Thursday, October 31, 2024

TUHAN BERKARYA TANPA BATAS DALAM DIRI UMATNYA

 

EFESUS 3:14-21

TUHAN BERKARYA TANPA BATAS DALAM DIRI UMATNYA
(Skill, Pengetahuan, Teknologi, Digitalisasi dan Potensi Lain
dalam Hidup Berjemaat)

 

Pengantar

              Ada beberapa hal yang harus kita ketahui tentang jemaat Kristen di kota Efesus, yang kepada mereka surat Paulus ini ditujukan.  Efesus adalah sebuah kota Yunani kuno yang kemudian menjadi besar sebagai kota Romawi (lih. Peta Alkitab).  Sekarang, kota ini berada di negara Turki.  Ketika menjadi kota Romawi, Efesus merupakan salah satu kota berkembang terbesar di wilayah Mediterania karena kegiatan perdagangan yang pesat dan bernilai budaya tinggi.

Pada zaman Perjanjian Baru, kebanyakan penduduk asli kota Efesus adalah penyembah.  Hal ini dapat ditemukan dalam catatan di Kisah Para Rasul 19:24-28, yaitu bahwa di Efesus terdapat kuil Artemis yang besar karena Artemis adalah yang disembah oleh seluruh Asia dan seluruh dunia yang beradab (Kis 19:27).  Tidak hanya itu, ada banyak juga kuil penyembahan berhala yang dibangun di kota Efesus.  Ini berarti, jemaat Kristen atau gereja di Efesus saat itu berada di lingkungan masyarakat yang majemuk dan tidak menutup kemungkinan bahwa pada gilirannya, kemajemukan itu jugalah yang akan mewarnai keberadaan jemaat.

Seperti jemaat Kristen pada umumnya zaman itu, jemaat Efesus terdiri atas orang Yahudi yang semula beragama Yahudi (3:6) dan orang Yunani atau Romawi yang semula penyembah berhala (3:6).  Jadi, tidak heran, jika masalah yang banyak terjadi di antara jemaat adalah seputar gaya hidup sekuler yang ‘dibawa masuk’ ke dalam gereja:  Gaya hidup sekuler yang bertabrakan dengan gaya hidup Kristiani

 

Pemahaman Teks

              Ada kasus khusus yang diketengahkan dalam surat ini yaitu mengenai pemenjaraan Paulus yang membuat jemaat ‘terguncang’.  Kepada jemaat di Efesus, Paulus menjelaskan bahwa dirinya dipenjara karena memberitakan Injil Kristus Yesus kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah supaya mereka diselamatkan, termasuk jemaat yang semula bukanlah orang percaya (3:1, 6, 8).[1]  Oleh karena itu Paulus menguatkan jemaat dengan mengatakan bahwa jemaat jangan tawar hati melihat kesesakan yang dialami Paulus karena kesesakan Paulus adalah kemuliaan jemaat (3:13).

              Masih dalam rangka menguatkan jemaat, Paulus menuliskan bahwa – sekalipun ia berada di dalam kesesakan penjara – ia mendoakan jemaat supaya

1.       dikuatkan dan diteguhkan hati oleh Roh Tuhan sehingga mereka tetap beriman kepada Kristus, berakar serta berdasar di dalam kasih (ay. 16 – 17);

2.       dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan … (ay. 18-19);

3.       dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah (ay. 19).

 

Renungan dan Penerapan

              Dapatlah dibayangkan bahwa sepeninggalannya Paulus karena dipenjara, jemaat seperti kehilangan tokoh yang dapat mempersatukan mereka yang berlatar budaya Yahudi dengan Yunani maupun Romawi.  Budaya dan gaya hidup yang ‘dibawa masuk’ ke dalam persekutuan jemaat sangat beragam, semuanya mengaku sebagai yang ‘baik dan benar’ padahal gaya hidup Kristiani-lah yang harus diberlakukan. 

Hal seperti ini pun masih terjadi dalam persekutuan jemaat sekarang, yaitu ketika setiap orang dari latar belakang budaya masing-masing, memperkenalkan budayanya lalu mengajak jemaat untuk mengambil bagian dalam tradisi itu. Terhadap semua perbedaan dalam jemaat seperti ini, yang penting bagi Paulus adalah setiap orang yang memberlakukan hal ini, ia beriman (hanya) kepada Yesus Kristus dan bertekad untuk menunjukkan kasih kepada sesamanya (ay. 16-17). Inilah salah satu batas toleransi yang diajarkan Paulus.

 Dalam doanya itu juga, Paulus memunculkan ide tentang panggilan jemaat untuk mengasihi tanpa batas berdasarkan pemahaman akan kasih Kristus yang sangat lebar, panjang, tinggi dan dalam melampaui segala pengetahuan (ay. 18-19).  Kasih Kristus yang diberlakukan dalam kehidupan berjemaat seharusnya berlaku juga untuk semua orang dan tanpa batas/ syarat.  Pemahaman tentang kasih yang berlaku untuk semua tanpa batas/ syarat ini memungkinkan jemaat untuk:

1.       menerima dan menghargai satu sama lain sebagai yang sama-sama menerima kasih karunia Tuhan.

2.       memaklumi keberadaan orang lain dan membiarkan mereka menjadi diri sendiri apa adanya, sebagaimana Tuhan pun menerima mereka apa adanya.

3.       berusaha ‘menjembatani’ perbedaan yang ada dengan kasih tanpa mengabaikan perkataan Kristus sebagai batas ukurnya.

 

Pada ayat 20, Paulus memberikan ketenangan bahwa walaupun dia berada di dalam penjara dan tidak dapat melakukan apapun untuk jemaat Korintus, Paulus meyakinkan jemaat bahwa Tuhan mampu melalukan jauh lebih banyak dari apa yang dibutuhkan dan diharapkan umatNya. Tuhan tidak dapat dipenjara (seperti Paulus dipenjara saat itu); Tuhan tidak dapat dibatasi (seperti Paulus yang dibatasi oleh tembok dan dinding dingin sebagai tahanan).

 Doa dan penguatan Paulus bagi jemaat Efesus adalah juga penguatan bagi kita semua. Bahwa kalaupun kita terbata menghadapi berbagai hal dan perkara, kuasa Tuhan tidak dapat dibatasi oleh dinding penyekat apapun. Namun kita diingatkan bahwa ayat 20 harus dibaca hingga selesai. Apakah itu? “... seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” (ay.20b). Bagian ini mau menegaskan bahwa Tuhan yang tidak terbatasi itu bekerja di dalam kita. Artinya menggunakan kita sebagai media pekerjaanNya untuk menolong umatNya. Bahkan lebih daripada itu Tuhan bisa memakai siapapun, termasuk kemajemukan jemaat Efesus yang terdiri dari orang Yunani, Yahudi dan Romawi.

 Maka sudah saatnya umat Tuhan memanfaatkan tiap potensi dan keragaman dalam jemaat sebagai media tempat Tuhan bekerja melampaui apa yang kita minta dan harapkan. Skill atau kemampuan, Teknologi dan Pengetahuan, budaya dan bahasa, serta apapun dalam hidup persekutuan yang dapat kita manfaatkan. Di era teknologi ini misalnya, kita dapat memanfaatkan-nya untuk menjadi sarana bagi Tuhan berkarya dalam kuasanya yang ajaib. Kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan dan digunakan. Namun perlu dengan bijak digunakan dan ukuran yang tepat tentang bijak berteknologi itu menurut Paulus adalah demi kemuliaan nama Tuhan (ay.21).

 

Penutup

Di atas segala usaha kita untuk mengutuhkan persekutuan jemaat dengan segala kemajemukannya, Paulus mengingatkan bahwa ada Tuhan yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, karena kuasanya sungguh nyata (ay. 20).  Pada akhirnya, Paulus mengatakan bahwa kehidupan berjemaat yang toleran di dalam kemajemukan akan menjadi kemuliaan bagi Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya (ay. 21).  Karena itu mari percaya kepada kuasa Tuhan yang tidak terbatas itu, mari jadikan pengetahuan, skill dan kemampuan, teknologi dan beradapan sebagai alat Tuhan menyatakan kemuliaan namaNya dala, kehidupan jemaat Tuhan ini. Amin.



[1] Perhatikanlah bahwa yang dimaksud oleh Paulus sebagai ‘orang-orang yang semula tidak mengenal Allah’ adalah orang-orang bukan Yahudi (3:6&8), yaitu orang Yunani dan Romawi, yang adalah penyembah berhala.

 

BERPROSES BERSAMA UNTUK SESUAI RENCANANYA

 

ESTER 2:5-11
BERPROSES BERSAMA UNTUK SESUAI RENCANANYA

 

PENDAHULUAN

Kisah ini bermula dari ratu Wasti di buang oleh Raja Ahasweros karena dianggap membangka kepada raja (1:1-22). Suatu waktu kaisar Ahashweros mengadakan pesta di istana musim dingin di Ibukota : Susan. Bersamaan dengan waktu kegiatan itu, isteri kaisar : Wasti, juga menyelenggarakan pesta. Raja Ahashweros tersinggung. Ia memanggil bawahannya dan bertanya tentang bagaimanakah sikap yang harus diambil terhadap ulah isterinya. Mereka berpendapat, bahwa ulah Wasti salah (1:16-20); lalu mengusulkan, agar kaisar Ahashweros melarang Wasti untuk berhubungan dengan dirinya. Kedudukan Wasti sebagai permaisuri harus dicopot. Selebihnya Kaisar perlu mencari seorang gadis yang akan dijadikan Ratu Persia. Dari sinilah cerita dimulai.

 


TELAAH PERIKOP

Ester diangkat anak oleh Mordekhai yang merupakan seorang suku Benyamin (ay.5). Ester sendiri adalah yatim piatu dan diasuh oleh Mordekhai dengan nama lain Hadasa (ay.6,7).

Banyak gadis disiapkan untuk menggantikan Wasti sebagai permasuri raja. Mereka dikumpulan di puri Susan dalam pengawasan sida-sida raaja yang bernama Hegai. Ester pun adalah salah satunya dan mendapat perhatian khusus dari Hegai (ay.8).

Mengapa Hegai memberi perhatian khusus kepada Ester? Ay 9 tidak menjelaskan lebih jauh selain karena Ester dibandang sangat baik dan menimbulkan kasih sayang di mata Hegai. Tidak heran, perwatan fisik Ester diprioritaskan dengan kualtias yang baik bahkan mendapatkan pelayanan khusus. Namun terdapat hal penting pada ayat 10 yakni identitasnya sebagai seorang Yahudi tidak disampaikan Ester kepada Hegas sesuai dengan perintah dari Mordekhai. Mungkin disebabkan supaya “jalan mulus” menuju istana dapat tercapai.

Sebagai seorang buangan, tidak mungkin Ester berani bermimpin menjadi perempuan nomor satu di istana Persia. Kondisinya sebagai seorang yatim piatu juga memberi gambaran tentang betapa tragis hidupnya segai seorang gadis belia di tengah kondisi tidak menyenangkan di negeri asing.

Kisah selanjutnya dapat kita temukan pada bagian berikut tentang bagaimana Ester dipakai Tuhan untuk menyelamatkan bangsanya dari rencanan jahat yakni pemusnahan masal yang dirancangkan oleh Haman (pasal 3-4).

 

UNTUK DIRENUNGJAN

1.       Nasib seseorang ada di tangan Tuhan

Salah satu kitab yang tidak menyebut nama Tuhan dalam narasi teksnya adalah kita Ester. Namun demikian, kita menemukan bahwa Ester melibatkan Tuhan dalam kondisi yang tidak mudah membuat keputusan untuk menghadap raja melalui doa dan puasa (4:16).

Maka kita dapat menyimpulkan bahwa walaupun kitab ini tidak menyebut Tuhan, namun kegiatan puasa ester menunjuk pada keinginanya untuk melibatkan Tuhan dalam rencana membebaskan bangsanya dari kehancuran. Istilah perangai Ester yang dipandang BAIK oleh Hegai bukan hanhya menunjuk pada fisiknya namun juga budipekertinya yang juga pasti berasal dari kehidupan spiritualitasnya yang berkualitas.

Hal ini kiranya menjadi petunjuk awal kita bahwa Tuhan berkenan kepada Ester. Dan karena ia berkenan kepadanya, nasib hidupnya yang buruk dan menyedihkan itu diubah menjadi sesuatu yang berharga dan dipandang berbeda oleh orang lain. Ia yang seorang yatim piatu, seorang buangan, kini dikasih oleh rasa dan menjadi orang nomor satu di Persia. Tuhan mampu mengubah jalan hidup seseorang yang dianggap “tak bernilai” menjadi kemilau yang amat berharga.

 

2.       Upayakan untuk menjadi berguna

Benar bahwa Tuhan yang merancangkan itu semua untuk kebaikan Ester. Namun kita tidak boleh melupakan peran Mordekhai yang sejak awal mempersiapkan Ester dan peran Hegas yang melalukan proses “touch up” pada gadis Yahudi ini sehingga tampil gemilang dan menyukakan Raja Ahasweros.

Tuhan merancangkan hal baik dari Ester, tetapi Ester dan Mordekahai berupaya agar mereka menjadi pusat perhatian dan kelak berguna bagi Tuhan. Hal ini menjadi perhatian khusus kita. Penting untuk melakukan up grade diri dan meningkatkan kemampuan supaya nasib hidup berubah dan akhirnya berguna untuk Tuhan pakai menjadi sesuatu yang besar dalam rencanaNya.

Kisah Ester bukan kisah semalam. Proses panjang dalam status orang buangan lalu menuju istana raja adalah kisah tentang UPAYA maksimal untuk mengubah diri menjadi bermanfaat. Terlarut dalam kesedian meratapi nasib dan terpojok dalam kesendirian bukanlah pilihan Ester dan Mordekahai. Mereka berusaha “memanjat” dinding tidak-nyaman itu dan ingin mengubah nasib lebih baik.

Dalam hal ini kita belajar bahwa perlu ada upaya keras untuk berjuangan, bekerja dan berlelah untuk meningkatkan kualitas kehidupan lebih baik. Tuhan memang merencanakan hal baik, tetapi harus ada upaya untuk mewujudkannya.

 

Bersaksi Bagi Tuhan (1 TIMOTIUS 3:14-16)

 1 TIMOTIUS 3:14-16

 

PENDAHULUAN

Timotius merupakan keturunan seorang wanita Yahudi yang saleh yang bernama Eunike nama dari Yunani dan ayahnya adalah seorang Yunani, walaupun Alkitab tidak mencatat siapa nama dan keberadaan dari ayah Timotius. Eunike dan Timotius tinggal di Listra dimana penduduk Listra menyembah berhala beribadah kepada dewa.

Nenek Timotius bernama Lois. Paulus tahu betul bahwa ada warisan penting dari nenek Lois dan ibu Eunike. Warisan itu adalah warisan iman kepada Yesus yang ditanam dan dipelihara dalam kehidupan keluarga Timotius. Paulus mengangkat Timotius sebagai anak (Flp.2:22) dan mendorong anaknya untuk terus memelihara warisan iman keluarganya yang sudah ada di dalam Tuhan.


 

TELAAH PERIKOP

Dari Kisah Para rasul, kita mengetahui bahwa Rasul Paulus berada di Efesus pada sekitar tahun 52, di akhir perjalanannya yang ke-2 (lih. Kis 18: 19-21) dan ia kemudian tinggal di Efesus selama dua tahun pada awal perjalanannya yang ke-3 (lih. Kis 19:1, 8-10). 

Gereja Efesus adalah Gereja yang cukup baik, namun juga mengalami kesulitan dan tantangan yang dihadapi oleh sebuah Gereja awal. Di tempat inilah Timotius dipercaya oleh Paulus menjadi pemimpin di Efesus untuk mengajarkan agar umat memegang ajaran yang benar dan untuk mendorong umat Kristen agar hidup sesuai dengan ajaran Kristiani. Ia harus memelihara “apa yang telah dipercayakan kepadamu” (1 Tim 6:20) yaitu sumber iman, dan mengabdikan diri untuk mengajar umat beriman (1 Tim 6:16), dan yakin bahwa Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim 3:15).

Khusus pada pasal 3:14-16 beberapa penekanan Paulus yang harus dilakukan oleh Timotius yang seddang berada di Efesus sebagai pelayan adalah:

 

 1.       Bukan kedudukan tetapi prilaku hidup (ay.13)

Paulus mengerti bahwa selain ajaran sesat yang hadir untuk mengancurkan gereja dari luar, terdapat juga kelompok orang tertentu yang berusaha menghacurkan persekutuan umat Allah dengan prilaku hidup yang tidak benar. Paulus mennekankan kepada Timotius agar ia menyaring dengan benar orang-orang yang dipilih menjadi pelayan (ay.1-10) dan bukan itu saja, para istri atau pendamping suami yng melayani harus diarahkan dengan benar (ay.11,12).

Mengapa demikian? Karena menurut Paulus “mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa” (ay.13). Bukan kedudukan jabatan dalam yang diutamanakan, melainkan cara hidup sebagai pelayanan yang menjadi prioritas. Jika hidup seorang pelayan mencerminkan krhidupan yang benar, maka mereka dapat menjadi kesaksian bagi banyak orang tentang Yesus Kristus. Dengan demikian mereka beroleh kedudukan yang baik dan dihormati.

 

2.       Gereja adalah keluarga yang saling menopang (ay.15)

Sehubungan dengan kondisinya yang masih dalam penjara, maka sulit bagi Paulus untuk mengunjungi Efesus dan meilihat hasil kerja pelayanan Timotius sebagai anak rohaninya ini (ay.14). Namun walau tidak dapat mendampingi Timotius, Paulus meneguhkan anak rohaninya bahwa ia tidak sendiri. Jika gereja tetap bersatu dan para pelayan seia-sekata, maka tanggung-jawab pelayanan akan dengan mudah dilaksanakan.

Paulus memberikan pesan yang sangat kuat: “engkau... harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Keluarga adalah ciri khas Gereja. Rasul Paulus mengajarkan bahwa jemaat Efesus adalah “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19). Maka keluarga haruslah menjadi ide dasar ikatan hubungan antara para anggota Gereja; yang dipersatukan oleh kehendak Allah. Jika gereja tidak hidup dalam kesatuan, maka gereja tidak menjadi teladan dan contoh sebagai keluarga Allah. Kesatuan dan keutuhan adalah mutlak menjadi syarat keluarga Allah.

Dalam rangka menjadi keluarga Allah, maka Timotius yang adalah pelayan Tuhan di Efesus harus menjadi Tiang Penopang dan Tonggak Kebenaran. Istilah ini merujuk pada Bait Suci  di Yerusalem (lih. 1 Raj 7:15-52). Para Pelayan termasuk Timotius dan juga jemaat Efesus dipanggil untuk saling menopang dan meneguhkan supaya ajaran gereja tidak disusupi oleh ajaran sesat.

Sebagai orang percaya, jemaat Efesus harus mampu saling menguatkan dan mengokohkan satu dengan yang lain, sebagai fungsi pilar atau tonggak yang menjaga supaya dinding Bait Allah di Yerusalem tetap berdiri.

 

3.       Kenali rahasia agung dari gereja (ay.16)

Pada bagian ini, Paulus menunjuk tentang pokok utama dari ajaran Kristen sebagai rahasia dalam persekutuan orang percaya yakni siapakah Yesus Kristus.

Yesus Kristus adalah Allah yang menyatakan diriNya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh, dan yang menampakkan diri kepada malaikat-malaikat serta diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.

Bagi Paulus pengenalan yang benar tentang Yesus Kristus ini sangat penting ketika menghadapi berbagai ajaran sesat. Tugas utama Tomotius di Efesus adalah memperkenalkan Yesus Kristus kepada umat yang ia layani agar mereka tetap teguh bersekutu dan beribadah.

  

RELEVANSI DAN APLIKASI

Pesan yang disampaikan Paulus kepada Timotius adalah pesan yang masing sangat relevan di dalam persekutuan gereja Tuhan saat ini. Beberapa hal menjadi pokok utama untuk kita renungkan adalah:

 

1.       Sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan untuk mengejar posisi dan kedudukan dalam pelayanan. Menjadi terhormat dan mulia bukan karena kekayaan atau karena jabatan termasuk jabatan gerejawi. Tetapi prilaku hidupkita yang benar dan kudus itulah yang penting sehingga menjadi teladan. Dengan demikian kedudukan kita dipandang mulia karena hidup yang berpadanan dengan injil Kristus.

 

2.       Gereja adalah keluarga Allah. Sebagai keluarga kita dipanggil untuk saling menopang dan mendukung satu dengan yang lain. Tidak ada siapapun yang bahagia ketika salah satu anggota keluarganya sedang dalam kesusahan. Karena itu sebagai persekutuan orang percaya, kita diapnggil untuk saling mengeratkan ikatan kebersamaan dan kepedulian satu dengan yang lain. Pelayan tidak mengabaikan kondisi umat yang tersesat; sesama anggota jemaat peka terhadap kesulitan dan kesusahan orang lain; dan lebih dari itu mampu hidup bersama untuk menjaga ajaran gereja agar tetap bersih dari berbagai kepentingan yang menyesatkan.

 

Dewasa ini terdapat banyak aliran denominasi gereja yang berbeda-beda. Namun berbedaan itu harusnya tidak membuat Keluarga Allah (yakni gereja) terpecah-pecah. Perbedaan adalah ciri keragaman dalam diri gereja. Kita tidak menjadikan perbedaan sebagai perhatian utama yang nantinya menghadirkan perpecahan. Sebaliknya mencari titik pemersatu dalam keragaman Tubuh Kristus ini, yakni ajaran yang sejati sebagai rahasi ibadah orang percaya (ay.16). Apakah itu: Pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang datang mengambil rupa sebagai manusia. Inilah yang menjadi perekat dalam berbagai perbedaan gereja.

Friday, October 4, 2024

YOHANES 17:20-23

 YOHANES 17:20-23
Ibadah Keluarga 09 Oktober 2024
 
PENDAHULUAN
Bacaan Alkitab ini merupakan bagian dari doa Tuhan Yesus sebelum menjalani puncak kehadiranNya di dunia yakni mati di Kayu Salib. Doa ini terbagi menjadi 3 (tiga) bagian besar, yakni:
1.       Doa Tuhan Yesus untuk memuliakan BapaNya (ay.1-8)
2.       Doa Tuhan Yesus untuk para muridNya (ay.8-19)
3.       Doa Tuhan Yesus untuk gerejaNya (ay.20-26)
 
Teks yang kita baca saat ini merupakan bagian ketiga dari Doa Tuhan Yesus yakni mendoakan gereja Tuhan yang akan kita bahas saat ini.
 

TELAAH TEKS


Perhatikan ayat 20 bacaan kita. Tuhan Yesus menyebut: “bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka”. Siapakah orang-orang yang percaya ke[ada Tuhan Yesus karena pemberitaan para murid? Orang-orang percaya itu adalah gerejaNya (1 Petrus 2:9).
 
Menarik untuk direnungkan dan dimaknai, bahwa sejak lebih dari 2000 tahun lalu, Tuhan Yesus sudah mengetahui bahwa akan hadir banyak orang percaya (gereja), sehingga gereja harus didoakan pula.
 
Apakah isi doa Tuhan Yesus tersebut? Beberapa pokok penting dari doa Tuhan Yesus bagi gerejaNya ini menarik untuk diuraikan.
 
1.       Supaya Gereja menjadi satu (ay.21)
Perhatikan narasi penting di ayat 21 bacaan kita ini: supaya mereka menjadi satu. Apakah ada yang aneh mendengar doa ini? Ya.. keanehan dari doa ini adalah seakan Tuhan Yesus sudah tahu apa yang akan terjadi pada gerejaNya saat ini. Apakah yang terjadi saat ini pada gereja Tuhan? Jawabnya hanya satu, yakni terjadi PERPECAHAN di dalam gereja. Berbagai aliran dan denominasi gereja tumbuh pesat saat ini. Persoalannya bukan pertumbuhan denominasi gereja, melainkan berbagai denominasi ini justru tidak bersatu dan cendrung pecah serta saling menyalakan satu dengan yang lain. Bukankah itu yang terjadi?
 
Kesatuan yang bagaimanakah yang diinginkah Tuhan Yesus terjadi dalam gereja? Ay 21 menekankan: “sebagaimana Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau”. Pernyataan Tuhan Yesus ini mengandung pengajaran yang penting, yakni:
a.       Tuhan Yesus dan Bapa (Allah Pencipta) adalah satu
Tuhan Yesus sedang menajarkan ajaran Trinitas pada doa ini yakni walau terlihat Bapa dan Yesus Kristus terpisah namun sesungguhnya MEREKA adalah satu. Dengan kata lain, Tuhan Yesus menyebut tentang keilahianNya yang tidak dapat dipisahkan dengan Allah.
 
Hal ini menjadi jelas ketika kita membaca Yohanes 1:1,2) yang menyebut bahwa: padamulanya adalah Firman, Firman Itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Selanjutnhya pada 1:14 menyebut tentang: Firman itu telah menjadi manusia (bernama Yesus). Dengan kata Allah bahwa Yesus Kritus adalah Allah. Dua Pribadi berbeda tetapi memiliki satu Hakekat keilahian. Yesus dan BapaNya adalah satu.
 
b.      Gereja meniru kesatuan trinitas itu.
Gereja hadir dengan berbagai perbedaan yang tumbuh dan berkembang. Perbedaan ini tidak seharusnya menjadi pokok utama yang justru membuat perpecahan. Sebaliknya, perbedaan ini harusnya menjadi kekuatan untuk tetap menjadi satu. Dua pribadi dengan hakekat keilahian yang sama harusnya ditiru oleh gereja. Gereja boleh lebih dari satu denominasi namun hakekatnya hanya satu yakni gereja adalah TUBUH KRISTUS yang tidak boleh terbagi atau pecah.
 
2.       Mengapa Gereja perlu menjadi satu? (ay.21b)
Penggalan kalimat pada ayat 21.b harusnya mengejutkan kita: “supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku”. Makna dari kalimat ini adalah: Supaya dunia percaya Yesus Kristus diutus  Allah Bapa; supaya dunia tahu bahwa Yesus Kristus berasal dari Bapa; supaya dunia paham bahwa Yesus Kristus dan Bapa adalah satu; supaya dunia menyadari bahwa Yesus Kristus adalah Allah.
 
Menarik bukan? Jika gereja tidak menjadi satu, maka dunia tidak percaya bahwa Yesus Kristus diutus Bapa. Dunia tidak akan percaya bahwa Yesus Kristus adalah Allah. Jadi, dunia hanya percaya Yesus adalah Allah jika gereja menjadi satu. Gereja yang terpecah-pecah adalah gereja yang gagal bersaksi tentang keIlahian Tuhan Yesus Kristus. Gereja yang tidak menjadi satu adalah gereja yang menolak keIlahin Yesus Kristus.
 
3.       Kemuliaan diberikan bagi Gereja (ay.22)
Ternyata Gereja diberikan kemuliaan Allah. Di manapun gereja tumbuh dan hadir, kemuliaan Tuhan akan dilihat dan dirasakan oleh banyak orang. Kalimat “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku” ini memberikan impilkasi penting bagi status orang percaya yakni, siapapun yang percaya kepada Yesus Kristus beroleh kemuiaan ilahi. Menarik bukan?
 
Tetapi kemuliaan itu hanya tampak jelas jika gereja tetap bersatu dan tidak terpecah belah. Gereja yang utuh dan menjadi satu adalah gereja yang memancarkan kemuliaan Allah.
 
RELEVANSI / APLIKASI
Silakan hubungkan tafsiran di atas dengan kehidupan sehari-hari teristimewa tentang kesatuan tubuh Kristus, yaitu gereja Tuhan.

Tuesday, September 3, 2024

PENGORBANAN DALAM PELAYANAN 1 TESALONIKA 2:7-9

                                                                 1 TESALONIKA 2:7-9
BAHAN PERSIAPAN IBADAH KELUARGA

11 September 2024

 

PENGANTAR

Apakah hubungan antara Paulus dengan jemaat Tesalonika? Kota Tesalonika adalah ibukota dari Makedonia yakni salah satu provinsi Kerajaan Rowawi yang sangat makmur. Kisah Tesalonika mengenal dan menerima Tuhan Yesus dimulai dari kehadiran Paulus dan Silas di sana (Kisah 17:1-4). Kehadiran Paulus dan Silas di Tesalonika inipun disebabkan karena perbuatan tidak menyenangkan yang dialmi mereka ketika mengabarkan Injil di Filipi (Kisah 16:19-40).



Menarik jika membaca kisah pekabaran Injil Paulus di Tesalonika. Kisah sukses dialami di sana sebab yang menerima Injil bukan hanya orang Yahudi, melainkan juga para pembesar provinsi Makedonia yang berada di Tesalonika yakni orang Yunani dan para perempuan terkemuka (Kisah 17:4).

 

Walaupun pekabaran Injil di Tesalonika terbilang sukses, tidak berarti tidak ada masalah. Beberapa anggota jemaat terhasut omongan kelompok tertentu yang memecah bela mereka secara khusus yang meragukan ketulusan dan kemurniaan pengorbanan Paulus bagi Injil Yesus Kristus. Hal ini tergambar kuat dalam bacaan kita yakni 1 Tesalonika 2:7-9.

 

TELAAH TEKS

Untuk memahami 1 Tesalonika 2:7-9, kita perlu memeriksa perikop ini secara utuh, yakni mulai pada ayat 1. Beberapa pokok penting yang menjadi perhatian khusus adalah:

 

1.       Motivasi yang benar melayani Tuhan (ay.1-6)

Agaknya beberapa hasutan yang dituding kepada Paulus dan tim Pekabaran Injilnya itu adalah seputar integritasnya sebagai pelayan Tuhan. Beberapa isu yang dikembangkan adalah penyesatan, kemurnian pengajaran, tipu daya (ay.3), dan kemunafikan serta mencari keuntungan pribadi (ay.5).

 

Mendapati kondisi ini, Paulus berusaha melakukan klarifikasi dan menyatakan kebenaran penting yaitu: bahwa pelayanan ini dikerjakan atas pertolongan Allah yang memberikan keberanian untuk mengerjakannya. Sebab bagaimana mungkin ini penyesatan dan kemunafikan jika kondisi itu justru membuat mereka harus berjuang dengan berat? Justru karena motifasi untuk Tuhan sajalah maka walau berat, hal itu tetap dilakukan. (ay.2)

 

Bukan keserakahan dan kemunafikan yang dikerjakan Paulus, atau demi kebanggaan diri ia melakukannya, namun justru dalam kehinaanya Tuhan telah melayakkannya mengerjakan panggilan itu demi menyenangkan Tuhan (ay.4). Perhatikanlah motivasi penting ini, demi menyenangkan Allah yang menguji hati (ay.4). Dengan kata lain, Paulus memaklumi bahwa berita kebenaran tidak selalu menyenangkan manusia. Namun karena tujuan utama bukan untuk menyenangkan manusia tetapi untuk Tuhan, kebenaran itu harus tetap disampaikan.

 

2.       Reaksi yang tepat menghadapi musuh (ay.7-8)

Mendapatkan fitnah dan ujaran kebencian seperti itu, seharusnya sebagai korban, Paulus akan bereaksi kalap dan marah sambil membela diri. Pada ayat 7 kita menemukan hal berbeda. Dia berusaha merangkul dengan penuh keramahan setiap orang bagaikan seorang ibu yang mengasuh anaknya. Menyiram api dengan bensin, justru akan menjadi petaka. Paulus sangat bijak pada kondisi ini. Dia sangat mengerti ada kelompok yang membenci dan menyukainya. Semua dilakukan dengan kasih sayang yang besar dan pengorbanan yang tinggi (ay.8).

 

Mengapa pengorbanan yang tinggi? Pada ay.8 kita menemukan bahwa Paulus bukan saja hanya datang memberitakan Injil tetapi juha hidup bersama mereka. Itulah sebabnya dugaan cukup kuat bahwa Paulus berada di Tesalonika bukan dalam waktu yang pendek. Jika Paulus menyebut membagikan hidup kami (bukan hanya membagikan injil) pada ayat 8, hal ini sangat mungkin menunjukkan bahwa Paulus turut menderita bersama dengan jemaat di Tesalonika.

 

Paulus turut merasakan dalam berbagai kondisi tidak nyaman yang diderita jemaat Tesalonika. Adalah suatu keuntungan bagi Paulus dan tim PI nya jika segera tingalkan Tesalonika. Ia memilih bertahan dengan semua orang termasuk yang membencinya, karena mereka dikasihi Paulus. Taburan kebencian yang ia terima, dibakas dengan limpahan kasih dan kepedulian.

 

3.       Bukan keserakahan tetapi pengorbanan (ay.9)

Paulus dituding serakah. Kemungkinan besar berhubungan dengan menerima upah dari pemberitaan Injil. Dalam 1 Korintus 9:13-14 kita menemukan pernyataan yang menarik: “Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu”. Bahwa menerima upah dari pemberitaan Injil adalah hal yang ditentukan Allah. Pernyataan ini kemungkinan dirujuk Paulus dalam tradisi Yahudi (Ulangan 18:1).

 

Apakah Paulus menggunakan hak Rasul itu, yakni menerima upah? Kita menemukan bahwa Paulus tidak pernah mau mengambil hak itu (1Kor.9:15). Hal ini terkonfirmasi pada ayat 9 bacaan kita: “... sementara kami bekerja siang dan malam, supaya jangan menjadi beban...”. Teks ini menunjukkan bahwa biaya kehidupan Paulus tidak diperoleh dari upah memberitakan Injil, melainkan dari kerja kerasnya. Itu berarti ada pekerjaan lain yang dilakukan Paulus. Menurut Kisah Rasul 18:2,3 Paulus adalah seorang pengusaha. Ia berbisnis Tenda untuk kelangsungan hidup sekaligus digunakan membiayai pelayanannya.

 

Paulus tidak mengambil keuntungan (serakah) dalam pelayanannya itu. Justru sebaliknya bahwa pekerjaannya menopang pelayanannya. Ia justru berkorban banyak hal demi kelangsungan pelayanan bagi Tuhan dapat tetap terlaksana. Bagi Paulus “bekerja siang dan malam” lebih penting dan berarti dari pada “menjadi beban bagi siapapun juga” (ay.9). Ini bukan keserakahan, melainkan pengorbanan yang tulus seorang pelayan. Pelayanan yang gemilang adalah yang dilakukan dengan penuh pengorbanan dan bukan demi keuntungan.

 

APLIKASI DAN RELEVANSI (bahan diskusi dalam persiapan)

Silakan membuat penerapan atau relevansi khotbah berdasarkan uraian 3 pokok penting dalam tafsiran di atas.

 

 

1 TESALONIKA 1:8-10 BUAH DARI KETELADANAN

 1 TESALONIKA 1:8-10
BAHAN PERSIAPAN IBADAH PELKAT PKP

10 September 2024

 

PENGANTAR

Apakah hubungan antara Paulus dengan jemaat Tesalonika? Kota Tesalonika adalah ibukota dari Makedonia yakni salah satu provinsi Kerajaan Rowawi yang sangat makmur. Kisah Tesalonika mengenal dan menerima Tuhan Yesus dimulai dari kehadiran Paulus dan Silas di sana (Kisah 17:1-4). Kehadiran Paulus dan Silas di Tesalonika inipun disebabkan karena perbuatan tidak menyenangkan yang dialmi mereka ketika mengabarkan Injil di Filipi (Kisah 16:19-40).

Menarik jika membaca kisah pekabaran Injil Paulus di Tesalonika. Kisah sukses dialami di sana sebab yang menerima Injil bukan hanya orang Yahudi, melainkan juga para pembesar provinsi Makedonia yang berada di Tesalonika yakni orang Yunani dan para perempuan terkemuka (Kisah 17:4).

Tapi tidak semua berjalan lancar, penolakan dilakukan oleh beberapa kalangan Yahudi yang menjadi provokator sehingga terjadi kerusuhan dan akhirnya Paulus dan timnya menuju Berea (Kisah.17:10). Berapa lama Paulus dan Tim berada di Tesalonika, tidak disebutkan. Tetapi sangat mungkin cukup lama sehingga kita menemukann dalam bacaan kita bahwa Paulus memiliki hubungan emosional yang erat dengan jemaat Tesalonika. Mari perhatikan lebih jauh bacaan kita saat ini.

 

TELAAH TEKS

Teks pada ayat 8-10 sebaiknya dipahami mulai dari ayat 1 surat 1 Tesalonika agar keutuhan pemahaman dapat kita peroleh. Beberapa pokok penting yang menjadi perhatian khusus adalah:

 

1.       Hubungan Erat Pelayan dan Jemaat (ay.1-5)

Perhatikan cara Paulus menulis pembuka surat ini. Setelah menyebut diri sebagai penulis surat dan salam rasuli (ay.1), Kita menemukan suasana penuh kasih diucapkan Paulus: “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu dan mengingat kamu dalam doa kami”. Paulus membangun hubungan khusus dengan jemaat yang ia layani. Relasi ini bukan karena mencari keuntungan, melainkan karena kondisi rohani. Hal ini terlihat kuat pada ay.4 yakni Tesalonika telah dipilih Allah secara khusus.

 

Bagaimana Paulus menjaga relasi dengan jemaatnya agar iman mereka tetap terpelihara? Paulus mengingat tentang pekerjaan iman mereka, usaha kasih mereka, dan ketekunan pengharapan mereka (ay.2). Apakah itu? Apa pusat perhatian dan ingatan Paulus tentang jemaat Tesalonika? Hal-hal positif tentang Tesalonika itulah yang diingat Paulus.

 

Padahal Paulus dapat juga memilih mengingat keburukan Tesalonika, bukan? Tentang bagimana penolakan beberapa orang waktu Paulus dan timnya melakukan penginjilan di sana? Bukankah hal itu cukup menyakitkan untuk di kenang? Paulus memilih mengingat hal positif. Yang ia ceritakan dan bagikan tentang Tesalonika adalah hal-hal yang baik untuk membangun iman mereka.

 

2.       Reaksi penerima Injil (ay.6-7)

Sebagai jemaat penerima Injil, ternyata Tesalonika bertumbuh dan berbuah lebat bagi kemuliaan Tuhan. Mereka mengikuti teladan yang diajarkan justru ketika mereka dalam penderitaan (ay.6). Kemungkinan besar jemaat Tesalonika sedang mengalami kondisi tidak nyaman karena iman “yang baru” itu. Namun mereka tidak menjadi goyah. Bahkan hal yang sangat mengagumkan adalah mereka berhasil menjadi teladan bagi banyak orang (ay.7).

 

Iman yang bertumbuh dan berbuah dari jemaat Tesalonika ini terlihat dari kemampun mereka bertahan iman di tengah kondisi buruk dan penuh dengan penderitaan. Jemaat ini mampu bersinar justru ketika sedang berada di tengah badai yang mengamuk. Api pelayanan mereka tidak padam di tengah gelap yang pekat sekalipun. Tidak heran jika Makedonia dan Akhaya terkagum-kagum dan menjadikan ini sebagai teladan dan kesaksian iman (ay.7).

 

3.       Buahmu dinikmati banyak orang (ay.8-10)

Ternyata Tesalonika tidak perlu “menyombongkan” kisah iman mereka; dan Paulus tidak perlu “mengumbar” kisah sukses penginjilannya. Mengapa? Kisah perjuangan Iman jemaat Tesalonika menjadi inspirasi banyak orang. Bukan hanya Makedonia dan Akhaya, bahkan tersebar ke semua tempat (ay.8). Buah dari iman Tesalonika “dipetik” dan dinikmati oleh banyak orang.

 

Hal-hal baik tentang Tesalonika tersebar dari mulut ke mulut dan menjadi cerita berantai yang menarik perhatian banyak orang (ay.9). Hampir mustahil meninggalkan tradisi nenek moyang mengenai penyembahan berhala. Namun Tesalonika melakukannya dan itu sangat menggemparkan. Mereka tidak lagi melayani allah dari benda mati, mereka tidak lagi memberi tubuh mereka pada proses “persundalan suci” ala menyembahan berhala. Hal-hal dunia yang mengasikkan itu ditinggalkan jemaat Tesalonika. Mereka hidup baru. Mereka berbuah lebat dan berlimpah untuk dinikmati banyak orang.

 

Bukan hanya itu saja, mereka siap menderita sambil menanti kedatangan Yesus Kristus (ay.10). Kapankah Tuhan Yesus itu datang kembali? Surat yang ditulis sekitar tahun 70 M ini menarik untuk dihubungkan dengan kisah kesetiaan iman mereka. Hingga mereka meninggal Tuhan Yesus belum datang kembali. Bahkan hingga surat ini kita baca, 2000 tahun kemudian, Kristuspun beluam datang untuk menghakimi mereka yang bersalah. Tapi jemaat Tesalonika tetap tekun dalam penderitaan. Padahal hal ini tidak logis dan bertentangan dengan hal-hal logika pada ajaran Filsafat yang digandrungi pada masa itu. Kesetiaan mereka menjadi sesuatu yang layak diteladani dan dikagumi.

 

APLIKASI DAN RELEVANSI (bahan diskusi dalam persiapan)
Silakan aplikasikan Firman Tuhan ini ini berdasarkan 3 pokok bahan tafsiran di atas.

Friday, June 28, 2024

Kisah Para Rasul 4:32-37

 MEMBANGUN KEBERSAMAAN                                  
Kisah Para Rasul 4:32-37                                                         

 

Pengantar

Perikop ini adalah catatan sejarah mengenai bagaimana orang yang telah percaya (kepada Yesus)  itu pada awalnya membentuk suatu kumpulan, yang kemudian hari dikenal sebagai persekutuan orang percaya atau gereja.  Kumpulan orang yang telah menjadi percaya yang di catatan dalam Kisah Para Rasul ini disebut juga sebagai jemaat mula-mula atau gereja perdana.  Ada juga yang menyebutnya dengan istilah gereja purba.  Pada masa ini, karakteristik gereja masih sangat komunal, yaitu yang menjunjung tinggi kebersamaan, belum berbentuk organisasi terstruktur seperti yang dicatat dalam perikop ini.

 


Pemahaman Teks


4:32        Ayat ini menjelaskan dasar filosofis dari persekutuan jemaat yaitu sehati dan sejiwa ... mengesampingkan individualitas karena mengusung semangat kebersamaan.


4:33        Pimpinan dari persekutuan ini adalah rasul-rasul yang tugas utamanya bukan mengatur persekutuan tetapi bersaksi tentang kebangkitan Tuhan Yesus.  Sekalipun demikian, persekutuan ini bukannya menjadi kacau (karena para pemimpinnya hanya sibuk melayani firman bukan mengatur) tetapi malah hidup dalam kelimpahan (4:34:  tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka).  Hal ini didukung oleh ‘kesadaran’ jemaat yang:


4:34-35  rela menjual kepunyaan mereka lalu hasilnya dipersembahkan kepada Tuhan baru dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.


4:36-37 Ada juga seorang Lewi, yang bukan berasal dari antara mereka tetapi dari pulau Siprus bernama Yusuf (yang kemudian hari disebut Barnabas oleh rasul-rasul) ikut berpartisipasi dengan menjual ladang, miliknya demi menopang kehidupan bersama.

 

Renungan dan Penerapan

Cara hidup jemaat mula-mula dinilai sebagai cara hidup yang ideal dalam suatu persekutuan, yaitu ketika semua orang percaya hidup bersama, sehati sejiwa, saling berbagi kepunyaan dan saling memperhatikan satu sama lain.  Akan tetapi, cara hidup seperti ini tentu tidak lagi dapat diterapkan sepenuhnya dalam kehidupan bergereja di masa kini karena (sebagai salah satu contohnya): berdasarkan alasan masing-masing, tidak seorang pun dari kita yang rela menjadikan harta miliknya menjadi kepunyaan bersama atau dipakai (tanpa imbalan) oleh setiap orang di persekutuan gereja (bnd. 4:32).  Kalaupun ada di antara kita yang menyerahkan tanah atau rumah pribadi untuk dijadikan tempat ibadah (gereja), hal ini tidak diikuti oleh yang lain (bnd. 4:34: ‘semua orang’  ...).  Perbedaan ini tentu disebabkan oleh keadaaan dan situasi yang sangat jauh berbeda antara jemaat mula-mula dengan jemaat masa kini.  Lagipula, Kisah Para Rasul pun tidak mencatat informasi mengenai: sampai berapa lama jemaat mula-mula hidup dengan cara seperti ini karena pada kenyataannya, kalau bukan karena situasi dan kondisi tertentu, tidaklah mungkin seseorang/ sekeluarga dapat hidup bersama-sama (=beramai-ramai) dengan orang/ keluarga lain selamanya.

Walaupun keadaan dan situasi yang sangat jauh berbeda antara jemaat mula-mula dengan jemaat masa kini, gagasan untuk membentuk suatu persekutuan yang ‘sehati sejiwa’ itu harus diwujud-nyatakan.  Sekalipun di dalam gereja, kita semua memiliki kerinduan untuk dapat ‘sehati sejiwa’ namun pada kenyataannya, mempersatukan orang-orang yang berbeda merupakan hal yang tidak mudah.  Pemahaman setiap orang tentang ‘sehati sejiwa’ pun seringkali tidak sama.  Yang disebut ‘sehati sejiwa’ itu terkadang adalah orang-orang yang sependapat sedangkan yang berbeda langsung dilihat sebagai ‘orang lain’.  Akhirnya, bukannya menjadi persekutuan dengan banyak anggota malah menjadi persekutuan dengan banyak kelompok.  Hadirnya kelompok-kelompok dalam persekutuan gereja seringkali tidak bisa dihindarkan (kelompok berdasarkan daerah asal, berdasarkan persamaan minat, kelompok arisan, dll).  Lalu bagaimana kita mengartikan ‘sehati sejiwa’?  Mari belajar dari perikop ini:

Orang bijak menyadari bahwa tidak ada sahabat yang setia maupun musuh yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan bersama.  Maksudnya:  yang tadinya sahabat, satu kali bisa menjadi musuh; yang semula bermusuhan bisa menjadi sahabat tergantung dari apa kepentingannya.  Dalam perikop ini, semua orang yang telah menjadi percaya memiliki kepentingan bersama yaitu menjadi saksi akan kebangkitan Kristus (4:33) dan hidup bersatu dalam kasih sebagai tanda bahwa mereka adalah murid Yesus (Yoh 17).  Selama mereka memiliki kepentingan yang sama, mereka akan selalu berusaha untuk mewujudkan kepentingan itu.  Topik percakapan pertama:  jika kita hendak mewujudkan suatu persekutuan yang ‘sehati sejiwa’, kepentingan bersama apa yang seharusnya menjadi dasar persekutuan kita?

Demi mewujudkan kepentingan bersama itu, jemaat mula-mula rela menjual harta milik/ kepunyaannya.  Topik pertanyaan kedua:  apa yang membuat kita sering kali tidak dengan rela menjadikan harta/ kepunyaan kita dipakai bersama demi pelayanan gereja.

 

Penutup

Mari kita perhatikan apa yang sebenarnya mereka lakukan: 4:34-35  mereka menjual kepunyaan mereka lalu hasilnya dipersembahkan kepada Tuhan baru dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.  Mereka tidak menjual harta kepunyaan mereka lalu membagi-bagikan kepada orang lain secara ‘membabi buta’ tetapi hasil dari penjualan mereka terlebih dahulu diserahkan kepada Tuhan.  Apa yang mereka serahkan/ persembahkan kepada Tuhan itulah yang pada akhirnya menjadi berkat bagi orang lain (Mrk 8:6).  Pemahaman inilah yang harus kita hayati dan berlakukan bahwa apapun yang dengan rela dan sukacita diserahkan kepada Tuhan (2Kor 9:7) akan menjadi sesuatu yang mencukupkan kebutuhan orang lain.

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...