Friday, October 5, 2012

BAHAN RENUNGAN IBADAH SEKTOR 10 OKTOBER 2012



KISAH RASUL 16:13-18

A. PENDAHULUAN
Bagi kita yang tidak anti atau alergi dengan produk olahan susu, nikmatnya keju kemungkinan besar pernah Anda rasakan. Namun, tahukah Anda kalau orang pertama yang mematenkan keju olahan yang nikmat tersebut adalah orang yang cinta Tuhan? Orang ini masuk dalam salah satu pebisnis kristen yang terkenal karena imannya dan praktik nilai-nilai kekristenan yang kental mewarnai bisnisnya. Namanya James L. Kraft, pendiri Kraft Foods, Inc., salah satu perusahaan makanan dan minuman terbesar di Amerika Serikat. Selain sukses dalam dunia bisnis— produknya masih bisa kita nikmati hari ini—Kraft juga mendukung pelayanan gereja Baptis dan pendidikan rohani bagi anak-anak muda. Ia adalah seorang pebinis yang dirangkul untuk terlibat dalam pelayanan.

B. GALIAN PERIKOP (Tafsiran)
Dalam usaha pemberitaan Injil di daerah Filipi, ada wanita bernama Lidia di antara rombongan orang-orang yang mendengarkan suaranya. Lidia adalah seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira yang beribadah kepada Allah. Pada zaman itu, kain yang dipakai oleh pembesar-pembesar, orang-orang kaya dan orang- orang terhormat. Wanita pebisnis itu hari itu menjadi orang percaya, dibaptis, dan menjamu Paulus serta rekan pelayanannya di rumahnya.

Dalam rombongan Yesus juga ada beberapa perempuan yang melayani dengan kekayaan mereka. Lukas mencatat bahwa mereka adalah Maria Magdalena, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana, dan banyak perempuan lainnya. Dengan kata lain, Paulus melihat kesempatan penting untuk menggandeng siapaun untuk menjadi kawan sekerja Allah dalam berbagai profesi teramasuk pedagang atau pebisnis seperti Lidia.

Menurut Kisah 16: 12, Kota Pilipi adalah kota perantauan orang Roma. Sedikit kisah tentang orang Roma yang di Pilipi, Pedagang, tetapi juga tukang ramal dan pejabat. Mereka sudah beribadah, tetapi herannya mereka belum percaya kepada Tuhan Yesus.. Filipi adalah kota pertama mekadonia yang menjadi sasaran kunjungan Paulus dan Silas.. Nah kesempatan bagi Paulus untuk memberitakan Injil. Berbicara tentang menangkap kesempatan atau menggunakan kesempatan yang ada, tentu kita harus ingat siapa sebenarnya penulis Kisah para Rasul yang sebagian kecil tadi sudah kita baca. 

Penulis Kisah Para Rasul adalah Lukas, seorang Dokter. Ditengah-tengah kibukan mengobati pasien, mencari uang dan aksi kemanusiaan, menolong orang dari berbagai penyakit, tetapi kesempatan yang ada tidak pernah sia-siakan oleh Dr.Lukas, setiap apa yang dialami dalam berkeliling dari kota ke kota dan dari desa-kedesa, ia abadikan dan saksikan melalui tulisannya. Injil Lukas dan Kisah para Rasul yang memuat sejarah pelayanan Rasul Paulus Khusus dalam pasal yang telah saya bacakan Kisah 16: 13-18, adalah bagaimana Rasul Paulus berhasil menangkap kesempatan.

Bagaimana menangkap kesempatan? 
Ada ungkapan bijak berbunyi demikian: "Orang bodoh membuang kesempatan, orang biasa menunggu kesempatan, orang pintar mencari kesempatan." Dalam pekerjaan Tuhan sangat penting bagi para pelayan Tuhan untuk menangkap setiap kesempatan untuk memajukan pekerjaan Tuhan di dunia ini.
Bacaan hari ini menceritakan pelayanan misi Paulus di Eropa, yang dimulai dari kota Filipi. Ada beberapa prinsip pelayanan Paulus yang bisa kita pelajari.

Pertama, Paulus mencari tempat sebagai jembatan penghubung untuk menjangkau orang-orang di Filipi. Ia pergi ke tempat sembahyang Yahudi (sinagoge). Selain bertemu dengan orang-orang Yahudi, mereka juga berjumpa dengan orang-orang nonYahudi yang ikut beribadah. Sejumlah orang bertobat termasuk Lidia, seorang wanita pengusaha dari Tiatira (13-14).

Kedua, Paulus memanfaatkan dukungan jemaat. Ketika Lidia meminta Paulus dan tim untuk menginap di rumahnya, mereka menyambut dengan baik. Ini merupakan kesempatan yang sangat baik, di mana ada orang-orang yang bersedia menjadi partner dalam pekerjaan misi ( ayat15). Dalam Perjanjian Baru dicatat banyak nama yang menjadi partner para rasul dalam penyebarluasan berita Injil.

Ketiga, siap menghadapi tantangan. Dalam pekerjaan Tuhan, cepat atau lambat pasti akan ada tantangan yang di-hadapi. Kali ini Iblis memakai roh tenung untuk mengganggu pelayanan Paulus dan Silas (16-17). Memang apa yang dikatakan roh tenung itu benar dan mengkonfirmasikan pelayanan Paulus. Namun roh jahat tidak dapat ditolerir karena mereka tidak mau percaya dan menyembah Yesus. Paulus akhirnya mengusir roh jahat tersebut (18).

C. RELEVANSI DAN APLIKASI (Penerapan)
Alkitab mencatat bahwa Lidia adalah seorang pedagang kain ungu. Ia tinggal di Filipi. Meskipun Lidia hanya seorang pendatang di kota Filipi, dari apa yang diceritakan kepada kita dalam Kisah Para Rasul, kita mengetahui bahwa Lidia adalah pedagang kain ungu yang sukses dan juga seorang wanita yang cukup kaya. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa faktor, diantaranya: ia dikenal sebagai penjual kain ungu dari Tiatira, kain ungu adalah kain yang mahal harganya (ayat 14), ia juga memiliki sarana yang cukup untuk menerima Paulus dan teman-teman seperjalanannya di rumahnya (ayat 15) dan juga disebutkan bahwa ia dan juga seisi rumahnya dibaptis (ayat 15). Istilah "seisi rumahnya" mengacu kepada para pelayanannya. Apa yang bisa kita teladani dari sosok Lidia, penjual kain ungu dari tiatira ini?
1.       1Dalam ayat 14 disebutkan bahwa Lidia beribadah kepada Allah. Sebelum bertemu dengan Paulus dan menjadi murid Tuhan Yesus, Lidia sudah beribadah kepada Allah. Kemungkinan dia orang Yahudi atau bangsa lain yang menganut agama Yudaisme (spt. Kornelius dalam Kisah Para Rasul 10). Fakta ini memberitahu kita bahwa Lidia adalah wanita yang memiliki iman kepada Allah, meskipun ia berasal dan tinggal di kota-kota orang kafir. Bahkan lebih dari itu, setelah dia menjadi percaya kepada Tuhan dan dibaptis, ia menjadi sosok yang mendukung pekerjaan pelayanan Paulus dan teman-temannya. Ia memiliki landasan yang kuat untuk hidupnya, yaitu Kristus.

2.       Lidia bekerja dengan sangat baik dalam membangun usahanya. Ia meninggalkan Tiatira dan membangun usahanya sampai ke Filipi dan menetap di sana. Kemungkinan besar Lidia tidak menikah, karena dalam konteks dunia pada waktu itu, jika ia menikah tentu suaminya yang akan mengurus semua urusan pekerjaan dan pencarian nafkah. Tidak mudah bagi seorang wanita pada waktu itu menjadi seorang pengusaha. Tetapi Lidia bisa, karena dia pekerja keras dan berkemauan keras untuk sukses dalam membangun bisnisnya. Ia bekerja membangun bisnisnya dengan segenap hati dan segenap kekuatannya.

3.       Dalam Kisah Para Rasul 16:40 disebutkan bahwa setelah meninggalkan penjara, Paulus dan Silas pergi ke rumah Lidia dan bertemu dengan saudara-saudara seiman di situ. Catatan ini menunjukkan kepada kita bahwa Lidia bukan hanya sukses dalam bisnis, bukan hanya mendukung pelayanan Paulus dan teman-temannya, tetapi ia juga membuka rumahnya untuk menjadi tempat persekutuan. Ia membangun karirnya, tetapi ia juga membangun jemaat Tuhan melalui pelayanan yang dapat diberikannya kepada mereka, ia membuka rumahnya bagi jemaat Tuhan di filipi.

Dewasa ini pelayanan memerlukan banyak orang yang bersedia memberi diri dengan berbagai karunia dan talenta. Sebagai orang percaya, kita harus seperi Paulus yang bisa melihat kesempatan dan melakukan perekrutan rekan sekerja untuk pelayanan yang lebih baik. Kita juga diajak seperti Lidia untuk bersedia memberi diri dan seluruh kesibukan kita untuk disertakan dalam pelayanan bagi Tuhan.

BAHAN RENUNGAN PKP 09 OKTOBER 2012



KISAH RASUL 16:4-9

A. PENDAHULUAN

Bacaan kita hari ini merupakan lanjutan dari kisah pekerjaan dan pelayanan Paulus yang memberitakan Injil Tuhan ke berbagai tempat. Ia bersama dengan Silas melanjutkan perjalanan menuju Firgia dan Galatia. Namun perjalalanan itu seakan terhambat karena ada intervensi dari suatu Pribadi yang sepertinya mengatur misi dan route pelayanan mereka. Pribadi yang dimaksud itu adalah Roh Kudus yang menuntun dan menyertai perjalanan pelayanan itu.

B. GALIAN PERIKOP (Tafsiran)

Bagaimana proses Roh Kudus mengatur Paulus dan rekan2 sepelayanannya? Pada ayat 6 dan ayat 7 kita menemukan bagaimana Roh Kudus yang disebut dengan Roh Yesus melarang dan menarahkan mereka ke arah yang diingini Tuhan untuk mereka tuju sebagai target lokasi pelayanan. Bagaimana persisnya model perintah dan larangan itu pada ayat 6 dan 7 tidaklah dengan jelas disampaikan kepada kita oleh Alkitab. Hal yang mungkin adalah bahwa Roh Kudus berbicara bagi mereka dalam berbagai cara yang dengan bebas di pilih Allah untuk dikerjakanNya bagi mereka.

Namun dalam ayat 9 bacaan kita, diceritakan pula tetang cara Tuhan menuntun para pelayannya itu melalui suatu penglihatan. Perhatikanlah bahwa dalam penglihatan itu Paulus tidak melihat TUHAN berbicara, namun justru melihat seorang Makedonia yang meminta mereka datang untuk menolongnya dan saudara-saudaranya di sana. Ini berarti dibutuhkan kepekaan khusus seorang hamba untuk mendengar suara TUHAN dan kehendak Tuhan. Bukan hanya kepekaan batiniah saja, namun juga kemampuan pikiran untuk mengolah semua itu sebelum mengambil keputusan penting.

Pengambilan keputusan terhadap penglihatan itu harus didukung oleh bukti-bukti pendukung lainnya atau biasa disebut dengan menguji tiap roh. Hal ini nampak pada ayat 10 ketika Paulus mendiskusikan penglihatan itu dan kemudian mereka menyimpulkan secara sepakat bahwa Tuhan memang meminta mereka untuk menunju ke Makedonia.

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kuasa tuntunan Roh kudus sangatlah penting bagi suksesnya kegiatan pelayanan Paulus dan rekan-rekannya. Bila demikian pentingnya hidup dipimpin oleh Roh Kudus, hal-hal apakah yang harus lakukan agar tetap berada dalam pimpinanNya? Ada dua hal penting untuk dilakukan, yakni:
1.       Pekalah akan SuaraNya (Kisah Para Rasul 16:4-12). Paulus adalah seorang Rasul yang luar biasa dimana pimpinan Roh Kudus dalam pelayanannya begitu nyata. Satu pengalaman rohaninya yang luar biasa adalah kisah pelayanan ke Makedonia dimana sebelumnya ia mendapatkan sebuah penglihatan. Pernahkah Anda mengalami pengalaman supranatural bersama dengan Roh Kudus? (mis.penglihatan, mimpi, impresi, peneguhan lewat peristiwa/kejadian, dll)

2.       Taat akan PerintahNya(Kisah Para Rasul 16:10). Dalam ayat ini, kita bisa belajar bahwa ketika Paulus mendapatkan penglihatan tersebut, Paulus tidak tinggal diam, cuek/tidak peduli akan penglihatannya itu tetapi Paulus langsung bergerak/bertindak/taat melakukan apa yang diperintahkan oleh Roh Kudus. Tanpa banyak bertanya, berbantah-bantah, Paulus melakukan apa yang dilihatnya. Ceritakan pengalaman Anda yang melakukan suatu hal karena pimpinan Roh Kudus! Dan apa hasil/ buah yang didapat karena ketaatan itu?

Kesimpulan dari bacaan kita ini sangatlah jelas, yakni Allah sendirilah yang memimpin mereka untuk pergi menyampaikan firman Tuhan. Pekerjaan dan pelayanan Paulus bukanlah milik mereka dan bisa dengan sesuaknya mereka atur. Allah sendirilah yang berhak menentukan pekerjaanNya yang ia berikan kepada Paulus dan Silas.

Allah berintervensi secara langsung dalam perjalanan Paulus.  Dua  kali  lewat gerakan Roh Kudus dan satu kali lewat penglihatan. Ayat 6 dan 7 menunjukkan bagaimana Roh Kudus mencegah mereka untuk melakukan penginjilan ke Asia dan Bitinia. Hal ini menunjukkan bahwa Allah menentukan tempat mana yang akan mereka datangi, jadi bukan kehendak Paulus akan tetapi kehendak Tuhan. Dan di malam hari dalam sebuah penglihatan Paulus melihat seorang dari Makedonia, berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya,  “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami !” (ayat 9), setelah itu barulah Paulus berangkat ke Makedonia dan di sini terlihat juga bahwa Roh Kudus lah yang menyiapkan hati orang-orang Makedonia untuk mau terbuka mendengarkan Injil.

Jelas sekali bagaimana Allah menghendaki supaya Paulus memberitakan Injil ke Makedonia. Pertanyaannya mengapa Makedonia?  Mengapa Roh Kudus mencegah mereka memberikan Injil di Asia dan Bitinia?  Jawabannya  adalah karena Allah memiliki rencana yang besar untuk orang-orang Makedonia dan Allah menghendaki orang-orang Makedonia mengenal Tuhan.  Jadi, bukan apa yang dikehendaki para Rasul, tapi yang utama adalah apa yang dikehendaki TUHAN.

C. RELEVANSI DAN APLIKASI (Penerapan)

Perjalanan dan pelayanan Paulus bukan hanya untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa lain, namun juga untuk menyampaikan hasil atau keputusan para rasul di Yerusalem untuk jemaat-jemaat diluar Yerusalem. Keputusan itu selalu disambut baik dimanapun hal itu disampaikan dan jemaat diteguhkan imannya melalui hal itu. Dan Roh Kudus terus menuntun perjalanan Paulus dengan berbagai cara, salah satunya melalui penglihatan. Melalui sebuah penglihatan dimana seorang Makedonia berseru kepadanya untuk menolong mereka, Paulus dan teman-temannya mengambil keputusan bahwa Allah menghendaki mereka untuk memberitakan Injil kepada orang-orang disana.

Dan untuk hal yang sudah pasti seperti ini, mereka tidak menangguhkan kesempatan, tapi segera mencari kesempatan untuk berangkat kesana. Dan mereka segera pergi kesana tanpa menunda lagi. Ada waktu dan bagian kita untuk menunggu, tapi ada pula waktu dan bagian kita untuk segera bertindak. Kesempatan dan peluang harus kita usahakan setelah kita menerima misi dari Tuhan dan bukan hanya menunggu saja. Seperti iman yang harus kita perlihatkan melalui perbuatan dan bukan menunggu untuk berbuat. Jangan diam ditempat, jangan hanya menunggu dan menunggu saja, karena kehendak Allah sudah nyata bagi setiap orang percaya, yakni menjadikan sekalian bangsa murid-Nya. 

Sebagai apapun kita dalam hidup ini, TUHAN haruslah yang memegang kendali dan kita wajib melaksanakan segala misiNya itu. Sebagai ibu rumahtangga atau seorang istri perlu ada kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan dalam hidup dan tanggung-jawab kita agar semua dapat terlaksana menurut maksud dan rencananya dan bukan kehendak kita yang jadi.

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKB 08 OKTOBER 2012



KISAH RASUL 16:1-3

A. PENDAHULUAN
Timotius dikenal sebagai anak rohani Paulus, seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 1:2. Di usia mudanya, Timotius sudah sanggup tampil di depan, menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Paulus adalah seorang Rasul yag dikenal giat melakukan Pekabaran Injil di daerah-daerah non Yahudi, yang juga sebagai manusia biasa, dia membutuhkan teman sekerja sebagai rekan sepelayanannya. Pada bacaan kita, Paulus memilih Timotius sebagai rekan sekerjanya dan kawan sepelayanannya.

B. GALIAN PERIKOP (Tafsiran)
Jika kita mencari tahu latar latar belakang dari Timotius, kita akan mendapati awal perjumpaan Paulus dengan Timotius tertulis di Kisah Rasul 16:1-3 bacaan kita saat ini. Paulus bertemu dengan Timotius pada saat ia tiba di Listra (sekarang dikenal sebagai Turki). Ibu Timotius adalah seorang Yahudi yang telah menerima Yesus, sedang ayahnya orang Yunani. Alkitab mencatat bahwa Timotius terkenal sebagai orang baik di kalangan orang-orang percaya. (Kisah Para Rasul 16:2).

Dari mana ia tumbuh seperti itu dan bisa bersinar sejak usia mudanya? Di dalam Timotius 1:5 kita menemukan pernyataan sebagai berikut: ”...Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu" . Ayat tersebut menjelaskan bahwa ternyata ibu dan nenek Timotius mempunyai peran sangat penting dalam mendidiknya. Nenek dan ibunya memberi teladan hidup yang baik bagi Timotius. Selanjutnya kita bisa baca di dalam 2 Timotius 3:15 bahwa sejak kecil, Timotius telah dikenalkan dengan Alkitab, sehingga dirinya diberi hikmat dan dituntun pada keselamatan oleh iman kepada Kristus. Semua ini berasal dari iman neneknya, Lois, kemudian turun pada ibunya, Eunike, hingga lalu sampai kepada Timotius.

Dengan demikian kita menemukan alasan mengapa pada ayat 2 bacaan kita, Timotius disebut sebagai pribadi yang dikenal baik oleh banyak orang Kristen di sana. Ternyata ada dua faktor penyebab, yakni:
1.       Faktor Keluarga, yakni didikan dan teladan serta warisan iman yang diterima Timotius dari neneknya, kemudian ibunya dan akhirnya mempola prilaku Timotius menjadi pribadi yang baik dan beriman.
2.       Faktor Pribadi, yakni sejak kecil Timotius sudah belajar untuk mengenal Kitab Suci dan berusaha mengenal Allah lewat Firman Tuhan yang ia baca tiap hari. 

Selanjutnya ada hal penting untuk diperhatikan dari sisi sudut pandang pemilihan rekan sepelayanan yang dilakukan Paulus kepada Timotius. Sebenarnya memilih Timotius adalah resiko besar bagi paulus. Paulus berani memilih Timotius dengan segala resiko yang ada. Dikatakan bahwa ayah Timotius adalah seorang Yunani.

Ini adalah tindakan yang bernai. Sebab antara orang Yahudi dan Yunani secara politis maupun keagamaan tidak pernah akur dan selalu bermusuhan. Bagaimana mungkin Timotius akan diterima oleh jemaat Yahudi yang sangat fanatis soal Hukum Musa. Di sinilah kita melihat kebijaksanaan seorang pelayan yang menilai dan memperlakukan calon rekan sepelayanannya.

Paulus melakukan beberapa tahapan sebelum Timotius bertugas. Yaitu dengan melakukan surat terhadap Timotius. Disini Paulus benar-benar melakukan apa yang diperlukan bagi seorang pewarta injil supaya tidak menjadi batu sandungan,  dikemudian hari. Dalam ayat 3 bacaan kita, Paulus meminta agar Timotius disunat menurut tradisi Yahudi sehingga ia dapat diterima dalam kelompok Yahudi yang sekaligus diterima oleh kelompok Yunani karena ayahnya adalah seorang Yunani.

Karena Timotius berasal dari keturunan campuran, bapanya Yunani dan ibunya orang Yahudi yang telah menjadi percaya, Paulus menyuruh untuk menyunatkan dia. Hal itu di lakukan Paulus bukan karena dia masih terikat dengan ketentuan hukum Taurat, tapi untuk menciptakan suasana yang tetap kondusif dikalangan orang-orang Yahudi. Jadi bukan untuk kepentingan Paulus, tapi untuk kepentingan orang banyak.

C. APLIKASI DAN RELEVANSI (Penerapan)
Ada beberapa pokok penting dari Firman Tuhan ini yang dapat kita terapkan, yakni:
1.       Terkadang kita juga harus bersikap seperti Paulus yang demi kepentingan orang banyak rela mengalah dari idealisme diri sendiri. Sikap mengalah ini bukan berarti kalah, tapi justru untuk hasil dan kepentingan yang lebih besar. Kita mau belajar seperti Paulus yang mau mengalah dan melepas idealismenya demi terwujudnya keadaan yang menunjang pelayanannya. Tapi ingat, dia rela mengalah karena punya tujuan yang pasti, keselamatan jiwa-jiwa. Segala sesuatu yang dapat diperbuat demi keselamatan jiwa-jiwa sekalipun harus mengham-bakan diri, yang menjadi jiwa pelayanan Paulus, biarlah itu juga menjiwai pelayanan kita (1 Korintus 9:19-23). Idealis itu baik, tapi bukan menjadi hal yang harus dipertahankan mati-matian, iman itulah yang harus dipertahankan sampai mati. Jadilah orang yang bisa membawa dan menyesuaikan diri di-manapun kita berada.

2.       Timotius dipilih oleh Paulus karena ia dikenal baik dalam lingkungan jemaat dan masyarakat. Timotius menjadi seperti itu karena peran keluarga yakni orang tua yang sangat membentuknya. Orang tua bukan hanya pengajaran atau didikan, tapi orang tua pun harus sanggupmenjadi teladan bagi anak-anaknya. Karena itu sangatlah penting peran keluarga untuk menciptakan kehidupan anak yang bertumbuh menjadi baik dan kemudian kelak dipakai Tuhan dalam berbagai pekerjaan mulia seperti yang terjadi pada Timotius.

3.       Tidak mudah memang menjadi pewarta injil. Dan tidak mudah juga untuk bekerjasama dengan dengan orang lain. Namun ketika mereka dipersatukan dalam ikatan tugas, mereka benar-benar memahami kebersamaan tersebut. Itulah yang terjadi antara Paulus dan Timotius, terlebih apabila kita membaca surat2 Paulus kepada Timotius dalam Alkitab. Alangkah indahnya ketika kita juga dapat bekerja bersama.Paulus bukan sekedar memilih Timotius tetapi ia sekaligus menempatkan Timotius untuk masa depan. Masa depan perkembangan injil dan menjadikannya sebagai kawan sekerja dalam pelayanan tanpa memandang latar belakang Timotius.

Kita memang ditempatkan bersama-sama orang lain di dunia ini. Kita bertemu dengan berbagai sifat dan sikap. Kita mungkin berbeda satu dengan yang lain namun itulah kekayaan kita. Kita dapat menjadi kawan sekerja dan rekan sepelayanan bahkan kawan berbincang. Kita bekerja bersama, berbincang, saling mendoakan, menghibur dan menguatkan sehingga tanggung jawab pelayanan yang Tuhan beri bagi kita sebagai jemaat ataupun sebagai pelayan dapat berjalan dengan baik..

Thursday, October 4, 2012

BAHAN RENUNGAN HARI MINGGU 07 OKTOBER 2012


KISAH RASUL 15:22-29

A. P e n d a h u l u a n
Menjadi terpandang adalah impian semua orang. Dihormati dan dihargai sebagai pribadi yang penting adalah juga hal yang amat diharapkan banyak orang. Namun kadang orang mengusahakanya dengan cara yang keliru. Mencari pengakuan tersebut kadang menghalalkan segala cara. Padahal pengakuan2 seperti itu biasanya datang dgn sendirinya berdasarkan apa yang sudah kita kerjakan dan lakukan menurut penilaian orang lain. Jadi yang menyatakan kita terpandang bukanlah diri kita, namun harusnya orang lain.

Hal ini tercontohkan dengan baik dalam bacaan kita. Bahwa suatu ketika di Yerusalam pada jaman gereja mula-mula, di adakanlah Sidang Sinode untuk membahas tentang strategi pelayanan dalam rangka melawan ajaran-ajaran palsu di Antiokhia oleh para pengajar sesat yang datang dari Yerusalem.

B. Uraian Isi Perikop
Nampak di dalam isi surat itu (ay.24) bahwa ada beberapa pengkhotbah yang pergi ke gereja di Antiokhia yang tidak diutus oleh jemaat Yerusalem, dan yang tidak menerima aturan tentang hal itu. Mereka pergi atas nama mereka sendiri, dan menyebarkan pandangan mereka sendiri. Gereja sangat menyesalkan saudara-saudara yang berasal dari kaum legalis itu yang menyebabkan adanya masalah dan perpecahan. Kita tidak membaca mengenai hal itu dalam notulen ini, tetapi Paulus, dalam suratnya kemudian tentang orang-orang itu, menyebut mereka sebagai saudara-saudara palsu (Galatia 2:4). Kita hanya membaca bahwa mereka tidak diberi tugas oleh para rasul di Yerusalem, dan juga bahwa Sidang pertama di Yerusalem tidak setuju atau tidak suka dengan pekerjaan mereka yang membawa perpecahan.

Itulah sebabnya sidang memutuskan bahwa Rasul-rasul dan Penatua- penatua di Yerusalem memilih dua orang terpandang untuk mendampingi Paulus dan Barnabas ke Antiokia untuk menjelaskan hasil sidang di Yerusalem. Kedua orang itu ialah Yudas yang biasa disebut Barsabas dan Silas (ay.22). Tugas utama dari dua orang ini adalah mendampingi Rasul Paulus dan Rasul Barnabas. Alkitab mencatat bahwa baik Paulus maupun Barnabas adalah Tokoh besar yang cukup disegani. Jika mereka sangat disegani, mengapa perlu didampingi? Jawabannya hanya satu, yakni Pastilah Tugas ke Antiokhia ini sangat berat dan karena itu perlu untuk ada tambahan tenaga.

Yang menarik untuk direnungkan adalah, mengapa Silas dan Yudas yang dipilih? Bahkan menurut ayat 22 bagian akhir mereka disebut sebagai orang yang terpandang. Siapakah mereka itu? Sayang sekali, Alkitab tidak memuat informasi tentang jati diri dari kedua tokoh ini. Yang sempat disebutkan bahwa Silas adalah Seorang teman seperjalanan Paulus, Kis 15:40-18:5 dan sesungguhnya sama dengan Silwanus yang namanya disebutkan dalam surat 1 Tesalonika 1:1; 2Korintus 1:19.

Selanjutnya, mengapa mereka disebut terpandang? Alkitab tidak menguraikan alasan Sidang Gereja di Yerusalam menyebut mereka sebagai pribadi yang terpandang. Namun dalam ayat 26 bacaan kita ditemukan bahwa kedua orang ini telah mempertaruhkan nyawa mereka demi Nama Tuhan Yesus Kristus. Tidak seperti umumnya mereka dikatakan terpandang karena melakukan sesuatu yang sangat luar biasa. Mereka mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan Yesus Kristus (26). Sebagai seorang pemimpin gereja di Yerusalem. Silas tentu mengalami banyak tantangan dari pihak-pihak orang Yahudi.

Sedemikian beratnya tantangan itu, sampai ia harus mempertaruhkan nyawanya. Itulah yang membuat Silas (juga Yudas Barsabas) menjadi orang terpandang. Bukan karena atribut yang melekat atau dilekatkan pada dirinya tetapi karena melakukan pelayanan dengan rasiko yang begitu besar. Para pemimpin gereja di Yerusalem memilih dan mengutus mereka karena dedikasi yang besar. Mereka sedia mengorbankan segala sesuatu untuk Tuhan Yesus Kristus, bahkan nyawa sekalipun.

Dengan demikian dari Yudas Barsabas dan Silas kita mendapat petunjuk tentang ciri-ciri orang "terpandang" yang semestinya melayani gereja : 

1.       Sedia mengorbankan apa yang ada pada dirinya (bukan mencari keuntungan bagi dirnya). 
2.       Mempunyai reputasi (nama baik) atas imannya dalam kehidupan berjemaat (bukan hanya reputasi di masyarakat dan lingkungan kerjanya).
3.       Setia melakukan pekerjaan pelayanan sekalipun harus mengalami ketidaknyamanan (bukan melayani untuk merasakan nyaman). 

Selanjutnya marilah kita memperhatikan isi surat yang dititipkan oleh Sidang di Yerusalam kepada dua orang yang terpandang ini (ayat 23-29). Dari seluruh isi surat dapatlah disimpulkan bahwa surat ini adalah Surat yang Bijaksana dan Peka terhadap masalah. Oleh karena itu tidaklah heran bila akhirnya jemaat-jemaat itu mendapat berkat dari surat tersebut (31). Itu juga merupakan kunci sukses dari pengimplementasian keputusan pertemuan di Yerusalem. Para pemimpin sering kali menganggap bahwa setelah kesepakatan dibuat maka selanjutnya adalah tugas bawahan untuk melaksanakannya. Padahal untuk memahami suatu keputusan tidaklah mudah, mereka harus menafsir dan menjabarkan sendiri ke dalam bentuk-bentuk yang lebih praktis. Itulah sebabnya di tingkat bawahan, kesalah-pahaman dan konflik sering terjadi.

Para rasul agaknya memahami hal ini. Karena itulah mereka mengambil berbagai langkah untuk menjamin suksesnya pengimplemen-tasian kesepakatan Yerusalem, agar kesatuan Kristen tidak hanya terjadi di kalangan para rasul, namun juga seluruh Kristen dimana pun mereka berada. Mereka memberikan informasi yang jelas dan tuntas kepada jemaat-jemaat tentang keputusan Yerusalem, secara tertulis dan lisan melalui orang-orang yang berkualitas (ay.22), untuk menjamin kesahihan dan keobyektifan informasi. Kemudian mereka menegaskan posisi mereka tentang tuntutan sunat (ay.24).

Penegasan ini penting bagi Kristen di Antiokhia sebagai suatu konfirmasi dan peneguhan atas doktrin atau ajaran yang sudah mereka yakini selama ini. Dan itu tidak dilakukan hanya dengan pernyataan lisan, namun keputusan Roh Kudus. Allah melegitimasi keputusan itu karena itulah keputusan resmi dan berlaku bagi semua jemaat di sepanjang zaman.

Bagaimanakah dampak yang ditimbulkan? Setelah jemaat Antiokhia membaca surat itu dan bertemu dengan para utusan rasul dari Yerusalem, mereka bersuka cita, terhibur, dan dikuatkan (31-32). Ini merupakan bukti bahwa keputusan dan pengimplementasiannya telah dilakukan secara bijak dan sehat. Ini merupakan bukti bahwa gereja mula-mula mempunyai manajemen yang baik.

Dari uraian isi surat ini kita dapat menyimpulkan bahwa dari setiap pelayanan para Rasul dalam gereja mula-mula termasuk strategi menghadapi masalah adalah: agar jemaat mengalami penghiburan, sukacita, penguatan, dan tetap dipersatukan dalam menghadapi segala macam tantangan dan ancaman yang semakin banyak.

C. Aplikasi dan Relevansi
Menjadi pemimpin tanpa hikmat Tuhan dapat mengaburkan pengambilan keputusan untuk menyelesaikan berbagai masalah pelik. Mungkin itu sebabnya, banyak masalah internal gereja kini yang tak kunjung terselesaikan. Bagaimana seharusnya para pemimpin bersikap untuk mengambil keputusan yang tepat? Dan apa dasar-dasar dalam pengambilan keputusan itu?

Dalam bacaan hari minggu ini, kita membaca tentang hasil persidangan Yerusalem yang disampaikan kepada jemaat Antiokhia mendatangkan sukacita. Pertama, persidangan pemimpin gereja di Yerusalem menghasilkan keputusan yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan jelas sehingga kemungkinan kesalahpahaman pun dapat dihindari (ayat 31). Kedua, para pemimpin gereja mengutus Yudas dan Silas untuk menyampaikan surat tersebut sekaligus menyatakan niat baik dari para pemimpin gereja di Yerusalem untuk menerima jemaat Antiokhia menjadi bagian dari umat Allah (ayat 22-28). Inilah berkat yang tidak terduga oleh jemaat Antiokhia. Yudas dan Silas ditunjuk sebagai wakil para pemimpin di Yerusalem berdasarkan kredibilitas mereka yang telah teruji (ayat 26). Ketiga, isi surat itu sangat melegakan hati jemaat di Antiokhia (ayat 31).

Dengan mengacu pada keputusan para pemimpin di Yerusalem yang sesuai dengan kehendak Tuhan, jemaat di Antiokhia bisa mengatasi konflik pengajaran yang berbeda (ayat 24). Mereka pun tahu bagaimana menjalankan kehidupan yang kudus sesuai firman Tuhan (ayat 29).

Dari pengalaman krisis jemaat Antiokhia, kita melihat dua prinsip. Pertama, Tuhan mengizinkan masalah di dalam gereja untuk mendewasakan umatnya. Kedua, perselisihan internal gereja yang diselesaikan secara tepat dengan mengikuti pimpinan Tuhan akan mendatangkan persatuan dan damai sejahtera.

Saat ini kita diutus sebagai utusan TUHAN yang harusnya dinilai terpandang juga di Mata Tuhan maupun orang banyak. Kita di sebut terpandang bukan karena status sosial kita; bukan pula karena jabatan dan harta kekayaan kita. Namun menjadi utusan Tuhan yang terpandang adalah terukur dari perbuatan nyata yang sungguh mengasihi Tuhan dan berkorban bagi kemuliaan namaNya melalui pengorbanan bagi sesama. Itulah yang dilakukan Yudas dan Silas, yang juga harus dilakukan oleh kita.

SELAMAT MELAYANI

Tuesday, August 21, 2012

MATERI KHOTBAH RABU 22 AUG 2012


YAKOBUS 4:11-12


Jemaat Tuhan
Yakobus, setelah berbicara tentang dosa lidah, ia melanjutkan tentang salah satu bentuk kehidupan manusia yang jatuh dalam Dosa Lidah tersebut, yakni pada ayat 11 dan 12 bacaan kita hari ini.

Teguran Yakobus di bagian ini diterjemahkan LAI:TB dengan “janganlah kamu saling memfitnah”. Dalam teks Yunani, kata “memfitnah” memakai istilah katalalew. Istilah ini secara hurufiah berarti “mengatakan sesuatu yang menentang” (kata = “melawan” dan lalew = “berbicara”). Mayoritas terjemahan versi Inggris memakai “mengatakan sesuatu yang jahat” atau “mengatakan sesuatu yang menentang”. Penggunaan kata ini di Perjanjian Baru menunjukkan bahwa katalalew biasa merujuk pada segala macam perkataan negatif untuk menentang orang lain, misalnya “menentang pemimpin atau Allah” (Bil 12:8; 21:5, 7), “mengumpat” (Mzm 101:5), “menghina” (Ay 19:3), “mengatakan sebuah dusta” (Hos 7:13), “mengatakan sesuatu yang bisa dianggap kurang ajar” (Mal 3:13) atau “memfitnah/menuduh” (1Pet 2:12; 3:16).

Mengingat arti katalalew sangat luas, kita harus menyelidiki artinya berdasarkan konteks. Dalam Yakobus 4:11 terjemahan LAI:TB “memfitnah” hampir dapat dipastikan salah. Kata ini muncul 3 kali di ayat 11. Pada pemunculan yang terakhir kata ini dihubungkan dengan hukum (LAI:TB “mencela hukum”). Di sinilah letak ketidak-konsistenan terjemahan LAI:TB, karena dua pemunculan yang pertama diterjemahkan “memfitnah”, sedangkan yang terakhir dipakai “mencela”. Kita lebih baik menerjemahkan semua katalalew di ayat ini dengan “mencela”. Arti ini sesuai untuk frase “mencela hukum” (kita tidak mungkin “memfitnah” hukum). Selain itu, arti ini juga cocok dengan ungkapan Yakobus yang menghubungkan orang yang mencela (katalalew) dengan orang yang menghakimi sesamanya (ayat 11 “barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya”).

Jemaat Tuhan
Ayat 11b dan 12 merupakan alasan yang diberikan Yakobus mengapa orang percaya tidak boleh saling mencela. Ada dua alasan yang saling berkaitan. 
Karena mencela saudara seiman berarti mencela hukum dan menghakiminya (ayat 11b)

Bagi Yakobus orang yang mencela (katalalew) seorang saudara sama dengan orang yang menghakimi (krinw) saudaranya itu. Dari pernyataan ini terlihat bahwa dosa mencela di sini bukan hanya berhubungan dengan cara dan isi perkataan yang kasar, tetapi juga melibatkan sikap hati yang menganggap diri lebih baik daripada sesamanya (band. 3:1; 4:6-10). Sikap hati inilah yang justru dijadikan fokus utama pembahasan oleh Yakobus di ayat 11b-12 (kata “menghakimi” atau “hakim” muncul 6 kali dalam dua ayat ini). Jadi, kesalahan mereka bukan hanya secara eksternal (mencela), tetapi juga internal (merasa diri lebih baik).

Alasan pertama mengapa kita tidak boleh mencela dan menghakimi adalah karena mencela saudara berarti mencela hukum dan menghakiminya. Apa maksud dari pernyataan ini? Sebelum menyelidiki artinya, ada baiknya kita mengetahui lebih dahulu apa yang dimaksud dengan hukum di sini. Hukum di sini kemungkinan besar merujuk pada perintah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.
1.     Dalam bagian sebelumnya Yakobus sudah memakai kata “hukum” (nomos) dan kata itu menunjuk pada hukum kasih kepada sesama (2:8, dikutip dari Im 19:18b).
2.     Dalam konteks Imamat 19:18b, hukum kasih ini juga dihubungkan dengan larangan untuk berkata-kata yang jahat kepada sesama (Im 19:16).
3.     Ungkapan “sesama manusia” di ayat 12 sebagai pengganti “saudara” di ayat 11 merujuk pada hukum kasih kepada sesama (“kasihilah sesamamu manusia”).

Walaupun yang dimaksud dengan hukum di sini berasal dari perintah Taurat, namun kita harus memahami bahwa hukum ini telah diberi makna baru dalam kekristenan. Hukum ini adalah hukum yang memerdekakan dan sempurna (1:25; 2:12).



Jemaat Tuhan
Sekarang mari kita melihat arti dari alasan yang diberikan Yakobus di ayat 11b. Orang yang mencela dan menghakimi sesama bukanlah orang yang melakukan hukum (ayat 11), karena hukum kasih melarang kita mengucapkan perkataan kasar yang menentang orang lain. Ketika kita melakukan pelanggaran ini berarti kita telah mencela hukum itu. Kita bertindak seolah-olah hukum tersebut tidak memiliki otoritas dalam hidup kita. 

Lebih parah lagi, kita bukan hanya sebagai pelanggar hukum (band. 2:9-10), tetapi hakim atas hukum itu (ayat 11). Sikap menghakimi menunjukkan bahwa kita menganggap diri lebih baik dari orang lain dan sebagai tolak ukur kebenaran, padahal tolak ukur yang sebenarnya adalah hukum itu sendiri. Dengan demikian, ketika kita menghakimi orang lain, kita telah menjadikan diri kita sebagai hakim, bukan hanya atas orang lain tetapi juga atas hukum tersebut.

Jemaat Tuhan
Setelah menyatakan bahwa orang yang mencela saudaranya telah bertindak sebagai hakim atas orang lain maupun hukum kasih, Yakobus menjelaskan siapa satu-satunya pembuat hukum dan hakim yang sebenarnya. Dalam struktur kalimat Yunani ayat 12, kata “satu” (heis) diletakkan di awal kalimat untuk memberi penekanan bahwa pembuat hukum dan hakim hanya ada satu saja.

Siapakah pembuat hukum dan hakim itu? Yakobus menjelaskan bahwa Dia adalah yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Ungkapan ini jelas merujuk pada Allah (Mat 10:28 “Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka”). Perjanjian Lama secara eksplisit menjelaskan bahwa pemberi hukum Taurat adalah Allah (Kel 24:12), walaupun orang Yahudi kadangkala menyebut Musa sebagai pemberi hukum (misalnya Philo). Allah juga sering disebut sebagai hakim dunia (Kej 18:25; Mzm 7:12; 9:5; 50:6; 75:7; 94:2; Yes 33:22). Hal yang sama juga dinyatakan secara tegas dalam Perjanjian Baru (Ibr 12:23; 1Pet 1:17; 4:5).
Ungkapan “Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan” bukan hanya berfungsi untuk menjelaskan identitas pembuat hukum dan hakim, namun juga mengingatkan penerima surat bahwa pelanggaran mereka tidak akan luput dari  penghakiman Allah. Mereka yang menghakimi akan mendapat penghakiman (Mat 7:1-2; Luk 6:37; Rom 2:1-3; 14:10).

Jemaat Tuhan
Untuk mempertegas apa yang telah disampaikan, Yakobus menutup tegurannya dengan “tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”. Hal ini dengan tegas memberikan penekanan bahwa kita tidak bisa mencela orang lain apalagi menghakimi mereka yang bersalah seakan kitalah yang lebih benar. Yang tepat untuk kita lakukan adalah memberikan nasihat yang benar dan teladan yang baik.

Jemaat Tuhan
Bukankah dalam kehidupan ini kita lebih sering melihat kesalahan orang lain dan bahkan mencari kesalahan orang lain dari pada menyelidiki ketidak-sempuraan kita sendiri?

Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita untuk menahan diri dari menyakiti orang lain dengan perkataan atas alasan penghakiman. Sebaliknya justru Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk lebih mawas diri dan menyelidi kehidupan kita lebih dulu, yakni apakah kita sudah lebih baik daripada orang lain. Hal ini penting agar  kemudian sikap kita ini tidak membawa kita menjadi prfibadi yang sok suci dan sombong rohani bahkan menjadi tuhan dan hakim bagi orang lain.

Jadilah teladan kebenaran dan bukan mencari kesalahan orang lain. Jadilah Alat Tuhan yang mulia, lewat membawa orang lain menemukan kebenaran Allah dalam hidup kita, daripada seakan menjadi tuhan bagi sesama. Kiranya Tuhan memampukan kita melakukannya. Amin.

Monday, June 11, 2012

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 13 JUNI 2012


1 KORINTUS 4:1-5

Jemaat Kekasih Kristus
Apa yang terjadi jika seseorang dihakimi orang lain padahal ia tidak melakukan kesalahan? Pastilah ingin membela diri. Inilah yang terjadi pada Paulus. Jabatan kerasulannya dipertanyakan oleh orang Korintus, hanya karena ada tokoh penginjil yang baru yakni Apolos yang juga melayani jemaat itu. Paulus dalam bacaan kita ini berusaha untuk meluruskan kesalah-pahaman ini dengan begitu rendah hati tanpa sedikitpun menyalakan Korintus ataupun Apolos.

Paulus merasa perlu menegaskan posisinya sebagai hamba Kristus (4:1) untuk menghindari kesalahpahaman dari jemaat Korintus. Para rasul memang milik jemaat (3:21-22), tetapi hal itu tidak berarti bahwa mereka dapat diperlakukan semau jemaat. Mereka memang melayani kebutuhan keselamatan jemaat (lihat pembahasan di pasal 3:21-23), namun mereka tetap adalah hamba Kristus, bukan hamba mereka. Sebagai hamba Kristus, para rasul bertanggung-jawab kepada Kristus yang menjadi tuan mereka. Kristuslah yang berhak menghakimi mereka, bukan jemaat Korintus.

Jemaat Kekasih Kristus
Ada 5 hal penting yag disampaikan Paulus dalam bacaan kita ini, yakni:
1.       Para rasul adalah hamba Kristus (ay. 1)
Paulus ingin orang lain menganggap dia dan para pemimpin lain sebagai “hamba-hamba Kristus” (ay. 1a). Kata Yunani hyperetes untuk istilah hamba-hamba dalam ayat 1 ini lebih tepat diterjemahkan sebagai “pelayan” atau asisten. Terjemahan “hamba” bisa memberi kesan “budak”, padahal seorang hyperetes bukanlah seorang budak. Hyperetes adalah orang merdeka. Kata ini pernah dipakai untuk Yohanes Markus yang membantu Paulus dan Barnabas dalam pekerjaan misi (Kis 13:5). Di tempat lain (Rm. 1:1; Tit. 1:1) Paulus memang menyebut dirinya sebagai budak (doulos) Allah, tetapi bukan makna ini yang ingin dia tegaskan di 1 Korintus 4:1.

Paulus bukan hanya seorang hyperetes, tetapi dia adalah pemimpin dari semua pelayan. Dia adalah oikonomos (ay. 1b, LAI:TB “yang kepadanya dipercayakan”), yaitu orang yang dipercaya sepenuhnya untuk mengelola sesuatu, baik uang, rumah maupun properti lainnya. Keputusannya adalah keputusan pemilik. Salah satu contoh yang tidak asing bagi kita adalah Yusuf yang diberi wewenang penuh di rumah Potifar (Kej. 39:4).

Sebagai seorang oikonomos rohani, Paulus dipercayakan “rahasia-rahasia Allah” (ay. 1c). Dalam hal ini yang dimaksud dengan rahasia Allah adalah injil. Injil adalah hikmat Allah yang tersembunyi sejak kekekalan namun sekarang dinyatakan dalam Kristus Yesus (2:7).

2.       Konsekuensi sebagai hamba Kristus (ay. 2-5)
Menjadi hyperetes (pelayan) dan oikonomos Kristus (orang kepercayaan Kristus) bukanlah tanggung-jawab yang ringan. Beberapa konsekuensi besar sudah siap menanti kita di depan. Hal ini bisa dipahami karena Tuan kita adalah Pribadi yang mahamulia dan yang dipercayakan kepada kita juga adalah harta rohani yang sangat mulia. Sangat wajar kalau tugas ini menuntut konsekuensi tertentu.

3.       Harus dapat dipercaya (ay. 2)
Sebagai orang yang dipercaya, kepercayaan dari tuan memegang peranan sangat vital. Inilah yang disebut Paulus pertama kali ketika dia membicarakan tentang konsekuensi para pelayan Kristus. Apa yang dimaksud dengan “bisa dipercaya” di sini? Dalam teks asli, kata yang dipakai adalah pistos, yang berarti “setia”.

Setia bukan sekadar merujuk pada lamanya seseorang bekerja. Setia lebih mengarah pada ketaatan pelayan terhadap instruksi yang diberikan oleh tuannya. Ketika Paulus menekankan nilai kesetiaan dalam konteks tugas para pemimpin rohani, dia sebenarnya sedang menyinggung konsep jemaat Korintus yang salah. Bagi mereka, seorang pemberita injil dinilai dari kefasihan bicara maupun kepandaian yang mereka miliki. Bagi Paulus, keberhasilan pemberita injil dinilai dari kesetiaannya terhadap injil itu sendiri. Sebagian jemaat yang mencoba menggantikan injil dengan hikmat dunia tentu saja tidak bisa disebut sebagai pelayan yang dapat dipercaya.

4.       Tidak menganggap penghakiman manusia sebagai hal yang penting (ay. 3-4a, 5a)
Larangan ini tentu saja tidak berarti bahwa orang Kristen dilarang menilai sesuatu atau memutuskan suatu perkara. Paulus bahkan meminta jemaat untuk menghakimi orang cabul yang ada di dalam jemaat (5:12) atau menyelesaikan suat perkara di antara mereka (6:5). Jadi, bagaimana kita mengharmonisasikan hal ini? Kata Yunani krino memiliki beragam arti: menghakimi, menilai, memberi keputusan hukum, dsb, tergantung pada konteks pemakaian. Dalam sebuah perkara rohani yang membutuhkan sebuah keputusan, kita tentu saja diperbolehkan menilai masalah itu berdasarkan firman Tuhan dan mengambil tindakan yang sepatutnya. Hal ini sangat berbeda dengan sikap menghakimi orang lain dalam arti menganggap orang lain buruk/salah dengan hati yang penuh kebencian.

5.       Menyadari bahwa tuan kita akan menghakimi kita di akhir zaman (ay. 4b, 5b)
Seorang oikonomos atau orang kepercayaan Kristus harus memberi pertanggungjawaban apabila tuannya datang. Sang tuan, yakni TUHAN YESUS akan menilai hasil kerja orang yang sudah dia percayai. Begitu pula dengan para oikonomos rohani. Kita harus menghadap Tuhan kita dan siap untuk dinilai oleh-Nya.

Ketika Kristus menghakimi nanti, Dia juga akan memberikan upah dan hukuman. Menariknya, Paulus tidak menyinggung tentang hukuman sama sekali. Sebaliknya, dia justru mengharapkan agar setiap orang akan menerima puji-pujian dari Allah (ay. 5c). Dia tidak berharap agar para pengkritiknya menerima hukuman. Walaupun jemaat membenci dia, namun Paulus tetap berharap yang baik bagi mereka.

Jemaat Tuhan, ….
Kita kadangkala terjebak pada keinginan untuk diterima orang lain. Kita ingin menyenangkan hati orang lain, padahal keinginan ini tidak sesuai dengan status sebagai pelayan Kristus (Gal. 1:10). Akibatnya, banyak orang terlalu sibuk dan sering kali terlalu memperdulikan penilaian orang lain bukan mengerjakan apa yang penting dikerjakan. Orang cendrung ragu bertindak hanya karena alasan “apa kata orang nantinya”. Ketika mereka dikritik orang yang mereka layani, mereka mudah putus asa dan kecewa. Ketika mereka mendapat pujian dari jemaat, mereka jatuh dalam kesombongan. Untuk menghindari dua hal ini, seorang pelayan harus memandang penilaian manusia bukan sebagai hal yang terpenting. Sebab yang menilai kita dan pelayanan kita adalah TUHAN sendiri.

Di sisi lain, kita sering menjadi Tuan atas orang lain. Sebagai jemaat kita mulai menghakimi para pelayan dan seakan merasa diri paling benar. Bagi Paulus, manusia tidak berhak menilai sesamanya. Mengapa kita tidak boleh menilai orang lain? Dan mengapa kita jangan terlalu terpengaruh pada penilaian orang lain? Jawabnya, karena mereka tidak bisa mengetahui kedalaman hati orang lain. Mereka sering salah menilai sesamanya, bahkan diri mereka sendiri. Hal ini berbeda dengan penghakiman Allah, karena Allah mampu menyelidiki hati manusia dan segala sesuatu yang tersembunyi (1Kor. 4:5b; Rm. 2:16).

Jemaat Tuhan, …
Bukankah sebagian orang (termasuk kita) sering kali merasa diri benar padahal kenyataannya justru kita yang lebih berdosa? Sikap Paulus yang tidak mau bersandar pada penilaian pribadinya sendiri sangat mungkin berkaitan dengan hidupnya yang lama dahulu. Dia menganggap diri benar dan menaati Alah dengan sempurna (Flp. 3:6), namun kenyataannya semua itu dia lakukan tanpa pengetahuan (1Tim. 1:13). Jika manusia tidak layak menghakimi orang lain, maka kita tidak boleh menghakimi orang lain. Jemaat Korintus memang sudah melakukan penghakiman. Mereka menghakimi Paulus seakan tidak benar dan kemudian menyatakan bahwa Apoloslah yang lebih baik. Paulus meminta mereka untuk menghentikan sikap tersebut.

Saat ini kita sedang menghadapi masa pemilihan diaken dan penatua. Masa di mana tiap pelayan periode lama akan mengakhiri tanggung-jawab pelayanan itu. Yang perlu direnungkian adalah, sudahkah kita mengakhiri dengan baik. Apakah kita siap mempertanggung-jawabkan semua pelayanan kita kepada Sang Hakim agung?

Di sisi lain, Firman Tuhan hari ini meminta kita untuk tidak bersikap sebagai orang yang paling benar yang tidak pernah salah. Paulus tidak berusaha menunjuk kebenaran dan kebaikannya dan kemudian menurunkan wibawa Apolos atau mengucilkan Korintus. Namun dengan rendah hati ia menuntun jemaat agar hidup ndalam kesetiaan bukan saling menghakimi. Kitapun seharusnya tidak boleh menhghakimi orang lain dan menilai pelayanan orang lain berdasarkan kebenaran kita. Biarlah Tuhan dan kebenaranNya yang melakukan penilaian itu kelak. Tugas kita adalah membimbing, menegur ke arah lebih baik yakni pada kebenaran Tuhan. Amin.

MATERI KHOTBAH IBADAH PKP 12 JUNI 2012


1 KORINTUS 3:10-17

Pendahuluan
Kalau saudara jalan-jalan ke danau Cirata, mungkin orang yang baru melihat akan bertanya-tanya, kok bisa ada rumah di atas air. Saya juga waktu pertama kali melihat ini bertanya, bagaimana orang membuat rumah bisa terapung di atas air. Saudaraku, ternyata untuk membuat rumah bisa terapung di atas air, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membuat dasarnya, tentu pertama kali yang diperhatikan adalah bahan yang dapat mengapung di atas air seperti drum. Setelah dasarnya dibuat harus ditambah dengan jangkar supaya tidak mudah dibawa angin. Setelah dasarnya kuat barulah memulai pembangunan di atasnya. Demikian juga dengan kehidupan kekristenan kita, tanpa adanya dasar yang benar tidak mungkin kita bisa membangun. Misalnya aktif beribadah, suka membantu sesama, tetapi tidak mengenal siapa itu Yesus Kristus.

Penguraian
Saudaraku, rasul Paulus kembali menegaskan, sesuai dengan kasih karunia yang dianugerahkan kepadanya, disini kita lihat bahwa Paulus menyadari benar siapa dirinya, kalau bukan karena kasih karunia Allah dia tidak mungkin dapat menjadi pengikut Yesus. Kita bisa menyaksikan sebelum mengalami kasih dari Allah hidupnya seperti apa, kita bisa melihat bagaimana kehidupan Paulus sebelum mengalami pertobatan. Sebagai seorang Rasul yang telah dipercayakan untuk menyampaikan kabar sukacita tentang kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus, Paulus menekankan bahwa dia adalah seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar yaitu Yesus, dan orang lain membangun terus di atasnya. Kata membangun terus berarti sesuatu yang berkelanjutan, Paulus telah menyampaikan kabar keselamatan dari Yesus Kristus, dan berita ini akan terus disampaikan kepada generasi-generasi selanjutnya sampai kedatangan Yesus yang kedua kali. Namun ada hal penting yang harus diperhatikan ketika hendak membangun di atas dasar yang telah diletakkan oleh rasul Paulus yaitu tiap orang harus memperhatikan bagaimana ia membangun di atasnya. Bukan asal membangun tetapi ada hal-hal yang harus di perhatikan.

Saudaraku, ketika kita menyaksikan bencana alam, entah itu sunami, gempa bumi, atau tanah longsor, kita bisa melihat ada beberapa bangunan yang masih berdiri dan tidak terlalu banyak mengalami kerusakan. Kalau kita cermati ternyata bangunan-bangunan itu dibangun di atas pondasi yang kokoh dan juga memiliki rangka-rangka yang kokoh. Demikian juga ketika kita melihat bangunan yang memiliki pondasi yang baik dan membangun di atas pondasi itu dengan memperhatikan aturan-aturan dalam mendirikan bangunan maka bangunan tersebut akan berumur dan bertahan lama.

Saudaraku, dasar yang telah diletakkan Paulus yaitu Yesus Kristus adalah dasar yang benar, jadi tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar itu. Kita telah memperoleh keselamatan karena telah menerima Yesus sebagai Juruselamat Pribadi, ini berarti kita telah memiliki dasar yang benar. Tetapi yang menjadi pertanyaan apakah cukup dengan memiliki dasar yang benar? Pertanyaan yang mungkin sering kita dengar ”yang penting sudah percaya Yesus” selanjutnya tidak usah dipikirkan. Tetapi firman Tuhan mengatakan ”orang lain akan terus membangun di atasnya”.

Ahli bangunan yang bijaksana akan membangun di atas dasar itu dengan emas, perak dan batu permata, tetapi orang yang tidak bijaksana atau orang bodoh akan membangun di atas dasar itu dengan kayu, rumput kering dan jerami. Semua pekerjaan yang telah dibangun di atas dasar itu suatu waktu akan nampak, pekerjaan yang dibangun oleh ahli bangunan yang bijaksana hasilnya akan kokoh dan tahan lama tetapi yang dibangun oleh ahli bangunan yang bodoh atau tidak bijaksana maka hasilnya akan bersifat fana atau sementara. Ketika hari Tuhan atau penghakiman yaitu kedatangan Yesus kembali pekerjaan setiap orang akan nyata dalam sifatnya yang sebenarnya, semua akan dinyatakan dan tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan.

Saudaraku, dalam kehidupan ini terkadang kita melihat begitu banyaknya orang yang sering menutupi atau menyembunyikan hal-hal kebenaran. Mereka suka berkata bohong, atau suka menipu sesamanya. Tidak terlepas dari siapapun mungkin pernah melakukan hal semacam itu. Tetapi perlu kita sadari bahwa di depan manusia kita bisa bersandiwara, bisa menutupi-nutupi hal yang salah. Namun ingat jika hari Tuhan itu datang maka semuannya akan dsingkapkan, tidak ada satu titikpun yang tersembunyi.

Ketika hari penghakiman itu datang maka pekerjaan tiap-tiap orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan seseorang tahan uji, maka ia akan mendapat upah tetapi sebaliknya jika pekerjaan seseorang tidak tahan uji maka ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan tetapi seperti dari dalam api. Ketika hari penghakiman itu datang maka yang akan muncul hanya orang-orang percaya. Dan disinilah pekerjaan tiap-tiap orang akan nampak, dasar penilaiannya tentu bukan dari segi kuantitas (jumlah) tetapi dari segi kualitas (mutu) dari bangunan itu.

Saudaraku, ketika kita membangun di atas dasar yang benar, bukan berarti tidak akan ada masalah lagi, tetapi pada dasarnya akan banyak rintangan dan tantangan. Seperti firman Tuhan katakan di dalam Matius 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Ketika kita sedang membangun di atas dasar yang benar pasti ada orang-orang yang tidak senang, dan akan selalu ada yang berusaha untuk merusak bangunan yang telah diletakkan di atas dasar yang benar. Orang-orang yang berusaha merusak bangunan itu datangnya dari orang-orang yang belum percaya tetapi yang sering terjadi muncul dari orang-orang percaya itu sendiri. Seperti yang terjadi di Korintus yaitu timbulnya perselisihan diatara jemaat itu sendiri, dan hal ini kalau dibiarkan akan merusak dan menggerogoti bangunan itu sendiri.

Saudaraku dalam pendirian jemaat di Korintus ada bermacam-macam orang yang bekerja sama. Paulus menasihati supaya tiap-tiap orang bertanggung jawab terhadap Allah mengenai pelayanannya di dalam pekerjaan itu. Meskipun banyak tantangan yang akan dihadapi dalam membangun di atas dasar yang benar itu, firman Tuhan mengingatkan bahwa orang-orang yang telah membangun di atas dasar itu adalah milik Allah, bait Allah, dan menjadi kediaman Allah kerena Roh Allah diam di dalamnya. Jika ada yang berusaha untuk membinasakan tempat kediaman Allah itu dengan ajaran-ajaran sesat atau usaha-usaha untuk memecah belah sehingga terjadi perpecahan yang menyedihkan, dengan demikian mengusir Roh Allah, maka Allah akah membinasakan dia.

Penutup
Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus, saat ini kita telah berada diatas dasar yang benar, tetapi bukan berarti kita puas sampai disitu. Tetapi ingat suatu hari kelak masing-masing kita akan mempertanggung jawabkan pekerjaan yang kita lakukan di atas dasar itu. Apakah hasil pekerjaan kita kokoh dan tahan lama ataukah bersifat fana atau sementara. Semua kembali kepada pribadi kita masing-masing. Tetapi percayalah jika pekerjaan yang kita bangun di atas dasar yang benar itu tahan uji, maka akan mendapat upah yaitu hidup kekal dalam kerajaanNya. Amin

SURAT KECIL UNTUK PARA PELAYAN YANG MULAI LELAH DAN REDUP

  SURAT KECIL UNTUK PELAYAN YANG MULAI LEL AH DAN REDUP “Tuhan, cukup ya… saya lelah.” (1 Raja-raja 19:1–18) Ada masa ketika seorang pelayan...