Monday, November 12, 2012


 PETUNJUK PELAKSANAAN
PENGADAAN PENGURUS PELAYANAN KATEGORIAL,
PELAYAN PELAYANAN ANAK DAN PELAYAN PERSEKUTUAN TERUNA
PERIODE MAJELIS JEMAAT TAHUN 2012 SAMPAI DENGAN 2017


A.       Pengertian

1.       Pengadaan yang dimaksud pada Petunjuk Pelaksanaan ini, adalah :
a.       proses terbentuknya Pengurus Pelkat, Pelayan PA & Pelayan PT hingga selesai diteguhkan untuk lingkup jemaat; dan
b.       proses terbentuknya Koordinator Pelaksana Program masing-masing Pelkat yang selanjutnya disebut sebagai Koordinator Wilayah Pelkat sesuai kategori atau disingkat menjadi Korwil hingga selesai diperkenalkan untuk lingkup Mupel.

2.       Unit Misioner adalah wadah pembinaan dan pelaksana misi GPIB dalam rangka pembangunan Jemaat secara berkesinambungan yang terdiri dari :
a.       Pelkat (Pelayanan Kategorial)
b.       Komisi
c.        Panitia
d.       Kelompok Kerja
e.       Musyawarah Pelayanan (Mupel)
f.         Kelompok Fungsional – Profesional (KFP)
g.       Unit –unit Usaha Milik Gereja (UUMG)
h.       Yayasan
i.         Departemen
j.         Unit Pembinaan dan Pemberdayaan Masyarakat (UP2M)
k.        Sesuai kebutuhan

3.       Pelkat adalah Unit Misioner GPIB sebagai  wadah pembinaan dan pemberdayaan warga gereja dalam keluarga & masyarakat sesuai kategori agar para anggotanya berperan aktif dalam pengembangan panggilan & pengutusan gereja secara utuh & berkesinambungan dan sebagai pelaksana misi gereja, kepada:
a.       Anak-anak disebut  Pelayanan Anak disingkat PA;
b.       Teruna disebut Persekutuan Teruna disingkat PT;
c.        Pemuda disebut Gerakan Pemuda disingkat GP;
d.       Kaum ibu disebut Persekutuan Kaum Perempuan disingkat PKP;
e.       Kaum bapak disebut Persekutuan Kaum Bapak disingkat PKB;
f.         Kaum lanjut usia disebut Persekutuan Kaum Lanjut Usia disingkat PKLU.

4.       Pengurus Pelkat adalah mereka yang telah melalui semua proses Pengadaan seperti dimaksud pada nomor 1.a huruf A di atas.

5.       Koordinator Wilayah Pelkat sesuai kategori adalah salah satu Badan Pembantu dan Alat Pelaksana dari Badan Pelaksana Mupel sesuai kategori Pelkat yang telah melalui semua proses pengadaan seperti dimaksud bagian Huruf A ini pada nomor 1.a sebagai Pengurus dan 1.b di atas.

6.       Fungsi dan Tugas Pengurus Pelkat sebagai Unit Misioner :
a.       Melaksanakan pembinaan dan pemberdayaan warga gereja secara spesifik sesuai kategori
b.       Memikirkan, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program pembinaan, pelayanan dan kesaksian warga gereja di lingkup Jemaat  / Mupel
c.        Menjadwalkan pembinaan secara periodik  bekerjasama dengan Komisi PPSDI
d.       Mengatur kegiatan melalui koordinasi antar pengurus Pelkat dan Majelis Jemaat
e.       Menyusun program kerja dan anggaran tahunan
f.         Menentukan Koordinator Pelkat secara bergilir untuk melaksanakan kegiatan terpadu

7.       Pemilih adalah mereka yang disebutkan di dalam Pasal 2 Keanggotaan Peraturan Nomor 15 Tentang Pelayanan Kategorial GPIB (khusus PA dan PT adalah pengurus dan pelayan masing-masing PA & PT).


B.      Masa Tugas

1.       Masa tugas Pengurus Pelkat ditetapkan sesuai dengan masa tugas Pelaksana Harian Majelis Jemaat di lingkup Jemaat (2,5 tahun).
2.       Masa tugas pelayan PA dan Pelayan PT  ditetapkan sesuai sesuai dengan masa tugas Majelis Jemaat.
3.       Masa tugas Koordinator Pelaksana Program masing-masing Pelkat disesuaikan dengan Badan Pelaksana Mupel selama masa tugas Majelis Jemaat 2012 – 2017.
4.       Pengadaan pelayan PA dan pelayan PT dapat dilaksanakan setiap tahun sesuai kebutuhan.


C.      Fungsi  Petunjuk Pelaksanaan

1.       Memberikan pedoman bagi Jemaat dalam melakukan proses pengadaan Pengurus Pelkat, Palayan PA dan Pelayan PT di lingkup jemaat.
2.       Memberikan pedoman bagi Mupel dalam melakukan proses pengadaan Koordinator Wilayah sesuai kategori di lingkup Mupel.


D.      Persyaratan Kualitatif
Calon Pengurus Pelkat hendaknya memiliki kemampuan dan semangat membina / memperlengkapi warga gereja sesuai kategori bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus (Efesus 4 : 11-12), agar warga gereja dapat melaksanakan Panggilan dan Pengutusan Gereja.

1.       Tidak angkuh / serakah, bukan pemabuk / pemarah / pemfitnah,
2.       Menjadi teladan,
3.       Bersikap baik, bijak, adil dan saleh,       
4.       Dapat menguasai diri,
5.       Mampu menasihati orang lain (Titus 1:6-9, I Timotius 3:8-13),
6.       Mampu menjaga kewibawan dan rahasia pelayanan,
7.       Tidak berada dalam Penggembalaan khusus oleh Majelis Jemaat,
8.       Memiliki semangat pengabdian yang tinggi, setia dan taat dalam penatalayanan GPIB serta senantiasa menjaga kemurnian ajaran gereja dalam kesetiaan kepada Tuhan Yesus Kristus,
9.       Memiliki wawasan Oikumenis dan Kemasyarakatan yang cukup serta sikap dan kemauan bekerjasama yang positif dan konstruktif,
10.    Mampu melaksanakan Panggilan dan Pengutusan Gereja secara bertanggungjawab.
11.    Sehat Jasmani dan Mental.


E.       Persyaratan Administratif

 

1.       Tentang tempat tinggal, yaitu :
a.       Bertempat tinggal di wilayah pelayanan Jemaat setempat.
b.       Khusus bagi Jemaat dalam kondisi tertentu (kekurangan sumber daya insani), Majelis Jemaat dapat mengambil kebijakan dalam hal pengadaan Pengurus Pelkat, Pelayan PA dan Pelayan PT.
2.       Sekurang-kurangnya sudah 1 (satu) tahun menjadi anggota Sidi Jemaat.
3.       Terdaftar dalam jemaat sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan pada saat pemilihan.
4.       Wajib menunjukkan Surat Sidi Gereja.
5.       Jika sudah menikah wajib menunjukkan Surat Nikah Gereja dan Surat Nikah Catatan Sipil.
6.       Sekurang-kurangnya berijazah Sekolah Menengah Umum / sederajat, kecuali di jemaat tertentu dapat lebih rendah (misalnya : wilayah-wilayah Pelkes, Jemaat Pemekaran Pelkes atau dalam kondisi keterbatasan sumber daya dan atas pertimbangan dari Majelis Jemaat).
7.       Bukan Isteri atau Suami Pendeta yang ditempatkan di jemaat setempat kecuali Janda / Duda Pendeta.
8.       Bukan Pegawai atau Tenaga Honorer GPIB di jemaat yang bersangkutan.
9.       Mengikuti semua materi pembinaan bagi Pengurus Pelkat dan Pelayan PA/PT terpilih.
10.    Pelayan PA dan Pelayan PT adalah Warga Sidi Jemaat.
11.    Khusus Pelayan PT berusia minimal 5 (lima) tahun di atas anak layan (diatas 17 tahun).
12.    Menandatangani Surat Pernyataan Kesediaan dan Loyalitas.
13.    Pengurus Pelkat hanya diperkenankan menjabat 2 (dua) periode berturut-turut dalam rangka proses kaderisasi.


Persyaratan Ketua PELKAT
1.       Pernah menjadi pengurus salah satu pelkat dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan pelkat di jemaat.
2.       Khusus untuk Pelkat PKLU dikecualikan dari persyaratan butir 1 dan berusia minimal 60 tahun.
3.    Memiliki wawasan kepemimpinan missioner dan kemampuan managerial.
4.    Mampu memahami dan menerjemahkan PKUPPG GPIB ke dalam program kerja dan tindakan nyata.


F.       Organisasi Kepengurusan di Lingkup Jemaat

1.    Setiap Pelkat sekurang-kurangnya terdiri dari tiga orang yaitu masing – masing sebagai Ketua, Sekretaris dan Bendahara.
2.    Apabila dibutuhkan, maka pengembangan organisasi kepengurusan masing-masing Pelkat dapat menjadi :
·         Ketua
·         Wakil Ketua
·         Sekretaris
·         Wakil Sekretaris
·         Bendahara
·         Koordinator Bidang
-         PA : Spiritual dan Sosial.
-         PT : Spiritual, Sosial dan Kreatif
-         GP : Spiritual, Sosial dan Pengkaderan
-         PKP : Kegerejaan, Kekeluargaan, Kewirausahaan, Kemasyarakatan
-         PKB : Kegerejaan, Kekeluargaan, Kewirausahaan, Kemasyarakatan
-         PKLU : Spiritual, Relasi Sosis-Emosional.
·         Koordinator Sektor
3.    Selain dari pada angka 2 di atas, Jemaat dapat melakukan penyesuaian organisasi kepengurusan masing-masing Pelkat sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan Jemaat khususnya Pelkat yang bersangkutan.


G.      Mekanisme dan Jadwal Pengadaan di Lingkup Jemaat

Prosedur Pemilihan :
1.       Penanggungjawab pemilihan adalah Majelis Jemaat dalam hal ini Ketua III PHMJ.
2.       Majelis Jemaat berkoordinasi dengan Pengurus Pelkat untuk menunjuk dan menetapkan pelaksana pemilihan / panitia yang terdiri dari unsur Pengurus Pelkat yang tidak dapat dipilih kembali, Diaken dan Penatua berikut dengan tugas dan tanggung jawabnya.
3.       Pelaksana pemilihan / panitia tidak dapat memilih dan dipilih.
4.       Pemilihan dapat dilakukan dengan cara :
a.    Pertemuan anggota Pelkat yang bersangkutan mulai dari masing-masing sektor pelayanan jemaat untuk memilih bakal calon, yang kemudian akan dipilih kembali sebagai calon pengurus secara terpusat,
b.    Apabila point (a.) di atas sudah dilaksanakan tetapi belum menghasilkan pengurus, maka pelaksana pemilihan bersama Majelis Jemaat mengadakan pendekatan kepada masing-masing anggota Pelkat  yang potensial untuk dicalonkan sebagai pengurus,
c.     Khusus PA dan PT, calon pengurus dipilih diantara para Pelayan.


Pelaksanaan Pemilihan adalah sebagai berikut :
1.       Pemilihan dilakukan dengan diawali kebaktian dan pengarahan tentang pelaksanaan pemilihan oleh Majelis Jemaat,
2.       Pemilihan dilakukan dalam  3 tahap :
a.    Tahap kesediaan calon,
b.    Tahap pencalonan,
c.     Tahap pemilihan,
3.       Pada pemilihan dengan cara pertemuan anggota Pelkat yang bersangkutan, maka :
a.    Pertemuan memilih bakal calon pengurus dari setiap sektor,
b.    Dari hasil pemilihan point 3.a., dipilih Calon Pengurus sesuai struktur yang telah ditetapkan,
c.     Hasil pemilihan point 3.b, disampaikan kepada Majelis Jemaat untuk ditetapkan,
4.       Nama-nama calon Pengurus Pelkat terpilih, Pelayan PA dan Pelayan PT diumumkan di Warta Jemaat selama 2 (dua) minggu berturut-turut.


H.      Pembinaan

Semua calon Pengurus Pelkat, Pelayan PA dan Pelayan PT terpilih wajib mengikuti pembinaan sebelum diteguhkan. Ada 6 materi bina yang akan dikirim tersendiri untuk dipakai dalam pembinaan.

Materi Bina :
Ada 6 materi bina yang akan dikirim tersendiri untuk dipakai dalam pembinaan.

Tenaga Bina
1.       Majelis Sinode
2.       Dewan Pelkat
3.       Tenaga Bina yang ada di jemaat / mupel setempat (pendeta, penatua, diaken) termasuk di dalamnya para Tenaga Bina GP GPIB pada wilayah setempat, sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, dengan menggunakan materi bina di atas dan dipelajari terlebih dahulu.


I.         Peneguhan

1.       Peneguhan Pengurus Pelkat terpilih, Pelayan PA dan Pelayan PT dilakukan dalam salah satu Ibadah Minggu Jemaat.
2.       Pelaksanaan peneguhan selambat-lambatnya akhir Februari 2013.
3.       Setelah diteguhkan, Pengurus hendaknya terus membekali diri dengan mengikuti pembinaan-pembinaan di kategorinya masing-masing.


J.       Koordinator Wilayah Mupel
1.       BP Mupel mengangkat Korwil Pelkat sesuai kategori guna menunjang kegiatan kebersamaan di tingkat wilayah.
2.       Korwil Pelkat sesuai kategori diperkenalkan di dalam Ibadah Minggu di salah satu jemaat dalam wilayah Mupel.


K.      Pergantian Antar Waktu

Apabila ada Pengurus Pelkat tidak aktif 6 (enam) bulan secara berturut-turut tanpa alasan yang dapat diterima, Pengurus Pelkat yang bersangkutan dapat memberitahukan Majelis Jemaat untuk mengadakan pendekatan khusus dan melakukan pergantian antar waktu dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.


L.       Penutup

1.       Petunjuk Pelaksanaan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
2.       Dengan ditetapkannya Petunjuk Pelaksanaan ini, maka semua Petunjuk Pelaksanaan mengenai Pengadaan Pengurus Pelkat, Pelayan PA dan Pelayan PT sebelumnya tidak berlaku lagi.

Ditetapkan di        : Jakarta
Pada tanggal        : 9 Oktober 2012
------------------------------------------------
                                                     MAJELIS SINODE GPIB


Pendeta Rudy I. Ririhena                                                  Penatua Johan Tumanduk
Ketua III                                                                                 Sekretaris II

DANIEL 11:2-24 (Bahan PKB-PKP-Sektor)


DANIEL 11:2-24
Uraian Mengenai Sejarah Dunia Yang Dinubuatkan Daniel
Melalui Wahyu Malaikat Gabriel

Pengantar
Keseluruhan isi Daniel 11 merupakan Nubuatan yang belum terjadi pada masa Daniel, namun dalam kehidupan zaman sekarang hal itu sudah di genapi dan sangat singkron dengan sejarah dunia.

Pemahaman Text
Ayat 2:
Ada 3 Raja yang muncul sesudah pemerintahan Raja Koresy, yakni Raja Kambises, Smerdis dan Darius Histaspis.

Raja yang ke-4 yang disebut memiliki kekayaan berlimpah adalah Raja Ahasyweros pada jaman kitab Ester.

Ayat 3:
Disebutkan bahwa tiba-tiba muncul raja yang gagah perkasa yang akan menaklukkan Persia. Raja itu adalah raja dari kerajaan Yunani yang bernama Alexander Agung yang kemudian diberi nama Persia-Aran-Iran yakni Iskandar Agung.

Raja ini begitu sombong dan angkuh, sehingga pada akhirnya mengalami kemalangan dan terbunuh pada usia 32 tahun melawan kekuatan Romawi.

Ayat 4:
Kehancuran Kerajaan Yunani di bawah pemerintahan Alexander Agung ini, kemudian menyebabkan kerajaan ini terpecah menjadi 4 kerajaan kecil yang dipimpin oleh raja-raja kecil berdasarkan klan atau wangsa, yakni:
  1. Kerajaan Wangsa Potolemi di Mesir (kerajaan Selatan)
  2. Kerajaan Wangsa Selucid di Siria (kerajaan Utara)
  3. Kerajaan Wangsa Pergamon di Asia (kerajaan timur)
  4. Kerajaan Macedonia (Kerajaan Barat?)

Ayat 5-6:
Ada dua kerajaan yakni Selatan dan Utara yang disebut dalam ayat 5. dua kerajaan itu adalah:
  1. Kerajaan Selatan, yakni MESIR. Rajanya bernama Potolemi Soter
  2. Kerajaan Utara, yakni SIRIA. Rajanya bernama Antiokhus I dari Roma keturunan Yunani

Kedua kerajaan ini dalam ayat 6 kemudian bersekutu melalui dinikahkannya putri Raja Mesir bernama Puteri Berenike dengan Raja Antiokhus I di Siria. Namun kemudian persekutuan ini pada akhirnya mengalami kegagalan pula.

Ayat 7-19
Bagian ini mengisahkan tentang sepak terjang Raja Siria bernama Antiokhus II cucu dari Antiokhus I.

Ayat 20
Muncul raja yang tidak terdeteksi dalam sejarah.

Ayat 21-24
Mengisahkan tentang Raja Antiokhus IV yang lebih dikenal dengan sebutan ANTIOKHUS EPIFANES. Istilah Epifanes berarti turunan ilahi atau agung tutusan dewa (zeus) yang kental dengan budaya Yunani. Raja ini terkenal begis dan dicatat sangat istimewa dalam sejarah dunia juga dalam kitab Makabe (kitab sejarah Israel) karena kegilaannya menjarah bait suci pada tahun 176 sM.

Selama pemerintahannya, terjadi banyak persekongkolan untuk menjadi imam besar pada pihak Yason dan Menelaus. Karena kelakuan mereka tak pantas, Antiokhus mengunjungi Yerusalem pada thn 169. Ia memaksa dibiarkan memasuki Tempat Paling Suci dalam Bait Suci, dan menjarah beberapa bejana emas dan perak perbendaharaan Bait Suci itu. Tekanan dari Mesir membuatnya yakin harus memasyarakatkan kebudayaan Yunani di Palestina, dan ia melancarkan tindakan atas agama Yahudi yg mengakibatkan upacara korban di Bait Suci terhenti, dan ia membangun mezbah Yunani di tempat mezbah Allah pada tgl 25 Des 167. Pemberontakan yg dipimpin Matatias dari keluarga Hasmon bersama kelima anaknya berhasil, sehingga Bait Suci dikuduskan kembali 3 thn kemudian. Antiokhus, yg pada mata uangnya di akhir pemerintahannya menyebut dirinya Epiphanes, yg berarti dewa yg dinyatakan, meninggal dalam kampanye di Media pada thn 164 sM.

Aplikasi dan Relevansi
1.      kitab Daniel adalah suatu bukti iman bahwa TUHAN Allah berkarya dalam sejarah dunia dengan mencatata hal-hal yang belum terjadi di masa depan sekalipun. Kisah yang ditulis pada seluruh kitab Daniel sejak tahun 365 sM merupakan nubuatan sejarah hingga tahun 20 SM atau 20 Tahun mendekati kelahiran Tuhan Yesus.

Hal ini harusnya menginspirasi orang Kristen bahwa Alkitab kita bukan sembarangan kitab. Alkitab kita adalah kitab ajaib yang sungguh suatu mujizat yang tak terbantahkan. Dengan ini orang Kristen harus semakin yakin bahwa tidak keliru dan bukan suatu kesalahan percaya kepada isi alkitab. Jangan ragu pada kebenaran Firman, sebab kitab Daniel telah membuktikannya.

2.      Kisah Daniel tentang para pemimpin dunia yang hebat dan perlkasa ini mengingtakan kita bahwa kerjaaan dunia tidak abadi. Mereka yang hebat termasuk yang menyebut diri titisan dewa sekalipun tidak ada yang abadi. Semuanya mati.

Hal ini mau menunjukkan tentang betapa rapuhnya kerajaan dunia dibanding dengan Pemerintahan Allah yang tidak tertandingi. Kalaupun dalam sejarah dunia ini kerajaan2 manusia dapat hadir dan pesat berkembang, hal itu hanyalah atas seijin Tuhan untuk kemudian TUHAN pakai sebagai sarana mewujudkan rencanaNYA yang Agung.

Sebagai contoh, Kaisar Agustus di kerjaan Romawi dipakai TUHAN, Allah untuk memungkinkan Yesus Kristus Putra Allah dapat lahir di Bethlehem sesuai nubuatan nabi Mikha.

Karena itu mari bersyukur bahwa kita adalah umat yang tidak salah pilih iman. Kita wajib untuk menyiarkan karya Tuhan dalam sejarah manusia sebagai pewartaan bagi keselamatan dunai. Amin.

Monday, October 29, 2012

BAHAN RENUNGAN PKP 30 OKTOBER 2012


TITUS 3:8-11

PENGANTAR
Titus adalah seorang pelayan yang dikader oleh Rasul Paulus. Ada banyak kondisi sulit yang dihadapi Titus di Kreta tempat ia melayani. Salah satunya adalah munculnya berbagai ajaran sesat sehingga menjadi perdebatan dalam jemaat. Ada beberapa saran Paulus terhadap kondisi ini yang harus segera dilakukan dan diajarkan Titus kepada jemaatnya yang tertuang dalam suratnya kepada Titus

TELAAH PERIKOP
Paulus menganjurkan kepada Titus untuk memperhatikan beberapa hal penting ketika menghadapi kondisi di Kreta, yakni:
1.      Lakukanlah Pekerjaan Baik (ay.8)
Umat Kristen di Kreta sering diperlakukan kurang baik oleh Pemerintah yang berlaku tidak adil serta pula orang banyak sekitar yang mencemooh iman mereka dan meremehkan mereka di depan umum. Apalagi banyak ajaran sesat yang berusaha untuk menganggu keutuhan jemaat. Paulus menasehati bahwa mereka harus tetap berbuat baik kepada semua orang termasuk kepada yang menjahati mereka sekalipun.

Paulus menekankan bahwa semua perbuatan baik yang dilakukan oleh orang percaya dengan cara tunduk kepada pemerintah ataupun berbuat baik kepada semua orang bukanlah pertama-tama dilakukan atas motivasi demi menyenangkan pemerintah atau sesama manusia, namun sebagai wujud hidup orang percaya yang telah diselamatkan oleh anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus.

Perbuatan baik kepada pemerintah dan sesama haruslah dipahami bukan sebagai syarat untuk dapat diselamatkan. Sebab umat percaya tidak diselamatkan karena perbuatan baik kita (ay.4) namun justru karena anugerah Allah. Karena itu motivasi yang tepat untuk tunduk pada para penguasa dan sesama harus dilakukan sebagai tanda syukur atas kemurahan Allah.

2.      Hindari Pertengkaran (ay.9-11)
Biasanya pertengkaran hanya mungkin terjadi jika melibatkan minimal dua orang atau dua kelompok. Pertengkaran muncul akibat hadirnya aksi yang berlebihan yang dibarengi dengan reaksi yang tidak kalah berlebihan pula. Hal inilah yang dimaksud Paulus dalam ayat 9-10 bacaan kita. Adalah lebih bijak menurut Paulus untuk menghindari pertengkaran dari pada berusaha masuk dan terjun dalam arena pertengkaran tersebut.

Titus dimintakan untuk berani tampil beda dan lebih banyak untuk mengalah. Sebab seorang hamba Tuhan sangat disayangkan jika terlibat dalam pertengkaran dan menghamburkan emosi yang sia-sia itu. Kunci untuk terhindar dari pertengkaran adalah dengan berusaha tetap ramah kepada siapaun termasuk orang yang memusuhinya; dan sabar menghadapi setiap cercaan tersebut. Itulah sebabnya dalam ayat 10 Paulus mengajak Titus untuk meninggalkan si penyesat itu (bidat) supaya tidak lagi ada perdebatan yang membawa perselisihan. Selanjutnya biarlah Tuhan sendiri yang akan berurusan dengan orang itu karena dosanya (ay.11


APLIKASI DAN RELEVANSI
Kekristenan bukan hanya sebuah ajaran ketuhanan (teologi).  Kekristenan adalah sebuah nilai hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan nyata, di tengah masyarakat.  Dari surat Paulus ini kita dapat belajar bagaimana seharusnya orang-orang Kristen bersikap ketika harus hidup sebagai kelompok minoritas, di sebuah masyarakat dan pemerintahan yang tidak mengenal nilai-nilai kekristenan.  Paulus menasihati orang-orang Kristen di pulau Kreta agar mereka tunduk dan taat kepada pemerintah.  Sikap yang serupa juga harus ditunjukkan terhadap masyarakat, yaitu sikap bersahabat dan anti-kekerasan.

Mudahkah bersikap demikian?  Tentu tidak mudah!  Apalagi bila kita hidup di tengah pemerintah dan masyarakat yang tidak bersahabat dengan kekristenan. Namun, orang-orang Kristen mempunyai beberapa alasan (motivasi) yang jelas untuk bersikap demikian.  Pertama, kita harus ingat bahwa kita juga orang-orang berdosa (ay.3).  Firman Tuhan mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati, juga secara rohani.  Bukankah sikap arogan dan merasa diri paling suci (dan orang lain sesat) sering digunakan sebagai alasan untuk memusuhi atau bahkan menganiaya orang lain?  Di Indonesia, kenyaatan semacam ini sangat memprihatinkan.  Kedua, kita harus senantiasa mengingat kasih dan kemurahan Allah yang telah menyelamatkan kita.  Jika kita ingat kasih dan kemurahan Tuhan kepada kita, masih adakah alasan untuk menahan kasih dan kemurahan kita kepada orang lain?  


Selanjutnya kita diajarkan untuk menjauhkan diri dari segala bentuk percekcokan dan perselisihan yang tidak menguntungkan. Entah itu berhubungan dengan pelayanan ataupun hidup bermasyarakat. Lebih baik hidup berdamai dengan semua orang, dan jika perlu tinggalkan orang-orang termasuk tertangga sekalipun jika ia selalu mencari persoalan atau fitnah dan gosip yang mendatangkan percekcokan. Amin

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 31 OKTOBER 2012


2 RAJA-RAJA 23:1-14

Jemaat Kekasih Kristus
Siapakah Yosia? Ia adalah salah satu raja Israel, seorang raja yang masih muda. Ia naik tahta pada saat berumur delapan tahun (2 Raj. 22:1), anak dari raja sebelumnya yaitu raja Amon (2 Raj. 21:26). Ayahnya Yosia adalah seorang raja yang melakukan hal-hal yang jahat di mata TUHAN, seperti juga yang telah dilakukan oleh kakeknya, raja Manasye (2 Raj. 21:20). Namun Yosia ternyata berbeda dengan ayah dan kakeknya, ia tidak menjadi seorang raja yang berbuat jahat. Sebaliknya, ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. (2 Raj. 22:2). Apa yang hebat tentang Yosia?

Sesungguhnya-lah, Yosia adalah seorang pahlawan. Yosia adalah raja yang juga adalah pahlawan bangsanya.

Jemaat Kekasih Kristus
Seorang pahlawan, yang pertama-tama, adalah seorang yang memberikan hidupnya bagi orang lain. Ia tidak mengutamakan kedudukan, tidak meninggikan kuasa dan wibawa, tidak mencari-cari hormat dari dunia, melainkan berupaya untuk memberikan apa yang terbaik dalam kemampuan-nya kepada banyak orang. Bukankah demikian sosok raja Yosia?

Dalam kemudaannya, ia tidak menjadi raja yang tinggi hati atau mementingkan kuasa yang dimilikinya. Sebaliknya, ketika ia mendengar Firman Tuhan beserta ucapan-ucapan kutuk terhadap bangsanya, raja Yosia begitu menyesal hingga mengoyakkan pakaiannya (2 Raj. 22:11). Ia tahu betul betapa hebat kemarahan Tuhan karena perbuatan orang tua serta bangsa Israel yang tidak setia. Ia begitu prihatin atas nasib bangsanya.

Ia ingin bangsanya terluput, barangkali Tuhan bersedia meredakan murka-Nya yang menyala-nyala. Ia merendahkan dirinya di hadapan Tuhan dengan dilihat oleh seluruh rakyatnya, ia tidak memikirkan bagaimana citra diri serta wibawanya sebagai raja, melainkan ia mengharapkan keselamatan bangsanya yang berdosa itu. Bukankah itu adalah sikap seorang pahlawan yang agung?

Yang kedua, seorang pahlawan juga adalah seorang yang meninggikan kebenaran di atas kepentingan dirinya. Ketika raja Yosia menemukan kebenaran itu dalam Hukum Taurat yang dibacakan padanya, segala kepentingan dirinya disingkirkan ke belakang. Bahkan, segala kepentingan lain disingkirkan ke belakang. Masalahnya jelas: bangsa Israel telah mengkhianati perjanjian yang mereka lakukan dengan Tuhan, bahkan mereka sudah melupakan perjanjian itu. Dengan tidak ragu-ragu, raja Yosia mengumpulkan seluruh orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, agar mereka mendengar kembali kitab perjanjian yang telah mereka lupakan. Itu adalah hal yang paling penting, bahkan lebih penting daripada kedudukannya sebagai raja: Yosia membacakan sendiri kitab perjanjian itu (2 Raj. 23:2). Kebenaran bagi Yosia lebih utama daripada status dirinya sebagai raja, sungguh ia seorang pahlawan besar.

Yang ketiga, seorang pahlawan mempunyai komitmen yang kuat atas apa yang harus diperjuang-kannya. Bahkan ia tidak hanya membawa komitmen itu bagi dirinya sendiri, melainkan membawa serta orang-orang di sekelilingnya untuk turut mengambil komitmen yang serupa. Yosia tidak berhenti dengan hanya membacakan kitab perjanjian itu, melainkan menyatakan komitmen, menyatakan diri untuk hidup dengan mengikuti Tuhan, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya, peraturan-peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu. Dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian itu. (2 Raj. 23:3) Kita lihat, sang raja Yosia telah melepaskan kuasanya sebagai raja yang dapat mengatur apapun sesuka hatinya, beralih tunduk pada perintah, peraturan, dan ketetapan Tuhan. Itulah komitmen yang dibuat oleh seorang pahlawan!

Yang keempat, seorang pahlawan adalah seorang yang bekerja sesuai dengan apa yang dinyatakannya. Ketika Yosia selesai menyatakan perjanjian antara dia dengan Tuhan, Yosia segera bertindak. Ia membersihkan Bait Tuhan, membersihkan Yerusalem, bahkan membersihkan seluruh tanah Yehuda dari segala sesembahan yang menjijikan hati Tuhan. Dalam perjalanannya, kelihatannya tidak ada seorang pun yang berani menentang raja Yosia, namun pastilah apa yang dilakukannya itu sama sekali tidak populer bagi penduduk negeri ini yang sudah terbiasa menyembah dewa-dewa serta memuaskan diri dengan nafsu. Lihatlah bagaimana kuatnya intensitas Yosia dalam mentaati Firman yang didengarnya; ia tidak perlahan-lahan, ia tidak ragu-ragu. Ia menghancurkan segala sesuatu yang telah dibangun ayah dan kakeknya serta banyak orang Israel tanpa merasa sayang, tanpa memberi kesempatan lain. Seorang pahlawan yang dengan yakin maju berperang demi apa yang diyakininya.

Walaupun pada akhirnya Yosia tewas dalam pertempuran melawan Mesir serta penerusnya tidak mengikuti komitmen yang sama, melainkan kembali melakukan yang jahat di mata Tuhan, Yosia tetap telah menjadi raja pahlawan bangsanya. Bahkan, sebenarnya ia menjadi pahlawan bagi diri kita juga sekarang.

Jemaat Kekasih Kristus
Dengan memandang kepada raja Yosia, kita juga dapat belajar untuk mengutamakan kebaikan bagi banyak orang, memberi hidup kita bagi orang lain. Jika Yosia yang adalah seorang raja sanggup memberikan hidupnya yang berkelimpahan demi kebaikan bangsanya, bukankah kita juga – yang hanyalah orang biasa -- juga dapat memberikan hidup kita bagi kebaikan banyak orang? Kita dapat membuka mata lebar-lebar, memandang bagaimana keadaan di sekitar kita, apa yang dibutuhkan oleh orang lain, dan terutama, apakah Kristus telah ada dalam hidup mereka. Itulah kebaikan yang terbesar, memberikan keselamatan dalam hidup yang kekal kepada orang lain.

Kita juga dapat belajar untuk mengutamakan kebenaran di atas segala sesuatu, bahkan di atas hidup kita sendiri. Di jaman masa kini, di mana kebenaran yang sungguh-sungguh telah diragukan, bahkan ditolak, orang banyak, kita dapat menyatakan kebenaran itu sebagai hal yang nyata dan utama dalam hidup. Bila raja Yosia menemukan kembali kitab perjanjian, kitab Hukum Taurat, bagi kita sekarang telah tersedia Alkitab, yaitu Firman Allah yang hidup. Dapatkah kita belajar dari raja Yosia untuk meninggikan Alkitab lebih daripada segala sesuatu? Hal ini sangat penting, karena walaupun Alkitab ditulis dengan bahasa yang biasa dipahami manusia, namun isinya berisi kebenaran yang mutlak, baik dalam perintah, penuturan sejarah, karya sastra, maupun surat-surat pengajaran yang diberikan.

Dan bagaimanakah dengan komitmen kita untuk setia kepada Tuhan?
Jika pada Yosia ada Perjanjian Lama, maka pada kita terdapat Perjanjian Baru antara kita dengan Tuhan. Allah telah memberikan Anak-Nya yang tunggal, untuk mati dan bangkit bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Bagian hidup kita adalah bertobat dan percaya pada Tuhan Yesus Kristus serta hidup di dalam-Nya. Ini bukan hal yang mudah atau sederhana, sebab kita harus melepaskan ego dan keakuan diri kita, melepaskan keinginan kita untuk mengatur hidup sesuka hati, untuk hidup menurut perintah yang Tuhan berikan. Ini adalah komitmen yang tidak cukup hanya diucapkan, melainkan harus menjadi dasar dari seluruh kehidupan.

Jemaat Kekasih Kristus
Yang terakhir, dengan belajar dari raja Yosia, apakah yang kita lakukan? Dapatkah kita dengan tegas membuang segala sesuatu yang najis di hadapan Tuhan, seperti kepahitan, dendam, atau iri hati atau keserakahan? Mungkin tindakan kita ini tidak populer bagi dunia, tidak sesuai dengan jalan pikiran dunia yang penuh nafsu dan keserakahan, yang tak berbeda dari penyembahan berhala. Tetapi jika raja Yosia dapat memiliki intensitas penuh untuk menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi bangsanya dengan Tuhan, maka kita pun dapat memiliki intensitas yang serupa untuk menyingkirkan segala sesuatu yang menghalangi hubungan antara kita dengan Tuhan.

Marilah jadikan hidup kita berarti bagaikan hidup seorang pahlawan, yang berjuang dengan gagah berani. Menjadi teguh dalam Tuhan yang telah memampukan kita semua. Amin

BAHAN RENUNGAN PKB 29 OKTOBER 2012


TITUS 3:1-7

PENGANTAR
Titus adalah seorang pelayan yang dikader oleh Rasul Paulus. Ada banyak kondisi sulit yang dihadapi Titus di Kreta tempat ia melayani. Salah satunya adalah perlakuan tidak adil pemerintah terhadap umat waktu itu dan juga sikap dan pola hidup umat Krsiten di Kreta yang tidak mejadi teladan Kristus bagi orang lain. Ada beberapa saran Paulus terhadap kondisi ini yang harus segera dilakukan dan diajarkan Titus kepada jemaatnya yang tertuang dalam suratnya kepada Titus

TELAAH PERIKOP
Paulus menganjurkan kepada Titus untuk memperhatikan beberapa hal penting ketika menghadapi kondisi di Kreta, yakni:
1.      Bagaimanakah Sikap Orang Kristen Kepada Pemerintah? (ay.1)
Umat Percaya dimintakan untuk melakukan ketaatan penuh kepada para penguasa atau pemerintah lewat tunduk kepada setiap perintah yang disampaikan. Mengapa perlu taat kepada pemerintah bahkan tunduk pada kekuasaan mereka. Dalam Roma 13:1-7 kita menemukan alasannya, yakni:

Pertama, pemerintah ada karena perkenan Allah (ayat 1). Entah mereka baik atau buruk, Tuhanlah yang mengizinkan mereka berkuasa. Kepada Pilatus yang menyalibkan-Nya, Yesus berkata: “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas” (Yohanes 19:11). Kita tunduk pada pemerintah, bukan berdasarkan baik tidaknya mereka, tetapi karena kita menghormati Allah yang menetapkan mereka.

Kedua, karena pemerintah ditetapkan oleh Allah, maka otoritas tertinggi ada di tangan Allah. Pemerintah yang memimpin menurut cara Allah akan memimpin dengan adil (ayat 3). Jika perintah mereka berlawanan dengan firman Tuhan, yang mutlak harus ditaati adalah Tuhan. Beberapa contoh sikap dalam Alkitab: dua bidan di Mesir yang tidak menaati Firaun; Daniel yang melanggar titah Raja Darius, Petrus dan Yohanes yang menolak perintah mahkamah agama. Mereka tidak kasar berontak, tetapi dengan jelas dan tegas menyampaikan kebenaran apa pun risikonya.

2.      Bagaimanakah Sikap Orang Kristen Kepada masyarakat sekitar? (ay.2)
Paulus berpesan melalui Titus agar jemaat, pengikut Yesus, selalu ramah terhadap semua orang. Berlaku ramah bukan hanya kepada sesama pengikut Yesus, melainkan juga kepada semua orang, kepada mereka yang berlaku baik terhadap jemaat maupun yang tak menyukai jemaat. Kelemah-lembutan adalah suatu karunia Roh Kudus (Gal.5:23). Dengan demikian karena orang percaya telah dikuasai Roh Kudus maka sudah sepatutnya hidup ramah kepada semua orang.

3.      Apakah Motivasi melakukan dua hal di atas? (3-7)
Paulus menekankan bahwa semua perbuatan baik yang dilakukan oleh orang percaya dengan cara tunduk kepada pemerintah ataupun berbuat baik kepada semua orang bukanlah pertama-tama dilakukan atas motivasi demi menyenangkan pemerintah atau sesama manusia, namun sebagai wujud hidup orang percaya yang telah diselamatkan oleh anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus.

Perbuatan baik kepada pemerintah dan sesama haruslah dipahami bukan sebagai syarat untuk dapat diselamatkan. Sebab umat percaya tidak diselamatkan karena perbuatan baik kita (ay.4) namun justru karena anugerah Allah. Karena itu motivasi yang tepat untuk tunduk pada para penguasa dan sesama harus dilakukan sebagai tanda syukur atas kemurahan Allah.


APLIKASI DAN RELEVANSI
Kekristenan bukan hanya sebuah ajaran ketuhanan (teologi).  Kekristenan adalah sebuah nilai hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan nyata, di tengah masyarakat.  Dari surat Paulus ini kita dapat belajar bagaimana seharusnya orang-orang Kristen bersikap ketika harus hidup sebagai kelompok minoritas, di sebuah masyarakat dan pemerintahan yang tidak mengenal nilai-nilai kekristenan.  Paulus menasihati orang-orang Kristen di pulau Kreta agar mereka tunduk dan taat kepada pemerintah.  Sikap yang serupa juga harus ditunjukkan terhadap masyarakat, yaitu sikap bersahabat dan anti-kekerasan.

Mudahkah bersikap demikian?  Tentu tidak mudah!  Apalagi bila kita hidup di tengah pemerintah dan masyarakat yang tidak bersahabat dengan kekristenan. Namun, orang-orang Kristen mempunyai beberapa alasan (motivasi) yang jelas untuk bersikap demikian.  Pertama, kita harus ingat bahwa kita juga orang-orang berdosa (ay.3).  Firman Tuhan mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati, juga secara rohani.  Bukankah sikap arogan dan merasa diri paling suci (dan orang lain sesat) sering digunakan sebagai alasan untuk memusuhi atau bahkan menganiaya orang lain?  Di Indonesia, kenyaatan semacam ini sangat memprihatinkan.  Kedua, kita harus senantiasa mengingat kasih dan kemurahan Allah yang telah menyelamatkan kita.  Jika kita ingat kasih dan kemurahan Tuhan kepada kita, masih adakah alasan untuk menahan kasih dan kemurahan kita kepada orang lain?  Amin

 

HABAKUK 2:6-20

BAHAN KHOTBAH IBADAH KELUARGA 4 NOVEMBER 2026 PENDAHULUAN Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, bayangkan Anda hidup di tengah dunia yang s...