Monday, October 15, 2012

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 17 OKTOBER 2012


2 TIMOTIUS 2:22-26

PENDAHULUAN
Filippo Inzaghi adalah seorang striker sepakbola asal Italia. Gaya permainan bolanya tidak secantik Ronaldinho-pemain nasional Brasil. Tubuhnya kecil, kecepatan larinya pun rata-rata. Namun, yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya mencari ruang kosong, sehingga setiap serangan yang ia buat menjadi efektif. Tak banyak gaya, tetapi gol tercipta. Itulah yang membuatnya menjadi striker yang tetap diandalkan oleh AC Milan, timnya, meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Prinsip ini senada dengan nasihat Paulus kepada Timotius untuk mengajaknya melakukan pelayanan dengan strategi pelayanan yang lebih efektif.

TELAAH PERIKOP
Ayat-ayat yang kita baca adalah nasihat Paulus kepada Timotius yang hendak menjadi hamba Tuhan agar lebih efektif dan kreatif. Apakah yang harus dilakukan oleh Timotius? Ada beberapa pokok yang ditekankan Paulus, yakni:
1.       Utamakan Hal-Hal Yang mulia
Agar pelayanannya berhasil, Timotius diminta untuk tidak mengejar nafsu orang muda (ayat 22), tetapi menyalurkan energi dan waktunya untuk hal-hal yang lebih berguna. Timotius adalah seorang Pelayan yang masih berusia muda. Orang muda biasanya lebih tidak sabar, rapuh, mudah goyah dan gampang tergoda. Itu semua disebut Paulus sebagai nafsu orang muda dan hal itulah yang harus dihindari Timotius. Bagaimana caranya? Timotius dimintakan untuk memikirkan, menginginkan dan melakukan hal-hal yang lebih tinggi dan mulia dari pada ”nafsu orang muda” tersebut.

Yang dimaksud Paulus adalah, sebagai seorang hamba Tuhan, Timotius justru harus lebih mengutamakan keadilan, kesetiaan, kasih dan damai ketika hidup dalam kebersamaan persekutuan dan jemaat. Nampaknya saat surat ini ditulis, Timotius sedang menghadapi orang-orang yang menghambatnya dan sengaja mengacaukan pelayanannya.

2.       Berani Tampil Beda
Biasanya pertengkaran hanya mungkin terjadi jika melibatkan minimal dua orang atau dua kelompok. Pertengkaran muncul akibat hadirnya aksi yang berlebihan yang dibarengi dengan reaksi yang tidak kalah berlebihan pula. Hal inilah yang dimaksud Paulus dalam ayat 23-24 bacaan kita. Adalah lebih bijak menurut Paulus untuk menghindari pertengkaran dari pada berusaha masuk dan terjun dalam arena pertengkaran tersebut.

Timotius dimintakan untuk berani tampil beda dan lebih banyak untuk mengalah. Sebab seorang hamba Tuhan sangat disayangkan jika terlibat dalam pertengkaran dan menghamburkan emosi yang sia-sia itu. Kunci untuk terhindar dari pertengkaran adalah dengan berusaha tetap ramah kepada siapaun termasuk orang yang memusuhinya; dan sabar menghadapi setiap cercaan tersebut.

3.       Membunuh Musuh dengan menjadikannya seorang Saudara
Hal inilah yang ditekankan Paulus kepada Timotius dalam ayat 25-26 ketika ia menghadapi banyak penentang dalam pelayanannya. Daripada menciptakan musuh, Paulus mengajak untuk mengeyahkan musuh-musuh Timotius dengan cara menyadarkan mereka dan menggiring mereka kepada kebenaran sehingga dapat mengubah mereka menjadi sahabat dan saudara dalam iman pada Yesus Kristus.

Bagaimana caranya? Timotius harus memiliki kecakapan mengajar yang mumpuni dan strategi jitu untuk menuntun seorang yang suka melawan dan mencari-cari persoalan itu ke arah pengenalan akan Allah. Timotius harus memberikan kesempatan tiap pribadi untuk bertobat dan mengalami pemulihan iman dan kesembuhan rohani dengan cara memimpin mereka agar sadar dari jalan yang salah itu.  

Aplikasi dan Relevansi
Merawat kuku gajah bukanlah kemewahan, melainkan lebih pada keharusan. Menurut artikel dalam The Kansas City Star, jika kaki gajah-gajah yang ditangkap tidak dirawat secara teratur, mereka akan cenderung terkena infeksi yang dapat berakibat fatal. Akan tetapi, menggunting kuku kaki binatang yang bobotnya bisa mencapai 6 ton itu merupakan pekerjaan berbahaya. Jadi, ada orang yang memunculkan sebuah ide. Ia mengembangkan alat bernama “sirip untuk gajah” yang dapat mempermudah para pawang dalam menenangkan seekor gajah dengan mengaktifkan alat itu di samping gajah. Alat itu tingginya 3,6 meter, beratnya lebih dari 15 ton, dan harganya kurang lebih 900 juta rupiah. Beberapa kebun binatang telah membeli alat yang sangat membantu ini. Kegiatan ini disebut dengan strategi menghadapi masalah dengan resiko yang kecil.

Memerhatikan orang lain juga bisa berisiko. Paulus menjelaskan bahwa menolong orang yang telah menyimpang dari jalan kebenaran juga bisa mengandung bahaya. Namun, Paulus tak menawarkan alat canggih untuk menolong orang-orang yang membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain (2 Timotius 2:23,25). Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ketika kita harus memerhatikan pikiran dan perasaan orang lain, kita tak dapat bergantung pada kecerdikan dan otot manusia. Yang sangat kita perlukan adalah hikmat Allah. Pelayan Tuhan tak boleh memicu pertengkaran atau menjadi sombong. Sebaliknya, ia harus lemah lembut dan sabar (ayat 24).

Memadukan kebenaran dan kasih karunia saat menghadapi bahaya, jauh lebih baik daripada sikap melindungi diri sendiri. Sikap ini menggambarkan hati Pribadi yang ingin kita perkenalkan kepada orang-orang yang menyimpang itu

Sekarang coba kita terapkan nasihat ini bagi kita secara pribadi. Adakah kita masih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna; seperti bertengkar, menggosip, menjelekkan orang lain, dan sebagainya? Waktu yang ada begitu singkat dan tak akan terulang, jadi sudah seharusnya kita menggunakan waktu untuk melakukan hal-hal dan aktivitas yang menyenangkan hati Tuhan. Apalagi Tuhan memberi kita tugas untuk mengajar dan menuntun orang lain (ayat 24,25). Jangan buang waktu lagi, hiduplah efektif bagi Allah! Amin.


GUNAKAN SIKAP BIJAK DAN penuh kasih
SAAT MENYADARKAN KEMBALI ORANG YANG TERSESAT

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 17 OKTOBER 2012


2 TIMOTIUS 2:22-26

PENDAHULUAN
Filippo Inzaghi adalah seorang striker sepakbola asal Italia. Gaya permainan bolanya tidak secantik Ronaldinho-pemain nasional Brasil. Tubuhnya kecil, kecepatan larinya pun rata-rata. Namun, yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya mencari ruang kosong, sehingga setiap serangan yang ia buat menjadi efektif. Tak banyak gaya, tetapi gol tercipta. Itulah yang membuatnya menjadi striker yang tetap diandalkan oleh AC Milan, timnya, meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Prinsip ini senada dengan nasihat Paulus kepada Timotius untuk mengajaknya melakukan pelayanan dengan strategi pelayanan yang lebih efektif.

TELAAH PERIKOP
Ayat-ayat yang kita baca adalah nasihat Paulus kepada Timotius yang hendak menjadi hamba Tuhan agar lebih efektif dan kreatif. Apakah yang harus dilakukan oleh Timotius? Ada beberapa pokok yang ditekankan Paulus, yakni:
1.       Utamakan Hal-Hal Yang mulia
Agar pelayanannya berhasil, Timotius diminta untuk tidak mengejar nafsu orang muda (ayat 22), tetapi menyalurkan energi dan waktunya untuk hal-hal yang lebih berguna. Timotius adalah seorang Pelayan yang masih berusia muda. Orang muda biasanya lebih tidak sabar, rapuh, mudah goyah dan gampang tergoda. Itu semua disebut Paulus sebagai nafsu orang muda dan hal itulah yang harus dihindari Timotius. Bagaimana caranya? Timotius dimintakan untuk memikirkan, menginginkan dan melakukan hal-hal yang lebih tinggi dan mulia dari pada ”nafsu orang muda” tersebut.

Yang dimaksud Paulus adalah, sebagai seorang hamba Tuhan, Timotius justru harus lebih mengutamakan keadilan, kesetiaan, kasih dan damai ketika hidup dalam kebersamaan persekutuan dan jemaat. Nampaknya saat surat ini ditulis, Timotius sedang menghadapi orang-orang yang menghambatnya dan sengaja mengacaukan pelayanannya.

2.       Berani Tampil Beda
Biasanya pertengkaran hanya mungkin terjadi jika melibatkan minimal dua orang atau dua kelompok. Pertengkaran muncul akibat hadirnya aksi yang berlebihan yang dibarengi dengan reaksi yang tidak kalah berlebihan pula. Hal inilah yang dimaksud Paulus dalam ayat 23-24 bacaan kita. Adalah lebih bijak menurut Paulus untuk menghindari pertengkaran dari pada berusaha masuk dan terjun dalam arena pertengkaran tersebut.

Timotius dimintakan untuk berani tampil beda dan lebih banyak untuk mengalah. Sebab seorang hamba Tuhan sangat disayangkan jika terlibat dalam pertengkaran dan menghamburkan emosi yang sia-sia itu. Kunci untuk terhindar dari pertengkaran adalah dengan berusaha tetap ramah kepada siapaun termasuk orang yang memusuhinya; dan sabar menghadapi setiap cercaan tersebut.

3.       Membunuh Musuh dengan menjadikannya seorang Saudara
Hal inilah yang ditekankan Paulus kepada Timotius dalam ayat 25-26 ketika ia menghadapi banyak penentang dalam pelayanannya. Daripada menciptakan musuh, Paulus mengajak untuk mengeyahkan musuh-musuh Timotius dengan cara menyadarkan mereka dan menggiring mereka kepada kebenaran sehingga dapat mengubah mereka menjadi sahabat dan saudara dalam iman pada Yesus Kristus.

Bagaimana caranya? Timotius harus memiliki kecakapan mengajar yang mumpuni dan strategi jitu untuk menuntun seorang yang suka melawan dan mencari-cari persoalan itu ke arah pengenalan akan Allah. Timotius harus memberikan kesempatan tiap pribadi untuk bertobat dan mengalami pemulihan iman dan kesembuhan rohani dengan cara memimpin mereka agar sadar dari jalan yang salah itu.  

Aplikasi dan Relevansi
Merawat kuku gajah bukanlah kemewahan, melainkan lebih pada keharusan. Menurut artikel dalam The Kansas City Star, jika kaki gajah-gajah yang ditangkap tidak dirawat secara teratur, mereka akan cenderung terkena infeksi yang dapat berakibat fatal. Akan tetapi, menggunting kuku kaki binatang yang bobotnya bisa mencapai 6 ton itu merupakan pekerjaan berbahaya. Jadi, ada orang yang memunculkan sebuah ide. Ia mengembangkan alat bernama “sirip untuk gajah” yang dapat mempermudah para pawang dalam menenangkan seekor gajah dengan mengaktifkan alat itu di samping gajah. Alat itu tingginya 3,6 meter, beratnya lebih dari 15 ton, dan harganya kurang lebih 900 juta rupiah. Beberapa kebun binatang telah membeli alat yang sangat membantu ini. Kegiatan ini disebut dengan strategi menghadapi masalah dengan resiko yang kecil.

Memerhatikan orang lain juga bisa berisiko. Paulus menjelaskan bahwa menolong orang yang telah menyimpang dari jalan kebenaran juga bisa mengandung bahaya. Namun, Paulus tak menawarkan alat canggih untuk menolong orang-orang yang membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain (2 Timotius 2:23,25). Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ketika kita harus memerhatikan pikiran dan perasaan orang lain, kita tak dapat bergantung pada kecerdikan dan otot manusia. Yang sangat kita perlukan adalah hikmat Allah. Pelayan Tuhan tak boleh memicu pertengkaran atau menjadi sombong. Sebaliknya, ia harus lemah lembut dan sabar (ayat 24).

Memadukan kebenaran dan kasih karunia saat menghadapi bahaya, jauh lebih baik daripada sikap melindungi diri sendiri. Sikap ini menggambarkan hati Pribadi yang ingin kita perkenalkan kepada orang-orang yang menyimpang itu

Sekarang coba kita terapkan nasihat ini bagi kita secara pribadi. Adakah kita masih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna; seperti bertengkar, menggosip, menjelekkan orang lain, dan sebagainya? Waktu yang ada begitu singkat dan tak akan terulang, jadi sudah seharusnya kita menggunakan waktu untuk melakukan hal-hal dan aktivitas yang menyenangkan hati Tuhan. Apalagi Tuhan memberi kita tugas untuk mengajar dan menuntun orang lain (ayat 24,25). Jangan buang waktu lagi, hiduplah efektif bagi Allah! Amin.


GUNAKAN SIKAP BIJAK DAN penuh kasih
SAAT MENYADARKAN KEMBALI ORANG YANG TERSESAT

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 17 OKTOBER 2012


2 TIMOTIUS 2:22-26

PENDAHULUAN
Filippo Inzaghi adalah seorang striker sepakbola asal Italia. Gaya permainan bolanya tidak secantik Ronaldinho-pemain nasional Brasil. Tubuhnya kecil, kecepatan larinya pun rata-rata. Namun, yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya mencari ruang kosong, sehingga setiap serangan yang ia buat menjadi efektif. Tak banyak gaya, tetapi gol tercipta. Itulah yang membuatnya menjadi striker yang tetap diandalkan oleh AC Milan, timnya, meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Prinsip ini senada dengan nasihat Paulus kepada Timotius untuk mengajaknya melakukan pelayanan dengan strategi pelayanan yang lebih efektif.

TELAAH PERIKOP
Ayat-ayat yang kita baca adalah nasihat Paulus kepada Timotius yang hendak menjadi hamba Tuhan agar lebih efektif dan kreatif. Apakah yang harus dilakukan oleh Timotius? Ada beberapa pokok yang ditekankan Paulus, yakni:
1.       Utamakan Hal-Hal Yang mulia
Agar pelayanannya berhasil, Timotius diminta untuk tidak mengejar nafsu orang muda (ayat 22), tetapi menyalurkan energi dan waktunya untuk hal-hal yang lebih berguna. Timotius adalah seorang Pelayan yang masih berusia muda. Orang muda biasanya lebih tidak sabar, rapuh, mudah goyah dan gampang tergoda. Itu semua disebut Paulus sebagai nafsu orang muda dan hal itulah yang harus dihindari Timotius. Bagaimana caranya? Timotius dimintakan untuk memikirkan, menginginkan dan melakukan hal-hal yang lebih tinggi dan mulia dari pada ”nafsu orang muda” tersebut.

Yang dimaksud Paulus adalah, sebagai seorang hamba Tuhan, Timotius justru harus lebih mengutamakan keadilan, kesetiaan, kasih dan damai ketika hidup dalam kebersamaan persekutuan dan jemaat. Nampaknya saat surat ini ditulis, Timotius sedang menghadapi orang-orang yang menghambatnya dan sengaja mengacaukan pelayanannya.

2.       Berani Tampil Beda
Biasanya pertengkaran hanya mungkin terjadi jika melibatkan minimal dua orang atau dua kelompok. Pertengkaran muncul akibat hadirnya aksi yang berlebihan yang dibarengi dengan reaksi yang tidak kalah berlebihan pula. Hal inilah yang dimaksud Paulus dalam ayat 23-24 bacaan kita. Adalah lebih bijak menurut Paulus untuk menghindari pertengkaran dari pada berusaha masuk dan terjun dalam arena pertengkaran tersebut.

Timotius dimintakan untuk berani tampil beda dan lebih banyak untuk mengalah. Sebab seorang hamba Tuhan sangat disayangkan jika terlibat dalam pertengkaran dan menghamburkan emosi yang sia-sia itu. Kunci untuk terhindar dari pertengkaran adalah dengan berusaha tetap ramah kepada siapaun termasuk orang yang memusuhinya; dan sabar menghadapi setiap cercaan tersebut.

3.       Membunuh Musuh dengan menjadikannya seorang Saudara
Hal inilah yang ditekankan Paulus kepada Timotius dalam ayat 25-26 ketika ia menghadapi banyak penentang dalam pelayanannya. Daripada menciptakan musuh, Paulus mengajak untuk mengeyahkan musuh-musuh Timotius dengan cara menyadarkan mereka dan menggiring mereka kepada kebenaran sehingga dapat mengubah mereka menjadi sahabat dan saudara dalam iman pada Yesus Kristus.

Bagaimana caranya? Timotius harus memiliki kecakapan mengajar yang mumpuni dan strategi jitu untuk menuntun seorang yang suka melawan dan mencari-cari persoalan itu ke arah pengenalan akan Allah. Timotius harus memberikan kesempatan tiap pribadi untuk bertobat dan mengalami pemulihan iman dan kesembuhan rohani dengan cara memimpin mereka agar sadar dari jalan yang salah itu.  

Aplikasi dan Relevansi
Merawat kuku gajah bukanlah kemewahan, melainkan lebih pada keharusan. Menurut artikel dalam The Kansas City Star, jika kaki gajah-gajah yang ditangkap tidak dirawat secara teratur, mereka akan cenderung terkena infeksi yang dapat berakibat fatal. Akan tetapi, menggunting kuku kaki binatang yang bobotnya bisa mencapai 6 ton itu merupakan pekerjaan berbahaya. Jadi, ada orang yang memunculkan sebuah ide. Ia mengembangkan alat bernama “sirip untuk gajah” yang dapat mempermudah para pawang dalam menenangkan seekor gajah dengan mengaktifkan alat itu di samping gajah. Alat itu tingginya 3,6 meter, beratnya lebih dari 15 ton, dan harganya kurang lebih 900 juta rupiah. Beberapa kebun binatang telah membeli alat yang sangat membantu ini. Kegiatan ini disebut dengan strategi menghadapi masalah dengan resiko yang kecil.

Memerhatikan orang lain juga bisa berisiko. Paulus menjelaskan bahwa menolong orang yang telah menyimpang dari jalan kebenaran juga bisa mengandung bahaya. Namun, Paulus tak menawarkan alat canggih untuk menolong orang-orang yang membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain (2 Timotius 2:23,25). Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ketika kita harus memerhatikan pikiran dan perasaan orang lain, kita tak dapat bergantung pada kecerdikan dan otot manusia. Yang sangat kita perlukan adalah hikmat Allah. Pelayan Tuhan tak boleh memicu pertengkaran atau menjadi sombong. Sebaliknya, ia harus lemah lembut dan sabar (ayat 24).

Memadukan kebenaran dan kasih karunia saat menghadapi bahaya, jauh lebih baik daripada sikap melindungi diri sendiri. Sikap ini menggambarkan hati Pribadi yang ingin kita perkenalkan kepada orang-orang yang menyimpang itu

Sekarang coba kita terapkan nasihat ini bagi kita secara pribadi. Adakah kita masih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna; seperti bertengkar, menggosip, menjelekkan orang lain, dan sebagainya? Waktu yang ada begitu singkat dan tak akan terulang, jadi sudah seharusnya kita menggunakan waktu untuk melakukan hal-hal dan aktivitas yang menyenangkan hati Tuhan. Apalagi Tuhan memberi kita tugas untuk mengajar dan menuntun orang lain (ayat 24,25). Jangan buang waktu lagi, hiduplah efektif bagi Allah! Amin.


GUNAKAN SIKAP BIJAK DAN penuh kasih
SAAT MENYADARKAN KEMBALI ORANG YANG TERSESAT

Friday, October 12, 2012

BAHAN RENUNGAN IBADAH MINGGU 14 OKTOBER 2012


 2 TIMOTIUS 2:1-7

A. Pendahuluan
Christian A. Schwarz, peneliti pertumbuhan gereja alamiah, mendapat pertanyaan yang mengubah pemikirannya tentang kehidupan yang berbuah. Donald McGravan, yang dihormatinya sebagai bapak pertumbuhan gereja, suatu ketika menanyainya, "Apakah buah sejati sebatang pohon apel?" Dengan naif Schwarz menjawab, "Tentu saja buah apel." McGravan tampaknya sudah menduga jawaban itu. "Salah, " katanya, kemudian terdiam sejenak penuh arti. "Buah sejati pohon apel bukan buah apel, melainkan bertumbuhnya pohon apel lainnya yang juga menghasilkan." Berbuah, dengan demikian, sebenarnya bukan sekadar menghasilkan buah, melainkan melipatgandakan kehidupan yang serupa.

Paulus pun mengemukakan prinsip pelipat-gandaan tersebut dalam hal pemuridan orang percaya (ayat.2). Ia mendorong Timotius agar tidak berpuas diri hanya dengan mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada jemaat yang dipimpinnya. Anggota jemaat harus diperlengkapi sedemikian rupa, sehingga mereka bukan hanya memahami dengan baik dan menerapkan kebenaran yang diajarkan, melainkan mampu pula mengajarkan lagi kebenaran itu kepada orang lain. Estafet pengajaran ini merupakan salah satu faktor yang menunjang pertumbuhan gereja.

B. Telaah Perikop
Paulus menasihatkan Timotius, anak rohaninya, agar mempercayakan apa yang telah ia peroleh dari Paulus kepada orang lain yang dapat dipercaya, yang juga cakap untuk mengajar orang lain (ay. 2). Paulus ingin agar Timotius mempercayakan Firman Tuhan dan ajaran Tuhan kepada orang lain. Tentunya, Paulus dan juga Tuhan menginginkan agar Firman Tuhan itu tidak berhenti hanya di satu generasi saja, sehingga Paulus mengingatkan Timotius juga mencari orang yang dapat dipercaya dan yang juga cakap mengajar orang lain.

Paulus menekankan agar Timotius melakukan semuanya itu bukan karena terpaksa, tetapi karena Timotius sadar akan panggilannya dalam pelayanan. Paulus mengibaratkan Timotius sebagai seorang yang melaksanakan 3 profesi, yakni sebagai seorang prajurit, olahragawan atau atlet, dan juga sebagai seorang petani. Sebagai seorang prajurit, berarti Paulus ingin agar Timotius hanya memfokuskan diri pada apa yang diinstruksikan oleh komandannya (ayat 4). Ketika bertugas, seorang prajurit seharusnya hanya melakukan instruksi komandannya. Untuk hal-hal lainnya, komandan itulah yang bertanggung jawab, termasuk untuk hal-hal kecil seperti makanan, gaji, dan lain-lain. Apalagi jika komandan kita adalah Tuhan Yesus sendiri (ay. 3), pasti Tuhan akan memberikan yang lainnya ketika kita mau sungguh-sungguh melakukan apa yang Tuhan mau (Mat 5:33).

Sama juga dengan seorang atlet. Ketika akan bertanding, atlet yang baik seharusnya akan berlatih keras serta memfokuskan diri untuk bertanding. Urusan lain-lainnya tentunya bukan menjadi urusan atlet tersebut, tetapi sudah diurus oleh pelatihnya atau panitia pertandingan. Fokus perhatian seorang atlit hanyalah satu yakni melakukan pertandingan dengan baik sehingga memperoleh mahkota (ay.5). Atlit yang baik adalah pribadi yang bukan hanya mencari juara, namun memikirkan dan disiplin dengan cara mencapai juara tersebut, yakni sesuai dengan aturan yang ada. Paulus meminta Timotius bahwa dalam melaksanakan panggilan pelayanannya, ia harus mengerjakan dengan cara yang benar dan sesuai dengan aturan Ilahi.

Seorang petani pasti akan bersukacita ketika tanamannya akhirnya dipanen (ay. 6), dan tentunya ini menggambarkan Paulus yang akan sangat bersukacita jika ia memiliki anak rohani seperti Timotius, dan pastinya akan lebih bersukacita ketika Timotius dapat mempercayakan Firman Tuhan tersebut kepada orang lain. Bagi Paulus, tanggung-jawab pelayanan yang dilakukan Timotius harusnya menggunakan prinsip kerja seorang Petani, yakni bekerja keras dengan pengharapan pasti, yakni dapat melihat hasil panen nantinya. Kerja keras yang disertai harapan inilah yang harusnya menginspirasi pekerjaan pemberitaan Injil oleh Timotius.

Selanjutnya, Paulus memaparkan kepada Timotius tentang 3 (tiga) prinsip pelayanan yang menjadi panduan khusus sehingga anak rohaninya ini dapat menjalani tanggung-jawab pelayanan yang penuh dengan rintangan ini. Tiga Prinsip dimaksud adalah sbb:
1.       Sumber Kekuatan dalam Pelayanan
Tidak mudah bagi Timotius, menurut Paulus, untuk berhasil melaksanakan tanggung-jawab pelayanannya. Pada pasal 1:7-8 kita menemukan kesan bahwa Timotius mengalami tantangan yang berat saat melayani dan memberitakan Injil Kristus. Tekanan pergumulan dalam pelayanan membawa Timotius dalam kondisi takut terhadap ancaman dan atapun malu terhadap begitu banyaknya cibiran dan celaan terhadap tanggung-jawab nya itu.

Itulah sebabnya, Paulus menekankan bahwa Tomotius haruslah kuat untuk dapat melaksanakan panggilan pelayanannya itu. Sumber kekuatan itu, menurut Paulus, hanyalah berasal dari Yesus Kristus melalui Kasih KaruniaNya itu (ay.1). Hal ini berarti, Timotius dinasehatkan untuk tetap berharap kepada kekuatan yang bersumber dari Allah sendiri. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2Tim 1:7).

2.       Ukuran Keberhasilan Pelayanan
Paulus tidak hanya berpuas diri bahwa apa yang ia ajarkan telah berguna bagi Timotius. Memang benar bahwa pelayanan itu telah berhasil. Namun bagi Paulus, adalah sungguh tidak berfaedah jika Injil itu hanya sampai pada Timotius dan jemaat yang Ia layani. Adalah lebih berhasil jika Injil itu diajarkan kepada para Timotius baru yang juga siap untuk mengajarkan kepada jemaat dan melanjutkan kader yang akan meneruskan berita Injil itu. Timotius di mintakan untuk menyiapkan orang lain agar dapat dipercayakan benih injil untuk diberitakan (ay.2).

Ukuran keberhasilan pelayanan dan pemberitaan injil menurut Paulus bukan hanya membuat orang menjadi percaya pada Yesus Kristus, namun juga mempercayakan benih Injil itu untuk dapat ditaburkan dan diberitakan oleh orang percaya tersebut. Artinya Injil tidak hanya berhenti di suatu tempat, namun tersebar di berbagai tempat melalui terlahirnya para pemberita2 Injil generasi berikut yang melanjutkan estafet penginjilan.

3.       Kepada Siapa pelayanan itu dikerjakan
Penting bagi Paulus untuk menegaskan dan menasehati Timotius bahwa pelayanan yang ia lakukan tidak tergantung pada masalah dan tantangan yang ia hadapi, termasuk reaksi orang terhadap karya yang dikerjakannya. Pelayanan Timotius tidak dikerjakan untuk manusia namun fokus pelayanan itu dikerjakan untuk TUHAN.

Hal inilah yang dimaksud Paulus dalam ayat 3 bacaan kita. Timotius memang akan menderita dalam pelayanannya. Namun penderitaan itu harus diterima sebagai bentuk bakti dan ketaatan seorang prajurit kepada komandannya, yakni Yesus Kristus sang pemilik pelayanan. Pekerjaan memberitakan Injil tidak dilakukan untuk manusia, namun dikerjakan dengan gembira sebagai tugas mulia karena perintah Tuhan Yesus dan demi menyenangkan hatinya.

C. Aplikasi dan Relevansi (perlu dikembangkan sesuai konteks jemaat)

Kita semua juga merupakan orang-orang yang telah dipercayakan Firman Tuhan dari orang lain. Pertanyaan yang penting adalah apakah kita mau mempercayakan Firman Tuhan yang telah kita terima itu kepada orang lain lewat memberitakan itu kepadanya? Mungkin kita mengelak dengan alasan belum siap, tidak berani, atau alasan-alasan yang lainnya. Tetapi ingatlah janji Tuhan bahwa Tuhan akan memberi kekuatan kepada kita melalui kasih karuniaNya (ay. 1), sebagaimana hal itu menjadi sumber kekuatan bagi Timotius.

Memang tidaklah mudah melakukan dan melaksanakan panggilan itu. Ada tantangan dan mungkin juga cemoohan. Namun bukankah seorang prajurit harus siap berkorban? Bukankah seorang prajurit harus patuh dan setia melaksanakan tuntutan komando dari komandan? Kristus adalah pemberi perintah itu dan kita harusnya setia untuk melaksanakannya. Banyak pelayan tersandung dalam pelayanan karena fokus pelayanan telah berubah yakni untuk melayani jemaat dan bukan melayani TUHAN. Efeknya sangat besar. Ukuran keberhasilan dalam pelayanan bukan lagi apakah telah menyenangkan Tuhan, namun lebih pada untuk menyenangkan manusia atau jemaat yang dilayani.

Kita dipanggil untuk melayani dan melaksanakan panggilan itu. Tidak mudah memang karena kebanyakan dari kita lebih banyak merasa tidak siap dan tidak sempurna. Namun, sebagaimana janji untuk Timotius dari Tuhan, demikian pula kita juga dijanjikan sesuatu oleh Tuhan. Bahwa Ia yang memanggil kita akan menyempurnakan dan melengkapi kita, yang salah satunya melalui pemberian pengertian kepada kita dalam segala sesuatu oleh Tuhan yang mengutus kita (ay. 7). Dengan demikian tidak ada alasan bagi kita untuk berkata tidak, melainkan kita harus berkata “Ini aku, utuslah aku” (Yes 6:8). Amin.

Friday, October 5, 2012

BAHAN RENUNGAN IBADAH SEKTOR 10 OKTOBER 2012



KISAH RASUL 16:13-18

A. PENDAHULUAN
Bagi kita yang tidak anti atau alergi dengan produk olahan susu, nikmatnya keju kemungkinan besar pernah Anda rasakan. Namun, tahukah Anda kalau orang pertama yang mematenkan keju olahan yang nikmat tersebut adalah orang yang cinta Tuhan? Orang ini masuk dalam salah satu pebisnis kristen yang terkenal karena imannya dan praktik nilai-nilai kekristenan yang kental mewarnai bisnisnya. Namanya James L. Kraft, pendiri Kraft Foods, Inc., salah satu perusahaan makanan dan minuman terbesar di Amerika Serikat. Selain sukses dalam dunia bisnis— produknya masih bisa kita nikmati hari ini—Kraft juga mendukung pelayanan gereja Baptis dan pendidikan rohani bagi anak-anak muda. Ia adalah seorang pebinis yang dirangkul untuk terlibat dalam pelayanan.

B. GALIAN PERIKOP (Tafsiran)
Dalam usaha pemberitaan Injil di daerah Filipi, ada wanita bernama Lidia di antara rombongan orang-orang yang mendengarkan suaranya. Lidia adalah seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira yang beribadah kepada Allah. Pada zaman itu, kain yang dipakai oleh pembesar-pembesar, orang-orang kaya dan orang- orang terhormat. Wanita pebisnis itu hari itu menjadi orang percaya, dibaptis, dan menjamu Paulus serta rekan pelayanannya di rumahnya.

Dalam rombongan Yesus juga ada beberapa perempuan yang melayani dengan kekayaan mereka. Lukas mencatat bahwa mereka adalah Maria Magdalena, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana, dan banyak perempuan lainnya. Dengan kata lain, Paulus melihat kesempatan penting untuk menggandeng siapaun untuk menjadi kawan sekerja Allah dalam berbagai profesi teramasuk pedagang atau pebisnis seperti Lidia.

Menurut Kisah 16: 12, Kota Pilipi adalah kota perantauan orang Roma. Sedikit kisah tentang orang Roma yang di Pilipi, Pedagang, tetapi juga tukang ramal dan pejabat. Mereka sudah beribadah, tetapi herannya mereka belum percaya kepada Tuhan Yesus.. Filipi adalah kota pertama mekadonia yang menjadi sasaran kunjungan Paulus dan Silas.. Nah kesempatan bagi Paulus untuk memberitakan Injil. Berbicara tentang menangkap kesempatan atau menggunakan kesempatan yang ada, tentu kita harus ingat siapa sebenarnya penulis Kisah para Rasul yang sebagian kecil tadi sudah kita baca. 

Penulis Kisah Para Rasul adalah Lukas, seorang Dokter. Ditengah-tengah kibukan mengobati pasien, mencari uang dan aksi kemanusiaan, menolong orang dari berbagai penyakit, tetapi kesempatan yang ada tidak pernah sia-siakan oleh Dr.Lukas, setiap apa yang dialami dalam berkeliling dari kota ke kota dan dari desa-kedesa, ia abadikan dan saksikan melalui tulisannya. Injil Lukas dan Kisah para Rasul yang memuat sejarah pelayanan Rasul Paulus Khusus dalam pasal yang telah saya bacakan Kisah 16: 13-18, adalah bagaimana Rasul Paulus berhasil menangkap kesempatan.

Bagaimana menangkap kesempatan? 
Ada ungkapan bijak berbunyi demikian: "Orang bodoh membuang kesempatan, orang biasa menunggu kesempatan, orang pintar mencari kesempatan." Dalam pekerjaan Tuhan sangat penting bagi para pelayan Tuhan untuk menangkap setiap kesempatan untuk memajukan pekerjaan Tuhan di dunia ini.
Bacaan hari ini menceritakan pelayanan misi Paulus di Eropa, yang dimulai dari kota Filipi. Ada beberapa prinsip pelayanan Paulus yang bisa kita pelajari.

Pertama, Paulus mencari tempat sebagai jembatan penghubung untuk menjangkau orang-orang di Filipi. Ia pergi ke tempat sembahyang Yahudi (sinagoge). Selain bertemu dengan orang-orang Yahudi, mereka juga berjumpa dengan orang-orang nonYahudi yang ikut beribadah. Sejumlah orang bertobat termasuk Lidia, seorang wanita pengusaha dari Tiatira (13-14).

Kedua, Paulus memanfaatkan dukungan jemaat. Ketika Lidia meminta Paulus dan tim untuk menginap di rumahnya, mereka menyambut dengan baik. Ini merupakan kesempatan yang sangat baik, di mana ada orang-orang yang bersedia menjadi partner dalam pekerjaan misi ( ayat15). Dalam Perjanjian Baru dicatat banyak nama yang menjadi partner para rasul dalam penyebarluasan berita Injil.

Ketiga, siap menghadapi tantangan. Dalam pekerjaan Tuhan, cepat atau lambat pasti akan ada tantangan yang di-hadapi. Kali ini Iblis memakai roh tenung untuk mengganggu pelayanan Paulus dan Silas (16-17). Memang apa yang dikatakan roh tenung itu benar dan mengkonfirmasikan pelayanan Paulus. Namun roh jahat tidak dapat ditolerir karena mereka tidak mau percaya dan menyembah Yesus. Paulus akhirnya mengusir roh jahat tersebut (18).

C. RELEVANSI DAN APLIKASI (Penerapan)
Alkitab mencatat bahwa Lidia adalah seorang pedagang kain ungu. Ia tinggal di Filipi. Meskipun Lidia hanya seorang pendatang di kota Filipi, dari apa yang diceritakan kepada kita dalam Kisah Para Rasul, kita mengetahui bahwa Lidia adalah pedagang kain ungu yang sukses dan juga seorang wanita yang cukup kaya. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa faktor, diantaranya: ia dikenal sebagai penjual kain ungu dari Tiatira, kain ungu adalah kain yang mahal harganya (ayat 14), ia juga memiliki sarana yang cukup untuk menerima Paulus dan teman-teman seperjalanannya di rumahnya (ayat 15) dan juga disebutkan bahwa ia dan juga seisi rumahnya dibaptis (ayat 15). Istilah "seisi rumahnya" mengacu kepada para pelayanannya. Apa yang bisa kita teladani dari sosok Lidia, penjual kain ungu dari tiatira ini?
1.       1Dalam ayat 14 disebutkan bahwa Lidia beribadah kepada Allah. Sebelum bertemu dengan Paulus dan menjadi murid Tuhan Yesus, Lidia sudah beribadah kepada Allah. Kemungkinan dia orang Yahudi atau bangsa lain yang menganut agama Yudaisme (spt. Kornelius dalam Kisah Para Rasul 10). Fakta ini memberitahu kita bahwa Lidia adalah wanita yang memiliki iman kepada Allah, meskipun ia berasal dan tinggal di kota-kota orang kafir. Bahkan lebih dari itu, setelah dia menjadi percaya kepada Tuhan dan dibaptis, ia menjadi sosok yang mendukung pekerjaan pelayanan Paulus dan teman-temannya. Ia memiliki landasan yang kuat untuk hidupnya, yaitu Kristus.

2.       Lidia bekerja dengan sangat baik dalam membangun usahanya. Ia meninggalkan Tiatira dan membangun usahanya sampai ke Filipi dan menetap di sana. Kemungkinan besar Lidia tidak menikah, karena dalam konteks dunia pada waktu itu, jika ia menikah tentu suaminya yang akan mengurus semua urusan pekerjaan dan pencarian nafkah. Tidak mudah bagi seorang wanita pada waktu itu menjadi seorang pengusaha. Tetapi Lidia bisa, karena dia pekerja keras dan berkemauan keras untuk sukses dalam membangun bisnisnya. Ia bekerja membangun bisnisnya dengan segenap hati dan segenap kekuatannya.

3.       Dalam Kisah Para Rasul 16:40 disebutkan bahwa setelah meninggalkan penjara, Paulus dan Silas pergi ke rumah Lidia dan bertemu dengan saudara-saudara seiman di situ. Catatan ini menunjukkan kepada kita bahwa Lidia bukan hanya sukses dalam bisnis, bukan hanya mendukung pelayanan Paulus dan teman-temannya, tetapi ia juga membuka rumahnya untuk menjadi tempat persekutuan. Ia membangun karirnya, tetapi ia juga membangun jemaat Tuhan melalui pelayanan yang dapat diberikannya kepada mereka, ia membuka rumahnya bagi jemaat Tuhan di filipi.

Dewasa ini pelayanan memerlukan banyak orang yang bersedia memberi diri dengan berbagai karunia dan talenta. Sebagai orang percaya, kita harus seperi Paulus yang bisa melihat kesempatan dan melakukan perekrutan rekan sekerja untuk pelayanan yang lebih baik. Kita juga diajak seperti Lidia untuk bersedia memberi diri dan seluruh kesibukan kita untuk disertakan dalam pelayanan bagi Tuhan.

BAHAN RENUNGAN PKP 09 OKTOBER 2012



KISAH RASUL 16:4-9

A. PENDAHULUAN

Bacaan kita hari ini merupakan lanjutan dari kisah pekerjaan dan pelayanan Paulus yang memberitakan Injil Tuhan ke berbagai tempat. Ia bersama dengan Silas melanjutkan perjalanan menuju Firgia dan Galatia. Namun perjalalanan itu seakan terhambat karena ada intervensi dari suatu Pribadi yang sepertinya mengatur misi dan route pelayanan mereka. Pribadi yang dimaksud itu adalah Roh Kudus yang menuntun dan menyertai perjalanan pelayanan itu.

B. GALIAN PERIKOP (Tafsiran)

Bagaimana proses Roh Kudus mengatur Paulus dan rekan2 sepelayanannya? Pada ayat 6 dan ayat 7 kita menemukan bagaimana Roh Kudus yang disebut dengan Roh Yesus melarang dan menarahkan mereka ke arah yang diingini Tuhan untuk mereka tuju sebagai target lokasi pelayanan. Bagaimana persisnya model perintah dan larangan itu pada ayat 6 dan 7 tidaklah dengan jelas disampaikan kepada kita oleh Alkitab. Hal yang mungkin adalah bahwa Roh Kudus berbicara bagi mereka dalam berbagai cara yang dengan bebas di pilih Allah untuk dikerjakanNya bagi mereka.

Namun dalam ayat 9 bacaan kita, diceritakan pula tetang cara Tuhan menuntun para pelayannya itu melalui suatu penglihatan. Perhatikanlah bahwa dalam penglihatan itu Paulus tidak melihat TUHAN berbicara, namun justru melihat seorang Makedonia yang meminta mereka datang untuk menolongnya dan saudara-saudaranya di sana. Ini berarti dibutuhkan kepekaan khusus seorang hamba untuk mendengar suara TUHAN dan kehendak Tuhan. Bukan hanya kepekaan batiniah saja, namun juga kemampuan pikiran untuk mengolah semua itu sebelum mengambil keputusan penting.

Pengambilan keputusan terhadap penglihatan itu harus didukung oleh bukti-bukti pendukung lainnya atau biasa disebut dengan menguji tiap roh. Hal ini nampak pada ayat 10 ketika Paulus mendiskusikan penglihatan itu dan kemudian mereka menyimpulkan secara sepakat bahwa Tuhan memang meminta mereka untuk menunju ke Makedonia.

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kuasa tuntunan Roh kudus sangatlah penting bagi suksesnya kegiatan pelayanan Paulus dan rekan-rekannya. Bila demikian pentingnya hidup dipimpin oleh Roh Kudus, hal-hal apakah yang harus lakukan agar tetap berada dalam pimpinanNya? Ada dua hal penting untuk dilakukan, yakni:
1.       Pekalah akan SuaraNya (Kisah Para Rasul 16:4-12). Paulus adalah seorang Rasul yang luar biasa dimana pimpinan Roh Kudus dalam pelayanannya begitu nyata. Satu pengalaman rohaninya yang luar biasa adalah kisah pelayanan ke Makedonia dimana sebelumnya ia mendapatkan sebuah penglihatan. Pernahkah Anda mengalami pengalaman supranatural bersama dengan Roh Kudus? (mis.penglihatan, mimpi, impresi, peneguhan lewat peristiwa/kejadian, dll)

2.       Taat akan PerintahNya(Kisah Para Rasul 16:10). Dalam ayat ini, kita bisa belajar bahwa ketika Paulus mendapatkan penglihatan tersebut, Paulus tidak tinggal diam, cuek/tidak peduli akan penglihatannya itu tetapi Paulus langsung bergerak/bertindak/taat melakukan apa yang diperintahkan oleh Roh Kudus. Tanpa banyak bertanya, berbantah-bantah, Paulus melakukan apa yang dilihatnya. Ceritakan pengalaman Anda yang melakukan suatu hal karena pimpinan Roh Kudus! Dan apa hasil/ buah yang didapat karena ketaatan itu?

Kesimpulan dari bacaan kita ini sangatlah jelas, yakni Allah sendirilah yang memimpin mereka untuk pergi menyampaikan firman Tuhan. Pekerjaan dan pelayanan Paulus bukanlah milik mereka dan bisa dengan sesuaknya mereka atur. Allah sendirilah yang berhak menentukan pekerjaanNya yang ia berikan kepada Paulus dan Silas.

Allah berintervensi secara langsung dalam perjalanan Paulus.  Dua  kali  lewat gerakan Roh Kudus dan satu kali lewat penglihatan. Ayat 6 dan 7 menunjukkan bagaimana Roh Kudus mencegah mereka untuk melakukan penginjilan ke Asia dan Bitinia. Hal ini menunjukkan bahwa Allah menentukan tempat mana yang akan mereka datangi, jadi bukan kehendak Paulus akan tetapi kehendak Tuhan. Dan di malam hari dalam sebuah penglihatan Paulus melihat seorang dari Makedonia, berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya,  “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami !” (ayat 9), setelah itu barulah Paulus berangkat ke Makedonia dan di sini terlihat juga bahwa Roh Kudus lah yang menyiapkan hati orang-orang Makedonia untuk mau terbuka mendengarkan Injil.

Jelas sekali bagaimana Allah menghendaki supaya Paulus memberitakan Injil ke Makedonia. Pertanyaannya mengapa Makedonia?  Mengapa Roh Kudus mencegah mereka memberikan Injil di Asia dan Bitinia?  Jawabannya  adalah karena Allah memiliki rencana yang besar untuk orang-orang Makedonia dan Allah menghendaki orang-orang Makedonia mengenal Tuhan.  Jadi, bukan apa yang dikehendaki para Rasul, tapi yang utama adalah apa yang dikehendaki TUHAN.

C. RELEVANSI DAN APLIKASI (Penerapan)

Perjalanan dan pelayanan Paulus bukan hanya untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa lain, namun juga untuk menyampaikan hasil atau keputusan para rasul di Yerusalem untuk jemaat-jemaat diluar Yerusalem. Keputusan itu selalu disambut baik dimanapun hal itu disampaikan dan jemaat diteguhkan imannya melalui hal itu. Dan Roh Kudus terus menuntun perjalanan Paulus dengan berbagai cara, salah satunya melalui penglihatan. Melalui sebuah penglihatan dimana seorang Makedonia berseru kepadanya untuk menolong mereka, Paulus dan teman-temannya mengambil keputusan bahwa Allah menghendaki mereka untuk memberitakan Injil kepada orang-orang disana.

Dan untuk hal yang sudah pasti seperti ini, mereka tidak menangguhkan kesempatan, tapi segera mencari kesempatan untuk berangkat kesana. Dan mereka segera pergi kesana tanpa menunda lagi. Ada waktu dan bagian kita untuk menunggu, tapi ada pula waktu dan bagian kita untuk segera bertindak. Kesempatan dan peluang harus kita usahakan setelah kita menerima misi dari Tuhan dan bukan hanya menunggu saja. Seperti iman yang harus kita perlihatkan melalui perbuatan dan bukan menunggu untuk berbuat. Jangan diam ditempat, jangan hanya menunggu dan menunggu saja, karena kehendak Allah sudah nyata bagi setiap orang percaya, yakni menjadikan sekalian bangsa murid-Nya. 

Sebagai apapun kita dalam hidup ini, TUHAN haruslah yang memegang kendali dan kita wajib melaksanakan segala misiNya itu. Sebagai ibu rumahtangga atau seorang istri perlu ada kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan dalam hidup dan tanggung-jawab kita agar semua dapat terlaksana menurut maksud dan rencananya dan bukan kehendak kita yang jadi.

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKB 08 OKTOBER 2012



KISAH RASUL 16:1-3

A. PENDAHULUAN
Timotius dikenal sebagai anak rohani Paulus, seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 1:2. Di usia mudanya, Timotius sudah sanggup tampil di depan, menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Paulus adalah seorang Rasul yag dikenal giat melakukan Pekabaran Injil di daerah-daerah non Yahudi, yang juga sebagai manusia biasa, dia membutuhkan teman sekerja sebagai rekan sepelayanannya. Pada bacaan kita, Paulus memilih Timotius sebagai rekan sekerjanya dan kawan sepelayanannya.

B. GALIAN PERIKOP (Tafsiran)
Jika kita mencari tahu latar latar belakang dari Timotius, kita akan mendapati awal perjumpaan Paulus dengan Timotius tertulis di Kisah Rasul 16:1-3 bacaan kita saat ini. Paulus bertemu dengan Timotius pada saat ia tiba di Listra (sekarang dikenal sebagai Turki). Ibu Timotius adalah seorang Yahudi yang telah menerima Yesus, sedang ayahnya orang Yunani. Alkitab mencatat bahwa Timotius terkenal sebagai orang baik di kalangan orang-orang percaya. (Kisah Para Rasul 16:2).

Dari mana ia tumbuh seperti itu dan bisa bersinar sejak usia mudanya? Di dalam Timotius 1:5 kita menemukan pernyataan sebagai berikut: ”...Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu" . Ayat tersebut menjelaskan bahwa ternyata ibu dan nenek Timotius mempunyai peran sangat penting dalam mendidiknya. Nenek dan ibunya memberi teladan hidup yang baik bagi Timotius. Selanjutnya kita bisa baca di dalam 2 Timotius 3:15 bahwa sejak kecil, Timotius telah dikenalkan dengan Alkitab, sehingga dirinya diberi hikmat dan dituntun pada keselamatan oleh iman kepada Kristus. Semua ini berasal dari iman neneknya, Lois, kemudian turun pada ibunya, Eunike, hingga lalu sampai kepada Timotius.

Dengan demikian kita menemukan alasan mengapa pada ayat 2 bacaan kita, Timotius disebut sebagai pribadi yang dikenal baik oleh banyak orang Kristen di sana. Ternyata ada dua faktor penyebab, yakni:
1.       Faktor Keluarga, yakni didikan dan teladan serta warisan iman yang diterima Timotius dari neneknya, kemudian ibunya dan akhirnya mempola prilaku Timotius menjadi pribadi yang baik dan beriman.
2.       Faktor Pribadi, yakni sejak kecil Timotius sudah belajar untuk mengenal Kitab Suci dan berusaha mengenal Allah lewat Firman Tuhan yang ia baca tiap hari. 

Selanjutnya ada hal penting untuk diperhatikan dari sisi sudut pandang pemilihan rekan sepelayanan yang dilakukan Paulus kepada Timotius. Sebenarnya memilih Timotius adalah resiko besar bagi paulus. Paulus berani memilih Timotius dengan segala resiko yang ada. Dikatakan bahwa ayah Timotius adalah seorang Yunani.

Ini adalah tindakan yang bernai. Sebab antara orang Yahudi dan Yunani secara politis maupun keagamaan tidak pernah akur dan selalu bermusuhan. Bagaimana mungkin Timotius akan diterima oleh jemaat Yahudi yang sangat fanatis soal Hukum Musa. Di sinilah kita melihat kebijaksanaan seorang pelayan yang menilai dan memperlakukan calon rekan sepelayanannya.

Paulus melakukan beberapa tahapan sebelum Timotius bertugas. Yaitu dengan melakukan surat terhadap Timotius. Disini Paulus benar-benar melakukan apa yang diperlukan bagi seorang pewarta injil supaya tidak menjadi batu sandungan,  dikemudian hari. Dalam ayat 3 bacaan kita, Paulus meminta agar Timotius disunat menurut tradisi Yahudi sehingga ia dapat diterima dalam kelompok Yahudi yang sekaligus diterima oleh kelompok Yunani karena ayahnya adalah seorang Yunani.

Karena Timotius berasal dari keturunan campuran, bapanya Yunani dan ibunya orang Yahudi yang telah menjadi percaya, Paulus menyuruh untuk menyunatkan dia. Hal itu di lakukan Paulus bukan karena dia masih terikat dengan ketentuan hukum Taurat, tapi untuk menciptakan suasana yang tetap kondusif dikalangan orang-orang Yahudi. Jadi bukan untuk kepentingan Paulus, tapi untuk kepentingan orang banyak.

C. APLIKASI DAN RELEVANSI (Penerapan)
Ada beberapa pokok penting dari Firman Tuhan ini yang dapat kita terapkan, yakni:
1.       Terkadang kita juga harus bersikap seperti Paulus yang demi kepentingan orang banyak rela mengalah dari idealisme diri sendiri. Sikap mengalah ini bukan berarti kalah, tapi justru untuk hasil dan kepentingan yang lebih besar. Kita mau belajar seperti Paulus yang mau mengalah dan melepas idealismenya demi terwujudnya keadaan yang menunjang pelayanannya. Tapi ingat, dia rela mengalah karena punya tujuan yang pasti, keselamatan jiwa-jiwa. Segala sesuatu yang dapat diperbuat demi keselamatan jiwa-jiwa sekalipun harus mengham-bakan diri, yang menjadi jiwa pelayanan Paulus, biarlah itu juga menjiwai pelayanan kita (1 Korintus 9:19-23). Idealis itu baik, tapi bukan menjadi hal yang harus dipertahankan mati-matian, iman itulah yang harus dipertahankan sampai mati. Jadilah orang yang bisa membawa dan menyesuaikan diri di-manapun kita berada.

2.       Timotius dipilih oleh Paulus karena ia dikenal baik dalam lingkungan jemaat dan masyarakat. Timotius menjadi seperti itu karena peran keluarga yakni orang tua yang sangat membentuknya. Orang tua bukan hanya pengajaran atau didikan, tapi orang tua pun harus sanggupmenjadi teladan bagi anak-anaknya. Karena itu sangatlah penting peran keluarga untuk menciptakan kehidupan anak yang bertumbuh menjadi baik dan kemudian kelak dipakai Tuhan dalam berbagai pekerjaan mulia seperti yang terjadi pada Timotius.

3.       Tidak mudah memang menjadi pewarta injil. Dan tidak mudah juga untuk bekerjasama dengan dengan orang lain. Namun ketika mereka dipersatukan dalam ikatan tugas, mereka benar-benar memahami kebersamaan tersebut. Itulah yang terjadi antara Paulus dan Timotius, terlebih apabila kita membaca surat2 Paulus kepada Timotius dalam Alkitab. Alangkah indahnya ketika kita juga dapat bekerja bersama.Paulus bukan sekedar memilih Timotius tetapi ia sekaligus menempatkan Timotius untuk masa depan. Masa depan perkembangan injil dan menjadikannya sebagai kawan sekerja dalam pelayanan tanpa memandang latar belakang Timotius.

Kita memang ditempatkan bersama-sama orang lain di dunia ini. Kita bertemu dengan berbagai sifat dan sikap. Kita mungkin berbeda satu dengan yang lain namun itulah kekayaan kita. Kita dapat menjadi kawan sekerja dan rekan sepelayanan bahkan kawan berbincang. Kita bekerja bersama, berbincang, saling mendoakan, menghibur dan menguatkan sehingga tanggung jawab pelayanan yang Tuhan beri bagi kita sebagai jemaat ataupun sebagai pelayan dapat berjalan dengan baik..

HABAKUK 2:6-20

BAHAN KHOTBAH IBADAH KELUARGA 4 NOVEMBER 2026 PENDAHULUAN Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, bayangkan Anda hidup di tengah dunia yang s...