Wednesday, March 4, 2020

2 Tawarikh 1:1-13

MENENTUKAN KEBUTUHAN YANG TEPAT
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
Minggu , 8 Maret 2020

Oleh: Pdt. Cindy Tumbelaka, MA

Pengantar
            Kalau … kitab 1Tawarikh kita berjumpa dengan kisah kepemimpinan Daud se-bagai raja Israel … maka dalam kitab 2Tawarikh, kisahnya bertumpu pada kehidupan Salomo, … raja … yang akan memenuhi kerinduan Daud mendirikan rumah bagi TUHAN. Pembahasan dalam kitab 2Tawarikh, umumnya terkait proses pendirian bait Allah, pentahbisan dan penyelenggaraan ibadah-ibadahnya serta kegemilangan bangsa Israel di bawah kepemimpinan Salomo (kutipan SDGK).

Pemahaman Teks
Ay. 1        Penulis kitab 2Tawarikh memperkenalkan Salomo, sebagai anak Daud yang disertai TUHAN sehingga kedudukannya sebagai raja menjadi kuat dan kekuasaan besar.
Ay. 2-6    Setelah Salomo menjadi raja (1Taw 29:28), ia memerintahkan kepada seluruh Israel (kepala-kepala pasukan seribu dan pasukan seratus, para hakim dan semua pemimpin, yakni para kepala puak) untuk mempersembahkan 1.000 korban bakaran di atas mezbah di Gibeon (di bukit pengorbanan). Pada bagian ini, penulis kitab 2Tawarikh sempat menjelaskan tentang mengapa mereka ke Gibeon, yaitu karena di situlah Ke-mah Pertemuan Allah diletakkan. Kemah suci itu dibuat oleh Musa sewaktu mereka di padang gurun. Kemah itu diletakkan di bukit pengorbanan yang di Gibeon namun tabut Allah, yang semula ada di dalamnya, telah dipindahkan Daud ke kemah lain, yang dibuat Daud khusus untuk tabut itu di Yerusalem (ay. 4). Yang tertinggal pada kemah suci (buatan Musa) di Gibeon adalah mezbah tembaga buatan Bezaleel bin Uri bin Hur (ay. 5). Mezbah itu masih ada di depan Kemah Suci TUHAN (ay. 5). Maka ke sanalah Salomo dan jemaah itu meminta petunjuk TUHAN (ay. 5).
Ay. 7        Ayat ini memper-lihatkan bahwa kepada orang yang meminta petunjuk-Nya (ay. 6), Allah seolah bersedia memberikan apapun yang dimintanya.
Ay. 8-10  Intinya, Salomo meminta hikmat dan pengertian untuk memimpin seluruh bangsa Israel (ay. 10). Dalam pidato pengangkatan Salomo menjadi raja, Daud, yang adalah bapa Salomo sekaligus raja sebelumnya, memperkenalkan Salomo sebagai yang masih muda dan kurang berpengalaman untuk pekerjaan sebesar ini, yaitu memimpin bangsa Israel sekaligus membangun rumah bagi nama TUHAN (1Taw 29: 1). Kemungkinan besar, ‘cap’ yang diberikan Daud terhadap Salomo inilah yang membuat Salomo menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya sekaligus tantangan besar yang segera dihadapinya.  Karena itu, Salomo memohon agar kasih setia TUHAN kepada Daud, juga berlanjut kepada dirinya, sebagai anak Daud dan raja pilihan TUHAN, tidak hanya pada hari ia menjadi raja tetapi sampai ia harus ‘keluar’ (= mengakhiri) masa pemerintahannya.
Ay. 11-3  Berdasarkan jawaban Salomo, Allah memberikan apa yang diminta Salomo, yaitu hikmat dan pengertian, ditambah hal-hal lain, yang bagi Salomo merupakan ‘bonus’ tetapi bagi Allah, itu juga yang diperlukan Salomo untuk melangsungkan pemerintahannya, yaitu kekayaan, harta benda dan kemuliaan.

 Renungan dan Penerapan
            Firman TUHAN yang mengatakan: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu (ay. 7)” sebenarnya merupakan bentuk lain dari cobaan terhadap ‘kemanusiaan.’  Kemanusia-an kita ‘dicobai’ ketika Allah (seolah) akan memberikan apa saja yang kita minta. Seandainya Salomo meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa orang yang membencinya, kemungkinan besar, Allah akan mewujudkannya sesuai dengan firman-Nya sendiri. Akan te-tapi, Salomo berhasil melawan godaan itu karena ia (sebenarnya) sangat dipengaruhi oleh perkataan Daud tentang dirinya, yaitu ia masih sangat muda dan kurang berpengalaman un-tuk menjadi raja Israel.  Dengan kata lain, Salomo berhasil melawan godaan untuk meminta kekayaan, harta dan kemuliaan karena ia harus terlebih dahulu ‘menyelesaikan’ masalah pada dirinya sendiri, yaitu masih terlalu muda dan kurang pengalaman. Dalam hal ini, Salomo mengajarkan kita untuk meminta yang dibutuhkan bukan yang diinginkan.
            Bagaimana menentukan apa yang dibutuhkan dengan yang diinginkan?  Yesus berkata bahwa apa yang keluar dari mulut berasal dari hati (Mat 15:18).  Ketika kita dipercaya untuk mengerjakan suatu tanggung jawab atau dipilih untuk menjabat posisi tertentu, apa yang ada di benak kita akan terungkap lewat permintaan yang kita sampaikan kemudian. Jika benak kita dipenuhi oleh ‘perayaan’ akan tahta dan jabatan maka permintaan kita adalah hal-hal yang diperlukan untuk ‘mengukuhkan’ status kita yang baru, seperti (meminta) fasilitas, tunjangan, bayaran, wewenang, perlakuan khusus, dll.  Sebaliknya, jika benak kita dipenuhi oleh ‘pergumulan’ tentang bagaimana seharusnya kita bekerja supaya dapat ‘keluar masuk se-bagai pemimpin’ maka permintaan kita adalah segala sesuatu yang berguna untuk menyele-saikan masalah dan mengerjakan tanggung jawab itu sampai selesai (purna bakti).  Inilah yang diajarkan Salomo yaitu supaya kita fokus pada tugas dan tanggung jawab supaya kita pun tahu apa yang lebih dibutuhkan daripada yang diinginkan.
            Bacaan ini sangat kuat menggambarkan kebutuhkan Salomo akan petunjuk Allah. Persembahannya itu bukan saja merupakan ungkapan syukur akan pengangkatan dirinya se-bagai raja tetapi ritual meminta petunjuk Allah. Ada banyak orang Kristen memaknai ibadah syukur yang diadakan seseorang (atau keluarga) dalam rangka kenaikan pangkat atau baru menjabat posisi tertentu sebagai ‘perayaan keberhasilan’ padahal, hari itu sebenarnya merupakan langkah awal dari suatu perjalanan selanjutnya. 
Belajar dari Salomo: kenaikan pangkat maupun menjabat posisi tertentu bukanlah akhir dari suatu perjalanan karir maupun pelayanan melainkan awal.  Karena itu, ritual meminta petunjuk Allah harus lebih diutamakan ketimbang perayaan atau jamuan kasih. Salomo pun sadar bahwa untuk sampai mengakhiri masa jabatan ini dengan baik (ditutup dengan keberhasilan), bukanlah hal yang mudah. Segala sesuatu dapat terjadi di tengah jalan: dukungan yang menghilang bahkan berbalik menjadi pengkhianatan, pekerjaan yang bertambah banyak di luar kendali, munculnya masalah-masalah baru, situasi yang menjadi tidak kondusif, dll.  Untuk mengantisipasi apa yang dapat terjadi pada kemudian hari, benarlah permintaan Salomo bahwa kita membutuhkan hikmat dan pengertian. Kita tidak punya jawaban untuk apa yang akan terjadi nanti namun dengan hikmat dan pengertian dari Tuhan, kita akan tahu apa yang tepatnya harus dilakukan kelak.
            ‘Bonus’ yang diberikan Tuhan kepada Salomo pun akan diberikan kepada kita sepan-jang Tuhan melihat bahwa kita juga membutuhkan hal-hal itu untuk menyelesaikan masalah dan mengerjakan banyak hal. Tidak perlu minta ini-itu, Tuhan tahu apa yang kita butuhkan.

2 Tawarikh 6:3-11

Bahan Khotbah Ibadah Keluarga
Rabu, 11 Maret 2020
KEBERHASILAN ADALAH HASIL PERJUANGAN

Oleh: Pdt. Cindy Tumbelaka, MA

Pengantar
Akhirnya, selesailah pembangunan rumah bagi nama TUHAN (6:1-2).  Bacaan ini adalah pidato Salomo, setelah rumah TUHAN atau Bait Allah selesai dibangun tetapi sebelum rumah itu ditahbiskan.

Pemahaman Teks
Ay. 3     Sepertinya, pada waktu mengatakan:  “TUHAN telah memutuskan untuk diam dalam kekelaman. Sekarang aku telah mendirikan ruman kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya  (ay. 1-2),” posisi (tubuh) atau gesture Salomo adalah menghadap ke Bait Suci yang baru selesai dibangun. Setelah berkata demikian, barulah ia mengadap jemaah Israel yang sedang berdiri (semula) di belakangnya.
Ay. 4     Tema utama yang diusung Salomo pada pidatonya ini adalah penggenapan janji TUHAN, Allah Israel. Salomo mengakui bahwa Bait Allah ini adalah bukti bahwa Allah sendiri yang mengerjakan sampai selesai apa yang difirmankan = dijanjikan-Nya kepada Daud tentang pendirian rumah untuk nama TUHAN.  Jadi, pembangunan ini diakui Salomo sebagai perbuatan Allah sendiri (bukan dirinya).
Ay. 5-6  Salomo menjelaskan tentang pemillihan Allah. Allah yang memilih tempat di mana rumah bagi nama-Nya harus dibangun dan siapa yang seharusnya menjad raja atas Israel, umat-Nya. Lebih jelasnya, Allah memilih Yerusalem sebagai tempat kediaman bagi nama-Nya dan Daud sebagai raja atas umat-Nya. 
Ay. 7-9  Selanjutnya, Salomo menjelaskan bagaimana bisa, Daud yang dipilih Allah menjadi raja tetapi Salomo-lah yang mendirikan Bait Suci itu, bukan Daud. Salomo menceritakan bahwa Daud bermaksud mendirikan rumah untuk nama TUHAN, Allah Israel.  Walaupun TUHAN melihat maksudnya itu baik namun TUHAN memilih = menentu-kan anak kandung Daud, yaitu Salomo, yang akan mewujudkan maksud baik itu (bukan Daud, 1Taw 17:11-12).
Ay. 10   Salomo memperkenalkan diri sebagai anak kandung Daud, yang dimaksud TUHAN. Dalam hal ini, Salomo menekankan bahwa janji TUHAN kepada Daud, ayahnya, telah ditepati.
Ay. 11   Salomo juga telah menempatkan tabut perjanjian, yang sempat dipindahkan Daud dari kemah kudus ke kemah yang dibuatnya khusus untuk tabut itu di Yerusalem. Secara tidak langsung, ayat ini sedang memperlihatkan andil Daud yang cukup besar dalam membangun Bait Suci yaitu meletakkan tabut perjanjian dalam kemah khusus di Yerusalem, sebagai penanda bahwa rumah bagi nama TUHAN akan dibangun di situ.

Renungan dan Penerapan
            Ketika rumah bagi nama TUHAN ini selesai dibangun, ada pemaknaan teologis yang dilekatkan Salomo pada setiap prosesnya. Mulai dari pemilihan tempat dan siapa yang akan membangun sampai kepada penggenapan janji Allah.
            Dalam melakoni alur kehidupan, kita seringkali memahami setiap hal yang terjadi sebagai yang memang seharusnya terjadi, misalnya: setelah lulus dari jenjang pendidikan yang satu, kita atau anak-cucu kita, berlanjut ke jenjang berikutnya, di lembaga pendidikan yang cocok; Setelah dewasa, kita menemukan jodoh, kawin dan membangun rumah tangga sebagaimana harapan semua orang; Kita bekerja pada bidang yang kita minati, sesuai potensi atau yang dapat memenuhi kebutuhan hidup; Kita bergereja di jemaat yang menurut kita nyaman, terjangkau ataupun sudah sejak lahir kita aktif di situ. Begitu juga dalam pergaulan. Kita seringkali berpikir bahwa kitalah yang memilih teman dan pergaulan. 
            Ketika kita merasa memiliki hak pilih terhadap jalan hidup yang kita lakoni sekarang, dalam bacaan ini, Salomo menyebutkan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita adalah berdasarkan pemilihan atau penentuan Allah. Allah-lah yang memilihkan sekolah, jo-doh, tempat tinggal, tempat kerja bahkan jemaat di mana kita bertumbuh dan brebuah. Allah juga menentukan setiap orang yang hadir dalam hidup kita, baik yang menguntungkan atau-pun merugikan. Jika pemilihan Allah membawa kita kepada keadaan yang menyenangkan (jodoh yang sepadan, sekolah yang membuat kita bergelimang prestasi, bidang pekerjaan yang cocok, pergaulan yang bergengsi, jemaat yang harmonis, dll), tentu kita akan senang hati menikmati pemilihan Allah itu. Sebaliknya, jika penetapan Allah atas hidup kita membawa kita kepada keadaan yang memprihatinkan (kebalikan dari keadaan di atas), kita mungkin akan mengeluh, tidak sabar, marah atau ngambek.
            Dalam hidup, ada banyak maksud baik di dalam niat kita tetapi tidak diizinkan Tuhan untuk terwujud. Tuhan-lah yang menentukan, siapa yang akan mengerjakan maksud baik yang kita pikirkan itu: kalau bukan kita, mungkin keturunan kita yang berikut ataupun yang berikutnya, mis: pembangunan ataupun renovasi gedung gereja digagas oleh kita namun baru dikerjakan oleh angkatan setelah kita dan diselesaikan oleh angkatan berikutnya. Angkatan termuda itulah yang meresmikan dan terpatri tanda-tangannya pada prasasti gereja. Ide untuk membuka usaha sebenarnya dirintis dari kita namun baru berkembang di tangan generasi di bawah kita lalu generasi berikutnyalah yang mendapat penghargaan karena usaha itu telah membawa banyak manfaat bagi masyarakat luas.
            Dalam penghayatan akan minggu prapaskah, pemaknaan teologis Salomo kepada setiap proses pembangunan Bait Allah membuat kita memahami bahwa penderitaan itu seringkali datang dari ketidak-mampuan kita mengikhlaskan orang lain berjaya di atas ide ataupun kerja keras kita. Jika kita tidak ikhlas maka kita akan segera merasa tersingkirkan dan terabaikan. Inilah yang seringkali membuat banyak orang tua tidak siap menghadapi pembaruan/ kemajuan hidup yang dikerjakan oleh generasi yang lebih muda. Daud mungkin bernasib lebih baik dari kita karena Salomo masih menyebut namanya pada upacara penahbisan Bait Allah, sedangkan kita, diingat orang pun tidak. Akan tetapi, ketika maksud baik kita diwujudkan oleh generasi penerus, Salomo melihat hal ini sebagai bukti bahwa pekerjaan Tuhan adalah sesuatu yang lintas generasi.  Tuhan mau kita tahu bahwa keberhasilan dari pekerjaan-Nya tidak tergantung pada kita tetapi pada penentuan atau pemilihan-Nya semata.

Thursday, January 30, 2020

2 RAJA-RAJA 22:1-13



DIBAHARUI UNTUK MEMBAHARUI
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
02 Februari 2019

P E N D A H U L U A N
Ada pepatah mengatakan: “dari mata turun ke hati”. Umumnya mata disebut sebagai jendela bagi jiwa. Mata meperlihatkan keindahan dan keburukan yang akan direspon oleh jiwa dan kemudian mengolahnya menjadi keinginan, penolakan, kekaguman dsb. Namun apabila kita merujuk Roma 10:17 disebutkan: “…iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus. Pernyataan Paulus ini menegaskan bahwa kemampuan percaya datang dari mendengar Firman Tuhan. Mendengar dimaksud bukan hanya menggunakan telinga, tetapi juga hati sebagai tanda ketaatan. Jadi mendengar Firman yakni bermakna “dengar-dengaran” (taat) pada Firman, melahirkan iman dan keyakinan percaya.

Inilah yang dialami oleh Yosia, raja Yehuda (Israel Selatan). Pada waktu ia melihat gulungan kitab Taurat dan meminta untuk dibacakan, ia bukan saja mendengar Firman tapi juga mengalami pengalaman spiritual yakni percaya pada Firman itu dan kemudian menyadari segala kesalahan bangsanya yang tidak taat itu.

 
EXEGESE TEKS (Uraian Perikop)
Beberapa hal menarik tentang kisah Raja Yosia dalam 2 Raja-raja 22:1-13 ini dapat dilihat dari beberapa pokok penting berikut ini:

1.   Siapakah Yosia
Nama ini dari bah. Ibrani: יאשיה (baca: Yo'syîyâhû) yang berarti TUHAN menopang”. Ia adalah salah satu raja Israel Selatan (Yehuda), seorang raja yang masih muda. Ia naik tahta pada saat berumur delapan tahun (2 Raj. 22:1). Yosia adalah anak dari raja sebelumnya yaitu raja Amon (2 Raj. 21:26). Ayahnya Yosia adalah seorang raja yang melakukan hal-hal yang jahat di mata TUHAN, seperti juga yang telah dilakukan oleh kakeknya, raja Manasye (2 Raj. 21:20). Namun Yosia ternyata berbeda dengan ayah dan kakeknya, ia tidak menjadi seorang raja yang berbuat jahat. Sebaliknya, ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. (2 Raj. 22:2).

Sebagaimana disebutkan di atas, ia berbeda dari ayah dan kakeknya. Pada usia yang masih muda belia yakni berumur 16 tahun (masa 8 tahun pemerintahannya), Yosia mengambil sikap dan pilihan iman yang penting yakni mencari Allah Daud bapa leluhurnya. Ia bukan saja membaharui imannya di hadapan Allah, tetapi juga menggunakan kekuasaannya untuk membaharui iman bangsanya. Hal ini terlihat ketika pada usia 20 tahun yakni pada tahun ke 12 masa pemerintahannya, Yosia menguduskan bukit-bukit pengorbaan untuk para berhala, dan menghancurkan patung-patung pahatan dan tuangan( 2Taw.34:3). Para baal ini diratakan oleh Yosia dengan cara menghancurkan seluruh mezbah-mezbah penyembahan kepada allah buatan tangan manusia. Tidak ada yang tersisa dari para baal itu di Yehuda bahkan hingga menyebrang ke daerah Utara (2Taw.34:4-7).

Maka kita dapat menyimpulkan hal penting ini, yakni Yosia adalah seorang raja Yehuda yang sungguh-sungguh mencari TUHAN dan sangat aktif untuk membaharui iman bangsanya. Tidak heran jika pada bacaan kita, ia disebut sebagai pribadi yang tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri (ay.2).

2.   Milik TUHAN untuk TUHAN (ay.3-7)
Sepertinya setelah menghancurkan fasilitas penyembahan kepada para baal, Yosia menuntun umat untuk kembali menyembah TUHAN. Namun karena cukup lama orang meninggalkan kehidupan keagamaan di Bait Allah, rumah TUHAN ini tidak terurus. Yosia melakukan upaya untuk memperbaiki rumah TUHAN tersebut. Proses perbaikan rumah TUHAN itu sepertinya berlangsung sejak awal penghancuran fasilitas para penyembah baal. Hal ini terlihat dalam bacaan kita bahwa para pekerja bukan baru mulai mengerjalan, tapi sudah berada di rumah TUHAN untuk memperbaikinya (ay.5).

Proses perbaikan rumah TUHAN dimulai oleh Yosia melalui penggalangan dana yang dilakukan olehnya. Caranya adalah lewat mewajibkan rakyat berpartisipasi mengumpulkan dana untuk kebutuhan tersebut (ay.4). Menarik untuk diteladani, bahwa Yosia melibatkan rakyat. Bahwa dana yang dikumpul berasal dari rakyat juga (tentu sangat mungkin dana kerajaan juga disumbangkan) agar rakyat merasa memiliki tanggung-jawab pada rumah TUHAN tersebut.

Perhatikanlah bahwa sejak awal pengumpulan dana tersebut, ditujukan hanya untuk digunakan memperbaiki rumah TUHAN. Itulah sebabnya Yosia meminta para kolektan pengumpul dana tersebut untuk segera menyerahkan kepada pengawas rumah TUHAN supaya diberikan kepada seluruh pekerja (ay.5). Ia juga secara khusus menentukan orang kepercayaan yakni Safan sebagai pengantar dana tersebut. Perhatikanlah bahwa Yosia sanga serius tentang hal ini. Uang yang dikumpulkan untuk TUHAN (bait Allah) harus digunakan murni untuk TUHAN. Bisa saja dengan segala kekuasaannya ia menyelewengkan dana tersebut, atau menjtup jalur bantuan kerajaan untuk membatu pengerjaan rumah TUHAN yang sedang diperbaiki itu.

Yosia adalah pribadi yang jujur yang menekankan tentang kejujuran juga di hadapan TUHAN. Hal ini terlihat pada ayat 7, ketika dana itu dipercayakan sepenuhnya kepada para pekerja tanpa perlu mebuat hitungan perincian. Alasannya hanya satu: karena mereka bekerja dengan jujur. Perhatikan pernyataan ini. Bisa jadi karena raja memberikan kepercayaan yang tinggi bagi pekerjanya, bisa juga karena sebelum menentukan siapa para pekerjanya, ia sudah menekankan akan hal itu. Bahkan sangat mungkin dengan teliti sang Raja menyaring orang-orang tertentu yang dianggap jujur dalam bekerja. Intinya, Yosia menyiapakn dengan matang termasuk soal dana agar tidak diselewengkan. Sebab milik TUHAN harus kembali kepada TUHAN.

3.   Mendengar Firman mengalami pembaharuan (ay.10-13)
Peristiwa yang mengejutkan justru terjadi pada Safan mengantar dana pembangunan itu kepada Hilkia imam besar bait Allah, yakni telah ditemukan kitab Taurat di rumah TUHAN (ay.8). Tidak diketahui apakah 5 kitab yang ditemukan ataukah hanya bagian tertentu.[1]  Tetapi bukan hal itu yang menjadiperhatian kita, melainkan apa yang terjadi selanjutnya. Safan datang menemui raja dan menyampaikan bahwa telah ditemukan kitab Taurat oleh Hilkia dan kemudian atas inisiatif Safan sendiri, ia membacakan kitab itu di hadapan Yosia (ay.10)

Pada ayat 10-13, kita disajikan hal penting dan menarik dari peristiwa pembacaan Kitab Taurat itu dan reaksi raja Yosia, yakni:
a.    Mengapa Safan serta-merta membaca kitab itu di hadapan Raja Yosia? Hal ini menarik untuk ditelusuri. Perhatikan ayat 8 bacaan kita. Ketika ia menerima Taurat ini dari Imam Besar Hilkia, disebutkan bahwa “dan Safan terus membacanya”. Rupanya sebelum Sarfan membaca Taurat ini di hadapan Yosia ia telah lebuh dahulu membacanya, bahakan secara terus menerus. Firman Tuhan yang dibaca secara terus menerus itu menjadi kekuatan yang mendorong Sarfan membaca di hadapan raja.
b.    Apakah reaksi Raja Yosia? Perhatikan ayat 11 bacaan kita, yaitu: “dikoyakkanlah pakaiannya”. Hal ini menarik. Sebab mengoyakkan pakaian adalah tanda penyesalan yang berhubungan dengan kesalahan. Apakah kesalahan Yosia? Jika melihat ayat 2 dan uraian sebelumnya, bukankah Yosia terkenal pribadi yang takut TUHAN? Rupanya ini adalah reaksi terhadap dosa yang dibuat bangsanya. Tetapi juga jika membaca ay.19 kita mendapatkan konfirmasi dari perkataan TUHAN  sendiri bahwa sikap Yosia dipandang Allah sebagai cara dia merendahan diri di hadapan TUHAN, Allah Israel. Jadi, walaupun ia lurus di hadapan TUHAN, hal ini tidak membuat Yosia merasa diri benar. Ia justru merendahkan dirinya dan menyesali dosa-dosa yang terjadi karena bangsa ini. Menarik, bukan?
c.    Pada ayat 13, penyesalan Yosia dan sikap merendahkan diri ini ternyata bukan “cari muka” di depan umum. Bukan!! Hal ini terlihat dari perintah yang ia berikan kepada Imam Besar Hilkia dan jajarannya (ay.12) agar mereka mencari petunjuk tentang apa yang mesti dilakukan kemudian, Yah… Yosia tidak membiarkan Taurat itu begitu saja, justru meminta petunjuk tentang langkah yang harus diambil agar mereka tidak berbuat salah terhadap perintah yang baru saja mereka kenal itu. Luar bisa, bukan?


APLIKASI DAN RELEFANSI
Silakan hubungkan poin2 ini berdasarkan kehidupan saat ini terutama mengenai:
1.    Pentingnya hidup mencari kebenaran di hadapan Allah dan kembali kepada iman yang sesungguhnya. Logika berpikir, situasi dan keadaan, jabatan dan status sosial harusnya tidak menghalangi orang percaya untuk merendahkan diri kepada Allah sebagaimana Yosia yang sejak muda mencari Allah nenek moyangnya.

2.    Usia tidak menjamin keimanan seseorang. Hal ini terbukti pada Yosia yang secara mandiri sejak usia 20 tahun memeluk iman yang baru, yakni iman yang bertenangan dengan orang tuanya. Penyembah berhala dua generasi yakni ayah dan kakeknya, justru ia tinggalkan dan mengambil sikap menyembah dan memilih percaya kepada TUHAN, Allah Israel.

Bukan itu saja, biasanya orang menggunakan kekuasaan dan statsus sosialuntuk kepentingan diri. Tidak bagi Yosia. Justru sebagai raja ia memanfaatkan jabatannya untuk kemuliaan Allah dan menggiring rakyatnya kembali kepada TUHAN. Memperbaiki ruma TUHAN dan memperlajari Taurat adalah bukti keseriusan Raja Yosia yang memnafaatkan dengan benar jabatan dan kekuasaannya.

3.    Mendengar Firman harusnya dibarengi dengan ketaatan pada Firman itu. Sebab “dengar Firman tidak sama dengan dengar-dengaran pada Firman”.  Banyak orang sering mendengar Firman, tetapi apakah kemudian membuka hati pada kebenaran itu dan kemudian melakukannya, tidak semua berbuat seperti itu. Yosia memberi contoh yang menarik. Kerendahan hatinya di hadapan Allah adalah hal yang penting. Padahal ia baru mengenal Firman itu. Bisa jadi beralasan: “ah… wajar dong jika bikin dosa, tokh kita baru tau ebenaran itu”.tidak ada pembelaan seperti itu bagi Yosia. Ia malah menyesal dan merendahkan diri di hadapan Allah.

Yosia melakukan hal yang sangat penting, yakni ketika hatinya di sentuh oleh Taurat, ia kemudian dibaharui hatinya bahwa ternyata selama ini bangsa ini membuat hangat amarah murka Allah membara bagi mereka. Ia mencari kebenaran ini dan ingin mengetahui apakah langkah selanjutnya. Tujuannya adalah supaya ia dan abngsa ini terhindar dari murka Allah. Penting untuk direnungkan bahwa setelah Yosia dibaharui dengan pemahaman yang baru, ia kemudian menjadi alat untuk membaharui bangsa ini agar mengenal TUHAN, Allah Israel. Mereka yang telah dibaharui harusnya bersedia membaharui orang lain juga.


[1] Beberapa penafsir belum sepakat tentang hal ini. Ada yang menyebutkan bagian dari Taurat yang ditemukan adalah Ul 12-26 untuk melegitimasi restorasi bait Allah yang dilakukan oleh Yosia. Ada juga yang menyebut keseluruhan Taurat, tetapi sulit diterima jika Safan dan Yosia mampu mebaca keseluruhan kitab. Lihat Tafsiran Alkitab Masa Kini Jilid I hlm 589.

Thursday, December 19, 2019

MAZMUR 89:2-5


MAZMUR 89:2-5
KASIH SETIA TUHAN
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
22 Desember 2019

P E N D A H U L U A N
Dalam tradisi Israel, bernyanyi bagi TUHAN bukan saja bagian dari ibadah, yang dilakukan secara komunal melalui para kaum lewi, pemuji bait Alah. Orang-perorang dapat melakukan secara personal sebagai wujud syukur kepada Allah ataupun expresi kegirangan dan sukacita tentang apa yang terjadi pada dirinya dan apa yang telah diperbuat TUHAN Allah Israel baginya.

Menaikkan puja-puji melalui gubahan mazmur adalah salah satu cara mengagungkan dan memuliakan TUHAN. Menarinya, Mazmur bukan hanya dipakai sebagai sarana untuk mengagungkan TUHAN, tetapi juga sebagai bentuk pengajaran dari orang berkhitmat kepada generasi demi generasi.   


EXEGESE TEKS (Uraian Perikop)
Penulis mazmur ini adalah Etan, orang Ezrani. Siapakah Ethan? Mengapa ia menggubah Mazmur? Nama Etan, dari bahasa Ibrani: אֵיתָן (baca: 'Eitan), yang artinya: 'tahan lama', 'kuno'. Ethan disejajarkan sebagai orang berkhitmat di masa Salomo. Hikmat yang dimiliki Ethan diakui dalam sejarah Israel dan namanya disebut dalam 1Raj2.4:31. Ia hidup di jaman Salomo dan walaupun hikmatnya diakui oleh banyak orang tetapi tidak dapat menandingi hikmat Salomo.

Sebagaimana disebutkan di atas, Mazmur bukan saja madah pujian namun penggubahan Mazmur juga dilakukan sebagai bahan pengajaran yang ditulis oleh orang-orang berhikmat. Etan terkategori sebagai orang berhikmat maka tidak heran jika Mazmur 89 ini disebut sebagai nyanyian pengajaran (ay.1). Apa yang diajarkan Etan dalam nyanyian pengajarannya ini? Ada beberapa hal menarik untuk diuraikan pada empat ayat bacaan kita, yakni:


1.      Inti Pengajaran (ay.3)
Inti pengajaran yang disamaikan Etan adalah tentang Kasih Setia Tuhan. Istilah Kasih Setia berasal dariIbrani חֶסֶד (baca: Khesed) yang umumnya berarti Kasih Setia. Istilah ini juga dapat diterjemahkan dengan 'belas kasihan', 'kemurahan hati', dan 'kebaikan'. Banyak terjemahan telah dikemukakan, antara lain 'kasih yang jujur', 'kesalehan', 'solidaritas' dan 'kasih perjanjian'. Hal yang menarik dari istilah ini acapkali ditujukan kepada seseorang yang lebih tinggi kepada mereka yang posisinya lebih rendah. Kisah Yakub yang sudah rentah dan memohon Kasih setia Yusuf untuk tentang lokasi ia mesti dikubur, adalah salah satu contohnya (Kejadian 47:29).

Karena sifatnya dari atas ke bawah, maka Khesed selalu diidentikan dengan perbuatan TUHAN yang penuh kasih dan setia kepada umatNya (Kej.24:27). Bahkan kasih setia diakui sebagai sifat dari TUHAN. Dengan menyebut bahwa TUHAN adalah pribadi yang penuh kasih setia sebagai sifatnya, maka hal ini menjadi suatu pengakuan bahwa jika Allah berjanji, Ia akan setia pada janjiNya dan kemudian menggenapinya. Perhatikanlah bahwa hal ini menjadi penting dalam pemahaman iman Israel. TUHAN, Allah Israel memiliki sifat khesed (kasih setia). Ia tidak pernah ingkar pada janjiNya. janjiNya itu selalu dilandaskan dengan kasih. Itu sebabnya Etan penegaskan bahwa Kasih Setia TUHAN itu dibangun untuk selama-lamanya (ay.3).

2.      Contoh Pengajaran Ethan (ay.4,5)
Dengan apakah Etan mencontohkan Kasih Setia TUHAN itu. Pada ayat 4,5 bacaan kita, Ethan menyebut perjanjian yang ia buat dengan raja Daud dan kaum keluarganya. Perhatikanlah, bahwa Etan tidak menyebut tentang dirinya, tetapi tentang orang lain dimasa lalu. Untuk diketahui bahwa pada waktu mazmur ini digubah, raja Daud telah tiada. Ethan memilih Daud sebagai contoh penerima Kasih Setia dari TUHAN.

Mengapa Etan tidak bercerita tentang kasih setia yang ia terima dari Tuhan, namun justru tentang apa yang dilakukan TUHAN bagi Daud? Pertanyaan ini menarik untuk direnungkan. Bahwa Daud telah tiada, tetapi menurut Etan, perjanjian itu tidak batal dari pihak TUHAN. Dengan kata lain, memilih Daud sebagai contoh dimaksudkan untuk menjadi “bahan uji” apakah terbukti Kasih Setia TUHAN itu tetap untuk selama-lamanya.

Jika memperhatikan 1Raj.2:4 kita menemukan isi perjanjian yang TUHAN buat kepada Daud dan turunannya:
dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.

Isi perjanjian itu adalah tentang tahta Daud. Bahwa tahta itu tidak akan terputus dari Daud dan keturunanya. Hal ini dilihat Etan sebagai perjanjian yang penuh kasih setia. Sebab Tuhan menepati janji itu dan membuat Salomo menjadi raja Israel. Tentu apa yang dilihat Etan bukan Cuma soal suksesi pergantian Raja. Ia pasti mengalami apa yang Tuhan buat bagi Salomo dan bagaimana Kasih Setia TUHAN memelihara Salomo. Kekayaan dan kehormatan Salomo tiada bandingnya. Maka kisah tentang kesetiaan yang dibangun untuk selama-lamanya itu, disaksikan Etan benar terjadi.  

Namun, selanjutnya, TUHAN juga menepati perjanjian itu sesuai kasih setiaNya yakni melalui pra syarat penting yaitu “tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia”. Hal inipun digenapi. Ketika Salomo berubah tidak setia kepada Allah, maka kerajaan ini kemudian terpecah belah dan hancur. Perhatikanlah bahwa Allah penuh Kasih Setia pada perjanjianNya. Namun jangan lupa pada prasyarat itu. Ia juga setia untuk membatalkan janji itu sebagaimana pemenuhan syarat yang tidak bisa dilakukan oleh si penerima kasih setia Tuhan.

3.      Apa yang dilakukan Etan? (ay.2)
Menyaksikan apa yang telah TUHAN buat bagi Salomo, keluarga Daud, maka Etan menjadi saksi tentang kasih setia TUHAN yang tidak berujung itu. Perhatikanlah, bahwa ia tidak mengalami sendiri kasih setia TUHAN itu, tapi ia “hanya” menyaksikan apa yang dialami Daud dan keluarganya tentang Kasih Setia TUHAN. Menurut Etan, walau tidak mengalami langsung, itu sudah cukup. Saatnya ia memberitakan dan menceritakan perbuatan Allah yang ajaib itu.

Apa yang dilakukan oleh Etan? Menurut ayat 1, Etan akan menyanyikan kasih setia itu? Kok dinyanyikan? Fungsi nyanyian juga adalah suatu pengajaran. Maka bagi Etan, karena ia telah melihat kasih setia TUHAN, maka saatnya untuk memperkenalkan kesetiaan TUHAN itu dengan mulutnya dari generasi ke generasi.

Dengan kata lain, Etan yang telah menyaksikan Kasih Setia TUHAN, tidak menyembunyikan apa yang ia saksikan. Dengan penuh kebanggaan semua yang disaksikan itu diceritakan kepada semua orang. Bukans saja semua orang, melainkan dilakukan secara kontinyu dari generasi ke generasi secara turun temurun.

Relevansi dan Aplikasi
1.      Penting untuk memahami bahwa Khesed atau kasih setia itu datang dari atas ke bawah. Artinya, itu datang dari TUHAN kepada umatNya. Sesungguhnya yang level atas tidak perlu setia sebab dia yang punya wewenang. TUHAN juga tidak juga memiliki kewajiban kepada yang di bawah sebab kita hanya buatan tanganNya. Lalu mengapa itu dilakukan? Tentu jawabannya sederhana yakni hanya karena Kasih Karunia yakni anugerah bagi kita. Sebab pribadi yang Maha Agung bersedia untuk setia kepada kita yang belum tentu setia.

2.      Tidak perlu mengalami sendiri Kasih Setia TUHAN. Sebab kasih setia Tuhan tidak perlu dibuktikan. Sudah terbukti dan tak tersangkali lagi. Maka yang perlu dilakukan adalah menceritakan perbuatan Allah yang ajaib itu kepada semua orang. Adalah kewajiban orang percaya seperti Etan untuk menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN yang penuh Kasih Setia.

3.      Maka, di minggu Advent IV ini, kita akhirnya bisa mengerti, mengapa Ia mesti datang kembali untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. Alasannya karena khesed tadi. Bahwa TUHAN menjanjikan kerajaanNya bagi yang percaya. Kedatangan kembali adalah pemenuhan Khesed yaitu pemenuhan janji setiaNya bagi kita. Bukan itu saja, menjelang perayaan Natal Kristus ini, kitapun mesti melihat peristiwa itu sebagai KHESED TUHAN bagi dunia. Sejak jaman para nabi telah dijanjikan Juruselamat (Mikha 5:1 dll), janji ini ditepati melalui kelahiran Yesus Kristus di Bethlehem. Perjanjian keselamatan digenapiNya. Dan semua itu karena Khesed-Nya, ya karena kasih karuniaNya bagi dunia (Yo.3:16). Amin.


Tuesday, December 10, 2019

ZEFANYA 3:9-15

ZEFANYA 3:9-15
KESEMPATAN BEROLEH PEMULIHAN DARI ALLAH
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
15 Desember 2019

P E N D A H U L U A N
Kita sering mendengar istilah kesempatan kedua. Istilah ini berhubungan dengan peristiwa kegagalan, kesalahan atau langkah keliru yang terlanjur dilakukan pada masa lalu, kemudian memperoleh kesempatan untuk memperbaikinya. Kesempatan kedua, juga berbicara soal nilai kepercayaan yang sempat dinodai, namun oleh mereka yang terluka akibat penhianatan itu memberikan kesempatan untuk mempercayai kita lagi. Dengan kata lain, kesempatan kedua adalah “anugerah” bagi mereka yang terlanjur gagal itu.

Inilah yang terjadi dalam bacaan kita, ketika Yehuda (Israel Selatan) diberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungan atau relasi yang rusak antara mereka dan Allah akibat dari kesalahan dan dosa mereka. Ya, kebobrokan dan kepongahan mereka yang terlanjur itu, oleh TUHAN, Allah mereka diampuni dan diberikan kesempatan untuk beroleh kasih karunia lagi.   

EXEGESE TEKS (Uraian Perikop)
Kitab ini disebut dengan nama kitab Zefanya. Berdasarkan kategori panjangnya kitab, maka kitab Zefanya tergolong sebagai kitab nabi kecil. Siapakah Zefanya yang umumnya diterima sebagai nabi itu? Alkitab minim informasi mengenai jati diri Zefanya. Namanya berasal dari bahasa Ibrani צְפַנְיָה (baca: Tsefan’yah), artinya "ia yang disembunyikan oleh TUHAN". Istilah צְפַנְיָה ini berasal dari dua suku kata yakni צָפַן (baca: tsafan) yang artinya: menyembunyikan; dan dari kata יָהּ -, (baca: Yah) yang berarti Yahwe. Sehingga dari gabungan dua suku kata ini, nama Zefanya berarti: "ia yang disembunyikan oleh TUHAN".

Nama ini menjadi menarik untuk dimaknai ketika dihubungkan dengan asal-usul yang minim dikisahkan oleh Alkitab pada pasal 1:1. Disebutkan bahwa Zefanya adalah anak dari Kusyi yang merupakan anak dari Gedalya yang adalah anak dari Amarya. Amarya sendiri adalah anak dari Hizkia. Lalu massa pelayanan Zefanya adalah pada masa Raja Yosia. Mengapa hal ini menjadi menarik jika dihubungkan dengan arti namanya? Sebab jika Zefanya ada di zaman Yosia, yang merupakan raja yang takut Tuhan, mengapa ia diberi nama yang berarti: disembunyikan TUHAN?

Perhatikanlah bahwa Zefanya adalah generasi ke-4 sesudah Hizkia. Nama Hizkia yang disebutkan ini sangat mungkin adalah Raja Hizkia yang takut Tuhan itu (2Raj.18:1-12). Itu berarti Zefanya berasal dari keraton atau istana. Selanjutnya sesudah raja Hizkia dan sebelum raja Yosia (yang takut Tuhan) ada dua raja yang sangat jahat, membenci Tuhan dan menyembah berhala. Dua raja itu adalah Manasye dan Amon. Sangat mungkin di zaman itu terjadi pembantaian terhadap keluarga yang setia pada Hizkia, termasuk pembantaian kepada Zefanya kecil, namun Tuhan menyembunyikan dia atau melindungi dia dari kematian, sehingga oleh orangtua ia diberi nama Zefanya = "ia yang disembunyikan oleh TUHAN".

Selanjutnya, jika Zefanya memberitakan hukuman pada zaman Raja Yosia yang takut TUHAN, maka hal ini menjadi aneh. Bukankah justru pada zaman Yosia-lah kitab Taurat ditemukan (2Raj.22:1-20) dan dengan itu melalui raja Yosia, pembaharuan spiritual kembali digalakkan oleh Yosia (2Raj.23:1-30)? Hal ini semakin aneh ketika kita menemukan dalam catatan Zefanya, bahwa bangsa ini justru membuat banyak sekali dosa, yakni menyembah baal (1:4), menyembah tentara-tentara langit yakni bulan matahari dan bintang2 (1:5), mereka taat beriman danmenyembah Yahwe tetapi juga beribadah kepada dewa Milkom yakni sesembahan bangsa Amon (1:5b), dan fatalnya berpuncak pada banyaknya umat Yehuda yang beralih iman dan meninggalkan Allah (1:6).

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa walaupun raja Yosia terkategori penyembah Yahwe dan taat kepada TUHAN dengan segenap hati, maka tidak demikian dengan warganya itu. Umat tidak menuruti titah raja dan tidak meneladani ketaatan raja. Walaupun sudah diberi perintah untuk membaharui kehidupan iman oleh rajanya, mereka tetap acuh tak acuh dan tidak mengubris perintah dan teladan baik itu (2:1).

Maka tidak heran, jika kemudian memperingatkan mereka dan menyerukan pertobatan sebelum mereka dihalau seperti sekam yang tertiup dan sebelum mereka ditimpa oleh kemurkaan TUHAN (2:2). Apakah Yehuda berubah? Jawabannya tidak! Dalam pasal 3:1-8 kita menemukan bahwa akhirnya Yehuda dihukum oleh TUHAN. Mengapa TUHAN tega menghukum mereka padahal ada Yosia yang takut TUHAN. Yosia tidak mewakili umat. Umat israel tidak berubah. Bahkan nada kesewa muncul dari mulut TUHAN: “Aku sangka: Tentulah ia sekarang akan takut kepada-Ku… Tetapi sesungguhnya mereka semakin giat menjadikan busuk perbuatan mereka” (3:7). Penghukuman dan penghancuran akhirnya diberikan oleh Tuhan. Pada waktunya kemudian Yehuda dibuang ke Babel. Dan kemudian Yerusalem dihancurkan.

Selanjutnya apa yang terjadi? Bacaan kita pada pasal 3:9-15 menjelaskan suatu fase kesempatan kedua yang diberikan oleh TUHAN Allah Israel. Apakah itu? Sesudah penghukuman akan ada pembaharuan hubungan antara Allah dan Israel. Bagaimana prosesnya? Ada beberapa pokok penting yang disampaikan perikop ini, yakni:

1.      Pembaharuan itu datang atas inisiatif Allah
Perhatikan pengalan-pengalan ayat yang menyebut dengan kata ganti orang pertama (AKU) dalam perikop ini: Aku akan memberi bibir lain, yakni bibir yang bersih (ay.9); Aku akan menyingkirkan orang yang congkak (ay.11); Aku biarkan hidup umat yang rendah hati (ay.12). Menjadi penting untuk ditekankan bahwa perubahan hidup tidak dimulai oleh Yehuda, tapi TUHAN yang merendahkan diri untuk turun tangan dan kemudian memperbaiki yang rusak. Kesempatan kedua ini murni atas inisiatif Allah dan Dia sendiri yang mengubah keburukan.

Jika demikian, pesan penting dari poin ini bagi Yehuda adalah, sesungguhnya secara keseluruhan tidak ada perubahan hidup umat yang berdosa ini (kecuali faktor sisa di ayat 13), sehingga TUHAN harus turun tangan merendah dan memperbaiki. Lihatlah bahwa TUHAN tidak menyerah pada kepongahan dan kesombongan dosa mereka. Harusnya mereka yang bertobat. Harusnya tugas TUHAN hanya soal memberi hukuman. Namun kita menemukan kondisi terbalik, yakni umat tetap bikin dosa, lalu TUHAN tidak anggap mereka sebagai “barang yang menjijikkan” namun sesuatu yang berharga tetapi sudah terlanjur rusak sehingga butuh diperbaiki. Perhatikanlah, diperbaiki, loh!! Bukan dimusnahkan oleh TUHAN.

2.      Pembaharuan itu diberikan melalui faktor sisa
Seperti diuraikan di atas, yang TUHAN Allah inginkan dari Yehuda adalah pertobatal masal, yakni mereka sebagai suatu bangsa secara keseluruhan berbalik kepada Allah dan kemudian meninggalkan prilaku hidup yang tidak benar itu. Namun apakah terjadi perubahan pada diri umat? Jawabannya tidak. Itulah sebabnya mereka mengalami pembuangan di Babel. Seluruh mereka dihukum oleh Tuhan. Hanya sebagian kecil saja yang taat dan bertobat. Namun, penghukuman tetap terjadi dan mereka di buang.

Menariknya bahwa setelah dihukum, ada sisa Israel (ay.13) yang dipakai Tuhan untuk karya keselamatan. Perhatikanlah bahwa sisa Israel ini adalah mereka yang juga dihukum dan turut di buang. Dalam teks Ibrani kata sisa itu menggunakan istilah שְׁאֵרִית (baca: she'eriyth). Istilah ini mengacu pada barang yang telah dibuang namun ketika mengais kumpulan barang rosokan, ditemukan sesuatu yang masih bisa digunakan walau sudah rusak. Jika berhubungan dengan manusia, maka istilah שְׁאֵרִית (baca: she'eriyth) menunjuk pada sisa dari orang-orang yang telah dihancurkan (2Raj.19:4)

Perhatikanlah bahwa yang dibaharui, yang diperbaiki pada poin 1 di atas bukan saja barang rusak, tapi barang yang memang tidak berguna lagi yang sudah dibuang atau yang telah dihancurkan. Apa maksudnya, inisiatif TUHAN untuk membaharui dan memberikan kesempatan kedua bagi umat bukan karena umat itu layak menerimanya, melainkan hal itu semata karena kemurahan TUHAN yang mau memperbaiki yang rusak yakni si sisa Israel yang sebenarnya sudah ditolak Allah.

3.      Duka menjadi Sukacita karena TUHAN
Pada akhirnya ketika kesempatan kedua itu diberikan, yakni melalui upaya Allah untuk membaharui mereka dengan cara memberikan hati dan mulut yang baru, ketaatan terjadi. Penghukuman kemudian tidak lagi menjadi milik mereka (ay.15) sehingga airmata dan kesedihan berubah menjadi sukacita, sorak-sorai dan tari-tarian.


Relevansi dan Aplikasi
1.      Hari ini kita memasuki Minggu Advent III. Biasanya minggu Advent I disebut dengan minggu pengharapan (hope), Minggu Advent II disebut dengan kasih (love). Sedangkan hari ini kita memasuki Minggu Advent III yang biasa disebut dengan Minggu Sukacita (Joy). Pada minggu ini kita diberikan kabar sukacita bahwa kesempatan kedua masih diberikan. Bukan karena kita dipandang berharga. Sebab dosa dan kesalahan membuat kita menjadi hina di hadapan Tuhan.

Kita telah rusak di mata Tuhan. Namun karena kasih karuniaNya kita memperoleh pengharapan bahwa Allah berkenan untuk tidak membuang kita melainkan dengan relah, Ia bersedia turun tangan untuk membereskan yang yang kusut dan rusak itu untuk diperbaiki. Sehingga pada bagian akhir, kita mengalami sukacita karena Allah bersedia “memungut” kita dan mengubah kita dari barang “buangan” atau sampah yang tidak berguna menjadi berharga di mataNya.

2.      Perhatikanlah bahwa itu semua terjadi atas inisiatif Allah. Dia yang merendah dan mengulur tangan untuk memungut dan memperbaiki kita yang rusak sehingga menjadi berguna. Inilah yang disebut dengan sisa Israel. Bagaimana prosesnya? Hal itu terjadi melalui kedatangan Mesias yakni Allah sendiri yang memperbaiki dan mengubah mereka yang berdosa dengan cara ditebus dan diselamatkannya.
MInggu Advent III berita yang disampaikan adalah berita sukacita. Dua minggu Advent sebelumnya adalah berita penghukuman, kita Allah datang sebagai hakim yang menghukum. Tetapi di Minggu Advent III yakni Minggu Sukacita, kita diingatkan bahwa kitalah sisa Israel itu, yakni umat yang tidak berharga namun bernilai ketika Ia berkenan mengubah hati kita mengenal kebenaranNya dan menebus kita menjadi istimewa dibanding denga umat yang lain.

Perhatikanlah, bahwa Allah tidak akan pernah menyerah dengan dosa dan kesalahan saudara. Itulah sebabnya Putra tunggalNya diutus ke dalam dunia. Maka jika TUHAN saja tidak menyerah untuk kita, maka bagaimana mungkin kita dengan mudah menyerah pada keinginan daging dan terus berbuat dosa. Engkau dan saya berharga di mataNya. Makanya adalah suatu kebodohan jika demi kepuasan nafsu dosa, kita jatuh lagi pada berbagai keinginan daging dan jerat dosa dan akhirnya menjadi “buangan” atau “sampah” yang kotor lagi.

3.      Minggu Advent III ini, karena disebut dengan Minggu Sukacita, maka seharusnya pula kita mengisi pekan-pekan ini dengan sukacita iman. Sebab minggu advent bukan saja minggu persiapan menanti kedatangan Tuhan kembali (sebagai Hakim) melainkan juga mengingat-rayakan kedatangan pertama yang disebut dengan Natal Kristus.

Apapun yang menjadi kegundahan hati saat ini, kita diajak untuk: Marilah bersukacita. Bukan soal tidak ada masalah atau karena kondisi sekitar yang membuat kita bahagia sehingga bersukacita, melainkan karena sukacita itu datang dari TUHAN yang telah sangat mengasihi saudara dan saya. Ia bersedia turun tangan memperbaiki kita yang rusak, maka kiranya kita juga berpengharapan bahwa di akhir tahun ini sekalipun, TUHAN berkenan “turun tangan” untuk menolong kita menghadapi tiap tantangan. Jadi bersukacitalah. Tetaplah sukacita karena TUHAN memandang saudara dan saya sebagai pribadi yang berharga. Amin.

Saturday, November 30, 2019

MALEAKHI 3:1-5


MALEAKHI 3:1-5
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
01 DESEMBER 2019

P E N D A H U L U A N
Kita pasti sering mendengar istilah playing victim atau berperan sebagai korban. Playing victim ini adalah mereka yang menempatkan diri sebagai korban dengan harapan mendapatkan simpati dan rasa belaskasihan orang lain, padahal mereka sesungguhnya yang bersalah. Dengan berperan sebagai korban, maka mereka berharap dapat lari dari tanggung-jawab atas berpuatan salah yang telah diperbuatnya.

Inilah yang terjadi dalam kitab Maleakhi, ketika Israel melakukan playing victim ketika berhadapan dengan Tuhan. Pada 1:2 kita menemukan salah satu contohnya. Mereka yang berbuat dosa dan salah, tetapi mereka pula yang mempertanyakan kasih dan setia Tuhan. Contoh yang lain misalnya kita temukan pada 2:13, mereka menangis dengan airmata palsu di mezbah persembahan korban sambil mempertanyakan mengapa Tuhan menolak persembahan mereka, padahal persembahan mereka sesungguhnya cemar di mata Tuhan (1:6-14) 

EXEGESE TEKS (Uraian Perikop)
Kitab Maleakhi ini mengisahkan tentang kondisi riil yang terjadi di Israel pada masa ketika Israel telah kembali dari pembuangan, yakni sekitar tahun 516 sM. Gambaran kondisi mereka dari seluruh kitab Maleakhi ini kira-kira sebagai berikut:
1.      Bait Allah telah dibangun kembali walau tidak semegah dengan bangunan asli yang dulu dihancurkan oleh Babel.
2.      Tahun-tahun berlalu orang Yahudi (suku Yehuda yang kembali dari pembuangan ini) menjadi kecewa karena beberapa alasan:
a.       Kemakmuran yang dijanjikan tidak kunjung datang
b.      Penghidupan mereka semakin sulit.
c.       Musuh-musuh Israel selalu menghalangi upaya untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
d.      Mereka menderita karena kemarau berkepanjangan dan panen yang gagal sehingga bencana kelaparan terjadi (3:11).

Dari kondisi ini, siapakah yang mereka salahkan? Mereka menyalahkan Tuhan (1:2, 2:13). Bahkan dengan polos dan pura-pura tidak tahu dampak dari perbuatan dosa mereka, dengan pongah Israel berkata: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN…”. Betapa bodohnya Israel dengan tanpa malu berberan sebagai korban dari kebengisan Allah.


A.       Sebenarnya apa yang dilakukan Israel?
Apabila kita memperhatikan isi kitab Maleakhi ini, maka kita menemukan berbagai kesalahan fatal dan menjijikkan di lakukan oleh Israel di hadapan Allah. Dan sayangnya, semua dilakukan dengan sadar untuk melanggar kehendak dan perintah Allah. Beberapa pelanggaran itu adalah:
1.      Mencemarkan korban persembahan (1:6-14)
2.      Iman mengajarkan kesesatan dan tidak setia (2:1-9)
3.      Terjadi perkawinan campur dan perceraian (2:10-16)
4.      Mengabaikan kewajiban persepuluhan (3:6-12)

Dari semua daftar kesalahan itu, umat Israel bukan sadar diri melainkan mempertanyakan keadilan Allah dan membela diri seakan tidak bersalah. Bahkan dengan lantang berani meyakini bahwa berbuat jahat tetap dianggap baik oleh Allah (2:17b). Israel (Yehuda) menjadi demikian begitu bebal, bagaikan karat pada logam yang sulit dibersihkan lagi. Tidak heran jika penghukuma mereka alami. Tuhan mengubah berkat menjadi kutuk (3:9). Menariknya, mereka justru berbalik “menyerang” kebenaran Allah dengan cara berperan sebagai korban, dan dengan tanpa malu menyebut bahka kami sudah beribadah malah kami dikutuk. Jika demikian maka sia-sia saja beribadah kepada Allah (3:14). Perhatikanlah Israel bertindak sangat kurang ajar di hadapan Allah terutama mengenai cara mereka berbicara kepadaNya (3:13). Israel sungguh bebal.

B.       Apakah reaksi TUHAN (3:1-5)
Perikop bacaan kita berisikan tentang reaksi TUHAN Allah Israel terhadap segala perbuatan salah yang mereka lakukan. Ketika kesalahan demi kesalahan mereka lakukan, mereka dengan sadar menantang Allah dan mempertanyakan kuasaNya dengan pertanyaan: “di manakah Allah yang menghukum?” Atas pertanyaan itu kemudian, TUHAN menjawab melalui Maleakhi:
1.      TUHAN akan datang dengan mendadak (ay.1-2a)
Ketika para pendosa ini bertanya tentang mana hukuman yang kami terima jika memang kami bersalah, maka TUHAN menjawab tantangan itu dengan tiba-tiba hadir untuk menyatakan kuasaNya. Kehadiran yang tiba-tiba itu bukan berarti tanpa proses. Istilah mendadak bukan dipahami sebagai suasana yang “sekonyong-konyong”, melainkan lebih pada reaksi cepat Tuhan untuk menjawab tantangan sombong umatNya. Mendadak menjawab, tetapi tetap melalui suatu proses.

Apakah prosesnya itu? Menurut ayat 1, TUHAN menyuruh utusanNya untuk menyiapkan jalan bagi kehadiranNya. Menarik sekali jika kita mengkaji istilah “utusanNya” ini. Istilah ini diambil dari kata: מַלְאָךְ (baca: mal'ak) yang berarti suruhan atau pesuruh. Istilah ini kemudian menerjemahkan kata Malaikat. Menariknya, jika istilah ini diberi akhiran i maka memberi arti kepemilikan, yakni : מַלְאָכִי (mal'akhi) yang berarti utusanku atau malaikatku. Istilah inilah yang kemudian dipakai menjadi nama kitab ini yakni kitab Maleakhi (utusanku – malaikatku).

Israel menantang Tuhan. Maka reaksi Tuhan adalah hadir dengan segera (mendadak) untuk menjawab tantangan itu. Sudah pasti hal itu akan sangat mengejutkan bagi mereka. Sebab tidak ada satupun mahkluk hidup yang dapat tahan berdiri di hadapan Allah yang maha hadir itu ketika Ia datang (ay.2)

2.      TUHAN hadir pemurni logan atau perak (ay.2b-3)
Bagian ini menjadi penting sekali ketika dihubungkan dengan perbuatan Yehuda di hadapan Allah. Tugas dari pemurni logam atau perak adalah membersihkan berbagai kotoran yang melekat pada logan atau perak. Kotoran dimaksud bukan saja melekat tetapu telah bercampur dengan logam atau perak. Maka ketika logam atau perak ini dimurnikan dari kotoran, cara satu-satunya dilakukan melalui proses pembakaran dengan suhu yang sangat tinggi.

Mmurnikan logam atau perak, dimaksudkan untuk memperoleh kadar logam sesuai dengan mutu yang baik. Maka ketika Allah hadir sebagai pemurni logam: emas atau perak, ini memberi kesan kuat bahwa Yehuda harus dibersihkan dari segala bentuk kenajisan dan dosa. Membentuk prilakku dan hidup kerohanianaan mereka diubah menjadi baru yakni sebagai umat yang taat dan sebagai yang membersembahkan korban yang benar (ay.3b). Orang yang mempersembahkan korban yang benar adalah mereka yang telah dikuduskan dan dibaharui olehNya. Mereka yang telah mengenal dengan sungguh bagaimana melakoni hidup sebagai umat yang berkenan kepadaNya

3.      TUHAN hadir sebagai Hakim (ay.5)
Perhatikan bunyi ayat 5 bacaan kita. Bahwa sebagai Hakim, TUHAN datang tidak untuk memperbaiki yang rusak sebagaimana poin 2 di atas, melainkan datang sebagai pemberi hukuman. Segala bentuk pendosa yakni: tukang sihir, pezinah, penindas dll tidak diberi ampun. Semua mendapat hukuman yang setimpal.

Dengan kata lain, kehadiran Allah sebagai Hakim tidak sama dengan kehadiranNya sebagai pemurni logam. Sebab jika Ia hadir sebagai pemurni logam, tujuan utama adalah memperbaiki dan mengobah hidup umat yang berdosa yakni Yehuda ini. Tetapi kehadiran sebagai Hakim adalah kehadiran Allah yang mengancungkan Tangan untuk memberikan penghukuman tanpa ampun bagi mereka yang tidak bertobat dan atau tidak bersedia untuk dimurnikan/dipulihkan.

APLIKASI DAN RELEFANSI
Hari ini kita memasuki masa raya adventus. Minggu-minggu advent adalah masa-masa penantian bagi kedatangan TUHAN yakni kedatangan kembali sebagai raja yang berdaulat dan menghakimi. Kedatangan ini sangat dinanti oleh semua orang percaya untuk menerima janji kelegaan yakni dijemput sebagai mempelai perempuan menuju kerajaanNya. Itulah sebabnya simbol minggu advent adalah jangkar sebagai makna pengharapan yakni penantian pada kedatanganNya. Hal penting untuk direnungkan pada bacaan kita adalah:
1.      Saat ini adalah masa-masa kesempatan untuk mengalami pemurnian, yakni ketika Tuhan telah hadir dan datang dalam diri Yesus kristus yang menebus dunia melalui peristiwa natal Kristus yang diawali oleh kehadiran utusanNya yakni Yohanes Pembabtis. Hingga saat ini proses pemurnian menuju pada pengudusan masih berlaku bagi setiap kita dan dunia.

Itulah sebabnya di masa-masa adventus ini kita perlu merenungkan apakah kita telah benar-benar menjalani hidup sebagai pribadi yang telah dimurnikan melaui kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus. Memberi diri untuk diubahkan dan bersedia berubah adalah tanda bahwa kita bersedia untuk dimurnikan lagi. Hal ini ditandai dengan pertobatan kepada Allah. Tanpa pertobatan, tidak ada pengudusan untuk disebut sebagai yang telah dimurnikan.

2.      Selagi ada kesempatan, sebelum Ia datang sebagai Hakim, yakni kedatangan kembali untuk menghukum dan membinasakan mereka yang tidak bertobat, maka penting untuk mengambil sikap kembali kepada Allah. Jika masih ada waktu, jangan bebal seperti Israel. Berubahlah! Hiduplah dalam kekudusan dan alamami pembaharuan hidup supaya hukuman bukan menjadi bagian kita. Selagi masih ada waktu, TUHAN belum datang untuk menghakimi, kiranya dosa tidak menjadi hobby dan gaya hidup kita. Amin.


YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

  WAHYU 1:1-8 PENDAHULUAN Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Ras...