Saturday, November 9, 2019

YOSUA 24:22-28


Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 13 November 2019

Pendahuluan
Kisah ini terjadi disaat Israel telah berhasil menduduki dan mendiami Tanah Perjanjian beberapa waktu lamanya, dan di saat itu, pepimpin mereka, yakni Yosua telah menjadi tua dan lanjut umurnya (bd.23:1). Merasa bahwa masa tugasnya hampir berakhir, dan kematiannya sudah dekat maka Yosua mengumpulkan seluruh orang Israel termasuk para pemimpin tiap suku2nya untuk menyampaikan pidato perpisahan.

Dalam tradisi Israel, sebagaimana bangsa2 purba pada umumnya, pidato perpisahan seorang pemimpin yang berisi nasehat, ucapan berkat, wejangan hikmat dll, adalah wajar dan selalu dilakukan sebelum sang pemimpin meningalkan para rakyatnya (bd. Kej.49; Ul.32,33). Pidato perpisahan Yosua ini terbagi dua bagian, yang pertama di pasal 23 dan bagian kedua dipasal 24. Yosua 24:1-28 ini bukan hanya berisi pidato perpisahan Yosua tapi juga berisi pembaharuan perjanjian Umat Israel kepada Allah yang pernah mereka lakukan di Sinai, yang saat ini dibaharui di Sikhem.

Mengapa perlu diperbaharui? Karena Yosua mendapati bahwa dalam perjalanan waktu, umat telah menghianati janji setia mereka dan banyak melakukan kesalahan kepada TUHAN sehingga mereka jatuh ke dalam dosa (bd. Misl pasal 7 dll). Untuk lebih jelasnya, walau bacaan kita sesuai SBU membatasi pada ayat 22-28, ada baiknya kita melihat keseluruh perikop sebagai suatu kesatuan yang utuh supaya mudah dimengerti.

Eksegese Teks
(ay.1) Yang dipanggil oleh Yosua untuk membaharui perjanjian mereka dengan Allah adalah semua orang.

(ay.2-13) ayat 2a merupakan bagian Pembukaan yang menekankan siapa pembuat pejanjian itu yakni TUHAN Allah Israel. Selanjutnya ayat 2b-13 berisikan tentang kilas balik tentang Kasih Setia TUHAN yang telah dilakukanNya bagi umat Israel, mulai dari nenek moyang mereka Abrahan (bd. ay.2b) hingga mereka sampai dan mendiami serta menikmati Tanah Perjanjian yang diberikan TUHAN Allah mereka kepada umat perjanjian-Nya (bd. ay.13). Maksud dari prolog historis ini adalah untuk mengingatkan umat Israel tentang berbuatan Allah bagi mereka, kebaikan, kesetiaan dan kemurahan TUHAN Allah yang tak berkesudahan bagi mereka.

(ay.14-15) Setelah seluruh alur mundur ini disampaikan sebagai suatu kisah dan kesaksian bagi umat Israel tentang siapa TUHAN Allah mereka itu, maka Yosua menyampaikan ketentuan yang merupakan ketetapan Allah untuk mereka kerjakan dan laksanakan. Hal yang dituntut TUHAN Allah bagi umat Israel melalui pidato Yosua ini adalah janji setia umat untuk hanya beribadah kepadaNya, sebagaimana kesetiaan-Nya yang tak pernah luntur bagi umat kepunyaan-Nya. Umat dituntut untuk menjauhkan allah lain seperti allah nenek moyang mereka dulu beribadah, baik di seberang sungai efrat maupun di mesir (bd. Ay.14).

Menarik untuk disimak bahwa Yosua cukup bijaksana untuk mengetahui bahwa ada kemungkinan untuk memilih beribadah (bd. ay.15). Umat Israel diminta untuk membuat pilihan dari 3 (tiga) pilihan “sesembahan” yang nantinya sebagai pusat beribadahan mereka. Pilihan-pilihan itu adalah:
-          allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat; 
-          allah orang Amori yang negerinya kamu diami; 
-          atau beribadah kepada TUHAN Allah. Umat diberikan kesempatan untuk menjatuhkan pilihan.

Sebelum umat menyatakan pilihan mereka, Yosua dengan mantap menyatakan pilihannya yang pasti dan tidak dapat diganggu-gungat: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (ay.15). Perhatikan kalimat ini, dan bayangkan cara Yosua mengucapkan pilihannya. Pastilah dengan suara lantang, dan ini yang penting, yakni dengan sikap berdiri di hadapan Allah (bd. Ay.1b). Pilihan itu berarti bukan sekedar pilihan tetapi sudah merupakan janji yang disampaikan di hadapan Allah.

(ay.16-18) Umat kemudian melakukan pilihan bahwa mereka pula tetap setia dan beribadah hanya kepada TUHAN Allah. Umat bukan sekedar membuat perjanjian, namun mengerti benar pilihan mereka itu lewat memberikan uraian alasan mengapa pilihan itu dilakukan, yakni mengaminkan apa yang dikatakan TUHAN melalui Yosua dalam prolog historis tadi (bd. Ay.17,18).
(ay.19-20) Tidaklah mudah untuk melaksanakan perjanjian seperti begitu mudah diucapkan lewat mulut. Yosua mengenal bangsa itu, sehingga ia mengajukan keraguannya, bahwa sulit bagi mereka untuk melakukan apa yang barusan diucapkan (bd.ay.19). Selanjutnya Yosua mengajukan tantangan, bahwa jika mereka ingkar janji dan selanjutnya meninggalkan TUHAN Allah dan beribadah kepada allah asing, maka TUHAN tidak akan mengampuni mereka, bahkan akan membalas mereka, meninggalkan mereka serta membinasakan mereka (bd. Ay.20).

Ia menyatakan bahwa TUHAN Allah itu kudus dan merupakan Allah yang cemburu, yang menuntut keseriusan, kesetiaan umat serta tidak memandang sepele ucapan janji itu. Adalah dosa tak terampuni jika mereka menghianati Allah. Pemahaman ini penting untuk diketahui umat.

(ay.21-28) Umat Israel menjawab tantangan itu dengan pasti: “…hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah”. Ketetapan hati umat ini dipastikan hingga 2x mengucapan janji (ay.24) dan mereka bersedia menjadi saksi bagi janji mereka sendiri. Itu adalah pilihan yang tepat. Selanjutnya mereka kembali ke kediaman mereka masing-masing (ay.28)

Aplikasi / Penerapan (untuk didiskusikan)
Beberapa hal barangkali bisa menjadi bahan pertimbangan untuk membuat aplikasi dalam khotbah nanti:

1.       Kita perlu merenungkan ulang perjalanan waktu tentang berbagai hal yang telah kita alami dan lakukan di 11 bulan perjalanan hidup kita di tahun 2019. Saatnya pula merenungkan pekerjaan TUHAN dalam hidup kita di hamper setahun berselang. Mengingat, merenungkan, perjalanan historis masing-masing hidup kita bersama TUHAN kita dapat menyimpulkan tentang siapa Dia dalam hidup masing-masing kita. Itulah yang dilakukan oleh Yosua di awal perikop bacaan kita.

Bagi Yosua, Allah adalah Pribadi yang Perkasa dan Agung. Hal itu terlihat dari bagaimana kisah-kisah perjalanan hidup Israel diputar ulang bagai nonton film flash back, melalui pidato Yosua. Kitapun perlu melakukan yang sama. Mengingat, mengungkapkan ulang tentang apa yang Tuhan buat dalam hidup kita supaya kita tidak melupakan berbuatanNya yang ajaib dalam hidup kita.
2.       Semua kita pasti setuju bahwa perbuatan-perbuatan Allah itu bagi kita disetiap perrjalanan hidup adalah bukti dari kebaikan Allah bagi kita. Namun tak jarang, kita melupakan Dia yang amat baik itu. Kita perlu membaharui “janji kesetiaan” kita lagi. Sebab nyatanya, banyak dari orang percaya yang mengalami kejatuhan dalam dosa dan melupakan kebaikan dan kemurahan Tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh Israel.

Yosua berinisiatif membaharui janji mereka di hadapan Tuhan. Mungkin kisah itu kurang relevan bagi kita saat ini. Namun paling tidak, sudahkah kita sadari bahwa Allah yang baik itu tak jarang kita balas dengan perbuatan kita yang tidak baik? Maka perbaharuilah hidup kita supaya pantas disebut sebagai pribadi yang mengecap kemurahan kasih Allah.

Silakan tambahkan Aplikasi yang lain.

RUT 1:1-18


BAHAN KHOTBAH IBADAH HARI MINGGU
10 NOVEMBER 2019
PENDAHULUAN
Pada pasal awal kitab ini berkisah tentang suatu keluarga yang pindah dari Betlehem-Yehuda ke daerah Moab, karena bencana kelaparan yang amat dasyat terjadi di kampung halaman mereka itu. Nama Bethlehem dari bahasa Ibrani בֵּית לֶחֶם (Baca: bayth leh'-khem) yang berarti “rumah roti”. Disebut demikian karena Betlehem terletak di daerah yang paling subur di Israel, yakni di lembah sungai Yordan. Daerah ini adalah tempat penghasil gandum terbesar yang menjadi bahan baku untuk membuat roti. Silakan bayangkan, bahwa rumah roti mengalami kelaparan? Rumah roti kehabisan roti? Bagaimana mungkin? Apa sesungguhnya yang terjadi?

Terdapat beberapa hal khusus yang menarik dari kisah keluarga Elimelekh ini pada bacaan kita yang penting untuk diuraikan.


TAFSIRAN / TELAAH PERIKOP
1.       Mengenal Keluarga Elimelekh (ay.1-5)
Ketika pergi ke Moab, Elimelekh (arti: Allah adalah Raja) membawa Naomi (arti: orang yang meyenangkan) istrinya, dan kedua anaknya laki-laki yang bernama Mahlon (arti: memiliki sifat lemah) dan Kilyon (arti: Merindukan). Menurut ayat 1-5 anak-anak Naomi menikahi perempuan Moab sebagai Istri mereka masing-masing. Mahlon menikahi Opra; dan Kilyon menikahi Rut.

Bermaksud untuk mengubah nasib, ternyata keadaan yang terjadi justru terbalik. Seluruh laki-laki dalam keluarga itu akhirnya meninggal di tanah rantau (ay.3,5).  Bencana kelaparan di Betlehem, sangat mungkin terjadi karena hukuman Tuhan. Karena kisah ini terjadi di zaman hakim-hakim, dan jika merujuk Hakim-Hakim 6:1, kita dapat menyimpulkan bahwa dosa umat membuat hukuman kelaparan terjadi di sana. Kisah Elimelekh yang pergi menuju Moab adalah kisah “lari dari hukuman” dan “membelakangi” TUHAN, Allah Israel. Demi menghindari hukuman bencana kelaparan, mereka mencari kehidupan di negeri penyembah berhala dan bahkan mengawinkan anak-anak mereka dengan “orang asing”. Tindakan inipun melanggar Taurat.

2.       Kembali Ke Betlehem (ay.6-13)
Disebutkan tadi bahwa ketika suami masing-masing mereka meninggal, maka mereka memutuskan untuk meninggalkan Moab dan mengikuti Naomi ibu mertua mereka (ay.6-7). Selanjutnya ayat 8-13 menceritakan tentang berbagai adu argumentasi dilakukan antara mertua dengan kedua menantu perempuannya. Mereka berdua, Orpa dan Rut, bersikeras untuk tidak akan meninggalkan Naomi mengalami kepahitan hidup seorang diri. Mereka ingin menemani, mereka ingin saling berbagi. Namun bagi Naomi yang lebih dahulu mengalami asam-garam hidup ini justru berpandangan beda dgn mereka. Bagi Naomi mereka berdua masih muda dan masa depannya masih ada. Adalah lebih tepat jika mereka kembali ke orang tua masing-masing  untuk memulai hidup baru dan jika mungkin, mereka dapat menikah lagi.

Penjelasan yang sangat detail dilakukan Naomi agar mereka mengerti. Naomi tidak bermaksud menolak pendampingan mereka, tapi Naomi juga menginginkan mereka bermasa depan. Akhirnya hati Orpa lulu dan mengalah iapun berpisah dengan mertuanya dalam suasana sedih dan haru (ay 13). Bisa dibayangkan kasih dan kesetiaan menantu itu bagi mertuanya; kasih Orpa untuk Naomi yang tiada duanya.

3.       Rut Yang Tetap Pada Pendiriannya (ay.14-18
Bagaimana dengan Rut. Bacaan kita menguraikan tentang bagaimana Rut bertahan pada prinsipnya. Rut terkesan menjadi menantu yang keras kepala. Naomi pada ayat 15 meminta Rut untuk mengikuti Orpa yang mengalah dan kemudian kembali ke ibu kandungnya. Demi ketaatan kepada mertua Opra kembali ke bangsanya dan kepada allahnya. Apakah benar Rut memang keras kepala dan tidak mau mengalah? Mari perhatikan ayat 16-17 bacaan kita. Dari ayat-ayat itu menemukan alasan yang kuat mengapa Rut bertahan pada Prinsipnya, yaitu:
  1. Naomi saat  itu sedang mengalami kepahitan hidup. Itulah sebabnya ia menyebut namanya bukan lagi Naomi pada ayat 19 namun menyebut dirinya dengan nama MARA. Dalam bahasa Ibrani “mara” berarti pahit, artinya hidup Naomi pahit adanya. Ia penuh dengan pergumulan karena ditinggal mati oleh suami sebagai tulang punggung dan anak2 lelakinya sebagai penggati suaminya pun meninggal dunia. Cukuplah lengkap penderitaannya, dan sebagai manusia biasa Naomi tidak mungkin menjalani sendiri semua itu.

  1. Kondisi ini amat jelas diketahui oleh Rut menantunya. Sebagai seorang anak, Rut amat mengasihi Naomi mertuanya itu. Ia ingin berbagi beban dan penderitaan yang dialami Naomi. Ia tidak tega meninggalkan Naomi menjalani sendirin kepahitan hidupnya. Itulah sebabnya Naomi berkata dengan tegas pada ayat 16: “ke manapun engkau pergi; di manapun engkau bermalam di situ pula aku berada”. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesetiaan dan kasih Rut terhadap Naomi tidaklah tertandingi melebihi sayangnya pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin berpisah dari mertuanya demi menopang dan mendampingi Naomi.

  1. Prinsip hidup yang begitu kuat ditampilkan Rut soal besar kadar keinginannya untuk “menyatu” dengan ibu mertuanya. Hal ini juga terlihat pada ayat 16 bagian akhir. Menurutnya bangsa Naomi adalah bangsanya juga. Itu berarti demi kasihnya kepada ibu dari suaminya ini, Rut bersedia kehilangan identitas dan meninggalkan identitas lama sebagai orang Moab dan selanjutnya mengambil identitas baru sebagai orang Yahudi sebagaimana identitas mertuanya. Bukankah itu suatu hal yang jarang dilakukan orang? Rut belum tahu keadaan orang-orang Yahudi; Rut tidak tahu apakah ia diterima di komunitas orang2 Israel itu. Namun resiko itu bersedia ia ambil demi mendampingi hidup mertuanya.

  1. Selanjutnya puncak argument Rut yang tidak dapat dibantah lagi oleh Naomi adalah ketika ia menyampaikan dua hal penting diakhir ayat 16 dan ay.17. Pertama: Agama dan Allah Naomi akan menjadi Allahnya juga; Kedua: atas dasar iman yang baru itu, ia bersedia dihukum TUHAN nya Naomi (yang sekarang adalah TUHANnya ia juga) apabila ia meninggalkan ibu mertuanya itu, kecuali karena Maut.

  1. Rut bersedia berpindah keyakinan. Suatu hal yang sangat prinsipil dan asasi sekali dari setiap pribadi. Namun, itu ia sedia lakukan. Mengapa? Pastilah tidak mudah bagi Rut untuk berpindah keyakinan selain ada suatu sebab yang kuat. Karena itu apa sebab yang kuat itu? Jawaban utamanya Cuma satu yaitu karena Naomi. Sikap hidup Naomi selama ia tinggal di Moab, cara ia bersikap sebagai mertua untuk menantu dan ketegaran imannya untuk bertahan di tengah duka dan kepahitan hidup, walau seakan menurutnya TUHAN seakan meninggalkannya (ay.20-21) serta hal2 lainnya ternyata menjadi kesaksian kuat untuk Rut menerima agama dan Iman yang baru yakni menyembah Allah-nya Naomi. Bukankah itu suatu hal yang luar biasa?

APLIKASI DAN RELEVANSI
1.       Hari ini kita belajar tentang pengalaman hidup seorang janda bernama Naomi. Ketika di Israel mengalami kelaparan, maka ia dan keluarganya mencari kehidupan di negeri asing bernama Moab. Namun malang tak dapat dihindari. Suami dan anak-anaknya meninggal. Ia tidak dapat menjalani hidup lagi di negeri orang tersebut. Kepahitan ia alami dan rasanya tak terhiburkan lagi. Namun, Naomi tidak sendiri menjalani kondisi itu. Orpa dan Rut berkomitmen mendampingi, walau pada akhirnya Orpa meninggalkannya, bukan karena tidak setia namun demi ketaatan pada ibu mertuanya itu.

Hal pertama dari Firman Tuhan ini mau berbicara tentang pentingnya menghadapi hidup ini tidak sendiri. Kita diajarkan bahwa sebagai manusia kita membutuhkan orang lain. Kita tidak dapat menghadapi tantangan dan pergumulan seorang diri saja. Pada ayat 18, syukurnya Naomi menyadari hal ini dan berhenti memninta Rut pergi. Jika baca kisah selanjutnya, kita dapat melihat peran Rut dalam menghidupkan perekonomian dan kebutuhan pokok Naomi. Bayangkan jika Rut tetap di suruh pergi. Pasti akan lain ceritanya.

Demikian juga kita! Jangan pernah menutup diri dengan pergumulan dan persoalan sendiri. Kita butuh orang lain untuk membantu dan menopang. Jangan pernah untuk menanggung beban sendiri, berbagilah beban dengan orang lain, sebab topangan dua orang lebih kuat dari seoranhg diri saja.

2.       Selain kita diajak untuk terbuka seperti Naomi, kita juga oleh Firman Tuhan bersedia untuk menjadi RUT. Ada banyak Naomi modern saat ini yang sedang berbeban sendiri. Saatnya bagi kita untuk menjadi Rut yang memiliki prinsip mulia. Rut tidak menyerah utuk menjalankan ide mulia itu. Penolakan Naomi tidak menyurutkannya, ia memahami bahwa Naomi sedang gundah dan wajar jika menolaknya.

Akhirnya prinsip kokoh Rut menjadi berkat buat Naomi, tapi juga menjadi berkat buat Rut sendiri. Akhir kitab ini mengisahkan tentang happy ending yang mengharukan bagi masa depan Rut di negeri dan bangsa yang baru, di sayap perlindungan imannya yang baru.

Karena itu, marilah menghadapi setiap pergumulan hidup ini seperti Naomi yang membuka diri bagi orang lain, tapi juga mari menjadi Rut yang bersedia memberi diri bagi penderitaan orang lain dan menopang hidup mereka yang bergumul sendiri. Sebab hal itu bukan hanya menjadi berkat untuk orang lain itu, tapi juga menjadi berkat bagi kita yang bersedia membantu. Kiranya TUHAN memampukan kita. Amin.

Saturday, November 2, 2019

Markus 4:1-9


Bahan Khotbah IHM
Minggu, 03 November 2019

Oleh: 
Vik. Victoriana Desmatrusia Resdawati, S. Th
(Bahan Khotbah di GPIB Immanuel Depok)



PENGANTAR
Seorang petani pasti tahu membedakan mana tanah yang baik/tidak baik ; mana benih yang bagus/tidak bagus ; dan kapan waktu tepat untuk menabur/menuai. Proses panjang dilakukan, dari mempersiapkan luas tanah, membersihkan tanaman liar, menggemburkan tanah/membakar (jika ladang), lalu dibiarkan beberapa hari dan kemudian proses menabur benih baru dilakukan. Jadi, rasanya tidak mungkin bagi petani membuang benih secara sembarangan. Ini bukan pekerjaan mudah, tetapi butuh tenaga ekstra dan kesabaran untuk mendapatkan hasil terbaik.
Namun, ada yang menarik dari kisah Tuhan Yesus mengenai penabur/petani yang berbanding terbalik dengan petani umumnya. Rupanya, pola bertani orang Israel pada waktu itu adalah menabur benih dulu, kemudian baru diolah. Dengan kata lain, mereka tidak mempersiapkan tanah untuk bertani/berladang di tahap awal, melainkan setelah benih itu tumbuh, baru tanah/ladang di persiapkan.
Yesus sengaja mengambil contoh kehidupan keseharian masyarakat Israel untuk memudahkan mereka memahami pengajaran Yesus mengenai respon terhadap Firman Allah.


PEMAHAMAN TEKS
Menariknya, benih yang ditabur, dikiasahkan jatuh di 4 jenis tanah yang berbeda. Perhatikan, bahwa menghamburkan benih dilakukan oleh penabur sesuai dengan lokasi dan tempat. Namun, karena faktor tertentu, yakni gaya/kekuatan melempar benih rupanya mempengaruhi lokasi tempat benih jatuh, yakni diluar target tanah yang dikhususkan untuk benih. Bagian bacaan ini memaparkan 4 tempat yang dimaksud, yaitu:  
1.      Jatuh di pinggir jalan (ay.4). diduga bahwa lahan taburan benih berada dekat dengan jalan (berbatasan dengan jalan). Akibatnya, burung-burung dengan mudah menikmati “makanan gratis” ini ketika jatuh di jalanan tersebut.
2.      Jatuh di tanah yang berbatu-batu (ay.5). Kita juga dapat menduga bahwa ada beberapa bagian tanah berbatu yang berdekatan dengan lahan khusus untuk menabur benih. Maka ketika benih dilempar atau ditabur, beberapa bagian jatuh di tanah berbatu itu. Karena lebih banyak batuh daripada tanah, ketika benih tumbuh, tidak bertahan lama dan kemudian layu serta menjadi kering (mati).
3.      Jatuh di tengah semak duri (ay.7). Sekali lagi kitapun dapat menduga bahan di sekitar lahan taburan benih, ada daerah tanah yang penuh dengan semak duri yang sudah duluan tumbuh. Benih yang ditaburpun kemudian tumbuh, namun tidak mampu bersaing mendapatkan unsur hara dalam tanah, terjepit oleh semak duri. Tidak heran jika belum sempat berbuah, benih yang tumbuh itu sudah mati.
4.      Jatuh di tanah yang baik (ay.8). Tanah yang baik dimaksud tentu adalah ladang sebagai target utama penabur itu menabur benih. Subur tumbuhnya dan kemudian berbuah.

Jenis dan model tanah tempat benih jatuh, adalah mewakili tipe orang percaya dan cara mereka bereaksi terhadap Firman yang ditabur serta faktor lain di sekitar mereka:
a.       Ditabur dijalan adalah tipe orang percaya yang lambat menangkap Firman Tuhan. Benih itu kemudian diambil oleh Iblis. Hal ini menunjuk soal pola hidup beriman yang cendrung untuk mengabaikan kebenaran, lalu kemudian tanpa sadar kebenaran itu mulai kehilangan wujudkan ketika godan hidup datang dari si jahat.
b.      Ditabur di tanah berbatu adalah mereka yang bereaksi positif terhadap Firman Tuhan, namun sayangnya tidak dihayati dengan dalam dan enggan mengerjakannya. Maka ketika menghadapi tantangan iman entah oleh penganiayaan dan penindasan, iman mereka goyah. Mereka kemudian meninggalkan kebenaran yang telah diterimanya.
c.       Ditabur di semak berduri adalah gambaran orang percaya yang mendengar Firman. Mereka bisa jadi mengerjakannya dan kemudian tumbuh. Namun godaan dunia yang begitu menghimpit, kuasa kedagingan yang begitu menggoda, Firman yang berhasil mereka hayati dan imani itu, nyatanya tidak mampu mereka terapkan dalam kehidupan. Memilih menikmati keinginan duniawi. Akhirnya tidak ada buah yang dihaslkan.
d.      Ditabur ditempat yang subur adalah mereka yang mampu menghayati dan mengerjakan dengan setia kebenaran Firman yang sudah mereka dengar. Hidup mereka berpadanan dengan apa yang dikatakan Firman. Mereka berbuah untuk hormat dan kemuliaan Tuhan.

Perhatikanlah bahwa perumpamaan ini tidak bicara soal tanah dan lahan subur atau tidak. Melainkan berbicara soal bagaimana reaksi seseorang terhadap kebenaran Firman yang disampaikan. Sebab bagaimanapun tidak ada diantara kita yang berada di lahan subur tanpa masalah. Himpitan godaan dunia selalu ada. Bahkan karena lebel iman kita, penganiayaan terselubung kita alamai. Entah promosi jabatan yang gagal karena kita beragama Kristen, bahkan ada juga anak2 kita disekolah negeri yang tidak mendapat pelajaran agama dll.

Tidak ada yang benar-benar berada di lahan yang subur. Jadi persoalan kita bukan pada lahannya, bukan soal kondisi sekitar, melainkan lebih pada bagaimana kita sebagai orang percaya merespon kebenaran Firman yang diajarkan, menyerap dengan baik, merawatnya, bertumbuh dalam iman dan kemudian berbuah bagi kemuliaan namanNya.

RELEVANSI DAN APLIKAI
Bagaimana Firman Tuhan ini hendak dilakukan dalam hidup sehari-hari:
1.      Benih bisa berarti Injil tempat gereja bertumbuh, termasuk GPIB. Ada rupa-rupa tanah yang berarti ada rupa-rupa model tantangan.
Tugas kita sebagai gereja adalah tetap tumbuh dan berbuah bagi kemuliaan-Nya. 71 tahun usia diberikan Allah bagi GPIB untuk bertumbuh dan berbuah, tidak jarang mengalami jatuh bangun oleh himpitan batu, semak duri, bahkan harus berhadapan dengan kekuatan besar yang merampas pertumbuhan. Tetapi, mari bersyukur sebab hingga saat ini, tidak sedikit buah yang di panen.
Oleh sebab itu, sebagai ‘gereja’, mari terus giat sebagai pekerja Kristus, tidak peduli ditanah mana, tetapi Tuhan tahu benih-benih-Nya punya kualitas jempolan, maka biarkan Tuhan yang sempurnakan segala sesuatu menurut waktu dan kehendak-Nya. Tugas kita hanya bersedia memberi diri untuk IA pakai, baik menjadi benih atau tanah bagi kemuliaan nama-Nya.
2.      Disisi lain, benih itu juga bisa berarti kehidupan. Rupa-rupa lahan berarti rupa-rupa tantangan, sedangkan bebatuan adalah gambaran pergumulan, cobaan dan godaan digambarkan seperti onak duri yang dapat menggoncang iman orang percaya.
Benar, tidak mudah menjalani semuanya, kadang muncul pilihan ingin menyerah dan mengikuti arus saja. Ingat! Kita dipanggil untuk bersaksi bagi nama-Nya, ini kesempatan luar biasa yang tidak diberi kepada banyak orang. Jadi, jangan sampai kondisi dunia membelenggu tugas bersaksi, tetapi cari  dan temui Tuhan di kondisi apapun.
Kita dipanggil untuk tetap menjalani kehidupan, dengan percaya bahwa soal bertumbuh dan berbuah ada di wilayah Tuhan. Bpk/ibu dan saya hanya diminta untuk terus berjuang dan berusaha, seperti Paulus menanam dan Apolos menyiram, namun di atas itu semua tetap berpengharapan kepada Kristus, sebab hanya TUHAN yang mampu memberi pertumbuhan.

Mari muliakan Tuhan lewat karya hidup sehari-hari, dengan cara mencintai firman Tuhan, kemudian menjadi benih dan tanah yang berkualitas untuk hormat dan kemuliaan bagi nama Allah.
Tuhan Yesus Memberkati.

Friday, November 1, 2019

2 SAMUEL 11:1-4


MENGHADAPI GODAAN
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
03 NOVEMBER 2019

P E N D A H U L U A N
Ada pepatah mengatakan: “dari mata turun ke hati”. Umumnya mata disebut sebagai jendela bagi jiwa. Mata meperlihatkan keindahan dan keburukan yang akan direspon oleh jiwa dan kemudian mengolahnya menjadi keinginan, penolakan, kekaguman dsb. Melihat sesuatu yang indah, baik, ataupun bermanfaat, membuat rasa ingin memiliki (mengecap, menikmati dsb) hadir dalam diri. Keinginan itu terolah dengan baik oleh pikiran dan kemudian menjadi suatu rasa yang kuat dalam hati untuk mendapatkannya.

Kasus Daud dan Batsyeba tepat jika dinilai dari pepatah “dari mata turun kehati” ini. Raja Daud, adalah anak bungsu Isai, suku Yehuda, dan raja Israel (12 suku) yang kedua. Nama Daud dari bahasa Ibrani: דָּוִיד Daviyd atau David yang berarti yang dikasihi, beloved. Batsyeba adalah adalah anak dari Eliam yang menikah dengan Uria orang Het. Nama Batsyeba adalah nama asli Ibrani yakni בַּת־שֶׁבַע (baca: Bath-Sheba`) yang berarti Putri Sumpah.

EXEGESE TEKS (Uraian Perikop)
Mari melihat peristiwa Daud dan Betsyeba secara detail. Terdapat beberapa telaah penting untuk kita kaji bersama, yakni:

1.      Musim Perang (ay.1)
Perhatikanlah bahwa saat musim perang, Raja Daud tidak pergi ikut bersama dengan pasukannya. Ia menyuruh Yoab, panglimanya, untuk memimpin pasukan. Mengapa demikian? Jika menelusuri kalimat “pada waktu raja-raja biasanya maju berperang”, maka pilihan Daud untuk tinggal di rumah adalah pilihan yang tidak lazim. Istilah  עֵת (Baca:`eth atau ayth) diterjemahkan dengan time of an event atau juga time (usual).
Sehingga kalimat ini mesti dimengerti bahwa sudah sewajarnya Daud pergi ikut berperang, namun tidak melakukannya. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh yakni sendirian di Yerusalem dan pasukan sedang berperang menghadapi Bani Amon, adalah perkara yang tidak wajar bagi seorang raja.

Catatan penting yang perlu diperhatikan bahwa kisah dalam 2 Samuel 11 ini tidak detailkan tentang proses waktu. Bahwa berperang meninggalkan kerajaan, tidak hanya dilakukan mingguan ataupun bulanan. Kegiatan perang memakan waktu yang cukup lama, bisa jadi bertahun-tahun.

Maka sekarang silakan bayangkan kondisi Daud yang tidak ada keguatan itu. Bisa jadi hari-harinya menjadi membosankan, ataupun menegangkan karena menunggu berita hasil pertempuran. Di kondisi inilah peristiwa Daud dan Batsyeba terjadi.

2.      Bermula dari melihat dan kemudian mengingini (ay.2,3)
Menurut ayat 2, peristiwa ini terjadi pada waktu petang. Istilah bahasa Ibrani yang dipakai adalah  עֶרֶב (baca: `ereb atau eh'-reb) yang berarti menjelang malam saat matahari terbenam. Bisa jadi bahwa Daud baru saja selesai BBS (bobok-bobok sore) dan kemudian bangun pada saat hampir malam. Waktu bangunnya Daud adalah saat bersamaan dengan Batsyeba mandi.

“Pemandangan” yang disajikan oleh indera pelihatnya ini diolah sedemikian rupa menjadi suatu keinginan. Keinginan pertama adalah ingin tahu dan selanjutnya ingin memiliki.

Asal-usul Batsyeba telah dikatehui. Ternyata ia sudah menikah. Tetapi menariknya, suaminya adalah orang Het dan bukan dari bangsa Israel. Mungkin saja adalah tentara bayaran atau orang-orang khusus yang terlatih dan yang berkerja untuk raja. Posisi Uria sangat jauh dari level Daud. Ia bukan siapa-siapa dibanding Daud. Maka kita dapat mengerti mengapa Daud begitu berani mengabaikan status Batsyeba. Sebab wanita cantik ini hanya dimiliki oleh seorang Uria yang tidak selevel dengannya.
3.      Kesempatan + Niat buruk = Kejahatan (ay.4)
Dimana ada niat buruk dan kesempatatan tercipta, maka lahirlah kejahatan. Inilah yang terjadi pada diri Batsyeba sebagai korban kejahatan Daud. Batsyeba tidak mungkin menolak raja yang ini “tidur” dengannya. Ia hanya istri seorang prajurit. Di sisi lain, Daud berada pada posisi menguntungkan. Yakni ia adalah penguasa, wanita ini cantik, dan pemiliknya “bukan” siapa-siapa.

Pahlawan gagah perkasa seperti Daud ternyata kalah oleh nafsu “rendah” miliknya. Ia tidak mampu berperang dan mengalahkan “gejolak” dalam diri. Fokusnya hanya pada “mumpung ada kesempatan” dan “wanita ini sangat elok rupanya”. Daud gagal memenangkan hal yang mulia yakni ketatatan pada hukum Allah daripada memuaskan keinginan lahiriahnya.

Menurut Ul.22:22, dilarang keras seorang laki-laki “tidur” dengan perempuan yang sudah memiliki suami. Hukumannya adalah kematian. Nafsu yang tak terkendali ini telah membutakan akal sehat dan imannya, bahkan kehendak Tuhanpun terabaikan. Lihatlah betapa Daud sangat dikuasai oleh kedagingannya, demi memuaskan keinginannya, Daud mengabaikan TUHAN, Allah yang telah membawanya hingga ke tahta itu.



APLIKASI DAN RELEFANSI
Belajar dari kisah Daud, maka bagaimana caranya supaya mampu menghadapi setiap godaan? Paling tidak ada dua hal yang bisa direnungkan, yakni:

1.      Daud memiliki segala-galanya, itu benar. Namun Daud lupa bahwa tidak semua adalah haknya, termasuk kepada Batsyeba. Kisah Yusuf yang mampu menolak godaan istri Potifar (Kej.39:1-23), adalah satu bukti tentang prinsip hak memiliki itu. Perhatikan jawaban Yusuf kepada perempuan penggoda itu:

"Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya...” (ay.8,9)

Kemenangan Yusuf yang tidak dialami Daud adalah, Yusuf tahu membedakan mana haknya dan mana bukan haknya, mana miliknya dan bukan miliknya. Prinsip utama untuk menolak godaan adalah dengan membedakan apakah itu hak kita ataukah bukan. Ini tidak hanya soal nafsu kedagingan (seksual) pada kasus Daud, namun berlaku pada jenis godaan apapun.

2.      Selanjutnya untuk mampu menghadapi kuatnya godaan berbuat dosa, kita bisa belajar dari kekalahan Daud. Ia lebih mau memilih mengikuti nafsunya, dari pada mentaati kehendak Allah dalam FirmanNya (Hukum tentang tidur dengan istri orang).

Berbeda dengan kasus Yusuf, pada ayat 9 Kejadian 39, pernyataan Yusuf di hadapan istri Potifar sungguh bermakna penting. Yusuf berkata: “… Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" Yusuf membuat pilihan yang tepat. Ia lebih memilih menyenangkan Tuhan lewat taat pada kehendakNya, daripada senangkan diri sendiri lewat pemberontak kepada Tuhan.

Sayang sekali, kisah tentang Yusuf ini tidak menjadi cermin bagi Daud yang sudah sangat tergoda oleh penglihatan dan keinginan nafsunya itu. Ia lebih memilih senangkan dirinya dan memberontak kepada hukum Allah, dari pada bertahan pada kekudusan yang Tuhan kehendaki.

3.      Peristiwa “nonton” Batsyeba mandi, sangat mungkin bukan hanya terjadi sekali. Bisa jadi berulang kali dan kemudian Daud menikmati dan membiasakan matanya terpuaskan dengan pemandangan itu. Seharusnya hal penting yang mesti dilakukan oleh Daud adalah menghindari peristiwa itu.

Daud lebih memilih “mendekatkan” diri pada godaan itu daripada mendekatkan diri kepada Allah. Yakobus 4:7 dengan tegas mengatakan: “…Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” . Konsep ini sangat penting dalam menghadapi godaan. Dengan memilih mendekat kepada Allah, maka kita berada pada pengakuan bahwa Tuhanlah yang puny kuasa. Sehingga rasa tunduk itu kepadaNya membuat kita memiliki kekuatan untuk mengalahkan godaan Iblis.

Sayang sekali, bahwa Daud justru memilih mendekat pada kolam permandian itu dan bahkan mendekati sangat dekat Batsyeba sehingga ia jatuh pada dosa perzinahan.

Saturday, September 14, 2019

1 SAMUEL 12:1-7

1 SAMUEL 12:1-7
ESTAFET KEPEMIMPINAN
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
15 SEPTEMBER 2019

P E N D A H U L U A N
Seorang pemimpin yang baik bukan saja suskes melaksanakan tangung-jawab kepemimpinannya, melainkan juga mampu menyiapkan proses peralihan tampuk kepemimpinan dari dirinya sendiri kepada orang lain. Paling tidak inilah yang terjadi dalam bacaan kita ini.

Suksesi kepemimpinan di Israel ini bermula dari keinginan umat Israel untuk dipimpin oleh seorang raja. Mengapa mereka menginginkannya. Alasannya dapat kita temukan pada 8:1-5,yakni:
1.      Samuel telah berusia lanjut (ay.1)
2.      Samuel menunjuk anak-anaknya, Yoel dan Abia menggantikan dirinya namun prilaku anak-anaknya tidak benar, korup dan memutarbalikkan keadilan (ay.2,3)
3.      Israel ingin seperti bangsa-bangsa lain yang memiliki raja yang kelihatan dan tidak seperti Allah yang tidak terlihat (ay.5).    

Menarik sekali bahw apenolakan kepada Samuel dan permintaan mendapatkan raja yang dituntut oleh orang Israel itu bukan sesungguhnya menolak Samuel. TUHAN, Allah Israel menyampaikan kepada Samuel bahwa tindakan mereka adalah menolak AKU (8:7). Silakan bayangkan, bahwa Allah ditolak mereka sebagai raja. Maka sistem pemerintahan Teokrasi (dipimpin oleh Allah) berubah menjadi Monarki (dipimpin oleh raja).


EXEGESE TEKS (Uraian Perikop)
Arti nama Samuel berasal dari bahasa Ibrani שְׁמוּאֵל (BACA: Shemu’el) yang berarti namanya adalah Allah. Beberapa catatan penting di dalam Alkitab tentang Samuel sangat menarik. Ia disebut sebagai hakim terakhir dan juga terbesar (Kis.13:20), ia disebut sebagai nabi pertama di Israel (Kis.3:24), dan dianggap sebagai tokoh yang terbesar dan paling dihormati setelah Musa ketika TUHAN menyebut dua nama ini (Yer.15:1). Pada perikop ini, Samuel mohon diri kepada Israel dan pamit, setelah selesai melaksanakan suksesi tersebut. Terdapat beberapa catatan penting dalam perikop ini, yakni:

1.      Dua Kali Suksesi?
Kesan yang kita dapatkan jika membaca pasal 8 setelah Saul di urapi menjadi raja, bukankah suksesi sudah terjadi? Mengapa saat itu Samuel tidak langsung pamit? Bahkan jika membaca pada ayat 2 kita menemukan bahwa Samuel mengakui Saul sebagai penggantinya, namun juga menyebut anak-anaknya yang meneruskan tanggung jawabnya?

Ternyata kita harus membedakan antara kepemimpinan Politik dan kepemimpinan Spiritual. Samuel bukan saja seorang hakim (pemimpin wilayah) bagi umat Israel waktu itu, ia juga adalah seorang nabi yang dipercayakan Allah untuk menuntun kehidupan rohani umat (pemimpin spiritual). Tidak heran jika hanya Samuel-lah yang boleh mempersembahkan korban (10:8; 13:11,12). Ketika raja Saul diurapi, suksesi kepemimpinan baru pada aspek politis (pemimpin wilayah) dan belum pada aspek rohaniah (pemimpin Spiritual).

Dengan demikian, ketika Samuel pamit pada perikop kita saat ini, itu berarti pamit sebagai pemimpin wilayah karena telah ada Saul. Di sisi lain, ketika ia menyebut: bukankah anak-anakku laki-laki ada di antara kamu?” (ay.2) menunjukkan bahwa ada kesan bahwa ia juga meletakkan jabatan sebagai pemimpin spiritual (nabi) bagi umat Israel.

2.      Samuel menunjuk anak-anaknya (ay.2)
Tidak dapat dipahami mengapa Samuel masih tetap menunjuk anak-anaknya, yakni Yo’el dan Abia sebagai penerusnya di bidang kerohanian. Padahal telah dicatat bahwa mereka tidak seperti ayahnya. Hidup mereka sebagai pemimpin spiritual dapat dikatakan “jauh panggang dari api” alias tidak memenuhi syarat. Bagaimana mungkin tetap mempertahankan status quo? Apakah karena mereka adalah garis ketutunan langsung dari Samuel?

Jika kita telusuri lebih lanjut, ternyata TUHAN, Allah Israel tidak mengfungsikan Yoel dan Abia sebagai posisi penerus Samuel. Hal ini terbukti ketika Tuhan sendiri memanggil ulang Samuel (dan bukan anak-anaknya) untuk mengurapi Daun menjadi raja menggantikan Saul yang tidak dikendaki Allah (1 Samuel 16).  
 
3.      Samuel Mempertanggung-jawabkan Kinerjanya (ay.3-5)
Perhatikanlah apa yang dilakukan oleh Samuel ketika tiba waktunya untuk menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada pemimpin yang baru. Ada dua hal penting yang dibuat Samuel:
a.      Sadar diri
Perhatikan alasan utama Samuel mengundurkan diri: “tetapi aku ini telah menjadi tua dan beruban” (ay.2). Samuel sadar diri bahwa usianya sudah lanjut dan fisiknya tidak sekuat waktu ia masih muda. Tentulah faktor ini mempengaruhi kemampuannya untuk melaksanakan tugas ganda kepemimpinan di Israel.

Samuel terkategori sebagai pemimpin yang “tahu diri” dan mampu dengan sadar menerima kekurangannya itu agar kepentingan orang banyak tidak terabaikan karena “kondisi lamban” yang ada pada dirinya akibat faktor usia. Pemimpin yang baik harus mampu untuk sigap dan giat bekerja dan memahami kapan untuk berhenti.

b.      Pertanggung-jawaban
Lihatlah bagaimana Samuel menyampaikan kalimat penting pada ayat 3-5. Ia meminta umat Israel untuk menjadi “hakim” tentang apa yang sudah ia lakukan, sekaligus siap dituding jari tentang kesalahan apa yang sudah ia perbuat (ay.3). Pada tahap berikutnya, ia kemudian menpertanggung-jawabkan perbuatannya di hadapan Allah dan menjadikan TUHAN sebagai saksi dari semua tindak tanduk perbuatannya selama melaksanakan tugas yang ia emban (ay.5).

Pada dua model pertanggung-jawaban itu, Samuel dinyatakan bersih. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bersedia untuk siap dinilai dan dimintakan pertanggung-jawaban. Samuel adalah contoh pemimpin yang dimaksud. Bukan saja siap bertanggung-jawab, namun juga mengantisipasi pertanggung-jawaban itu dengan cara melakukan yang terbaik saat mengemban tugas, supaya ketika tiba waktunya untuk mempertanggung-jawabkan segala sesuatu di hadapan manusia dan terutama di hadapan TUHAN, ia didapati layak dan bersih.

4.      Pemimpin hingga akhir (ay.6,7)
Menarik untuk diperhatikan catatan yang muncul pada ayat 6 dan 7. Setelah ia mempertanggung-jawabkan semua kinerja selama memimpin umat, Samuel tetap menjadi pemimpin purnabakti secara struktural tetapi tidak secara fungsional.  

Benar bahwa ia telah meletakkan jabatan di dan pamit di hadapan umat. Namun jika memperhatikan ayat 6,7 dan bahkan hingga akhir perikop ini yakni ayat 25, kita menemukan wejangan seorang peimpin masih terus dilalukan oleh Samuel. Ia tidak membiarkan Israel tanpa pemdampingan. Walaupun secara struktural ia sudah bukan pemimpn mereka, namun petuah dan nasehat bahkan bimbingan dan wejangan masih terus bersedia ia sampaikan. Samuel tetap menjadi seorang pemimpin hingga akhir hidupnya.



APLIKASI DAN RELEFANSI

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...