Monday, October 15, 2018

KEJADIAN 13:1-13 = MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN BIJAK



Bahan Bacaan Alkitab Hari Minggu
21 OKTOBER 2018

PENGANTAR
Peristiwa ini terjadi ketika Abram pergi bersama dengan keluarganya, termasuk Lot menuju ke tempat yang diperintahkan TUHAN, Allahnya (12:1-8). Waktu kelaparan terjadi, ia dan rombongannya singgah ke Mesir (12:10-20) dan kemudiaan melanjutkan perjalanan menuju ke Negeb (13:1), lalu kemudian ia sampai bersama rombongan di dekat Betel yakni tepatnya diantara Betel dan Ai (ay.3). Di tempat inilah bacaan kita. Beberapa hal terjadi saat ini terutama konflik antara pekerja-pekerja dari Lot dan Abram. Bagaimana mereka menyelesaikanya? Dan apakah yang dilakukan oleh Abraham? Mari perhatikan uraian berikut ini.

TELAAH PERIKOP
Terdapat beberapa pokok penting yang menjadi penekanan dalam bacaan kita pada hari ini, yakni:
1.      Awal konflik antara Abram dan Lot (ay.1-7)
Sebagaimana disebutkan pada ay.1, Lot ikut bersama dengan Abram ketika Abram dipanggil oleh TUHAN menuju ke tanah yang di janjikan. Lot dalam Ibrani: לוֹט – LOT) artinya: tutup/ tabir), adalah anak laki-laki Haran. Dan Haran adalah adik Abraham yg paling muda. Sehingga Lot adalah kemenakan Abraham. Ternyata daerah tempat mereka berhenti itu tidak mampu menampung kekayaan mereka berdua (ay.6), secara khusus berhubungan dengan banyaknya ternak yang dimiliki oleh Abram dan Lot. Dampaknya adalah perselisihan.

Perselisihan yang dimaksud adalah perselisihan antara para gembala Abram dan gembala Lot. Bagaimanapun juga ini merupakan perselisihan kedua mereka walaupun terlihat tidak langsung. Kebutuhan untuk lahan dan jumlah pakan ternak dan kebutuhan menggembalakan ternak yang besar itu, sangat mungkin menjadi inti persoalan. Masalah wilayah yang sempit ini semakin besar persoalannya karena lahan dan tempat itu tidak hanya dipakai oleh mereka berdua tetapi juga oleh orang Kanaan dan orang Feris (ay.7).

2.      Apa yang dilakukan oleh Abram (ay.8-10)
Menyikapi konisi yang tidak nyaman itu, Abram kemudian segera bertindak untuk menengahi masalah tersebut. Ayat 8-9, menunjukkan siapa sesungguhnya Abram berdasarkan cara ia menyelesaikan masalah, yakni:

  1. Abram cepat tanggap
Abram berkata kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau….” (ay.8). Abram tahu bahwa perselisihan antara gembala-gembala mereka berpotensi pada perselisihan atau konflik antar mereka. Itu berarti hubungan antar keluarga akan rusak. Abram cepat tanggap dan menghentikan potensi kinnflik tersebut dengan cara memanggil Lot untuk menyelesaikan ini dengan cara kekeluargaan dan bijak.

Logika sederhana adalah Lot hanya “ngekor” kepada Abram. Seharusnya Lot yang mesti disalahkan. Langkah tepat dan instan untuk menyelesaikan masalah adalah mengusir Lot yang terseksan menjadi “masalah” dan “beban”. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh Abram. Ia justru bukanmelihat masalah kekurangan dan kerugian; sebaliknya Abram justru melihat masalah utama adalah “terancamnya” hubungan keluarga. Luar biasa, bukan?

  1. Abram mengalah untuk Lot
Hal yang menarik terjadi di ayat 9 bacaan kita. Abram memberikan kesempatan pertama bagi Lot untuk membuat pilihan lokasi dan tempat yang ia inginkan. Bukankah ini hal yang aneh? Seharusnya Abram-lah yang berhak membuat pilihan pertama, bukan saja karena ia adalah orangtua (paman) dari Lot, tetapi juga karena Lot hanya “menumpang” di perjalanan Abram memenuhi panggilan TUHAN.
Apa yang terjadi selanjutnya? Dapat dengan mudah kita menduga, yakni Lot memilih daerah yang terbaik. Lot memilih daerah yang subur yakni wilayah lembah Yordan (ay.10,11); sedangkan Abram kebagian daerah yang tidak subur yakni menetap di tanah Kanaan (ay.12). Dikemudian hari kita menemukan bahwa tanah pilihan Lot adalah pilihan keliru. Sebab tanah itu didiami oleh orang Sodom (ay.13) yang sangat berdosa lalu kemudian dimusnakan oleh Tuhan (bd. Kejadian 19:1-29.)


RELEVANSI DAN APLIKASI
Sayang sekali bahwa bacaan kita hanya berhenti di ayat 13. Padahal puncak cerita ada apada ayat 14-18, yakni ketika Tuhan sendiri menemui Abram pasca membuat pilihan tersebut dan menjanjikan bahwa Tanah yang ia pilih adalah tanah yang dijanjikan yakni tanah yang diberkati (ay.14). Dengan kata lain, tanah yang dipilih Abram untuk menumpang tinggal adalah tanah yang kelak menjadi hak miliknya secara penuh sebagai pemberian dari Allah. Dari kisah ini kita beberapa hal:

a.      Hindarilah konflik
Inilah yang dilakukan oleh Abram. Ia tidak terprofokasi pada situasi konfil para gembalanya, ia justru melihatnya sebagaimana masalah untuk segera menyelesaikannya. Konflik sedikitnya membutuhkan dua orang atau dua pihak. Jika salah satu pihak tidak bereaksi, maka tidak akan terjadi perseturuan.

Kita diajak untuk belajar pada Abram dan bagaimana ia mampu melakukan pilihan yang tepat ketika potensi konflik terjadi. Ia memilih cara damai, cara yang sangat elegan yakni berkomunikasi dengan pihak lain untuk menyelesaikannya. Daripada meruncingkan masalah, mari berupaya untuk menyelesaikan masalah.
  
b.      Mengalah bukan berarti kalah, buatlah pilihan.
Untuk menghindari perkelahian, Abram segera memutuskan mereka harus berpisah dan ia meminta Lot memilih. Lot memilih lembah Yordan yang terlihat sangat baik (Kej. 13:10-11). Abram pun mengalah dan menetap di tanah bagian lainnya, di Kanaan. Apa akibat dari pilihan Lot? Pada akhirnya tempat yang dipilih oleh Lot itu, dimusnahkan oleh Tuhan, yaitu Sodom dan Gomora. Sementara Abram? Secara kasat mata hanya mendapatkan tanah sisa dan terlihat tidak sebaik lembah Yordan yang banyak airnya, tetapi Abram rela untuk mengalah dan menjauhi pertengkaran.

Kita melihat bahwa justru Tuhan memberikan yang terbaik bagi Abram (Kej. 13:14, 15). Pelajaran apa yang kita dapatkan dari kisah Lot dan Abram sehubungan dengan pengambilan keputusan/pilihan? Jangan pernah mengambil keputusan hanya berdasarkan apa yang dilihat oleh mata dan diinginkan hati (ay. 10), tetapi ambillah pilihan setelah kita benar-benar bergumul di hadapan Tuhan, “Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya” (Maz. 25:12).

c.       Yang buruk terlihat belum tentu tidak baik
Akibat Abram mengalah demi tiadak ada perseturuan dengan Lot, ia mendapatkan tanah yang kurang baik dibanding Lot. Tapi benarkah demikian? Ternyata tidak. Yang terlihat kurang baik di mata manusia, Tuhan bisa mengubah tanah gersang Kanaan menjadi berlimpah susu dan madu.

Ada konsekuensi ketika kita membuat pilihan yang benar sekalipun, seperti Abram memilih mengalah. Tapi orang yang melakukan kebenaran tidak pernah diabaikan Tuhan. Abram adalah buktinya. Kiranya kita mampu untuk tetap memilih berbuat baik, walau kelihatannya tidak mengutungkan. Sebab TUHAN, Allah mampu mengubah yang buruk sekalipun menjadi yang terbaik.
------------------

Friday, October 12, 2018

2 Korintus 8:10-15 MEMBERI DENGAN RELA DAN SUKACITA


Bahan Khotbah Ibadah Keluarga
Rabu, 18 OKTOBER 2018

PENDAHULUAN
Surat dan pernyataan tegas ini ditulis Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus, disebabkan cara pandang yang keliru jemaat ini mengenai pemberian sukarela sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan melalui bantuan kepada Jemaat Yerusalem yang sedang mengalami Kesulitan. Paulus menangkap bahwa jemaat Korintus terlalu melakukan “perhitungan” untung rugi ketika akan memberikan persembahan tersebut. Sudah sekian kali mereka berjanji untuk memberikan, namun cukup lama ditunggu Paulus, pemberian tersebut tidak kunjung di realisasikan. Korintus menjanjikan untuk melaksanakan pemberian bantuan tersebut, yang oleh Paulus di sebut sebagai Perembahan Syukur, namun janji ini tidak pernah ditepati (bd. 2Kor.8:11; 9:5).


TELAAH PERIKOP
Justru karena kondis Korntuslah, maka Paulus menguraikan beberapa prinsip memberikan bantuan melalui persembahan sebagai ekspresi iman dan kasih kepada Allah serta sesama. Beberapa prinsip dimaksud adalah sebaga berikut:  

       1.       Jangan Menunda (ay.10-11)
Menurut beberapa catatan, jemaat Yerusalem mengalami bencana kemanusiaan karena muzibah banjir. Banyak orang termasuk umat Kristen di sana mengalami kesusahan akibat muzibah itu. Paulus kemudian bereaksi untuk menjadi kolektan dalam rangkan mengumpulkan klekte jemaat-jemaat diberbagai tempat. Respon positif ia peroleh dari beberapa gereja saat itu. Makedonia jemaat kecil yang kesusahan dan penuh penderitaan segera mengirimkan bantuan (ay.1,2). Mereka adalah jemaat miskin, namun justru kaya dalam memberi dan menopang Yerusalem yang kesusahan (ay.3-5).

Di sisi yang lain, Korintus tergolong jemaat kaya raya. Merekapun segera merspon dan berjanji kepada Paulus untuk memberikan bantuan. Tetapi, hingga 1 (satu) tahun dari janji itu, jemaat Korintus belum merealisaikannya (ay.10). Itulah sebabnya, Paulus mendesak mereka agar segera merealisasikan program bantuan itu kepada jemaat Yerusalem. Satu tahun penundaan adalah waktu yang tidak pendek. Yerusalem telah diabaikan Korintus selama satu tahun pasca bencana. Silakan bayangkan kondisi ini.

Mengapa itu terjadi, ada alasan apa  Korintus hingga tega melakukannya? Tidak ada penjelasan dalam teks kita! Namun jika memperhatikan ayat 11, kita menemukan sedikitnya dua alasan, yakni: Pertama, mentalitas menunda. Paulus berkata di ayat 11: “Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu!” Pemberian tanda baca “seru” sangat tepat dilakukan oleh LAI mewakili nada kecewa di hati Paulus sekaligus perintah tegas. Mereka bukan tidak memiliki dana, tetapi “sengaja” menunda dan atau tidak memiliki kepekaan bahwa hal itu sangat urgen sehingga tidak merasa bersala jika menundanya.

Sangat mungkin, warga jemaat Yerusalem,yang sedang menederita itu, menjadi semangat ketika –barangkali- berita baik tentang Korintus yang akan memberi bantuan, sudah mereka dengar dari Paulus sejak setahun lalu. Silakan bayangkan menanti janji dan sangat berharap pada pemberian itu, namun justru hingga setahun Korintus buta hati dan tanpa peduli menundanya.

Kedua, mentalitas menggenggam tangan. Paulus melanjutkan perkataannya di ayat 11: “Hendaklah pelaksanaanya sepadan dengan kerelaanmu…”. Kerelaan yang dimaksud adalah “janji untuk memberi bantuan”, namun ternyata tidak sepadan dengan pelaksanaannya, yakni tidak dilaksanakan. Dengan kata lain “tangan terlalu kuat menggenggam pemberian” karena tidak rela untuk memberi. Istilah lain untuk hal ini adalah pelit.

Sejak awal sudah disebutkan bahwa jemaat Korintus terkategori sebagai jemaat yang kaya, sehingga alasan tidak memiliki dana untuk membantu, adalah alasan yang tidak mungkin. Mereka justru memiliki kekuatan finansial yang jauh lebih baik dari Makedonia, yang oleh Paulus disebut jemaat miskin tetapi kaya dalam memberi (bd. Ay.1-4). Korintus gagal mengolah berkat Tuhan yang melimpah itu. Mereka menggenggamnya terlalu kuat sehingga berat untuk melepaskan bagi orang

2.       Berilah berdasarkan apa yang ada (ay.12)
Sudah pasti Paulus tahu kemampuan yang dimiliki Korintus. Itulah  sebabnya pada ayat 12, Paulus menghimbau mereka agar rela memberi. Kerelaan itu ternyata dapat diukur, yakni berasarkan apa yang ada padamu dan bukan berdasar apa yang tidak ada padamu. Jika pemberian Korintus tidak sebanding dengan apa yang ada pada mereka, maka Korintus akan terkategori sebagai “pemberi yang tak rela”. Istilah lain untuk kondisi itu adalah “tindakan tidak jujur terhadap berkat yang diberikan Allah”.

Dari perkataan Paulus ini, Korintus dituntut untuk memmahami bahwa dalam memberikan persembahan, Tuhan tidak pernah meminta sesuatu yang tidak ada pada mereka, sebab itu merupakan hal yang tidak mungkin. Memberi sesuatu haruslah berdasarkan apa yang ada berarti juga menunjuk pada Kejujuran hati atas apa yang Tuhan beri.

Memberi persembahan sesuai apa yang ada berati juga kesediaan kita memberi dari apa yang sudah disisikan untuk persembahan dan bukan dari yang sudah disisakan dari hasil kebutuhan. Berilah berdasarkan apa yang kita sisikan untuk TUHAN dan bukan apa yang sisa buat Tuhan. Dua hal ini tentulah amat berbeda.

3.       Diberkati untuk menjadi berkat (ay.13-15)
Menurut Paulus, kelebihan berkat yang ada di Korintus bertujuan untuk meringankan kekuarangan yang ada di Yerusalem. Dengan demikian terjadi keadilan dan keseimbangan. Hal ini menarik untuk diulas. Bahwa ternyata ketika Tuhan memberkati Korintus dengan kondisi alam, pelabuhan, dan pusat perdagangan, sehingga mereka mengalami kelimpahan, maka itu dimaksudkan supaya mereka dapat dipakai menjadi alat Tuhan “untuk menyalurkan berkatNya” bagi yang membutuhkan, dalam hal ini warga Yerusalem.

Paulus dengan kata lain mengingatkan Korintus, bahwa kelimpaham mereka adalah “berkat titipan” yang harusnya diteruskan kepada yang membutuhkan. Korintus diajarkan prinsip penting: “jika engkau telah diberkati, hendaknya pergi untuk menjadi berkat”. Tujuan utamanya sederhana yakni agar terjadi keseimbangan (ay.13) melalui penyaluran berkat dari yang berlimpah kepada yang kurang (ay.14)

RELEVANSI dan APLIKASI
Silakan membuat relevansi atau aplikasi melalui uraian eksegese di atas. Beberapa usulan pokok relevansi sbb:

1.       Bukankah menunda acapkali menjadi mentalitas banyak orang. Toh masih lama, ah nanti saja dll. Tuhan memkakai banyak orang termasuk kita, untuk digerakkan menjadi penolong bagi sesama. Lalu kemudian dengan sengaja kita tunda. Kita gagal membuat skala prioritas sehingga orang lain menderita. Jika Tuhan mau memakai kita untuk menolong orang lain, bersegeralah jangan ditunda.

2.       Pernahkah kita berpikir untuk bertanya: “mengapa saya diberkati demikian ini, Tuhan?” Saya yakin jarang orang bertanya seperti itu. Tetapi jika kemalangan menimpa, akan ada banyak orang membuat tanda tanya besar dan bertanya: “mengapa saya yang alami muzibah ini, tuhan?” Karena itu mulailah peka dan bertanya, mengapa ada kelebihan dan kelimpahan pada kita? Bisajadi itu karena Tuhan titipkan bagi orang lain melalui kita; sangat mungkin juga bahwa Tuhan ingin memakai kita sebagai alatNya, bukan? Sebab siapa yang diberkati, seyogianya menjadi berkat bagi sesama.

Jangan memberi kepada Tuhan melalui menolong orang lain berdasrkan faktor SISA. Tapi berilah bantuan ataupun persembahan berdasarkan upaya SISIH. Banyak orang berupaya untuk memenuhi dulu semua kepentingan dan keinginan, dan jika ada SISA baru kemudian untuk Tuhan atau sesama jika membutuhkan pertolongan. Mulailah dengan bijak mengolah berkat Tuhan. Sisihkan uang persepuluhan, uang persembahan, lalu uang segala kebutuhan. Jangan mengunakan FAKTOR SISA..!!

Monday, September 24, 2018

YAKOBUS 2:21-26 IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI


Bahan Kotbah Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 26 September 2018

A. LATAR BELAKANG NATS

Surat ini ditujukan kepada orang Kristen Yahudi diaspora yakni mereka yang tersebar dalam perantauan. Yakobus menujukan surat ini kepada duabelas suku yang telah percaya kepada Yesus Kristius (1:1).

Sepertinya, Yakobus melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh jemaat Tuhan ini dengan cara umum, yakni tentang perbagai pencobaan hidup yang harus mereka alami sebagai kaum pendatang maupun pencobaan iman sehubungan dengan status mereka sebagai orang percaya (1:2-18); bagaimana seharusnya sikap orang percaya berhubungan dengan Firman Tuhan yang telah mereka terima (1:19-27); relasi dan interaksi dalam jemaat maupun di luar jemaat (2:1-13; 3:1-18); iman yang harusnya diejawantahkan dalam perbuatan (2:14-26); dan beberapa pokok penting yang berhubungan dengan tindakan, cara hidup serta sikap yang harus dilakukan oleh seorang yang percaya kepada Yesus Kristus (4:1-5:20).

Pada perikop pasal 2:21-26, Yakobus memberikan penjelasan tentang bagaimana pentingnya perbuatan yang menyokong iman setiap orang percaya. Teks ini sebaiknya dibaca keseluruhan perikop, yakni ay 14-26, untuk memahami secara mendalam  Firman Tuhan ini.

B. TELAAH PERIKOP
Untuk lebih memahami ayat 21-26, maka sebaiknya keseluruh perikop ini dipahami sebagai suatu kesatuan. Rupanya jemaat penerima surat ini sedang bertentang mengenai iman dan perbuatan. Apakah yang menjamin keselamatan, iman atau perbuatan? Demikian barangkali persoal yang ada pada saat itu. Yakobus memberikan wejangan yang menarik ketika memperhadapkan iman dengan perbuatan. Menurut Paulus, iman tidak berguna tanpa perbuatan (ay.14) bagaikan kepedulian dalam kata namun tidak dilaksanakan dalam laku yang nyata (ay.15-17). Rupanya banyak jemaat pada waktu itu beragumentasi untuk lebih mementingkan iman dari pada perbuatan (ay.18), sehingga Yakobus menantang mereka dengan membandingkan dengan setan yang percaya ada satu Allah saja dan mereka gemetar, namun setan tidak tunduk kepada Allah (ay.19). Untuk memperjelas pentingnya perbuatan benar selain iman kepada Allah, Yakobus mengambil contoh dua orang tokoh berbeda yakni Abraham dan Rahab.


1.      Abraham (ay.21-24)
Abraham adalah tokoh panutan Israel, dan menjadi bapa leluhur mereka. Ia dikenal sebagai Sahabat Allah. Yakobus memberikan kesaksian tentang seberapa dalam hubungan Abraham dengan Allah melalui pernyataannya: ..."Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah." (Yak.2:23). Istilah yang dipakai Yakobus untuk frasa Abraham adalah sahabat Allah yakni αβρααμ φιλος του θεου. Istilah φιλος (philos)[1] yang berarti kekasih, yang dikasihi, sahabat (LAI memilih menerjemahkan dengan istilah sahabat).

Mengapa Abraham menjadi Sahabat Allah (yang dikasihiNya)? Hal ini tentu tidak instan. Ada proses penting yang dilalui Abraham. Abraham taat pada panggilan. TUHAN Allah memanggil Abraham dan berkata: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu...” (Kej,12:1,2). Istilah yang dipakai adalahלךְ־לְךָ֛  (lekh-lekha) yang secara harfiah berarti “Jalan-berjalanlah kamu!”. Istilahלךְ־לְךָ֛  (lekh-lekha) bermakna perintah yang sifatnya tegas dan kasar.[2] Apa reaksi Abraham? Ia tidak bertanya mengapa dan atau kemana arahnya, tetapi langsung mengerjakannya (bd. Kej.12:4). Tindakan Abraham ini disebut dengan ketaatan yang sungguh. Bahkan hal dramatis terjadi ketika harus mempersembahkan Ishak (ay.21), Abraham dengan rela membawa anak satu-satunya itu untuk dipersembahankan.

Semua pasti setuju bahwa iman Abraham sungguh luar biasa. Tapi darimana mengetahui bahwa iman Abraham itu luar biasa? Tentunya dari ketaatannya melaksanakan apapaun yang Tuhan mau dan perintahkan. Hal itu disebut dengan perbuatan iman. Jadi, iman hanya dapat dilihat dari perbuatan iman. Jika perbuatan bertentangan dengan iman maka sesungguhya iman itu mati (ay.17). Sebab perbuatan iman membuat iman menjadi sempurna (ay.23). Dengan kata lain, Abraham dibenarkan oleh perbuatannya dan bukan hanya oleh iman saja (ay.24). Penggunaan istilah “hanya” oleh Yakobus ini untuk memberikan penekanan bahwa Iman SANGAT dibutuhkan untuk membuat orang dibenarkan, tetapi JUGA SANGAT perlu melakukan tindakan atau perbuatan yang menggambarkan iman itu supaya juga dibenarkan.


2.      Rahab (ay.25-26)
Rahab dalam bahasa Ibrani רחב  (Rakhab), lebar. Ia adalah seorang perempuan sundal yang rumahnya di atas tembok kota Yerikho (Yos.2:1). Ia yang menyelamatkan dua orang Israel yang menjadi pengintai (mata-mata). Mata-mata Yosua menginap di rumahnya, disembunyikannya terhadap polisi kota dengan cara ditutupi batang jerami di atas sotoh. Sesudah menyusun jejak palsu untuk polisi, Rahab membuat perjanjian dengan mata-mata itu. Oleh karena itu Rahab dan keluarganya tetap dilindungi keselamatan hidupnya. (Yos.2:1-21).

Menarik bahwa tokoh ini diangkat oleh Yakobus sebagai contoh orang yang dibenarkan? Tetapi bukankah ini ada yang aneh? Bukankah Rahab adalah orang yang tidak percaya? Lalu mengapa ia dibenarkan? Bukankah untuk dibenarkan seperti Abraham, bukan hanya modal perbuatan, tetapi juga modal Iman (sebab Abraham beriman kepada Allah). Bagaimana dengan Rahab? Hal ini perlu diluruskan!

Bahwa benar, bukan turunan Abraham dan sangat mungkin tidak mengenal TUHAN, Allah Abraham. Tapi benarkan ia tidak percaya kepadaNya? Perhatikan perkataan Rahab dalam Yosua 2:9-11 "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu…, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.”. Apa yang diucapkan Rahab sesungguhnya adalah perkataan iman dan kemudian disertai dengan perbuatan benar, yakni menyelamatkan parah pengintai itu. Maka tidak diragukan lagi bahwa Rahab telah beriman kepada TUHAN, Allah Abraham sebagaimana dikonfirmasi oleh penulis kitab Ibrani 11:13 dan sekaligus melakukan perbuatan iman sehingga ia dibenarkan untuk diselamatkan.

C. RELEVANSI DAN APLIKASI
Silakan susun Aplikasi Khotbah berdasarkan uraian diatas. Ide pokok adalah mengajak jemaat untuk memahami pentingnya perbuatan iman atau perbuatan yang benar untuk menunjukkan iman percaya kita kepada Allah. Jangan hanya percaya pada Kasih Allah tetapi kita tidak menunjukkan perbuatan kasih itu bagi orang lain. Jika kita percaya bahwa Allah maha pengampun, maka harusnya pula kita sedia mengampuni orang lain. Perbuatan yang nyata akan semakin menyempurnakan iman kita.


[1] Philos merupakan kata benda yang juga berfungsi sebaga kata keterangan. Istilah ini setara dengan istilah Ibrani diterjemahkan dengan אֹהֵב יְהוָֹה - 'Oheb 'Adonay (yang dikasihi YHWH = sahabat dari YHVH). Dalam perjanjian Baru, istilah Philos selalu diterjemahkan dengan istilaha Sahabat dengan makna yang dikasihi. Untuk selasnya tentang istilah ini silakan melihat penjelasannya pada:   http://www.sarapanpagi.org/philos-sahabat-yang-dikasihi-studi-kata-bahasa-yunani-vt176.html#p360

[2] Pada umumnya Istilahלךְ־לְךָ֛  (lekh-lekha) ini merupakan suatu kalimat langsung yang ditujukan seseorang untuk segera melaksanakannya tanpa menunda waktu. Itulah sebabnya pengulangan kalimat perintah menjadi penting dalam menerjemahkannya.

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...