu dari mana Yesus datang. Menurut mereka Yesus datang dari keluarga yang mereka kenal, yakni Maria dan Yusuf sehingga tidaklah mungkin Ia datang dari Sorga. Itu suatu kemustahilan untuk dapat dipercayai. 

Apakah salah pendapat orang banyak itu? Sebenarnya apa yang diucapkan orang banyak itu tidaklah salah. Bahwa memang benar Yesus berasal dari keluarga itu, Ia adalah seorang tukang kayu, bapaknya bernama Yusuf dan ibunya adalah Maria. Mereka amat mengenal Yesus, dan mungkin ada diantara mereka yang tumbuh bersama dan mengalami masa kecil bersama-sama Yesus. Itulah sebabnya adalah wajar apabila mereka menolak Yesus datang dari Sorga.

Tetapi kegagalan orang banyak Yesus yang membuat mereka gagal “melihat” Yesus yang sebenarnya adalah karena mereka sudah terlanjur cepat “menilai buku hanya dari sampilnya saja”. Artinya mereka berusaha mendefinisikan siapa Yesus berdasarkan apa yang mereka lihat dari luar dan tampilan saja. Mereka begitu yakin bahwa mereka sudah tahu siapa sesungguhnya Yesus. Padahal sesungguhnya mereka tidak tahu apapun tentang Yesus. Kebenaran yang mereka pegang  tentang Yesus justru menyesatkan mereka untuk dapat mengenalnya secara lebih mendalam.

APLIKASI DAN RELEFANSI
1.   Sudah menjadi kenyataan yang tak terpungkiri bahwa segala sesuatu selalu diyakini jika sudah dapat dibuktikan. Sebagai manusia kita cendrung memuaskan nalar dan logika kita untuk menerima suatu kebenaran. Hari ini kita diajarkan Firman Tuhan tentang bagaimana kemudian orang Israel tidak dapat menerima Yesus Kristus sebagai TUHAN karena tidak dapat mempercayaiNya.

Iman tidak yang sesungguhnya adalah kebenaran yang diterima tanpa pembuktian apapun melainkan kemampuan untuk meyakini dengan sungguh. Kita percaya kepada Yesus bukan karena alat bukti tertentu, namun seharusnya kita percaya kepadaNya karena memang kita percaya. Itu sudahlah cukup. Bukankah Yesus pernah berkata kepada murid2-Nya pada kasus Tomas yang kurang percaya: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yoh.20:29.b). Percaya kepada Yesus tidak harus menuntut pembuktian atau karena melihat. Percaya kepada Yesus harusnya dilakukan tanpa syarat apa-pun sebagaimana Ia berkorban untuk kita tanpa menuntut syarat apapun dari kita.

2.  Mengapa walaupun Yesus telah memperkenalkan diriNya dan mematahkan argumen mereka tentang siapa Dia dibanding Musa, orang Isreal tetap tidak percaya? Jawabannya karena mereka lebih percaya kepada kebenaran yang mereka pahami dari pada kebenaran yang diajarkan Tuhan. Mereka terlalu cepat menilai Yesus dari luarnya saja dn bukan mengenalNya lebih dalam lagi.

Hari ini kita diingatkan suatu hal yang penting. Bahwa kebenaran semu yang kita pertahankan justru akan menjerumuskan kita kepada peyesatan diri. Jangan hanya berpikir bahwa kita sudah mengenal Dia, padahal sesungguhnya kita tidak mengerti tentang Dia. Karena itu kitapula diajarkan untuk mulai saat ini berusaha mengenal Tuhan kita lebih dalam dan lebih sungguh lagi. Hanya dengan pengenalan yang benar tentang Yesuslah akan membuat kita mengerti dan memahami semua kehendaknya.

Bagaimana cara mengenalNya? Sebenarnya tidaklah sulit! Kita dapat mengenal Tuhan kita melalui kebenaran FirmanNya. Karena itu mengetahui Fiman Tuhan adalah hal yang patut dilakukan orang percaya demi dapat mengenal TUHAN lebih baik lagi. Itu berarti kita harus lebih banyak membaca Alkitab, merenungkan dan melakukannya supaya kita dapat mengenalnya dengan baik.

3.  Ternyata berbahaya dampaknya jika hanya menilai seseorang dari tampilan luar saja. Kita diajarkan bahwa “Menilai buku hanya dari sampulnya saja” adalah suatu kekeliruan besar. Kekeliruan ini bukan saja akan menyesatkan tapi juga membuat kita menghakimi seseorang dengan keliru, sebagaimana orang banyak dengan bangga menghakimi Yesus.


Kitapun saat ini diajarkan untuk tidak menilai seseorang berdasarkan tampilan luarnya saja. Sebab jika itu terjadi kita menjadi hakim bagi orang itu dan kemudian menjadikan orang itu sebagai objek “kebenaran” yang kita pegang untuk membenarkan diri kita dan menyalahkan orang lain. Belajarlah untuk tidak cepat menilai seseorang berdasarkan ukuran yang kita ukur. Sebab ukuran yang kita pakai akan dipakai TUHAN juga untuk mengukur kita. Berpeganglah hanya pada kebenaran yang dari TUHAN supaya tidak ada kebenaran-kebenaran semu yang akan menyesatkan kita. Amin.

SALING MENOPANG DI TENGAH PERGUMULAN (Naomi dan Rut)

RUT 1:15-18

15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu."  16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;
17di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"  18 Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya.

PENDAHULUAN
Adalah hal yang biasa dewasa ini jika kita mendengar ada pertengkaran yang terjadi antara mertua dan menantu. Secara khusus pertengkaran tersebut sering terjadi antara ibu mertua dengan menantu perempuan. Masalah dan persoalannya kurang jelas, tetapi yang pasti selalu dipicu dari hal-hal sepele yang kemudian menjadi besar dan prinsipil. Simpulannya adalah ibu mertua dan menantu perempuannya jarang hubungan mereka tidak bermasalah.

Berbeda kisahnya dalam bacaan kita saat ini. Rut adalah menantu dari Anomi. Setelah suaminya meninggal Rut memutuskan untuk mengikuti Naomi dan menganggapnya bukan hanya sekedar mertua namun juga seperti ibunya sendiri. Namun, Naomi cukup bijak. Menurutnya, Rut masih memiliki masa depan yang lebih baik, apalagi ia menikah lagi. Itulah sebabnya Naomi memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Bet-lehem (rumah roti) dan meminta Rut melanjutkan kehidupannya sendiri. Namun justru prinsip yang berbeda ini menjadi dialog yang menarik (bisa disebut adu mulut yang kental) dalam bacaan kita serta menggambarkan tentang betapa eratnya hubungan mertua dan menantu dalam kisah ini.

TAFSIRAN / TELAAH PERIKOP
1.       Menurut ayat 1-5 anak-anak Naomi menikahi perempuan Moab sebagai Istri mereka masing-masing. Mahlon menikahi Opra; dan Kilyon menikahi Rut. Telah disebutkan tadi bahwa ketika suami masing-masing mereka meninggal, maka mereka memutuskan untuk meninggalkan Moab dan mengikuti Naomi ibu mertua mereka (ay.6-7).

Selanjutnya ayat 8-13 menceritakan tentang berbagai adu argumentasi dilakukan antara mertua dengan kedua menantu perempuannya. Mereka berdua, Orpa dan Rut, bersikeras untuk tidak akan meninggalkan Naomi mengalami kepahitan hidup seorang diri. Mereka ingin menemani, mereka ingin saling berbagi. Namun bagi Naomi yang lebih dahulu mengalami asam-garam hidup ini justru berpandangan beda dgn mereka. Bagi Naomi mereka berdua masih muda dan masa depannya masih ada. Adalah lebih tepat jika mereka kembali ke orang tua masing-masing  untuk memulai hidup baru dan jika mungkin, mereka dapat menikah lagi.

Penjelasan yang sangat detail dilakukan Naomi agar mereka mengerti. Naomi tidak bermaksud menolak pendampingan mereka, tapi Naomi juga menginginkan mereka bermasa depan. Akhirnya hati Orpa lulu dan mengalah iapun berpisah dengan mertuanya dalam suasana sedih dan haru (ay 13). Bisa dibayangkan kasih dan kesetiaan menantu itu bagi mertuanya; kasih Orpa untuk Naomi yang tiada duanya.
  
2.       Bagaimana dengan Rut. Bacaan kita menguraikan tentang bagaimana Rut bertahan pada prinsipnya. Rut terkesan menjadi menantu yang keras kepala. Naomi pada ayat 15 meminta Rut untuk mengikuti Orpa yang mengalah dan kemudian kembali ke ibu kandungnya. Demi ketaatan kepada mertua Opra kembali ke bangsanya dan kepada allahnya. Apakah benar Rut memang keras kepala dan tidak mau mengalah? Mari perhatikan ayat 16-17 bacaan kita. Dari ayat-ayat itu menemukan alasan yang kuat mengapa Rut bertahan pada Prinsipnya, yaitu:
  1. Naomi saat  itu sedang mengalami kepahitan hidup. Itulah sebabnya ia menyebut namanya bukan lagi Naomi pada ayat 19 namun menyebut dirinya dengan nama MARA. Dalam bahasa Ibrani “mara” berarti pahit, artinya hidup Naomi pahit adanya. Ia penuh dengan pergumulan karena ditinggal mati oleh suami sebagai tulang punggung dan anak2 lelakinya sebagai penggati suaminya pun meninggal dunia. Cukuplah lengkap penderitaannya, dan sebagai manusia biasa Naomi tidak mungkin menjalani sendiri semua itu.

  1. Kondisi ini amat jelas diketahui oleh Rut menantunya. Sebagai seorang anak, Rut amat mengasihi Naomi mertuanya itu. Ia ingin berbagi beban dan penderitaan yang dialami Naomi. Ia tidak tega meninggalkan Naomi menjalani sendirin kepahitan hidupnya. Itulah sebabnya Naomi berkata dengan tegas pada ayat 16: “ke manapun engkau pergi; di manapun engkau bermalam di situ pula aku berada”. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesetiaan dan kasih Rut terhadap Naomi tidaklah tertandingi melebihi sayangnya pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin berpisah dari mertuanya demi menopang dan mendampingi Naomi.

  1. Prinsip hidup yang begitu kuat ditampilkan Rut soal besar kadar keinginannya untuk “menyatu” dengan ibu mertuanya. Hal ini juga terlihat pada ayat 16 bagian akhir. Menurutnya bangsa Naomi adalah bangsanya juga. Itu berarti demi kasihnya kepada ibu dari suaminya ini, Rut bersedia kehilangan identitas dan meninggalkan identitas lama sebagai orang Moab dan selanjutnya mengambil identitas baru sebagai orang Yahudi sebagaimana identitas mertuanya. Bukankah itu suatu hal yang jarang dilakukan orang? Rut belum tahu keadaan orang-orang Yahudi; Rut tidak tahu apakah ia diterima di komunitas orang2 Israel itu. Namun resiko itu bersedia ia ambil demi mendampingi hidup mertuanya.

  1. Selanjutnya puncak argument Rut yang tidak dapat dibantah lagi oleh Naomi adalah ketika ia menyampaikan dua hal penting diakhir ayat 16 dan ay.17. Pertama: Agama dan Allah Naomi akan menjadi Allahnya juga; Kedua: atas dasar iman yang baru itu, ia bersedia dihukum TUHAN nya Naomi (yang sekarang adalah TUHANnya ia juga) apabila ia meninggalkan ibu mertuanya itu, kecuali karena Maut.

3.       Rut bersedia berpindah keyakinan. Suatu hal yang sangat prinsipil dan asasi sekali dari setiap pribadi. Namun, itu ia sedia lakukan. Mengapa? Pastilah tidak mudah bagi Rut untuk berpindah keyakinan selain ada suatu sebab yang kuat. Karena itu apa sebab yang kuat itu? Jawaban utamanya Cuma satu yaitu karena Naomi. Sikap hidup Naomi selama ia tinggal di Moab, cara ia bersikap sebagai mertua untuk menantu dan ketegaran imannya untuk bertahan di tengah duka dan kepahitan hidup, walau seakan menurutnya TUHAN seakan meninggalkannya (ay.20-21) serta hal2 lainnya ternyata menjadi kesaksian kuat untuk Rut menerima agama dan Iman yang baru yakni menyembah Allah-nya Naomi. Bukankah itu suatu hal yang luar biasa?


APLIKASI DAN RELEVANSI
1.       Hari ini kita belajar tentang pengalaman hidup seorang janda bernama Naomi. Ketika di Israel mengalami kelaparan, maka ia dan keluarganya mencari kehidupan di negeri asing bernama Moab. Namun malang tak dapat dihindari. Suami dan anak-anaknya meninggal. Ia tidak dapat menjalani hidup lagi di negeri orang tersebut. Kepahitan ia alami dan rasanya tak terhiburkan lagi. Namun, Naomi tidak sendiri menjalani kondisi itu. Orpa dan Rut berkomitmen mendampingi, walau pada akhirnya Orpa meninggalkannya, bukan karena tidak setia namun demi ketaatan pada ibu mertuanya itu.

Hal pertama dari Firman Tuhan ini mau berbicara tentang pentingnya menghadapi hidup ini tidak sendiri. Kita diajarkan bahwa sebagai manusia kita membutuhkan orang lain. Kita tidak dapat menghadapi tantangan dan pergumulan seorang diri saja. Pada ayat 18, syukurnya Naomi menyadari hal ini dan berhenti memninta Rut pergi. Jika baca kisah selanjutnya, kita dapat melihat peran Rut dalam menghidupkan perekonomian dan kebutuhan pokok Naomi. Bayangkan jika Rut tetap di suruh pergi. Pasti akan lain ceritanya.

Demikian juga kita! Jangan pernah menutup diri dengan pergumulan dan persoalan sendiri. Kita butuh orang lain untuk membantu dan menopang. Jangan pernah untuk menanggung beban sendiri, berbagilah beban dengan orang lain, sebab topangan dua orang lebih kuat dari seoranhg diri saja.

2.       Selain kita diajak untuk terbuka seperti Naomi, kita juga oleh Firman Tuhan bersedia untuk menjadi RUT. Ada banyak Naomi modern saat ini yang sedang berbeban sendiri. Saatnya bagi kita untuk menjadi Rut yang memiliki prinsip mulia. Rut tidak menyerah utuk menjalankan ide mulia itu. Penolakan Naomi tidak menyurutkannya, ia memahami bahwa Naomi sedang gundah dan wajar jika menolaknya.

Akhirnya prinsip kokoh Rut menjadi berkat buat Naomi, tapi juga menjadi berkat buat Rut sendiri. Akhir kitab ini mengisahkan tentang happy ending yang mengharukan bagi masa depan Rut di negeri dan bangsa yang baru, di sayap perlindungan imannya yang baru.

Karena itu, marilah menghadapi setiap pergumulan hidup ini seperti Naomi yang membuka diri bagi orang lain, tapi juga mari menjadi Rut yang bersedia memberi diri bagi penderitaan orang lain dan menopang hidup mereka yang bergumul sendiri. Sebab hal itu bukan hanya menjadi berkat untuk orang lain itu, tapi juga menjadi berkat bagi kita yang bersedia membantu. Kiranya TUHAN memampukan kita. Amin.

MENJADI HAMBA


2 TIMOTIUS 2:22-26

PENDAHULUAN
Filippo Inzaghi adalah seorang striker sepakbola asal Italia. Gaya permainan bolanya tidak secantik Ronaldinho-pemain nasional Brasil. Tubuhnya kecil, kecepatan larinya pun rata-rata. Namun, yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya mencari ruang kosong, sehingga setiap serangan yang ia buat menjadi efektif. Tak banyak gaya, tetapi gol tercipta. Itulah yang membuatnya menjadi striker yang tetap diandalkan oleh AC Milan, timnya, meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Prinsip ini senada dengan nasihat Paulus kepada Timotius untuk mengajaknya melakukan pelayanan dengan strategi pelayanan yang lebih efektif.

TELAAH PERIKOP
Ayat-ayat yang kita baca adalah nasihat Paulus kepada Timotius yang hendak menjadi hamba Tuhan agar lebih efektif dan kreatif. Apakah yang harus dilakukan oleh Timotius? Ada beberapa pokok yang ditekankan Paulus, yakni:
1.       Utamakan Hal-Hal Yang mulia
Agar pelayanannya berhasil, Timotius diminta untuk tidak mengejar nafsu orang muda (ayat 22), tetapi menyalurkan energi dan waktunya untuk hal-hal yang lebih berguna. Timotius adalah seorang Pelayan yang masih berusia muda. Orang muda biasanya lebih tidak sabar, rapuh, mudah goyah dan gampang tergoda. Itu semua disebut Paulus sebagai nafsu orang muda dan hal itulah yang harus dihindari Timotius. Bagaimana caranya? Timotius dimintakan untuk memikirkan, menginginkan dan melakukan hal-hal yang lebih tinggi dan mulia dari pada ”nafsu orang muda” tersebut.

Yang dimaksud Paulus adalah, sebagai seorang hamba Tuhan, Timotius justru harus lebih mengutamakan keadilan, kesetiaan, kasih dan damai ketika hidup dalam kebersamaan persekutuan dan jemaat. Nampaknya saat surat ini ditulis, Timotius sedang menghadapi orang-orang yang menghambatnya dan sengaja mengacaukan pelayanannya.

2.       Berani Tampil Beda
Biasanya pertengkaran hanya mungkin terjadi jika melibatkan minimal dua orang atau dua kelompok. Pertengkaran muncul akibat hadirnya aksi yang berlebihan yang dibarengi dengan reaksi yang tidak kalah berlebihan pula. Hal inilah yang dimaksud Paulus dalam ayat 23-24 bacaan kita. Adalah lebih bijak menurut Paulus untuk menghindari pertengkaran dari pada berusaha masuk dan terjun dalam arena pertengkaran tersebut.

Timotius dimintakan untuk berani tampil beda dan lebih banyak untuk mengalah. Sebab seorang hamba Tuhan sangat disayangkan jika terlibat dalam pertengkaran dan menghamburkan emosi yang sia-sia itu. Kunci untuk terhindar dari pertengkaran adalah dengan berusaha tetap ramah kepada siapaun termasuk orang yang memusuhinya; dan sabar menghadapi setiap cercaan tersebut.

3.       Membunuh Musuh dengan menjadikannya seorang Saudara
Hal inilah yang ditekankan Paulus kepada Timotius dalam ayat 25-26 ketika ia menghadapi banyak penentang dalam pelayanannya. Daripada menciptakan musuh, Paulus mengajak untuk mengeyahkan musuh-musuh Timotius dengan cara menyadarkan mereka dan menggiring mereka kepada kebenaran sehingga dapat mengubah mereka menjadi sahabat dan saudara dalam iman pada Yesus Kristus.

Bagaimana caranya? Timotius harus memiliki kecakapan mengajar yang mumpuni dan strategi jitu untuk menuntun seorang yang suka melawan dan mencari-cari persoalan itu ke arah pengenalan akan Allah. Timotius harus memberikan kesempatan tiap pribadi untuk bertobat dan mengalami pemulihan iman dan kesembuhan rohani dengan cara memimpin mereka agar sadar dari jalan yang salah itu.  

Aplikasi dan Relevansi
Merawat kuku gajah bukanlah kemewahan, melainkan lebih pada keharusan. Menurut artikel dalam The Kansas City Star, jika kaki gajah-gajah yang ditangkap tidak dirawat secara teratur, mereka akan cenderung terkena infeksi yang dapat berakibat fatal. Akan tetapi, menggunting kuku kaki binatang yang bobotnya bisa mencapai 6 ton itu merupakan pekerjaan berbahaya. Jadi, ada orang yang memunculkan sebuah ide. Ia mengembangkan alat bernama “sirip untuk gajah” yang dapat mempermudah para pawang dalam menenangkan seekor gajah dengan mengaktifkan alat itu di samping gajah. Alat itu tingginya 3,6 meter, beratnya lebih dari 15 ton, dan harganya kurang lebih 900 juta rupiah. Beberapa kebun binatang telah membeli alat yang sangat membantu ini. Kegiatan ini disebut dengan strategi menghadapi masalah dengan resiko yang kecil.

Memerhatikan orang lain juga bisa berisiko. Paulus menjelaskan bahwa menolong orang yang telah menyimpang dari jalan kebenaran juga bisa mengandung bahaya. Namun, Paulus tak menawarkan alat canggih untuk menolong orang-orang yang membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain (2 Timotius 2:23,25). Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ketika kita harus memerhatikan pikiran dan perasaan orang lain, kita tak dapat bergantung pada kecerdikan dan otot manusia. Yang sangat kita perlukan adalah hikmat Allah. Pelayan Tuhan tak boleh memicu pertengkaran atau menjadi sombong. Sebaliknya, ia harus lemah lembut dan sabar (ayat 24).

Memadukan kebenaran dan kasih karunia saat menghadapi bahaya, jauh lebih baik daripada sikap melindungi diri sendiri. Sikap ini menggambarkan hati Pribadi yang ingin kita perkenalkan kepada orang-orang yang menyimpang itu

Sekarang coba kita terapkan nasihat ini bagi kita secara pribadi. Adakah kita masih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna; seperti bertengkar, menggosip, menjelekkan orang lain, dan sebagainya? Waktu yang ada begitu singkat dan tak akan terulang, jadi sudah seharusnya kita menggunakan waktu untuk melakukan hal-hal dan aktivitas yang menyenangkan hati Tuhan. Apalagi Tuhan memberi kita tugas untuk mengajar dan menuntun orang lain (ayat 24,25). Jangan buang waktu lagi, hiduplah efektif bagi Allah! Amin.


GUNAKAN SIKAP BIJAK DAN penuh kasih

SAAT MENYADARKAN KEMBALI ORANG YANG TERSESAT

Monday, April 20, 2015

MENGINGAT RAYAKAN PERBUATAN TUHAN SEBAGAI TANDA SYUKUR DAN KETAATAN

(IMAMAT 23:33-38)

BAHAN RENUNGAN PKP 21 APRIL 2015

PENGANTAR
Pada pasal 23 kitab Imamat, TUHAN Allah melalui Musa mengatur tata cara perayaan keagamaan yang disebut dengan “pertemuan kudus” sebagai ketetapan hari-hari raya Israel yang wajib dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah di Firmankan (bd. Ay.1,2).

Tujuan utama dari pelaksanaan hari-hari raya tersebut adalah untuk mengajarkan umat tentang perbuatan TUHAN, Allah mereka yang ajaib di masa lalu. Perayaan hari-hari raya bangsa Israel berpusat kepada Tuhan yang telah membebaskan dan memberi berkat kepada bangsa Israel. Motivasi perayaan bangsa Israel adalah bersyukur atas segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan, bukan memohon berkat seperti bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, ketika umat Israel melaksanakan hari raya tersebut, mereka sekaligus menyatakan syukur dan pujian kepada Tuhan.

GALIAN/ TELAAH PERIKOP
Di pasal 23 ini terdapat daftar urutan pelaksanaan hari-hari raya israel yang harus mereka lakukan sesuai dengan petunjuk yang diberikan, yakni:
1.       Paskah (23:5) dan Roti Tidak Beragi (23:5-8) memperingati pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir.
2.       Hasil Pertama (hasil sulung 23:9-14) dan Pentakosta (hari kelimapuluh, 23:15-22) mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen yang diakui sebagai berkat Tuhan.
3.       Peniupan Serunai (23:23-25) adalah perayaan Tahun Baru Umum yang mengungkapkan sukacita dan syukur kepada Tuhan.
4.       Hari Pendamaian (23:26-32) adalah saat merendahkan diri dan memulihkan hubungan dengan Tuhan.
5.       Pondok Daun (23:33-43) memperingati bimbingan Tuhan saat bangsa Israel mengembara di padang gurun.

Untuk diketahui bahwa pencatatan bulan dalam kitab Imamat didasarkan pada kalender keagamaan yang dimulai pada saat bangsa Israel keluar dari Mesir, Keluaran 12:2).

Pada ayat 33-38 perikop bacaan kita, TUHAN Allah meminta Musa agar Israel wajib melaksanakan hari raya pondok daun. Hari Raya Pondok Daun biasa disebut Ibrani khag hasukkot (Im 23:24; Ul 16:13) atau khag ha'asif (Kel 23:16; 34:22). Hari Raya ini adalah salah satu dari tiga pesta besar Yahudi, yang dirayakan dari tgl 15-22 bulan ke-7. Itu berarti hari raya ini dilakukan pada bulan ke-7 ketika mereka keluar dari tanah Mesir.

Pada awalnya hari raya ini dilakukan untuk memperingati perjalanan yang sulit bagi Israel yang hidup dipondok-pondok beratapkan ranting dan daun saat melakukan perjalanan sulit di padang gurun. Namun dalam perjalanan waktu setelah mereka hidup cukup lama di tanah perjanjian, dengan pergantian kekuasaan raja-raja hingga masa pembuangan dan sesudah pembuangan, bentuk pelaksanaan hari raya pondok daun ini mulai berubah.

Hari raya ini dikemudian hari dilakukan sebagai hari raya syukur panen. Inilah akhir tahun ketika panen dituai, dan merupakan salah satu dari pesta ketika setiap lelaki harus muncul di hadapan Tuhan (Keluarga 23:14-17; 34:23; Ulangan 26:16. Pesta itu sangat meriah (Ulangan 16:14). Nama 'hari raya pondok daun' berasal dari kebiasaan bahwa setiap orang Israel harus diam di pondok yg dibuat dari cabang dan daun selama 7 hari pesta itu (Imamat 23:42). 

Dalam perkembangan sejarah Israel, hari raya ini, yang ditetapkan oleh Allah, tidak pernah terlupakan. Diadakan pada waktu Salomo (2 Tawarikh 8: 13), Hizkia (2 Tawarikh 31:3; bandingkan Ulangan 16:16) dan sesudah Pembuangan (Ezra 3:4; Zakharia 14:6, 18-19). Upacara penumpahan air yang diadakan dalam pesta ini sesudah zaman Pembuangan, dan yang dicerminkan dalam pengumuman Yesus di Yohanes 7:37 dab, tidak ditetapkan dalam Pentateukh. Upacara ini mengakui bahwa hujan merupakan pemberian Tuhan yg dibutuhkan supaya tanah subur (bandingkan Zakharia 14: 17; 1 Samuel 7:6).

Namun inti dari pelaksanaan hari raya Pondok Daun ini adalah untuk mengingatkan orang Yahudi akan keluaran dari Mesir dan pengembaraan Israel di padang gurun pada saat mereka tinggal di pondok (Imamat 23:43). Hari raya ini adalah suatu peringatan dan syukur terhadap perbuatan Tuhan yang ajaib dalam kehidupan umat Israel. Kegiatan ini bukan saja sekedar pesta dan perayaan biasa, namun mengandung unsur-unsur penting, yakni:

1.       Tanda Ketaatan (ay.34)
Melaksanakan hari raya itu bukan berasal dari ide Musa atau kemauan Israel sendiri. Namun dari ayat 1 dst, termasuk ayat 34, pelaksanaan hari-hari raya tersebut dilakukan atas perintah TUHAN, Allah Israel. Dengan kata lain, jika mereka melakukan maka itu merupakan wujud ketaatan umat kepada Allah mereka.

2.       Ibadah kepada Allah (ay.35)
Hari-hari raya tersebut dilakukan dalam bentuk “Pertemuan Kudus”. Hal awalnya dilakukan di sekitar kemah pertemuan yang kemudiaan hari setelah Bait Allah dibangun, dilaksanakan di Bait Allah. Pertemuan itu menjadi kudus karena kehadiran Allah Yang Maha Kudus dalam kumpulan umat yang merayakan. Dengan kata lain, melakukan hari-hari raya tersebut adalah wujud peribadahan kepada Tuhan dan bukan sekedar perkumpulan biasa, atau pesta dan kemeriahan.

3.       Dipersiapkan dengan matang (ay.36)
Pada ayat 35 disebutkan agar mereka tidak melakukan pekerjaan yang berat. Selanjutnya dalam ayat 36 tjuh hari lamanya mereka berada dipondok sambil mempersembahkan korban bakaran atau korban api-apian. Tidak mudah melakukannya. Sudah pasti memerlukan persiapan. Itulah sebabnya tidak boleh ada pekerjaan berat supaya umat focus pada persiapan pelaksanaan perayaan tersebut.

4.       Unsur syukur ditonjolkan (ay.37)
Pada perayaan itu umat wajib memberi persembahan dalam bentuk korban bakaran, korban sajian, korban sembelihan dll. Hari raya itu merupakan wujud syukur yang ditandai dengan pemberian persembahan. Dengan demikian, setiap mereka melaksanakan hari-hari raya tersebut, umat Israel secara langsung diarahkan bahwa bentuk perayaan itu juga sebagai tanda datang bersyukur kepada Tuhan. Itulah sebabnya, ibadah Israel identik dengan syukur dan persembahan, karena mereka tidak pernah datang kepada Tuhan dengan tangan hampa (bd.

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan uraian Firman Tuhan di atas, maka ada beberapa pokok penting yang menjadi bahan renungan untuk kita terapkan dalam kehidupan moderen saat ini, yaitu:

1. Apakah makna perayaan hari-hari raya gerejawi yang kita lakukan saat ini? Setiap perayaan hari raya Israel bukan saja mengandung makna namun juga sarat dengan didikan dan ajaran tentang Tuhan.mereka merasayakan pondok daun bertujuan untuk mengenang dan mengingat perbuatan Tuhan yang ajaib dalam perjalanan pengembaraan di Mesir dan juga rasa syukur atas panen diyakini sebagai berkat Tuhan. 

Jika mereka melakukannya tiap tahun sebagai suatu bentuk ketaatan, maka dari generasi ke   generasi Israel diajarkan untuk mengingat Tuhan dan bersyukur kepadaNya. Kitapun harusnya demikian. Bahwa setiap kegiatan perayaan yang kita buat harusnya mengndung makna pokok yang penting yakni bagi Tuhan dan untuk Tuhan. Sekaligus sebagai bahan pengajaran kepada generasi seterusnya tentang kemurahan Tuhan.

Artinya, fokus perayaan jangan hanya soal kemeriahan dan anggaran besar, sekedar melaksanakan program kerja dan atau hanya berupa rutinitas belaka. Kegiatan yang dilakukan harusnya fokus pada kemuliaan Tuhan untuk mengingat kemurahan dan kebaikan Tuhan. Itulah yang menjadi pokok ajaran kepada generasi seterusnya agar mereka tidak mengabaikan perayaan2 gerejawi yang harus dilaksanakan.

2.       Kegiatan perayaan gerejawi harus dilakukan sebagai wujud ketaatan kepada Allah yang diselenggarakan dengan khidmat dan kekudusan karena Tuhan diundang hadir saat itu. Ini berarti bahwa umat Tuhan termasuk kita saat ini tidaklah tepat memandang suatu perayaan sekedar pesta yang mengumbar kemeriahan tanpa menekankan kekudusan. Kita perlu menyiapakan dengan baik dan melakukan dengan sempurna karena Sang Maha Sempurna hadir dalam pertemuan itu.

Karena itu marilah mengajar anak-anak dan generasi kedepan; termasuk anggota keluarga kita agar bersungguh-sunguh memaknai tiap hari raya dengan benar dan tepat. Benar dan tepat adalah terukur dengan tujuan yang mulia, yakni untuk Tuhan dan bagi kemuliaan Tuhan. Amin.

Saturday, March 28, 2015

BERKAT ATAU KUTUK

IMAMAT 26 : 1- 6

“Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu hari ini berkat dan kutuk:...berkat, apabila kamu mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini...dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah Tuhan Allahmu dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal”
(Ul 11: 26-28)

Saudara-saudaraku...
Dewasa ini masih bayak orang Kristen yang keliru dalam memahami arti kata “Berkat dan Kutuk”. Ada yang dengan senang hati mempercayai adanya berkat, tetapi meragukan adanya kutuk karena dianggap berbau tahayul dalam dogeng-dongeng zaman purba. Padangan demikian sesungguhnya tidak realistis. Padahal di dalam dunia ini  ada dua kekuatan (magnit) yang saling tarik menarik, dua sisi yang saling berlawanan. Dua kutub magnit kekuatan yang sangat mempengaruhi hidup manusia. Misalnya, ada gelap dan terang, panas dan dingin, kebaikan dan keburukan, Rasul Paulus katakan, hidup dan roh dan hidup dalam daging, demikian halnya dengan berkat dan kutuk. Bahkan kata-kata berkat dalam Alkitab tercatat kurang lebih 410, sedangkan kata kutuk dalam berbagai bentuk tertulis kurang lebih 230 kali. Jadi unsur dikotomi antara keduanya selalu ada dan terhadap kedua kutub magnit kekuatan ini, manusia diminta untuk menentukan sikap!

Disamping itu ada yang menganggap bahwa kekayaan, kemakmuran, keberhasilan dan sejenisnya dijadikan standar penilaian untuk “berkat” atau orang-orang yang “diberkati Tuhan”. Sedangkan malapetaka, kemiskinan, penderitaan atau jenis bencana lainnya dijadikan standar penilaian untuk “kutuk” atau orang-orang yang “dikutuk Tuhan”. Seolah-olah  mereka yang mengalami bencana, penderitaan, miskin dan berkekurangan berarti ia tidak diberkati Tuhan atau menerima kutukan. Apakah benar demikian ? Marilah kita belajar dari apa yang dikatakan Ulangan 11: 26-28 dan terutama yang menjadi renungan kita hari ini Imamat 26:1-6
Refleksi terhadap teks
Sejak manusia memilih tidak taat dan memberontak kepada aturan Allah maka sejak itulah manusia kehilangan kemuliaan Allah, manusia kehilangan berkat Ilahi. (Rom 3: 23; 6:23)Dosa dipahami bukan sekedar pelanggaran moral etis tetapi sikap memberontak kepada Allah, pelanggaran terhadap kehendak Allah, yakni menolak otoritas Allah sebagai sumber berkat yang menentukan tujuan hidup manusia. Karena itu dosa mengandung konsekwensi-konsekwensi logis, apakah kita akan hidup dengan “berkat Ilahi”atau tetap hidup dalam “kutukan”.

Kata berkat berasal dari kata benda “barakh” bentuk aktifnya adalah kata kerja “brk” yang diucapkan untuk memberkati dengan menyebut nama Yahweh. Bentuk pasifnya adalah dari kata kerja “bruk” yang digunakan untuk Yahwe. Ibr, memperlihatkan dua ciri kata berkat, yaitu “brk” dalam bentuk. qal: “to knell” (Maz. 95:6; 2Taw. 6:13), dalam bentuk hiphil: “to make(camels) kneel” (Kej. 24:11). Yang kedua dari kata benda “berekh”: “knee”(Yes.45:23) Selain itu, kata ini juga digunakan untuk mengambarkan relasi antara atasan dan bawahan, yaitu ketika bertemu dengan atasannya maka bawahan harus berlutut. Dalam bahasa Semitic juga diterjemahkan: “knee”, “blessing”.

Dalam PL berkat adalah kemurahan yang dikaruniakan Allah kepada umatNya, seperti pada waktu panen (Ul. 28:8). Berkat juga merupakan salah satu dari kata-kata pujian bagi Allah atau kata-kata untuk membuat seseorang atau sesuatu menjadi kudus”. Kata “berakah” atau bahasa Arab“barokah”. Kata berkat juga sering dihubungkan dengan karunia benda, seperti material (Ul. 11:26; Amsl. 10:22; 28:20; Yes. 19:24 dll) berkat adalah karya Allah (Kej. 1:22), penyembahan dan pujian kepada-Nya (Kej. 24:48), pemilihanTuhan (Ul. 19:2, 7; 10:8) berkaitan dengan kesetiaan pada perjanjian Tuhan (Ul.28:15-46).

Paulus memakai kebenaran tentang berkat ini untukmenjelaskan ajaran penyelamatan Allah didalam pengorbanan Tuhan Yesus kristusdiatas kayu salib (salib lambang dari kutuk). Hukum menjadi kutuk bagi mereka yanggagal menaatinya, tapi Kristus menyelamatkan kita dengan menjadi kutuk bagikita. (Gal 3: 10,13) Berkat itu adalah anugerah dan kasih karunia Allah, yangharus dilihat secara holistik (tidak berbicara soal material saja, tetapikeseluruhan hidup manusia kini dan mendatang) dan otoritas berkat itu ada padaAllah sendiri sebagai sumber berkat  dalamrelasiNya dengan manusia. Jadi kita melihat di sini bahwa relasi adalahsegalanya untuk menentukan apakah manusia hidup dalam “berkat Ilahi” atau hidupdalam  “kutukan”.

Sekarang kita bicara tentang kutuk. Adakah disaat-saat tertentu Saudara berpikir, mengapa kehidupan saya nampaknya terus menderita, gagal dan tidak lepas dari masalah, apakah saya telah terkena suatu kutuk tertentu? Bagaimana jalan keluarnya? Benarkah demikian ?
Ungkapan kata “kutuk”  kebalikan dari berkat. Dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan dengan “kutuk” adalah “qlalah alah arar” dalam LXX diterjemahkan dengan “kitara, kataraomai, epikataratos. Di luar PL kutuk berasal dari akar kata “lh” asli dari bahasa Arab. Bentuk kata yang lainnya adalah “lw” dan “alwe” dan benuk konstruknya adalah “lt” yang berarti “kutuk’dan “janji”.  Arti asasi dari “kutuk  atau “pengutukan” dimana seseorang dapat mengucapkan kutuk, menginginkan kerugian orang lain (Ayub 31:30; Kej12:3); atau untuk menguatkan janjinya sendiri (Kej 24:41; 26:28; Neh 10:29); atau untuk menjamin kebenaran kesaksiannya dalam hukum (1 Raj 8:31; bnd Kel 22:11). Jika Allah mengucapkan kutuk,pertama-tama ialah celaan atas dosa (Bil 5:21, 23; Ul 29:19, 20); kedua, kutuk itu ialah penghukumanNya atas dosa (Bil 5:22, 24, 27; Yes 24:6); dan ketiga, orang yang menderita akibat-akibat dosa karena penghakiman Allah disebut suatu kutuk (Bil5:21, 27; Yer 29:18).

Alat atau sarana dasar yang dipakai sebagai perantara(medium) untuk menyampaikan berkat atau kutuk adalah “kata-kata” atau “ucapan”dan tulisan atau dalam hati (baca Ams 11:9; 12:18;  15:4; 18:21) Yakobus memakai contoh yang menarik yang menekankan bahwa kata-kata memiliki kuasa yang luar biasa yang dapat berpengaruh terhadap manusia maupun keadaan tertentu dan pengaruh yang ditimbulkannya ada yang bersifat baik (mendatangkan berkat) dan ada yangbersifat tidak baik (yang mendatangkan kutuk) dengan mengatakan: “dengan lidah kita memuji Tuhan Bapa kita dan dengan lidah kita mengutuki manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk, hal- ini Saudara-saudara tidak boleh demikian terjadi” (baca Yak 3:5-6;9-10)

Dalam konteks Imamat pasal 26:1-6 secara khusus berbicara tentang ucapan berkat, antara lain dikatakan: “aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan diladangmu akan memberi buahnya (band. Ul 28:1,2) ...kamu akan makanan makananmu sampai kenyangdan diam dinegerimu dengan aman tenteram...Aku akan memberi damai sejahtera didalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu dan pedang tidak akan melintas dinegerimu” (ay 4, 5b,6)

Siapa kah yang tidak mau menerima janji berkat seperti ini? dimana tanah tempat kita tinggal diberkati Tuhan, kita juga  diberkati secara ekonomi, dan tidak ada kekerasan, kriminalitas atau peperangan tetapi kita hidup dengan aman tenteram dan dalam damai sejahteraNya. Setiap Saudara pasti senang ketika dijanjikan dengan berkat-berkat seperti ini bukan!. Sayangnya, banyak orang hanya mau menerima berkat Tuhan, tetapi tidakmau hidup sesuai dengan kehendakNya agar berkatNya dicurahkan!

Ada konsekwensi logis agar supaya kita menerima berkat-berkatNya.Apakah itu?  Seperti yang dikatakan diayat 1 dan 2 “Janganlah kamu  membuat berhala bagimu dan patung atau tugu berhala, janganlah kamu dirikan bagimu; juga batuberukir, janganlah kamu tempatkan dinegerimu untuk sujud menyembah kepadanya,sebab Akulah Tuhan, Allahmu..kamu harus memelihara hari-hari SabatKu danmenghormati tempat kudusKu, Akulah Tuhan”.

Artinya, kalau kita sudah percaya kepada Tuhan Yesus, jangan lagi percaya dan pergi menyembah berhala-berhala, kedukun-dukun, paranormal, orang pinter. Hal-hal inilah yang akan menjadi kutuk bagi kita! Kita harus membangun relasi kita  yang baik dan benar dengan Tuhan atau memelihara persekutuan yang intim denganTuhan. Relasi seseorang dengan Tuhan akan memberi penjelasan apakah kita hidup dalam berkat Ilahi atau dalam kutuk. Jika kekayaan membuat seseorang itu menjauhkan diri dari Tuhan, maka itu adalah kutuk, karena kekayaan tidak memberi jaminan orang bisa hidup sejahtera, sukacita dan bahagia. Hanya ada satu jalan keluar yang disediakan Allah yaitu melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus diatas kayu  salib. (salib adalah lambang kutuk)

Bahkan dikatakan selanjutnya “...tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu..jikalau kamu menolak ketetapanKu dan hatimu muak mendengar peraturanKu sehingga kamu tidak melakukan segala perintahKu dan kamu mengingkari perjanjianKu...maka kamu Akupun akan mendatangkan kekejutan atasmu, batuk kering serta demam yang membuat mata rusak dan jiwa merana; kamu akan sia-sia menabur benihmu, hasilnya akan habis dimakan musuhmu” (ay 14-16; baca ay 17-39)

Lebih keras lagi diingatkan dan diulangi di keluaran, dimana umat diperhadapkan pada pilihan, apakah mereka mau hidup dalam berkat atau kutuk dan pilihan itu akan menentukan apa yang akan terjadi dengan kehidupan dan masa depan mereka, “Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu hari ini berkat dan kutuk: ...berkat, apabila kamumendengarkan suara Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hariini...dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah Tuhan Allahmu dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal” (Ul 11: 26-28)


Jadi yang menentukan semuanya apakah itu berkat atau kutuk adalah seperti apa relasi Saudara dengan Tuhan. Jika relasinya harmonis, yakni apapun yang seseorang alami, entah senang ataupun susah, entah gagal atau berhasil, entah berkempihan berkat atau tidak, jika Saudara semakin dekat dengan Tuhan maka itu  adalah berkat bagiSaudara. Dan jika sebaliknya yang terjadi, sekalipun Saudara memiliki segalanya (kelimpahan berkat) tetapi ternyata hidup Saudara semakin hari semakin jauh diadari Tuhan sehingga relasinya terputus maka itu adalah kutuk. Amin 

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...