Monday, October 10, 2011

RENUNGAN IBADAH SEKTOR (SBU: 12 OKTOBER 2011) DANIEL 9:15-19


MATERI KHOTBAH RABU, 12 OKTOBER 2011
DANIEL 9:15-19

Jemaat Kekasih Kristus
Biasanya apa yang dilakukan oleh seseorang ketika ia melakukan kesalahan? Apa-pula yang diupayakan seseorang ketika akhirnya ia mendapat ganjaran dari segala kesalahan tersebut? Tabiat manusia yang paling hakiki dalam hal dosa dan kesalahan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh adam dan hawa yakni menyangkali perbuatannya dan tidak mengakui segala dosa dan kesalahannya.

Apalagi jika kemudian ganjaran diberikan karena kesalahan tersebut. Dalam pengadilan banyak terdakwa segera melakukan “naik banding” agar mendapat keringanan hukuman atau kalau memungkinkan ia dapat memperoleh pembaharuan status yakni dinyatakan tidak bersalah, walaupun bukti-bukti yang ada sudah cukup kuat.

Jemaat Kekasih Kristus
Sikap ini sangat berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh Daniel. Ketika ia sudah cukup lanjut usia yakni sekitar 90 tahun, ia kembali merenungkan perjalanan hidupnya dan memaknai kondisi sudah 70 tahun ia dan bangsa Yehuda ini mengalami pembuangan di Babel. Dalam upaya untuk mencari jawab mengapa ia dan bangsanya dihukum serta sampai kapan mereka harus mengalami penghukuman itu, akhirnya membawa Daniel pada suatu kondisi penuh penyesalan dan melakukan suatu pengakuan bahwa ia dan bangsa ini telah berdosa kepada TUHAN, Allah Israel.

Daniel tidak mencari pembelaan diri, dan mempertanyakan keadilan TUHAN, Allah Israel atas hukuman yang terlalu berat bagi mereka. Bangsa Israel mengalami penderitaan sekian lama karena mereka harus menjadi bangsa buangan di negeri Babel. Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah Israel adalah umat pilihan Allah sendiri? Apakah Allah tidak membela umatNya? Bangsa Israel harus menderita bukan tanpa sebab, tetapi ini terjadi akibat dosa-dosa mereka sendiri.

Inilah yang dipahami Daniel, sehingga kemudian ia berinisiatif untuk berdoa bagi bangsanya dan memohon ampun bagi dosa dan kesalahan umatnya.

Jemaat Kekasih Kristus
Ada beberapa hal penting dari bacaan kita ini yang menjadi pokok utama untuk kita renungkan, yakni:
1.       Mengapa Daniel menyikapi peristiwa 70 tahun pembuangan itu dengan berdoa kepada TUHAN, Allahnya? Ia justru tidak membela diri bahwa ia adalah orang benar yang harusnya tidak ikut dihukum. Apakah alasannya hingga sikap luar biasa ini diambil oleh Daniel.

Jawabannya kita temukan dalam ayat 2 pasal 9 bacaan kita. Daniel tidak langsung mencari alasan2 tertentu untuk membela diri atas hukuman TUHAN bagi bangsa dan dirinya itu. Ia juga tidak mencari pembenaran terhadap dirinya sendiri. Namun sebaliknya, Daniel mencari penjelasan semua kondisi ini dalam terang Firman Allah. Ia membuka kitab Yeremia dan merenungkan perkataan Firman Tuhan untuk mencari jawab atas kondisi yang terjadi tersebut.

Akhirnya, Daniel menemukan jawaban bahwa apa yang mereka alami dalam pembuangan di Babel selama 70 tahun terakhir ini disebabkan karena dosa dan pelanggaran umat Israel terhadap TUHAN, Allahnya. Daniel menemukan dalam Yeremia 25:11 dan 29:10 bahwa runtuhnya Yerusalem dan kehancuran Israel disebabkan dosa dan kesalahan mereka sehingga TUHAN membuang mereka selama 70 tahun di Babel itu.

Pada poin pertama ini kita belajar hal penting dari cara Daniel mengerti kondisi dan keadaan perumulan hidupnya pribadi dan pergumulan bangsanya. Pertanyaan apapun dalam benaknya, dicari jawaban bukan pada kemampuan diri atau kekuatan dirinya. Namun Daniel mencari Firman Tuhan untuk menemukan jawaban apapun dari semua derita yang dialami. Daniel memberikan contoh penting tentang bagaimana berartinya dan berfungsinya Firman Tuhan ketika mengalami berbagai pertanyaan dalam hidup.

Bahwa kita tidak bisa menemukan jawaban apapun diluar Firman Allah. Ini merupakan pernyataan yang penting! Segala keadaan hidup yang dialami, kita diajarkan untuk mencari Tuhan dan memperoleh jawaban dariNya. Cara yang paling jitu adalah lewat mencari jawab pada FirmanNya itu. Daniel menemukan jawaban itu justru ketika ia tidak sibuk dengan pikirannya sendiri atau mencari pembenaran diri, melainkan duduk diam dalam Firman Tuhan.

2.       Hal kedua yang penting adalah bagaimana reaksi Daniel setelah membaca Firman Tuhan itu. Banyak orang sering kali bereaksi negatif apabila Firman Tuhan “menelanjangi” hidup pribadinya dan memvonis segala kesalahan dan perbuatannya. Bukankah acap kali orang lebih senang mendengar Firman Tuhan lewat khotbah atau renungan yang lucu-lucu atau ringan dari pada sesuatu yang keras dan sifatnya menghakimi segala dosa dan kesalahan?

Berbeda dengan Daniel! Dalam pasal 9:4-15 bacaan SBU hari ini, kita menemukan Daniel tanpa alasan apapun menerima pernyataan Firman Tuhan itu dan berkata dalam doanya pada ayat 5,6:

Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu, dan kami tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri…

Atas nama bangsanya Daniel sujud dihadapan Allah dan segera mengakui dosa dan kesalahan mereka kepada TUHAN, Allah Israel. Pasal 9:1-19 ini berisi tentang doa Daniel yang adalah rekasinya terhadap vonis dosa yang ia terima dari pesan Firman TUHAN.

Daniel tidak menolak penyataan Firman Tuhan tersebut, bahkan sebaliknya ia mengakui semua kesalahan dan dosa itu atas nama bangsanya. Perhatikan ayat 5-15 pasal 9 kitab Daniel ini! Ada hal menarik dalam isi doanya tersebut. Ketika dosa dan kesalahan telah ditemukan dan disadari, Daniel tidak langsung berdoa memohon pengampunan. Namun justru pada tahapan utama dari isi doa tersebut yakni ayat 5-15, Daniel menyatakan DOA PENGAKUAN DOA di hadapan TUHAN, Allah Israel. Daniel tidak langsung memohon penampunan namun lebih dahulu menyampakan secara terbuka semua DAFTAR DOSA yang telah bangsa Israel lakukan di hadapan TUHAN.

Perhatikan kata ganti orang pertama jamak yang dipakai Daniel dalam doanya tersebut, yakni istilah “kami”. Daniel tidak menyebut “mereka berdosa” namun ia menyebut “kami berdosa”. Padahal kita tahu bahwa pada pasal2 sebelumnya disebutkan bahwa kehidupan doa Daniel justru jauh darinya. Ia hidup bersih dan taat kepada TUHAN. Namun inilah Daniel dan integritas imannya. Ia tidak mencari pembenaran di hadapan TUHAN, Allahnya, namun sebaliknya mengakui bersama bangsanya tentang dosa dan kesalahan mereka.

Kita belajar dari poin ke 2 ini bahwa setiap manusia tidak akan terbebas dan luput dari perbuatan salah. Namun yang membedakan tiap manusia itu, di hadapan Allah, adalah reaksinya ketika tahu bahwa telah berbuat dosa. Hal penting yang harus dilakukan oleh orang percaya bukanlah mencari pembenaran diri; bukan pula mempertahankan ego diri bersih; atau lebih cendrung melihat kesalahan orang lain. Langkah penting yang harus dibuat oleh setiap orang percaya, seperti yang Daniel lakukan, adalah MENGAKUI dosa dan kesalahan. Ini langkah penting!!!

Ketika berbuat dosa, jangan datang untuk HANYA MEMINTA AMPUN pada Tuhan. Kesalahan yang dibuat oleh banyak orang ketika telah berdosa adalah: Datang memohon ampun tanpa lebih dahulu mengakui dosa itu di hadapan Allah. Perhatikanlah apa yang dilakukan Daniel dalam ayat 5-15 pasal 9 itu! Daniel ketika tau bahwa dosa mereka besar di hadapan TUHAN, Allah Israel; ia tidak langsung memohon ampun, namun langkah perta dan utama adalah MENGAKUI SEGALA DOSA itu tanpa disembunyikan. Lihatlah daftar panjang dari dosa itu yang diungkapkan Daniel! Kita perlu secara terbuka belajar jujur di hadapan Allah dan mengakui semua dosa dan kesalahan kita.

Mengapa ini penting? Bukankah Tuhan sudah mengetahui dosa dan kesalahan kita itu? Tuhan memang mengetahui hal itu, sebab tidak ada yang tersembunyi di hadapannya. Namun apakah kita mengakuinya? Sebab bukankah orang cendrung menyembunyikan kesalahan dan dosa serta berusaha untuk menyangkali? Dosa tidak akan diampuni tanpa ada pengakuan terlebih dahulu.

3.       Setelah semua hal itu diakui Daniel, maka sekarang perhatikan bacaan kita ayat 16-19 bacaan kita! Doa pengakuan dosa Daniel, berubah menjadi DOA PERMOHONAN PENGAMPUNAN. Silakan simak isi doa tersebut dan perhatikanlah kata demi kata serta kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh Daniel. Ia dengan penuh sungguh-sungguh dan MERENDAHKAN diri memohon pengampunan bagi bangsanya itu.

Perhatikanlah bahwa Daniel menyadari tentang wilayah TUHAN ini. Soal pengampunan adalah HAK dari TUHAN. Daniel tidak memiliki hak apapun soal mendapat pengampunan atau tidak. Itu semua amat tergantung pada kemurahan dan kasih karunia dari TUHAN, Allahnya (lih. Ay.16). Itulah sebabnya ia menjumpai Tuhan dengan penuh kerendahan, pengharapan memperoleh belas kasihan Tuhan itu. Hanya datang dengan kerendahan hati, tanpa merasa berhak-lah, maka TUHAN AKAN MEMBERI PENGAMPUNAN ITU.

Pada poin ke tiga ini kita belajar tentang hal penting dalam suatu permohonan pengampunan dosa yang dilakukan Daniel. Kita perlu menjumpai Allah dalam kerendahan dan pengakuan jika menginginkan pengampunan dariNya. Pengampunan Dosa itu adalah karena Kasih Karunia TUHAN. Itu tidak pernah terjadi karena HAK KITA atau USAHA KITA. Itu semua murni karena TUHAN.

Karena itu siapapun kita, entah presbiter (pendeta, penatua, diaken) ataupun jemaat, kita tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Maukan kita mengakuinya di hadapan TUHAN? Itulah yang terpenting! Selanjutnya, maukan dalam kerendahan kita memohon ampun? Dan selanjutnya, bersediakah kita tidak melakukannya lagi? Jika Ya, maka kita telah beroleh pengampunan dari TUHAN. AMIN.

Sunday, October 9, 2011

MENGENAL TANDA TUHAN (Seri : Melangkahlah Pemuda Bagian 2)


Pnt. S. Edi Widodo
 
1 Samuel 14:6b 
“....sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang 
maupun dengan sedikit orang."

Kamu enak TOK, orang tuamu berduit apa saja yang kamu minta pasti terpenuhi. Ya tidak begitu BRO walaupun kelihatannya kami kaya tapi tidaklah seperti dirimu yang ada damai di keluarga. Apalagi aku, si TOMPEL yang tidak mengenal orang tuaku siapa, sampai sesak dada ini memikirkan masa depanku. Untung ya... si EMENG walaupun orang tuanya sudah tiada tapi keluarganya masih menyokong, yang lebih kasihan si BUJANG harus mati-matian berusaha menggapai hidup seorang diri, dan masih banyak lagi obrolan saat sharing sesama rekan pemuda. Semuanya membutuhkan kepastian, adakah damai itu ada, adakah masa depan bersama Tuhan, bisakah menjadi kaya dan diberkati luar biasa tapi tetap setia melayani. Mungkinkah itu !? Tuhan di manakah Engkau.

Saudara... hidup bukan hanya sekedar sebatas mendengar firman saja, saudara harus beranjak, berdiri dan belajar untuk melangkah menerapkan Firman. Ibarat bayi betapa susahnya manakala ia harus belajar berdiri kemudian belajar melangkah satu..dua..dua..satu begitu seterusnya. Sekedar ilustrasi, jika saudara telah makan, kemudian tidak melakukan apa-apa, hanya duduk keterusan tertidur, bagaimana jadinya ?. Anda harus bergerak karena sudah ada tanda kenyang di perut, jika tidak penyakit akan datang.

Sebagaimana Yonatan, coba perhatikan detail kisah perjalaan hidup Yonatan akan seperti obrolan di atas 1 Samuel 14:6a “Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: "Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita,...." Perhatikan kata mungkin Tuhan; Yonatan menyadari ia orang kaya (bapaknya saja Raja) tetapi ia terlebih sadar bahwa bapaknya juga melakukan apa jahat di mata Tuhan, sebagai orang tua, Saul memberikan contoh yang buruk bagi keturunannya. 1  Samuel 13:13 Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Yang menarik untuk dipelajari, Yonatan mengambil sikap “tetap setia” walaupun keluarganya tidak setia. Itulah sebabnya sampai muncul kata “mungkin Tuhan” karena Yonatan sadar jangan jangan Tuhan murka juga terhadap keturunan Saul. 1Samuel 14:8 “Kata Yonatan: "Perhatikan, kita menyeberang ke dekat orang-orang itu dan memperlihatkan diri kepada mereka.”   

Saudara.. sikap ini menjadi contoh bagi kaum muda bahwa Yonatan tidak merasa dirinya sebagai katak dalam tempurung, ia tidak merasakan kemalangan yang menimpa keluarganya, pandangan akan masa depannya bersama Tuhan sungguh melampaui batas imannya (bukan sekedar hanya percaya saja), kalau saja ia meratapi kemalangan tiada henti atau menunggu warisan orang tuannya maka ceritanya akan jadi lain. Lihatlah Yonantan bersama seorang pembawa senjata pergi dan memperlihatkan diri kepada musuhnya, ia tidak mempedulikan dirinya yang hanya berdua menghadapi lawan yang buanyak. Tapi Yonatan bersikap bijak ia minta ijin dulu sama Tuhan.
Yakobus 4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." 4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. Yonatan menyadari Ia harus minta ijin/tanda dari Tuhan jika tidak kemalangan akan juga menimpa dirinya.

1 Samuel 14:9-10 “Apabila kata mereka kepada kita begini: Berhentilah, sampai kami datang padamu, maka kita tinggal berdiri di tempat kita dan tidak naik mendapatkan mereka, tetapi apabila kata mereka begini: Naiklah ke mari, maka kita akan naik, sebab kalau demikian TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tangan kita. Itulah tandanya bagi kita."
Mengapa saudara merasa jawaban atas doa tidak ada kunjung jawaban, Doa saudara harus disertai minta tanda dari Tuhan untuk “ya” atau “tidak”. Tanda dari Tuhan bisa nampak dalam :
1.      Rasa Damai Sejahtera atau sukacita, Yohanes 14:26,27 “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”. Kalau ada sukacita di hati bisa diartikan jawaban doa untuk bergerak atau membatalkan rencana.
2.      Perwujudan/perkataan, Lukas 2:12 “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Contoh bisa juga seperti kisah Yonatan di atas.

Perkaranya sekarang hanya, sejauh mana saudara mengenal tanda/suara dari Tuhan kalau saudara sendiri belum bergaul karib dengan Tuhan. Lebih banyak mana saudara menyanyikan lagu rohani atau duniawi, lebih banyak mana saudara membaca Alkitab/bacaan rohani atau majalah, antara olahraga dan mengunjungi orang yang berduka, antara waktu ke gereja dengan ke tempat hiburan, antara saat teduh dan waktu sehari 24 jam, dsb. Paulus mengingatkan dalam 1 Korintus 6:12. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.”

Saudara.. rekan Yonatan si pembawa senjata, juga tidak kalah fungsinya, karena rekan inilah yang memberikan motifasi dan dorongan untuk suatu maksud pekerjaan 1 Samuel 14:7 “Lalu jawab pembawa senjatanya itu kepadanya: "Lakukanlah niat hatimu itu; sungguh, aku sepakat." Jika saat ini posisimu sebagai anggota kaum muda atau sebagai jemaat, saat diminta untuk aktif oleh Pendeta atau Pengurus atau Majelis maka giatlah selalu untuk menjadi mitranya. Di saat keputusan saudara untuk katakan “ya” dalam melangkah, pasti mengalami kemenangan seberapapun beratnya masalah pribadi.

Tidak perlu gentar untuk melangkah bersama dengan partner/teman/sahabat asalkan mendengar tanda dari Tuhan, 1 Samuel 14:12-13 “Orang-orang dari pasukan pengawal itu berseru kepada Yonatan dan pembawa senjatanya, katanya: "Naiklah ke mari, maka kami akan menghajar kamu." Lalu kata Yonatan kepada pembawa senjatanya: "Naiklah mengikuti aku, sebab TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Israel." Maka naiklah Yonatan merangkak ke atas, dengan diikuti oleh pembawa senjatanya. Orang-orang itu tewas terparang oleh Yonatan, sedang pembawa senjatanya membunuh mereka dari belakangnya.” Saat saudara bergandengan tangan dalam melangkah jangan takut gertakan seperti kalimat yang cetak miring dan bergaris, pasti saudara merasakan akan di olok-olok oleh lingkungan, akan banyak sindiran, akan banyak suara-suara yang mencoba merintangi misalnya :  aduhhh..kamu ini masih muda tahu apa ya... walah... pasanganmu ternyata si ILANG apa kata dunia coba cari yang lain saja. Jika saudara tidak bisa membuktikan kemampuan dan sanggup untuk bertahan dengan rekanmu maka saudara akan benar-benar menjadi yang terhilang.
Refleksi :
1.      Sediakah engkau melangkah bersama Tuhan, jangan biarkan gado-gado keluarga dan lingkungan membatasi dirimu untuk melangkah bersama Tuhan.
2.      Dalam melangkah saudara harus mengajak partner/teman/sahabat, Walaupun mungkin jawaban mereka hanya “kerjaanku banyak atau susah atur jam kerja atau masih banyak alasan lagi” itu tanda, sebenarnya mereka mau memberi diri, saudara harus berdoa khusus buat mereka dengan tidak putus-putus seolah-olah tanpa mereka saudara tidak akan berhasil melakukan suatu kegiatan.
3.      “Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.”  Mazmur 112:1. Apa yang di tabur sekarang itu juga nanti yang akan di tuainya.

Mari Berdoa : “DARAH KRISTUS MEMBENTENGI-ku dari tipu muslihat iblis, DARAH KRISTUS tercurah atas alam sadar-ku, alam tak sadar-ku dan alam bawah sadarku, sehingga aku bisa mendengar suaraMu. DARAH KRISTUS BERI SEMANGAT BARU, sehingga aku mampu melangkah maju” Amin.

Friday, October 7, 2011

MATERI KHOTBAH MINGGU 09 OKTOBER 2011 DANIEL 6:1-6


MATERI KHOTBAH MINGGU 09 OKTOBER 2011
DANIEL 6:1-6 (sesuai SBU Pagi)

PENDAHULUAN
Nama Daniel adalah nama dari orang Ibrani yakni dani’el yang berarti Allah adalah Hakim-ku. Ia terkenal dengan ketaatan dan kesetiaanya kepada TUHAN, Allah Israel dan sekaligus mampu menjadi saksi iman di tengah pembuangannya di Babel. Siapa sesungguhnya Daniel?

Daniel terlahir sebagai bangsawan dan lahir sekitar tahun 625 SM (1:3-4). Ia mendapatkan pelajaran yang sangat keras melalui pengalaman hidupnya yakni ia dibawa ke dalam pembuangan oleh raja Nebukadnezar. Pada saat mengalami pembuangan itu, Daniel berusia sekitar 20 tahun. Menarik untuk disimak bahwa Daniel bersama dengan beberapa orang muda terpilih dalam rekrutme bekerja di istana raja. Awal pertama mereka harus menikuti kegiatan pelatihan yang sifatnya “ikatan dinas” yaitu setelah tiga tahun belajar dan dididik  dalam pengetahuan keistanaan mereka wajib bekerja kepada raja (bd.1:4,5).

Alkitab menyebutkan bahwa ada 4 orang dari Yehuda yang lolos seleksi yakni Daniel (kemudian disebut Beltsazar = kiranya ibu dewa bel melindungi raja); Hananya yang berarti yang dikasihi Tuhan (kemudian disebut Sadrakh = Disinari oleh Dewa Matahari Ba); Misael yang berarti Siapakah Allah? (kemudian disebut Mesakh= hamba dari Dewa Shach); dan Azaraya yang berarti Tuhan adalah penolongku (kemudian disebut Abednego = hamba dari dewa Nego).

Karier para pemuda Yehuda ini terbilang sangat baik dan terus menanjak, istimewa Daniel yang diberi nama sebutan orang Babel, yakni Beltsazar itu. Dalam pasal 2:48, Nebukadnezar mengangkatnya menjadi kepala penguasa di propinsi Babilonia dan kepala gubernur dari seluruh orang-orang bijak dari Babilonia.

Puncak karier Daniel adalah ketika ia berusia 90 tahun, pada masa pemerintahan Raja Darius dari Media, yangmengangkat Daniel menjadi salah satu dari tiga pejabat Raja dan bahkan Sang Raja sempat berpikir untuk menetapkannya menjadi pemimpin seluruh Kerajaannya (6:4).

Pada latar kisah inilah bacaan kita minggu ini dimulai.


GALIAN PERIKOP
Terdapat beberapa catatan penting dalam pasal 6:1-6 ini yang perlu didalami untuk mengungkap kesuksesan dibalik karier Daniel ini, yakni:
1.      Dalam ayat 1-4 kita disuguhkan suatu kenyataan menarik bahwa Dainel terpilih sebagai salah satu dari 3 Pejabat Tinggi Kerajaan yang membawahi 120 pejabat wakil raja di seluruh kerajaan. Tugas utama Daniel adalah menjadi pengawas terhadap para wakil raja serta secara khusus menjaga wibawa raja agar kekuasaan dan kekayaan raja dapat diper-tanggung-jawabkan dan tidak terjadi kerugian.

Posisi ini bisa dibilang cukup “basah” dan sangat menjanjikan untuk dapat peluang memperkaya diri sendiri atau bahasa modern sekarang Korupsi. Mengapa tidak? Seluruh wakil-wakil raja yang membawahi luasnya kerajaan itu, dan bahkan sampai daerah jajahan sekalipun wajib untuk melaporkan apapun kondisi dan perkembangan kerajaan kepada Daniel termasuk juga barangkali jumlah upeti dan kekayaan raja.

Dengan kata lain, 3 0rang ini termasuk Daniel adalah pejabat tertinggi setelah Raja Darius tentunya. Satu-satunya pejabat yang mengawasi dan dapat memerintah Daniel adalah Raja sendiri. Tapi adalah mustahil seorang Raja melakukan pengawasan melekat kepada mereka bertiga sebab tugas itu sudah dilimpahkan kepada mereka sendiri (bd. Ay.3). Maka peluang untuk terjadi kejahatan “korupsi” sangatlah mungkin tanpa sepengetahuan raja. Daniel bisa saja memanfaatkan posisi dan jabatannya itu demi kesenangannya. Namun kita menemukan hingga akhir kisah ini, Daniel tetap “bersih” dari penyalahgunaan jabatan dan kekuasaan.

2.      Daniel bukan saja hidup “bersih” dari penyalah-gunaan jabatan dan kekuasaan, ia bahkan mampun untuk bekerja dengan baik dan berhasil dalam tugas dan tanggung-jawabnya itu. Hal ini terbukti lewat suksesnya Daniel “mengkaryakan” posisinya untuk kejayaan kerajaan sehingga oleh raja ia dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi lagi dari rekan-rekan sekerjanya. Daniel disiapkan menjadi penguasa seluruh kerajaan Darius (ay.4).

Dengan kata lain, Daniel adalah seorang pekerja keras dan bukan pribadi yang cepat puas terhadap capaian diri. Ini tidak berarti bahwa Daniel seorang yang ambisius dan tidak pernah ingin berhenti mencapai posisi. Bukan, Daniel tidak seperti itu!! Hal ini disebabkan, menurut ayat 4, karena Daniel memiliki roh yang luar biasa. Apapun maksud dari pernyataan ayat tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa Daniel memperoleh “Karunia” lebih dari mereka yang lain karena TUHAN menganugerahkannya. Dapatlah dikatakan bahwa semakin besar karunia yang ia miliki, semakin tinggi juga nilai capaian dan pertanggung-jawabannya kepada Sang Pemberi karunia. Artinya, talenta itu tidak ditanam Daniel dalam tanah.

3.      Mengapa Daniel mampu mencapai prestasi sedemikian? Kita pastilah sepakat bahwa itu atas anugerah TUHAN, Allah Israel yang juga adalah Allah-nya Daniel. Namun, hal yang perlu ditelusuri adalah kehadiran Allah bagi Daniel pastilah ada alasannya. Mengapa ia begitu disertai TUHAN; apakah yang sudah dilakukan Daniel? Jawabannya kita temukan pada sikap dan sifat Daniel sebagai pribadi yang dikasihi Allah (10:11), yakni:
  1. Daniel hidup dalam ketaatan (6:5,6)
Sesuatu yang penting dan utama dari tokoh ini adalah Daniel seorang pribadi yang memiliki semangat rohani yang luar biasa. Hal ini nampak dan jelas dinyatakan dalam ayat 5 bacan kita bahwa ketaatanNya kepada Allah dilakukan lewat “hidup bersih” dari segala kesalahan dan penyelewengan aturan kerajaan; yang diimbangi dengan Ketaatannya beribadah kepada Allah.

Daniel berhasil melakukan apa yang dikehendaki raja. Nilai kepercayaan raja tidak disia-siakan Daniel. Ia berhasil dipercayai manusia sehingga tidak satupun ditemukan kesalahan terhadapnya. Di sisi lain, kedekatannya dengan TUHAN adalah nilai lebih dan nilai beda dari para pejabat kerajaan. Kehidupan spiritualitasnya demikian baik yang justru terbentu karena hidupnya yang selalu beribadah kepada TUHAN.

  1. Daniel memilih menyenangkan TUHAN dari pada manusia (6:11-12)
Disebutkan di atas bahwa Daniel taat pada aturan kerajaan. Namun Daniel juga memiliki prinsip hidup spiritualitas yang teruji. Saat aturan kerajaan menghalanginya untuk beribadah kepada Allah, Daniel lebih memilih taat kepada TUHAN, Allah-nya dari pada aturan dan ketetapan manusia.
Perhatikanlah apa yang terjadi pada ayat 11 dan 12 bacaan kita. Harusnya jika ingin “aman” dari masalah hukum, bisa saja Daniel mengambil langkah taktis yang kompromistis yaitu: untuk sementara menunda beribadah kepada TUHAN selama 30 hari (aturan ayat 8) dengan keyakinan “pastilah TUHAN mengerti” kondisi ini. Luar biasanya adalah, Daniel tidak memilih langkah “aman” ini.

Apa yang ia lalukan? Daniel sadar bahwa ada larangan tentang beribadah kepada TUHAN, Allah. Kalaupun Daniel tetap berniat beribadah, harusnya ia segera menutup jendela dan kemudian berdoa diam-diam kepada TUHAN, Allahnya. Namun justru yang dilakukannya berbeda. Pada ayat 11 pasal 6, Daniel justru berdoa dengan jendela yang terbuka mengarah ke Yerusalem dan tentu saja efeknya, setiap orang dapat melihat dan mendengar ketika ia sedang berdoa. Akhirnya ia ditangkap.

  1. Daniel hidup mengekspresikan Kasih Allah (6:22-23)
Normalnya reaksi seseorang ketika disakiti adalah merasa dendam dan lebih cendrung memutuskan tali silahturahmi dengan orang lain yang telah melukai hati. Namun tidak demikian dengan Daniel. Ia mampu mengekspresikan Kasih Allah dalam dirinya lewat “melepaskan pengampunan” dan memaafkan sikap raja yang kurang bijak memjatuhi hukuman ke goa singa untuknya.

Sikap Daniel ini tergambar dalam ayat 22-23 ketika menjawab pertanyaan Raja dengan penuh hormat dan sanjungan tanpa menunjukkan sedikitpun rasa benci atau dendam. Inilah integritas pribadi yang mengasihi dan dikasihi Allah.

  1. Daniel tidak “silau” dengan harta duniawi (5:16,17)
Kita juga menemukan pribadi Daniel yang tahan uji dalam hal kekayaan dan kehormatan. Saat ia harus membaca tulisan di dinding itu dan menguraikan maknanya, Daniel ditawarkan hadiah dan jabatan yang luar biasa tak ternilai. Jika ia tidak tahan uji, pastilah tidak akan terucap dari bibirnya dalam ayat 17 yang berbunyi: “tahanlah hadia tuanku … berikanlah kepada orang lain.” Mengapa demikian? Karena yang utama bagi Daniel adalah menyampaikan pesan TUHAN melalui tulisan itu dan bukan soal iming-iming hadiah yang menggiurkan.

Daniel Fokus pada misi Allah bagi raja yang mencoreng kekudusan-Nya karena menajiskan alat-alat Bait Suci yang kudus itu. Harta dan kekuasaan tidak mampu mengalihkan Daniel pada prioritas utamanya ketika dihadirkan TUHAN dalam pembuangan tersebut, yakni menjadi jurubicara-Nya bagi bangsa tersebut.

Itulah empat alasan dari sekian banyak hal lain tentang sikap dan sifat Daniel sehingga ia menjadi pribadi yang berhasil di tengah pergumulan pembuangan dan sekaligus menjadi pribadi yang sangat di kasihi TUHAN, Allah Israel.

APLIKASI DAN RELEVANSI
Dari uraian di atas, pastilah ditemukan beberapa pokok penting yang cukup relevan dengan kehidupan orang percaya saat ini, secara khusus berhubung dengan menjadi pribadi yang berkenan kepada Tuhan Yesus Kristus.

Silakan direnungkan dan kembangkan beberapa pokok ini yang mungkin dapat direlevansikan:
1.      Jangan hanya bangga dan berhenti pada menjadi orang KRISTEN yang percaya, tapi jadilah orang yang dapat DIPERCAYA! Daniel adalah pribadi yang sangat dipercayai dikalangan istana termasuk raja karena sikap dan sifat yang ditunjukkannya.

2.      Pada jaman Daniel bangsa Media menyembah berhala. Tetapi Daniel justru 3 kali sehari berlutut untuk berdoa dan menyembah Allah dan setia beribadah kepadaNya. Lingkungan seringkali memperngaruhi pola pikir, pola tutur dan pola laku setiap orang. Tapi hal ini tidak mempengaruhi Daniel. Mengapa? Karena ia setia kepada Allah. Pada bagian akhir justru bukan lingkungan pembuangan itu yang mempengaruhi Daniel, namun justru kerajaan itu berhasil dipengaruhi Daniel karena imannya (bd. 6:26-28)

3.      Banyak orang sering melupakan Tuhan saat telah mencapai nikmat hidup. Tidak demikian dengan Daniel. Kesetiaannya kepada TUHAN tetap terjaga di tengah gemilaunya harta dan tingginya jabatan dan kekuasaan yang ia peroleh. Kejatuhan orang percaya lewat meninggalkan TUHAN lebih besar kemungkinannya saat hidup dan keadaan sangat berkelimpahan dan tak berkesusahan. Semakin bergumul, pastilah semakin dekat dengan TUHAN. Namun jika jauh dari persoalan, jauh juga hidup kerohaniaannya dari TUHAN. Daniel adalah contoh pribadi yang memiliki integritas iman yang mumpuni ketika ia tidak mampu dipengaruhi oleh keadaan apapun.

Selamat Menyiapkan Khotbah

SURAT KECIL UNTUK PARA PELAYAN YANG MULAI LELAH DAN REDUP

  SURAT KECIL UNTUK PELAYAN YANG MULAI LEL AH DAN REDUP “Tuhan, cukup ya… saya lelah.” (1 Raja-raja 19:1–18) Ada masa ketika seorang pelayan...