Saturday, August 11, 2018

YAKOBUS 4:7-10 MELAWAN HAWA NAFSU


Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 15 Agustus 2018

A. LATAR BELAKANG NATS

Surat ini ditujukan kepada orang Kristen Yahudi diaspora yakni mereka yang tersebar dalam perantauan. Yakobus menujukan surat ini kepada duabelas suku yang telah percaya kepada Yesus Kristius (1:1).

Sepertinya, Yakobus melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh jemaat Tuhan ini dengan cara umum, yakni tentang perbagai pencobaan hidup yang harus mereka alami sebagai kaum pendatang maupun pencobaan iman sehubungan dengan status mereka sebagai orang percaya (1:2-18); bagaimana seharusnya sikap orang percaya berhubungan dengan Firman Tuhan yang telah mereka terima (1:19-27); relasi dan interaksi dalam jemaat maupun di luar jemaat (2:1-13; 3:1-18); iman yang harusnya diejawantahkan dalam perbuatan (2:14-26); dan beberapa pokok penting yang berhubungan dengan tindakan, cara hidup serta sikap yang harus dilakukan oleh seorang yang percaya kepada Yesus Kristus (4:1-5:20).

Dengan kata lain, jika tulisan Paulus berbicara tentang begitu banyak kerygma dan hal-hal yang bersifat doktrin teologis, surat Yakobus justru menitik beratkan pada aspek lain yakni tindakan nyata dari tiap kerygma yang telah diimani itu. Bagaimanakah seorang bercaya bersikap? Bagaimana memandang harta itu? Apa yang dilakukan jika merencanakan hari esok? Jika ada penderitaan dan persoalan hidup apakah yang harus diperbuat sebagai orang percaya? Dan masih banyak lagi berbagai hal yang sifatnya tindakan nyata sebagai orang Kristen yang diajarkan Yakobus.

Pada perikop pasal 4:1-10, Yakobus fokus pada kondisi interaksi umat dengan sesamanya. Bahwa rupanya terjadi pergesekan, pertengkaran yang diebabkan oleh upaya orang tertentu untuk mencari keuntungan diri sendiri dan memuaskan hawa nafsu mereka. Khusus pada ay.7-10, Yakobus memberikan berbagai penjelasan dan nasehat tentang bagaimana mereka mampu mengalahkan hawa nafsu sebagai sumber perselisihan tersebut

B. TELAAH PERIKOP
Untuk lebih memahami ayat 7-10, maka sebaiknya keseluruh perikop ini dipahami sebagai suatu kesatuan. Terjadi perselisihan dan pertengkaran dalam jemaat (ay.1). Untuk itulah Yakobus memulai perikop ini dengan suatu pertanyaan, “apa penyebabnya?”. Menurut Yakobus, penyebab dari pertengkaran itu adalah hawa Nafsu. Istilah yang dipakai oleh Yakobus adalah ἡδονή (hedone) yang berarti kenikmatan atau kesenangan; keinginan kuat mendapatkan kesenangan. Istilah ini setara dengan istilah PL, yakni istilah אָוָה ('avah) yang berarti hasrat untuk memiliki (lih. Ul.5:21). Memuaskan keinginan untuk menikmati kesenangan terdapat dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya pada harta dan kekayaan, jabatan dan kedudukan, keinginan seksual, dan atau segala sesuatu yang dikejar demi menikmati kesenangan. Orang seperti ini kemudian diidentikkan dengan suatu paham hidup yang disebut dengan hedonisme, yakni paham yang menyebut bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan hidup manusia.

Yakobus memberikan peringatan keras tentang hawa nafsu ini. Paling tidak ada dua hal penting yang akan dialami jika kepuasan hawa nafsu menjadi hal utama yang dipikirkan oleh orang percaya, yakni:
1.      Hawa Nafsu membawa pertengkaran (ay.1-2)
Menurut Yakobus, kekuatan Hawa Nafsu yang ingin dipuaskan, berada dalam diri sendiri dan terus berusaha menjatuhkan kehidupan pribadi maupun sesama (ay.1). Dampaknya adalah pertengkaran dan kerugian bagi orang lain. Sebab demi mendapatkan sesuatu untuk memuaskan dirinya, tiap orang akan mengupayakan berbagai cara termasuk membunuh sekalipun. Akibatnya, pertengkaran dan sengketa dengan orang lain tidak terelakkan lagi, entah karena iri hati ataupun keinginan tak terbendung untuk kepuasan itu (ay.2).

2.      Hawa Nafsu penghalang doa (ay.3)
Selanjutnya, menurut Yakobus, hawa nafsu menjadi alasan bagi Tuhan untuk tidak menjawab doa dan permintaan seseorang karena demi memuaskan keinginan dan kenikmatannya saja (ay.3). Sifat dan sikap seperti ini bertentangan dengan kehendak Allah. Sebab orientasi dari hawa nafsu adalah keinginan duniawi dan kedagingan. Menuruti keinginan daging atau duniawi ini setara dengan bersahabat dengan dunia dan bukan dengan Allah. Itu berarti dengan sengaja merka mau menjadi musuh Allah (ay.4). Keangkuhan kemudian hadir seakan tidak membutuhkan Tuhan lagi karena merasa berbagai hal yang diupayak dengan berbagai cara itu dapat diwujudkan. Itulah mengapa kemudian, Yakobus menyebut dalam ayat 6 bahwa Tuhan Allah menentang orang yang congkak, yakni yang dikutipnya dari Amsal 3:34.

Begitu berbahayanya mencari kepuasan diri sendiri atau mengejar hawa nafsu ini, maka pada ay. 7-10, Yakobus memberikan nasehat bagaimana seharusnya orang percaya bersikap menghadapi keinginan memuaskan hawa nafsu yang begitu kuat itu. Terdapat tiga hal penting yang harus dilakukan setiap orang menghadapi godaan hawa nafsunya, yakni:
1.      Tunduk kepada Allah (ay.7)
Langkah pertama menurut Yakobus adalah melawan sumber dari hawa nafsu, yakni Iblis dengan cara tunduklah kepada Allah (ay.7). Menarik jika mempelajari istilah “tunduklah” ini. Yakobus menggunakan kata ὑποτάσσω (hupatasso) untuk istilah tunduk yang berarti menempatkan diri di bawah; dikontrol oleh; taat. Dengan kata lain, untuk mengalahkan hawa nafsu, seorang percaya bersedia taat pada Allah dan tahu posisinya yakni dibawah kendali Allah.

Tunduk kepada Allah bukan saja menyangkut aspek ketaatn, namun juga pengakuan bahwa Dialah Maha Kuasa. Pengakuan ini penting untuk mengajak orang percaya tidak mengandalkan diri sendiri ketika menghadapi hawa nafsu. Istilah “hupatasso” di atas adalah juga suatu kesadaran bahwa orang percaya berada di bawah kendali dan otoritas Allah. mengakui kuasa Allah berarti juga mengandung pengakuan bahwa tidak ada kuasa pada diri kita, sehingga orientasi iman tidak lagi pada ke-Akuan-ku tapi pada Allah saja.

2.      Lawanlah Iblis (ay.7)
Langkah Kedua adalah lawanlah Iblis. Perintah ini mengandung makna penting yang berhubungan dengan poin pertama di atas. Jika poin pertama berbicara tentang menundukkan kepala kepada kuasa dan kehendak Allah, maka pada bagian ini justru sebaliknya. Orang percaya diajak untuk “mengangkat kepala” sebagai simbol perlawanan kepada Iblis.

Yakobus seakan dengan gamblang ingin mengingatkan mereka bahwa iblis dan kuasanya telah dikalahkan dan menjadi tumpuan kaki Allah (bd.Mzm,110:1-2). Sebab bukankah kebangkitan Kristus adalah juga proklamasi kemenanganNya atas kuasa Iblis? (Ibr.2:14). Jika Iblis telah dikalahkan (tidak memiliki kuasa lagi) maka adalah tanggung-jawab orang percaya untuk berjuang dan melawannya tanpa ragu dan takut lagi. Harus ada perlawanan, dan jangan tinggal diam. Iblis tidak dimusnakan, ia masih ada menggoda manusia untuk jatuh dalam dosa. Maka orang percaya perlu bergerak untuk melawan.

3.      Mendekatlah kepada Allah (ay.8,9)
Langkah ketiga adalah mendekat kepada Allah. Pada ay.8,9 Yakobus memberikan saran menarik, yakni “mendekatlah kepada Allah” dan “sadarilah keadaanmu”. Mendekat kepada Allah menunjuk pada suatu pilihan untuk menjadi sekutu Allah. kepada siapakah engkau berpihak? Kepada Allah atau kepada Iblis? Yakobus menekankan agar memilih Allah dengan cara mendekatkan diri kepadaNya. Selanjutnya, pada ayat 9 tidak lupa Yakobus mengajak mereka untuk menyadari diri. Bahwa hawa nafsu menggiring mereka dalam dosa. Bertobatlah dan rendahkan diri padaNya.

C. REFLEKSI
Kesenangan dan kepuasan adalah bagian dari kehidupan ini. Tetapi tidak berarti membuat kita mengejarnya secara membabi buta. Kesenangan dapat diperoleh di dalam Tuhan. Kepuasan hidup ada padaNya. Tuhanlah sumber kepuasan (Mzm.103:5) dan bukan dunia ini. Maka seharusnya pula, Tuhanlah yang kita cari dan bukan kenikmatan dunia. Jika tidak, kita telah tertawan oleh Hawa Nafsu.

Bagaimanakah kita menghadapi hawa nafsu dan mengalahkannya? Kita tidak akan pernah mampu menghadapi godaan hawa nafsu hanya dengan mengandalkan diri. Kita membutuhkan Tuhan. Perlu bagi kita untuk menyadari diri berdosa dan acap kali kalah menghadapi keinginan daging melalui godaan memuaskan hawa nafsu itu. Menyadari diri berdosa dan tidak mampu menghadapi kuasa Iblis dengan godaan hawa nafsu itu rupanya sangat penting. Bahkan lebih dari itu, ketika kesadaran itu hadir dalam diri, carilah pertolongan pada Tuhan, mendekatlah kepadaNya maka Ia akan mendekat kepadamu. Ini soal pilihan. Kepada siapa kita berpihak? Keberpihakan kepada Allah dengan kerendahan hati dan menjauhi iblis, maka kita akan ditinggikannya dan menang melawan hawa nafsu.

Mari, buatlah pilihan. Tunduklah kepada Allah. Beradalah dipihakNya, dan lawanlah Iblis. Engkau akan menang terhadap godaan hawa nafsu.

Monday, August 6, 2018

MATIUS 4:1-4 MEMERANGI HAWA NAFSU DENGAN FIRMAN TUHAN


MATIUS 4:1-4
MEMERANGI HAWA NAFSU DENGAN FIRMAN TUHAN
Bahan Khotbah Ibadah Minggu
12 Agustus 2018

PENGANTAR
Silakan bayangkan bagaimana rasanya berada di padang gurun selama 40 hari dengan kondisi tidak makan. Selain kondisi kelelahan yang tak terkira, rasa lapar amat sangat pasti menerpa. Selanjutnya apa jadinya jika yang ditawarkan dalam kodisi sangat lapar itu adalah sebuah makanan cepat saja yang instan?

Inilah kondisi yang dihadapi Yesus ketika sedang berada di padang gurun dengan kondisi lagi berpuasa. Makanan cepat saji yang dimaksud adalah menggunakan kuasaNya untuk mengubah batu menjadi roti. Ide iblis ini terbilang jitu. Disamping ia tahu bahwa Yesus tahu sebagai anak Allah Dia punya kuasa itu (mengubah batu menjadi roti), di sisi lainpun sebagai manusia Yesus pasti mengalami kemendesakan itu (ingin makan karena lapar)  

PENJELASAN TEKS
Memang benar bahwa bacaan Alkitab hari Minggu menggunakan bacaan pagi SBU yakni hanya sampai pada ayat 4 dari Injil Matius 4 dan terkesan mengabaikan 2 pencobaan lain. Tetapi untuk memahami bacaan ini dalam tema yang sudah ditetapkan, yakni Memerangi Hawa Nafsu dengan Firman Tuhan, maka adalah baik jika tulisan ini menguraikan keseluruhan perikop (yakni bacaan pagi dan sore SBU). Karena itu mari memperhatikan keseluruhan perikop ini, dengan beberapa catatan sebagai berikut:

1.      Proses yang di sengaja? (ay.1,2)
Jika membaca secara berurut kisah ini, maka kita menemukan peristiwa pencobaan dipadang gurun terjadi segera sesudah Yesus dibaptis di sungai Yordan (3:13-17). Hal ini dikonfirmasi oleh Lukas yang menyebut bahwa setelah kembali dari sungai Yordan, Yesus dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (Luk.4:1).

Jika menghubungkan kisah pembaptisan dan pencobaan padang gurun ini dengan kisah Israel dalam kita keluaran, maka kehadiran Yesus dipadang gurun sejajar dengan peristiwa perjalanan padang gurun Israel. Bahkan jika memperhatikan jawaban Yesus kepada Iblis yang mengutip kita Ulangan, maka terkesan cukup kuat Yesus menyadari bahwa Ia sedang menjalani proses Israel di padang gurun. Yesus berperan sebagai Israel. Kitab Ulangan yang dikutip Yesus adalah kitab yang mengisahkan dan menafsirkan ulang tentang keadaan Israel di padang gurun.
Rasul Paulus dalam 1 Korintus 10:1-13 menunjukkan hubungan yang kuat antara peristiwa Yesus dibaptis dan menuju padang gurun selama 40 hari dengan peristiwa Israel yang awalnya juga dibaptis dengan awan dan dalam laut (1Kor.13:2) lalu kemudian berjalan melintasi padang gurun selama 40 tahun. Pencobaan di padang gurun yang dialami Yesus, oleh Pauluspun dianggap sejajar dengan peristiwa 40 tahun Israel berada di sana (1Kor.13:1-10). Dengan kata lain, kehadiran Yesus dipadang gurun, adalah peristiwa “disengaja” dalam rangka aktualisasi misinya yakni menjadikan diriNya sebagai prototipe Anak Allah yang gagal dilakukan oleh Israel yang juga disebut sebagai anak-anak Allah (bd.Yes.63:16; 64:8)

2.      Pencobaan Pertama (ay. 3,4)
Iblis berkata: “Jika Engkau adalah Anak Allah, perintahkanlah batu-batu ini menjadi Roti”. Pencobaan I ini bisa disebut sebagai pencobaan terhadap tubuh manusia, atau “keinginan daging” yaitu keadaan tidak puas terhadap pemeliharaan Tuhan dan kemudian mencari jalan pintas untuk memuaskan keinginan diri tersebut. Pencobaan I ini juga bisa disenbut sebagai pencobaan pada kebutuhan Jasmani.

Pada waktu itu Yesus sangat lapar, sebab sudah 40 hari ia berpuasa. Situasi yang tepat untuk iblis masuk menjalankan rencananya yang licik. Namun apakah jawaban Yesus? Yesus berkata: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (ay.4). Ada hal penting yang mau ditekankan Yesus terhadap Godaan Kedagingan  atau kebutuhan jasmani ini, yaitu apabila seseorang mengalami kondisi mendesak terhadap kebutuhan-kebutuhan jasmani yang begitu menggoda, maka seharusnya membuat kita lebih tergantung kepada Tuhan Allah dan Firmannya dan bukan justru pada berbagai upaya yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan itu. Dengan kata lain, kita perlu mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, supaya segalanya bukan hanya diberikan namun justru juga ditambahkan (bd. Mat.6:33).

3.      Pencobaan Kedua (ay. 5,7)
Iblis berkata: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (ay.6).  Pencobaan ini biasa kita sebut sebagai Pencobaan terhadap logika untuk mendapatkan pembuktian tentang tanda kehadiran Allah. Banyak orang mencari jawab atas pertanyaan: “benarkah Allah itu ada?”; “apakah Ia berkuasa?”; “buktikanlah kuasaNya itu!” pencobaan terhadap pikiran dan logika kita terhadap hal-hal rohani tersebut, tanpa sadar membuat kita mencobai Allah dan kuasanya.

Perhatikanlah bahwa Iblis juga menggunakan Firman Tuhan untuk mencobai nalar dan logika kita itu. Dalam hal mencobai Yesus, Iblis menggunakan Mazmur 91:11-12. Namun bagian penggalan ayat ini di putar-balikkan begitu rupa untuk menjebak Yesus. Namun Yesus amat mengenal Firman dari BapaNya sendiri. Itu sebabnya Ia pun menjawab Iblis denga mengutip langsung Ulangan 6:16, dan berkata kepada Iblis: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (ay.7).

Dengan inipun Yesus ingin menekankan kepada kita bahwa janganlah menguji kebenaran Allah; keberadaan dan KuasaNya! Sebab Tuhan bekerja dengan caraNya sendiri melampaui pikiran dan logika kita.

4.      Pencobaan Ketiga (ay.8-11)  
Iblis berkata: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Iblis menunjukkan kekuatan, kekuasaan dan tahta dunia ketika pencobaan ke III ini ia lakukan. Pencobaan ini adalah Pencobaan Kepuasan jiwa  atau menyangkut keangkuhan diri. Banyak orang menghalalkan segala cara demi kekuasaan, kehormatan, kepuasaan dan pengakuan orang lain. Demi kepuasan jiwa dalam kehidupan ini, tidak sedikit orang cendrung untuk takluk pada tawaran sesat iblis dari pada kepatuhan kepada Allah.

Manusia bukan menyembah Tuhan, tetapi mulai mencari tuhan-tuhan kecil supaya ia mendapat pengakuan, dihargai dan dihormati orang lain. Demi kekuatan, kekuasaan dan kehormatan penyembahan kepada Allah diabaikan. Perhatikan apa jawaban Yesus terhadap jenis pencobaan ini. Yesus berkata: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (ay.10).

Yesus menyampaikan hal ini untuk menyatakan suatu kebenaran yang sering dimuslihati atau dikaburkan iBlis. Yakni Iblis berkampanye bahwa dunia ini miliknya sehingga dialah yang harus disembah. Itu keliru! Tuhanlah pemilik dunia ini sebab Dialah yang menciptakannya. Karena itu kekuatan dan kehormatan itu ,milik Tuhan. Tuhanlah yang layak disembah dan dimuliakan.

APLIKASI DAN RELEVANSI
1.      Perhatikanlah  bahwa Yesus dicobai Iblis sebanyak 3 kali menurut 3 dimensi kebutuhan manusia, yakni pertama, Kepuasaan Jasmani lewat terpenuhinya seluruh kebutuhan sandang, pangan dan papan; kedua, Kepuasan pikiran lewat upaya pembuktian secara logis dan masuk akal untuk mencari jawaban terhadap segala sesuatu termasuk hal-hal rohani tentang kuasa dan keberadaan Allah; ketiga, kepuasan jiwa yakni kebutuhan untuk diakui, dihormati orang lain melalui segala kekuasaan dan kehormatan dengan berbagai cara termasuk menyangkali Tuhan dalam penyembahan.

Berhati-hatilah, bahwa 3 aspek kebutuhan itu dapat dimanfaatkan iblis sebagai peluang untuk menjatuhkan kita. Keinginan kuat untuk memenuhi semua itu hanya satu yakni kepuasan. Kepuasan diri dan kesenangan diri adalah godaan hawa nafsu. Istilah hawa nafsu ini dari kata ἡδονή (hedone) yang berarti kenikmatan atau kesenangan; keinginan kuat mendapatkan kesenangan. Istilah ini setara dengan istilah PL, yakni istilah אָוָה  ('avah) yang berarti hasrat untuk memiliki (lih. Ul.5:21). Jeratan kepuasan hawa nafsu ini begitu menggoda. Iblis memiliki banyak cara untuk membuat kita menjauh dari TUHAN, salah satunya dengan membuat kita memberontak kepadaNya dan atau menolak perintah dan ketetapannya demi terpuaskan hawa nafsu kita. Sebab saat kita jauh dari TUHAN maka dengan mudah ia merebut kita dari kasih Karunia Allah. Karena itu berhati-hatilah.

2.      Karena iblis itu luar biasa licik dan picik menjebak dan menghancurkan hidup kita, maka bagaimana cara mengalahkannya? Perhatikan apa yang dilakukan Yesus. Setiap kali Iblis menyampaikan godaan itu, Yesus selalu berkata: “ada tertulis”. Apa maksudnya? Yesus menggunakan FIRMAN TUHAN sebagai senjata untuk mengalahkan kuasa iblis. Karena itu kita juga harus menggunakan FIRMAN TUHAN ketika berperang melawan kuasa godaan iblis. Artinya, saudara dan saya perlu banyak belajar tentang Firman Tuhan supaya kita dapat mengalahkan kuasa Iblis.

3.      Mengapa? Sebab Iblispun dapat menggunakan Firman Tuhan untuk menjebak kita. Perhatikan 3 jenis pencobaan di atas. Semuanya memiliki dasar Firman Tuhan yang digunakan Iblis untuk membenarkan ucapannya. Padahal jelas semua ayat demi ayat dipakainya secara licik untuk menjebak. Jadi jika kita tidak mengenal dekat Firman Tuhan, kita justru pula dapat dipatahkan oleh kuasa Iblis melalui upaya memutar balikkan kebenaran Firman Tuhan. Itulah sebabnya sangat penting bagi orang percaya untuk mengenal, mempelajari dan melakukan Firman Tuhan. Sebab segala bentuk pencobaan termasuk hawa nafsu hanya dapat dikalahkan dengan Firman Tuhan.
Karena itu marilah kita menjadi pribadi yang mengandalkan Tuhan. Amin.

AMSAL 23:17-18 JANGAN IRI HATI PADA ORANG BERDOSA


AMSAL 23:17-18
JANGAN IRI HATI PADA ORANG BERDOSA
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 08 Agustus 2018


PENGANTAR
Pada hari Minggu kemarin, bacaan Alkitab menggiring kita pada dosa Kain sehingga ia dan persembahannya di tolak oleh Allah. Ketika ditolak, Kain gagal bercermin untuk mengoreksi diri dan kemudian mengubah kehidupannya yang jahat. Ia justru menjadikan Habel, adiknya, sebab “kambing hitam” atau penyebab kondisi itu. Kain iri hati kepada Habel sehingga ia kemudian membunuh Habel. Catatan Alkitab menjelaskan bahwa Habel adalah seorang yang beriman kepada Allah (Ibrani 11:4) dan hidup dalam kebenaran.

Bacaan hari ini berkisah hal yang lain. Yakni rasa iri hati terhadap mereka yang berbuat salah. Hari Minggu kisah tentang iri hati kepada orang benar, maka pada hari ini, Amsal menyoroti tentang iri hari kepada orang berdosa.

TELAAH PERIKOP
Perlu untuk memahami teks ini ketika Amsal berkata: “Janganlah hatimu iri kepada orang-orang berdoa”. Pertanyaan terkait dengan hal itu adalah siapakah orang-orang berdosa yang dimaksud oleh Amsal sehingga membuat iri hati orang-orang percaya? Jawabannya kita temukan pada ayat-ayat sebelumnya dalam Amsal 23 ini, yakni:

1.      Seorang pembesar dengan hidangan menipu (ay.1-3)
Dari teks ayat 1-3 kita menemukan bahwa ada orang yang menjadi pejabat dan pembesar dalam masyarakat tetapi sesungguhnya hidupnya tidak benar di hadapan Tuhan. Kebaikan hati mereka sebenarnya akal bulus untuk mendapatkan perhatian dan penghormatan. Sehingga Amsal menyebut mereka menyajikan hidangan yang menipu. Tapi nyatanya, hidup mereka tetap enak dan nyaman saja. Padahal mereka tidak benar prilakunya.

2.      Si kikir yang tidak tulus hati (ay.6,7)
Terlihat orang ini baik dan suka menolong. Tetapi ternyata ada banyak hitungan dan strategi yang ia buat ketika merancangkan “niat baik” itu, yakni supaya mendapatkan keuntungan dari perbuatannya itu. Itulah sebabnya Amsal menyebut orang seperti itu sebagai yang tidak tulus hati. Tapi nyatanya mereka juga tetap hidup enak dan nyaman.
Bukankah kenyataan demikianlah yang terjadi selama ini? Demikian juga yang disaksikan penulis Amsal. Bahwa orang benar semakin tersudut dan terhina, sedangkan orang berdosa hidupnya semakin nyaman dan sentosa. Jika demikian apakah sikap yang harus dilakukan?

Dengan tegas Amsal menyatakan bahwa kunci utama dari segala kondisi itu adalah Takut akan Tuhan. Apapun yang terjadi, bagaimanapun kondisi kehidupan jangan pernah menyimpang dari Allah. Orang berdosa bisa saja menjadi kaya dengan cara curang, menjadi penguasa dengan cara jahat. Tapi bagi orang percaya, takut akan Tuhan adalah standar nilai yang dituntut Allah. Silakan menjadi kaya, tapi dengan cara benar; silakan menjadi pejabat dan penguasa tetapi dengan jalan yang lurus. Sekali lagi standar utama adalah takut akan Tuhan.

Mengapa demikian? Ay 17 menjelaskan alasannya. Bahwa dengan takut akan Tuhan maka jaminan masa depan tetap diberikan. Untuk menanti penggenapan jaminan itu tentulah tidak mudah. Apalagi melihat banyak orang jahat yang mengalami kesuksesan. Itulah sebabnya Amsal menyebut bahwa pengharapan tidak akan hilang pada janji itu asal orang percaya tetap meyakini bahwa ada masa depan di dalam Tuhan.

Takut akan Tuhan berarti tidak tergoda melakukan kejahatan atau jalan pintas demi memperoleh kesuksesan. Biasanya ini dipicu karena lingkungan sekitar. Bagaimana mungkin berdiam ketika nyatanya melihat banyak orang curang dan jahat tetap berdiri tegak dan kokoh menjalani hidup, seakan mereka tidak pernah kalah. Sementara, orang-orang yang benar justru menjadi terhukum atau makin hancur hidupnya karena setia pada kebenaran. Konflik batin ini kemudian melahirkan iri hati untuk bertanya, di mana Tuhan. Amsal mengingatkan agar tidak usah iri hati. Ada waktunya akan dinyatakan. Tugas orang percaya adalah tetap takut akan Tuhan. Sebab jaminan masa depan tidak tergantung pada apa yang dilihat di depan mata (suksesnya orang2 bebal) tetapi tergantung pada Tuhan. Masa depan dijamin oleh Tuhan sebagai pemilik masa depan.


RELEVANSI DAN APLIKASI
Pembuka khotbah dapat dimulai dengan kondisi real yang dialami saat ini. Ambil contoh misalnya berita heboh beberapa waktu lalu tentang kasus Ahok yang ramai dibicarakan di media masa dan media sosial.
Bagi banyak orang, Ahok adalah simbol perjuangan kebenaran dan keadilan. Ia dianggap korban dari suatu sistem di mana orang-orang yang terlihat “salah” justru menang dan berhasil mencapai tujuan. Orang benar justru berakhir dalam penjara. Bahkan jika lebih jauh, rumah tangganyapun hancur. Tragis bukan?

Tuhan bergerak dengan cara yang tidak terselami. Mencari jawab tentang mengapa orang bebal dan orang berdosa terlihat sukses dan tetap berhasil dibanding orang benar, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kepanstian yang dapat dipegang adalah Tuhan menjamin masa depan mereka yang percaya. Tidak perlu iri hati, biarkan Tuhan menuntaskan kehendakNya. Sampai kapan? Sulit untuk menjawab ini. Sebab semua mesteri. jaminanNya adalah indah pada waktuNya.

(silakan aplikasikan sesuai dengan kehidupan saat ini)

Tuesday, July 31, 2018

KEJADIAN 4:1-9 IRI HATI (Bercerminlah)


Bahan Bacaan Alkitab Hari Minggu
5 Agustus 2018

PENGANTAR
Peristiwa dalam perikop ini terjadi setelah beberapa waktu lamanya Adam dan Hawa keluar dari Taman Eden. Dosa dan pelanggaran mereka membuat mereka di usir dari kenyamanan dan kemudahan fasilitas di Taman Eden itu

TELAAH PERIKOP
Terdapat beberapa pokok penting yang menjadi penekanan dalam bacaan kita pada hari ini, yakni:
1.      Keturunan Adam pasca pengusiran (ay.1-4)
Anak laki-laki pertama dari kedua manusia pertama itu diberi nama Kain. Nama Kain berasal dari bahasa Ibrani קַיִן Qayin (baca: kha-yin) yang berarti milik. Itulah sebabnya pada ayat 1 Adam berkata: “aku telah mendapatkan seorang anak laki-laki, dengan pertolongan TUHAN”. Istilah “mendapatkan” bermakna bahwa anak itu adalah miliknya. Selanjutnya, Adam-pun memperoleh anak kedua dan diberi nama Habel. Nama Habel berasal dari bahasa Ibrani הֶבֶל Hebel (baca: heh'-bel) yang berarti “hembusan nafas”.

Keduanya memiliki profesi yang berbeda. Kain menjadi seorang petani sedangkan Habel menjadi seorang penggembala ternak. Pada suatu kesempatan keduanya mempersembahkan korban persembahan dari hasil kerja masing-masing. Kain mempersembahankan dari hasil tanahnya dan Habel dari hasil ternaknya (ay.4). Menariknya, pada ayat 4 ini langsung dikisahkan bahwa persembahan Habel diindahkan (diterima) oleh Tuhan Allah. Tidak disebutkan alasannya.

 

 2.      Apakah alasan persembahan Kain ditolak TUHAN (ay.5-7)
Pada permulaan ayat 5 disebutkan secara terang-terangan bahwa Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan TUHAN. Pertanyaannya mengapa demikian? Banyak orang berspekulasi karena jenis persembahan Kain dari tanaman sedangkan jenis persembahan Habel dari hewan. Allah lebih memilih persembahan Habel karena persoalan jenis persembahan. Benarkah demikian? Benarkah jenis dan jumlah persembahan menjadi masalah bagi Kain sehingga ia ditolak? Kita perlu menyelidiki lebih lanjut.

Perhatikan redaksi kalimat pada ayat 5: “tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkanNya...”. Teks ini dengan tegas menyebut bahwa TUHAN bukan menolak persembahan Kain, tetapi ia menolak Kain dan korban persembahannya. Kain adalah subjek yakni si pemberi korban persembahan dan korban persembahan adalah objek dari pemberiannya. Jadi, dalam teks ini, TUHAN menolak si pemberi dan otomatis menolak apa yang diberikan si pemberi.

Dengan kata lain permasalahan utama bukan soal jenis korban persembahan melainkan adalah siapa yang memberikan. Perhatikan bunyi penggalan Yeasaya 1:11-16:
"Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban..., Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku... Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku,... Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,”
Dari kitab Yesaya ini menjadi jelas bagi kita bahwa persembahan ditolak karena si pemberi berbuat jahat. Maka sangat mungkin Tuhan menolak Kain karena di hadapan TUHAN, Kain hidup tidak benar. Tuhan menolak persembahan Kain, karena ia dipandang tidak layak oleh Tuhan. Hal ini dipertegas oleh Ibrani 11:4 dan 1Yoh.3:12 bahwa ternyata persembahan Habel diterima karena ia beriman (Kain tidak) dan segala perbuatan Kain dianggap jahat.

TUHAN tidak bisa ditipu. Ia mengenal Kain. Di mataNya, Kain penuh dengan dosa. Hal ini dipertegas pada ayat 7 ketika TUHAN menjumpai Kain. Itulah sebabnya Allah menolak Kain dan korban persembahannya.

3.      Kain gagal bercermin melihat dirinya (ay.8,9)
Bagian ini sangat menarik. Apa yang diperbuat kain setelah ia dan persembahannya di tolak oleh Allah? Ayat 5 menyebut hatinya menjadi panas yang menandakan ia marah dan mungkin saja iri hati. Barangkali ia bertanya dalam hati, “mengapa Habel dan persembahannya diterima TUHAN Allah. Mengapa saya tidak? Mengapa aku disepelekan?”. Jika benar Kain melakukan pertanyaan untuk introspeksi diri, seharusnya ia menemukan jawabannya. Bahwa ia jahat di mata Tuhan. Sebab bukankah Tuhan sendiri sudah menjawab pertanyaan alasan penolakan itu? Ayat 7 menyebut: “apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?... Itu berarti Kain gagal berefleksi atau berjermin dan menyadari bahwa perbuatannya jahat di mata Tuhan sehingga ia ditolak Allahnya.

Kegagalan Kain bercermin diri ini membuat ia terbakar pada amarah dan iri hati. Jika ia bercermin dan introspeksi diri, dan menemukan kesalahannya, sudah pasti tidak akan ada iri hati pada adiknya. Kondisi ini justru terbalik. Kain menganggap bahwa Habel-lah yang menjadi “masalah” dari penolakan itu sehingga ia harus membunuhnya. Bahkan ia berpikir bahwa perbuatan jahat itu tidak diketahui Allah (ay.9).

Betapa kuat dan dasyatnya pengaruh dosa yang menggiring pada rasa benar diri dan menjadikan orang lain sebagai sumber persoalan karena dibungkus oleh iri hati. Kain jatuh pada kondisi ini.


RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan uraian di atas tentunya ada banyak hal yang dapat direlevansikan atau diaplikasikan Firman Tuhan ini dalam kehidupan sehari-hari. Pokok utama adalah soal iri hati, tetapi juga kegagalan untuk introspkesi diri. Disamping itu kekuatan dosa yang mengintip di depan pintu karena meranjang perbuatan jahat akibat iri hati tidak dapat diabaikan.

Silakan merumuskan relevansi dan aplikasi dari Firman Tuhan ini sesuai dengan kondisi jemaat di mana saudara melayani dan atau berkenaan dengan kehidupan sehari-hari.


















Monday, July 30, 2018

MAZMUR 65:10-14 TINDAKAN TUHAN ADALAH DASAR BERSYUKUR


MAZMUR 65:10-14
TINDAKAN TUHAN ADALAH DASAR BERSYUKUR
Bahan Bacaan Alkitab Pelkat PKP
Kamis, 2 Agustus 2018


PENGANTAR
Mazmur ini ditulis oleh Daud yang kemungkinan besar disebabkan oleh rasa syukur atas kesediaan Allah mendengar doa mohon ampunnya (ay.3) dan ketika ia secara pribadi menerima pengampunan dari Allah dan melihatNya sebagai pribadi yang Maha-Pengampun (ay.4,5). Keseluruhan dari isi Mazmur 65 ini adalah kesaksian Daud tentang siapa Allah dan apa yang telah ia perbuat.

TELAAH PERIKOP
Jika kita membaca dengan seksama isi Mazmur ini maka sesungguhnya Mazmur ini terbagi atas 3 (tiga) bagian penting , yakni:
1.      Siapakah Allah menurut pemazmur (ay.1-5)
Pemazmur melukiskan Allah sebagai pendengar doa pribadinya (ay.2-3). Juga ada pelukisan tentang Allah maha pengampun dosa. Juga ada gambaran atau metafor tentang dosa sebagai beban yang menghimpit, tetapi Allah mengangkatnya sehingga si pendosa pun terbebaskan (ay.3-4), sehingga bisa dikatakan bahwa pemazmur melukiskan Allah sebagai seorang pembebas.

Di hadapan pengalaman akan Allah seperti itu, pemazmur menyatakan pengamatannya berupa sebuah pelukisan mengenai orang yang dipanggil Allah untuk mendiami baitNya yang kudus. Ada bayangan yang indah dan suci bahwa mereka itu akan bahagia dan hidup makmur (disimbolkan dengan kekenyangan, ay.5). dengan kata lain, pemazmur menganggap bahwa Allah adalah juga sebagai pribadi yang menerima siapa saja untuk berada dikediamanNya.

2.      Allah yang berkarya dan bertindak bagi dunia (ay.6-9)
Pada bagian ini pemazmur berkisah tentang Tuhan yang berkarya bagi dunia. Berikut ini beberapa rinciannya: Pertama, Tuhan berkarya dengan segala perbuatan yang ajaib dan keadilan sehingga seluruh dunia dan bukan saja Israel akhirnya mengenal Allah hingga ke ujung bumi (ay.6). Kedua, TUHAN Allah juga pandang pemazmur sebagai yang menciptakan segala lembah dan gubung, sehingga dalam tindakanNya itu, Allah disebut perkasa (ay.7). Ketiga, Bukan saja Tuhan dianggap sebagai pencipta alam semesta, pemazmur menyebut bahwa Allah bertindak sebagai penguasa ciptaanNya. Itulah sebabnya deru gelombang dan lautan tunduk kepadaNya (ay.8).

Dengan menyaksikan semua ini maka semua orangpun takut dan bersorak-sorai (ay.9). Istilah takut yang digandeng dengan sorak-sorai ini emnunjuk pada suasana kagum dan keheranan atau takjub. Reaksi mengetahui siapa dan apa yang diperbuatnya, membuat orang semakan bertakwa (segan dan patuh) kepada Allah karena rasa takjub akan bebesaranNya.
  


3.      Tindakan Tuhan bagi kebutuhan pribadi (ay.10-14)
Bagian ini sangat menarik. Pemazmur melukiskan Sang Pencipta sebagai pribadi yang sangat peduli pada kebutuhan pribadi pemazmur. Wilayah Israel dan sekitarnya, terkenal dengan daerah tandus dan air merupakan bahan pokok yang paling dibutuhkan. Pemazmur menyaksikan kebesaran Tuhan yang berkarya bagi kebutuhan umat ketika menjadikan tanah gersang penuh dengan batang air yang kaya dan melimpah sehingga umat diberoleh gandung untuk kelangsungan hidup.(ay.10).

Bukan itu saja bahkan pemazmur mengakui bahwa suburnya tanah itu, dengan basahnya alur bajak, tanah yang tidak menjadi kering dan berlimpah air karena hujan yang turun, dan hijaunya tumbuh tumbuhan itu semua, menurut pemazmur, adalah perbuatan Tuhan yang memberkati (ay.11,12). Tuhanlah yang berkarya sehingga mereka bersorak-sorai (ay.14).

Perhatikanlah, bahwa pemazmur tahu persis perbuatan Allah pada diri dan bangsanya sehingga ia bersyukur. Pemazmur menemukan karya Allah yang bertindak melalui alam semesta. Tidak terlihat tangan Allah yang bekerja sesungguhnya, bukan? Namun pemazmur tahu bahwa itulah karya Tuhan.

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan uraian atau telaah perikop di atas, maka terdapat beberapa hal yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita saat ini:
1.      Adalah penting bahi kita yang percaya untuk mengenal siapa Allah kita. Pemazmur mengenal Allah dari setiap karya yang Ia perbuat. Pemazmur mengenal dekat Allah dari apa yang ia alami bersama Allah. Ia mengalami jawaban doa, ia mengalami pengampunan dosa, ia mengalami rasa sukacita pada kuasa Tuhan yang tak terbatas. Kata kunci dari bacaan kita ini adalah pengenalan akan Allah.

Kitapun diajak, secara khusus sebagai ibu rumah tangga, kaum perempuan GPIB untuk peka mengenal Allah secara dekat. Tidak perlu bertatap muka dengan Allah, cukup merasakan semua pengalaman yang nyata tentang apa yang Tuhan perbuat, maka kita dapat mengenalnya secara pribadi. Siapakah Allah bagi kita, sangat tergantung dari seberapa dekat dan dalam kita mengenalNya.

2.      Ide dasar dari pemazmur bersyukur dan bersorak-sorak adalah keyakinan imannya untuk melihat setiap peristiwa sebagai cara Tuhan bertindak. Mulai dari mendengar doa, meredakan gemuruh badai dan gelombang, hingga menjatuhkan hujan di bumi, dan bahkan membuat tanaman mengalami pertumbuhan karena kesuburan tanah.

Perhatikanlah bahwa pemazmur bersyukur bukan karena apa yang ia alami. Sebagai contoh lihat redaksi ayat 11 bacaan kita. Pemazmur tidak berkata: “ketika aku membajak kulihat tanah menjadi gembur oleh karena dirus hujan yang turun”. Tetapi dengan yakni ia menyebut: “Engkau mengairi alur bajaknya... membasahi tanah dengan hujan dll”.  Objek pelaku adalah Allah. Sehingga pemazmur mengucap syukur bukan karena apa yang ia alami, tetapi apa yang Tuhan perbuat.

Demikian juga kita sebagai ibu rumah tangga. Kita diajak mengucap syukur bukan karena kita melihat dan merasakan apa yang terjadi dalam hidup kita, tetapi tentang apa yang Tuhan perbuat. Kita bersyukur bukan karena bisa ulang tahun, tetapi kita bersyukur karena Tuhan menambahkan usia setahun. Pokok penting adalah Tuhan.

Karena itu mari bersyukur bukan karena apa yang terjadi dalam keluarga kita, tetapi apa yang Tuhan buat dalam hidup kita. Dengan cara ini, maka entah senang atau susah, kita tidak peduli apa yang terjadi disekitar kita, yang kita syukuri adalah apa yang Tuhan buat dan rancangkan bagi kita. Sebab ranjangannya adalah damai sejahtera.

Kiranya kita dimampukan untuk menyakini kuasa Allah yang peduli itu. Amin.


Sunday, July 29, 2018

KEJADIAN 21:14-21 ALLAH MENEPATI JANJINYA


KEJADIAN 21:14-21
ALLAH MENEPATI JANJINYA
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 1 Agustus 2018


PENGANTAR
Akhirnya Tuhan menepati janjinya kepada Abraham. Sara melahirkan seorang anak pada usia 90 tahun dan diberi nama Ishak. Pada waktu itu Abraham berumur 100 tahun ketika Ishak lahir (ay.5). Nama Ishak berasal dari bahasa Ibrani: יִצְחָק, (baca: Yiẓḥaq) yang berarti "ia tertawa".

Kisah ini berlanjut ketika Ishak mulai masuk pada tahapan disapih (ay.8) dan Abraham melakukan perjamuan besar. Seorang anak umumnya akan mulai disapih atau dihentikan proses menyusui pada ibunya ini, sekitar usia 2 tahun. Di sinilah persoalan dimulai, yakni ketika Sara melihat Ismael (bahasa Ibrani: יִשְׁמָעֵאל,= Yishma'el = "didengar oleh Allah"), anak Hagar bermain dengan Ishak. Sara meminta Abraham agar mengusir Hagar dan anaknya itu (ay.10).

Walaupun sangat menyebalkan permintaan Sara ini, namun Abraham menyanggupinya karena rencana itu disetujui oleh Allah dengan janji penyertaan bagi Ismael dan menjadikannya bangsa yang besar pula (ay.11-13).

TELAAH PERIKOP
Terdapat beberapa pokok penting dari bacaan ini untuk kita gali bersama dan kemudian merenungkannya, yakni:
1.      Abraham patuh kepada Allah dan memaklumi Sara (ay.14)
Silakan bayangkan kondisi hati Abraham saat itu!! Ketika dengan berat hati ia mengangkat Ismael ke bahu Hagar dan melepas darah dagingnya pergi bersama ibunya. Keduanya pergi bukan karena ada tujuan dan rencana. Mereka pergi karena diusir oleh Sara melalui Abraham. Dengan berat hati Abraham melepas mereka dengan memberi bekal berupa roti dan sekirbat air. Istilah Kirbat berasal dari serapan bahasa Arab. Di dalam Alkitab dipakai untuk menerjemahkan kata Ibrani: חֵמֶת (baca: Khemet) yang merupakan kantong terbuat dari kulit untuk dipakai menampung atau minyimpan air jika sedang dalam perjalanan. Jaman modern saat ini mungkin setara fungsinya dengan botol minuman.

Mengapa Abraham tega melakukannya? Saya yakin sesungguhnya Abraham tidak tega. Namun demi menjaga hati istrinya yakni Sara ia terpaksa harus melakukannya. Sara adalah istri sahnya. Itulah sebabnya nama Sarai (bahasa Ibrani: שָׂרַי/שָׂרָי,  baca: Saray, yang berarti "Putriku") oleh Tuhan diganti Sara ( bahasa Ibrani: שָׂרָה, baca Sara yang berarti; "Putri") atau di hadapan Abraham bermakna istriku. Berbeda dengan Hagar yang hanya berstatus sebagai bundak/hamba ataupun kemudian menjadi selir atas permintaan Sara (16:1-3). Jadi demi Istrinya, Abraham melakukan semua itu. Dengan kata lain demi menjaga keharmonisan rumah tangga, ada yang harus dikorbankan dan atau disingkirkan.

Abraham melakukannya juga bukan hanya demi menyenangkan Istrinya, tetapi juga ketaatan kepada Allah. Perhatikan ayat 12!! Ternyata itu juga adalah perintah Tuhan. Bahwa adalah kehendak Tuhan supaya Abraham melakukan permintaan Istrinya itu. Hal ini bermakna sangat penting. Betapa luar biasanya ketaatan Iman Abraham kepada Allah. Ia tidak mempertanyakan kehendak Allah yang “aneh” itu. Samasekali tidak. Ia langsung mengerjakannya. Demi ketaatan kepada Allah dan memaklumi kondisi hati Istrinya, Abraham menguatkan diri mengusir Ismael dan ibunya itu.



2.      Penderitaan Hagar (ay.15-16)
Bekal air sekirbat yang Hagar terima dari Abraham akhirnya habis. Reaksi pertama dari Hagar adalah “membuang anaknya ke bawah semak-semak (ay.15). Sebegitu parahkah kondisi tersebut? Mari bayangkan membawa anak kecil dengan kondisi tanpa air. Berapa lama bertahan? Mungkin satu hari penuh? Bisa jadi. Tapi rasanya sulit anak kecil bertahan di gurun tanpa air selama satu hari, bukan? Berapa lama hagar berjalan tanpa air? Sulit diprediksi. Namun kita dapat mengukur melalui kondisi Ismael anaknya.

Berapa usia Ismail pada waktu itu? Mari kita telusuri bersama. Pada waktu Ismael lahir, Abraham berumur 86 tahun (16:16). Selanjutnya ketika Ishak lahir, Abraham telah berumur 100 tahun (21:5). Itu berarti usia Ismael ketika Ishak lahir adalah 14 tahun. Peristiwa Hagar di usir bersamaan dengan disapihnya Ishak yang berumur kira-kira 2 tahun. Dengan demikian ketika peristiwa itu terjadi, Ismael bukan lagi anak kecil namun hampir dewasa yakni berumur sekitar 16 tahun.

Umur seperti itu, harusnya mampu bertahan tanpa minum hingga lebih dari sehari. Dan jika kondisi sangat payah Ismael alami dan mungkin saja tak sadarkan diri karena dehidrasi sehingga dibuang disemak-semak (bnd, ay.16), itu berarti mereka berjalan tanpa minum sudah lebih dari dua hari. Bayangkan penderitaan padang gurun tanpa seteguk air selama 2 hari perjalanan. Sudah pasti sangat menderita. Tidak heran jika kemudian Hagar merasa putusa asa dan menangis dengan nyaring (ay.16).

3.      Tuhan itu adil dan tak ingkar (ay.17-21)
Dalam keputusasaan itulah suara Tuhan datang menghampiri dan menyapa dengan janji yang menenangkan (ay.17). Di tengah kegundahannya, TUHAN hadir tepat waktu dan memberikan apa yang sangat ia dan Ismael butuhkan yakni air untuk hilangkan dahaga (ay.19). Bukan itu saja, diakhir perikop ini kita menemukan bahwa janji Abraham kepada Ismael di ayat 12 ditepatiNya. Ismael tetap hidup dan bahkan membangun keluarga (ay.20-21) yang kelak menjadi bangsa yang besar.

Benarlah, bahwa Allah tidak ingkar janji. Bukan itu saja, Allah berlaku adil bagi turunan Abraham walaupun ia bukan anak perjanjian. Keadilan Allah nyata melalui pemeliharaanNya kepada Ismael dan bagaimana kemudian Ismael diselamatkan dari kematian di padang gurun itu. Terkesan bahwa Ismael dibuang, tetapi sesungguhnya rencana Allah tetap berlaku bagiNya. Yah, rencana yang indah pada waktunya.

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan uraian atau telaah perikop di atas, maka terdapat beberapa hal yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita saat ini:
1.      Perlu bagi kita untuk bersikap secara bijak dan arif seperti Abraham. Bahwa keluarga adalah lingkaran terdekat dan utama. Dalam kasus Abraham berarti Sara dan Ishak. Tetapi juga Abraham tidak melupakan darah dagingnya sendiri yakni Ismael. Sehingga walaupun harus diusir, itu hanya ia lakukan jika ada jaminan dari Tuhan.

Di sisi lain, ini bukan soal tega dan tidak tega. Ini juga bukan soal menyenagkan Sara dan supaya tidak membuat masalah. Tapi lebih daripada itu, ini adalah ketaatan kepada Allah. Memang ide mengusir Hagar datang dari Sara, tetapi sesungguhnya atas seijin dan perintah Tuhan untuk Abraham. Ketaatan yang penuh dilakukan oleh Abraham walaupu berat hati.

Dunia menawarkan banyak pilihan dalam kehidupan ini. Pilihan yang paling menggoda adalah rasa nyaman dan nikmat hidup. Hal yang paling sulit dilakukan adalah memilih taat kepada Allah tetapi kehilangan kenyaman tersebut. Sebagaimana Abraham gusar dan kesal ketika harus mengusir Hagar, tetapi memilih taat kepada Allah. Bukankah adalah lebih bijak untuk memilih kehendak Allah sambil meyakini pada janji dan penyertaanNya? Abraham memilih hal tersebut.

2.      Sudah terbukti dan teruji bahwa TUHAN Allah yang kita sembah tidak pernah ingkar janji. Abraham tidak pernah tau nasib apa yng terjadi bagi Ismael. Tetapi Tuhan ternyata punya rencana yang baik bagi peristiwa yang tidak menyenangkan itu.

Mengapa harus ragu, jika ternyata Allah tidak pernah ingkar janji. Ia adalah Allah yang peduli bagi Hagar dan Ismael, maka ia juga adalah Allah yang peduli bagi kita yang memanggilnya Bapa dalam Kristus Yesus. PertolonganNya tidak pernah terlambat dan sesuai dengan apa yang kita perlu sebagaimana diberikan sumur bagi dahaga ibu dan anak itu. Kitapun seharusnya juga mempercayai janji Tuhan dalam hidup kita. Bahwa kendatipun terkesan tak indah dan penuh dengan masalah dalam hidup sekalipun, yakinlah bahwa rancangan akhirnNya adalah damai sejahtera.

Sebagaimana Hagar belum tahu ending hidupnya bersama Ismael sehingga mengeluh dan menangis dengan kerasnya, demikian juga kita. Acapkali goyah dan bertanya tentang janji manis yang Tuhan ucapkan tetapi kenyataannya kesukaran yang kita alami. Percayalah, Tuhan tidak ingkar janji. Kita belum tahu ending dari kisah hidup kita. Yang pasti adalah damai sejahtera.

Kiranya kita dimampukan untuk menyakini kuasa Allah yang peduli itu. Amin.

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...